Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 6
Tanaka-san Sangat Menyayangi Temannya
Sehari setelah musim hujan tiba sedikit lebih awal. Begitu masuk ke kelas, aku menyadari bahwa jumlah orang di sini sedikit lebih sepi dari biasanya.
"Kok hari ini orangnya sedikit ya?"
"Ah, benar juga. Entahlah, mungkin mereka tumbang karena tekanan udara rendah?"
"Mungkin itu salah satunya, tapi bukankah penyebabnya hujan mendadak hari Jumat kemarin? Pas jam pulang sekolah kan hujannya deras sekali."
"Benar juga. Kalau begitu, wajar saja kalau mereka jatuh sakit."
Karena ini sedang pergantian musim, hal seperti ini pasti sesekali terjadi. Aku meyakinkan diriku sendiri lalu duduk di kursi.
(Bagaimana dengan Tanaka-san ya?)
Sambil menatap ke luar jendela, aku memikirkan hal itu. Suara instrumen dari klub tiup masih terdengar seperti biasa hari ini, tapi itu tidak menjamin Tanaka-san ada di sana.
Seandainya kami sudah bertukar kontak, aku bisa mengetahuinya dengan mudah, tapi sayangnya, belum ada ikon Tanaka-san di kolom pesan LNE atau Instgram-ku.
Aku selalu mencari kesempatan, tapi waktu yang tepat untuk bertukar ID tak kunjung datang. Mungkin Tanaka-san tidak akan marah kalau aku menambahkannya langsung dari grup kelas, tapi rasanya tidak enak menggunakan informasi pribadi tanpa izin orangnya langsung.
(Aku ingin mencoba mengobrol dengan Tanaka-san sampai larut malam...)
Dengan khayalan sedang bertukar pesan santai dengan Tanaka-san di atas tempat tidur sebagai penyemangat, aku memantapkan tekad untuk berhasil bertukar kontak hari ini.
"—Tanaka, Hayashi, Machida, total ada enam orang yang absen. Katanya bukan flu, tapi kalian semua tetaplah berhati-hati."
"Serius nih?"
Namun, seolah menertawakan tekadku tadi, wali kelas mengumumkan bahwa Tanaka-san absen. Sepertinya dunia hari ini sedang tidak ramah padaku. Meski begitu, bukan berarti tidak ada yang bisa kulakukan. Aku akan mencatat pelajaran dengan rajin demi Tanaka-san yang sedang libur. Dengan begitu, Tanaka-san pasti akan senang.
"Tulisannya harus kubuat lebih rapi dari biasanya, deh."
Biasanya aku hanya mementingkan kecepatan dan tidak peduli kerapian, tapi kalau diperlihatkan kepada gadis pujaan, aku jadi sangat peduli. Aku merasa benar-benar sedang menjadi remaja laki-laki pada umumnya.
Merasa sedikit geli dengan diri sendiri, aku menghela napas panjang lalu berdiri untuk membeli isi ulang kertas loose-leaf baru.
"Yo, Nakayama. Mau beli apa?"
"Yo, Norimizu-san. Mau beli kertas loose-leaf nih."
Begitu sampai di koperasi sekolah, aku disapa oleh Norimizu-san, teman akrab Tanaka-san. Tanpa sadar, mataku tertarik pada rambut pirang kuncir duanya yang bergoyang dan taring kecilnya yang sedikit terlihat. Selain itu, dia punya standar kecantikan yang tinggi, wajahnya rupawan, dan kepribadiannya santai sehingga mudah diajak bicara. Di kehidupan sebelumnya, dia pasti tipe gyaru kasta atas yang sangat populer. Namun, meskipun gadis ini sangat imut, anehnya dia juga kurang populer sama seperti Tanaka-san, dan posisinya di kelas terasa seperti murid biasa saja.
(Dunia ini benar-benar aneh, ya.)
Sambil menyadari kembali keabnormalan dunia ini, aku mengambil sebungkus kertas loose-leaf.
"Norimizu-san sendiri beli apa?"
"Aku juga beli kertas loose-leaf. Aku berniat mencatatkan pelajaran untuk Ta-chan yang sedang libur."
"Be-begitu ya. Kebetulan sekali."
Ternyata Norimizu-san datang ke koperasi dengan alasan yang sama. Kalau dipikir-pikir, itu wajar saja. Tanaka-san punya teman baik, jadi tidak aneh jika ada orang lain selain aku yang bergerak demi dia.
Di tangan Norimizu-san sudah ada kertas loose-leaf yang sudah ditempeli stiker lunas. Dalam situasi ini, sulit bagiku untuk bilang "Biar aku saja yang buatkan, kamu tidak perlu repot". Lagipula, kalau aku bilang begitu, rahasia bahwa aku menyukai Tanaka-san bisa terbongkar, dan aku tidak mau menyia-nyiakan niat baiknya.
"Kebetulan, aku juga berniat mencatatkan pelajaran untuk Hayashi."
"Ahaha, serius? Kita benar-benar sefrekuensi ya. Kalau begitu, mari kita berdua semangat hari ini. Oh iya, kalau aku ketiduran, boleh lihat catatanmu ya, Nakayama?"
"Boleh saja, tapi sebaliknya kalau aku yang tidur, perlihatkan catatanmu padaku ya."
"Okee sip!"
Norimizu-san yang percaya sepenuhnya pada bohongku tertawa terbahak-bahak sambil berkata, "Tapi kalau kita berdua sama-sama tidur, gawat juga ya? Terus gimana?"
"Kalau begitu ya terpaksa pinjam punya orang lain."
Aku ikut tertawa basa-basi mengikuti suasananya, sambil meratap di dalam hati: (Duh, semangatku turun nih kalau harus bekerja demi sesama laki-laki...).
"Nee, nee, Nakayama. Menurutmu Ta-chan itu orangnya bagaimana?"
Dalam perjalanan kembali dari koperasi. Norimizu-san yang berjalan di sampingku tiba-tiba bertanya hal itu, membuat jantungku berdegup kencang.
"Menurutku dia anak yang baik dan lembut. Lalu, dia juga perhatian dan suka mengurusi adik kelasnya."
Sambil berusaha berpura-pura tenang dan memberikan jawaban yang aman, suara Norimizu-san terdengar ceria, "Kan, benar!"
"Ta-chan itu benar-benar anak baik! Kemarin waktu barangku hilang, dia mau menemaniku mencarinya sampai larut malam. Di hari lain, karena dia tahu aku kurang tidur, dia membiarkanku tidur di pangkuannya pas jam istirahat. Rasanya halus, nyaman, dan puncaknya ketenangan deh. Terus ya, karena dia khawatir aku sering makan bekal minimarket, dia buatkan masakan untukku. Terutama kinpira gobo-nya, enak banget!"
Norimizu-san bercerita tentang Tanaka-san dengan wajah yang benar-benar bahagia.
"He~ begitu ya."
(Apa-apaan itu, iri banget!?)
Aku berakting seolah tidak tertarik, padahal sebenarnya aku sangat menyimak setiap detail cerita Norimizu-san.
Aku merasa sangat kesal sekaligus cemburu pada kenyataan bahwa Norimizu-san sudah melakukan hal-hal yang ingin kulakukan bersama Tanaka-san suatu hari nanti. Dia seolah sudah merebut semua "momen pertama" dengan Tanaka-san, itu hal yang wajar kurasakan, kan?
Tapi jika sudut pandangnya diubah, aku jadi tahu bahwa jika hubungan kami sudah mendalam, Tanaka-san akan bersedia membuatkan masakan atau memberiku lap pillow. Mengetahui hal itu membuatku sedikit senang.
Secara keseluruhan, aku menaruh sedikit rasa iri sekaligus menganggap Norimizu-san sebagai saingan. Suatu hari nanti, aku akan melakukan hal-hal yang bahkan belum pernah dilakukan oleh sahabatnya itu.
"—Tapi, menurutku alasan kenapa aku merasa Ta-chan adalah anak yang baik adalah karena dia hampir tidak pernah membicarakan keburukan orang lain. Makanya, mengobrol dengannya itu sangat menyenangkan."
"Ah, kalau itu aku setuju."
"Benar-benar hebat, ya. Padahal biasanya mengeluh atau menjelekkan orang lain itu sangat mudah dilakukan, tapi meskipun suasana di sekitar sedang begitu, hanya Ta-chan yang tidak ikut-ikutan. Bahkan dalam beberapa situasi, dia justru menghentikannya dengan cara yang halus....Aku benar-benar bersyukur soal itu."
Norimizu-san yang tadinya menggebu-gebu menceritakan kelebihan Tanaka-san tiba-tiba berubah suasananya. Jika tadi dia tertawa bangga, sekarang dia tersenyum lembut seolah sedang meresapi kenangan berharga.
"Dulu pernah terjadi sesuatu?"
Saat aku bertanya karena penasaran, Norimizu-san tersipu dan menggaruk pipinya.
"Eh, apa aku mengatakannya barusan? Memalukan sekali~."
"Yah, begitulah, ini cerita klasik sebenarnya. Waktu awal masuk SMA, aku sempat agak 'liar' dan nakal. Aku jadi terkucilkan di kelas. Makanya, banyak orang yang membicarakanku di belakang. Tapi, hanya Ta-chan yang tidak ikut bicara, malah dia baik padaku dan melindungiku tanpa merusak suasana kelas. Berkat dia, aku perlahan bisa membaur dengan kelas ini. Aku benar-benar berterima kasih padanya. Ah, tapi ini rahasia, ya? Terutama pada Ta-chan, jangan sampai kamu mengatakannya."
Norimizu-san menempelkan jari telunjuknya di bibir dengan malu-malu, mengisyaratkan untuk tutup mulut.
"Aku mengerti. Aku tahu batasan untuk hal seperti itu, jadi tenang saja."
Meski penjelasannya singkat, aku paham betul bahwa berkat Tanaka-san, hidup Norimizu-san berubah. Aku sama sekali tidak berniat mengumbar kenangan berharga mereka berdua secara sembarangan. Namun, hal ini kembali menegaskan bahwa gadis yang kusukai memang benar-benar luar biasa.
"Baguslah kalau begitu. Duh, kenapa aku malah keceplosan sih? Benar-benar memalukan. Awas ya, jangan sampai bilang-bilang!?"
"Iya, iya, aku mengerti."
"Jawabanmu sama sekali tidak meyakinkan!"
Setelah itu, sambil menanggapi Norimizu-san yang terus-menerus mengingatkanku dengan cerewet, aku terus berjalan menuju ruang kelas.
◇
Keesokan harinya.
"Nih, Hayashi. Catatan buat pelajaran kemarin saat kamu absen."
Aku menyodorkan kertas loose-leaf kepada si atlet bisbol yang berangkat ke sekolah dengan kondisi sangat bugar, seolah tidak pernah kena flu.
"Serius!? Nakayama, terima kasih banyak. Ini sangat membantu!"
Wajah Hayashi berbinar kegirangan. Aku senang kalau dia terbantu, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk berpikir, seandainya saja yang kuberi ini Tanaka-san...
"Kalau begitu, catatan hari ini kuserahkan padamu ya."
"Eh, kamu mau pulang sekarang?"
"Enggak lah. Aku sehat-sehat saja."
"Ya sudah, catat sendiri sana!? Aku baru akan mencatatkanmu kalau kamu yang absen."
"Iya, iya. Kalau begitu, aku titip ya saat aku absen nanti."
Dengan perasaan yang entah harus senang atau sedih, aku berpisah dari Hayashi dan berjalan lunglai menuju bangkuku. Saat aku sedang menyandarkan kepala di meja, terdengar suara Norimizu-san, "Ta-chan, selamat pagi!"
Sepertinya Tanaka-san sudah sampai di sekolah. Saat aku menoleh ke samping, kulihat Norimizu-san sedang memeluknya.
"Ah, iya, ini. Silakan, catatan pelajaran kemarin."
"A-ah, terima kasih, Mikoto-chan. Apa kamu sengaja menuliskannya untukku?"
"Begitulah. Ah, maaf ya kalau tulisanku agak berantakan."
"Tulisan Mikoto-chan rapi kok, jadi tidak apa-apa. Ini sangat membantu, tapi sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot menulis ulang, cukup kirim foto saja kan bisa?"
"Aku sempat terpikir begitu sih. Tapi waktu kelas satu dulu, Ta-chan menuliskannya dan memberikannya langsung padaku, kan? Makanya, aku ingin melakukan hal yang sama."
"Waktu itu kan karena aku belum terlalu paham cara pakai ponsel pintar, jadi kamu tidak perlu menirunya!"
Sepertinya itu adalah masa lalu yang memalukan bagi Tanaka-san. Dia memalingkan wajah dengan pipi yang merona. Imut sekali. Dan pantulan di kaca jendela memperlihatkan dia sedang memeluk kertas loose-leaf itu dengan sangat berharga sambil tersenyum kecil—itu juga sangat imut. Norimizu-san sepertinya menyadari hal itu dan ikut tersenyum penuh arti.
"—Toko ini beneran enak lho, ayo ke sana minggu depan."
"Boleh juga. Wah, pancake ini kelihatannya enak sekali."
"Puding karamel ini juga enak, kita makan itu juga ya. Ah, sudah hampir masuk, aku kembali ke tempatku dulu ya."
"Iya, sampai nanti."
Setelah itu, untuk menutupi waktu absennya, mereka berdua terus mengobrol sampai detik-detik terakhir jam istirahat berakhir.
Saat aku sedang memperhatikan Norimizu-san yang menjauh sambil memegang ponsel, tiba-tiba aku disapa, "Nakayama-kun, selamat pagi." Meski di waktu seperti ini rasanya tidak perlu menyapa lagi, sifat kaku dan sopan itu benar-benar khas Tanaka-san.
"Pagi, Tanaka-san. Kondisi tubuhmu sudah ba—ah, tadi aku sudah dengar sih. Syukurlah kalau kamu sudah sehat kembali."
Sambil meresapi kegembiraan karena rutinitas sehari-hari yang biasa telah kembali, aku membalas sapaannya, dan Tanaka-san pun menundukkan kepalanya.
"Iya, berkat bantuanmu. Aku dengar dari Mikoto-chan kalau kamu menggantikan jadwal piket kebersihanku. Terima kasih banyak ya."
"Ah, itu... aku cuma melakukan hal yang sewajarnya saja, jadi jangan dipikirkan."
Karena merasa malu, tanpa sadar aku memalingkan wajah dari Tanaka-san. Jujur saja, alih-alih diucapkan terima kasih, aku mengira dia bahkan tidak akan menyadarinya, jadi ini benar-benar buruk bagi kesehatan jantungku. Ada perasaan "Nice!" karena Mikoto memberitahunya, tapi sebagai harga diri laki-laki, perasaanku agak campur aduk. Aku merasa akan lebih keren jika hal seperti ini tidak diucapkan, lalu suatu saat dia menyadarinya secara kebetulan.
(Yah, mungkin karena pola pikir begini makanya aku lajang terus.)
Sambil merasa sangat lelah dengan diriku sendiri yang belum bisa membuang kepekaan kekanak-kanakan ini, aku dibuat pening oleh Tanaka-san yang memujiku dengan tulus, "Itu bukan hal yang sewajarnya kok. Bisa bergerak demi orang yang kesulitan adalah sisi baik dari Nakayama-kun."
Sejak tadi wajahku terasa panas, dan aku sangat khawatir kalau-kalau Tanaka-san menyadarinya.
"Makasih."
Sambil meyakinkan diri sendiri dengan logika tidak masuk akal bahwa bertingkah keren akan menurunkan panas di wajah, aku berusaha berpura-pura tenang sebisa mungkin.
Lalu, pada jam istirahat berikutnya setelah Short Home Room berakhir. Tanaka-san tampak sedang "bertarung" sengit dengan ponselnya. Sesekali terdengar suara gumaman gelisah seperti, "Umm...", "Rasanya bukan yang ini...", dan sebagainya.
"Lagi bingung soal apa?"
Karena penasaran, akhirnya aku menyapanya. Seketika, Tanaka-san membelalakkan mata, lalu dengan malu-malu menutupi mulutnya dengan ponsel.
"Ma-maaf. Anu, memilih kado ternyata sulit sekali."
Sepertinya suara gumaman tadi keluar tanpa sengaja. Imutnya. Tapi, suasana hatiku tidak dalam kondisi bisa memujanya dengan murni.
(Jangan-jangan, buat pacar?)
Tanaka-san adalah gadis menawan yang tidak aneh jika sudah punya pacar, jadi bukan hal mustahil jika dia mendapatkannya tanpa aku sadari, tapi aku tidak mau tahu kenyataan seperti itu. Membayangkan ada laki-laki yang merawat Tanaka-san dengan telaten saat dia terbaring demam, lalu melihat sosok seksi Tanaka-san dengan piyama yang agak berantakan... rasanya otakku mau pecah.
"He~ omong-omong, buat siapa kadonya?"
Aku menekan gejolak emosi yang mengamuk di dalam hati, berusaha berpura-pura tenang, dan bertanya siapa penerimanya.
"Buat Mikoto-chan. Ulang tahunnya lusa, jadi aku harus segera memutuskannya sekarang, tapi ini sulit sekali."
Tanaka-san tersenyum kecut seolah malu dengan ketidakmampuannya sendiri. Tidak ada setitik pun kebohongan di sana, dan akhirnya aku bisa menghela napas lega.
(Nggak, lagipula aku sudah menyelidiki hubungan pertemanan Tanaka-san dengan teliti, jadi aku sudah tahu kok. Lagian kalau Tanaka-san punya pacar, gelagatnya pasti aneh dan bakal langsung ketahuan. Aku sama sekali nggak cemas kok, beneran.)
Setelah selesai memberikan pembelaan entah kepada siapa, aku mengalihkan pikiran ke masalah kado. Menurut pengamatanku, Norimizu-san pasti akan senang menerima kado apa pun dari Tanaka-san. Mungkin karena Tanaka-san juga tahu hal itu, makanya dia jadi bingung memilih. Aku sering mengalami hal serupa saat memberi kado untuk orang tuaku, jadi aku sangat paham.
"Sudah ada kandidatnya?"
"Belum, sama sekali belum. Mikoto-chan suka barang-barang lucu, tapi aku tidak punya selera yang bagus untuk memilih hal-hal seperti itu."
"Masa sih?"
"Iya. Dari dulu penilaian orang-orang tidak terlalu bagus soal seleraku."
Ucapnya sambil tertawa mencela diri sendiri dan memainkan rambutnya. Namun, aku merasa ragu soal itu.
"Heh, tapi menurutku ikat rambut (scrunchie) yang Tanaka-san pakai itu lucu kok."
Sebab, dua ikat rambut dan jepit rambut yang biasa dia pakai menurutku sangat berselera tinggi dan berhasil menonjolkan keimutannya dengan sangat baik. Kalau dia bilang seleranya buruk, aku tidak mengerti lagi. Jika benar begitu, berarti seleraku nol besar.
"!? A-ah... terima kasih banyak."
Sepertinya benar bahwa dia jarang dipuji, karena setelah mendengar pendapatku, Tanaka-san menundukkan wajahnya dengan malu-malu. Caranya meremas-remas ikat rambutnya untuk menutupi rasa malu itu benar-benar menggemaskan.
Ya. Aku rasa orang-orang yang bilang dia tidak imut itu memang aneh. Kalau ada orang dengan mata rabun seperti itu, ingin rasanya aku mencolok matanya.
Ups, pikiranku melantur. Aku harus memikirkan kado ulang tahun Norimizu-san.
(Tapi kalau tidak memilih aksesori atau boneka, jadinya sulit juga ya. Kosmetik pun ada masalah cocok atau tidaknya di kulit. Apa ada ide bagus?)
Aku memeras otak cukup lama. Tiba-tiba, perkataan Norimizu-san terlintas di kepalaku.
"Anu, Tanaka-san pandai memasak, kan?"
"Eh, sama sekali tidak kok! Cuma sekadar hobi saja."
Tanaka-san menggelengkan kepalanya kuat-kuat merespons pertanyaanku. Tapi, dari cerita Norimizu-san, aku tidak merasa begitu. Lagipula, kinpira gobo yang aku cicipi dulu itu sangat lezat. Jika dia diajari oleh ibunya yang jago masak, tidak mungkin kemampuannya di bawah rata-rata.
"Tapi Norimizu-san bilang masakan Tanaka-san enak lho?"
"Duh, Mikoto-chan ini benar-benar... Nakayama-kun, kemampuanku itu biasa saja, jadi jangan salah paham ya."
"Tapi, kalau biasa saja berarti kamu bisa membuat sesuatu sampai batas tertentu, kan?"
"Yah, begitulah. Kalau standar saja sih bisa."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu membuatkan kue kesukaan Norimizu-san?"
"Kue buatan sendiri? Kalau sesuatu yang sederhana seperti roll cake atau tiramisu sih aku bisa membuatnya. Tapi apa dia bakal senang? Bukannya biasanya orang lebih senang kalau dibelikan di toko—"
"Tidak mungkin! Yang terpenting dari kado ulang tahun adalah perasaannya. Kalau aku jadi temannya dan diberi kue buatan sendiri, aku pasti akan sangat senang dan menjadikannya kenangan seumur hidup!"
Kalau aku yang diberi hadiah seperti itu oleh Tanaka-san, sudah pasti aku akan mengambil seratus foto, lalu memamerkannya ke semua temanku. Maksudku, aku ingin banget!
Saat aku mencondongkan tubuh dan menjelaskan dengan penuh semangat, Tanaka-san tampak tercengang dan mengerjapkan matanya. Begitu menatap matanya, saat itu juga aku sadar, "Gawat," aku melakukan kesalahan. Padahal aku sedang berakting menjadi karakter keren di depan Tanaka-san, tapi aku malah tidak sengaja menunjukkan jati diriku yang berisik.
Tapi, sudah terlambat untuk berpura-pura sekarang.
"Ma-maksudku, secara umum orang-orang pasti berpikir begitu. Jadi, Norimizu-san juga pasti akan senang. Kalau sampai akhir kamu belum memutuskan apa-apa, anggap saja tertipu olehku dan cobalah buatkan itu."
"I-iya. Baiklah."
Sambil menahan rasa malu yang luar biasa, akhirnya aku berhasil menyelesaikan saranku untuk Tanaka-san. Namun, pada titik itu aku sudah mencapai batas kemampuanku.
"Kalau begitu, tidak ada lagi yang bisa kukatakan. Aku ke toilet dulu."
Begitu keluar dari kelas, aku langsung menyandarkan punggung ke dinding koridor dan terduduk lemas.
"Lagi ngapain, Nakayama?"
Beberapa saat kemudian, Hayashi yang sepertinya baru kembali dari toilet menyapaku. Karena merasa enggan mengungkapkan alasan sebenarnya, aku berbohong,
"Cuma pusing sedikit, kok."
"Kalau beneran sakit bilang dong!? Sini aku catatkan pelajarannya, kamu ke UKS saja sana."
"Nggak sampai level segitu, tahu!"
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kalau lagi merasa berat jangan sungkan, jujur saja dan minta tolong."
"Eh, tunggu dulu!?"
Alhasil, Hayashi yang percaya sepenuhnya pada kebohonganku langsung merangkul bahuku dengan paksa. Meski sudah melawan sekuat tenaga, aku tetap "diseret" ke UKS oleh si otot besar ini.
◇
Pagi hari setelah ulang tahun Norimizu-san. Tanaka-san dan Norimizu-san masuk ke kelas bersamaan dengan suasana hati yang sangat baik.
"Selamat pagi, Nakayama-kun. Berkat saran darimu, Mikoto-chan sangat senang."
"Aku juga mau bilang makasih ya. Berkat Nakayama, aku bisa makan roll cake yang luar biasa enak buatan Ta-chan."
Begitu mata kami bertemu, Tanaka-san dan Norimizu-san langsung mengucapkan terima kasih dengan senyum lebar. Imutnya. Jujur, hanya dengan melihat wajah mereka berdua yang seperti ini, aku merasa dari lubuk hati terdalam bahwa memberikan saran itu adalah keputusan yang tepat.
"Syukurlah kalau begitu."
"Nih, lihat-lihat. Kelihatannya enak banget, kan!? Serius, ini sudah level toko kue lho!"
Saking senangnya, Norimizu-san mengeluarkan ponsel dari saku dan memperlihatkan foto roll cake pemberian Tanaka-san. Awalnya aku membayangkan roll cake sederhana yang terlihat "rumahan", tapi yang muncul malah kualitas profesional. Krimnya diberi warna merah muda pucat, dan stroberi di atasnya bahkan diberi sentuhan ukiran pisau yang dekoratif.
"Eh, ini beneran buatan sendiri? Kalau begini sih, bilang kemampuannya 'biasa saja' itu keterlaluan, Tanaka-san."
"Kan! Saking enaknya aku sampai merasa pipiku mau copot!"
"Bukan cuma kuenya yang hebat, tapi kalau dilihat-lihat, tulisan Happy Birthday dari saus cokelat ini benar-benar level profesional."
"Sudah, kalian berdua, ini memalukan, tolong berhenti!"
Karena aku dan Norimizu-san terus memuji kualitas yang di luar ekspektasi ini, Tanaka-san yang tidak tahan dipuji langsung menyembunyikan wajahnya di balik tas. Imutnya. Aku dan Norimizu-san yang masih ingin melihat reaksi Tanaka-san terus memujinya habis-habisan, mulai dari rasa kue, hiasannya, sampai selera aroma terapi yang dia berikan sebagai tambahan.
"Ah, sudah hampir bel. Sampai nanti ya, Ta-chan."
"......Akhirnya selesai juga."
Setelah sepuluh menit berlalu dan jam wali kelas dimulai, kami pun bubar, namun saat itu Tanaka-san sudah dalam kondisi groggy.
"Hmm, apa kamu masih mau dipuji lagi?"
"Tidak! Ini sudah melebihi kapasitasku, jadi tolong berhenti sekarang juga!"
Saat aku mencoba menggodanya sedikit, dia mengeluarkan jeritan yang terdengar serius, membuatku tak tahan untuk tertawa.
Sepertinya pujian tadi benar-benar "menyiksanya". Namun, suaranya masih terdengar bersemangat dan sepertinya masih bisa dijahili sedikit lagi. Saat aku sedang menimbang antara rasa ingin menjahili dan akal sehat, Tanaka-san justru melakukan serangan balik.
"Anu, Nakayama-kun. Ini."
Sambil berkata begitu, Tanaka-san menyodorkan sebuah kotak putih. Aku bertanya-tanya apa isinya, dan saat membukanya, di sana ada roll cake yang baru saja kulihat lewat layar ponsel.
"Eh? Ini kan yang kamu berikan ke Norimizu-san. Kenapa ada di sini?"
"Itu, sebenarnya, karena aku tidak ingin gagal, aku berlatih sampai lima kali sebelum hari H."
"Lima kali!? Pantas saja ada sisanya."
"Tidak, yang itu semuanya sudah kumakan sendiri."
"Dimakan semua!?"
Karena penasaran kenapa kue ini bisa ada di sini, aku bertanya, tapi alasan yang di luar dugaan itu membuatku melotot. Maksudku, aku tahu sifat Tanaka-san yang perfeksionis pasti akan membuatnya berlatih, tapi aku tidak menyangka dia akan melakukannya sejauh itu. Terlebih lagi, memakan semua hasil latihannya... Tanaka-san benar-benar suka makan ya.
"Tapi karena bahan-bahannya masih sisa, aku membuat satu lagi pagi tadi. Sebagai tanda terima kasih atas sarannya, silakan diterima jika kamu mau."
Tanaka-san merapikan posisi berdirinya dan membungkuk dalam-dalam. Sepertinya Tanaka-san jauh lebih berhati-hati dan sangat peduli pada temannya daripada yang kubayangkan.
"Baiklah. Kalau begitu aku terima dengan senang hati.......Apa aku harus memberikan ulasan rasanya sekarang juga?"
Meski di dalam hati aku tidak hanya sekadar menari kecil, tapi menari kegirangan karena bisa mencicipi masakan Tanaka-san untuk pertama kalinya, aku tetap menggodanya untuk menutupi rasa senang itu. Dan dia menjawab dengan suara yang terdengar sangat memelas,
"......Tolong ampuni aku, untuk hari ini saya sudah benar-benar kapok dipuji."
Setelah jam wali kelas berakhir, aku langsung mengeluarkan roll cake itu, memakannya, dan memberikan ulasan "Ini enak sekali!".
Mendengar itu, Tanaka-san yang sepertinya sisa MP (Mental Point)-nya sudah mencapai batas langsung menjatuhkan kepalanya ke meja.



Post a Comment