Interlude 1
"Ha……?
Shikkoku menyadari pengintaianmu sepenuhnya? Tunggu sebentar, apa-apaan itu.
Aku benar-benar tidak paham maksudnya."
Tengah malam itu.
Suara Layla yang
terdengar janggal menggema di dalam sebuah ruangan.
Di sana,
perwakilan agen intelijen tampak tertunduk dengan ekspresi wajah yang hancur
karena putus asa.
"Kamu
punya skill Stealth tingkat tertinggi, kan? Kamu juga mengombinasikannya
dengan Spyglass, kan?"
"Benar……."
"Tapi tetap
saja ketahuan?"
"……Yang
paling tidak bisa memahaminya adalah diriku sendiri."
Skill Stealth
adalah kemampuan untuk memutus hawa keberadaan, menghilangkan eksistensi agar
sulit disadari lawan.
Sementara Spyglass
adalah salah satu magic item, sejenis teropong genggam yang bisa
memantau situasi dari jarak jauh.
Artinya,
kombinasi Stealth dan Spyglass adalah perpaduan terkuat untuk
mengintai dari jauh tanpa bisa dilacak posisinya.
Teknik
pengintaian yang seharusnya memiliki tingkat keberhasilan 100% itu berakhir
dengan kegagalan telak.
"Bisa jadi
itu cuma salah pahammu, kan? Karena itu kemungkinan terbesarnya, coba ceritakan
detailnya."
"Baik."
Layla
memprioritaskan penyusunan situasi, ia segera menyuruh agen itu duduk dan
bersiap mendengarkan.
"Pertama-tama,
di tengah pengintaian, salah satu sisi tirai ditutup, menciptakan situasi di
mana saya terpaksa berhenti sejenak……."
"Kamu mulai
mengintai pukul 10 pagi, kan? Secara waktu, itu bisa dianggap sebagai
kebetulan."
Hanya satu sisi
tirai yang ditutup.
Dan sisi
itulah yang sedang menjadi fokus bidikan Spyglass.
Meskipun
dua keganjilan telah dipaparkan, Layla masih belum yakin hingga agen itu
memberikan informasi berikutnya.
Bagi sang
agen, alur pembicaraan ini sudah ia duga sebelumnya.
"Demi
melanjutkan pengintaian terhadap Shikkoku, saya segera berpindah tempat. Namun
saat saya mengintip lewat Spyglass, Shikkoku…… menunjuk ke arah saya
dengan ekspresi penuh provokasi."
"Tunggu,
berapa jarak antara kamu dan Shikkoku? Apa dia menggunakan sihir?"
"Estimasi
jaraknya 750 meter. Tidak terlihat adanya penggunaan sihir."
"……Heh,
ternyata dia benar-benar monster yang melebihi rumor. Menarik juga."
Tatapan mata
Layla berubah.
Dari permusuhan,
kini beralih menjadi ketertarikan sesaat.
"Kalau hanya
menyadari mata pengintai dengan skill Perception, aku masih bisa
paham……. Tapi aku punya skill Stealth level maksimal. Menentukan lokasi
pengintaian seharusnya mustahil……."
"Tapi dia
melakukannya. Entah trik apa yang dia pakai, ini adalah pesan bahwa 'logika
umum tidak berlaku padaku'. Khfufu, tipe yang sangat agresif, aku suka. Ini
informasi terbaik."
"Te-terima
kasih banyak……."
Layla yang
memperlihatkan sekilas sisi gila perangnya kini tampak sangat senang.
Dia bahkan
mencondongkan tubuh, seolah menuntut informasi lebih banyak lagi.
"Ada satu
alasan lagi yang membuat saya yakin dia menyadari pengintaian itu. Shikkoku
berencana mengerahkan penjaga di kediamannya ke depannya."
"Tindakan
waspada terhadap pengintaian, ya. Keputusan yang sangat cepat."
Layla menyeringai
penuh tantangan sambil menyilangkan kaki, ia mulai menilai tinggi kemampuan
pengambilan keputusan Shikkoku.
"Layla-sama,
besok saya berencana mengunjungi kediaman Shikkoku untuk melakukan pengintaian
di dalam. Bagaimana menurut Anda?"
"Bukan
karena nekat, kan?"
"Tentu saja
tidak. Ini akibat kesalahan saya, tapi jika penjaga sudah terkumpul lengkap,
ruang gerak untuk pengintaian akan semakin sempit."
"Kalau itu
alasannya, aku izinkan. Tapi pastikan kamu memakai penyamaran. Karena lokasi
pengintaianmu terlacak, ada kemungkinan wajahmu pun sudah terlihat olehnya.
Meskipun jaraknya 750 meter."
"Dimengerti."
"Satu lagi,
ada kemungkinan Shikkoku hanya berpura-pura mengerahkan penjaga hanya untuk
memancing pergerakanmu. Jika kamu berhasil menyusup ke dalam, perhatikan setiap
gerak-geriknya dengan saksama."
"Siap!"
Meski ada bagian
dari dirinya yang terlihat gila, selama pertempuran belum dimulai, Layla mampu
berpikir luas menyesuaikan level lawannya.
Ditambah lagi, Layla mulai berpikir bahwa kali ini ia menghadapi lawan yang tidak bisa hanya mengandalkan intelijen semata.



Post a Comment