Chapter
5
Di
Katedral Bagian 1
Malam hari sebelum acara dapur umum di Katedral
dimulai.
"Jadi, meski sudah mengerahkan banyak orang,
kita tetap tidak bisa mendapatkan petunjuk apa pun... ya."
"Benar-benar luar biasa!"
"Sejujurnya, ini sudah sesuai dugaanku, sih. Mana
mungkin rencana Tuan Shikkoku bisa ketahuan semudah itu."
Tiga orang berkumpul di aula utama untuk berdiskusi: sang
kepala keluarga Ansage sekaligus bapak agung, putri sulung Marie, dan putri
kedua Nina.
──Ada satu orang di sana yang matanya terus
berbinar-binar, tapi mereka sepakat untuk tidak terlalu memedulikannya demi
kelancaran rapat.
"Tapi tetap saja, aku merasa cemas menjelang acara
penting ini... Kita tidak boleh membiarkan siapa pun mengganggu dapur umum demi
orang-orang yang membutuhkan, bukan? Apalagi kali ini kita mendapat bantuan
dari pemilik kedai yang punya hubungan dengan beliau."
"Yah, sebenarnya aku yang meminta saran duluan, tapi
kali ini kita tidak mendapat petunjuk langsung seperti sebelumnya, kan? Jadi
kurasa tidak akan ada masalah mendasar yang sampai merusak segalanya."
"Saran dan bantuan dari sosok seperti beliau itu
aslinya bukan sesuatu yang bisa didapat secara gratis, tahu? Jangan menganggap
hal itu sebagai sesuatu yang lumrah."
"Tapi, Tuan Shikkoku itu orangnya baik
sekali, jadi rasanya tidak pas kalau dibilang begitu."
"Aku setuju dengan Kakak!"
Dua bersaudara yang sudah bertemu Shikkoku, dan
seorang ayah yang belum pernah bertemu dengannya. Wajar saja jika pendapat
mereka bertolak belakang.
"Lagipula, kurasa kali ini Tuan Shikkoku
tidak benar-benar serius. Coba pikir jernih, apa untungnya beliau hanya
menyembunyikan wajah dariku? Kalau aku sedang bersama Nina, identitas aslinya
pasti ketahuan juga, kan? Besok pun banyak area di mana aku akan berjaga
bersama Nina."
"Hm..."
Sang ayah menjawab dengan nada setuju, seolah baru saja
menyadari poin tersebut.
"Jika memang benar begitu, satu-satunya alasan yang
terpikir olehku adalah... mungkin beliau merasa malu saat melihat
Marie..."
"Hah!
I-itu bisa jadi, kan? Bagaimanapun aku ini cukup populer! Tapi, mengingat
beliau begitu hebat dan memikat, harusnya beliau bisa lebih percaya diri kalau
mau mendekatiku, kan? Aku juga tidak keberatan, lho?"
"Ayah, aku berani jamin itu salah besar. Nona Lifia
dan Nona Polka yang sudah melihat wajah Tuan Shikkoku juga sangat
cantik."
"Duh... biarkan aku berkhayal sedikit kenapa,
sih."
"Tidak boleh."
"Kamu jadi makin galak ya, Nina."
Marie mendekatkan wajahnya sambil menggerakkan alis
tipisnya yang berkedut ke arah Nina, yang menunjukkan ekspresi serius yang
belum pernah terlihat sebelumnya.
Ini adalah interaksi antar saudara yang tidak pernah
terlihat hingga saat ini—percakapan yang menunjukkan ketertarikan pada lawan
jenis.
Sebagai seorang ayah, ia bisa merasakan perkembangan
kedewasaan putri-putrinya, namun mengingat siapa lawannya, sang ayah hanya bisa
merasa pening.
"Sebenarnya aku harus senang, tapi sebagai orang
tua, perasaanku jadi campur aduk."
"Kalau Ayah bilang begitu, Ayah bisa dimarahi,
lho?"
"Ke-kenapa, Ayah!"
"Nah, lihat sendiri, kan."
Sebagai orang tua, ia ingin mendukung dengan sepenuh
hati. Perasaan Nina memang tidak salah, namun menyampaikan realita juga
merupakan hal yang penting.
Marie, meski menggoda suasana, sebenarnya memahami
betul perasaan ayahnya yang terpaksa mengutarakan hal itu meski tahu akan
diprotes.
"Nina mungkin masih sulit memahaminya, tapi—"
"—Tuan Shikkoku itu kan punya kekuatan untuk
menyelamatkan kalian sendirian, kekuatan mengerikan yang bisa menghancurkan
jembatan, dan kekuatan yang bisa membuat musuh kehilangan semangat bertarung.
Beliau bahkan punya tiga botol ramuan ajaib yang katanya 'bernilai lebih dari
nyawa', dan malah memberikannya dengan cuma-cuma, kan?"
"Benar sekali."
"Padahal tingkat kekuatannya mungkin setara
eksekutif Werther, tapi beliau sama sekali tidak sombong. Kepribadiannya
begitu, kan?"
"Iya."
"Coba pikir secara normal, laci mejanya pasti penuh
dengan surat cinta. Persaingannya sangat ketat, jadi bagi orang tua yang
menginginkan kebahagiaan anaknya, tentu perasaannya jadi rumit. Di posisi kita
pun, bisa berhubungan dengannya adalah hal yang sangat langka."
Marie menjelaskan dari sudut pandang orang tua agar Nina
tidak menyimpan kekesalan pada ayah mereka.
Penjelasan itu memang benar, namun Nina juga memiliki
alasan yang tidak bisa ia lepaskan.
"Justru karena itulah aku ingin Ayah mendukungku. Aku tidak yakin bisa menemukan orang sehebat beliau lagi!"
"Te-tentu saja aku mengerti. Aku juga tidak berniat
menyuruhmu menyerah. Lakukanlah sesukamu."
"Terima kasih banyak!"
"Begitu juga dengan Marie."
Marie hanya tersenyum kecut saat ayahnya menoleh padanya
setelah memberikan dukungan tersebut.
"Aku sudah di usia di mana harus melihat realita,
jadi sebenarnya aku sudah cukup puas kalau bisa tetap berteman dengan Tuan Shikkoku."
"Apa yang kau katakan di usia delapan belas tahun
begini."
"Bukannya begitu... tapi gara-gara Nina, topiknya
jadi melenceng, kan!"
"Hah!?"
Marie menutup mulut Nina dengan tangan kanan, sementara
tangan kirinya mencubit pipi mulus adiknya itu sebagai bentuk hukuman ala kakak
perempuan.
"Nah, mumpung sempat, ayo kembali ke topik
utama."
"Kamu bilang kembali ke topik, tapi..."
"Ah—kurasa tidak ada lagi yang bisa dibahas
ya."
Karena mereka tidak menemukan alasan pasti mengapa 'hanya
Marie yang tidak diperlihatkan wajahnya', diskusi hari ini pun dianggap
selesai.
"Pokoknya untuk besok, sekecil apa pun itu, segera
beri tahu Ayah jika ada hal yang mencurigakan. Aku akan mengirim perintah
kepada semua pihak terkait, tapi aku minta kalian berdua juga mengamati
sekeliling dengan cermat."
"Dimengerti."
Angguk.
Marie menjawab mantap suara serius ayahnya, sementara
Nina hanya bisa mengangguk karena mulutnya masih dibungkam.
"Kalau begitu, aku dan Nina mau mandi dulu ya."
"Nn—!?"
"Ayo, ayo, nanti Kakak gosokkan punggungmu."
Nina pun diseret paksa keluar dari aula oleh Marie. Di
aula yang kini sepi itu—
"……Marie pun sekarang sudah jadi jauh lebih ceria,
ya."
Suara sang ayah terdengar bergumam pelan sambil
tersenyum.
◆◇◆
Keesokan harinya. Hari di mana acara dapur umum yang
dikelola keluarga Ansage diadakan.
"Anda sungguh orang yang memegang teguh janji,
ya. Sampai mau pergi menjaga keamanan secara diam-diam."
"Bukannya begitu... biaya perbaikan jembatan yang
mereka tanggung itu pasti sangat mahal, jadi rasanya lebih menakutkan kalau aku
tidak melakukan apa-apa nanti."
"Begitukah?"
"Orang biasa memang seperti itu."
Kai sedang berbicara dengan petugas penjaga di ruang
kerja sambil bersiap-siap untuk pergi.
Ia mengetahui jadwal dapur umum ini saat sedang
bermain bersama Karen dan Lifia beberapa waktu lalu.
"Yah, sebenarnya tidak mungkin terjadi masalah,
sih... tapi ini satu-satunya hal yang bisa kulakukan secara pribadi."
Aslinya, Kai tidak berniat melakukan 'penjagaan' yang
membutuhkan kekuatan tempur, melainkan hanya melakukan 'pengawasan' dengan
mengandalkan matanya.
"Apakah tidak masalah dengan jadwal pekerjaan
Anda? Terakhir kali Anda sudah menghabiskan banyak waktu bersama Nona Karen dan
Nona Lifia."
"I-itu, anu, aku melakukannya dalam batas agar
tidak dimarahi, jadi tidak apa-apa."
"Kalau begitu, saya lega mendengarnya."
"Hm..."
Karena ia sering keluar untuk sekadar melihat-lihat
atau berjalan-jalan, kebohongan bahwa ia 'sedang bekerja' masih bisa diterima,
namun jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali topik ini muncul.
Hanya membayangkan jika kebohongannya terbongkar saja
sudah membuatnya merinding.
"Apakah ada yang bisa saya bantu? Membantu
mengenakan perlengkapan pelindung, mungkin?"
"Terima kasih. Tapi hari ini aku tidak akan
memakainya."
"Anda... tidak akan memakainya?"
Aneh rasanya jika ingin 'menjaga keamanan' tapi tidak
dalam kondisi siaga penuh.
Meski petugas itu sempat menggerakkan alisnya karena
terkejut, ia berhasil menyembunyikannya dengan baik.
Sebenarnya ada beberapa alasan di balik keputusan Kai
tersebut.
"Sebenarnya sejak kejadian jembatan runtuh waktu
itu, penampilanku itu malah ditakuti orang-orang di sekitar... aku khawatir
nanti malah membuat anak-anak menangis di dapur umum."
"Begitu rupanya. Anda memang harus penuh
pertimbangan, ya."
Benar. Karena ia tidak bisa datang dengan
perlengkapan lengkap, maka 'pengawasan' adalah bantuan terbaik yang bisa ia
berikan.
"Yah, untuk berjaga-jaga aku akan membawa pedang
untuk bela diri... Kalau cuma senjata, kurasa identitasku tidak akan
ketahuan."
"Bukankah lebih aman jika Anda bertarung dengan
tangan kosong saja?"
"Eh?"
"Tuan Digote bilang padaku kalau Anda lebih kuat
saat menggunakan tangan kosong. Jika Anda tidak mengenakan pelindung, saya rasa
lebih baik melepas barang-barang yang bisa mengganggu pergerakan Anda."
"A-ah... benar juga..."
Kai pun teringat. Ia pernah mengatakan hal itu karena
merasa lebih percaya diri dalam pertarungan tangan kosong daripada bertarung
menggunakan senjata.
Namun ternyata hal itu disalahtafsirkan menjadi 'lebih
kuat dengan tangan kosong daripada dengan senjata'.
"Anu, senjata itu... yah, lebih praktis dibawa agar
orang tidak sembarangan mencari gara-gara. Iya. Membuang-buang waktu itu kan
sia-sia."
"Jadi hanya sebagai hiasan saja, ya. Kalau begitu
saya tidak perlu khawatir lagi."
"Kalau begitu... syukurlah."
Ia merasa sangat bersalah karena tidak mengoreksi ucapan
orang yang mencemaskannya, namun sang Duke juga sudah mendengar hal yang sama.
Ia tidak boleh terlihat 'telah menipu' mereka, jadi
sebagai orang biasa, ia terpaksa harus tetap berpegang pada kebohongan ini.
"Yah, kalau begitu aku berangkat ke Katedral
dulu."
"Ah..."
"Hm?"
"Mohon maaf sebesar-besarnya. Ada
satu permintaan yang ingin saya sampaikan kepada Anda."
"Katakan saja, aku akan senang kalau kamu mau
mengatakannya secara santai."
"Terima kasih. Mengenai permintaan itu, di Katedral
nanti ada kotak dana bantuan, saya mohon Anda bersedia memasukkan ini ke
dalamnya."
Setelah berkata demikian, sang petugas menyerahkan sebuah
bungkusan kecil yang terasa berat dengan kedua tangannya.
"Baiklah. Aku akan memasukkannya dengan penuh
tanggung jawab. Tanpa mencurinya."
"Fufu, saya sangat mengerti kalau Anda bukan orang
yang akan melakukan hal semacam itu."
"Haha, terima kasih."
Kai membalas senyuman petugas itu. Ia baru tahu kalau ada
kotak dana bantuan di sana. Ia membuka laci dan mengambil
kantong kain berisi uang miliknya.
"Kalau begitu, sisanya kuserahkan padamu."
"Baik. Serahkan saja pada saya."
Setelah pertukaran kata itu, Kai yang hanya menyandang
pedang di pinggangnya meninggalkan kediaman.
Ia berjalan beberapa saat sebelum akhirnya mencegat
kereta kuda seperti biasanya untuk menuju Katedral.
◆◇◆
"Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku datang
ke Katedral ini..."
Setelah tiga puluh menit perjalanan, ia sampai di tempat
tujuan. Sebuah Katedral serba putih yang berdiri megah seperti kastel di tengah
lahan hijau yang subur.
Kai bergumam kagum dalam hati melihat pemandangan yang
luar biasa itu.
"Bangunan seindah ini harusnya bisa dijelajahi di
dalam game juga... Bukan cuma menara jam yang pemandangannya begitu-begitu
saja."
Sebagai orang yang sangat mendalami FRF (Fancy Roomy
Fantasy), wajar jika Kai merasa poin-poin bagus dalam game tersebut
harusnya lebih banyak ditonjolkan.
(Yah... mungkin karena memori? Atau masalah urusan orang
dewasa lainnya.)
Meski merasakan pahitnya realita dunia industri, secara
pribadi ia merasa puas.
Karena ini adalah tempat yang tidak bisa dijelajahi di
dalam game, ia bisa melihat pemandangan yang benar-benar segar di depan
matanya.
"Nah, kalau begitu..."
Kai tidak terlalu tahu aturan masuk atau cara berkunjung
ke Katedral ini, tapi selama ia tidak merepotkan orang di sekitarnya, kurasa
untuk sementara akan baik-baik saja.
Meski merasa cemas dan sedikit takut, ia harus memasukkan
bungkusan dari petugas tadi ke kotak dana bantuan.
Demi menunaikan tanggung jawabnya, ia tidak boleh lari.
(Oke...)
Setelah menarik napas dalam-dalam sekali, ia melangkah
menuju pintu utama Katedral dan menemukan barisan yang dijaga ketat oleh
prajurit penjaga.
Ia bersiap untuk menunggu lama di barisan paling
belakang, namun karena banyak biarawati yang membantu di meja pendaftaran,
barisan pun bergerak dengan sangat cepat.
Segera tiba gilirannya, namun kata-kata pertama yang ia
dengar adalah sesuatu yang tak terduga.
"Mohon maaf sebesar-besarnya."
"Eh?"
"Karena hari ini sedang diadakan dapur umum, kami
melarang pengunjung membawa benda berbahaya ke dalam."
"…!"
Pada saat itu juga, seluruh prajurit penjaga menoleh ke
arahnya dengan sikap waspada penuh.
(D-duh, tolong hentikan... itu tidak baik buat
jantungku...)
Mungkin itu adalah taktik untuk menekan orang-orang yang
berniat membangkang, tapi ia tidak akan melakukan hal seperti itu. Ia tidak mau
diperlakukan kasar atau ditakut-takuti.
"M-maafkan aku... aku benar-benar tidak tahu."
"Jika Anda bersedia menitipkannya pada kami, Anda
diperbolehkan masuk. Bagaimana menurut Anda?"
"K-kalau begitu tolong dititipkan saja. Maaf sudah
merepotkan."
"Sama sekali tidak. Kami akan menjaganya dengan
penuh hormat."
"Terima kasih."
Setelah menyerahkan senjatanya, proses pendaftaran yang
sama dengan orang-orang di depannya pun dimulai.
"Kalau begitu, silakan beritahukan nama Anda dan
tujuan kunjungan hari ini."
"Namaku... Kai. Tujuan kunjunganku adalah, anu,
terutama untuk memasukkan dana bantuan."
Saat itu juga, seorang biarawati yang berdiri di
sampingnya mulai mencatat.
Mungkin untuk mencocokkan identitas saat mengembalikan
senjata nanti.
Apakah alasan kunjungan ditanyakan untuk menghitung
jumlah porsi dapur umum yang dibutuhkan?
Sejujurnya, ia sedikit khawatir jika ada orang lain yang
mengaku-ngaku namanya dan mengambil senjatanya, namun mungkin itulah alasan
mengapa mereka mengerahkan banyak petugas pendaftaran.
"Tuan Kai, ya. Terima kasih banyak. Silakan
masuk."
"Terima kasih..."
Setelah menundukkan kepala, ia melewati gerbang batu
dengan ukiran tanda salib.
(Haa... akhirnya berhasil melewati rintangan pertama...)
Ternyata pendaftarannya cukup mudah bahkan untuk
anak-anak sekalipun, benar-benar melegakan.
Dengan ini, rencananya memasukkan dana bantuan pun sudah
dipastikan.
Rasa cemas yang membebani punggungnya pun menguap.
Ia menaiki tangga yang bersih tanpa sehelai daun atau
kerikil pun, dan saat itulah pintu masuk Katedral terlihat.
"……Ooh."
Kai tanpa sadar bergumam pelan.
Kemegahan Katedral dari jarak dekat terasa semakin kuat,
namun yang lebih menarik perhatiannya adalah pemandangan terang yang penuh
dengan tawa dan keceriaan dari acara dapur umum.
Ia melihat orang-orang duduk di dekat sana sambil
menyantap hidangan dengan lahap.
(Kalau begini, aku paham kenapa petugas tadi ingin
memberikan bantuan... Memang benar-benar tempatnya Nina dan yang lainnya.)
Istilah 'menggalang dana bantuan' kadang terdengar
mencurigakan, tapi melihat lokasi ini, ia tahu dana tersebut digunakan dengan
sangat bermakna.
Sambil merasakan besarnya skala 'Gereja Seise' dan
kepercayaan orang-orang di sekitarnya, pandangannya tertuju pada staf yang
sibuk menyiapkan hidangan.
Tiba-tiba, ia melihat sosok yang dikenalnya sedang
mengelus kepala seorang anak laki-laki.
Jika dipikir-pikir—sudah berapa lama ya sejak terakhir
kali mereka bertemu.
Kai menunggu sampai interaksi antara kenalannya dan anak
itu selesai, lalu menghampirinya saat ia sedang sendirian.
"Apa tidak apa-apa bolos dengan begitu tenang
begini? Tuan Pemilik Kedai."
"Bukan, bukan! Aku sedang mendengarkan mereka
bilang menuku 'enak'... eh, k-kamu kan!!"
"Sudah lama ya."
"Wah! Tapi asal tahu saja, jangan bilang kalau
kamu datang ke sini cuma mau ikut makan gratis ya?"
"Tentu saja aku tahu itu."
Ia sebenarnya bisa saja membalas candaan itu dengan
candaan lagi, namun ia datang bukan untuk mengolok-olok.
Ia menggelengkan kepala dengan mantap untuk membantahnya.
"Ngomong-ngomong, aku lega melihatmu tampak
sehat."
"Aku juga tahu kalau kamu sehat, kok. Kamu titip
pesan lewat pelanggan, kan? Bilang 'sampaikan salamku padanya'."
"Ah—begitu rupanya."
Sejujurnya ingatan itu sudah hampir menghilang, namun ia
baru teringat setelah diberitahu.
"Tapi aku dengar lho? Katanya kamu diserang
ya."
"I-iya, begitulah... aku benar-benar hampir mati
waktu itu."
"Padahal kamu bilang begitu tapi malah menghajar
mereka dengan penuh semangat! Kamu bahkan sampai menghancurkan jembatan segala,
benar-benar berlebihan tahu."
"B-bukan begitu..."
Ia membantah dengan gelengan kepala yang lebih kuat
dari sebelumnya, namun sepertinya orang di depannya ini tetap tidak percaya.
"Yah, terima kasih ya. Menurut rumor, katanya
mereka berniat melakukan hal-hal buruk di kedaiku, kan?"
"Eh?"
"Katanya karena aku adalah informan pribadimu
atau semacamnya. Nah, gara-gara berita tentang aku menerima uang imbalan darimu
itu tersebar, mereka jadi salah paham."
"Haa... jadi orang yang terlalu pintar memang
repot ya."
Ia ingin menyebut mereka 'bodoh', tapi orang bodoh
tidak mungkin sampai pada kesimpulan seperti 'informan pribadi'.
"Jujur saja, ini semua sudah masuk dalam
rencanamu, kan? Memancing mereka keluar lalu menangkap mereka sekaligus adalah
cara tercepat, sih."
"Mana
mungkin... Kalau aku sehebat itu, aku tidak akan sesusah ini."
"Fuh,
yah, anggap saja aku percaya. Bagaimanapun aku juga berutang budi padamu."
"……Te-terima kasih kalau begitu."
(Kenapa sih padahal aku sudah bicara jujur, tapi tidak
ada yang percaya padaku...)
Meski pertanyaan itu berputar di kepalanya, melihat
pemilik kedai yang tampak sangat yakin itu membuat keinginan Kai untuk
mengoreksinya jadi sirna.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu ke sini? Mana mungkin
kan cuma mau lihat wajahku?"
"Tidak, karena aku tahu kali ini kamu ikut membantu
dapur umum, itu juga jadi salah satu alasanku."
"A-apa-apaan
sih. Tolong bantah saja, dong. Aku jadi malu, tahu!"
"Yah,
aslinya memang tidak salah, sih."
Si
pemilik kedai yang tampak malu-malu sambil melambaikan tangannya itu
menunjukkan reaksi yang cukup serius.
"Yah, tujuanku hari ini adalah untuk memasukkan dana
bantuan. Aku juga menerima dana bantuan pribadi dari petugas penjaga."
'Mengawasi kalau-kalau ada orang mencurigakan demi
membalas sedikit budi atas biaya perbaikan jembatan' juga merupakan salah satu
tujuannya, namun jika ia mengatakannya, urusannya pasti akan jadi semakin
rumit.
"Masih muda tapi sudah sok keren terus, ya."
"Ha, haha... aslinya tidak sekeren itu,
kok."
"Jangan rendah hati di tempat seperti ini. Kamu
kan melakukan hal yang patut dipuji."
"Benar juga... ya."
"Tentu saja."
Wajar jika ia menjawab dengan kaku.
Dana bantuan yang Kai berikan kali ini bukan uang
hasil jerih payahnya sendiri, melainkan uang hadiah yang ia terima saat
menolong Nina dan yang lainnya.
Karena tindakannya bisa dibilang 'hanya mengembalikan
sedikit uang yang ia terima', ia merasa sedikit ganjal.
"Lalu, satu lagi. Ini mungkin agak ikut campur,
tapi mumpung kamu sudah di sini, maukah kamu menyapa Nona Nina juga?"
"Tidak, bukankah itu malah merepotkan? Dia pasti
sedang bekerja keras sebagai pihak penyelenggara."
"Apa yang kamu katakan itu tidak salah, sih. Tapi
alasan kenapa orang sepertiku bisa bekerja sama dengan Gereja Seise adalah...
karena Nona Nina yang menengahi. Setiap kali bertemu denganku, dia selalu
menanyakan kabarmu, lho."
"Menanyakan kabarku?"
"Dia pasti selalu bertanya, 'Kapan terakhir kali
beliau datang ke kedai?'. Dia sepertinya ingin sekali bertemu denganmu."
"Ja-jadi ada hal seperti itu ya... Kalau begitu, memang benar aku harus menyapanya..."
(Kurasa aku tidak melakukan hal yang sampai bisa
disukai seperti itu...)
Hal pertama yang terlintas di pikirannya adalah ia
memang menolong mereka, tapi ia merasa tidak ada hal lain lagi selain itu.
──Ia merasa ini adalah hasil dari ia yang memercayai
'kebohongan keren' seperti ia bekerja sebagai agen intelijen demi mendapatkan
kepercayaan mereka.
"Menyapa sebentar saja kurasa tidak masalah.
Lagipula tenaganya pasti sudah mulai berkurang, menyapanya agar dia bisa
beristirahat sejenak pasti akan sangat membantunya."
"Kamu tidak sedang memanas-manasiku agar aku
dimarahi oleh penyelenggara, kan?"
"Mana mungkin aku melakukan hal seburuk itu! Malah
sebaliknya, bukankah orang yang menegurmu itu yang nantinya bakal
disalahkan?"
"Kamu pasti benar-benar mau lihat aku dimarahi,
ya."
"Tolonglah,
percaya padaku soal itu."
(……Kayaknya
aku paham.)
Perasaan
tidak percaya itu meski sudah dibantah.
"Yah...
mumpung di sini, kalau ada waktu yang pas untuk menyapa Nina, aku akan
menyapanya dengan benar."
"Kalau
kamu tidak menepati janji, siap-siap saja dilarang masuk ke kedaiku ya."
"Haha, dimengerti."
Ia mengangguk sebagai jawaban, dan percakapan pun
berakhir.
Agar tidak memonopoli pemilik kedai lebih lama lagi
dan tidak mengganggu acara dapur umum, ia harus segera pergi dari sana.
"Kalau begitu, aku mau pergi memasukkan dana bantuan
dulu."
"Oh. Letaknya ada di belakang Katedral ini, kurasa
kamu akan langsung menemukannya."
"Terima kasih. ──Kalau begitu, sampai nanti."
"Eh, cepat sekali! Biarkan aku bicara satu hal
terakhir."
"Hm?"
Saat ia baru saja berbalik untuk pergi, ia dihentikan.
Ketika menoleh ke belakang, ia melihat wajah serius sang pemilik kedai.
"Benar-benar, aku sangat berterima kasih padamu.
Gimana ya...? Karena aku sudah lama berutang budi pada kota ini, aku ingin
melakukan sesuatu yang berguna bagi orang di sekitar jika kedaiku sudah mulai
stabil."
"Dengan mengelola penginapan saja kamu sudah berguna
bagi orang sekitar, kok. Lagipula kesuksesanmu sekarang adalah berkat
kekuatanmu sendiri, kan?"
"Jangan bicara bodoh. Kamu-lah
yang memberi saran dan mendorong punggungku."
"……"
(Memang secara situasi wajar jika disalahpahami
seperti itu, tapi...)
Ia memberikan total 3 juta Legil kepada pemilik kedai
karena itulah jumlah uang imbalan informasi yang diumumkan oleh Tiga Kekuatan,
dan sudah sewajarnya ia memberikan imbalan atas perlindungan yang diberikan.
'Memberi saran dan mendorong punggung' itu sebenarnya
hasil dari ia yang membual karena si pemilik kedai tidak mau menerima uang
terima kasihnya yang ia anggap 'sudah cukup'.
Ia sama sekali tidak berniat memberi saran atau
mendorong punggungnya—namun ia pikir bahwa menyanggah hal itu sekarang hanya
akan mematahkan semangat pemilik kedai.
Kai yang berpikir bahwa cara lain lebih baik untuk
berpisah dengan baik, memutuskan untuk mengikuti alur pembicaraannya.
"Kalau kamu berpikir begitu, jangan sampai
semangatmu yang sekarang kendor ya, Pak Pemilik Kedai."
"Tentu saja! Datanglah kapan saja untuk
menyemangatiku!"
"Haha, semoga itu tidak perlu ya."
"Oh, serahkan saja padaku."
"Ya."
Dengan mengatakan 'Kalau kamu berpikir begitu', ia
menghindari kebohongan tanpa harus mengakui bahwa ia memang sengaja memberi
saran atau dorongan.
Mereka berdua pun bisa berpisah dengan perasaan senang.
◆◇◆
"Ooh, ketemu juga..."
Setelah berjalan melewati jalan setapak batu yang tertata
rapi, ia tiba di bagian belakang Katedral.
Kai melihat pemandangan di mana para biarawati membentuk
6 pasang (satu pasang terdiri dari dua orang), dan para donatur mengantre di
setiap pasangan tersebut.
Satu biarawati bertugas memegang kotak dana bantuan.
Biarawati lainnya bertugas memberikan doa 'Semoga berkat
Tuhan menyertai Anda' dengan kedua tangan yang tertangkup kepada para donatur.
Pembagian tugas yang sangat efisien, disertai
senyuman ramah kepada setiap donatur.
(Pasangan itu memang luar biasa...)
Karena pengunjung bisa memilih barisan berdasarkan
'siapa yang akan memberikan doa', panjang antrean di setiap barisan pun
berbeda-beda.
Di antara 6 pasangan yang berjejer itu, barisan yang
paling panjang adalah pasangan dari sosok yang pernah Kai undang ke
kediamannya.
Petinggi
Gereja Seise. Nina dan Marie bersaudara.
Meski
seluruh biarawati di sana memiliki paras yang cantik, perbedaan popularitas
yang mencolok ini mungkin karena mereka berdua adalah putri dari keluarga
utama.
(Antre
di mana ya...)
Mengingat
apa yang dikatakan pemilik kedai tentang Nina, mungkin sebaiknya ia antre di
sana, namun saat ini mereka tampak sangat sibuk dengan apa yang ada di depan
mata mereka. Bukan tempat yang cocok untuk mengobrol.
"Hm,
aku antre di tempat lain saja deh..."
(Lagi
pula rencananya hari ini aku akan mengawasi sampai dapur umum selesai.)
Kalaupun tidak bisa menyapa di sini, masih ada kesempatan
lain. Ia tidak ingin menambah beban kesibukan mereka dengan
ikut mengantre di sana.
Kai pun mengantre di barisan kedua dari kanan dari
pasangan Nina dan Marie, yang menurutnya memiliki waktu tunggu paling singkat.
Sambil menunggu, ia memastikan aturan pemberian dana
bantuan di sana.
(……Anu, pertama-tama menundukkan kepala sedikit untuk
menyapa, lalu masukkan semua yang dibawa...!? Eh, dimasukkan semua?)
Melihat donatur di sekitarnya, mereka membalikkan
kantong kain seolah sedang menumpahkan isinya dan memasukkan seluruh uangnya ke
dalam kotak dana bantuan.
Ini hanya dugaannya saja, tapi mungkin semua orang
sudah menentukan jumlah bantuan sebelumnya dari rumah.
Mereka pasti menyiapkan dua kantong, satu untuk bantuan
dan satu untuk keperluan pribadi.
(Mungkin dengan mengeluarkan semuanya itu menunjukkan
kesan 'aku memberi bantuan dengan sukarela'... kali ya. Mungkin.)
Meski tidak tahu pasti, ia paham kalau itulah tata
kramanya.
(Ya-yah, mumpung di sini juga... Nina dan yang lainnya
juga sudah menanggung biaya perbaikan jembatan.)
Kantong kain yang Kai bawa kali ini berisi 10 keping koin
bernilai 10.000 Legil.
Awalnya ia hanya berniat menyumbangkan sekeping saja,
namun ia mengubah pikirannya dan segera memantapkan hati.
Memberi bantuan sambil merasa 'sayang sekali' tidak akan
membuat pihak penerima merasa senang.
Jika ingin memberi bantuan, ia ingin mereka merasa senang
sepenuhnya.
Setelah menunggu 5 menit, tiba gilirannya.
"……Halo."
Begitu ia menundukkan kepala sedikit kepada kedua
biarawati itu, ia disambut dengan senyuman penuh kasih sayang yang berkata,
"Kami berterima kasih atas kemurahan hati Anda."
Sejujurnya, ia merasa sangat tidak tenang. Ia sampai
ingin menyembunyikan wajahnya dengan helm zirah yang ia tinggalkan di kediaman.
(Ayo cepat selesaikan...)
Pertama, ia membalikkan kantong kainnya dan memasukkan 10
keping koin 10.000 Legil ke dalam kotak dana bantuan.
Sepertinya jumlah bantuan itu termasuk banyak, terlihat
dari raut wajah mereka yang sedikit terkejut, namun ia tidak sempat
memedulikannya.
Selanjutnya, ia membuka bungkusan yang diberikan petugas
penjaga──dan cahaya keemasan pun terpantul di matanya.
(……Eh?)
Isi dari bungkusan yang baru pertama kali ia lihat di
sini adalah 5 keping koin emas yang masing-masing bernilai 100.000 Legil.
Bukan hanya Kai yang berkedip dengan cepat, kedua
biarawati dan beberapa donatur yang melihat cahaya berkilauan itu pun ikut
terkejut.
Riuh rendah suara orang-orang pun semakin keras, dan Kai
segera memasukkan koin emas itu ke dalam kotak bantuan.
"Kalau begitu... aku pamit."
"Te-terima kasih banyak atas kemurahan hati Anda.
Se-semoga berkat Tuhan menyertai Anda..."
Dengan ekspresi terperangah yang sulit digambarkan, sang
biarawati mendoakannya, dan Kai menundukkan kepala sekali lagi.
(Pe-petugas penjaga... kalau ada uang sebanyak itu
harusnya beri tahu aku dong... Aku kan bahkan tidak bisa
melindungi diriku sendiri...)
Uang sebesar 500.000 Legil. Fakta bahwa ia membawa
uang sebanyak itu tanpa mengenakan perlengkapan pelindung apa pun.
(Be-benar-benar... syukurlah tidak ada yang mencari
gara-gara denganku tadi...)
Membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi, Kai
meninggalkan tempat itu dengan merinding.
Saat itu, ia sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang menatap punggungnya──tepatnya menatap bekas luka di dekat matanya—dan matanya langsung berbinar karena menyadari sesuatu.



Post a Comment