NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Pertemuan


"He-hei, kamu. Bukannya sudah waktunya mengakui dosamu dan menyerahkan diri? Sekarang masih belum terlambat, lho."

"Tu-tunggu. Apa-apaan menyerahkan diri itu?"

"Hahaha, bercanda, bercanda."

"Candaanmu nggak lucu..."

Hari ini pun, pria yang sedang menyantap makanan di kedai penginapan itu terlibat obrolan santai dengan sang pemilik penginapan yang sudah akrab dengannya.

"Yah, aku sendiri sih nggak merasa kamu sudah berbuat jahat, tapi kalau terus-menerus sembunyi begini, malah bakal makin susah buat tinggal di sini, kan? Bukannya sok mencampuri urusanmu, tapi..."

"Makin susah bagaimana maksudnya...?"

"Mungkin karena belum dapat informasi akurat dan mereka mulai panik, tapi pergerakan untuk mencarimu jadi makin gencar."

"Eh?"

Sejak mengetahui bahwa dirinya sedang dicari, Kai menghabiskan hari-harinya dengan bersantai di penginapan untuk memulihkan rasa lelah yang menumpuk tanpa keluar ke kota. Dengan kata lain, dia sengaja memutus aliran informasi dari luar.

"Hasilnya, segala macam rumor jadi bertebaran di mana-mana. Katanya kamu mau menjatuhkan keluarga Ardi yang berpangkat Duke, mencemarkan keluarga Ansarage dari Gereja Seisei, sampai mau menghancurkan struktur perdagangan keluarga Albrela."

Sang pemilik penginapan menjawab dengan serius, namun ada satu hal yang ia simpan sendiri demi kenyamanan pelanggannya itu.

Bahwa gara-gara pria di depannya ini──semua Treasure Hunter yang mengenakan zirah hitam mendadak hilang dari peredaran.

Semuanya dilakukan agar tidak salah sangka dan dianggap sebagai "orang yang sedang dicari" itu.

"Kalau sampai rumornya separah itu padahal aku merasa nggak melakukan apa-apa... apa mungkin mereka mencari orang lain?"

"Cuma kamu satu-satunya yang cocok dengan deskripsi mereka."

Sang pemilik penginapan mendengus geli.

"Aku cuma mau tanya, kalau seandainya rumor itu benar... hukuman apa yang bakal menantiku?"

"Hukuman paling ringan pun, kamu nggak bakal bisa menginjakkan kaki di kota ini lagi. Kalau Tiga Terkuat bekerja sama, hal sepele begitu sih gampang buat mereka."

"……"

Kai hanya bisa tertegun membayangkan kekuasaan yang mengendalikan kota ini.

"Karena itulah, petugas kebersihanku sampai pucat pasi, tahu? Waktu dia melihat zirah yang kamu taruh di kamar itu."

"……A-anu, maaf ya sudah merepotkan. Kalau ada yang bisa kubantu di penginapan sebagai permintaan maaf, bilang saja."

"Kalau aku sih, cuma ingin masalah ini cepat selesai. Sembunyi-sembunyi begini nggak baik buat jantungku, tahu?"

Mendengar itu, Kai tidak bisa berkata-kata lagi.

"Yah, meskipun aku bicara agak keras tadi, saranku sih jangan pindah penginapan."

"Kenapa?"

"Ada pengumuman kalau siapa pun yang memberikan informasi lokasi menginapmu bakal dapat imbalan 1 juta Regil. Karena Tiga Terkuat melakukan hal yang sama, satu laporan saja bisa menghasilkan uang sebanyak 3 juta Regil."

"I-itu sih sudah pasti aku bakal dijual. Maaf saja... tapi ada kemungkinan petugas kebersihan yang melihat zirahku tadi juga bakal menjualku."

Uang 3 juta Regil adalah jumlah yang sangat besar. Justru aneh rasanya kalau dia belum dijual sampai sekarang.

Datang dari jauh = Menginap di penginapan. Pasti mereka menargetkan "tempat menginap" dengan logika seperti itu. Keseriusan mereka benar-benar terlihat jelas.

"Yah, tapi pengumuman ini cuma disampaikan ke kami para pemilik penginapan, dan entah kenapa dilarang untuk diberitahukan bahkan ke karyawan sendiri. Padahal kalau diumumkan secara terbuka bakal lebih efisien, kan?"

"A-apa nggak apa-apa? Memberitahuku hal seperti ini..."

"Sudah telanjur menyembunyikanmu, jadi ya sudahlah."

Jawab sang pemilik penginapan dengan jantan sambil mengangkat alisnya.

"Lagipula, sebenarnya kamu ini orang yang hebat banget, kan?"

"Ke-kenapa berpikir begitu?"

"Sudah jelas karena Tiga Terkuat itu sangat berhati-hati, atau lebih tepatnya mencari sambil penuh pertimbangan. Sulit dijelaskan, tapi... meski mereka mengeluarkan uang, mereka berusaha supaya nggak menarik terlalu banyak perhatian. Pasti ada alasan kenapa mereka bertindak begitu."

"Y-yah, aku sama sekali nggak hebat, lho."

"Haha, entahlah."

Kenyataannya dia memang tidak hebat sama sekali, tapi dia merasa senang karena sang pemilik penginapan tidak mengubah sikap padanya.

Kai merenung menyesali perbuatannya yang akan terus merepotkan orang seperti pemilik penginapan ini.

"……Oke, aku putuskan. Seperti kata Bapak, aku bakal berhenti menunda-nunda."

"Ya, itu yang terbaik. Yah, ini cuma dugaanku saja, tapi kurasa kamu nggak perlu terlalu tertekan. Kalau kamu memang melakukan hal yang sangat gawat, mereka nggak bakal mencarimu dengan cara sehalus ini."

Mendengar kata-kata yang masuk akal itu, perasaan Kai jadi sedikit lebih ringan.

"Kalau begitu, aku bakal pakai zirah itu dan pergi ke kota... besok."

"Kenapa harus besok?"

"Untuk berjaga-jaga seandainya terjadi sesuatu, hari ini aku mau jalan-jalan dulu..."

"Cih, terserahlah. Kota ini kota yang bagus, jadi nikmatilah."

Begitu jadwalnya sudah dipastikan, perasaan Kai jadi sedikit lebih lega.

◆◇◆

Para penduduk yang sedang dalam perjalanan pulang kerja. Penduduk yang asyik mengobrol sambil masuk ke restoran atau kedai minuman. Kai yang sedang menatap kota yang ramai dan dihiasi warna jingga matahari terbenam──.

"Fuu, sudah jam segini ya..."

Gumamnya dengan nada puas sambil menyipitkan mata. Entah sudah berapa jam berlalu sejak dia keluar dari penginapan.

Jajan di kaki lima, belanja, hingga melihat-lihat bangunan bersejarah. Saking asyiknya berkeliling sampai lupa istirahat, dia benar-benar menghabiskan waktu yang sangat memuaskan.

Tanpa sadar, warna langit sudah mulai berubah. Alasan dia tidak merasa terlalu lelah mungkin karena Status karakter ini bukan orang biasa, melainkan berada di tingkat rata-rata Treasure Hunter.

(Hampir semua sudut kota sesuai ingatanku, tapi ternyata tetap menyenangkan menikmati ini secara langsung...)

Jika diibaratkan, perasaannya saat ini seperti sedang melakukan ziarah ke tempat suci.

Udara, atmosfer, hingga detail bangunan yang terasa lebih nyata di kota ini adalah elemen yang tidak bisa dirasakan di dalam gim, sehingga dia bisa menikmatinya dengan perasaan segar.

"Syukurlah aku bisa menikmatinya."

(Besok kemungkinan terburuknya adalah diusir, sih. Padahal seingatku aku nggak melakukan kesalahan apa pun...)

Dia tertawa getir membayangkan situasi yang tidak lucu itu, lalu menggaruk kepala untuk mengalihkan beban pikirannya.

"Nah, sudah waktunya pulang ke penginapan..."

Satu-satunya penyesalan adalah dia tidak sempat mengelilingi seluruh isi kota, tapi mau bagaimana lagi.

Dia sudah berjanji pada pemilik penginapan. Bahwa dia "tidak akan menunda lagi".

Demi tidak merepotkan orang lain, dia tidak boleh egois.

"Haaa... Aku cemas banget."

Itu helaan napas terakhir untuk hari ini. Meski begitu, dia mencoba mengalihkan perasaan dan membalikkan tubuh untuk kembali ke penginapan.

──Pada saat itulah.

"Ah..."

Sesuatu tiba-tiba tertangkap oleh matanya.

Menara jam yang diterangi sinar matahari terbenam, memancarkan keberadaan yang jauh lebih kuat dari biasanya.

(Dulu aku pernah memanjat menara itu sekali, kalau nggak salah di jam-jam seperti ini juga ya...)

Tentu saja, memori memanjat menara jam itu terjadi saat dia bermain gim. Memori masa lalu dan pemandangan saat ini yang saling selaras membuatnya teringat kembali.

"……"

Sebaliknya, bagi pria yang sangat mendalami gim ini sekalipun, tempat itu adalah lokasi yang tidak akan meninggalkan kesan jika bukan karena memori sepele semacam itu.

Dunia FRF memiliki detail yang luar biasa dalam segala hal, dan menara jam ini diatur agar bisa dipanjat oleh siapa pun, namun tempat ini sangat tidak populer bagi semua pemain.

Tempat ini terkenal sebagai "Tempat Ampas" yang tidak pernah didatangi siapa pun.

Alasannya sangat sederhana. Ada biaya masuknya, dan meski sudah sampai ke atas, tidak ada item apa pun yang diletakkan di sana.

Bahkan pemandangan dari menara jam pun tidak terasa spesial. Ada banyak spot cantik lainnya yang bisa dilihat secara gratis di sana-sini. Karena tempat itu hanya membuang-buang waktu saja,

"Buat apa sih tempat ini dibuat?"

"Harusnya buat tampilan luar saja sudah cukup. Menara jam ini nggak perlu ada."

"Jangan buang-buang kapasitas gim buat tempat kayak gini."

Begitulah komentar-komentar pedas yang ditulis oleh pemain, hingga menjadi warisan negatif yang memengaruhi penilaian gim tersebut.

"Hmm. Kalau memang mau berakhir, apa aku mampir saja ya sekali lagi... Katanya kan ada kemungkinan aku nggak bakal bisa masuk kota ini lagi."

Bagi Kai pun, dia hanya pernah memanjat menara jam itu sekali untuk memastikan keberadaan item.

Tidak ada kenangan mendalam, dan tempat itu mungkin terasa kurang layak untuk menutup perjalanannya, tapi tujuannya setelah ini hanyalah kembali ke penginapan.

Seperti yang dikatakannya tadi, perasaan "ya sudahlah mumpung di sini" mulai merayapi pikirannya.

(Dulu juga ada rumor kalau kita bisa bertemu karakter misterius di dalam menara jam, tapi akhirnya nggak ada informasi apa pun yang muncul...)

Ujung-ujungnya, hal itu hanya berkembang menjadi bahan tebak-tebakan "kenapa Tempat Ampas ini dibuat" atau sekadar menjadi mainan para pemain untuk menyebarkan hoaks yang paling lucu.

"……Yah, sebagai orang yang sudah menikmati gim ini, anggap saja ini bentuk penghormatan terakhir... Entah aku masih bisa memanjatnya atau tidak."

Tanpa ekspektasi apa pun, Kai melangkah mendekat selangkah demi selangkah sambil mengenang masa lalu. Dan, satu keluhan pun keluar──.

"Masih saja biaya masuknya mahal..."

Setelah membayar 10.000 Regil kepada penjaga yang berdiri di pintu masuk menara jam, dia memanjat sambil menepuk dinding bagian dalamnya.

(Persis seperti di gim, memang benar-benar nggak ada yang pakai tempat ini ya... Penjaganya saja sampai menatapku seolah aku ini orang aneh.)

Dia masuk ke dalam, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia sedikit pun.

Kalau saja biaya masuknya cuma sekitar 2.000 Regil, mungkin pengunjung yang mau melihat "pemandangan seadanya" bakal bertambah, tapi harganya lima kali lipat dari itu.

Bahkan Kai yang berpikir "mungkin ini yang terakhir" saja sampai merasa kalau ini "buang-buang uang". Wajar saja jika penduduk tidak mau mendekat.

(……Yah, tapi kalau sepi begini malah bagus juga.)

Semua orang pasti setuju kalau sepi itu lebih baik daripada ramai.

"Nah, ayo naik..."

Gumamnya sendiri sambil menapaki anak tangga spiral yang megah yang jumlahnya mencapai puluhan anak tangga itu.

Mungkin butuh waktu sekitar satu menit. Tepat saat dia berhasil sampai di area observasi menara jam.

"──!!"

Pemandangan yang mengejutkan tertangkap oleh matanya.

Seolah-olah sedang menyembunyikan kehadirannya, sosok itu berdiri sendirian di balkon observasi.

Seorang wanita berambut merah dengan gaun hitam.

Seorang wanita yang menyembunyikan identitasnya dengan topeng yang menutupi setengah bagian atas wajahnya.

"……Ha-halo..."

"Selamat malam."




Berada berduaan saja dengan orang asing di tempat seperti ini dalam keheningan benar-benar terasa canggung.

Saat aku mencoba menyapa, wanita itu berhenti menatap pemandangan dan membalas salamku.

Dilihat dari situasi dan penampilannya, dia adalah sosok yang sangat mencurigakan, namun keanggunan yang terpancar darinya malah memberiku sensasi yang aneh.

(A-apa ini karakter misterius yang disiapkan saat zaman gim dulu…… Ah, mana mungkin, kan?)

Bahkan jika dia memang karakter misterius, aku harus tetap waspada.

Aku menjaga jarak sejauh mungkin darinya dan mengalihkan pandangan ke arah pemandangan dari menara jam.

Tepat saat itulah.

"Apa kamu juga sering datang ke menara jam ini?"

"……Ya, ka-kadang."

Pertanyaan tiba-tiba terlontar dari wanita yang juga sedang menatap pemandangan di luar itu.

Meski sempat goyah, mengobrol terasa lebih baik daripada terdiam kaku dalam kecanggungan dengan orang yang baru pertama kali ditemui.

"Anu, kalau Anda sendiri?"

Meski bicaraku kaku, aku berusaha sebisa mungkin menyambung topik.

"Saya juga kadang-kadang ke sini. Untuk menjernihkan pikiran."

"Begitu ya……"

"Memang sulit untuk mengatakan kalau pemandangannya indah, tapi suasananya terasa sangat klasik dan menenangkan, ya?"

"Y-yah, begitulah."

(Padahal aku sama sekali tidak setuju……)

Aku tidak menyuarakan isi hatiku karena tidak ingin merusak suasana.

Seolah menyadari perasaanku, dia berkata lagi.

"Jika ditanya apakah tempat ini layak seharga 10.000 Regil, saya pun tidak akan bisa mengangguk setuju."

"Apa-apaan itu."

"Fufufu."

Sepertinya dia senang mendengar tanggapanku yang asal-asalan, dia tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.

Sungguh misterius bagaimana setiap gerak-geriknya selalu memancarkan keanggunan yang alami.

"Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya saya berbicara dengan seseorang di menara jam ini."

"Yah, sewajarnya memang begitu, kan."

"Boleh saya bertanya? Mengapa kamu berada di tempat seperti ini?"

"Alasannya sama, untuk menjernihkan pikiran."

"Fufu, ternyata begitu ya."

Aku tidak mungkin bilang kalau alasannya adalah 'karena besok ada kemungkinan aku diusir dari kota'.

Jika kemungkinan itu tidak ada, aku tidak akan pernah sudi mengunjungi menara jam ini.

"Ngomong-ngomong, apa terjadi sesuatu yang buruk?"

"Maksudmu, padaku?"

"Karena tadi Anda bilang datang ke sini untuk menjernihkan pikiran."

"Ah, terima kasih atas perhatiannya. Bukan sesuatu yang buruk, tapi ada hal yang membuat saya merasa buntu."

"Hoo……"

Aku tidak bisa memutuskan apakah ini hal yang boleh atau tidak boleh ditanyakan kepada orang yang baru pertama kali ditemui.

Saat aku memilih untuk tetap bersikap pasif, dia justru melontarkan sebuah pertanyaan.

"Apakah kamu tahu sesuatu? ──Mengenai pria yang mengenakan perlengkapan hitam legam."

"Eh……"

Kata-kata yang sama sekali tidak terduga. Sesaat pikiranku menjadi kosong, namun aku segera berpura-pura tenang.

"A-ah……. Akhir-akhir ini memang sedang jadi bahan pembicaraan, ya."

"Benar, karena beliau adalah sosok yang dicari oleh banyak pihak. Saya pun sudah mencoba mencari sebisa mungkin, tapi beliau sangat ahli dalam menyembunyikan diri sehingga tidak ada kemajuan berarti."

"……"

(Bukan ahli menyembunyikan diri, aku cuma tidak keluar dari penginapan saja……. Tunggu, berarti wanita ini adalah salah satu orang yang mencariku.)

Saat itu juga, Kai menyadari bahwa dia baru saja mendapat durian runtuh.

Dia bisa mengumpulkan informasi yang kredibel.

"Padahal secara pribadi, saya sangat ingin bertemu……"

Gumamnya pelan. Suara itu hanya bisa terdengar karena mereka berada di dalam menara jam yang sunyi.

"Hm? Ingin bertemu……? Bukannya orang itu melakukan suatu kejahatan?"

"Kejahatan? Mana mungkin! Beliau tidak dicari karena alasan semacam itu, kok."

"Be-begitu ya, syukur kalau begitu……"

Detik itu juga, kecemasan yang menyelimutiku menguap seketika. Rasanya seperti bisa bernapas lega kembali.

"Lalu kenapa dia dicari?"

"Mohon maaf. Hal itu bersifat rahasia."

"……Kalau begitu, mau bagaimana lagi."

Karena rahasia, aku justru jadi semakin penasaran, namun nada suaranya menegaskan bahwa dia 'benar-benar tidak bisa memberitahuku'.

Meski tidak bisa mengumpulkan informasi secara maksimal, mengetahui bahwa aku tidak dicari karena alasan buruk sudah lebih dari cukup.

"Saya ingin segera menemukannya…… Benar-benar ingin……"

"……"

Tepat saat gumaman penuh kerinduan itu masuk ke telingaku.

"Ah, mohon maaf. Sepertinya jemputan saya sudah datang."

"Ah, begitu ya."

Wanita itu berbalik dan memberitahuku, sepertinya dia sudah melihat kereta kudanya dari atas menara.

"Kalau begitu, sampai jumpa lagi."

"Iya, saya permisi dulu."

"──E-eh, tunggu, satu hal terakhir."

"Iya, ada apa?"

"Mungkin saja, dalam waktu dekat akan ada perkembangan."

"Ah, fufu, terima kasih atas perhatiannya. Kalau begitu, saya pamit."

Wanita itu mengangkat kedua ujung gaunnya dengan gerakan yang sangat halus dan membungkukkan badan. Ia lalu berbalik dan menuruni tangga.

Kai hanya bisa terpaku melihat salam yang begitu elegan untuk pertama kali dalam hidupnya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close