Kebohongannya
Pemandangan Crushera yang terlihat dari jendela
perlahan-lahan menjauh.
Hanya beberapa hari yang lalu, mereka bertiga melihat
pemandangan yang hampir sama sambil membayangkan akan menjadi seperti apa
liburan musim panas mereka kali ini. Kini, dalam perjalanan pulang, ketiganya
tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Meski banyak hal yang mereka renungkan, tak satu pun dari
mereka yang merasa bahwa hari-hari belakangan ini hanya berisi kesulitan dan
penderitaan.
Sebabnya adalah...
"Yah, secara teknis ini masih dalam masa liburan
musim panas, sih," ujar Ren sambil tersenyum kecut.
"Bukan 'secara teknis', ini benar-benar masih masa
liburan."
"Dan ini masih bagian awal... musim panas, ya."
"…Benar juga, ya—"
Setelah tenang, mereka mencoba mengingat kembali alasan
awal mereka datang ke Crushera.
Ada urusan formal di mana Licia dan Fiona harus hadir
sebagai perwakilan orang tua mereka dalam pertemuan bangsawan yang berkaitan
dengan Malam Nyanyian Bintang...
Dan satu lagi adalah untuk menghilangkan sepenuhnya
sisa-sisa pengaruh kutukan yang masih ada di lengan Ren.
Rencananya, setelah semua urusan itu selesai tanpa
hambatan, mereka akan menghabiskan waktu dengan santai di Crushera.
Namun tanpa disadari, Ren malah direkrut oleh Mistolfe
untuk menjadi Ksatria Istana Suci, dan mereka harus mempertaruhkan nyawa
melawan Mascheria dan kawan-kawannya.
"Apalagi
Licia sudah menjadi Sword Saint," tambah Ren.
"Itu
memang benar, tapi... dibanding urusanku, bukankah ada hal yang jauh lebih
besar?"
Hal itu
merujuk pada kabut dewa. Atau jika ingin digali lebih dalam, fakta bahwa Ren
telah mendapatkan Flame Sword Asval.
Tentu saja setelah itu Ren segera memeriksa gelangnya
untuk mencari nama Asval. Namun, yang tertera di sana hanyalah tulisan Flame
Magic Sword.
Karena tertulis bahwa pedang itu hanya bangkit dalam
kondisi tertentu, mungkin dalam keadaan biasa namanya memang berbeda.
"Terlalu banyak hal yang terjadi, sampai aku sendiri
bingung harus mulai bercerita dari mana."
"Aku juga... merasakan hal yang sama."
"Di Kuil Micsell, ada juga masalah tentang Anak
Dewa, kan?"
"Benar! Soal Anak Dewa! Akhirnya kita mulai
memahaminya!"
Namun, mengenai dewa mana yang memberikan cinta
kasihnya, hal itu masih menjadi misteri yang tersisa, sama seperti saat mereka
membicarakannya kemarin.
"Nanti aku akan mencoba membicarakan hal itu
dengan Ragna-san."
Sudah cukup lama sejak pencarian di tempat
persembunyian Mudie, mungkin saja ada penemuan baru lainnya. Selain
itu, Ren juga harus melaporkan kejadian di Crushera kepada Ragna.
Karena tidak ada informasi lebih lanjut yang bisa dibahas
mengenai Anak Dewa, topik pembicaraan mereka secara alami kembali ke perubahan
Licia yang kini telah naik tingkat menjadi Sword Saint.
"Kekuatan Sword of Authority milik Licia pun,
kuharap khasiatnya bisa segera diketahui."
"Aku belum punya ruang di kepala untuk memikirkan
itu. Bahkan aku hampir tidak merasa kalau aku sudah jadi Sword Saint.
Awalnya saja aku tidak menyadari suara denting itu."
Licia yang tersenyum kecut menatap Fiona.
"Saat itu, apakah Anda mendengarnya,
Fiona-sama?"
"Tengah jalan, aku bisa mendengarnya dengan
jelas. Ngomong-ngomong... soal sensasi Enchantment, apakah Licia-sama
merasa ada perbedaan dibanding sebelumnya?"
"Sepertinya... sedikit berbeda. Meski aku belum
tahu pastinya bagaimana…"
Sebenarnya ini hal kecil, tapi Ren menyadari sesuatu
tentang cara bicara Licia dan Fiona.
Sejak dulu Licia memang terkadang bicara dengan nada
santai, tapi sekarang, termasuk nada suara Fiona, sepertinya ada perubahan
dalam cara mereka berinteraksi satu sama lain. Meski begitu, Ren memilih untuk
tidak mengungkitnya.
"Aku juga begitu awalnya. Begitu digunakan
memang terasa bedanya, tapi di awal-awal kita memang sering tidak paham,"
ujar Ren sambil menyamakan dengan pengalamannya sendiri.
"…Ternyata memang begitu, ya," gumam Licia
pelan sambil mengangguk.
Ia mencoba melihat tubuhnya sendiri sejenak, namun
tentu saja tidak ada perbedaan yang tampak. Setelah
memastikan bahwa ini hanyalah masalah perasaan, Licia kembali membuka suara.
"Aku memikirkannya berkali-kali. Kondisi tubuhku
tempo hari... mungkin ada hubungannya dengan kebangkitanku sebagai Sword
Saint."
Itu adalah hal yang sempat ia cemaskan sebelum
meninggalkan kediaman Earl. Ia penasaran kenapa ia tiba-tiba merasa aneh, dan
ia merasa hal itu memang berkaitan.
Kesadaran yang dibutuhkan untuk menjadi Sword Saint,
sebuah pemicu. Karena hanya itulah yang dibutuhkan Licia, mungkin terjadi
sedikit perubahan pada Enchantment-nya.
Ren dan Fiona pun tampak merenungkan kata-kata Licia.
Meskipun berbeda dengan saat Ren menjadi Sword Saint,
Estelle pernah berkata bahwa perbedaan individu sangat besar dalam hal
perubahan yang berkaitan dengan Enchantment.
"Aku harus memberitahu Estelle-sama saat pulang
nanti. Beliau selalu mengkhawatirkanku belakangan ini."
"Beliau pasti akan senang. ────Omong-omong, ini
mungkin sudah agak terlambat, tapi sebenarnya apa pemicu yang dibutuhkan untuk
menjadi Sword Saint?"
"E-eh...
itu, soal itu…"
Pemicu
yang dibutuhkan pengguna Great Sword untuk menjadi Sword Saint
berbeda-beda tiap individu sehingga tidak bisa disama-ratakan, namun sebagian
besar biasanya berkaitan dengan faktor psikologis.
Dalam
kasus Licia, berbeda dengan Ren, ia memiliki kepastian. Namun karena ia
memiliki kepastian itulah, berbeda dengan Ren, ia merasa malu untuk
mengucapkannya.
"Anggap saja itu rahasia, ya."
Meskipun jawabannya tidak memuaskan, karena Licia tampak
sangat riang, Ren dan Fiona hanya bisa tersenyum pasrah.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di atas awan
yang entah di mana.
Saat melayang di angkasa, pemandangan senja terasa
berbeda dari biasanya. Di jendela, cahaya matahari berwarna jingga kemerahan
yang menyinari lautan awan membentang tanpa batas.
Setelah menyelesaikan makan malam lebih awal, Licia
mengunjungi kamar tamu Ren. Mengingat beban dari pertarungan sebelumnya, ia
berniat menggunakan sihir suci seperti biasa.
"────Ren?"
Namun, meski ia sudah mengetuk pintu berkali-kali, tidak
ada jawaban.
Ada apa ya?
Luka-lukanya seharusnya sudah tidak apa-apa, tapi
mungkinkah ada sisa-sisa efek yang tertinggal…?
Memikirkan hal itu membuat Licia tidak tenang, dan ia
merasa harus memeriksa keadaannya. Tapi, apakah boleh masuk begitu saja? Sambil
bimbang, ia menyentuh kenop pintu dan ternyata tidak dikunci, hingga kenop itu
berputar dengan sendirinya.
Ia melangkah masuk dengan pelan sambil memanggil.
"Ren, apa boleh aku masuk?"
Namun, tetap tidak ada jawaban darinya, dan tidak
terdengar suara air seperti orang yang sedang mandi.
Masuk tanpa izin itu tidak baik. Tapi, karena ini belum
lama sejak pertarungan itu, ia menjadi sangat khawatir. Dengan konflik di dalam
hati, ia melangkah maju beberapa langkah dengan ragu, sampai akhirnya Licia
bisa mengembuskan napas lega.
"Hah… syukurlah."
Ren sedang duduk di kursi dekat jendela. Ia
menyandarkan pipinya di pinggiran jendela, dan sedang bernapas teratur dalam
tidurnya yang damai. Pantas saja tidak ada jawaban.
Kalau begitu, aku akan menggunakan sihir suci
sebentar lalu segera pergi.
Licia berjalan ke sampingnya, menatap profil wajah
Ren yang disinari cahaya senja.
"…Kamu tertidur karena kelelahan, ya."
Setelah bergumam, ia tiba-tiba──── terpaku, dan berpikir.
Lagi, mereka telah mempertaruhkan nyawa bersama.
Kali ini pun banyak hal terjadi, dan di tengah perubahan
perasaannya, ia berhasil mencapai tingkat Sword Saint. Karena ia sangat
menyadari pemicu dari hal itu, Licia kembali menjadi sangat sadar akan
keberadaan Ren.
Berdiri di sampingnya. Itu bukan hanya soal pedang.
Bahkan jika tidak ada pedang sekali pun, ia ingin tetap berada di samping pria
ini.
Pasti… ia bisa mengatakan hal itu dengan penuh percaya
diri melebihi apa pun. Karena itu, ia harus membuat Ren lebih memperhatikan
dirinya.
Namun ia berpikir, hanya dengan bersama secara pasif,
keinginan itu tidak akan pernah terwujud. Yang dibutuhkan adalah keberanian dan
ketetapan hati untuk melangkah lebih jauh. Serta sebuah pemicu.
"Makanya, aku bilang itu rahasia tahu," ucapnya
di samping Ren, sambil membiarkan sihir suci memancar dari ujung jarinya.
Ia menyentuh lengan Ren yang tidak sedang digunakan
untuk bertumpu.
『────Karena itu, ya. Ren.』
『Juga──── dengan ini.』
Belakangan ini, terkadang suaranya sendiri bergema di
kepalanya. Karena sepertinya ia sedang melakukan percakapan yang tidak ia ingat
dengan Ren, hal itu menimbulkan kebingungan.
Selain itu, setiap kali mendengar suara itu, ia didera
rasa sesak yang tak terlukiskan. Entah kenapa, itu menjadi salah satu alasan
yang membuatnya ingin berada di samping Ren dengan lebih kuat lagi.
Tiba-tiba, sebuah kalimat muncul di hati Licia Clausel.
"Aku harus lebih berani lagi."
Kata-kata itu diucapkan untuk memastikan perasaannya
sendiri. Menjadi Sword Saint mungkin juga merupakan salah satu pemicu.
Hal itu melahirkan perubahan suasana hati, dan semakin menumbuhkan keinginan
untuk melangkah satu tahap ke depan.
Karena itulah, ia memutuskan untuk melangkah sedikit
lebih maju. Terhadap Ren yang ada di sampingnya, dan terhadap
dirinya sendiri.
"Lho…
Licia?"
"Maaf aku masuk tanpa izin. Itu... karena tidak ada
jawaban, aku jadi khawatir."
"Ah, maaf. Sepertinya aku langsung tertidur begitu
kembali ke kamar."
"Tidak apa-apa kok. Maaf ya padahal kamu sedang
lelah."
Licia memberitahu Ren yang baru bangun itu, lalu
mematikan cahaya sihir sucinya.
Saat Ren hendak bangkit berdiri, Licia menunjuk ke luar
jendela sambil berkata "Ah, lihat!", dan Ren pun segera menoleh ke
arah yang ditunjuk oleh ujung jari Licia.
"Erat, apa ada sesuatu di luar?"
"Itu, di sebelah sana."
"Sebelah sana? Sepertinya cuma ada langit saja…"
Namun, ia tidak menemukan apa-apa. Saat Ren hendak
menoleh kembali ke arah Licia.
Jarak antara keduanya, menjadi lebih dekat dari yang
pernah ada selama ini.
"────Bohong. Yang ada sesuatu itu di sini."
Sentuhan hangat yang menyentuh pipi Ren Ashton.
Bibir Licia Clausel, untuk sesaat saja.



Post a Comment