NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 3 Chapter 4

Chapter 4

Kontak


Lima hari telah berlalu sejak para pengawal dikerahkan ke kediaman ini.

"Oya, sepertinya Anda hendak bepergian hari ini."

"Karena tidak ada masalah berarti sejak saat itu, kupikir ini waktu yang tepat."

Hari itu, Kai bersiap-siap untuk keluar setelah sekian lama.

Selama ia menjaga gaya hidup yang tidak mencolok, kemungkinan mata Layla—si gila perang yang kabarnya sudah kembali ke kota—tertuju padanya seharusnya mengecil.

Begitulah pikirnya.

"Pak Residen, apa ada sesuatu yang kamu inginkan? Kalau ada, sekalian kubelikan."

"Terima kasih atas perhatian Anda. Namun, dari saya pribadi tidak ada."

"Benarkah?"

"Tentu saja."

"Begitu ya.... Kalau begitu, mungkin aku akan membeli camilan untuk para pengawal kalau mereka lapar."

"Itu ide yang bagus. Mereka pasti akan sangat senang."

"Kalau mereka sungkan menerimanya, boleh aku minta bantuanmu?"

"Fufu, baiklah. Serahkan saja pada saya jika saat itu tiba."

"Terima kasih, itu sangat membantu."

Mungkin ia terdengar terlalu pencemas, tapi dampak mental jika pemberiannya ditolak akan cukup besar.

Demi menikmati jalan-jalan setelah sekian lama, ia tidak ingin keluar dengan membawa rasa cemas.

(Nah, hari ini mau main ke mana ya. Mumpung sempat, mungkin coba keluar gerbang kota....)

Dengan mata yang berbinar penuh semangat, Kai mengambil kotak cincin dari laci.

Ini adalah hadiah tanda terima kasih dari keluarga Albrela yang memegang jabatan kepala serikat dagang.

Sebuah Magic Item dengan efek membatalkan satu kali kematian instan.

(Serius, cuma ada ini saja rasa amannya beda seratus kali lipat.)

Setelah menyematkan cincin perak berkilau itu di jari telunjuk, ia mulai mengenakan perlengkapan Shikkoku.

Penyebab kematian seperti 'kematian instan' memang sangat spesifik.

Meski tidak bisa dibilang asuransi yang sempurna, tapi memiliki sesuatu yang akan menggantikan nyawanya di saat darurat terasa sangat memikat.

Kenyataannya, ini adalah item yang sudah tak terhitung berapa kali menyelamatkannya saat masih bermain di dalam game.

(Kalau bisa, aku ingin punya 50 buah lagi.... Semoga suatu saat aku bisa mendapatkannya dengan tanganku sendiri.)

Tempat untuk mendapatkan cincin ini hanyalah di Dungeon Level 5 ke atas.

Tepat saat ia sedang membayangkan dirinya menjelajahi dungeon, ia merasakan sebuah tatapan dari depan.

"....Ah."

Begitu mata mereka bertemu tanpa sengaja, ia melihat sang Residen yang tengah menatapnya dengan ekspresi menahan tawa.

"Meski saya rasa ini perjalanan untuk urusan pekerjaan, silakan bersenang-senang, ya."

"Hahaha, memalukan sekali.... Tadi aku melihat cincin ini dan tidak sengaja terpikir soal dungeon."

Kai segera mengenakan helm zirahnya untuk menyembunyikan rasa malu di balik penutup wajah.

"Saya juga sama. Tapi kalau saya bilang begitu, mungkin terdengar seperti bualan ya?"

"Eh?"

"Sebenarnya, item pertama yang saya dapatkan saat pertama kali menantang Dungeon Level 5 adalah Magic Item itu."

"Be-benarkah!?"

"Iya. Cincinnya langsung saya jual, tapi uangnya saya pakai untuk bersenang-senang dengan rekan-rekan. Itu kenangan yang indah."

"Hoo. Pasti menyenangkan sekali ya...."

Kai sangat menyukai cerita tentang Treasure Hunter maupun dungeon.

Persiapannya terhenti, ia kini justru tampak sangat antusias mendengarkan.

"Omong-omong, apakah Pak Residen masih tertarik pada dungeon?"

"Begitulah. Meski sudah pensiun, perasaan saya masih sama seperti dulu. Di rumah maupun di ruang kerja, saya mengoleksi banyak buku tentang hal itu."

"!"

Informasi yang tak terduga pun ia dapatkan.

"Pak Residen, aku akan bayar, jadi bolehkah aku membaca buku-buku itu? Aku sangat penasaran."

"Fufu, saya pinjamkan gratis, jadi silakan minta kapan saja Anda mau."

"Terima kasih banyak. Aku berutang budi padamu."

"Sama sekali tidak."

(Begitu pulang nanti, aku harus segera meminjamnya.)

Sambil menyusun rencana itu di kepala, ia mengambil kantong uang dan senjatanya.

Semua persiapan telah selesai.

"Oke. Kalau begitu, aku berangkat. Sepertinya aku tidak akan pulang terlalu telat."

"Hati-hati di jalan."

"Ya."

Setelah berpamitan dengan sang Residen dan para pengawal, ia pun meninggalkan kediaman.

Hari ini, tempat yang akan dijelajahi sudah ditentukan.

Ia berjalan lurus membelah kota, melewati gerbang besar yang menghubungkan dengan dunia luar, dan melangkah menuju padang rumput yang luas.

—Tanpa menyadari adanya sosok yang membuntutinya dari belakang.

◆◇◆

"Wah, luar biasa. Memang seharusnya aku keluar rumah sesekali."

Di luar kota.

Mungkin sudah satu jam berlalu.

Kai yang berjalan dengan perlengkapan penuh dengan suasana hati riang menggumamkan perasaan senangnya.

Entah kenapa ia sekarang hidup di dunia game yang dulu ia mainkan sampai tamat, namun ada pemandangan-pemandangan yang tidak terlihat saat masih di dalam game.

Rasanya seperti sedang melakukan napak tilas ke tempat suci tapi dengan nuansa baru, hanya berjalan-jalan saja sudah terasa menyenangkan.

(Yah, walau ini satu-satunya cara bersenang-senang sendirian yang bisa kutemukan saat ini....)

Mari kesampingkan fakta menyedihkan itu sejenak.

Terhadap opini seperti 'Harusnya lakukan hal yang menarik saja. Harusnya jadi Treasure Hunter saja,' atau 'Harusnya kumpulkan harta dan item di dungeon saja,' Kai akan mengangguk setuju. Ia sepakat dengan perasaan itu.

Bahkan di game saja sudah seseru itu. Jika menaklukkannya sekarang dengan mengandalkan seluruh panca indra, pasti akan menjadi petualangan yang luar biasa menyenangkan.

Namun, masa lalu dan sekarang berbeda.

Ada perbedaan bernama "nyawa menjadi taruhannya".

Bahkan luka kecil saja pasti akan terasa sakit.

Apalagi di dungeon, tidak hanya ada monster yang menyerang dengan otot saja, tapi juga ada jebakan kejam dan area dengan status abnormal yang mustahil dihindari.

(Menantang hal itu benar-benar tindakan nekad.... Aku tidak punya rekan, dan kemampuanku sendiri pun masih kurang....)

Sejujurnya, ia ingin masuk ke dungeon.

Ingin merasakan pengalamannya meski hanya sedikit.

Tapi saat terpikir bahwa itu mungkin akan merenggut nyawanya, kakinya terasa berat.

Selama kemampuannya belum setara dengan senjata dan zirah yang ia pakai, bersikap hati-hati adalah pilihan yang wajar.

"Tapi, suatu saat nanti pasti.... Lagipula ada cincin pembatal kematian instan untuk saat darurat, dan aku juga ingin melihat Demi-Human...."

Di kota bagian selatan yang hanya dihuni ras manusia ini mereka memang tidak terlihat, tapi jika pergi ke pusat Ibukota yang sangat makmur, ras lain seperti Beastman, Elf, atau Dwarf pasti ada.

Karena sudah sampai di dunia ini, ia ingin melihat mereka sama seperti keinginannya melihat dungeon.

(Untuk itu, setidaknya aku harus punya kekuatan untuk menang melawan bandit.... Hmm.)

Sambil berpikir serius hingga tak tampak seperti sedang jalan-jalan, ia melangkahkan kaki setapak demi setapak menuju area hijau yang lebih rimbun.

"Ah...."

—Namun, ia segera menyadari bahwa tempat itu sudah sepi orang.

Jika diserang seseorang di sini, ini adalah area di mana ia tidak akan bisa mendapatkan bantuan siapa pun.

Meski ia penasaran dengan jalan di depan, bukan berarti ia tidak bisa bersenang-senang jika tidak ke sana.

(Utamakan nyawa, ayo kembali saja....)

Tepat saat ia memantapkan niat untuk berbalik arah.

Kiiiiiiiiiiiiiiiiiii

Bersamaan dengan suara melengking tidak nyaman seperti suara nyamuk di telinganya.

"!"

Sentakan kuat yang luar biasa hingga membuatnya spontan berteriak menjalar dari belakang kepala ke seluruh tubuhnya.

Jari telunjuknya terasa panas seperti terbakar, dan sensasi mengenakan cincin seketika lenyap.

(Eh, e.... eh!? A-apa!? Apa yang terjadi!?)

Hilangnya Magic Item tersebut menandakan efek Instant Death Resistance telah aktif.

Sebuah serangan mendadak tanpa peringatan apa pun.

Saking terkejutnya—mungkin yang paling mengejutkan dalam hidupnya—ia bahkan tidak bisa mengeluarkan suara.

Sambil memegangi kepalanya yang terbungkus helm zirah, ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Lalu, mata Kai menangkap sosok itu.

—Seorang wanita berdiri dengan angkuh sambil mengarahkan pistol sihir transparan yang tampak seperti terbuat dari kristal ke arahnya.

"Khfufu, ternyata itu memang bohong ya. Serangan jarak jauh sama sekali tidak mempan padamu."

"...."

"Lagipula, kamu bahkan tidak membiarkanku membaca gerakanmu sedikit pun. Kamu bahkan tidak mencoba menghindar, benar-benar pria yang menarik."

"...."

Meski Kai hanya diam, mulut lawan tidak berhenti bicara.

"Tentu saja, karena kamu penuh celah, aku sudah menduga pasti ada sesuatu. Aku sudah memperhitungkannya dengan baik, tahu."




"............"

"Lagi pula, zirah itu keras sekali, sih. Bahan apa yang dipakai sampai bisa memantul begitu saat terkena Magic Bullet-ku? Padahal biasanya tembakanku selalu tembus seratus persen."

Setelah menyelesaikan protesnya, sosok itu menukikkan alisnya yang tertata rapi. Ia berdiri sambil berkacak pinggang dengan pose merajuk yang khas.

(Kalau zirahnya tidak penyok, kenapa tadi muncul indikator Instant Death di pandanganku……? Lagi pula, menembak kepala orang secara tiba-tiba itu benar-benar gila, tahu……Tunggu—)

Justru karena situasi ini terlalu absurd, Kai malah bisa bersikap tenang secara paksa.

"Halo? Tolong ya, jangan mengabaikanku begitu saja. Kalau kamu tidak mengenalku sih masih maklum, tapi mustahil kamu tidak tahu siapa aku, kan?"

"……Layla Michelle."

"Yup, benar. Aku tidak menyangka kamu bakal menjawab dengan nama lengkapku, sih."

"Eh?"

Layla menjawab tanpa rasa tegang sedikit pun. Ia mengembalikan pistolnya ke dalam holster di paha, lalu menunjukkan sikap siap berbincang.

Meski bertemu kembali dengan karakter game favoritnya, Kai sama sekali tidak merasa terharu. Seluruh waktunya saat ini hanya dipenuhi oleh rasa ngeri.

"Itu informasi yang tidak akan diketahui jika tidak menggali terlalu dalam. Bahkan nama registrasiku sebagai Treasure Hunter saja cuma 'Layla'."

"Begitu ya. Aku tidak tahu."

"Kamu benar-benar sulit ditebak ya."

"Itu salah paham."

"Iya, iya."

Layla menatapnya dengan tatapan menyelidik, seolah curiga ada sesuatu yang disembunyikan. Padahal, Kai sudah mengatakan semuanya dengan jujur.

Suaranya terdengar datar seperti robot karena ia sedang berada di ambang kematian.

"Lalu, apa tidak bisa kamu berhenti mencoba membunuhku dengan serius?"

"Apa maksudmu?"

"Kamu menembak tepat ke arah kepala pria yang—mungkin tidak bisa dibilang baik hati, tapi setidaknya—orang biasa ini. Benar-benar sulit dipercayai."

"Aku tidak berniat menghabisimu, kok! Dengan perlengkapan selevel itu, mustahil kamu tidak bisa menghindarinya."

"Lagi pula, berhentilah berlagak lemah sementara kamu mengeluarkan aura mengerikan seperti itu."

"Ini keluar sendiri, tahu."

"Tuh, bicara aneh lagi."

Layla tampaknya menganggap Kai sebagai sosok yang setara. Tidak ada rasa bersalah yang terpancar darinya.

Mengingat perlengkapan yang Kai pakai, wajar jika hal ini terjadi. Namun, Kai benar-benar ingin dimaafkan dari situasi gila ini.

Aura penekan yang terpancar darinya muncul karena ia merasa terpojok. Itu hanyalah Skill Oppression yang aktif otomatis dari perlengkapannya.

"Hei, ayo kita duel sebentar. Mengingat kamu tahu nama lengkapku, berarti kamu orang dari 'sisi sini' juga, kan?"

"Kalau rekan, ayo temani aku. Kalau tidak mau, akan kuanggap sebagai musuh dan kutahan sekarang juga."

"……"

Layla terus memangkas jarak dan mencoba mengintip wajah di balik helm Kai. Normalnya, itu akan terlihat sebagai gestur yang imut.

Tapi tidak untuk saat ini. Ini pertama kalinya Kai tidak merasa senang saat diajak 'bermain'.

Ini pertama kalinya ia merasakan kata-kata itu sebagai ancaman horor. Sebagai orang yang baru saja ditembak kepalanya, didekati saja sudah membuatnya merinding.

"Fufufun, baiklah kalau begitu."

Dengan kecepatan kilat, Layla melompat ke belakang untuk mengambil jarak. Ia kemudian mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya.

Meskipun Kai belum setuju, Layla sudah sepenuhnya masuk ke mode tempur.

"O-oi, tunggu dulu……"

"Apa?"

Sepertinya sakelar bertarungnya sudah menyala. Layla memiringkan kepala sambil tersenyum, melakukan ayunan pemanasan dengan ringan.

Detik itu juga, sebuah fenomena terjadi. Meskipun bilah pedangnya tidak menyentuh apa pun, tiga pohon di sampingnya tertebas sehalus kertas.

Pohon-pohon itu tumbang dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.

(Ti-tidak, tidak, tidak, tidak……)

Saat masih bermain game, Kai pernah melihat adegan yang sama sebagai kemunculan perdana Layla. Namun saat menyaksikannya secara nyata, dampaknya berada di level yang berbeda.

"Ah! Kamu lebih suka pakai senjata atau tangan kosong? Secara pribadi, aku lebih suka pakai senjata, sih."

"Aku tidak berniat bertarung."

—Tepatnya, aku tidak berada di level untuk bisa bertarung denganmu.

"Hah!? Padahal kamu sudah memancingku. Bukankah ini tempat yang sempurna untuk mengamuk!"

"Aku tidak merasa memancingmu."

"Lalu kenapa kamu datang ke tempat seperti ini?"

"……Eksplorasi. Jalan-jalan."

"Apa yang kamu bicarakan, sih?"

"Apa yang kubicarakan? Ya sesuai kata-kataku tadi."

Layla menampakkan wajah yang sangat curiga. Entah kenapa, meski Kai berkata jujur, orang-orang sering kali tidak memercayainya.

(Lagipula kenapa bisa berpapasan…… Apa karena aku membuntutinya terus, dia jadi salah paham kalau aku sedang memancingnya……?)

Bertemu di tempat seperti ini benar-benar sebuah kebetulan yang fatal. Namun bagi Layla, kemungkinan Kai sengaja memancingnya terasa lebih masuk akal.

"Ah, mungkinkah kamu sedang bertugas? Sedang berpatroli?"

"……"

Padahal ia sudah menjawab jujur, tapi kenapa salah pahamnya malah menjadi seperti itu? Kai tidak bisa mengejar logika itu dan hanya bisa terdiam bingung.

"Begitu ya. Kamu memang hebat karena tetap menjaga kerahasiaan tugasmu bahkan di hadapanku. Aku mengerti garis besarnya."

"……Begitu ya."

Sebenarnya tidak ada kewajiban menjaga rahasia bagi Kai. Layla pasti salah paham, tapi setidaknya itu adalah kesalahpahaman yang menguntungkan.

Demi pulang dengan nyawa utuh, ia akan memanfaatkan kesalahpahaman itu. Ia akan menggunakan pengetahuannya bahwa Layla adalah anggota organisasi Vertal.

"Hei, ini cuma perumpamaan ya. Anggaplah kamu ada di sisi 'sini', lalu aku mengganggu pekerjaanmu. Kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan?"

"……Melapor ke atasan."

"Lalu hukuman untukku apa?"

"Anu…… kamu akan kehilangan kedudukanmu."

"Hah? Maksudnya pemecatan!?"

"Yah, begitulah."

"!!"

Karena Layla mengira Kai anggota organisasi, menyebutkan hukuman terberat ternyata adalah langkah yang tepat. Kai berhasil melihat wajah Layla yang menampakkan kegelisahan untuk pertama kalinya.

"Ja-jangan bercanda. Itu terlalu kejam, tahu."

"Tidak juga."

"Kamu tahu tidak seberapa besar aku menantikan hari ini!? Sampai-sampai aku memohon pada penjaga gerbang agar melapor kalau kamu keluar kota!"

"Mengganggu pekerjaan secara sengaja memang akan berakhir seperti itu."

"Ugh……"

(Sampai mengancam penjaga gerbang segala, dia ini seniat apa sih……)

Melihat ide gilanya yang benar-benar dilaksanakan, sepertinya dia memang sangat menantikan hari ini. Namun, itu tidak membuat Kai merasa ingin dihajar sampai babak belur.

"Kalau begitu, aku akan menganggapmu musuh. Dengan begini tidak masalah, kan?"

"Pemecatan."

"Hei, kamu benar-benar tidak mau bertarung!? Sebentar saja juga tidak apa-apa!"

"Pemecatan."

"Ah, sudahlah! Kalau bakal begini, mending dari awal kuanggap musuh saja! Ini semua gara-gara kamu menjawab pakai nama lengkap!!"

"Benar. Menyerah adalah keputusan yang bijak."

Dengan kecepatan kilat, Layla mengembalikan pedangnya ke sarung. Ia berjongkok sambil memegangi kepalanya yang bergoyang frustrasi.

Kai memperhatikannya merajuk selama tiga detik. Seolah sudah mengganti suasana hatinya, Layla berdiri tegak dengan wajah serius.

"Hah, ya sudah. Kalau begitu aku akan membuntutimu sampai pekerjaanmu selesai. Setelah itu, temani aku duel."

"Setelah pekerjaan ini selesai, aku punya tugas membaca buku."

"Membaca itu hobi, bodoh. Mengalah sedikit, dong."

"……"

Kai tidak menyangka akan diperintah dengan nada sekasar itu.

(Sepertinya aku tidak akan bisa kabur. Apa aku harus melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pertarungan agar bisa melepaskannya……?)

Dari obsesinya untuk terus membuntuti, Kai merasakan hal itu dengan kuat.

(Cara mematahkan bendera event selain dengan duel……)

Jika tidak mematahkan benderanya, ia pasti mati. Di tengah aura mencekam Layla, Kai memutar otak mencari solusi.

Satu ide terlintas—satu-satunya taruhan hidup dan mati yang ia punya. Kai berusaha agar kakinya tidak gemetar, lalu menghela napas panjang sambil menundukkan kepalanya.

"Hah? Apa-apaan sikapmu itu?"

"Sejujurnya, orang sepertimu bukan tandinganku. Duel ini hanya akan jadi tontonan yang tidak menarik."

"He-heee. Berani sekali kamu meremehkanku."

"……"

(Jangan takut, aku…… Dia memang terlihat sangat marah, tapi jangan takut……)

Urat nadi menyembul di dahi Layla. Aura merah bergejolak di sekitarnya, seolah-olah petir menyambar di udara yang terdistorsi.

"Ha, haha……"

Tekanan keberadaannya benar-benar di level yang berbeda.

"Kalau punya waktu buat tertawa, mending siapkan senjatamu. Ah, lupakan soal senjata. Aku ingin memukulmu sampai puas."

"Makanya kubilang. Kamu bukan tandinganku."

"Cih, kalau begitu akan kuberi pelajaran…… Kamu yang memprovokasi duluan, jadi jangan bawa-bawa soal pemecatan lagi ya."

Tepat setelah Layla mengatakannya, mana miliknya meluap hebat. Angin puyuh tercipta di tempat itu hingga Kai hampir kehilangan keseimbangan.

Pepohonan menjerit tertiup angin dan daun-daun berterbangan liar. Debu pun membubung tinggi, menciptakan titik buta yang menyembunyikan sosok Layla.

(……)

Kai, yang keringat dinginnya mengucur deras, menyampaikan apa yang ada di kepalanya dengan nada datar. Ia tidak punya cukup keberanian untuk menyisipkan emosi ke dalam suaranya.

"—Setelah menyiapkan posisi tempur, kamu akan menerjang dengan kecepatan penuh tanpa melakukan tipuan demi masuk ke jarak tembak."

"!"

"Begitu masuk jarak tembak, pertama kamu akan melayangkan pukulan ke tubuh. Lalu menendang rusuk, diikuti dua pukulan ke wajah. Satu tendangan ke dagu, dan satu pukulan ke pelipis."

"Ha……"

Begitu Kai selesai mengatakannya, mana Layla mendadak reda. Keheningan menyelimuti tempat itu.

"Selanjutnya kamu akan melakukan bantingan, dan jika berhasil, satu serangan ke ulu hati. Pertama kamu akan menggunakan pola ini untuk mengukur kekuatan musuh, kan?"

"Jika belum selesai, kamu akan mengurangi serangan fisik dan beralih ke pola serangan berbasis sihir."

Kai mengingat seluruh pola serangan Layla di luar kepala. Masalah fatalnya, ia hanya tidak punya kemampuan fisik untuk bereaksi terhadap serangan itu.

"Aku tahu cara bertarungmu. Dan kamu pasti tidak sadar kalau pola tindakanmu sudah terbaca. Kamu tadi benar-benar berniat menyerang seperti yang kukatakan."

"Ja-jadi maksudmu hasilnya sudah ditentukan? Dengar ya, aku tidak berniat menyerang seperti itu. Kalau aku sadar sudah terbaca, aku akan ganti polanya!"

"Kanan."

"Eh?"

Demi menjaga kendali, Kai tidak mendengarkan gertakan Layla. Begitu Kai menunjuk ke arah kanan dengan telunjuknya, Layla langsung menoleh ke arah tersebut.

Tentu saja, tidak ada apa pun di sana.

"Lihat, kamu itu mudah tertipu. Tergantung lawannya, celah tadi bisa saja membuatmu kehilangan satu atau dua patah tulang."

"Itu curang! Menjijikkan! Benar-benar menjijikkan! Lagi pula, tadi aku sedang mengendurkan sakelar tempurku!"

"Sepertinya alasan seperti itu tidak akan laku di saat darurat."

"!!"

Seketika itu juga, momentum Layla berhenti total. Kai yakin ia berhasil mematahkan bendera pertarungan dengan membuat Layla berpikir dirinya telah kalah.

(Entah bagaimana…… aku berhasil melewatinya……)

Ia benar-benar berterima kasih pada dirinya di masa lalu yang memainkan game ini sampai tuntas.

"Kalau begitu aku permisi dulu. Aku sedang di tengah pekerjaan."

"Tunggu! He-hei, tunggu dulu!! Kamu pikir sudah menang dariku dengan cara begitu!? Ku-kubilang tunggu!!"

"Ditolak."

"Aaaaah!"

Jika ia memilih untuk menunggu, ronde kedua akan dimulai. Kai pun lari terbirit-birit dengan kecepatan penuh.

◆◇◆

"Apa yang kamu lakukan? Larimu lamban sekali. Kamu sengaja ingin kukejar ya?"

"Hah, hah. Ma-mana mungkin……"

"Kalau begitu larilah lebih cepat. Meski itu pun tidak akan bisa membuatmu lepas dariku."

Lima menit kemudian, Layla berhasil mengejar Shikkoku yang mencoba kabur.

"Lagipula, hah…… kenapa kamu, mengikutiku……"

"Sudah pasti karena aku mau duel setelah pekerjaanmu selesai. Mana mungkin aku puas dengan cara begitu."

(Benar-benar, apa-apaan sih orang ini…… Dia sama anehnya seperti yang dikatakan Schwarz.)

Layla mengerutkan dahi sambil berjalan di samping Shikkoku. Kejadian tadi benar-benar membuatnya terusik karena semua ucapan Shikkoku tepat sasaran.

Ia menyadari bahwa gerakannya terbaca sempurna. Pria ini membuktikan bahwa ucapan "Kamu bukan tandinganku" adalah fakta.

Pria yang hebat seperti itu—.

Meskipun hebat, ia justru berlari sangat lamban dan napasnya tersengal-sengal hanya dalam hitungan menit.

(Orang yang sulit ditebak begini, dari mana Vertal mendapatkannya……)

Kemungkinan dia hanya pintar tanpa kemampuan tempur sempat terlintas, tapi itu mustahil. Ia memiliki perlengkapan dari Dungeon Level 8 yang bahkan belum pernah ditembus Layla.

Artinya, dia sengaja berakting lemah. Benar-benar penuh kontradiksi.

"Ngomong-ngomong, apa kamu tidak mau menghilangkan aura mengerikan itu? Aku punya Skill resistansi jadi tidak masalah, tapi orang lain pasti akan pucat pasi."

"Aura ini akan hilang kalau kamu berhenti menggangguku. Jadi aku ingin kamu pulang hari ini."

"Begitu ya. Kalau bicaramu sejahat itu, biarkan saja auranya keluar terus."

"Akan kujelaskan pada orang-orang kota kalau aku diikuti orang aneh di sampingku ini. Aku akan bilang ini salahmu."

"Silakan saja. Aku memang tidak disukai orang sekitar, dan mereka juga takut padaku."

Sayangnya ancaman itu tidak mempan. Layla tidak akan puas sebelum mereka berduel sekali lagi.

"Hah. Itu karena kamu selalu memaksakan duel. Kalau kamu bisa lebih tenang, pandangan orang pasti akan berbeda."

"Aku cuma membantu membuat semua orang jadi lebih kuat. Lagipula, menunjukkan keberadaan seperti ini bisa menjadi pencegah bagi orang jahat, kan?"

"Itu cuma alasan, sebenarnya kamu cuma ingin menggerakkan tubuhmu saja. Aku sudah tahu."

"……Menyebalkan."

Hanya itu yang bisa ia katakan. Ia merasa ngeri karena pria ini tahu segalanya.

"Hei, lain kali mau masuk dungeon denganku? Level 8."

"Pekerjaanku sibuk. Ke depannya waktu untuk membaca buku juga akan bertambah."

"Kalau begitu kurangi saja waktu bermain Board Game-mu."

"!? Da-dari mana kamu tahu informasi itu……"

"Serius, kalau kamu bereaksi begitu, aku jadi malas bicara."

(Mana mungkin dia tidak tahu kalau aku dan Schwarz itu berhubungan.)

Bagi Layla, reaksi Kai terlalu berlebihan.

"Yah, kalau kamu bersikap begitu karena tidak mau bicara denganku, rasanya aku harus memberi satu pukulan ke rusukmu."

"Bukannya aku tidak mau bicara."

"Ara, jawaban instan yang tak terduga."

Layla merasa sedikit senang meski Kai masih mengeluarkan aura mengerikan.

"Tak terduga? Kupikir berjalan sambil mengobrol itu lebih menyenangkan daripada berjalan sendirian."

"Ah, aku tahu hal yang jauh lebih menyenangkan, lho."

"……"

"Mau dengar? Kamu mau dengar, kan?"

"…………"

"Jangan abaikan aku, dong. Serius."

"Aku tidak perlu menduga jawaban apa yang akan keluar."

"Kamu tidak asyik ya."

"Maaf ya."

(Meski permintaan maafnya terdengar tidak tulus…… entah kenapa dia mudah diajak bicara.)

Ada kemungkinan pekerjaan Kai berlanjut sampai malam, tapi Layla merasa itu bukan hal yang buruk.

"Ngomong-ngomong, sampai kapan kamu berencana tinggal di kota ini?"

"Hm?"

"Secara pekerjaan, kamu tidak mungkin bisa terus berada di kota ini, kan?"

Jika memegang kendali seluruh wilayah, mustahil ia menetap di satu kota.

"Ah— tidak, bagaimana ya…… kalau aku melakukan ini dan itu, menetap itu memungkinkan saja."

"Hee."

"Tapi ya, sepertinya sebentar lagi aku berencana pindah markas. Aku ingin melihat-lihat berbagai hal."

"Begitu ya. Kamu beruntung bisa menjadikan hobi sebagai pekerjaan. Sama sepertiku."

"Ha, haha……"

Kai membalas dengan tawa kering yang canggung.

"Tapi kalau kamu pindah markas, bukankah para putri dari Tiga Puncak akan merasa kesepian? Kudengar mereka sangat menempel padamu."

"Apa kamu sedang mencoba menahanku?"

"Tentu saja. Kalau kamu pergi, aku tidak punya lawan duel yang sepadan lagi."

"……Kembalikan rasa senangku yang cuma sesaat tadi."

"Kamu senang? Ah, kamu kan memang jomblo ya."

"Benar-benar deh, dari mana sih kamu dapat informasi begitu……"

"Iya, iya."

Setiap kali Layla menyebutkan informasi dari Schwarz, Kai selalu berakting tidak tahu. Layla pun punya ide baru.

"Ah, benar juga. Kalau kamu sendirian, bagaimana kalau malam ini aku menginap di kediamanmu saja?"

"Hah?"

"Repot kan kalau harus pulang setelah duel. Aku akan bayar, jadi biarkan aku menginap."

"Tu-tunggu dulu. Kamu berniat mengikutiku sampai rumah?"

"Berduel di sana akan lebih menguntungkan bagimu, kan? Begini-begini aku juga perhatian padamu, tahu."

"Tidak, berduel itu sendiri sudah merugikanku."

"Asal kamu tahu ya, aku akan terus di sampingmu sampai kamu mau berduel. Kalau perlu, aku akan menempel di punggungmu dan tidak akan lepas."

Layla ingin mendapatkan kesempatan membalas dendam setelah "kalah" dalam adu kata tadi.

"Tolong ampuni aku."

"Di dalam hati kamu sebenarnya tidak keberatan, kan? Kalau mau aku menempel di punggungmu, akan kulakukan sekarang, lho."

"Rasa takutku lebih besar daripada rasa kagum pada kecantikanmu, jadi aku tidak senang."

"Oho, jadi kamu tidak membantah kalau aku cantik ya? Nilai plus untukmu."

"Tapi sayangnya kepribadianmu itu sangat disayangkan."

"Khfufu, nanti akan kubunuh kamu."




Aku sudah memutuskan.

Malam ini, aku harus menginap di kediaman itu.

Lalu, sebuah pikiran kembali melintas. Meski pekerjaan Shikkoku mungkin akan molor sampai larut malam, berada di sisinya rasanya tidak buruk juga.

Ia terus melontarkan kata-kata pedas padaku.

Biasanya hal seperti ini tidak akan pernah terjadi, dan karena kalimat-kalimatnya membuatku merasa setara, aku justru merasa senang.

◆◇◆

Waktu di mana senja mulai tenggelam ditelan kegelapan malam.

"Shi-Shikkoku-sama!? A-apa yang terjadi sampai Anda mengeluarkan aura se-se-se-seperti itu!?"

"Aku sedang dikuntit habis-habisan. Karena nyawaku terancam, makanya jadi begini."

"Penyebab aku membuntutinya adalah orang ini, lho. Dia yang membocorkan informasimu padaku."

"Le-Layla-sama!? Tolong ampuni saya……"

"Aku tahu kamu diancam oleh orang di sebelahku ini. Aku tidak marah padamu, malah sebaliknya, kamu pasti ketakutan sekali. Aku sungguh bersimpati."

"Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Shikkoku-sama……"

"Tidak perlu memanggilku dengan sebutan 'orang ini' juga, kan?"

Kai dan Layla telah kembali ke gerbang utama yang menjadi pintu masuk kota. Di sana, mereka terlibat percakapan dengan penjaga gerbang yang menghampiri dengan tergesa-gesa.

"Pak Penjaga, bisakah kita menangkap orang ini dengan tuduhan penguntitan?"

"Hah?"

"Mohon maaf sebesar-besarnya…… Menurut hemat saya, Shikkoku-sama pasti bisa menangani masalah ini sendiri. Untuk saat ini, tidak ada yang bisa kami lakukan selain memberikan peringatan kepada Layla-sama."

"Jika Anda mengalami kerugian fisik atau mental, bisakah Anda berkonsultasi kembali dengan kami nanti……?"

"Tidak, kalau kerugian mental sih, aku sudah—"

"Khfufu, rasakan itu. Aura seperti itu pasti karena alasan lain, kan? Bukannya bikin 'susah tidur' atau semacamnya."

Layla yang sedang dalam suasana hati yang baik memukul-mukul zirah Kai dengan telapak tangannya. Ia tampaknya sudah paham bahwa pengaduan penguntitan itu hanya akan berakhir dengan respons formal seperti tadi.

Karena segalanya berjalan sesuai rencana Layla, Kai jadi ingin memberikan perlawanan meski hanya hal sepele.

"……Kalau begitu Pak Penjaga, tolong beri dia peringatan saja."

"Ba-baik, dimengerti. Anu…… Layla-sama, mohon tahan diri Anda dari tindakan membuntuti Shikkoku-sama."

"Iya, maaf ya."

Rangkaian interaksi itu pun berakhir. Penjaga gerbang memandang Kai dengan ragu, seolah bertanya, 'Apakah begini saja sudah cukup……?'

Kai memandang Layla melalui penjaga gerbang, seolah berkata, 'Dia sama sekali tidak terlihat menyesal, tahu……' Sementara Layla hanya tersenyum lebar seakan membalas, 'Ya iyalah'.

"……"

"……"

"……"

Keheningan yang canggung menyelimuti tempat itu selama beberapa detik. Layla kemudian memecah suasana.

"Kalau begitu, kami masuk dulu ya? Tidak perlu pemeriksaan identitas, kan?"

"I-iya. Seperti yang Anda katakan, jika itu Anda berdua, pemeriksaan identitas memang tidak diperlukan, tapi……"

"Hmm?"

Tatapan penjaga gerbang kembali tertuju pada Kai.

"Jika Shikkoku-sama tidak menghilangkan…… tekanan berat itu, ada kemungkinan warga akan jatuh dalam kepanikan……"

"Katanya kamu tidak boleh masuk kalau tidak dihilangkan. Cepat hilangkan, dong."

"Sudah kubilang, ini akan hilang kalau kamu berhenti menguntitku."

"Haa, kamu benar-benar keras kepala ya. Ya sudah, karena terpaksa, aku akan melakukan ini. Suppress."

Layla menjulurkan tangan kanannya sambil merapalkan mantra dengan tenang. Detik itu juga, Kai merasa seolah tubuhnya diselimuti oleh udara hangat yang nyaman.

"Eh, seberapa kuat sih aura yang kamu keluarkan itu……? Bahkan sihirku saja cuma bisa menahannya sampai level ini."

"Ta-tapi, sepertinya ini sudah turun ke level yang masih bisa kami izinkan untuk lewat."

"Begitu? Syukurlah kalau begitu."

"Tidak syukur sama sekali……"

Kai menggumam pelan, namun suaranya tidak tertangkap oleh siapa pun.

"Sebagai syarat perizinan, Layla-sama. Tolong jangan lepaskan Suppress ini sampai Anda tiba di kediaman Shikkoku-sama."

"Dimengerti. Karena izin sudah keluar, ayo berangkat. Waktu itu terbatas, lho."

"……"

Layla meraih lengan Kai dan menariknya dengan paksa. Meskipun mungkin tidak terasa sakit, pria berbaju zirah hitam itu hanya bisa pasrah diseret sambil terus dipukuli dengan ringan.

Penjaga gerbang hanya bisa melepas mereka dengan wajah kaku. Ia melihat pemandangan di mana Layla justru seolah memicu amarah si pria hitam yang auranya semakin membara.

◆◇◆

Beberapa saat setelah Kai dan Layla memasuki area kota.

"Apakah masih tidak ada keanehan atau anomali? Di areaku sama sekali tidak terjadi apa-apa……"

"Area sini juga tidak ada masalah."

"Sama halnya denganku."

Para penjaga yang merupakan pasukan elite dari keluarga Ardi, Ansarage, dan Albrera telah dikerahkan ke kediaman Shikkoku. Ketiga pemimpin tim tersebut berkumpul di taman untuk bertukar informasi.

"Malam mulai larut, tapi status hari ini tetap nihil masalah. Begitu kah……?"

"Karena ini permintaan langsung dari Shikkoku-sama, Tuan Besar yakin pasti akan terjadi sesuatu. Kalian juga begitu, kan?"

Dua pemimpin lainnya mengangguk menanggapi konfirmasi salah satu penjaga. Keluarga Ansarage dan Albrera berjaga satu hari lebih lambat, namun sudah lima hari sejak penjaga pertama dikirim.

Jika dalam rentang waktu ini tidak ada tanda-tanda apa pun, wajar jika mereka mulai merasa bingung.

"Tentu saja…… masih terlalu dini untuk menyimpulkan 'tidak terjadi apa-apa'. Masa tugas kita masih tersisa dua hari lagi."

"Memang benar, tapi melihat situasi sekarang, masalah macam apa yang membutuhkan sampai 20 penjaga untuk diatasi—!?"

"!?"

"Apa!?"

Tepat saat mereka sedang berdiskusi secara logis, ketiganya merasakan hawa keberadaan yang mengerikan hingga membuat bulu kuduk berdiri. Bukan hanya mereka, penjaga lainnya pun merasakan hal yang sama.

"O-oi! Cepat buat formasi!"

"Kita juga, perkuat pertahanan!"

"Kalian berdua, cepat lapor ke Residen!"

Ketiga pemimpin itu berpencar ke area masing-masing dan segera memberikan instruksi. Hawa keberadaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya perlahan-lahan mendekat menuju kediaman ini.

"O-oi, yang benar saja……"

Penjaga dari keluarga Ardi bergumam dengan wajah pucat.

"A-apa yang sebenarnya terjadi……"

Penjaga dari keluarga Ansarage juga tak kalah terkejutnya.

"Tanpa ada peringatan apa pun…… hal seperti ini……"

Penjaga dari keluarga Albrera pun merasakan kengerian yang sama. Semua pengawal menghunus senjata mereka dan bersiap siaga sepenuhnya.

Ketakutan yang nyata membuat mereka menyadari bahwa mereka akan segera berhadapan dengan sesuatu yang tak dikenal.

Mereka menahan rasa takut, memantapkan tekad, dan membiarkan waktu menjawab semuanya.

Beberapa menit kemudian, saat sosok tersebut sudah berada tepat di balik pagar kediaman.

"Lihat tuh, kasihan para penjaganya. Mereka waspada terus gara-gara auramu."

"Kenapa bisa tahu?"

"Meski kamu pura-pura tidak tahu, faktanya ini tetap salahmu."

"Soal aura ini, sudah berkali-kali kubilang kalau ini salahmu."

Terdengar suara dua orang yang sedang bercakap-cakap. Salah satunya adalah suara yang sangat mereka kenali.

"……"

"……"

"……"

Ketiga pemimpin tim yang berdiri di depan akhirnya melihat sosok aslinya.

Ternyata itu adalah sang pemilik rumah yang masuk ke propertinya sambil memancarkan aura mengerikan.

Di sampingnya, ada seorang wanita yang dikenal oleh siapa pun yang mendalami seni bela diri.

Dia adalah Layla, sang penakluk Dungeon Level 7.

"Aku pulang."

"Selamat datang kembali, Tuan!"

"Senang melihat Anda kembali dengan selamat!"

"Kami telah menantikan kepulangan Anda!"

"Ya, terima kasih……"

Para penjaga sama sekali tidak tahu kalau keduanya memiliki hubungan.

Mereka hanya bisa terpana melihat duet maut antara Shikkoku yang berafiliasi dengan Vertal dan Layla yang merupakan praktisi terkuat di kota ini.

"Hei, lihat, ada banyak penjaga hebat berkumpul di sini. Hei, dengar tidak."

"……Kamu mau duel dengan mereka?"

"Boleh!?"

"Kalau tujuannya untuk Competition, kurasa izinnya akan keluar. Asalkan kalian berhati-hati agar tidak cedera."

"Kalau begitu, pinjamkan mereka padaku nanti!"

"Aku takut kalau cuma aku yang memutuskan, jadi biarkan aku konfirmasi dulu ke Residen."

"Kalau cuma segitu, aku izinkan."

Sambil berbincang seperti itu, keduanya masuk ke dalam rumah.

"…………"

"…………"

"…………"

Para penjaga yang mengenal sifat asli Layla hanya bisa mengucurkan keringat dingin.

Dalam dua hari ke depan, mereka akhirnya menyadari satu hal.

Waktu mereka akan habis hanya untuk melayani duel wanita itu.

Kali ini, mereka dikerahkan bukan karena akan ada insiden besar, melainkan demi "pekan pelatihan intensif".

"Se-semuanya…… siapkan mental kalian!"

Suara lantang itu bergema di tempat para penjaga berkumpul.

Satu jam kemudian.

"……"

Suara hantaman dan desingan angin membelah kesunyian malam di halaman tengah. Terdengar pula suara hentakan kaki yang kuat ke tanah.

"Heh, kamu hebat juga ya. Aku akui ucapanmu bukan sekadar bualan belaka."

"Terima kasih banyak."

Di halaman tengah ini, sebuah duel yang tak tertangkap mata sedang berlangsung. Pemandangannya begitu luar biasa hingga para penjaga menonton dengan saksama.

"Haa!"

"Serangan itu sudah terbaca."

"Lho!?"

Sang Residen—meski ia sendiri tidak percaya diri—berhasil menghindar dengan melentingkan tubuh bagian atasnya, lalu mendaratkan satu tendangan berputar ke perut Layla.

Layla berhasil menahan serangan itu di detik terakhir, namun kekuatannya tampaknya cukup besar hingga ia terdorong mundur beberapa meter. Jejak kakinya bahkan tertinggal dalam di tanah.

"Ih, menyebalkan!"

"!!"

Tidak ada waktu untuk bernapas. Layla segera melancarkan serangan balasan dan duel pun berlanjut seketika.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mari kita kembali ke beberapa puluh menit yang lalu.

"Hei, ayo cepat duel."

"Sudah kubilang aku ada tugas membaca buku. Izin untuk duel dengan para penjaga sudah keluar, jadi lakukan saja dengan mereka."

"Mana mungkin aku melewatkan hidangan utamanya."

"Para penjaga itu hidangan utamanya, kan."

"Mereka itu cuma makanan penutup."

Percakapan itu berlangsung di dalam ruang kerja Residen, sementara Kai sedang sibuk mencari buku tentang dungeon.

Berduel dengan orang seperti Layla, meskipun ia menahan diri, tetap saja nyawa taruhannya. Patah tulang sudah menjadi jaminan.

Saat Kai berusaha keras menghindar, sebuah suara terdengar.

"Jika Anda tidak keberatan, biar saya yang menjadi lawan Layla-sama."

Itu adalah suara sang Residen.

"Eh? Jangan bercanda. Jabatanmu bukan untuk hal seperti itu, kan."

"Dulu saya adalah seorang Treasure Hunter."

"Aku ini Treasure Hunter aktif, tahu! Masih berada di puncak performa!"

"Tentu saja saya sangat memahaminya."

Seseorang yang sudah pensiun menantang orang yang masih aktif. Bagi Layla, wajar jika ia merasa diremehkan.

"Jadi kamu serius?"

"Iya. Selama itu duel tangan kosong agar tidak mengganggu operasional tugas, saya bersedia."

"Apa-apaan itu. Jadi maksudmu kalau cuma tangan kosong, kamu tidak akan terganggu? Melawan aku?"

"Saya memiliki kepercayaan diri untuk itu."

"Hee, kalau begitu aku terima provokasimu."

Residen yang baik hati dan pendiam itu biasanya tidak pernah memprovokasi orang lain.

Lantas, mengapa ia melakukannya?

Kemungkinan besar, ia melihat aura dari perlengkapan Shikkoku yang keluar otomatis karena merasa terancam, dan menganggapnya sebagai tanda bahwa Shikkoku sedang dalam suasana hati yang buruk.

Demi mengembalikan suasana hati tuannya dan membiarkannya membaca buku dengan tenang, Residen berusaha mengalihkan perhatian Layla kepada dirinya sendiri.

"……Pak Residen, apa Anda benar-benar bisa melakukannya? Jangan memaksakan diri."

"Jika menggunakan senjata, itu akan menjadi wilayah Layla-sama. Itulah sebabnya saya menjawab seperti tadi."

"Be-begitu ya."

Residen terus berusaha menarik perhatian Layla agar Kai bisa terlepas dari gangguannya. Dan sepertinya rencana itu berhasil, karena alis Layla tampak berkedut kesal.

"Kalau begitu, ayo segera ke halaman. Kamu berani sekali bicara besar di hadapanku."

"Mohon bimbingannya."

"Lalu, buat kamu yang bilang membaca itu pekerjaan."

"A-ada apa?"

"Kalau dia bisa memuaskanku dalam duel ini, aku tidak akan memaksamu duel lagi."

"Aku pegang kata-katamu, ya."

"Aku tidak akan menarik ucapanku."

Begitulah awal mula duel mereka berdua. Lawan Residen adalah si Layla itu.

Meski sempat khawatir kalau Residen akan terluka dan menonton dari balkon kediaman, perasaan Kai sedikit lega.

Duel yang terjadi di bawah sana sulit diikuti dengan mata telanjang, namun entah kenapa ia merasa Residen yang memegang kendali.

Mengingat betapa kuatnya Layla, ini terasa aneh. Namun alasan di balik situasi ini terungkap secara tidak sengaja. Saat Layla kembali terdesak oleh serangan Residen.

"Aku paham sekarang. Dulu kamu Treasure Hunter tipe Martial Artist, kan!?"

"Benar."

"Sudah kuduga! Jangan mengatur pertarungan yang sangat menguntungkanmu begini, dong!!"

Mendengar teriakan Layla itu—

"Jika tidak mendapatkan keunggulan ini, saya akan kalah dalam sekejap. Saya sangat mengagumi Layla-sama yang bisa bertarung seimbang di bidang keahlian saya."

"Akan kupastikan sikapmu itu berubah."

"Karena saya sudah lama pensiun, sepertinya saya hanya bisa mempertahankan potensi ini selama sepuluh menit lagi."

"Eh, staminamu sudah turun sebanyak itu!?"

"Mohon maaf."

"Kalau begitu tunggu sebentar."

Layla menghentikan duel untuk pertama kalinya. Kai pikir Layla memberinya waktu istirahat, tapi ia terlalu naif.

Layla yang mengerutkan dahi tiba-tiba menatap Kai yang ada di balkon.

"Kamu."

"……A-ada apa?"

"Karena kamu menonton terus dari tadi, berikan satu saran atau kritik, dong."

"Kepada siapa?"

"Kepadaku! Pak Residen ini kan sudah sempurna."

"……"

Mungkin karena ia seorang pecandu tempur, Layla memiliki keinginan untuk maju yang sangat tinggi. Meski ia tipe yang suka memaksa, dalam hal seperti ini ia ternyata cukup fleksibel.

"Kamu dengar tidak? Berikan aku satu saran."

"Saran…… ya."

Jika ditanya apakah Kai bisa mengikuti gerakan duel mereka, jawabannya adalah tidak sampai separuh pun. Ia bingung harus menjawab apa, namun ia mencoba memutar memori saat ia masih memainkan game ini dulu.

Meski tidak yakin 100% apakah itu relevan sekarang, ia tidak punya pilihan selain bicara.

"Anu…… kalau begitu, saat kamu melakukan tendangan kuat dengan kaki kanan, bukankah sikut kirimu menekuk hingga kepalan tanganmu menutupi wajah? Itu memang berfungsi sebagai perlindungan, tapi di saat yang sama menciptakan titik buta. Dengan refleksmu, kurasa kamu tetap aman meski tidak melakukan itu."

"! Begitu ya. Pantas saja aku selalu kehilangan kendali ritme setiap kali masuk ke pola itu."

"……Apakah Shikkoku-sama membenciku?"

"Bukan begitu, maaf ya."

Layla menyeringai senang karena mendapat informasi berharga, sementara Residen tampak sedikit kecewa karena triknya sudah terbaca. Dan entah kenapa, para penjaga di bawah sana tampak riuh.

Jika mereka salah paham dan mengira Kai bisa melihat gerakan secepat itu, ada satu hal yang ingin ia sampaikan.

Sama sekali tidak begitu, tahu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close