NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ouja no Ban Kuruwase -Netto Shougi no Teiou ~ Kiryuu no Ouja to Taiji suru ⁓ Volume 1 Chapter 1

Chapter 1

Siswa SMA Terkuat di Shogi Online


Orang-orang bilang, setiap manusia pasti memiliki setidaknya satu kelebihan.

Namun, hal semacam itu hanya bisa disadari oleh mereka yang mampu mencoba segala hal di dunia ini. Dalam rentang hidup manusia yang singkat, mustahil kita bisa tahu apa bidang yang benar-benar kita kuasai.

Di sisi lain, ada juga yang berpendapat bahwa jika seseorang mendalami satu hal hingga tuntas, maka hal itu akan menjadi kelebihannya.

Artinya, jika kamu berusaha lebih keras dari siapa pun, kamu akan memperoleh talenta yang melampaui mereka yang tidak berusaha.

Ini adalah kisah tentang Watanabe Mikado, seorang pemuda tanggung yang gagal melakukan keduanya, namun mulai mengubah hidupnya sejak hari itu.

"──Oke, sekian bimbingan kelas hari ini. Besok ada pelajaran tata boga, jadi jangan lupa bawa kotak alat jahit, ya. Lalu Tanaka, kamu tetap di sini."

"Eeeh! Pak, aku ada kegiatan klub setelah ini!"

Suasana sepulang sekolah. Setelah wali kelas berkata demikian, teman-teman sekelasku satu per satu mulai meninggalkan ruangan.

Di tengah keramaian itu, aku masih memegang ponsel, bersiap pulang ke rumah sendirian dengan perasaan sepi.

Tentu saja, aku tidak ikut klub mana pun. Padahal sudah kelas dua, tapi aku masih anggota "Klub Pulang ke Rumah".

Sebelum keluar kelas, aku merasakan permainan Shogi di ponselku sedang mencapai titik kritis, sehingga aku memusatkan seluruh kesadaran ke sana.

Aku membaca langkah lawan dengan sangat dalam, lalu jariku bergerak lincah di atas layar.

Lawanku adalah pemain amatir tingkat tinggi—dalam dunia game online, dia bisa dibilang sebagai top ranker.

Waktu yang tersisa kian mendesak, serentetan serangan checkmate terus dilancarkan. Aku menepis semua serangan lawan dan terus mempertahankan sisa waktu yang sangat tipis.

Setelah beberapa puluh detik berlalu, lawan menekan tombol menyerah, dan tulisan "Kemenangan" pun muncul di layarku.

"……Yess!"

Pertarungan fast-play dalam kondisi ekstrem dengan sisa waktu hanya sepuluh detik itu berakhir dengan kemenanganku.

Karena berhasil menumbangkan pemain tingkat tinggi, tanpa sadar aku bersorak kegirangan. Namun, sudah tidak ada siapa pun lagi di kelas setelah bimbingan berakhir.

Yah, kalaupun ada orang, mereka pasti tidak akan peduli dengan tingkah memalukanku.

Aku hanyalah seorang pemain Shogi biasa, pemain amatir yang bisa ditemukan di mana saja.

Aku sudah bermain Shogi sejak kecil. Dulu, saking percaya dirinya dengan bakat yang kumiliki, aku bahkan pernah mencoba ikut ujian lembaga pelatihan pemain profesional.

Namun hasilnya kalah telak. Aku hanya dipaksa menelan kenyataan bahwa diriku cuma manusia di level itu saja.

Aku mulai bermain Shogi di internet sejak berhenti dari dojo yang dulu kusinggahi.

Lagipula, aku tidak punya teman untuk bermain secara langsung di dunia nyata. Berhadapan muka dengan orang asing sambil bermain Shogi terasa sedikit merepotkan karena berbagai alasan.

Karena itulah, sekarang aku menjalani hidup hanya dengan mengetuk layar ponsel. Untuk ukuran siswa SMA yang seharusnya menikmati masa muda, ini terasa sedikit hampa.

Meski begitu, kemampuan yang kumiliki ini—walau agak aneh jika aku sendiri yang mengatakannya—kurasa cukup tinggi. Setidaknya, aku punya kepercayaan diri kalau kemampuanku di internet lumayan bagus.

Setelah menyelesaikan pertandingan di ponsel, aku mengetikkan nama akun yang biasa kugunakan di aplikasi Shogi, "Jimetsu-tei", di kolom pencarian.

Itu adalah nama norak yang menggabungkan "Tei" (Kaisar)—pembacaan lain dari namaku, "Mikado"—dengan kata "Jimetsu" (Hancur Sendiri) sebagai bentuk mengejek diri sendiri.

Saat mencari dengan kata kunci itu, namaku muncul di urutan paling atas halaman pencarian dalam bentuk sebuah utas diskusi.

 

『【GawatJimetsu-tei, Si Kuat Amatir yang Identitasnya Misteriuswww Part 8

Anonim 725

: Tadi siang aku tanding lawan dia!

Anonim 726

: Hari ini ketemu dia, rating-ku langsung tewas.

Anonim 727

: Aku langsung dibantai cepat—!

Anonim 728

: Kekuatan kayak gitu pasti nge-cheat, lah.

Anonim 729

: >>728 Tapi kalau admin nggak nge-ban, berarti dia emang jago beneran, kan?

Anonim 730

: Kemarin dia seharian ada di tier tingkat tinggi, ya.

Anonim 731

: Sekarang dia udah berapa kali menang beruntun?

Anonim 732

: >>731 Barusan kucek, sudah 87 kali menang beruntun.

Anonim 733

: >>732 Hah? w

Anonim 734

: >>732 Ngeri bangetwww

Anonim 735

: >>732 87 kali menang beruntunwwwww

Anonim 736

: >>732 Ini mah namanya monster jenis baru.

 

Sungguh ironis. Di internet, banyak suara yang memuji permainanku seperti ini.

Karena tidak punya kelebihan sama sekali di dunia nyata, aku malah mendapat tempat di internet. Sebuah pertukaran setara yang aneh, meski jelas-jelas ini tidak setara sama sekali...

Aku menghela napas panjang sambil melihat komentar-komentar di forum yang memujiku.

Dulu, keinginan untuk diakui memang terpenuhi, namun entah sejak kapan aku membacanya hanya untuk mawas diri. Sekarang, tak ada lagi emosi yang muncul.

Mau sehebat apa pun aku berlagak di internet, di dunia nyata aku hanyalah seorang penyendiri yang keberadaannya tipis.

Karena sadar bahwa aku telah lalai berusaha dalam hal apa pun selain Shogi, aku bahkan tidak merasa berhak untuk mengeluh tentang kondisiku saat ini.

Aku membuka pintu kelas dengan suara berderit, lalu berjalan sendirian di koridor sekolah yang sepi.

Saat itulah.

── "Penerimaan Anggota Baru! Klub Shogi Mencari Anggota!! Pemula Disambut Hangat!"

Tanpa sengaja, mataku tertuju pada selembar poster yang sudah agak robek itu.

Entah karena ingin mengisi kekosongan hidup SMA yang membosankan, atau karena masih punya penyesalan terhadap impian masa lalu. Aku sendiri tidak tahu pasti apa yang ada dalam lubuk hatiku.

Yang jelas, saat sadar, tanganku sudah memegang gagang pintu ruang klub Shogi.

"Pe-permisi……"

Aku membuka pintu ruang klub sambil berucap dengan suara pelan yang nyaris menghilang.

Tadinya aku membayangkan interior bergaya tradisional Jepang. Namun, yang tertangkap mataku justru meja-meja panjang dengan papan Shogi, serta para anggota yang duduk di kursi mengelilinginya.

Bahkan ada beberapa orang yang menghadap komputer tanpa menyentuh bidak sama sekali.

Kalau dipikir-pikir, sekarang memang zamannya AI. Daripada berdiskusi di atas tatami, mungkin lebih bermanfaat mengumpulkan informasi di depan komputer. Shogi modern ternyata luar biasa juga ya...

Di saat aku sedang terpana melihat ruang klub yang terasa lebih profesional dari dugaanku itu, seorang pria berbadan kekar menghampiriku.

"Oh, apa kamu mau mendaftar jadi anggota?"

"E-anu, ya…… cuma mau lihat-lihat dulu……"

"Bagus, bagus! Kebetulan kami kekurangan satu orang! Kamu sangat membantu!"

"Bukan, cuma mau lihat-lihat saja……"

"Woi! Semuanya! Ada calon anggota baru yang berharga nih!!"

Dengarkan omonganku, dong.

"Lho, bukannya kamu anak kelasku……"

Sambil berkata begitu, seorang gadis berdiri dari kursi bagian belakang. Rambut hitamnya yang indah berkilau bagai cahaya bulan di atas permukaan air malam hari. Dia adalah Higashijo Mika, teman sekelasku.

Pandai dalam akademik maupun olahraga, cantik rupawan, dan sangat populer di kalangan laki-laki. Dia adalah kasta tertinggi di kelas, wanita yang hidup di dunia yang berlawanan denganku.

Aku tidak menyangka akan berhadapan dengannya seperti ini. Ternyata selain olahraga, dia juga bisa bermain Shogi, ya...

"Kamu masuk mulai hari ini, ya. Anu, bisa beri tahu namamu?"

"Ah, Watanabe Mikado."

"Watanabe-kun, ya! Mari kita sambut sebagai anggota! Omong-omong, aku ketua klub ini, Takebayashi Tsutomu! Salam kenal!!"

"Aku belum memutuskan untuk bergabung, salam kenal juga……"

Senior Takebayashi yang berbadan kekar ini benar-benar tidak mendengarkan perkataanku.

"Haa…… kenapa juga pria seperti ini yang jadi anggota terakhir kita."

Di tengah suara tepuk tangan yang alakadarnya, hanya Higashijo yang menghela napas dengan wajah tidak suka.

"Kamu punya pengalaman main Shogi?"

"Eh, ya, lumayan lah sedikit……"

"Punya Rank?"

"Rank……?"

"Sertifikat kualifikasi maksudku. Kamu nggak tahu apa-apa ya……?"

Bukan begitu, aku hanya bingung dengan kata "Rank" yang dia gunakan. Namun, sebagai seorang penyendiri, aku tidak punya keberanian untuk membantah.

Aku pun menjawab pertanyaan Higashijo dengan jujur.

"A-aku tidak punya sertifikat, tapi……"

"Eh? Berarti kamu nggak pernah ikut dojo atau semacamnya?"

"Dojo sih pernah waktu masih kecil, sebentar saja……"

"Tingkatanmu di sana?"

Aku mengingat kembali kejadian yang terjadi sesaat sebelum aku meninggalkan dojo. Lalu, aku menyebutkan tingkatan yang tertulis di papan nama saat itu.

"Anu, kalau tidak salah, Rank 8……"

"……Haa, benar-benar pemula ya."

Mendengar jawabanku, nada bicara Higashijo semakin terdengar kecewa. Tak lama kemudian, dia bahkan tidak mau menatap mataku lagi.

"Watanabe-kun! Apa kamu main aplikasi Shogi atau semacamnya?"

"Ah, iya. Aku main aplikasi namanya Shogi Wars, sih."

Shogi Wars adalah salah satu aplikasi Shogi yang umum.

Dengan struktur sederhana dan sistem pertandingan yang mudah, aplikasi ini punya populasi pemain terbanyak di antara pengguna ponsel.

Tadi sebelum keluar kelas, aku juga sedang memainkan Shogi Wars.

"Ho! Kalau begitu, bisa beri tahu berapa Level-mu di sana!"

Senior Takebayashi menatapku dengan mata penuh harap.

Kurasa tidak ada gunanya memberi tahu kekuatan di aplikasi, tapi aku tetap menjawab dengan jujur.

"Anu…… untuk saat ini, aku Dan 9."

"Hah??"

"Eh?"

Sesaat setelah aku mengucapkan itu, suasana ruang klub mendadak sunyi seolah membeku.

『【GawatJimetsu-tei, Si Kuat Amatir yang Identitasnya Misteriuswww Part 9

zimetu260

: Hari ini aku memberanikan diri masuk klub Shogi.

Anonim 261

: Ah, dia muncul.

Anonim 26

2: >>260 Serius Jimetsu-tei itu masih pelajar?ww

Anonim 26

3: >>262 Itu mah sudah jadi rahasia umum.

zimetu264

: Tadi ditanya apa aku main aplikasi, pas kujawab Shogi Wars Dan 9, mereka malah natap aku dengan dingin.

Anonim 265

: >>264 Ngakak.

Anonim 266

: >>264 Ya jelas lah!

zimetu267

: Ace di klub itu ternyata cewek kasta atas di kelasku, rasanya canggung banget.

Anonim 268

: >>267 Iri banget.

Anonim 269

: >>267 Jelasin lebih detail lagi dong!!

zimetu270

: Habis ini aku bakal tanding lawan si ace itu buat tes masuk. Kelihatannya dia kuat banget jadi nggak tahu bisa menang atau nggak, tapi aku bakal berjuang sekuat tenaga.

Anonim 271

: >>270 Ah.

Anonim 272

: >>270 Woi tunggu dulu.

Anonim 273

: >>270 Ingat, jangan lupa kasih ampun, ya?

Anonim 274

: >>270 Ah—

Anonim 275

: >>270 Udah nggak ada orangnya.

Anonim 276

: >>270 Woi, sadar diri dikit dong kalau lu itu peringkat satu se-Jepang!

Anonim 277

: >>270 Gawat nih.

Anonim 278

: Si Jimetsu-tei ini kayaknya emang suka ngerendah gara-gara cuma main Shogi online.

Anonim 279

: Baru gabung, ada apa nih?

Anonim 280

: >>279 Jimetsu-tei gerak di dunia nyata, klub bakal hancur.

Anonim 281

: >>280

 Paham. Tei-chan, tamatlah riwayatmu.

Anonim 282

: Dengan begini, jumlah kemenangan beruntun Jimetsu-tei bakal nambah lagi.

Sepertinya belakangan ini sedang ada demam Shogi.

Meski aku kurang tahu informasi dunia luar, belakangan ini aku makin sering melihat berita tentang Shogi di berita online.

Hal itu juga terjadi di SMA Nishigasaki ini. Katanya sampai beberapa tahun lalu bahkan tidak ada klub Shogi, namun sekarang papan nama klub Shogi sudah berdiri tegak.

Kudengar sejak demam Shogi melanda, makin banyak siswa yang tertarik. Dari situ klub Igo-Shogi terbentuk, lalu merembet hingga anggotanya cukup banyak untuk memisahkan diri menjadi klub Shogi mandiri. Begitulah klub Shogi yang sekarang lahir.

Anggota klub Shogi SMA Nishigasaki berjumlah enam orang selain aku. Aku belum hafal semua nama mereka, tapi katanya semuanya punya kemampuan yang cukup untuk bersaing di turnamen nyata.

SMA Nishigasaki sendiri masuk dalam klasifikasi "Distrik Barat". Untuk pertandingan perorangan, siapa pun bisa ikut membawa nama sekolah. Namun untuk pertandingan beregu kali ini, dibutuhkan total tujuh orang, sehingga mereka mencari satu anggota terakhir.

Distrik Barat termasuk wilayah yang cukup kompetitif di prefektur. Meski SMA kami punya anggota yang kuat, katanya mereka selalu berada di posisi yang malang.

Dan di saat itulah, aku muncul. Tapi jujur saja, ini terasa terlalu berat bagiku.

"Haa……"

Tanpa sadar aku menghela napas sambil menyendiri di sudut ruang klub.

Bukannya aku sudah memutuskan untuk masuk, tapi entah kenapa alurnya jadi begini. Karena sifatku yang penyendiri, aku tidak punya keberanian untuk menolak.

Yah, memang benar aku tertarik, dan karena ada "janji" juga makanya aku berniat masuk. Tapi tetap saja, waktunya kurang tepat... rasanya berat sekali...

Sekarang Higashijo sedang menyiapkan papan untuk pertandingan, dan aku menunggunya.

Ketua klub, Senior Takebayashi, tiba-tiba menyuruhku melawan Higashijo dengan alasan tes masuk.

Higashijo sendiri menatapku dengan tatapan malas, dan gara-gara ucapanku tadi, orang-orang di sekitar menatapku dengan curiga. Rasanya aku ingin pulang saja.

Lagipula, aku pasti dibenci oleh Higashijo... Padahal kami teman sekelas, tolonglah.

"Hanya di sini yang bisa mengerti perasaanku……"

Sambil memikirkan hal itu, aku membuka forum internet sendirian dan mulai mengetuk layar ponsel.

Di tempat ini, di mana komunikasi dilakukan secara jelas melalui tulisan, sifat penyendiriku tidak akan muncul. Karena kami semua orang asing, tidak ada kata-kata yang dihias, dan segala hal terasa seperti urusan orang lain.

Sangat menyelamatkan rasanya saat berbicara tanpa dinilai dari penampilan atau wajah.

Tiba-tiba, seorang siswi bergaya tomboi yang tampaknya kasihan melihatku, datang menyapa.

"Hai."

Gadis dengan rambut bob pendek merah muda yang diikat setengah dengan kepang, memakai baju berlengan panjang yang menutupi tangannya. Kalau tidak salah dia adik kelas kelas satu, namanya Aoi Rena.

Menurut cerita Senior Takebayashi, di klub Shogi ini dia orang terkuat kedua setelah Higashijo.

Aoi menaruh kedua tangannya di pundakku dan mendekatkan wajahnya.

"Luar biasa ya, Mikado-cchi. Bisa-bisanya kamu sesumbar bilang Dan 9 di depan Kak Higashijo."

Eh, apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba dia mendekat begitu? Menakutkan. Lagipula, ini pertama kalinya aku dipanggil Mikado-cchi.

"Eh, bukan, itu tadi bukan maksudnya mau sesumbar……"

"Nyahaha~ Mikado-cchi lucu banget ya—!"

Dengarkan dong omonganku.

"Tapi-tapi, kamu harus hati-hati lho? Kak Higashijo itu meski kelihatan begitu, aslinya serem banget lho, persis kayak kelihatannya. Waktu Aoi pertama masuk klub ini juga, meski Aoi masih baru, dia nggak kasih ampun dan langsung bantai Aoi sampai habis! Serem kan?"

Iya, serem. Tolong. Aku mau kabur. Lagian wajahmu terlalu dekat.

"Ya-yah, kan aku Dan 9? Mungkin bakal baik-baik saja."

Kenapa juga aku mendadak sombong begini? Aku pasti sudah gila karena terlalu takut. Aku malah makin banyak salah bicara. Tolong, hentikan mulutku ini...

"Nyahahaha! Mikado-cchi beneran lucu ya!! Aoi jadi suka! Aoi bakal dukung Mikado-cchi sekuat tenaga!"

"A-ah, terima kasih……"




"Tunggu, tunggu! Bagus, bagus!"

Tidak, bisakah dia berhenti mengelus kepalaku seakan-akan ini kesempatan dalam kesempitan? Ada apa sih dengan anak ini, unik sekali kepribadiannya.

Lagipula, ini memalukan...

"Heit, kalau mau bermesraan bisa cari tempat lain?"

"Ah, maaf..."

"Ada Kak Higashijo—! Kabuuur!"

Begitu melihat wajah Higashijo, Aoi langsung lari terbirit-birit ke pojok ruang klub.

"……Persiapannya sudah selesai."

Di sisi lain, Higashijo yang mengabaikan Aoi telah selesai bersiap. Dia meletakkan papan dan kotak buah catur di atas meja panjang, lalu duduk di kursinya.

Di ruang klub ada tujuh anggota termasuk aku. Sebagian besar dari mereka memandang ke arahku dan Higashijo yang duduk berhadapan dengan tatapan penuh minat.

"Ketua klub kami orangnya toleran, jadi apa pun hasilnya, dia pasti akan menerimamu masuk. Tapi, aku tidak akan mengakuimu kalau kemampuanmu tidak setara Rank 3," cetus Higashijo.

Duh, padahal kan aku Dan 9...

"……?"

"Apa?"

Saat Higashijo membuka kotak dan mulai menyusun bidak di atas papan Shogi, aku merasakan sedikit kejanggalan.

"Anu, ini tanding Hirate, kan...?"

"Hah?"

Mendengar pertanyaanku, Higashijo menunjukkan ekspresi jengkel.

Hirate—artinya bertanding secara adil tanpa handicap. Aku mengira akan bertanding melawan Higashijo secara seimbang.

Namun, Higashijo malah menyingkirkan semua bidaknya dan hanya menyisakan "Raja", "Emas", dan "Prajurit" di area pertahanannya.

"Lawan pemula ya jelas pakai Hachimai-ochi, kan?"

"Eh...?"

Sontak aku mengeluarkan suara terkejut.

Hachimai-ochi (Lepas Delapan Bidak), sesuai namanya, berarti memulai permainan dengan membuang delapan bidak.

Dua bidak terkuat, Benteng dan Menteri, lalu Luncur, Kuda, dan Perak masing-masing dua buah dari kedua sisi disingkirkan, hingga hanya menyisakan bidak Emas. Itulah formasi Hachimai-ochi.

Tapi, itu adalah handicap yang terlalu besar.

"Tidak, kalau Hachimai-ochi sih, aku bakal menang telak..."

Tanpa sadar kata-kata itu lolos dari mulutku.

Aku tidak berbohong.

Dengan handicap delapan bidak, aku merasa tidak akan kalah dari siapa pun.

Dulu aku pernah iseng bermain melawan AI terkuat yang bisa mengalahkan pemain profesional dengan kondisi Hachimai-ochi, dan seingatku aku menang hanya dalam beberapa menit.

Lagipula, dalam kondisi tersebut sudah ada strategi kemenangan pasti yang mutlak. Kalau sudah hafal, secara teori kemenangan sudah di tangan.

"Untuk pemula yang berbohong soal Level-nya dan mengaku Dan 9, handicap delapan bidak ini sudah lebih dari cukup," ucap Higashijo sambil tertawa mengejek.

Aku tidak punya keberanian untuk mengoreksinya dan hanya bisa menuruti kata-kata Higashijo.

"Ya-yah, terserah sih... cuma sayang saja aku jadi tidak bisa tahu kemampuan asli Higashijo-san..."

"Hah?"

"Maksudku, kalau pakai Hachimai-ochi, jika aku bergerak sesuai teori standar, mungkin belum sampai satu menit pun sudah selesai. Kalau begitu, Higashijo-san tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya..."

Aku mengatakannya dengan tulus dari lubuk hati paling dalam. Sama sekali tidak ada niat buruk.

Tiba-tiba Higashijo mulai gemetar, lalu dia membanting bidak-bidak kecil yang tadi sudah dikembalikan ke kotak ke atas papan.

"……Oh, begitu. Kalau begitu mari tanding Hirate."

"Hi-Higashijo-kun!"

"Ketua diam saja. Ini pertarungan antara aku dan orang ini. Lagipula, orang yang bisa mengalahkanku dalam kondisi Hirate... tidak ada di ruangan ini."

Higashijo melirik ke arah papan tulis putih yang mencantumkan nama dan tingkat tingkatan anggota klub, lalu sepertinya dia mengubah kalimat yang hendak diucapkannya di tengah jalan.

"Selain itu, sepertinya aku perlu memberitahumu seberapa kuat diriku yang sebenarnya."

"Higashijo-kun..."

Sepertinya aku baru saja menginjak ranjau. Aku hampir ciut karena menjadi sasaran kemarahannya, tapi aku juga paham maksud perkataan Higashijo.

Statusku di sini adalah orang yang ingin bergabung, alias anak baru.

Kalau memang percaya diri dengan kemampuan caturku, seharusnya aku sudah masuk klub sejak kelas satu.

Di mata mereka, aku adalah orang asing yang sok tahu bilang bisa menang dengan handicap tanpa tahu kehebatan Higashijo.

Seandainya Higashijo berada di level anggota Shoreikai (Lembaga Pelatihan Profesional), tidak heran jika dia menganggap ucapanku sebagai provokasi.

Secara harfiah, peluang menang melawan orang level itu dalam kondisi seimbang adalah nol besar.

Aku tidak tahu apa yang akan dikatakannya jika aku kalah nanti. Tidak ada pilihan lain selain bertarung sekuat tenaga tanpa lengah.

"Kalau begitu, sudah siap?"

Melihat Higashijo yang tampak percaya diri, aku menelan ludah sambil menyeka keringat dingin.

"I-iya..."

Pertandingan—

""Mohon bantuannya—!""

──Dimulai.

『【GawatJimetsu-tei, Si Kuat Amatir yang Identitasnya Misteriuswww Part 9

Anonim 356

: Kupikir kenapa utasnya ramai, ternyata Jimetsu-tei mampir ya.

Anonim 357

: Tapi dia sudah pergi buat "berburu" sih.

Anonim 358

: Maaf kalau aku kudet, tapi sebenarnya seberapa kuat sih Shogi Wars Dan 9 itu? Apa sehebat itu sampai bisa juara di turnamen tingkat daerah?

Anonim 359

: >>358 Dasar kurang asupan info.

Anonim 360

: >>358 Levelnya nggak cuma segitu.

Anonim 361

: >>358 Kurasa dia bisa juara tingkat nasional.

Anonim 362

: >>358 Hampir setara pemain profesional lah.

Anonim 363

: Eh, orang kayak gitu mau masuk klub sekolah? Seriusan? Gila nggak sih?

Anonim 364

: >>363 Iya, gila banget.

Anonim 365

: >>363 Makanya kita semua pada panik.

Anonim 376

: Tei-chan lagi mikirin apa ya sekarang?

 

Aku tidak pernah menyangka hari di mana aku bermain Shogi melawan gadis teman sekelasku akan tiba.

Karena aku selalu main Shogi online, mungkin aku sudah sering bertanding melawan lawan jenis di balik layar, tapi bermain tatap muka seperti ini adalah yang pertama sejak SMP.

Di depanku ada gadis yang merupakan primadona sekolah. Jarak kami saat berhadapan sekarang bahkan lebih dekat daripada jarak saat mengobrol sambil berdiri.

Perasaan gelisah mengelitik punggungku, dan aku merasa kesal sendiri karena menyadari betapa payahnya daya tahanku terhadap lawan jenis.

Namun sebaliknya, bisa dibilang selama aku fokus, aku bisa memisahkan perasaan itu dan mendedikasikan diri sepenuhnya untuk membaca langkah.

──Karena sekarang, aku sudah berhenti memikirkan hal lain.

"Bohong…… kenapa, bagaimana bisa aku……"

Higashijo bergumam lirih dengan tangan yang gemetar saat hendak menggerakkan bidak.

"……Seriusan nih?"

Aoi yang melihat hal itu entah kenapa menunjukkan ekspresi terpana yang bercampur dengan rasa senang.

Dan bukan hanya mereka berdua. Anggota klub yang lain pun ikut melongok ke papan Shogi kami dengan reaksi terperangah.

"……Anu, ini sudah Tsumi (skakmat), kan?"

Melihat Higashijo yang terus gemetar menatap papan, tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutku.

Aku sama sekali tidak paham kenapa dia terlihat begitu menyesal, tapi yang jelas hasil akhir dari posisi di papan sudah ditentukan.

"……Aku, menyerah……!"

Higashijo menyatakan kekalahannya dengan tangan mengepal dan nada bicara yang agak putus asa. Aku pun menundukkan kepala dengan tenang.

"Terima kasih atas pertandingannya."

Karena biasanya aku tidak mengucapkan kata-kata itu saat main Shogi online, rasanya sangat segar.

Mengenai isi permainannya, posisi bidak tadi adalah bentuk familiar yang disebut Ai-yagura, jenis Shogi konvensional yang masuk dalam kategori "Strategi Kuno".

Aku hampir tidak ingat strategi Yagura kuno, tapi sampai pertengahan babak aku terus mengikuti langkah Higashijo sesuai teori standar.

Dan Higashijo, mungkin karena kepribadiannya, terlihat sangat teguh mengikuti "prosedur strategi kuno" bahkan setelah melewati pertengahan babak.

Namun, strategi Shogi berkembang setiap hari. Langkah yang kemarin dianggap terbaik, tidak jarang berubah total hari ini.

Aku melancarkan strategi modern terbaru seolah-olah menyapu strategi Higashijo dari bawah, membalikkan posisi papan yang kaku itu, dan langsung memegang kendali keunggulan.

Setelah itu aku hanya perlu menekan hingga menang.

Yah, fakta bahwa Higashijo menanggapi dengan langkah-langkah strategi yang mudah dimengerti menunjukkan bahwa dia mungkin sedang mengujiku.

Bagiku yang terus bertarung dengan pemain tingkat tinggi di Shogi online, jarang sekali bisa menang dengan strategi yang masuk begitu sempurna seperti ini.

Aku berbalik dan meminta konfirmasi kepada Ketua Takebayashi.

"Aku sudah menang. Apa ini berarti aku lulus tesnya……?"

"A-ah... Kerja bagus, Watanabe-kun! Tak disangka kamu bisa menang melawan dia dalam kondisi seimbang, bahkan aku pun tidak menduganya!"

Senior Takebayashi menepuk-nepuk punggungku dengan keras.

Mungkin dia bermaksud bercanda, tapi ini sungguhan sakit.

"Ahaha…… tidak, itu karena lawan mainnya tidak serius tadi."

"Ho, begitu ya. Jadi di matamu terlihat seperti itu?"

"……?"

Aku memiringkan kepala melihat Senior Takebayashi yang bicara sambil tersenyum.

Lalu, dia memberikan kata-kata lembut yang menenangkan kepada Higashijo yang tertunduk di depanku.

"Bagaimana, Higashijo-kun? Kemampuannya asli. Mungkin benar dia itu Dan 9?"

"……gh!"

Higashijo mendongak dan menatapku dengan tajam. Sambil menahan suara yang nyaris menangis, dia memukulkan kedua tangannya ke atas meja panjang.

"……A-aku tidak mau mengakuinya. Aku benar-benar tidak akan pernah mengakuinya……!"

Setelah berkata begitu, Higashijo berdiri dan bergegas keluar dari ruang klub.

"Eh, apa, menakutkan. Aku sudah menang tapi tetap belum diakui ya……"

"Nyahahahaha—!! Mikado-cchi, justru di situ poinnya lho—!"

Di saat anggota lain menatapku dengan tatapan agak ngeri, hanya Aoi yang tersenyum sambil menepuk-nepuk bahuku berkali-kali.

Ya, ini lebih baik daripada Senior Takebayashi, tapi tetap saja sakit. Eh, tapi lumayan enak buat pijat pundak yang pegal sih...

Di tengah suasana yang tegang, aku membereskan bidak sambil dikelilingi oleh para anggota klub yang masih menunjukkan ekspresi tercengang.

"Bisa-bisanya mengalahkan Kak Higashijo dalam sekejap, Mikado-cchi sadis banget deh—!"

Aoi menggoda sambil memanjangkan akhiran kalimatnya, lalu menyikut bahuku dengan akrab.

"Aoi-kun, menurut pandanganmu, bagaimana pertandingan tadi?"

Senior Takebayashi bertanya pada Aoi sambil berdiri tegak dengan tangan bersedekap di belakangku.

Padahal ini klub Shogi, tapi kenapa ketuanya terlihat seperti anggota klub olahraga ya.

"Hmm. Tipe permainannya Ai-yagura klasik yang bagus, cara bertarungnya gesit dan berani, tapi tidak ada celah dan sangat akurat. Sampai tahap akhir pun dia melakukan skakmat dengan prosedur tersingkat yang sangat rapi. Dilihat dari mana pun, ini Shogi nilai seratus—!"

Aku merasa malu karena dipuji setinggi langit begitu.

Padahal aku mengira gaya permainanku cukup kasar, jadi aku senang dibilang akurat.

"Ho, jadi menurutmu seberapa tinggi kemampuannya?"

"Kalau cuma satu pertandingan sih nggak akan tahu! Tapi, sepertinya dia paham betul pola 24 langkah Yagura, jadi setidaknya dia punya sertifikat Dan 1, bukan?"

""Apa—!""

Mendengar ucapan Aoi, dua anggota laki-laki lainnya menunjukkan reaksi yang bercampur antara kaget dan cemburu. Mereka menatapku dengan wajah tidak terima.

Oalah, jadi kemampuanku kira-kira setingkat Dan 1, ya.

Ternyata memang ada perbedaan besar antara tingkat kekuatan Shogi online dan dunia nyata. Untung saja aku tidak terlalu tinggi hati.

"A-anak yang baru masuk sudah punya Dan 1, aku belum pernah dengar hal seperti itu!"

"Be-benar! Meskipun penilaian Aoi Rena selalu tepat, aku tetap tidak bisa terima!"

Saat para anggota mulai melayangkan protes, Aoi menunjukkan ekspresi jengkel.

Senior Takebayashi pun menengahi situasi tersebut.

"Maaf ya Watanabe-kun, mereka punya alasan tersendiri untuk berpikir begitu."

"Ti-tidak apa-apa. Justru aku yang minta maaf karena bersikap sombong padahal baru bergabung, anu, maafkan aku."

"Tidak perlu begitu! Meskipun itu tes masuk, fakta bahwa kamu mengalahkan Higashijo-kun patut diapresiasi setinggi-tingginya. Walaupun seandainya itu hanya kebetulan, ketidaksengajaan, atau cuma keberuntungan belaka!"

Senior Takebayashi melemparkan pandangan tajam ke arah anggota lain yang—sama seperti Higashijo—masih tidak terima. Mereka pun menahan napas dan terdiam di tempat.

"Baiklah! Hari ini sudah sore. Sebenarnya aku ingin mengadakan pesta penyambutan, tapi klub kita tidak punya dana yang layak! Maaf ya Watanabe-kun, tapi untuk hari ini terimalah niat baik kami saja! Sekali lagi, selamat bergabung!"

"A-ah, terima kasih banyak."

Ketua Takebayashi mengangguk-angguk sambil menepuk bahuku, sementara Aoi berdiri di sampingku sambil bertepuk tangan sendirian dengan riang.

Mau kupasang telinga sedalam apa pun, hanya suara tepukan tangan Aoi yang terdengar.

Sambil menahan rasa canggung yang sedikit menyiksa, aku meninggalkan ruang klub Shogi hari itu.

Dalam perjalanan pulang sekolah. Aku membeli es krim di minimarket terdekat, lalu sambil memakannya, aku iseng bermain Shogi Wars di ponsel.

Lawanku adalah pemain tangguh berstatus Dan 7 yang berada di jajaran top ranker sepertiku. Dia adalah seorang streamer Shogi dengan nama akun "Raika", musuh yang cukup berat.

Apalagi tipe permainannya adalah Ai-yagura, sama seperti Higashijo tadi.

Strategi dan pertahanannya persis sama, namun langkah-langkahnya memiliki corak yang benar-benar berbeda dari Higashijo.

"……Seperti dugaan, Raika-san memang kuat."

Aku bermain dengan sangat cepat karena es krimku hampir meleleh, tapi lawan juga membalas dengan kecepatan yang setara.

Jika terus begini, atau lebih tepatnya jika permainan berlanjut sesuai riset strategi standar, aku pasti menang.

Tapi kalau jumlah langkahnya terlalu panjang, es krimku akan meleleh. Jika itu terjadi, secara praktis aku kalah.

Mengingat pertarunganku dengan Higashijo tadi secara pribadi terasa kurang memuaskan, aku memutuskan untuk melakukan serangan kilat dengan strategi yang disebut Reiwa Kyusen Yagura (Yagura Serangan Kilat Era Reiwa).

『【GawatJimetsu-tei, Si Kuat Amatir yang Identitasnya Misteriuswww Part 9

Anonim 611

: Ngakak, dia ketemu Raika.

Anonim 612

: Wah, Ai-yagura nih.

Anonim 613

: Apa Jimetsu-tei pakai strategi serangan kilat?

Anonim 614

: >>613 Itu mah Reiwa Kyusen Yagura, kan?

Anonim 615

: Raika emang cepat, tapi langkah Jimetsu-tei jauh lebih gila cepatnya.

Anonim 616

: Dia mainnya secepat itu, apa lagi ada urusan mendadak? w

Anonim 617

: Cepat banget.

Anonim 618

: Tahap akhirnya juga gila cepatnyawww

Anonim 619

: Langsung lurus menuju skakmat.

Anonim 620

: Ah, tamat.

Anonim 621

: Raika-chan, TE-WAS.

Anonim 622

: Ngakak liat grafik evaluasi Jimetsu-tei yang naik terus tanpa ampun.

Anonim 623

: Kuat banget, orang ini beneran monster ya.

Anonim 624

: Ditunggu video kekalahan Raika-chan!

Anonim 625

: Omong-omong, bukannya tadi dia bilang mau tanding lawan cewek teman sekelasnya? Gimana hasilnya?

Satu hari telah berlalu sejak aku bergabung dengan klub Shogi SMA Nishigasaki.

Di pagi hari, seperti biasa aku merasa tertekan namun tetap berusaha sampai di sekolah.

Tidak punya teman, bahkan tidak punya teman mengobrol yang layak. Bagiku, kehidupan sekolah adalah neraka.

Seandainya saja aku punya hobi yang sama dengan orang lain, mungkin aku bisa ikut nimbrung dalam percakapan.

Sayangnya aku hanya punya Shogi, aku tidak tahu apa-apa selain Shogi. Dan di kelas ini, hampir tidak ada orang yang bisa bermain Shogi.

Satu-satunya yang bisa, Higashijo, sepertinya membenciku. Lagipula, nilai kasta kami terlalu jauh, auranya saja sudah bisa membuatku pingsan.

Hari panjang yang suram bagiku akan dimulai lagi hari ini.

Aku membuka pintu dengan suara berderit, lalu berjalan masuk ke kelas layaknya udara yang tidak menarik perhatian siapa pun.

Namun, aku merasakan atmosfer yang aneh, atau lebih tepatnya, sebuah tatapan. Tanpa sadar aku mengangkat pandanganku yang tadinya tertuju ke bawah.

──Entah kenapa, teman-teman sekelasku semuanya serempak mengarahkan pandangan mereka ke arahku.

Aku mungkin terbiasa memperhatikan orang banyak, tapi aku sama sekali tidak terbiasa diperhatikan oleh orang banyak.

Aku merasa bingung dengan tatapan penuh kasak-kusuk dari teman-teman sekelasku.

Kenapa semuanya melihatku? Apa aku berbuat salah? Aku kan cuma penyendiri yang tidak bisa apa-apa?

……Jangan-jangan, rahasia aku masuk klub Shogi kemarin sudah ketahuan?

Apa mereka mau bilang, "Sampah rendahan sepertimu berani-beraninya masuk klub, nggak tahu malu banget!"?

Kalau benar begitu, aku bakal menangis lho.

"……Eh."

Sambil memikirkan hal itu, saat hendak duduk di kursiku, aku mendadak berhenti sebelum menarik kursi.

Entah kenapa, ada papan Shogi diletakkan di atas mejaku.

……Papan Shogi di atas meja!?

"Bukan, ini maksudnya apa……"

Benar-benar tidak paham. Apa ini? Perundungan jenis baru? Apa ini jenis bullying baru??

Apa mereka ingin menyampaikan pesan, "Kelebihanmu cuma Shogi, dasar penyendiri rendahan!", dengan hanya meletakkan papan Shogi di mejaku?

Kalau benar begitu, aku benar-benar akan menangis. Apa mereka tidak diajarkan di sekolah kalau melontarkan argumen yang terlalu menusuk kenyataan itu tidak boleh...

Meski di dalam hati panik bukan main, aku berusaha tenang dan hanya melirik ke sekeliling.

Namun, tatapan yang kembali padaku justru penuh rasa curiga seolah ingin berkata, "Justru kamu itu ada apa sih?".

Aku masih belum tahu apa yang terjadi, tapi setidaknya aku paham kalau semua orang menatapku karena ada papan Shogi di mejaku pagi-pagi sekali, dan mereka mengira akulah pelakunya.

Tapi, aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Aku tidak berani sembarangan menyentuh papan Shogi yang tidak jelas milik siapa ini, aku bahkan tidak bisa menaruh tas di meja...

Jangan-jangan aku harus mengikuti pelajaran sambil terus membentangkan papan Shogi di meja hari ini? "Maaf Bu, buku saya hilang, tapi saya punya papan Shogi," begitu? Bukannya kapur, aku malah bakal dilempari bidak nanti.

"……Bisa bicara sebentar?"

Saat itulah, terdengar suara lantang yang familiar dari samping.

Saat aku menoleh perlahan ke arah suara tersebut, terlihat sosok Higashijo yang sedang bersedekap dengan ekspresi yang tampak agak kesal.

"Woi. Higashijo-san bicara pada Watanabe."

"Kenapa Higashijo-san mau bicara pada orang seperti dia...?"

"Lagipula itu kan si Watanabe yang kerjanya cuma liatin ponsel terus...?"

Kenyataan bahwa gadis kasta tertinggi tiba-tiba menyapa membuat seluruh kelas, termasuk aku, langsung terfokus.

"A-ada apa……?"

Suaraku bergetar antara bingung dan panik, wajahku kaku saat menatap Higashijo.

Higashijo kemudian berjalan ke depanku tanpa suara dengan meja sebagai pembatas, lalu dia menarik kursi di depanku dan duduk begitu saja.

……Hm? Jangan-jangan, papan Shogi yang diletakkan di mejaku ini adalah—

"Satu pertandingan, mau?"

Orang ini sudah tidak waras, ya.




GawatJimetsu-tei, Si Kuat Amatir yang Identitasnya Misteriuswww Part 10

zimetu29

: Baru masuk kelas tadi pagi, eh di atas mejaku sudah ada papan Shogi. Benar-benar eksekusi publik. Sekarang perutku sakit, lagi di toilet nih.

Anonim 30

: >>29 ???

Anonim 31

: >>29 Nggak paham tapi ngakak.

Anonim 32

: >>29 Tei-chan, perutmu sakit?

Anonim 33

: >>29 Maksudnya gimana?

zimetu34

: Itu lho, cewek kasta tertinggi di kelas yang kusebut kemarin. Sepertinya aku diincar, terus dipaksa tanding dari pagi. Tanding di depan semua teman sekelas itu rasanya kayak di neraka.

Anonim 35

: >>34 Uwah...

Anonim 36

: >>34 Baru ngebayangin aja perutku ikutan mules...

Anonim 37

: >>34 Makanya sekarang kamu di toilet, ya.

Anonim 38

: >>34 Nggak usah banyak cincong, kasih tahu hasilnya saja.

zimetu39

: >>38 Hasil apanya, tadi baru sampai pertengahan babak sudah hampir bimbingan pagi. Dia mendecih terus balik ke bangkunya.

Anonim 40

: >>39 Ehh...

Anonim 41

: >>39 Kasihan w

Anonim 42

: >>39 Mungkin decihan itu bukan buat Tei-chan, tapi buat gurunya.

Anonim 43

: >>39 Anggap saja decihan itu flying kiss, manipulasi otakmu!

Anonim 44

: >>39 Hiduplah dengan tegar, Jimetsu-tei. Sebenarnya kamu anak yang kuat.

Hidup Higashijo Mika adalah rangkaian kesulitan dan kegagalan.

Terjepit di antara ibu dan ayah yang sangat berbakat, dia dipaksa menyadari kurangnya talenta dirinya hampir setiap hari.

Meski mendapat nilai tinggi di ujian, terpilih jadi perwakilan olahraga, atau populer di kalangan laki-laki, semua itu tidak pernah bisa mengisi kekosongan di hatinya.

Dunia ini tidak masuk akal, penuh ketidakadilan, dan tidak berputar sesuai keinginannya.

Tren dan taktik. Usaha dan hasil. Yang selalu mengkhianati kemampuan seseorang adalah gangguan tak kasat mata bernama "keberuntungan".

Aku benci "keberuntungan" sejak kecil.

Seberapa keras pun kamu berusaha, apakah hasilnya akan membuahkan hasil atau tidak, itu tergantung "keberuntungan".

Seberapa keras pun kamu mengasah diri, apakah orang lain akan menyadarinya atau tidak, itu tergantung "keberuntungan".

Seberapa sempurna pun kamu mempersiapkan segalanya, apakah akhirnya akan sukses atau tidak, itu tetap tergantung "keberuntungan".

Dalam hidup, nasib seseorang selalu membayangi segala hal.

Aku membenci itu.

Situasi yang sering disebut "sedang beruntung" adalah hal yang tidak punya hubungan dengan diriku yang selalu berusaha mengerjakan segalanya dengan sempurna.

Karena sejak awal aku sudah menyelesaikannya 100%, seberapa baik pun keberuntunganku, itu tidak akan pernah menjadi 120%. Tapi jika keberuntunganku buruk, nilainya bisa jatuh ke 80% atau 70%.

Karena itulah, "keberuntungan" selalu menjadi musuh besarku.

"Kali ini" pun begitu.

Kemarin, seorang pria bernama Watanabe Mikado tiba-tiba datang berkunjung ke klub Shogi.

Rambut berantakan, mata yang tampak tidak bersemangat, bahu yang lemas, dan aura negatif yang tidak memancarkan bakat sama sekali. Dia adalah contoh nyata pria tidak populer yang sudah mapan dengan karakter introvert di kelas.

Aku menertawakannya dalam hati, berpikir bahwa dia pasti tidak pernah melakukan usaha yang berarti selama hidupnya.

Namun, saat pertandingan dimulai──pria itu mengalahkanku hanya dalam hitungan menit.

Taktik seriusku yang kupersiapkan untuk menghancurkannya sekuat tenaga, dipatahkan oleh pria itu dengan wajah tanpa dosa.

Lagi-lagi begitu──pikirku dalam hati.

Dalam Shogi, ada istilah bernama "Finger Luck".

Kata itu digunakan saat seseorang tidak benar-benar membaca langkah sampai tuntas, tapi beruntung bisa memainkan satu langkah jawaban yang benar, atau langkah terbaik.

Aku pikir dia mengalahkanku karena "Finger Luck", bahwa dia hanya menang karena kebetulan yang beruntung.

Lagi-lagi aku ditinggalkan oleh "keberuntungan". Dikhianati. Di atas kemampuan, selalu ada "keberuntungan". Alasan aku tidak bisa menang adalah karena "keberuntungan".

Padahal aku sudah berusaha lebih keras dari siapa pun──.

Sepulang sekolah, aku tersentak saat menyadari tubuhku sudah otomatis ingin pulang ke rumah, lalu memutar langkah kembali ke ruang klub.

Aku lupa kalau sekarang aku sudah menjadi anggota klub Shogi. Padahal hari ini formulir pendaftaranku sudah diserahkan dan diterima, tapi saat jam pulang sekolah tiba, dorongan untuk pulang ke rumah langsung muncul.

Namun, aku sudah menjadi siswa SMA yang hebat, usia yang sudah sepatutnya ikut kegiatan klub.

Berinteraksi dengan orang yang belum dikenal memang memicu sedikit ketegangan, tapi karena ini klub Shogi, rasanya masih lebih baik dibandingkan klub lain.

Lagipula, bukannya aku tidak pandai bicara dengan orang lain. Hanya saja, karena aku tidak pernah memulai pembicaraan, hasilnya aku malah melesat menjadi seorang penyendiri.

Sambil membela diri dengan pemikiran hampa seperti itu, tanpa sadar aku sudah sampai di depan pintu ruang klub.

Baiklah, mari meniru Senior Takebayashi, memberi salam dengan suara lantang dan menunjukkan semangat sebagai anggota baru!

"Se-selamat sore……"

Aku membuka pintu ruang klub dengan salam yang lemas seperti siput.

Namun, tidak ada siapa-siapa di dalam. Senyap…… benar-benar tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia. Hanya ada sebuah papan Shogi yang tergeletak sendirian.

Sepertinya aku datang terlalu awal.

Kalau diingat-ingat, hari ini hanya kelasku yang jam pelajarannya dimajukan dan selesai lebih cepat. Berarti senior yang lain baru akan datang nanti.

……Lho? Tapi kalau dipikir-pikir, kunci ruang klub terbuka dan lampunya menyala. Terus, adanya papan Shogi yang sudah disiapkan berarti ada seseorang yang menyiapkannya, kan? Berarti ada yang datang lebih awal dariku?

"──Kamu datang juga, ya."

Tepat saat aku merasa heran, tiba-tiba terdengar suara Higashijo dari dalam ruang klub.

Saat aku menoleh, aku melihat sosok Higashijo yang duduk di kursi depan komputer di sudut ruangan.

"Ah, Higashijo-san…… anu, selamat sore."

"Sudahlah, duduk."

"Eh?"

Begitu melihatku, Higashijo langsung berdiri. Dia memotong salamku dan menunjuk ke arah meja panjang yang sudah diletakkan papan Shogi di atasnya.

"Kita lanjutkan yang tadi pagi."

"……"

Melanjutkan yang tadi pagi, maksudnya dia ingin meneruskan permainan Shogi yang terhenti sebelum bimbingan pagi dimulai tadi.

Namun, aku hanya diam dengan ekspresi ragu.

Sejak pagi tadi aku sudah berpikir, kenapa Higashijo sampai seambisius ini melawanku?

Lawannya ini kan teman sekelas yang penyendiri, rendahan, dan tidak punya kelebihan apa-apa. Bukannya hanya rugi saja kalau terlibat denganku?

"……Boleh saja sih, tapi boleh aku tanya kenapa kamu begitu ingin bertanding denganku?"

Aku duduk berhadapan dengannya di meja panjang seperti kemarin, lalu melontarkan pertanyaan itu pada Higashijo.

"……Karena aku tidak bisa mengakuinya."

Kalimat yang keluar dari mulut Higashijo adalah kalimat yang sama seperti yang kudengar kemarin.

"Aku selalu berusaha keras, aku sudah mengasah kemampuanku selama bertahun-tahun. Bukan cuma soal Shogi. Belajar, olahraga, aku merasa sudah melakukan semua hal yang sanggup kulakukan. Tapi tahu tidak, di antara semuanya, Shogi adalah yang paling banyak menyita waktuku. Aku berusaha lebih keras dari siapa pun."

Setelah menegaskan hal itu dengan posisi berhadapan, Higashijo membanting kedua tangannya ke meja dan berdiri, menatapku dengan penuh amarah.

"Bagaimana mungkin aku kalah dari pendatang baru yang tiba-tiba muncul, pria yang kelihatannya tidak punya bakat, pria yang kelihatannya tidak pernah berusaha sepertimu……!? Bagaimana mungkin aku bisa mengakuinya!?"

Sebuah emosi yang belum pernah kualami sebelumnya.

Aku tidak tahu apakah ini rasa kesal terhadap lawan di depanku, ataukah rasa malu.

Namun yang pasti, perasaan yang tak terbendung meledak di dalam diri Higashijo, dan emosi yang kehilangan arah itu semuanya ditumpahkan padaku.

Setelah mendengar pengakuan emosional itu, aku mengalihkan pandanganku dari Higashijo dalam diam.

"Bagaimana mungkin orang yang bahkan tidak bisa menatap mata orang lain seperti itu bisa mengalahkanku……!?"

Sambil meremas poni rambutnya, nada bicara Higashijo meninggi seolah dia tidak tahu harus berbuat apa dengan emosi tersebut.

Biasanya aku akan panik dan kelabakan jika diteriaki seperti ini, tapi karena kata-katanya terlalu parah, aku malah jadi tenang.

Aku tidak peduli meski dianggap remeh. Faktanya aku memang bodoh, dan aku sadar selama ini telah menunjukkan keburukan yang pantas dicaci maki.

Tapi, ada satu hal yang benar-benar ingin kubantah.

"……Memang benar aku tidak punya bakat. Aku tidak terlalu pintar, dan aku payah dalam olahraga. Rambutku berantakan, postur tubuhku buruk, wajahku tidak tampan, dan badanku pendek. ……Itu karena aku memang tidak pernah berusaha."

Aku menjatuhkan diriku sendiri secara berlebihan, hampir seperti mengejek diri sendiri.

"Dipandang dingin oleh sekitar, gemetaran ketakutan di sudut kelas sebagai orang introvert, itu semua adalah hasil karena aku tidak pernah berusaha."

Seolah membalas emosi dengan ketenangan, aku melontarkan kelemahan memalukanku pada Higashijo dengan nada datar.

Mendengar itu, Higashijo menunjukkan senyum kecut seolah setuju.

"Be-benar! Makanya kamu itu──"

"Kalau begitu, kenapa kamu tidak mengakui 'hal ini'?"

Aku menunjuk ke arah papan Shogi.

Ekspresi Higashijo membeku──.

"Seperti yang Higashijo-san katakan, aku memang orang yang tidak pernah berusaha dengan sungguh-sungguh. Tapi, khusus soal Shogi, aku punya kebanggaan bahwa aku sudah berusaha lebih keras dari siapa pun. Tentu saja, mungkin ada ribuan orang yang lebih kuat dariku, dan aku tidak bisa mengatakan dengan yakin bahwa usahaku pasti membuahkan hasil. ──Tapi, aku benar-benar sudah berusaha."

"Kamu mau bilang kalau usahamu lebih besar dariku……?"

"Bukan, bukan itu. Maksudku, Higashijo-san tahu kalau usahamu di masa lalu terhubung dengan kemampuanmu sekarang, tapi kenapa kamu tidak mau mengakui kristalisasi usaha yang ada di balik kemampuan orang lain?"

"I-itu……!"

Melihat Higashijo terdiam, aku melanjutkan kata-kataku.

"Kalau kamu benci aku, ya silakan benci saja. Kalau mau meremehkanku, silakan."

"A-aku nggak bermaksud meremehkan……!"

"Tapi, aku tidak akan membiarkanmu menyangkal kehidupan Shogi-ku. Aku tidak akan pernah menyerah soal itu. Ini adalah satu-satunya…… kelebihanku."

Aku yang tadi baru saja membeberkan segala keburukanku. Aku bisa memikirkan banyak bantahan untuk diriku sendiri. Tapi, meski harus membuang harga diri sekalipun, ada satu garis yang tidak boleh dilewati.

Hanya hal ini, hanya Shogi──yang tidak akan pernah kurelakan.

"A-aku……"

"──Anu, maaf sudah bicara sok hebat padahal aku ini cuma sampah masyarakat. Yang tadi cuma gumaman saja, jadi jangan dimasukkan ke hati. ……Nah, mari kita mulai pertandingannya."

Sambil melirik Higashijo yang tampak bingung dengan mulut terbuka, aku mulai mengambil bidak dari kotak dan menyusunnya.

"Informasi……?"

Aku mengembalikan bidak Osho (Raja) yang kupegang ke tempat asalnya, lalu menjawab sambil membuang muka dari tatapan tajam Higashijo.

"Menurutku pertahanan Yagura yang kamu mainkan itu sudah bagus. Kalau sepuluh atau dua puluh tahun lalu, itu mungkin bisa jadi contoh teks prosedur strategi yang sempurna. ……Tapi sekarang, Shogi tidak lagi berbaik hati membiarkanmu membangun benteng pelindung Raja dengan santai begitu. Pertempuran sengit sudah pecah sejak awal laga, dan membiarkan Raja tanpa perlindungan ketat sudah jadi hal lumrah. Higashijo-san, kamu tahu soal ini?"

Mendengar perkataanku, Higashijo mengangguk pelan meski ekspresinya tampak getir.

Sepertinya dia pernah mendengar selintas, tapi mungkin karena tidak punya waktu untuk belajar dari nol atau karena harga dirinya yang tak mau menyia-nyiakan usaha yang telah ia bangun selama ini, dia memilih untuk menutup mata.

"Kalau begitu sisanya mudah. Aku tahu cara meruntuhkan benteng Yagura-mu. Itulah kenapa aku menang. Sesederhana itu."

"Bagaimana cara kamu mengetahuinya!?"

"Menganalisisnya dengan AI, mencari langkah terbaik dari tiap-tiap langkah, lalu menghafalnya."

"Ja-jadi! Alasan aku kalah darimu itu karena aku memainkan Yagura?"

Melihat Higashijo sampai pada kesimpulan yang terlalu dangkal itu, aku bereaksi secara refleks.

"……Eh? Kamu meremehkanku ya?"

"Eh……?"

Higashijo tersentak kaget mendengar pertanyaanku.

Mendengar kesimpulan manja yang keluar dari mulutnya, aku merasa usaha yang kulakukan selama ini dipandang murah, dan tiba-tiba saja keberanianku muncul.

"Bukan cuma Yagura. Ganki, Mino, Ginkammuri, Anaguma, Sanken, Shiken, Nakabisha, Sodebisha, Mishiken, sampai Mukaibisha. Dari serangan mendadak, jebakan, strategi niche, sampai strategi populer masa kini—aku sudah mempelajari taktik dan pertahanan apa pun yang ada dalam Shogi. Tentu saja aku sudah menghafal dan membangun langkah balasan untuk semuanya."

Aku mengucapkannya sambil teringat kembali pada pertandingan-pertandingan pahit yang pernah kualami.

Sambil mengabaikan Higashijo yang terpana, aku kembali menyatakan kesimpulan yang sudah kukatakan berkali-kali sebelumnya.

"──Bukankah itu yang namanya usaha?"

Penyebab kekalahan sepenuhnya adalah kesalahan diri sendiri. Itulah permainan Shogi.

Karena itu, untuk menyelesaikan penyebab kekalahan, tidak ada jalan lain selain mengurainya satu per satu.

Bagian mana yang buruk, di mana letak kelebihannya. Bagaimana cara untuk menang, bagaimana agar tidak kalah.

Bagaimana jika lawan memainkan langkah lain? Bagaimana jika lawan mengabaikan langkah ini? Bagaimana jika lawan ternyata meneliti cabang kemungkinan yang sama denganku?

Mencari segala pola yang memungkinkan, dan memikirkan segala solusi yang ada. Mengulangi pertanyaan dan jawaban yang tak kunjung usai sampai kepala pening demi meraih sebuah kesimpulan.

──Bukankah menang dan berusaha itu memang seperti itu?

"……A…… a……"

Higashijo kehilangan kata-kata.

Ekspresi kesalnya perlahan memudar, dan butiran air mata besar mulai jatuh dari matanya.

Tanpa disadari, Higashijo telah menangis──.

Kurasa setiap manusia pasti punya satu atau dua penyesalan.

Andai saja waktu itu aku begini, andai saja waktu itu aku bicara begitu—semua orang pasti pernah berpikir demikian.

Dan sekarang, aku sedang merasakan kata "penyesalan" itu secara real-time. Aku benar-benar menyesal sesal-sesalnya.

"……hiks…… ugh…… hiks……"

Higashijo menangis tersedu-sedu sambil meneteskan air mata.

Sepertinya dia berusaha keras menahan suaranya, karena yang terdengar hanyalah suara dia menyedot ingus.

Mengingat pertandingan sudah berjalan hampir tiga puluh menit, sebentar lagi anggota klub yang lain akan tiba.

Waduh, gawat banget ini.

Dosa besar karena membuat teman sekelas, apalagi Higashijo Mika yang agung itu, menangis. Kasta terendah membuat kasta puncak menangis? Serius nih?

Tamat sudah hidupku.

"A-anu…… a-aku bicara terlalu berlebihan ya, maaf……"

Selagi hitung mundur menuju akhir hayatku dimulai, aku berusaha mati-matian menghiburnya agar masa hukumanku bisa diringankan sedikit.

Namun, seorang penyendiri kelas berat yang jarang berinteraksi dengan orang lain tidak mungkin punya skill menghibur perempuan. Malah aku sendiri yang rasanya sudah mencapai batas dan mau ikut menangis.

"……hiks!"

"Eh."

Higashijo tiba-tiba berdiri tanpa suara sambil menutupi wajahnya, lalu keluar dari ruang klub begitu saja tanpa sepatah kata pun.

Lho, keluar lagi!? Padahal ayo kita latihan klub saja! Meskipun canggung sih!

──Cklek!

Suara pintu tertutup bergema di ruang klub.

"Eeeh……"

Tapi, pintu itu terbuka kembali, dan Aoi masuk menggantikan Higashijo.

"Lho? Barusan bukannya Kak Higashijo lagi nangis ya?"

Aoi bertanya padaku sambil menoleh ke arah pintu seolah menyadari keanehan saat mereka berpapasan tadi.

"Jangan-jangan…… Mikado-cchi, kamu berbuat sesuatu ya?"

"……"

"Halo~? Dengar nggak~? Mikado-cchi~?"

Aku memang tidak melakukan apa-apa, tapi karena situasi yang sulit dibantah ini, aku memilih bungkam seribu bahasa.

Melihatku yang tidak menjawab, Aoi menatap papan Shogi di dekatku dan tertawa geli.

"……Hee, kalian habis tanding ya. Sampai nangis begitu…… hmmm?"

Aoi yang tampaknya sudah melengkapi kepingan kejadian antara aku dan Higashijo dengan imajinasinya sendiri, mendekatkan wajahnya ke depan mukaku.

"Kalau sekarang aku minta, apa kamu bakal bikin Aoi nangis juga kayak Kak Higashijo?"

Ucap Aoi sambil menjilat bibirnya seolah melakukan provokasi yang menggoda.

Aku tidak paham apa yang dia pikirkan, tapi yang jelas wajahnya terlalu dekat.

"A-apa sih…… lagipula wajahmu terlalu dekat."

"Nfufu~. Mikado-cchi ternyata nggak gampang memerah ya~? Padahal tampangnya begini, apa jangan-jangan kamu sebenarnya sudah biasa menghadapi perempuan?"

"……"

"Yah, lupakan soal becandanya. Jadi, ada apa?"

"Ada apa gimana…… aku cuma tanding biasa saja sama Higashijo-san……"

Saat aku sedang menyuarakan kebingunganku, pintu ruang klub kembali terbuka.

"Selamat sore semuanya! Tadi aku berpapasan dengan Higashijo-kun dan dia sedang menangis, apa terjadi sesuatu?"

Yang masuk ke ruang klub adalah Sang Ketua, Senior Takebayashi.

"Ah, Ketua! Dengar deh~, sepertinya Mikado-cchi habis bikin Kak Higashijo nangis lho!"

Woi, jangan ngadu dong.

"Begitu ya."

Mendengar aduan itu, Senior Takebayashi menyipitkan mata seolah baru saja menemukan sesuatu yang menarik.

Begitu menyadari ada jejak pertandingan antara aku dan Higashijo, dia berkacak pinggang dan bertanya.

"Sepertinya kamu habis bertanding dengan Higashijo-kun! Kalau begitu Watanabe-kun! Apa kamu ingat Game Record dari pertandingan tadi?"

"Ah, iya. Saya ingat."

Game Record (Kifu) adalah riwayat jalannya pertandingan, kalau dalam game istilahnya adalah log.

Bagi orang yang sudah terbiasa dengan Shogi, biasanya mereka ingat seluruh jalannya satu pertandingan yang baru mereka mainkan.

Tentu saja memori itu bisa hilang setelah beberapa hari, tapi bagi yang percaya diri dengan daya ingatnya, bukan hal aneh jika mereka bisa mengingat Game Record dari beberapa pertandingan yang dilakukan hari itu hingga satu bulan ke depan.

Aku baru saja tanding dengan Higashijo tadi. Karena itu, langkah kedua belah pihak masih tersimpan rapi dan bisa kuingat dengan jelas.

Aku menuliskan Game Record pertandinganku dengan Higashijo tadi di atas kertas, lalu memberikannya pada Senior Takebayashi.

Menerima kertas itu, Senior Takebayashi menyiapkan papan Shogi dan menyuruh Aoi duduk di sisi seberangnya.

Lalu, sambil melihat catatan dariku, mereka mulai merekonstruksi pertempuran antara aku dan Higashijo tadi.

"……Hmm."

"Uwah…… ini hebat banget ya……"

Keduanya tanpa sadar bergumam di tengah proses rekonstruksi.

Senior Takebayashi tampak sedang berpikir keras, sementara Aoi terlihat agak ngeri.

"Aoi-kun, sepertinya penilaianmu kemarin meleset jauh."

"Yah, soalnya kemarin kan cuma lihat satu pertandingan saja~. Tapi kalau lihat yang ini sih sudah jelas……"

"Ya."

Setelah selesai merekonstruksi Game Record-ku dengan Higashijo sampai akhir, Senior Takebayashi berdiri dan mengembalikan kertas catatanku.

"Terima kasih. Ini referensi yang sangat berharga."

"I-iya."

"Omong-omong, meski aku merasa agak tidak sopan menanyakan ini langsung padamu──"

Senior Takebayashi yang biasanya ramah dan selalu tersenyum, menatapku dengan wajah serius yang jarang ia tunjukkan, lalu bertanya dengan tatapan mata yang tajam.

"──Sebenarnya, kamu ini siapa?"

Mendengar pernyataan "siapa kamu sebenarnya" yang tiba-tiba dari Senior Takebayashi, aku hanya bisa memasang wajah bengong.

"Higashijo-kun itu aslinya adalah kartu as kami. Kalau bicara kemampuan, dia ada di tingkat Dan 4 ke atas, setidaknya setara dengan pemegang sertifikat Dan 3. Kudengar waktu SMP dia pernah juara turnamen amatir tingkat prefektur kategori putri. Sekarang, hanya Higashijo-kun anggota kami yang kemampuannya bisa bersaing di tingkat nasional."

Tingkat nasional──artinya dia memiliki kemampuan yang masuk dalam jajaran kurang dari 1% teratas dari populasi pemain Shogi.

Bukannya aku salah mengira kekuatannya, tapi ternyata Higashijo sehebat itu ya.

"Kamu berhasil menang telak dua kali melawan Higashijo-kun yang seperti itu. Belum lagi perbedaan sisa waktu ini, perbedaannya sangat gila sampai-sampai aku mencurigai adanya kecurangan. Sepertinya kamu tipe pemain kilat. Padahal bermain cepat, tapi langkah-langkahmu punya akurasi yang sempurna."

Senior Takebayashi mereset pengaturan Chess Timer sambil kembali bicara padaku.

"Sekalian saja aku bicara jujur. Kemampuanmu ini terlalu tidak normal. Ini bukan lagi level Dan 5 atau Dan 6. Kamu jelas berada di atas itu, seorang pemain papan atas. Bahkan mungkin setara dengan level puncak di Jepang."

Mendengar kata-kata yang diucapkan langsung di depanku itu, aku merasa ragu dan skeptis.

Ya iyalah? Aku kan cuma seorang amatir yang mimpinya sudah hancur. Aku hanyalah salah satu dari sekian banyak pemain Shogi yang hanya bisa aktif di internet.

Jika aku memang punya kemampuan level puncak Jepang, aku tidak akan menjalani hidup "seperti ini" sekarang.

……Namun, citra diriku di mata Senior Takebayashi tampaknya sangat tinggi, sampai-sampai kesimpulan yang dia ambil melampaui batas langit.

"Watanabe-kun. Jangan-jangan, kamu ini mantan anggota Shoreikai?"

Mendengar itu, Aoi menelan ludah sambil berkeringat dingin.

Aku pun merasakan hal yang sama.

"……Mana mungkin."

Shoreikai yang dimaksud Senior Takebayashi adalah lembaga pelatihan pemain profesional. Tempat berkumpulnya orang-orang yang bercita-cita menjadi pemain pro, sarang para jenius di mana orang-orang yang menjuarai turnamen nasional bertebaran di mana-mana.

Tidak mungkin aku bisa bersanding dengan orang-orang seperti itu, karena aku──.

"……Saya gagal dalam ujian Shoreikai dulu. Jadi saya tidak punya kemampuan seperti yang Ketua bayangkan."

"Tunggu, itu kejadian kapan?"

"……? Saya ikut ujiannya waktu masih SD."

Mendengar itu, Senior Takebayashi terbelalak kaget.

"Waktu SD? Menjadikan hal sejadul itu sebagai standar penilaian itu sama sekali tidak relevan! Mungkin dulu kamu memang begitu, tapi kemampuanmu yang sekarang jelas sangat kuat. Bahkan di mataku, levelmu sudah pasti setara level Shoreikai, tahu?"

Orang ini benar-benar berani bicara. Begitu dikata-katai seperti itu, tanpa sadar aku merasa senang. Itulah kenapa dinding itu selalu berdiri tegak sebagai sesuatu yang tak pernah bisa kuseberangi.

"……Ketua terlalu berlebihan. Selama ini saya hanya bermain Shogi di internet saja."

"Kalau begitu, Shogi online itulah yang membuatmu jadi kuat!"

"Begitukah……?"

Shogi online itu ibarat junk food bagi tubuh.

Praktis dan mudah dimulai, tapi terkadang tidak ada Byoyomi (hitungan detik), atau ada bantuan AI lewat fitur berbayar, sehingga ada bagian yang sedikit melenceng dari Shogi yang sebenarnya.

Makanya ada rumor yang bilang kalau terus-terusan main Shogi online, kemampuan caturmu malah akan menurun.

Semenjak aku gagal ujian Shoreikai saat kecil dan impianku menjadi pro hancur, aku terus bermain Shogi online.

Jadi mungkin aku kuat di Shogi online, tapi aku merasa tidak kuat di Shogi dunia nyata.

Kenyataannya, kemenanganku atas Higashijo kurasa hanya karena kecocokan strategi tipe serangan kilatku yang kebetulan pas saja.

"Yah, tidak peduli apa pendapatmu! Watanabe-kun! Aku ingin kamu melakukan sesuatu! Seharusnya tugas ini kuberikan pada Higashijo-kun, tapi sepertinya Watanabe-kun jauh lebih cocok!"

Sambil berkata begitu, Senior Takebayashi menyusun empat papan Shogi berjejer di meja panjang. Dia meletakkan empat kursi di satu sisi, dan hanya satu kursi di sisi seberangnya.

Eh, apa-apaan ini, aku punya firasat buruk……

""Selamat sore—""

Saat itu, dua orang anggota klub membuka pintu dan masuk ke ruangan.

"Oh, datang di waktu yang tepat. Sakuma Bersaudara!"

Senior Takebayashi menyambut dua siswa laki-laki yang baru masuk.

Mereka satu angkatan denganku dan Higashijo, tapi beda kelas.

Satu orang berambut pirang dengan penampilan agak berandalan, dia sang adik, Sakuma Hayato. Lalu, pria berambut hitam yang merangkul bahu adiknya dengan tampang agak lesu adalah sang kakak, Sakuma Kaito.

Wajah mereka sangat mirip, dan seperti kata Senior Takebayashi, mereka adalah saudara kembar.

"Ada apa, Ketua? Jangan-jangan soal kenaikan Dan?"

"Kalau soal itu, kami akan serius lho."

Keduanya sangat kompak saat menanyakan soal kenaikan peringkat kepada Ketua.

Biasanya, di perguruan Shogi, tingkatan seperti Kyu dan Dan ditetapkan untuk memperjelas tingkat kemampuan seseorang.

Dalam kasusku yang fokus di Shogi online, tingkatan dari Kyu 10 sampai Dan 9 juga sudah disediakan.

Tampaknya di klub ini pun tidak ada pengecualian. Di papan tulis putih paling pojok ruangan, tertera nama setiap anggota beserta tingkatan mereka.

Senior Takebayashi Dan 3, Higashijo Dan 5, Aoi Dan 4. Dan di sebelah Aoi, ada satu nama lagi yang tidak kukenal dengan peringkat Dan 4.

Sakuma bersaudara keduanya tertulis sebagai Dan 2.

Karena aku baru bergabung, namaku maupun peringkatku belum tertulis.

Namun, meskipun mereka adalah anggota yang nantinya akan ikut turnamen, fakta bahwa semuanya berada dalam kategori Yudansha (pemegang peringkat Dan) menunjukkan level yang cukup tinggi.

Setidaknya, tidak ada seorang pun di klub ini yang bisa disebut pemula.

Bukannya menghina diri sendiri, tapi aku yang selama bertahun-tahun hanya mengetuk layar dan tidak pernah berhadapan langsung dengan papan Shogi asli bisa dibilang adalah pemula nomor satu di sini.

Begitulah tingginya level klub ini.

"……Hmm, kenaikan peringkat ya. Begitu ya. Kalau kalian bisa menang di pertandingan yang akan dilakukan sekarang, aku akan mempertimbangkannya."

"Benarkah!?"

"Ketua sudah janji ya?"

Begitu tahu mereka bisa naik peringkat, Sakuma bersaudara langsung bersemangat. Mereka menaruh tas dan duduk di kursi yang sudah disiapkan berjajar empat di meja panjang.

"Nyahaha~ sepertinya bakal jadi seru nih~!"

Aoi juga tampak bersemangat dan duduk di salah satu dari empat kursi tersebut. Dengan kepolosan seperti anak kecil, dia mulai mengeluarkan bidak dari kotaknya.

Aku pun mengikutinya, melangkahkan kaki untuk duduk di salah satu kursi tersebut.

"Watanabe-kun, kamu mau ke mana?"

"Eh?"

Tepat sebelum aku duduk, Senior Takebayashi memegang bahuku.

"Kamu di sebelah sini."

Senior Takebayashi mengarahkanku untuk duduk di kursi yang berseberangan dengan Aoi dan kawan-kawan, lalu dia sendiri ikut duduk di jajaran empat kursi tadi.

"Bagaimana, pemandangan yang indah, kan? Menghadapi kami berempat dalam Simultaneous Match."

"Eh, e-eh……?"

Aku hanya bisa mengeluarkan suara kebingungan tanpa memahami situasinya.

Simultaneous Match (Tamen-zashi) adalah pertandingan bimbingan di mana satu pengajar tingkat atas melawan banyak orang tingkat bawah sekaligus.

Singkatnya, ini seperti guru sekolah yang mengajar banyak murid, sementara aku harus menghadapi mereka semua sendirian.

Keringat mulai mengalir deras dari seluruh tubuhku.

Situasi ini, jumlah orang ini, jangan-jangan yang akan kulakukan sekarang adalah……

"Mulai sekarang, kamu harus melawan kami berempat termasuk aku sebagai Ketua dalam kondisi Hirate tanpa handicap! Batas waktunya 40 menit dengan Byoyomi 30 detik. Jika kamu berhasil menang melawan semua orang di sini, mulai hari ini kamu akan naik ke peringkat Dan 5, sama dengan Higashijo-kun!"

Melakukan Simultaneous Match menuntut kemampuan pemrosesan informasi yang berjalan paralel.

Otak manusia hanya satu. Karena itu, sangat sulit untuk memikirkan banyak informasi sekaligus.

Mustahil untuk melakukan multitasking tanpa menurunkan kualitas kemampuan, dan biasanya saat bermain simultan, tingkat kemampuan catur seseorang akan turun beberapa tingkat.

Lagipula, aku sama sekali tidak punya pengalaman bermain simultan.

"Tu-tunggu sebentar. Bukannya seharusnya Ketua yang melakukan Simultaneous Match!?"

Bukan aku yang bicara, melainkan Kaito, si kakak dari Sakuma bersaudara.

"Benar! Sekarang Watanabe-kun sendirian akan melawan kita berempat sekaligus! Tentu saja secara Hirate! Dan jika Watanabe-kun menang melawan semua orang di sini, peringkatnya akan kuakui sebagai Dan 5! Tapi kalau kalian bisa menang satu kali saja melawan Watanabe-kun, saat itu juga peringkat kalian masing-masing akan kunaikkan satu tingkat! Ini kesempatan emas lho!"

"Nyahaha~ yah, Aoi sih nggak terlalu peduli soal peringkat~"

Aoi menunjukkan sikap santai seperti biasanya, tapi mendengar itu, Hayato sang adik langsung membantah.

"Kalau menang melawan semuanya…… apalagi langsung Dan 5!? Becanda juga ada batasnya. Anak baru yang masuk kemarin tiba-tiba jadi Dan 5 itu……!"

"Benar, ini terlalu konyol……!"

Bagi Sakuma bersaudara, peluang kemenanganku hampir nol, dan mereka juga meragukan kemampuanku.

Wajar saja, mereka tidak melihat momen saat aku mengalahkan Higashijo tadi. Mereka hanya melihatku menang satu kali kemarin saat pertandingan uji coba.

"Tidak ada bantahan! Kalau keberatan, bicaralah lewat Shogi!"

"Kh……"

"Cih……"

Senior Takebayashi mematahkan pendapat Sakuma bersaudara, dan keduanya pun duduk di depan papan Shogi dengan terpaksa.

Setelah posisi awal semua bidak untuk empat orang disiapkan, dilakukan Furigoma (lempar bidak) untuk menentukan siapa yang jalan duluan, dan persiapan pun selesai.

Kemudian, diiringi salam dari semua orang, Chess Timer ditekan secara serentak.

""""Mohon bantuannya!""""

"Mohon bantuannya……"

Dimulai dariku yang menundukkan kepala terlambat satu tempo, pertandingan Simultaneous Match dengan handicap yang luar biasa berat ini pun dibuka.

──Langkah-langkah mulai bersilangan sejak langkah pertama, suara bidak yang beradu terdengar berlapis-lapis.

Dengan empat orang lawan, berbagai macam gaya permainan bercampur aduk, dan karakteristik masing-masing orang terlihat sangat jelas.

Karena bagian awal permainan berlangsung sesuai teori Joseki, langkah semua orang tidak terhenti. Hanya aku yang harus melayani empat orang yang waktu berpikirnya terus berkurang, menciptakan perbedaan waktu tanpa peduli situasi di papan.

Penetapan batas waktu 40 menit dengan Byoyomi 30 detik—yang tergolong sangat lama untuk ukuran amatir—mungkin adalah bentuk pertimbangan Senior Takebayashi atas beban beratku yang harus berpikir lebih banyak dari biasanya karena bermain simultan.

Namun, bagi aku yang tidak punya pengalaman simulasi, waktu sebanyak ini pun terasa mencemaskan.

……Beberapa menit setelah pertandingan dimulai. Sebagian besar teori pembuka telah berakhir, dan kerangka formasi awal telah terbentuk dengan jelas.

Dalam Shogi, ada yang disebut dengan "Dua Strategi Besar". Yaitu apakah kamu akan memindahkan bidak terkuat, Benteng (Hisha), atau membiarkannya di tempat semula.

Jika Benteng dipindah ke sisi kiri dari tengah, itu dikategorikan sebagai Furibisha (Benteng Berayun), sedangkan jika digunakan di sisi kanan dari tengah, disebut sebagai Ibisha (Benteng Menetap).

Bisa dibilang, cara bertarung dalam Shogi akan berubah drastis tergantung strategi mana yang dipilih dari "Dua Strategi Besar" ini.

Sakuma bersaudara keduanya menggunakan Furibisha, mengincar celahku dengan pertahanan yang sangat lincah dan serangan balik yang kuat.

Di sisi lain, Senior Takebayashi menggunakan Ibisha, dan sepertinya dia lebih menyukai gaya bertarung konvensional yang mirip dengan Higashijo.

Aoi juga menggunakan Ibisha seperti Senior Takebayashi, tapi langkah-langkahnya jauh lebih trik daripada Sakuma bersaudara yang menggunakan Furibisha, membuatnya sangat sulit dihadapi.

Sebagai catatan, Yagura yang dimainkan Higashijo termasuk dalam kategori Ibisha. Karena dia menggunakan Yagura dua kali berturut-turut, kemungkinan Higashijo memang spesialis Ibisha konvensional.

Sekadar informasi tambahan, aku termasuk tipe All-rounder karena bisa menguasai keduanya.

Masing-masing lawan mengeluarkan strategi unik mereka, mulai menyusun formasi bidak demi menguasai pertempuran.

Aku bisa merasakan ambisi dari empat orang di depanku yang berusaha memicu pertempuran demi menyerang celahku yang fokusnya sedang terbagi.

Sekali lagi kukatakan, dalam Simultaneous Match ini, aku harus melihat dan membangun pertahanan bahkan untuk langkah yang biasanya diabaikan dalam Shogi normal, sehingga waktu berpikir menjadi lebih lama dari biasanya.

Karena itu, waktu untuk satu langkah cenderung menjadi sangat lama, dan risiko kesalahan konyol (blunder) meningkat drastis.

Untungnya, berkat pengalaman bertahun-tahun bermain Shogi online yang terikat waktu sangat singkat, aku masih bisa menekan kesalahan-kesalahan konyol.

──Namun.

"──Kamu nggak apa-apa meleng begitu?"

Saat aku teralihkan oleh formasi rumit yang dibangun Aoi, suara itu terdengar dari samping.

Suara itu berasal dari sang kakak, Kaito. Jika melihat posisi di papan, bidak Prajurit (Fuhyo) sudah saling beradu, menandakan genderang perang telah ditabuh.

Aku menghentikan sejenak pemikiran tentang posisi Aoi, memainkan langkah aman, lalu mulai menanggapi gerakan Kaito.

"Hmm, sepertinya sudah waktunya menyerang."

Tapi, suara Senior Takebayashi juga terdengar dari sampingnya, dan situasiku pun masuk ke fase perang yang membutuhkan pemikiran mendalam secara bersamaan.

"……Hmm~? Mikado-cchi, langkah ini bukannya Bad Move ya~?"

Padahal urusanku dengan langkah Kaito belum selesai, kata-kata iblis itu sudah terlontar dari mulut Aoi.

Bad Move (Akushu)──jika itu benar, berarti ini pertama kalinya aku melakukan kesalahan langkah sejak bergabung dengan klub Shogi.

"Pfft──serangan di pinggir ini tembus lho. Kalau begini sih aku bakal menang."

Suara Hayato, sang adik, juga terdengar dari sebelah.

Saat aku memindahkan pandangan, memang benar seperti kata Hayato, aku tidak sengaja melewatkan celah serangan di pinggir papan.

Aku sibuk menanggapi hal itu sambil berusaha menahan serangan pinggir, lalu berusaha menutupi Bad Move yang kulakukan di papan Aoi, sambil tetap mewaspadai serangan balik Kaito.

Namun, di sini aku justru terkena telak oleh langkah berat dari Senior Takebayashi.

"……gh!"

Karena kesadaranku terbagi ke tiga orang lainnya, aku tidak sempat menyiapkan pertahanan untuk menghadapi langkah berat Senior Takebayashi. Di saat genting begini, aku malah melakukan kesalahan pembacaan langkah yang fatal.

Gara-gara ini, aku tertahan cukup lama oleh Senior Takebayashi.

Aku terpancing ke dalam prosedur yang seharusnya bisa dihindari, membuat posisi antara aku dan Senior Takebayashi menjadi seimbang dan tidak bergerak sama sekali.

Dalam Simultaneous Match, apalagi dalam pertandingan yang harus kumenangkan, posisi seimbang adalah situasi yang sangat gawat.

Jika posisi tetap seimbang sampai akhir babak, aku yang dikejar waktu akan menghadapi situasi yang sangat tidak menguntungkan.

Aku harus mencari cara untuk membongkarnya……

"Mikado-cchi~, sisa waktu di sini sudah kurang dari 10 menit lho~."

Kata-kata Aoi itu membuat kepanikanku semakin memuncak.

Aku mengalihkan pandangan dari Senior Takebayashi ke arah Aoi, lalu menyadari kalau situasiku sudah memburuk.

"Ngh……!"

"Nfufu~ Aoi yakin banget kalau sekarang Aoi yang unggul lho~!"

Gara-gara aku sempat menghentikan proses pembacaan langkah tadi, perhitunganku kalah dalam menghadapi langkah Aoi yang jauh lebih dalam.

(Sial──! Karena waktu berpikir mereka jauh lebih banyak, mulai muncul perbedaan dalam jumlah langkah yang terbaca……! Padahal selisih waktunya cuma empat kali lipat, tapi dia bisa mengeluarkan langkah sekeren ini. Sialan……!)

Menggerutu dalam hati pun tidak ada gunanya.

Aku berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang, memantapkan hati, dan mencoba menyusun serangan balik untuk menghadapi langkah Aoi.

Namun, saat aku kembali menoleh ke arah Senior Takebayashi, wajahku langsung pucat pasi.

(Apa-apaan ini……!?)

Kondisi di papan justru semakin memburuk.

"Hmm, sepertinya bidak-bidakku sudah teratur dengan baik. Bisa dibilang aku unggul sekarang, kan?"

Mendengar kata-katanya, aku mendecih dalam hati.

Kekuatan para Yudansha berbeda dengan dunia yang hanya membaca satu atau dua langkah saja. Ini adalah kekerasan intelektual di mana mereka bisa membaca lebih dari sepuluh langkah ke depan dengan santai.

Sama seperti kasus Aoi tadi, keputusanku untuk menghentikan pembacaan langkah di papan Senior Takebayashi menjadi bumerang, dan posisiku terpuruk ke dalam kekalahan yang nyata.

"Oi, oi, kamu nggak apa-apa kan, Guru?"

Suara tawa mengejek dari Sakuma bersaudara menusuk telingaku.

Di tengah situasi kacau itu, hanya sisa waktuku yang berkurang dengan sangat cepat. Akhirnya, bel dari keempat Chess Timer berbunyi, melaporkan kalau sisa waktuku sudah kurang dari 10 menit.

"Umm…… sepertinya aku memang memaksamu terlalu keras, ya."

Senior Takebayashi bergumam pelan.

Melihat tatapan matanya yang terselip sedikit kekecewaan, alisku berkedut. Rasa panik yang tadi kurasakan perlahan berubah menjadi panas yang membara.

(……Tiba-tiba saja aku merasa kesal. Orang lagi mikir mati-matian, mereka malah ngeroyok dan mukul aku bertubi-tubi tanpa ampun……)

Begitu pemikiran itu muncul, aku membakar habis emosi tenang yang selama ini kutahan. Aku memejamkan mata perlahan dan menghentikan gerakan tanganku yang sedari tadi terus melangkah.

"……?"

"Mikado-cchi?"

"Kenapa? Akhirnya kamu menyerah?"

"Melawan kita berempat ya memang mustahil."

Sambil mengabaikan ocehan mereka, aku menjajajarkan empat papan permainan di dalam lautan pikiranku secara paralel. Aku membuang sejauh mungkin sensasi nyata dari langkah yang kumainkan di dunia fisik──ya, aku mendekatkannya ke arah "sensasi biasa" saat aku sedang berpikir di depan layar monitor.

Lalu, aku membuka mataku dengan tenang.

"──"

Dengan tatapan mata yang bahkan tidak memancarkan cahaya, aku menatap tajam ke arah papan milik keempat orang tersebut.

Shogi di dunia nyata yang kumainkan setelah sekian lama ini terasa sangat berbeda sensasinya dengan Shogi online yang biasa kulakukan. Sampai sekarang pun, aku masih merasa asing dengan sensasi memegang bidak ini.

Membangun gaya permainan baru sebagai seorang Watanabe Mikado di awal langkah yang baru──ternyata itu hanyalah mimpi yang terlalu muluk.

Bagaimanapun, aku adalah penghuni Shogi online. Berusaha tumbuh tanpa menunjukkan gaya permainan asli itu benar-benar sebuah keangkuhan.

(……Mari kita main serius.)

Aku menarik napas panjang dengan tenang, menghentikan cara melangkah sebagai seorang Watanabe Mikado……

──Dan beralih ke pola pikir sebagai sang "Jimetsu-tei".




Langkah dalam Shogi adalah cerminan dari jati diri seseorang.

Senior Takebayashi adalah sosok yang gagah dan ramah, tapi langkahnya sangat kaku dan berat, seolah membawa hantaman dari pasukan infanteri berbaju besi.

Higashijo juga memainkan Shogi yang kaku, tapi gayanya sangat solid dan kukuh dengan target yang konsisten. Bisa dibilang, itu adalah cara bermain yang dibangun selangkah demi selangkah demi kemenangan. Namun, saat ini fleksibilitas itulah yang justru menjadi penghambatnya.

Aoi memiliki kecenderungan untuk sering menggunakan taktik yang tidak lazim (tricky). Ketertarikan yang terpancar dari kepribadiannya sehari-hari mungkin merupakan wujud dari ambisinya yang ingin mencoba berbagai macam strategi.

Sakuma bersaudara adalah tipe yang paling umum ditemukan di kalangan amatir, di mana karakteristik utama mereka adalah memberikan penekanan yang sangat jelas antara serangan dan pertahanan. Tipe seperti ini biasanya lebih menikmati waktu saat menyerang daripada memikirkan menang atau kalah.

Dan hakikat diriku adalah tipe yang menyerang membabi buta tanpa memedulikan penampilan sampai hancur berkeping-keping. Istilahnya adalah tipe "Pengahancur Diri".

Berdasarkan instingku sendiri, aku merasa serangan itu bisa tembus, aku yakin bisa menekan habis, tapi pada akhirnya lawan berhasil menghindar dengan lihai dan aku pun hancur sendiri.

Aku menertawakan bagian lemah dari diriku itu, lalu menamai akun Shogi Wars-ku dengan nama "Jimetsu-tei" (Kaisar Penghancur Diri). Sampai sekarang pun aku terkadang masih mengingatnya.

Namun, perasaan ini telah menyiksaku dalam waktu yang lama, sekaligus mendorong pertumbuhan yang besar dalam diriku.

Seseorang baru disebut tipe penghancur diri jika serangannya gagal. Dengan kata lain, asalkan tidak gagal, semuanya akan baik-baik saja.

Tentu saja awalnya aku terus-menerus kalah dan tidak menunjukkan bakat apa pun. Namun, aku tidak menyerah dan terus belajar melalui ratusan, ribuan, hingga puluhan ribu percobaan. Lambat laun, seranganku mulai berhasil menembus pertahanan lawan.

Di saat-saat genting, di posisi yang krusial, saat dihadapkan pada situasi penting yang tidak memungkinkan untuk mundur, manusia cenderung mengambil tindakan defensif untuk melindungi diri.

──Tentu saja itu karena mereka tidak ingin gagal.

Itu adalah perasaan normal yang dimiliki semua orang. Tidak ada yang mau menantang risiko kegagalan besar secara sukarela.

Karena itulah, orang-orang pada umumnya cenderung bersikap defensif di saat-saat penting dan bermain dengan sangat hati-hati.

Namun, bagi aku yang bertipe penghancur diri, rasa takut itu tidak ada. Pertarungan psikologis seperti "Bisa tidak ya? Berhasil tidak ya?" yang biasanya dimiliki manusia, tidak berlaku bagiku.

Saat aku berpikir serangan itu bisa dilakukan, maka serangan itu sudah dianggap berhasil. Karena aku sudah melakukan riset berulang kali sampai serangan itu benar-benar terwujud.

"──gh!"

Aku meningkatkan konsentrasiku hingga batas maksimal. Aku memasukkan keempat Game Record yang terbentang di depanku ke dalam kepala, lalu memeriksanya satu per satu secara berurutan.

Penilaian posisi, langkah selanjutnya, langkah balasan jika langkah itu terbaca, hingga serangan balik jika lawan memainkan langkah yang berbeda.

Aku memeriksa segala kemungkinan yang bisa muncul sedetail mungkin, lalu beralih ke mode pembacaan langkah yang sempurna.

(A-apa ini?)

(Suasananya berubah……?)

(Mikado-cchi……?)

(Ini adalah……)

Pola pikirku sebagai "Jimetsu-tei" adalah tipe penghancur diri luar biasa yang mengabaikan keselamatan diri sendiri maupun lawan.

Kehausan akan kemenangan bagaikan binatang buas melalui serangan tabrak lari, serta pola pikir kejam yang tidak memberikan ampun sedikit pun.

Ditambah lagi, aku mulai mengeluarkan rentetan "langkah pemutus pertemanan".

"A-apa……"

"Tidak mungkin……"

Demi menghancurkan kedua Sakuma bersaudara yang langkahnya sudah kubaca lebih dulu, aku membuang pertahananku dan mengorbankan semua bidak besar (Okomo). Aku menindas Raja lawan dari atas dengan kuantitas bidak cadangan yang kumiliki.

"Cepat sekali……!?"

"Sialan, jangan belagu kamu──!"

Langkah balasan dikirimkan, bidak besar dipangkas. Waktu untuk mengepung Raja lawan semakin mendekat tanpa menunggu sesaat pun.

Namun, tanganku bergerak lebih cepat dari itu.

0 detik, 0 detik, 1 detik, 0 detik, 2 detik, 0 detik, 2 detik, 0 detik, 0 detik──.

Terhadap langkah Sakuma bersaudara, aku menyelesaikan semuanya tanpa waktu berpikir sedikit pun (No-time).

"……Ke-kenapa!? Kenapa, kenapa……!?"

Serangan Hayato yang tadinya unggul kini benar-benar ditinggalkan, dan seranganku lebih dulu menghancurkan formasi Raja di wilayah Hayato.

Tanpa disadari, kecepatan kami berbalik, dan Hayato pun terdesak ke posisi kalah.

"Apa-apaan ini……!? Kenapa serangannya nggak berhenti-berhenti……!?"

Tempat bidak cadangan Kaito dipenuhi oleh bidak-bidak yang telah kupangkas habis.

Dibandingkan aku yang hanya memegang tiga bidak, Kaito memiliki begitu banyak bidak sampai meluap dari tempatnya. Posisi di papan pun hampir kosong melompong.

Tapi, giliran Kaito tidak akan pernah datang.

Karena aku terus menyambung serangan tanpa henti hanya dengan tiga bidak tersebut.

"Tidak mungkin……"

Senior Takebayashi menggumamkan kata-kata itu, hal yang jarang ia lakukan.

Sakuma bersaudara memegang kepala mereka dan mulai berpikir keras, sementara sisa waktuku tidak bergerak sedikit pun.

(Dua orang sudah kutahan. Sisanya tinggal menyelesaikan yang di sini.)

Saat aku mengarahkan pupil mataku yang melebar, Senior Takebayashi dan Aoi tersentak karena terkejut.

Sebenarnya, aku tidak terlalu suka gaya bermain yang mengundang perhatian buruk seperti ini.

Mungkin orang akan berpikir jangan bicara lembek di dunia kompetisi, tapi orang introvert sepertiku pasti merasa cemas dengan pandangan orang di sekitar.

Meskipun aku sadar diriku adalah keberadaan yang tidak dipandang oleh siapa pun, aku tetap diserang rasa cemas tentang bagaimana jika orang-orang melihatku dengan tatapan aneh.

Betapa tidak rasional dan bodohnya makhluk hidup ini, aku sendiri pun merasa sedih mengatakannya.

──Tapi, aku tidak bisa membiarkan diriku terus-menerus ditindas seperti ini.

Ada hal yang harus kulakukan. Sebelum hal itu tercapai, aku tidak boleh mundur di sini.

Daripada kalah di tempat ini dan membuat orang kecewa, lebih baik aku mengeluarkan kemampuan sungguhanku dan menghancurkan mereka meski imejku sedikit memburuk.

Dengan ekspresi serius tanpa ada maksud mengancam atau bercanda, aku berkata pada Senior Takebayashi.

"Aku akan segera menyelesaikannya."

"……Jangan sungkan!"

Tanpa memedulikan sikapku yang berubah drastis, Senior Takebayashi menahan semua serangan kilat yang kuluncurkan.

Namun, aku terus menciptakan celah sambil menyelipkan trik-trik kecil, lalu memulai serangan dari arah yang berlawanan dengan wilayah pertahanan yang berusaha dilindungi Senior Takebayashi.

"Apa……!? Tidak, ini serangan menjepit (Pincer Attack) ya……!?"

Seperti yang diharapkan dari Ketua klub Shogi. Dia langsung menyadari maksudku yang sekilas terlihat tidak masuk akal.

Tapi, menyadarinya dan bisa mengatasinya adalah dua hal yang berbeda.

Aku segera membalas langkah Aoi dengan kecepatan tinggi, dan di sela-selanya aku terus menyudutkan Sakuma bersaudara.

Sisa waktuku tetap berhenti di angka lima menit tanpa bergerak sedikit pun.

Malah sekarang keadaannya terbalik, keempat lawanlah yang terus mengonsumsi sisa waktu mereka.

Aplikasi Shogi Wars yang biasa kumainkan memang sangat mengandalkan permainan cepat sebagai dasarnya.

Bermain dengan aturan 10 detik per langkah atau kalah jika sisa waktu 5 menit habis sudah menjadi makanan sehari-hari di mana aku selalu berdampingan dengan risiko kehabisan waktu.

Di sanalah sang "Jimetsu-tei" yang meraih peringkat Dan 9 menghabisi lawannya tanpa mengonsumsi waktu satu menit pun──.

"gh……!"

Aoi menunjukkan ekspresi panik yang jarang terlihat sambil menggigit ujung jarinya.

Strategi yang trik memang banyak yang terlihat unggul secara visual, tapi jika diurai secara mendalam, strategi itu sebenarnya dikategorikan sebagai salah satu bentuk Bad Move.

Tentu saja, jika lawan tidak tahu cara mengatasinya, Bad Move itu akan meledak menjadi langkah yang brilian. Karena ketidaktahuan orang itulah strategi trik banyak digunakan.

Karena itu kamu salah, Aoi──. Tipuan semacam ini tidak akan mempan padaku.

"Ah……!?"

Gara-gara pembacaan langkah yang sangat tipis, Aoi melakukan kesalahan sesaat. Aku memanfaatkan celah itu untuk membantai habis semua bidak kecilnya.

"Sial──!?"

"Ini Tonsi (kekalahan mendadak). Sudah skakmat (Tsumi)."

Aku meluncurkan bidak Benteng ke arah samping Raja Aoi yang masih belum terluka. Lalu, dengan menjadikan Benteng itu sebagai tumbal, aku mengacaukan formasinya. Tanpa menyentuh satu pun bidak pertahanan Aoi, aku memenggal kepala Rajanya dengan tenang.

"A-Aoi menyerah lho……"

Tanpa memedulikan pernyataan menyerah dari Aoi, aku mengalihkan pandangan ke papan Senior Takebayashi dengan kecepatan luar biasa, meruntuhkan bentengnya, dan menyudutkan Rajanya.

Senior Takebayashi terus tertekan oleh serangan gencarku, hingga akhirnya ia tampaknya sudah memantapkan hati. Ia melambaikan satu tangannya di depan papan dan berkata:

"……Aku menyerah!!"

Begitu mendengar ujung kata-katanya, aku langsung kembali ke langkah Sakuma bersaudara, menyambungkan jalan menuju kemenangan dari langkah yang sudah dimainkan, dan membacanya sampai tuntas.

Sembari memainkan langkah balasan yang kuat, aku menekan Chess Timer dengan keras. PANG!

Aku tidak akan membiarkan waktuku habis──.

"S-sialan……!! Masa aku kalah sama orang kayak dia……!"

"Sial……! Beraninya dia meremehkan kita……!!"

Sakuma bersaudara mencoba bangkit kembali dan berusaha membalas serangan, tapi dalam Shogi, semangat saja tidak cukup.

Shogi adalah permainan di mana hanya pembacaan langkah dan taktik yang dikalkulasi secara murni yang akan tercermin dengan benar.

Khusus untuk kedua orang ini, mereka tidak mencoba memikirkan langkah selanjutnya dengan rasa percaya pada langkah lawan. Mungkin karena lawannya adalah aku.

Higashijo mungkin meremehkanku secara pribadi, tapi dia tidak pernah meremehkan langkahku.

Namun, Sakuma bersaudara bahkan meremehkan langkah-langkahku. Mereka berasumsi bahwa aku tidak mungkin bisa memainkan langkah sehebat itu, dan yakin kalau itu pasti Bad Move.

Harga yang harus mereka bayar hanyalah tercermin pada posisi papan saat ini.

"S-sialaaaaaan……!!"

Hayato mengacak-acak rambutnya sambil berusaha mencari celah. Namun, aku bahkan tidak memberinya kesempatan, aku membawanya ke kondisi Absolute Inevitable Checkmate (Zettai Fukahi Tsumi).

Jika kalian tidak mau mengakuinya, maka aku akan menciptakan situasi yang membuat kalian terpaksa mengakuinya dan paham.

Tidak ada ampun sedikit pun dalam pola pikir "Jimetsu-tei". Tidak ada pikiran kotor yang masuk ke dalam daya pikir ini, yang seluruhnya dicurahkan hanya untuk mengalahkan dan membantai lawan secara total.

Itu adalah satu-satunya kondisi di mana aku bisa menghapus rasa tidak berdayaku sebagai seorang penyendiri.

""Ka-kami menyerah……""

Sadar bahwa serangan balik sudah tidak mungkin lagi karena sudah terkena skakmat, Sakuma bersaudara menyatakan menyerah secara bersamaan.

"Hah, hah…… terima kasih atas pertandingannya……"

Di sanalah, untuk pertama kalinya, aku menyuarakan deklarasi kemenangan melawan empat orang sekaligus.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close