Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Experiment 2
"Hal seperti ini... membuatmu senang tidak?"
“......Saya Fuyutsuki Satoru. Mohon bantuannya mulai hari ini.”
Satoru berdiri di depan papan tulis, memperkenalkan diri dengan singkat, lalu membungkuk.
Itu adalah salam perkenalan murid pindahan pada umumnya. Meskipun Akademi Reimei adalah sekolah khusus, hal semacam ini tidak jauh berbeda dengan sekolah biasa. Meski begitu, tidak banyak siswa yang bereaksi. Hanya Kusuri dan beberapa siswa lain yang bertepuk tangan. Sisanya entah sedang tidur atau tampak tidak tertarik. Lagipula, lebih dari separuh kursi kosong, membuat suasana kelas SMA ini terasa sedikit sepi. Namun, banyaknya kursi kosong memang bisa dimaklumi sampai batas tertentu.
Akademi Reimei, yang mengumpulkan anak-anak jenius dari seluruh negeri, memiliki jumlah siswa yang sangat sedikit karena sifat sekolahnya, dan tidak ada kewajiban untuk menghadiri kelas.
Sistemnya sama seperti universitas; selama mereka mengambil SKS dan menunjukkan hasil penelitian, itu sudah cukup. Bahkan, Kusuri yang datang ke sekolah dan mengikuti pelajaran setiap hari justru termasuk kategori yang langka.
......Ia menyadari bahwa hal itu juga karena Kusuri ingin berada di sisinya selama mungkin, yang membuat dadanya kembali terasa sesak.
“Kalau begitu...... eh, Fuyutsuki-sensei...... ah, maksudku Fuyutsuki-kun. Silakan duduk di sebelah Yakushiji-san.”
Guru perempuan junior yang mengetahui situasi Satoru menunjuk kursi tersebut dengan perasaan sedikit canggung. Satoru sedikit mengangguk, lalu berjalan menuju tempat duduknya.
Ia duduk di baris paling belakang, tepat di samping Kusuri. Dari sudut pandang Satoru, Kusuri berada di sebelah kanannya.
“Fufu, kalau duduk bersebelahan, kita bisa saling meminjam buku kalau ada yang lupa membawa, ya♪”
“Jangan sampai sengaja lupa hanya karena alasan itu, ya.”
Mereka saling berbisik pelan. Kusuri, yang terus tersenyum, tampak sangat ceria sepanjang waktu.
Sambil tersenyum getir melihat tingkahnya, Satoru mengalihkan pandangan ke sisi seberang, yakni ke sebelah kirinya.
──Rambut lembut seperti bulu kucing tampak terurai di atas meja.
Seorang gadis bertubuh mungil sedang tertelungkup di meja, mengeluarkan suara napas yang teratur. Wajah tidurnya yang menghadap ke arah Satoru terlihat sangat polos dan tampak sangat nyenyak.
Sebagai seorang guru, ia ingin menegurnya karena tidur saat jam wali kelas, namun di sekolah ini, tidur di kelas pada dasarnya dibiarkan.
Harapan pihak sekolah kepada mereka adalah untuk mengembangkan bakat yang menonjol. Meskipun mereka mengadakan pelajaran seperti sekolah biasa, banyak siswa yang kelelahan karena penelitian masing-masing, sehingga membiarkan mereka yang tertidur adalah pemahaman yang tersirat.
(Meskipun begitu, karena statusnya kita baru pertama kali bertemu, setidaknya aku harus menyapanya......)
Saat Satoru menggoyangkan bahunya sedikit, gadis itu sempat menutup matanya rapat-rapat karena merasa terganggu tidurnya, lalu perlahan membuka kelopak matanya.
“......Nn~......”
Gadis bertubuh mungil dengan rambut lembut seperti bulu kucing itu—Kujou Kokoro—sedikit mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Satoru.
“............Eh? Siapa......?”
Gadis itu menatap ke arahku dengan mata yang masih mengantuk. Suaranya terdengar malas dan matanya sayu. Karena dia tampak akan tertelungkup kembali ke meja, Satoru buru-buru menyapanya.
"Fuyutsuki Satoru. Aku murid pindahan baru mulai hari ini. Karena kita duduk bersebelahan, mohon bantuannya."
"Nn...... salam kenal~...... Eh? Fuyutsuki Satoru......? Namanya sama dengan Fuyutsuki-sensei......?"
"A-ah, iya benar. Aku kerabat jauh dari Fuyutsuki-sensei."
"Hu~m......"
Entah karena merasa sedikit tertarik, Kokoro menegakkan tubuhnya. Dia menguap lebar, "Fuwaa......", lalu menatap mata Satoru dengan pandangan yang masih mengantuk. Mata itu mengerjap beberapa kali.
"............Hee."
Satoru refleks memalingkan muka. Ekspresi Kokoro saat ini, entah bagaimana, mirip dengan seorang anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru.
(Ja-jangan-jangan, penyamaranku tidak terbongkar, kan?)
Mahasiswi jurusan psikologi, Kujou Kokoro. Seorang jenius dengan kemampuan luar biasa yang saat masih SD berhasil mengambil alih organisasi keagamaan yang didirikan ayahnya. Nantinya, Satoru pun akan dibuat kewalahan oleh gadis ini, tapi itu cerita untuk nanti.
Yah, meskipun sekolah ini punya banyak murid dengan sifat yang aneh-aneh, tentu saja ada juga siswa yang bereaksi layaknya anak SMA pada umumnya.
"Fuyutsuki, namamu sama persis dengan Fuyutsuki-sensei ya?"
"Wajahnya juga agak mirip, kurasa......"
"Apa kalian kerabat? Ngomong-ngomong, Fuyutsuki-sensei sedang pergi dinas ke luar negeri, kan?"
Setelah jam wali kelas berakhir, beberapa siswi berkumpul di sekeliling Satoru.
"A~...... iya. Aku kerabat jauhnya. Karena ada urusan, aku akan menumpang di sini untuk sementara waktu."
"Ih~, Fuyutsuki-kun kaku banget deh. Kita kan teman sekelas, pakai bahasa santai saja tidak apa-apa kali~?"
"Ya, ya ampun......"
Omong-omong, alasan Satoru tetap menggunakan nama aslinya adalah karena keinginan egois Kusuri.
“Pakai nama samaran tidak boleh! Aku ingin memanggilmu Satoru-kun!” katanya, jadi Satoru terpaksa menggunakan nama aslinya.
Meskipun begitu, para siswa tidak curiga sama sekali dan langsung menerimanya begitu saja dengan komentar, "Wah, kebetulan banget ya namanya sama."
Tentu saja. Mana ada yang bisa membayangkan skenario 'Seorang guru menjadi muda kembali dan pindah ke kelas sebagai teman sekelas'? Bahkan Satoru sendiri masih sedikit curiga apakah ini mimpi atau bukan.
"Tapi suasana kalian memang mirip ya! Kayak Sensei pas lagi muda!"
"Iya, setuju! Matanya yang kelihatan galak itu mirip banget!"
"Nee, nee, Fuyutsuki-kun, kamu di bidang apa?"
"A-ah, eh, aku...... maksudku, aku......"
Aku jadi gugup sendiri.
Padahal dulunya aku senang mengobrol dengan siswa, tapi kali ini rasanya jelas berbeda. Aku benar-benar melihat para siswi di sekitarku sebagai lawan jenis seusiaku.
Meski tahu mereka hanya bertanya karena rasa penasaran, aku tetap merasa senang dan sedikit tegang.
(Aku benar-benar seperti remaja laki-laki yang sedang puber!)
Masalah terbesarnya adalah, hanya dengan mengobrol begini saja, tingkat ketertarikanku pada siswi-siswi yang mengajakku bicara ini naik dengan sangat cepat. Bahkan, aku mulai merasa sedikit menyukai mereka. Masa puber ini benar-benar terlalu sederhana, ya.
Saat itu juga, lenganku ditarik dengan kuat oleh seseorang dari samping tanpa sepatah kata pun. Kusuri yang menggembungkan pipinya menarik Satoru ke arahnya, melingkarkan lengan di lengannya seolah ingin menegaskan hak kepemilikannya.
"Aku yang akan memandu sekolah ini untuknya. Ayo pergi, Satoru-kun."
Siswi-siswi lain membelalakkan mata.
"Yakushiji-san, kamu kenal dengan Fuyutsuki-kun?"
"Iya. Satoru-kun adalah teman masa kecilku. Kami sudah sangat dekat, buktinya tadi pagi saja kami berangkat sekolah bersama, lho?"
Mengatakan hal itu seolah untuk membatasi ruang gerakku, Kusuri menarik lengan Satoru dengan kuat.
"Kusuri~, bagaimana dengan pelajaran setelah ini~?"
"Tolong sampaikan saja kalau aku absen. Sekarang, memandu Satoru-kun jauh lebih penting."
Begitulah, Satoru diseret keluar dari kelas oleh Kusuri.
"He-hei, Kusuri? Jangan ditarik-tarik terus."
Mendengar itu, Kusuri mendongak menatap Satoru dengan tatapan kesal dan mata yang menyipit.
"Jangan tebar pesona ke perempuan lain, tidak boleh."
"A-aku tidak menebar pesona, tahu!"
"Sama sekali tidak meyakinkan kalau ngomong sambil memalingkan muka begitu!"
Kusuri menarik Satoru sambil marah-marah. Namun, setelah berjalan beberapa saat, tiba-tiba dia terdiam seolah memikirkan sesuatu.
"......Sensei, Sensei benar-benar sudah muda kembali ya. Padahal dulu Sensei kaku sekali, sekarang malah sudah bisa tebar pesona ke gadis lain."
"Sudah kubilang aku tidak menebar pesona...... Kusuri?"
Kusuri merona, lalu diam-diam melingkarkan lengannya ke lengan Satoru.
"Ja-jadi...... apa Sensei merasa senang saat diginiin......?"
──Bentuk empuk yang lembut itu menempel di lenganku.
Kusuri memeluk lengan Satoru seolah ingin memeluknya, menekan dadanya ke lengan Satoru. Meskipun terhalang kain, aku bisa merasakan sentuhan yang kenyal, lembut, dan hangat. Detak jantungku langsung melonjak drastis.
"He-hei...... jangan memaksakan diri. Wajahmu merah sekali, tahu......?"
"A-aku tidak memaksakan diri, tahu......!"
Meskipun wajahnya merah padam, Kusuri membuang muka dan tetap berusaha keras mempertahankan gengsinya. Namun, suaranya sedikit bergetar, dan tubuhnya pun gemetar halus.
Tetap saja──dia melirik dari sudut matanya untuk melihat ekspresi Satoru. Lalu, melihat pipi Satoru yang memerah sama seperti dirinya, Kusuri melelehkan senyumnya dengan perasaan malu namun bahagia.
"Hehe......♪ Sekarang, Sensei benar-benar melihatku sebagai seorang gadis, ya......?"
"Ugh......"
Aku tidak bisa membalas sepatah kata pun.
Dulu, jika itu adalah diriku yang lama, aku pasti sudah menepis lengannya dan menceramahinya tentang menjaga jarak yang pantas antara pria dan wanita. Namun sekarang, aku hampir takluk oleh sensasi empuk payudara Kusuri yang sesekali menempel di balik seragamnya. Apalagi, Kusuri terlihat begitu bahagia, sampai-sampai aku merasa tidak sanggup untuk merusak senyum itu.
(Benar-benar gawat, ini bahaya......)
Sebagai seorang guru, aku harus selalu bersikap rasional.
Siswa masih anak-anak, jadi wajar jika mereka melakukan kesalahan. Tugas guru adalah meluruskan hal itu.
Tentu saja, menjalin hubungan romantis dengan murid adalah hal yang tabu; jika dia melakukan pendekatan dengan menempelkan dadanya seperti ini, aku harus segera menjauh. Tetapi, diriku yang sekarang justru hanyut terbawa emosi saat itu juga. Dan entah kenapa, aku tidak bisa menyalahkan diriku sendiri karena hal itu.
"Kalau begitu, aku akan memandumu berkeliling sekolah, ya."
Dengan senyum ceria, Kusuri menarik tangan Satoru dan mulai berjalan.
"Tidak, jujur saja aku lebih hafal tempat ini daripada kau......"
"Ya tidak apa-apa dong. Ini kan kencan sekolah singkat. Lagipula, kalau dari awal kau sudah terlalu hafal sekolah ini, orang-orang akan curiga, tahu!"
"Curiga?"
"Soalnya, Sensei sekarang adalah 'Fuyutsuki Satoru-kun yang baru pindah'. Kita perlu alibi kalau aku sedang memandumu, kan?"
"Yah, itu benar sih......"
"Nah, sekarang kita punya alasan kuat untuk kencan di sekolah. Ayo berangkat♪"
Satoru pun melangkah, membiarkan dirinya ditarik oleh Kusuri.
Ternyata dugaanku benar, tempat-tempat yang ditunjukkan Kusuri adalah tempat yang sudah sangat kukenal. Malah, aku yang lebih tahu detailnya; aku sempat memberitahunya apa yang ada di balik pintu ini, atau fakta bahwa sebenarnya di sini tersimpan tongkat penangkap untuk menghadapi penyusup.
Tangga, koridor, taman tengah, perpustakaan. Kami berdua berjalan menyusuri sekolah yang sudah kukenal akrab ini.
(......Apa ini, kenapa rasanya menyenangkan?)
Padahal hanya berkeliling sekolah, tapi aku merasa sangat bersemangat seolah sedang berada di taman bermain. Kusuri sesekali mendongak dan tersenyum padaku, atau merasa malu. Setiap tindak-tanduknya membuat hatiku tergelitik.
Di tengah jalan, beberapa kali kami berpapasan dengan murid atau staf lain. Setiap kali itu terjadi, Kusuri segera melepaskan tangannya dan berakting dengan wajah datar seolah berkata, "Aku sedang memandu murid pindahan." Namun, begitu mereka pergi, dia akan menempel lagi dan merangkul lenganku dengan manja.
Aku berpikir apa yang sebenarnya kami lakukan, tapi aku merasa berdebar dengan hubungan rahasia seperti ini. Melihat sosoknya yang menempel seperti hewan kecil setiap kali tidak ada orang yang melihat, membuatku berpikir dia sangat imut. Lebih dari itu...... berjalan-jalan dengan gadis yang akrab denganku.
Satoru baru teringat setelah belasan tahun lamanya bahwa ternyata hal sesederhana ini bisa terasa begitu menyenangkan.
──Terlepas dari itu. Sejak tadi, dada Kusuri terus bersentuhan denganku. Sesuatu yang sangat menggoda terus menekan area sikuku.
Saat dia masih SD, dia benar-benar rata, tapi sejak SMP mulai tumbuh, dan sekarang bentuk tubuhnya benar-benar wanita dewasa.
Dan lekuk tubuh wanita itu adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi remaja laki-laki yang sedang puber.
(Tenang diriku......! Tetap tenang, jaga ketenangan pikiran......!)
Tepat saat Satoru berusaha keras berpura-pura tenang, saat kami sedang menuruni tangga, sikuku tidak sengaja mengenai dada Kusuri dengan keras.
"Ngh......!"
Tubuh Kusuri tersentak, dan suara manis lolos dari tenggorokannya. Wajah Kusuri seketika memerah padam. Dia melirik ke arahku, dan saat mata kami bertemu, wajahnya semakin memerah lalu dia menunduk.
......Jantungku berdegup kencang dengan arti yang berbeda dari sebelumnya. Suara Kusuri barusan terdengar seperti suara yang memicu insting pria...... untuk sesaat saja, aku sempat membayangkan hal-hal semacam itu......
"Maaf, aku ke toilet sebentar!!"
"......Ah, se, Sensei!?"
Meninggalkan Kusuri yang kebingungan, Satoru berlari secepat kilat menuju bilik toilet pria. Ia membanting pintu, menguncinya, dan menyandarkan punggung ke dinding.
Menjalin hubungan romantis dengan murid adalah hal yang terlarang, bersikap menggoda juga tidak masuk akal.......Dan terangsang oleh murid sendiri adalah hal yang sangat memalukan.
(Sial......!, tubuh ini benar-benar punya terlalu banyak cobaan......!)
Sambil memegangi kepalanya, Satoru benar-benar menyadari betapa berbahayanya kondisi fisik dan kepekaan dirinya yang telah kembali muda ini.
†
Sambil menunggu Satoru yang lari ke toilet, Kusuri mengipas-ngipas wajahnya yang panas dengan kedua tangan.
(S, suara barusan...... aku tidak bermaksud mengeluarkannya~~!)
Mengingatnya saja membuat telinganya terasa panas.
(Apalagi, itu. Tadi aku menekan dadaku ke...... lengannya......)
Jujur saja, mengeluarkan suara aneh dan menempelkan dada itu sangatlah memalukan. Hanya berjalan berdampingan saja sudah membuat jantungku berdebar, apalagi melakukan kontak fisik sedekat itu. Kusuri yang rasional di dalam pikirannya terus saja menutup wajah sambil berguling-guling.
(Ti, tidak keterlaluan kan!? Tidak menjijikkan kan!? Masih dalam batas gadis yang sedang jatuh cinta, kan!?)
Mengingatnya lagi malah membuatnya semakin malu. Mungkin dia memang agak lepas kendali. Sejujurnya, dia ingin segera pulang ke rumah sekarang dan bersembunyi di balik futon.
Tapi──
(Sensei...... tadi dia deg-degan, kan?)
──Aku bahagia sekali.
Seseorang yang selama ini selalu menganggapku anak kecil, sekarang dengan jelas melihatku sebagai seorang gadis. Memikirkan itu saja membuat rasa malunya terbang, digantikan dengan perasaan bahagia.
(Baguslah aku mencoba "Strategi Menempelkan Dada" itu......!)
Dia mengepalkan tangan kecilnya sebagai tanda kemenangan. Namun, dia segera melihat sekeliling dan berdeham kecil. Tetap tenang, harus tenang.
Dia mengeluarkan buku catatan seukuran telapak tangan dari sakunya.
Saat dibuka, isinya penuh dengan tulisan.
......Itu adalah buku panduan menaklukkan Sensei yang dia tulis sejak dia menyadari perasaannya saat masih SD.
(Selanjutnya pakai rencana yang mana ya......?)
Reaksi apa yang akan Sensei berikan kalau aku melakukan strategi ini? Sambil memikirkan hal itu, Kusuri menyusun strategi masa depannya dengan ceria.




Post a Comment