Chapter 3
Pertemuan
"He-hei, kamu. Bukannya sudah waktunya mengakui
dosamu dan menyerahkan diri? Sekarang masih belum terlambat, lho."
"Tu-tunggu. Apa-apaan menyerahkan diri itu?"
"Hahaha, bercanda, bercanda."
"Candaanmu nggak lucu..."
Hari ini pun, pria yang sedang menyantap makanan di kedai
penginapan itu terlibat obrolan santai dengan sang pemilik penginapan yang
sudah akrab dengannya.
"Yah, aku sendiri sih nggak merasa kamu sudah
berbuat jahat, tapi kalau terus-menerus sembunyi begini, malah bakal makin
susah buat tinggal di sini, kan? Bukannya sok mencampuri urusanmu,
tapi..."
"Makin susah bagaimana maksudnya...?"
"Mungkin karena belum dapat informasi akurat dan
mereka mulai panik, tapi pergerakan untuk mencarimu jadi makin gencar."
"Eh?"
Sejak mengetahui bahwa dirinya sedang dicari, Kai
menghabiskan hari-harinya dengan bersantai di penginapan untuk memulihkan rasa
lelah yang menumpuk tanpa keluar ke kota. Dengan kata lain, dia sengaja memutus
aliran informasi dari luar.
"Hasilnya,
segala macam rumor jadi bertebaran di mana-mana. Katanya kamu mau menjatuhkan
keluarga Ardi yang berpangkat Duke, mencemarkan keluarga Ansarage dari Gereja
Seisei, sampai mau menghancurkan struktur perdagangan keluarga Albrela."
Sang
pemilik penginapan menjawab dengan serius, namun ada satu hal yang ia simpan
sendiri demi kenyamanan pelanggannya itu.
Bahwa
gara-gara pria di depannya ini──semua Treasure Hunter yang mengenakan zirah
hitam mendadak hilang dari peredaran.
Semuanya
dilakukan agar tidak salah sangka dan dianggap sebagai "orang yang sedang
dicari" itu.
"Kalau sampai rumornya separah itu padahal aku
merasa nggak melakukan apa-apa... apa mungkin mereka mencari orang lain?"
"Cuma kamu satu-satunya yang cocok dengan deskripsi
mereka."
Sang pemilik penginapan mendengus geli.
"Aku cuma mau tanya, kalau seandainya rumor itu
benar... hukuman apa yang bakal menantiku?"
"Hukuman paling ringan pun, kamu nggak bakal bisa
menginjakkan kaki di kota ini lagi. Kalau Tiga Terkuat bekerja sama, hal sepele
begitu sih gampang buat mereka."
"……"
Kai hanya bisa tertegun membayangkan kekuasaan yang
mengendalikan kota ini.
"Karena itulah, petugas kebersihanku sampai pucat
pasi, tahu? Waktu dia melihat zirah yang kamu taruh di kamar itu."
"……A-anu, maaf ya sudah merepotkan. Kalau ada yang
bisa kubantu di penginapan sebagai permintaan maaf, bilang saja."
"Kalau aku sih, cuma ingin masalah ini cepat
selesai. Sembunyi-sembunyi begini nggak baik buat jantungku, tahu?"
Mendengar itu, Kai tidak bisa berkata-kata lagi.
"Yah, meskipun aku bicara agak keras tadi, saranku
sih jangan pindah penginapan."
"Kenapa?"
"Ada pengumuman kalau siapa pun yang memberikan
informasi lokasi menginapmu bakal dapat imbalan 1 juta Regil. Karena Tiga
Terkuat melakukan hal yang sama, satu laporan saja bisa menghasilkan uang
sebanyak 3 juta Regil."
"I-itu sih sudah pasti aku bakal dijual. Maaf
saja... tapi ada kemungkinan petugas kebersihan yang melihat zirahku tadi juga
bakal menjualku."
Uang 3 juta Regil adalah jumlah yang sangat besar.
Justru aneh rasanya kalau dia belum dijual sampai sekarang.
Datang dari jauh = Menginap di penginapan. Pasti mereka
menargetkan "tempat menginap" dengan logika seperti itu. Keseriusan
mereka benar-benar terlihat jelas.
"Yah, tapi pengumuman ini cuma disampaikan ke kami
para pemilik penginapan, dan entah kenapa dilarang untuk diberitahukan bahkan
ke karyawan sendiri. Padahal kalau diumumkan secara terbuka bakal lebih
efisien, kan?"
"A-apa nggak apa-apa? Memberitahuku hal seperti
ini..."
"Sudah telanjur menyembunyikanmu, jadi ya
sudahlah."
Jawab sang pemilik penginapan dengan jantan sambil
mengangkat alisnya.
"Lagipula, sebenarnya kamu ini orang yang hebat
banget, kan?"
"Ke-kenapa berpikir begitu?"
"Sudah jelas karena Tiga Terkuat itu sangat
berhati-hati, atau lebih tepatnya mencari sambil penuh pertimbangan. Sulit
dijelaskan, tapi... meski mereka mengeluarkan uang, mereka berusaha supaya
nggak menarik terlalu banyak perhatian. Pasti ada alasan kenapa mereka
bertindak begitu."
"Y-yah, aku sama sekali nggak hebat, lho."
"Haha, entahlah."
Kenyataannya dia memang tidak hebat sama sekali, tapi dia
merasa senang karena sang pemilik penginapan tidak mengubah sikap padanya.
Kai merenung menyesali perbuatannya yang akan terus
merepotkan orang seperti pemilik penginapan ini.
"……Oke, aku putuskan. Seperti
kata Bapak, aku bakal berhenti menunda-nunda."
"Ya, itu yang terbaik. Yah, ini cuma dugaanku
saja, tapi kurasa kamu nggak perlu terlalu tertekan. Kalau kamu memang
melakukan hal yang sangat gawat, mereka nggak bakal mencarimu dengan cara
sehalus ini."
Mendengar kata-kata yang masuk akal itu, perasaan Kai
jadi sedikit lebih ringan.
"Kalau begitu, aku bakal pakai zirah itu dan pergi
ke kota... besok."
"Kenapa harus besok?"
"Untuk berjaga-jaga seandainya terjadi sesuatu, hari
ini aku mau jalan-jalan dulu..."
"Cih, terserahlah. Kota ini kota yang bagus, jadi
nikmatilah."
Begitu jadwalnya sudah dipastikan, perasaan Kai jadi
sedikit lebih lega.
◆◇◆
Para penduduk yang sedang dalam perjalanan pulang kerja. Penduduk yang asyik mengobrol sambil masuk ke restoran atau kedai
minuman. Kai yang sedang menatap kota yang ramai dan dihiasi warna jingga
matahari terbenam──.
"Fuu,
sudah jam segini ya..."
Gumamnya
dengan nada puas sambil menyipitkan mata. Entah sudah berapa jam berlalu sejak
dia keluar dari penginapan.
Jajan di kaki lima, belanja, hingga melihat-lihat
bangunan bersejarah. Saking asyiknya berkeliling sampai lupa istirahat, dia
benar-benar menghabiskan waktu yang sangat memuaskan.
Tanpa sadar, warna langit sudah mulai berubah. Alasan dia
tidak merasa terlalu lelah mungkin karena Status karakter ini bukan
orang biasa, melainkan berada di tingkat rata-rata Treasure Hunter.
(Hampir semua sudut kota sesuai ingatanku, tapi ternyata
tetap menyenangkan menikmati ini secara langsung...)
Jika diibaratkan, perasaannya saat ini seperti sedang
melakukan ziarah ke tempat suci.
Udara, atmosfer, hingga detail bangunan yang terasa lebih
nyata di kota ini adalah elemen yang tidak bisa dirasakan di dalam gim,
sehingga dia bisa menikmatinya dengan perasaan segar.
"Syukurlah aku bisa menikmatinya."
(Besok kemungkinan terburuknya adalah diusir, sih.
Padahal seingatku aku nggak melakukan kesalahan apa pun...)
Dia tertawa getir membayangkan situasi yang tidak lucu
itu, lalu menggaruk kepala untuk mengalihkan beban pikirannya.
"Nah, sudah waktunya pulang ke penginapan..."
Satu-satunya penyesalan adalah dia tidak sempat
mengelilingi seluruh isi kota, tapi mau bagaimana lagi.
Dia sudah berjanji pada pemilik penginapan. Bahwa dia "tidak akan menunda lagi".
Demi tidak merepotkan orang lain, dia tidak boleh
egois.
"Haaa...
Aku cemas banget."
Itu helaan napas terakhir untuk hari ini. Meski begitu,
dia mencoba mengalihkan perasaan dan membalikkan tubuh untuk kembali ke
penginapan.
──Pada saat itulah.
"Ah..."
Sesuatu tiba-tiba tertangkap oleh matanya.
Menara jam yang diterangi sinar matahari terbenam,
memancarkan keberadaan yang jauh lebih kuat dari biasanya.
(Dulu aku pernah memanjat menara itu sekali, kalau nggak
salah di jam-jam seperti ini juga ya...)
Tentu saja, memori memanjat menara jam itu terjadi saat
dia bermain gim. Memori masa lalu dan pemandangan saat ini yang saling selaras
membuatnya teringat kembali.
"……"
Sebaliknya, bagi pria yang sangat mendalami gim ini
sekalipun, tempat itu adalah lokasi yang tidak akan meninggalkan kesan jika
bukan karena memori sepele semacam itu.
Dunia FRF memiliki detail yang luar biasa dalam segala
hal, dan menara jam ini diatur agar bisa dipanjat oleh siapa pun, namun tempat
ini sangat tidak populer bagi semua pemain.
Tempat ini terkenal sebagai "Tempat Ampas"
yang tidak pernah didatangi siapa pun.
Alasannya sangat sederhana. Ada biaya masuknya, dan
meski sudah sampai ke atas, tidak ada item apa pun yang diletakkan di sana.
Bahkan pemandangan dari menara jam pun tidak terasa
spesial. Ada banyak spot cantik lainnya yang bisa dilihat secara gratis di
sana-sini. Karena tempat itu hanya membuang-buang waktu saja,
"Buat apa sih tempat ini dibuat?"
"Harusnya buat tampilan luar saja sudah cukup.
Menara jam ini nggak perlu ada."
"Jangan buang-buang kapasitas gim buat tempat
kayak gini."
Begitulah komentar-komentar pedas yang ditulis oleh
pemain, hingga menjadi warisan negatif yang memengaruhi penilaian gim tersebut.
"Hmm. Kalau memang mau berakhir, apa aku mampir
saja ya sekali lagi... Katanya kan ada kemungkinan aku nggak bakal bisa masuk
kota ini lagi."
Bagi Kai pun, dia hanya pernah memanjat menara jam
itu sekali untuk memastikan keberadaan item.
Tidak ada kenangan mendalam, dan tempat itu mungkin
terasa kurang layak untuk menutup perjalanannya, tapi tujuannya setelah ini
hanyalah kembali ke penginapan.
Seperti yang dikatakannya tadi, perasaan "ya
sudahlah mumpung di sini" mulai merayapi pikirannya.
(Dulu juga ada rumor kalau kita bisa bertemu karakter
misterius di dalam menara jam, tapi akhirnya nggak ada informasi apa pun yang
muncul...)
Ujung-ujungnya, hal itu hanya berkembang menjadi bahan
tebak-tebakan "kenapa Tempat Ampas ini dibuat" atau sekadar menjadi
mainan para pemain untuk menyebarkan hoaks yang paling lucu.
"……Yah, sebagai orang yang sudah menikmati gim ini,
anggap saja ini bentuk penghormatan terakhir... Entah aku masih bisa
memanjatnya atau tidak."
Tanpa ekspektasi apa pun, Kai melangkah mendekat
selangkah demi selangkah sambil mengenang masa lalu. Dan, satu keluhan pun
keluar──.
"Masih saja biaya masuknya mahal..."
Setelah membayar 10.000 Regil kepada penjaga yang berdiri
di pintu masuk menara jam, dia memanjat sambil menepuk dinding bagian dalamnya.
(Persis seperti di gim, memang benar-benar nggak ada
yang pakai tempat ini ya... Penjaganya saja sampai menatapku seolah aku ini
orang aneh.)
Dia masuk ke dalam, namun tidak ada tanda-tanda
kehadiran manusia sedikit pun.
Kalau saja biaya masuknya cuma sekitar 2.000 Regil,
mungkin pengunjung yang mau melihat "pemandangan seadanya" bakal
bertambah, tapi harganya lima kali lipat dari itu.
Bahkan Kai yang berpikir "mungkin ini yang
terakhir" saja sampai merasa kalau ini "buang-buang uang". Wajar
saja jika penduduk tidak mau mendekat.
(……Yah, tapi kalau sepi begini malah bagus juga.)
Semua orang pasti setuju kalau sepi itu lebih baik
daripada ramai.
"Nah, ayo naik..."
Gumamnya sendiri sambil menapaki anak tangga spiral yang
megah yang jumlahnya mencapai puluhan anak tangga itu.
Mungkin butuh waktu sekitar satu menit. Tepat saat dia
berhasil sampai di area observasi menara jam.
"──!!"
Pemandangan yang mengejutkan tertangkap oleh matanya.
Seolah-olah sedang menyembunyikan kehadirannya, sosok itu
berdiri sendirian di balkon observasi.
Seorang wanita berambut merah dengan gaun hitam.
Seorang wanita yang menyembunyikan identitasnya dengan
topeng yang menutupi setengah bagian atas wajahnya.
"……Ha-halo..."
"Selamat malam."
Berada berduaan saja dengan orang asing di tempat seperti
ini dalam keheningan benar-benar terasa canggung.
Saat aku mencoba menyapa, wanita itu berhenti menatap
pemandangan dan membalas salamku.
Dilihat dari situasi dan penampilannya, dia adalah sosok
yang sangat mencurigakan, namun keanggunan yang terpancar darinya malah
memberiku sensasi yang aneh.
(A-apa
ini karakter misterius yang disiapkan saat zaman gim dulu…… Ah, mana mungkin,
kan?)
Bahkan jika dia memang karakter misterius, aku harus
tetap waspada.
Aku menjaga jarak sejauh mungkin darinya dan
mengalihkan pandangan ke arah pemandangan dari menara jam.
Tepat saat itulah.
"Apa kamu juga sering datang ke menara jam
ini?"
"……Ya, ka-kadang."
Pertanyaan tiba-tiba terlontar dari wanita yang juga
sedang menatap pemandangan di luar itu.
Meski sempat goyah, mengobrol terasa lebih baik daripada
terdiam kaku dalam kecanggungan dengan orang yang baru pertama kali ditemui.
"Anu, kalau Anda sendiri?"
Meski bicaraku kaku, aku berusaha sebisa mungkin
menyambung topik.
"Saya juga kadang-kadang ke sini. Untuk menjernihkan
pikiran."
"Begitu ya……"
"Memang sulit untuk mengatakan kalau pemandangannya
indah, tapi suasananya terasa sangat klasik dan menenangkan, ya?"
"Y-yah, begitulah."
(Padahal aku sama sekali tidak setuju……)
Aku tidak menyuarakan isi hatiku karena tidak ingin
merusak suasana.
Seolah menyadari perasaanku, dia berkata lagi.
"Jika ditanya apakah tempat ini layak seharga 10.000
Regil, saya pun tidak akan bisa mengangguk setuju."
"Apa-apaan itu."
"Fufufu."
Sepertinya dia senang mendengar tanggapanku yang
asal-asalan, dia tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
Sungguh misterius bagaimana setiap gerak-geriknya selalu
memancarkan keanggunan yang alami.
"Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya saya
berbicara dengan seseorang di menara jam ini."
"Yah, sewajarnya memang begitu, kan."
"Boleh saya bertanya? Mengapa kamu berada di tempat
seperti ini?"
"Alasannya sama, untuk menjernihkan pikiran."
"Fufu, ternyata begitu ya."
Aku tidak mungkin bilang kalau alasannya adalah 'karena
besok ada kemungkinan aku diusir dari kota'.
Jika kemungkinan itu tidak ada, aku tidak akan pernah
sudi mengunjungi menara jam ini.
"Ngomong-ngomong, apa terjadi sesuatu yang
buruk?"
"Maksudmu, padaku?"
"Karena tadi Anda bilang datang ke sini untuk
menjernihkan pikiran."
"Ah, terima kasih atas perhatiannya. Bukan sesuatu
yang buruk, tapi ada hal yang membuat saya merasa buntu."
"Hoo……"
Aku tidak bisa memutuskan apakah ini hal yang boleh atau
tidak boleh ditanyakan kepada orang yang baru pertama kali ditemui.
Saat aku memilih untuk tetap bersikap pasif, dia justru
melontarkan sebuah pertanyaan.
"Apakah kamu tahu sesuatu? ──Mengenai pria yang
mengenakan perlengkapan hitam legam."
"Eh……"
Kata-kata yang sama sekali tidak terduga. Sesaat
pikiranku menjadi kosong, namun aku segera berpura-pura tenang.
"A-ah……. Akhir-akhir ini memang sedang jadi bahan
pembicaraan, ya."
"Benar, karena beliau adalah sosok yang dicari oleh
banyak pihak. Saya pun sudah mencoba mencari sebisa mungkin, tapi beliau sangat
ahli dalam menyembunyikan diri sehingga tidak ada kemajuan berarti."
"……"
(Bukan ahli menyembunyikan diri, aku cuma tidak keluar
dari penginapan saja……. Tunggu, berarti wanita ini adalah salah satu orang yang
mencariku.)
Saat itu juga, Kai menyadari bahwa dia baru saja mendapat
durian runtuh.
Dia bisa mengumpulkan informasi yang kredibel.
"Padahal secara pribadi, saya sangat ingin
bertemu……"
Gumamnya pelan. Suara itu hanya bisa terdengar karena
mereka berada di dalam menara jam yang sunyi.
"Hm? Ingin bertemu……? Bukannya orang itu melakukan
suatu kejahatan?"
"Kejahatan? Mana mungkin! Beliau tidak dicari karena
alasan semacam itu, kok."
"Be-begitu ya, syukur kalau begitu……"
Detik itu juga, kecemasan yang menyelimutiku menguap
seketika. Rasanya seperti bisa bernapas lega kembali.
"Lalu kenapa dia dicari?"
"Mohon maaf. Hal itu bersifat rahasia."
"……Kalau begitu, mau bagaimana lagi."
Karena rahasia, aku justru jadi semakin penasaran, namun
nada suaranya menegaskan bahwa dia 'benar-benar tidak bisa memberitahuku'.
Meski tidak bisa mengumpulkan informasi secara maksimal,
mengetahui bahwa aku tidak dicari karena alasan buruk sudah lebih dari cukup.
"Saya
ingin segera menemukannya…… Benar-benar ingin……"
"……"
Tepat saat gumaman penuh kerinduan itu masuk ke
telingaku.
"Ah, mohon maaf. Sepertinya jemputan saya sudah
datang."
"Ah, begitu ya."
Wanita itu berbalik dan memberitahuku, sepertinya dia
sudah melihat kereta kudanya dari atas menara.
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi."
"Iya, saya permisi dulu."
"──E-eh, tunggu, satu hal terakhir."
"Iya, ada apa?"
"Mungkin saja, dalam waktu dekat akan ada
perkembangan."
"Ah, fufu, terima kasih atas perhatiannya. Kalau
begitu, saya pamit."
Wanita itu mengangkat kedua ujung gaunnya dengan gerakan
yang sangat halus dan membungkukkan badan. Ia lalu berbalik dan menuruni
tangga.
Kai hanya bisa terpaku melihat salam yang begitu elegan untuk pertama kali dalam hidupnya.



Post a Comment