Chapter 6
Sikap Manja
yang Canggung
"Benar-benar tidak apa-apa aku menerima rumah
semewah ini……? Termasuk seluruh furnitur dan peralatan makannya……?"
"Semua ini adalah kehendak Ayah, jadi mohon jangan
terlalu dipikirkan."
"Kamu ini rendah hati di saat yang aneh, ya. Padahal
kamu berani memanggilku 'kamu' begitu saja."
"……Itu urusan yang berbeda."
Karen melontarkan argumen yang telak tepat setelah
pemanduan vila selesai dan kami baru saja memasuki ruang tamu.
"Ah, maaf. Silakan duduk. Meski ini sudah diberikan
padaku, aku ingin kalian merasa nyaman seperti di rumah sendiri."
"U-untuk poin terakhir itu, saya agak sulit setuju,
tapi…… terima kasih. Kalau begitu, saya terima tawarannya."
Begitu aku mengulurkan tangan mempersilakan, Lifia pun
duduk.
(Kenapa ya dia bisa punya cara duduk yang begitu anggun……
serius.)
Aku mencoba meniru cara duduknya, tapi malah merasa
posisiku jadi aneh. Aku sadar hal seperti ini tidak bisa dipelajari hanya dalam
semalam.
(Semoga dia tidak melihat cara dudukku barusan.)
Sambil berharap demikian, aku berdeham, lalu Karen yang
masih berdiri memanggilku.
"Hei, alasanmu langsung menyuruhku 'duduk' tadi, apa
karena kamu mencemaskanku? Karena kamu membiarkanku memandumu sampai akhir
padahal kakiku baru saja sembuh."
"……Hm?"
Aku sempat memiringkan kepala sejenak, namun aku mulai
paham apa yang ingin Karen katakan.
Padahal aku sama sekali tidak bermaksud mencemaskannya.
Aku hanya mengatakan hal yang wajar.
"……Asal tahu saja, aku sama sekali tidak
lelah."
"Anak-anak tidak boleh memaksakan diri."
"Aku bukan anak-anak!"
"Iya, iya."
(Padahal dia anak-anak, tapi sikapnya benar-benar
dewasa ya……)
Karen adalah pihak yang menerima manfaat dari Elixir.
Dari posisinya, dia mungkin berpikir, 'Aku harus selalu terlihat baik-baik
saja!'.
"Obat itu bukan digunakan supaya kamu bisa
memaksakan diri. Di depanku, bersikaplah sesantai mungkin sampai terasa
tidak sopan pun tidak apa-apa. Sungguh."
Jika sampai terdengar kabar bahwa 'aku memaksakan putri
kesayangan keluarga Duke', situasinya tidak akan berakhir hanya dengan kata
mengerikan saja.
Di tengah usahaku menasihatinya sambil bergidik ngeri
dalam diam──aku tidak menyadari bahwa Lifia sedang menatapku dengan binar mata
yang terlihat bahagia.
"Ah, benar juga. Kalau kamu memang sangat tidak mau
duduk di sofa, apa kamu mau duduk di atasku saja? Di atas zirah keras
ini."
Sofa yang empuk dan zirah hitam yang keras. Jika ditanya
mana yang lebih nyaman diduduki, semua orang pasti akan menjawab sofa.
Singkatnya, tidak ada pilihan lain selain memilih yang
pertama.
(Sempurna sekali idenya……)
Sambil memuji diri sendiri, aku membuat prediksi yang
mudah ditebak, namun kemudian dia berkata:
"Oh, begitu. Kalau begitu, di atasmu saja."
"Oke…… eh?"
Saat aku mengeluarkan suara keheranan, semuanya sudah
terlambat.
Di depanku ada punggung kecil. Sambil menggumamkan
"Hup", dia langsung duduk di atas pahaku.
"Tunggu. Apa maksudmu ini?"
"Bukankah kamu sendiri yang bilang 'mau duduk di
atasku?'."
Aroma harum tercium darinya. Dia menyandarkan
tubuhnya padaku seolah itu hal yang wajar.
"I-itu kan cuma bercanda…… Memangnya tidak sulit
duduk di sini?"
"Sepertinya pantatku bakal sakit."
"Sudah kuduga……"
Sekadar informasi, dia sama sekali tidak berat. Hanya
saja pandanganku ke depan terhalang oleh rambut merahnya, sehingga aku tidak
bisa melihat Lifia dengan jelas.
"Wah, beruntungnya kamu ya, Karen."
"A-aku sama sekali tidak merasa senang, kok."
"Fufu, Kakak kan tidak bertanya kamu senang atau
tidak?"
"Duh!"
Pada saat ini, sedang terjadi adu mulut yang
mengandung kecemburuan dari salah satu pihak, namun hal itu tidak akan
dimengerti kecuali oleh mereka yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun.
Tanpa menghentikan pertengkaran saudara yang sama sekali
tidak menakutkan itu, aku membiarkan mereka melakukan sesuka hati, dan
hasilnya──.
"La-lagipula, kenapa kamu masih memakai armor itu?
Ini kan sudah jadi rumahmu, kamu sendiri harusnya bersantai sedikit."
Tiba-tiba percikannya menyambarku.
"……Ya-yah, untuk berjaga-jaga jika terjadi
sesuatu."
Aku mengatakan alasan yang terdengar masuk akal, padahal
aku sama sekali tidak percaya diri bisa melindungi siapa pun. Sejujurnya aku
ingin melepasnya.
Namun, karena ada Lifia yang kutemui di menara jam itu
tepat di depanku, rasanya canggung jika harus bertatap muka. Jika dia melihat ekspresiku, identitasku sebagai pengecut dan orang
rendahan akan terbongkar.
Di sini, aku memutuskan menggunakan Karen untuk
mengalihkan pembicaraan.
"Tunggu!? J-jangan elus-elus kepalaku! Sudah
kubilang jangan anggap aku anak kecil!"
"Kalau begitu ayo, sebelum aku melakukan hal seperti
ini lagi, cepatlah duduk di sofa. Pantatmu nanti sakit, lho."
"Tidak mau."
"Kenapa sih."
Lifia menatap lekat-lekat interaksi kami berdua.
"Hah. Ngomong-ngomong, berani sekali Duke membiarkan
kalian berdua yang memanduku."
"Maksud Anda?"
Saat Karen masih nangkring di atas pahaku, Lifia-lah yang
menyahut gumamanku itu.
"Biasanya, pemanduan semacam ini kan diserahkan pada
laki-laki? Meskipun aku sudah menyelamatkannya, tapi di tempat seperti ini kan
kita tidak tahu apa yang bisa terjadi, apalagi latar belakangku juga belum
jelas."
Sang Duke benar-benar berani mempercayakan putri
kesayangannya di tengah risiko yang berbahaya. Meskipun ini untuk menunjukkan
rasa terima kasih, aku merasa ini terlalu berlebihan.
"Memang benar, pada dasarnya tugas ini tidak
akan diserahkan kepada kami."
"Benar juga ya~. Latar belakangnya juga tidak
jelas~."
"K-kan?"
Karen menjawab dengan nada datar, seolah itu topik
yang tidak menarik baginya.
"Ayah bukanlah orang yang bertindak tanpa
pertimbangan, jadi saya rasa beliau menilai Anda sebagai sosok yang sangat
layak untuk dipercaya."
"Hoo……"
Meskipun aku menyembunyikan penampilanku dengan
armor, fakta bahwa beliau bisa memberikan penilaian itu berarti beliau memang
ahli dalam membaca orang.
(Tadi itu aku benar-benar berhadapan dengan orang
yang luar biasa ya……)
Tanpa sadar aku merasa ingin merinding, tapi ada
anggota keluarga bangsawan yang masih duduk di atasku seolah itu adalah tempat
duduk tetapnya. Aku berusaha menahannya.
"Lagipula, mana mungkin kami tidak
mempercayaimu. Kamu kan sudah memberikan Elixir itu."
"Itu……
ada benarnya juga."
"Hmph!"
(Ya-yah,
jawaban seperti ini memang gaya Karen sekali……)
Padahal
kalau dia tidak mengatakan itu, martabat ayahnya pasti akan naik. Fakta bahwa
dia tetap menyampaikannya meski memahaminya, bisa terlihat dari jawabannya yang
sok kuat.
"……"
"……"
"……"
Saat
aku sedang berpikir sejenak, aku menyadari percakapan terhenti.
Dalam
keheningan, terdengar suara 'plak-plak' yang bergema. Ternyata
itu suara Karen yang menepuk-nepuk armorku, entah kenapa dia sedang memastikan
teksturnya.
"Ah, benar juga, aku lupa bertanya. Kapan kalian
berencana pulang? Apa tidak ada perintah untuk segera kembali setelah pemanduan
selesai?"
"Kami disuruh pulang 'sebelum matahari
terbenam'."
"Kalau mepet begitu, orang tua kalian pasti
cemas."
Setidaknya, aku ingin mereka pulang dengan waktu yang
longgar. Demi keamanan juga.
"Kalau begitu Tuan Hitam, jika Anda tidak keberatan,
maukah Anda makan malam di kediaman kami?"
"Tidak, untuk yang satu itu aku harus
menolaknya."
"Kenapa ditolak!? Padahal bakal ada hidangan mewah, lho."
"Ada banyak alasan. Aku terima niat baiknya
saja."
(Benar-benar tolong ampuni aku. Kalau yang itu jangan
sampai.)
Makan bersama keluarga Duke, dikasih uang pun aku tidak
mau.
Dua orang di depanku ini saja cara duduknya sudah sangat
berkelas. Kemampuan table manner mereka pasti sudah berada di level
sempurna.
Makan di ruangan seperti itu tidak ada bedanya dengan
mimpi buruk.
"Ternyata Anda benar-benar orang yang sibuk
setiap harinya, ya."
"Ya-yah, begitulah……"
Aku merasa bersalah karena berbohong, tapi aku tidak
ingin mempermalukan diri sendiri karena 'tidak tahu sopan santun'. Aku juga
tidak mau dimarahi di tempat.
"……Hei, aku beri tahu satu hal ya. Kalau
kamu mau meninggalkan kota ini, kamu harus mampir ke tempat kami. Laporkan juga
kapan kamu akan kembali."
"Tidak mau."
"Kenapa sih!"
(Karena aku takut bertemu Duke.)
Tentu saja aku tidak bisa mengatakan isi hatiku yang
sebenarnya.
"Akan merepotkan, jadi aku tidak mau. Banyak hal
pokoknya."
Anehnya, mereka berdua mau mengalah. Entah kenapa mereka
tidak mendesakku lebih jauh.
Cukup dengan kata-kata seperti 'sesuatu hal' atau 'banyak
hal'.
"Karen, mau bagaimana lagi kalau soal itu."
"……. Kalau begitu tinggallah selama mungkin di kota
ini."
"Tentu saja. Ini kota yang bagus, dan ada banyak hal
yang ingin kulihat sebagai turis, jadi rencananya aku akan tinggal di sini
untuk sementara."
(Lagipula masih ada orang-orang berkuasa yang mencariku……
Mungkin dua orang itu……)
Aku tidak bodoh. Aku sudah punya gambaran tentang
siapa dua orang kuat lainnya yang tersisa.
"──Eh,
ap…… apa? Gestur apa itu tadi──?"
"Ti-tidak ada apa-apa!"
Saat aku sedang meletakkan tangan di dagu sambil
berpikir, aku melihatnya di sudut pandangku.
Lifia mengirim tatapan ke arah Karen, lalu menggerakkan
tangannya seolah sedang mencengkeram bola besar dengan kedua tangan dan
menariknya ke atas.
Melihat itu, Karen menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Se-sebenarnya apa yang kalian lakukan……?"
"Kakak memberiku instruksi. Dia bilang, 'Coba tarik
helm bajunya ke atas'."
"──!
Karen!!"
"Ho-hoo……
Di luar dugaan…… Ternyata kamu punya sisi agresif juga ya."
Aku
paham kalau dia penasaran dengan wajahku, tapi waktunya terlalu maksa.
Mengingat penampilannya yang anggun, ini benar-benar mengejutkan.
"Duh……
Karen bakal Kakak hukum nanti……"
"Biarin.
Tadi itu kan Kakak yang salah."
Lifia
memprotes sambil menutupi wajah kecilnya dengan kedua tangan, sementara Karen
membalasnya dengan argumen yang telak.
Sepertinya posisi mereka sedikit berbalik.
"Pe-pertama-tama, Karen cepat turun dari pangkuan
Tuan Hitam. Itu kan merepotkan beliau."
"Tidak mau. Kan aku yang ditawari."
"Tunggu……"
Baru saja kupikir dia mencengkeram kedua pergelangan
tanganku dengan tangannya, tiba-tiba Karen melingkarkan lengannya di perutku
seolah-olah dia sedang memelukku.
Itu sudah seperti memakai sabuk pengaman, dia menunjukkan
posisi penolakan yang sangat tegas.
"Oi, oi……"
Selama proses ini, aku bahkan tidak bisa melawan. Aku
takut jika menggerakkan tangan, aku malah menyentuh bagian yang aneh, atau
sebaliknya malah dianggap melakukan pelecehan seksual.
Tanpa mengetahui perasaanku, Karen memasang wajah bangga
sambil berhadapan dengan Lifia.
"Kalau Kakak iri, bilang saja iri, Kak."
"Hah…… A-aku tidak iri kok……"
"……Hm?"
Di sini, aku tidak sengaja bertatapan dengan Lifia yang
melirikku dengan tatapan malu-malu.
Mungkin karena kepribadiannya yang jujur, aku bisa
merasakannya. Apa yang Karen katakan mungkin benar.
"Ah, (aku tidak tahu kenapa kamu harus iri……)
seandainya memang begitu, bukankah sebaiknya hal-hal seperti ini tidak
dilakukan?"
"──!"
"Hei, kenapa kamu cuma menolak Kakak saja?"
"Ah, bukan begitu. Maksudku bukan begitu……"
Karen yang tadi berdebat pun kini berbalik membela
kakaknya. Karena tidak sengaja memberikan kesalahpahaman, aku pun
buru-buru menjelaskan alasannya.
"D-dilihat dari penampilannya, dia kan gadis di usia
yang sedang mekar-mekarnya? Dan
lagi…… dia cantik, berkedudukan tinggi pula. Singkatnya, bukankah dia sudah
punya kekasih?"
"Begitu
rupanya."
Suara
yang terdengar paham keluar dari mulut Karen. Berikutnya, Lifia yang tampak
lega mulai membuka suara.
"Seperti
yang Anda katakan, ada banyak tawaran perjodohan yang datang, namun saat ini
saya masih melajang."
"Ah,
begitu ya…… Itu mengejutkan."
"Pihak laki-lakinya yang menyerah duluan. Mereka
jadi tergila-gila pada Kakak, lalu bertingkah memalukan, sampai-sampai tidak
punya muka lagi untuk bertemu."
"Haha, berat juga ya kalau begitu."
(Yah, aku paham sih perasaan mereka.)
Aku bisa berkomunikasi dengan tenang karena aku menjaga
jarak tertentu dan menyembunyikan wajahku.
Tapi jika di tempat seperti 'perjodohan', orang pasti
akan mencoba tebar pesona dan malah berakhir gagal. Apalagi lawannya secantik
ini.
"Makanya Kakak itu sebenarnya pengen dimanja, lho.
Padahal dia berusaha mendekat supaya bisa akrab, tapi malah sering dijauhi oleh
para tuan muda."
"Begitu ya."
"Ka-Karen. Tolong jangan katakan lebih dari itu.
Malu tahu……"
(Yah, Karen yang masih nangkring di pangkuanku sebenarnya
tidak dalam posisi yang benar untuk mengomentari orang lain, sih.)
Karena mereka bersaudara, esensi mereka mungkin mirip.
Kenyataannya, aku punya firasat kalau Karen sudah dewasa nanti, fenomena yang
sama akan terjadi padanya.
"Hei, kamu."
"Hm?"
──Tiba-tiba, Karen mengajakku bicara dengan suara
berbisik.
"Coba tepuk-tepuk sofanya pelan."
"……Kenapa?"
"Sudah, lakukan saja."
Berbeda jauh dengan suara kecilnya tadi, Kai yang terdesak oleh suara yang entah kenapa terasa penuh tekanan itu pun menuruti instruksi tersebut. Dan pada saat itulah.
Melihat tindakan tersebut, Lifia memasang ekspresi
terkejut seolah bergumam "Ah", lalu ia pun bangkit berdiri.
"……Hm?"
Selanjutnya, dengan langkah kecil yang teratur, ia
mendekat dan duduk di sampingku dengan perasaan ragu.
"Lihat, kan?"
"Tidak, meskipun kamu bilang 'lihat, kan' sambil
memancingku begitu……"
Aku baru paham sekarang kalau Karen ingin menunjukkan
bukti bahwa kakaknya itu 'manja', tapi ini adalah situasi yang sama sekali
tidak kuduga.
Aku hanya bisa merasa ngeri menyadari fakta bahwa aku
baru saja menggerakkan anggota keluarga Duke hanya dengan satu tangan seolah
sedang memanggil seekor hewan peliharaan.
"Bagaimana menghadapi situasi ini……"
"Kita bicara begini saja tidak apa-apa, kan?"
"Te-tentu, aku akan sangat senang jika Anda mau
melakukan itu."
"Eh?"
Suara Kai mendadak melengking tanpa sengaja saat Lifia
meletakkan tangannya di atas punggung tangan kanannya sambil menatap dengan
pandangan memohon dari bawah.
"Baru pertama kali aku melihat Kakak sampai
melakukan hal seperti ini……"
Gumam Karen terdengar, dan itu membuatku semakin
tenggelam dalam kebingungan.
Satu jam berlalu sejak interaksi tersebut──tanpa terasa
waktu sudah hampir memasuki senja.
"Hari ini benar-benar sangat terbantu."
"Kami yang seharusnya berterima kasih atas waktu
berharga Anda."
"Ngh, pantatku sakit sekali……"
"Ya iyalah, kalau duduk di tempat sekeras itu selama
itu……"
Kami keluar dari kediaman, lalu aku bertukar salam
perpisahan dengan mereka berdua yang hendak naik ke kereta kuda mewah.
"Segel lambang keluarga kami yang merupakan salah
satu tanda terima kasih ini cukup rumit, jadi kemungkinan baru bisa diserahkan
lusa. Saat itu, kami akan berkunjung kembali dan berharap bisa membicarakan
sistem pengelolaan kediaman ini secara terpisah."
"Dimengerti."
"Kalau begitu, jaga kesehatanmu sampai kita bertemu
lagi ya."
"Karen juga."
"A-ah, iya……"
"Nah, cepatlah pulang dan buat orang tua kalian
tenang."
"I-iya, aku tahu! Kakak, ayo pergi!"
"Baiklah. Kalau begitu, kami mohon pamit untuk hari
ini."
Pintu kereta kuda tertutup mengakhiri percakapan
tersebut, dan kuda-kuda mulai melangkah di bawah kendali kusir.
Semakin aku melambaikan tangan untuk melepas kepergian
mereka, kereta itu pun semakin menjauh.
"……Nah, sekarang."
Inilah saat yang akhirnya tiba, waktu di mana aku bisa
melepas seluruh zirah dan helm ini.
"Hah— lega sekali……"
Aku menggumamkan kata-kata itu dengan suara pelan
sendirian.
◆◇◆
"Haaah……
waktu rasanya cepat sekali berlalu sampai aku lupa waktu."
"Sejujurnya
aku ingin tinggal lebih lama."
"Fufu,
aku pun merasakannya."
Di
dalam kereta kuda yang melaju meninggalkan Si Hitam, pasangan kakak-beradik itu
bercakap-cakap sambil membalas lambaian tangan pria yang melepas mereka dari
jendela.
Terutama Lifia, meskipun merasa berat untuk berpisah, ia
tampak sangat gembira.
"Baguslah
ya, Kak. Dipuji cantik oleh orang itu."
"Iya,
benar-benar…… Bagus juga Karen dipanggil dengan nama langsung olehnya."
"Ya-yah,
begitulah."
Lifia
menjawab sambil menyipitkan mata dan mengangguk kecil, sementara Karen tampak
malu-malu tapi senang.
"Padahal
beliau memiliki reputasi yang lebih besar dari siapa pun, tapi kenapa beliau
bisa menjadi orang yang begitu murah hati ya……"
"Mungkin hanya orang seperti itulah yang bisa
bergabung dengan Veltal? Kurasa begitu."
Keluarga Duke telah berkesimpulan dalam berinteraksi
dengannya. Bahwa Si Hitam adalah orang yang bernaung di bawah organisasi
rahasia yang melayani langsung Kaisar.
"Tapi, alasan Kakak ingin tinggal lebih lama itu
kan untuk menambah kesempatan melihat wajah orang itu. Baru pertama kali ini
aku melihat Kakak membuat gestur seperti tadi."
"Ha-habisnya, beliau adalah orang yang telah
menyelamatkan Karen, dan ada kemungkinan beliau adalah orang yang kutemui di
menara jam itu……"
Mata Lifia bergetar, seolah masih ada ganjalan di
hatinya.
"Wajah Tuan Hitam, suatu saat nanti aku ingin
sekali melihatnya……"
"Ja-jangan memasang ekspresi seperti itu dong,
Kak. Nanti kalau sudah sampai rumah, bukannya aku tidak mau memberitahumu lewat
gambar."
"Aku senang kamu menawarkan itu, tapi karena
gambar Karen sangat unik, mungkin kurang bisa dijadikan referensi……"
"Apa!? Kakak malah lebih buruk gambarnya!"
Tepat saat mereka mulai berdebat tanpa menghentikan
lambaian tangan dan terus mengirimkan pandangan ke arah pria itu.
Tanpa ada peringatan apa pun──pria itu memegang helmnya,
lalu melepaskannya begitu saja.
Seolah-olah dia bisa mendengar percakapan di dalam kereta
kuda, seolah-olah dia ingin menghapus penyebab perdebatan mereka dengan berkata
'jangan bertengkar'.
Saudara perempuan itu menyadari tindakan pria tersebut di
saat yang bersamaan.
"Ka-Kakak!"
"……"
"Kakak?"
Orang yang seharusnya bereaksi dengan semangat yang sama,
ternyata tidak melakukannya.
Karen menoleh ke arah kakaknya yang tidak memberikan
respon.
Di sana
ada…… sang kakak yang membeku seperti batu dengan mata terbelalak dan mulut
sedikit terbuka.
Mata
yang ramah namun memiliki bekas luka pedang, wajah yang tampak muda dan
terlihat sedikit nakal──itulah wajah aslinya.
Lifia,
yang membakar habis rupa Si Hitam yang berbeda dari dugaannya ke dalam
ingatannya tanpa melewatkan sedetik pun, tiba-tiba membocorkan suara tawa.
"Fu, fufufu, benar-benar orang itu…… menggodaku
sampai detik terakhir……"
"Eh? Ah! Berarti benar, dia orang yang kamu
temui di menara jam itu!?"
"Iya, tidak salah lagi."
Lifia menjawab sambil terus menatap lekat sosok pria
itu yang kini tampak menjauh.
"Hei
Karen, apakah pertemuanku dengannya…… adalah sebuah kebetulan?"
"Normalnya
sih kebetulan. Soalnya tidak ada yang tahu kalau Kakak suka pemandangan dari
menara jam itu. Kereta kuda yang Kakak pakai pun kan kereta biasa."
Benar,
jika ini adalah hal normal.
Namun
bagi organisasi rahasia yang diagungkan oleh semua orang, Veltal, tentu
saja berbeda.
Kekuatan organisasi itu tak terukur, dan kabarnya mereka
bisa mengumpulkan informasi apa pun.
"Jika beliau tahu aku sering mengunjungi menara jam,
mungkin beliau berniat memberitahu jadwal hari kosongnya, dan juga mungkin
sudah menduga kalau Karen yang kakinya sudah sembuh akan datang menjemputku.
Dari menara jam itu, beliau juga bisa memastikan keadaan Karen."
"Ja-jadi maksudmu orang itu memikirkanku……?"
"Hanya itu yang bisa kupikirkan. Beliau adalah orang
yang sangat baik."
Meskipun dia orang yang sedikit bicara dan agak kaku,
melalui kejadian kali ini Lifia memahami sifat aslinya dengan sangat baik.
Karena ia telah mendengar banyak kata-kata yang mendasari
kesimpulan itu.
Menggunakan obat legendaris yang berharga atas keputusan
pribadi, yang padahal seharusnya membuahkan teguran dari atasan, namun ia
justru berkata:
"Daripada memikirkanku, aku akan lebih senang jika
kamu menikmati hal-hal yang tidak bisa kamu lakukan atau hal-hal yang kamu
tahan selama ini sepuasnya, tahu? Masalah di pihakku akan kuselesaikan
sendiri."
Ia mengucapkan kata-kata yang bisa menghapus rasa
bersalah Karen.
"Obat itu bukan digunakan supaya kamu bisa
memaksakan diri. Di depanku, bersikaplah sesantai mungkin sampai terasa tidak
sopan pun tidak apa-apa. Sungguh."
Alasan ia berbicara seolah tidak ingin membuat mereka
merasa berutang budi mungkin karena dasar pemikiran seperti itu.
──Bisa jadi, keberadaannya di menara jam pun karena ia
sedang berjaga-jaga jika ada sisa-sisa komplotan yang menculik Karen.
Karena dia sendiri yang mengatakannya.
"Aku lebih kuat jika bertarung dengan tangan
kosong."
Tidak diragukan lagi kalau dia bisa bertarung meskipun
tidak membawa zirah atau pedang.
Semakin dipikirkan, semakin banyak kemungkinan yang
terbuka.
Jika alasan tidak ada informasi mengenai keberadaannya
setelah ia memulangkan Karen ke kota ini adalah karena ia sedang mengawasi
sekitar……
Benar, karena dia adalah tipe orang yang segan
menerima imbalan.
Jika semua yang dipikirkan ini benar…… tidak, meskipun
tidak semuanya benar, entah berapa banyak usaha yang telah ia kerahkan.
Tanpa pamer kepada siapa pun, tanpa melakukan tindakan
yang bisa ketahuan siapa pun, dia melakukannya sendirian dengan tekun……
Memang tidak ada bukti kuat. Namun, dada
terasa hangat. Dia terlihat lebih keren dari siapa pun.
"……Hei, Karen. Aku ingin lusa segera tiba. Ada
banyak hal yang ingin kukatakan padanya."
"Kakak, wajahmu seperti gadis yang sedang jatuh
cinta."
"Karena beliau adalah orang yang sangat memikirkan
Karen seperti ini……"
Daripada memikirkan diri sendiri, beliau justru
memikirkan sang adik. Karena itulah hati Lifia berdebar.
"……Karena itu, aku ingin menjadi lebih dekat
dengannya."
"Hmm."
Karen memberikan jawaban yang cuek, namun ia merasakan
hal yang sama.
Perasaan kakak-beradik itu akan diketahui oleh Duke
Degote satu jam kemudian.
Bagi sang Duke, Si Hitam adalah sosok yang tidak bisa
ia lawan dan sosok yang paling harus ia perhatikan dengan hati-hati.
Dalam artian tertentu, bisa dibilang malang,
hari-hari yang membuat perut sakit telah mendekat.
◆◇◆
Keesokan harinya.
"……Sedih juga rasanya bakal jarang bertatap muka
denganmu. Karena kemarin kamu tidak pulang, aku sudah punya
firasat."
"Tidak, aku hanya berhenti menginap di penginapan
ini saja, aku akan tetap mampir ke tempat makan ini, kok. Seperti sekarang
ini."
Pria yang dipanggil 'Si Hitam' itu mengunjungi penginapan
yang telah membantunya.
"Kamu begitu menyukai masakan di sini?"
"Iya, sangat enak."
"Hahaha, terima kasih kalau begitu. Aku akan selalu
menunggumu kapan pun."
"Terima kasih."
Pria itu melahap makanan yang disajikan dengan porsi
menggunung.
Hari ini terasa lebih nikmat karena ia diberitahu bahwa
'hadiah 1 juta Regil bagi siapa pun yang memberikan informasi tempat menginap
Si Hitam' telah dibatalkan.
Hasilnya, ia bisa menikmati makanan dengan perasaan lebih
santai.
"Ngomong-ngomong,
rencana berikutnya mau menginap di mana? Tergantung
tempatnya, ada beberapa tempat yang mengenalku."
"Tidak, aku mendapatkan rumah, jadi rencananya
aku akan tinggal di sana untuk sementara."
"Hm? Hei tunggu dulu. Mendapatkan…… rumah?"
"Yah, waktu aku segan menerima imbalan, Duke
memberikannya padaku."
"──!! Serius kau……"
Pemilik kedai yang matanya terbelalak itu tahu. Bahwa
pelanggan di depannya ini adalah orang yang penuh rahasia.
Dia bukan orang yang kaku atau kurang kata-kata.
Namun karena dia tipe pelanggan seperti itu, meskipun
ditanya pun pasti dia tidak akan memberitahu detailnya.
"Sepertinya beliau mencariku karena ingin berterima
kasih. Benar-benar dermawan sekali ya."
"……I-iya."
Kenapa sampai bisa diberikan ucapan terima kasih seperti
itu, dia tetap tidak menceritakannya.
Malah, sikapnya yang bertindak seolah itu hal biasa
memberikan kesan yang mengerikan.
Sebab mendapatkan ucapan terima kasih dari seorang
Duke adalah sesuatu yang akan dipamerkan oleh 100% orang kepada siapa pun.
"Ka-kau……
sekadar memberitahu ya, diberikan vila oleh Duke itu adalah hal yang luar
biasa, tahu?"
"Memang
luas sih."
"Bukan
soal itu saja…… tahu?"
Entah
kenapa dia terlihat agak lemot, tapi mungkin ini juga bukti dari kerahasiaannya
yang sangat ketat.
"Kamu paham kan kalau jumlah vila itu melambangkan
kekuasaan? Tanpa tanah yang luas, hal itu tidak mungkin terjadi."
"Yah, begitulah."
"Artinya apa? Meskipun harus mengurangi simbol
kekuasaan itu, beliau menilai menjalin hubungan denganmu adalah langkah yang
lebih menguntungkan? Atas keinginan Duke sendiri."
"……"
Jawaban yang tidak bisa digambarkan itu, sifat yang sulit
ditebak itu benar-benar mengerikan.
Meskipun tahu dia orang baik, tetap saja terasa begitu.
"Ka-kau, sebenarnya kau ini siapa sih?"
"Cuma orang biasa."
"Mana mungkin……"
Tidak ada orang di dunia ini yang tidak akan
melontarkan protes seperti itu.
'Tolong berikan kebohongan yang lebih masuk akal
sedikit,' batin sang pemilik kedai dengan tulus.
"……Ah, lalu ini. Aku lupa memberikannya. Terima
kasih banyak untuk semuanya."
Pelanggan itu meletakkan kantong kain yang tergantung di
ikat pinggangnya ke atas meja dengan bunyi puk.
"Apa ini? Tadi aku mendengar bunyi logam……"
"Uang. Sangat membantu karena kamu sudah
melindungiku dan memberiku saran."
"……"
Sosok yang mendapatkan ucapan terima kasih dari Duke
sedang menundukkan kepala padanya. Tidak mungkin dia sedang berlatih, tapi
entah kenapa kali ini terasa ada wibawa yang terpancar.
"……A-anu, entah kenapa aku tidak mau menerima uang
darimu. Rasanya menakutkan karena berbagai alasan."
"Sama sekali tidak menakutkan, kok."
"Hanya orang yang menakutkan yang akan berkata
begitu."
"Lalu kalau aku bilang 'aku menakutkan', apa kamu
mau menerimanya?"
"Itu juga aku tidak mau."
Pelanggan yang menatapnya dengan pandangan 'ayolah' itu
sepertinya benar-benar ingin uang ini diterima.
Dia memberikan penjelasan begini.
"Aku memang pelit, tapi aku merasa sudah membuatmu
melakukan hal yang luar biasa."
"Hal yang luar biasa?"
"Kamu sudah melindungiku dengan baik padahal
lawannya adalah Duke."
"……Haha, sejujurnya aku berkeringat dingin terus,
tahu!"
"I-iya, pasti begitu ya……"
Seolah-olah pria itu juga pernah berhadapan langsung
dengan Duke, ia menyetujuinya dengan penuh perasaan.
Ini pun pasti akting, tapi──.
"──Yah, aku ingin menghargai pelanggan sebisa
mungkin."
"Aku benar-benar senang menginap di tempat
ini."
"Aku keren, kan?"
"Kurasa begitu."
"Eh, ini bercanda tahu, harusnya kamu
menyangkalnya. Kan jadi malu……"
Pelanggan ini benar-benar tidak bisa ditebak.
Namun, tidak salah lagi kalau dia orang baik. Tidak
salah lagi kalau dia orang yang sopan.
Pria itu segera menghabiskan makanannya sebagai bukti
bahwa makanannya 'enak'.
"Datang lagi ya."
"Tentu saja. Aku akan datang lagi."
Setelah pemilik kedai melepas kepergian punggung pria
yang meninggalkan kata-kata menyenangkan itu.
"Nah, sekarang."
Sebenarnya ada hal yang ia nantikan.
Ia menarik kantong kain yang ditinggalkan, dan saat
ia membukanya tanpa memperlihatkannya kepada pelanggan, ia melihat pemandangan
yang membuatnya kehilangan kata-kata.
"……Oi, apa orang ini serius……"
Hal yang langsung menarik perhatiannya adalah
koin-koin yang bersinar memantulkan cahaya.
Saat ia mengeluarkan koin itu satu per satu dengan tangan
gemetar, jumlahnya benar-benar gila.
Ada 10 keping Regil yang bernilai 10.000 yen.
Ada 10 keping Regil yang bernilai 100.000 yen.
Jumlah yang melampaui hadiah pemberian informasi,
total ada 1,1 juta Regil.
"Ka-kau,
kenapa bisa memberikan uang sebanyak ini…… Ini bukan jumlah yang bisa diberikan
oleh orang biasa…… Apanya yang pelit……"
Pemilik
kedai tidak punya cara untuk mengetahui bahwa semua koin ini hanyalah sebagian
kecil dari uang imbalan yang diterima pria itu dari keluarga Duke.



Post a Comment