Interlude 2
Tepat setelah wanita bertopeng itu melangkah keluar dari
menara jam.
"Wah, hari ini Karen yang datang menjemputku,
ya. Terima kasih."
"Tentu saja! Lagipula, dengan keluar begini, siapa
tahu aku bisa menemukan orang itu!"
"Jadi maksudmu, menjemputku ini cuma sambilan
saja?"
"Du-dua-duanya sama pentingnya, kok! Bukan sambilan!
Ih, Kakak jangan menggodaku terus, dong."
"Fufu, maaf ya."
Setelah mereka naik ke kereta kuda biasa yang sering
terlihat di kota dan menutup tirai jendela.
Lifia melepas topengnya, memperlihatkan wajah aslinya,
diikuti oleh adik perempuannya, Karen, yang melakukan hal serupa.
"……Ngomong-ngomong, memakai topeng begini tetap saja
terasa memalukan."
"Meski merasa begitu, aku senang sekali kamu tetap
mau menjemputku. Kalau bukan demi dia, mungkin kamu tidak akan mau."
"Su-sudah! Lupakan soal itu……"
Menyembunyikan wajah. Tidak menggunakan kereta kuda
pesanan khusus. Hingga kusir yang sebenarnya adalah pengawal ahli.
Semua itu dilakukan demi menutupi fakta bahwa mereka
adalah anggota keluarga Duke.
Bahkan ada para pengawal yang membaur dengan suasana kota
untuk memastikan perjalanan pulang mereka jauh lebih aman dari biasanya.
"Kak, apa terjadi sesuatu yang menyenangkan? Kakak
kelihatan lebih sering menggodaku dari biasanya."
"Hanya dengan begitu saja kamu sudah tahu, ya. Hebat
sekali, Karen. Sebenarnya, tadi aku bertemu seseorang untuk pertama kalinya di
menara jam itu."
"Eh, di tempat seperti itu? Orang itu pasti
mencurigakan. Jangan-jangan dia sengaja mendekati Kakak karena mendengar rumor
tentangmu?"
Itulah yang dipikirkan oleh hampir seluruh penduduk kota.
Siapa pun yang menggunakan menara itu dianggap aneh.
Lifia pun termasuk salah satunya, namun ia punya alasan;
statusnya membuatnya tidak bisa bersantai sendirian di tempat umum, dan menara
itu adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa menjernihkan pikiran tanpa
gangguan.
"Tentu saja awalnya aku waspada, tapi setelah
mengobrol, aku sadar dia bukan orang seperti itu."
"Hmm. Yah, syukurlah kalau tidak terjadi
apa-apa."
Karen menjawab dengan tatapan yang masih penuh curiga. Baginya, Lifia adalah sosok yang
sangat berharga. Wajar jika ia bersikap waspada seperti ini.
"Kalau
saja tadi tidak ada penjaga di bawah, aku mungkin tidak akan tahu."
"Fufu,
melihat wajahnya yang tampak bingung saat menatap pemandangan itu, kurasa dia
hanyalah turis yang datang untuk jalan-jalan di kota ini."
"Ah, kalau begitu dia orang yang tidak
berbahaya!"
Ekspresi yang muncul karena seseorang memanjat 'hanya
untuk menikmati pemandangan'. Hal itu membuktikan bahwa dia tidak punya niat
buruk seperti sengaja mengincar wanita yang sedang berada di atas.
Karen pun kembali menenangkan pandangannya.
"Dia menggunakan gaya bahasa yang tidak biasa
digunakan sehari-hari, dan aku bisa mengobrol dengannya secara setara. Itu
benar-benar waktu yang berharga."
"……Itu namanya tidak sopan kepada Kakak."
Namun, Karen kembali menyipitkan matanya mendengar hal
itu.
"Tapi Karen pasti mengerti perasaanku, kan? Pria itu
juga menggunakan gaya bahasa yang santai padamu."
"……O-orang itu memang sangat cocok dengan gaya
bahasa seperti itu. Jangan samakan dia dengan turis asing!"
"Hmph!" Karen bersedekap sambil menunjukkan
sikap tsundere-nya.
Mungkin ia terlihat pemarah, tapi itu karena Karen
benar-benar sudah sangat menyukai pria tersebut.
"Melihat reaksimu, sepertinya kamu belum
mendapatkan informasi baru tentang pria itu, ya?"
"Iya……
Kata Ayah, mungkin dia sudah meninggalkan kota ini."
"Ta-tapi
kalau begitu, bukankah harusnya ada laporan dari penjaga gerbang?"
"Bagi
orang sepertinya, memanjat tembok tanpa melewati gerbang adalah hal sepele.
Melihat cara dia menyembunyikan diri, kemungkinan besar dia memang anggota Veltal."
"……"
Pria itu pernah bilang kalau dia sengaja menghindari
kemudahan. Pemeriksaan identitas pun kemungkinan besar ia lewati begitu saja.
Jika tidak ada masalah yang muncul, bukan hal aneh jika
ia keluar dari kota dengan cara yang tak terduga.
"Tadi aku sempat mencoba memancing informasi dari
orang yang kutemui di menara jam, tapi dia memberikan reaksi yang sama."
"Jangankan dia, kita saja tidak punya kemajuan apa
pun……. Itu sudah sewajarnya."
"Hanya saja…… ada satu hal yang mengganjal. Dia
mengatakan sesuatu yang penuh arti."
"Sesuatu yang penuh arti?"
"Dia bilang, 'Mungkin saja dalam waktu dekat akan
ada pergerakan'."
"Eh?"
Mendengar ucapan Lifia yang tampak sedang
mengingat-ingat sambil mengernyitkan dahi, Karen pun ikut mengernyit.
"Ka-Kak. Aku ingin tanya sedikit, turis itu orangnya
seperti apa?"
"Dia orang yang tampak memikat dan punya ketenangan
batin. Karena ada luka di dekat matanya, kurasa dia seorang Treasure
Hunter."
"──! Kak, apa luka itu ada di sebelah kiri!?"
"Ke-kenapa? Kenapa kamu berteriak kencang
sekali……"
"Sudah, jawab saja!"
Wajah Karen tampak sangat serius dan mendesak. Seolah
tertekan oleh aura adiknya, Lifia mulai bicara.
"E-eh……
kalau dari posisiku tadi lukanya ada di sebelah kanan, jadi benar kata Karen,
itu ada di sebelah kiri wajahnya……"
"Ki-kita harus kembali ke menara jam itu……. Harus
kembali!"
Karen menggerakkan kedua tangannya dengan panik, lalu
segera berteriak kepada kusir untuk memutar balik kereta secepat mungkin.
Sikapnya benar-benar menunjukkan kepanikan yang belum
pernah dilihat sebelumnya.
"Karen, sebenarnya ada apa……?"
"A-a-ada luka di dekat mata kiri orang itu juga!!
Jadi ada kemungkinan kalau itu dia!"
"Eh!? Ke-kenapa kamu tidak memberitahuku soal
ciri-ciri itu!?"
"Soal penampilan fisiknya adalah rahasia antara aku
dan Ayah! Ayah bilang, semakin banyak orang yang tahu penampilannya, itu akan
menghambat pekerjaannya!"
Akhirnya Lifia memahami situasinya. Ia melemparkan
pandangannya ke arah menara jam yang terlihat dari jendela kereta.
Namun, saat mereka berhasil sampai kembali di sana dan
bergegas naik ke atas──seolah sudah menduga hal ini akan terjadi, pria dengan
luka di dekat matanya itu telah menghilang tanpa jejak.



Post a Comment