Epilog
"──Oi, Leila. Sebenarnya apa yang terjadi di
wilayah yurisdiksimu?"
Tempat ini adalah ibu kota kekaisaran, Verdia.
Sebuah ruangan dengan meja bundar di dalam istana
kekaisaran, tempat sang penguasa bersemayam.
Pertemuan antara Wakil Kaisar dan sembilan orang berbaju
zirah megah—total sepuluh orang—baru saja berakhir.
"Apa maksudmu dengan wilayahku?"
"Hah? Jangan pura-pura bego, deh."
Tepat setelah Wakil Kaisar meninggalkan ruangan, suasana
langsung mencekam oleh haus darah yang dipancarkan oleh seorang pria beastman
dengan pedang raksasa di punggungnya.
"Kamu sudah dengar, kan? Ada orang yang bertindak
semaunya di wilayahmu. Rumornya, dia bahkan berani memakai nama organisasi
kita, lho?"
"Ah, aku juga dengar soal itu. Dia muncul tiba-tiba,
kan? Si 'Shikkoku' itu. Sejujurnya, membiarkan orang luar berbuat
sesukanya itu agak keterlaluan, bukan? Organisasi ini ada karena
kewibawaannya."
Seorang pria bermata sipit yang tampak ceria menyela
sambil memainkan jemarinya.
Leila, wanita dengan pakaian ringkas berambut hitam-ungu
yang kini dipojokkan dua lawan satu itu, sama sekali tidak menunjukkan rasa
gentar.
Ia menghela napas panjang dan menunjukkan raut wajah
jengah sebelum menjawab.
"Apa-apaan kalian ini. Kejadian kali ini benar-benar
tidak bisa dihindari. Aku sedang ditugaskan di tempat lain, dan itu terjadi
saat aku meninggalkan wilayahku. Lagipula, aku sudah memerintahkan salah satu
bawahanku untuk menyelidiki segala informasi sampai aku kembali."
"Benar kata Leila-chan, rasanya tidak adil kalau dia
yang disalahkan~. Padahal dia sudah berjasa menangkap komplotan Redfreed yang
menculik putri dari Tiga Kekuatan Besar, bahkan sampai menghancurkan mereka
yang membantu komplotan itu."
Kali ini, seorang wanita bersayap naga dengan nada bicara
yang sama sekali tidak memancarkan hawa kekuatan ikut menengahi.
Lima orang lainnya yang menyaksikan perdebatan ini hanya
bisa mengeluarkan aura 'mereka mulai lagi' karena merasa kerepotan.
Pertemuan sudah berakhir, dan seharusnya ini saatnya
mereka kembali ke 'wilayah masing-masing'—ke kota mereka—tapi mereka tidak bisa
pergi begitu saja.
Mereka harus tetap di sana untuk memastikan situasi tetap
terkendali jika ada yang benar-benar mengamuk.
"Cih, mau kamu ada di wilayahmu atau tidak, maksudku
itu jangan sampai kita diremehkan seperti ini, Bodoh."
"Apa katamu? 'Bodoh'? Kalau kamu mengajak berkelahi, akan kulayani. Aku akan melubangi dahi itu dalam satu serangan."
"Jangan meremehkanku!"
"Bagus, bagus!"
Pria ceria itu terus memanas-manasi keadaan dengan senyum
lebar, membuat sang beastman langsung mencengkeram gagang pedang
raksasanya.
Di sisi lain, Leila menggerakkan tangannya ke arah paha,
menyentuh Magic Item yang tersimpan di dalam holsternya.
Suasana mencekam yang siap meledak kapan saja mendominasi
ruangan itu. Rasanya, tidak akan aneh jika detik berikutnya seseorang langsung
menyerang.
"Oke, cukup sampai di sini."
Berdasarkan pengalaman selama ini, mustahil menghentikan
mereka hanya dengan suara saja.
Seorang anggota lain yang menyadari hal itu pun langsung
menghantam meja makan dengan keras. BRAK!
"Ah……"
Melihat meja mewah itu seketika retak seribu seperti
sarang laba-laba, anggota tersebut langsung mengeluarkan suara yang terdengar
menyedihkan.
"O-oi...
Apa yang kamu lakukan? Keterlaluan banget, sih."
"Kamu
bisa lihat sendiri kan kalau ini terbuat dari kaca? Tidak masuk akal kalau
sampai hancur begini."
"Benar juga, ya."
"Meja ini mahal, lho? Tidak apa-apa?"
Keempat orang yang menjadi penyebab tidak langsung
keributan itu justru bersikap seolah itu bukan urusan mereka.
Sementara itu, anggota lainnya hanya bisa menatap mereka
dengan tatapan dingin yang menusuk.
"Aku akan... pergi minta maaf sebentar……"
Seorang pria akhirnya meninggalkan ruangan dengan bahu
terkulai lemas.
Kini, keheningan mulai menguasai atmosfer di ruangan
tersebut.
"Cih. Sudahlah. Aku sudah tidak mood."
"Sayang sekali, aku juga."
"Padahal aku pikir bakal melihat sesuatu yang
seru—"
"Kamu itu berisik tahu!"
Berkat hancurnya meja tersebut, situasi akhirnya mulai
mereda.
Setelah perdebatan tadi berakhir, suasana di ruangan itu
berubah menjadi tanda bahwa mereka sudah boleh pergi atau kembali ke wilayah
masing-masing.
Pria beastman yang memanggul pedang raksasa itu
berjalan menuju pintu keluar, lalu memanggil "Leila" sambil
memberikan tatapan tajam.
"Buat orang yang sudah meremehkan kita itu...
berikan ganjaran yang setimpal dengan caramu. Aku tegaskan sekali lagi, kita
tidak boleh diremehkan."
"Kita melakukan ini dengan rasa bangga, tahu."
"Pendapat itu memang ada benarnya juga, sih~. Kalau
kita diremehkan, kita tidak bisa lagi menjadi peringatan bagi orang-orang
jahat, dan sepertinya kali ini orang dari ibu kota itu memang sedang
memprovokasi."
"Yah, kalau Leila sih pasti akan baik-baik saja,
kan? Meski sepertinya lawan kali ini memang setara dengannya."
"Kalian semua, jangan bicara seolah ini hal sepele.
Aku akan menyelidiki apakah pria bernama Shikkoku itu benar-benar menyamar atau
tidak, tapi aku pasti akan membuatnya menyesal karena telah bertindak yang
memicu kesalahpahaman bagi orang sekitar."
"Heh, kalau begitu baguslah."
Karena memahami kemampuan Leila, pria itu tidak perlu
bicara lebih banyak lagi.
Setelah mengucapkan kata-kata terakhir tersebut, sang beastman
dengan pedang di punggungnya pun melangkah keluar.
"Nah, aku juga harus segera kembali ke wilayahku.
Ada banyak hal yang harus kukerjakan mulai sekarang."
"Oke."
"Lalu, tolong sampaikan pada yang lain, 'Maaf karena
aku tadi sempat terpancing emosi'. ...Semuanya, tolong ya."
Leila berkata sambil menggaruk pipi putihnya dengan
ekspresi bersalah sekaligus malu, lalu menjulurkan lidahnya sedikit.
Ia memunculkan Magic Wand dengan sekali sentakan,
lalu duduk menyamping di atasnya untuk terbang.
Mereka semua adalah kumpulan orang dengan kepribadian
yang unik dan sulit ditebak, namun memiliki kekuatan yang luar biasa besar.
Inilah salah satu cuplikan dari pertemuan rutin dua bulan
sekali para anggota Vertall.



Post a Comment