Chapter 5
Hanya Berdua Saja
Bagian 1
Kediaman keluarga Ansarage, tempat tinggal bagi keluarga
yang memimpin Ordo Suci.
"──Aku benar-benar harus berterima kasih
sedalam-dalamnya kepada Shikkoku-sama karena telah memberikan kesempatan
seperti itu di tengah masa tugasnya..."
"Apakah benar-benar tidak ada tugas asli yang
dibebankan sejak Layla-sama tiba?"
"Benar. Shikkoku-sama secara langsung mengatakan,
'Kerahkan seluruh tenaga untuk berduel di sisa waktu ini', dan berpesan dengan
tegas, 'Lupakan sejenak tugas asli kalian'──"
Di dalam ruang tamu kediaman tersebut, Nina yang mengenakan
pakaian resmi Ordo Suci duduk berhadapan dengan ayahnya, sang Uskup Agung,
serta pemimpin penjaga yang baru saja kembali dari kediaman Shikkoku.
"──Saya khawatir apakah menerima tawaran itu adalah
keputusan yang tepat..."
"Tidak, ini
adalah Shikkoku-sama. Beliau pasti sudah merencanakannya sejak awal. Menganggap
menolaknya justru akan menjadi tindakan tidak sopan. Anggap ini sebagai niat
tulus beliau, bukan sekadar basa-basi."
"Saya
mengerti. Terima kasih banyak."
Penjaga itu
menundukkan kepala penuh rasa syukur, lalu melanjutkan kalimatnya seolah
menanggapi perasaan sang Uskup Agung.
"Siapa
sangka hari di mana saya bisa berduel dengan Layla-sama yang legendaris itu
akan tiba... Itu benar-benar waktu berharga yang sangat bermanfaat hingga tak
bisa diungkapkan dengan kata-kata."
"Apakah ada
yang terluka?"
"Semua orang
menderita luka memar dan lecet, tapi karena kami menggunakan ramuan pemulih,
itu tidak akan memengaruhi tugas kami mulai besok."
"Kalau
begitu syukurlah. Aku mengandalkanmu ke depannya."
"Siap! Kalau
begitu, saya permisi dulu!"
Laporan singkat
itu berakhir dengan cepat. Sang Uskup Agung memang sangat sibuk hingga
meluangkan waktu sedikit saja sulit baginya.
Tepat
saat penjaga itu berdiri dan hendak meninggalkan ruangan—
"Tu-tunggu
sebentar! Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan pada Pak Penjaga!"
Nina merentangkan
kedua tangan kecilnya, berusaha menahan si penjaga dengan tergesa-gesa.
"Silakan
tanya apa saja, Nina-sama."
"Pe-pertama!
Bagaimana kedekatan antara Layla-sama dan Shikkoku-sama!"
"Nina..."
Uskup Agung
langsung memegang kepalanya begitu mendengar pertanyaan dari putri
kesayangannya itu.
Sambil
memperhatikan reaksi tuannya, sang penjaga mencoba memanggil kembali
ingatannya.
"Kedekatan, ya. ...Mohon maaf. Sulit untuk menggambarkannya hanya dalam satu
kata."
"Sulit
bagaimana maksudnya?"
"Shikkoku-sama
selalu memberikan kesan dingin terhadap Layla-sama, namun sebaliknya,
Layla-sama tampak sangat percaya dan bermanja-manja kepada Shikkoku-sama. Terlihat seperti hubungan yang
bertepuk sebelah tangan."
"O-begitu
ya...! Jadi bertepuk sebelah tangan!"
Mendengar
informasi ini, Nina menangkupkan kedua tangannya sambil mengulas senyum lebar.
Namun, pertanyaannya belum berakhir.
"Lalu,
bermanja-manja seperti apa yang dilakukan Layla-sama...?"
"Alasannya
agak sulit dijelaskan, dia bilang 'karena Shikkoku-sama suka kabur', tapi
Layla-sama sering menggandeng lengan beliau, atau memohon untuk menginap di
kediaman Shikkoku-sama."
"Kh!
Jadi bagaimana akhirnya!? Apakah Layla-sama benar-benar tinggal di kediaman
Shikkoku-sama!?"
"Sepertinya
begitu. Beliau menginap beberapa malam, dan hari ini beliau mengantar
Layla-sama saat berpamitan."
"Apa...!"
Nina
membelalakkan kedua matanya yang cantik, mulutnya menganga lebar. Ini
benar-benar berita yang sangat mengejutkan baginya.
"Jika
Layla-sama tidak memiliki urusan lain, saya rasa beliau masih akan menghabiskan
waktu di kediaman Shikkoku-sama."
"I-ini
tidak boleh dibiarkan...! Ini gawat! Aku harus segera pergi untuk memastikan
berbagai hal...!"
"Tunggu,
Nina! Jika ingin ke sana, pergilah bersama Marie setelah tugasnya
selesai──"
"──Jangan
hentikan aku, Ayah!"
Nina ingin
menghapus segala kekhawatiran di hatinya. Keinginannya untuk pergi begitu
meluap-luap.
Setelah berhasil
lolos dari cegahan ayahnya, Nina berlari keluar dari ruang tamu dengan suara
langkah kaki yang berisik.
"Haa...
Benar-benar maaf. Bolehkah aku meminta satu bantuan lagi padamu?"
"Tentu saja.
Saya akan mengawal Nina-sama sampai ke kediaman Shikkoku-sama. Apakah Nina-sama
tetap memakai pakaian resmi?"
"Pakaian
resmi pun tidak masalah, tapi... aku butuh waktu menyiapkan buah tangan.
Bisakah kamu membujuknya agar ganti ke pakaian kasual? Jika melibatkan nama
Shikkoku-sama, dia pasti akan segera ganti baju."
"Dimengerti.
Kalau begitu, saya akan mengusulkannya dengan alasan, 'Siapa tahu Anda akan
dipuji oleh beliau?'"
"Baiklah."
Mendengar jawaban
sang Uskup Agung, penjaga itu segera keluar ruangan dengan kecepatan
berkali-kali lipat dari Nina.
"Nah...
sekarang saatnya menyiapkan buah tangan..."
Bagi
Shikkoku yang bisa mendapatkan barang langka apa pun dengan mudah, menyiapkan
buah tangan yang bisa membuatnya senang adalah hal yang mustahil.
Sang
Uskup Agung merasa tertekan, namun ia tidak boleh mengeluh demi menjaga
martabat dan kesopanan.
◆◇◆
Di saat
keluarga Ansarage sedang sibuk berbenah──.
"Berhenti
sebentar!"
"Hm?"
"Kamu
tadi memanfaatkan celah saat Pak Residen membawakan camilan untuk melangkah
dua-tiga kali sekaligus, kan!"
"Tidak,
aku tidak curang kok..."
Di dalam
ruang perpustakaan pribadi kediaman, Kai sedang dihujani tatapan curiga dari
Layla.
Pak
Residen yang membawakan teh dan camilan hanya bisa menutup mulutnya pelan saat
melihat papan reversi di mana keempat sudutnya sudah dikuasai oleh Kai
secara telak.
"Lagi
pula, bidaknya berbunyi saat diletakkan, jadi kalau aku curang pasti ketahuan,
kan? Kamu tidak mungkin tidak sadar."
"Lalu
kenapa semuanya jadi warna hitam begini!"
"Mungkin
perbedaan kemampuan."
"Hah!? Aku
ini kuat, tahu!"
"Kamu lupa
kalau skornya 0-2? Ini akan jadi kekalahan ketigamu."
"Dua ronde
pertama kan kita seimbang. Kamu sendiri yang lupa."
"Tadi itu
pertama kalinya aku serius."
"Ja-jadi
sekali lagi! Kali ini aku pasti menang. Permainan tadi itu aku cuma menahan
diri!"
"Boleh."
Layla menyerah
dan segera mengumpulkan bidak untuk bersiap melakukan tanding ulang.
Kai membantunya,
dan ronde keempat pun segera dimulai.
Sementara itu,
Pak Residen yang merasa 'waktunya tidak tepat untuk keluar ruangan' memutuskan
untuk mengamati pertandingan mereka dengan penuh minat.
"──Ngomong-ngomong,
ini sudah ingin kutanyakan sejak tadi, kapan kamu berencana pulang?"
"Hmm. Karena
sudah tidak bisa duel dengan orang-orang itu, mungkin aku akan pulang nanti
malam."
"Ma-malam?
Mau berapa jam lagi kamu di sini..."
Sejak Kai bertemu
Layla di luar kota hingga saat ini, waktu yang mereka habiskan bersama hampir
mencakup seluruh hari.
Layla hanya
keluar dari rumah ini sekali saja.
Alasannya
hanya 'untuk mengambil baju ganti'.
Dan itu
pun dia kembali dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Makan,
mandi, hingga tidur dilakukan di rumah ini.
Sisa
waktunya dihabiskan untuk berduel dengan 20 penjaga. Itulah rutinitasnya beberapa hari terakhir.
"Habisnya di
sini nyaman. Pak Residen dan kamu bicara padaku dengan normal."
"......"
"Hei, bisa
berhenti memasang wajah 'itu karena kelakuan harianmu buruk' tidak?
Begini-begini aku ini tipe yang berkontribusi, lho."
"Wajahku ini
artinya 'itu karena kamu memaksa orang berduel setiap hari'."
Begitu Kai
menyampaikan pemikiran jujurnya, Layla membalas dengan senyuman sambil
mengacungkan jari tengah.
"Aku akan
menetap di rumah ini kalau kamu terus bicara sombong begitu. Pak Residen juga
merasa oke-oke saja, kan?"
"Tergantung
keputusan Shikkoku-sama, namun saya tidak akan keberatan."
"Lihat!"
"Jangan
minta aku berduel, jangan bebani Pak Residen, dan habiskan waktu dengan
menyenangkan bersamanya. Kalau kamu patuh pada tiga hal ini, aku tidak akan
menolak."
"Kamu ini
sangat baik pada Pak Residen, ya? Apa kamu sedang mengincarnya?"
"Apa aku
terlihat seperti orang yang berani mengincar seseorang yang levelnya jauh di
atasku? Begitulah alasannya."
"Ara,
ternyata kamu sangat realistis ya."
Layla melirik ke
arah Kai sejenak sebelum meletakkan bidaknya.
"Ngomong-ngomong,
maksudmu 'level di bawah' itu adalah kamu?"
"Tentu saja.
Kalau aku tidak merasa begitu, kasihan Pak Residen, kan?"
Kai menjawab
sambil langsung membalas langkah bidak Layla.
"Padahal aku
tidak merasa kamu berada di bawahnya."
"Saya justru
merasa lebih rendah lagi dari Shikkoku-sama."
"──Katanya
begitu."
"Itu kan
karena dipaksa memuji."
"Aah, sayang
sekali. Padahal ini kesempatan bagus untuk merayu. Seperti, 'Kalau begitu ayo
makan bareng' atau semacamnya."
"Goncangan
mental begitu tidak akan mempan padaku."
Layla mungkin
mencoba membuat Kai goyah agar melakukan kesalahan, namun Pak Residen memang
berada di posisi harus menghormati tuannya. Kai tidak memasukkannya ke dalam
hati.
Di tengah obrolan
itu, strategi permainan semakin memanas, dan Kai mendapatkan peluang emas lebih
dulu.
"Oke, sudut
ini milikku."
"Hei, dari
tadi kamu mengincar bagian itu terus, memangnya sekuat itu ya posisi
sudut?"
"......E-enggak
juga? Aku mengambilnya karena aku suka sudut."
"Alasannya
menjijikkan."
Kai memang
sengaja tidak memberitahunya karena ingin sedikit usil.
Lagipula, dia
sudah dibuat ketakutan oleh Layla selama ini. Setiap kali diajak 'duel',
rasanya umurnya berkurang. Ini adalah pembalasan.
Begitulah pikir
Kai, namun──.
"Layla-sama,
dalam reversi, empat sudut adalah posisi terkuat yang tidak bisa
dibalikkan oleh lawan. Jika Anda menguasai sisi dari sudut tersebut, Anda bisa
menambah jumlah bidak yang tidak bisa dibalikkan juga. Dalam pertarungan, ini ibarat
menyerang titik kelemahan musuh dengan akurat."
"Tunggu, Pak
Residen!?"
Pertahanan Kai
runtuh seketika karena saran dari Pak Residen.
"Heh... Jadi
begitu. Ternyata mengambil sudut adalah salah satu teori dasarnya, ya."
"Pak
Residen..."
"Saat saya
berduel dengan Layla-sama, Shikkoku-sama memberikan saran yang sangat akurat
kepada beliau, bukan? Jadi Anda juga harus merasakan hal yang sama."
"Itu karena
kamu tidak mengajak Pak Residen makan bareng."
"Layla-sama,
saya akan ajarkan teori berikutnya."
"Wah, terima
kasih!"
"Oi!!"
Pada saat itu,
Kai menyadari betapa putus asanya ketika Pak Residen yang sangat bisa
diandalkan justru berbalik menjadi musuh.
Ia tidak tahu
bahwa ini adalah bentuk 'balas budi' karena perbedaan tingkat pemahaman mereka.
◆◇◆
"Hore!
Aku yang memimpin skor!"
"......"
19 ronde;
10 menang, 9 kalah. Itu skor Layla. 19 ronde; 9 menang, 10 kalah. Itu skor Kai.
Setelah diajarkan
berbagai teori oleh Pak Residen, kemampuan Layla meningkat drastis. Tiba-tiba
saja, Kai kesulitan untuk menang.
"19 ronde
itu... tanggung. Ayo genapkan jadi 20."
"Hee, mau
main lagi? Kalau begitu bilang dulu, 'Maaf tadi aku sombong. Aku ingin
main satu ronde lagi dengan Layla-chan. Tolong ya'."
"......Ini
penghinaan."
"Khfufu,
rasakan itu."
Layla terus
mengejeknya dengan wajah penuh kemenangan.
Kai tahu meskipun
ronde ke-20 dilakukan, dia tidak bisa memimpin skor lagi.
Tapi setidaknya
ada peluang untuk seri. Jika itu bisa mengubah hasil kekalahan, mengatakannya
tidak ada salahnya.
"Anu......"
Tepat saat Kai
hendak mengulangi kata-kata Layla, tiba-tiba—
Ting
tong—
Bel pintu
kediaman berbunyi di waktu yang tepat.
"Dilihat
dari auranya, ini pasti seseorang dari keluarga Ansarage. Soalnya ada penjaga
mereka yang tadi duel denganku."
"......Hebat
juga."
"Jika itu
keluarga Ansarage, apakah saya diizinkan mempersilakan mereka masuk?"
"Tidak
masalah. Tapi kalau ada ayah atau ibu Nina, tolong beri tahu aku dulu. Aku
butuh persiapan mental."
"Dimengerti."
Setelah Pak
Residen pergi untuk menyambut tamu, Kai mengambil napas dalam-dalam.
Ia mulai
menyiapkan mental untuk segala kemungkinan.
"Ternyata
kamu cukup penakut ya. Padahal punya perlengkapan sehebat itu."
"Aku hanya
tahu diri."
"Hah? Apa
maksudmu. Kita ini kan ada di atas mereka."
"Kita
di bawah, kan?"
"Di
atas, tahu."
"Di
bawah."
Bagi
mereka yang berafiliasi dengan Vertal, apalagi sekelas eksekutif, ucapan
Layla benar.
Namun jika tidak,
ucapan Kai-lah yang benar. Perdebatan itu terjadi karena adanya perbedaan
persepsi.
"Memangnya
kamu kenal dengan mereka?"
"Bukan
cuma keluarga Ansarage, aku kenal dengan ketiga keluarga besar itu. Aku bahkan
sering diundang ke pesta mereka."
"Kalau
sering diundang, berarti kamu tidak mengamuk di sana, ya."
"Tidak
sopan sekali. Aku cuma berbuat sesuka hati di dalam Asosiasi Treasure Hunter
saja."
"Baru
tahu aku."
Di tengah
pertukaran informasi yang mengejutkan itu, gerbang utama kediaman terbuka.
Seorang
gadis turun dengan tergesa-gesa dari kereta kuda dan berlari kecil menuju pintu
depan.
◆◇◆
Beberapa
waktu pun berlalu.
"Loh,
kok jadi begini. Aku tidak punya tempat untuk melangkah lagi? Semuanya jadi
warna hitam."
"Boleh
aku bicara sesuatu? Ini bukan karena aku lemah! Tapi karena Nina-chan yang terlalu kuat!"
"Fufun,
aku memang ahli dalam reversi!"
Di dalam
ruang perpustakaan, kini bertambah dua orang: Nina yang duduk di pangkuan Kai
setelah memenangkan pertandingan melawan Layla, dan pemimpin penjaga yang
berdiri di samping Pak Residen menyaksikan pertandingan.
"Nah,
karena kamu sudah mengejekku, sekarang giliranmu melawan Nina-chan."
"Tentu saja.
Ayo kita mulai. Bagaimanapun juga, aku lebih kuat dari orang itu."
"Tentu
saja!"
"Lebih kuat
dariku... ya. Yah, kalau kamu bisa menang melawan Nina-chan, aku akan mengakui
ucapanmu."
"Kalau
begitu Nina, pindah duduknya. Ayo kita main berhadapan."
Kai sudah belajar
saat bermain melawan Karen. Bermain sambil memangku seseorang itu sangat
merugikan karena sulit untuk berkonsentrasi.
"Tunggu
sebentar. 'Pindah duduk' itu maksudnya aku yang harus duduk di
pangkuanmu?"
"Ke-kenapa jadi begitu... Secara logika kan kamu
harusnya duduk di samping Nina atau di sampingku."
"Jangan bicara yang ambigu, dong. Aku kaget tahu."
"Harusnya kamu paham, kan."
Di tengah percakapan dengan Layla yang agak sedikit linglung
itu, ada seorang gadis yang tidak bergeming dari pangkuan Kai layaknya patung
batu.
"Nina?"
Saat Kai mengeluarkan suara yang mengisyaratkan 'ayo pindah
tempat', barulah gadis itu bereaksi.
"Aku ingin tetap begini, apakah tidak boleh?"
"Eh?"
Sebuah reaksi penolakan.
"Khfufu, kalau Nina-chan ingin begitu, bukankah kamu
harus menuruti permintaannya? Lagipula posisimu kan ada di bawahnya."
"......Kalau aku menang melawan Nina, aku akan
mengejekmu habis-habisan."
"Nina-chan, kalau kamu menang melawan orang ini, aku
akan membantumu dalam banyak hal, lho."
"A-aku akan berusaha!"
Pertandingan pun dimulai dan berakhir dalam waktu sekitar
sepuluh menit.
"Yap, sayang
sekali. Kerja bagus, Nina-chan."
"Terima
kasih banyak!"
Setelah
pertandingan selesai, terlihat pemandangan Layla dan Nina melakukan high-five,
sementara Kai menyandarkan tubuhnya ke kursi seolah seluruh tenaganya telah
terkuras.
Bidak putihnya
hanya tersisa 8 buah. Sisanya hitam semua.
Sama seperti
Layla, Kai kalah telak dari Nina.
"Kamu
ternyata kuat sekali ya... Apa Nina juga jago main catur?"
"Ti-tidak! Kalau catur aku sama sekali tidak
bisa..."
"Kalau jago di salah satunya saja sudah cukup. Apalagi
di usiamu sekarang."
Layla tersenyum manis dan memberikan pujian kepada Nina. Kai
yang melirik pemandangan itu sejenak langsung tertangkap basah.
"Sepertinya
kamu ingin mengatakan sesuatu."
"Aku tidak
bermaksud mengejek, tapi ternyata kamu bisa jadi kakak perempuan yang baik di
depan Nina, ya."
"Apa
salahnya kalau aku suka anak kecil?"
"Tidak, cuma
menurutku secara pribadi kamu jadi lebih mudah didekati."
"A-apaan
sih. Menyebalkan."
"Haha."
Kai tidak bisa
menahan tawa saat mendengar makian yang langsung terlontar setelah ia
memujinya.
"Ngomong-ngomong,
Nina-chan sudah datang jauh-jauh dengan pakaian cantik begini, apa kamu tidak
mau mengajaknya jalan-jalan? Menurutku kamu harus memberinya hadiah karena
sudah menang."
"Ah, itu
tergantung Nina."
"Eh!? Apakah
Shikkoku-sama mau pergi jalan-jalan denganku!?"
"Jadwalku
hari ini kosong, sih."
"!!"
Seolah luapan
kegembiraan meledak di dalam dirinya, Nina melompat kecil di pangkuan Kai.
Melihat wajah Layla yang tampak senang, sepertinya Kai juga menunjukkan
ekspresi yang sama.
"Tapi, akan
jadi masalah kalau aku membawamu tanpa izin orang tuamu. Jadi kita harus
selesaikan masalah itu dulu."
"Kalau aku
yang meminta, pasti tidak apa-apa!"
"Be-benarkah...?"
"Iya!"
Nina memutar
tubuhnya dan menatap Kai dengan mata berbinar, namun Kai tetap merasa ngeri
jika ternyata hal itu 'tidak apa-apa'. Akhirnya ia memutuskan bertanya pada
orang lain.
"Pak
Penjaga, apakah menurutmu ini tidak masalah?"
"Khusus
untuk Shikkoku-sama, tidak ada masalah. Saya harap Anda bisa membawa Nina-sama
kembali sebelum senja."
"Khusus
untukku... ya."
"Itu artinya
kamu sudah mendapatkan kepercayaan sebesar itu. Jadi selama tidak terjadi hal
yang aneh-aneh, semuanya akan baik-baik saja."
"......Be-begitu
ya. Kalau kalian bicara sampai sejauh itu, ayo kita pergi?"
"Dengan
senang hati!!"
Kai merasa
seperti sedang dipancing, namun kata-kata para penjaga dan Layla memang layak
dipercayai.
"Kalau aku
dan Nina pergi ke kota, kalian semua bagaimana?"
"Tentu saja
duel. Soalnya ada penjaga menantang yang sengaja kembali ke sini, kan?"
"!?"
"Kurasa
tujuannya kembali bukan untuk itu..."
Dilihat dari
wajahnya yang sangat terkejut, penjaga itu pasti hanya ditugasi untuk mengawal
Nina.
"Lalu,
bagaimana kalau Pak Residen ikut juga? Mau menggerakkan tubuh?"
"Tentu. Jika
pekerjaan saya sudah selesai, saya akan menerima ajakan tersebut."
Sepertinya duel
sebelumnya telah memicu semangat Pak Residen. Wajahnya terlihat bersemangat.
"Nah, karena
itu, aku serahkan Nina-chan padamu."
"Mo-mohon
tunggu sebentar!"
Penjaga
yang mengantar Nina berteriak panik.
"Iya, aku
tahu apa yang ingin kamu katakan. Kalau kamu berduel, artinya kamu
menelantarkan tugasmu, kan? Kamu harus menjalankan tugas pengawalan di
sini."
"Seperti
yang Shikkoku-sama katakan..."
"Kalau
begitu! Anu... tolong pastikan Anda meladeni duel Layla-sama, ya?"
Nina memberikan
perintah dengan nada yang tidak terbiasa.
"Fufu, kalau
Nina-chan sudah bilang begitu, penjaga ini tidak punya pilihan selain memihak
kami, kan?"
"Apa...!!"
Layla berdiri
dari sofa, pindah ke samping penjaga itu, dan merangkul bahunya.
"──Bukankah
kita harus menghormati perasaannya yang ingin berduaan? Dia bukan orang yang
punya kebebasan untuk bermain setiap hari, lho."
"............Benar
juga, ya."
Layla membisikkan
sesuatu dengan suara lirih yang hanya bisa didengar oleh penjaga tersebut
hingga ia akhirnya setuju.
"Nah,
karena kami akan bersenang-senang di sini, kalian juga bersenang-senanglah di
sana."
"Te-terima
kasih banyak! Kalau begitu Shikkoku-sama, ayo segera ke kereta! Waktu menuju
senja tidak banyak!"
"I-iya aku
tahu, tapi biarkan aku bersiap-siap dulu."
"Waaa!?"
Tangan kanan Kai
ditarik dengan kedua tangan Nina menuju pintu, padahal ia belum menyiapkan uang
maupun senjata.
Kai membalas
paksaan itu dengan mengangkat tubuh mungil Nina dan menggendongnya untuk
menghentikan gerakannya.
Sambil membawa
Nina yang kakinya meronta-ronta di udara, Kai pun mulai bersiap-siap.
◆◇◆
"Anu, Shikkoku-sama... Apakah benar-benar tidak apa-apa
jika kita pergi ke tempat yang ingin kukunjungi? Perjalanannya memakan waktu
satu jam dengan kereta kuda..."
"Jangan khawatir, Nina. Aku juga tertarik dengan tempat itu.
Sungguh."
"Sy-syukurlah
kalau Anda berkata begitu... Terima kasih banyak."
"Sama-sama."
Tujuan mereka
dengan kereta berlogo keluarga Ansarage adalah sebuah taman bunga bernama
"Taman Pelangi".
Sederhananya, itu
adalah tempat dengan pemandangan spektakuler di mana bunga-bunga beraneka warna
bermekaran sejauh mata memandang.
Saat masih
bermain game, Kai hanya berkunjung sekali karena fokus pada penaklukan dungeon.
Namun sekarang,
ia sangat tertarik. Selain itu, tempat tersebut dikenal sebagai 'lokasi
kencan', sehingga gengsi jika berkunjung sendirian.
Kai pun sangat
bersemangat tanpa perlu berpura-pura demi Nina.
"Ngomong-ngomong,
Nina, apakah ini pertama kalinya kamu ke Taman Pelangi?"
"Aku pernah
ke sana dua kali bersama Kakak. Tapi... bisa dibilang ini adalah yang pertama
kalinya."
"Oh?"
"Dulu, aku
hanya bisa menikmati wangi dan tekstur bunganya saja."
"Hm?
Bukankah kamu melupakan 'menikmati pemandangan yang indah'?"
Saat Kai
melontarkan pertanyaan polos itu, Nina menggembungkan pipinya dan menyipitkan
mata.
"Muu.
Shikkoku-sama lupa ya. Yang memperlihatkan dunia yang terang kepadaku adalah
Shikkoku-sama, lho."
"A-ah, benar juga!"
Kai baru teringat. Nina dulunya adalah gadis buta. Berkat ramuan ajaib, kini ia bisa melihat.
"Sekarang
aku mengerti kenapa kamu bilang ini yang pertama."
"Aku
harap Anda tidak melupakannya lagi... Karena hari itu adalah hari pertama kita bertemu. Aku tidak akan pernah
melupakannya."
"Aku senang
mendengarnya, tapi aku menyarankanmu untuk melupakannya saja, tahu?"
"Ke-kenapa!?"
"Karena itu
adalah pertemuan di tengah kejadian yang menakutkan, kan? Kecuali kalau kamu
hanya ingat bagian indahnya saja, tapi kenyataannya kan tidak begitu."
Itu adalah
pemikiran Kai, namun ia tidak berniat memaksakannya.
"──Terlepas
dari itu, aku senang mendengarnya. Kamu sekarang bisa menjalani hidup tanpa hambatan."
Karena ini
jalan-jalan, Kai tidak ingin membicarakan hal berat. Saat ia menatap mata Nina,
gadis itu langsung membuang muka.
"Melihat
mataku sekarang... rasanya memalukan..."
"Maaf soal
itu."
Wajah Nina yang
memerah membuktikan bahwa ia benar-benar malu. Kai mencoba tidak menatap
matanya lagi agar ia bisa kembali tenang. Beberapa puluh detik kemudian, Nina
kembali bersuara.
"Bo-bolehkah
aku juga bertanya sesuatu pada Shikkoku-sama?"
"Tentu
saja."
"Apakah
Shikkoku-sama pernah ke Taman Pelangi?"
"Pernah,
sih. Sekali."
"Apakah
itu... bersama Layla-sama?"
"Tidak, aku
sendirian."
"Itu
mencurigakan. Kakak pernah bilang di Taman Pelangi itu 'isinya orang pacaran
semua'."
"Makanya
aku langsung pulang saat itu..."
Memang
jarang ada orang yang pergi sendirian ke tempat kencan. Wajar jika Nina curiga,
tapi itu adalah fakta.
Lagipula, itu
terjadi saat ia masih di dalam game, jadi ia bisa pergi sendirian.
"Aku sulit
memercayainya..."
"Aku sungguh
tidak berbohong. Jadi, sama seperti Nina, bisa dibilang ini juga yang pertama
bagiku. Ini pertama
kalinya aku pergi ke sana bersama seseorang, dan dulu aku tidak sempat
berkeliling dengan saksama."
"Ja-jadi...
bagi Shikkoku-sama, aku adalah gadis pertama?"
"Iya benar.
Nina adalah pasangan pertamaku."
"!! Kalau
begitu aku percaya!!"
(Duh, cara
bicaraku jadi ambigu.) (Orang lain bisa salah paham kalau mendengar ini.)
Itulah hal
pertama yang Kai rasakan, namun melihat senyum tulus Nina, ia segera membuang
pikiran itu. Ia memutuskan untuk mengganti topik.
"Ngomong-ngomong
soal pertama kali, kurasa ini pertama kalinya aku melihat Nina memakai pakaian
kasual."
"Iya, ini
yang pertama! Karena biasanya aku selalu memakai baju biarawati!"
Nina menjawab
dengan riang, lalu tiba-tiba berdiri di dalam kereta dan memamerkan gaun jumper
skirt berpinggang tinggi yang ia kenakan.
"Bagaimana
menurut Shikkoku-sama...? Apakah cocok denganku?"
"Hei,
hati-hati kalau berdiri—"
"──O-owa-awawawa!"
"Tuh,
kan, kubilang juga apa!"
Roda
kereta menghantam batu, guncangannya membuat Nina kehilangan keseimbangan.
Sambil
mengayunkan tangan, tubuhnya terombang-ambing ke depan dan belakang. Kai segera
menariknya agar tidak jatuh.
"Kamu
tidak apa-apa, kan!?"
Akan jadi
masalah tanggung jawab besar jika ia membuat Nina terluka saat baru saja
mengajaknya keluar. Kai memastikan tidak ada yang aneh pada Nina.
"I-iya!
Wah... terima kasih sudah menolong..."
"Syukurlah... Aku akui baju itu cocok untukmu, tapi
tolong hati-hatilah."
"Ehehe..."
Nina mengeluarkan
suara manja begitu dipuji.
Sepertinya
peringatan Kai masuk kuping kanan keluar kuping kiri, karena Nina malah semakin
erat memeluk tubuh Kai.
"Nah,
sekarang duduk lagi di tempat tadi."
"......"
Bahaya
sudah lewat. Kai menepuk pundaknya pelan memberikan instruksi, namun—
"Nina?"
"............"
Nina
terdiam tak bergerak seolah sedang tidur. Tapi tidak mungkin dia tidur secepat
itu.
"Oi,
Nina? Ada apa?"
Saat ini
yang terlihat di pandangan Kai hanyalah punggung Nina dan kedua lengan kecil
yang melingkari pinggangnya.
Nina
menolak untuk bergerak dan tetap memeluknya.
"Jangan-jangan...
kamu mau tetap begini?"
Insting
Kai mengatakan begitu. Dan ternyata, Nina mengangguk pelan.
"......"
"......"
Tekadnya
sepertinya sudah bulat, ia tidak bergerak lagi. Hanya pelukannya yang terasa semakin erat.
"Baiklah...
kalau sudah puas, baru duduk, ya."
Kai merasa
kasihan jika harus melepaskannya secara paksa.
Ia merasa Nina
berhak melakukan apa yang ia inginkan setelah semua kesulitan yang ia lalui
dulu.
"Terima kasih banyak... Aku sangat senang..."
"Iya, iya."
Nina mengangkat kepalanya, mengucapkan terima kasih dengan
tatapan manja, lalu kembali memeluk Kai erat-erat.
Satu jam
kemudian, kereta pun tiba.
Dari
jendela kereta, terlihat pemandangan spektakuler bunga-bunga yang saling pamer
keindahan. Taman Pelangi sudah di depan mata.
"......"
Nina yang
sudah pindah posisi ke dekat jendela menempelkan wajahnya di kaca, namun ia
tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Ia tidak
memberikan komentar apa pun tentang pemandangan yang terlihat dari jauh itu.
Namun,
Kai bisa melihatnya. Setetes air mata mengalir di pipi Nina.
Gadis itu
pasti merasakan haru yang tak terlukiskan.
Seharusnya
Kai berpura-pura tidak melihatnya.
Tapi, ia
tidak bisa menahan diri untuk tidak bersuara.
"Ini
masih awal, Nina. Kalau dilihat dari dekat, nanti akan jauh lebih indah
lagi."
Sambil mengelus kepala Nina, Kai membisikkan kata-kata penyemangat tersebut.



Post a Comment