Chapter 4
Reuni
Di dalam gedung Asosiasi Treasure Hunter yang terletak
tepat di jantung kota.
"Master! Sebenarnya siapa sih si 'Si Hitam' yang
katanya baru datang ke kota ini?"
"Kayaknya dia tipe orang yang beneran berbahaya,
ya?"
"Gara-gara Si Hitam itu diincar sama Tiga
Terkuat, aku jadi nggak bisa pakai armor biasaku, tahu! Nanti malah
dikira dia!"
"Hei, hei, Master. Kapan Tuan Hitam itu bakal datang
ke sini? Aku ingin mengundangnya masuk ke Clan kami."
Entah sudah berapa ratus pertanyaan dan keluhan semacam
ini yang harus diterima sang Kepala Cabang hanya dalam hitungan hari.
"Haaah...
Justru aku yang ingin tahu soal itu. Kenapa sama sekali nggak ada informasi
soal Hunter-nya, sih? Ini
nggak masuk akal... Seterisolasi apa sebenarnya identitas orang ini...?"
Sosok
yang menggumamkan keluhan itu adalah Galag, yang kini sedang terduduk lemas di
ruang Kepala Cabang.
Sekitar
tiga hari yang lalu, sebuah pesan datang dari penjaga gerbang.
Ada
kemungkinan seorang pejabat tinggi yang bernaung langsung di bawah
Kekaisaran—anggota organisasi rahasia, Veltal—telah mengunjungi kota
ini.
Orang itu kabarnya mengenakan perlengkapan tingkat
tertinggi.
Seorang diri, dia berhasil menyelamatkan putri-putri
dari keluarga Ardi, Ansarage, dan Albrela yang diculik oleh organisasi
kriminal, Red Fried.
Bahkan, kemungkinan besar dia telah bekerja sama
dengan rekan-rekannya untuk menangkap seluruh anggota Red Fried yang terlibat
dalam kejahatan kali ini.
Informasi semacam ini sengaja diedarkan untuk
meminimalisir adanya orang-orang kasar yang melakukan tindakan tidak sopan
kepada sosok tersebut. Tujuannya jelas, agar dia memiliki kesan baik terhadap
kota ini.
Sebenarnya jarang sekali Asosiasi Treasure Hunter
menerima laporan semacam ini. Namun, dengan kemampuan sehebat itu, kemungkinan
besar dia juga aktif sebagai Treasure Hunter, dan ada peluang besar dia akan
mampir ke sini.
Tugas yang dibebankan kepada Galag adalah menyelidiki
identitas pria itu—tapi, seberapa keras pun dia mencari, dia tidak
menemukannya.
Sama sekali tidak ada data Treasure Hunter yang cocok
dengan ciri-ciri Si Hitam tersebut.
Semakin tinggi level seorang Hunter, semakin sering
mereka menantang dungeon tersulit, sehingga biasanya mereka akan menggunakan
senjata dan zirah yang sudah biasa mereka pakai.
Apalagi kali ini dia berhadapan dengan Red Fried.
Pasti dia menggunakan perlengkapan terbaiknya dalam kondisi prima, namun tetap
saja tidak ada data yang sesuai.
"……I-ini sih beneran pejabat kelas kakap yang
turun tangan……"
Kekuatan tempur tertinggi yang disembunyikan
rapat-rapat oleh Kekaisaran—yang bahkan membawahi kota ini—sosok yang tidak
pernah dan tidak akan pernah muncul ke permukaan.
Entah dari mana informasinya bocor, tapi fakta bahwa
putri-putri dari Tiga Terkuat yang sangat berpengaruh di kota ini diculik
secara bersamaan adalah masalah besar.
Bisa dibilang, tindakan itu telah melukai martabat
Kekaisaran yang menaungi kota ini. Jadi, masuk akal jika sosok tersebut dikirim
sebagai bentuk peringatan keras.
Semakin Galag menyelidikinya, teori itu terasa semakin
masuk akal.
"Kumohon, jangan ada yang berani macam-macam dengan
Si Hitam. Dilarang merekrut, dilarang kontak, pokoknya dilarang
apa pun."
Itulah perintah yang dia berikan kepada seluruh
Treasure Hunter, dan dia yakin itu adalah pilihan yang tepat.
Kenyataannya, dia akan sangat kesulitan jika perintah ini
dilanggar.
Apalagi setelah dia mendengar cerita mengejutkan dari
putri dan istrinya.
"Aku tadi digendong sama Kakak Hitam!" katanya.
Saat dia menanyakan detailnya kepada sang istri yang juga
bekerja sebagai resepsionis di asosiasi ini... kabarnya, sosok yang diduga Si
Hitam itu telah menolong anak mereka yang sempat terpisah sesaat karena
kelengahan sang istri.
Semua itu mungkin kebetulan. Tapi, jika dia benar-benar
seorang pejabat tinggi, dia pasti sudah mengantongi informasi tentang Kepala
Cabang ini.
'Ini satu hutang budi, ya. Jangan
buat aku melakukan hal-hal konyol.'
Seolah-olah kejadian itu adalah pesan yang menekankan hal
tersebut.
'Aku sibuk dengan pekerjaan. Jangan biarkan para Treasure
Hunter di asosiasimu mengganggu waktuku.'
Seolah-olah itu adalah peringatan keras bagi para Hunter
yang haus darah di sini.
Semakin dipikirkan, perut Galag semakin melilit.
Istrinya bilang, "Dia orang yang sangat baik,"
tapi Galag tahu sosok seperti itu bukanlah orang yang bisa diajak bercanda
hanya karena kebaikannya.
Jika dia benar-benar pejabat tinggi, dia adalah sosok
yang bisa memberikan tekanan luar biasa hanya dengan satu jentikan jari.
Bahkan Tiga Terkuat di kota ini pun tidak akan ada
apa-apanya di hadapan kekuasaan orang itu.
"(Aku berterima kasih karena dia menolong putriku,
tapi) cepatlah pulang ke Kekaisaran sana……"
Bahkan dengan posisinya sekarang, seorang penguasa
mengerikan yang bisa melenyapkan pekerjaannya dalam sekejap telah datang ke
kota ini. Siapa pun pasti akan merasa tertekan.
Di tengah keluhan lemah di ruang Kepala Cabang itu—BRAK!
Pintu dibuka paksa oleh sang resepsionis.
"Kepala
Cabang Galag!"
"!?
A-apa-apaan. Ketuk pintu dulu, dong!"
"M-mohon maaf! Tapi situasinya gawat!"
"Hah?"
"Sosok yang diduga Si Hitam itu... datang ke
Asosiasi!!"
"HAHHH!?"
Waktunya benar-benar pas seolah dia mendengar keluhan
Galag tadi.
"……O-oi, oi. Yang benar saja……"
Galag tidak ingin bergerak dari sana. Dia tidak ingin
mengangkat pantatnya, tapi posisinya tidak memungkinkan untuk diam saja.
Dengan wajah pucat dan keringat dingin yang mengucur,
Galag berdiri dari kursinya dan turun ke lantai satu.
Saat dia mengintip diam-diam ke arah aula—benar saja,
sosok itu ada di sana, persis seperti laporan resepsionis.
Sosok hitam legam yang tampak sedang mengamati isi
asosiasi seolah sedang melakukan pengintaian. Dia mengenakan zirah hitam yang
sangat megah dengan pedang hitam di pinggangnya. Seolah untuk menghindari
orang-orang yang ingin mengganggunya, dia memancarkan aura tekanan yang membuat
udara di sekitarnya tampak terdistorsi.
Aula yang biasanya selalu bising itu kini hanya
diselimuti oleh keheningan total.
Hunter yang paling garang sekalipun, Hunter yang emosian,
hingga party peringkat tinggi, semuanya mendadak jadi anak manis—seluruh
percakapan di dalam asosiasi terhenti seketika.
Tangan resepsionis terhenti, begitu pula tangan
mereka yang sedang memegang gelas minuman.
Hanya dengan berdiri di sana, Si Hitam telah
mendominasi seluruh ruangan.
Sebagai Treasure Hunter yang sering berada di medan
tempur, mereka bisa merasakannya.
Bahwa sosok itu terlalu mengerikan.
Meski terkadang dia tampak gelisah, tegang, atau
bahkan memberikan atmosfer seperti pemula yang baru pertama kali berkunjung,
namun senjata dan zirah yang luar biasa mewah itu menciptakan kontradiksi besar
dengan aura tekanannya.
Singkat kata, dia adalah tipe orang yang sulit
ditebak.
Tipe yang paling ditakuti oleh para Treasure Hunter.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa elang yang hebat
menyembunyikan cakarnya, namun orang ini memancarkan atmosfer petarung tangguh
yang merembes keluar meski dia tidak memamerkan kekuatannya.
"Ke-kenapa pas hari ini istriku dapet giliran sif
malam, sih……"
Jika istrinya yang sudah pernah bertemu langsung
dengannya ada di sini, mungkin menghadapi Si Hitam ini akan jadi sedikit lebih
mudah.
"M-master……
Bagaimana ini…… Apa kita awasi saja reaksinya?"
"Mana
bisa aku melakukan hal tidak sopan begitu…… Aku sendiri yang akan maju…… Cuma
itu pilihannya sekarang……"
Salah langkah sedikit saja, kepalanya bisa melayang.
Sambil menyeka keringat dingin, Galag menunjukkan
ekspresi seolah baru saja menelan empedu pahit, lalu melangkah maju mendekati
sosok hitam itu selangkah demi selangkah.
"……"
Sudah berapa lama sejak terakhir kali dia menjadi pusat
perhatian seperti ini?
Sambil berusaha memperbaiki wajahnya yang tegang, dia
mendekati Si Hitam, menelan ludah, dan mengucapkan kalimat pertamanya.
"……Se-selamat datang di Asosiasi Treasure Hunter
Cabang Aldia."
Pada saat itu, terdengar beberapa suara tawa tertahan
dari sekeliling.
Tugas semacam ini biasanya dilakukan oleh resepsionis.
Galag tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini di depan
umum, apalagi menggunakan bahasa yang sangat sopan dan merendah.
Mungkin karena pemandangan itu sangat langka, wajar jika
ada yang tertawa—tapi...
(Kalian yang tertawa tadi, lihat saja nanti. Padahal
kalian nggak tahu apa-apa……)
Karena situasinya benar-benar tidak main-main, dia merasa
kesal pada orang-orang yang tidak peka itu.
Kenyataannya, para Treasure Hunter peringkat tinggi dan
mereka yang mengenal Galag dengan baik justru kehilangan kata-kata. Mereka
terpaku.
'Apakah lawan bicaranya sehebat itu sampai Galag harus
bersikap seformal itu……?' pikir
mereka.
Dan,
jawaban dari Si Hitam yang wajahnya tersembunyi di balik helm baja itu hanyalah
satu kalimat singkat.
"……A-ah."
Galag merasa ada sedikit nada gugup, tapi dia yakin itu
pasti hanya perasaannya saja.
(Sudah kuduga, dia nggak bakal memberikan informasi
apa pun……)
Sama sekali tidak ada tanda-tanda ingin memperpanjang
percakapan.
Ini bukan karena dia kaku dalam berbicara, tapi pasti
karena dia sengaja bertindak agar informasi pribadinya tidak bocor.
Kemungkinan bahwa pria ini adalah anggota Veltal,
organisasi rahasia di bawah Kekaisaran, semakin meningkat di benak Galag.
Karena kemungkinan itu semakin kuat, Galag harus bergerak
aktif agar tidak memberikan kesan yang tidak menyenangkan.
"Ja-jadi, ada urusan apa Anda datang hari ini?"
"Y-yah……"
"I-iya?"
"Yah,
itu…… cuma mau melihat-lihat."
"Melihat-lihat……
begitu ya?"
"A-apa
nggak boleh?"
"T-tidak,
tentu saja boleh!! Sama sekali tidak masalah!!"
Galag
bukan orang bodoh. Sambil memperhatikan reaksi lawannya, otaknya bekerja keras.
(Me-melihat-lihat ya? Pasti ini cuma kedok untuk
pengintaian…… Aku kesal karena dia meremehkanku, tapi……)
Tidak ada orang yang mengunjungi asosiasi hanya dengan
alasan sepele seperti 'melihat-lihat'. Selama ini selalu begitu.
Galag merasa diremehkan karena Si Hitam mengira alasan
konyol seperti itu akan mempan pada seorang Kepala Cabang. Namun, tiba-tiba dia
mencoba untuk tetap tenang.
(Tidak, sikapnya ini……)
Tepat saat pemikirannya berubah, seolah bisa membaca
pikirannya, helm baja Si Hitam menoleh ke arahnya.
'Apa kamu pikir aku nggak tahu informasi yang beredar di
asosiasi ini? Apa aku perlu buat alasan yang lebih bagus?'
Seolah-olah dia sedang menanyakan hal itu.
Seolah-olah dia ingin menyampaikan bahwa dia tidak akan
melakukan hal yang sia-sia karena dia sangat menghargai waktu yang terbatas.
(Be-benar-benar
luar biasa…… Dia bisa membaca segalanya……)
Dia
menatap wajah Galag tepat pada saat yang tidak mungkin hanya sebuah kebetulan. Tidak
ada penjelasan lain selain itu.
Dan Galag pun semakin yakin kalau dia adalah anggota Veltal.
(Jadi
ini…… yang namanya perbedaan kasta, ya.)
Dulu
Galag adalah pria yang punya nama besar sebagai Treasure Hunter.
Dia pernah bermimpi untuk bergabung dengan Veltal,
organisasi rahasia yang melegenda itu. Namun, seberapa tinggi pun reputasi yang
dia bangun, dia tidak pernah mendapatkan undangan untuk bergabung.
Meski sempat merasa tidak puas karena dia sangat
mengagumi organisasi itu, sekarang setelah melihat sosok hitam di
depannya—sosok yang asli—dia sadar. Kemampuannya memang masih jauh dari cukup.
(Heh, dia benar-benar monster……)
Sambil menyeka keringat dingin, Galag menunjukkan
rasa hormatnya.
Meskipun perasaan 'cepatlah pulang' itu tidak
berubah, dia tidak membiarkan emosi itu menguasainya.
"Jika Anda ingin melihat-lihat, apakah Anda juga
ingin meninjau ruang Kepala Cabang?"
"……Boleh?"
"Tentu, silakan sepuasnya."
"Kalau begitu…… baiklah. Kebetulan sekali, mohon
bantuannya."
"Silakan lewat sini."
Hanya Treasure Hunter peringkat teratas dan resepsionis
yang diizinkan masuk ke ruang Kepala Cabang. Galag mengulurkan tangannya dan
menuntunnya ke tempat istimewa tersebut.
"……"
"……"
"……"
Party peringkat A tetap terdiam seribu bahasa sampai Si
Hitam tidak lagi terlihat dari aula lantai satu.
Tiga orang yang saat ini menduduki peringkat tertinggi di
antara para Treasure Hunter di asosiasi ini menghela napas panjang.
"Oi, gimana menurut kalian? Kalau menurutku sih,
tadi dia sengaja nunjukin celah buat mancing orang……"
"Mancing anggota asosiasi yang berani cari masalah,
kan? Padahal zirahnya semegah itu tapi celahnya banyak banget, jelas itu
sengaja."
"Kalau tadi Kepala Cabang nggak memperingatkan,
pasti ada yang kemakan pancingannya…… Begitu tahu nggak ada yang terpancing dan
rencananya gagal, dia langsung nunjukin identitas aslinya, kan? Ngeluarin
tekanan sehebat itu……"
"Sampai-sampai Tuan Galag bersikap serendah itu,
kalau dia sampai ngamuk pasti nggak bakal ada yang bisa menghentikannya……"
"Kalau emang sehebat itu, rasanya boleh juga kalau
informasinya disebar ke yang lain……"
"Mungkin dia punya jabatan yang tinggi
banget?"
Berbagai opini bermunculan, namun ada satu hal yang
mereka semua sepakati.
Bahwa 'Si Hitam adalah seorang penggila tempur sejati'.
"Kalau kita sih jelas nggak bakal menang…… Tapi
kalau dia lawan 'si peringkat S' itu, kira-kira siapa yang lebih kuat ya?"
"Syukurlah 'orang itu' lagi pergi
bertualang……"
"Mereka
pasti bakal berantem kalau ketemu…… Padahal wajahnya cantik gitu, tapi ternyata
penggila tempur juga, ya……"
Karena
ekspektasi terhadap Si Hitam sudah dinaikkan sedari awal, kesalahpahaman demi
kesalahpahaman pun terus berantai.
Padahal
dia tidak bermaksud begitu, tapi dia dianggap sengaja menunjukkan celah.
──Kai sama sekali tidak tahu. Bahwa posisinya kini
menjadi semakin menyedihkan di mata orang lain.
◆◇◆
"Anu……
terima kasih banyak bantuannya."
"Tidak
perlu sungkan. Silakan berkunjung kembali."
"A-ah,
iya……"
Pria
yang baru saja turun tangga dan kembali ke aula lantai satu itu kini sedang
dilepas kepergiannya oleh Galag, sang Kepala Cabang yang berotot kekar, di
bawah tatapan tajam para Treasure Hunter dan resepsionis yang berkumpul di
sana.
Begitu
keluar dari asosiasi, pria itu langsung bersumpah.
(Aku
nggak bakal pernah ke sini lagi……) pikirnya.
Dulu saat bermain FRF, dia selalu menggunakan asosiasi
ini setiap hari, jadi dia merasa penasaran.
Apalagi dia sudah berjanji pada pemilik penginapan untuk
tidak bersembunyi lagi.
Pikirnya, tempat yang paling cocok untuk memakai
perlengkapan ini tanpa terlihat aneh adalah di sini, supaya orang yang
mencarinya bisa menemukannya dengan mudah.
Tapi karena alasan itu, dia malah mendapatkan 'sambutan'
yang tidak mungkin ada di dalam gim.
Para Treasure Hunter di asosiasi menatapnya dengan
tatapan tajam seolah mereka adalah pembunuh bayaran.
Dan itu bukan cuma satu orang, tapi hampir semuanya.
Syukurlah kali ini tidak ada yang mencari masalah
dengannya. Kalau sampai ada, mungkin kakinya sudah gemetaran.
(Ternyata di dunia nyata, tempat ini mengerikan banget
ya……)
Setelah pengalaman ini, hal itu terpatri kuat di otaknya.
Jangan pergi ke tempat berbahaya. Dia harus
benar-benar menjaga keselamatan dirinya sendiri.
(Lagi pula, karakter Kepala Cabang itu harusnya nggak
kayak gitu, kan……?)
Selain pengalaman mengerikan tadi, ada juga kejutan
besar baginya.
Karena setelah bereinkarnasi ke dunia ini, untuk
"pertama kalinya" dia bertemu dengan karakter yang dia kenal.
Tapi ada satu hal yang mengganjal.
Di dalam gim, Galag punya gaya bicara yang kasar
sesuai penampilannya. Namun kali ini, entah kenapa dia tidak seperti itu.
(Yah, mungkin hal semacam itu bisa saja terjadi? Aku juga
nggak paham kenapa malah diajak ke ruang Kepala Cabang.)
Sejujurnya dia juga tidak mengerti kenapa dia dilayani
layaknya tamu VIP.
Tapi, jika Galag bermaksud membantunya keluar dari
situasi di aula tadi... dia benar-benar berhutang budi.
Meski dia pura-pura mengamati seisi asosiasi untuk
menutupi kecanggungannya, sebenarnya dia ingin segera kabur dari
tatapan-tatapan tajam itu secepat mungkin.
(Tapi……
setidaknya ini pengalaman yang bagus, ya.)
Sambil
merasa seperti baru saja melewati maut, dia menatap langit.
"Nah,
sekarang harus gimana ya…… Pakai armor ini malah jadi nggak bisa jalan-jalan
santai……"
Tepat
saat dia bergumam pelan sambil berjalan menunduk, terdengar suara gesekan roda
dan derap langkah kaki kuda. Suara itu semakin mendekat.
"Hm?"
Saat dia mengangkat kepala, sumber suara itu ada di sana.
Sebuah kereta kuda pesanan khusus dengan dekorasi mewah
yang tampak menuju ke arahnya.
Hanya dengan sekali lihat, siapa pun tahu kalau kereta
itu memakan biaya besar dan dimiliki oleh orang yang berkuasa.
(Wa-wah, kayaknya gawat kalau itu……)
Kekuasaan adalah hal yang menakutkan. Saking
menakutkannya, mereka bahkan bisa mengusir orang dari kota ini.
Hal terpenting adalah tidak mencari masalah dengan
orang seperti itu.
Baru saja dia menepi sejauh mungkin agar tidak
menghalangi jalan—kereta kuda itu mendadak berhenti tepat di depannya.
(……Eh?)
Situasi yang tidak masuk akal. Rasa takut
mulai menyelimutinya. Tepat saat dia hendak berbalik dan menjauh dari sana—
"Tu-tunggu dulu!"
Terdengar suara seorang gadis yang bening seperti
dentingan lonceng.
Dia yakin suara itu ditujukan padanya. Mengabaikannya
hanya akan menjadi langkah yang buruk.
Sambil menggigit bibir, dia menoleh ke belakang—dan
seorang gadis yang bisa membuatnya sedikit lebih tenang turun dari kereta kuda.
"Hei, kenapa kamu malah mau lari, sih!"
Rambut merahnya yang indah diikat dua dengan pita
hitam-putih. Dia mengenakan pakaian bernuansa putih yang anggun dan menonjolkan
keningratannya. Dialah Karen—siapa-tadi-nama-belakangnya.
Sudah beberapa hari sejak terakhir kali mereka bertemu
muka.
"Ah……
ternyata kamu……"
"Apa-apaan 'ternyata kamu'! Aku kan sudah
memperkenalkan diri namaku Karen!"
"I-iya juga, ya."
Meski penampilannya berubah drastis dari sebelumnya dan
membuatnya canggung, sifatnya yang tidak berubah membuatnya merasa tenang.
(Lagipula, ternyata kamu bangsawan, ya……. Lambang di samping kereta kuda itu kan lambang keluarga Duke……)
Itu adalah lambang yang pernah dia lihat saat sedang
makan di kedai.
Dan itu adalah kenyataan yang sebenarnya tidak ingin
dia ketahui sampai detik ini. Terutama karena dia sadar sudah
bersikap sangat tidak sopan padanya.
"Anu, pokoknya sudah lama tidak bertemu, Nona
Karen."
"Hah? Gaya bicaramu menjijikkan sekali."
"……Sudah lama, ya."
"Nah, sudah lama sekali!"
Kai langsung ketahuan karena mencoba mengubah gaya
bicaranya. Dia sadar ini sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
"Lupakan soal itu. Kamu ini sebenarnya sembunyi di
mana, sih! Aku sudah mencarimu ke mana-mana, tahu!"
"Yah, di penginapan."
"Tapi informasi soal itu sama sekali nggak
masuk?"
"Yah, aku menyuap (semacam itulah) pemilik
penginapannya."
"Menyuap!?
……Tapi kalau kamu, kurasa memang mungkin saja, sih. Kamu pasti punya hal yang
lebih berharga daripada imbalan itu……"
Meski
tampak terkejut, entah kenapa ekspresinya mendadak jadi datar dan dia menatap
Kai dengan tatapan sayu.
"Eh? Apa maksudmu?"
"Bukan apa-apa. Lagipula kamu pasti nggak bakal mau
kasih tahu."
(A-apa
sih yang dia omongkan…… Serius deh.)
Kai sama sekali tidak bisa mengikuti pembicaraan ini.
Saat dia sedang mengernyitkan dahi sambil mencoba mencari
tahu maksud perkataan Karen, sosok lain turun dari kereta kuda seolah menyadari
kebingungan Kai.
"Karen, sampaikan urusanmu dengan segera, kan?"
"I-iya, aku tahu, Kak……"
"……Ah."
Pada saat itu, suara Kai tertahan. Pikirannya mendadak
berhenti bekerja karena rasa terkejut dan banyaknya informasi yang masuk.
Wanita yang baru saja turun itu benar-benar mirip dengan
wanita yang dia temui di menara jam kemarin—yang wajah bagian atasnya tertutup
topeng. Mulai dari warna rambut, atmosfer, hingga cara bicaranya, semuanya
identik.
Ditambah lagi, Karen memanggilnya dengan sebutan
"Kakak".
"Mohon maaf karena saya terlambat memberikan salam,
Tuan Hitam."
Sambil memegang ujung gaunnya, dia memberikan salam
yang sangat hormat.
"Nama
saya Lifia Dior Ardi. Saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan
rasa terima kasih atas kejadian tempo hari…… Kata-kata saja tidak akan pernah
cukup."
"Ah,
tidak…… iya."
Jika
seseorang bertemu secara kebetulan dengan orang yang sama dua kali, lalu
menyadari kalau dia adalah kakak dari Karen, siapa pun pasti akan bereaksi
seperti ini.
"Anu, hari ini kalian ada rencana pergi ke suatu
tempat……?"
Pria itu mengalihkan pembicaraan kepada Karen yang lebih
mudah diajak bicara.
"Jangan pura-pura bodoh. Kami ke sini karena urusan
membalas budimu belum selesai, jadi kami mau mengecek jadwalmu."
"Apakah hari ini Tuan memiliki waktu luang?"
Benar-benar kakak-beradik yang kompak dalam
berbicara.
"Kalau
aku bilang ada…… apa yang bakal terjadi?"
"Tentu
saja kami akan langsung membawamu ke kediaman kami untuk membalas budimu. Ayah
juga sudah menunggu."
"Kalau
gitu, aku nggak punya waktu luang."
"……"
"……"
Karen
kembali menatapnya dengan sayu, sementara Lifia membelalakkan matanya karena
tidak menduga jawaban itu.
(Ha-habisnya, keluarga Duke itu kan……)
Gaya bicara Kai saja masih kacau.
Dia tidak punya rasa percaya diri sama sekali dalam
bersikap di depan orang berpangkat tinggi.
Memang benar dia menyelamatkan mereka, tapi kalau dia
bersikap tidak sopan, bisa-basi dia malah diteriaki "Eksekusi orang
ini!".
Dia punya alasan kuat untuk menolak, namun sepertinya
alasan itu tidak akan tersampaikan.
"Hei, kamu pasti punya waktu luang, kan? Urusanmu di
asosiasi juga sudah selesai, kan?"
"Kami sudah menyiapkan banyak hadiah untuk Anda,
jadi mohon luangkanlah waktu Anda sebentar."
(Kenapa informasi soal aku ke asosiasi bisa bocor juga……)
Tepat saat dia mengeluh dalam hati, mereka sudah
bergerak.
Seolah sudah yakin dia tidak punya acara, Karen menarik
lengan kanannya, sementara Lifia menarik lengan kirinya.
"Ayo ikut. Biarkan kami membalas budimu, ya."
"Kami juga sudah menyiapkan kereta kuda yang sangat
nyaman untuk Anda."
"Eh, sebentar……"
Tanpa memberinya kesempatan untuk protes, kakak-beradik
itu menyeretnya. Tenaga mereka memang lemah dan mudah untuk dilepaskan, namun
karena identitas mereka, Kai tidak bisa melakukannya.
Alhasil—dia akhirnya dibawa pergi dengan kereta kuda,
hampir seperti sedang diculik.
◆◇◆
Sesuai perkataan mereka, di dalam kereta kuda yang sangat
nyaman.
Di depannya duduk Karen dan Lifia yang wajahnya secantik
boneka.
Kai pun berkata jujur kepada dua orang yang sudah
berdandan sedemikian rupa sehingga kecantikan mereka semakin terpancar itu.
"Rasanya……
kayak lagi dibawa paksa ke kantor polisi."
Sambil membuang muka agar tidak terlalu tegang.
Tentu saja berkat helm bajunya, hal itu tidak akan
ketahuan. Saat dia sekali lagi merasa betapa praktisnya item
ini, Karen langsung membalas dengan lancar.
"Ngomong apa sih, padahal kamu sudah menduga hal
ini bakal terjadi, kan. Buktinya kamu pakai perlengkapan itu ke kota. Sepertinya
kamu juga sengaja membocorkan informasi, ya."
"Terima kasih karena Anda sudah memberikan kami
kehormatan untuk membalas budi ini. Jika orang-orang yang terlibat dalam
pencarian tidak membuahkan hasil, itu akan menurunkan martabat keluarga
kami."
"……Yah, kurasa begitu, ya."
Kai mencoba bersikap sok pintar menanggapi Lifia, padahal
dia sama sekali tidak tahu soal martabat-martabatan itu.
Bahkan dia tidak sadar kalau tindakannya tadi dianggap
sebagai bentuk menjaga martabat mereka.
Awalnya dia hanya merasa kalah oleh tekanan pencarian
mereka dan akhirnya terpaksa keluar secara alami.
"Anu, apakah Anda merasa tidak nyaman? Karena Anda
sudah sangat peduli pada kami di tengah kesibukan Anda yang luar biasa."
"……Tidak juga."
"Ternyata kamu orangnya cukup berlapang dada
ya."
"Bukankah kalimat itu sedikit berlebihan?"
Entah sengaja atau tidak, Karen selalu menimpali di saat
yang tepat dan menjadi penengah yang baik.
Sepertinya urusan perhatian diserahkan sepenuhnya kepada
kakaknya, Lifia. Mungkin mereka sudah mendiskusikan peran masing-masing
sebelumnya.
"He-hei. Selagi masih ada waktu, ada satu hal yang
ingin kutanyakan……"
Baru saja berpikir begitu, tiba-tiba sikap Karen berubah
jadi sangat serius.
"Aduh, Karen, justru kamu yang malah jadi aneh kalau
bersikap seformal itu."
"Ti-tidak sopan ya! Kalau gitu aku akan bicara pakai
gaya biasa! Hmph!"
"Nah, begitu lebih baik."
Semakin sopan sikap mereka, semakin kata 'Keluarga Duke'
itu terngiang-ngiang di kepalanya.
Agar tidak canggung, dia meminta mereka bersikap apa
adanya saja.
"Jadi, apa yang mau kamu tanya?"
"……Anu,
t-to the point saja! Soal waktu kamu menyelamatkan kami…… Kamu pakai itu, kan? Banyak Elixir legendaris yang bisa
menyembuhkan segalanya."
"Begitulah."
"Makanya
itu…… kamu kan nggak cuma pakai satu, tapi tiga botol item yang sangat
berharga…… apa kamu nggak dimarahi (oleh organisasimu)? Apa kamu nggak bisa
muncul ke kota gara-gara ada masalah soal itu?"
Karen
menatapnya dengan ragu-ragu, seolah sedang mengonfirmasi sesuatu yang
menakutkan.
Ke mana perginya sikap "Hmph! Kalau gitu aku bicara
pakai gaya biasa!" yang dia tunjukkan beberapa puluh detik yang lalu?
Kai ingin sekali mengomentarinya, tapi dia memilih untuk
menjawab agar pembicaraan tidak melenceng.
"Nggak juga. Lagipula itu kan barangku sendiri.
(Dimarahi maksudnya gimana……?)"
Dia hanya menggunakan item yang bisa dibilang
miliknya sendiri.
Tentu saja dia tidak paham kenapa dia harus dimarahi.
Di sisi lain, kakak-beradik yang duduk di depannya itu
langsung membelalakkan mata mendengar pernyataannya.
"A-apa kamu benar-benar tidak apa-apa? Menanggung
segalanya sendirian…… Kalau kamu bilang sejujurnya, mungkin ada yang bisa kami
bantu……"
"Benar kata Karen, setidaknya ceritakanlah garis
besar kejadiannya kepada kami……"
"…………"
Sudah berapa kali Kai membatin dalam hati.
'Kenapa pembicaraannya nggak nyambung-nyambung juga ya
dari tadi.'
Tapi, suasananya tidak memungkinkan baginya untuk berkata
jujur.
Dia memutuskan untuk mengikuti alurnya saja sambil
menyampaikan kalau segalanya 'baik-baik saja'.
"……Yah, seandainya aku dimarahi pun, aku nggak
menyesali pilihanku. Kalau gara-gara obat itu kakimu bisa sembuh total, ya aku
sudah senang banget."
"──!"
Entah kenapa mereka berdua terkejut secara bersamaan.
"Lagipula, daripada mengkhawatirkanku, aku bakal
lebih senang kalau kalian menikmati hal-hal yang selama ini nggak bisa kalian
lakukan sepuasnya. Masalahku biar aku sendiri yang selesaikan."
"……"
Setelah itu, mereka berdua saling bertatapan seolah
sedang terharu?
"Apa……
aku salah bicara? (Yah, pasti salah sih. Aku kan nggak ngerti konteksnya
sama sekali. Pasti mereka mikir 'Ngapain sih nih orang'……)"
"B-bukan hal yang aneh, kok."
"Saya benar-benar tidak tahu harus berterima kasih
seperti apa lagi kepada Tuan Hitam……"
"Hm? Begitu ya."
Entah kenapa pembicaraannya jadi nyambung.
Dan sepertinya ada kata-kata yang menusuk hati Lifia,
karena rasa terima kasih yang luar biasa terpancar darinya.
Karena merasa sama sekali tidak tahu apa yang sedang
terjadi dan takut akan berakibat buruk jika ditanya lebih lanjut, Kai segera
mengalihkan pembicaraan.
"Ah, benar juga. Dari tadi aku cari waktu yang pas
buat bilang ini…… Aku punya satu permintaan buat kalian berdua."
"Ja-jarang sekali kamu mau meminta sesuatu……"
"Permintaan seperti apa itu?"
Kepada kakak-beradik yang kini menatapnya dengan ekspresi
serius seolah menanti tuntutan berat, Kai berkata:
"Saat aku bertemu ayah kalian…… sang Duke, kalau
nanti aku bersikap nggak sopan dan bikin dia marah, tolong bantu aku jadi
penengah. Kalau kalian mau lakukan itu, aku nggak butuh bayaran buat
obatnya."
"I-itu beneran!? Itu kan bayaran buat Elixir
legendaris, lho?"
"Beneran pake banget. Aku ini cuma orang biasa. Kekuasaan
itu hal yang paling menakutkan buatku."
Dia sangat tahu nilai dari obat itu. Memang sayang jika
tidak mendapat imbalan, tapi tidak ada yang lebih penting daripada jaminan
keselamatan nyawanya.
"……"
Pada saat itu, pikiran kedua kakak-beradik itu seolah
tersambung satu sama lain.
'Meski tujuannya untuk menyembunyikan status, bukankah
alasannya terlalu kasar?'
'Cara
dia mengelak itu lho……' pikir mereka.
Hal itu
seolah tertulis di wajah mereka, tapi Kai tidak punya ruang untuk
memedulikannya.
"Karena
itulah──"
"Baiklah.
Meski kamu bersikap tidak sopan sekalipun, kurasa Ayah tidak akan marah,
sih."
"Saya
juga setuju."
"Syukurlah."
Kai
berhasil mendapatkan aliansi dari putri sulung dan putri kedua sang Duke di
saat-saat kritis. Tidak akan ada sekutu yang lebih kuat dari mereka.
"Hei,
aku mau tanya satu hal lagi…… Apa kamu bakal terus pakai zirah itu?"
"A-ah──
benar juga. Memang nggak sopan kalau nggak dilepas ya…… Yah, anggap saja etika
minimal……"
Tiba-tiba dia ditanya hal yang sangat, sangat tidak
diinginkan.
"Jangan salah paham. Aku nggak bermaksud begitu. Aku
cuma berpikir kalau mungkin saja itu tidak nyaman bagimu……"
"Secara pribadi, saya juga ingin sekali melihat
wajah Anda……"
"Eh?"
"Kak, itu tidak sopan."
"M-mohon maaf! Anggap saja itu cuma bercanda……"
Sambil mengibaskan tangannya, Lifia mengatakan hal itu,
namun sesekali dia melemparkan tatapan penuh perasaan kepada pria itu.
Dan tentu saja ada alasan di balik semua itu──.
◆◇◆
(──Betapa tulusnya orang ini……)
Itulah yang dipikirkan Lifia saat menatap sosok hitam di
depannya.
Karena dia tidak banyak bicara, Lifia pikir dia sedang
berkonsentrasi pada pengawal di sekelilingnya untuk berjaga-jaga seandainya
terjadi sesuatu.
Dia adalah sosok yang sulit ditebak, namun dia tidak
bersikap arogan ataupun meremehkan orang lain.
(……Wajar saja kalau Karen sangat menyukainya.)
Seorang Treasure Hunter, biasanya semakin tinggi
reputasinya, maka mereka akan semakin menuntut untuk dikagumi.
Alhasil, banyak dari mereka yang bersikap pamer—namun
orang di depannya ini berbeda.
Padahal dia pasti punya reputasi hebat, padahal dia
pasti memiliki kekuatan yang melampaui siapa pun, tapi dia benar-benar bersikap
rendah hati.
Bahkan setelah dia menghadapi komplotan kriminal keji
dan mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan adiknya.
Padahal posisi kami sudah sangat berhutang budi
padanya, namun dia sama sekali tidak memanfaatkan kelemahan itu.
(Sudah berapa banyak orang yang mengagumi beliau
ya……?)
──Pasti sudah tak terhitung jumlahnya. Tepat
saat Lifia memikirkan hal itu.
"Aku jadi gugup nih……"
Mungkin untuk mencairkan suasana, Tuan Hitam bergumam
lemah, dan Karen yang ingin diperhatikan pun langsung menyambar.
"Gugup itu nggak keren, tahu. Padahal penampilanmu
sudah begitu."
"Hooo. Sayang banget ya kamu diselamatkan sama orang
nggak keren kayak aku."
"Hah……? I-itu kan beda lagi ceritanya! Aku bukan
orang yang nggak tahu terima kasih!"
"Fufufu."
Dia adalah sosok yang seharusnya bernaung di bawah
organisasi rahasia Kekaisaran, Veltal.
Artinya dia pasti sudah pernah bertemu sang Kaisar. Sosok
yang bahkan mungkin membuat Kaisar sekalipun harus berhati-hati, mana mungkin
dia merasa gugup hanya karena bertemu seorang Duke.
Dia pasti sudah mengerti perasaan Karen yang ingin
diperhatikan dan sengaja memancing perdebatan kecil itu.
(Benar-benar melakukan hal yang membuatku senang……)
Lifia bergumam dalam hati agar tidak merusak suasana.
Tentu ada alasan kenapa dia berpikir demikian.
Sebagai kakak-beradik, mereka sering bertemu dengan
bangsawan lain, namun lawan bicara mereka biasanya tidak pernah meluangkan
waktu untuk Karen.
Itu karena Karen masih berusia 12 tahun, sementara Lifia
yang berusia 18 tahun sudah berada di usia untuk mencari pasangan.
Tentu saja pihak lawan punya alasan tersendiri, namun
bagi Lifia yang sangat menyayangi adiknya, perlakuan semacam ini adalah hal
yang paling membahagiakan.
Memang Lifia 'ingin bertemu dengan Tuan Hitam', namun
Karen-lah yang lebih berharap untuk bertemu dengannya.
(Karena dia orang yang sangat luar biasa, dia bahkan
mencoba menghindari imbalan dari keluarga kami……)
Lifia benar-benar terkejut.
Terutama saat dia bilang "kalau begitu aku nggak
punya waktu luang".
Jika dikatakan "imbalan dari keluarga Duke",
siapa pun pasti akan berubah tatapannya dan menunjukkan niat terselubung. Namun
dia justru melakukan hal sebaliknya.
Padahal dia sudah mempertaruhkan nyawanya, tapi dia
ragu-ragu untuk menerima imbalan.
Dia bersedia naik ke kereta kuda ini hanya karena
perasaan 'tidak enak jika harus merusak martabat sang Duke'.
Bahkan untuk imbalan obat legendaris yang sudah
bertahun-tahun dicari keluarganya tanpa memedulikan biaya demi menyembuhkan
kaki adiknya, dia hanya meminta kami untuk 'menjadi penengah' jika ayahnya
marah—sebuah hal yang sebenarnya tidak perlu diminta pun pasti akan kami
lakukan.
Hadiah untuk obat yang saking berharganya bahkan bisa
digunakan untuk membangun sebuah kastil, hanya dibayar dengan hal sepele
seperti itu.
Lifia benar-benar merasa kagum, bertanya-tanya apakah
memang ada orang dengan kepribadian sehebat ini.
(Apakah setelah ini aku bisa terus berhubungan dengannya
ya……?)
Ini pertama kalinya dia merasakan perasaan semacam ini
terhadap lawan jenis.
Dan Karen, seperti yang terlihat, sudah sangat jelas
perasaannya.
"Saya
ingin bertanya satu hal…… Sampai kapan Tuan Hitam berencana tinggal di kota
ini?"
"Ah……
itu tergantung suasana hati, kurasa."
"Kalau
gitu mending kamu tinggal di sini selamanya saja. Kota ini nggak buruk,
kan?"
"Memang benar kota ini bagus."
Meski dia menganggapnya sebagai 'kota yang bagus',
jawabannya tetap tidak pasti.
(Pasti
tergantung instruksi dari atasan ya…… Kurasa.)
Meski dia ingin menahannya seperti Karen, dia tahu pria
itu pasti sangat sibuk. Hal ini memang tidak bisa dipaksakan.
Karena hanya dengan pergerakannya saja, ada nyawa yang
terselamatkan seperti Karen.
"……"
Perasaan menyesal bercampur dengan keinginan untuk tidak
melepaskannya dan ingin menjadi lebih akrab.
Seolah ingin meluapkan perasaan itu, Lifia terus menatap
sosoknya lekat-lekat untuk merekam penampilannya di dalam ingatannya.



Post a Comment