Chapter 4
Kontak
Lima hari telah
berlalu sejak para pengawal dikerahkan ke kediaman ini.
"Oya,
sepertinya Anda hendak bepergian hari ini."
"Karena
tidak ada masalah berarti sejak saat itu, kupikir ini waktu yang tepat."
Hari itu, Kai
bersiap-siap untuk keluar setelah sekian lama.
Selama ia menjaga
gaya hidup yang tidak mencolok, kemungkinan mata Layla—si gila perang yang
kabarnya sudah kembali ke kota—tertuju padanya seharusnya mengecil.
Begitulah
pikirnya.
"Pak
Residen, apa ada sesuatu yang kamu inginkan? Kalau ada, sekalian
kubelikan."
"Terima
kasih atas perhatian Anda. Namun, dari saya pribadi tidak ada."
"Benarkah?"
"Tentu
saja."
"Begitu
ya.... Kalau begitu, mungkin aku akan membeli camilan untuk para pengawal kalau
mereka lapar."
"Itu ide
yang bagus. Mereka pasti akan sangat senang."
"Kalau
mereka sungkan menerimanya, boleh aku minta bantuanmu?"
"Fufu,
baiklah. Serahkan saja pada saya jika saat itu tiba."
"Terima
kasih, itu sangat membantu."
Mungkin ia
terdengar terlalu pencemas, tapi dampak mental jika pemberiannya ditolak akan
cukup besar.
Demi menikmati
jalan-jalan setelah sekian lama, ia tidak ingin keluar dengan membawa rasa
cemas.
(Nah, hari ini
mau main ke mana ya. Mumpung sempat, mungkin coba keluar gerbang kota....)
Dengan mata yang
berbinar penuh semangat, Kai mengambil kotak cincin dari laci.
Ini adalah hadiah
tanda terima kasih dari keluarga Albrela yang memegang jabatan kepala serikat
dagang.
Sebuah Magic
Item dengan efek membatalkan satu kali kematian instan.
(Serius, cuma
ada ini saja rasa amannya beda seratus kali lipat.)
Setelah
menyematkan cincin perak berkilau itu di jari telunjuk, ia mulai mengenakan
perlengkapan Shikkoku.
Penyebab kematian
seperti 'kematian instan' memang sangat spesifik.
Meski tidak bisa
dibilang asuransi yang sempurna, tapi memiliki sesuatu yang akan menggantikan
nyawanya di saat darurat terasa sangat memikat.
Kenyataannya, ini
adalah item yang sudah tak terhitung berapa kali menyelamatkannya saat masih
bermain di dalam game.
(Kalau bisa,
aku ingin punya 50 buah lagi.... Semoga suatu saat aku bisa mendapatkannya
dengan tanganku sendiri.)
Tempat untuk
mendapatkan cincin ini hanyalah di Dungeon Level 5 ke atas.
Tepat saat ia
sedang membayangkan dirinya menjelajahi dungeon, ia merasakan sebuah tatapan
dari depan.
"....Ah."
Begitu mata
mereka bertemu tanpa sengaja, ia melihat sang Residen yang tengah menatapnya
dengan ekspresi menahan tawa.
"Meski saya
rasa ini perjalanan untuk urusan pekerjaan, silakan bersenang-senang, ya."
"Hahaha,
memalukan sekali.... Tadi aku melihat cincin ini dan tidak sengaja terpikir
soal dungeon."
Kai segera
mengenakan helm zirahnya untuk menyembunyikan rasa malu di balik penutup wajah.
"Saya juga
sama. Tapi kalau saya bilang begitu, mungkin terdengar seperti bualan ya?"
"Eh?"
"Sebenarnya,
item pertama yang saya dapatkan saat pertama kali menantang Dungeon Level 5
adalah Magic Item itu."
"Be-benarkah!?"
"Iya.
Cincinnya langsung saya jual, tapi uangnya saya pakai untuk bersenang-senang
dengan rekan-rekan. Itu kenangan yang indah."
"Hoo. Pasti
menyenangkan sekali ya...."
Kai sangat
menyukai cerita tentang Treasure Hunter maupun dungeon.
Persiapannya
terhenti, ia kini justru tampak sangat antusias mendengarkan.
"Omong-omong,
apakah Pak Residen masih tertarik pada dungeon?"
"Begitulah.
Meski sudah pensiun, perasaan saya masih sama seperti dulu. Di rumah maupun di
ruang kerja, saya mengoleksi banyak buku tentang hal itu."
"!"
Informasi yang
tak terduga pun ia dapatkan.
"Pak
Residen, aku akan bayar, jadi bolehkah aku membaca buku-buku itu? Aku sangat
penasaran."
"Fufu, saya
pinjamkan gratis, jadi silakan minta kapan saja Anda mau."
"Terima
kasih banyak. Aku berutang budi padamu."
"Sama sekali
tidak."
(Begitu
pulang nanti, aku harus segera meminjamnya.)
Sambil
menyusun rencana itu di kepala, ia mengambil kantong uang dan senjatanya.
Semua
persiapan telah selesai.
"Oke.
Kalau begitu, aku berangkat. Sepertinya aku tidak akan pulang terlalu
telat."
"Hati-hati
di jalan."
"Ya."
Setelah
berpamitan dengan sang Residen dan para pengawal, ia pun meninggalkan kediaman.
Hari ini,
tempat yang akan dijelajahi sudah ditentukan.
Ia
berjalan lurus membelah kota, melewati gerbang besar yang menghubungkan dengan
dunia luar, dan melangkah menuju padang rumput yang luas.
—Tanpa
menyadari adanya sosok yang membuntutinya dari belakang.
◆◇◆
"Wah,
luar biasa. Memang seharusnya aku keluar rumah sesekali."
Di luar kota.
Mungkin sudah
satu jam berlalu.
Kai yang berjalan
dengan perlengkapan penuh dengan suasana hati riang menggumamkan perasaan
senangnya.
Entah kenapa ia
sekarang hidup di dunia game yang dulu ia mainkan sampai tamat, namun ada
pemandangan-pemandangan yang tidak terlihat saat masih di dalam game.
Rasanya seperti
sedang melakukan napak tilas ke tempat suci tapi dengan nuansa baru, hanya
berjalan-jalan saja sudah terasa menyenangkan.
(Yah, walau
ini satu-satunya cara bersenang-senang sendirian yang bisa kutemukan saat
ini....)
Mari kesampingkan
fakta menyedihkan itu sejenak.
Terhadap opini
seperti 'Harusnya lakukan hal yang menarik saja. Harusnya jadi Treasure Hunter
saja,' atau 'Harusnya kumpulkan harta dan item di dungeon saja,' Kai akan
mengangguk setuju. Ia sepakat dengan perasaan itu.
Bahkan di game
saja sudah seseru itu. Jika menaklukkannya sekarang dengan mengandalkan seluruh
panca indra, pasti akan menjadi petualangan yang luar biasa menyenangkan.
Namun,
masa lalu dan sekarang berbeda.
Ada perbedaan
bernama "nyawa menjadi taruhannya".
Bahkan luka kecil
saja pasti akan terasa sakit.
Apalagi di
dungeon, tidak hanya ada monster yang menyerang dengan otot saja, tapi juga ada
jebakan kejam dan area dengan status abnormal yang mustahil dihindari.
(Menantang
hal itu benar-benar tindakan nekad.... Aku tidak punya rekan, dan kemampuanku
sendiri pun masih kurang....)
Sejujurnya,
ia ingin masuk ke dungeon.
Ingin merasakan
pengalamannya meski hanya sedikit.
Tapi saat
terpikir bahwa itu mungkin akan merenggut nyawanya, kakinya terasa berat.
Selama
kemampuannya belum setara dengan senjata dan zirah yang ia pakai, bersikap
hati-hati adalah pilihan yang wajar.
"Tapi, suatu
saat nanti pasti.... Lagipula ada cincin pembatal kematian instan untuk saat
darurat, dan aku juga ingin melihat Demi-Human...."
Di kota bagian
selatan yang hanya dihuni ras manusia ini mereka memang tidak terlihat, tapi
jika pergi ke pusat Ibukota yang sangat makmur, ras lain seperti Beastman, Elf,
atau Dwarf pasti ada.
Karena sudah
sampai di dunia ini, ia ingin melihat mereka sama seperti keinginannya melihat
dungeon.
(Untuk itu,
setidaknya aku harus punya kekuatan untuk menang melawan bandit.... Hmm.)
Sambil berpikir
serius hingga tak tampak seperti sedang jalan-jalan, ia melangkahkan kaki
setapak demi setapak menuju area hijau yang lebih rimbun.
"Ah...."
—Namun, ia segera
menyadari bahwa tempat itu sudah sepi orang.
Jika diserang
seseorang di sini, ini adalah area di mana ia tidak akan bisa mendapatkan
bantuan siapa pun.
Meski ia
penasaran dengan jalan di depan, bukan berarti ia tidak bisa bersenang-senang
jika tidak ke sana.
(Utamakan
nyawa, ayo kembali saja....)
Tepat saat ia
memantapkan niat untuk berbalik arah.
Kiiiiiiiiiiiiiiiiiii
Bersamaan dengan
suara melengking tidak nyaman seperti suara nyamuk di telinganya.
"!"
Sentakan kuat
yang luar biasa hingga membuatnya spontan berteriak menjalar dari belakang
kepala ke seluruh tubuhnya.
Jari telunjuknya
terasa panas seperti terbakar, dan sensasi mengenakan cincin seketika lenyap.
(Eh, e.... eh!? A-apa!? Apa yang terjadi!?)
Hilangnya Magic Item tersebut menandakan efek Instant
Death Resistance telah aktif.
Sebuah serangan
mendadak tanpa peringatan apa pun.
Saking
terkejutnya—mungkin yang paling mengejutkan dalam hidupnya—ia bahkan tidak bisa
mengeluarkan suara.
Sambil memegangi
kepalanya yang terbungkus helm zirah, ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk
mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Lalu, mata Kai
menangkap sosok itu.
—Seorang
wanita berdiri dengan angkuh sambil mengarahkan pistol sihir transparan yang
tampak seperti terbuat dari kristal ke arahnya.
"Khfufu,
ternyata itu memang bohong ya. Serangan jarak jauh sama sekali tidak mempan padamu."
"...."
"Lagipula,
kamu bahkan tidak membiarkanku membaca gerakanmu sedikit pun. Kamu bahkan tidak mencoba
menghindar, benar-benar pria yang menarik."
"...."
Meski Kai
hanya diam, mulut lawan tidak berhenti bicara.
"Tentu saja, karena kamu penuh celah, aku sudah menduga pasti ada sesuatu. Aku sudah memperhitungkannya dengan baik, tahu."
"............"
"Lagi
pula, zirah itu keras sekali, sih. Bahan apa yang dipakai sampai bisa memantul begitu saat terkena Magic
Bullet-ku? Padahal biasanya tembakanku selalu tembus seratus persen."
Setelah
menyelesaikan protesnya, sosok itu menukikkan alisnya yang tertata rapi. Ia berdiri sambil berkacak
pinggang dengan pose merajuk yang khas.
(Kalau
zirahnya tidak penyok, kenapa tadi muncul indikator Instant Death di
pandanganku……? Lagi pula, menembak kepala orang secara tiba-tiba itu
benar-benar gila, tahu……Tunggu—)
Justru
karena situasi ini terlalu absurd, Kai malah bisa bersikap tenang secara paksa.
"Halo?
Tolong ya, jangan mengabaikanku begitu saja. Kalau kamu tidak mengenalku sih
masih maklum, tapi mustahil kamu tidak tahu siapa aku, kan?"
"……Layla
Michelle."
"Yup,
benar. Aku tidak menyangka kamu bakal menjawab dengan nama lengkapku,
sih."
"Eh?"
Layla menjawab
tanpa rasa tegang sedikit pun. Ia mengembalikan pistolnya ke dalam holster di
paha, lalu menunjukkan sikap siap berbincang.
Meski bertemu
kembali dengan karakter game favoritnya, Kai sama sekali tidak merasa terharu.
Seluruh waktunya saat ini hanya dipenuhi oleh rasa ngeri.
"Itu
informasi yang tidak akan diketahui jika tidak menggali terlalu dalam. Bahkan
nama registrasiku sebagai Treasure Hunter saja cuma 'Layla'."
"Begitu ya. Aku tidak tahu."
"Kamu
benar-benar sulit ditebak ya."
"Itu salah
paham."
"Iya,
iya."
Layla menatapnya
dengan tatapan menyelidik, seolah curiga ada sesuatu yang disembunyikan.
Padahal, Kai sudah mengatakan semuanya dengan jujur.
Suaranya
terdengar datar seperti robot karena ia sedang berada di ambang kematian.
"Lalu, apa
tidak bisa kamu berhenti mencoba membunuhku dengan serius?"
"Apa
maksudmu?"
"Kamu
menembak tepat ke arah kepala pria yang—mungkin tidak bisa dibilang baik hati,
tapi setidaknya—orang biasa ini. Benar-benar sulit dipercayai."
"Aku tidak
berniat menghabisimu, kok! Dengan perlengkapan selevel itu, mustahil kamu tidak
bisa menghindarinya."
"Lagi pula,
berhentilah berlagak lemah sementara kamu mengeluarkan aura mengerikan seperti
itu."
"Ini keluar
sendiri, tahu."
"Tuh, bicara
aneh lagi."
Layla tampaknya
menganggap Kai sebagai sosok yang setara. Tidak ada rasa bersalah yang
terpancar darinya.
Mengingat
perlengkapan yang Kai pakai, wajar jika hal ini terjadi. Namun, Kai benar-benar
ingin dimaafkan dari situasi gila ini.
Aura penekan yang
terpancar darinya muncul karena ia merasa terpojok. Itu hanyalah Skill Oppression
yang aktif otomatis dari perlengkapannya.
"Hei, ayo
kita duel sebentar. Mengingat kamu tahu nama lengkapku, berarti kamu orang dari
'sisi sini' juga, kan?"
"Kalau
rekan, ayo temani aku. Kalau tidak mau, akan kuanggap sebagai musuh dan kutahan
sekarang juga."
"……"
Layla terus
memangkas jarak dan mencoba mengintip wajah di balik helm Kai. Normalnya, itu
akan terlihat sebagai gestur yang imut.
Tapi tidak untuk
saat ini. Ini pertama kalinya Kai tidak merasa senang saat diajak 'bermain'.
Ini pertama
kalinya ia merasakan kata-kata itu sebagai ancaman horor. Sebagai orang yang
baru saja ditembak kepalanya, didekati saja sudah membuatnya merinding.
"Fufufun,
baiklah kalau begitu."
Dengan kecepatan
kilat, Layla melompat ke belakang untuk mengambil jarak. Ia kemudian mencabut
pedang yang tergantung di pinggangnya.
Meskipun Kai
belum setuju, Layla sudah sepenuhnya masuk ke mode tempur.
"O-oi,
tunggu dulu……"
"Apa?"
Sepertinya
sakelar bertarungnya sudah menyala. Layla memiringkan kepala sambil tersenyum,
melakukan ayunan pemanasan dengan ringan.
Detik itu
juga, sebuah fenomena terjadi. Meskipun bilah pedangnya tidak menyentuh apa
pun, tiga pohon di sampingnya tertebas sehalus kertas.
Pohon-pohon itu
tumbang dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.
(Ti-tidak,
tidak, tidak, tidak……)
Saat
masih bermain game, Kai pernah melihat adegan yang sama sebagai kemunculan
perdana Layla. Namun saat menyaksikannya secara nyata, dampaknya berada di
level yang berbeda.
"Ah! Kamu
lebih suka pakai senjata atau tangan kosong? Secara pribadi, aku lebih suka
pakai senjata, sih."
"Aku
tidak berniat bertarung."
—Tepatnya,
aku tidak berada di level untuk bisa bertarung denganmu.
"Hah!?
Padahal kamu sudah memancingku. Bukankah ini tempat yang sempurna untuk
mengamuk!"
"Aku
tidak merasa memancingmu."
"Lalu kenapa
kamu datang ke tempat seperti ini?"
"……Eksplorasi.
Jalan-jalan."
"Apa yang
kamu bicarakan, sih?"
"Apa yang
kubicarakan? Ya sesuai kata-kataku tadi."
Layla menampakkan
wajah yang sangat curiga. Entah kenapa, meski Kai berkata jujur, orang-orang
sering kali tidak memercayainya.
(Lagipula kenapa bisa berpapasan…… Apa karena aku
membuntutinya terus, dia jadi salah paham kalau aku sedang memancingnya……?)
Bertemu
di tempat seperti ini benar-benar sebuah kebetulan yang fatal. Namun bagi
Layla, kemungkinan Kai sengaja memancingnya terasa lebih masuk akal.
"Ah,
mungkinkah kamu sedang bertugas? Sedang berpatroli?"
"……"
Padahal
ia sudah menjawab jujur, tapi kenapa salah pahamnya malah menjadi seperti itu?
Kai tidak bisa mengejar logika itu dan hanya bisa terdiam bingung.
"Begitu
ya. Kamu memang hebat karena
tetap menjaga kerahasiaan tugasmu bahkan di hadapanku. Aku mengerti garis
besarnya."
"……Begitu
ya."
Sebenarnya tidak
ada kewajiban menjaga rahasia bagi Kai. Layla pasti salah paham, tapi
setidaknya itu adalah kesalahpahaman yang menguntungkan.
Demi pulang
dengan nyawa utuh, ia akan memanfaatkan kesalahpahaman itu. Ia akan menggunakan
pengetahuannya bahwa Layla adalah anggota organisasi Vertal.
"Hei, ini
cuma perumpamaan ya. Anggaplah kamu ada di sisi 'sini', lalu aku mengganggu
pekerjaanmu. Kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan?"
"……Melapor
ke atasan."
"Lalu
hukuman untukku apa?"
"Anu…… kamu
akan kehilangan kedudukanmu."
"Hah?
Maksudnya pemecatan!?"
"Yah,
begitulah."
"!!"
Karena Layla
mengira Kai anggota organisasi, menyebutkan hukuman terberat ternyata adalah
langkah yang tepat. Kai berhasil melihat wajah Layla yang menampakkan
kegelisahan untuk pertama kalinya.
"Ja-jangan
bercanda. Itu terlalu kejam, tahu."
"Tidak
juga."
"Kamu tahu
tidak seberapa besar aku menantikan hari ini!? Sampai-sampai aku memohon pada
penjaga gerbang agar melapor kalau kamu keluar kota!"
"Mengganggu
pekerjaan secara sengaja memang akan berakhir seperti itu."
"Ugh……"
(Sampai mengancam penjaga gerbang segala, dia ini seniat apa
sih……)
Melihat ide gilanya yang benar-benar dilaksanakan,
sepertinya dia memang sangat menantikan hari ini. Namun, itu tidak membuat Kai
merasa ingin dihajar sampai babak belur.
"Kalau
begitu, aku akan menganggapmu musuh. Dengan begini tidak masalah, kan?"
"Pemecatan."
"Hei,
kamu benar-benar tidak mau bertarung!? Sebentar saja juga tidak apa-apa!"
"Pemecatan."
"Ah,
sudahlah! Kalau bakal begini, mending dari awal kuanggap musuh saja! Ini semua
gara-gara kamu menjawab pakai nama lengkap!!"
"Benar.
Menyerah adalah keputusan yang bijak."
Dengan kecepatan
kilat, Layla mengembalikan pedangnya ke sarung. Ia berjongkok sambil memegangi
kepalanya yang bergoyang frustrasi.
Kai
memperhatikannya merajuk selama tiga detik. Seolah sudah mengganti suasana
hatinya, Layla berdiri tegak dengan wajah serius.
"Hah, ya
sudah. Kalau begitu aku akan membuntutimu sampai pekerjaanmu selesai. Setelah
itu, temani aku duel."
"Setelah
pekerjaan ini selesai, aku punya tugas membaca buku."
"Membaca itu hobi, bodoh. Mengalah sedikit, dong."
"……"
Kai tidak menyangka akan diperintah dengan nada sekasar itu.
(Sepertinya aku tidak akan bisa kabur. Apa aku harus
melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pertarungan agar bisa
melepaskannya……?)
Dari obsesinya
untuk terus membuntuti, Kai merasakan hal itu dengan kuat.
(Cara
mematahkan bendera event selain dengan duel……)
Jika
tidak mematahkan benderanya, ia pasti mati. Di tengah aura mencekam Layla, Kai
memutar otak mencari solusi.
Satu ide
terlintas—satu-satunya taruhan hidup dan mati yang ia punya. Kai berusaha agar
kakinya tidak gemetar, lalu menghela napas panjang sambil menundukkan
kepalanya.
"Hah?
Apa-apaan sikapmu itu?"
"Sejujurnya,
orang sepertimu bukan tandinganku. Duel ini hanya akan jadi tontonan yang tidak menarik."
"He-heee.
Berani sekali kamu meremehkanku."
"……"
(Jangan takut,
aku…… Dia memang terlihat sangat marah, tapi jangan takut……)
Urat nadi
menyembul di dahi Layla. Aura merah bergejolak di sekitarnya, seolah-olah petir
menyambar di udara yang terdistorsi.
"Ha,
haha……"
Tekanan
keberadaannya benar-benar di level yang berbeda.
"Kalau
punya waktu buat tertawa, mending siapkan senjatamu. Ah, lupakan soal senjata. Aku ingin memukulmu sampai puas."
"Makanya
kubilang. Kamu bukan tandinganku."
"Cih, kalau
begitu akan kuberi pelajaran…… Kamu yang memprovokasi duluan, jadi jangan
bawa-bawa soal pemecatan lagi ya."
Tepat setelah
Layla mengatakannya, mana miliknya meluap hebat. Angin puyuh tercipta di tempat
itu hingga Kai hampir kehilangan keseimbangan.
Pepohonan
menjerit tertiup angin dan daun-daun berterbangan liar. Debu pun membubung
tinggi, menciptakan titik buta yang menyembunyikan sosok Layla.
(……)
Kai, yang
keringat dinginnya mengucur deras, menyampaikan apa yang ada di kepalanya
dengan nada datar. Ia tidak punya cukup keberanian untuk menyisipkan emosi ke
dalam suaranya.
"—Setelah
menyiapkan posisi tempur, kamu akan menerjang dengan kecepatan penuh tanpa
melakukan tipuan demi masuk ke jarak tembak."
"!"
"Begitu
masuk jarak tembak, pertama kamu akan melayangkan pukulan ke tubuh. Lalu
menendang rusuk, diikuti dua pukulan ke wajah. Satu tendangan ke dagu, dan satu
pukulan ke pelipis."
"Ha……"
Begitu Kai
selesai mengatakannya, mana Layla mendadak reda. Keheningan menyelimuti tempat
itu.
"Selanjutnya
kamu akan melakukan bantingan, dan jika berhasil, satu serangan ke ulu hati.
Pertama kamu akan menggunakan pola ini untuk mengukur kekuatan musuh,
kan?"
"Jika
belum selesai, kamu akan mengurangi serangan fisik dan beralih ke pola serangan
berbasis sihir."
Kai mengingat
seluruh pola serangan Layla di luar kepala. Masalah fatalnya, ia hanya tidak
punya kemampuan fisik untuk bereaksi terhadap serangan itu.
"Aku tahu
cara bertarungmu. Dan kamu pasti tidak sadar kalau pola tindakanmu sudah
terbaca. Kamu tadi benar-benar berniat menyerang seperti yang kukatakan."
"Ja-jadi
maksudmu hasilnya sudah ditentukan? Dengar ya, aku tidak berniat menyerang seperti itu. Kalau aku sadar sudah terbaca, aku akan
ganti polanya!"
"Kanan."
"Eh?"
Demi menjaga
kendali, Kai tidak mendengarkan gertakan Layla. Begitu Kai menunjuk ke arah
kanan dengan telunjuknya, Layla langsung menoleh ke arah tersebut.
Tentu saja, tidak
ada apa pun di sana.
"Lihat, kamu
itu mudah tertipu. Tergantung lawannya, celah tadi bisa saja membuatmu
kehilangan satu atau dua patah tulang."
"Itu curang!
Menjijikkan! Benar-benar menjijikkan! Lagi pula, tadi aku sedang mengendurkan
sakelar tempurku!"
"Sepertinya
alasan seperti itu tidak akan laku di saat darurat."
"!!"
Seketika itu
juga, momentum Layla berhenti total. Kai yakin ia berhasil mematahkan bendera
pertarungan dengan membuat Layla berpikir dirinya telah kalah.
(Entah bagaimana…… aku berhasil melewatinya……)
Ia benar-benar berterima kasih pada dirinya di masa lalu
yang memainkan game ini sampai tuntas.
"Kalau
begitu aku permisi dulu. Aku sedang di tengah pekerjaan."
"Tunggu!
He-hei, tunggu dulu!! Kamu
pikir sudah menang dariku dengan cara begitu!? Ku-kubilang tunggu!!"
"Ditolak."
"Aaaaah!"
Jika ia
memilih untuk menunggu, ronde kedua akan dimulai. Kai pun lari terbirit-birit dengan kecepatan
penuh.
◆◇◆
"Apa yang
kamu lakukan? Larimu lamban sekali. Kamu sengaja ingin kukejar ya?"
"Hah, hah.
Ma-mana mungkin……"
"Kalau
begitu larilah lebih cepat. Meski itu pun tidak akan bisa membuatmu lepas
dariku."
Lima menit
kemudian, Layla berhasil mengejar Shikkoku yang mencoba kabur.
"Lagipula, hah…… kenapa kamu, mengikutiku……"
"Sudah pasti
karena aku mau duel setelah pekerjaanmu selesai. Mana mungkin aku puas dengan
cara begitu."
(Benar-benar,
apa-apaan sih orang ini…… Dia sama anehnya seperti yang dikatakan Schwarz.)
Layla mengerutkan
dahi sambil berjalan di samping Shikkoku. Kejadian tadi benar-benar membuatnya
terusik karena semua ucapan Shikkoku tepat sasaran.
Ia menyadari
bahwa gerakannya terbaca sempurna. Pria ini membuktikan bahwa ucapan "Kamu
bukan tandinganku" adalah fakta.
Pria yang
hebat seperti itu—.
Meskipun
hebat, ia justru berlari sangat lamban dan napasnya tersengal-sengal hanya
dalam hitungan menit.
(Orang
yang sulit ditebak begini, dari mana Vertal mendapatkannya……)
Kemungkinan dia
hanya pintar tanpa kemampuan tempur sempat terlintas, tapi itu mustahil. Ia
memiliki perlengkapan dari Dungeon Level 8 yang bahkan belum pernah ditembus
Layla.
Artinya,
dia sengaja berakting lemah. Benar-benar penuh kontradiksi.
"Ngomong-ngomong,
apa kamu tidak mau menghilangkan aura mengerikan itu? Aku punya Skill
resistansi jadi tidak masalah, tapi orang lain pasti akan pucat pasi."
"Aura
ini akan hilang kalau kamu berhenti menggangguku. Jadi aku ingin kamu pulang
hari ini."
"Begitu
ya. Kalau bicaramu sejahat
itu, biarkan saja auranya keluar terus."
"Akan
kujelaskan pada orang-orang kota kalau aku diikuti orang aneh di sampingku ini.
Aku akan bilang ini salahmu."
"Silakan
saja. Aku memang tidak disukai orang sekitar, dan mereka juga takut
padaku."
Sayangnya ancaman
itu tidak mempan. Layla tidak akan puas sebelum mereka berduel sekali lagi.
"Hah. Itu
karena kamu selalu memaksakan duel. Kalau kamu bisa lebih tenang, pandangan orang pasti akan berbeda."
"Aku
cuma membantu membuat semua orang jadi lebih kuat. Lagipula, menunjukkan
keberadaan seperti ini bisa menjadi pencegah bagi orang jahat, kan?"
"Itu cuma
alasan, sebenarnya kamu cuma ingin menggerakkan tubuhmu saja. Aku sudah
tahu."
"……Menyebalkan."
Hanya itu yang
bisa ia katakan. Ia merasa ngeri karena pria ini tahu segalanya.
"Hei, lain
kali mau masuk dungeon denganku? Level 8."
"Pekerjaanku
sibuk. Ke depannya waktu untuk membaca buku juga akan bertambah."
"Kalau
begitu kurangi saja waktu bermain Board Game-mu."
"!? Da-dari
mana kamu tahu informasi itu……"
"Serius,
kalau kamu bereaksi begitu, aku jadi malas bicara."
(Mana mungkin dia
tidak tahu kalau aku dan Schwarz itu berhubungan.)
Bagi Layla,
reaksi Kai terlalu berlebihan.
"Yah, kalau
kamu bersikap begitu karena tidak mau bicara denganku, rasanya aku harus
memberi satu pukulan ke rusukmu."
"Bukannya
aku tidak mau bicara."
"Ara,
jawaban instan yang tak terduga."
Layla merasa
sedikit senang meski Kai masih mengeluarkan aura mengerikan.
"Tak
terduga? Kupikir berjalan sambil mengobrol itu lebih menyenangkan daripada
berjalan sendirian."
"Ah, aku
tahu hal yang jauh lebih menyenangkan, lho."
"……"
"Mau
dengar? Kamu mau dengar, kan?"
"…………"
"Jangan
abaikan aku, dong. Serius."
"Aku
tidak perlu menduga jawaban apa yang akan keluar."
"Kamu
tidak asyik ya."
"Maaf
ya."
(Meski permintaan
maafnya terdengar tidak tulus…… entah kenapa dia mudah diajak bicara.)
Ada kemungkinan
pekerjaan Kai berlanjut sampai malam, tapi Layla merasa itu bukan hal yang
buruk.
"Ngomong-ngomong,
sampai kapan kamu berencana tinggal di kota ini?"
"Hm?"
"Secara
pekerjaan, kamu tidak mungkin bisa terus berada di kota ini, kan?"
Jika memegang
kendali seluruh wilayah, mustahil ia menetap di satu kota.
"Ah— tidak, bagaimana ya…… kalau aku melakukan ini dan
itu, menetap itu memungkinkan saja."
"Hee."
"Tapi ya, sepertinya sebentar lagi aku berencana pindah
markas. Aku ingin melihat-lihat berbagai hal."
"Begitu ya. Kamu beruntung bisa menjadikan hobi sebagai pekerjaan. Sama
sepertiku."
"Ha,
haha……"
Kai membalas
dengan tawa kering yang canggung.
"Tapi kalau
kamu pindah markas, bukankah para putri dari Tiga Puncak akan merasa kesepian?
Kudengar mereka sangat menempel padamu."
"Apa kamu
sedang mencoba menahanku?"
"Tentu saja.
Kalau kamu pergi, aku tidak punya lawan duel yang sepadan lagi."
"……Kembalikan
rasa senangku yang cuma sesaat tadi."
"Kamu
senang? Ah, kamu kan memang jomblo ya."
"Benar-benar
deh, dari mana sih kamu dapat informasi begitu……"
"Iya,
iya."
Setiap
kali Layla menyebutkan informasi dari Schwarz, Kai selalu berakting tidak tahu.
Layla pun punya ide baru.
"Ah,
benar juga. Kalau kamu sendirian, bagaimana kalau malam ini aku menginap di
kediamanmu saja?"
"Hah?"
"Repot
kan kalau harus pulang setelah duel. Aku akan bayar, jadi biarkan aku
menginap."
"Tu-tunggu
dulu. Kamu berniat mengikutiku sampai rumah?"
"Berduel
di sana akan lebih menguntungkan bagimu, kan? Begini-begini aku juga perhatian padamu,
tahu."
"Tidak,
berduel itu sendiri sudah merugikanku."
"Asal kamu
tahu ya, aku akan terus di sampingmu sampai kamu mau berduel. Kalau perlu, aku
akan menempel di punggungmu dan tidak akan lepas."
Layla ingin
mendapatkan kesempatan membalas dendam setelah "kalah" dalam adu kata
tadi.
"Tolong
ampuni aku."
"Di dalam
hati kamu sebenarnya tidak keberatan, kan? Kalau mau aku menempel di
punggungmu, akan kulakukan sekarang, lho."
"Rasa
takutku lebih besar daripada rasa kagum pada kecantikanmu, jadi aku tidak
senang."
"Oho, jadi
kamu tidak membantah kalau aku cantik ya? Nilai plus untukmu."
"Tapi
sayangnya kepribadianmu itu sangat disayangkan."
"Khfufu, nanti akan kubunuh kamu."
Aku sudah
memutuskan.
Malam ini, aku
harus menginap di kediaman itu.
Lalu, sebuah
pikiran kembali melintas. Meski pekerjaan Shikkoku mungkin akan molor sampai
larut malam, berada di sisinya rasanya tidak buruk juga.
Ia terus
melontarkan kata-kata pedas padaku.
Biasanya hal
seperti ini tidak akan pernah terjadi, dan karena kalimat-kalimatnya membuatku
merasa setara, aku justru merasa senang.
◆◇◆
Waktu di mana
senja mulai tenggelam ditelan kegelapan malam.
"Shi-Shikkoku-sama!?
A-apa yang terjadi sampai Anda mengeluarkan aura se-se-se-seperti itu!?"
"Aku sedang
dikuntit habis-habisan. Karena nyawaku terancam, makanya jadi begini."
"Penyebab
aku membuntutinya adalah orang ini, lho. Dia yang membocorkan informasimu padaku."
"Le-Layla-sama!?
Tolong ampuni saya……"
"Aku tahu
kamu diancam oleh orang di sebelahku ini. Aku tidak marah padamu, malah
sebaliknya, kamu pasti ketakutan sekali. Aku sungguh bersimpati."
"Saya sangat
berterima kasih atas kebaikan Shikkoku-sama……"
"Tidak
perlu memanggilku dengan sebutan 'orang ini' juga, kan?"
Kai dan
Layla telah kembali ke gerbang utama yang menjadi pintu masuk kota. Di sana,
mereka terlibat percakapan dengan penjaga gerbang yang menghampiri dengan
tergesa-gesa.
"Pak
Penjaga, bisakah kita menangkap orang ini dengan tuduhan penguntitan?"
"Hah?"
"Mohon
maaf sebesar-besarnya…… Menurut
hemat saya, Shikkoku-sama pasti bisa menangani masalah ini sendiri. Untuk saat
ini, tidak ada yang bisa kami lakukan selain memberikan peringatan kepada
Layla-sama."
"Jika Anda
mengalami kerugian fisik atau mental, bisakah Anda berkonsultasi kembali dengan
kami nanti……?"
"Tidak,
kalau kerugian mental sih, aku sudah—"
"Khfufu,
rasakan itu. Aura seperti itu pasti karena alasan lain, kan? Bukannya bikin
'susah tidur' atau semacamnya."
Layla yang sedang
dalam suasana hati yang baik memukul-mukul zirah Kai dengan telapak tangannya.
Ia tampaknya sudah paham bahwa pengaduan penguntitan itu hanya akan berakhir
dengan respons formal seperti tadi.
Karena segalanya
berjalan sesuai rencana Layla, Kai jadi ingin memberikan perlawanan meski hanya
hal sepele.
"……Kalau
begitu Pak Penjaga, tolong beri dia peringatan saja."
"Ba-baik,
dimengerti. Anu…… Layla-sama, mohon tahan diri Anda dari tindakan
membuntuti Shikkoku-sama."
"Iya, maaf
ya."
Rangkaian
interaksi itu pun berakhir. Penjaga gerbang memandang Kai dengan ragu, seolah
bertanya, 'Apakah begini saja sudah cukup……?'
Kai memandang
Layla melalui penjaga gerbang, seolah berkata, 'Dia sama sekali tidak
terlihat menyesal, tahu……' Sementara Layla hanya tersenyum lebar
seakan membalas, 'Ya iyalah'.
"……"
"……"
"……"
Keheningan yang canggung menyelimuti tempat itu selama
beberapa detik. Layla kemudian
memecah suasana.
"Kalau
begitu, kami masuk dulu ya? Tidak perlu pemeriksaan identitas, kan?"
"I-iya.
Seperti yang Anda katakan, jika itu Anda berdua, pemeriksaan identitas memang
tidak diperlukan, tapi……"
"Hmm?"
Tatapan penjaga
gerbang kembali tertuju pada Kai.
"Jika
Shikkoku-sama tidak menghilangkan…… tekanan berat itu, ada kemungkinan warga
akan jatuh dalam kepanikan……"
"Katanya
kamu tidak boleh masuk kalau tidak dihilangkan. Cepat hilangkan, dong."
"Sudah
kubilang, ini akan hilang kalau kamu berhenti menguntitku."
"Haa, kamu
benar-benar keras kepala ya. Ya sudah, karena terpaksa, aku akan melakukan ini.
Suppress."
Layla menjulurkan
tangan kanannya sambil merapalkan mantra dengan tenang. Detik itu juga, Kai
merasa seolah tubuhnya diselimuti oleh udara hangat yang nyaman.
"Eh,
seberapa kuat sih aura yang kamu keluarkan itu……? Bahkan sihirku saja cuma bisa
menahannya sampai level ini."
"Ta-tapi,
sepertinya ini sudah turun ke level yang masih bisa kami izinkan untuk
lewat."
"Begitu?
Syukurlah kalau begitu."
"Tidak
syukur sama sekali……"
Kai menggumam
pelan, namun suaranya tidak tertangkap oleh siapa pun.
"Sebagai
syarat perizinan, Layla-sama. Tolong jangan lepaskan Suppress ini sampai
Anda tiba di kediaman Shikkoku-sama."
"Dimengerti.
Karena izin sudah keluar, ayo berangkat. Waktu itu terbatas, lho."
"……"
Layla
meraih lengan Kai dan menariknya dengan paksa. Meskipun mungkin tidak terasa
sakit, pria berbaju zirah hitam itu hanya bisa pasrah diseret sambil terus
dipukuli dengan ringan.
Penjaga
gerbang hanya bisa melepas mereka dengan wajah kaku. Ia melihat pemandangan di
mana Layla justru seolah memicu amarah si pria hitam yang auranya semakin
membara.
◆◇◆
Beberapa saat
setelah Kai dan Layla memasuki area kota.
"Apakah
masih tidak ada keanehan atau anomali? Di areaku sama sekali tidak terjadi
apa-apa……"
"Area sini
juga tidak ada masalah."
"Sama halnya
denganku."
Para penjaga yang
merupakan pasukan elite dari keluarga Ardi, Ansarage, dan Albrera telah
dikerahkan ke kediaman Shikkoku. Ketiga pemimpin tim tersebut berkumpul di
taman untuk bertukar informasi.
"Malam mulai
larut, tapi status hari ini tetap nihil masalah. Begitu kah……?"
"Karena ini
permintaan langsung dari Shikkoku-sama, Tuan Besar yakin pasti akan terjadi
sesuatu. Kalian juga begitu, kan?"
Dua pemimpin
lainnya mengangguk menanggapi konfirmasi salah satu penjaga. Keluarga Ansarage
dan Albrera berjaga satu hari lebih lambat, namun sudah lima hari sejak penjaga
pertama dikirim.
Jika dalam
rentang waktu ini tidak ada tanda-tanda apa pun, wajar jika mereka mulai merasa
bingung.
"Tentu saja…… masih terlalu dini untuk menyimpulkan
'tidak terjadi apa-apa'. Masa tugas kita masih tersisa dua hari lagi."
"Memang benar, tapi melihat situasi sekarang, masalah
macam apa yang membutuhkan sampai 20 penjaga untuk diatasi—!?"
"!?"
"Apa!?"
Tepat saat mereka sedang berdiskusi secara logis, ketiganya
merasakan hawa keberadaan yang mengerikan hingga membuat bulu kuduk berdiri. Bukan hanya mereka, penjaga lainnya pun
merasakan hal yang sama.
"O-oi! Cepat
buat formasi!"
"Kita juga,
perkuat pertahanan!"
"Kalian
berdua, cepat lapor ke Residen!"
Ketiga pemimpin
itu berpencar ke area masing-masing dan segera memberikan instruksi. Hawa
keberadaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya perlahan-lahan mendekat
menuju kediaman ini.
"O-oi,
yang benar saja……"
Penjaga
dari keluarga Ardi bergumam dengan wajah pucat.
"A-apa yang sebenarnya terjadi……"
Penjaga dari keluarga Ansarage juga tak kalah terkejutnya.
"Tanpa ada
peringatan apa pun…… hal seperti ini……"
Penjaga dari
keluarga Albrera pun merasakan kengerian yang sama. Semua pengawal menghunus
senjata mereka dan bersiap siaga sepenuhnya.
Ketakutan yang
nyata membuat mereka menyadari bahwa mereka akan segera berhadapan dengan
sesuatu yang tak dikenal.
Mereka menahan
rasa takut, memantapkan tekad, dan membiarkan waktu menjawab semuanya.
Beberapa menit
kemudian, saat sosok tersebut sudah berada tepat di balik pagar kediaman.
"Lihat tuh,
kasihan para penjaganya. Mereka waspada terus gara-gara auramu."
"Kenapa bisa
tahu?"
"Meski kamu
pura-pura tidak tahu, faktanya ini tetap salahmu."
"Soal aura
ini, sudah berkali-kali kubilang kalau ini salahmu."
Terdengar
suara dua orang yang sedang bercakap-cakap. Salah satunya adalah suara yang sangat mereka
kenali.
"……"
"……"
"……"
Ketiga pemimpin
tim yang berdiri di depan akhirnya melihat sosok aslinya.
Ternyata itu
adalah sang pemilik rumah yang masuk ke propertinya sambil memancarkan aura
mengerikan.
Di sampingnya,
ada seorang wanita yang dikenal oleh siapa pun yang mendalami seni bela diri.
Dia adalah Layla, sang penakluk Dungeon Level 7.
"Aku
pulang."
"Selamat
datang kembali, Tuan!"
"Senang
melihat Anda kembali dengan selamat!"
"Kami telah
menantikan kepulangan Anda!"
"Ya, terima
kasih……"
Para penjaga sama
sekali tidak tahu kalau keduanya memiliki hubungan.
Mereka hanya bisa
terpana melihat duet maut antara Shikkoku yang berafiliasi dengan Vertal
dan Layla yang merupakan praktisi terkuat di kota ini.
"Hei, lihat,
ada banyak penjaga hebat berkumpul di sini. Hei, dengar tidak."
"……Kamu
mau duel dengan mereka?"
"Boleh!?"
"Kalau
tujuannya untuk Competition, kurasa izinnya akan keluar. Asalkan kalian berhati-hati agar
tidak cedera."
"Kalau
begitu, pinjamkan mereka padaku nanti!"
"Aku takut
kalau cuma aku yang memutuskan, jadi biarkan aku konfirmasi dulu ke
Residen."
"Kalau cuma
segitu, aku izinkan."
Sambil
berbincang seperti itu, keduanya masuk ke dalam rumah.
"…………"
"…………"
"…………"
Para
penjaga yang mengenal sifat asli Layla hanya bisa mengucurkan keringat dingin.
Dalam dua hari ke
depan, mereka akhirnya menyadari satu hal.
Waktu mereka akan
habis hanya untuk melayani duel wanita itu.
Kali ini, mereka
dikerahkan bukan karena akan ada insiden besar, melainkan demi "pekan
pelatihan intensif".
"Se-semuanya…… siapkan mental kalian!"
Suara
lantang itu bergema di tempat para penjaga berkumpul.
Satu jam
kemudian.
"……"
Suara hantaman
dan desingan angin membelah kesunyian malam di halaman tengah. Terdengar pula
suara hentakan kaki yang kuat ke tanah.
"Heh, kamu
hebat juga ya. Aku akui ucapanmu bukan sekadar bualan belaka."
"Terima
kasih banyak."
Di halaman tengah
ini, sebuah duel yang tak tertangkap mata sedang berlangsung. Pemandangannya
begitu luar biasa hingga para penjaga menonton dengan saksama.
"Haa!"
"Serangan itu sudah terbaca."
"Lho!?"
Sang Residen—meski ia sendiri tidak percaya diri—berhasil
menghindar dengan melentingkan tubuh bagian atasnya, lalu mendaratkan satu
tendangan berputar ke perut Layla.
Layla berhasil menahan serangan itu di detik terakhir, namun
kekuatannya tampaknya cukup besar hingga ia terdorong mundur beberapa meter.
Jejak kakinya bahkan tertinggal dalam di tanah.
"Ih, menyebalkan!"
"!!"
Tidak ada waktu untuk bernapas. Layla segera melancarkan serangan balasan dan
duel pun berlanjut seketika.
Bagaimana hal ini
bisa terjadi? Mari kita kembali ke beberapa puluh menit yang lalu.
"Hei, ayo
cepat duel."
"Sudah
kubilang aku ada tugas membaca buku. Izin untuk duel dengan para penjaga sudah
keluar, jadi lakukan saja dengan mereka."
"Mana
mungkin aku melewatkan hidangan utamanya."
"Para
penjaga itu hidangan utamanya, kan."
"Mereka itu
cuma makanan penutup."
Percakapan itu
berlangsung di dalam ruang kerja Residen, sementara Kai sedang sibuk mencari
buku tentang dungeon.
Berduel dengan
orang seperti Layla, meskipun ia menahan diri, tetap saja nyawa taruhannya.
Patah tulang sudah menjadi jaminan.
Saat Kai berusaha
keras menghindar, sebuah suara terdengar.
"Jika Anda
tidak keberatan, biar saya yang menjadi lawan Layla-sama."
Itu
adalah suara sang Residen.
"Eh?
Jangan bercanda. Jabatanmu bukan untuk hal seperti itu, kan."
"Dulu
saya adalah seorang Treasure Hunter."
"Aku
ini Treasure Hunter aktif, tahu! Masih berada di puncak performa!"
"Tentu saja
saya sangat memahaminya."
Seseorang
yang sudah pensiun menantang orang yang masih aktif. Bagi Layla, wajar jika ia
merasa diremehkan.
"Jadi
kamu serius?"
"Iya.
Selama itu duel tangan kosong agar tidak mengganggu operasional tugas, saya
bersedia."
"Apa-apaan
itu. Jadi maksudmu kalau cuma tangan kosong, kamu tidak akan terganggu? Melawan
aku?"
"Saya
memiliki kepercayaan diri untuk itu."
"Hee, kalau
begitu aku terima provokasimu."
Residen yang baik
hati dan pendiam itu biasanya tidak pernah memprovokasi orang lain.
Lantas, mengapa
ia melakukannya?
Kemungkinan
besar, ia melihat aura dari perlengkapan Shikkoku yang keluar otomatis karena
merasa terancam, dan menganggapnya sebagai tanda bahwa Shikkoku sedang dalam
suasana hati yang buruk.
Demi
mengembalikan suasana hati tuannya dan membiarkannya membaca buku dengan
tenang, Residen berusaha mengalihkan perhatian Layla kepada dirinya sendiri.
"……Pak
Residen, apa Anda benar-benar bisa melakukannya? Jangan memaksakan diri."
"Jika
menggunakan senjata, itu akan menjadi wilayah Layla-sama. Itulah sebabnya saya
menjawab seperti tadi."
"Be-begitu
ya."
Residen terus
berusaha menarik perhatian Layla agar Kai bisa terlepas dari gangguannya. Dan
sepertinya rencana itu berhasil, karena alis Layla tampak berkedut kesal.
"Kalau
begitu, ayo segera ke halaman. Kamu berani sekali bicara besar di
hadapanku."
"Mohon
bimbingannya."
"Lalu, buat
kamu yang bilang membaca itu pekerjaan."
"A-ada
apa?"
"Kalau dia
bisa memuaskanku dalam duel ini, aku tidak akan memaksamu duel lagi."
"Aku pegang
kata-katamu, ya."
"Aku tidak
akan menarik ucapanku."
Begitulah awal
mula duel mereka berdua. Lawan Residen adalah si Layla itu.
Meski sempat
khawatir kalau Residen akan terluka dan menonton dari balkon kediaman, perasaan
Kai sedikit lega.
Duel yang terjadi
di bawah sana sulit diikuti dengan mata telanjang, namun entah kenapa ia merasa
Residen yang memegang kendali.
Mengingat betapa
kuatnya Layla, ini terasa aneh. Namun alasan di balik situasi ini terungkap secara tidak sengaja. Saat
Layla kembali terdesak oleh serangan Residen.
"Aku
paham sekarang. Dulu kamu Treasure Hunter tipe Martial Artist, kan!?"
"Benar."
"Sudah
kuduga! Jangan mengatur pertarungan yang sangat menguntungkanmu begini,
dong!!"
Mendengar
teriakan Layla itu—
"Jika
tidak mendapatkan keunggulan ini, saya akan kalah dalam sekejap. Saya sangat
mengagumi Layla-sama yang bisa bertarung seimbang di bidang keahlian
saya."
"Akan
kupastikan sikapmu itu berubah."
"Karena saya
sudah lama pensiun, sepertinya saya hanya bisa mempertahankan potensi ini
selama sepuluh menit lagi."
"Eh,
staminamu sudah turun sebanyak itu!?"
"Mohon
maaf."
"Kalau
begitu tunggu sebentar."
Layla
menghentikan duel untuk pertama kalinya. Kai pikir Layla memberinya waktu
istirahat, tapi ia terlalu naif.
Layla yang
mengerutkan dahi tiba-tiba menatap Kai yang ada di balkon.
"Kamu."
"……A-ada
apa?"
"Karena kamu
menonton terus dari tadi, berikan satu saran atau kritik, dong."
"Kepada
siapa?"
"Kepadaku!
Pak Residen ini kan sudah sempurna."
"……"
Mungkin karena ia
seorang pecandu tempur, Layla memiliki keinginan untuk maju yang sangat tinggi.
Meski ia tipe yang suka memaksa, dalam hal seperti ini ia ternyata cukup
fleksibel.
"Kamu dengar
tidak? Berikan aku satu saran."
"Saran……
ya."
Jika ditanya
apakah Kai bisa mengikuti gerakan duel mereka, jawabannya adalah tidak sampai
separuh pun. Ia bingung harus menjawab apa, namun ia mencoba memutar memori
saat ia masih memainkan game ini dulu.
Meski tidak yakin
100% apakah itu relevan sekarang, ia tidak punya pilihan selain bicara.
"Anu…… kalau begitu, saat kamu melakukan tendangan kuat
dengan kaki kanan, bukankah sikut kirimu menekuk hingga kepalan tanganmu
menutupi wajah? Itu memang berfungsi sebagai perlindungan, tapi di saat yang
sama menciptakan titik buta. Dengan refleksmu, kurasa kamu tetap aman meski
tidak melakukan itu."
"! Begitu ya. Pantas saja aku selalu kehilangan kendali
ritme setiap kali masuk ke pola itu."
"……Apakah Shikkoku-sama membenciku?"
"Bukan begitu, maaf ya."
Layla menyeringai senang karena mendapat informasi berharga,
sementara Residen tampak sedikit kecewa karena triknya sudah terbaca. Dan entah kenapa, para penjaga di bawah
sana tampak riuh.
Jika mereka salah
paham dan mengira Kai bisa melihat gerakan secepat itu, ada satu hal yang ingin
ia sampaikan.
Sama sekali tidak
begitu, tahu.



Post a Comment