Chapter 7
Menginap
Suasana
di dalam kediaman telah tenang.
"Aku...
tidak tahu, ya? Kalau kalian dimarahi. Malah, aku yakin besok kalian pasti kena
semprot," ucapku.
"Kalau bisa
menginap, tidak masalah," balas Remy.
"Be-benar-benar
mohon maaf atas segalanya. Sampai-sampai aku pun ikut menginap di sini..."
Polka menunduk.
"Tidak,
justru aku terbantu kalau ada Polka-san saat Remy menginap. Seperti yang kamu
lihat, dia ini bandel sekali," ujarku.
"Mufu,"
gumam Remy bangga.
"Te-terima
kasih banyak," balas Polka.
Di aula itu, ada
aku yang dipaksa menggendong Remy di bahu, Polka yang tampak menciut sambil
meminta maaf namun terlihat senang, dan Pak Residen yang berdiri di belakang
mereka.
Alasan kenapa
situasi ini terjadi adalah karena satu pertanyaan konfirmasi dari Layla, yang
saat ini sedang terbang secepat kilat menuju kediaman keluarga Albrera untuk
mengambil baju ganti mereka berdua dengan membawa surat tulisan tangan Polka.
"Hei, karena
sudah selarut ini, boleh aku menginap?" begitu tanyanya tadi.
Mendengar itu,
Remy langsung berseru girang, "Waa!", lalu menuntut, "Remy juga
mau!", hingga akhirnya berhasil menembus pertahanan Polka dan jadilah
seperti sekarang.
"Fufu,
hari ini akan menjadi lebih ramai, ya. Jika Anda membutuhkan sesuatu, silakan hubungi saya kapan saja," ucap
Pak Residen.
"Kami
benar-benar berutang budi padamu," kata Polka.
"Berutang
budi!" seru Remy menimpali.
"Baik.
Silakan nikmati waktu kalian di sini," balas Pak Residen ramah.
Karena mereka
semua sudah saling kenal, aku bisa mendengarkan percakapan ini dengan tenang.
"Kalau
begitu, saya akan menyiapkan kamarnya. Apakah kalian ingin kamar tidurnya
dipisah?" tanya Pak Residen.
"Tolong
jadikan satu kamar saja dengan Remy. Dan biarkan aku ikut membantu
menyiapkannya," jawab Polka sambil tersenyum.
Namun, Pak
Residen justru mengalihkan pandangannya ke arahku seolah mengabaikan tawaran
itu.
Karena aku
sendiri pernah mencoba membantu dan ditolak dengan cara serupa, aku bisa
memahami maksud di balik tatapannya.
"Ehem.
Sayang sekali, tapi Polka-san punya tugas lain, yaitu menemaniku," ujarku
tiba-tiba.
"Eh...!"
Polka terkejut.
"Jadi, Pak
Residen, tolong urus sisanya, ya," lanjutku.
"Dimengerti.
Serahkan semuanya kepada saya," jawab Pak Residen.
"Ah..."
gumam Polka tertahan.
Sebelum Polka
sempat mencegahnya, Pak Residen sudah membungkuk dalam dan melangkah ringan
keluar dari aula.
Aku sedikit ragu
apakah ini pilihan yang tepat, tapi aku ingin memercayai senyum di wajahnya
tadi.
"Permainan
kombinasi yang hebat," komentar Remy.
"Entah apa
maksudmu," balasku pura-pura tidak tahu.
"Payah dalam bersembunyi," sindir Remy lagi.
"Turun dari
bahu sekarang, ya?" ancamku.
"Hebat
sekali dalam bersembunyi," ralat Remy cepat.
"Nah, begitu
dong," balasku puas.
Kalau aku
mengakui soal "bersembunyi" itu, sama saja aku mengakui kalau aku
sengaja melakukannya.
Tapi jika Remy
saja sadar, Polka pasti menyadarinya juga.
Faktanya, Polka
sekarang sedang menyipitkan mata seolah sadar telah dikerjai.
"Fufufu,
kalau begitu, hari ini aku akan benar-benar menemani Shikkoku-sama sampai
puas," ucap Polka.
"Itu...
terima kasih kalau begitu," jawabku kaku.
Karena aku
sendiri yang mengatakannya tadi, aku tidak bisa bilang "ternyata tidak
jadi".
Aku belum
terpikir bagaimana caranya dia akan "menemaniku", tapi aku senang
melihatnya bersemangat.
"Ya sudah,
untuk sekarang mari mengobrol sejenak—"
Tepat saat aku
hendak bicara, suara ketukan di jendela kaca lantai dua bergema di aula.
"Hah? Uwo...!?" aku tersentak.
Saat menoleh ke arah sumber suara, di sana ada Layla yang
sedang duduk santai di atas pedangnya yang melayang sambil membuka jendela.
Layla kemudian masuk ke dalam sambil membawa tas kain yang
tampak cantik.
"Ini, aku bawakan baju ganti untuk kalian berdua,"
ucap Layla.
"Terima
kasih. Ini sangat membantu," balas Polka.
"Mohon maaf
sudah merepotkan Layla-sama sampai seperti ini..." Polka membungkuk lagi.
"Tidak perlu
dipikirkan. Pakai sihir Fly cuma butuh sekejap kok. Tapi, 'janji itu'
harus ditepati, ya?" Layla menyeringai.
"Ehm!"
Remy mengangguk mantap.
"Tentu
saja," jawab Polka yakin.
Melihat Layla
yang menyeringai nakal, Remy dan Polka membalasnya dengan jawaban yang mantap.
Aku pun ikut
menyela percakapan mereka.
"Jadi kamu
serius, ya? Soal janji 'kalau kalian mau mandi bersamaku, aku akan segera
mengambilkan baju ganti'."
"Memangnya
kenapa? Tidak boleh?" tanya Layla balik.
"Tidak, cuma
agak mengejutkan saja," balasku.
Mengingat
kepribadian Layla, aku sempat mengira dia akan menjawab dengan "Cuma
bercanda, kok".
"Yah... aku
paham maksudmu. Harusnya aku bersikap lebih dewasa, kan? Tapi tahu tidak,
kesempatan untuk mandi ramai-ramai begini jarang ada. Aku suka suasana yang
berisik," jelas Layla.
"Aku
mengerti," jawabku singkat.
Ini pertama
kalinya aku tahu kalau Layla ternyata tipe orang yang takut kesepian.
Jika dipikirkan
lagi, mungkin dia mengajak duel hanya untuk mengisi rasa sepi dan mencari
perhatian seseorang—ternyata dia punya sisi yang cukup manis di balik
penampilannya.
"Ah, benar
juga. Bagaimana kalau kamu ikut mandi bareng sekalian?" ajak Layla
tiba-tiba.
"Remy juga
setuju!" seru Remy.
"Eh...!?"
Polka terperanjat.
Wajah Polka
langsung memerah padam, lebih parah dari siapa pun di sana.
"Tidak, aku
pilih untuk menolak," jawabku tegas.
"Jawaban
yang membosankan. Harusnya kamu mengiyakannya," keluh Layla.
"Ehm,"
dukung Remy.
"Terserah
kalian mau bilang apa," balasku tidak peduli.
Meski situasinya
sangat menggoda, rasa maluku jauh lebih besar.
Lagipula, mandi
bersama akan memberikan pengaruh buruk bagi anak seusia Remy.
Di saat Layla dan
Remy tampak tidak puas, Polka justru menghela napas lega.
"Kenapa
kalian tidak pergi mandi sekarang saja?" usulku.
"Ide bagus.
Kesal sih karena ini usul darimu," gerutu Layla.
"Kenapa
lagi, sih?" balasku heran.
"Antarkan
kami sampai ke kamar mandi," tuntut Layla.
"Remy juga
harus jalan sendiri, ya," tambahku.
Aku punya
firasat kalau aku mengantar mereka sampai ke kamar mandi, aku akan diseret
masuk sampai ke dalam bak mandi. Aku menekuk lutut, merendahkan tubuh, dan menurunkan Remy dari bahuku ke
lantai.
"Anu...
apakah tidak apa-apa jika kami mandi lebih dulu?" tanya Polka ragu.
"Tentu saja.
Pakai saja sesuka kalian," jawabku.
"Terima
kasih banyak. Kalau begitu, kami terima tawaran Anda," Polka membungkuk
sopan.
"Ayo kalau
begitu. Kamu mungkin sudah tahu, tapi kamar mandinya lewat sini," Layla
mulai memandu.
Karena Layla
sudah menginap beberapa hari berturut-turut, dia mulai bertingkah seolah
dirinya adalah penghuni kediaman ini.
"Selamat
menikmati," ucapku sebagai salam terakhir saat mereka bertiga menuju kamar
mandi.
"Nah,
sekarang..."
Setelah sendirian
di aula, aku memutuskan untuk pergi membantu Pak Residen.
◆◇◆
"Ah,
bak mandi luas memang yang terbaik, ya. Bikin iri saja," desah Layla puas.
"Fufu,
bukankah Layla-sama juga menggunakan bak mandi yang serupa?" tanya Polka.
"Remy juga berpikir begitu," timpal Remy.
"Sama sekali tidak. Tempat tinggalku ada di dalam
asosiasi, jadi kamarnya terasa biasa saja, tidak sempit tapi tidak luas
juga," jelas Layla.
Tak lama setelah berpisah dengan Kai, mereka bertiga—Layla,
Polka, dan Remy—telah selesai membasuh diri dan kini berendam di bak mandi
besar yang cukup untuk lima orang sambil mengobrol asyik.
"Ngomong-ngomong,
ini pertama kalinya kalian menginap di sini?" tanya Layla.
"Benar.
Karena ini yang pertama, Remy jadi sedikit lebih manja dari biasanya,"
jawab Polka sambil mengelus kepala Remy.
Polka berniat
memberi tahu bahwa biasanya Remy adalah anak yang lebih penurut, namun hal itu
justru menjadi bumerang baginya.
"Kakak
bilang begitu, tapi tadi Kakak sama sekali tidak memarahi Remy," protes
Remy.
"Ta-tapi aku
tetap mencoba menghentikanmu, kan?" bela Polka gagap.
"Tadi Kakak
lebih lembek dari biasanya," sindir Remy telak.
"Begitu ya.
Jadi sebenarnya Polka-chan juga memang berniat ikut menginap dengan
memanfaatkan situasi, ya?" goda Layla.
"I-itu... soal itu..." Polka mati kutu karena
rahasianya terbongkar.
Polka mencoba menenggelamkan wajahnya ke dalam air untuk
mengalihkan pembicaraan, namun Layla justru memberikan serangan tambahan.
"Kakak itu, sebenarnya sedang mengincar orang
itu," ceplos Remy tiba-kira.
"APA!?" Polka tersentak.
"Wah, informasi yang sangat menarik. Jadi Polka-chan
mengincarnya, ya?" Layla menyeringai nakal.
"To-tolong anggap ucapan tadi sebagai candaan
saja..." pinta Polka memelas.
"Yah, kalau Polka-chan yang bergerak, kurasa pria mana
pun akan jatuh hati. Kamu hampir sempurna, apalagi punya 'senjata' sebesar itu
yang sampai mengapung di air," goda Layla lagi.
"Ka-kalau
Anda bilang begitu, aku senang mendengarnya, tapi..."
Polka
menyembunyikan dadanya dengan kedua lengan sambil memerah sampai ke telinga,
membayangkan jika dia benar-benar menjalin hubungan baik dengan Shikkoku.
"Lalu,
bagaimana dengan Remy? Apa Remy bisa membuat orang itu jatuh cinta?" tanya
Remy antusias.
"Kalau
untuk Remy-chan, kemungkinannya mutlak. Orang itu pasti punya mata yang bagus
dalam menilai orang," jawab Layla yakin.
"Ehm!"
Remy bangga.
Karena
Remy masih butuh beberapa tahun lagi untuk dewasa, Layla mengubah gaya
bicaranya.
"Remy-chan
juga suka orang itu?" tanya Layla lembut.
"Suka.
Karena dia sudah menolong Remy," jawabnya polos.
Meski itu alasan
sederhana khas anak-anak, fakta bahwa Polka pun melihatnya sebagai pria idaman
membuktikan bahwa kepribadian Shikkoku memang luar biasa.
"A-anu... Layla-sama," panggil Polka.
"Ada
apa?" jawab Layla.
"Layla-sama
sendiri, apa hubungan Anda dengan Shikkoku-sama?" tanya Polka ragu.
"Hahaha... Tenang saja. Kami cuma rekan kerja, tidak
ada hubungan yang spesial," jelas Layla.
Meski belum bisa memastikan apakah Shikkoku anggota Vertal,
aturan organisasi melarang untuk mengakuinya meskipun ditanya.
Namun, Layla yakin bahwa Shikkoku adalah satu-satunya orang
yang dipercaya memegang kendali di seluruh wilayah kekuasaan Kekaisaran.
"Tapi, aku sudah menginap di sini selama tiga hari
berturut-turut," tambah Layla.
"Eh?"
Polka terkejut.
"Se-selama
itu bersama Shikkoku-sama...?"
Polka menutupi
mulutnya dengan tangan, tampak iri, sementara Remy menunjukkan wajah terpana.
Melihat itu,
Layla buru-buru melambaikan tangan.
"Biar
kuberitahu ya, bukan berarti aku spesial. Kalau kalian minta, dia pasti akan mengizinkan
kalian menginap juga," jelas Layla.
"Aku ingin sekali, tapi orang tuaku tidak akan
mengizinkannya... Mereka bilang jangan sampai merepotkan Shikkoku-sama,"
keluh Polka.
"Masuk
akal sih. Mengingat posisinya, memang sulit untuk bertindak bebas,"
komentar Layla.
Dari
sudut pandang orang tua, Shikkoku adalah orang yang telah menyelamatkan Remy
dan memberikan ramuan ajaib yang sangat langka.
Wajar
jika mereka merasa sangat berutang budi dan harus bersikap sangat sopan
kepadanya.
"Dilihat
dari prestasi Layla-sama, apakah Shikkoku-sama memang sehebat itu?" tanya
Polka lagi.
"Hmm...
Janji ya, apa yang kukatakan ini rahasia di antara kita saja?"
Layla mengangkat
jari telunjuknya memberi isyarat "rahasia".
Setelah
melihat keduanya mengangguk, ia melanjutkan dengan serius.
"...Dia itu,
sudah pasti jauh di atasku. Baik dalam prestasi maupun kekuatan," ucap
Layla dengan wajah datar tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Se-sampai
Layla-sama mengakuinya seperti itu...?" tanya Polka tak percaya.
"Soalnya,
dia bisa menahan tembakan Magical Gun milikku tanpa menghindar,
gerakanku terbaca sepenuhnya, dan dia bahkan memberiku saran yang akurat.
Padahal kalau dirasakan secara langsung, dia terlihat sangat lemah...
benar-benar terlihat sangat lemah, tapi kalau dipikir lagi, dia mungkin saja
pernah menjelajahi dungeon level 8 sendirian untuk mengumpulkan ramuan
ajaib," jelas Layla panjang lebar.
"..." Polka dan Remy terdiam seribu bahasa.
"Sejujurnya, kalau tombol kemarahannya sudah ditekan,
tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Dia sudah masuk ke dalam kategori
'Monster'," tambah Layla.
Layla merasa alasan Shikkoku tidak pernah muncul di
pertemuan Vertal bukan hanya karena sibuk, tapi sepertinya ada
pengecualian khusus yang diberikan demi 'tidak merusak suasana hatinya'.
"Hebat... Keren sekali..." gumam Remy dengan mata
berbinar.
"Ternyata Shikkoku-sama... sehebat itu..." gumam
Polka dengan wajah penuh kekaguman.
"Bagiku pun,
dia pria yang sangat layak untuk diincar. Kalaupun seandainya dia lemah, dia
punya keberanian yang besar hanya untuk menolong kalian," tambah Layla.
"Anda benar
sekali..." ucap Polka tulus.
"Ehm!"
seru Remy setuju.
Tanpa sadar Layla
telah membakar semangat keduanya, namun karena itu adalah kejujurannya sendiri,
dia tidak merasa bersalah.
Kemudian, Layla
menyampaikan hal penting yang harus dikatakannya pada waktu yang tepat ini.
"Oh ya, ini
benar-benar ganti topik, tapi saat aku mengambil baju ganti tadi, aku dititipi
pesan oleh keluarga kalian," ucap Layla.
"Pesan?"
tanya Polka.
"'Bersiaplah
saat kalian pulang besok'," ucap Layla menirukan pesan itu.
"Geh..."
Polka menciut.
"Ah..."
Remy ikut lesu.
"Pfft!"
Layla tertawa melihat perubahan drastis wajah mereka.
Layla pun
menghabiskan sisa waktunya di bak mandi dengan perasaan sangat puas karena bisa
mandi bersama kakak-beradik Albrera.
◆◇◆
Setelah selesai
mandi, mereka mengobrol sambil menikmati permainan papan yang telah disiapkan
hingga malam semakin larut.
Meski tidak ada
yang mengatakannya, mereka sepakat untuk menyudahi permainan lebih awal demi
memikirkan kesehatan Remy.
"Padahal aku
masih ingin bermain," keluh Remy.
"Kita kan
sudah janji akan main lagi besok pagi? Sekarang tahan dulu, ya," bujuk
Polka.
"Muu,"
gumam Remy kesal.
Polka
membaringkan tubuhnya di kamar tidur yang telah disiapkan oleh Pak Residen
sambil menidurkan Remy.
"Kapan kita
bisa menginap lagi?" tanya Remy polos.
"Hmm. Kalau
kamu siap dimarahi, mungkin minggu depan atau minggu depannya lagi," jawab
Polka ragu.
"Aku mau
besok!" pinta Remy.
"Fufufu,
ternyata kamu sesenang itu, ya," ucap Polka sambil tersenyum.
"Apa Kakak
tidak merasa begitu juga?" tanya Remy balik.
"...Saat ini
aku sedang mencoba membohongi perasaanku sendiri. Kalau tidak, aku akan
terseret oleh keinginanmu seperti hari ini," jawab Polka tulus.
Maksud dari
"terseret" adalah tindakannya yang ikut memanfaatkan situasi tadi.
Melihat Marie
yang dengan patuh membawa pulang Nina, Polka merasa dialah yang paling bersalah
karena telah menunjukkan sikap memalukan sebagai seorang kakak.
Untuk menghindari
kesalahan yang sama, ia menekan keinginannya sendiri untuk menginap lagi.
"Padahal
tidak apa-apa kalau Kakak terseret," gumam Remy.
"Remy, kamu
harus bersikap benar, atau nanti kamu akan dibenci oleh Shikkoku-sama, lho.
Soalnya dia dikelilingi oleh banyak wanita hebat," nasihat Polka serius.
"...Ehm,
besok aku akan pulang tanpa merengek lagi," janji Remy.
"Aku
pun akan bersikap tegas sebagai kakak. Sebagai gantinya, mari kita bermain
sepuasnya besok pagi," ucap Polka.
"Kalau
begitu harus bangun pagi!" seru Remy semangat.
"Fufufu,
benar sekali," balas Polka.
Remy
mulai memeluk Polka erat-erat di dalam selimut, bersiap untuk tidur.
"Selamat
malam, Kakak," ucap Remy lirih.
"Selamat
malam, Remy," balas Polka lembut.
Sebenarnya, Polka
pun ingin bangun pagi-pagi sekali.
Tak lama setelah
Remy memejamkan mata, Polka ikut memejamkan mata sambil memeluk adiknya itu.
Keduanya pun
menunggu rasa kantuk datang di tengah kesunyian.
Mendengar
napas tidur Remy yang teratur, Polka akhirnya merasa tenang dan ikut terlelap.
Namun,
Polka terbangun di tengah malam karena merasakan adanya suara gesekan dan
guncangan pada tubuhnya.
"...U-uhm?" gumamnya pelan.
Di tengah malam yang sunyi itu, saat ia membuka matanya yang
berat, ia melihat bayangan kecil yang turun dari tempat tidur dan berdiri.
"Remy...?
Kamu mau ke mana? Ke
kamar mandi?" tanya Polka mengantuk.
"Bukan,
aku mau ke tempat orang itu. Mau tidur bareng," jawab Remy polos.
"Begitu... Eh, APA!? Itu tidak boleh!" seru Polka
yang seketika sadar sepenuhnya dari kantuknya.
Polka mencoba menggapai tangan Remy untuk menahannya, namun
Remy justru melesat keluar kamar menuju koridor.
"Tu-tunggu se-sebentar...!" Polka buru-buru
mengejar, namun ia terlambat satu langkah.
Begitu sampai di koridor, ia hanya bisa melihat pintu kamar
sebelah tertutup oleh Remy.
"Remy, sungguh deh..." gumam Polka panik.
Masuk ke kamar pria tanpa izin adalah tindakan yang sangat
tidak sopan.
Tapi, Polka tidak
bisa membiarkannya begitu saja.
Sebagai kakak, ia
harus membawa Remy kembali.
"...Be-benar-benar mohon maaf..."
Dengan perasaan
berat, Polka membuka pintu kamar tidur itu.
Tentu saja, ia
melihat Shikkoku yang sedang tidur lelap dengan Remy yang sudah meringkuk di
sampingnya.
"Ho-hoi
Remy, ayo kembali ke kamar. Kalau sekarang, aku tidak akan marah," bujuk
Polka pelan.
"Aku mau di
sini," tolak Remy.
"Tidak bisa
begitu!" bisik Polka dengan nada tegas agar tidak membangunkan Kai, namun
itu tidak mempan.
"Sebagai
gantinya, besok aku akan pulang tanpa merengek," janji Remy.
"Tapi..." Polka bimbang.
Melihat tekad Remy yang begitu kuat, Polka hanya bisa
terdiam bingung.
Jika ia memaksa
menarik tangan adiknya, ada kemungkinan Shikkoku akan terbangun.
Situasi ini
benar-benar menyulitkan Polka.
"Apa Kakak
mau ikut tidur di sini juga?" tanya Remy tiba-tiba.
"E-eh...!?"
Polka tersentak.
"Remy akan
tidur di sisi belakang, jadi tempat ini kuberikan untuk Kakak," ucap Remy
sambil merangkak pindah posisi.
Hasilnya, sebuah
ruang kosong untuk satu orang pun tercipta di samping Shikkoku.
"..." Polka terdiam.
Pikiran Polka
teringat kembali pada perkataannya kepada Remy sebelum tidur tadi. T
entang bagaimana
ia harus menahan diri dan bersikap tegas agar tidak dibenci oleh Shikkoku-sama.
Ia tidak boleh
terbawa godaan. Ia
tidak boleh melakukan tindakan yang tidak senonoh.
Dan yang
terpenting, ia tidak ingin dibenci jika tindakannya ketahuan nanti.
Namun,
meski otaknya menolak, tubuhnya justru tidak bisa diajak kompromi.
(Aku
ingin di sampingnya...)
Keinginan
itu meluap hingga tanpa sadar ia menggumamkannya.
"Se-sebentar saja... Kalau sudah sebentar, kita harus
kembali bersama, ya..." ucap Polka ragu.
"Ehm," jawab Remy singkat.
Mendengar jawaban Remy, Polka pun perlahan masuk ke ruang
kosong tersebut.
Ia berbaring dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan
Kai, dan memeluk pria yang tampak tidak berdaya itu seperti yang biasa ia
lakukan pada Remy.
"Ah..." gumam Polka pelan.
Tanpa sengaja wajah Kai bergerak dan menyentuh dadanya.
Polka sempat khawatir jantungnya yang berdebar kencang akan
membangunkan pria itu.
Namun seiring berjalannya waktu, rasa tegang itu berubah
menjadi rasa nyaman.
Kehangatan tubuh pria itu membuatnya merasa tenang, hingga
rasa kantuk pun segera menyerangnya.
"Shikkoku-sama..." bisik Polka lirih sebagai
ucapan terakhirnya sebelum akhirnya ia jatuh terlelap dengan pulas.
Usaha kerasnya mengejar Remy tadi harus dibayar dengan rasa
kantuk yang luar biasa, namun wajah tidurnya saat ini tampak sangat bahagia
hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dan keesokan
paginya.
"Ngh... Hmm? Ah... Sudah pagi, ya..."
Suasana pagi yang
tenang terusik oleh suara langkah kaki yang terburu-buru.
"Rasanya...
aku mendengar suara berisik yang sangat dekat..."
Kai
mengerjaki matanya yang masih mengantuk, namun tidak menemukan siapa pun di
dalam kamar.
"Hanya
perasaan... saja? Rasanya tadi ada aroma yang sangat harum... Dan
sesuatu yang empuk... Apa itu bantal? Tidak, rasanya berbeda..."
Ada kejanggalan yang menyelimuti bangun tidurnya kali ini,
namun ia tak mampu mengidentifikasi sumbernya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa
sprei kasurnya jauh lebih berantakan dari biasanya.
Kelak, Kai akan segera menghadapi sebuah kejadian yang
mengungkap segalanya.



Post a Comment