NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 3 Chapter 3

Chapter 3

Pukul Mundur Tanpa Disadari


"Dalam situasi papan seperti ini, langkah standarnya adalah menggerakkan bidak yang ini, bukan yang itu."

"Ja-jadi begitu, ya."

"Sebab jika Shikkoku-sama menggerakkan bidak yang tadi, lawan bisa memakannya di langkah berikutnya, dan itu akan menciptakan celah bagi mereka untuk membangun serangan."

"Ahhh……."

Keesokan harinya.

Di dalam ruang kerja, Kai sedang belajar bermain catur melalui format latihan tanding bersama sang Residen.

"Oleh karena itu, dengan menggerakkan bidak ini ke sini, Anda bisa memberi tekanan pada dua titik lawan sekaligus. Bidak Anda sendiri juga tidak akan termakan, jadi ini adalah langkah yang cerdas."

"Begitu, begitu. Aku paham."

(Benar-benar mudah dimengerti……)

Berkat penjelasan yang mendalam, Kai bisa langsung menangkap intinya.

Sambil mengangguk dan mencatat poin-poin penting agar melekat di ingatan, Kai menanyakan sesuatu tentang sosok yang menjadi targetnya untuk dikalahkan.

"Aku ingin bertanya, menurut pandanganmu, seberapa hebat kemampuan catur Lifia-san?"

"Apakah penilaian secara garis besar saja sudah cukup?"

"Tentu saja."

"Jika menggunakan skala satu sampai lima, Lifia-sama mungkin ada di angka 4,5. Sedangkan Karen-sama berada di sekitar angka 4."

"Eh……? Level mereka setinggi itu!?"

Karena diucapkan dengan nada yang terlalu santai, reaksi Kai sempat tertunda sesaat.

"Catur adalah keahlian standar bagi bangsawan, jadi tingkat kemahiran mereka semua memang tinggi. Namun, saya rasa Lifia-sama dan Karen-sama sangat menonjol bahkan di antara para bangsawan lainnya."

Dalam metode perhitungan sang Residen, kekuatan rata-rata berada di angka 2,5.

Kai memang sudah menyadari bahwa dirinya 'tidak mungkin menang' saat melawan Lifia, tapi ia tidak menyangka kalau gadis itu berada di puncak setinggi itu.

"Omong-omong, kalau indikator untukku kira-kira seperti apa?"

"……"

Tepat ketika Kai menghentikan tangannya yang sedang mencatat dan menunjuk dirinya sendiri karena penasaran.

Gerakan sang Residen mendadak berhenti total.

Matanya membelalak seolah tersambar petir, lalu ia menatap Kai dengan tatapan yang entah kenapa terasa canggung.

"Aku lebih senang kalau kamu mengatakannya tanpa sungkan."

"Baiklah. ……Shikkoku-sama ada di angka 2."

"Tu-tunggu, 2!? Itu di bawah rata-rata, dong!?"

"Benar."

(Se-serius……? Pantas saja dia tadi memasang wajah begitu……)

Setidaknya Kai merasa dirinya berada di level rata-rata. Karena memiliki rasa percaya diri seperti itu, hasil ini menjadi kejutan yang cukup telak baginya.

"Namun, untuk Reversi, Anda memiliki kemampuan di angka 4. Meskipun kemarin hasilnya cukup menyesakkan saat melawan Karen-sama, saya rasa kemampuan kalian setara hingga Anda bisa menyebutnya sebagai 'perbedaan konsentrasi'."

"I-itu…… terima kasih."

Mungkin karena baru saja dijatuhkan lalu kemudian dipuji setinggi langit, Kai merasa malu sekaligus sangat senang mendengar pujian itu.

"Pendapat pribadi saya, Shikkoku-sama sebaiknya tidak mengejar pertumbuhan yang instan, melainkan mengembangkan kemampuan secara perlahan selama bertahun-tahun."

"Maksudmu, berkembang perlahan itu pada akhirnya akan membuatku jadi lebih kuat?"

"Mungkin ada sisi seperti itu juga, tapi alasan utamanya adalah karena saya rasa hanya sedikit permainan yang bisa Shikkoku-sama nikmati tanpa perlu menahan diri. Dalam pertarungan fisik, melawan siapa pun bagi Anda pasti terasa seperti memelintir tangan bayi, bukan?"

"Tidak, tidak……."

(Cuma bagian itu yang sudah pasti salah total……)

Melihat penampilannya yang membawa senjata dan pelindung lengkap, dia mungkin memang terlihat kuat.

Namun, kenyataannya itu semua hanya penampilan luar.

Jika dia memang bisa bertarung semudah memelintir tangan bayi, dia tidak akan hidup bersembunyi agar tidak menarik perhatian Layla yang gila perang itu.

"Sejujurnya, kalau aku bertarung melawanmu, aku punya rasa percaya diri kalau aku yang akan kalah, lho?"

"Fufu, setelah saya mampu menghancurkan jembatan itu, barulah saya akan menganggap ucapan Anda itu setengah serius. Saya mengerti kok kalau Anda sengaja menciptakan celah dalam keseharian Anda."

"Ha, haha……."

Sama sekali tidak ada niat untuk menciptakan celah.

Namun, entah kenapa dia dianggap sedang menciptakan celah dengan sengaja.

Perbedaan kekuatan yang jauh inilah yang melahirkan kesalahpahaman tersebut. Itulah saat Kai menyadari kembali bahwa sang Residen memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri.

──Bunyi lonceng yang lembut bergema di kediaman.

Itu adalah pertanda bahwa bel di gerbang utama telah dibunyikan.

"Oh? Jarang sekali ada tamu yang membunyikan bel……. Ah, apa itu para pengawal yang aku minta?"

"Para pengawal dijadwalkan berkumpul sore nanti sesuai waktu yang ditentukan, jadi sepertinya ini orang lain. Saya akan segera memeriksanya."

"Tolong, ya. Kalau ada masalah apa pun, aku juga akan ikut turun tangan, jadi jangan sungkan untuk memanggilku."

"Dimengerti."

Setelah itu, Kai mengantar kepergian sang Residen dari ruang kerja.

Tiga menit berlalu sementara ia melanjutkan belajar sambil menggerakkan bidak catur sendirian.

Begitu ia menjawab ketukan di pintu, sang Residen muncul dengan ekspresi yang tampak agak tidak enak hati.

(Sepertinya ada sesuatu yang terjadi…… ya)

Kai menyadari perubahan suasana tersebut. Ia pun mendahului dengan menyapa sang Residen.

"Siapa tamunya? Apa ada komplain atau semacamnya?"

"Bukan, itu hanya sapaan umum dari tetangga yang akan tinggal di sekitar sini mulai minggu depan──"

"Kalau begitu baguslah…… tapi, kenapa nada bicaramu menggantung?"

Seharusnya kalimat itu berakhir sebagai pernyataan selesai, namun Kai langsung menangkap ada sesuatu yang disembunyikan dalam kata-katanya.

"Anu…… Saya mohon maaf sebesar-besarnya, tapi apakah Shikkoku-sama bisa ikut menemui tamu tersebut? Tamu ini membawa segel lambang bangsawan yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga Duke."

"……Hm?"

Jika memiliki status bangsawan, penjelasan ini mungkin sudah cukup untuk dimengerti, tapi sayangnya Kai tidak begitu.

Ia memutar otaknya keras-keras, dan akhirnya inilah yang terlintas di pikirannya.

"Ah—jadi maksudnya, karena aku sendiri memegang lambang keluarga Duke, begitulah? Semacam etika formal dalam hubungan antar-bangsawan."

"Tepat sekali. Jika seseorang dianugerahi lambang dari keluarga Duke, informasi itu terkadang menyebar ke bangsawan lain. Tujuannya adalah untuk menjalin hubungan di antara mereka yang dianggap tepercaya demi memperluas jaringan koneksi."

"Aku mengerti."

(Intinya, tamunya adalah seorang bangsawan, ya……. Meski kastanya pasti di bawah Duke, setidaknya itu sedikit melegakan…… tapi tetap saja)

Tekanannya terasa luar biasa hebat.

Jika dia melakukan kesalahansama saja dengan mencoreng nama baik keluarga Duke. Hal itu sangat mudah dibayangkan.

"Biasanya hal seperti ini dilakukan saat ada pesta, tapi…… terkadang kejadian seperti ini bisa terjadi. Selain itu, bagi pihak tamu pun, ini adalah hal yang tidak bisa dihindari demi menjaga martabat."

"Kalau begitu, lebih baik kita undang masuk ke dalam agar tidak tidak sopan, kan?"

Memutuskan semuanya sendirian terasa sedikit mencemaskan.

Kai merasa lega setelah melihat sang Residen mengangguk setuju.

(Sejujurnya aku ingin menyelesaikannya dengan cepat sambil berdiri saja, tapi……)

Memberikan kesan ramah pasti akan memberikan citra yang lebih baik.

Hal itu juga berpotensi meningkatkan kesan baik terhadap keluarga Duke. Mengingat ia juga meminta bantuan pengerahan pengawal, Kai ingin melakukan apa yang ia bisa semaksimal mungkin.

"Baiklah. Kalau begitu, bisakah kamu membawakan teh atau sesuatu ke ruang tamu?"

"Dimengerti. Maaf sudah merepotkan Anda."

"Tidak, jangan dipikirkan."

Pembicaraan macam apa yang harus ia lakukan?

Apakah ia bisa bicara dengan benar?

Kekhawatiran melintas di kepalanya, tapi di saat seperti ini ia harus berpura-pura kuat.

Dan tepat saat itu, matanya tertuju pada permainan papan yang baru saja ia sentuh. Sebuah kilatan ide muncul di benaknya.

"Ah……. Pak Residen, apakah tidak masalah jika aku mengajak tamu itu bermain catur?"

Kai sangat tidak pandai mengobrol dengan orang yang baru pertama kali ditemui, apalagi yang memiliki status tinggi.

Ia butuh sebuah item agar suasana tidak menjadi canggung meski percakapan terhenti.

"Sama sekali tidak masalah. Justru itu bisa menjadi pemicu untuk memperlancar percakapan, jadi saya rasa ini akan menjadi waktu yang menyenangkan bagi kedua belah pihak."

"Kalau begitu──"

"──Saya juga akan membawakan papan caturnya ke ruang tamu."

"Terima kasih. Sampai nanti kalau begitu."

"Baik. Mohon bantuannya untuk menemui tamu tersebut."

Karena tamu sudah menunggu, mereka harus bergerak cepat. Kai pun segera melangkah dengan terburu-buru menuju gerbang utama.

◆◇◆

(A-apa-apaan pria ini……? Apa benar pria ini yang berhasil membongkar pengintaianku……?)

Di bawah instruksi Layla dari Veltahl, perwakilan agen intelijen yang berhasil menyusup ke kediaman tempat tinggal Shikkoku itu──tertegun tak percaya.

Kebingungan besar melanda dirinya.

Shikkoku, yang duduk di sofa ruang tamu setelah mengundangnya masuk tanpa kewaspadaan sedikit pun, terlihat penuh dengan celah.

Bahkan bagi dirinya yang bukan anggota unit tempur, Shikkoku terlihat sangat lemah sampai-sampai ia berpikir, 'Bukankah aku bisa menang dengan mudah?'

(Inikah orang yang benar-benar bisa mengimbangi Layla-sama……? Orang yang memiliki kemampuan untuk mendapatkan perlengkapan Level 8……? Orang yang bukan hanya menyelamatkan putri dari Tiga Puncak yang diculik organisasi kriminal Red Fried seorang diri, tapi juga memiliki banyak Ramuan Ajaib Legendaris, menghancurkan jembatan atas nama pertahanan diri, dan mengamuk di kota…… itu?)

Hingga hari ini, ia telah menyelidiki semua informasi yang beredar di permukaan.

Justru karena sudah menyelidiki semuanya, terjadi kesenjangan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

(Sejujurnya, sang Residen yang bekerja di kediaman ini terlihat berkali-kali lipat lebih kuat……)

Karena ia mencurahkan segalanya untuk mendapatkan informasi tentang Shikkoku, ia tidak tahu apa-apa tentang sang Residen. Namun, dari cara bersikap dan gerak-geriknya saat berhadapan, ia terpaksa mengambil kesimpulan tersebut.

(Ada kemungkinan Shikkoku sengaja menciptakan celah……. Tidak, kenyataannya pasti begitu, tapi mungkin aku juga harus menilai bahwa rumor yang beredar itu agak berlebihan)

Berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun──seorang ahli pasti memiliki kebiasaan yang tidak bisa disembunyikan.

Dalam momen yang tak terduga, akan muncul gerak-gerik yang hanya dimiliki oleh orang kuat, seperti tajamnya pandangan, ketajaman intuisi, atau saat di mana celah untuk menyerang tiba-tiba menghilang.

Namun, hal-hal semacam itu sama sekali tidak terlihat pada Shikkoku.

Memang masih terlalu dini untuk menilai, tapi pada tahap ini pun, sangat jarang ada orang yang bisa menyembunyikannya dengan begitu sempurna.

"E-anu, mungkin sudah agak terlambat untuk mengatakannya…… tapi aku senang kamu datang berkunjung hari ini. Terima kasih juga untuk oleh-olehnya."

"Sama sekali tidak perlu sungkan. Justru saya yang berterima kasih karena Kai-sama telah meluangkan waktu berharga Anda."

Perkenalan diri sudah dilakukan di gerbang utama, namun hal itu sama sekali tidak berarti bagi pikiran Schwarz, sang perwakilan agen intelijen.

Sebab, pada nama Shikkoku, tidak ada nama keluarga, nama wilayah, maupun gelar kehormatan.

(Kalau mau pakai nama samaran, seharusnya dia memikirkannya lebih matang……. Seharusnya dia memakai nama asli seperti aku untuk mendapatkan kepercayaan lawan……. Jika sudah sevulgar ini, rasanya sia-sia saja bertanya soal latar belakangnya)

Kenyataannya, diremehkan justru lebih menguntungkan baginya.

Ia tidak punya keluhan apa pun, tapi ini pertama kalinya ia bertemu orang yang seberani ini.

"……"

──Tidak, ia meralatnya.

Ada satu hal yang ia keluhkan.

Pemicunya adalah ajakan mendadak yang ia terima sesaat setelah memasuki ruang tamu.

(Pria ini, dia terlalu lemah dalam bermain catur……. Kelemahan seperti ini membuat permainannya tidak bisa dinikmati sama sekali……. Sebenarnya, apa tujuan pria ini……)

Mengingat ia datang untuk bertamu, ia tidak boleh menang telak.

Memberikan tingkat kemudahan maksimal sambil tetap berbincang benar-benar membuatnya stres.

Sesaat, kecemasan melintas seperti kilatan cahaya di pikirannya, 'Mungkinkah dia sengaja melakukan ini karena sudah tahu kalau aku sedang mencari informasi lewat percakapan?'.

Namun, melihat Shikkoku yang tampak bersungguh-sungguh dan serius menghadapi papan catur, ia rasa tidak mungkin seperti itu.

Faktanya, justru karena ia tidak merasakan firasat buruk, ia merasa bisa melangkah lebih jauh.

"Omong-omong, Kai-sama."

"I-iya?"

"Saya dengar Kai-sama adalah orang yang sangat ahli dalam ilmu bela diri!"

"Ah……."

"Sebenarnya──saya juga sedikit banyak mendalaminya."

Jika 'ahli ilmu bela diri' itu disangkal, ia tidak akan bisa menyentuh topik yang ia incar.

Di sini ia berpura-pura tertarik pada bela diri dan mulai menggerakkan mulutnya dengan antusias.

"Saya sangat menyukai orang yang mahir menggunakan pedang seperti Shikkoku-sama…… maksud saya, seperti Kai-sama."

"……Te-terima kasih banyak."

"Ngomong-ngomong, tipe gaya bertarung seperti apa yang Kai-sama sukai dari lawan Anda?"

Topik ini dimunculkan secara mendadak, namun sesuai dugaan, Shikkoku tidak tampak curiga sama sekali.

"Gaya bertarung…… ya. Hmm, aku rasa tipe yang bergerak lincah dan menyerang adalah yang paling keren."

"Lalu, apakah ada gaya bertarung yang Kai-sama rasa sulit untuk dihadapi saat berhadapan langsung?"

"Saat berhadapan langsung, ya……. Hmm. Pada dasarnya aku benci semuanya sih, tapi yang paling menyebalkan adalah tipe yang menggunakan serangan jarak jauh……. Sulit sekali kalau lawan menjaga jarak."

"Haha, sebenarnya saya juga kurang suka dengan tipe yang sama."

"Wah, aku tidak menyangka Schwarz-sama tertarik dengan topik seperti ini dan mendalami ilmu bela diri."

"Yah, saya sedikit banyak terpengaruh oleh berbagai hal."

Sambil menyembunyikan kegembiraan karena berhasil mendapatkan informasi yang ditargetkan, Schwarz merangkai kata-katanya dengan tenang.

(Ta-tak disangka aku bisa mendapatkan informasi tentang kelemahannya semudah ini……)

Ia berhasil mendapatkan informasi yang diinginkan Layla.

Ini adalah perolehan yang sangat besar, sesuatu yang akan sangat menguntungkan pihak mereka.

(Fufu, aku tidak berniat lengah, tapi jika begini sepertinya target sisanya juga bisa diselesaikan dengan mudah)

Alasannya menyusup ke kediaman ini bukan hanya itu.

Ada dua hal lain yang ingin ia selidiki: 'Item dan perlengkapan apa saja yang disimpan' serta 'Segel lambang yang menunjukkan hubungan dengan negara lain'.

Sambil memikirkan waktu yang tepat untuk meninggalkan ruangan sejenak, ia berniat memperluas topik pembicaraan untuk mencari lebih banyak kelemahan Shikkoku…… namun tepat saat itu.

Tok tok.

Suara ketukan bergema di ruang tamu.

Setelah mendapat izin dari Shikkoku, sang Residen masuk sambil mendorong kereta dorong berisi teh dan kue kering.

"Maaf saya terlambat, silakan dinikmati."

"Terima kasih."

"Terima kasih atas keramahannya."

"Sama-sama."

Setelah menyampaikan terima kasih kepada sang Residen.

(Fiuh…… di sini aku harus tetap tenang)

Schwarz secara tidak mencolok mengambil napas dalam-dalam, memilih untuk menjauh sejenak dari topik pencarian kelemahan Shikkoku.

Sekarang, jumlah orang yang harus ia waspadai bertambah satu.

Jika sang Residen merasa ada yang janggal, ada kemungkinan ia akan langsung menyampaikannya pada Shikkoku.

Sejauh ini semuanya berjalan lancar. Ia tidak boleh membiarkan rasa terburu-buru merusak peluang keberhasilan yang lebih besar.

"Saya tiba-tiba penasaran, apakah Kai-sama dan Pak Residen hanya tinggal berdua saja di kediaman ini?"

"Yah, begitulah…… karena aku masih melajang."

"Begitu rupanya. Itu cukup mengejutkan."

"Apakah Schwarz-sama sudah berkeluarga?"

"Ya, saya belum punya anak, tapi saya hidup bersama istri tercinta yang sangat saya banggakan."

"Begitu, ya. Itu benar-benar membuat iri."

"Fufu, bukankah bagi orang seperti Kai-sama akan ada banyak pelamar yang antre?"

"Tidak, tidak, tidak mungkin begitu."

Sambil bertukar cerita ringan tentang kehidupan pribadi, ada satu hal yang mengganjal bagi Schwarz.

(Sepertinya sejak tadi sang Residen terus memperhatikanku selama puluhan detik……)

Ia tidak berbohong soal apa pun. Di jari manis tangan kirinya pun ia mengenakan cincin pernikahan.

Seharusnya tidak ada hal yang mencurigakan, namun ia tetap merasakan tatapan yang seolah sedang mengawasi.

(Ternyata…… keputusanku untuk mengalihkan topik tadi sudah tepat)

Meskipun dalam percakapan tadi tidak ada niat jahat, mungkin tetap saja ada firasat yang bekerja.

(Pertama-tama aku harus berusaha meluluhkan kewaspadaan sang Residen sepenuhnya……. Lagipula Shikkoku sepertinya sudah mulai terbuka padaku)

Hal ini sangat penting untuk bisa menggeledah isi kediaman.

Schwarz memutuskan untuk tidak menyentuh topik seputar kehidupan pribadi Shikkoku selama ada sang Residen, dan memilih untuk memperluas obrolan umum. Entah sudah berapa lama waktu berlalu.

"Skakmat."

"Saya menyerah. Anda memang hebat, Kai-sama."

"Haha, terima kasih. Sebenarnya ini karena aku diajari catur oleh Pak Residen."

"Pantas saja Anda begitu kuat."

(──Mana mungkin! Pria ini, apa dia begitu tumpul sampai tidak sadar kalau aku sengaja mengalah? Apa benar pria seperti ini yang berhasil membongkar pengintaianku……? Lagipula, apa sang Residen juga begitu tumpul sampai tidak sadar kalau aku sudah menahan diri?)

Sang Residen, yang tetap tinggal di ruang tamu setelah meminta izin untuk 'menonton satu babak', tampak menyipitkan mata dan memuji kemenangan itu seolah-olah bangga melihat pertumbuhan muridnya sendiri.

Melihat pemandangan ini, ia mulai berpikir bahwa sang Residen bukanlah ancaman yang berbahaya.

Kesannya terhadap Shikkoku pun semakin jauh berbeda dari citra yang ia bayangkan sebelumnya.

(Aku benar-benar tidak bisa menganggap ini sebagai akting untuk membuatku lengah……)

Meskipun ia tetap mempertimbangkan kemungkinan sedang ditipu, lama-kelamaan ia merasa konyol jika memikirkannya terlalu dalam.

(……Baiklah, sudah waktunya aku bergerak. Saat mereka sedang lengah seperti ini adalah kesempatan emas)

Mereka pasti ingin merayakan kemenangan berdua. Dengan begitu, perhatian kepada dirinya akan melemah.

Setelah membaca psikologi lawan dan memutuskan bahwa ini adalah waktu terbaik, Schwarz membuka mulutnya.

"Anu, Kai-sama. Mohon maaf sebesar-besarnya di saat seperti ini, tapi di mana letak toiletnya……?"

"Ah, toiletnya ada di──"

"──Tuan tidak perlu berdiri. Biar saya yang mengantarkan Anda."

"O-oh, begitu ya. Kalau begitu tolong, ya."

"Cukup beri tahu saya lewat ucapan saja juga tidak apa-apa……."

"Jangan sungkan. Ini adalah bagian dari tugas saya."

"Baiklah. Kalau begitu saya terima tawaran Anda."

Seandainya diberitahu lewat ucapan saja, ia bisa berjalan sendirian di dalam kediaman. Ia akan punya banyak waktu untuk menggeledah isi rumah.

Tindakan sang Residen benar-benar sangat tidak menguntungkan bagi Schwarz, namun ia tetap menyampaikan terima kasih dengan senyuman yang menutupi kekesalannya.

Setelah itu, mereka berdua keluar dari ruang tamu dan berjalan menyusuri koridor sementara dipandu oleh sang Residen.

"Di balik pintu ini adalah toiletnya. Handuk sudah tersedia, jadi silakan gunakan dengan bebas."

"Terima kasih atas keramahannya. Saya akan segera kembali begitu selesai──"

"Kalau begitu, saya akan kembali ke ruang tamu lebih dulu."

"Silakan."

Karena ada etika bahwa seseorang tidak boleh menunggu di dekat tamu yang sedang diantar ke toilet, sang Residen langsung mengerti tanpa perlu diberitahu sampai akhir.

Schwarz menjawab sang Residen yang bergerak sesuai dugaannya, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam.

Tentu saja, ia tidak berniat menurunkan celananya ataupun buang air.

Alasannya minta diantar ke sini adalah untuk sengaja menciptakan waktu di mana ia bisa bergerak sendirian. Untuk mencari item, perlengkapan, dan segel lambang yang disembunyikan Shikkoku.

Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, mendengarkan langkah kaki sang Residen yang menjauh. Ia juga mendeteksi bahwa hawa keberadaan itu telah benar-benar pergi.

"Nah……"

Setelah benar-benar bebas, misi dimulai.

(Pertama-tama adalah kamar pribadi Shikkoku di lantai tiga. Kemudian, ruang bawah tanah yang seharusnya menjadi tempat gudang penyimpanan)

Sambil mengingat kembali struktur kediaman yang sudah ia hafal di kepalanya, ia segera melakukan simulasi dengan cepat.

"Aku tidak boleh menunjukkan kegagalan lagi di depan Layla-sama……"

Ia harus menemukan barang-barang yang berkaitan dengan identitas Shikkoku ataupun barang yang dimilikinya.

Dengan tekad yang kuat, ia mengaktifkan skill Stealth-nya dan membuka pintu tanpa suara.

Namun, tepat saat ia melangkahkan kaki ke koridor.

"!"

Schwarz seketika dipaksa menghadapi situasi di mana ia harus membatalkan skill Stealth-nya.

Di sudut matanya terlihat seragam pelayan berwarna hitam dan putih.

Sosok yang berdiri dengan tenang di persimpangan koridor adalah orang yang seharusnya sudah kembali ke ruang tamu.

Seolah-olah baru saja membatalkan skill Stealth yang sama, sang Residen tiba-tiba memunculkan keberadaannya di sana.

"Ah! Anu……"

"Mohon maaf jika saya mengejutkan Anda. Saya sempat kembali ke ruang tamu sekali, namun Tuan berpesan kepada saya untuk 'bertanggung jawab sampai akhir'."

"Be-begitu rupanya."

(Tidak, itu tidak mungkin. Hal semacam itu benar-benar tidak masuk akal……)

Schwarz yakin bahwa 'ia sedang dibohongi'.

Schwarz tidak benar-benar buang air, dan ia keluar dari toilet dalam waktu sekitar 30 detik.

Kembali ke ruang tamu, mendengarkan perintah majikan, lalu kembali lagi ke tempat ini benar-benar mustahil secara waktu.

"……"

(Berarti setelah berpura-pura kembali ke ruang tamu, dia langsung menggunakan skill Stealth dan mulai bersiap menunggu di sini, ya……)

Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Schwarz saat ia menghubungkan titik-titik kejadian tersebut.

Rasa dingin merambat di punggungnya.

"…………"

(Apa mungkin sang Residen mengambil tindakan ini atas inisiatifnya sendiri……? Tidak, pasti sudah ada instruksi sebelumnya dari Shikkoku……)

Saat ia menyadari hal itu, rasa takut seketika menyerangnya.

Kemungkinan besar Shikkoku selama ini hanya berakting agar diremehkan.

"Apakah ada masalah, Schwarz-sama?"

"Ti-tidak ada apa-apa……."

"Begitu, ya. Kalau begitu mari kita kembali ke ruang tamu."

Meskipun tersenyum, mata sang Residen sama sekali tidak terlihat tertawa.

Apa hanya perasaannya saja kalau wajah itu seolah tertulis kalimat 'Aku sudah tahu semuanya'? Tidak, ia merasa itu bukan sekadar perasaan saja.

Niatnya untuk mencari informasi sudah terbongkar. Shikkoku pasti sudah dalam posisi siap tempur sekarang. Dia pasti sudah selesai bersiap untuk mencabut nyawanya.

(Bagaimana caranya aku bisa melewati situasi ini……)

Sembilan puluh sembilan persen, Shikkoku bukanlah orang dari pihak Kekaisaran. Bisa dibilang sang Residen sudah sepenuhnya menjadi kaki tangannya.

Bahkan jika disiksa sekalipun, ia tidak boleh membocorkan informasi tentang Veltahl kepada lawan seperti ini.

(……Sepertinya aku harus bersiap untuk kemungkinan terburuk……)

Sambil menyentuh pisau kecil yang ia sembunyikan di pinggang, Schwarz berjalan menyusuri koridor.

(Aku hanya bisa berdoa agar dia mau mencabut nyawaku dengan tenang saat saatnya tiba……)

Tanpa sadar mereka sudah sampai di depan ruang tamu──.

Sang Residen membuka pintunya perlahan──.

Di saat itulah, seluruh tubuhnya terasa panas seolah-olah darah yang mengalir di nadinya mulai mendidih.

Dunia seolah bergerak dalam gerakan lambat di depan matanya.

Schwarz membelalakkan matanya sambil menggenggam erat gagang pisau kecilnya, bersiap menghadapi serangan mendadak Shikkoku sambil menyadari ajalnya sudah dekat, namun tepat saat itu.

"Bagaimana kalau kita tanding ulang caturnya?"

"!?"

Pikiran Schwarz seketika menjadi kosong. Ketegangannya menghilang, dan seluruh tenaganya seolah terkuras habis.

Melihat Shikkoku yang masih duduk di sofa tanpa menunjukkan sedikit pun niat membunuh.

Melihat Shikkoku yang sudah merapikan bidak catur ke posisi semula dan bersiap untuk babak kedua sesuai ucapannya.

"……Ah, apa kamu sudah bosan? Main catur……"

"Ti-tidak! Sama sekali tidak. Mohon bantuannya untuk tanding ulangnya!"

"Syukurlah kalau begitu."

Meskipun tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi, Schwarz duduk kembali ke posisi semula sambil merasakan ajalnya menjauh sesaat.

Namun agar tidak lengah, ia menekan getaran tangannya di atas lutut.

(Apa karena rencanaku baru sebatas percobaan? Apa karena tadi aku sengaja mengalah……? Sebenarnya apa-apaan ini……)

Saat ia berusaha untuk tenang dan mencoba mencari logika dari informasi yang minim, Shikkoku tiba-tiba berujar seolah-olah bisa melihat isi pikirannya.

"Ah, Pak Residen, kalau nanti ada keperluan mengantar lagi, biarkan aku saja yang melakukannya."

"…………Dimengerti."

Sang Residen menjawab setelah jeda sesaat.

(Aku…… pasti memiliki pemikiran yang sama dengan sang Residen)

Maksud Shikkoku repot-repot ingin turun tangan sendiri.

Secara tersirat ia menyampaikan pesan, 'Jika lain kali pria ini mencoba bertindak kurang ajar lagi──' maka dialah yang akan mengantarnya.

(Shikkoku sudah memahami semuanya sejak awal dan tetap mengundangku ke kediaman ini, ya……. Karena dia menganggapku sebagai lawan yang remeh……)

Ketenangan itu, kemurahan hati itu, justru terasa mengerikan bagi Schwarz.

(Layla-sama, saya benar-benar mohon maaf……)

Ia sudah dipermainkan semudah ini.

Informasi yang ia dengar lewat percakapan tadi, tentang 'tidak suka tipe serangan jarak jauh', pasti adalah sebuah kebohongan.

Ia hanya diberikan harapan palsu saja.

Sambil diliputi rasa bersalah, ia merasa sangat pahit menghadapi situasi ini.

Sudah pasti semua rencananya telah terbongkar. Mustahil baginya untuk mencapai tujuan, dan semua waktu yang akan ia habiskan di kediaman ini hanyalah kesia-siaan.

Dan dari caranya menikmati permainan catur yang sangat lemah itu, sepertinya ia sengaja ingin membuang-buang waktu Schwarz.

(Sialan……)

Schwarz telah berhasil merangkak naik hingga menjadi perwakilan agen intelijen, namun ini pertama kalinya ia bertemu lawan yang mempermalukannya sampai sejauh ini.

(Layla-sama, mohon balas dendamkan saya nanti……)

Meskipun ia tidak mendapatkan informasi apa pun yang diminta Layla, ia harus kembali dan melaporkan 'sifat asli Shikkoku'.

Demi mengambil hati Shikkoku agar kemurahan hatinya tidak berubah, Schwarz mulai bermain catur sambil terus menahan diri.

◆◇◆

Di saat yang bersamaan.

"Hei Garagu, aku bertamu sebentar, ya."

"Panggil aku 'Garagu-san' atau 'Kepala Cabang', tahu. Aku ini lebih tua darimu. Lagipula jangan masuk seenaknya, dong."

Di lantai teratas Asosiasi Treasure Hunter. Garagu, sang Kepala Cabang yang mengawasi asosiasi ini, melayangkan protes pada Layla yang menerobos masuk ke ruangannya dengan langkah mantap sambil mengibaskan rambutnya.

"Aku sudah bilang kok ke resepsionisnya."

"Kalau begitu tunggu sampai dipanggil."

"Aku sudah menunggu tiga menit."

"Makanya, tunggu sampai dipanggil……."

"Kita kan sudah akrab. Jangan protes terus."

"Aku protes karena kamu selalu merepotkanku, tahu. Tiap kali datang, kamu selalu menghajar sesama pemburu di ruang latihan bawah tanah."

Tentu saja hanya Layla yang berani bersikap seperti itu kepada Garagu.

Selain karena mereka sudah berteman sejak lama, Layla adalah satu-satunya penakluk dungeon Level 7 di kota ini. Selain itu, ada alasan lainnya.

"Menghajar itu bahasa yang kasar sekali, ya. Aku kan cuma memberinya sedikit pelatihan."

"Maksudmu menarik paksa tangan pemburu itu dan menyeretnya ke ruang latihan, kan……? Semua orang ketakutan karena ulahmu, tahu tidak?"

"Kalau begitu, panggil saja aku teman yang tidak membosankan…… tapi itu cuma bercanda kok──"

Di sini mata Layla menyipit, nada suaranya tiba-tiba berubah.

"──Karena kita kan teman yang saling mengetahui rahasia masing-masing."

"Hah…… sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau kamu anggota organisasi agung itu. Benar-benar sulit dipercaya."

"Padahal kamu sendiri yang menerima laporan itu dari markas pusat asosiasi, kan, Garagu?"

"Berisik."

Mereka yang tergabung dalam Veltahl dan ditugaskan mengawasi wilayah kota demi menjaga keamanan biasanya diambil dari kelas tertinggi Treasure Hunter.

Oleh karena itu, prosedur biasanya melibatkan orang-orang di puncak asosiasi masing-masing sebagai perantara dengan Treasure Hunter yang direkrut, sehingga secara otomatis akan diketahui siapa yang bergabung dengan Veltahl.

Namun, ada alasan juga kenapa informasi ini sebaiknya hanya diketahui oleh petinggi asosiasi demi mempermudah berbagai urusan.

"Jadi, ada urusan apa hari ini? Kamu bukan tipe orang yang masuk ke ruangan ini tanpa alasan, kan?"

"Aku ingin informasi tentang Shikkoku."

"Hah?"

"Makanya, aku bilang berikan informasi tentang Shikkoku. Ini bukan kepentingan pribadi, tapi kebutuhan organisasi."

Layla menuntut dengan tegas sambil menyodorkan tangan kanannya seolah meminta.

"Bukannya itu aneh? Kamu seharusnya jauh lebih tahu dariku. Karena Shikkoku itu kan sama denganmu──"

"──Hei, itu sama sekali tidak benar, tahu."

"Jangan bohong."

"Aku serius!"

Karena merasa bangga menjadi bagian dari Veltahl, kesalahpahaman ini benar-benar mengusiknya. Layla pun memperkeras intonasi bicaranya.

"Lagipula, siapa sih yang menyebarkan kebohongan seperti itu. Semuanya pada bicara sembarangan."

"Bukannya ada yang menyebarkan kebohongan, tapi orang-orang menilai begitu setelah melihat secara keseluruhan."

"……Benar-benar tidak paham. Suruh orang itu menyangkalnya sendiri, dong."

Layla mengerutkan kening dengan rasa tidak suka yang meluap-luap.

Veltahl bukanlah organisasi yang boleh disalahpahami semudah itu.

Dalam pikirannya terbayang wajah Shikkoku yang sepertinya sedang menikmati situasi ini.

"Maksudmu…… kalau melihat reaksimu, berarti itu benar, ya. Pria itu, meski punya perlengkapan sehebat itu, ternyata bukan anggota Veltahl……? Padahal aku sudah mengundangnya sampai ke ruangan ini……"

"Hah? Apa yang kamu lakukan!"

"Aku pikir dia salah satu anggota organisasi yang mengawasi wilayah kota tertentu. Mau bagaimana lagi? Dia adalah sosok yang harus diperlakukan dengan sangat hormat."

"Aku benar-benar kecewa padamu, Garagu."

"Jangan bicara begitu. Aku sendiri pun sedang kecewa pada diriku sendiri saat ini……."

Dia telah mengundang seseorang yang bukan anggota Veltahl, seorang pria misterius yang tidak jelas asal-usulnya, ke dalam ruangan Kepala Cabang yang dilarang bagi orang luar.

"Yah…… karena situasinya tidak mengenakkan, mari kita ganti topik. Apa kamu tidak salah meminta bantuan padaku kali ini? Bukannya kamu bisa menyuruh bawahanmu untuk mengumpulkan informasi? Informasi yang aku punya tidak seberapa dibandingkan dengan informasi yang dimiliki pihakmu."

"Bawahanku tidak sanggup melakukannya. Khusus untuk kali ini."

"Oi, oi. Bukankah mereka agen intelijen yang sudah berpengalaman?"

"Aku sendiri yang paling ingin menganggap ini sebagai lelucon, tahu."

Selama ini ia selalu mengandalkan mereka untuk apa pun. Meski permintaannya terkadang tidak masuk akal, mereka selalu menjawab ekspektasinya.

Hingga titik inilah semua itu terakumulasi.

"Makanya beritahu aku. Semua informasi yang kamu tahu. Soalnya aku tidak tahu apa rencana orang itu."

"Biarpun kamu bicara begitu, aku benar-benar tidak tahu apa-apa lagi……."

"Bukannya karena posisimu, kamu punya informasi rahasia atau semacamnya?"

"Aku tidak menyembunyikan apa pun."

Sambil bicara, ia melambaikan tangannya dan melanjutkan kata-katanya.

"Shikkoku berhasil melindungi putri dari Tiga Puncak sampai ke kota ini, jadi dia lolos pemeriksaan identitas saat masuk kota. Dia juga tidak punya catatan pendaftaran sebagai Treasure Hunter."

"……"

"Meskipun begitu, dia punya perlengkapan yang hanya bisa didapatkan di Dungeon Level 8, kan? Kalau menurutku, identitasnya pasti disembunyikan oleh kekuatan organisasi itu."

"Tapi dia tidak ikut pertemuan organisasi kemarin. ……Dia tidak, ikut, hadir…… kan."

Di sini tiba-tiba nada bicara Layla menjadi tidak lancar.

Ia menundukkan mata seolah sedang berpikir keras, lalu menutup mulutnya.

"A-ada apa?"

"Kalau dipikir-pikir…… ada satu orang yang tidak pernah datang ke pertemuan tiap kali diadakan. Kami ditugaskan mengawasi salah satu kota yang berada di bawah pengaruh Ibukota Kekaisaran, tapi rumornya, hanya dia satu-satunya yang ditugaskan untuk mengawasi seluruh wilayah."

"Artinya, dia diberi peran untuk memeriksa kinerja kalian, begitu?"

"…………"

Karena ini adalah organisasi perwakilan Kekaisaran, manajemen risiko pasti dilakukan secara menyeluruh.

Dan pasti ada peran yang hanya diberikan kepada orang yang dipercaya memegang seluruh wilayah.

"Kalau dipikir secara sederhana, bukankah Shikkoku cocok dengan peran itu? Yah, meskipun aku juga ingin percaya begitu…… tapi itu bukan hal yang mustahil. Alasan Shikkoku tidak menjadi pembicaraan di tempat lain adalah karena dia mengganti perlengkapannya setiap saat, dan alasan dia tidak hadir di pertemuan adalah agar dia tidak menjalin hubungan dengan anggota lain, sehingga dia tidak akan ragu jika suatu saat harus menindak mereka."

"Masuk akal juga. Tidak, justru teori itu jauh lebih bagus."

Layla bertepuk tangan dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba cerah.

Matanya berbinar-binar dengan cara yang tidak biasa.

"Oi, oi…… Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu yang buruk, kan?"

"Kalau teorimu benar, aku jadi penasaran, kan. Seberapa kuat orang yang dipercaya Veltahl untuk mengawasi seluruh wilayah. Kalau dia sesama anggota, seharusnya tidak masalah jika kami melakukan duel latihan sedikit."

"Hm? Bukannya kalau kamu sengaja mengincarnya, kamu akan kena penalti?"

"Kalau aku melakukannya dengan sengaja dan yakin, mungkin iya, tapi rencanaku tidak seperti itu kok, jadi tenang saja."

Mendengar Layla yang mengatakannya dengan lancar, mulut Garagu semakin berkedut karena khawatir.

"Lagipula, kalau bisa berduel dengan orang sehebat itu, kena penalti pun rasanya masih sepadan."

"……Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi."

Sensasi Layla memang berbeda dari orang normal. Begitu dia mulai berpikir 'aku bisa bertarung dengan orang kuat', dia akan menjadi sangat keras kepala.

Itulah Layla, sang penakluk Dungeon Level 7 yang lahir di kota ini.

"Dengar, kalau kamu mau menyerang Shikkoku, tolong lakukan di pinggiran kota, ya. Aku mohon."

"Jangan bilang hal yang sudah jelas begitu. Di tengah kota kan tidak bisa bertarung dengan menyenangkan."

Meskipun ia ingin Layla memprioritaskan kerusakan kota, berkat pemikiran Layla tersebut, kekhawatirannya sedikit berkurang.

"Fufu, aku tidak menyangka kalau Shikkoku ternyata adalah rekan sendiri. Fufufu, kalau dia teman, aku bisa berduel berkali-kali dengannya, kan."

Sepertinya sekarang ia sedang membayangkan banyak hal.

Melihat Layla yang senyum-senyum sendiri, Garagu menatapnya dengan pandangan setengah malas.

"Kalau urusanmu sudah selesai, bisakah kamu pulang sekarang?" tanyanya.

◆◇◆

Waktu menunjukkan senja hari.

Beberapa jam setelah berpisah dengan Schwarz yang datang berkunjung.

"Kami datang atas perintah Duke Digoot. Mohon bantuannya mulai hari ini."

"A-ah. Mohon bantuannya juga."

Di kediaman tempat Kai tinggal, sepuluh orang pengawal kiriman Duke telah tiba, dan Kai sedang bertukar sapa dengan ketua pengawal mereka.

Kali ini, jumlah yang ia minta sebenarnya dua puluh orang.

Meskipun saat ini masih kurang, besok dijadwalkan akan ada masing-masing lima orang pengawal lagi dari keluarga Ansarage dan keluarga Albrela.

Bukan karena ada masalah yang terjadi.

"Shikkoku-sama! Tanpa menunda waktu, kami mohon izin untuk segera menjalankan tugas kami."

"Terima kasih. Jika ada hal yang mencurigakan atau mengganjal, aku akan senang jika kalian segera melapor."

"Siap."

"Lalu, jika terjadi situasi terburuk, tolong prioritaskan untuk melindungi Pak Residen ini. Aku sendiri akan mengurus diriku sendiri."

"Diperlakukan seperti wanita lemah begini…… sungguh merepotkan……."

"Begitu katanya, tapi tolong tetap jalankan sesuai instruksiku."

"Dimengerti. Kalau begitu, kami permisi!"

Mungkin karena pengaruh cahaya senja.

Ketua pengawal yang melihat wajah sang Residen memerah itu segera memberikan jawaban──lalu berlari menuju pos penjagaan masing-masing.

"……"

"……"

Kai dan sang Residen sama-sama mengantar punggung gagah mereka hingga tak terlihat lagi.

Dan yang pertama kali bersuara adalah sosok yang memiliki tinggi badan lebih pendek.

"Ehem. Meski sudah sewajarnya, Shikkoku-sama benar-benar dianggap sebagai sosok yang spesial oleh Digoot-sama, ya."

"Eh?"

"Orang-orang yang dikirimkan Digoot-sama tadi adalah pasukan inti dari unit elit, yang biasanya menjadi pengawal pribadi beliau."

"Eh!? Tunggu sebentar. Kalau begitu…… apakah pihak Duke sendiri akan baik-baik saja?"

Kai memang meminta pengawal, tapi ia tentu tidak melayangkan permintaan tidak tahu malu untuk dikirimkan pasukan elit.

"Jika beliau menganggap itu akan menimbulkan masalah, beliau tidak akan mengirimkan mereka ke sini. Sebagai kepala keluarga, pasti ada hal yang tidak bisa beliau kompromikan, apalagi ini juga berkat kerja sama dari keluarga Ansarage dan keluarga Albrela."

"Kalau begitu syukur deh…… tapi gawat juga kalau beliau sampai salah memprioritaskan hal yang paling penting."

Kai mengerti bahwa sebagai Duke beliau pasti memiliki banyak unit elit, namun ia khawatir jika hal ini 'memaksakan diri'.

Jika beliau lebih memprioritaskan keselamatannya di sini dibandingkan keselamatan keluarganya sendiri, itu justru akan membuatnya merasa tidak enak hati.

Akhirnya ia memutuskan untuk mempercayai kata-kata sang Residen dan menenangkan pikirannya.

"Anu, sebelum saya kembali bekerja, bolehkah saya menanyakan satu hal lagi? Sebenarnya ini bukan hal yang pantas ditanyakan, tapi saya benar-benar penasaran."

"I-iya. Apa itu?"

"Mengenai Schwarz-sama."

"Hmm……."

Karena pembukaannya sangat sopan, topik ini terasa mengejutkan bagi Kai.

"Mengenai kejadian tadi, apakah Anda tetap berniat menyelesaikannya secara damai? Meski baru sebatas percobaan, tindakan yang berniat melakukan hal seperti itu sebenarnya tidak boleh dimaafkan begitu saja."

"Menyelesaikan secara damai? Tindakan percobaan? ……Maksudmu Schwarz-san yang menemaniku main catur tadi?"

"Benar. Tidak perlu saya katakan lagi, dia jugalah pengintai dari kemarin."

"……"

Kenapa dia berpikir begitu, apa yang dia sadari, dan apa yang dia lihat, Kai sama sekali tidak punya gambaran.

Kapan ia melakukan tindakan untuk 'menyelesaikan secara damai' pun ia sama sekali tidak mengerti. Namun, dari alur pembicaraan ini, ia paham bahwa Schwarz memang berniat melakukan sesuatu yang buruk.

"Yah, begitulah, kalau masih sebatas percobaan berarti belum ada kerugian yang timbul, jadi tidak perlu diperbesar, kan? Dia pasti akan merenung kok."

"Anda benar-benar sangat baik, ya."

"Haha……."

"Melihat gelagatnya tadi, dia pasti tidak akan melakukan tindakan apa pun lagi. Karena dia juga sudah tahu kalau kita mengawasinya, Karen-sama dan Lifia-sama pasti bisa bepergian dengan tenang sekarang."

"Hmm."

Kai tidak setajam sang Residen.

Meskipun sang Residen menyampaikannya secara ringkas karena berpikir 'tidak perlu menjelaskan sampai detailnya', Kai tetap saja merasa bingung.

"Yah, intinya…… kamu hebat sekali bisa waspada dan menyadarinya, ya. Pak Residen."

"Itu semua berkat Shikkoku-sama, karena kejadiannya tepat setelah kejadian kemarin. Dari sudut pandang lawan, keputusan Anda memanggil pengawal tidak memberinya pilihan selain mempercepat rencananya."

"……Berarti, pilihanku meminta bantuan pengawal secara tidak sengaja mengenai sasaran lawan?"

"Hanya itu yang bisa saya pikirkan."

"Wah, hebat sekali ya."

Meskipun Kai merespons begitu, karena ia sendiri tidak merasakannya secara nyata, reaksinya terdengar agak dibuat-buat.

"Ah lalu benar juga. Kembali ke topik tadi, menurutmu apa sekarang sudah tidak masalah meski tidak ada pengawal lagi?"

"Dengan penuh percaya diri, ya."

"Oke. Kalau begitu kita serahkan urusan rumah pada para pengawal selama satu minggu saja. Bilang 'sekarang sudah tidak apa-apa' setelah mereka baru saja datang sepertinya sangat tidak sopan……"

"Dimengerti."

Ia tidak meragukan pendapat sang Residen yang hebat. Ia segera memantapkan rencananya.

Semakin lama pengawal bekerja di kediaman ini, ia juga harus memberikan imbalan yang setimpal.

Mengingat kondisi keuangannya juga, ia ingin menekan pengeluaran sebisa mungkin. Jadi pendapat sang Residen ini sangat membantu.

"Kalau begitu, saya mohon izin untuk kembali bekerja."

"Jangan terlalu memaksakan diri."

"Terima kasih banyak."

Percakapan berakhir dengan pas, sang Residen membungkukkan badan dan melangkah menuju kediaman.

Lalu, ia mendadak menghentikan langkahnya dan menoleh kembali.

"Shikkoku-sama. Sosok Anda yang tetap konsisten bersikap seolah tidak tahu apa-apa agar tidak menimbulkan kehebohan, saya benar-benar menyukainya, lho."

"A-ah……?"

"Sekali lagi, permisi."

Ucap sang Residen sambil menyipitkan mata dan tersenyum lembut.

Kai pun hanya bisa terdiam karena dipuji di saat yang sama sekali tidak ia duga.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close