Prolog
"Benar-benar tindakan yang luar biasa ya. Kalau
boleh jujur, Anda sama sekali tidak memberikan ampun."
"Tidak, aku tidak bermaksud begitu. Iya...
sungguh."
Entah bagaimana ceritanya, hari itu ia berhasil
kembali dengan selamat ke kota Aldia bersama tiga gadis yang sempat diculik. Ia
juga baru saja menyelesaikan sesi sapaan berturut-turut dengan putri keluarga
Duke dan putri dari Gereja Seisei.
Lalu, setelah menyantap makan malam di kedai
penginapan yang dikelola paman pemilik yang ramah...
Ia malah berhadapan dengan musuh yang tiba-tiba
menyerang di jalanan malam, yang berujung pada—hancurnya jembatan batu kota.
Kejadian itu berlanjut pada siang hari berikutnya.
"Aku sudah menduga suatu saat Anda akan melakukan
hal seperti ini, tapi aku terkejut karena ternyata jauh lebih cepat dari
bayanganku."
"Haha...
Masa, sih."
Saat ini, pemeriksaan mengenai kejadian semalam oleh
pihak pemerintah dan penjaga kota baru saja selesai.
Di sana ada sang Residen yang menatap dengan ekspresi
sulit diartikan, dan seorang pria yang melempar senyum kaku—Kai.
"Pokoknya, itu... terima kasih banyak atas
bantuannya menangani berbagai hal tadi."
"Anda melakukan hal itu termasuk untuk menguji
kemampuan pemrosesanku, bukan? Jembatan batu itu bukan jalur utama logistik,
jadi tidak ada pengaruh signifikan bagi urat nadi kota ini."
"Enggak, ya kali..."
Kai melambaikan tangan menyangkal ucapan sang Residen
yang berwajah serius itu.
Mana mungkin ia tahu kalau itu 'bukan jalur utama
logistik'.
Semuanya murni kebetulan belaka.
Lagipula, di sini ia tidak melakukan kesalahan apa pun;
pihak lawanlah yang salah karena menyerang dengan niat bunuh yang meluap-luap.
Ia hanya melawan sekuat tenaga demi melindungi nyawa,
lalu jembatan itu hancur karena performa senjatanya yang kelewat batas.
"Begitu ya. Kalau begitu, bolehkah saya mengajukan
satu pertanyaan?"
"Apa itu?"
"Bagaimana penilaian Anda terhadap penangananku?
Jika ada kekurangan, mohon jangan sungkan untuk memberi tahu."
"A-ah...
(karena aku tidak diseret keluar dari kamar) itu tadi sempurna."
"Terima
kasih. Saya lega mendengarnya."
"Begitu
ya..."
Dalam
kasus kali ini, Kai hanya bisa pasrah dan menyerahkan segalanya saat sang
Residen menawarkan diri, "Biar saya yang menanganinya sebagai perwakilan
Anda."
Mungkin
karena itulah, analisis mendalam sang Residen yang cerdas tidak mau berhenti.
Meski
sudah disangkal, dia tetap tampak yakin bahwa 'ada tujuan untuk menguji
kemampuan pemrosesan' di balik kejadian itu.
(Mana
mungkin aku tahu kalau komplotan berempat itu terlibat dengan organisasi agama
baru atau punya hubungan dengan organisasi kriminal...)
Kai
menggumamkan isi hatinya yang tak bisa diucapkan itu di dalam batin.
(Lagipula aku ini orang luar yang tidak ada sangkut
pautnya...)
Sampai sekarang ia masih tidak paham.
Alasan kenapa empat orang yang bahkan belum pernah ia
lihat wajahnya itu mengarahkan permusuhan kuat dan melakukan serangan malam
padanya.
Secara mendasar, ia tidak mengerti rentetan kejadiannya,
tapi suasananya tidak memungkinkan baginya untuk bertanya satu per satu.
"Anu... Pak Residen. Ganti topik, ada yang ingin aku
tanyakan juga."
"Silakan."
"Biaya perbaikan jembatan yang aku hancurkan... itu
jadinya bagaimana...?"
Semalam ia tidak bisa tidur.
Ia dihantui ketakutan kalau-kalau akan ditangkap, dan
kecemasan apakah ia bisa membayar ganti rugi perbaikan jembatan tersebut.
"Mengenai biaya perbaikan jembatan, tidak ada biaya
yang perlu Anda bayar."
"Eh? Benarkah?"
"Itu fakta. Saya sudah merangkum laporannya bahwa
tindakan tersebut tidak bisa dihindari demi bela diri sekaligus menangkap musuh
secara pasti."
"Ho-hou...
Ternyata urusannya bisa selesai semudah itu ya..."
"Tentu
saja ada banyak bantahan. Mereka bilang, 'Mana mungkin sosok yang bisa
meruntuhkan jembatan dengan mudah merasa terpojok hanya untuk menangkap musuh'.
Atau, 'Bukankah itu termasuk bela diri yang berlebihan?'."
"……"
Memang
jika dipikirkan secara objektif, itu adalah reaksi yang alami.
Meski Kai adalah pelakunya, ia merasa pendapat pihak
ketiga itu sangat tepat sasaran.
"Tapi pada akhirnya mereka setuju. Meski sangat
aneh, semua beres hanya dengan satu kalimat: 'Jadi, Anda bermaksud mengatakan
bahwa Tuan Shikkoku sedang berbohong?'."
"Hm? Bukankah itu terdengar seperti ancaman?"
"Tidak, itu hanya konfirmasi."
"Terdengar seperti ancaman 'apa Anda berani
menyinggung perasaannya?'."
"Bukan. Hanya konfirmasi biasa."
"……Begitu ya."
"Iya. Karena hanya konfirmasi, tidak ada masalah apa
pun."
Karena sudah menyerahkan segalanya, Kai tidak bisa
protes.
Ia seharusnya bersyukur karena urusannya bisa dibawa ke
kondisi 'gratis'.
"Oleh karena itu, masalah ini sudah selesai, jadi ke
depannya tidak akan ada pemeriksaan lagi. Jika Anda diperiksa lagi, tolong beri
tahu saya. Saya harus melakukan berbagai tindakan."
"O-oke, aku mengerti..."
"Jika butuh penanganan segera, saya akan
melaporkannya ke keluarga Ansarage dari Gereja Seisei. Biaya perbaikan didukung
penuh oleh Tiga Kekuatan Besar, tapi pihak merekalah yang menjadi
pemimpinnya."
"Ah, iya..."
Apakah hanya perasaannya saja kalau ada 'tekanan' bernama
kekuasaan yang ikut bermain di sini? Tidak, ia memutuskan untuk menganggap itu
hanya perasaannya saja.
Kalimat 'Saya harus melakukan berbagai tindakan' yang
terdengar seperti kode untuk membereskan orang pun pasti cuma gara-gara dia
terlalu banyak pikiran.
"……Anu, jadi sekarang perbaikan jembatannya sudah
dimulai?"
"Benar. Karena dikerjakan menggunakan sihir,
kabarnya perbaikan akan selesai besok."
"Kalau begitu, aku mau pergi mengantar bingkisan
makanan. Seperti yang kukatakan pagi tadi."
"Sekali lagi saya tawarkan, perlukah saya memanggil
kurir?"
Kai paham bahwa yang dimaksud 'kurir' itu adalah
orang-orang yang berafiliasi dengan keluarga Duke.
Tentu saja, sebagai orang biasa, ia tidak ingin terlalu
banyak meminjam kekuatan orang-orang berkuasa yang mengerikan itu.
"Tidak, apa yang bisa kukerjakan sendiri, akan
kukerjakan sendiri. Tidak enak rasanya kalau cuma berpangku tangan terus."
Mungkin tidak masalah jika menyerahkannya pada orang
lain, tapi baginya, inilah cara untuk menunjukkan etika.
"Itu sangat mencerminkan diri Anda. Bagaimana dengan
perlengkapan Anda?"
"Tentu saja akan kupakai."
Ia tidak mau ambil risiko jika diserang lagi seperti
semalam.
Selain untuk berjaga-jaga, wujud ini juga praktis
sebagai bukti bahwa si pelaku sendirilah yang datang membawa bingkisan.
"……Saya mengerti. Mohon berhati-hati saat di
luar."
"Terima kasih. Untuk semuanya."
"Sama-sama."
Kai juga menyampaikan rasa terima kasih atas penanganan
urusan pemerintah tadi.
──Tanpa pernah mengetahui alasan sebenarnya kenapa sang Residen memastikan soal perlengkapannya tadi.



Post a Comment