Chapter 3
Salam dan
Hadiah
Hari yang dijanjikan pun tiba dengan sangat wajar. Hari
di mana Remi dijadwalkan untuk mengunjungi kediaman ini.
"Padahal aslinya, beliau bukanlah sosok yang bisa
dipanggil untuk datang semudah ini."
"Entah kenapa... aku minta maaf soal banyak hal.
Soal ini yang mendadak, atau aku yang lupa menanyakan jam kedatangannya."
Kai, yang hari ini pun mengenakan zirah lengkap demi
menjaga wibawanya, sedang berhadapan dengan sang Penjaga yang bersikap tegap
nan anggun.
"Apakah Anda sedang mencoba menguji kemampuan
respons saya sekali lagi?"
"Tidak, tidak, bukan begitu. Aku benar-benar
lupa bertanya."
"Mana mungkin orang seperti Anda melakukan kesalahan
seperti itu."
"……"
(Bukan begitu. Manusia itu pasti bisa salah... dan
orang yang melakukan kesalahan konyol semacam itu adalah aku...)
Kenapa dia dipandang setinggi itu? Kai hampir saja
membocorkan suara hatinya.
Lalu, saat ia mencoba mengalihkan pembicaraan yang tidak
menguntungkan itu, ia tiba-tiba menyadari sesuatu.
"……Ah, kali ini yang kuundang memang cuma Remi, tapi
kalau dipikir-pikir, kemungkinan besar akan ada pendampingnya, ya..."
"Saya rasa Nona Polka, sang kakak, yang akan
mendampinginya."
"Eh, bukan orang tuanya?"
"Tuan Banrad adalah orang yang cerdas, jadi saya
rasa beliau tidak akan mengambil pilihan yang tanpa preseden—seperti berjudi.
Beliau pasti akan mengambil pilihan yang aman."
"……Hou."
"Ah, ini sih hal yang bahkan orang bodoh pun
mengerti, ya. Maafkan saya karena mengucapkan hal yang sudah jelas."
"…………Ti-tidak, tidak apa-apa sama sekali."
Kai berdehem untuk menjaga wibawa sambil menahan diri
sekuat tenaga. Menahan keinginan untuk berteriak diri sendiri;
Iya! Aku si bodoh itu!
Jujur saja, Kai hanya mengerti sekitar dua puluh persen
dari apa yang diucapkan sang Penjaga.
Terutama makna dari 'tanpa preseden' dan 'pilihan seperti
berjudi', ia sama sekali tidak paham.
Ia ingin bertanya agar dijelaskan dengan bahasa yang
mudah dimengerti, tapi atmosfernya sama sekali tidak memungkinkan untuk meminta
hal itu.
(……)
Namun, ia mendengar kabar baik. Penjaga yang sangat
bisa diandalkan ini mengucapkannya dengan nada yang hampir seperti kepastian.
Bahwa 'Nona Polka yang akan mendampingi'. Dan 'beliau
pasti akan mengambil pilihan yang aman'.
Jika orang tua Remi yang memiliki kekuasaan besar itu
ikut serta, Kai pasti akan menyesal telah mengundang mereka. Ini benar-benar
informasi yang melegakan.
"Bicara soal hal lain, Tuan Shikkoku."
"A-ada apa?"
"Lancang sekali saya, tapi karena saya sudah
memprediksi akan ada tamu tambahan, saya sudah menyiapkan berbagai hiburan. Apakah
ini tidak masalah bagi Anda?"
"Tidak masalah sama sekali. Malah sangat
membantu."
"Kalau begitu, syukurlah."
Kai benar-benar merasa berutang budi pada Duke Digort
karena telah menugaskan Penjaga yang seunggul ini.
Secara status sosial maupun bantuan praktis, ia
benar-benar merasa tidak enak hati.
"Ngomong-ngomong,
berapa total biayanya? Aku ingin mengganti uang yang sudah terpakai."
Meski tidak bekerja, Kai menerima uang imbalan yang
sangat banyak.
Karena ia memiliki kelonggaran untuk menjaga harga
diri, ia sebisa mungkin tidak ingin berutang budi pada orang-orang berkuasa.
Demi bisa hidup dengan tenang.
"Tidak perlu ada pengembalian uang. Karena Tuan
Digort telah memberi perintah untuk 'menyiapkan segala sesuatu yang
dibutuhkan'. Sejak awal saya sudah menerima sejumlah dana."
"Apa tidak bisa diatur entah bagaimana?"
"Dalam hal itu, meski merepotkan, sebaiknya Tuan
Shikkoku yang bernegosiasi langsung. Secara
posisi, saya hanya bisa berada di pihak penerima."
"Begitu ya……"
Hanya itu yang bisa ia katakan. Tentu saja, karena
menakutkan, ia tidak ingin bernegosiasi langsung.
"Ja-jadi, untuk sementara tolong catat saja berapa
jumlah yang sudah terpakai. Sekarang aku sedang sibuk, tapi aku ingin
menggunakannya saat bernegosiasi nanti."
"Saya mengerti."
"Lalu jika ada barang yang diinginkan oleh Anda
secara pribadi, tolong catat juga dengan cara yang sama. Aku ingin mengeluarkan
uang untuk itu juga."
"Terima kasih banyak. Kalau begitu, jika saatnya
tiba, saya akan menerima tawaran Anda."
Ada fakta bahwa Kai menyerahkan segala urusan seperti
perbaikan jembatan yang ia hancurkan kepada sang Penjaga. Ia ingin membalas
budi lewat hal semacam ini.
"Saat ingin membeli barang yang diinginkan, tidak
perlu berkonsultasi padaku, jadi jangan sungkan untuk membeli apa pun."
"Apakah tidak apa-apa?"
"Aku selalu berterima kasih atas cara kerjamu."
"……Pujian yang terlalu berlebihan untuk saya."
Tentu saja, Kai tidak akan bersikap seperti ini kepada
sembarang orang.
Hal ini ia lakukan karena ia benar-benar berterima kasih,
dan karena ia memiliki kepercayaan bahwa sang Penjaga akan berpikir dalam
'batas kewajaran'.
"Nah, aku akan mulai menyiapkan berbagai hal di
ruang kerja."
"Nanti saya akan membawakan hiburannya ke
sana."
"Sekalian saja aku yang bawa, tapi……"
"Fufu, tolong jangan merebut pekerjaan saya."
"Ah, maaf soal itu. Haha."
Awalnya Kai merasa ada jarak dengan sang Penjaga, namun
karena tinggal di bawah atap yang sama, jarak itu perlahan-lahan mulai
terkikis.
◆◇◆
Waktu menunjukkan pukul 13.25.
Penjaga menyambut keluarga Albrera yang datang dengan
kereta kuda dikawal oleh enam orang penjaga.
"Sudah lama tidak berjumpa, Nona Polka, Nona Remi.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung ke kediaman ini."
"Nn!"
"Ya, sudah lama tidak bertemu."
Turun dari kereta kuda yang dijaga ketat itu adalah
kakak-beradik yang mengenakan gaun cantik.
Mereka berhadapan dengan sang Penjaga sambil
memberikan salam yang kompak.
"Hei, orang itu ada di mana? Remi hari ini mau dapat
hadiah, lho!"
"Tuan Shikkoku sedang menunggu di ruang
kerja. Dari sini memang tidak terlihat karena tirai, tapi beliau pasti sudah
melihat kedatangan Nona Remi dari jendela sana."
"Hah!"
"Remi, tenanglah."
"Uu……"
Remi yang sudah seperti mesin yang dinyalakan dan hendak
berlari segera didekap oleh Polka, membuat kakinya terangkat dari tanah.
Polka mengendalikan Remi yang menghentak-hentakkan
kakinya dengan sempurna.
"Tuan Shikkoku berpesan agar para pengawal
bebas melakukan apa pun."
Begitu Penjaga menyampaikan pesan itu, seluruh pengawal
mengangguk serempak seolah-olah sudah menduga pesan itu akan diberikan. Pada
saat itulah Polka mengajukan pertanyaan.
"Anu, apakah tidak ada penjaga di kediaman
ini?"
"Seperti yang Anda lihat. Saya sudah menyarankannya,
namun beliau menolak karena tidak ingin merepotkan orang lain."
"Artinya beliau memiliki kepercayaan diri untuk
menghadapi apa pun sendirian... ya."
"Mungkin ada alasan lain, yaitu jika penjaganya
tidak memiliki kemampuan yang setara, malah akan menjadi pengganggu dalam
pertahanan. Tentu saja, pengecualian jika itu adalah orang-orang dari
organisasi seperti Vertall yang terdiri dari jajaran elit."
"Keren."
"……"
Berbanding terbalik dengan ucapan Remi yang santai, Polka
mencoba membaca dengan serius niat sang Penjaga yang sengaja menyebutkan nama
organisasi itu.
Orang yang bisa mengimbangi anggota Vertall hanyalah
segelintir orang. Yaitu, sesama orang yang berada dalam organisasi Vertall.
Ada kemungkinan sang Penjaga yang tinggal bersama
beliau menyampaikan kesan yang jujur.
"Nona Polka mungkin merasa terbebani dengan posisi
Anda, namun mohon jangan terlalu memaksakan diri. Saya rasa Anda juga sudah
mendengar banyak cerita dari Nona Remi."
"Itu... Remi hanya memberi penjelasan seperti 'dia
hebat', 'dia baik', atau 'dia pintar' saja."
"Be-begitu ya."
"Remi tidak pelit informasi. Orang itu terlalu hebat
sampai tidak bisa dijelaskan."
Remi mencoba membela diri kepada sang Penjaga sambil
tetap didekap, namun tidak ada yang meragukannya.
Karena lawannya adalah sosok itu, mau bagaimana
lagi. Mereka semua pun merasa tenang.
"Kalau begitu, izinkan saya bercerita sedikit. Saya
rasa itu akan membantu mencairkan ketegangan Anda."
"Itu akan sangat membantu."
"Remi juga mau dengar."
Polka mengangguk sambil menyipitkan mata, dan Remi
juga mengangguk mantap.
Bagi Polka yang berada dalam posisi yang tidak
berlebihan jika dikatakan memegang nasib keluarga Albrera, mendapatkan
informasi sekecil apa pun adalah hal yang sangat membahagiakan.
Remi sendiri memiliki ketertarikan pribadi terhadap Shikkoku.
Ini menguntungkan bagi kedua belah pihak.
"Kalau begitu, saya akan menceritakan keseharian
Tuan Shikkoku. Melalui itu, saya harap Anda bisa memahami kebenaran di
antara berbagai rumor yang beredar. Dan, tolong simpan cerita ini untuk
konsumsi pribadi saja──"
Setelah memberikan mukadimah itu, sang Penjaga
melanjutkan kata-katanya.
"Tuan Shikkoku tidak pernah sombong
bahkan terhadap orang dengan status seperti saya. Beliau memperlakukan saya
dengan setara, bahkan terkadang bersikap rendah hati. Beliau tidak pernah
sekalipun melampiaskan amarah, dan memiliki kemurahan hati untuk mengizinkan
saya membeli apa pun yang saya inginkan. Beliau bahkan selalu mengucapkan
terima kasih atas segala hal."
Kata-kata ini tidak hanya didengar oleh Polka dan
Remi. Ada para pengawal yang juga memasang telinga dengan tajam.
"Lancang sekali saya, dulu saya juga merasa
sangat takut saat berhadapan dengan beliau, namun dengan memahami beliau,
sekarang tempat kerja ini menjadi sangat nyaman bagi saya."
Agar tidak menjadi pembicaraan yang panjang,
penjelasan itu singkat namun padat. Setelah selesai mendengarnya──.
"Mufu."
"……"
Remi mengeluarkan suara puas. Polka sendiri
mengerjapkan matanya berulang kali sambil berusaha memproses informasi
tersebut.
"Selain itu, karena beliau selalu bersiap
menghadapi serangan musuh, beliau mengenakan pelindung seluruh tubuh (Full
Plate Mail), sehingga ada perbedaan besar antara kesan penampilan dan sifat
aslinya. Mohon berhati-hati saat bertemu nanti."
Sang Penjaga menutup pembicaraan dengan gurauan
ringan untuk mencairkan suasana.
"Dan... Nona Polka. Terakhir, bolehkah saya
membisikkan sesuatu?"
"Ya, ya? Ada apa?"
Polka tidak keberatan. Ia menurunkan Remi ke lantai, dan
saat Polka mendekat—sang Penjaga berbisik di telinganya.
"Khusus soal hadiahnya, mohon siapkan mental Anda. Saya tidak mengenal orang yang lebih sulit ditebak selain tuan
itu."
"Huh!?"
Polka tersentak mendengar kata-kata itu.
Saat ia menatap sang Penjaga pribadi keluarga Duke,
orang itu tetap memberikan tatapan yang sangat serius.
Isi hadiah yang akan diterima Remi.
Ia sama sekali tidak bisa membayangkan apa itu, namun
ia menyadari bahwa sesuatu yang luar biasa akan diberikan.
Dalam waktu yang tersisa sedikit, ia mulai menyiapkan
mentalnya lebih dalam lagi.
◆◇◆
Lalu, saat mereka dipandu oleh sang Penjaga berjalan
di koridor menuju ruang kerja bersama Remi. Polka melihat pemandangan yang
tidak masuk akal.
"Ah, halo, halo. Nona Remi
dan Nona Polka sang kakak, ya? Ayo, silakan masuk, silakan."
"Eh."
(Eh……)
Melihat pria itu berdiri di depan pintu ruang kerja dan
menyambut mereka dengan sikap yang sangat rendah hati.
Melihat pemilik rumah yang melakukan hal yang seharusnya
tidak mungkin terjadi itu dengan santainya.
Sesuai dengan kata-kata sang Penjaga bahwa 'Saya tidak
mengenal orang yang lebih sulit ditebak selain tuan itu', Polka pun tertegun.
Remi menunjukkan reaksi yang sama, namun maknanya sedikit
berbeda.
"Kenapa kamu bersikap begitu pada Remi?"
"Ke-kenapa
ya... Mau bagaimana lagi alurnya memang begitu..."
Di
sini, helm zirah yang dikenakan Shikkoku melirik sedikit ke arah mereka.
Benar-benar
tidak mungkin, tapi seolah-olah seorang bawahan sedang mengamati situasi dengan
hati-hati terhadap atasannya...
'Akting
merendah' itu begitu terasah hingga membuat Polka tanpa sadar merasa ngeri.
"Tapi,
Remi lebih suka yang biasanya. Remi lebih suka yang begitu."
"Be-begitu... ya?"
"Nn, Kakak juga pasti berpikir begitu. Kakak
pasti berpikir begitu."
"Remi, bukankah kamu sedang mencoba memaksanya
untuk mengatakannya?"
"Tidak kok."
"Kalau begitu syukur deh……"
Setelah mendengar jawaban Remi, pria itu melihat ke
arah mereka dua kali. Ia menunjukkan sikap yang ragu-ragu dan lemah, sangat
tidak cocok dengan zirahnya yang megah.
(Ja-jangan-jangan, beliau mencoba mencairkan
keteganganku...?)
Itulah intuisi Polka. Ia sudah mendengar bahwa tuan di
depannya ini memiliki kecerdasan yang tak tertandingi.
Sejak awal, beliau pasti sudah tahu bahwa Remi akan
berkomentar jika beliau bersikap seperti ini.
Artinya, beliau melakukan tindakan tersebut setelah
memahaminya. Pada saat ini, kata-kata sang Penjaga kembali terngiang di
benaknya.
'Tuan Shikkoku tidak pernah sombong bahkan
terhadap orang dengan status seperti saya.
Beliau memperlakukan saya dengan setara, bahkan
terkadang bersikap rendah hati.
Beliau tidak pernah sekalipun melampiaskan amarah...
Beliau bahkan selalu mengucapkan terima kasih atas segala hal.'
'Lancang sekali saya, dulu saya juga merasa sangat takut
saat berhadapan dengan beliau, namun dengan memahami beliau, sekarang tempat
kerja ini menjadi sangat nyaman bagi saya.'
Polka tidak meragukannya, namun adegan ini membuktikan
bahwa sang Penjaga menceritakan kebenaran.
"Gaya bicara seperti ini lebih baik menurut Nona
Polka juga?"
"Nn."
"Benar ya?"
"Nn, benar. Kakak, ayo bilang."
"Ah, fufu, seperti yang dikatakan Remi, jadi
mohon jangan terlalu sungkan kepada kami."
Padahal aslinya itu hal yang tidak perlu
dikonfirmasi, tidak perlu merasa sungkan, dan tidak ada masalah jika bersikap
seperti biasa, namun beliau mengonfirmasinya lebih dari yang dibutuhkan.
Semuanya
pasti akting yang sudah membaca pergerakan Remi. Meskipun beliau pasti bisa
melakukan tata krama yang sempurna, beliau memerankan peran konyol hanya untuk
mencairkan ketegangan.
(Orang yang misterius dan sangat baik……)
Itulah kesan pertama Polka terhadap Shikkoku.
Alasan kenapa Remi yang sangat waspada bisa sangat akrab dengannya pun masuk
akal. Namun.
(Karena itulah... ini menakutkan……)
Karena ia berhadapan dengan lawan yang bahkan setelah
bertemu langsung pun, tidak ada informasi lebih jauh yang bisa terbaca.
Tentu saja—jika lawannya adalah orang yang tidak memiliki
pemikiran apa pun atau orang yang tidak tahu apa-apa, kejadian seperti ini bisa
saja terjadi.
Namun, beliau adalah sosok yang bergerak dengan
memikirkan satu atau dua langkah ke depan.
Hal seperti itu tidak mungkin terjadi.
Artinya, beliau secara sengaja menyembunyikan seluruh
niatnya. Mana mungkin ia bisa menang bicara melawan orang seperti itu. Beliau
pasti bisa memegang kendali dalam hal apa pun.
(Ayahanda, Ibunda, sepertinya kita harus pakai Rencana
C……)
Berbeda dengan Rencana A dan B yang intinya adalah
'membalas budi meski sedikit', Rencana C adalah rencana pertahanan diri yaitu
'pokoknya turuti saja kemauan Tuan Shikkoku'.
Polka memilih rencana terakhir yang membuang segala
pemikiran bahkan sebelum bertarung.
◆◇◆
"Eh, pokoknya silakan duduk tanpa ragu."
"Terima kasih banyak."
Segera setelah memandu kakak-beradik Remi dan Polka yang
mengenakan pakaian formal dan memberikan ketegangan tambahan ke dalam ruang
kerja.
Tepat setelah memberikan instruksi sambil mengarahkan
tangan ke sofa di depannya.
"Tunggu, Remi!?"
"Kakak, diam."
"Bukan soal diam!"
Perdebatan tiba-tiba dimulai. Penyebabnya adalah Remi
yang dengan wajah datar duduk di sofa yang sama dengan sofa yang diduduki Kai,
bukannya sofa yang diinstruksikan.
"Oi, oi. Bukankah kamu tidak boleh merepotkan
kakakmu?"
"Tapi, Remi mau duduk di sebelahmu."
"Du-duh...
Meskipun begitu, kamu harus menahannya."
"Remi tidak tahu kapan bisa bertemu lagi. Jadi,
Remi mau manja."
"……Yah, aku ingin memuji tekad bajamu itu."
"Mohon maaf sebesar-besarnya, Tuan Shikkoku...
Saya pasti akan menebus kesalahan ini."
"Ti-tidak perlu melakukan hal seperti itu.
Justru aku yang merasa tidak enak."
Kai melambaikan tangannya dengan semangat kepada
Polka yang menundukkan kepala dengan ciut, berusaha keras menunjukkan bahwa ia
tidak marah.
Lawannya adalah putri orang berkuasa. Jika
dia menundukkan kepala, Kai-lah yang akan merasa ciut.
"Pokoknya bagiku tidak ada masalah sama sekali, jadi
mohon jangan terlalu dipikirkan. Malah aku merasa senang karena sepertinya kamu
sudah membuka hati padaku."
"Saya sangat berterima kasih atas perlakuan Anda
yang murah hati."
"Remi juga berterima kasih."
Kata Remi seolah ikut-ikutan, namun entah kenapa ia malah
merapatkan tubuhnya. Begitu melihat itu, wajah Polka menjadi pucat pasi.
Baru beberapa menit bertemu Polka, Kai sudah bisa melihat
betapa berat perjuangannya sehari-hari.
"Sepertinya kamu kewalahan."
"Tepat sekali. Benar-benar
anak yang sudah tidak bisa diatur lagi..."
Saat Kai mengatakannya sambil menatap Polka, Polka
menunjukkan tawa pahit yang sangat pas.
"Namun, karena ini adalah sosok yang tidak terlihat
saat dia sering sakit dulu, kebandelan ini pun menjadi sesuatu yang
membahagiakan bagi kami."
"Ah,
benar juga ya."
"Mufu."
Sepertinya Remi mengeluarkan suara senang karena
dikatakan 'membahagiakan' oleh Polka.
"Meski sudah terlambat, selain karena telah
menyelamatkan Remi dari penjahat, terima kasih banyak karena telah memberikan
obat yang sangat berharga."
"Ti-tidak, pokoknya tolong jangan bersikap kaku
begitu. Jadikan
Remi sebagai contoh dan bersantailah."
"Ma-mana mungkin...!"
Polka melambaikan tangannya yang seputih perak. Kai
mengerti perasaan bahwa Polka tidak bisa melakukan hal semacam itu kepada orang
yang baru pertama kali ditemui, namun itu akan menyulitkannya. Baik secara
posisi, status, maupun hal lainnya──.
"Karena aku tidak berniat menghancurkan jembatan
itu, fakta bahwa kalian memberikan biaya perbaikan sangatlah membantu. Justru
akulah yang berada dalam posisi tidak enak hati."
"Bohong kalau bilang tidak berniat menghancurkan
jembatan."
"Itu benar, lho."
"Pembohong."
"……"
Sepertinya di dalam pikiran Remi hal itu sudah pasti, ia
mulai menggosokkan pipinya pada zirah yang keras.
Meskipun ia melakukan hal yang menyulitkan, entah kenapa
ia tampak senang.
Remi yang seperti itu──setelah menunjukkan ekspresi
seolah teringat sesuatu, ia mulai meminta dengan tatapan merayu.
"Hei, kapan Remi dapat hadiahnya? Remi sudah
menantikannya terus. Sampai-sampai kemarin Remi tidak bisa tidur."
"Eh? Haha, sampai segitunya?"
"Nn!"
Remi menggerakkan lehernya ke atas dan ke bawah dengan
mata yang berbinar.
Sepertinya ia benar-benar sudah tidak sabar, saat desakan
kekanak-kanakan itu muncul, Polka memberikan tatapan tajam untuk memberikan
peringatan sebagai kakak.
"Kita masih di tengah pembicaraan, jadi bersabarlah.
Kita bahkan belum menyerahkan hadiah terima kasih kepada Tuan Shikkoku,
kan?"
"Tidak boleh?"
"Tidak boleh."
Begitu ditolak oleh Polka, wajah Remi beralih ke Kai.
"……Tidak boleh?"
Kai kemudian ditanya oleh Remi. Kai
tertawa melihat cara berpikir yang fleksibel ini.
"Yah, bagiku sih terserah Nona Polka saja. Aku benar-benar tidak keberatan kalau kalian datang dengan tangan
kosong."
"──Kakak."
Tiba-tiba saja. Remi berdiri dari sofa dan dengan
langkah kaki yang berderap mendekatkan wajahnya ke wajah Polka. Jaraknya sudah
sangat dekat hingga menyentuh hidung──karena tertekan oleh tekanan ini, Polka
mengeluarkan suara 'Uu' yang imut.
"Ka-kan sudah kubilang tidak boleh."
"Kakak."
"Du-duh……"
Secara posisi, Polka mungkin berpikir harus menolak.
Tapi, sepertinya ia tidak bisa mengabaikan permintaan adiknya yang imut.
"A-apakah
Tuan Shikkoku benar-benar tidak keberatan...?"
"Menurutku
memilih opsi itu lebih mencerminkan dirimu sebagai seorang kakak."
"Huh, tolong jangan menggoda saya
seperti itu... Saya jadi malu..."
"Kakak tersipu."
"Ja-jangan bilang begitu..."
Polka benar-benar lemah dalam alur ini. Kai sudah
melihat kakak-beradik Karen dan Rifia, serta Nina dan Marie, tapi keduanya
tidak kalah akrab.
Kai yang merasa hangat melihat hal itu berdiri dan
menuju ke laci tempat ia menyimpan hadiah kali ini.
"Mau cepat lihat!"
"Tenanglah sedikit. Aku akan segera
memberikannya."
Remi memutar tubuhnya ke arah Kai dan melompat-lompat
kecil. Waku waku, waku waku! Kai menahan gadis yang emosinya sedang
meluap-luap karena tidak sabar itu, lalu menjepit benda aslinya dengan ibu jari
dan jari telunjuk──.
"Ini bukan barang mewah... tapi ini hadiahnya. Maaf
sekali karena aku tidak bisa membungkusnya."
Sebagai etika, Kai mengucapkan kata-kata rendah hati.
Jika memberikan barang yang jelas-jelas mahal, gaya bicara seperti ini memang
tidak disukai, namun lawannya adalah pemegang kekuasaan dengan posisi yang
berbeda.
Kai memutuskan bahwa gaya bicara ini tidak salah, lalu ia
meletakkan botol kaca seukuran telapak tangan dengan dekorasi mewah berisi
cairan berwarna emas di atas meja.
Pada saat itu.
"……"
"……"
Remi yang tadi berseru 'Uwaa!' tiba-tiba menjadi tenang.
Polka sendiri, alih-alih mengucapkan 'Syukurlah', malah
melebarkan matanya dan menarik tubuh bagian atasnya untuk menjauh.
"Hm? Entah kenapa, aku tidak menyangka akan mendapat
reaksi seperti itu..."
"Re-Remi... dikasih barang lain pun, aku tetap
senang."
"Be-benar sekali, kami tidak pantas menerima barang
seperti itu..."
"Tidak, tapi aku ingin memberikan ini..."
Dari pangkalan tambahan itu. Kai membawa ramuan
legendaris sebanyak yang bisa ia bawa dari rumah pohon itu—ia menggeser sedikit
ramuan itu untuk mendekatkannya pada Remi, namun Remi justru berpindah ke
samping Polka seolah sedang melarikan diri. Sosoknya yang tadi sangat
bersemangat sudah tidak ada lagi.
"Takut……"
"Eh?"
Karena tubuhnya yang dulu tidak bebas bisa sembuh total
dengan obat itu, dan karena ia sudah mendengar berkali-kali dari keluarganya
betapa berharganya obat tersebut, bagi Remi saat ini obat itu menjadi item yang
bahkan menakutkan untuk disentuh.
"Ke-kenapa, kamu kasih itu ke Remi..."
"Ah, maaf. Aku belum bilang alasannya."
"Tapi...
Remi tidak mau terima."
"Haha,
dengarkan dulu ceritaku."
Kai
sendiri tahu bahwa obat ini memiliki nilai yang luar biasa. Meski
begitu, ia punya alasan kenapa ingin memberikannya sebagai hadiah.
"Aku ingin memberikan ini karena aku ingin mendukung
impian Remi. Remi punya impian yang sangat bagus, dan aku ingin impian itu
terwujud."
Kai mengatakannya dengan tegas, lalu ia melirik ke arah
Polka yang menunjukkan ekspresi tercengang.
"Nona Polka belum tahu apa-apa?"
"Ya, ya. Saya baru tahu sekarang kalau Remi punya
impian..."
"Yah,
aku pun baru mengetahuinya... Kemarin, saat aku mengantarnya pulang, dia
memberitahuku. Katanya, 'Aku mau jadi lebih kuat, supaya bisa mengumpulkan obat
itu, dan menolong orang yang kesulitan seperti yang sudah dilakukan padaku.
Itulah impianku sekarang'."
"Re-Remi
bilang begitu...?"
"Secara
garis besar seperti itu, kan?"
Saat
keduanya menoleh ke arahnya, Remi menundukkan wajahnya dengan malu-malu──.
"……Pasti,
ingin aku wujudkan."
Remi
mengangguk dengan suara kecil. Mungkin ia tidak ingin hal itu ketahuan, namun
ini diperlukan agar ia mau menerimanya dengan lapang dada.
"Tentu
saja aku juga sangat paham nilai dari item ini, namun untuk saat ini,
memberikan satu botol tidak akan memberikanku kesulitan."
"Hah!?"
"Malah,
aku tidak punya kegunaan untuk ini dan jumlahnya berlebih bagiku, jadi bagiku
jauh lebih baik jika kuberikan kepada orang yang akan menggunakannya dengan
bermakna, dan aku juga bisa membalas utang biaya perbaikan jembatan."
"A-apakah
Anda tidak punya pikiran untuk menjualnya... demi menambah dana?"
"Awalnya
aku punya pikiran begitu, tapi jika aku menjual item yang nilainya tidak
terukur hingga harganya bisa ditentukan sesuka hati, pasti berbagai macam orang
jahat akan mengincar. Tentu saja itu tidak baik. Dengan kata lain, ini adalah
barang yang merepotkan karena tidak bisa dijual sembarangan saat ingin
dijual."
Jika
informasi bahwa 'ada orang yang datang menjual ramuan legendaris' tersebar,
maka rumor seperti 'dia punya banyak uang' atau 'mungkin dia punya item
berharga lainnya' akan menyebar.
Akibatnya,
kemungkinan diincar oleh perampok akan meningkat. Ada
kemungkinan ia akan diserang lagi seperti saat kejadian jembatan itu.
Jika ia diserang secara tiba-tiba──apa yang akan terjadi
selanjutnya tidak perlu dibayangkan lagi.
Demi hidup dengan aman dan tenang, ini adalah pilihan
terbaik. Dan──.
"Remi."
"A-apa."
"Untuk mewujudkan impian Remi, benda aslinya pasti
akan membantu."
Karena memiliki pengetahuan game, Kai bisa mengatakannya
dengan gaya yang keren.
"Item langka pun ada yang palsu. Jika ingin
menyebutkan satu cara mudah untuk menghilangkan risiko itu, caranya adalah
dengan membandingkannya dengan yang asli."
Tentu saja ada cara membedakannya dengan menaikkan Level
maksimal Appraisal Eye, namun itu masih terlalu dini bagi Remi yang
masih anak-anak. Belum tentu juga ia bisa menguasainya secara pasti.
"Untungnya, item yang tidak beredar di pasar
biasanya barang palsunya pun kasar... seharusnya begitu, dan jika ada yang
asli, kandungannya bisa diteliti. Siapa tahu kamu bisa menemukan metode
peracikan baru dan meningkatkan jumlah produksinya. Itu akan membahagiakan
bagiku juga, dan jika bicara soal niat terselubung, mungkin di masa depan aku
bisa mendapatkannya dengan harga murah."
Jika bicara soal hal yang tidak keren, Kai tidak memiliki
kelonggaran hati untuk memberikan item langka begitu saja tanpa imbalan apa
pun. Ia baru bisa memberikannya jika ada keuntungan baginya.
"Jika mendengar ini, bukankah semuanya jadi masuk
akal? Hanya dengan Remi mencoba menantang impian itu saja, sudah ada hal baik
bagiku."
"Tapi, kalau Remi tidak bisa mewujudkannya..."
"Jika saat itu tiba, ayo kita pergi minum alkohol
bersama. Saat itu Remi pasti sudah dewasa. Hei, kalau bersikap lemah begitu,
tujuan yang mudah pun tidak akan terwujud, lho? Benar kan, Nona Polka?"
"Fufu, benar sekali."
"……"
Impiannya sudah tetap. Remi ingin menerima ramuan
legendaris itu demi impiannya, namun karena itu adalah barang yang sangat
berharga, ia tidak berani mengulurkan tangan. Melihat adiknya yang seperti itu,
Polka-lah yang bergerak.
Ia mengulurkan kedua tangannya ke arah hadiah yang
diletakkan di atas meja──.
"──Demi mewujudkan impian Remi, saya terima dengan
penuh rasa syukur." Polka menerimanya dengan ekspresi serius.
"Sama-sama."
"Lalu, ada satu hal lagi yang ingin saya
usulkan."
"Hm?"
"Bagaimana jika kali ini kita anggap sebagai
investasi? Dengan bentuk seperti itu pun, niat dukungan dari Tuan Shikkoku
untuk Remi tidak akan berubah."
"Eh? Padahal ini hadiah... apakah tidak apa-apa?
Karena jika dibilang aku memaksanya pun memang benar, kurasa tidak benar jika
aku meminta pengembalian."
"Tidak ada masalah sama sekali. Dengan begitu harga diri kami pun akan terjaga."
"Be-begitu ya?"
Bagi Kai ini adalah kesepakatan yang tidak merugikan,
jadi jika diusulkan begitu, ia pun menjadi tertarik.
"Ngomong-ngomong... apa jaminannya?"
"Meski terdengar lancang, bagaimana kalau
'saya'?"
"Hm? Maksudnya?"
"Dengan syarat saya akan menuruti perintah apa pun
dari Tuan Shikkoku."
"Ho-hou...
Itu tekad yang luar biasa."
"Fufu,
saya sudah tahu sekuat apa impian Remi, dan saya juga ingin mendukung impian
Remi sejauh itu, dan karena saya percaya impian itu bisa terwujud."
"Karena
itulah, ya……"
Polka
benar-benar menunjukkan tekad yang membuat Kai kagum dan terpesona. Jika
dia sudah memantapkan perasaannya sejauh itu, Kai merasa harus ikut berperan.
"Kalau begitu aku akan menerima tawaranmu, saat itu
tiba aku akan meminta waktu kakak Remi yang berharga."
Tentu saja ini hanya bercanda ringan.
Jika ia meminta pun, paling-paling hanya 'temani aku
minum bersama'.
Mana mungkin ia bisa menerima nyawa seseorang sebagai
jaminan.
Kai mengatakannya dengan nada ringan agar mudah
dimengerti sebagai gurauan, dan di luar dugaannya, Polka yang memiliki atmosfer
lembut itu ternyata memiliki selera humor yang paling bagus.
Mungkin aslinya ia memang suka menggoda adiknya yang
imut.
"Alala, ini gawat ya, Remi."
"Muu……"
Polka menanggapi gurauan itu dengan baik, dan Remi
menggembungkan pipinya.
"Kenapa Kakak melakukan hal seperti itu……"
"Karena Kakak mendukung Remi, kan?"
"Remi mau jadi jaminannya."
"Kamu masih anak-anak, jadi hal seperti itu
tidak boleh diputuskan sembarangan."
"Orang dewasa curang."
Kai mengawasi interaksi keduanya dengan tenang. Di
dalam helm zirahnya ia tersenyum, sambil menunggu Polka mengucapkan kalimat
'pembicaraan tadi cuma bercanda'.
"Fufu, saat Remi berhasil mewujudkan impianmu,
bagaimana kalau kamu mencoba meminta sesuatu kepada Tuan Shikkoku?"
"Kalau cuma segitu aku tidak keberatan sama sekali,
Remi. Sebagai hadiah atas perjuanganmu, aku akan menuruti permintaan apa
pun."
"Beneran!?"
"Sebaliknya, aku malah merasa terbantu kalau
diizinkan ikut merayakan."
Impian Remi memang seluas itu. Sesuatu yang membuat Kai
merasa ingin mendukungnya dengan segenap tenaga.
"Kalau begitu, Remi mau hadiahnya sekarang."
"Haha, nanti saja. Karena impian bisa berubah-ubah,
beritahu aku lagi kalau kamu sudah mewujudkannya."
"Nn!"
Saat Remi yang bandel ini tumbuh dewasa dan berhasil
meraih mimpinya. ──Permintaan seperti apa yang akan dia ajukan?
Hal itu menjadi salah satu kegembiraan baru bagi Kai.
◆◇◆
Setelah itu, Kai menerima tas berisi buah tangan serta
setengah dari uang dan barang imbalan yang telah disiapkan sebagai tanda terima
kasih atas penyelamatan Remi.
"Sekali
lagi, kami mohon maaf karena hanya bisa menyiapkan barang-barang seperti ini...
Kami benar-benar merasa tidak enak."
"Tidak,
tidak. Kalian sudah menanggung biaya perbaikan jembatan saja aku sudah sangat
berterima kasih."
Karena urusan utama hari ini sudah selesai, Kai menjawab
sambil merilekskan perasaannya.
"Lagipula,
Magic Item dengan efek Instant Death Resistance ini adalah sesuatu yang
sangat aku inginkan."
"Fufu,
ternyata Anda memang sangat memahaminya, ya."
"Hm?"
"Ayah
dan Ibu awalnya berpikir item itu tidak akan berguna bagi orang sekelas Tuan Shikkoku.
Namun, mereka akhirnya setuju karena berpikir item praktis seperti itu bisa
menjadi 'asuransi' bagi orang yang Anda selamatkan nanti."
"……Begitu, ya."
Sebenarnya bukan itu alasan Kai menginginkannya. Dia
hanya ingin benda itu demi keselamatannya sendiri, tapi dia memberikan jawaban
penuh arti demi menjaga gengsi.
"Ng-ngomong-ngomong, sampaikan terima kasihku pada
orang tuamu. Katakan kalau aku benar-benar menghargainya, tanpa bermaksud
basa-basi."
"Pasti akan saya sampaikan."
"Kuserahkan padamu."
Cincin
dengan efek sekali pakai Instant Death Resistance. Kai tahu
betapa mahalnya benda itu.
Selain itu, dia merasa sangat senang bisa melihat
langsung benda yang dulu sering menjadi andalannya saat bermain game untuk
menangkal jebakan one-shot kill.
"Lalu, soal itu……"
Di sela-sela obrolannya dengan Polka, ada seseorang yang
duduk diam di samping Kai sambil merapatkan tubuh kecilnya──.
"Apa itu menyenangkan, Remi?"
Kai melirik Remi yang sedari tadi terus menatap Elixir
legendaris itu dalam posisi menempel padanya.
"Nn, menyenangkan. Remi baru pertama kali
melihatnya."
"Bukankah ini kedua kalinya?"
"Enggak, ini pertama kali. Waktu ditolong, Remi
tidak melihat obat ini."
"Ah, benar juga. Waktu itu aku langsung
meminumkannya padamu, ya. Habisnya situasinya berbahaya."
Kai mencoba mengingat kejadian saat itu dan mulai paham.
"Salah. Kamu yang memberiku minum."
"Tidak usah dikoreksi juga tidak apa-apa, lho?
Jangan terlalu dipikirkan."
"Dipaksa minum."
"Kayaknya... ya sudahlah. Asal jangan bilang begitu
di depan orang lain saja."
"Kalau kamu elus kepalaku, aku akan jaga
rahasia."
"Iya, iya."
Begitu dibilang 'jangan terlalu dipikirkan', Remi
langsung kembali ke sifat aslinya.
Saat Kai meletakkan tangan di atas kepalanya sesuai
permintaan, terdengar suara 'mufu' kecil yang menggemaskan.
"Remi,
ya ampun... Kamu akan diceramahi begitu sampai di rumah nanti, ya."
"Silakan
saja. Remi juga punya banyak hal untuk memarahi Kakak."
"Eh,
menurutku lebih baik kamu terima saja ceramahnya, Remi. Kali ini kamu berada di
posisi yang sulit, kan?"
"Tidak
juga. Kakak kan sudah dijadikan jaminan."
"Bicara
apa sih dia."
Orang yang paling tidak mengerti konteks pembicaraan
ini adalah Kai, yang memberikan komentar sambil mengusap-usap kepala Remi.
"Remi, ini nasihat masa depan untukmu. Kalau kamu
ingin membalas perbuatan seseorang, ada cara yang paling cerdik."
"Apa?"
"Jadilah bahagia, lalu tunjukkan sosokmu yang sudah
merasa puas itu."
"……Aku mengerti."
Remi, yang paling penurut jika mendengar kata-kata Kai,
segera memutar otaknya.
Mencari hal apa yang bisa membuatnya merasa puas saat
ini. Hal apa yang bisa dia pamerkan agar Polka merasa iri.
Lalu, dia segera menemukannya. Karena berasal dari garis
keturunan yang cerdas, kemampuan berpikirnya saat sedang bersemangat memang
luar biasa.
"Hei, Remi juga ingin coba pakai itu."
Jari kecil Remi menunjuk ke arah helm zirah yang
dikenakan Kai.
"Apa-apaan mendadak sekali."
"Tiba-tiba ingin pakai."
"Ini?"
"Nn, ingin coba pakai."
"Ya-yah, meski kamu bilang begitu..."
Alasan Kai ragu sangatlah sederhana. Dia merasa lebih
mudah mengobrol dengan Polka jika wajahnya tersembunyi. Dia bisa terlihat seolah tidak gentar menghadapi orang berkuasa.
"Memangnya kamu tertarik dengan ini?"
"Karena seumur hidup belum pernah pakai."
"Belum pernah pakai, ya... Hmm. Baiklah, ini sedikit
spesial, lho?"
"Spesial!"
"Beri aku waktu sebentar."
Jika menyangkut pengalaman pertama seseorang, manusia
cenderung ingin mewujudkannya.
Lagipula, karena sudah menghabiskan waktu sekitar
satu jam bersama Polka, Kai menilai tidak masalah jika ia membukanya sebentar.
Kai menundukkan kepala, memegang helm zirahnya, lalu
melepaskannya dengan suara kapo.
"Nah, hati-hati karena ini berat. Jangan
sampai jatuh."
"Nn!"
"……Huh."
Dan saat helm itu diserahkan.
Dibandingkan rasa ingin 'membalas' Polka, keinginan Remi
untuk mengenakan helm tersebut jauh lebih besar.
Dengan mata berbinar, dia mulai mencoba memakainya dengan
kikuk.
"Haha, jangan buru-buru, barangnya tidak akan lari.
Sini, aku sesuaikan arah helmnya."
" Nngh…!!"
──Lalu, satu kejadian lagi terjadi. Ini adalah pertama
kalinya Polka melihat wajah Shikkoku, wajah seorang pemuda dengan senyum
ramah dan lembut yang diarahkan kepada Remi.
Karena gaya bicaranya yang kaku, zirah mewahnya, serta
kemungkinan besar dia anggota Vertall yang sangat eksklusif, Polka membayangkan
sosok pria yang berwibawa dan sudah berumur.
Namun,
semua bayangannya salah total.
"……"
Seorang
pria muda yang usianya tidak jauh berbeda darinya. Terpukau oleh celah antara
ekspektasi dan kenyataan, Polka buru-buru membuang muka.
Tiba-tiba dia merasa sangat malu karena telah mengatakan
'akan menuruti perintah apa pun' kepada pria seumuran.
Meski Remi berhasil memberikan 'serangan' kepada Polka
sesuai rencana awalnya, fokus Remi sepenuhnya tertuju pada helm zirah tersebut.
Dia terus mengobrol tanpa menyadari suasana.
"Hei, apa Remi kelihatan cocok?"
"Sama sekali tidak cocok."
"Kenapa jahat sekali."
"Bukan jahat, tapi kombinasi helm dan... gaun? Siapa
pun pasti tidak akan cocok."
"Kalau begitu, Remi mau pakai zirahnya juga."
Sambil menunjuk dengan telunjuk kecilnya, kali ini Remi
menunjuk ke arah pelindung badan Kai.
"Boleh kupertimbangkan kalau kamu sudah
dewasa."
"Muu—"
Kai tersenyum jahil sambil menekan pelan kepala Remi yang
tertutup helm, membuat leher Remi terkulai karena tidak kuat menahan berat
beban itu.
Melihat interaksi mereka yang seperti kakak laki-laki
yang telaten dan adik perempuan yang bandel, Polka berusaha keras tidak menatap
wajah Kai yang kini terekspos sambil membuka suara.
"A-anu... benar-benar maaf atas ketidaksopanan
Remi……"
"Tidak apa-apa, yang penting dia sehat."
"…"
Kai menatapnya dengan senyuman lembut.
Jika sudah begini, Polka tidak punya pilihan selain
membalas tatapannya demi kesopanan.
Seharusnya dia membalas perkataan itu, tapi dia malah
tertahan napasnya.
Re-Remi. Ka-kalau orangnya seperti ini, seharusnya bilang
dari awal dong...! jerit Polka dalam hati.
Sungguh, dari zirah megah dan gaya bicaranya, dia mengira
pria ini adalah sosok yang kaku dan tegas. Dia mengira kepribadiannya sekeras
kekuatannya.
Tapi──ternyata isinya adalah orang yang sangat ramah dan
penuh kelembutan.
Penjaga memang pernah bilang, 'Beliau mengenakan
pelindung seluruh tubuh karena bersiap menghadapi serangan musuh, sehingga ada
perbedaan besar antara kesan penampilan dan sifat aslinya', tapi Polka
tidak menyangka akan sejauh ini.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau pria ini adalah
pemuda yang sangat rupawan.
"Tapi, karena aku bukan orang yang biasa menunjukkan
wajah di tempat seperti ini, aku jadi agak malu juga, ya..."
"An-Anda memiliki wajah yang sangat tampan……"
"Itu... bagaimana ya bilangnya, terima kasih."
Bukan sebagai gurauan, pria itu tampak gelisah dan
menggaruk pipinya dengan malu. Sejak wajahnya terlihat, atmosfer di antara
mereka berubah drastis.
Meski seharusnya tidak mungkin──rasanya seolah-olah mereka berdiri di posisi yang setara, atau bahkan seolah sedang diperlakukan sebagai seorang teman.
Sebagai putri sulung dari pemimpin Otoritas Perdagangan
Albrera, Polka terbiasa dikelilingi oleh orang-orang yang selalu waspada dan
tanpa celah di mana pun mereka berada.
Karena terus menghabiskan waktu dalam lingkungan seperti
itu, ini adalah pertama kalinya Polka merasakan sesuatu yang berbeda.
Sebuah celah pesona dari seseorang yang menjadi begitu
lembut dan mudah diajak bicara.
Terlebih lagi, pria ini adalah satu-satunya orang yang
menyelamatkan adik tercintanya di tengah bahaya yang mengancam nyawanya
sendiri. Dia bahkan menggunakan Elixir legendaris untuknya.
Bukannya menuntut imbalan, dia malah terus bersikap biasa
tanpa sedikit pun mengungkit budi yang telah diberikan. Ketertarikan Polka pun
semakin terseret dalam sosoknya.
"Ya, ya sudahlah. Kalau aku sedang membuka helm
begini, aku akan sangat terbantu kalau kamu tidak terlalu memujiku. Aku tidak
terbiasa dengan hal-hal seperti itu."
"Anu, apakah selama ini orang-orang yang Anda
tolong, atau mungkin istri Anda, tidak pernah memuji pekerjaan Anda……?"
"Sebenarnya aku tidak sesering itu menolong
orang. Lalu, soal urusan istri... sepertinya Nona Rifia juga sempat salah paham
soal itu, ya……"
Pria itu melipat tangan dengan wajah serius seolah
sedang menggali ingatan. Namun, sepertinya dia tidak bisa mengingat hal semacam
itu.
"Pokoknya aku masih lajang, jadi hal seperti itu
tidak ada."
"……Eh, Anda sedang bercanda, kan?"
"Tidak, aku serius."
Mendengar jawaban itu, Polka mendadak membeku
sejenak. Pikirannya seolah kelebihan muatan informasi; 'Padahal
dia punya kepribadian dan penampilan seelok ini?'
"A-apakah bukan karena Anda tinggal terpisah karena
urusan pekerjaan……?"
"Tidak, seperti yang kukatakan, aku belum
berkeluarga. Lagipula, jika lingkungan kerjaku sampai membuatku harus tinggal
terpisah, aku pasti lebih memilih untuk pindah kerja atau semacamnya."
"Be-begitu...
rupanya. Maaf, saya benar-benar terkejut."
Bagi
Polka, mustahil sosok sehebat ini tidak memiliki pasangan. Ini adalah situasi
yang misterius, bahkan terasa sedikit janggal. Satu-satunya
penjelasan adalah dia pasti telah menolak semua pernyataan cinta dari lawan
jenis.
"Ah, benar juga. Aku hampir lupa. Maaf mengalihkan
pembicaraan, tapi ada sesuatu yang belum kuberikan."
"Sesuatu yang belum diberikan?"
"Ini bukan sebuah hadiah, sih……"
Sambil mengangguk pelan, Shikkoku berdiri dan
kembali menuju meja kerjanya. Dia membuka laci dan mengeluarkan sesuatu.
"Rumah ini terlalu luas kalau hanya ditempati aku
dan Penjaga. Aku akan senang kalau kalian mau datang bermain kapan pun ada
waktu luang. Tentu saja, Remi juga."
Dia sempat melirik Remi saat mengatakannya, lalu──dia
menyodorkan sebuah kunci perak.
Begitu melihatnya, secara refleks Polka langsung
menerimanya.
"Oh."
Polka baru menyadari apa yang telah dilakukannya
setelah melihat ekspresi terkejut dari lawan bicaranya.
"A,
a, a…… T-terima kasih banyak…… Saya benar-benar merasa senang, jadi... maafkan
saya……"
"Haha,
syukurlah kalau begitu."
Pria
itu memperlakukannya dengan lembut, sama seperti caranya memperlakukan Remi...
seketika wajah Polka terasa panas membara. Dia jadi tidak berani membalas
tatapan matanya.
Saat
ini Polka berusaha keras untuk mengembalikan ketenangannya agar tidak
menunjukkan gelagat aneh.
"──"
" Nngh…!!!"
Polka
mendadak tersentak saat menyadari Remi, yang masih mengenakan helm, sedang
menatapnya tajam dalam diam.
◆◇◆
"Remi
belum mau pulang!"
"Hm?"
Setelah
menyerahkan kunci cadangan dan menerima kembali helm zirahnya, percakapan
menyenangkan mereka berlanjut hingga tak terasa dua jam telah berlalu.
Tiba-tiba, Remi mengatakan hal itu.
"Tadi
alurnya kan sudah mau pulang."
"Yah,
memang sudah waktunya, sih. Kamu juga harus melapor kepada orang tuamu, mereka
pasti khawatir kalau kamu pulang terlambat."
"Remi, apa yang dikatakan Tuan Shikkoku itu
benar."
"Muu……"
Remi melemparkan tatapan seolah meminta Polka untuk
membelanya, namun Polka menggelengkan kepala dengan mantap. Di sini, perbedaan
usia mereka terlihat jelas.
(Melihatnya seperti ini, aku jadi ingin melakukan
sesuatu lagi untuknya...) pikir Kai.
Jika ada sesuatu yang bisa membuatnya merasa puas, dia
pasti bisa pulang dengan perasaan lega. Kai pun memutar otak agar Polka, yang
selama ini sudah sangat memperhatikannya, bisa merasa lebih ringan.
"Yah, karena masih ada sedikit waktu sebelum
berpisah... Remi, mau duduk di pangkuanku sampai saatnya tiba? Seperti yang
kulakukan di Toko Lirin dulu."
"Mau!"
"Sini kalau begitu."
Remi menyambar tawaran itu dengan antusiasme yang sama
besarnya seperti saat Polka menerima kunci cadangan tadi.
Kai sedikit terkejut saat menepuk pangkuannya, dan Remi
langsung melompat naik begitu diajak.
──Dia duduk dalam
posisi yang agak riskan; menghadap ke depan ke arah Kai, sehingga punggungnya
menghadap Polka.
"……"
Benar-benar
cara duduk khas anak kecil. Cara duduk yang pastinya tidak akan diizinkan jika
dia bukan anak kecil. Kai tidak menyangka akan jadi
begini.
"Arahnya terbalik, kan?"
"Mufu."
Remi mendengus bangga karena Kai menyadarinya, tapi
Kai tentu tidak bisa membiarkannya begitu saja.
"Arah duduk begini itu, bagaimana ya
bilangnya……?"
"Kamu tidak suka?"
"Remi! Ini bukan masalah suka atau tidak!"
Saat Kai kesulitan menjelaskan, Polka datang sebagai
penyelamat. Dia memberikan dukungan di waktu yang sangat tepat.
"Po-posisi seperti itu hanya boleh dilakukan oleh
sepasang kekasih saja……"
"Kenapa?"
"Huh!?"
Meski Polka tidak mengatakan hal yang salah, kepolosan
Remi berhasil memukul balik. Polka kini beradu pandang dengan Kai dengan wajah
yang merah padam.
(Ini sih... ya, memang bukan pembicaraan yang pantas
dilakukan dengan pria yang baru pertama kali ditemui...) pikir Kai.
Kemurnian di tempat seperti ini adalah ancaman terbesar.
Kai sudah kembali mengenakan helmnya, sehingga dia bisa berpikir dengan lebih
tenang karena wajahnya tersembunyi.
Jika dia membela Polka sekarang, sudah pasti pertanyaan
"kenapa" dari Remi akan menyerangnya juga.
"Apa yang dikatakan Remi benar juga. Kenapa
ya?"
"Tuan Shikkoku!?"
Maaf, tapi aku akan berkhianat sekarang.
"Tuh kan benar. Kakak cuma mau mengusir
Remi."
"T-tidak, bukan begitu……"
"Bohong. Kakak mau mengusirku."
"Yah... kali ini maafkanlah dia."
"……Baiklah. Remi maafkan terpaksa."
Remi benar-benar patuh dan mendengarkan kata-katanya,
namun Polka malah melemparkan tatapan menyalahkan ke arah Kai dengan wajah
merahnya.
(Yah, wajar kalau jadi begitu, sih...)
Kai merasa senang karena mereka sudah cukup akrab sampai
Polka mau menunjukkan ekspresi kesal, tapi tetap saja dia merasa tidak enak
hati.
Dia menjadikan kepala Remi sebagai tameng untuk
menghindari tatapan Polka.
Sambil bersembunyi, dia segera memberikan kompensasi
karena telah menjerumuskan Polka tadi.
"Anu, Nona Polka."
"Iyaaa?"
"Sebagai permintaan maaf... jika Anda bersama para
pengawal, aku akan menyambut kalian jika ingin menginap di kediaman ini. Aku
benar-benar ingin menjamu kalian sekali-kali."
"Eh."
"Aku benar-benar merasa tidak enak soal tadi."
"Fufu, terima kasih banyak. Kalau begitu, aku akan
memaafkan Anda."
──Apakah kata-katanya itu benar? Saat Kai menggerakkan
kepalanya, dia melihat Polka sedang tersenyum dengan wajah yang masih sedikit
kemerahan.
"Tapi soal Remi menginap, itu harus dikonsultasikan
dulu dengan Ayah dan Ibu."
"Ke-kenapa jadi begitu……"
"Haha, itu pasti karena apa yang sudah kamu lakukan
selama ini, kan?"
(Pasti dia akan diberi berbagai wejangan supaya
'jangan merepotkan orang lain'...) pikir Kai.
Dibandingkan Karen atau Nina, Remi memang terlihat lebih
egois, tapi itu adalah hal yang wajar.
Karena sebelum menggunakan obat itu, dia memiliki tubuh
yang sangat lemah.
Bagi keluarganya, memberikan 'peringatan' atau 'arahan'
yang bisa membebani fisiknya pasti adalah hal yang mustahil dilakukan dulu.
(Sepertinya hidup Remi akan jadi lebih berat mulai
sekarang.)
Karena sekarang dia sudah sehat, dia pasti akan menjalani
kehidupan pendidikan wanita bangsawan yang anggun seperti Polka.
Namun, itu juga merupakan pemandangan yang menghangatkan
hati.
Kai mencengkeram kepala Remi seolah ingin menyemangatinya
dengan perasaan 'berjuanglah'.
"Hm?"
Remi memiringkan kepala karena tidak mengerti, sementara
Polka tampak menyadari sesuatu.
Setelah berbincang sedikit lebih lama dengan
kakak-beradik itu... waktu pun berlalu. Saatnya berpisah telah tiba.
"Baiklah, karena sudah saatnya, aku akan mengantar
kalian berdua sampai ke rumah."
"Yaaaay!"
"T-tunggu sebentar! Kami tidak bisa merepotkan Anda
sampai sejauh itu……!"
"Jangan dipikirkan. Kalian sudah menanggung biaya
perbaikan jembatan, bantuan itu sangat berarti bagiku."
Kai mengambil pedang yang disandarkan di dinding dan
menyampirkannya di pinggang.
(Aku harus mencari cara lain untuk membalas budi
pada pihak Karen dan Nina nanti...) gumamnya dalam hati.
◆◇◆
Setelah itu, tepat setelah mereka bertiga keluar dari
kediaman dan Kai menjelaskan kepada pengawal keluarga Albrera bahwa dia akan
ikut mengantar.
"……Hm? Kenapa formasinya jadi begini?"
"Dengan segala kerendahan hati saya sampaikan, tidak
ada formasi yang lebih unggul selain ini."
"Tidak, tidak mungkin begitu."
"Kami sangat tersanjung."
Meski Kai sudah menyampaikan isi hatinya, hal itu ditepis
dengan mudah. Pengawal tangguh itu membungkuk dalam-dalam dan menuntun Kai ke
posisi paling depan dari kereta kuda.
"Tuan Shikkoku, jika Anda merasakan adanya
keanehan atau keganjilan, mohon beri tahu kami. Kami juga akan segera melapor
begitu menyadari sesuatu."
"A, ah... baiklah?"
"Mungkin ada kalanya kami perlu meminta konfirmasi
dari Anda, mohon maafkan kami jika saat itu tiba."
"……Aku mengerti."
Entah kenapa, pemimpin pengawal yang terlihat lebih kuat
darinya itu malah berbicara dengan nada segan seperti itu kepadanya.
◆◇◆
Dengan Shikkoku di barisan terdepan, diikuti oleh
kereta kuda mewah dan beberapa pengawal yang mengelilinginya. Pemandangan luar
biasa yang muncul tanpa peringatan ini menarik perhatian penduduk yang
berpapasan dengan mereka.
"……Rasanya aneh sekali."
"Fufu, itu karena Tuan Shikkoku sendiri yang
turun tangan, kan?"
Remi dan Polka, yang bergoyang di dalam kereta kuda
berkaca, berbincang sambil menatap punggung Shikkoku yang berjalan di
depan.
"Punggungnya... terlihat keren, ya……"
"Nn. Biar ada seratus orang jahat datang pun
tidak masalah."
Remi menambahkan kata-kata Polka yang tanpa sadar
bergumam pelan.
"Makanya, nanti sampai rumah Remi mau minta ke Papa.
Suruh Papa pekerjakan dia."
"Kalau begitu, Kakak akan berpihak pada Ayah,
ya."
"Kenapa? Kakak juga pasti senang, kan?"
"Memang benar, tapi... itu tidak
realistis."
Polka menurunkan sudut alisnya sambil memberikan
jawaban yang tegas. Sesuai perkataannya, idealisme dan realitas itu berbeda.
"Jika kita ingin mempekerjakan Tuan Shikkoku,
entah berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk satu hari saja…… Setidaknya
kita harus menyiapkan 500 juta hingga 1 miliar Regil, atau barang yang nilainya
setara."
"Eh."
Remi melongo dan membelalakkan matanya.
"Tuan Shikkoku bukan orang biasa yang
bergerak bebas, kan? Jadi, kita harus memberikan keuntungan yang cukup besar
agar hati organisasi agung tempat beliau bernaung bisa tergerak."
"Muu……"
Remi mendengarkan dalam diam, mencoba mencerna
isinya, lalu menggembungkan pipinya. 500 juta sampai 1 miliar Regil. Sebagai
keluarga yang membangun status lewat perdagangan, bahkan Remi yang masih kecil
pun memahami nilai uang tersebut.
Dia tahu seberapa makmurnya orang-orang yang
mendukung Otoritas Perdagangan jika uang sebanyak itu ada di tangan mereka.
"Makanya, Remi, bisa berinteraksi dengan Tuan Shikkoku
seperti hari ini saja sudah sangat berharga. Apalagi diajak menginap, itu sudah
lebih dari sekadar berharga."
"Tapi, tapi."
"Kamu benar-benar ingin mempekerjakannya?"
"Nn!"
Remi mengangguk dengan kuat. Hanya ada
satu cara untuk mewujudkan keinginan itu. Polka menatap hadiah dari Shikkoku
yang dipegang erat dengan kedua tangan oleh adiknya, lalu berkata:
"Kalau begitu... jika Remi bersedia mengembalikan
ramuan serbaguna pemberian Tuan Shikkoku, kurasa kita bisa berdiri di
meja negosiasi."
"……"
Kenapa beliau memberikan barang tanpa harga seperti
'Ramuan Serbaguna Legendaris' ini sebagai hadiah?
──Polka hanya bisa berpikir bahwa beliau ingin mendukung
impian Remi semaksimal mungkin, namun di saat yang sama, beliau juga 'sudah
memikirkan saat Remi menyerah nanti'.
'Menolong orang yang kesulitan, seperti yang sudah
dilakukan padaku.'
Beliau merasa senang Remi memiliki impian itu, namun
karena itu bukan impian yang mudah diwujudkan, beliau memberikan kemurahan hati
yang membuat siapa pun akan menundukkan kepala.
"Remi mengerti apa yang ingin Kakak katakan."
"Iya."
"Tapi bagi Remi, hanya ini yang tidak bisa
dikembalikan. Karena Remi akan mewujudkan mimpi itu. Pasti…… Dan untuk mewujudkannya,
Remi butuh obat ini."
"Fufu, benar juga."
Tepat saat kata-kata itu keluar dari mulut Remi. Polka
merasa seolah mendengar suara sepoi-sepoi angin bertiup.
Suara dari sosok yang berjalan di depan kereta kuda dan
menjalankan tugasnya sebagai pengawal seolah berkata, 'Tekadmu menjadikan
dirimu sendiri sebagai jaminan akhirnya membuahkan hasil, ya'.
"Fufu, Remi benar-benar sudah jadi anak yang kuat,
ya. Kamu hebat~"
"—"
Kata-kata tadi benar-benar membuatnya bahagia.
Polka yang masih diliputi perasaan itu pun merentangkan
kedua tangannya dan memeluk erat Remi yang berada tepat di sampingnya. Namun,
suara keluhan segera terdengar.
"Syesyak."
"……Ah."
Wajah Remi terbenam sepenuhnya di dada Polka.
Sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan,
ia mendorong balik dengan tangan kecilnya.
Begitu berhasil mengamankan jalur napas, Remi
mengerutkan alisnya seolah sedang memprotes bahwa dia 'hampir saja terbunuh'.
"Tadi juga pamer."
"I-itu sama sekali bukan maksudku……!"
Karena kejadian itu terjadi tanpa niat jahat dan murni
karena ketidaksengajaan, Polka pun berusaha mati-matian untuk membela diri.
Namun, Remi malah memberikan serangan susulan kepada
Polka.
"……Remi tidak mau maafkan."
Pasalnya, ia merasa sangat iri dengan gundukan kenyal
yang empuk itu.



Post a Comment