Chapter 1
Dunia Lain
Di tengah hutan gelap yang bahkan medannya belum
diratakan. Sebuah tempat di mana aliran sungai kecil mengalir di sisinya.
"──Oi, anak baru!"
"……I-iya."
"Kami mau tidur, jadi awasi tempat ini baik-baik.
Kami membayarmu mahal cuma buat urusan logistik dari Kota Waeha, jadi tugas
begini saja pasti bisa, kan?"
"Ah, iya……"
"Kalau para sandera itu berisik, beri mereka sedikit
pelajaran. Yah, kurasa mereka sudah tidak punya tenaga lagi untuk melakukannya,
sih."
"Baik……"
Setelah laki-laki itu menjawab, segerombolan pria berotot
dengan tampang berandalan masuk ke dalam tenda.
Mereka membawa senjata seperti pedang besar, katana,
hingga kapak di tangan mereka.
"…………"
Sebuah pemandangan yang mustahil ada di dunia nyata,
pemandangan yang takkan pernah bisa disaksikan di sana.
Sebenarnya, bagaimana semua ini bisa terjadi?
Laki-laki yang menjadi "Figuran A" tanpa nama
yang menyalakan lilin itu menarik napas dalam-lebih tepatnya, pria yang
seharusnya sudah mati karena terjebak kecelakaan—mencoba menenangkan diri.
"A-aku benar-benar tidak paham……"
Suara kebingungannya menguap begitu saja ditelan
keheningan hutan.
(I-ini……
dunia FRF—Fancy Roomy Fantasy…… kan?)
Saat
laki-laki itu menengadah ke langit, dua rembulan berwarna merah dan biru
terpantul di matanya. Sekali lagi, ini adalah pemandangan yang mustahil di
dunia nyata.
Itu
adalah desain yang menjadi sampul kemasan gim FRF.
FRF sendiri adalah gim fantasi di
mana pemain melakukan eksplorasi dan pertempuran untuk tumbuh melalui
pengalaman.
Gim yang telah dimainkan laki-laki ini hingga ratusan
jam.
(Tunggu, sekarang aku harus memikirkan hal lain…… ya.
Sepertinya aku sedang membantu komplotan penjahat……)
Berulang kali ia meyakinkan diri, padahal baru saja ia
terjebak kecelakaan, tapi tiba-tiba ia berada dalam situasi seperti ini.
Benar-benar hanya kata "tidak paham" yang bisa
menjelaskan semuanya.
"Kenapa bisa jadi begini……"
Sambil menggumamkan keluh kesah, ia menyentuh tubuh yang
bukan miliknya, merasakan detak jantungnya, dan mulai memahami bahwa ia
benar-benar hidup di dunia ini.
Wajah, perawakan, tekstur kulit, hingga pakaian, semuanya
berbeda. Sambil diserang perasaan aneh itu, ia menoleh ke belakang.
"……"
Di sana terdapat sebuah kereta beban dengan jeruji
besi di atasnya.
Meski tidak terlihat jelas karena kegelapan,
samar-samar tampak tiga bayangan manusia di dalamnya.
(I-ini harus bagaimana……)
Mengingat situasi ini dan fakta bahwa ia sangat
memahami gim ini, keringat dingin mulai mengalir deras.
Dalam FRF, semua karakter antagonis sudah
diatur untuk menerima ganjaran atau dikalahkan.
Ia tidak tahu apakah sistem gim dan dunia ini sama,
tapi jika memang sama, maka yang menantinya adalah Bad End.
(Mendingan
kabur saja secepatnya…… Iya, benar.)
Daripada tertangkap, lebih baik angkat kaki sekarang
juga.
Ia tidak mau merasakan penderitaan yang lebih dari
sekadar "sakit".
Lagipula, sekarang ia punya kesadaran sendiri. Tidak ada
gunanya menjalankan peran karakter ini sampai tuntas. Itu adalah pilihan yang
wajar.
Satu hal yang beruntung bagi laki-laki ini adalah ia
berada di dunia yang sangat ia kenali seluk-beluk lokasinya.
Karena itulah, ia sudah memutuskan apa yang harus
dilakukan.
(Berbuat buruk pada orang jahat…… kurasa
tidak akan kena kutukan, mungkin.)
Sambil celingukan memperhatikan sekitar, laki-laki itu
dengan sigap mengambil kantong uang dan peta yang tergantung di kereta kuda.
Lalu, tanpa menimbulkan suara langkah kaki, ia mendekati
jeruji besi dan mengarahkan cahaya lilin ke dalam.
Di dalam sana, terlihat dua orang gadis yang
tersentak kaget. Serta seorang gadis lagi yang tergeletak tanpa reaksi.
Entah sudah berapa hari mereka menghabiskan waktu di
sini, semuanya tampak kotor dan terlihat jelas mereka berada di lingkungan yang
buruk.
Selain itu—di mata para gadis ini, dia adalah sosok
penjahat. Fakta bahwa mereka menunjukkan rasa permusuhan membuat laki-laki itu
mendadak kelu untuk bicara.
"H-hei. Kalian mau keluar……?"
"──!"
"……!"
"……"
Saat ia menyapa, dua dari mereka tersentak seperti
sebelumnya. Gadis yang satunya tetap tidak bereaksi, namun ia tidak punya waktu
untuk menyelidiki lebih lanjut.
Sebab jika percakapan ini ketahuan oleh karakter
antagonis lainnya, habislah dia.
"E-anu……
mau kabur bersamaku?"
Rasanya tidak enak jika harus kabur sendirian.
Terlebih lagi, ia sudah mencuri uang dan barang berharga.
Ia berpikir bisa menyeimbangkan perbuatannya dengan
melakukan kebaikan. Hasilnya,
ia mengira para gadis ini akan senang, tapi…… tidak ada reaksi positif yang
terlihat.
Gadis
berambut merah hanya menunduk, gadis berambut perak menggelengkan kepala dengan
mata terpejam. Sementara gadis berambut pirang tetap tidak bereaksi. Tak ada
satu pun yang mau menerima ajakannya.
"Eh?"
Pertanyaan
"Kenapa?" yang tersirat itu dijawab oleh si gadis rambut merah dan si
gadis rambut perak.
"……Aku tahu kamu cuma mau menipu kami. Jangan…… main-main……"
"……Kalau begitu, kenapa Anda tidak menolong kami
sejak awal……"
Gadis berambut merah menatapnya dengan pandangan
menghina, sementara gadis berambut perak melontarkan kata-kata dingin tanpa
membuka matanya.
──Seolah-olah para gadis ini pun bukan sekadar
karakter biasa, melainkan memiliki kesadaran sebagai manusia seutuhnya.
"……"
Sejujurnya, dikatakan seperti itu terasa sangat tidak
adil baginya. Rasanya menyesakkan, tapi bagi para gadis itu, alasan mereka
sangatlah masuk akal.
"Tuh, kan, tidak bisa menjawab. Sayang sekali
rencanamu tidak berjalan lancar."
Apakah wajahnya memang terlihat sekejam itu? Ataukah
gadis itu hanya mencoba melakukan perlawanan terakhir?
Bagaimanapun, itu terasa menyakitkan, tapi ia sadar bahwa langkah awalnya telah keliru.
"……Ma-maaf
karena aku terlambat menolong kalian. Anu…… aku butuh waktu untuk menyusup ke
barisan musuh."
Pertama-tama, aku menundukkan kepala.
"Karena itu, aku sampai harus memaksakan diri agar
bisa bergabung dari Kota Waeha……. Jadi, sebenarnya aku adalah…… seorang mata-mata.
Begitulah."
"……"
"……"
Meski
aku membual dari awal sampai akhir, saat ini yang terpenting adalah membuat
mereka percaya kalau aku ada di pihak mereka.
Alih-alih
bicara, aku menunjukkan bukti dengan mengambil kunci yang tergantung di ikat
pinggang, lalu membuka gemboknya tanpa menimbulkan suara.
Kalau sampai ketahuan sedang melakukan ini, tidak akan
ada ruang untuk beralasan lagi. Mulai sekarang, ini adalah balapan melawan
waktu.
"Ayo cepat. Kalau ini ketahuan, aku bisa mati. Lihat
keringatku ini."
Meski ini dunia gim, aku tidak bisa melakukannya dengan
perasaan yang sama seperti saat bermain gim. Aku memohon dengan
sungguh-sungguh, namun hasilnya tidak sesuai harapan.
"A-aku ingin lari, tapi…… tidak
mungkin……"
"Ti-tidak mungkin?"
"Kakiku
ini cacat…… aku tidak dalam kondisi bisa lari dari sini……"
"Hah?"
"Saya juga sama, mata saya tidak bisa
melihat……"
"Eh?"
"Anak
ini…… Remy, dia sudah sangat lemah……. Ditambah
lagi dia sedang sakit. Meski kita lari dari sini, kita semua hanya akan mati di
jalan……"
"……A-ah."
Meski aku sudah memainkan gim ini sampai tamat
berkali-kali, aku tidak tahu ada pengaturan seperti ini.
Kalau dipikir-pikir lagi, cerita semacam ini tidak ada di
dalam gim.
Tidak, bukan begitu.
Aku tidak bereinkarnasi menjadi tokoh utama FRF.
Jadi wajar saja kalau situasinya berbeda.
"Aku mengerti kalau kamu bukan musuh…… Mengetahui
hal itu saja sudah cukup bagi kami……"
"Terima kasih banyak……"
'Tolong kunci lagi pintunya karena kami tidak bisa lari.'
'Tetap tertawan di
sini justru memberi kami peluang untuk bertahan hidup.'
Itulah
pesan tersirat yang disampaikan oleh si gadis berambut merah yang kakinya cacat
dan si gadis berambut perak yang buta.
Mereka
berdua bersikap seperti itu justru karena mereka melihat realita yang ada.
Namun──.
Hanya
gadis berambut pirang yang sedari tadi tidak bereaksi yang berbeda.
"Ugh……
uu……"
"──!"
Sesaat,
aku terkejut.
Seolah
mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, seolah ingin meraih pertolongan terakhir,
sambil berbaring ia menggetarkan lengannya yang kurus dan mengulurkan tangan ke
arahku.
"……Be-benar
juga. Daripada diam di sini, lebih baik lari. Aku
tinggal menggendong kalian bertiga, kan."
"A-apa yang kamu katakan……"
"Di luar juga sangat gelap……"
"Aku punya peta dan aku tahu seluk-beluk tempat ini.
Tidak apa-apa."
Hutan yang berada di sebelah barat Kota Waeha ini disebut
Hutan Kadia.
Sangat praktis, di peta ini tertulis titik yang
sepertinya adalah lokasi saat ini. Meski mungkin tidak akurat, selama aku tahu
gambaran besarnya, itu bukan masalah.
"Ayo, kalian berdua juga cepat pegangan. Kita
kabur."
Bersamaan dengan ucapan itu, aku menggendong gadis
berambut pirang yang lemas di punggungku, lalu merangkul gadis berambut merah
dan gadis berambut perak yang sudah memantapkan hati untuk kabur di kedua
sisiku. Kami segera bergegas pergi dari sana.
(Sesuai dugaan, kalau disentuh begini, tubuh ini memang
punya otot……)
Jika ini tubuhku yang dulu, hal seperti ini pasti
mustahil dilakukan.
Rasa lega sempat muncul sesaat, tapi hanya sebentar.
Perasaan itu langsung tertutup oleh ketegangan yang luar
biasa. Sambil mengatur napas, aku terus memutar otak sembari berkali-kali
menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada pengejar.
(Lagipula,
peta tadi…… di sana ada Kota Aldia, nama yang aku berikan saat bermain dulu.
Apa mungkin data gim asliku tersisa di dunia ini……?)
Dalam
situasi kritis tadi, bertindak seadanya memang tidak bisa dihindari.
Dan
dalam situasi seperti ini pula, aku tidak punya pilihan selain bergantung pada
harapan kecil.
Sambil
mengerutkan dahi, laki-laki itu terus berjalan dengan tubuh yang mulai
kelelahan. Ia menyusuri sungai kecil menuju tempat yang telah ia targetkan.
Dibantu
oleh cahaya bulan dan sesekali memeriksa peta, entah sudah berapa puluh menit
ia berjalan sambil membawa para gadis itu──.
"Di
mana…… ini……?"
"Bisa
dibilang, ini adalah tempat persembunyian yang aku buat (aku tidak menyangka
tempat ini benar-benar ada)."
Saat
aku menjawab pertanyaan gadis buta berambut perak itu, suara penuh selidik
langsung terlontar dari si gadis rambut merah.
"Ka-kamu……
bukan sekadar mata-mata biasa, kan……? Membangun rumah pohon di tempat seperti
ini……"
"Yah, aku juga kaget."
"Eh?"
"Tidak, lupakan saja."
Ya. Laki-laki itu berhasil menemukannya.
Sebuah markas tambahan yang tersembunyi di balik
pepohonan yang ia buat saat masih bermain gim dulu. Ia menemukan tangga batu
tersembunyi yang menjadi jalan masuk menuju rumah pohon.
Begitu jarinya menelusuri tanda yang menjadi kode akses
pada papan yang tertanam di batu itu, pintu masuk muncul persis seperti di
dunia gim.
(Un-untuk sekarang, ini satu langkah maju…… kurasa. Bakal lebih baik lagi kalau tidak berdebu……)
Saat ini, sambil memikirkan hal itu di ruang tengah
rumah pohon yang benar-benar tersembunyi oleh tanaman, ketegangan sedikit
mengendur.
"Tunggu, sekarang bukan waktunya bersantai……"
"He-hei. Apa Remy bisa selamat……?"
Saat aku mendekati gadis berambut pirang yang lemas di
atas tempat tidur—gadis yang dipanggil Remy—si gadis berambut merah juga
mendekat sambil menyeret kakinya.
Gadis buta itu duduk di tepi tempat tidur sambil
menggenggam tangan Remy.
Melihat kedekatan mereka, sepertinya mereka semua punya
hubungan yang sangat akrab.
"Yah,
aku punya stok item…… seharusnya. Kalau tidak salah."
"Apa ada sesuatu yang bisa ia makan……?"
"Ma-makanan itu, bagaimana ya bilangnya……"
(Se-seharusnya benda itu masih ada…… Karena rumah ini
saja masih ada……)
Sambil mendengarkan suara penuh kecemasan itu, aku
mengintip dan membuka kotak item besar di samping tempat tidur──dan isinya
langsung menghapus rasa cemasku.
(Ba-bagus, bagus……)
Zirah hitam legam dan pedang yang sempat kugunakan dulu
saat masih gila bermain FRF, serta botol-botol Elixir yang
kusimpan, semuanya ada di sana.
Karena dunia ini mewarisi sistem dari dunia gim,
perlengkapan itu tidak terlihat berkarat, dan obat-obatannya pun tidak
membusuk.
"Lihat, intinya ada obat di sini. Ini pasti manjur,
kan?"
"Apa! Ja-jangan bercanda di saat seperti ini! Mana
mungkin obat biasa bisa menyembuhkan kondisi selemas ini──hah?"
Laki-laki itu mengeluarkan sebuah botol. Botol yang
berisi cairan yang bersinar keemasan.
"Yah, karena ini bukan obat biasa, harusnya manjur,
kan……? Mungkin kalau pakai ini bisa."
"Ma-mana
mungkin…… Ka-kamu, warna itu kan……"
"Memang
langka, ya? Tapi yah, (karena aku dulu pemain garis keras) aku tidak menyimpan
barang setengah-setengah di sini."
"Aa,
a……"
Aku
mengeluarkan dua botol Elixir lagi dari kotak item.
Obat
ini memiliki efek 'memulihkan HP, MP, luka fisik, rasa lapar, hingga status
abnormal seperti racun dalam sekejap'. Saat masih di dalam gim dulu, aku harus
bersusah payah untuk meraciknya.
(Berhubung
sisanya masih ada 17 botol, sepertinya aku tidak akan kesulitan uang…… kurasa.
Melihat reaksi mereka, kalau dijual pasti harganya selangit.)
Seandainya
stok Elixir ini hanya tinggal sedikit, mungkin sisi burukku yang pelit
akan muncul. Namun, dengan jumlah sebanyak ini, aku masih punya kelonggaran
untuk memberikannya.
Melihat
segala sesuatunya berjalan lancar adalah hal yang paling membahagiakan.
Saat
aku menutup kotak item sambil tersenyum tipis tanpa sadar, sebuah suara penuh
kengerian terdengar.
"Ka-kamu……
sebenarnya siapa sih……? Mana ada mata-mata biasa yang memberikan item selangka
ini dengan begitu mudah……"
"Lebih
baik jangan bertanya lebih jauh. Ini demi kebaikan kita bersama."
──Glek.
Semakin aku diinterogasi, aku sendiri yang akan repot.
Setiap jawaban atas pertanyaan mereka hanya akan menambah
rasa tidak percaya para gadis ini.
Begitu aku memasang nada suara berat untuk menghentikan
pembicaraan, Karen si gadis rambut merah menelan ludah, seolah-olah dia sedang
salah paham akan sesuatu yang hebat.
"Pokoknya, kalian pakai juga ini. Kalau diminum, penyakit kaki dan mata si anak rambut perak itu bakal
sembuh. Lagipula, aku sudah tidak mau berjalan di luar sambil menggendong
kalian bertiga. Itu melelahkan."
"Ka-kamu sengaja bicara begitu ya……"
(Padahal itu jujur dari lubuk hati……)
Karakter figuran tempatku bereinkarnasi ini mungkin
punya kekuatan fisik di atas rata-rata orang biasa, tapi tetap saja rasanya
capek.
Kenyataannya, staminaku sudah mencapai batas.
"A-anu……
apakah Elixir legendaris itu benar-benar ada……? Apakah ada
juga bagian untuk saya?"
"Ada kok. Yah, kamu mungkin tidak bisa melihatnya,
tapi ini."
Karena tahu Nina buta, aku menaruh botol itu ke tangannya
agar dia bisa memastikan wujud aslinya.
"Sulit dipercaya……"
"Ini pengecualian khusus untuk kali ini saja, tahu?
Ayo, cepat minum sebelum aku berubah pikiran."
Setelah mengatakan itu, aku berdiri di depan Remy yang
tampak sangat lemah dan sakit-sakitan.
"Kamu juga sudah berjuang keras. Sekarang, minum
ini."
Angguk.
Gadis berambut pirang itu tidak bisa mengeluarkan suara,
ia hanya menggerakkan lehernya sedikit.
Jika bantuan datang terlambat sedikit saja, mungkin hasil
terburuk sudah terjadi.
Aku membuka tutup botol, lalu menuangkan cairannya
perlahan ke mulutnya yang terbuka kecil──seketika, seluruh tubuhnya diselimuti
cahaya hijau yang kemudian menguap ke udara.
(O-ohh……)
Mataku terbelalak melihat efek yang persis sama dengan di
gim, namun aku segera tersadar.
Aku memastikan wajah layu sang gadis kini telah menjadi
lebih tenang dan lembut.
"Untuk sekarang istirahatlah dulu. Kurasa obat ini
pun tidak bisa menyembuhkan kelelahan mental."
"Terima……
kasih……"
"Ehm."
Mungkin
karena tubuhnya sudah merasa nyaman, dia langsung tertidur lelap. Sepertinya
dia merasa akhirnya sudah berada di lingkungan yang aman.
Saat
aku menoleh ke belakang dengan perasaan lega, terlihat dua botol kosong.
Di sana
ada Karen yang sedang menangis sambil ragu-ragu memeriksa kakinya yang semula
lumpuh, dan Nina yang sudah sembuh dari butanya, menutupi wajahnya dengan
tangan sambil meneteskan air mata.
"Nah, kalau aku berhasil mengantar kalian dengan
selamat, imbalan seperti apa ya yang bakal kudapatkan. Biar begini, aku ini
orangnya mata duitan──"
"Hiks……"
"Ugh, uuu……"
"Dengarkan dulu, dong."
Entah sudah berapa lama mereka menderita karena
penyakit itu, aku tidak tahu.
Namun, melihat bagaimana gadis yang tadinya ketus pun
kini mulai menangis sesenggukan, aku tahu betapa berat penderitaan mereka
selama bertahun-tahun.
(Biarkan saja dulu deh……)
Menyadari bahwa ini bukan saat yang tepat untuk
bercanda, aku kembali membuka kotak item dan mencoba menikmati momen emosional
yang tadi sempat terlewat karena situasi darurat, sembari menunggu mereka
tenang.
◆◇◆
Beberapa saat kemudian, setelah mereka berhenti menangis.
Lebih tepatnya, mereka terus menangis sampai saatnya tidur, hingga cahaya fajar
mulai masuk melalui jendela langit.
"Hah? Jadi kalian diculik dari Kota Aldia……? Kalau
jaraknya sampai lebih dari dua kota dari sini, bakal memakan waktu cukup lama,
ya……"
"Sampaikan keluhan itu pada teman-temanmu! Semuanya
salah mereka……!"
"Mereka bukan temanku (setidaknya bagiku)."
Lokasi kami masih di dalam rumah pohon.
Aku membalas ucapan Karen sambil memperhatikan peta yang
kudapatkan dari para penjahat.
"Lagipula, apa tidak ada yang bisa memakai Warp?
Sihir teleportasi itu."
"Kalau sihir legendaris semacam itu bisa digunakan,
kami sudah kabur dari dulu!"
"Haha, benar juga ya."
Jawaban yang masuk akal.
(Kalau saja aku jadi karakter gim yang biasa kupakai,
pasti bisa pakai Warp……)
Setelah memeriksa seluruh Status karakter ini,
jika diibaratkan Treasure Hunter, levelnya hanya rata-rata peringkat D sampai
C. Tidak ada kemampuan yang menonjol.
Benar-benar
angka yang cocok untuk seorang figuran antagonis.
"Anu……
saya dengar hanya ada satu orang di masa lalu yang bisa menggunakan sihir Warp."
"Be-begitu
ya. Yah, namanya juga sihir legendaris."
Nina,
si gadis rambut perak yang tadinya buta, ikut menimpali.
Mungkin
karena sudah lama tidak melihat cahaya matahari, dia berkali-kali menatap
langit-langit dengan mata yang masih menyipit untuk memberikan penjelasan
tambahan.
"Ngomong-ngomong,
bagaimana dengan matamu? Sudah tidak apa-apa?"
"Masih harus membiasakan diri, tapi sekarang sudah
bisa melihat jelas……. Benar-benar terima kasih banyak."
"Lalu kakimu?"
"Su-sudah tidak apa-apa kok……. Aku berterima kasih
padamu."
"Syukurlah."
"──Eh, tadi kan sudah perkenalan diri, jadi berhenti
panggil 'Hei' atau 'Kamu'. Aku punya nama yang agung, Karen Dior Ardi."
"Iya, iya, Karen."
"Saya
Nina Quarie Ansarage."
"Oke,
Nina."
Nama
sepanjang ini tidak pernah kudengar di dunia nyata. Kenyataannya,
namanya terlalu panjang untuk kuingat.
"Lalu, yang masih tidur di tempat tidur itu Remy,
kan?"
"Iya.
Dia Remy Traria Albrela."
"Dimengerti."
Maaf
saja sudah memberitahuku nama lengkapnya, tapi aku putuskan untuk mengingatnya
sebagai Remy saja.
"Yah, masalahnya adalah mulai dari sekarang……. Tidak
ada gunanya penyakit kalian sembuh kalau tidak bisa pulang ke kota asal."
"Kalau kita bertemu penjahat-penjahat itu lagi, kamu
pasti akan melindungi kami, kan? Kamu kan mata-mata, pasti kemampuan
bertarungmu hebat."
"……Tidak, aku tidak bisa menjamin itu."
"K-kenapa!"
"Setangguh apa pun seseorang, tidak ada yang mutlak
di dunia ini."
"──!"
"……!"
Mendengar ucapanku, Karen dan Nina langsung menegang.
Mungkin keseriusanku tersampaikan, hingga mereka
merasa 'ngeri', tapi sebenarnya yang paling merasa takut adalah aku sendiri.
Jika terjadi sesuatu, akulah yang harus bertarung.
Berbeda dengan dunia gim, ini adalah pertempuran
sungguhan yang mempertaruhkan nyawa, di mana darah segar akan mengalir.
Ini adalah bagian yang tidak bisa dimenangkan hanya
dengan pengetahuan gim semata. Aku ingin menghindarinya bagaimanapun caranya.
"……Karena itulah, aku akan bertindak agar kita
tidak perlu bertempur. Supaya kita semua bisa bertahan hidup."
"Be-benar-benar pemikiran khas seorang mata-mata,
ya……"
"Tapi, saya rasa itu adalah pilihan yang
terbaik……"
"Nyawa itu cuma satu. Kalau mati, semuanya
berakhir."
Pembicaraan segera mencapai kesepakatan.
"Lalu, apa kamu punya rencana?"
"……Kalau ditanya begitu, aku jadi bingung
menjawabnya."
"Eh?"
Nina mengeluarkan suara heran menanggapi jawabanku atas
pertanyaan Karen.
Begitu mata kami bertemu, mereka berdua memasang ekspresi
yang sulit dijelaskan.
Suasananya seolah memaksaku untuk mengatakan sesuatu.
"Anu……
ini hanya pendapatku saja, tapi menurutku musuh yang menculik kalian pasti
sedang mengawasi sekitar Kota Waeha. Itu kota terdekat dari sini, dan karena
(katanya) aku bergabung dari sana, mereka pasti berpikir ada semacam
koneksi."
Aku menjelaskan sambil menunjuk peta.
"Apa mereka tidak akan menyerah dan berhenti
mengawasi……?"
"Orang yang gampang menyerah tidak akan jadi
penculik, mungkin. Selama masih ada kemungkinan mendapatkan hasil, kita harus
berasumsi mereka akan melakukan sesuatu."
Bagi orang jahat, hasil terburuk adalah jika tawanan
mereka masuk ke kota yang ramai dan memanggil bantuan.
Wajar jika mereka mengambil tindakan untuk mencegah hal
itu.
"Makanya, aku berencana mengambil jalan memutar.
Bukannya ke utara menuju Kota Waeha, kita akan menuju selatan hutan ini
melewati pemukiman penduduk. Yah, memang butuh uang, tapi aku tahu kita bisa
menyewa kereta kuda di sana."
Pengetahuan gimku langsung berguna.
"Ta-tapi, kami tidak punya uang tunai……"
"Tenang saja, aku punya uang (hasil mencuri dari
para bajingan itu). Aku tidak keberatan memakai semuanya. Lagipula, kalian
butuh pakaian baru, jadi lebih baik kita royal saja. Orang-orang di sana galak
pada orang asing."
Meski aku melakukan perbuatan buruk dengan mencuri,
untuk saat ini aku bersyukur telah melakukannya.
Berkat uang ini, pilihan kami jadi bertambah.
"……Anu, kenapa Anda mau membantu kami sejauh
ini? Sampai menggunakan Elixir yang sangat berharga…… Padahal
memberitahu kalau Anda seorang mata-mata itu sebenarnya dilarang, kan……?"
"A, aa-……"
Aku baru sadar setelah Nina mengatakannya. Betapa
beraninya aku berbohong menjadi mata-mata dan betapa seriusnya aku ingin
menolong mereka.
Saat diskakmat seperti ini, rasanya jadi agak malu.
"……Yah, berterimakasihlah pada orang tua kalian.
Kalau bukan karena perintah dari atasan, aku tidak akan melakukan ini."
Sambil menggaruk pipi untuk menutupi rasa malu,
pandanganku beralih dan bertemu mata dengan seseorang.
Gadis berambut pirang yang berbaring di tempat tidur itu
sudah membuka matanya dan sedang melihat ke arahku.
"O-oi……
Kamu Remy, kan. Kalau sudah bangun, bilang dong."
"……Aku
sudah bangun."
"Kamu
telat bilangnya."
Meski
nada bicaranya yang agak angkuh sedikit mengganggu, aku lega melihat dia sudah
pulih.
"Pokoknya kita susun rencana sedikit lagi……. Oh iya,
kalau sudah malam, kalian cucilah badan di sungai. Jangan pergi siang hari,
nanti ketahuan orang."
"Anu, saya bisa menggunakan sihir Purification……"
Nina berkata sambil mengangkat tangannya.
"Oho. Kalau begitu kalian berdua minta saja sihir
darinya. Aku tidak mau merepotkan anak kecil, jadi aku akan mandi di sungai
saja."
"Heh. Ternyata kamu tidak bisa pakai sihir itu, ya.
Padahal buat mata-mata, itu sihir yang sangat berguna."
"……Semakin seseorang mencoba tampil praktis, semakin
besar kemungkinan penyamarannya terbongkar."
"……Kamu ini, memang bukan orang sembarangan
ya."
"Yah, begitulah, aku ini (setidaknya dalam hal
bicara) adalah kelas satu."
Meski aku bersikap sok tenang, rasa takut kalau-kalau
ketahuan masih belum hilang sepenuhnya.
Namun, dengan pengetahuan yang ada di kepala,
perlengkapan yang kukenakan, serta tumpukan obat-obatan, rasa percaya diri
untuk bisa selamat mulai muncul sedikit demi sedikit.
Tapi, jika aku berada dalam situasi tanpa modal
apa-apa──aku pasti tidak akan bisa bicara selancar ini. Aku pasti sudah hancur
oleh rasa cemas.
◆◇◆
Sudah seminggu berlalu sejak kami meninggalkan rumah
pohon setelah menyusun rencana pelarian yang sangat matang.
"Oi! Segera kirim laporan!!"
"Si-siap, laksanakan!!"
Di depan gerbang benteng yang menjadi pintu masuk kota,
para penjaga gerbang tampak sibuk berlalu-lalang.
"Sepertinya……
mereka sedang sibuk ya."
"Tentu saja. Karena kita sudah kembali dengan
selamat. Mana mungkin informasi tentang penculikan kami tidak sampai ke
sini."
"O-oh, begitu ya?"
Begitu Karen memberiku komentar tajam.
"Wah……"
Nina, yang tadinya buta, mengeluarkan suara kagum saat
melihat tembok batu raksasa yang mengelilingi kota dan pemandangan kampung
halamannya yang ramai dengan orang-orang.
"……"
Sedangkan Remy, dia tetap diam sembari menggenggam kedua
lengan zirah hitamku dengan kedua tangannya. Terus seperti itu.
Berpikir bahwa mungkin dia masih trauma akibat serangan
waktu itu…… aku jadi tidak tega menolaknya dan membiarkannya melakukan
sesukanya.
Kemudian, seorang pemimpin penjaga gerbang yang mengurus
area itu maju ke depan.
(I-ini orang badannya gede banget, kayak bisa
menghancurkanku dalam satu serangan saja……)
Sesuai gumaman batinku, aura kekuatannya terpancar kuat
dari tubuhnya yang kekar dan penuh bekas luka di sana-sini.
Meski terlihat seperti penjaga veteran yang telah
melewati banyak pertempuran──.
"Nona Karen, Nona Nina, Nona Remy. Syukurlah kalian
selamat!"
Sambil menangkupkan kedua tangan, sikapnya sangat sopan,
berbanding terbalik dengan penampilannya.
"Terima kasih. Kami bisa kembali dengan selamat
berkat orang ini, lho."
"Siap! Kami benar-benar berterima kasih untuk kali
ini! Kami hargai bantuan Anda dari lubuk hati yang
terdalam!!"
Karena tiba-tiba pembicaraan dilempar kepadaku, aku
hanya mengangkat tangan sedikit seolah berkata 'tidak usah dipikirkan'.
Aku hanya bisa merespons tanpa kata karena penjaga
berotot itu memberiku hormat yang paling tinggi.
Aku terlalu bingung untuk bicara.
"Ka-kalau begitu, Nona Karen, Nona Nina, dan Nona
Remy, silakan tunggu di dalam pos penjagaan! Penjemput kalian akan segera
datang!"
"A-anu, apa yang akan Anda lakukan setelah
ini?"
"Aku? Aku rencananya akan tinggal di kota ini untuk
sementara."
Begitu aku menjawab pertanyaan Nina, Karen langsung
menambahkan penjelasan.
"Bukan itu maksudnya, dia bertanya apa kamu punya
rencana setelah ini? Kami memang tidak tahu detailnya, tapi bukankah
pekerjaanmu biasanya punya jadwal? Seperti melapor ke atasan atau semacamnya."
"A,
aa…… yah, begitulah."
Sejujurnya aku ini pengangguran. Tapi itu bukan urusan
mereka. Wajar kalau jawabanku jadi tidak jelas.
"……Tidak perlu terburu-buru. Remy
mengizinkanmu."
"Kamu ini bicara dari posisi yang tinggi sekali
ya."
Aku membalas perkataannya sambil menatap matanya.
Di tengah percakapan ini, aku sama sekali tidak menyadari
ada seorang penjaga gerbang di depanku yang ekspresi wajahnya seolah-olah
matanya mau copot.
"Ka-kalau kamu punya waktu…… tinggallah bersama
kami. Akan sangat memalukan kalau kami tidak memberimu imbalan."
"Kalau begitu, simpan saja dulu untuk lain waktu. Maaf, tapi saat ini aku sedang tidak senggang."
"……Haa. Sudah kuduga kamu akan bilang
begitu."
"A-anu, imbalan dari keluarga saya juga……"
"Itu juga kapan-kapan saja. Sama juga buat
Remy."
"Tidak mau."
"Aku juga tidak mau."
(Rasanya lelahnya tiba-tiba menyerang ya……)
Karena perasaanku berbeda dengan dunia gim, aku tidak
bisa melakukan pertarungan hebat. Justru karena itulah, sarafku terkuras habis
untuk terus waspada terhadap sekitar sampai tiba di kota ini.
Begitu ketegangan itu putus, prioritas utamaku berubah
dari imbalan menjadi 'ingin cepat-cepat mengistirahatkan tubuh'.
"Pokoknya, kalian cepatlah ikuti instruksi pak
penjaga dan masuk ke ruangan khusus. Kalian baru bisa benar-benar tenang kalau
sudah sampai di rumah, kan."
"I-iya,
aku mengerti…… Kamu ini waspada sekali sih……"
"Benar-benar terima kasih banyak."
"……"
"Oi, Remy. Kamu juga."
"……Mm."
Aku menegur Remy yang tadi sempat ingin tetap tinggal,
lalu melihat mereka masuk ke dalam sambil dipandu oleh penjaga lain.
Aslinya pos penjagaan bukanlah tempat yang bisa dimasuki
sembarang orang, tapi karena informasi penculikan mereka sudah tersebar, mereka
bisa masuk ke sana dengan alasan perlindungan.
Setelah ketiga gadis itu tidak terlihat lagi, penjaga
gerbang berotot yang masih ada di sini kembali menundukkan kepalanya.
"Izinkan saya berterima kasih sekali lagi. Benar-benar, saya sangat berterima kasih."
"Tidak…… tidak apa-apa."
Menghadapi orang seperti dia benar-benar membuatku
kikuk. Aku jadi makin irit bicara.
"Yah, sisanya aku serahkan padamu."
"Siap! Akan saya laksanakan meski harus bertaruh
nyawa!"
"Ka-kalau begitu, aku masuk ke kota ya……?"
"Tentu saja. Kami menyambut kedatangan Anda dengan
hangat."
"Te-terima kasih……"
Maka, laki-laki yang justru merasa tertekan karena
diperlakukan dengan sangat hormat itu pun masuk ke dalam kota sambil
celingukan.
──Di sisi lain.
Penjaga gerbang yang terus memperhatikan punggung
laki-laki berbaju zirah hitam yang seolah-olah memancarkan tekanan berat itu,
"O-oi. Dia itu sebenarnya siapa……? Benar-benar pria yang luar biasa……"
"I-iya
ya…… Dia itu monster, Bos. Cuma lihat saja sudah ketahuan."
Setelah punggung itu menghilang dari pandangan, ia mulai
berbicara dengan bawahannya.
"Perlengkapan itu, aku belum pernah melihatnya sama
sekali. Padahal aku cukup percaya diri dengan pengetahuanku soal barang
beginian."
"Aku sempat menggunakan skill Appraisal,
tapi…… informasi yang kudapat hanyalah bahwa itu item langka yang ditemukan di
Dungeon Level 8. Masih misteri kemampuan apa saja yang dimilikinya……"
"Level 8!? Itu kan tempat yang baru bisa ditaklukkan
oleh dua klan peringkat teratas saja!?"
"Bukan hanya menyelamatkan mereka bertiga tanpa luka
dari organisasi kriminal kejam Red Fried, dia bahkan memprioritaskan keamanan
para putri bangsawan itu dan tetap waspada penuh bahkan saat hendak masuk kota.
Dia pasti seorang veteran perang yang sangat berpengalaman."
Itulah yang dirasakan oleh penjaga gerbang veteran
tersebut.
"Fuu……
Aku sangat ingin melihat wajah di balik pelindung kepala itu."
"Eh, apa Anda tidak memeriksa identitasnya!? Itu
bukannya melalaikan tugas……"
"Apa
katamu…… Mana mungkin aku bisa memperlakukan orang yang telah mempertaruhkan
nyawa untuk menyelamatkan Nona Karen, Nona Nina, dan Nona Remy dengan
sembarangan. Kita tidak boleh melakukan hal yang bisa menyinggung
perasaannya. Dia sudah sangat pantas mendapatkan perlakuan istimewa."
"A,
be-benar juga ya. Kalau dipikir-pikir, masuk akal kalau dia penakluk
Level 8. Sampai bisa memberikan 3 botol Elixir legendaris begitu
saja."
"Hmm? Elixir legendaris?"
"Lho, Pemimpin tidak sadar? Penyakit ketiga nona
itu sudah sembuh total. Yang paling jelas saja, Nona Karen yang seharusnya
kakinya lumpuh tadi bisa berjalan normal, kan."
"──!!??"
Karena terlalu banyak hal yang harus diurus, ia baru
menyadarinya setelah diberi tahu.
"Iya, benar. Tadi saya sempat dengar cerita dari
ketiga nona itu, katanya dia memberikan obat itu dengan santai sambil bilang
'aku tidak menyimpan barang setengah-setengah'…… Gila, apa yang dia lakukan
benar-benar mengerikan……"
"……O-oi. Ini darurat. Segera laporkan informasi
tentang dia ke atasan. Kirim juga ke Asosiasi Hunter!"
"Eh?"
"Sudah cepat lakukan saja!"
"Si-siap, laksanakan!!"
Menyadari nada suara dan ekspresi serius pemimpinnya,
bawahan itu segera bergerak.
Putri keluarga Duke dengan gelar kebangsawanan
tertinggi, Karen Dior Ardi. Keturunan garis silsilah suci Gereja Seisei yang
turun-temurun, Nina Quarie Ansarage. Putri dari pemimpin yang membawahi banyak
organisasi perdagangan, Remy Traria Albrela.
Laki-laki itu bisa bicara sesantai itu kepada
putri-putri kesayangan orang-orang berkuasa yang disebut 'Tiga Terkuat' di kota
ini dan sekitarnya.
Dia membuang Elixir yang saking berharganya
bisa digunakan untuk membangun kastil, namun tetap menolak imbalan.
Ditambah lagi, dia adalah seorang 'Reacher' yang
memegang item dari Dungeon Level 8.
Karena semua tindakannya itu benar-benar di luar
nalar orang biasa, sang pemimpin pun bertepikir; Bahwa pria itu mungkin adalah
anggota dari organisasi rahasia yang berafiliasi langsung dengan Kekaisaran.
Organisasi pemelihara keamanan yang dikenal dengan nama,
Veltal.



Post a Comment