NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 2 Interlude III

Interlude 3


Malam yang sunyi, ketika cahaya rembulan merah dan biru menyelinap masuk melalui jendela.

Di atas tempat tidur yang dikelilingi tirai kanopi──.

"Aduuuh, malu banget sih...!"

"Ugh, uuuu..."

Marie, yang terus terbayang kata-kata yang ia ucapkan langsung kepada Shikkoku—seperti 'ingin menyampaikan salam' dan 'sosok yang secara pribadi sangat membuatku penasaran'—kini memeluk Nina dengan kekuatan penuh seolah sedang meronta karena malu.

"Kakak... sesak..."

"Ini hukuman karena Ni-chan tidak memberitahuku sebelumnya."

"Makanan yang tadi... rasanya mau keluar lagi..."

"Eh, jangan! Itu gawat!"

Jika hal itu sampai terjadi di atas tempat tidur, situasinya akan menjadi tidak terkendali.

Marie segera melonggarkan pelukannya, namun karena masih menahan malu, ia tetap tidak melepaskan Nina. Ia menjadikannya seperti guling.

"……Anu, Kakak."

"Hm?"

"Pada akhirnya, kenapa Tuan Shikkoku tidak memperlihatkan wajahnya kepada Kakak? Aku masih belum mengerti bagian itu."

"Sepertinya itu demi aku. Sisanya, mungkin cuma mau jahil saja."

"Eh?"

"Begini, kalau aku sudah tahu wajah Tuan Shikkoku sejak awal, aku pasti harus membedakan sikap di depan umum dan di balik layar, kan? Jadi dia memikirkan hal itu. Supaya aku tidak perlu merasa sungkan."

"Begitu ya... Lalu, apa maksudnya dengan jahil?"

"Kalau yang itu, karena dia tahu aku suka 'jaga imej' kalau di depan orang, dia mungkin ingin bilang, 'Aku juga bisa melakukan hal yang sama, lho'."

"Hmm... Kurasa beliau tidak akan melakukan hal sekekanak-kanakan itu."

"Sudah kuduga kamu bakal bilang begitu..."

Dugaan utama Marie tetaplah poin yang pertama. Yaitu agar ia 'tidak perlu merasa sungkan'.

"Yaa, kali ini aku benar-benar menyadari betapa hebatnya Tuan Shikkoku. Fakta bahwa dia tidak menunjukkan wajahnya saat aku menyampaikan salam terima kasih, berarti sejak saat itu dia sudah memikirkan soal pembagian makanan... Dia benar-benar menyembunyikan taringnya. Padahal sejujurnya, dia kelihatan seperti orang yang tidak bisa diandalkan."

"Karena tuntutan pekerjaan, kurasa menyembunyikan kekuatan itu memang perlu!"

"Benar juga. Kalau melihat caranya yang seperti itu, sepertinya dia bisa memerankan berbagai macam karakter."

Sosok yang berpura-pura baru pertama kali bertemu, atau sosok yang tampak ragu-ragu.

Sulit dipercaya bahwa dia adalah orang yang sama dengan sosok yang mengenakan zirah hitam legam itu.

Bahkan sulit dipercaya bahwa dia memiliki kemampuan yang sanggup meruntuhkan jembatan.

"Ngomong-ngomong, aku benar-benar kaget lho saat tahu wajah asli Tuan Shikkoku itu seperti itu. Aku kira dia orang setengah baya."

"Beliau sangat muda, ya! Bukankah usianya hampir sebaya dengan Kakak!"

"Mungkin selisihnya hanya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan? Sejujurnya, dia itu tipeku banget."

"Karena itulah aku tidak mau memberitahukannya..."

"Hee, jadi itu alasan sebenarnya."

"Ah... sesak, Kakak..."

"Iya, iya, aku tahu."

Marie kembali memeluk erat tubuh mungil yang lembut itu dengan tenaga ekstra, namun segera melonggarkannya lagi. Semuanya demi menjaga agar isi perut Nina tidak keluar.

"Fuu, fuu... Terlepas dari itu, Kakak!"

"Hm?"

"Kita akhiiiiiirnya bisa tahu nama Tuan Shikkoku, ya!! Mulai sekarang, kita bisa memanggilnya dengan nama beliau!! Ehehe..."

"……Ah—benar juga ya."

Marie menjawab dengan nada yang menyesuaikan kegembiraan Nina, namun di dalam kepalanya terlintas kata 'nama samaran'. Mengingat namanya yang sederhana yaitu 'Kai' dan pekerjaannya sebagai agen rahasia, ia secara tidak sadar memikirkan hal itu—namun melihat ekspresi Nina yang begitu bahagia dengan pipi yang merona, ia tidak sanggup mengatakannya.

"Ah, tapi... apakah Tuan Kai tidak suka dipanggil dengan namanya...?"

"Kalau sedang tidak ada orang lain di sekitar, mungkin dia malah akan senang? Yah, meskipun sebaiknya kita coba tanya dulu nanti."

"Baiklah! Kalau begitu aku akan menanyakannya saat kita bertemu lagi!"

Nina menjawab sambil mengangguk mantap, lalu mulai bergumam sendiri. Agar ia bisa mengucapkannya dengan lancar saat bertemu nanti, ia menangkupkan kedua tangannya sambil berbisik, "Tuan Kai... Tuan Kai..."

Melihat adiknya yang sudah benar-benar menetapkan targetnya itu, Marie tiba-tiba berucap.

"Eh, boleh aku tanya satu hal pada Ni-chan?"

"Ya?"

"Boleh tidak kalau aku juga ikut mengejar? ……Si Kai-san itu."

"──Tidak boleh."

Jawaban dari Nina datang bahkan sebelum satu detik berlalu.

"Cepat banget jawabnya! Dasar pelit!"

"Uuu—!"

Suara erangan lucu terdengar di dalam kamar tidur yang luas itu. Nina kembali dipeluk dengan sangat erat sampai-sampai ujung kakinya tersentak saking kagetnya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close