NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 2 Prolog

Prolog


"Benar-benar tindakan yang luar biasa ya. Kalau boleh jujur, Anda sama sekali tidak memberikan ampun."

"Tidak, aku tidak bermaksud begitu. Iya... sungguh."

Entah bagaimana ceritanya, hari itu ia berhasil kembali dengan selamat ke kota Aldia bersama tiga gadis yang sempat diculik. Ia juga baru saja menyelesaikan sesi sapaan berturut-turut dengan putri keluarga Duke dan putri dari Gereja Seisei.

Lalu, setelah menyantap makan malam di kedai penginapan yang dikelola paman pemilik yang ramah...

Ia malah berhadapan dengan musuh yang tiba-tiba menyerang di jalanan malam, yang berujung pada—hancurnya jembatan batu kota.

Kejadian itu berlanjut pada siang hari berikutnya.

"Aku sudah menduga suatu saat Anda akan melakukan hal seperti ini, tapi aku terkejut karena ternyata jauh lebih cepat dari bayanganku."

"Haha... Masa, sih."

Saat ini, pemeriksaan mengenai kejadian semalam oleh pihak pemerintah dan penjaga kota baru saja selesai.

Di sana ada sang Residen yang menatap dengan ekspresi sulit diartikan, dan seorang pria yang melempar senyum kaku—Kai.

"Pokoknya, itu... terima kasih banyak atas bantuannya menangani berbagai hal tadi."

"Anda melakukan hal itu termasuk untuk menguji kemampuan pemrosesanku, bukan? Jembatan batu itu bukan jalur utama logistik, jadi tidak ada pengaruh signifikan bagi urat nadi kota ini."

"Enggak, ya kali..."

Kai melambaikan tangan menyangkal ucapan sang Residen yang berwajah serius itu.

Mana mungkin ia tahu kalau itu 'bukan jalur utama logistik'.

Semuanya murni kebetulan belaka.

Lagipula, di sini ia tidak melakukan kesalahan apa pun; pihak lawanlah yang salah karena menyerang dengan niat bunuh yang meluap-luap.

Ia hanya melawan sekuat tenaga demi melindungi nyawa, lalu jembatan itu hancur karena performa senjatanya yang kelewat batas.

"Begitu ya. Kalau begitu, bolehkah saya mengajukan satu pertanyaan?"

"Apa itu?"

"Bagaimana penilaian Anda terhadap penangananku? Jika ada kekurangan, mohon jangan sungkan untuk memberi tahu."

"A-ah... (karena aku tidak diseret keluar dari kamar) itu tadi sempurna."

"Terima kasih. Saya lega mendengarnya."

"Begitu ya..."

Dalam kasus kali ini, Kai hanya bisa pasrah dan menyerahkan segalanya saat sang Residen menawarkan diri, "Biar saya yang menanganinya sebagai perwakilan Anda."

Mungkin karena itulah, analisis mendalam sang Residen yang cerdas tidak mau berhenti.

Meski sudah disangkal, dia tetap tampak yakin bahwa 'ada tujuan untuk menguji kemampuan pemrosesan' di balik kejadian itu.

(Mana mungkin aku tahu kalau komplotan berempat itu terlibat dengan organisasi agama baru atau punya hubungan dengan organisasi kriminal...)

Kai menggumamkan isi hatinya yang tak bisa diucapkan itu di dalam batin.

(Lagipula aku ini orang luar yang tidak ada sangkut pautnya...)

Sampai sekarang ia masih tidak paham.

Alasan kenapa empat orang yang bahkan belum pernah ia lihat wajahnya itu mengarahkan permusuhan kuat dan melakukan serangan malam padanya.

Secara mendasar, ia tidak mengerti rentetan kejadiannya, tapi suasananya tidak memungkinkan baginya untuk bertanya satu per satu.

"Anu... Pak Residen. Ganti topik, ada yang ingin aku tanyakan juga."

"Silakan."

"Biaya perbaikan jembatan yang aku hancurkan... itu jadinya bagaimana...?"

Semalam ia tidak bisa tidur.

Ia dihantui ketakutan kalau-kalau akan ditangkap, dan kecemasan apakah ia bisa membayar ganti rugi perbaikan jembatan tersebut.

"Mengenai biaya perbaikan jembatan, tidak ada biaya yang perlu Anda bayar."

"Eh? Benarkah?"

"Itu fakta. Saya sudah merangkum laporannya bahwa tindakan tersebut tidak bisa dihindari demi bela diri sekaligus menangkap musuh secara pasti."

"Ho-hou... Ternyata urusannya bisa selesai semudah itu ya..."

"Tentu saja ada banyak bantahan. Mereka bilang, 'Mana mungkin sosok yang bisa meruntuhkan jembatan dengan mudah merasa terpojok hanya untuk menangkap musuh'. Atau, 'Bukankah itu termasuk bela diri yang berlebihan?'."

"……"

Memang jika dipikirkan secara objektif, itu adalah reaksi yang alami.

Meski Kai adalah pelakunya, ia merasa pendapat pihak ketiga itu sangat tepat sasaran.

"Tapi pada akhirnya mereka setuju. Meski sangat aneh, semua beres hanya dengan satu kalimat: 'Jadi, Anda bermaksud mengatakan bahwa Tuan Shikkoku sedang berbohong?'."

"Hm? Bukankah itu terdengar seperti ancaman?"

"Tidak, itu hanya konfirmasi."

"Terdengar seperti ancaman 'apa Anda berani menyinggung perasaannya?'."

"Bukan. Hanya konfirmasi biasa."

"……Begitu ya."

"Iya. Karena hanya konfirmasi, tidak ada masalah apa pun."

Karena sudah menyerahkan segalanya, Kai tidak bisa protes.

Ia seharusnya bersyukur karena urusannya bisa dibawa ke kondisi 'gratis'.

"Oleh karena itu, masalah ini sudah selesai, jadi ke depannya tidak akan ada pemeriksaan lagi. Jika Anda diperiksa lagi, tolong beri tahu saya. Saya harus melakukan berbagai tindakan."

"O-oke, aku mengerti..."

"Jika butuh penanganan segera, saya akan melaporkannya ke keluarga Ansarage dari Gereja Seisei. Biaya perbaikan didukung penuh oleh Tiga Kekuatan Besar, tapi pihak merekalah yang menjadi pemimpinnya."

"Ah, iya..."

Apakah hanya perasaannya saja kalau ada 'tekanan' bernama kekuasaan yang ikut bermain di sini? Tidak, ia memutuskan untuk menganggap itu hanya perasaannya saja.

Kalimat 'Saya harus melakukan berbagai tindakan' yang terdengar seperti kode untuk membereskan orang pun pasti cuma gara-gara dia terlalu banyak pikiran.

"……Anu, jadi sekarang perbaikan jembatannya sudah dimulai?"

"Benar. Karena dikerjakan menggunakan sihir, kabarnya perbaikan akan selesai besok."

"Kalau begitu, aku mau pergi mengantar bingkisan makanan. Seperti yang kukatakan pagi tadi."

"Sekali lagi saya tawarkan, perlukah saya memanggil kurir?"

Kai paham bahwa yang dimaksud 'kurir' itu adalah orang-orang yang berafiliasi dengan keluarga Duke.

Tentu saja, sebagai orang biasa, ia tidak ingin terlalu banyak meminjam kekuatan orang-orang berkuasa yang mengerikan itu.

"Tidak, apa yang bisa kukerjakan sendiri, akan kukerjakan sendiri. Tidak enak rasanya kalau cuma berpangku tangan terus."

Mungkin tidak masalah jika menyerahkannya pada orang lain, tapi baginya, inilah cara untuk menunjukkan etika.

"Itu sangat mencerminkan diri Anda. Bagaimana dengan perlengkapan Anda?"

"Tentu saja akan kupakai."

Ia tidak mau ambil risiko jika diserang lagi seperti semalam.

Selain untuk berjaga-jaga, wujud ini juga praktis sebagai bukti bahwa si pelaku sendirilah yang datang membawa bingkisan.

"……Saya mengerti. Mohon berhati-hati saat di luar."

"Terima kasih. Untuk semuanya."

"Sama-sama."

Kai juga menyampaikan rasa terima kasih atas penanganan urusan pemerintah tadi.

──Tanpa pernah mengetahui alasan sebenarnya kenapa sang Residen memastikan soal perlengkapannya tadi.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close