Interlude
2
"Hun-hun-hun-hu~n♪"
Di dalam kereta kuda dengan latar belakang kediaman Shikkoku
yang semakin menjauh, Karen bersenandung riang.
Seolah tak sabar, ia langsung mengenakan gelang
hadiah tadi di pergelangan tangannya, mengangkatnya tinggi-kali, lalu
menyipitkan mata seolah sedang mengagumi harta karun.
"Syukurlah ya, Karen."
"H-Hah!
Bi-biasa saja kok, biasa saja! Aku kan tidak kekurangan perhiasan."
Sadar sedang diperhatikan Lifia yang tersenyum simpul,
Karen tersentak dan langsung membuang muka ke arah jendela untuk menyembunyikan
wajahnya.
Mulutnya memang terus mengeluarkan kata-kata ketus
terhadap hadiah itu──tapi kenyataannya, ia sudah memakainya sejak detik pertama
berpisah dengan Shikkoku.
Sambil bilang "biasa saja", ia sama sekali
tidak terlihat ingin melepasnya, malah menangkupkan telapak tangan di atas
gelang itu seolah sedang melindunginya dengan penuh kasih sayang.
Lifia tahu itu hanyalah cara Karen menyembunyikan rasa
malunya.
Tanpa menganggap serius ucapan adiknya, Lifia
menyampaikan apa yang ada di pikirannya.
"Sudah berapa lama ya aku tidak melihat Karen
sebahagia ini saat menerima hadiah."
"……"
"Orang yang ada di sampingmu ini tidak akan bisa
kamu bohongi, jadi lebih baik jujur saja sekarang, kan? Hmm?"
Sebagai keluarga yang sudah bertahun-tahun bersama, Lifia
membujuknya dengan ekspresi lembut yang menenangkan. Karen akhirnya menyerah.
"Ya-yah, tentu saja aku senang……. Berbeda dengan
bangsawan lain, pria itu pasti tidak memilihnya dengan asal-asalan."
"Fufu, benar sekali."
"Tapi! Aku punya satu keluhan!"
"Padahal kamu sebahagia ini?"
"Itu hal yang berbeda! Bukan soal itu……"
Volume suara Karen meninggi saat membalas, namun sedetik
kemudian nadanya merendah, seolah sedang dikerubungi perasaan gundah.
"Gelang ini pasti hasil dari Kakak yang memohon,
'Tolong belikan juga hadiah untuk Karen', kan? Bukan karena pria itu membelinya
atas inisiatif sendiri."
"Ara, kenapa kamu berpikir begitu?"
"Habisnya……
Kakak kan pergi jalan-jalan bersamanya, jadi yang pertama kali dipilihkan
hadiah pasti Kakak. Makanya, setelah itu Kakak memintanya untuk memberiku
hadiah juga, kan? Karena merasa kasihan padaku."
Sebagai
adik, Karen adalah orang yang paling memahami Lifia.
Ia
yakin kakaknya pasti merasa tidak enak jika hanya dirinya yang mendapat hadiah,
lalu meminta bantuan dengan penuh pertimbangan.
Baginya,
itulah alur yang paling masuk akal.
"Jujur saja, seperti yang Karen katakan, aku memang
punya perasaan seperti itu."
"Tuh, kan, benar. Makanya bagian itu terasa seperti
hadiah tambahan saja."
"Fufu, tapi Karen, pemikiranmu itu salah lho."
"Kenapa?"
"Karena tepat setelah beliau memilihkan hadiah
untukku, Tuan Shikkoku sendiri yang mengatakannya. 'Bolehkah aku
sekalian memilihkan hadiah untuk Karen juga?'."
"……Ha?"
Karen membeku dengan mulut setengah terbuka mendengar
kata-kata yang tak terduga dari Lifia.
"Bahkan beliau sampai bergumam, 'Kira-kira dia bakal
senang tidak ya', dan memilihnya dengan sangat serius, lho."
"Hah!?"
Dari nada bicara dan ekspresi Lifia yang tenang, Karen
tahu kakaknya tidak sedang berbohong.
Ternyata ia sudah berprasangka buruk. Ia telah salah
paham.
Wajah Karen terasa begitu panas sampai seolah-olah ada
uap yang keluar dari kepalanya karena campuran rasa malu dan bahagia.
Di tengah guncangan emosi yang hebat, ia menatap gelang
yang dipakainya, teringat kembali momen saat hadiah itu diberikan──.
"Haaa……"
Ia menghela napas panjang sampai bahunya merosot, lalu
meringkuk kecil.
"Ka-Karen? Kamu tidak apa-apa?"
"Tentu saja aku kenapa-napa! Aku bahkan tidak bisa
berterima kasih dengan benar untuk hadiah sehebat itu…… Padahal aku sudah
latihan untuk bersikap jujur, tapi tadi sama sekali tidak bisa……"
"Tapi, kamu sudah mengucapkannya dengan jelas,
kan?"
"Maksudku sikapku tadi buruk sekali…… Tadi itu…… karena aku sangat
malu, makanya aku…… langsung kabur."
Sebenarnya ia tidak ingin bersikap agresif.
Karen ingin bersikap lembut seperti Lifia dan menjadi
lebih akrab dengan pria itu──namun saat merasa terpojok oleh emosi, ia pasti
akan bersikap sok kuat.
Rasa malu dan canggung secara tidak sadar ia tutupi
dengan sikap galak.
Padahal ia tidak ingin dibenci, tapi ia malah
melakukan hal yang bisa membuatnya dibenci.
Karen sedang berada di usia sulit di mana ia belum
bisa mengendalikan dirinya sendiri meski sudah berusaha keras untuk berubah.
"Padahal aku sudah latihan sebanyak itu, tapi
aku malah……"
"Kalau begitu, bagaimana kalau setelah sampai di
rumah, kamu tuliskan perasaanmu saat menerima hadiah tadi ke dalam surat, lalu
berikan kepada Tuan Shikkoku besok?"
"Lewat surat, kurasa kamu bisa mengeluarkan perasaan
jujurmu."
"Hm, aku akan lakukan itu. Terima kasih……"
Berkat Lifia, arah tujuannya untuk besok pun diputuskan.
Karen, yang sudah mulai merasa gugup membayangkan saat menyerahkan surat nanti,
tiba-tiba terpikirkan sesuatu saat melihat Lifia yang sejak tadi terlihat
begitu tenang.
Seolah ingin memastikan sesuatu, ia perlahan mengulurkan
tangan ke arah gelang safir yang dipakai Lifia──.
"Hah!"
Lifia yang langsung menyadarinya, dengan terburu-buru
menjepit pergelangan tangan yang memakai gelang itu di antara kedua pahanya.
Itu adalah tindakan penuh rasa kepemilikan yang sangat
tidak khas Lifia, seolah berkata 'Jangan disentuh' atau 'Jangan dicuri'.
"……Fuh, kalau begitu syukurlah."
"Eh? A-apa maksudmu?"
"Kulihat Kakak bersikap biasa saja setelah dapat
hadiah dari pria itu, jadi kupikir Kakak memang biasa saja."
"Ma-mana mungkin begitu! Ini kan hadiah dari Tuan Shikkoku!"
Karena ini adalah gelang pasangan, Karen sempat berpikir
jangan-jangan kakaknya merasa 'tidak suka' atau 'tidak senang', tapi ternyata
itu semua hanyalah kekhawatiran yang sia-sia.
"Aku kan sudah jujur di depan Kakak, jadi Kakak juga
harus jujur dong."
"A-aku tidak bisa menunjukkan sisi kegiranganku di
depan Karen. Inilah beban posisi sebagai putri sulung."
Topeng kedewasaan Lifia yang ia tunjukkan sampai tadi
mulai terkelupas sedikit demi sedikit. Karena rahasianya terbongkar, bicaranya
jadi terbata-bata.
"Hee~ Kalau begitu, jangan berisik ya di atas tempat
tidur nanti. Besok kita harus bangun pagi."
"A-aku tidak tahu apa maksudmu."
"Asal Kakak tahu saja, seluruh keluarga sudah tahu,
lho? Setiap kali Kakak mengalami hal yang membahagiakan, Kakak pasti
berkali-kali melompat ke tempat tidur, atau berguling-guling tidak karuan.
Suara itu benar-benar terdengar sampai ke mana-mana."
"Aku sama sekali…… tidak
tahu soal itu. Benar-benar."
Pandangan Lifia tidak hanya berpindah-pindah dengan
gelisah, frekuensi kedipan matanya pun jadi lebih cepat. Sudah jelas sekali
kalau dia payah dalam berbohong.
"Kalau nanti malam Kakak berisik di tempat
tidur, besok akan kubilang pada pria itu."
"Tolong biarkan aku bebas soal itu saja……. Kalau
tidak begitu, aku tidak akan bisa tidur……"
"Ma-ka-nya, daripada meledakkannya sendirian nanti,
mending keluarkan saja sekarang. Kakak juga harus jujur."
Terjadilah baku hantam kata-kata antara Lifia yang panik
dan Karen yang membalas dengan tatapan malas.
"……"
"……"
Tentu saja, Lifia yang berada di pihak yang kalah.
"Ba-baiklah……"
Lifia benar-benar tidak ingin hal ini dilaporkan kepada Shikkoku.
Ia pun mengembalikan tangannya yang tadi dijepit di paha, lalu mulai mengelus
gelangnya.
Sepertinya ia sudah masuk ke dunianya sendiri. Ia pasti sedang mengenang kembali momen saat diberikan hadiah tadi.
Tiba-tiba, wajah Lifia merekah dan meleleh dalam
senyuman yang sangat lebar.
"……"
Karen yang jujur hanya bisa membuang muka, tak
sanggup melihat sosok kakaknya yang benar-benar tidak terlihat seperti seorang
putri sulung keluarga Duke.



Post a Comment