NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 3 Chapter 7

Chapter 7

Menginap


Suasana di dalam kediaman telah tenang.

"Aku... tidak tahu, ya? Kalau kalian dimarahi. Malah, aku yakin besok kalian pasti kena semprot," ucapku.

"Kalau bisa menginap, tidak masalah," balas Remy.

"Be-benar-benar mohon maaf atas segalanya. Sampai-sampai aku pun ikut menginap di sini..." Polka menunduk.

"Tidak, justru aku terbantu kalau ada Polka-san saat Remy menginap. Seperti yang kamu lihat, dia ini bandel sekali," ujarku.

"Mufu," gumam Remy bangga.

"Te-terima kasih banyak," balas Polka.

Di aula itu, ada aku yang dipaksa menggendong Remy di bahu, Polka yang tampak menciut sambil meminta maaf namun terlihat senang, dan Pak Residen yang berdiri di belakang mereka.

Alasan kenapa situasi ini terjadi adalah karena satu pertanyaan konfirmasi dari Layla, yang saat ini sedang terbang secepat kilat menuju kediaman keluarga Albrera untuk mengambil baju ganti mereka berdua dengan membawa surat tulisan tangan Polka.

"Hei, karena sudah selarut ini, boleh aku menginap?" begitu tanyanya tadi.

Mendengar itu, Remy langsung berseru girang, "Waa!", lalu menuntut, "Remy juga mau!", hingga akhirnya berhasil menembus pertahanan Polka dan jadilah seperti sekarang.

"Fufu, hari ini akan menjadi lebih ramai, ya. Jika Anda membutuhkan sesuatu, silakan hubungi saya kapan saja," ucap Pak Residen.

"Kami benar-benar berutang budi padamu," kata Polka.

"Berutang budi!" seru Remy menimpali.

"Baik. Silakan nikmati waktu kalian di sini," balas Pak Residen ramah.

Karena mereka semua sudah saling kenal, aku bisa mendengarkan percakapan ini dengan tenang.

"Kalau begitu, saya akan menyiapkan kamarnya. Apakah kalian ingin kamar tidurnya dipisah?" tanya Pak Residen.

"Tolong jadikan satu kamar saja dengan Remy. Dan biarkan aku ikut membantu menyiapkannya," jawab Polka sambil tersenyum.

Namun, Pak Residen justru mengalihkan pandangannya ke arahku seolah mengabaikan tawaran itu.

Karena aku sendiri pernah mencoba membantu dan ditolak dengan cara serupa, aku bisa memahami maksud di balik tatapannya.

"Ehem. Sayang sekali, tapi Polka-san punya tugas lain, yaitu menemaniku," ujarku tiba-tiba.

"Eh...!" Polka terkejut.

"Jadi, Pak Residen, tolong urus sisanya, ya," lanjutku.

"Dimengerti. Serahkan semuanya kepada saya," jawab Pak Residen.

"Ah..." gumam Polka tertahan.

Sebelum Polka sempat mencegahnya, Pak Residen sudah membungkuk dalam dan melangkah ringan keluar dari aula.

Aku sedikit ragu apakah ini pilihan yang tepat, tapi aku ingin memercayai senyum di wajahnya tadi.

"Permainan kombinasi yang hebat," komentar Remy.

"Entah apa maksudmu," balasku pura-pura tidak tahu.

"Payah dalam bersembunyi," sindir Remy lagi.

"Turun dari bahu sekarang, ya?" ancamku.

"Hebat sekali dalam bersembunyi," ralat Remy cepat.

"Nah, begitu dong," balasku puas.

Kalau aku mengakui soal "bersembunyi" itu, sama saja aku mengakui kalau aku sengaja melakukannya.

Tapi jika Remy saja sadar, Polka pasti menyadarinya juga.

Faktanya, Polka sekarang sedang menyipitkan mata seolah sadar telah dikerjai.

"Fufufu, kalau begitu, hari ini aku akan benar-benar menemani Shikkoku-sama sampai puas," ucap Polka.

"Itu... terima kasih kalau begitu," jawabku kaku.

Karena aku sendiri yang mengatakannya tadi, aku tidak bisa bilang "ternyata tidak jadi".

Aku belum terpikir bagaimana caranya dia akan "menemaniku", tapi aku senang melihatnya bersemangat.

"Ya sudah, untuk sekarang mari mengobrol sejenak—"

Tepat saat aku hendak bicara, suara ketukan di jendela kaca lantai dua bergema di aula.

"Hah? Uwo...!?" aku tersentak.

Saat menoleh ke arah sumber suara, di sana ada Layla yang sedang duduk santai di atas pedangnya yang melayang sambil membuka jendela.

Layla kemudian masuk ke dalam sambil membawa tas kain yang tampak cantik.

"Ini, aku bawakan baju ganti untuk kalian berdua," ucap Layla.

"Terima kasih. Ini sangat membantu," balas Polka.

"Mohon maaf sudah merepotkan Layla-sama sampai seperti ini..." Polka membungkuk lagi.

"Tidak perlu dipikirkan. Pakai sihir Fly cuma butuh sekejap kok. Tapi, 'janji itu' harus ditepati, ya?" Layla menyeringai.

"Ehm!" Remy mengangguk mantap.

"Tentu saja," jawab Polka yakin.

Melihat Layla yang menyeringai nakal, Remy dan Polka membalasnya dengan jawaban yang mantap.

Aku pun ikut menyela percakapan mereka.

"Jadi kamu serius, ya? Soal janji 'kalau kalian mau mandi bersamaku, aku akan segera mengambilkan baju ganti'."

"Memangnya kenapa? Tidak boleh?" tanya Layla balik.

"Tidak, cuma agak mengejutkan saja," balasku.

Mengingat kepribadian Layla, aku sempat mengira dia akan menjawab dengan "Cuma bercanda, kok".

"Yah... aku paham maksudmu. Harusnya aku bersikap lebih dewasa, kan? Tapi tahu tidak, kesempatan untuk mandi ramai-ramai begini jarang ada. Aku suka suasana yang berisik," jelas Layla.

"Aku mengerti," jawabku singkat.

Ini pertama kalinya aku tahu kalau Layla ternyata tipe orang yang takut kesepian.

Jika dipikirkan lagi, mungkin dia mengajak duel hanya untuk mengisi rasa sepi dan mencari perhatian seseorang—ternyata dia punya sisi yang cukup manis di balik penampilannya.

"Ah, benar juga. Bagaimana kalau kamu ikut mandi bareng sekalian?" ajak Layla tiba-tiba.

"Remy juga setuju!" seru Remy.

"Eh...!?" Polka terperanjat.

Wajah Polka langsung memerah padam, lebih parah dari siapa pun di sana.

"Tidak, aku pilih untuk menolak," jawabku tegas.

"Jawaban yang membosankan. Harusnya kamu mengiyakannya," keluh Layla.

"Ehm," dukung Remy.

"Terserah kalian mau bilang apa," balasku tidak peduli.

Meski situasinya sangat menggoda, rasa maluku jauh lebih besar.

Lagipula, mandi bersama akan memberikan pengaruh buruk bagi anak seusia Remy.

Di saat Layla dan Remy tampak tidak puas, Polka justru menghela napas lega.

"Kenapa kalian tidak pergi mandi sekarang saja?" usulku.

"Ide bagus. Kesal sih karena ini usul darimu," gerutu Layla.

"Kenapa lagi, sih?" balasku heran.

"Antarkan kami sampai ke kamar mandi," tuntut Layla.

"Remy juga harus jalan sendiri, ya," tambahku.

Aku punya firasat kalau aku mengantar mereka sampai ke kamar mandi, aku akan diseret masuk sampai ke dalam bak mandi. Aku menekuk lutut, merendahkan tubuh, dan menurunkan Remy dari bahuku ke lantai.

"Anu... apakah tidak apa-apa jika kami mandi lebih dulu?" tanya Polka ragu.

"Tentu saja. Pakai saja sesuka kalian," jawabku.

"Terima kasih banyak. Kalau begitu, kami terima tawaran Anda," Polka membungkuk sopan.

"Ayo kalau begitu. Kamu mungkin sudah tahu, tapi kamar mandinya lewat sini," Layla mulai memandu.

Karena Layla sudah menginap beberapa hari berturut-turut, dia mulai bertingkah seolah dirinya adalah penghuni kediaman ini.

"Selamat menikmati," ucapku sebagai salam terakhir saat mereka bertiga menuju kamar mandi.

"Nah, sekarang..."

Setelah sendirian di aula, aku memutuskan untuk pergi membantu Pak Residen.

◆◇◆

"Ah, bak mandi luas memang yang terbaik, ya. Bikin iri saja," desah Layla puas.

"Fufu, bukankah Layla-sama juga menggunakan bak mandi yang serupa?" tanya Polka.

"Remy juga berpikir begitu," timpal Remy.

"Sama sekali tidak. Tempat tinggalku ada di dalam asosiasi, jadi kamarnya terasa biasa saja, tidak sempit tapi tidak luas juga," jelas Layla.

Tak lama setelah berpisah dengan Kai, mereka bertiga—Layla, Polka, dan Remy—telah selesai membasuh diri dan kini berendam di bak mandi besar yang cukup untuk lima orang sambil mengobrol asyik.

"Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya kalian menginap di sini?" tanya Layla.

"Benar. Karena ini yang pertama, Remy jadi sedikit lebih manja dari biasanya," jawab Polka sambil mengelus kepala Remy.

Polka berniat memberi tahu bahwa biasanya Remy adalah anak yang lebih penurut, namun hal itu justru menjadi bumerang baginya.

"Kakak bilang begitu, tapi tadi Kakak sama sekali tidak memarahi Remy," protes Remy.

"Ta-tapi aku tetap mencoba menghentikanmu, kan?" bela Polka gagap.

"Tadi Kakak lebih lembek dari biasanya," sindir Remy telak.

"Begitu ya. Jadi sebenarnya Polka-chan juga memang berniat ikut menginap dengan memanfaatkan situasi, ya?" goda Layla.

"I-itu... soal itu..." Polka mati kutu karena rahasianya terbongkar.

Polka mencoba menenggelamkan wajahnya ke dalam air untuk mengalihkan pembicaraan, namun Layla justru memberikan serangan tambahan.

"Kakak itu, sebenarnya sedang mengincar orang itu," ceplos Remy tiba-kira.

"APA!?" Polka tersentak.

"Wah, informasi yang sangat menarik. Jadi Polka-chan mengincarnya, ya?" Layla menyeringai nakal.

"To-tolong anggap ucapan tadi sebagai candaan saja..." pinta Polka memelas.

"Yah, kalau Polka-chan yang bergerak, kurasa pria mana pun akan jatuh hati. Kamu hampir sempurna, apalagi punya 'senjata' sebesar itu yang sampai mengapung di air," goda Layla lagi.

"Ka-kalau Anda bilang begitu, aku senang mendengarnya, tapi..."

Polka menyembunyikan dadanya dengan kedua lengan sambil memerah sampai ke telinga, membayangkan jika dia benar-benar menjalin hubungan baik dengan Shikkoku.

"Lalu, bagaimana dengan Remy? Apa Remy bisa membuat orang itu jatuh cinta?" tanya Remy antusias.

"Kalau untuk Remy-chan, kemungkinannya mutlak. Orang itu pasti punya mata yang bagus dalam menilai orang," jawab Layla yakin.

"Ehm!" Remy bangga.

Karena Remy masih butuh beberapa tahun lagi untuk dewasa, Layla mengubah gaya bicaranya.

"Remy-chan juga suka orang itu?" tanya Layla lembut.

"Suka. Karena dia sudah menolong Remy," jawabnya polos.

Meski itu alasan sederhana khas anak-anak, fakta bahwa Polka pun melihatnya sebagai pria idaman membuktikan bahwa kepribadian Shikkoku memang luar biasa.

"A-anu... Layla-sama," panggil Polka.

"Ada apa?" jawab Layla.

"Layla-sama sendiri, apa hubungan Anda dengan Shikkoku-sama?" tanya Polka ragu.

"Hahaha... Tenang saja. Kami cuma rekan kerja, tidak ada hubungan yang spesial," jelas Layla.

Meski belum bisa memastikan apakah Shikkoku anggota Vertal, aturan organisasi melarang untuk mengakuinya meskipun ditanya.

Namun, Layla yakin bahwa Shikkoku adalah satu-satunya orang yang dipercaya memegang kendali di seluruh wilayah kekuasaan Kekaisaran.

"Tapi, aku sudah menginap di sini selama tiga hari berturut-turut," tambah Layla.

"Eh?" Polka terkejut.

"Se-selama itu bersama Shikkoku-sama...?"

Polka menutupi mulutnya dengan tangan, tampak iri, sementara Remy menunjukkan wajah terpana.

Melihat itu, Layla buru-buru melambaikan tangan.

"Biar kuberitahu ya, bukan berarti aku spesial. Kalau kalian minta, dia pasti akan mengizinkan kalian menginap juga," jelas Layla.

"Aku ingin sekali, tapi orang tuaku tidak akan mengizinkannya... Mereka bilang jangan sampai merepotkan Shikkoku-sama," keluh Polka.

"Masuk akal sih. Mengingat posisinya, memang sulit untuk bertindak bebas," komentar Layla.

Dari sudut pandang orang tua, Shikkoku adalah orang yang telah menyelamatkan Remy dan memberikan ramuan ajaib yang sangat langka.

Wajar jika mereka merasa sangat berutang budi dan harus bersikap sangat sopan kepadanya.

"Dilihat dari prestasi Layla-sama, apakah Shikkoku-sama memang sehebat itu?" tanya Polka lagi.

"Hmm... Janji ya, apa yang kukatakan ini rahasia di antara kita saja?"

Layla mengangkat jari telunjuknya memberi isyarat "rahasia".

Setelah melihat keduanya mengangguk, ia melanjutkan dengan serius.

"...Dia itu, sudah pasti jauh di atasku. Baik dalam prestasi maupun kekuatan," ucap Layla dengan wajah datar tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Se-sampai Layla-sama mengakuinya seperti itu...?" tanya Polka tak percaya.

"Soalnya, dia bisa menahan tembakan Magical Gun milikku tanpa menghindar, gerakanku terbaca sepenuhnya, dan dia bahkan memberiku saran yang akurat. Padahal kalau dirasakan secara langsung, dia terlihat sangat lemah... benar-benar terlihat sangat lemah, tapi kalau dipikir lagi, dia mungkin saja pernah menjelajahi dungeon level 8 sendirian untuk mengumpulkan ramuan ajaib," jelas Layla panjang lebar.

"..." Polka dan Remy terdiam seribu bahasa.

"Sejujurnya, kalau tombol kemarahannya sudah ditekan, tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Dia sudah masuk ke dalam kategori 'Monster'," tambah Layla.

Layla merasa alasan Shikkoku tidak pernah muncul di pertemuan Vertal bukan hanya karena sibuk, tapi sepertinya ada pengecualian khusus yang diberikan demi 'tidak merusak suasana hatinya'.

"Hebat... Keren sekali..." gumam Remy dengan mata berbinar.

"Ternyata Shikkoku-sama... sehebat itu..." gumam Polka dengan wajah penuh kekaguman.

"Bagiku pun, dia pria yang sangat layak untuk diincar. Kalaupun seandainya dia lemah, dia punya keberanian yang besar hanya untuk menolong kalian," tambah Layla.

"Anda benar sekali..." ucap Polka tulus.

"Ehm!" seru Remy setuju.

Tanpa sadar Layla telah membakar semangat keduanya, namun karena itu adalah kejujurannya sendiri, dia tidak merasa bersalah.

Kemudian, Layla menyampaikan hal penting yang harus dikatakannya pada waktu yang tepat ini.

"Oh ya, ini benar-benar ganti topik, tapi saat aku mengambil baju ganti tadi, aku dititipi pesan oleh keluarga kalian," ucap Layla.

"Pesan?" tanya Polka.

"'Bersiaplah saat kalian pulang besok'," ucap Layla menirukan pesan itu.

"Geh..." Polka menciut.

"Ah..." Remy ikut lesu.

"Pfft!" Layla tertawa melihat perubahan drastis wajah mereka.

Layla pun menghabiskan sisa waktunya di bak mandi dengan perasaan sangat puas karena bisa mandi bersama kakak-beradik Albrera.

◆◇◆

Setelah selesai mandi, mereka mengobrol sambil menikmati permainan papan yang telah disiapkan hingga malam semakin larut.

Meski tidak ada yang mengatakannya, mereka sepakat untuk menyudahi permainan lebih awal demi memikirkan kesehatan Remy.

"Padahal aku masih ingin bermain," keluh Remy.

"Kita kan sudah janji akan main lagi besok pagi? Sekarang tahan dulu, ya," bujuk Polka.

"Muu," gumam Remy kesal.

Polka membaringkan tubuhnya di kamar tidur yang telah disiapkan oleh Pak Residen sambil menidurkan Remy.

"Kapan kita bisa menginap lagi?" tanya Remy polos.

"Hmm. Kalau kamu siap dimarahi, mungkin minggu depan atau minggu depannya lagi," jawab Polka ragu.

"Aku mau besok!" pinta Remy.

"Fufufu, ternyata kamu sesenang itu, ya," ucap Polka sambil tersenyum.

"Apa Kakak tidak merasa begitu juga?" tanya Remy balik.

"...Saat ini aku sedang mencoba membohongi perasaanku sendiri. Kalau tidak, aku akan terseret oleh keinginanmu seperti hari ini," jawab Polka tulus.

Maksud dari "terseret" adalah tindakannya yang ikut memanfaatkan situasi tadi.

Melihat Marie yang dengan patuh membawa pulang Nina, Polka merasa dialah yang paling bersalah karena telah menunjukkan sikap memalukan sebagai seorang kakak.

Untuk menghindari kesalahan yang sama, ia menekan keinginannya sendiri untuk menginap lagi.

"Padahal tidak apa-apa kalau Kakak terseret," gumam Remy.

"Remy, kamu harus bersikap benar, atau nanti kamu akan dibenci oleh Shikkoku-sama, lho. Soalnya dia dikelilingi oleh banyak wanita hebat," nasihat Polka serius.

"...Ehm, besok aku akan pulang tanpa merengek lagi," janji Remy.

"Aku pun akan bersikap tegas sebagai kakak. Sebagai gantinya, mari kita bermain sepuasnya besok pagi," ucap Polka.

"Kalau begitu harus bangun pagi!" seru Remy semangat.

"Fufufu, benar sekali," balas Polka.

Remy mulai memeluk Polka erat-erat di dalam selimut, bersiap untuk tidur.

"Selamat malam, Kakak," ucap Remy lirih.

"Selamat malam, Remy," balas Polka lembut.

Sebenarnya, Polka pun ingin bangun pagi-pagi sekali.

Tak lama setelah Remy memejamkan mata, Polka ikut memejamkan mata sambil memeluk adiknya itu.

Keduanya pun menunggu rasa kantuk datang di tengah kesunyian.

Mendengar napas tidur Remy yang teratur, Polka akhirnya merasa tenang dan ikut terlelap.

Namun, Polka terbangun di tengah malam karena merasakan adanya suara gesekan dan guncangan pada tubuhnya.

"...U-uhm?" gumamnya pelan.

Di tengah malam yang sunyi itu, saat ia membuka matanya yang berat, ia melihat bayangan kecil yang turun dari tempat tidur dan berdiri.

"Remy...? Kamu mau ke mana? Ke kamar mandi?" tanya Polka mengantuk.

"Bukan, aku mau ke tempat orang itu. Mau tidur bareng," jawab Remy polos.

"Begitu... Eh, APA!? Itu tidak boleh!" seru Polka yang seketika sadar sepenuhnya dari kantuknya.

Polka mencoba menggapai tangan Remy untuk menahannya, namun Remy justru melesat keluar kamar menuju koridor.

"Tu-tunggu se-sebentar...!" Polka buru-buru mengejar, namun ia terlambat satu langkah.

Begitu sampai di koridor, ia hanya bisa melihat pintu kamar sebelah tertutup oleh Remy.

"Remy, sungguh deh..." gumam Polka panik.

Masuk ke kamar pria tanpa izin adalah tindakan yang sangat tidak sopan.

Tapi, Polka tidak bisa membiarkannya begitu saja.

Sebagai kakak, ia harus membawa Remy kembali.

"...Be-benar-benar mohon maaf..."

Dengan perasaan berat, Polka membuka pintu kamar tidur itu.

Tentu saja, ia melihat Shikkoku yang sedang tidur lelap dengan Remy yang sudah meringkuk di sampingnya.

"Ho-hoi Remy, ayo kembali ke kamar. Kalau sekarang, aku tidak akan marah," bujuk Polka pelan.

"Aku mau di sini," tolak Remy.

"Tidak bisa begitu!" bisik Polka dengan nada tegas agar tidak membangunkan Kai, namun itu tidak mempan.

"Sebagai gantinya, besok aku akan pulang tanpa merengek," janji Remy.

"Tapi..." Polka bimbang.

Melihat tekad Remy yang begitu kuat, Polka hanya bisa terdiam bingung.

Jika ia memaksa menarik tangan adiknya, ada kemungkinan Shikkoku akan terbangun.

Situasi ini benar-benar menyulitkan Polka.

"Apa Kakak mau ikut tidur di sini juga?" tanya Remy tiba-tiba.

"E-eh...!?" Polka tersentak.

"Remy akan tidur di sisi belakang, jadi tempat ini kuberikan untuk Kakak," ucap Remy sambil merangkak pindah posisi.

Hasilnya, sebuah ruang kosong untuk satu orang pun tercipta di samping Shikkoku.

"..." Polka terdiam.

Pikiran Polka teringat kembali pada perkataannya kepada Remy sebelum tidur tadi. T

entang bagaimana ia harus menahan diri dan bersikap tegas agar tidak dibenci oleh Shikkoku-sama.

Ia tidak boleh terbawa godaan. Ia tidak boleh melakukan tindakan yang tidak senonoh.

Dan yang terpenting, ia tidak ingin dibenci jika tindakannya ketahuan nanti.

Namun, meski otaknya menolak, tubuhnya justru tidak bisa diajak kompromi.

(Aku ingin di sampingnya...)

Keinginan itu meluap hingga tanpa sadar ia menggumamkannya.

"Se-sebentar saja... Kalau sudah sebentar, kita harus kembali bersama, ya..." ucap Polka ragu.

"Ehm," jawab Remy singkat.

Mendengar jawaban Remy, Polka pun perlahan masuk ke ruang kosong tersebut.

Ia berbaring dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Kai, dan memeluk pria yang tampak tidak berdaya itu seperti yang biasa ia lakukan pada Remy.

"Ah..." gumam Polka pelan.

Tanpa sengaja wajah Kai bergerak dan menyentuh dadanya.

Polka sempat khawatir jantungnya yang berdebar kencang akan membangunkan pria itu.

Namun seiring berjalannya waktu, rasa tegang itu berubah menjadi rasa nyaman.

Kehangatan tubuh pria itu membuatnya merasa tenang, hingga rasa kantuk pun segera menyerangnya.

"Shikkoku-sama..." bisik Polka lirih sebagai ucapan terakhirnya sebelum akhirnya ia jatuh terlelap dengan pulas.

Usaha kerasnya mengejar Remy tadi harus dibayar dengan rasa kantuk yang luar biasa, namun wajah tidurnya saat ini tampak sangat bahagia hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Dan keesokan paginya.

"Ngh... Hmm? Ah... Sudah pagi, ya..."




Suasana pagi yang tenang terusik oleh suara langkah kaki yang terburu-buru.

"Rasanya... aku mendengar suara berisik yang sangat dekat..."

Kai mengerjaki matanya yang masih mengantuk, namun tidak menemukan siapa pun di dalam kamar.

"Hanya perasaan... saja? Rasanya tadi ada aroma yang sangat harum... Dan sesuatu yang empuk... Apa itu bantal? Tidak, rasanya berbeda..."

Ada kejanggalan yang menyelimuti bangun tidurnya kali ini, namun ia tak mampu mengidentifikasi sumbernya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa sprei kasurnya jauh lebih berantakan dari biasanya.

Kelak, Kai akan segera menghadapi sebuah kejadian yang mengungkap segalanya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close