Chapter 3
Pukul Mundur Tanpa Disadari
"Dalam
situasi papan seperti ini, langkah standarnya adalah menggerakkan bidak yang
ini, bukan yang itu."
"Ja-jadi
begitu, ya."
"Sebab jika
Shikkoku-sama menggerakkan bidak yang tadi, lawan bisa memakannya di langkah
berikutnya, dan itu akan menciptakan celah bagi mereka untuk membangun
serangan."
"Ahhh……."
Keesokan harinya.
Di dalam ruang
kerja, Kai sedang belajar bermain catur melalui format latihan tanding bersama
sang Residen.
"Oleh karena
itu, dengan menggerakkan bidak ini ke sini, Anda bisa memberi tekanan pada dua
titik lawan sekaligus. Bidak Anda sendiri juga tidak akan termakan, jadi ini
adalah langkah yang cerdas."
"Begitu,
begitu. Aku paham."
(Benar-benar
mudah dimengerti……)
Berkat
penjelasan yang mendalam, Kai bisa langsung menangkap intinya.
Sambil
mengangguk dan mencatat poin-poin penting agar melekat di ingatan, Kai
menanyakan sesuatu tentang sosok yang menjadi targetnya untuk dikalahkan.
"Aku
ingin bertanya, menurut pandanganmu, seberapa hebat kemampuan catur Lifia-san?"
"Apakah penilaian secara garis besar saja sudah
cukup?"
"Tentu
saja."
"Jika
menggunakan skala satu sampai lima, Lifia-sama mungkin ada di angka 4,5. Sedangkan Karen-sama berada di
sekitar angka 4."
"Eh……?
Level mereka setinggi itu!?"
Karena
diucapkan dengan nada yang terlalu santai, reaksi Kai sempat tertunda sesaat.
"Catur
adalah keahlian standar bagi bangsawan, jadi tingkat kemahiran mereka semua
memang tinggi. Namun, saya
rasa Lifia-sama dan Karen-sama sangat menonjol bahkan di antara para bangsawan
lainnya."
Dalam metode
perhitungan sang Residen, kekuatan rata-rata berada di angka 2,5.
Kai memang sudah
menyadari bahwa dirinya 'tidak mungkin menang' saat melawan Lifia, tapi ia
tidak menyangka kalau gadis itu berada di puncak setinggi itu.
"Omong-omong,
kalau indikator untukku kira-kira seperti apa?"
"……"
Tepat ketika Kai
menghentikan tangannya yang sedang mencatat dan menunjuk dirinya sendiri karena
penasaran.
Gerakan
sang Residen mendadak berhenti total.
Matanya
membelalak seolah tersambar petir, lalu ia menatap Kai dengan tatapan yang
entah kenapa terasa canggung.
"Aku lebih
senang kalau kamu mengatakannya tanpa sungkan."
"Baiklah. ……Shikkoku-sama ada di angka 2."
"Tu-tunggu,
2!? Itu di bawah rata-rata, dong!?"
"Benar."
(Se-serius……?
Pantas saja dia tadi memasang wajah begitu……)
Setidaknya Kai
merasa dirinya berada di level rata-rata. Karena memiliki rasa percaya diri
seperti itu, hasil ini menjadi kejutan yang cukup telak baginya.
"Namun,
untuk Reversi, Anda memiliki kemampuan di angka 4. Meskipun kemarin hasilnya
cukup menyesakkan saat melawan Karen-sama, saya rasa kemampuan kalian setara
hingga Anda bisa menyebutnya sebagai 'perbedaan konsentrasi'."
"I-itu…… terima kasih."
Mungkin karena baru saja dijatuhkan lalu kemudian dipuji
setinggi langit, Kai merasa malu sekaligus sangat senang mendengar pujian itu.
"Pendapat pribadi saya, Shikkoku-sama sebaiknya tidak
mengejar pertumbuhan yang instan, melainkan mengembangkan kemampuan secara
perlahan selama bertahun-tahun."
"Maksudmu, berkembang perlahan itu pada akhirnya akan
membuatku jadi lebih kuat?"
"Mungkin ada sisi seperti itu juga, tapi alasan
utamanya adalah karena saya rasa hanya sedikit permainan yang bisa
Shikkoku-sama nikmati tanpa perlu menahan diri. Dalam pertarungan fisik,
melawan siapa pun bagi Anda pasti terasa seperti memelintir tangan bayi,
bukan?"
"Tidak, tidak……."
(Cuma bagian itu yang sudah pasti salah total……)
Melihat penampilannya yang membawa senjata dan pelindung
lengkap, dia mungkin memang terlihat kuat.
Namun,
kenyataannya itu semua hanya penampilan luar.
Jika dia memang
bisa bertarung semudah memelintir tangan bayi, dia tidak akan hidup bersembunyi
agar tidak menarik perhatian Layla yang gila perang itu.
"Sejujurnya,
kalau aku bertarung melawanmu, aku punya rasa percaya diri kalau aku yang akan
kalah, lho?"
"Fufu,
setelah saya mampu menghancurkan jembatan itu, barulah saya akan menganggap
ucapan Anda itu setengah serius. Saya mengerti kok kalau Anda sengaja
menciptakan celah dalam keseharian Anda."
"Ha,
haha……."
Sama sekali tidak
ada niat untuk menciptakan celah.
Namun, entah
kenapa dia dianggap sedang menciptakan celah dengan sengaja.
Perbedaan
kekuatan yang jauh inilah yang melahirkan kesalahpahaman tersebut. Itulah saat
Kai menyadari kembali bahwa sang Residen memiliki kekuatan untuk melindungi
dirinya sendiri.
──Bunyi lonceng
yang lembut bergema di kediaman.
Itu adalah
pertanda bahwa bel di gerbang utama telah dibunyikan.
"Oh?
Jarang sekali ada tamu yang membunyikan bel……. Ah, apa itu para pengawal yang aku minta?"
"Para
pengawal dijadwalkan berkumpul sore nanti sesuai waktu yang ditentukan, jadi
sepertinya ini orang lain. Saya akan segera memeriksanya."
"Tolong, ya.
Kalau ada masalah apa pun, aku juga akan ikut turun tangan, jadi jangan sungkan
untuk memanggilku."
"Dimengerti."
Setelah
itu, Kai mengantar kepergian sang Residen dari ruang kerja.
Tiga
menit berlalu sementara ia melanjutkan belajar sambil menggerakkan bidak catur
sendirian.
Begitu ia
menjawab ketukan di pintu, sang Residen muncul dengan ekspresi yang tampak agak
tidak enak hati.
(Sepertinya ada sesuatu yang terjadi…… ya)
Kai menyadari
perubahan suasana tersebut. Ia pun mendahului dengan menyapa sang Residen.
"Siapa
tamunya? Apa ada komplain atau semacamnya?"
"Bukan, itu
hanya sapaan umum dari tetangga yang akan tinggal di sekitar sini mulai minggu
depan──"
"Kalau begitu baguslah…… tapi, kenapa nada bicaramu
menggantung?"
Seharusnya kalimat itu berakhir sebagai pernyataan selesai,
namun Kai langsung menangkap ada sesuatu yang disembunyikan dalam kata-katanya.
"Anu…… Saya mohon maaf sebesar-besarnya, tapi apakah
Shikkoku-sama bisa ikut menemui tamu tersebut? Tamu ini membawa segel lambang
bangsawan yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga Duke."
"……Hm?"
Jika memiliki status bangsawan, penjelasan ini mungkin sudah
cukup untuk dimengerti, tapi sayangnya Kai tidak begitu.
Ia memutar otaknya keras-keras, dan akhirnya inilah yang
terlintas di pikirannya.
"Ah—jadi maksudnya, karena aku sendiri memegang lambang
keluarga Duke, begitulah? Semacam etika formal dalam hubungan
antar-bangsawan."
"Tepat sekali. Jika seseorang dianugerahi lambang dari
keluarga Duke, informasi itu terkadang menyebar ke bangsawan lain. Tujuannya
adalah untuk menjalin hubungan di antara mereka yang dianggap tepercaya demi
memperluas jaringan koneksi."
"Aku
mengerti."
(Intinya,
tamunya adalah seorang bangsawan, ya……. Meski kastanya pasti di bawah Duke,
setidaknya itu sedikit melegakan…… tapi tetap saja)
Tekanannya
terasa luar biasa hebat.
Jika dia
melakukan kesalahan=sama saja dengan mencoreng nama baik keluarga Duke.
Hal itu sangat mudah
dibayangkan.
"Biasanya
hal seperti ini dilakukan saat ada pesta, tapi…… terkadang kejadian seperti ini
bisa terjadi. Selain itu, bagi pihak tamu pun, ini adalah hal yang tidak bisa
dihindari demi menjaga martabat."
"Kalau
begitu, lebih baik kita undang masuk ke dalam agar tidak tidak sopan,
kan?"
Memutuskan
semuanya sendirian terasa sedikit mencemaskan.
Kai
merasa lega setelah melihat sang Residen mengangguk setuju.
(Sejujurnya
aku ingin menyelesaikannya dengan cepat sambil berdiri saja, tapi……)
Memberikan
kesan ramah pasti akan memberikan citra yang lebih baik.
Hal itu
juga berpotensi meningkatkan kesan baik terhadap keluarga Duke. Mengingat ia juga meminta bantuan
pengerahan pengawal, Kai ingin melakukan apa yang ia bisa semaksimal mungkin.
"Baiklah.
Kalau begitu, bisakah kamu membawakan teh atau sesuatu ke ruang tamu?"
"Dimengerti.
Maaf sudah merepotkan Anda."
"Tidak,
jangan dipikirkan."
Pembicaraan macam
apa yang harus ia lakukan?
Apakah ia
bisa bicara dengan benar?
Kekhawatiran
melintas di kepalanya, tapi di saat seperti ini ia harus berpura-pura kuat.
Dan tepat saat
itu, matanya tertuju pada permainan papan yang baru saja ia sentuh. Sebuah
kilatan ide muncul di benaknya.
"Ah……. Pak
Residen, apakah tidak masalah jika aku mengajak tamu itu bermain catur?"
Kai sangat tidak
pandai mengobrol dengan orang yang baru pertama kali ditemui, apalagi yang
memiliki status tinggi.
Ia butuh sebuah
item agar suasana tidak menjadi canggung meski percakapan terhenti.
"Sama sekali
tidak masalah. Justru itu bisa menjadi pemicu untuk memperlancar percakapan,
jadi saya rasa ini akan menjadi waktu yang menyenangkan bagi kedua belah
pihak."
"Kalau
begitu──"
"──Saya juga
akan membawakan papan caturnya ke ruang tamu."
"Terima
kasih. Sampai nanti kalau begitu."
"Baik. Mohon
bantuannya untuk menemui tamu tersebut."
Karena tamu sudah
menunggu, mereka harus bergerak cepat. Kai pun segera melangkah dengan
terburu-buru menuju gerbang utama.
◆◇◆
(A-apa-apaan
pria ini……? Apa benar pria ini yang berhasil membongkar pengintaianku……?)
Di bawah
instruksi Layla dari Veltahl, perwakilan agen intelijen yang berhasil menyusup
ke kediaman tempat tinggal Shikkoku itu──tertegun tak percaya.
Kebingungan besar
melanda dirinya.
Shikkoku, yang
duduk di sofa ruang tamu setelah mengundangnya masuk tanpa kewaspadaan sedikit
pun, terlihat penuh dengan celah.
Bahkan bagi
dirinya yang bukan anggota unit tempur, Shikkoku terlihat sangat lemah
sampai-sampai ia berpikir, 'Bukankah aku bisa menang dengan mudah?'
(Inikah
orang yang benar-benar bisa mengimbangi Layla-sama……? Orang yang memiliki kemampuan untuk
mendapatkan perlengkapan Level 8……? Orang yang bukan hanya menyelamatkan putri
dari Tiga Puncak yang diculik organisasi kriminal Red Fried seorang diri, tapi
juga memiliki banyak Ramuan Ajaib Legendaris, menghancurkan jembatan atas nama
pertahanan diri, dan mengamuk di kota…… itu?)
Hingga hari ini,
ia telah menyelidiki semua informasi yang beredar di permukaan.
Justru karena
sudah menyelidiki semuanya, terjadi kesenjangan yang tidak bisa diungkapkan
dengan kata-kata.
(Sejujurnya,
sang Residen yang bekerja di kediaman ini terlihat berkali-kali lipat lebih
kuat……)
Karena ia
mencurahkan segalanya untuk mendapatkan informasi tentang Shikkoku, ia tidak
tahu apa-apa tentang sang Residen. Namun, dari cara bersikap dan gerak-geriknya
saat berhadapan, ia terpaksa mengambil kesimpulan tersebut.
(Ada
kemungkinan Shikkoku sengaja menciptakan celah……. Tidak, kenyataannya pasti
begitu, tapi mungkin aku juga harus menilai bahwa rumor yang beredar itu agak
berlebihan)
Berdasarkan
pengalamannya selama bertahun-tahun──seorang ahli pasti memiliki kebiasaan yang
tidak bisa disembunyikan.
Dalam momen yang
tak terduga, akan muncul gerak-gerik yang hanya dimiliki oleh orang kuat,
seperti tajamnya pandangan, ketajaman intuisi, atau saat di mana celah untuk
menyerang tiba-tiba menghilang.
Namun, hal-hal
semacam itu sama sekali tidak terlihat pada Shikkoku.
Memang masih
terlalu dini untuk menilai, tapi pada tahap ini pun, sangat jarang ada orang
yang bisa menyembunyikannya dengan begitu sempurna.
"E-anu,
mungkin sudah agak terlambat untuk mengatakannya…… tapi aku senang kamu datang berkunjung hari
ini. Terima kasih juga untuk
oleh-olehnya."
"Sama sekali
tidak perlu sungkan. Justru saya yang berterima kasih karena Kai-sama telah
meluangkan waktu berharga Anda."
Perkenalan diri
sudah dilakukan di gerbang utama, namun hal itu sama sekali tidak berarti bagi
pikiran Schwarz, sang perwakilan agen intelijen.
Sebab, pada nama
Shikkoku, tidak ada nama keluarga, nama wilayah, maupun gelar kehormatan.
(Kalau mau
pakai nama samaran, seharusnya dia memikirkannya lebih matang……. Seharusnya dia
memakai nama asli seperti aku untuk mendapatkan kepercayaan lawan……. Jika sudah
sevulgar ini, rasanya sia-sia saja bertanya soal latar belakangnya)
Kenyataannya,
diremehkan justru lebih menguntungkan baginya.
Ia tidak punya
keluhan apa pun, tapi ini pertama kalinya ia bertemu orang yang seberani ini.
"……"
──Tidak, ia
meralatnya.
Ada satu hal yang
ia keluhkan.
Pemicunya adalah
ajakan mendadak yang ia terima sesaat setelah memasuki ruang tamu.
(Pria ini, dia terlalu lemah dalam bermain catur……. Kelemahan seperti ini membuat permainannya
tidak bisa dinikmati sama sekali……. Sebenarnya, apa tujuan pria ini……)
Mengingat ia
datang untuk bertamu, ia tidak boleh menang telak.
Memberikan
tingkat kemudahan maksimal sambil tetap berbincang benar-benar membuatnya
stres.
Sesaat,
kecemasan melintas seperti kilatan cahaya di pikirannya, 'Mungkinkah dia
sengaja melakukan ini karena sudah tahu kalau aku sedang mencari informasi
lewat percakapan?'.
Namun,
melihat Shikkoku yang tampak bersungguh-sungguh dan serius menghadapi papan
catur, ia rasa tidak mungkin seperti itu.
Faktanya,
justru karena ia tidak merasakan firasat buruk, ia merasa bisa melangkah lebih
jauh.
"Omong-omong,
Kai-sama."
"I-iya?"
"Saya
dengar Kai-sama adalah orang yang sangat ahli dalam ilmu bela diri!"
"Ah……."
"Sebenarnya──saya
juga sedikit banyak mendalaminya."
Jika
'ahli ilmu bela diri' itu disangkal, ia tidak akan bisa menyentuh topik yang ia
incar.
Di sini
ia berpura-pura tertarik pada bela diri dan mulai menggerakkan mulutnya dengan
antusias.
"Saya
sangat menyukai orang yang mahir menggunakan pedang seperti Shikkoku-sama……
maksud saya, seperti Kai-sama."
"……Te-terima
kasih banyak."
"Ngomong-ngomong,
tipe gaya bertarung seperti apa yang Kai-sama sukai dari lawan Anda?"
Topik ini
dimunculkan secara mendadak, namun sesuai dugaan, Shikkoku tidak tampak curiga
sama sekali.
"Gaya
bertarung…… ya. Hmm, aku rasa tipe yang bergerak lincah dan menyerang adalah
yang paling keren."
"Lalu,
apakah ada gaya bertarung yang Kai-sama rasa sulit untuk dihadapi saat
berhadapan langsung?"
"Saat
berhadapan langsung, ya……. Hmm. Pada dasarnya aku benci semuanya sih, tapi yang
paling menyebalkan adalah tipe yang menggunakan serangan jarak jauh……. Sulit
sekali kalau lawan menjaga jarak."
"Haha,
sebenarnya saya juga kurang suka dengan tipe yang sama."
"Wah,
aku tidak menyangka Schwarz-sama tertarik dengan topik seperti ini dan
mendalami ilmu bela diri."
"Yah,
saya sedikit banyak terpengaruh oleh berbagai hal."
Sambil
menyembunyikan kegembiraan karena berhasil mendapatkan informasi yang
ditargetkan, Schwarz merangkai kata-katanya dengan tenang.
(Ta-tak
disangka aku bisa mendapatkan informasi tentang kelemahannya semudah ini……)
Ia
berhasil mendapatkan informasi yang diinginkan Layla.
Ini
adalah perolehan yang sangat besar, sesuatu yang akan sangat menguntungkan
pihak mereka.
(Fufu,
aku tidak berniat lengah, tapi jika begini sepertinya target sisanya juga bisa
diselesaikan dengan mudah)
Alasannya
menyusup ke kediaman ini bukan hanya itu.
Ada dua hal lain
yang ingin ia selidiki: 'Item dan perlengkapan apa saja yang disimpan' serta
'Segel lambang yang menunjukkan hubungan dengan negara lain'.
Sambil memikirkan
waktu yang tepat untuk meninggalkan ruangan sejenak, ia berniat memperluas
topik pembicaraan untuk mencari lebih banyak kelemahan Shikkoku…… namun tepat
saat itu.
Tok tok.
Suara ketukan
bergema di ruang tamu.
Setelah mendapat
izin dari Shikkoku, sang Residen masuk sambil mendorong kereta dorong berisi
teh dan kue kering.
"Maaf saya
terlambat, silakan dinikmati."
"Terima
kasih."
"Terima
kasih atas keramahannya."
"Sama-sama."
Setelah
menyampaikan terima kasih kepada sang Residen.
(Fiuh…… di sini aku harus tetap tenang)
Schwarz secara tidak mencolok mengambil napas dalam-dalam,
memilih untuk menjauh sejenak dari topik pencarian kelemahan Shikkoku.
Sekarang, jumlah orang yang harus ia waspadai bertambah
satu.
Jika sang Residen merasa ada yang janggal, ada kemungkinan
ia akan langsung menyampaikannya pada Shikkoku.
Sejauh ini
semuanya berjalan lancar. Ia tidak boleh membiarkan rasa terburu-buru merusak
peluang keberhasilan yang lebih besar.
"Saya
tiba-tiba penasaran, apakah Kai-sama dan Pak Residen hanya tinggal berdua saja
di kediaman ini?"
"Yah, begitulah…… karena aku masih melajang."
"Begitu rupanya. Itu cukup mengejutkan."
"Apakah Schwarz-sama sudah berkeluarga?"
"Ya, saya belum punya anak, tapi saya hidup bersama
istri tercinta yang sangat saya banggakan."
"Begitu, ya. Itu benar-benar membuat iri."
"Fufu, bukankah bagi orang seperti Kai-sama akan ada
banyak pelamar yang antre?"
"Tidak,
tidak, tidak mungkin begitu."
Sambil
bertukar cerita ringan tentang kehidupan pribadi, ada satu hal yang mengganjal
bagi Schwarz.
(Sepertinya
sejak tadi sang Residen terus memperhatikanku selama puluhan detik……)
Ia tidak
berbohong soal apa pun. Di
jari manis tangan kirinya pun ia mengenakan cincin pernikahan.
Seharusnya tidak
ada hal yang mencurigakan, namun ia tetap merasakan tatapan yang seolah sedang
mengawasi.
(Ternyata…… keputusanku untuk mengalihkan topik tadi
sudah tepat)
Meskipun dalam percakapan tadi tidak ada niat jahat, mungkin
tetap saja ada firasat yang bekerja.
(Pertama-tama
aku harus berusaha meluluhkan kewaspadaan sang Residen sepenuhnya……. Lagipula
Shikkoku sepertinya sudah mulai terbuka padaku)
Hal ini sangat
penting untuk bisa menggeledah isi kediaman.
Schwarz
memutuskan untuk tidak menyentuh topik seputar kehidupan pribadi Shikkoku
selama ada sang Residen, dan memilih untuk memperluas obrolan umum. Entah sudah
berapa lama waktu berlalu.
"Skakmat."
"Saya
menyerah. Anda memang hebat, Kai-sama."
"Haha,
terima kasih. Sebenarnya ini karena aku diajari catur oleh Pak Residen."
"Pantas saja
Anda begitu kuat."
(──Mana
mungkin! Pria ini, apa dia begitu tumpul sampai tidak sadar kalau aku sengaja
mengalah? Apa benar pria seperti ini yang berhasil membongkar pengintaianku……?
Lagipula, apa sang Residen juga begitu tumpul sampai tidak sadar kalau aku
sudah menahan diri?)
Sang Residen,
yang tetap tinggal di ruang tamu setelah meminta izin untuk 'menonton satu
babak', tampak menyipitkan mata dan memuji kemenangan itu seolah-olah bangga
melihat pertumbuhan muridnya sendiri.
Melihat
pemandangan ini, ia mulai berpikir bahwa sang Residen bukanlah ancaman yang
berbahaya.
Kesannya terhadap
Shikkoku pun semakin jauh berbeda dari citra yang ia bayangkan sebelumnya.
(Aku
benar-benar tidak bisa menganggap ini sebagai akting untuk membuatku lengah……)
Meskipun ia tetap
mempertimbangkan kemungkinan sedang ditipu, lama-kelamaan ia merasa konyol jika
memikirkannya terlalu dalam.
(……Baiklah,
sudah waktunya aku bergerak. Saat mereka sedang lengah seperti ini adalah
kesempatan emas)
Mereka pasti
ingin merayakan kemenangan berdua. Dengan begitu, perhatian kepada dirinya akan
melemah.
Setelah membaca
psikologi lawan dan memutuskan bahwa ini adalah waktu terbaik, Schwarz membuka
mulutnya.
"Anu,
Kai-sama. Mohon maaf sebesar-besarnya di saat seperti ini, tapi di mana letak
toiletnya……?"
"Ah,
toiletnya ada di──"
"──Tuan
tidak perlu berdiri. Biar
saya yang mengantarkan Anda."
"O-oh,
begitu ya. Kalau begitu tolong, ya."
"Cukup
beri tahu saya lewat ucapan saja juga tidak apa-apa……."
"Jangan
sungkan. Ini adalah bagian dari tugas saya."
"Baiklah.
Kalau begitu saya terima tawaran Anda."
Seandainya
diberitahu lewat ucapan saja, ia bisa berjalan sendirian di dalam kediaman. Ia
akan punya banyak waktu untuk menggeledah isi rumah.
Tindakan sang
Residen benar-benar sangat tidak menguntungkan bagi Schwarz, namun ia tetap
menyampaikan terima kasih dengan senyuman yang menutupi kekesalannya.
Setelah itu,
mereka berdua keluar dari ruang tamu dan berjalan menyusuri koridor sementara
dipandu oleh sang Residen.
"Di balik
pintu ini adalah toiletnya. Handuk sudah tersedia, jadi silakan gunakan dengan bebas."
"Terima
kasih atas keramahannya. Saya akan segera kembali begitu selesai──"
"Kalau
begitu, saya akan kembali ke ruang tamu lebih dulu."
"Silakan."
Karena ada etika
bahwa seseorang tidak boleh menunggu di dekat tamu yang sedang diantar ke
toilet, sang Residen langsung mengerti tanpa perlu diberitahu sampai akhir.
Schwarz menjawab
sang Residen yang bergerak sesuai dugaannya, lalu membuka pintu dan masuk ke
dalam.
Tentu saja, ia
tidak berniat menurunkan celananya ataupun buang air.
Alasannya minta
diantar ke sini adalah untuk sengaja menciptakan waktu di mana ia bisa bergerak
sendirian. Untuk mencari item, perlengkapan, dan segel lambang yang
disembunyikan Shikkoku.
Ia
menyandarkan punggungnya ke dinding, mendengarkan langkah kaki sang Residen
yang menjauh. Ia juga mendeteksi bahwa hawa keberadaan itu telah benar-benar
pergi.
"Nah……"
Setelah
benar-benar bebas, misi dimulai.
(Pertama-tama
adalah kamar pribadi Shikkoku di lantai tiga. Kemudian, ruang bawah tanah yang
seharusnya menjadi tempat gudang penyimpanan)
Sambil mengingat
kembali struktur kediaman yang sudah ia hafal di kepalanya, ia segera melakukan
simulasi dengan cepat.
"Aku tidak
boleh menunjukkan kegagalan lagi di depan Layla-sama……"
Ia harus
menemukan barang-barang yang berkaitan dengan identitas Shikkoku ataupun barang
yang dimilikinya.
Dengan tekad yang
kuat, ia mengaktifkan skill Stealth-nya dan membuka pintu tanpa suara.
Namun, tepat saat
ia melangkahkan kaki ke koridor.
"!"
Schwarz seketika
dipaksa menghadapi situasi di mana ia harus membatalkan skill Stealth-nya.
Di sudut matanya
terlihat seragam pelayan berwarna hitam dan putih.
Sosok yang
berdiri dengan tenang di persimpangan koridor adalah orang yang seharusnya
sudah kembali ke ruang tamu.
Seolah-olah baru
saja membatalkan skill Stealth yang sama, sang Residen tiba-tiba
memunculkan keberadaannya di sana.
"Ah!
Anu……"
"Mohon maaf
jika saya mengejutkan Anda. Saya sempat kembali ke ruang tamu sekali, namun
Tuan berpesan kepada saya untuk 'bertanggung jawab sampai akhir'."
"Be-begitu
rupanya."
(Tidak, itu
tidak mungkin. Hal
semacam itu benar-benar tidak masuk akal……)
Schwarz
yakin bahwa 'ia sedang dibohongi'.
Schwarz
tidak benar-benar buang air, dan ia keluar dari toilet dalam waktu sekitar 30
detik.
Kembali
ke ruang tamu, mendengarkan perintah majikan, lalu kembali lagi ke tempat ini
benar-benar mustahil secara waktu.
"……"
(Berarti
setelah berpura-pura kembali ke ruang tamu, dia langsung menggunakan skill Stealth
dan mulai bersiap menunggu di sini, ya……)
Keringat
dingin mulai bercucuran di dahi Schwarz saat ia menghubungkan titik-titik
kejadian tersebut.
Rasa
dingin merambat di punggungnya.
"…………"
(Apa
mungkin sang Residen mengambil tindakan ini atas inisiatifnya sendiri……? Tidak,
pasti sudah ada instruksi sebelumnya dari Shikkoku……)
Saat ia
menyadari hal itu, rasa takut seketika menyerangnya.
Kemungkinan
besar Shikkoku selama ini hanya berakting agar diremehkan.
"Apakah ada
masalah, Schwarz-sama?"
"Ti-tidak
ada apa-apa……."
"Begitu,
ya. Kalau begitu mari kita
kembali ke ruang tamu."
Meskipun
tersenyum, mata sang Residen sama sekali tidak terlihat tertawa.
Apa hanya
perasaannya saja kalau wajah itu seolah tertulis kalimat 'Aku sudah tahu
semuanya'? Tidak, ia merasa itu bukan sekadar perasaan saja.
Niatnya untuk
mencari informasi sudah terbongkar. Shikkoku pasti sudah dalam posisi siap
tempur sekarang. Dia pasti sudah selesai bersiap untuk mencabut nyawanya.
(Bagaimana
caranya aku bisa melewati situasi ini……)
Sembilan puluh
sembilan persen, Shikkoku bukanlah orang dari pihak Kekaisaran. Bisa dibilang
sang Residen sudah sepenuhnya menjadi kaki tangannya.
Bahkan jika
disiksa sekalipun, ia tidak boleh membocorkan informasi tentang Veltahl kepada
lawan seperti ini.
(……Sepertinya
aku harus bersiap untuk kemungkinan terburuk……)
Sambil menyentuh
pisau kecil yang ia sembunyikan di pinggang, Schwarz berjalan menyusuri
koridor.
(Aku hanya
bisa berdoa agar dia mau mencabut nyawaku dengan tenang saat saatnya tiba……)
Tanpa sadar
mereka sudah sampai di depan ruang tamu──.
Sang Residen
membuka pintunya perlahan──.
Di saat itulah,
seluruh tubuhnya terasa panas seolah-olah darah yang mengalir di nadinya mulai
mendidih.
Dunia seolah
bergerak dalam gerakan lambat di depan matanya.
Schwarz
membelalakkan matanya sambil menggenggam erat gagang pisau kecilnya, bersiap
menghadapi serangan mendadak Shikkoku sambil menyadari ajalnya sudah dekat,
namun tepat saat itu.
"Bagaimana
kalau kita tanding ulang caturnya?"
"!?"
Pikiran Schwarz
seketika menjadi kosong. Ketegangannya menghilang, dan seluruh tenaganya seolah
terkuras habis.
Melihat Shikkoku
yang masih duduk di sofa tanpa menunjukkan sedikit pun niat membunuh.
Melihat Shikkoku
yang sudah merapikan bidak catur ke posisi semula dan bersiap untuk babak kedua
sesuai ucapannya.
"……Ah, apa
kamu sudah bosan? Main
catur……"
"Ti-tidak!
Sama sekali tidak. Mohon bantuannya untuk tanding ulangnya!"
"Syukurlah
kalau begitu."
Meskipun
tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi, Schwarz duduk kembali ke posisi
semula sambil merasakan ajalnya menjauh sesaat.
Namun
agar tidak lengah, ia menekan getaran tangannya di atas lutut.
(Apa karena
rencanaku baru sebatas percobaan? Apa karena tadi aku sengaja mengalah……?
Sebenarnya apa-apaan ini……)
Saat ia berusaha
untuk tenang dan mencoba mencari logika dari informasi yang minim, Shikkoku
tiba-tiba berujar seolah-olah bisa melihat isi pikirannya.
"Ah, Pak
Residen, kalau nanti ada keperluan mengantar lagi, biarkan aku saja yang
melakukannya."
"…………Dimengerti."
Sang
Residen menjawab setelah jeda sesaat.
(Aku…… pasti memiliki pemikiran yang sama dengan sang
Residen)
Maksud Shikkoku repot-repot ingin turun tangan sendiri.
Secara tersirat ia menyampaikan pesan, 'Jika lain kali pria
ini mencoba bertindak kurang ajar lagi──' maka dialah yang akan mengantarnya.
(Shikkoku sudah memahami semuanya sejak awal dan tetap
mengundangku ke kediaman ini, ya……. Karena dia menganggapku sebagai lawan yang
remeh……)
Ketenangan itu, kemurahan hati itu, justru terasa mengerikan
bagi Schwarz.
(Layla-sama,
saya benar-benar mohon maaf……)
Ia sudah
dipermainkan semudah ini.
Informasi yang ia
dengar lewat percakapan tadi, tentang 'tidak suka tipe serangan jarak jauh',
pasti adalah sebuah kebohongan.
Ia hanya
diberikan harapan palsu saja.
Sambil diliputi
rasa bersalah, ia merasa sangat pahit menghadapi situasi ini.
Sudah pasti semua
rencananya telah terbongkar. Mustahil baginya untuk mencapai tujuan, dan semua
waktu yang akan ia habiskan di kediaman ini hanyalah kesia-siaan.
Dan dari caranya
menikmati permainan catur yang sangat lemah itu, sepertinya ia sengaja ingin
membuang-buang waktu Schwarz.
(Sialan……)
Schwarz telah
berhasil merangkak naik hingga menjadi perwakilan agen intelijen, namun ini
pertama kalinya ia bertemu lawan yang mempermalukannya sampai sejauh ini.
(Layla-sama,
mohon balas dendamkan saya nanti……)
Meskipun ia tidak
mendapatkan informasi apa pun yang diminta Layla, ia harus kembali dan
melaporkan 'sifat asli Shikkoku'.
Demi mengambil
hati Shikkoku agar kemurahan hatinya tidak berubah, Schwarz mulai bermain catur
sambil terus menahan diri.
◆◇◆
Di saat yang
bersamaan.
"Hei Garagu,
aku bertamu sebentar, ya."
"Panggil aku
'Garagu-san' atau 'Kepala Cabang', tahu. Aku ini lebih tua darimu. Lagipula
jangan masuk seenaknya, dong."
Di lantai teratas
Asosiasi Treasure Hunter. Garagu, sang Kepala Cabang yang mengawasi asosiasi
ini, melayangkan protes pada Layla yang menerobos masuk ke ruangannya dengan
langkah mantap sambil mengibaskan rambutnya.
"Aku
sudah bilang kok ke resepsionisnya."
"Kalau
begitu tunggu sampai dipanggil."
"Aku
sudah menunggu tiga menit."
"Makanya,
tunggu sampai dipanggil……."
"Kita kan
sudah akrab. Jangan protes terus."
"Aku protes
karena kamu selalu merepotkanku, tahu. Tiap kali datang, kamu selalu menghajar
sesama pemburu di ruang latihan bawah tanah."
Tentu saja hanya
Layla yang berani bersikap seperti itu kepada Garagu.
Selain karena
mereka sudah berteman sejak lama, Layla adalah satu-satunya penakluk dungeon
Level 7 di kota ini. Selain itu, ada alasan lainnya.
"Menghajar
itu bahasa yang kasar sekali, ya. Aku kan cuma memberinya sedikit
pelatihan."
"Maksudmu
menarik paksa tangan pemburu itu dan menyeretnya ke ruang latihan, kan……? Semua
orang ketakutan karena ulahmu, tahu tidak?"
"Kalau
begitu, panggil saja aku teman yang tidak membosankan…… tapi itu cuma bercanda
kok──"
Di sini mata
Layla menyipit, nada suaranya tiba-tiba berubah.
"──Karena
kita kan teman yang saling mengetahui rahasia masing-masing."
"Hah…… sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau
kamu anggota organisasi agung itu. Benar-benar sulit dipercaya."
"Padahal kamu sendiri yang menerima laporan itu dari
markas pusat asosiasi, kan, Garagu?"
"Berisik."
Mereka yang tergabung dalam Veltahl dan ditugaskan mengawasi
wilayah kota demi menjaga keamanan biasanya diambil dari kelas tertinggi
Treasure Hunter.
Oleh karena itu, prosedur biasanya melibatkan orang-orang di
puncak asosiasi masing-masing sebagai perantara dengan Treasure Hunter yang
direkrut, sehingga secara otomatis akan diketahui siapa yang bergabung dengan
Veltahl.
Namun, ada alasan juga kenapa informasi ini sebaiknya hanya
diketahui oleh petinggi asosiasi demi mempermudah berbagai urusan.
"Jadi, ada
urusan apa hari ini? Kamu bukan tipe orang yang masuk ke ruangan ini tanpa
alasan, kan?"
"Aku ingin
informasi tentang Shikkoku."
"Hah?"
"Makanya,
aku bilang berikan informasi tentang Shikkoku. Ini bukan kepentingan pribadi, tapi kebutuhan
organisasi."
Layla menuntut
dengan tegas sambil menyodorkan tangan kanannya seolah meminta.
"Bukannya
itu aneh? Kamu seharusnya jauh lebih tahu dariku. Karena Shikkoku itu kan sama
denganmu──"
"──Hei, itu
sama sekali tidak benar, tahu."
"Jangan
bohong."
"Aku
serius!"
Karena merasa
bangga menjadi bagian dari Veltahl, kesalahpahaman ini benar-benar mengusiknya.
Layla pun memperkeras intonasi bicaranya.
"Lagipula,
siapa sih yang menyebarkan kebohongan seperti itu. Semuanya pada bicara
sembarangan."
"Bukannya
ada yang menyebarkan kebohongan, tapi orang-orang menilai begitu setelah
melihat secara keseluruhan."
"……Benar-benar
tidak paham. Suruh orang itu menyangkalnya sendiri, dong."
Layla
mengerutkan kening dengan rasa tidak suka yang meluap-luap.
Veltahl
bukanlah organisasi yang boleh disalahpahami semudah itu.
Dalam
pikirannya terbayang wajah Shikkoku yang sepertinya sedang menikmati situasi
ini.
"Maksudmu…… kalau melihat reaksimu, berarti itu benar,
ya. Pria itu, meski punya
perlengkapan sehebat itu, ternyata bukan anggota Veltahl……? Padahal aku sudah
mengundangnya sampai ke ruangan ini……"
"Hah? Apa
yang kamu lakukan!"
"Aku pikir
dia salah satu anggota organisasi yang mengawasi wilayah kota tertentu. Mau
bagaimana lagi? Dia adalah sosok yang harus diperlakukan dengan sangat
hormat."
"Aku
benar-benar kecewa padamu, Garagu."
"Jangan
bicara begitu. Aku sendiri pun sedang kecewa pada diriku sendiri saat
ini……."
Dia telah
mengundang seseorang yang bukan anggota Veltahl, seorang pria misterius yang
tidak jelas asal-usulnya, ke dalam ruangan Kepala Cabang yang dilarang bagi
orang luar.
"Yah…… karena situasinya tidak mengenakkan, mari kita
ganti topik. Apa kamu tidak salah meminta bantuan padaku kali ini? Bukannya
kamu bisa menyuruh bawahanmu untuk mengumpulkan informasi? Informasi yang aku
punya tidak seberapa dibandingkan dengan informasi yang dimiliki pihakmu."
"Bawahanku
tidak sanggup melakukannya. Khusus untuk kali ini."
"Oi, oi.
Bukankah mereka agen intelijen yang sudah berpengalaman?"
"Aku sendiri
yang paling ingin menganggap ini sebagai lelucon, tahu."
Selama ini ia
selalu mengandalkan mereka untuk apa pun. Meski permintaannya terkadang tidak
masuk akal, mereka selalu menjawab ekspektasinya.
Hingga titik
inilah semua itu terakumulasi.
"Makanya
beritahu aku. Semua informasi yang kamu tahu. Soalnya aku tidak tahu apa
rencana orang itu."
"Biarpun
kamu bicara begitu, aku benar-benar tidak tahu apa-apa lagi……."
"Bukannya
karena posisimu, kamu punya informasi rahasia atau semacamnya?"
"Aku tidak
menyembunyikan apa pun."
Sambil bicara, ia
melambaikan tangannya dan melanjutkan kata-katanya.
"Shikkoku
berhasil melindungi putri dari Tiga Puncak sampai ke kota ini, jadi dia lolos
pemeriksaan identitas saat masuk kota. Dia juga tidak punya catatan pendaftaran
sebagai Treasure Hunter."
"……"
"Meskipun
begitu, dia punya perlengkapan yang hanya bisa didapatkan di Dungeon Level 8,
kan? Kalau menurutku, identitasnya pasti disembunyikan oleh kekuatan organisasi
itu."
"Tapi dia
tidak ikut pertemuan organisasi kemarin. ……Dia tidak, ikut, hadir……
kan."
Di sini tiba-tiba nada bicara Layla menjadi tidak lancar.
Ia menundukkan
mata seolah sedang berpikir keras, lalu menutup mulutnya.
"A-ada
apa?"
"Kalau
dipikir-pikir…… ada
satu orang yang tidak pernah datang ke pertemuan tiap kali diadakan. Kami
ditugaskan mengawasi salah satu kota yang berada di bawah pengaruh Ibukota
Kekaisaran, tapi rumornya, hanya dia satu-satunya yang ditugaskan untuk
mengawasi seluruh wilayah."
"Artinya,
dia diberi peran untuk memeriksa kinerja kalian, begitu?"
"…………"
Karena ini adalah
organisasi perwakilan Kekaisaran, manajemen risiko pasti dilakukan secara
menyeluruh.
Dan pasti ada
peran yang hanya diberikan kepada orang yang dipercaya memegang seluruh
wilayah.
"Kalau
dipikir secara sederhana, bukankah Shikkoku cocok dengan peran itu? Yah,
meskipun aku juga ingin percaya begitu…… tapi itu bukan hal yang mustahil.
Alasan Shikkoku tidak menjadi pembicaraan di tempat lain adalah karena dia
mengganti perlengkapannya setiap saat, dan alasan dia tidak hadir di pertemuan
adalah agar dia tidak menjalin hubungan dengan anggota lain, sehingga dia tidak
akan ragu jika suatu saat harus menindak mereka."
"Masuk akal juga. Tidak, justru teori itu jauh lebih
bagus."
Layla bertepuk tangan dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba
cerah.
Matanya
berbinar-binar dengan cara yang tidak biasa.
"Oi, oi…… Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu yang
buruk, kan?"
"Kalau
teorimu benar, aku jadi penasaran, kan. Seberapa kuat orang yang dipercaya
Veltahl untuk mengawasi seluruh wilayah. Kalau dia sesama anggota, seharusnya
tidak masalah jika kami melakukan duel latihan sedikit."
"Hm?
Bukannya kalau kamu sengaja mengincarnya, kamu akan kena penalti?"
"Kalau aku
melakukannya dengan sengaja dan yakin, mungkin iya, tapi rencanaku tidak
seperti itu kok, jadi tenang saja."
Mendengar Layla
yang mengatakannya dengan lancar, mulut Garagu semakin berkedut karena
khawatir.
"Lagipula,
kalau bisa berduel dengan orang sehebat itu, kena penalti pun rasanya masih
sepadan."
"……Aku
benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi."
Sensasi
Layla memang berbeda dari orang normal. Begitu dia mulai berpikir 'aku bisa
bertarung dengan orang kuat', dia akan menjadi sangat keras kepala.
Itulah
Layla, sang penakluk Dungeon Level 7 yang lahir di kota ini.
"Dengar,
kalau kamu mau menyerang Shikkoku, tolong lakukan di pinggiran kota, ya. Aku
mohon."
"Jangan
bilang hal yang sudah jelas begitu. Di tengah kota kan tidak bisa bertarung
dengan menyenangkan."
Meskipun ia ingin
Layla memprioritaskan kerusakan kota, berkat pemikiran Layla tersebut,
kekhawatirannya sedikit berkurang.
"Fufu, aku
tidak menyangka kalau Shikkoku ternyata adalah rekan sendiri. Fufufu, kalau dia teman, aku bisa
berduel berkali-kali dengannya, kan."
Sepertinya
sekarang ia sedang membayangkan banyak hal.
Melihat
Layla yang senyum-senyum sendiri, Garagu menatapnya dengan pandangan setengah
malas.
"Kalau
urusanmu sudah selesai, bisakah kamu pulang sekarang?" tanyanya.
◆◇◆
Waktu
menunjukkan senja hari.
Beberapa
jam setelah berpisah dengan Schwarz yang datang berkunjung.
"Kami
datang atas perintah Duke Digoot. Mohon bantuannya mulai hari ini."
"A-ah. Mohon
bantuannya juga."
Di kediaman
tempat Kai tinggal, sepuluh orang pengawal kiriman Duke telah tiba, dan Kai
sedang bertukar sapa dengan ketua pengawal mereka.
Kali ini, jumlah
yang ia minta sebenarnya dua puluh orang.
Meskipun saat ini
masih kurang, besok dijadwalkan akan ada masing-masing lima orang pengawal lagi
dari keluarga Ansarage dan keluarga Albrela.
Bukan karena ada
masalah yang terjadi.
"Shikkoku-sama!
Tanpa menunda waktu, kami mohon izin untuk segera menjalankan tugas kami."
"Terima
kasih. Jika ada hal yang mencurigakan atau mengganjal, aku akan senang jika
kalian segera melapor."
"Siap."
"Lalu,
jika terjadi situasi terburuk, tolong prioritaskan untuk melindungi Pak Residen
ini. Aku sendiri akan mengurus diriku sendiri."
"Diperlakukan
seperti wanita lemah begini…… sungguh merepotkan……."
"Begitu
katanya, tapi tolong tetap jalankan sesuai instruksiku."
"Dimengerti.
Kalau begitu, kami
permisi!"
Mungkin karena
pengaruh cahaya senja.
Ketua pengawal
yang melihat wajah sang Residen memerah itu segera memberikan jawaban──lalu
berlari menuju pos penjagaan masing-masing.
"……"
"……"
Kai dan sang
Residen sama-sama mengantar punggung gagah mereka hingga tak terlihat lagi.
Dan yang pertama
kali bersuara adalah sosok yang memiliki tinggi badan lebih pendek.
"Ehem. Meski
sudah sewajarnya, Shikkoku-sama benar-benar dianggap sebagai sosok yang spesial
oleh Digoot-sama, ya."
"Eh?"
"Orang-orang
yang dikirimkan Digoot-sama tadi adalah pasukan inti dari unit elit, yang
biasanya menjadi pengawal pribadi beliau."
"Eh!?
Tunggu sebentar. Kalau begitu…… apakah pihak Duke sendiri akan baik-baik
saja?"
Kai
memang meminta pengawal, tapi ia tentu tidak melayangkan permintaan tidak tahu
malu untuk dikirimkan pasukan elit.
"Jika
beliau menganggap itu akan menimbulkan masalah, beliau tidak akan mengirimkan
mereka ke sini. Sebagai kepala keluarga, pasti ada hal yang tidak bisa beliau
kompromikan, apalagi ini juga berkat kerja sama dari keluarga Ansarage dan
keluarga Albrela."
"Kalau begitu syukur deh…… tapi gawat juga kalau beliau
sampai salah memprioritaskan hal yang paling penting."
Kai mengerti bahwa sebagai Duke beliau pasti memiliki banyak
unit elit, namun ia khawatir jika hal ini 'memaksakan diri'.
Jika beliau lebih memprioritaskan keselamatannya di sini
dibandingkan keselamatan keluarganya sendiri, itu justru akan membuatnya merasa
tidak enak hati.
Akhirnya ia
memutuskan untuk mempercayai kata-kata sang Residen dan menenangkan pikirannya.
"Anu,
sebelum saya kembali bekerja, bolehkah saya menanyakan satu hal lagi?
Sebenarnya ini bukan hal yang pantas ditanyakan, tapi saya benar-benar
penasaran."
"I-iya. Apa
itu?"
"Mengenai
Schwarz-sama."
"Hmm……."
Karena
pembukaannya sangat sopan, topik ini terasa mengejutkan bagi Kai.
"Mengenai
kejadian tadi, apakah Anda tetap berniat menyelesaikannya secara damai? Meski
baru sebatas percobaan, tindakan yang berniat melakukan hal seperti itu
sebenarnya tidak boleh dimaafkan begitu saja."
"Menyelesaikan
secara damai? Tindakan percobaan? ……Maksudmu Schwarz-san yang menemaniku
main catur tadi?"
"Benar.
Tidak perlu saya katakan lagi, dia jugalah pengintai dari kemarin."
"……"
Kenapa dia
berpikir begitu, apa yang dia sadari, dan apa yang dia lihat, Kai sama sekali
tidak punya gambaran.
Kapan ia
melakukan tindakan untuk 'menyelesaikan secara damai' pun ia sama sekali tidak
mengerti. Namun, dari alur pembicaraan ini, ia paham bahwa Schwarz memang
berniat melakukan sesuatu yang buruk.
"Yah,
begitulah, kalau masih sebatas percobaan berarti belum ada kerugian yang
timbul, jadi tidak perlu diperbesar, kan? Dia pasti akan merenung kok."
"Anda
benar-benar sangat baik, ya."
"Haha……."
"Melihat
gelagatnya tadi, dia pasti tidak akan melakukan tindakan apa pun lagi. Karena
dia juga sudah tahu kalau kita mengawasinya, Karen-sama dan Lifia-sama pasti
bisa bepergian dengan tenang sekarang."
"Hmm."
Kai tidak
setajam sang Residen.
Meskipun
sang Residen menyampaikannya secara ringkas karena berpikir 'tidak perlu
menjelaskan sampai detailnya', Kai tetap saja merasa bingung.
"Yah, intinya…… kamu hebat sekali bisa waspada dan
menyadarinya, ya. Pak Residen."
"Itu semua
berkat Shikkoku-sama, karena kejadiannya tepat setelah kejadian kemarin. Dari
sudut pandang lawan, keputusan Anda memanggil pengawal tidak memberinya pilihan
selain mempercepat rencananya."
"……Berarti,
pilihanku meminta bantuan pengawal secara tidak sengaja mengenai sasaran
lawan?"
"Hanya itu
yang bisa saya pikirkan."
"Wah, hebat
sekali yaー."
Meskipun Kai
merespons begitu, karena ia sendiri tidak merasakannya secara nyata, reaksinya
terdengar agak dibuat-buat.
"Ahー lalu benar juga. Kembali ke topik tadi,
menurutmu apa sekarang sudah tidak masalah meski tidak ada pengawal lagi?"
"Dengan
penuh percaya diri, ya."
"Oke. Kalau
begitu kita serahkan urusan rumah pada para pengawal selama satu minggu saja.
Bilang 'sekarang sudah tidak apa-apa' setelah mereka baru saja datang
sepertinya sangat tidak sopan……"
"Dimengerti."
Ia tidak
meragukan pendapat sang Residen yang hebat. Ia segera memantapkan rencananya.
Semakin
lama pengawal bekerja di kediaman ini, ia juga harus memberikan imbalan yang
setimpal.
Mengingat kondisi
keuangannya juga, ia ingin menekan pengeluaran sebisa mungkin. Jadi pendapat
sang Residen ini sangat membantu.
"Kalau
begitu, saya mohon izin untuk kembali bekerja."
"Jangan
terlalu memaksakan diri."
"Terima
kasih banyak."
Percakapan
berakhir dengan pas, sang Residen membungkukkan badan dan melangkah menuju
kediaman.
Lalu, ia
mendadak menghentikan langkahnya dan menoleh kembali.
"Shikkoku-sama.
Sosok Anda yang tetap konsisten bersikap seolah tidak tahu apa-apa agar tidak
menimbulkan kehebohan, saya benar-benar menyukainya, lho."
"A-ah……?"
"Sekali
lagi, permisi."
Ucap sang
Residen sambil menyipitkan mata dan tersenyum lembut.
Kai pun hanya
bisa terdiam karena dipuji di saat yang sama sekali tidak ia duga.



Post a Comment