NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ouja no Ban Kuruwase -Netto Shougi no Teiou ~ Kiryuu no Ouja to Taiji suru ⁓ Volume 1 Interlude I

Sealed Move

New Game+, Namun Jauh Lebih Kuat

Kenapa juga hujan harus turun di hari seperti ini.

Suara rintik hujan yang memantul di atas kepalanya seolah sedang mencaci dirinya yang tidak berdaya, hingga tiba-tiba air mata mendesak keluar.

──Tanpa mengeluarkan payung dari tasnya yang basah, Higashijo mulai melangkah menyusuri jalan pulang.




"……gh!"

Dia melangkah maju dengan wajah yang tertunduk, seolah berusaha menepis butiran hujan yang tak terhitung jumlahnya.

Selama ini, dia selalu melangkah maju dengan cara seperti itu. Selangkah demi selangkah, dia membangun kekuatannya dengan pasti.

Berusaha itu tidaklah mudah. Tidak ada jaminan usaha itu akan membuahkan hasil, sementara waktu yang dihabiskan untuk itu tidak akan pernah kembali lagi.

Karena itulah, Higashijo merasa sangat bangga akan kemampuan yang dia peroleh dari hasil kerja kerasnya selama ini.

Dia merasa dirinya yang sekarang sudah berada di titik batas. Justru karena berdiri di tepi batas itulah, dia bisa memiliki harga diri untuk mengincar posisi yang lebih tinggi.

……Dia menyukai Joseki zaman dulu.

"Yagura 24 Langkah" yang membentuk simetri indah saat kedua belah pihak mengerahkan kemampuan terbaik, terasa begitu cantik seolah menyelamatkan dirinya yang terus disiksa oleh rasa rendah diri.

Namun, saat menyadari bahwa keterpakuannya pada Joseki lama itulah yang menjadi penyebab kekalahannya hari ini, dadanya terasa sangat sesak.

Harus keluar dari zona ini dan memulainya "lagi dari nol", membiarkan semua usaha yang telah dilakukan hanyut begitu saja seperti air hujan yang mengguyur ini…… hal semacam itu──.

“Bukankah itu yang namanya usaha?”

Higashijo menggigit bibirnya saat kalimat itu terngiang kembali di dalam kepalanya.

Benar, usaha tidak selalu membuahkan hasil.

Ada kalanya saat kita merasa usaha itu telah berhasil, kita justru harus membuangnya dan menganggapnya sia-sia.

Meski sudah berusaha mati-matian untuk maju, tidak ada gunanya jika dinding yang berdiri di depan kita benar-benar tak bisa dihancurkan.

"……Aku, harus berubah."

Higashijo mendongak. Tanpa memedulikan seragamnya yang basah kuyup, dia mulai berlari kencang menuju rumahnya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close