NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 2 Chapter 1

Chapter 1

Gadis Berambut Pirang yang Manja


(Tatapan ini... rasanya sakit sekali...)

Demi memberikan bingkisan kepada para pekerja jembatan, pria yang mengenakan zirah hitam legam itu—Kai—langsung didera situasi yang sudah ia duga sebelumnya begitu menginjakkan kaki di jalanan kota.

‘Untuk berjaga-jaga seandainya diserang lagi.’

Berangkat dengan pemikiran tersebut dalam kondisi persenjataan lengkap adalah pilihannya, namun... di mata orang sekitar, ia justru terlihat seperti sosok pembuat onar yang baru saja menghancurkan jembatan kota tapi tetap berjalan dengan angkuh.

"Pak Residen... Seharusnya Anda menjelaskannya sedikit lebih lembut. Aku kan tidak punya kelonggaran untuk berpikir sejauh itu..." gumamnya pelan.

‘Bagaimana dengan perlengkapan Anda?’

Pertanyaan itu diajukan tepat sebelum ia keluar rumah, dan sekarang ia baru memahami alasannya. Kalau saja dijelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak kecil, ia pasti akan meninggalkan zirah ini di kediaman. Ia pasti akan meminta tolong agar dikawal saja.

Selagi ia sibuk merenung, berpasang-pasang mata penduduk seolah menembus zirah kokohnya.

(Tidak, aku benar-benar minta maaf... Tapi ini bukan sengaja, kok... Itu karena musuhnya tiba-tiba menyerang... Aku juga tidak berniat meruntuhkan jembatan. Hanya saja ketajaman pedang ini...)

Merasa canggung, ia melangkah sambil menunduk, namun hal itu malah membuat emosi ketakutan di sekitarnya terasa berlipat ganda.

(Pokoknya, jangan sampai membuat orang takut... Jangan sampai dikira sedang tinggi hati...)

Kali ini ia memang menyebabkan insiden 'menghancurkan jembatan', tapi itu bukan terjadi karena ia memiliki kemampuan yang setara dengan kerusakan tersebut.

Intinya, jika ada orang yang muncul dan berpikir, ‘Beraninya kamu merepotkan kami, akan kuberi pelajaran!’, Kai pasti akan dipukuli habis-habisan.

‘Semoga aku tidak jadi pusat perhatian...’ Hanya itu satu-satunya doa Kai saat ini.

"Na-nah..."

Untuk memperbaiki kesan buruk saat ini, tidak ada jalan lain selain menyiapkan bingkisan yang terbaik.

Meski ini adalah bingkisan yang penuh dengan niat terselubung, bagi kaum lemah, ini adalah strategi bertahan hidup yang terpaksa dilakukan.

Dan ia sudah memutuskan barangnya. Camilan yang dulu pernah dibawakan oleh duo kakak-beradik keluarga Duke, Karen dan Lifia—yang harganya mencapai 50.000 Regil per kotak.

Pengeluaran yang menyakitkan, tapi ini adalah biaya darurat. Khusus hari ini, ia akan melonggarkan dompetnya lebih dari siapa pun.

Dengan tekad tersebut, Kai melangkahkan kakinya menuju 'Toko Leeryn' yang tadi pagi ditunjukkan oleh sang Residen lewat peta.

◆◇◆

Beberapa puluh menit kemudian.

"Se-sela... mat... datang! Mo-mohon tunggu sebentar!"

"A-ah..."

Baru saja ia memasuki toko mewah yang kemegahannya sudah terpancar dari pintu masuknya, seorang pelayan wanita bereaksi ‘Hii!’ ketakutan dan langsung mundur ke belakang setelah meninggalkan kata-kata tadi.

"……"

Sikap itu jelas menunjukkan bahwa dia tahu soal insiden 'penghancuran jembatan'.

Saat Kai merasa ingin sekali memberikan pembelaan diri, seorang pria dengan papan nama 'Manajer Deva' berlari tergesa-gesa dari dalam.

"I-ini benar-benar sebuah kehormatan, Tuan Shikkoku! Terima kasih banyak telah bersedia meluangkan waktu untuk berkunjung ke toko kami hari ini."

"……D-halo."

Sang Manajer melayaninya dengan sikap yang sangat hati-hati agar tidak memberikan stimulasi apa pun.

Dengan kata lain, tekad ‘Jangan sampai membuat orang ini marah’ sangat terasa darinya.

(Dia pasti berpikir aku bisa menghancurkan toko ini juga. Gara-gara jembatan itu...)

Dilayani langsung oleh Manajer.

Tidak salah lagi, ia sedang diawasi ketat.

Ia ingin sekali menjelaskan kronologi kejadiannya demi meluruskan kesalahpahaman, tapi ia merasa mereka tidak akan percaya.

Kai pun memutuskan untuk bersikap serendah hati mungkin dalam berdiplomasi.

"Anu, kalau begitu, urusan apa yang membawa Anda kemari hari ini...?"

"Ah—pokoknya itu, aku minta tiga camilan paling populer di toko ini... Tidak, tolong siapkan lima kotak."

"Baik, saya mengerti! Kalau begitu, silakan mari saya antar ke ruang khusus di dalam, Anda bisa bersantai di sana. Begitu barangnya selesai dikemas, saya akan mengantarkannya ke sana."

"Tidak, di sini juga tidak masa—"

"—Mohon! Silakan gunakan fasilitas tersebut!"

"O-oke, aku mengerti..."

Sejujurnya ia ingin menyelesaikan urusan di sini saja, tapi melihat Manajer yang begitu gigih sampai memotong pembicaraannya, ia pikir mungkin ini adalah prosedur standar toko.

Sambil membatin ‘Memang toko mewah beda ya...’, ia memutuskan untuk menurut saja demi menjaga kesan baik.

"Kalau begitu, mari saya antar."

"Hm..."

Ia merasa gatal karena diperlakukan terlalu hormat, tapi ia menahannya dan mengikuti punggung Manajer selama beberapa puluh detik.

"Silakan, lewat sini."

Pintu ganda dengan ukiran motif cartouche dibuka lebar.

"Cukup... detail juga ya."

"Terima kasih atas pujiannya."

Begitu ia melongok ke dalam, ia melihat gorden yang tampak mahal. Meja kaca yang tampak mahal. Sofa hitam yang tampak mahal, hingga lukisan yang tampak mahal.

Selain itu ada karpet dan lampu gantung kristal. Ia benar-benar diundang ke ruang khusus bagi 'Pelanggan VVIP'.

"Silakan duduk dan menunggu sebentar."

"Iya..."

Ruangan ini sebenarnya membuat lelah hanya dengan berada di dalamnya, tapi mau bagaimana lagi.

(……)

Begitu duduk di sofa dengan perasaan tidak enak hati, ia disapa sekali lagi.

"Apakah Anda ingin minuman atau kudapan ringan?"

"Tidak usah repot-repot."

Jujur saja, dalam atmosfer seperti ini, air pun sulit melewati tenggorokannya.

Terlebih lagi, helm zirah yang membuatnya tidak perlu memperlihatkan wajah kepada orang lain ini adalah obat penenang mental yang luar biasa. Ia tidak ingin melepasnya.

"Anu... Pak Manajer."

"Ya, ya! Ada yang bisa saya bantu?"

"Apa tidak apa-apa membiarkanku masuk ke ruangan ini? Aku rasa tempat ini hanya untuk pelanggan tetap, kan..."

(Membuat preseden memasukkan pelanggan pertama kali ke ruangan ini pasti akan menimbulkan masalah di kemudian hari...)

Semuanya mungkin keputusan Manajer, tapi bagi pelanggan setia atau mereka yang sudah menghabiskan banyak uang untuk bisa masuk ke sini, perlakuan ini pasti terasa tidak adil.

Saat Kai menanyakan kekhawatirannya, Manajer justru mengangguk mantap.

"Benar seperti yang Anda katakan, ruangan ini memang untuk menjamu pelanggan tetap. Namun, baru saja ada perintah yang disebarkan oleh Ketua Otoritas, Tuan Banrad, ke seluruh toko di bawah naungannya."

"Perintah?"

"Benar. Jika Tuan Shikkoku berkunjung, kami diinstruksikan untuk memberikan pelayanan semaksimal mungkin."

"Hm?"

Kai tidak merasa pernah mendengar nama Banrad. Ia juga tidak punya bayangan kenapa perintah seperti itu bisa keluar.

(……Ah.)

—Tidak, ada satu kemungkinan. Seperti jembatan yang hancur, toko pun bisa hancur.

Mungkin saja dia mengeluarkan perintah agar jangan sampai menyinggung perasaannya karena memikirkan hal itu.

"Lalu, ada satu perintah lagi yang diberikan..."

"Satu lagi?"

"Jika Tuan Shikkoku datang berkunjung, kami diminta untuk segera melapor."

"Ke-kenapa?"

"Kemungkinannya adalah Tuan Banrad atau kerabatnya ingin datang menemui Anda secara langsung... Kebetulan kediamannya juga tidak begitu jauh dari sini."

"Eh."

Detik itu juga, alarm di dalam kepalanya berbunyi nyaring.

"Kalau begitu, tolong bawakan barangnya secepat mungkin. Kalau bisa buru-buru, aku akan beri uang tambahan."

"…………Sa-saya akan usahakan sebaik mungkin, tapi pemeriksaan barang mungkin memakan sedikit waktu."

"……"

Kai sama sekali belum siap secara mental untuk bertemu dengan penguasa yang mengerikan.

Ia mencoba menghindar, namun melihat senyum kecut Manajer yang sulit diartikan dan mendengar jawabannya yang berjeda, Kai sadar kalau orang ini sedang berusaha mengulur waktu...

Dan firasat itu tepat sasaran.

Entah sudah berapa lama ia ditinggalkan sendirian di ruangan ini. Saat ia terus menunggu sambil menggoyangkan kaki untuk menyembunyikan ketegangan...

BRAKK!

Pintu ganda itu terbuka dengan penuh semangat.

"Ketemu!"

"Hah?"

Saat Kai menatap ke arah pintu dengan bengong, ia melihat Manajer yang tampak panik bersama satu orang lagi.

Seorang gadis dengan rambut pirang dan mata yang tampak mengantuk namun berbinar-binar.

"Remi datang!"

Kenalan lama itu berlari kecil dengan kedua tangan terentang. Dia adalah gadis yang sempat melemah, yang diculik oleh penjahat bersama Karen dan Nina.

◆◇◆

"O-oh... Eh, kenapa kamu ada di sini?"

Itulah balasan untuk kalimat ‘Remi datang’.

Saat gadis itu tiba-tiba muncul dan langsung memeluknya erat-erat tanpa ragu sedikit pun, itulah jawaban yang bisa diberikan oleh Kai.




Karena terhalang zirah, balasan yang bisa Kai berikan kepada Remi—yang kini memasang ekspresi 'Keras banget...' saat memeluknya—hanya ini:

"Katanya ada laporan kalau kamu datang ke toko ini."

"……Begitu, ya."

Kai meletakkan tangan di kedua bahu Remi, lalu sedikit menjauhkan tubuh gadis itu yang menempel erat sambil memiringkan kepala.

"Remi itu... keluarga pemilik toko?"

"Papa itu pemimpinnya. Ketua Otoritas Perdagangan."

"……"

"……"

Keheningan sesaat menyelimuti mereka.

Begitu Kai menoleh ke arah Manajer yang menunggu di balik pintu, pria itu mengangguk mantap seolah pesannya tersampaikan.

"Yah... kalau bukan begitu, tidak mungkin kamu bisa masuk ke sini ya."

"Nn."

Setelah tenang, barulah semuanya terasa masuk akal. Alasan kenapa Manajer mengizinkan Remi masuk ke ruangan ini dan bersikap sangat rendah hati padanya. Kalau dia adalah putri Ketua Otoritas, tidak ada pilihan lain selain membiarkannya semau sendiri.

"Anu, Remi-san... orang tuamu di mana?"

"Panggil Remi saja. Spesial."

"Tidak perlu spesial-spesial segala."

"Pokoknya spesial."

Kai semakin yakin gadis ini berasal dari kasta atas. Ia mencoba memperbaiki cara bicaranya dengan sopan secara diam-diam, tapi langsung dipotong mentah-mentah.

Seandainya sejak awal tahu status Remi, Kai tidak akan berani memanggilnya tanpa embel-embel. Ia juga berharap Remi tidak mengatakan hal menakutkan seperti 'spesial' dengan status setinggi itu.

(Su-sungguh... aku harus benar-benar menjaga rahasia agar tidak ketahuan... Kalau sampai terbongkar, nyawaku bisa taruhannya...)

Karena kebohongan sebagai 'Agen Rahasia' masih dipercaya, ia merasa banyak hal yang dimaafkan atau dimaklumi. Jika mereka tahu dia hanyalah orang biasa, mereka pasti akan merasa sangat terhina.

Di titik ini, Kai mencoba mensugesti dirinya sendiri dengan pikiran 'Aku lebih hebat', agar bisa bersikap lebih wibawa.

"Kalau begitu... Remi, orang tuamu di mana?"

"Tidak tahu. Remi yang menghubungi mereka."

"Artinya, kamu datang ke sini sendirian?"

"Hebat, kan?"

Ekspresinya tidak berubah, tapi matanya menatap penuh harap.

"Apa Remi hebat?"

"Entahlah."

"Kalau begitu, anggap saja 'hebat'."

"Haa... Pokoknya, syukurlah kamu terlihat sehat."

"Mufu."

Tepat setelah ia mendengus bangga karena senang, entah kenapa ia malah naik ke pangkuan Kai.

"Berkat obat itu."

"Kalau begitu, syukurlah obatnya berguna. Terlepas dari itu, aku akan senang kalau kamu mau turun."

"Gak mau."

Entah ke mana perginya sosok gadis yang dulu begitu lemah tak berdaya itu.

Selagi Kai memperhatikannya, Manajer mendekat sambil membawa barang pesanan yang sepertinya baru saja ia terima dari staf.

"Ini adalah produk yang Anda beli hari ini. Untuk lima kotak harganya adalah 200.000 Regil. Selain itu, kami mohon maaf sebesar-besarnya karena telah menyita waktu berharga Anda. Ini adalah bingkisan permintaan maaf dari kami, mohon diterima bersama barang pesanan Anda."

"A-ah. Terima kasih banyak."

(Cuma camilan saja sampai 200.000...)

Meski ia mendapat uang imbalan yang melimpah dari keluarga Karen dan Nina, statusnya saat ini tetaplah pengangguran. Kai yakin ia tidak akan pernah lagi menggunakan uang pribadinya untuk belanja di toko ini.

"Kamu suka camilan ya? Remi baru tahu."

"Bukan, ini untuk bingkisan orang lain. ...Banyak hal yang terjadi."

"Karena kamu menghancurkan jembatan."

"Bukannya menghancurkan, tapi hancur sendiri, tahu."

Itu bukan disengaja. Setelah menegaskan hal itu, Kai baru saja hendak mengeluarkan kantong kain berisi uang untuk membayar, ketika...

"Manajer Deva, urus ya."

"Baik, Nona Remi. Kalau begitu, akan saya sampaikan kepada Ketua Otoritas untuk melakukan pembayaran di akhir bulan."

"Nn, bantu ya."

"Eh? Tidak, biar aku saja yang bayar."

"Gak boleh."

"Aku bilang gak boleh."

Tawaran ditraktir 200.000 Regil memang sangat menggiurkan, tapi Kai tidak ingin berutang budi untuk hal yang sanggup ia lakukan sendiri.

"Kalau begitu, Deva."

"Baik. Karena keputusan pembayaran talangan sudah dibuat, toko kami tidak dapat menerima uang dari Tuan Shikkoku. Mohon pengertiannya."

"……"

Kai diperlihatkan sebuah hierarki kekuasaan yang sempurna. Memang benar dia keturunan pedagang; cara Remi menggunakan kekuasaannya terasa lebih lihai dibandingkan Karen atau Nina, tapi cara ini benar-benar curang.

"Sifatmu yang seperti itu terasa dewasa sekali ya."

"Papa bilang, 'Kalau kamu pedagang, jual-lah budi sebanyak mungkin'."

"Sepertinya lebih baik ajaran itu tidak usah kamu beritahu pada siapa pun..."

"Kalau begitu, Remi tidak akan bilang-bilang lagi."

Melihat jejak pendidikan elit langsung dari Ketua Otoritas tersebut, mata sang Manajer pun ikut menyipit kagum.

"Pak Manajer, apa benar-benar uangku tidak bisa diterima?"

"Benar, mohon maaf sekali."

"Begitu ya... Kalau begitu aku terima kebaikanmu. Terima kasih, Remi."

"Nn."

Sebenarnya ia ingin protes lebih lama. Ia ingin memberontak, tapi menghadapi kombo dua orang ini sepertinya hanya akan sia-sia. Ia memutuskan untuk mengganti suasana hatinya.

"Baiklah. Kalau begitu, karena barangnya sudah kuterima, aku pergi dulu."

"Ah, mau ke mana?"

"Mau mengantar bingkisan."

(Kalau aku berlama-lama di sini, ada kemungkinan orang tua Remi malah benar-benar muncul...)

Meski ingin mengobrol lebih lama dengan Remi setelah sekian lama tidak bertemu, ia sama sekali tidak ingin bertemu pejabat kelas berat bergelar 'Ketua Otoritas Perdagangan'.

"Oke. Remi juga ikut."

"Kenapa?"

"Nn?"

Remi tampak heran, tapi Kai berharap dia tidak heran. Berjalan sendirian saja dia sudah sangat mencolok. Jika dia membawa putri Ketua Otoritas, entah rumor macam apa lagi yang akan beredar.

"Tidak, bukannya tidak perlu ikut?"

"Tadi aku sudah bilang mau minta dilindungi hari ini."

"Eh?"

Remi mengatakannya sambil menunjuk Kai.

"……Ah, karena itulah kamu tidak membawa pengawal?"

"Iya. Kereta kuda Remi juga sudah kusuruh pulang."

Ini berita baru baginya. Bahwa gadis ini sudah sepenuhnya membuang sarana untuk pulang sendirian.

"Remi hebat, kan? Bisa barengan lama."

Remi yang masih duduk di pangkuannya kembali menatap dengan wajah minta dipuji.

Kejujuran khas anak kecil yang menunjukkan seberapa besar keinginannya untuk bersama itu tersampaikan dengan jelas, hingga Kai tidak sanggup lagi mengeluh.

"……Yah, oke. Kamu sedikit hebat."

Balasan yang agak pasrah itu disambut dengan—

"Mufu," dengusan napas puas yang terdengar sangat senang.

◆◇◆

Setelah rentetan interaksi tersebut.

"Kalau begitu Nona Remi, mohon sampaikan salam saya kepada Tuan Banrad. Tuan Shikkoku, kami nantikan kunjungan Anda berikutnya."

"A-ah, iya."

(Kalau aku punya kesempatan memberi bingkisan lagi ya...)

Orang pengangguran tidak punya kemewahan untuk terus-menerus membeli barang mewah begini. Sambil menyembunyikan isi hatinya, Kai berjalan meninggalkan toko di bawah tundukan hormat sang Manajer.

Setelah melangkah sekitar lima tindak...

"Hei."

"Hm? Kenapa wajahmu begitu?"

Meski nadanya kasar, suara unik yang sama sekali tidak terasa menekan itu memanggilnya.

Saat menoleh, ia melihat Remi yang memicingkan mata seolah ada sesuatu yang tidak memuaskan.

Begitu Kai mendekatkan wajahnya untuk menyahut, Remi tiba-tiba mengulurkan tangan dan berkata seolah-olah itu adalah hal yang lumrah.

"Boleh kok kalau mau menggandeng tangan Remi."

"……"

"Tidak dengar ya? Boleh kalau mau gandengan."

"…………"

"Spesial, Remi izinkan kamu menggandengku."

Kai benar-benar sulit mengerti. Kenapa nadanya sangat angkuh? Kenapa gayanya seolah-olah 'aku memberimu anugerah'? Biasanya kan kebalikannya. Pasti kebalikannya.

"Yah... memang lebih baik gandengan kalau di tempat yang sepi, sih."

Biar begini, Remi adalah seorang nona muda terhormat.

Demi tidak dimintai pertanggungjawaban, Kai terpaksa harus bersikap hati-hati di tempat berbahaya.

Namun, logika umum itu ternyata masih terlalu dangkal bagi Remi.

"Di tempat ramai pun, Remi bisa saja pergi entah ke mana. Jangan salahkan aku kalau aku tersesat."

"Apa kamu sebegitu inginnya gandengan sampai pakai mengancam segala...?"

"Memangnya salah?"

"Enggak... yah, tidak salah juga."

Diakui secara jujur begini malah membuat Kai serba salah.

Jika dipikir baik-baik, sebagai pihak yang harus melindungi Remi, ini sebenarnya tawaran yang menguntungkan.

"Kalau begitu, nih, tangan."

"Nn."

Kai memindahkan seluruh bingkisan yang tadinya dipegang kedua tangan ke tangan kiri, lalu mengulurkan tangan kanannya yang kosong. Remi segera menggenggamnya.

"Keras," keluh Remi.

"Kalau lembek, namanya bukan baju pelindung, dong."

"Susah dipegang."

Tubuhnya yang dibalut zirah full plate tertutup rapat bahkan sampai ke ujung jari. Keluhan itu pun tidak bisa ia tangani.

"Kalau begitu biar aku yang genggam."

"Kayaknya bakal sakit."

"Kalau begitu lepas saja ya?"

"Kalau dilepas, Remi bakal pergi entah ke mana. ...Beneran mau?"

Begitu Kai mencoba sedikit menekan, Remi membalasnya dengan nada cemas di akhir. Wajahnya seolah berkata 'Jangan bilang begitu'.

"Tidak boleh, jadi sabar ya."

"……Oke."

"Tiba-tiba jadi nurut ya."

"Setelah dipikir-pikir, ini titik temu yang adil."

"Hal-hal begitu kamu mengerti juga ya."

"Kata Papa, pedagang juga butuh kompromi. Katanya kalau ingat itu, semuanya bakal lancar."

"Kamu benar-benar dididik dengan baik ya... sungguh."

Berkat itu—atau malah gara-gara itu?—ia tumbuh dengan kepribadian yang cukup unik, tapi itu juga merupakan ciri khas yang terasa menyenangkan.

"Karena dulu tubuh Remi lemah, belajar itu jadi cara mengisi waktu. Bisa dilakukan di tempat tidur."

"Syukurlah itu sudah jadi masa lalu."

"Iya, syukurlah."

Kai mendengar kata-kata yang cukup berat, tapi melihat Remi yang kini berjalan riang sambil mengayunkan tangannya, ia merasa ikut senang.

Jika sebagian besar masa lalunya dihabiskan tanpa kebebasan untuk bermain, wajar saja jika sekarang dia ingin bertingkah semaunya dan pergi ke kota.

"Yah, karena sekarang kamu sudah bisa melakukan banyak hal menyenangkan, mungkin kamu mulai malas belajar... tapi tetap semangat ya? Itu hal yang tidak akan merugikanmu kok."

"Remi mau main setiap hari."

"Selesaikan dulu apa yang harus dilakukan, baru main sepuasnya."

"Kamu bicara sama seperti yang lain..."

"Ja-jangan memasang wajah begitu. Itu bukti kalau kamu disayangi."

Remi memasang wajah jengah dengan alis yang melengkung. Sepertinya, sesuai ucapannya, dia sudah bosan mendengar hal itu berkali-kali.

"Lagipula, kalau biasanya kamu cuma di dalam kamar, main setiap hari bukannya melelahkan? Perubahan lingkungan saja sudah berat, lho."

"Boleh Remi jujur?"

"Jujur apa?"

"Kayaknya Remi sudah mulai capek."

"Oi, oi. Sesingkat apa pun, itu terlalu ce—"

Kai langsung terdiam. Ia merasa bersalah, atau lebih tepatnya merasa ada yang terlewat olehnya.

"Jangan-jangan... kamu pikir kita akan pergi ke jembatan naik kereta kuda atau semacamnya?"

"Remi pikir begitu."

Remi mengangguk mantap.

"……I-itu benar-benar maaf. Aku jarang sekali pakai kereta kuda..."

"Masih tidak apa-apa kok."

"Jangan, mending kita cari kereta kuda selagi masih kuat. Kita tidak sedang dikejar waktu juga."

"Gak apa-apa. Kalau sudah tidak kuat jalan, nanti kamu gendong aku di punggung. Sama seperti waktu itu."

"Menurutku mending naik kereta kuda."

"Mau digendong saja."

"Begitu... ya? Kalau begitu, bilang ya kalau sudah capek."

Saking takutnya, ia khawatir jangan-jangan Remi tidak akan bilang saat sudah lelah dan memaksakan diri jalan. Kai pun berniat mengawasi keadaan Remi dengan saksama.

Tapi, tepat setelah ia berpikir demikian...

"Ah, Remi sudah capek."

Gadis itu mengatakannya dengan sangat praktis.

"Jujur deh, sebenarnya kamu masih kuat, kan?"

"……Masih bisa jalan sedikit lagi."

"Kalau begitu berjuanglah demi kesehatan."

Remi kan sudah sembuh. Tidak memberikan perlakuan istimewa pasti akan lebih baik bagi masa depannya nanti.

Mungkin hanya perasaan Kai saja, tapi Remi tidak tampak keberatan. Dia justru terlihat senang.

Dan pada akhirnya—Remi pun tetap digendong di punggung Kai sebelum mereka sampai di jembatan yang hancur itu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close