NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V13 Chapter 2

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 2

Persiapan Invasi

Bagian 1

Hari itu akhirnya tiba. 

“Yang Mulia, persiapan penyambutan telah selesai.” 

“Baik. Pastikan tidak ada satu pun ketidaksopanan.” 

“Siap.” 

“Tolong ya. Perlakuan terhadapku bisa berubah tergantung suasana hatinya.” 

Sambil berkata demikian, aku menundukkan kepala kepada Jurgen.

Dengan sungguh-sungguh. 

Bagaimanapun juga, tamu yang akan disambut adalah perwujudan kegilaan itu sendiri, Kakak Lize.

Kalau ada sedikit saja kesalahan, balasannya akan kembali kepadaku dua kali lipat. 

Sebanyak lima ribu kesatria dikerahkan untuk penyambutan.

Ini adalah penyambutan bagi seorang Putri Kekaisaran sekaligus Marsekal Kekaisaran. Bahkan dengan ini pun, bisa dibilang masih tergolong sederhana. 

“Yang Mulia Lizelotte senang mendengar pencapaian Yang Mulia Arnold. Sepertinya tidak perlu terlalu khawatir.” 

“Sepertinya kamu masih belum benar-benar memahami orang itu. Baginya, adik laki-lakinya hanyalah mainan. Cara memperlakukan mainan tergantung suasana hati. Hal-hal sepele saja bisa membuat kegilaan bertebaran.” 

“Mungkin itu karena kasih sayang.” 

“...”

Tidak menemukan kata balasan, aku menurunkan bahu sambil memberi isyarat agar dia meninggalkan ruangan.

Lalu, setelah tinggal sendirian, aku mengembuskan napas panjang dengan sangat keras. 

“...Aku tidak mau...” 

Kalau hanya bertemu saat aku menghabiskan waktu dengan santai di ibu kota, itu masih bisa kuterima.

Namun, bertemu Kak Lize dalam keadaan memegang jabatan seperti sekarang ini benar-benar neraka. 

Dan lebih buruknya lagi, neraka itu datang sendiri menghampiriku. Mustahil dihindari. Karena dia akan mengejar secara otomatis, aku tidak punya pilihan selain menghadapinya. 

Apakah pertahananku akan sanggup bertahan?

Yang diuji di sini adalah kekuatan sebagai adiknya. 

Segalanya akan ditentukan oleh seberapa baik aku bisa mengambil hati kakakku. 

“Tuan Al! Kue-kue sudah siap!” 

“Hebat, Fine! Kerja bagus! Dengan ini, semua senjata sudah lengkap!” 

Sejak pagi aku memang meminta Fine untuk membuat kue.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa permen dan kue bisa meningkatkan suasana hatinya. 

Dengan ini, peluang menangku melonjak drastis. 

“Menang!”


* * *


Lima ribu kesatria berbaris rapi dalam dua baris di depan gerbang, bersiap menyambut kedatangan Kak Lize.

Sebuah jalur yang terbentuk oleh barisan para kesatria itu. 

Seorang wanita berambut pirang dengan mantel biru yang berkibar anggun melaju melalui barisan bersama para pengawal dekatnya.

Putri Pertama Kekaisaran sekaligus Marsekal Kekaisaran, Lizelotte Lakes Ardler.

Wanita paling berbahaya di seluruh Kekaisaran akhirnya tiba. 

“Tidak perlu sampai Wakil Penguasa Wilayah Utara repot-repot keluar menyambutku, bukan?” 

“Jabatan tidak ada hubungannya. Ini hanya adik yang menyambut kakaknya.” 

Sambil berkata demikian, aku menundukkan kepala kepada Kak Lize yang masih berada di atas kudanya. 

“Selamat datang. Terima kasih sudah datang jauh-jauh ke sini. Perjalanan panjang pasti melelahkan, Kakak. Syukurlah Kakak tampak sehat.” 

“Kamu juga terlihat sehat, ya, Al.” 

“Masih kalah dibandingkan Kakak.” 

Aku membalasnya dengan senyum, sambil di dalam hati mengepalkan tinju penuh kemenangan.

Sempurna.

Alurnya benar-benar sempurna. 

Tidak mungkin aku akan disuruh mengulang seperti waktu itu lagi.

Saat aku sedang memuji diriku sendiri dalam hati.

Tatapan Kak Lize mendadak berubah tajam. 

“Ngomong-ngomong... apa arti keributan ini?” 

“Eh... ini untuk menyambut Kakak...”

“Bodoh. Kalau kamu bisa mengerahkan pasukan sebanyak ini hanya untuk menyambutku, seharusnya kamu menggerakkannya untuk rakyat.” 

“T-Tidak, kami sudah mengaturnya agar tidak mengganggu tugas-tugas lainnya...”

“Dengan pasukan sebanyak ini, kamu bisa melakukan hal baru. Kalau bisa dilakukan, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya, bukan?” 

“Tapi... Kakak adalah Marsekal Kekaisaran...”

“Dalam keadaan darurat, sambutan tidak diperlukan. Ingat baik-baik. Rakyat tidak datang untuk melihat medan perang. Sosok prajurit yang mereka lihat adalah di luar medan perang. Karena itulah, di masa damai pun prajurit harus bergerak demi rakyat. Kepercayaan yang dibangun di sana itulah yang membuat rakyat mau menerima keberadaan prajurit. Kalau sudah paham, gerakkan pasukan ini.” 

“B-Baik...” 

“Jurgen. Denganmu di sini, kenapa kamu tidak menghentikannya? Kamu biarkan dia berbuat sesukanya begitu saja?” 

“Mohon maaf. Itu kelalaian saya.” 

Sampai-sampai Jurgen pun harus menundukkan kepala.

Sial... tidak kusangka dia justru mengatakan sambutan ini tidak perlu. 

Ini benar-benar di luar perhitunganku. Biasanya, kalau tidak disambut, dia pasti mengeluh. Namun sekarang situasinya darurat.

Kak Lize memang biasanya bertingkah sesuka hati, tapi itu bukan karena dia tidak mampu menahan diri, melainkan karena dia memilih untuk tidak menahannya.

Kalau keadaan menuntut, dia adalah orang yang bisa menahan segalanya. 

Aku salah membaca situasi. 

Sambil memikirkan hal itu, aku meninggalkan sebagian kesatria untuk menjaga kota, sementara sisanya kuperintahkan menjalankan tugas pengawasan.

Dan sementara aku sibuk mengatur hal tersebut, Kakak sudah masuk ke dalam kediaman tanpa menunggu siapa pun. 

“Sepertinya kita membuat suasana hatinya buruk...”

“Belum! Kita masih punya kue!” 

Sambil berkata demikian, aku menatap lurus ke depan.

Kalau tidak segera memperbaiki suasana hatinya di sini, hidupku setelah ini akan benar-benar seperti neraka. 

Apa pun yang terjadi, aku harus membuatnya senang!


* * *


Setelah kembali ke kediaman, aku segera menuju ke tempat Kak Lize berada.

Yang sedang melayaninya adalah Fine. 

“Maafkan Al yang selalu merepotkanmu.” 

“Tidak, justru saya yang sering merepotkan. Saya jarang punya kesempatan untuk benar-benar membantu...” 

“Tidak perlu berkecil hati. Tetaplah berada di sisinya.” 

“Baik!” 

Meski keduanya belum terlalu saling mengenal, tampaknya Kakak menyukai Fine.

Dia hanya berbicara dengan ramah kepada orang-orang yang disukainya. 

Aku segera mendekat ke sisi Kakak, lalu memberi isyarat kepada Fine dengan pandangan mata agar menyiapkan kue. 

“Nona Lizelotte, saya memanggang kue. Bagaimana kalau mencicipinya?” 

“Oh? Kue buatan Putri Camar Biru? Akan kucoba.” 

Kakak tersenyum dan menerima tawaran Fine.

Ini pertanda baik. 

Saat aku tengah berpikir demikian, Fine datang membawa banyak sekali kue.

Pengalaman sebelumnya, semua bagianku dihabiskan olehnya.

Karena itu aku sudah meminta Fine membuatnya agak banyak.


Melihat itu, Kak Lize membelalakkan mata. 

“Kamu membuatnya sebanyak ini?” 

“Apakah terlalu banyak?” 

“Tidak...” 

Sambil berkata demikian, Kakak mengambil sedikit kue ke piring kecil, lalu menyerahkan sisanya kepada Fine. 

Melihat Fine memiringkan kepala dengan bingung, Kakak pun berkata, “Dalam perjalanan ke sini, kulihat anak-anak dengan wajah muram. Berikan ini kepada mereka. Kalau sebanyak ini, pasti cukup.” 

“T-Tapi...”

“Ini sudah cukup untukku. Kamu membuatnya dengan baik. Niatmu sudah kuterima.” 

Dengan nada yang tidak memberi ruang bantahan, Kakak mengantar Fine pergi.

Kini, hanya aku dan Kakak yang tersisa. 

“Al, ada satu hal yang perlu kukatakan.” 

“A-Apa itu...?” 

“Aku tidak suka orang yang berlebihan dalam berusaha menyenangkan hatiku.” 

“...Kalau yang tidak berusaha sama sekali?” 

“Aku juga tidak suka.”

Yang mana sih...

Benar-benar perwujudan ketidakadilan.


“Aku memang tidak suka orang yang sama sekali tidak peduli padaku, tapi kalau berlebihan juga menyebalkan. Cukup yang sedang-sedang saja. Lakukan secukupnya.” 

“Masalahnya, aku tidak tahu batas ‘secukupnya’ itu...”

“Kamu masih jauh dari cukup. Teruslah berusaha.” 

Berusaha dalam hal apa, memangnya?

Saat aku tengah memikirkan itu, Kakak tiba-tiba mengeluarkan sebuah peta.

Itu adalah peta perbatasan utara. 

“Kamu tahu aku sempat melakukan peninjauan ke sana, bukan?” 

“Ya, aku dengar itu.” 

“Pasukan penjaga perbatasan utara sempat hampir runtuh. Untuk sementara, Jenderal Harnisch yang mengoordinasikan perbatasan utara. Namun, kondisi pertahanannya berantakan.” 

“Aku sudah menerima laporannya. Katanya mereka hanya mampu menjaga benteng-benteng utama saja.” 

“Jangan bicara seolah itu urusan orang lain. Kamulah yang diberi tanggung jawab atas wilayah utara. Apa kamu tidak berpikir bahwa masalah perbatasan utara juga harus kamu selesaikan?” 

“Masalah perbatasan utara bukannya urusan militer...?”

“Kamu itu adikku. Artinya, ya begitulah.” 

Begitulah bagaimana maksudnya...?

Karena aku adiknya, aku harus sanggup menangani hal sejauh itu?

Yah, ini juga berkaitan dengan invasi ke Negara Bagian, jadi seharusnya tidak bisa dibilang melampaui wewenang... 

“Sebagai catatan, aku ini cukup sibuk.” 

“Kalau begitu, berarti kamu masih sanggup, ‘kan? Sampai masalah perbatasan terselesaikan, kita tidak bisa melancarkan serangan. Kita tidak boleh memberi celah hingga diserang balik dan menanggung kerugian. Lagipula... belum ada kabar dari Kanselir.” 

“Kabar dari Kanselir? Ngomong-ngomong, Kakak. Aku ingin menanyakan satu hal. Perbatasan timur tidak apa-apa? Mengingat Kakak akan lama berada di sini.” 

“Anak buahku kompeten. Mereka dilatih agar tetap bisa bergerak meski aku tidak ada.” 

“Begitu ya... kalau begitu tidak masalah.” 

“Dan lagi... ini tidak akan memakan waktu lama. Begitu perang ini dimulai, hasilnya akan segera ditentukan.” 

Bukan berarti karena Kakak yang turun langsung.

Sehebat apa pun dirinya, operasi invasi tetap membutuhkan waktu. Bagaimanapun, Negara Bagian Cornix itu tetaplah sebuah negara.

Kalau begitu, apa maksudnya perang ini akan segera berakhir? 

“Aku tidak mengerti maksudnya. Apa Kakak tahu sesuatu?” 

“...Ini informasi yang sangat rahasia. Jangan kamu ceritakan pada siapa pun.” 

“Tenang saja.” 

“...Kanselir dan Eric bekerja sama untuk memengaruhi para bangsawan Negara Bagian. Jika persiapannya rampung, setengah dari mereka akan berpihak pada kita.” 

“Untuk mencegah perang dua front?” 

“Tepat. Kita bereskan musuh di sekitar dengan cepat, lalu memusatkan kekuatan pada Kerajaan Perlan.” 

“...Orang-orang yang dengan mudah berkhianat, bukannya mereka akan dengan mudah pula mengkhianati kita?” 

“Kita tidak akan membiarkannya begitu saja. Mereka yang berkhianat dengan mudah, tentu saja.” 

“Berarti ada juga yang tidak berkhianat dengan mudah?” 

“...Putri Negara Bagian itu berniat membelot ke pihak kita. Jarang-jarang ada orang yang tampak begitu waras. Dia mewakili faksi berakal sehat di Negara Bagian. Banyak rakyat yang menghormatinya. Bangsawan di pihaknya bisa dipercaya.” 

Kondisi dalam negeri Cornix hampir tidak pernah sampai ke telinga Kekaisaran.

Bahkan fakta bahwa mereka memiliki seorang putri pun baru kali ini kudengar.

Namun, kalau memang ada sosok berakal sehat, itu justru menguntungkan.

Setelah invasi, wilayah itu bisa dipercayakan padanya.

Daripada dianeksasi, lebih baik dijadikan negara bawahan. 

“Itulah sebabnya. Mulailah juga pembenahan perbatasan. Begitu persiapan itu selesai, aku akan memimpin para kesatria timur untuk maju.” 

Setelah menyatakan itu, Kakak bangkit dari kursinya.

Ketika kutanya hendak ke mana, dia menjawab dengan nada seolah itu hal yang wajar. 

“Aku akan tidur. Aku mengantuk. Aku akan tinggal di sini untuk sementara waktu, jadi jangan bermalas-malasan, ya?” 

“...Kakak tidak sedang melemparkan semua pekerjaan ini padaku, ‘kan?” 

“Bukan melempar. Aku memberikannya padamu. Eric sibuk memengaruhi bangsawan Negara Bagian. Kamu juga butuh prestasi, bukan? Aku ini kakak yang baik, tahu.” 

Wanita macam apa dia ini.

Benar-benar keterlaluan.

Dalam hati aku memprotes habis-habisan, tapi karena takut serangan balik, di luar aku hanya bisa meringis. 

Saat aku berharap dia cepat pergi, Kakak tiba-tiba berhenti melangkah.

Aku sempat panik, takut isi hatiku ketahuan. 

“Oh ya, Al. Aku dengar tentang pertempuran melawan Gordon.” 

“A-Ada masalah dengan itu...?”

“Tidak, justru luar biasa. Bisa dibilang itu pertarungan yang sangat khas dirimu dan Leo. Kerja bagus. Seperti yang diharapkan dari adikku.” 

Setelah mengatakan itu saja, Kakak pun meninggalkan ruangan.

Mungkin benar juga, ternyata suasana hatinya sedang cukup baik.


Bagian 2

Negara Bagian Cornix.

Kota terbesarnya, Kohr.

Tempat itu diselimuti jeritan rakyat yang menderita akibat kesenjangan kaya-miskin yang teramat parah.

Namun, para bangsawan maupun keluarga kerajaan sama sekali tidak mau menaruh telinga pada suara rakyat tersebut. 

Negara Bagian itu bukanlah negeri yang miskin.

Melalui perdagangan maritim, mereka menghasilkan kekayaan yang cukup besar. Akan tetapi, kekayaan itu dikuasai dan dimonopoli oleh segelintir orang. Itulah wajah Negara Bagian ini. 

Secara resmi, mereka diperlakukan sebagai negara bawahan Persatuan Kerajaan, tetapi kenyataannya hampir setengahnya merdeka.

Campur tangan dari Persatuan Kerajaan pun sebagian besar berhasil mereka tepis. 

Kendati demikian, ketika Persatuan Kerajaan mengajukan permintaan resmi, Negara Bagian ini tidak punya pilihan selain ikut serta dalam perang melawan Kekaisaran.

Bentrok kecil di perbatasan dengan Kekaisaran Adrasia tiga tahun yang lalu, lalu kematian Putra Mahkota akibat insiden tersebut.

Sejak saat itu, Negara Bagian berusaha sebisa mungkin untuk tidak berurusan dengan Kekaisaran.

Apa pun sikap yang mereka ambil, mereka tahu itu hanya akan memancing amarah. 

Namun, pada akhirnya mereka tetap terseret ke dalam perang.

Bersama Persatuan Kerajaan, mereka menyerang perbatasan utara dan memberi dukungan pada Gordon.

Sampai di situ, semuanya masih berjalan sesuai harapan.

Bagi Negara Bagian, jika Gordon mampu menguasai wilayah utara, itu akan menjadi penyangga antara mereka dan Kekaisaran. 

Masalahnya, semua itu tidak berjalan sesuai rencana.

Gordon kalah, dan satu-satunya andalan mereka, Pangeran Naga William, terpaksa mundur dalam kekalahan.

Kini, tidak ada lagi kekuatan yang bisa melindungi Negara Bagian.

Mereka harus menghadapi Kekaisaran dengan kekuatan sendiri. 

Menyerah jelas bukan pilihan mereka.

Mereka telah menyeret Putra Mahkota yang dijanjikan masa depan gemilang menuju kematian. Dendam itu menghitam pekat, lebih dalam daripada jurang terdalam.

Kebencian dan amarah itu pun mengarah pada rakyat Negara Bagian. Rakyat yang tercekik kemiskinan hidup dalam ketakutan, gemetar menunggu kapan pasukan Kekaisaran akan menyerbu. 

Keluarga kerajaan dan para bangsawan bisa saja melarikan diri. Namun, rakyat bahkan tidak memiliki kekuatan untuk kabur.

Setelah para bangsawan dan keluarga kerajaan pergi, yang akan menjadi sasaran adalah rakyat Negara Bagian itu sendiri.

Karena menyadari hal tersebut, rakyat menjalani hari-hari mereka dengan wajah muram. 

Namun. 

“Bum, begitu bunyinya.” 

Di Negara Bagian yang suram itu, ada orang-orang yang bergerak dalam bayang-bayang.

Seorang bandit dermawan bermuka topeng merah tua, pengguna busur sihir, Kesatria Bulan Merah Vermillion.

Di tengah krisis nasional, Vermilion yang bergerak demi rakyat menjadi tumpuan harapan bagi mereka. 

Pada hari itu pun, Vermilion, menyergap kereta kuda yang mengangkut emas dan perak hasil penimbunan ilegal para bangsawan. Dari kejauhan, dia melumpuhkan para pengawal dalam sekejap.

Organisasi Grimoire, yang sebelumnya diburu Mia, telah menghilang dari Negara Bagian setelah kegagalan mereka di Kekaisaran.

Organisasi itu memiliki hubungan erat dengan para bangsawan. Mengapa mereka meninggalkan tempat persembunyian yang begitu nyaman?

Mia tidak tahu alasan pastinya. 

Namun, dia bisa memahami perasaan ingin melarikan diri dari Negara Bagian ini.

Dalam kondisi sekarang, Negara Bagian tidak mungkin mampu menahan invasi Kekaisaran.

Meski pencarian masih terus dilakukan, tidak satu pun jejak ditemukan.

Grimoire telah meninggalkan Negara Bagian ini. 

Meski begitu, Mia adalah bandit dermawan yang bergerak demi Negara Bagian.

Kalau mereka masih beroperasi di sini seperti dulu, mungkin lain cerita. Namun, jika seluruh organisasi sudah pergi dari Negara Bagian, tidak ada alasan baginya untuk mengejar.

Masih banyak orang di Negara Bagian yang membutuhkan bantuannya. 

“Baiklah, mari kita selesaikan dengan cepat.” 

Harta yang diangkut oleh kereta yang diserangnya berjumlah empat karung besar.

Dengan mudah dia menyampirkannya di punggung, lalu bersiap meninggalkan tempat itu.

Namun, seolah sudah menunggunya, sekelompok besar prajurit mendekat. 

“Itu dia! Kesatria Bulan Merah! Tangkap dia!” 

“Hari ini cepat sekali, ya!” 

Biasanya, meski mereka sudah waspada, bala bantuan baru akan datang jauh lebih lambat.

Menyadari bahwa pemilik kereta ini dijadikan umpan, Mia menghela napas.

Di antara para bangsawan, tidak ada sedikit pun rasa solidaritas.

Melihat kenyataan itu, dia tak bisa tidak merasa bahwa perang melawan Kekaisaran memang sudah tidak ada harapan. 

Sambil memikirkan hal tersebut, Mia mencoba melarikan diri dari tempat itu.

Namun kali ini, jaring pengepungan dipasang dengan sangat rapat.

Membawa harta rampasan seperti ini mungkin akan menyulitkan. 

“Sayang sekali kalau harus dibuang...” 

Sambil berlari di atas atap, Mia bergumam.

Dia mencari-cari apa ada celah dalam pengepungan itu. 

Saat itulah, tiba-tiba anak panah menghujani para prajurit. 

“Guaaaah!!” 

“Apa-apaan!? Dari mana tembakan itu datang!?” 

Tembakan jarak jauh dari kegelapan malam.

Lebih dari itu, semua anak panah diarahkan ke kaki para prajurit, menahan pergerakan mereka.

Keahlian yang bisa disebut sebagai mukjizat. 

Melihat itu, Mia segera menerobos celah dalam pengepungan. 

“Seperti biasa, dia suka ikut campur.” 

Sambil bergumam, Mia turun ke sebuah gang sempit yang sepi.

Dia menatap sekeliling, tetapi tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia.

Namun, Mia tetap berbicara. 

“Sesekali, bagaimana kalau kamu menampakkan diri?” 

Setelah kata-kata itu, sesosok figur muncul dari kegelapan.

Dia mengenakan topeng biru, tubuhnya terbalut pakaian hitam.

Di tangannya ada sebuah busur.

Tembakan barusan jelas berasal darinya. 

“Ada perlu apa, Vermilion?” 

“Ya, hanya sekadar ikut campur yang tidak diminta, Vater.” 

Saat ini, ada dua bandit dermawan yang beraksi di Negara Bagian.

Yang satu adalah Vermilion, dan satu lagi adalah Vater bertopeng biru.

Vater yang muncul secara tiba-tiba itu bukanlah bandit dermawan yang dengan sukarela menolong kaum lemah seperti Vermilion.

Namun, justru karena itulah dia jauh lebih diwaspadai oleh Negara Bagian dibandingkan Vermilion.

Sebab, dia selalu melakukan hal-hal yang tepat sasaran dan paling dibenci oleh Negara Bagian. 

Negara Bagian menerima tugas untuk mengirimkan perbekalan dari Persatuan Kerajaan kepada Gordon.

Pada awalnya, semuanya berjalan lancar, tetapi sejak Vater muncul, keadaan berubah.

Tidak peduli seberapa rahasia pun pengiriman itu dilakukan, Vater selalu berhasil menemukan lokasi rombongan logistik dan menyergapnya.

Perbekalan yang dirampas itu kemudian dibagikan kepada rakyat Negara Bagian, dan pada akhirnya rasa lapar mereka pun teratasi. 

Karena itulah dia disebut bandit dermawan. Namun, apa yang dilakukan Vater sejatinya bukanlah demi menyelamatkan rakyat, melainkan sekadar mengganggu dan menjengkelkan Negara Bagian.

Di titik inilah perbedaannya dengan Vermilion menjadi begitu jelas dan menentukan. 

“Kalau itu tadi dianggap ikut campur yang tidak perlu, aku minta maaf. Ada gelombang kedua dan ketiga yang menyusul.” 

“Apa!? Serius!?” 

“Kalau kamu sampai tertangkap, aku juga akan kerepotan. Lebih berhati-hatilah menjaga keselamatanmu.” 

Hanya itu yang dikatakan Vater sebelum dia menghilang.

Melihatnya pergi, Mia mengerutkan kening. 

Ini bukan pertama kalinya dia diselamatkan.

Vater selalu muncul entah dari mana, lalu memberikan bantuan kecil.

Namun, bukan berarti mereka bekerja sama sepenuhnya.

Mia juga tidak tahu apa tujuan sebenarnya Vater mengganggu Negara Bagian. 

“Siapa dia sebenarnya...?”

Dengan pertanyaan itu mengendap di benaknya, Mia pun meninggalkan tempat tersebut.


* * *


Di dalam sebuah rumah kosong yang terletak agak jauh dari sana.

Di tempat itulah Vater melepaskan topengnya. 

“Hadeh... tidak kusangka aku sampai harus meniru gaya si bertopeng licik itu...”

Jati diri Vater adalah Jack, seorang petualang peringkat SS.

Sesuai janji dengan Silver, Jack menyembunyikan identitasnya dan membuat kekacauan di kalangan elit Negara Bagian.

Dalam prosesnya, dia juga berhasil melakukan kontak dengan Vermilion, yang dia duga sebagai putrinya. 

Jack hampir yakin sepenuhnya bahwa Vermilion adalah putrinya. Cara menarik busurnya terlalu mirip dengan dirinya sendiri.

Namun, pihak sana masih bersikap waspada, sehingga kerja sama yang akrab belum bisa terjalin. 

Jika dia mengikuti Vermilion dan menemukan di sana keberadaan gurunya, maka kepastian akan diperoleh.

Akan tetapi, hal itu harus terjadi dalam bentuk hubungan kerja sama.

Jika dia membuntuti dan sampai ketahuan lokasi persembunyian Vermilion, justru itu akan membahayakannya. 

Dan yang terpenting.

“Aku tidak boleh sampai dibencinya.” 

Sambil berkata demikian, Jack mengendus bau tubuhnya sendiri.

Dia memang mandi setiap hari, tetapi apa dia bau keringat?

Seorang ayah yang bau keringat pasti akan dibenci oleh putrinya. 

“Ngomong-ngomong, aku dengar ada bangsawan Negara Bagian yang mendapatkan parfum bagus. Sepertinya perlu diserbu.” 

Dengan sama sekali tidak menyembunyikan kepentingan pribadinya, Jack kembali mengenakan topengnya dan berubah lagi menjadi Vater.


Bagian 3

“Dwarf memang hebat.” 

Rencana pembangunan kota bagi para pengungsi berjalan dengan lancar.

Para dwarf yang memiliki keterampilan tingkat tertinggi sebagai pengrajin bekerja siang dan malam tanpa henti.

Skalanya memang baru desa besar, tetapi sudah cukup layak untuk dihuni. 

“Wahahaha!! Benar, ‘kan? Benar, ‘kan? Hebat, ‘kan? Pujilah lagi!” 

“Itu Raja Macar.” 

Saat aku datang untuk meninjau, dari belakang terdengar suara tawa yang menggelegar. Ketika menoleh, di sana berdiri seorang dwarf dengan janggut lebat yang mengesankan.

Namanya Macar.

Raja dwarf. 

Di tangannya tergenggam sebuah cangkir besar, dan dia menenggaknya seolah-olah itu hanya air biasa.

Padahal isinya adalah arak khas dwarf. Minuman yang terlalu keras untuk bisa diminum manusia biasa. 

“Teknologi kami para dwarf adalah yang terbaik di seluruh benua! Dan kamu bisa melihat nilainya, pantas saja kamu disebut adik sang putri itu!” 

“Terima kasih karena telah memenuhi permintaan kami.” 

“Kaku sekali! Kami punya utang pada Kekaisaran! Saat ada yang kesulitan, saling membantu itu wajar!” 

Sambil tertawa terbahak-bahak, Macar kembali menenggak araknya.

Para dwarf yang sedang bekerja pun, ketika melihat rajanya, langsung berseri-seri, menuangkan arak ke dalam cangkir mereka dan ikut minum. 

Mungkin niatnya sekadar bersulang, tapi ini terlalu berlebihan sampai membuatku sedikit gentar.

Dan mereka masih bekerja, tahu. Hebat juga bisa minum arak sambil bekerja.

Padahal pasti ada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi. 

“Pangeran! Pangeran juga mau!?” 

“Maaf, aku tidak sekuat itu untuk bisa minum arak dwarf.” 

“Oh, benar juga! Aku sampai lupa karena sang putri itu bisa minum tanpa berubah ekspresi!” 

Wahahaha, Macar tertawa lagi.

Kakak memang peminum berat. Dia benar-benar kuat soal alkohol.

Tapi bisa minum arak dwarf juga?

Bukan cuma luarannya saja, bagian dalamnya juga tangguh. Orang yang merepotkan. 

“Raja Macar, aku ingin membicarakan soal imbalan.” 

“Imbalan? Ah, iya juga. Aku datang ke sini begitu saja karena diajak Duke! Kalau cuma aku sendiri, arak enak sudah cukup, tapi bagaimanapun juga aku ini raja! Mari kita bicarakan di sana!” 

Kelihatannya dia benar-benar lupa.

Bukankah ini terlalu sembrono?

Namun mungkin justru karena sifatnya seperti inilah Kekaisaran mengizinkan mereka memiliki wilayah otonom.

Jika dia lebih licik, pasti akan dicurigai Kekaisaran dan otonomi itu takkan pernah diberikan. 

Kami masuk ke sebuah gubuk di dekat situ, bangunan sementara yang dibuat para dwarf sebagai tempat tinggal.

Begitu masuk, Macar langsung duduk dengan berat. 

“Aku tidak suka permainan saling menguji niat! Yang kuinginkan adalah tanah!” 

Macar langsung berkata blak-blakan.

Tuntutan yang luar biasa, tapi juga tuntutan yang bisa dimengerti. 

“Kalau begitu, izinkan aku menjawab dengan jujur. Memperluas wilayah Raja Macar akan sulit.” 

Memperluas wilayah otonom berarti memperbesar pengaruh kaum dwarf, dan itu juga berarti harus mengambil tanah dari para bangsawan di sekitar wilayah tersebut.

Itu bukan perkara mudah. 

Namun, aku juga bisa mengerti alasannya. 

“Kudengar para dwarf yang sebelumnya tersebar di berbagai tempat kini perlahan kembali berkumpul di bawah Raja Macar?” 

“Benar. Wilayah otonom mulai terasa sempit. Kami ingin memperluasnya.” 

“Permasalahan ini berada di luar kemampuanku. Tentu saja aku bisa menyampaikannya kepada Kanselir dan Ayahanda, tetapi aku rasa itu tidak akan banyak membantu.” 

“Begitu ya... hm, memang sulit.” 

Raja Macar memperlihatkan wajah yang benar-benar kebingungan.

Aku ingin membantunya, tetapi masalahnya terlalu besar. 

“Pangeran, tidak adakah semacam rencana? Kami sudah membantumu. Kalau kamu membantu balik, takkan ada yang menyalahkanmu, ‘kan?” 

“Rencana, ya?” 

“Ya. Pendamping Tetua Egor bilang, kalau yang menjadi lawan bicara adalah pangeran, mungkin ada jalan.” 

“Begitu rupanya.” 

Pasti masalah ini sudah dibahas di dalam wilayah otonom mereka.

Saat itu, Sonia pun mungkin dimintai pendapat.

Cukup menarik, seorang setengah elf memikirkan masalah kaum dwarf. 

Namun tetap saja ini persoalan sulit.

Jika aku terlalu memihak dwarf, posisiku sendiri bisa terancam.

Penting bagiku untuk memikirkan keseimbangannya.

“Apakah Anda tidak keberatan jika bentuknya bukan wilayah milik sendiri?” 

“Tidak keberatan. Yang kami butuhkan hanyalah tempat untuk hidup.” 

“Kalau begitu... bagaimana jika sebagian dwarf ditempatkan untuk bermukim di wilayah utara? Wilayah utara masih dalam tahap pemulihan. Ada banyak pekerjaan untuk dwarf di sana. Selain itu, dengan kerajinan dan teknologi dwarf, perputaran uang dan manusia pun bisa tercipta. Ini akan menjadi bentuk pemukiman yang sangat menguntungkan bagi wilayah utara.” 

“Oh! Ide bagus! Kita lakukan itu!” 

“Sayangnya, aku hanya penguasa wakil penguasa. Setelah pemulihan mencapai tahap tertentu, aku akan meninggalkan wilayah ini. Masalah ini perlu dibicarakan dengan para bangsawan utara. Urusan dengan Ayahanda akan kutangani. Raja Macar, mohon berundinglah dengan perwakilan wilayah utara.” 

“Benar juga. Kami pun harus memilih siapa saja yang akan ditempatkan.” 

“Ini bukan sekadar menetap lalu selesai. Manusia dan dwarf adalah ras yang berbeda, pastinya akan terjadi benturan. Setiap kali itu terjadi, Anda harus memusingkannya. Apa itu tidak masalah?” 

“Itu pun akan kuterima sebagai tugas seorang raja! Bisa memusingkan kepala demi rakyat adalah sebuah kebahagiaan. Aku pernah kehilangan kebahagiaan itu saat negaraku hancur.” 

Untuk sesaat, wajah Macar memperlihatkan penyesalan.

Ketika Kekaisaran Suci menyerang, para dwarf melawan dengan segenap kekuatan.

Namun mereka gagal mempertahankan negaranya. 

Perbedaan skalanya terlalu besar. Tidak peduli seberapa gagah beraninya kaum dwarf, kekalahan sudah terlihat sejak awal.

“Apa Anda menyesal karena tidak menyerah?”

“Kami bertarung dengan mempertaruhkan kehormatan bangsa dwarf. Sekalipun nyawa kami selamat, diperlakukan seperti budak oleh Kekaisaran Suci adalah sesuatu yang tidak bisa kami terima. Karena itulah kami bertempur. Untuk hal itu, aku tidak menyesal. Yang kusesalkan adalah tidak meminta bantuan pada negara tetangga. Saat itu, Kekaisaran Adrasia sedang berperang melawan Kerajaan Perlan. Aku berasumsi mereka tidak mungkin menolong, lalu memilih diam. Dan setelah kami kalah, barulah kami meminta bantuan pada Kekaisaran. Itu adalah keputusan yang kuambil karena kupikir masih lebih baik daripada Kekaisaran Suci, tetapi... Kekaisaran justru melindungi kami dengan mempertaruhkan diri mereka sendiri. Karena mereka tidak pernah melunakkan sikap kerasnya, setelah itu kami tidak lagi diganggu oleh Kekaisaran Suci. Kepada Kaisar dan Nyonya Mitsuba, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih.” 

Setelah berkata demikian, Macar berdiri.

Lalu sebuah senyum gagah terukir di wajahnya. 

“Demi tanah ini, kami akan bekerja sama sepenuh tenaga. Kami percaya pada pangeran, putra dari orang yang telah menolong kami, dan juga percaya pada orang-orang yang tinggal di tanah Kekaisaran ini. Dengan keyakinan itu, kami akan berusaha sekuat tenaga. Ini bukanlah balasan atas semua itu, namun... bolehkah aku meminta satu hal?” 

“Selama masih dalam batas yang bisa saya dengarkan.” 

“Sebagai seseorang yang telah kehilangan negaranya, aku sangat mengerti betapa sedihnya kehilangan tanah air. Aku juga tahu betapa besar pengorbanan yang akan timbul saat itu. Aku paham betul bahwa bagi Kekaisaran, Negara Bagian adalah musuh yang dibenci. Namun rakyatnya sendiri seharusnya tidak bersalah. Perbedaan kekuatan sudah sangat jelas. Aku tidak mau pengorbanan yang tidak perlu terus berjatuhan.” 

“Bukankah itu seharusnya Anda sampaikan pada Kakak Lize?” 

“Aku sudah menyampaikannya. Katanya, ‘nanti kupikirkan’.” 

Itu memang sangat khas Kakak.

Dia tidak akan membuat janji dengan mudah. 

Kak Lize adalah orang yang paling dekat menyaksikan kakak sulung kami.

Kebenciannya terhadap Negara Bagian jauh lebih dalam dibanding siapa pun. 

Namun. 

“Permintaan itu tidak perlu. Saya tidak berniat membiarkan siapa pun menyakiti rakyat Negara Bagian. Karena saya sudah memiliki janji. Saya telah berjanji akan melindungi rakyat Negara Bagian sejauh yang saya mampu. Kepada seseorang.” 

“Oh? Kamu sampai menerima janji seperti itu. Aneh juga, ya?” 

“Saya sering mendengarnya.” 

“Tapi aku suka itu. Aku justru lebih menyukai orang bodoh! Jika janji itu benar-benar kamu tepati, Pangeran Arnold, engkau akan memperoleh kepercayaan para dwarf di seluruh benua.” 

“Saya akan menantikannya.” 

Dengan demikian, Macar menyeringai tipis, lalu menenggak minumannya dengan penuh semangat sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.


Bagian 4

Pemulihan berjalan lancar.

Masalah pangan berhasil diatasi berkat para pedagang dari wilayah timur, dan ketika mereka mulai melirik kuda-kuda perang dari utara, arus keluar-masuk orang pun ikut bergerak.

Kota para pengungsi juga perlahan mulai terbentuk berkat kerja sama para dwarf. 

Raja Dwarf Macar mengadakan pertemuan dengan para bangsawan berpengaruh di wilayah utara yang berpusat pada Sharl, dan mulai membahas soal pemukiman para dwarf.

Mengenai rencana pemukiman itu, aku menulis surat kepada Ayahanda.

Balasan yang datang hanya mengatakan bahwa beliau akan mengirim seorang utusan.

Tidak ada rincian apa pun yang disertakan. 

“Siapa ya yang akan datang?” 

“Kalau utusan Paduka, mungkin saja Kanselir?” 

“Tidak realistis kalau Kanselir datang. Dia sedang sibuk mengurus upaya penaklukan Negara Bagian. Bukannya lebih masuk akal kalau salah satu pangeran?” 

Sharl membantah jawaban Elna.

Karena memang benar, Elna hanya bisa memasang wajah kesal.

Dalam adu mulut, dia memang tidak akan menang melawan Sharl. 

“Bagaimanapun juga, dia pasti orang dengan kedudukan yang sepadan sebagai utusan Kaisar. Jangan sampai bersikap tidak sopan.” 

“Tidak perlu kamu yang mengatakannya, Al.” 

“Al juga pasti tidak mau dinasihati oleh orang tertentu.” 

“Apaaa?” 

“Ada yang ingin kamu protes?” 

“Dibanding Al, aku jauh lebih pantas! Aku juga pernah menyelamatkan wilayah utara, ‘kan!? Harusnya lebih berterima kasih!” 

“Itu rencananya Al, ‘kan!? Dan jangan kira aku lupa betapa memalukannya kamu waktu ketakutan menyeberangi sungai!?” 

“Aku tidak takut! Aku cuma tidak pandai, ‘kan sudah kubilang!?” 

Perdebatan pun dimulai lagi.

Sepertinya Sharl memang tidak bisa sejalan dengan Elna.

Elna akan membalas penghormatan jika lawannya menghormatinya, tetapi jika tidak, dia akan melawan.

Itulah sebabnya mereka berdua tidak pernah akur.

Namun karena mereka tidak benar-benar saling membenci, mungkin masih bisa ditoleransi. 

“Tolong jangan bertengkar di depan utusan nanti, ya? Nilai diriku bisa turun.” 

“Bilang saja ke Charlotte!” 

“Bilang saja ke Elna!” 

Suara mereka bertumpuk.

Keduanya sama-sama memasang wajah masam.

Entahlah, ini disebut kompak atau justru tidak. 

“Sebas, kira-kira kapan utusan itu tiba?” 

“Benar juga... seharusnya dia sudah hampir sampai.” 

Kalau begitu, sebaiknya kami keluar untuk menyambutnya.

Sambil berpikir begitu, aku menyesap teh hitam. 

Pada saat itu juga, sebuah suara terdengar dari belakang. 

“Tidak perlu repot-repot menyambut. Aku sudah di sini.” 

“!?”

Aku hampir menyemburkan teh.

Selain karena suara itu datang dari belakang, suara itu juga sangat kukenal. 

“Sebas, apa instingmu sudah tumpul? Sampai-sampai dia bisa lolos darimu.” 

“Tidak sopan mengejek lansia. Jika Anda mendekat sambil meniadakan kehadiran, wajar saja saya tidak sadar.” 

Saat Sebas ada, aku tidak memasang penghalang.

Karena hampir tidak pernah terjadi ada seseorang yang lolos dari perhatiannya.

Namun, selalu ada pengecualian.

Dan di Kekaisaran ini, salah satu dari sedikit pengecualian itu kini datang sebagai utusan. 

Aku segera berdiri dari kursi dan menoleh ke belakang.

Seorang pria berambut merah muda pucat masuk ke ruangan melalui jendela.

Matanya berwarna hijau giok. 

“Pahlawan!? Kenapa Anda yang datang!?” 

“Ayah!?” 

Di sana berdiri seorang pria paruh baya bertubuh ramping.

Dilihat dari penampilannya, orang akan mengira dia masih di usia tiga puluhan.

Wajahnya tampan dan tubuhnya terlatih, namun dengan senyum ramah yang bersahaja.

Tidak diragukan lagi, dialah Pahlawan generasi sekarang, Theobald von Amsberg. 

“Aku minta maaf karena cara kemunculanku yang tidak sopan. Aku hanya sedikit penasaran dengan keadaan kalian.” 

“Tolong jangan lakukan hal yang buruk bagi jantungku...”

“Hahaha! Kamu bukan orang yang akan terkejut hanya karena hal seperti ini, bukan? Kudengar kamu memimpin para bangsawan utara dan muncul tepat di belakang pasukan musuh? Bagi mereka, itu pasti jauh lebih buruk bagi jantung.” 

“Aku terbiasa mengejutkan orang, tapi tidak terbiasa dikejutkan.” 

“Itu berbahaya. Justru kejutanlah yang membuat hidup bersinar.” 

Sambil berkata begitu, Pahlawan tersenyum lebar dan mengalihkan pandangannya ke arah Sharl.

Sharl yang sama sekali tidak menyangka Pahlawan akan datang, membeku di tempat. 

“Marquis Charlotte von Zweig, bukan? Senang bertemu denganmu. Aku Pahlawan Theobald von Amsberg. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Dewa Petir yang baru.” 

Pahlawan mengulurkan tangan kanannya ke arah Sharl.

Sharl sempat ragu sejenak, lalu dengan canggung menggenggam tangan itu. 

“S-Saya Marquis Charlotte von Zweig... suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan Anda, Pahlawan Armsberg.” 

“Tidak perlu setegang itu. Meski disebut Pahlawan, sebenarnya aku tidak melakukan apa-apa yang istimewa. Aku hanya berjalan-jalan keliling Kekaisaran saja.” 

Iya, tentu saja.

Bilangnya jalan-jalan, padahal diam-diam dia membasmi organisasi anti-Kekaisaran di berbagai tempat.

Semakin jauh dari pusat, semakin sulit pengawasan Kaisar menjangkau.

Karena itulah Pahlawan turun tangan menggantikan, menghancurkan kelompok-kelompok semacam itu.

Dulu peran itu dijalankan oleh para kesatria pengawal. Namun karena pengamanan Kaisar kini lebih diprioritaskan, Pahlawan-lah yang mengambil alih tugas tersebut. 

“Baiklah, kurasa kalian sudah sadar, tapi aku ini utusan dari Paduka Kaisar. Kita langsung masuk ke pembicaraan serius, Al?” 

“Tidak, beri aku sedikit waktu...” 

“Kalah begitu...” 

Pandangan Pahlawan beralih ke Elna, yang sejak tadi berusaha menghindari tatapannya.

Elna menegakkan punggungnya dengan wajah tegang.

Ya, ini sudah jelas.

Ceramah. 

“Elna... kamu tahu apa yang ingin Ayah katakan?” 

“...A-Apa karena aku tidak menyadari kehadiran Ayah...?”

“Kamu paham rupanya. Seandainya aku seorang pembunuh bayaran, kepala Al sudah tidak pada tempatnya.” 

“M-Maafkan aku...”

“Jika cukup dengan minta maaf saja, maka kesatria pengawal tidak akan dibutuhkan. Dengan kondisi Kekaisaran saat ini, nilai keberadaan setiap anggota keluarga kekaisaran semakin tinggi. Terlebih lagi Al adalah Wakil Penguasa Wilayah Utara. Kini dia bisa disebut sebagai salah satu pangeran yang paling dipercaya Kaisar. Itulah alasan kamu ditempatkan di sini. Jangan kira kamu dikirim hanya karena kalian akrab.” 

“...”

“Belajarlah untuk lebih tenang. Fakta bahwa sampai sekarang belum ada suara yang mendorongmu menjadi Komandan, pahamilah itu juga karena kelemahanmu di sisi ini.” 

“Baik... aku akan berusaha lebih baik...”

Melihat Elna yang jelas-jelas sedang terpuruk, aku menghela napas.

Tidak berubah juga. Dua orang ini memang begitu. 

Elna tak pernah bisa membantah Pahlawan. 

“Pahlawan. Elna sudah bekerja dengan sangat baik.” 

“Kamu selalu memanjakan Elna. Itulah sebabnya anak ini selalu lengah saat berada di hadapanmu. Bahkan sejak kecil dulu.” 

“Kita sama saja. Aku selalu ditolong Elna dalam tugas pengawalan.” 

“Astaga... jangan terlalu bergantung pada Al.” 

“Baik... akan kuperhatikan.” 

Melihat Elna yang tertunduk lesu, Pahlawan menghela napas pelan.

Dari sudut pandangnya, Elna mungkin memang masih jauh dari kata cukup.

Lagipula, sebagai orang tua, wajar jika dia menilai anaknya dengan lebih keras. 

“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi memberi salam kepada Yang Mulia Lizelotte terlebih dahulu. Pembicaraan serius bisa kita lanjutkan setelah itu, bukan?” 

“Ya. Itu sangat membantu.” 

“Marquis Zweig, maaf merepotkan, bisakah kamu mengantarku?” 

“Y-Ya! Lewat sini!” 

Dengan begitu, Pahlawan pun meninggalkan ruangan bersama Sharl.

Begitu langkah kaki mereka benar-benar menjauh, aku dan Elna menghembuskan napas panjang secara bersamaan. 

“Haaah... masa iya utusan yang datang justru Pahlawan...”

“Umurku terasa berkurang bertahun-tahun...”

“Di hadapan beliau, kalian berdua memang seperti anak-anak.” 

Mendengar Sebas, aku hanya bisa menghela napas panjang.

Kenapa sih, yang datang selalu orang-orang yang sulit dihadapi? 

Tercium aroma gangguan yang disengaja.

Namun di saat yang sama, rasanya Ayahanda bukan tipe orang yang akan melakukan sesuatu tanpa tujuan. 

“Pemilihan orang yang sekaligus untuk balas dendam dan keuntungan, ya...”

Pembicaraan serius yang dimaksud Pahlawan mungkin bukan hanya soal para dwarf.


Bagian 5

“Baiklah, mari kita mulai yang serius.” 

Malam hari.

Di dalam ruangan hanya ada aku dan Pahlawan.

Dengan memastikan tidak ada seorang pun yang menguping, pembicaraan pun dimulai. 

“Bukan hanya soal para dwarf, bukan?” 

“Tentu saja. Paduka Kaisar tidak mungkin mengutusku hanya untuk urusan itu. Meski begitu, perkara dwarf memang penting.” 

“Kalau begitu, bolehkah kita mulai dari urusan dwarf terlebih dahulu?” 

“Baik.” 

Pahlawan menjawab sambil tersenyum dan menyesap teh.

Seperti biasa, setiap gerak-geriknya selalu terlihat pantas. 

“Paduka Kaisar pada dasarnya menyetujui rencana mengenai para dwarf.” 

“Pada dasarnya?” 

“Ke depannya, para bangsawan utara harus bersikap lebih terbuka terhadap pendatang dari negara lain... dengan kata lain, jangan berhenti hanya pada dwarf saja.” 

“Maksudnya, kami juga harus menerima rakyat yang mengalir dari Negara Bagian?” 

“Bukan hanya dari Negara Bagian. Bisa saja rakyat Kerajaan Perlan juga datang. Bahkan mungkin kita harus menerima para elf yang bermasalah akibat insiden dengan elf gelap.” 

“Semuanya dibebankan ke wilayah utara?” 

“Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Jika preseden dibuat, maka setelahnya pun diharapkan bisa bergerak aktif.” 

“Lahan kami terbatas.” 

“Paduka tampaknya akan melepaskan tanah-tanah Kekaisaran.” 

Itu cukup mengejutkanku. 

Tanah Kekaisaran adalah wilayah yang berada langsung di bawah kendali kaisar, tersebar di berbagai daerah.

Biasanya merupakan tanah khusus, gunung yang menghasilkan emas atau batu permata, misalnya.

Melepaskannya berarti hak-hak tersebut boleh diberikan kepada bangsawan utara. 

Artinya, mereka akan bernegosiasi. Menyerahkan hak atas tanah Kekaisaran sebagai imbalan agar para bangsawan mau menyediakan lahan.

Jika demikian, para bangsawan utara pasti akan dengan senang hati menyerahkan tanah mereka. 

“Hubungan antara pusat dan wilayah utara terus memburuk. Karena itu, wilayah utara menjadi lebih tertutup dibanding daerah lain. Paduka ingin menyelesaikan masalah itu.” 

“Apakah Kaisar tidak menggunakan wewenangnya untuk merampas tanah demi mempertimbangkan perasaan bangsawan utara?” 

“Benar.” 

“Namun, nilai tanah Kekaisaran jauh lebih besar dibanding sekadar tanah biasa.” 

Mengambil sebagian wilayah setelah mereka berjasa di medan perang tentu akan menimbulkan ketidakpuasan.

Karena itu, memberi imbalan pengganti masuk akal.

Namun, jika hanya untuk mendapatkan tanah, harga yang dibayar terasa terlalu mahal. 

“Hadiah memang akan diberikan. Tapi beliau merasa itu saja tidak cukup.” 

“Sebagai penebusan?” 

“Mungkin begitu. Sekaligus sebagai investasi. Jika hak atas tanah Kekaisaran menjadi milik wilayah utara, wilayah utara akan semakin makmur. Pemulihan pun akan berjalan lebih lancar.” 

“Itu sangat membantu, tapi... bangsawan utara mana yang akan diajak bertransaksi?” 

“Beliau menyerahkannya padamu. Pengelolaan tanah Kekaisaran itu sendiri diserahkan kepadamu.” 

“Bukankah itu melemparkan semuanya begitu saja padaku...?”

“Menurut penilaiannya, akan lebih mudah diterima jika dianggap sebagai sesuatu yang kamu menangkan sendiri, bukan sesuatu yang diberikan oleh Kaisar.” 

“Kalau begitu, penilaian terhadap Ayahanda tidak akan meningkat.” 

“Aku juga mengatakan hal itu. Namun katanya, tidak perlu peduli pada penilaian Kaisar yang hanya menunggu waktu untuk turun takhta.” 

Apakah beliau berniat turun takhta dengan tetap dibenci oleh wilayah utara?

Seolah-olah Kaisar bersedia menanggung sendiri kebencian itu. 

Sentimen buruk terhadap keluarga kekaisaran di wilayah utara memang sudah menipis, tetapi rasa tidak suka terhadap Kaisar sendiri masih tersisa. 

“Orang yang benar-benar merugi...” 

“Menurutmu begitu?” 

Pahlawan terkekeh, lalu bangkit dari sofa dan berjalan mengitari ruangan.

Mungkin dia sedang memastikan tidak ada siapa pun yang menguping. 

“Maaf, aku diminta memastikan tidak ada seorang pun yang mendengar.” 

“Tidak masalah. Kalau perlu, kita bisa pindah tempat.” 

“Tidak perlu. Bergerak mencolok juga tidak ada gunanya.” 

“Kedatangan Anda sendiri sudah paling mencolok.” 

“Tidak apa. Kita anggap saja aku datang untuk melatih ulang Elna.” 

“...Gerak-gerik kita sedang diawasi?” 

“Ada kemungkinan seperti itu. Sekarang, inti pembicaraannya... keluarga kekaisaran sedang berada di bawah serangan. Perebutan takhta kali ini mungkin berada di telapak tangan seseorang.” 

Perebutan takhta kali ini memang terasa janggal.

Ada dua orang yang pernah mengatakan hal itu.

Pahlawan yang kini berdiri di depanku, dan ayah angkat Sonia, sang ahli strategi militer. 

Keduanya memiliki ketajaman pengamatan luar biasa.

Namun, belum ada bukti yang jelas. 

Aku tidak menyangka Ayahanda akan lebih dulu mengangkat topik ini sebelum aku sendiri menemukan buktinya. 

“...Apa ada buktinya?” 

“Tidak ada yang benar-benar pasti. Namun menurut pandangan Paduka Kaisar dan Nyonya Mitsuba, ada kemungkinan para anggota keluarga kekaisaran terkena semacam kutukan yang disalurkan melalui para selir.” 

“Apa Ibu juga berpikiran sama?”

“Justru yang sampai pada jawabannya adalah Nyonya Mitsuba. Awalnya berasal dari wasiat Selir Kedua. Konon beliau menyampaikan kepada Paduka Kaisar agar tidak mempercayai selir mana pun selain Nyonya Mitsuba.” 

“...Artinya, jika itu Ibu yang selalu menjaga sikap tidak campur tangan, maka beliau tidak akan memengaruhi anak-anaknya?” 

“Begitulah. Selir Kedua sengaja mengumpulkan kutukan itu pada dirinya sendiri lalu wafat. Bisa juga dipahami bahwa dia merasakan perubahan pada dirinya, lalu menghukum dirinya sendiri. Bagaimanapun, dialah selir yang paling mampu memengaruhi Kaisar.” 

“Memang benar, Kakak Gordon dan Kakak Zandra sama-sama menerima campur tangan dari ibu mereka. Jadi, karena itulah kepribadian mereka perlahan berubah?” 

“Itu salah satu kemungkinan. Belum ada kepastian. Semua ini hanyalah dugaan yang muncul dari wasiat Selir Kedua. Namun... jika melihat situasinya, penjelasan itu masuk akal.” 

Daripada dikatakan tidak terjadi apa-apa, menganggap ada seseorang yang menarik benang di balik layar justru terasa lebih meyakinkan. 

Namun, andaikata dugaan itu benar. 

“Berarti yang tersisa untuk dikhawatirkan adalah Kakak Eric dan Kakak Conrad?” 

“Begitulah. Pangeran Conrad memang tidak diharapkan oleh Selir Keempat, tetapi sebagai gantinya Selir Ketiga yang mengurusnya.” 

“Setelah dewasa, kurasa mereka menjaga jarak... tapi melihat akhirnya dia berpihak pada Kakak Eric, mungkin hubungan mereka tetap terjalin diam-diam.” 

“Sampai-sampai dia membunuh ibunya sendiri. Memang belum diumumkan secara resmi, tapi Pangeran Conrad kini tengah menjalani masa penahanan. Tampaknya sulit bagi siapa pun untuk memuji seorang pangeran yang membunuh ibu kandungnya.” 

“Itu sudah pasti. Di sekitar Ayahanda ada para kesatria pengawal, jadi sebenarnya tidak perlu turun tangan sendiri. Apalagi jika dia terkait dengan Kakak Eric. Dalam kondisi terdesak, bahkan ayahnya sendiri pun mungkin akan dia tusuk.” 

“Tepat. Karena itulah, Al. Peranmu menjadi sangat penting.” 

Ada alasan mengapa topik ini sengaja dibawa kepadaku.

Jika Eric memang terkena kutukan, maka yang akan dianggap berbahaya adalah Leo dan aku.

Namun, tidak ada bukti. 

Justru karena itulah mereka ingin aku bergerak. 

“Menyebar umpan?” 

“Benar. Bukan Kaisar yang menyadarinya... tapi kamu. Kami ingin kamu bertindak dengan asumsi itu. Saat menyerang Negara Bagian, desaklah agar dilakukan penyelidikan ulang mengenai kematian Putra Mahkota.” 

“Sebagai umpan?” 

“Begitulah. Meski kamu menolak pun...” 

“Tidak, kita lakukan. Tapi ada syarat.” 

Sambil berkata demikian, aku meneguk habis teh yang sudah lama dingin. 

Mengalihkan sasaran kepadaku berarti aku harus bergerak mencolok.

Yang paling harus diwaspadai tentu saja pembunuhan.

Namun itu tidak mudah berhasil. 

Mereka tidak mungkin mengincar aku dan Leo sekaligus.

Mereka akan menargetkan pihak yang paling mengganggu.

Dan aku harus menjadi pihak yang paling mengganggu itu. 

Menarik. 

“Silakan.” 

“Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. Jika kalian mau percaya padaku sampai akhir, aku akan menerimanya.” 

“...Tidak masalah. Di antara semua putra-putrinya, Paduka Kaisar paling percayapadamu. Sejak hari ketika kamu dengan kemauanmu sendiri masuk ke dalam penjara.” 

Mendengar kata-kata itu, aku pun menyeringai lebar.


Bagian 6

Dimensi lain.

Aku tidak bisa menggambarkan pertarungan di depan mata ini dengan sebutan lain selain itu. 

“Aku akan membunuh Al mulai sekarang, jadi berjuanglah sekuat tenaga untuk melindunginya.” 

Sambil berkata demikian, Sang Pahlawan menyerang dari tengah padang rumput luas yang tidak memiliki apa pun selain hamparan tanah, dengan pedang kayu di tangannya.

Yang bertahan adalah Elna. Di tangannya juga pedang kayu.

Ini murni latihan.

Latihan bagi Pahlawan untuk melatih ulang Elna.

Dalihnya adalah agar terlihat seolah Pahlawan tidak bergerak atas perintah Ayahanda. 

Namun, apa pun alasannya, yang saling beradu adalah seorang pahlawan dengan pahlawan.

Tidak mungkin ini berakhir tanpa cedera. 

“Ugh...!” 

Aku harus merendahkan tubuh agar tidak tersapu oleh hembusan angin kencang yang tiba-tiba tercipta.

Keduanya sama-sama menggunakan pedang kayu.

Tenaga yang mereka curahkan seharusnya setara.

Meski mereka mengayunkannya dengan menahan diri agar tidak hancur, tekanan pedangnya saja sudah cukup untuk menimbulkan angin topan kecil. 

Dengan mata saja, aku sudah tidak mampu sepenuhnya menangkap apa yang sedang terjadi.

Aku hanya bisa menangkap suara benturan pedang, itu pun terdengar dari segala arah, tidak terhitung jumlahnya. 

“Kamu selalu hanya mengandalkan kekuatan untuk menekan lawan. Itulah sebabnya kelemahanmu tidak pernah benar-benar teratasi.” 

Suara itu terdengar dari belakang.

Saat aku menoleh, Elna dan Pahlawan sedang saling menekan pedang, bertautan rapat. 

“Aku tidak lemah dalam tugas pengawalan!” 

“Benarkah? Bukankah kamu justru lebih mahir dalam menyerang?” 

Sambil berkata begitu, Pahlawan kini beralih ke posisiku.

Belum sempat aku berpikir sejak kapan, Elna sudah menghentikan pedang Pahlawan. 

“Anggota keluarga Pahlawan harus tetap menjadi pahlawan meski tanpa Pedang Suci. Baik dalam sikap maupun kemampuan.” 

“Kalau soal sikap mungkin... tapi untuk kemampuan, aku tidak merasa kalah dari Ayah!” 

Sambil berkata demikian, Elna mendorong Pahlawan mundur.

Melihat itu, Pahlawan tersenyum. 

“Kemampuan bukan hanya soal keahlian berpedang atau teknik bertarung.” 

Sekali lagi suaranya terdengar dari belakang.

Jauh lebih cepat daripada sebelumnya. 

Elna panik dan berhasil menepis pedang itu, namun karena tergesa-gesa, dia terkena tendangan yang dilepaskan Pahlawan pada saat yang sama dan terpental. 

“Taktik, ketenangan, ketajaman membaca situasi. Semuanya kurang pada dirimu. Kata ‘bertarung dengan adil’ hanya berlaku bagi mereka yang menjunjung kehormatan. Kebanyakan orang akan melakukan apa pun demi bertahan hidup. Jika setelahnya hanya bisa berteriak bahwa itu pengecut, maka keluarga Pahlawan tidak diperlukan.” 

“Aku mengakui ada yang kurang... tapi trik yang sama tidak akan berhasil dua kali.” 

“Pemikiran itulah yang keliru. Tidak ada yang namanya dua kali. Karena pikiran itulah kamu membiarkan Kapten Kesatria Pengawal yang berkhianat lolos. Jika bahkan Kapten Kesatria Pengawal saja tidak bisa ditangkap, maka keberadaan kita tidak memiliki arti.” 

“Itu...”

Memang benar, Elna membiarkan Raphael, mantan Kapten Kesatria Pengawal yang berkhianat, melarikan diri.

Di tengah kekacauan ibu kota kekaisaran, dia tidak mampu menuntaskan Raphael yang hanya fokus melarikan diri. 

Kalau mau jujur, sebelum itu pun Alida juga gagal menghabisinya.

Namun, bagi Pahlawan, hal itu tampaknya bahkan tidak layak dijadikan perbandingan. 

Keluarga Pahlawan Armsberg adalah kartu pamungkas Kekaisaran.

Mereka harus berada di tingkat yang berbeda dari yang lain. Kekuatan itulah yang menopang keluarga Armsberg selama ini. 

“Kamu goyah oleh kata-kata musuh dan terlambat bergerak. Dulu sudah kuajarkan, bukan? Dengarkan ucapan musuh setelah mereka dibuat merangkak di tanah.” 

Pahlawan bergerak memutar ke belakang Elna.

Elna berhasil menahan serangannya, namun kembali terpental. 

Meski begitu, Elna segera menata ulang posisinya dan kembali ke sisiku. 

“Hah... hah...”

“Kesulitan?” 

“Dia Ayahku...” 

“Bukan berarti semua yang dia katakan benar.” 

Sambil berkata demikian kepada Elna, aku mengarahkan pandanganku ke Pahlawan.

Pahlawan tetap mempertahankan senyum tipisnya.

Melihat ekspresi penuh kelonggaran itu, entah kenapa aku jadi ingin merusaknya. 

Kebiasaan buruk keluarga kami. 

“Pahlawan. Apa yang Anda katakan memang benar. Elna membiarkan seorang Kapten Kesatria Pengawal lolos. Itu jelas kegagalan bagi keluarga Pahlawan. Namun, pada hari itu, orang yang datang ke sisiku di ibu kota adalah Elna. Bukan Anda.” 

Mendengar ucapanku, Pahlawan tersenyum kecut.

Tampaknya dia mau menanggapi pembicaraanku.

Berarti targetnya tetap Elna. 

“Ya ampun... kamu ini selalu saja.” 

“...Di antara orang yang berada di tempat kejadian dan orang yang bahkan tidak sempat datang, mana yang lebih berguna? Anak kecil pun bisa menjawabnya, bukan?” 

“Benar sekali. Jika kamu bilang aku tidak pantas membicarakan itu, aku pun tidak bisa membantahnya. Namun Al, bukan berarti kamu selalu bisa menolong Elna seperti itu. Jangan terlalu lunak.” 

“Jika aku tidak mampu, Elna yang menolongku. Jika Elna tidak mampu, aku yang menolongnya. Begitulah cara kami melangkah sejauh ini. Dan itu tidak akan berubah.” 

“Jika Elna gagal, kamu yang akan kehilangan nyawamu. Kamu sadar akan hal itu?” 

“Tidak masalah. Sejak lama aku sudah mempercayakan nyawaku pada Elna.” 

“Kamu ini sungguh... sejak dulu pandai menyemangati orang.” 

“Tidak juga. Nah, Pahlawan. Sudah siap? Sahabat masa kecilku tidak selemah yang Anda kira.” 

Pada saat itu juga, Elna melesat mendekati Pahlawan.

Sebagai pengawal, ini adalah sebuah pertaruhan.

Perbedaan kecepatan mereka tidak terlalu besar. 

Jika Pahlawan mengalihkan perhatiannya padaku, Elna harus mundur untuk melindungiku.

Namun, Elna tampaknya percaya diri. 

Perbedaan antara dirinya dan Pahlawan ada pada taktik, ketenangan, dan ketajaman membaca situasi. Semuanya tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat.

Namun, bukan berarti kemampuan bertarung murninya berada di bawah. 

Karena itulah dia memilih adu frontal. 

Sebelum Pahlawan sempat bergerak, Elna menghantamnya dengan satu serangan berat.

Tidak punya pilihan selain menahannya, Pahlawan pun berhenti dan terlibat adu pedang jarak dekat dengan Elna. 

“Benar-benar... gadis yang penuh semangat!” 

“Karena aku putri Ayah!”

“Apa yang ingin kulihat adalah pertumbuhanmu, bukan kerja sama kalian berdua!” 

“Kerja sama juga bagian dari kemampuan!” 

Sambil berkata demikian, Elna menekan Pahlawan.

Namun, meski terus bertahan, Pahlawan juga tidak kalah.

Retakan muncul pada pedang kayu Elna.

Saat menahan serangan, titik yang sama terus-menerus diserang. 

Meski begitu, Elna tidak peduli dan melancarkan satu serangan pamungkas dengan segenap tenaganya.

Dan akhirnya, kedua pedang kayu itu tidak mampu bertahan dan patah bersamaan. 

“Seri, ya...”

“Tidak... tanpa melihat pertumbuhanmu sendiri, aku tidak bisa kembali ke ibu kota.” 

Sambil berkata demikian, Pahlawan mengangkat tangannya ke langit.

Memahami maksud itu, Elna pun mengangkat tangannya ke udara. 

Dia berniat memanggil Pedang Suci.

Rasanya ini sudah keterlaluan... tapi apa dia sudah mendapat izin Ayahanda?

Ini tidak akan jadi tanggung jawabku, ‘kan? 

Tidak mungkin aku menghentikan dua pahlawan yang sudah penuh semangat itu, jadi aku menyerah dan membiarkan semuanya mengalir apa adanya. 

Pedang Suci hanya ada satu di dunia.

Dia akan turun ke tangan orang yang paling dipenuhi bakat seorang pahlawan. 

“Dengarkanlah seruanku, dan turunlah! Wahai pedang bintang yang bersinar gemilang!”

“Sang Pahlawan kini membutuhkanmu!!” 

Cahaya turun dari langit.

Ia memancarkan sinar menyilaukan, lalu perlahan berubah menjadi sebilah pedang perak. 

Dan orang yang menggenggamnya adalah Elna. 

“...Pedang Suci memilih Elna.” 

“Pahlawan, dengan ini Anda sudah merasakan pertumbuhan Elna?” 

“Yah, aku akui dia memang sudah berkembang sampai batas tertentu. Tapi ingatlah satu hal. Saat usiaku 15 tahun, aku sudah merebut Pedang Suci dari orang tuaku.” 

Dasar keras kepala.

Benar-benar ayahnya Elna. 

Sambil tersenyum tipis, Pahlawan membelakangi kami. 

“Kalau begitu, aku akan kembali ke ibu kota. Al, tolong jaga Elna.” 

“Siap. Pahlawan, tolong jaga Ayahanda juga.” 

“Dimengerti.” 

Dengan itu, Pahlawan pun meninggalkan tempat tersebut.


Bagian 7

“Pahlawan sudah pulang?” 

“Iya, katanya urusannya sudah selesai.” 

“Seperti biasa, orang itu memang bebas sekali.” 

“Sepertinya masih kalah bebas dibanding Kakak...”

Di kamarku yang seharusnya dipakai untuk bekerja, orang yang dengan santainya duduk minum teh jelas terlalu bebas.

Aku ingin bilang kalau dia mengganggu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau aku bilang, jadi aku tidak berani. 

“Nona Lizelotte, kuenya sudah jadi!” 

“Mmm, mari kita nikmati.” 

Tanpa sungkan, dia menyuruh Fine membuat kue, lalu memakan lebih dari setengah kue yang dibawa.

Bagian yang sampai ke hadapanku hanya sekadar formalitas. 

“Kakak... tidak ada hal lain yang harus Kakak kerjakan?” 

“Tidak ada.” 

“...”

Jarang sekali ada orang yang bisa menyatakan dirinya sedang tidak ada kerjaan dengan begitu terang-terangan.

Yah, dia memang jenderal yang memimpin komando invasi, jadi yang penting baru dimulai saat perang pecah.

Sampai saat itu, wajar saja kalau dia senggang. 

“Kakak tidak perlu melatih para kesatria? Bukannya mereka berbeda dengan bawahan Kakak sendiri?” 

“Tenang saja. Ada orang yang mengenalku lebih baik daripada diriku sendiri yang melatih mereka dengan ketat.” 

“Oh, begitu...” 

Jadi Jurgen yang menangani pelatihan.

Bagaimana Kak Lize akan bergerak, bagi orang itu pasti sudah jelas seperti di telapak tangan.

Dan dia juga akan menyampaikannya kepada para kesatria dengan baik.

Orang yang tepat di tempat yang tepat. Pasti jauh lebih baik daripada jika Kakak yang turun langsung.

Kalau Kakak yang melatih, mungkin sebelum perang saja sudah ada beberapa orang yang tidak bisa dipakai lagi. 

“Al. Tanganmu berhenti. Bekerjalah.” 

“...iya.” 

Entah kenapa.

Rasanya tidak adil.

Namun aku tidak bisa membantah.

Tidak ada pilihan lain selain menggerakkan tangan dan mataku.

Dokumen yang harus dicek jumlahnya banyak. 

Dan di tengah semua itu, masih ada tambahan dokumen yang masuk ke kamarku. 

“Al, ini dokumen untuk pemukiman para dwarf. Aku juga sudah menuliskan kandidat bangsawan yang tampaknya bisa menerima mereka.” 

“Aduh...” 

“Perlu bantuan?” 

Melihat wajahku, Sharl yang membawa dokumen itu tersenyum kecut.

Aku mengangguk menerima tawarannya. 

“Kurasa tidak ada pilihan lain.” 

“Tolong cek ini bersama Fine.” 

“Baik. Fine, kamu kerjakan bagian ini, aku yang ini.” 

“Iya!” 

Sambil berkata begitu, Sharl dan Fine mulai bekerja di meja di sudut ruangan.

Sementara itu, Elna yang berdiri di sampingku tidak berkata apa-apa. 

“Aneh sekali, Elna.” 

“Maksud Anda apa, Nona Lizelotte?” 

“Sepertinya kamu benar-benar fokus sebagai pengawal?” 

“Karena memang tugas saya sebagai pengawal.” 

Aku tidak akan ikut campur dalam hal yang tidak perlu. 

Melihat Elna berkata demikian, untuk kali ini Kakak membelalakkan mata.

Sepertinya setelah mendapat berbagai nasihat dari Pahlawan, Elna juga telah mengubah cara berpikirnya. 

“Andai sejak awal begitu, semuanya akan lebih mudah, bukan?” 

“Benar. Kamu juga sebaiknya fokus pada pekerjaanmu sendiri.” 

Terhadap celetukan Sharl itu, Elna membalas tanpa sedikit pun melirik ke arahnya.

Respons yang tenang dan penuh percaya diri.

Dengan begitu, justru Sharl yang terlihat melontarkan komentar tidak perlu.

Mungkin menyadarinya, Sharl pun berwajah masam dan kembali fokus pada pekerjaannya.

Melihat itu, Elna memasang ekspresi puas.

Meski luarnya rapi, Elna tetaplah Elna. 

“Elna. Kudengar kamu mendapat banyak bimbingan dari Pahlawan?” 

“Iya. Banyak hal yang beliau ajarkan kepada saya.” 

“Sepertinya itu bimbingan yang cukup padat.” 

Sambil berkata demikian, Kakak mengangguk-angguk beberapa kali.

Lalu...

“Ngomong-ngomong, Al.” 

“Ada apa?” 

“Sepertinya Leo berniat menjadikan Santa sebagai istrinya. Bagaimana denganmu?” 

“...Hah?” 

Udara seketika menegang.

Masalah calon istriku saja sudah merepotkan, tapi membahas ini berarti juga harus menyentuh masalah suami Kakak.

Apa yang harus kulakukan?

Haruskah kutanggapi?

Atau sebaiknya kuanggap angin lalu? 

Kata-kata berputar-putar di kepalaku. 

Saat itulah Fine dengan tanggap membantu dengan bertanya pada Kakak. 

“U-Umm, Nona Lizelotte sendiri bagaimana rencananya?” 

“Aku tidak sedang membicarakan diriku, ‘kan?” 

“Yah, maksud saya, kalau adik yang lebih dulu menikah...”

“Tenang saja. Suatu saat nanti aku akan menikah dengan Jurgen.” 

“...”

Sesaat, kesadaranku hampir lenyap.

Tubuhku nyaris melorot dari kursi, dan Elna yang berada di samping segera menopangku. 

Tunggu. Apa yang baru saja dia bilang? 

Menikah? 

Orang yang selama ini, meski terus didesak Ayahanda, bersikap seolah tidak tertarik sama sekali?

Dan lagi, dengan Jurgen!? 

Apa-apaan ini!? 

“...Aku tidak salah dengar, ‘kan...?”

“Nanti juga. Yah, selama Jurgen tidak menyerah, tentu saja.” 

“Soal itu sepertinya tidak perlu dikhawatirkan... tapi angin apa yang membuat Kakak berpikir seperti itu...?” 

“...Banyak orang yang kukenal sudah tiada. Aku pun tidak tahu sampai kapan bisa hidup. Jadi kupikir, tidak ada salahnya menerima orang aneh yang tidak pernah menyerah padaku.” 

“Jangan ngomong hal yang membawa sial begitu...”

“Ada apa? Seharusnya kamu lebih senang.” 

“Sulit rasanya ikut senang kalau alasannya seperti itu... lagi pula ‘nanti’ itu kapan?” 

“Dalam beberapa tahun ke depan. Sampai saat itu, aku berniat tetap menjadi teman Jurgen. Anehnya, aku cukup senang dengan hubungan ini.” 

“Begitu ya... sebagai pihak yang ikut membantu, aku sungguh senang mendengarnya. Selamat.” 

Dengan berkata begitu, aku berusaha mengakhiri pembicaraan.

Itu adalah kalimat pamungkas terbaik yang bisa kupakai. 

Karena sekarang, alasan ‘setelah Kakak menikah’ sudah tidak bisa digunakan lagi. 

Namun. 

“Lalu, kamu sendiri bagaimana?” 

“...”

“Kamu dan Leo selalu bersama. Ayahanda pun mungkin berpikir, sekalian saja kalian berdua mengumumkan pertunangan. Reputasi Pangeran Kembar Hitam kian hari kian membesar.” 

“...Aku dan Leo memang mirip, tapi aku bukan Leo.” 

“Menetapkan pasangan akan membuat perebutan takhta lebih menguntungkan, tahu?” 

“Aku tidak berniat menikah dengan siapa pun. Setidaknya, untuk sekarang.” 

“Namun, terlepas dari keinginanmu, topik itu pasti akan muncul. Di Negara Bagian ada seorang putri. Jika kamu hendak memerintah, lebih baik menggabungkan darahnya. Tanpa ragu, para menteri dan bangsawan akan mengusulkan pernikahanmu. Oh, ini bukan pendapatku, melainkan pendapat Jurgen. Artinya, kemungkinan besar tepat.” 

“Aku berterima kasih atas kekhawatiran Kakak... tapi masih ada pangeran lain.” 

“Begitu? Kalau ada seseorang yang kamu sukai, sampaikan saja pada Ayahanda. Kalau begitu, Ayahanda tidak akan memaksamu.” 

“Tidak perlu.” 

Mendengar jawabanku, Kakak tersenyum kecut, lalu meneguk habis teh di cangkirnya.

Dia pun bangkit dari sofa tempatnya duduk. 

“Baiklah. Kalau kamu benar-benar dipaksa, kaburlah ke perbatasan timur. Akan kubantu menyembunyikanmu.” 

“Akan kulakukan. Setelah perebutan takhta berakhir, aku ingin menjalani hidup yang tidak ada hubungannya dengan kekuasaan.” 

“Entahlah, apa itu akan diizinkan?” 

Sambil tertawa, Kakak pun meninggalkan ruangan.

Benar-benar seperti badai. 

Datang, mengatakan semua yang ingin dikatakan, lalu pergi begitu saja. 

“Orang yang merepotkan...” 

Demi para bangsawan utara, aku mempertaruhkan kebebasanku sendiri.

Jika Ayahanda benar-benar berniat menikahkanku dengan putri Negara Bagian, aku tidak akan punya pilihan selain menerimanya. 

Aku berbeda dengan Kakak.

Aku punya keinginan agar Leo menjadi kaisar.

Demi keinginan itu, aku pun tidak keberatan mempersembahkan segalanya. 

Meski, sejujurnya, aku berharap tidak perlu sejauh itu. 

Dengan pikiran-pikiran itu berputar di kepalaku, aku melanjutkan pekerjaanku di ruangan yang kembali sunyi.


Bagian 8

Ibu kota Negara Bagian, Kohr.

Di pusatnya berdiri istana kerajaan Negara Bagian. 

Dari balkonnya, seorang gadis menampakkan wajahnya.

Usianya berada di awal hingga pertengahan belasan tahun.

Rambut cokelat kastanye yang lembut sebahu menjadi ciri khasnya, dan gaun yang dikenakannya pun jelas merupakan pakaian bermutu tinggi. 

Namanya Marianne von Cornix.

Putri tunggal sang raja yang memerintah Negara Bagian Cornix, dengan kata lain, dia adalah putri Negara Bagian itu. 

Selama bertahun-tahun, dia tinggal di Persatuan Kerajaan sebagai sandera, sehingga keberadaannya jarang diketahui publik.

Namun, ketika Negara Bagian itu memutuskan untuk menyerang Kekaisaran, dia diizinkan pulang ke tanah airnya. 

Sang raja tentu saja bersukacita atas kembalinya putri satu-satunya, tetapi tidak lama kemudian Marianne justru dijauhkan darinya.

Tumbuh besar di Persatuan Kerajaan, Marianne tidak menganggap sistem Negara Bagian yang timpang itu sebagai sesuatu yang benar. Setiap ada kesempatan, dia menyuarakan penderitaan rakyat, bahkan mulai mengajukan kebijakan konkret. 

Pada akhirnya, sang raja memilih menjauhkan putrinya yang telah “diwarnai” oleh pemikiran Persatuan Kerajaan. Dia tidak suka dinasihati.

Meski begitu, Marianne berkali-kali tetap menyampaikan pendapatnya. Ketika tidak diberi kesempatan bertemu, dia menuliskannya dalam surat. 

Semua itu dia lakukan karena ingin menjadikan negaranya tempat yang lebih baik.

Namun, kata-katanya tidak pernah digubris. 

Karena itulah Marianne mencari bantuan para bangsawan yang masih bisa dipercaya.

Kaum berakal sehat yang tersisa sedikit di Negara Bagian itu.

Melalui mereka, dia menambah jumlah sekutu. Bagi sang raja, kelompok itu hanyalah kekuatan yang bisa diabaikan. 

Semua dianggap sekadar permainan putri. Dan memang, pengaruh mereka tidaklah besar.

Namun, dengan menelusuri benang tipis yang rapuh itu, Marianne akhirnya tiba pada hari ini. 

“Apakah Anda... Kesatria Bulan Merah Vermilion...?” 

“...Benar.” 

Di hadapan Marianne yang berdiri di balkon, muncullah Mia dengan wajah tertutup topeng.

Melalui para bangsawan berakal sehat, Marianne telah menyampaikan pesan bahwa dia ingin bertemu dengan Vermilion. 

Dalam keadaan normal, undangan seperti itu tidak akan dipenuhi.

Seorang bandit dermawan yang memusuhi Negara Bagian, mustahil dia memenuhi panggilan sang putri. 

Namun, Vermilion datang.

Karena dia berpihak pada rakyat. 

“Salam kenal. Aku Marianne von Cornix... sayangnya, putri Negara Bagian ini.” 

“...Aku tahu tentangmu. Juga tentang apa yang kamu lakukan demi rakyat.” 

Agar jati dirinya tidak terbongkar, Mia sebisa mungkin menahan diri untuk tidak berbicara lebih dari yang perlu.

Sambil menahan stres karena harus sangat berhati-hati dengan pilihan kata, Mia melanjutkan pembicaraan. 

“Apa keperluanmu? Singkat saja.” 

“...Satu minggu lagi. Aku akan membelot dan meminta perlindungan pada Kekaisaran Adrasia.”


“...Kamu memintaku menjadi penunjuk jalan?” 

“Itu akan ditangani oleh pihak Kekaisaran. Setelah itu, Kekaisaran akan mengangkat dalih besar berupa permintaan dariku dan melancarkan invasi. Itu tidak terelakkan. Sistem negara ini tidakbisa diubah dari dalam... namun membiarkan rakyat menjadi korban jelas salah.” 

“Aku setuju.” 

“Terima kasih. Karena itu, aku ingin memanfaatkan kesempatan pembelotanku untuk menyelamatkan sebanyak mungkin rakyat ke Kekaisaran. Dengan kekuatanmu, aku ingin kamu mengumpulkan rakyat yang ingin meninggalkan Negara Bagian ini dan mengarahkan mereka ke wilayah perbatasan Kekaisaran, di bawah perlindungan Marquis Percival.” 

“...Kalau hanya dirimu mungkin bisa, tapi mengizinkan sejumlah besar rakyat masuk ke Kekaisaran? Kurasa itu tidak akan disetujui.” 

“Wilayah utara dikuasai oleh Pangeran Arnold, kakak dari Pangeran Leonard. Baru-baru ini, beliau menggunakan Pedang Suci untuk menanggulangi banjir besar di utara. Sepertinya beliau bukan pangeran yang peduli pada reputasi diri. Memang sosok yang aneh, tetapi menurut penilaianku, beliau benar-benar memikirkan rakyat. Jika itu beliau, kurasa permintaan ini akan diterima.” 

“...”

Justru karena mengenal orang yang dimaksud, Mia terdiam memikirkan apakah dia benar-benar akan memikul masalah sebesar itu.

Saat pemberontakan di ibu kota, Al bergerak tanpa lelah, karena itu menyangkut dirinya sendiri dan adiknya.

Namun kali ini berbeda. 

Tidak ada keharusan untuk menerima mereka. Yang dibutuhkan Kekaisaran hanyalah sang putri, dan bahkan keberadaan sang putri pun sekadar “lebih baik ada”.

Sebagai syarat pembelotannya, sang putri akan menuntut agar rakyat diterima, namun berapa banyak jumlah rakyat itu?

Mia sama sekali tidak bisa membayangkannya. 

Karena di Cornix ini, begitu banyak rakyat yang ingin melarikan diri.

Semakin besar skalanya, semakin sulit pula pembelotan itu dilakukan. 

“...Aku percaya Kekaisaran tidak akan mencelakai rakyat Cornix. Karena itu, sebaiknya pembelotan dilakukan sendirian.” 

“Kekaisaran mungkin tidak akan mencelakai rakyat. Namun bangsawan Negara Bagian berbeda. Mereka menganggap wajar menginjak orang lain demi kepentingan sendiri. Jika perang pecah, mereka bahkan bisa memerintahkan pasukan untuk menjarah.” 

“...”

Negaranya sendiri lebih tidak bisa dipercaya.

Pendapat yang mengerikan, namun memiliki daya persuasi tertentu.

Di balik topengnya, Mia mengernyit. 

Jika menyangkut pembelotan seorang putri, Negara Bagian pasti akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk menghentikannya.

Artinya, mereka harus melarikan diri sambil berhadapan dengan militer. 

“...Kekuatan tempur kita tidak cukup.” 

“Pasukan Marquis Percival tidak mencukupi?” 

“Untuk mengawal rakyat, itu cukup. Namun jika militer bergerak mengejar, kami tidak akan bertahan. Perlu adanya pengalihan.” 

Jika saja dia bisa berkata, “Aku yang akan menanganinya,” tentu akan mudah.

Namun bila penerimaan rakyat menemui jalan buntu, Mia yang mengenal Al akan menjadi sosok yang sangat penting. 

Satu orang lagi.

Jika ada sekutu yang bisa melakukan operasi pengalihan.

“Biar aku yang ambil tugas itu.” 

Dari belakangnya.

Mia mengernyit ketika seorang pria tiba-tiba muncul.

Dia sama sekali tidak menyadari kapan pria itu mendekat. 

“Siapa Anda...?”

“Vater. Mengganggu Negara Bagian adalah keahlianku.” 

“Bandit dermawan yang lain...”

“Apa tujuanmu datang kemari...?”

“Aku datang menawarkan kerja sama. Dan satu lagi, putri sedang diawasi.” 

“Eh!?” 

Marianne terkejut dan menoleh ke sekeliling.

Mia juga mengamati sekitar, namun tidak merasakan sesuatu. 

“Tenang saja. Aku sudah memasang ilusi. Tapi sepertinya sang raja mulai curiga. Kalau mau bergerak, lakukan secepatnya.” 

“...Kamu ingin kami mempercayaimu?” 

“Kurasa tidak ada pilihan lain selain itu, bukan?” 

“...Apa alasanmu bersedia menjadi umpan? Kamu bisa mati...”

“...Aku punya seorang anak di Negara Bagian ini. Sebagai ayah, aku ingin melakukan apa pun yang bisa kulakukan demi anakku.” 

Mendengar suara yang tulus itu, Mia menyadari bahwa kata-kata tersebut tidaklah bohong.

Tampaknya Marianne pun merasakan hal yang sama. 

“...Syarat keberhasilan minimal adalah militer tidak keluar dari ibu kota.” 

“Tidak masalah. Namun pengejar dari luar ibu kota mungkin akan datang.” 

“Itu akan kami tangani.” 

“...Baik. Kalau begitu, kita bubar. Putri, jika akan bergerak, lebih baik segera.” 

“Namun untuk memberi tahu rakyat, kami butuh waktu...” 

“Jika Kekaisaran menerima sebagian rakyat, mereka akan terus menerima selanjutnya. Kekaisaran tidak bodoh.” 

Tugas sang putri adalah memastikan dirinya dan rakyat diterima.

Jika itu tercapai, sisanya akan menyusul dengan sendirinya. 

Vater menasihati demikian, memprioritaskan tindakan cepat.

Para pengawas adalah orang-orang berpengalaman, dan pengawasan dilakukan dari luar istana.

Itu bukti bahwa kewaspadaan telah meningkat secara serius. 

“Kalau begitu... kita bergerak tiga hari lagi.” 

“Baik. Kami juga akan bergerak dari pihak kami. Kita bertemu di wilayah Marquis Percival.” 

“Ya... Vater... Anda juga hati-hati.” 

“Kalau lawan yang pantas muncul, setidaknya aku tidak akan bosan.”

Setelah berkata demikian, Vater menghilang.

Mendengar cara bicaranya yang terkesan angkuh, Mia bergumam pelan. 

“Memangnya dia siapa sih...?”

“Ada yang Anda katakan?” 

“Tidak... kalau begitu, kita lanjut sesuai rencana.” 

Dengan itu, Mia pun berpisah dengan Marianne.


Bagian 9

“Yang Mulia, ada hal yang perlu saya sampaikan.” 

Saat aku sedang berbincang dengan Kak Lize mengenai urusan logistik, tiba-tiba seorang pria muncul di dalam ruangan. 

Dia mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya pun tertutup kain hitam.

Tidak ada satu pun benda yang menunjukkan identitas atau kedudukannya. 

Meski begitu, kami sama sekali tidak mencurigainya. 

“Bayangan Kanselir, ya.” 

Kak Lize bergumam demikian, lalu menghadap pria itu. 

Bayangan Kanselir.

Itu adalah nama sandi bagi para agen intelijen yang digunakan Kanselir secara rahasia. 

Sebelas tahun yang lalu.

Kekaisaran memiliki organisasi intelijen yang beroperasi secara terbuka. Organisasi itu berada langsung di bawah kendali Kanselir. Namun, dalam perjanjian gencatan senjata dengan Kerajaan Perlan, pembubaran organisasi tersebut dijadikan salah satu syarat. 

Alasannya karena Kanselir telah menunjukkan kemampuannya yang luar biasa dengan memanfaatkan jaringan intelijen itu.

Kerajaan berkali-kali dibuat menelan pil pahit olehnya, sehingga mereka menuntut agar organisasi tersebut dibubarkan. 

Kanselir pun menyetujuinya tanpa banyak protes, dan organisasi itu resmi dibubarkan. 

Namun, bukan berarti semuanya benar-benar lenyap. 

Masih ada orang-orang yang bergerak sebagai tangan dan kaki Kanselir.

Merekalah yang disebut Bayangan Kanselir. 

Jumlah mereka sedikit, dan pada dasarnya mereka hanya berfokus pada pengumpulan informasi, sehingga jarang muncul ke permukaan.

Bahkan, kedatangan mereka sebagai penghubung seperti ini pun tergolong langka. 

“Ada apa?” 

“Upaya pembujukan terhadap bangsawan-bangsawan di Negara Bagian berjalan lancar. Dalam waktu satu minggu, kami telah mengatur agar sang putri melakukan pembelotan dan mengajukan perlindungan ke pihak kita. Setelah itu, mereka berharap kita segera melancarkan serangan.” 

“Apa kita boleh bergerak berdasarkan penilaian sendiri?” 

“Keputusan di lapangan diserahkan kepada Pangeran Arnold, selaku perwakilan langsung dari Paduka Kaisar.” 

“Begitu ya. Jadi artinya, aku akan berada di bawah komando Al?” 

“Secara formal, demikian.” 

“Nah, begitu katanya.” 

Kak Lize melemparkan pertanyaan itu padaku dengan wajah penuh minat. 

Sambil mengangkat bahu, aku menjawab, “Kalau itu perintah, akan kuterima. Tapi tolong jangan bertindak sewenang-wenang, ya?” 

“Akan kupikirkan itu.” 

Ucapan yang benar-benar khas Kakak.

Dari sudut pandang orang yang akan menanggung akibatnya, aku lebih ingin dia berkata tegas bahwa dia tidak akan melakukannya. 

Yah, permintaan yang mustahil, kurasa. 

“Apakah pembelotan sang putri bisa dipastikan?” 

“Kami sedang menyiapkan segala sesuatunya. Mohon siapkan untuk menerimanya.” 

“Baik. Bagaimana kalau terjadi hal yang tidak terduga?” 

“Semuanya akan diserahkan pada keputusan Yang Mulia Arnold.” 

“Ya ampun... semua urusan merepotkan jatuh ke tanganku, ya.” 

Misalnya, jika sang putri tewas.

Atau jika Negara Bagian menyadarinya dan justru menyerang lebih dulu. 

Ada begitu banyak kemungkinan yang bisa terjadi. 

Dan artinya, untuk menghadapi semua itu, aku tidak perlu meminta konfirmasi ke ibu kota.

Wewenang yang diberikan kepadaku sangat besar. 

Namun, tanggung jawabnya juga sama beratnya. 

Lakukan sesukamu. Tapi kalau gagal, itu salahmu.

Kurang lebih begitulah pesan yang disampaikan padaku. 

Kalau aku tidak percaya diri, seharusnya aku menolak. Tapi... 

“Kalau aku harus bolak-balik minta konfirmasi ke ibu kota, Kakak pasti sudah bergerak sendiri lebih dulu...” 

“Kurang ajar. Aku selalu patuh pada instruksi, tahu?” 

“Kalau instruksinya keliru?” 

“Instruksi yang keliru bukanlah instruksi.” 

“Kalau datangnya terlambat?” 

“Instruksi yang terlambat juga bukan instruksi.” 

“Haa...”

Menganggap hanya instruksi yang sempurna sebagai instruksi sungguh keterlaluan.

Mungkin inilah salah satu alasan mengapa wewenang penuh tidak pernah diserahkan pada Kakak. 

Meski begitu, kemampuannya nyata, dan lawannya hanyalah Negara Bagian.

Kurasa tidak akan sampai menjadi masalah besar. 

“Baik. Aku akan bertindak berdasarkan penilaianku sendiri, dan menanggung seluruh tanggung jawabnya.” 

“Kalau begitu, saya permisi.” 

Setelah berkata demikian, Bayangan Kanselir pun menghilang. 

Artinya, kalau terjadi apa pun, semuanya akan menjadi tanggung jawabku. 

Rasanya bebas, tapi sekaligus merepotkan. 

“Sampai mengerahkan Bayangan Kanselir segala... berarti mereka memang berniat mengakhiri ini dengan perang kilat.” 

“Garis depan melawan Kerajaan Perlan masih buntu. Sekalipun Leo menggantikan Traugott, kebuntuan itu tidak akan berubah.” 

“Kalau Kakak, apa yang akan Kakak lakukan?” 

“Pihak Kerajaan sudah menyerang dengan persiapan yang sangat matang. Akan sulit melakukan serangan balasan dari perbatasan mereka. Karena itu, kita pakai jalur lain.” 

“Melalui Negara Bagian?” 

“Benar.” 

Jadi alasan mempercepat invasi ke Negara Bagian adalah untuk tidak memberi celah pada pertahanan Kerajaan. 

Kalau begitu. 

“Apakah Ayahanda benar-benar berniat menghancurkan Kerajaan sampai tuntas?” 

“Mungkin begitu. Kerajaan berani menyerang dengan memanfaatkan perebutan takhta. Kalau ini dibiarkan, negara lain pasti akan mengikuti. Ada makna pencegahan di sana... dan lagi, kita punya Santa.” 

“Kerajaan akan kehilangan setengah kekuatannya, dan cukup banyak pihak yang akan berbalik memihak kita. Sementara itu, Kerajaan dimasukkan ke bawah kendali Kekaisaran?” 

“Tidak seperti Negara Bagian yang akan dijadikan negara bawahan, tapi setidaknya kita bisa mengangkat raja yang menguntungkan pihak kita. Lagipula, merekalah yang lebih dulu menyerang. Apa pun yang kita lakukan, legitimasi ada di pihak kita.” 

“Tapi... Mereka beraliansi dengan Egret. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda gencatan senjata. Kalau Persatuan Kerajaan tidak ditangani, serangan dari arah Cornix pun akan sulit berjalan lancar, bukan?” 

“Aku juga merasakannya. Tapi sepertinya Ayahanda tidak menganggap Egret sebagai masalah.” 

“Bukan masalah? Apa maksudnya?” 

“Sepertinya Ayahanda sangat menilai tinggi Pangeran Naga.” 

Makna dari kata-kata itu langsung kupahami. 

William kembali ke Persatuan Kerajaan sebagai jenderal yang kalah perang.

Kami menduga Persatuan Kerajaan akan menyerahkan kepala William sebagai tebusan, lalu mengajukan gencatan senjata dengan Kekaisaran.

Namun, sampai sekarang masih belum ada pergerakan apa pun. 

Artinya, Persatuan Kerajaan masih terpecah soal apakah semua kesalahan akan dilimpahkan sepenuhnya kepada William atau tidak. 

Persatuan Kerajaan mengincar wilayah di benua ini.

Jika Negara Bagian direbut, maka sekalipun gencatan senjata tercapai, mereka tidak akan tinggal diam melihat pergerakan Kekaisaran. 

Pilihan terbaik tentu saja adalah menjadikan mereka sekutu.

Namun, sulit membayangkan raja Persatuan Kerajaan yang dipenuhi ambisi akan berpihak pada kita. 

Paling banter mereka akan bersikap netral. Itu pun netral yang berbahaya, karena kita tidak pernah tahu apa yang mereka lakukan di balik layar. 

Dalam situasi seperti ini, menaruh harapan pada William berarti...

“Aku tidak yakin William akan melakukan kudeta.” 

“Entahlah. Kalau sudah terpojok, manusia bisa melakukan apa saja, tahu?” 

“Dia adalah pria yang tidak pernah berkhianat, seberapa pun dia ditekan. Bahkan ketika dikhianati ayahnya sendiri, aku tidak percaya dia akan membalas dengan pengkhianatan. Kalaupun ada kemungkinan seperti itu... mungkin Kak Gordon yang akan menasihatinya.” 

“Jadi menurutmu tidak mungkin.” 

“Setidaknya menurut pendapatku.” 

Kalau ternyata ada sesuatu yang tidak kuketahui, dan hal itulah yang mampu menggerakkan William, aku justru akan menyambutnya dengan senang hati. 

Mungkin Ayahanda memang mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui itu.

Yah, itu bukan hal yang perlu kupikirkan sekarang. 

“Untuk sementara, mari kita mulai mempersiapkan para kesatria.” 

“Benar. Para kesatria juga perlu mempersiapkan mental mereka.” 

Dengan berkata demikian, Kakak pun meninggalkan ruangan.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close