Prolog
Sebuah kota yang dikelilingi oleh tembok benteng
setinggi puluhan meter.
Di kota itu, pada suatu hari.
"Akhirnya ketemu! Ayo, cepat ikut!"
"……"
Saat sedang menyantap makanan di sebuah kedai, seorang
gadis berambut merah tiba-tiba menarik lenganku.
Setelah melirik ke samping dan menoleh ke belakang,
terlihat seorang kakak perempuan yang cantik dan kusir kereta kuda yang sedang
tersenyum lebar.
Seolah-olah mereka sedang berkata, "Kami mohon
bantuannya, ya."
Pada suatu hari yang lain.
"Akhirnya saya menemukan Anda. Silakan, datanglah ke
kediaman keluarga kami."
"……"
Saat sedang menyantap makanan di sebuah kedai, seorang
gadis berambut perak tiba-tiba menarik lenganku.
Setelah melirik ke samping dan menoleh ke belakang,
terlihat seorang kakak perempuan yang jelita dan kusir kereta kuda yang sedang
tersenyum lebar.
Seolah-olah mereka sedang berkata, "Bi-bisa tolong
bantu kami?"
Lalu pada hari lainnya lagi.
"Hei, mainlah dengan Remy."
"……"
Saat sedang menyantap makanan di sebuah kedai, seorang
gadis berambut pirang tiba-tiba menarik lenganku.
Setelah melirik ke samping dan menoleh ke belakang,
terlihat seorang kakak perempuan yang seanggun permata dan kusir kereta kuda
yang sedang tersenyum lebar.
Seolah-olah mereka sedang berkata, "Kami benar-benar
mohon bantuannya."
Terhadap semua ajakan itu, setiap kali aku menggelengkan
kepala tanda "tidak", gadis-gadis itu akan menarikku dengan kekuatan
yang sanggup membuatku jatuh dari kursi.
"Sudahlah, ini cuma sebentar saja, kok."
Kemudian, si kakak perempuan dan sang kusir pun ikut
meluncurkan serangan bantuan.
Lalu, jauh di hari yang lain lagi.
"Hei, hei, hari ini kamu mau bertanding
denganku, kan? Aku sudah memperbaiki kebiasaan buruk yang kamu tunjukkan waktu
itu, lho."
"……
(Tolong, jangan yang satu itu)."
"Jangan
mengabaikanku, dong. Lihat, ini aku."
Saat
sedang menyantap makanan di sebuah kedai, seorang Treasure Hunter yang
mengenakan perlengkapan perak mengkilap bicara padaku.
Wanita
yang melepaskan pelindung kepalanya itu memperlihatkan wajah yang sangat
cantik.
"……
Tentu saja aku tahu itu siapa."
"Kalau begitu, ayo pergi!"
"Aku menolak. Kalau kita
bertanding... aku bisa mati (maksudnya aku yang mati)."
"Apa! Kamu kan bisa sedikit menahan diri
untukku!"
Treasure Hunter yang dirumorkan sebagai yang terkuat di
kota ini tampak sama sekali tidak ragu kalau dirinya akan terluka parah.
Entah bagaimana ceritanya semuanya bisa berakhir menjadi
seperti ini.
Kisah ini bermula dari waktu yang sedikit lebih lampau.



Post a Comment