Interlude
3
Malam yang sunyi, ketika cahaya rembulan merah dan
biru menyelinap masuk melalui jendela.
Di atas tempat tidur yang dikelilingi tirai kanopi──.
"Aduuuh, malu banget sih...!"
"Ugh, uuuu..."
Marie, yang terus terbayang kata-kata yang ia ucapkan
langsung kepada Shikkoku—seperti 'ingin menyampaikan salam' dan 'sosok
yang secara pribadi sangat membuatku penasaran'—kini memeluk Nina dengan
kekuatan penuh seolah sedang meronta karena malu.
"Kakak... sesak..."
"Ini hukuman karena Ni-chan tidak memberitahuku
sebelumnya."
"Makanan yang tadi... rasanya mau keluar
lagi..."
"Eh, jangan! Itu gawat!"
Jika hal itu sampai terjadi di atas tempat tidur,
situasinya akan menjadi tidak terkendali.
Marie segera melonggarkan pelukannya, namun karena masih
menahan malu, ia tetap tidak melepaskan Nina. Ia menjadikannya seperti guling.
"……Anu, Kakak."
"Hm?"
"Pada akhirnya, kenapa Tuan Shikkoku tidak
memperlihatkan wajahnya kepada Kakak? Aku masih belum mengerti bagian
itu."
"Sepertinya itu demi aku. Sisanya, mungkin cuma mau
jahil saja."
"Eh?"
"Begini, kalau aku sudah tahu wajah Tuan Shikkoku
sejak awal, aku pasti harus membedakan sikap di depan umum dan di balik layar,
kan? Jadi dia memikirkan hal itu. Supaya aku tidak perlu merasa sungkan."
"Begitu
ya... Lalu, apa maksudnya dengan jahil?"
"Kalau
yang itu, karena dia tahu aku suka 'jaga imej' kalau di depan orang, dia
mungkin ingin bilang, 'Aku juga bisa melakukan hal yang sama, lho'."
"Hmm... Kurasa beliau tidak akan melakukan hal
sekekanak-kanakan itu."
"Sudah kuduga kamu bakal bilang begitu..."
Dugaan utama Marie tetaplah poin yang pertama. Yaitu agar
ia 'tidak perlu merasa sungkan'.
"Yaa, kali ini aku benar-benar menyadari betapa
hebatnya Tuan Shikkoku. Fakta bahwa dia tidak menunjukkan wajahnya saat aku
menyampaikan salam terima kasih, berarti sejak saat itu dia sudah memikirkan
soal pembagian makanan... Dia benar-benar menyembunyikan taringnya. Padahal
sejujurnya, dia kelihatan seperti orang yang tidak bisa diandalkan."
"Karena tuntutan pekerjaan, kurasa menyembunyikan
kekuatan itu memang perlu!"
"Benar juga. Kalau melihat caranya yang seperti itu,
sepertinya dia bisa memerankan berbagai macam karakter."
Sosok yang berpura-pura baru pertama kali bertemu, atau
sosok yang tampak ragu-ragu.
Sulit dipercaya bahwa dia adalah orang yang sama dengan
sosok yang mengenakan zirah hitam legam itu.
Bahkan sulit dipercaya bahwa dia memiliki kemampuan yang
sanggup meruntuhkan jembatan.
"Ngomong-ngomong, aku benar-benar kaget lho saat
tahu wajah asli Tuan Shikkoku itu seperti itu. Aku kira dia orang setengah
baya."
"Beliau sangat muda, ya! Bukankah usianya hampir
sebaya dengan Kakak!"
"Mungkin selisihnya hanya bisa dihitung dengan jari
sebelah tangan? Sejujurnya, dia itu tipeku banget."
"Karena itulah aku tidak mau
memberitahukannya..."
"Hee, jadi itu alasan sebenarnya."
"Ah... sesak, Kakak..."
"Iya, iya, aku tahu."
Marie kembali memeluk erat tubuh mungil yang lembut itu
dengan tenaga ekstra, namun segera melonggarkannya lagi. Semuanya demi menjaga
agar isi perut Nina tidak keluar.
"Fuu, fuu... Terlepas dari itu, Kakak!"
"Hm?"
"Kita akhiiiiiirnya bisa tahu nama Tuan Shikkoku,
ya!! Mulai sekarang, kita bisa memanggilnya dengan nama beliau!! Ehehe..."
"……Ah—benar juga ya."
Marie menjawab dengan nada yang menyesuaikan kegembiraan
Nina, namun di dalam kepalanya terlintas kata 'nama samaran'. Mengingat namanya
yang sederhana yaitu 'Kai' dan pekerjaannya sebagai agen rahasia, ia secara
tidak sadar memikirkan hal itu—namun melihat ekspresi Nina yang begitu bahagia
dengan pipi yang merona, ia tidak sanggup mengatakannya.
"Ah, tapi... apakah Tuan Kai tidak suka dipanggil
dengan namanya...?"
"Kalau sedang tidak ada orang lain di sekitar,
mungkin dia malah akan senang? Yah, meskipun sebaiknya kita coba tanya dulu
nanti."
"Baiklah! Kalau begitu aku akan menanyakannya saat
kita bertemu lagi!"
Nina menjawab sambil mengangguk mantap, lalu mulai
bergumam sendiri. Agar ia bisa mengucapkannya dengan lancar saat bertemu nanti,
ia menangkupkan kedua tangannya sambil berbisik, "Tuan Kai... Tuan
Kai..."
Melihat adiknya yang sudah benar-benar menetapkan
targetnya itu, Marie tiba-tiba berucap.
"Eh, boleh aku tanya satu hal pada Ni-chan?"
"Ya?"
"Boleh tidak kalau aku juga ikut mengejar? ……Si
Kai-san itu."
"──Tidak boleh."
Jawaban dari Nina datang bahkan sebelum satu detik
berlalu.
"Cepat banget jawabnya! Dasar pelit!"
"Uuu—!"
Suara erangan lucu terdengar di dalam kamar tidur yang luas itu. Nina kembali dipeluk dengan sangat erat sampai-sampai ujung kakinya tersentak saking kagetnya.



Post a Comment