Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 5
Tanaka-san Itu Pintar
Sehari setelah kegagalan komunikasiku dengan Tanaka-san. Aku mengayuh sepedaku di jalan menuju sekolah dengan perasaan yang sangat sensitif.
Sudah sebulan lebih sedikit sejak aku sekelas dengan Tanaka-san. Karena selama sebulan pertama semuanya berjalan lancar tanpa masalah, rentetan kesalahan belakangan ini memberikan dampak syok yang besar bagiku.
Soal insiden dada kemarin, aku masih merasa tenang karena aku tahu apa yang harus diperbaiki. Tapi yang jadi masalah utama adalah insiden milk tea kemarin. Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti di bagian mana letak kesalahannya. Jika aku tidak paham kenapa hal itu buruk, aku mungkin akan mengulangi kegagalan yang sama. Diserang rasa cemas seperti itu membuatku tidak bisa tidur nyenyak semalam.
Waktu itu, Akitsuki-senpai bilang tidak ada masalah, tapi kalau dipikir-pikir, orang itu adalah pemula dalam urusan cinta yang sedang dimabuk cinta pertama.
Sejujurnya, tidak ada elemen yang bisa membuatku tenang sedikit pun. Alih-alih menghilangkan kecemasan, aku malah jadi makin tidak bisa tidur. Pokoknya, ini gawat karena aku harus segera memikirkan solusinya.
"Haa, harus bagaimana ya?"
Meski otakku mencoba berpikir, yang muncul hanyalah ide-ide dangkal seperti: mungkin yang suka milk tea itu sebenarnya gadis lain dan aku salah mengira dia adalah Tanaka-san. Aku benar-benar muak dengan betapa payahnya diriku sendiri.
Setelah mengayuh pedal yang terasa sangat berat itu selama beberapa saat, aku tiba di sekolah terlambat 5 menit dari biasanya. Aku masuk ke kelas dengan suasana hati suram. Tanaka-san tidak ada di sana, mungkin dia masih latihan pagi. Aku menghela napas lega sambil duduk di kursiku.
Meski sekarang dia tidak ada, dia pasti akan muncul sebelum jam wali kelas dimulai. Aku harus memikirkan apa yang salah sebelum itu.
"Oi, menurutmu kapan saatnya kita merasa tidak senang saat diberi minuman oleh teman sekelas?"
"Saat minumannya sudah hampir habis, dan sebenarnya dia cuma membuang sampah padaku."
"Itu sih beneran bikin nggak seneng."
"Haruno. Pernah tidak kamu merasa tidak senang saat diberi minuman oleh teman sekelas?"
"Pernah. Pas di dalam jusnya ada sehelai rambut. Itu menjijikkan sekali sampai aku beneran muntah."
"O-oh. Turut berduka cita atas kejadian itu."
"Benar-benar malang nasibku. Makanya, kalau mau mentraktirku minum, pastikan itu barang baru yang masih segel ya."
"Siap."
Untuk sementara, aku mencoba mengumpulkan pendapat dari teman-teman di sekitarku, tapi tetap saja aku tidak menemukan di mana letak kesalahanku. Terlebih lagi, satu-satunya teori tentang "salah orang" juga sudah patah total setelah aku bertanya pada Norimizu-san. Dia bilang, "Ta-chan sangat suka milk tea. Siapa pun yang memberinya pasti dia akan senang," jadi teori itu musnah sepenuhnya.
Apa ada hal lain?
Saat aku sedang memeras otak, pintu kelas terbuka dengan suara garara dan Tanaka-san muncul. Karena merasa agak canggung, aku berniat memalingkan wajah, tapi sebelum sempat kulakukan, Tanaka-san sudah menyapa lebih dulu.
"Selamat pagi, Nakayama-kun."
Rasanya tidak sopan jika aku mengabaikannya.
"Pagi, Tanaka-san."
Aku berusaha membalas dengan sikap sediam mungkin seperti biasanya. Tanaka-san pun tersenyum lembut. Tidak salah lagi. Hari ini dia sedang dalam suasana hati yang baik. Kalau sedang senang, senyum Tanaka-san akan bertambah berkali-kali lipat dari biasanya.
Kalau begitu, apakah dia tidak terlalu memikirkan kejadian kemarin?
Tidak, jangan lengah dulu. Bisa saja dia sedang high saja sampai lupa masalah kemarin, tapi kalau diungkit lagi, dia bisa marah kembali.
Tepat saat aku memutuskan untuk tidak akan membahas soal kemarin, tiba-tiba—
"Anu, terima kasih untuk milk tea-nya kemarin."
"Buhoh!?"
"Kamu tidak apa-apa!?"
Tanaka-san tiba-tiba langsung tancap gas. Ini benar-benar di luar dugaan. Gara-gara itu, ludahku masuk ke saluran pernapasan dan aku tersedak hebat.
(Serius, maksudnya apa ini?)
Aku tidak bisa menyembunyikan kebingunganku saat Tanaka-san menatapku dengan cemas. Dia mengeluarkan botol minuman olahraga yang masih tersegel dari tasnya dan menyerahkannya padaku, membuatku makin terbelalak.
"Minumlah ini supaya tenang."
"Gehoh, gehoh... kenapa?"
"Kenapa? Ini balasan untuk kemarin. Aku sangat sena—maksudku, aku sangat senang ditraktir milk tea favoritku oleh Nakayama-kun, jadi aku berpikir untuk melakukan hal yang sama."
Tanaka-san menatapku dengan gelisah sambil memastikan dengan ragu, "...Emm, Nakayama-kun suka Poca*i, kan?"
Di titik itulah aku akhirnya menyadari bahwa dia tidak marah sama sekali kemarin. Sepertinya, aku benar-benar hanya berfantasi buruk sendirian. Begitu menyadari hal itu, aku merasakan seluruh tubuhku memanas. Aku langsung membuka tutup botolnya dan menenggak habis seluruh isinya untuk mencoba mendinginkan diri seketika.
Hasilnya, nyaris berhasil. Aku berhasil menahan diri agar pipiku hanya memerah sedikit saja.
"Terima kasih, Tanaka-san. Rasanya sangat enak."
"......Kalau begitu, syukurlah. Fufu."
Perasaanku menjadi yang paling cerah dalam beberapa hari terakhir. Saat aku mengucapkan terima kasih dengan senyum lebar, Tanaka-san pun membalas dengan senyuman yang manis.
Aduh, ternyata aku cuma salah paham saja. Syukurlah. Tapi, siapa sangka reaksi seperti kemarin itu sebenarnya dia sedang merasa senang. Sepertinya aku masih kurang belajar untuk mendapatkan sertifikat "Ahli Tanaka-san Level 1".
Tapi, aku tidak boleh terlalu sering memperhatikannya demi hal itu, karena aku tidak mau dianggap orang aneh. Secukupnya saja.
(Pokoknya, syukurlah Tanaka-san tidak membenciku——! Untuk sekarang, aku mau tidur dulu.)
Rasa kantuk tiba-tiba menyerang karena perasaan lega yang luar biasa. Tanpa melawan, aku membiarkan kesadaranku menghilang.
"—kun. Nakayama-kun. Bangunlah."
"Ngh?"
Bersamaan dengan suara lembut yang terdengar seperti dentingan lonceng, aku merasakan tubuhku digoyang-goyangkan perlahan, membuatku membuka kelopak mata dengan berat. Di sana, aku melihat Tanaka-san yang sedang menatapku dengan tatapan khawatir yang lembut.
"....... Mimpi, ya."
Kalau bukan mimpi, mana mungkin ada momen bangun tidur sesempurna ini. Dengan kesadaran yang masih samar, aku menjatuhkan penilaian seperti itu, lalu menyentuh pipi gadis yang selama ini sangat ingin kusentuh.
Mungkin karena ini dunia mimpi buatanku sendiri. Seperti yang kubayangkan, pipi Tanaka-san terasa halus dan kenyal, benar-benar nyaman untuk disentuh. Selama beberapa saat, aku terpaku menyentuhnya hingga pada satu titik, pipi itu tiba-tiba menjadi sangat panas.
"...... Panas!"
Sontak aku menarik tanganku, namun rasa panas itu masih membekas di telapak tanganku. Berkat rasa panas itu, pikiranku perlahan menjadi jernih, dan kabut yang menyelimuti kepalaku pun sirna.
"Jangan-jangan, ini bukan mimpi?"
Saat aku bergumam dengan perasaan syok, Tanaka-san yang sedang menutupi wajah dengan kedua tangannya menjawab,
"...... Iya, ini bukan mimpi."
Seketika, jantungku berdegup kencang. Tentu saja, dalam artian yang buruk.
(Jadi, kalau ini bukan dunia mimpi, berarti sedari tadi aku baru saja mengelus-elus pipi Tanaka-san yang asli sepuas hati...!? Bukannya itu gawat banget!? Serius, gawat, gawat, gawat!!)
"......Ma-maaf. Maafkan aku karena tadi menyentuhmu sembarangan saat masih mengantuk. Kamu pasti merasa jijik, kan."
Merasakan darah serasa tersedot dari wajahku karena melakukan kesalahan terbesar dalam sejarah, aku segera menundukkan kepala sedalam-dalamnya kepada Tanaka-san. Benar-benar dengan sepenuh hati. Sampai-sampai wajahku hampir bergesekan dengan meja.
"Ti-tidak, anu, kalau kamu sedang mengantuk ya apa boleh buat. Kamu juga tidak melukaiku, jadi benar-benar, a-aku tidak keberatan kok. Ti-tidak apa-apa, de-hyu (desu)."
Sepertinya ketulusanku tersampaikan karena Tanaka-san memaafkanku, tapi suaranya bergetar dan jelas-jelas dia sedang tidak baik-baik saja.
"...... Benarkah?"
"...... Benar-benar benar!"
Namun, saat aku memastikannya kembali pada orangnya langsung, katanya tidak ada masalah. Meski aku tidak merasa begitu, kemarin aku baru saja gagal dalam "Ujian Sertifikasi Tanaka-san". Aku tidak boleh asal menyimpulkan perasaannya sendiri. Karena kemungkinan besar aku akan salah paham lagi, aku memutuskan untuk percaya saja pada kata-katanya.
(Pipi Tanaka-san tadi benar-benar terasa nyaman ya.......Ngomong-ngomong, kenapa aku dibangunkan?)
Sambil terus mengingat sensasi tadi agar tidak lupa, pertanyaan itu tiba-tiba melintas di kepalaku. Saat itulah aku baru menyadari sekeliling dan melihat bahwa sekarang sedang berlangsung pelajaran matematika.
"Baik, selanjutnya Maezono."
"Siap."
Guru sedang menyuruh para murid mengerjakan soal dalam jumlah banyak secara berurutan, dan sepertinya giliranku akan segera tiba. Ternyata, Tanaka-san khawatir padaku dan sengaja membangunkanku.
(Haa, dia baik sekali. Tanaka-san benar-benar malaikat.)
Sambil berterima kasih kepada Tanaka-san di dalam hati, aku segera membuka buku kumpulan soal dan mengerjakan soal yang akan menjadi bagianku. Karena soalnya relatif mudah, aku bisa menyelesaikannya dengan cepat.
Saat aku sedang luang dan mulai mengerjakan soal-soal lainnya, Tanaka-san menyapa, "Anu, apakah kamu baik-baik saja?"
Aku yang tidak mengerti maksud pertanyaannya hanya memasang wajah bingung, lalu Tanaka-san menambahkan, "Soal bagian Nakayama-kun tadi relatif sulit, soalnya."
Kalau sudah dibilang begitu, aku baru paham. Tanaka-san khawatir apakah presentasiku nanti akan berjalan lancar atau tidak. Tapi, tidak masalah. Biar begini, aku ini orang yang bereinkarnasi. Matematika tingkat SMA sama sekali tidak ada masa—bukannya tidak ada masalah, tapi itu cerita masa lalu. Demi saat-saat kencan belajar dengan gadis ideal di masa depan nanti, aku sudah belajar kembali agar bisa mengajarinya dengan baik. Karena itu, materi sampai tingkat kelas 2 SMA masih bisa kulalui dengan mudah.
Tapi, diajari belajar oleh Tanaka-san adalah situasi yang sangat menarik. Sesaat sebelum aku hampir keceplosan bilang "Tolong ajari aku", aku tersadar.
(Bukannya lebih bagus kalau posisinya dibalik?)
Daripada dianggap bodoh, jelas lebih baik dianggap pintar. Apa aku akan membuang kesempatan untuk mengajari Tanaka-san belajar di masa depan hanya demi kebahagiaan sesaat sekarang? Jawabannya adalah tidak. Benar-benar tidak mungkin.
"Tidak apa-apa. Aku sudah menyelesaikannya, kok."
Dengan berat hati, aku menolak tawaran Tanaka-san.
Saat aku memperlihatkan buku catatan yang sudah terisi rumus perhitungannya, Tanaka-san tampak terkejut sambil berkata, "Hebat. Ternyata Nakayama-kun pintar ya."
Uu-hyoo—! Aku baru saja dipuji oleh Tanaka-san. Perasaanku enak sekali. Dengan begini, citra bahwa aku pintar pasti sudah tertanam di benak Tanaka-san. Sisanya, tinggal menunggu saat Tanaka-san kesulitan lalu menyapanya secara alami—
Jam pelajaran kedua (Sejarah).
"Tahun berapakah Keshogunan Muromachi didirikan? Tanaka, coba jawab."
"Baik. Tahun 1336."
"Jawaban tepat. Kamu belajar dengan rajin ya."
"Terima kasih banyak."
"............"
Jam pelajaran ketiga (Kimia).
"Apa yang dihasilkan jika aluminium oksida dicampur dengan asam klorida? Tanaka-san, kamu tahu?"
"Aluminium klorida dan air."
"Ya, benar sekali. Terima kasih sudah menjawab."
"........................"
Jam pelajaran keempat (Sastra Klasik).
"Jika kalimat ini disusun ulang mengikuti tanda baca ini, akan menjadi seperti apa? Tanaka."
"Baik. Karena perang, pulang kembali tidaklah mungkin."
"Cepat sekali. Kamu belajar dengan giat ya. Terima kasih."
"Sama-sama."
"................................................"
—Sial, Tanaka-san sama sekali tidak kesulitan!? Bahkan saat ditunjuk mendadak oleh guru pun, dia menjawab dengan tenang.
Sekarang aku tahu kenapa sebelumnya aku tidak pernah terpikirkan strategi ini. Sampai hari ini, aku tidak pernah sekalipun melihat Tanaka-san kesulitan di tengah pelajaran.
Yah, karena Tanaka-san tidak membutuhkan ajaran siapa pun, tentu saja orang-orang di sekitarnya tidak akan terpikir untuk mengajarinya. Sepertinya, bukan hanya penampilannya yang luar biasa, tapi otaknya juga sangat encer, hanya saja aku yang tidak menyadarinya selama ini.
(Keren banget, sih!! Tanaka-san benar-benar terlalu kuat. Bagiku sekarang ini sangat merepotkan, tapi tetap saja dia hebat. Dia pasti belajar dengan rajin setiap hari. Padahal dia pasti lelah karena kegiatan klub setiap hari. Benar-benar anak yang luar biasa.)
Meski perasaanku campur aduk, memikirkan latar belakang kemampuan akademiknya yang tinggi membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sepertinya rencana "Mengajari Tanaka-san Belajar" telah gagal total.
Di tengah hiruk pikuk jam istirahat makan siang, aku menghela napas panjang dan berdiri untuk membeli minum. Saat keluar ke koridor dan menuju tangga, di tengah jalan aku melihat Tanaka-san sedang diajak bicara oleh seorang guru.
"Baiklah. Berarti saya cukup membawa ini ke ruang persiapan, ya?"
"Maaf ya, ini pasti berat kalau sendirian, tapi tolong bantuannya."
Guru itu mengatupkan tangan dengan wajah merasa bersalah lalu pergi dari sana. Tanaka-san ditinggal sendirian sambil memeluk dua kotak kardus besar dengan kedua tangannya. Dari gelagatnya, isi kardus itu sendiri sepertinya ringan, jadi membawanya mungkin bukan masalah. Hanya saja, pandangan depannya tertutup sepenuhnya oleh kardus itu, yang mana sangat berbahaya saat berjalan.
"Tanaka-san. Sini, aku ambil satu."
"Eh, Nakayama-kun?"
Karena merasa tidak boleh terjadi apa-apa pada Tanaka-san, aku meminta izin sambil langsung mengambil satu kardus darinya. Dengan berkurangnya satu kardus, wajahnya pun terlihat, dan dia memasang ekspresi yang benar-benar terkejut.
"Ke ruang persiapan, kan?"
"I-iya, tapi tidak apa-apa kok. Ini ringan jadi aku bisa membawanya sendiri. Tolong kembalikan."
"Tidak, tidak, mana mungkin tidak apa-apa kalau jalan sambil tidak melihat ke depan. Lagipula aku sekalian mau beli jus, jadi jangan dipikirkan."
Sambil berkata begitu, aku mulai berjalan meninggalkan Tanaka-san yang masih bingung. Yah, kenyataannya Poca*i incaranku ada di mesin penjual otomatis yang arahnya berlawanan dengan ruang persiapan, sih. Tapi, sesekali membeli minuman lain tidak ada salahnya.
(Cola jangan, karena aku tidak mau Tanaka-san melihatku bersendawa. Skal juga ditolak dengan alasan yang sama. Berarti, Aquarus saja?)
Sambil memikirkan minuman apa yang akan kubeli, Tanaka-san yang tiba-tiba sudah berjalan sejajar di sampingku mengucapkan kata-kata terima kasih.
"Terima kasih banyak ya."
"Yo."
(Bantuan fisik seperti ini selalu berhasil, ya. Haa, apakah di pelajaran sore nanti tidak ada mata pelajaran yang tidak dikuasai Tanaka-san?)
Meski tahu itu hampir mustahil terjadi, aku tetap berharap akan ada perkembangan yang menguntungkan bagiku agar aku bisa mengajarinya belajar dan dipuji lagi olehnya.
Waktu berlalu hingga jam pelajaran keenam (Sejarah Dunia).
Aku sedang dalam masalah besar.
"Akhirnya, di antara Gi, Go, dan Shi, siapa yang keluar sebagai pemenang? Nakayama-kun."
"A-anu...?"
Alasannya sederhana: aku tidak tahu jawaban dari pertanyaan guru.
Di kehidupan sebelumnya, Sejarah adalah mata pelajaran pilihan, dan aku mengambil Sejarah Jepang. Jadi, kalau Sejarah Jepang, aku bisa menjawab sebagian besar pertanyaan. Namun, di kehidupan sekarang, Sejarah Dunia dan Sejarah Jepang adalah mata pelajaran wajib. Meski aku sudah belajar Sejarah Dunia, pengetahuanku jauh lebih sedikit dibandingkan mata pelajaran lainnya.
(Tiga Kerajaan itu siapa yang menang ya? Karena terlalu asyik main game basmi musuh tanpa peduli ceritanya, aku jadi tidak tahu sama sekali.)
Di bawah tatapan seluruh kelas, saat aku mencoba menggali ingatan yang samar untuk bertahan hidup, tiba-tiba ujung bajuku ditarik. Saat aku melirik ke bawah, Tanaka-san sudah menyiapkan buku catatannya dan menunjuk ke bagian tertentu dengan jarinya.
"Emm, jawabannya adalah Gi."
"Tepat sekali. Kamu melakukan persiapan dengan baik ya. Silakan duduk."
"Baik."
Begitu aku mengucapkan kata-kata yang tertulis di buku catatan itu, guru Sejarah Dunia tersenyum puas, dan tatapan yang tadi tertuju padaku langsung hilang seketika. Aku yang sangat lelah karena ketegangan tadi langsung duduk di kursi dan menatap langit-langit.
Setelah itu, aku teringat akan sosok penyelamatku dan melirik ke samping.
"...Tanaka-san, terima kasih ya. Tadi sangat membantu."
"...Fufu."
Begitu mendengar ucapan terima kasihku, bibir Tanaka-san menyunggingkan senyum.
"...Emm, kenapa tiba-tiba tertawa?"
"...Tidak, aku hanya merasa senang. Karena Nakayama-kun selalu membantuku, tapi aku tidak punya kesempatan untuk membalas budi. Aku senang karena hari ini bisa membalasnya dengan benar. Tapi, karena 'tabunganku' masih banyak, tolong katakan ya kalau kamu sedang dalam kesulitan."
Tanaka-san mengatakannya tanpa ragu sedikit pun kepadaku yang sedang memiringkan kepala heran, dan dia tersenyum seperti anak kecil yang baru saja sukses membantu orang tuanya.
Degup!
Jantungku berdetak kencang. Merasakan pigmen di wajahku berubah menjadi merah, secara refleks aku memalingkan wajah ke arah lain.
"...Kalau begitu, nanti kalau waktunya tiba, aku mohon bantuannya."
"...Iya."
(Serius, dia terlalu curang.)
Padahal aku yang ingin membuatnya terpikat, tapi kalau diperlakukan begini, malah aku yang semakin terperosok dalam kepesonanya. Tidak, sebenarnya aku sudah terperosok ke level yang tidak bisa kembali lagi, tapi jika terus begini, aku akan tertelan sepenuhnya.
Sambil mendinginkan wajah yang panas menggunakan alas tulis, aku berpikir, jika dia melakukan ini dengan sengaja, berarti dia benar-benar terlalu pintar.



Post a Comment