NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 2 Interlude II

Interlude 2


"Hun-hun-hun-hu~n♪"

Di dalam kereta kuda dengan latar belakang kediaman Shikkoku yang semakin menjauh, Karen bersenandung riang.

Seolah tak sabar, ia langsung mengenakan gelang hadiah tadi di pergelangan tangannya, mengangkatnya tinggi-kali, lalu menyipitkan mata seolah sedang mengagumi harta karun.

"Syukurlah ya, Karen."

"H-Hah! Bi-biasa saja kok, biasa saja! Aku kan tidak kekurangan perhiasan."

Sadar sedang diperhatikan Lifia yang tersenyum simpul, Karen tersentak dan langsung membuang muka ke arah jendela untuk menyembunyikan wajahnya.

Mulutnya memang terus mengeluarkan kata-kata ketus terhadap hadiah itu──tapi kenyataannya, ia sudah memakainya sejak detik pertama berpisah dengan Shikkoku.

Sambil bilang "biasa saja", ia sama sekali tidak terlihat ingin melepasnya, malah menangkupkan telapak tangan di atas gelang itu seolah sedang melindunginya dengan penuh kasih sayang.

Lifia tahu itu hanyalah cara Karen menyembunyikan rasa malunya.

Tanpa menganggap serius ucapan adiknya, Lifia menyampaikan apa yang ada di pikirannya.

"Sudah berapa lama ya aku tidak melihat Karen sebahagia ini saat menerima hadiah."

"……"

"Orang yang ada di sampingmu ini tidak akan bisa kamu bohongi, jadi lebih baik jujur saja sekarang, kan? Hmm?"

Sebagai keluarga yang sudah bertahun-tahun bersama, Lifia membujuknya dengan ekspresi lembut yang menenangkan. Karen akhirnya menyerah.

"Ya-yah, tentu saja aku senang……. Berbeda dengan bangsawan lain, pria itu pasti tidak memilihnya dengan asal-asalan."

"Fufu, benar sekali."

"Tapi! Aku punya satu keluhan!"

"Padahal kamu sebahagia ini?"

"Itu hal yang berbeda! Bukan soal itu……"

Volume suara Karen meninggi saat membalas, namun sedetik kemudian nadanya merendah, seolah sedang dikerubungi perasaan gundah.

"Gelang ini pasti hasil dari Kakak yang memohon, 'Tolong belikan juga hadiah untuk Karen', kan? Bukan karena pria itu membelinya atas inisiatif sendiri."

"Ara, kenapa kamu berpikir begitu?"

"Habisnya…… Kakak kan pergi jalan-jalan bersamanya, jadi yang pertama kali dipilihkan hadiah pasti Kakak. Makanya, setelah itu Kakak memintanya untuk memberiku hadiah juga, kan? Karena merasa kasihan padaku."

Sebagai adik, Karen adalah orang yang paling memahami Lifia.

Ia yakin kakaknya pasti merasa tidak enak jika hanya dirinya yang mendapat hadiah, lalu meminta bantuan dengan penuh pertimbangan.

Baginya, itulah alur yang paling masuk akal.

"Jujur saja, seperti yang Karen katakan, aku memang punya perasaan seperti itu."

"Tuh, kan, benar. Makanya bagian itu terasa seperti hadiah tambahan saja."

"Fufu, tapi Karen, pemikiranmu itu salah lho."

"Kenapa?"

"Karena tepat setelah beliau memilihkan hadiah untukku, Tuan Shikkoku sendiri yang mengatakannya. 'Bolehkah aku sekalian memilihkan hadiah untuk Karen juga?'."

"……Ha?"

Karen membeku dengan mulut setengah terbuka mendengar kata-kata yang tak terduga dari Lifia.

"Bahkan beliau sampai bergumam, 'Kira-kira dia bakal senang tidak ya', dan memilihnya dengan sangat serius, lho."

"Hah!?"

Dari nada bicara dan ekspresi Lifia yang tenang, Karen tahu kakaknya tidak sedang berbohong.

Ternyata ia sudah berprasangka buruk. Ia telah salah paham.

Wajah Karen terasa begitu panas sampai seolah-olah ada uap yang keluar dari kepalanya karena campuran rasa malu dan bahagia.

Di tengah guncangan emosi yang hebat, ia menatap gelang yang dipakainya, teringat kembali momen saat hadiah itu diberikan──.

"Haaa……"

Ia menghela napas panjang sampai bahunya merosot, lalu meringkuk kecil.

"Ka-Karen? Kamu tidak apa-apa?"

"Tentu saja aku kenapa-napa! Aku bahkan tidak bisa berterima kasih dengan benar untuk hadiah sehebat itu…… Padahal aku sudah latihan untuk bersikap jujur, tapi tadi sama sekali tidak bisa……"

"Tapi, kamu sudah mengucapkannya dengan jelas, kan?"

"Maksudku sikapku tadi buruk sekali…… Tadi itu…… karena aku sangat malu, makanya aku…… langsung kabur."

Sebenarnya ia tidak ingin bersikap agresif.

Karen ingin bersikap lembut seperti Lifia dan menjadi lebih akrab dengan pria itu──namun saat merasa terpojok oleh emosi, ia pasti akan bersikap sok kuat.

Rasa malu dan canggung secara tidak sadar ia tutupi dengan sikap galak.

Padahal ia tidak ingin dibenci, tapi ia malah melakukan hal yang bisa membuatnya dibenci.

Karen sedang berada di usia sulit di mana ia belum bisa mengendalikan dirinya sendiri meski sudah berusaha keras untuk berubah.

"Padahal aku sudah latihan sebanyak itu, tapi aku malah……"

"Kalau begitu, bagaimana kalau setelah sampai di rumah, kamu tuliskan perasaanmu saat menerima hadiah tadi ke dalam surat, lalu berikan kepada Tuan Shikkoku besok?"

"Lewat surat, kurasa kamu bisa mengeluarkan perasaan jujurmu."

"Hm, aku akan lakukan itu. Terima kasih……"

Berkat Lifia, arah tujuannya untuk besok pun diputuskan. Karen, yang sudah mulai merasa gugup membayangkan saat menyerahkan surat nanti, tiba-tiba terpikirkan sesuatu saat melihat Lifia yang sejak tadi terlihat begitu tenang.

Seolah ingin memastikan sesuatu, ia perlahan mengulurkan tangan ke arah gelang safir yang dipakai Lifia──.

"Hah!"

Lifia yang langsung menyadarinya, dengan terburu-buru menjepit pergelangan tangan yang memakai gelang itu di antara kedua pahanya.

Itu adalah tindakan penuh rasa kepemilikan yang sangat tidak khas Lifia, seolah berkata 'Jangan disentuh' atau 'Jangan dicuri'.

"……Fuh, kalau begitu syukurlah."

"Eh? A-apa maksudmu?"

"Kulihat Kakak bersikap biasa saja setelah dapat hadiah dari pria itu, jadi kupikir Kakak memang biasa saja."

"Ma-mana mungkin begitu! Ini kan hadiah dari Tuan Shikkoku!"

Karena ini adalah gelang pasangan, Karen sempat berpikir jangan-jangan kakaknya merasa 'tidak suka' atau 'tidak senang', tapi ternyata itu semua hanyalah kekhawatiran yang sia-sia.

"Aku kan sudah jujur di depan Kakak, jadi Kakak juga harus jujur dong."

"A-aku tidak bisa menunjukkan sisi kegiranganku di depan Karen. Inilah beban posisi sebagai putri sulung."

Topeng kedewasaan Lifia yang ia tunjukkan sampai tadi mulai terkelupas sedikit demi sedikit. Karena rahasianya terbongkar, bicaranya jadi terbata-bata.

"Hee~ Kalau begitu, jangan berisik ya di atas tempat tidur nanti. Besok kita harus bangun pagi."

"A-aku tidak tahu apa maksudmu."

"Asal Kakak tahu saja, seluruh keluarga sudah tahu, lho? Setiap kali Kakak mengalami hal yang membahagiakan, Kakak pasti berkali-kali melompat ke tempat tidur, atau berguling-guling tidak karuan. Suara itu benar-benar terdengar sampai ke mana-mana."

"Aku sama sekali…… tidak tahu soal itu. Benar-benar."

Pandangan Lifia tidak hanya berpindah-pindah dengan gelisah, frekuensi kedipan matanya pun jadi lebih cepat. Sudah jelas sekali kalau dia payah dalam berbohong.

"Kalau nanti malam Kakak berisik di tempat tidur, besok akan kubilang pada pria itu."

"Tolong biarkan aku bebas soal itu saja……. Kalau tidak begitu, aku tidak akan bisa tidur……"

"Ma-ka-nya, daripada meledakkannya sendirian nanti, mending keluarkan saja sekarang. Kakak juga harus jujur."

Terjadilah baku hantam kata-kata antara Lifia yang panik dan Karen yang membalas dengan tatapan malas.

"……"

"……"

Tentu saja, Lifia yang berada di pihak yang kalah.

"Ba-baiklah……"

Lifia benar-benar tidak ingin hal ini dilaporkan kepada Shikkoku. Ia pun mengembalikan tangannya yang tadi dijepit di paha, lalu mulai mengelus gelangnya.

Sepertinya ia sudah masuk ke dunianya sendiri. Ia pasti sedang mengenang kembali momen saat diberikan hadiah tadi.

Tiba-tiba, wajah Lifia merekah dan meleleh dalam senyuman yang sangat lebar.

"……"

Karen yang jujur hanya bisa membuang muka, tak sanggup melihat sosok kakaknya yang benar-benar tidak terlihat seperti seorang putri sulung keluarga Duke.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close