NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 3 Chapter 5

Chapter 5

Hanya Berdua Saja Bagian 1


Kediaman keluarga Ansarage, tempat tinggal bagi keluarga yang memimpin Ordo Suci.

"──Aku benar-benar harus berterima kasih sedalam-dalamnya kepada Shikkoku-sama karena telah memberikan kesempatan seperti itu di tengah masa tugasnya..."

"Apakah benar-benar tidak ada tugas asli yang dibebankan sejak Layla-sama tiba?"

"Benar. Shikkoku-sama secara langsung mengatakan, 'Kerahkan seluruh tenaga untuk berduel di sisa waktu ini', dan berpesan dengan tegas, 'Lupakan sejenak tugas asli kalian'──"

Di dalam ruang tamu kediaman tersebut, Nina yang mengenakan pakaian resmi Ordo Suci duduk berhadapan dengan ayahnya, sang Uskup Agung, serta pemimpin penjaga yang baru saja kembali dari kediaman Shikkoku.

"──Saya khawatir apakah menerima tawaran itu adalah keputusan yang tepat..."

"Tidak, ini adalah Shikkoku-sama. Beliau pasti sudah merencanakannya sejak awal. Menganggap menolaknya justru akan menjadi tindakan tidak sopan. Anggap ini sebagai niat tulus beliau, bukan sekadar basa-basi."

"Saya mengerti. Terima kasih banyak."

Penjaga itu menundukkan kepala penuh rasa syukur, lalu melanjutkan kalimatnya seolah menanggapi perasaan sang Uskup Agung.

"Siapa sangka hari di mana saya bisa berduel dengan Layla-sama yang legendaris itu akan tiba... Itu benar-benar waktu berharga yang sangat bermanfaat hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata."

"Apakah ada yang terluka?"

"Semua orang menderita luka memar dan lecet, tapi karena kami menggunakan ramuan pemulih, itu tidak akan memengaruhi tugas kami mulai besok."

"Kalau begitu syukurlah. Aku mengandalkanmu ke depannya."

"Siap! Kalau begitu, saya permisi dulu!"

Laporan singkat itu berakhir dengan cepat. Sang Uskup Agung memang sangat sibuk hingga meluangkan waktu sedikit saja sulit baginya.

Tepat saat penjaga itu berdiri dan hendak meninggalkan ruangan—

"Tu-tunggu sebentar! Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan pada Pak Penjaga!"

Nina merentangkan kedua tangan kecilnya, berusaha menahan si penjaga dengan tergesa-gesa.

"Silakan tanya apa saja, Nina-sama."

"Pe-pertama! Bagaimana kedekatan antara Layla-sama dan Shikkoku-sama!"

"Nina..."

Uskup Agung langsung memegang kepalanya begitu mendengar pertanyaan dari putri kesayangannya itu.

Sambil memperhatikan reaksi tuannya, sang penjaga mencoba memanggil kembali ingatannya.

"Kedekatan, ya. ...Mohon maaf. Sulit untuk menggambarkannya hanya dalam satu kata."

"Sulit bagaimana maksudnya?"

"Shikkoku-sama selalu memberikan kesan dingin terhadap Layla-sama, namun sebaliknya, Layla-sama tampak sangat percaya dan bermanja-manja kepada Shikkoku-sama. Terlihat seperti hubungan yang bertepuk sebelah tangan."

"O-begitu ya...! Jadi bertepuk sebelah tangan!"

Mendengar informasi ini, Nina menangkupkan kedua tangannya sambil mengulas senyum lebar. Namun, pertanyaannya belum berakhir.

"Lalu, bermanja-manja seperti apa yang dilakukan Layla-sama...?"

"Alasannya agak sulit dijelaskan, dia bilang 'karena Shikkoku-sama suka kabur', tapi Layla-sama sering menggandeng lengan beliau, atau memohon untuk menginap di kediaman Shikkoku-sama."

"Kh! Jadi bagaimana akhirnya!? Apakah Layla-sama benar-benar tinggal di kediaman Shikkoku-sama!?"

"Sepertinya begitu. Beliau menginap beberapa malam, dan hari ini beliau mengantar Layla-sama saat berpamitan."

"Apa...!"

Nina membelalakkan kedua matanya yang cantik, mulutnya menganga lebar. Ini benar-benar berita yang sangat mengejutkan baginya.

"Jika Layla-sama tidak memiliki urusan lain, saya rasa beliau masih akan menghabiskan waktu di kediaman Shikkoku-sama."

"I-ini tidak boleh dibiarkan...! Ini gawat! Aku harus segera pergi untuk memastikan berbagai hal...!"

"Tunggu, Nina! Jika ingin ke sana, pergilah bersama Marie setelah tugasnya selesai──"

"──Jangan hentikan aku, Ayah!"

Nina ingin menghapus segala kekhawatiran di hatinya. Keinginannya untuk pergi begitu meluap-luap.

Setelah berhasil lolos dari cegahan ayahnya, Nina berlari keluar dari ruang tamu dengan suara langkah kaki yang berisik.

"Haa... Benar-benar maaf. Bolehkah aku meminta satu bantuan lagi padamu?"

"Tentu saja. Saya akan mengawal Nina-sama sampai ke kediaman Shikkoku-sama. Apakah Nina-sama tetap memakai pakaian resmi?"

"Pakaian resmi pun tidak masalah, tapi... aku butuh waktu menyiapkan buah tangan. Bisakah kamu membujuknya agar ganti ke pakaian kasual? Jika melibatkan nama Shikkoku-sama, dia pasti akan segera ganti baju."

"Dimengerti. Kalau begitu, saya akan mengusulkannya dengan alasan, 'Siapa tahu Anda akan dipuji oleh beliau?'"

"Baiklah."

Mendengar jawaban sang Uskup Agung, penjaga itu segera keluar ruangan dengan kecepatan berkali-kali lipat dari Nina.

"Nah... sekarang saatnya menyiapkan buah tangan..."

Bagi Shikkoku yang bisa mendapatkan barang langka apa pun dengan mudah, menyiapkan buah tangan yang bisa membuatnya senang adalah hal yang mustahil.

Sang Uskup Agung merasa tertekan, namun ia tidak boleh mengeluh demi menjaga martabat dan kesopanan.

◆◇◆

Di saat keluarga Ansarage sedang sibuk berbenah──.

"Berhenti sebentar!"

"Hm?"

"Kamu tadi memanfaatkan celah saat Pak Residen membawakan camilan untuk melangkah dua-tiga kali sekaligus, kan!"

"Tidak, aku tidak curang kok..."

Di dalam ruang perpustakaan pribadi kediaman, Kai sedang dihujani tatapan curiga dari Layla.

Pak Residen yang membawakan teh dan camilan hanya bisa menutup mulutnya pelan saat melihat papan reversi di mana keempat sudutnya sudah dikuasai oleh Kai secara telak.

"Lagi pula, bidaknya berbunyi saat diletakkan, jadi kalau aku curang pasti ketahuan, kan? Kamu tidak mungkin tidak sadar."

"Lalu kenapa semuanya jadi warna hitam begini!"

"Mungkin perbedaan kemampuan."

"Hah!? Aku ini kuat, tahu!"

"Kamu lupa kalau skornya 0-2? Ini akan jadi kekalahan ketigamu."

"Dua ronde pertama kan kita seimbang. Kamu sendiri yang lupa."

"Tadi itu pertama kalinya aku serius."

"Ja-jadi sekali lagi! Kali ini aku pasti menang. Permainan tadi itu aku cuma menahan diri!"

"Boleh."

Layla menyerah dan segera mengumpulkan bidak untuk bersiap melakukan tanding ulang.

Kai membantunya, dan ronde keempat pun segera dimulai.

Sementara itu, Pak Residen yang merasa 'waktunya tidak tepat untuk keluar ruangan' memutuskan untuk mengamati pertandingan mereka dengan penuh minat.

"──Ngomong-ngomong, ini sudah ingin kutanyakan sejak tadi, kapan kamu berencana pulang?"

"Hmm. Karena sudah tidak bisa duel dengan orang-orang itu, mungkin aku akan pulang nanti malam."

"Ma-malam? Mau berapa jam lagi kamu di sini..."

Sejak Kai bertemu Layla di luar kota hingga saat ini, waktu yang mereka habiskan bersama hampir mencakup seluruh hari.

Layla hanya keluar dari rumah ini sekali saja.

Alasannya hanya 'untuk mengambil baju ganti'.

Dan itu pun dia kembali dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Makan, mandi, hingga tidur dilakukan di rumah ini.

Sisa waktunya dihabiskan untuk berduel dengan 20 penjaga. Itulah rutinitasnya beberapa hari terakhir.

"Habisnya di sini nyaman. Pak Residen dan kamu bicara padaku dengan normal."

"......"

"Hei, bisa berhenti memasang wajah 'itu karena kelakuan harianmu buruk' tidak? Begini-begini aku ini tipe yang berkontribusi, lho."

"Wajahku ini artinya 'itu karena kamu memaksa orang berduel setiap hari'."

Begitu Kai menyampaikan pemikiran jujurnya, Layla membalas dengan senyuman sambil mengacungkan jari tengah.

"Aku akan menetap di rumah ini kalau kamu terus bicara sombong begitu. Pak Residen juga merasa oke-oke saja, kan?"

"Tergantung keputusan Shikkoku-sama, namun saya tidak akan keberatan."

"Lihat!"

"Jangan minta aku berduel, jangan bebani Pak Residen, dan habiskan waktu dengan menyenangkan bersamanya. Kalau kamu patuh pada tiga hal ini, aku tidak akan menolak."

"Kamu ini sangat baik pada Pak Residen, ya? Apa kamu sedang mengincarnya?"

"Apa aku terlihat seperti orang yang berani mengincar seseorang yang levelnya jauh di atasku? Begitulah alasannya."

"Ara, ternyata kamu sangat realistis ya."

Layla melirik ke arah Kai sejenak sebelum meletakkan bidaknya.

"Ngomong-ngomong, maksudmu 'level di bawah' itu adalah kamu?"

"Tentu saja. Kalau aku tidak merasa begitu, kasihan Pak Residen, kan?"

Kai menjawab sambil langsung membalas langkah bidak Layla.

"Padahal aku tidak merasa kamu berada di bawahnya."

"Saya justru merasa lebih rendah lagi dari Shikkoku-sama."

"──Katanya begitu."

"Itu kan karena dipaksa memuji."

"Aah, sayang sekali. Padahal ini kesempatan bagus untuk merayu. Seperti, 'Kalau begitu ayo makan bareng' atau semacamnya."

"Goncangan mental begitu tidak akan mempan padaku."

Layla mungkin mencoba membuat Kai goyah agar melakukan kesalahan, namun Pak Residen memang berada di posisi harus menghormati tuannya. Kai tidak memasukkannya ke dalam hati.

Di tengah obrolan itu, strategi permainan semakin memanas, dan Kai mendapatkan peluang emas lebih dulu.

"Oke, sudut ini milikku."

"Hei, dari tadi kamu mengincar bagian itu terus, memangnya sekuat itu ya posisi sudut?"

"......E-enggak juga? Aku mengambilnya karena aku suka sudut."

"Alasannya menjijikkan."

Kai memang sengaja tidak memberitahunya karena ingin sedikit usil.

Lagipula, dia sudah dibuat ketakutan oleh Layla selama ini. Setiap kali diajak 'duel', rasanya umurnya berkurang. Ini adalah pembalasan.

Begitulah pikir Kai, namun──.

"Layla-sama, dalam reversi, empat sudut adalah posisi terkuat yang tidak bisa dibalikkan oleh lawan. Jika Anda menguasai sisi dari sudut tersebut, Anda bisa menambah jumlah bidak yang tidak bisa dibalikkan juga. Dalam pertarungan, ini ibarat menyerang titik kelemahan musuh dengan akurat."

"Tunggu, Pak Residen!?"

Pertahanan Kai runtuh seketika karena saran dari Pak Residen.

"Heh... Jadi begitu. Ternyata mengambil sudut adalah salah satu teori dasarnya, ya."

"Pak Residen..."

"Saat saya berduel dengan Layla-sama, Shikkoku-sama memberikan saran yang sangat akurat kepada beliau, bukan? Jadi Anda juga harus merasakan hal yang sama."

"Itu karena kamu tidak mengajak Pak Residen makan bareng."

"Layla-sama, saya akan ajarkan teori berikutnya."

"Wah, terima kasih!"

"Oi!!"

Pada saat itu, Kai menyadari betapa putus asanya ketika Pak Residen yang sangat bisa diandalkan justru berbalik menjadi musuh.

Ia tidak tahu bahwa ini adalah bentuk 'balas budi' karena perbedaan tingkat pemahaman mereka.

◆◇◆

"Hore! Aku yang memimpin skor!"

"......"

19 ronde; 10 menang, 9 kalah. Itu skor Layla. 19 ronde; 9 menang, 10 kalah. Itu skor Kai.

Setelah diajarkan berbagai teori oleh Pak Residen, kemampuan Layla meningkat drastis. Tiba-tiba saja, Kai kesulitan untuk menang.

"19 ronde itu... tanggung. Ayo genapkan jadi 20."

"Hee, mau main lagi? Kalau begitu bilang dulu, 'Maaf tadi aku sombong. Aku ingin main satu ronde lagi dengan Layla-chan. Tolong ya'."

"......Ini penghinaan."

"Khfufu, rasakan itu."

Layla terus mengejeknya dengan wajah penuh kemenangan.

Kai tahu meskipun ronde ke-20 dilakukan, dia tidak bisa memimpin skor lagi.

Tapi setidaknya ada peluang untuk seri. Jika itu bisa mengubah hasil kekalahan, mengatakannya tidak ada salahnya.

"Anu......"

Tepat saat Kai hendak mengulangi kata-kata Layla, tiba-tiba—

Ting tong—

Bel pintu kediaman berbunyi di waktu yang tepat.

"Dilihat dari auranya, ini pasti seseorang dari keluarga Ansarage. Soalnya ada penjaga mereka yang tadi duel denganku."

"......Hebat juga."

"Jika itu keluarga Ansarage, apakah saya diizinkan mempersilakan mereka masuk?"

"Tidak masalah. Tapi kalau ada ayah atau ibu Nina, tolong beri tahu aku dulu. Aku butuh persiapan mental."

"Dimengerti."

Setelah Pak Residen pergi untuk menyambut tamu, Kai mengambil napas dalam-dalam.

Ia mulai menyiapkan mental untuk segala kemungkinan.

"Ternyata kamu cukup penakut ya. Padahal punya perlengkapan sehebat itu."

"Aku hanya tahu diri."

"Hah? Apa maksudmu. Kita ini kan ada di atas mereka."

"Kita di bawah, kan?"

"Di atas, tahu."

"Di bawah."

Bagi mereka yang berafiliasi dengan Vertal, apalagi sekelas eksekutif, ucapan Layla benar.

Namun jika tidak, ucapan Kai-lah yang benar. Perdebatan itu terjadi karena adanya perbedaan persepsi.

"Memangnya kamu kenal dengan mereka?"

"Bukan cuma keluarga Ansarage, aku kenal dengan ketiga keluarga besar itu. Aku bahkan sering diundang ke pesta mereka."

"Kalau sering diundang, berarti kamu tidak mengamuk di sana, ya."

"Tidak sopan sekali. Aku cuma berbuat sesuka hati di dalam Asosiasi Treasure Hunter saja."

"Baru tahu aku."

Di tengah pertukaran informasi yang mengejutkan itu, gerbang utama kediaman terbuka.

Seorang gadis turun dengan tergesa-gesa dari kereta kuda dan berlari kecil menuju pintu depan.

◆◇◆

Beberapa waktu pun berlalu.

"Loh, kok jadi begini. Aku tidak punya tempat untuk melangkah lagi? Semuanya jadi warna hitam."

"Boleh aku bicara sesuatu? Ini bukan karena aku lemah! Tapi karena Nina-chan yang terlalu kuat!"

"Fufun, aku memang ahli dalam reversi!"

Di dalam ruang perpustakaan, kini bertambah dua orang: Nina yang duduk di pangkuan Kai setelah memenangkan pertandingan melawan Layla, dan pemimpin penjaga yang berdiri di samping Pak Residen menyaksikan pertandingan.

"Nah, karena kamu sudah mengejekku, sekarang giliranmu melawan Nina-chan."

"Tentu saja. Ayo kita mulai. Bagaimanapun juga, aku lebih kuat dari orang itu."

"Tentu saja!"

"Lebih kuat dariku... ya. Yah, kalau kamu bisa menang melawan Nina-chan, aku akan mengakui ucapanmu."

"Kalau begitu Nina, pindah duduknya. Ayo kita main berhadapan."

Kai sudah belajar saat bermain melawan Karen. Bermain sambil memangku seseorang itu sangat merugikan karena sulit untuk berkonsentrasi.

"Tunggu sebentar. 'Pindah duduk' itu maksudnya aku yang harus duduk di pangkuanmu?"

"Ke-kenapa jadi begitu... Secara logika kan kamu harusnya duduk di samping Nina atau di sampingku."

"Jangan bicara yang ambigu, dong. Aku kaget tahu."

"Harusnya kamu paham, kan."

Di tengah percakapan dengan Layla yang agak sedikit linglung itu, ada seorang gadis yang tidak bergeming dari pangkuan Kai layaknya patung batu.

"Nina?"

Saat Kai mengeluarkan suara yang mengisyaratkan 'ayo pindah tempat', barulah gadis itu bereaksi.

"Aku ingin tetap begini, apakah tidak boleh?"

"Eh?"

Sebuah reaksi penolakan.

"Khfufu, kalau Nina-chan ingin begitu, bukankah kamu harus menuruti permintaannya? Lagipula posisimu kan ada di bawahnya."

"......Kalau aku menang melawan Nina, aku akan mengejekmu habis-habisan."

"Nina-chan, kalau kamu menang melawan orang ini, aku akan membantumu dalam banyak hal, lho."

"A-aku akan berusaha!"

Pertandingan pun dimulai dan berakhir dalam waktu sekitar sepuluh menit.

"Yap, sayang sekali. Kerja bagus, Nina-chan."

"Terima kasih banyak!"

Setelah pertandingan selesai, terlihat pemandangan Layla dan Nina melakukan high-five, sementara Kai menyandarkan tubuhnya ke kursi seolah seluruh tenaganya telah terkuras.

Bidak putihnya hanya tersisa 8 buah. Sisanya hitam semua.

Sama seperti Layla, Kai kalah telak dari Nina.

"Kamu ternyata kuat sekali ya... Apa Nina juga jago main catur?"

"Ti-tidak! Kalau catur aku sama sekali tidak bisa..."

"Kalau jago di salah satunya saja sudah cukup. Apalagi di usiamu sekarang."

Layla tersenyum manis dan memberikan pujian kepada Nina. Kai yang melirik pemandangan itu sejenak langsung tertangkap basah.

"Sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu."

"Aku tidak bermaksud mengejek, tapi ternyata kamu bisa jadi kakak perempuan yang baik di depan Nina, ya."

"Apa salahnya kalau aku suka anak kecil?"

"Tidak, cuma menurutku secara pribadi kamu jadi lebih mudah didekati."

"A-apaan sih. Menyebalkan."

"Haha."

Kai tidak bisa menahan tawa saat mendengar makian yang langsung terlontar setelah ia memujinya.

"Ngomong-ngomong, Nina-chan sudah datang jauh-jauh dengan pakaian cantik begini, apa kamu tidak mau mengajaknya jalan-jalan? Menurutku kamu harus memberinya hadiah karena sudah menang."

"Ah, itu tergantung Nina."

"Eh!? Apakah Shikkoku-sama mau pergi jalan-jalan denganku!?"

"Jadwalku hari ini kosong, sih."

"!!"

Seolah luapan kegembiraan meledak di dalam dirinya, Nina melompat kecil di pangkuan Kai. Melihat wajah Layla yang tampak senang, sepertinya Kai juga menunjukkan ekspresi yang sama.

"Tapi, akan jadi masalah kalau aku membawamu tanpa izin orang tuamu. Jadi kita harus selesaikan masalah itu dulu."

"Kalau aku yang meminta, pasti tidak apa-apa!"

"Be-benarkah...?"

"Iya!"

Nina memutar tubuhnya dan menatap Kai dengan mata berbinar, namun Kai tetap merasa ngeri jika ternyata hal itu 'tidak apa-apa'. Akhirnya ia memutuskan bertanya pada orang lain.

"Pak Penjaga, apakah menurutmu ini tidak masalah?"

"Khusus untuk Shikkoku-sama, tidak ada masalah. Saya harap Anda bisa membawa Nina-sama kembali sebelum senja."

"Khusus untukku... ya."

"Itu artinya kamu sudah mendapatkan kepercayaan sebesar itu. Jadi selama tidak terjadi hal yang aneh-aneh, semuanya akan baik-baik saja."

"......Be-begitu ya. Kalau kalian bicara sampai sejauh itu, ayo kita pergi?"

"Dengan senang hati!!"

Kai merasa seperti sedang dipancing, namun kata-kata para penjaga dan Layla memang layak dipercayai.

"Kalau aku dan Nina pergi ke kota, kalian semua bagaimana?"

"Tentu saja duel. Soalnya ada penjaga menantang yang sengaja kembali ke sini, kan?"

"!?"

"Kurasa tujuannya kembali bukan untuk itu..."

Dilihat dari wajahnya yang sangat terkejut, penjaga itu pasti hanya ditugasi untuk mengawal Nina.

"Lalu, bagaimana kalau Pak Residen ikut juga? Mau menggerakkan tubuh?"

"Tentu. Jika pekerjaan saya sudah selesai, saya akan menerima ajakan tersebut."

Sepertinya duel sebelumnya telah memicu semangat Pak Residen. Wajahnya terlihat bersemangat.

"Nah, karena itu, aku serahkan Nina-chan padamu."

"Mo-mohon tunggu sebentar!"

Penjaga yang mengantar Nina berteriak panik.

"Iya, aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Kalau kamu berduel, artinya kamu menelantarkan tugasmu, kan? Kamu harus menjalankan tugas pengawalan di sini."

"Seperti yang Shikkoku-sama katakan..."

"Kalau begitu! Anu... tolong pastikan Anda meladeni duel Layla-sama, ya?"

Nina memberikan perintah dengan nada yang tidak terbiasa.

"Fufu, kalau Nina-chan sudah bilang begitu, penjaga ini tidak punya pilihan selain memihak kami, kan?"

"Apa...!!"

Layla berdiri dari sofa, pindah ke samping penjaga itu, dan merangkul bahunya.

"──Bukankah kita harus menghormati perasaannya yang ingin berduaan? Dia bukan orang yang punya kebebasan untuk bermain setiap hari, lho."

"............Benar juga, ya."

Layla membisikkan sesuatu dengan suara lirih yang hanya bisa didengar oleh penjaga tersebut hingga ia akhirnya setuju.

"Nah, karena kami akan bersenang-senang di sini, kalian juga bersenang-senanglah di sana."

"Te-terima kasih banyak! Kalau begitu Shikkoku-sama, ayo segera ke kereta! Waktu menuju senja tidak banyak!"

"I-iya aku tahu, tapi biarkan aku bersiap-siap dulu."

"Waaa!?"

Tangan kanan Kai ditarik dengan kedua tangan Nina menuju pintu, padahal ia belum menyiapkan uang maupun senjata.

Kai membalas paksaan itu dengan mengangkat tubuh mungil Nina dan menggendongnya untuk menghentikan gerakannya.

Sambil membawa Nina yang kakinya meronta-ronta di udara, Kai pun mulai bersiap-siap.

◆◇◆

"Anu, Shikkoku-sama... Apakah benar-benar tidak apa-apa jika kita pergi ke tempat yang ingin kukunjungi? Perjalanannya memakan waktu satu jam dengan kereta kuda..."

"Jangan khawatir, Nina. Aku juga tertarik dengan tempat itu. Sungguh."

"Sy-syukurlah kalau Anda berkata begitu... Terima kasih banyak."

"Sama-sama."

Tujuan mereka dengan kereta berlogo keluarga Ansarage adalah sebuah taman bunga bernama "Taman Pelangi".

Sederhananya, itu adalah tempat dengan pemandangan spektakuler di mana bunga-bunga beraneka warna bermekaran sejauh mata memandang.

Saat masih bermain game, Kai hanya berkunjung sekali karena fokus pada penaklukan dungeon.

Namun sekarang, ia sangat tertarik. Selain itu, tempat tersebut dikenal sebagai 'lokasi kencan', sehingga gengsi jika berkunjung sendirian.

Kai pun sangat bersemangat tanpa perlu berpura-pura demi Nina.

"Ngomong-ngomong, Nina, apakah ini pertama kalinya kamu ke Taman Pelangi?"

"Aku pernah ke sana dua kali bersama Kakak. Tapi... bisa dibilang ini adalah yang pertama kalinya."

"Oh?"

"Dulu, aku hanya bisa menikmati wangi dan tekstur bunganya saja."

"Hm? Bukankah kamu melupakan 'menikmati pemandangan yang indah'?"

Saat Kai melontarkan pertanyaan polos itu, Nina menggembungkan pipinya dan menyipitkan mata.

"Muu. Shikkoku-sama lupa ya. Yang memperlihatkan dunia yang terang kepadaku adalah Shikkoku-sama, lho."

"A-ah, benar juga!"

Kai baru teringat. Nina dulunya adalah gadis buta. Berkat ramuan ajaib, kini ia bisa melihat.

"Sekarang aku mengerti kenapa kamu bilang ini yang pertama."

"Aku harap Anda tidak melupakannya lagi... Karena hari itu adalah hari pertama kita bertemu. Aku tidak akan pernah melupakannya."

"Aku senang mendengarnya, tapi aku menyarankanmu untuk melupakannya saja, tahu?"

"Ke-kenapa!?"

"Karena itu adalah pertemuan di tengah kejadian yang menakutkan, kan? Kecuali kalau kamu hanya ingat bagian indahnya saja, tapi kenyataannya kan tidak begitu."

Itu adalah pemikiran Kai, namun ia tidak berniat memaksakannya.

"──Terlepas dari itu, aku senang mendengarnya. Kamu sekarang bisa menjalani hidup tanpa hambatan."

Karena ini jalan-jalan, Kai tidak ingin membicarakan hal berat. Saat ia menatap mata Nina, gadis itu langsung membuang muka.

"Melihat mataku sekarang... rasanya memalukan..."

"Maaf soal itu."

Wajah Nina yang memerah membuktikan bahwa ia benar-benar malu. Kai mencoba tidak menatap matanya lagi agar ia bisa kembali tenang. Beberapa puluh detik kemudian, Nina kembali bersuara.

"Bo-bolehkah aku juga bertanya sesuatu pada Shikkoku-sama?"

"Tentu saja."

"Apakah Shikkoku-sama pernah ke Taman Pelangi?"

"Pernah, sih. Sekali."

"Apakah itu... bersama Layla-sama?"

"Tidak, aku sendirian."

"Itu mencurigakan. Kakak pernah bilang di Taman Pelangi itu 'isinya orang pacaran semua'."

"Makanya aku langsung pulang saat itu..."

Memang jarang ada orang yang pergi sendirian ke tempat kencan. Wajar jika Nina curiga, tapi itu adalah fakta.

Lagipula, itu terjadi saat ia masih di dalam game, jadi ia bisa pergi sendirian.

"Aku sulit memercayainya..."

"Aku sungguh tidak berbohong. Jadi, sama seperti Nina, bisa dibilang ini juga yang pertama bagiku. Ini pertama kalinya aku pergi ke sana bersama seseorang, dan dulu aku tidak sempat berkeliling dengan saksama."

"Ja-jadi... bagi Shikkoku-sama, aku adalah gadis pertama?"

"Iya benar. Nina adalah pasangan pertamaku."

"!! Kalau begitu aku percaya!!"

(Duh, cara bicaraku jadi ambigu.) (Orang lain bisa salah paham kalau mendengar ini.)

Itulah hal pertama yang Kai rasakan, namun melihat senyum tulus Nina, ia segera membuang pikiran itu. Ia memutuskan untuk mengganti topik.

"Ngomong-ngomong soal pertama kali, kurasa ini pertama kalinya aku melihat Nina memakai pakaian kasual."

"Iya, ini yang pertama! Karena biasanya aku selalu memakai baju biarawati!"

Nina menjawab dengan riang, lalu tiba-tiba berdiri di dalam kereta dan memamerkan gaun jumper skirt berpinggang tinggi yang ia kenakan.

"Bagaimana menurut Shikkoku-sama...? Apakah cocok denganku?"

"Hei, hati-hati kalau berdiri—"

"──O-owa-awawawa!"

"Tuh, kan, kubilang juga apa!"

Roda kereta menghantam batu, guncangannya membuat Nina kehilangan keseimbangan.

Sambil mengayunkan tangan, tubuhnya terombang-ambing ke depan dan belakang. Kai segera menariknya agar tidak jatuh.

"Kamu tidak apa-apa, kan!?"

Akan jadi masalah tanggung jawab besar jika ia membuat Nina terluka saat baru saja mengajaknya keluar. Kai memastikan tidak ada yang aneh pada Nina.

"I-iya! Wah... terima kasih sudah menolong..."

"Syukurlah... Aku akui baju itu cocok untukmu, tapi tolong hati-hatilah."

"Ehehe..."

Nina mengeluarkan suara manja begitu dipuji.

Sepertinya peringatan Kai masuk kuping kanan keluar kuping kiri, karena Nina malah semakin erat memeluk tubuh Kai.

"Nah, sekarang duduk lagi di tempat tadi."

"......"

Bahaya sudah lewat. Kai menepuk pundaknya pelan memberikan instruksi, namun—

"Nina?"

"............"

Nina terdiam tak bergerak seolah sedang tidur. Tapi tidak mungkin dia tidur secepat itu.

"Oi, Nina? Ada apa?"

Saat ini yang terlihat di pandangan Kai hanyalah punggung Nina dan kedua lengan kecil yang melingkari pinggangnya.

Nina menolak untuk bergerak dan tetap memeluknya.

"Jangan-jangan... kamu mau tetap begini?"

Insting Kai mengatakan begitu. Dan ternyata, Nina mengangguk pelan.

"......"

"......"

Tekadnya sepertinya sudah bulat, ia tidak bergerak lagi. Hanya pelukannya yang terasa semakin erat.

"Baiklah... kalau sudah puas, baru duduk, ya."

Kai merasa kasihan jika harus melepaskannya secara paksa.

Ia merasa Nina berhak melakukan apa yang ia inginkan setelah semua kesulitan yang ia lalui dulu.

"Terima kasih banyak... Aku sangat senang..."

"Iya, iya."

Nina mengangkat kepalanya, mengucapkan terima kasih dengan tatapan manja, lalu kembali memeluk Kai erat-erat.

Satu jam kemudian, kereta pun tiba.

Dari jendela kereta, terlihat pemandangan spektakuler bunga-bunga yang saling pamer keindahan. Taman Pelangi sudah di depan mata.

"......"

Nina yang sudah pindah posisi ke dekat jendela menempelkan wajahnya di kaca, namun ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Ia tidak memberikan komentar apa pun tentang pemandangan yang terlihat dari jauh itu.

Namun, Kai bisa melihatnya. Setetes air mata mengalir di pipi Nina.

Gadis itu pasti merasakan haru yang tak terlukiskan.

Seharusnya Kai berpura-pura tidak melihatnya.

Tapi, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bersuara.

"Ini masih awal, Nina. Kalau dilihat dari dekat, nanti akan jauh lebih indah lagi."

Sambil mengelus kepala Nina, Kai membisikkan kata-kata penyemangat tersebut.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close