NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 3 Chapter 2

Chapter 2

Mata yang Mengawasi


Dua hari pun berlalu.

Pukul satu siang di dalam kediaman, di bawah guyuran cahaya matahari yang terik.

"Hei! Kenapa kamu ambil bagian itu!"

"Kenapa, ya? Ya karena itu langkah yang kuat."

"Selanjutnya main di sebelah sini saja. Aku bakal sisakan kotak ini khusus untukmu."

"Jangan mencoba merebut sudut dengan cara curang begitu."

"Iih!"

"……Lagi pula, Karen tidak butuh handicap, kan? Skor kita seimbang, satu sama."

"Aku cuma tidak mau kalah!"

Di sebuah ruangan luas, Kai dan putri kedua keluarga Duke, Karen, sedang asyik beradu argumen sambil bermain permainan papan Reversi dengan sengit.

Lalu, di sebelah mereka—.

"Langkah yang luar biasa, Lifia-sama."

"Fufu, kamu juga."

Ada Lifia, putri sulung keluarga Duke, dan sang Residen yang mengelola kediaman ini. Mereka berdua tengah menikmati teh sambil bermain Catur dengan anggun.

Meski berada di ruangan yang sama, atmosfer kedua pasangan ini benar-benar berbeda.

"Aku pasti menang kali ini……."

"Tidak, aku yang akan menang. Kalau kalah, aku pasti bakal diledek habis-habisan……."

"Kalau sampai kalah dari anak kecil, ya wajar saja begitu."

"Padahal biasanya kamu marah kalau dianggap anak kecil."

Keduanya tidak ada yang mau mengalah, namun secara mental, Kai-lah yang merasa tersudut.

"Lagipula, kenapa kamu jago sekali main Reversi? Jujur saja, ini di luar dugaanku."

"Padahal aku yakin kamu sudah bisa menebaknya. Kan ini kamu."

"Nn?"

Mendengar suara konyol itu, Kai memang benar-benar tidak menyadari apa pun, namun Karen menganggap itu hanya reaksi yang dibuat-buat.

"……Dulu kakiku lumpuh, kan? Untuk sekadar jalan keluar saja sulit. Jadi, aku menghabiskan waktu dengan permainan seperti ini. Sendirian pun masih bisa dimainkan."

"Begitu rupanya. Berarti secara 'Experience Points', tidak heran kalau aku kalah darimu, ya. Iya."

"Memang begitu, tapi kalau aku menang lebih banyak, aku akan mengejekmu sepuas hati!"

"Uwa."

Karen melipat lengan kurusnya dan mendengus bangga, semangatnya benar-benar membara. Api bertajuk 'Aku pasti akan mengejekmu' berkobar hebat dalam dirinya.

Demi menghentikan momentum ini, Kai memanggil sosok yang duduk di sebelahnya.

"Lifia-san, maaf mengganggu pertandingannya. Apa kamu dengar ucapannya tadi? Kurasa sifat anak ini jadi makin buruk."

"Hei!"

Kai mengacungkan lima jarinya ke arah Karen yang panik.

Meski hubungan mereka sudah cukup santai, Kai tidak pernah melupakan adanya 'perbedaan kasta'.

"Fufufu, tentu saja saya dengar. Seharusnya hal seperti itu memang tidak boleh dilakukan."

"Dengar itu, Karen? Inilah yang disebut seorang lady."

"Nn, nnn-uuuuh!!"

Karen menggembungkan pipinya, menunjukkan rasa tidak puas yang lebih besar dari bayangan Kai.

Namun, Lifia memahami alasan di balik sikap adiknya itu.

"……Akan tetapi, Shikkoku-sama. Alasannya adalah hal yang manis seperti, 'Bagaimana caranya supaya aku lebih diperhatikan?', jadi mohon maklumi dia."

"!"

"Ooh, begitu?"

Setelah mencerna kata-kata Lifia, Kai perlahan menoleh ke arah lawan tandingnya.

Di sana, ia melihat wajah Karen yang memerah padam, semerah warna rambutnya.

"Haha, begitu ya. Kalau alasannya itu, silakan saja ejek aku sesukamu. Sebagai gantinya, aku juga akan mengejekmu."

"Kakak bodoh!"

"Itu salah Karen sendiri karena tidak mau jujur, kan?"

"Aku kan berniat mengatakannya suatu saat nanti……."

"Kata 'suatu saat nanti' itu sudah terlambat."

Keduanya beradu mulut tanpa atmosfer yang tegang.

Karena perhatian lawan tanding masing-masing teralihkan ke sana, Kai dan sang Residen pun jadi menganggur sejenak.

Kai mengirim kontak mata seolah berkata, 'Tiba-tiba saja dimulai, ya,' yang dibalas dengan senyum tipis oleh sang Residen.

Setelah interaksi singkat itu, Kai menoleh ke arah jendela yang ditembus cahaya matahari.

"Nah, sudah mulai agak panas, ya."

Sebenarnya ia sudah merasakannya sejak tadi, dan berniat bergerak setelah ada kesempatan.

"……Ah, serahkan pada saya."

"Tidak apa-apa, posisiku lebih dekat, kok."

Memanfaatkan waktu luang ini, Kai berdiri dari sofa, menahan sang Residen yang juga hendak berdiri, lalu mengulurkan tangan ke tirai di sisi kiri.

Keseharian yang damai dan biasa saja.

Tepat saat ia menggeser dan menutup setengah tirai tersebut—.

"!"

—Keseharian itu berubah drastis.

Tiba-tiba sang Residen mengernyitkan dahi dan memutar tubuhnya ke arah jendela seolah masuk ke posisi tempur.

Karen dan Lifia yang tadi asyik berdebat langsung terdiam, tampak terkejut melihat perubahan itu.

Tentu saja, Kai pun sama terkejutnya.

"Erat... Pak Residen? Ada apa?"

"Baru saja, saya merasakan tatapan sekilas dari arah sana. Kemungkinan besar, kita sedang diawasi."

"Eh!? A-apa-apaan itu……."

"Di... diawasi……."

Mendengar ucapan Residen yang berwajah serius, Karen segera mengungsi ke samping Lifia.

Situasi ini jelas membuat permainan papan mereka harus terhenti sementara.

Kai berkedip cepat dan langsung menanyakan keraguannya.

"Mungkinkah kamu punya skill Detection?"

"Iya. Meski bukan tingkat tinggi, saya memilikinya sebagai syarat pengelola kediaman. Semakin megah sebuah hunian, semakin mudah menjadi incaran penjahat."

"Begitu rupanya……."

Seperti yang diharapkan dari orang yang dipercaya oleh Duke.

Begitu Kai berpikir, 'Berarti perasaannya tidak salah, ya,' keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.

"Ka-kamu ini terlalu santai! Kita baru saja diawasi! Sudah pasti itu orang jahat!"

"Karen, Shikkoku-sama pasti sudah menyadarinya juga."

"……"

'Bukan begitu, Lifia-san. Itu... salah besar, tahu? Aku sama sekali tidak sadar satu milimeter pun.'

Kata-kata itu hampir terlontar, namun Kai menahannya.

Mungkin Lifia hanya mengatakannya untuk menenangkan Karen. Untuk menghilangkan rasa cemas adiknya.

Setelah sampai pada kesimpulan itu, hanya ada satu hal yang harus Kai lakukan.

"Lawan kita sepertinya sangat ahli. Mereka langsung menyadari situasi dan menyembunyikan diri. Saya bahkan tidak bisa menangkap arah kasarnya. Mohon maaf."

"Menyadarinya saja sudah hebat, tahu? Kamu boleh bangga soal itu. Serius."

Kai mencoba membaca suasana dan berpura-pura seolah ia sudah menyadarinya sejak awal dengan gaya yang tenang.

Lagi pula, jika ia merendahkan diri, posisinya sebagai 'orang kuat' akan hilang.

Kai pun terus mengangguk sambil memuji sang Residen.

"Tidak, ini bahan evaluasi bagi saya. Seharusnya saya bertindak alami seperti Shikkoku-sama agar lawan tetap muncul, sehingga saya bisa mendapatkan informasi."

"……Ya-yah, seperti kata Pak Residen, lawannya memang ahli. Wajar saja kalau terjadi hal di luar dugaan."

Sambil memberi dukungan, Kai membatin dalam hati.

'Dari sudut pandang Residen, gerak-gerikku memang terlihat alami, ya…… Padahal itu karena aku tidak menyadari apa-apa.'

"Ngomong-ngomong, ya. Berdasarkan hawa keberadaannya, kurasa mereka ada di sekitar sana sekarang. Mungkin mereka memakai Magic Item pengintai jarak jauh, jadi tidak akan terlihat dari sini."

Dari sudut pandang lawan, mereka kini dalam situasi di mana pengintaian mereka telah ketahuan.

Tentu mereka belum mendapatkan hasil yang memuaskan.

Secara umum, mereka pasti ingin terus mengintai.

Kai mencoba memutar otaknya keras-keras, lalu menunjuk ke arah jendela yang tirainya belum tertutup dan membuat gerakan melingkar untuk memperluas area secara samar.

Ia memanfaatkan perkataan Residen yang bilang 'tidak bisa menangkap arah kasarnya'.

"K-kamu bahkan bisa tahu sejauh itu!?"

"S-seperti yang diharapkan dari Shikkoku-sama……."

"Ternyata Anda memang sudah mencapai tingkat ahli."

"Heh……."

Ada rasa bersalah karena telah berbohong, padahal ia hanya asal bicara.

Kai tanpa sadar tersenyum pahit, namun setidaknya mereka sudah merasa tenang.

"Shikkoku-sama, apakah Anda tahu apa tujuan lawan……?"

"……"

"Shikkoku-sama……."

"Eh? A-ah, ya…… itu……."

Mungkin karena teringat masa lalu di mana Karen pernah diculik, Lifia menatapnya dengan pandangan memohon.

Tapi pertanyaan itu sungguh menyulitkan.

Mana mungkin Kai tahu.

Bahkan ia tidak menyadari adanya mata yang mengawasi sejak awal.

'Seharusnya aku bertindak sesuai kemampuanku saja……' ia menyadari hal itu kembali, namun sudah terlambat untuk mengaku sekarang.

(Demi membuat mereka tenang……)

Hanya memikirkan hal itu, ia memutar otaknya kembali.

"Tujuan lawan itu…… aku belum yakin 100%, tapi mungkin item yang ada di rumah ini, atau barang seni yang diberikan Tuan Duke. Kalau mau mengawasi kalian berdua, tidak perlu repot-revis di kediaman ini. Kurasa mereka hanya ingin memantau siklus hidupku."

Inspirasi ini ia dapatkan dari ucapan Residen tentang 'hunian megah yang mudah diincar penjahat'.

"Dibandingkan mengincar kediaman penguasa, risiko mengincar rumah yang tidak ada penjaganya jauh lebih kecil…… Haaa……."

"Kamu menghela napas sambil bilang 'repot sekali', tapi di dalam hati kamu pasti berpikir 'cepatlah serang aku', kan?"

"Pemikiranmu itu yang aneh, tahu."

"Orang yang menghancurkan jembatan besar itu sudah pasti aneh pikirannya."

"Bukan dihancurkan, tapi memang sudah waktunya hancur."

"Pembohong."

Mungkin karena sudah sedikit tenang, Karen mulai kembali ke sifat aslinya.

Di saat itulah, Kai merasa tindakannya berpura-pura tadi memang keputusan yang tepat.

"Pokoknya…… bagaimana kalau kita lanjut bermain? Mereka tidak akan menyerang sekarang, dan kalau kita ketakutan, itu hanya akan menguntungkan lawan."

"Baiklah."

"S-sesuai keinginan Anda."

Sang Residen pun mengangguk setuju.

Namun, suasana bermain Reversi dan Catur kali ini tidak sama seperti tadi.

Mungkin untuk menutupi rasa takutnya, Lifia yang duduk di samping diam-diam menggenggam tangan kiri Kai yang berada di atas lutut—.

Lalu sang Residen yang menggerakkan pion caturnya berkata—.

"Shikkoku-sama, bagaimana langkah kita selanjutnya? Jika rumah ini menjadi incaran, secara umum kita perlu mengambil tindakan pencegahan. Apakah menurut Anda hal itu tidak perlu?"

"Nn!?"

Isi pembicaraan strategis pun dimulai.

"Tidak, tidak, tidak, tidak mungkin tidak perlu."

Karena menganggap Kai adalah orang kuat, sang Residen sampai memberikan pilihan ekstrem 'tidak perlu'.

Padahal kemampuan Kai yang menonjol hanyalah pada senjata dan pelindungnya saja.

Tubuh aslinya mungkin akan langsung tersungkur hanya dengan dua atau tiga pukulan dari seorang Treasure Hunter.

Tindakan pencegahan harus mutlak dilakukan.

"Kalau tidak salah, kita bisa meminjam penjaga dari pihak Tuan Duke, kan……?"

"Benar sekali. Jika dirasa kurang, kita juga bisa mengerahkan bantuan dari keluarga Ansarage dari Gereja Suci yang memberikan Anda lambang segel, serta keluarga Albrela dari serikat perdagangan."

"Sekadar bertanya, menurut Pak Residen, berapa banyak penjaga yang diperlukan agar kamu merasa aman, atau bisa melindungi diri sendiri?"

Bagi Kai, ia punya perlengkapan Shikkoku yang hebat.

Ia juga punya satu cincin anti-instan mati yang didapat dari keluarga Albrela sebagai ucapan terima kasih.

Jika ada perampok pun, ia merasa setidaknya bisa melindungi dirinya sendiri.

Namun, orang yang menghabiskan waktu paling banyak di kediaman ini adalah sang Residen.

Pendapat wanitalah yang harus diprioritaskan.

"Jika hanya untuk melindungi diri sendiri, kondisi sekarang pun sudah cukup. Namun, menjaga kediaman ini juga merupakan tugas saya, jadi untuk bersiap menghadapi kejahatan, saya ingin setidaknya 10 orang dikerahkan."

"Eh? Tunggu sebentar."

Ada satu hal yang membuat Kai penasaran.

"Jika hanya untuk melindungi diri sendiri, tidak masalah meski penjaganya nol?"

"Tergantung siapa lawannya, jadi saya tidak bisa bilang 100%. Namun, saya cukup percaya diri dengan teknik bela diri saya. Jika saya sampai kehilangan nyawa, saya tidak akan bisa menyampaikan informasi kepada pihak atasan."

"He-heee…… itu sangat bisa diandalkan, ya."

Pada detik ini—Kai menyadari sesuatu.

Ada kemungkinan ia tidak bisa menang melawan sang Residen dalam pertarungan tanpa pelindung. Tidak, kemungkinannya malah sangat tinggi.

"Kamu tidak diberitahu, ya? Pak Residen ini dulunya adalah Treasure Hunter peringkat B, tahu! Padahal dia punya kualifikasi untuk naik ke peringkat A."

"Hoo…… itu luar biasa……."

"Memberitahukan hal itu kepada Shikkoku-sama adalah hal yang lancang bagi saya. Jika saya punya kekuatan sampai bisa menghancurkan jembatan, mungkin ceritanya akan berbeda."

"Apa kamu baru saja sedikit mengejekku?"

"Itu murni kejujuran saya."

"Begitu ya. Yah, tidak apa-apa kalau mau mengejekku. Aku malah senang."

Supaya tidak salah paham, ini bukan karena Kai memiliki selera masokis. Ia hanya ingin membangun hubungan yang santai sampai bisa saling bercanda.

"Kalau begitu, biar aku saja yang mengejekmu."

"Cuma boleh Pak Residen saja, tahu."

"Kenapa begitu!"

"Kalau dari posisi Karen, itu tidak lucu lagi."

"Kenapa bisa begitu!"

"Ini sudah hukum alam."

Karena itu adalah kejujurannya, Kai menjawab dengan tegas kepada Karen yang tampak kesal.

Ejekan dari Residen dan ejekan dari keluarga Duke memiliki tekanan yang jauh berbeda.

Meskipun masalahnya sudah selesai, berurusan dengan pihak penengah selama ini benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

"Ehem…… Terlepas dari itu, aku ingin menanyakan satu hal pada Pak Residen soal Treasure Hunter."

"Apakah mengenai alasan mengapa saya pensiun di saat seperti itu?"

"A-ah, iya. Sebagai orang yang pernah berada di bidang yang sama, aku berpikir sayang sekali kalau kamu berhenti padahal sudah hampir mencapai peringkat A."

'Dengan kekuatanku sekarang, aku sudah tahu bagaimana hasilnya jika pergi berpetualang.'

'Bisa-bisa aku kehilangan nyawa dalam sekejap.'

Realisasi ini selalu menghantuinya. Meski ini soal pengalamannya saat bermain game, petualangan adalah hal yang menyenangkan, itulah mengapa ego pribadinya merasa sayang atas pilihan sang Residen.

"Fufu, dulu saya sering mendengar kata-kata yang sama seperti Shikkoku-sama. Termasuk ajakan untuk bergabung ke dalam tim."

"Berarti, keputusanmu untuk berhenti sudah bulat."

"Benar. Saat penjelajahan dungeon, tiga rekanku menderita luka parah yang membuat mereka mustahil untuk kembali beraksi."

"Kh, maaf. Aku menanyakan hal yang suram."

"Jangan dipikirkan. Sekarang mereka sudah menempuh jalan lain dengan bahagia, sama seperti saya. Jika saya tidak memilih jalan ini, saya tidak akan punya waktu untuk bermain catur dengan Lifia-sama. Begitu juga waktu untuk bermain Reversi dengan Karen-sama nanti."

"Kalau begitu baguslah."

"Terima kasih sudah bicara begitu."

Mungkin sang Residen memilih jalan ini demi rekan-rekan timnya.

Mendengar cerita ini, Kai semakin merasakan perbedaan antara dunia sekarang dengan saat ia bisa berkali-kali melakukan reset untuk masuk ke dungeon.

Ia kembali diingatkan bahwa dunia ini bukan tempat untuk bermain-main dengan perasaan ringan.

"Hei, Kakak? Karena dia sudah bicara hal yang manis, berikan jawaban…… dong?"

Biasanya Lifia akan bereaksi, namun kali ini ia tidak menjawab.

Karen yang menyadari keanehan ini segera menoleh, dan ia justru menemukan kejanggalan yang lebih besar.

"……"

Meskipun tangannya menggerakkan pion catur, telinga Lifia seolah tertutup dan ia tidak mendengar apa pun.

Lalu, entah kenapa ia terus melirik ke arah serong bawah, dan pipinya yang seputih salju memerah padam.

Pemandangan yang benar-benar mustahil terjadi di tengah permainan papan.

"Nn?"

Kepala Karen terasa pening menghadapi situasi yang tak bisa dijelaskan ini, namun ia mendapatkan petunjuk dari arah pandangan Lifia.

Ia memiringkan kepala, membungkukkan badan, dan mengintip ke bawah meja—di sana ia menemukan alasan mengapa Lifia melamun.

"Aaa! Ke-kenapa kalian saling menumpuk tangan begitu! Kakak!!"

"!!"

Karena teguran keras itu, Lifia buru-buru melepaskan tangannya.

Ia mengibaskan kedua tangannya dengan cepat dan menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan untuk menutupi rasa malu, namun fakta bahwa hal itu sudah terlihat tidak bisa terbantahkan.

"Lagipula sejak kapan kalian melakukannya!"

"Sejak permainan papan ini dimulai kembali."

"Sudah selama itu!? Lalu, kamu sendiri kenapa membiarkannya saja!"

"Dari sisi perbedaan kasta, ada bagian di mana itu hal yang wajar, kan?"

"Perbedaan kasta? Cari alasan yang lebih masuk akal sedikit dong!"

"……Benar-benar tidak adil."

Meskipun terus dihujani tatapan curiga, Kai mengatakan yang sebenarnya.

"Supaya tidak salah paham, aku tidak membiarkannya karena punya niat mesum, tahu? Serius."

Justru karena tidak merasa bersalah, ia bisa menjawab jujur bahwa itu terjadi sejak permainan dimulai kembali.

"Lagi pula, menepis tangan orang lain itu tidak sopan, kan? Mengingat Lifia-san melakukannya karena rasa takut."

"Itu cuma pemikiranmu saja. Kakak itu, biar kelihatan begitu, sebenarnya dia sangat cerdik, tahu."

Karen seolah ingin bilang 'Kakak cuma memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan'.

Sebagai pendapat dari seorang adik, tingkat kebenarannya cukup tinggi, namun Kai memikirkan sesuatu berdasarkan pengalamannya di masa lalu.

"Kenyataannya, kurasa memang ada bagian di mana dia mencoba terlihat kuat. Anak sulung biasanya punya rasa tanggung jawab dan kemandirian yang tinggi."

"Kalau begitu coba lihat wajah Kakak. Apa menurutmu orang yang ketakutan bakal memerah sampai seperti itu?"

"Nn?"

Kai mengikuti arah telunjuk Karen, namun yang tertangkap matanya hanyalah rambut belakang Lifia dan punggung indahnya yang memperlihatkan tulang belikat.

Lifia memutar tubuhnya agar tidak perlu berpapasan wajah.

"Tuh, kan. Tidak berani menunjukkan wajahnya saja sudah seperti pengakuan dosa."

"Ja-jangan asal bicara begitu... Karen. Kalau kamu bicara lebih jauh lagi, aku tidak mau menemanimu tidur saat hari sedang petir, lho."

"A-apa-apaan hukuman itu! Lagipula kalau Kakak tidak melakukan hal itu……!"

"Aku sudah merenung, kok……."

"Merenung seperti saat Kakak dimarahi tiga hari berturut-turut karena terlalu banyak makan kue?"

"Di-di depan Shikkoku-sama, kenapa kamu bilang begitu……!"

"Aku malah dikatakan hal yang lebih memalukan lagi!"

Dari sudut pandang Kai, ia tetap hanya bisa melihat rambut belakang dan punggung Lifia, namun mungkin Karen bisa melihat wajah kakaknya dari samping.

Lifia berusaha mempertajam tatapan matanya dan kembali memulai perdebatan.

"Shikkoku-sama, boleh saya bicara sebentar?"

"Tentu saja."

Sang Residen memanggil di waktu yang tepat.

"Mengenai masalah pengerahan penjaga, sepertinya Anda belum memberikan jawaban."

"Ah, benar juga……."

Kai yang tersadar langsung mengutarakan pemikirannya.

"Soal penjaga, aku berencana mengerahkan 20 orang untuk saat ini."

"……Bukan 10 orang, tapi 20 orang?"

"Iya. Karena kalau mengerahkan sebanyak itu hanya dari pihak Tuan Duke, penjagaan di sana akan melemah, jadi aku ingin meminta bantuan juga dari keluarga Ansarage dan keluarga Albrela. Masalah biaya pengerahan dan tanda terima kasihnya akan kusiapkan sendiri."

Selama ini Kai selalu menghindari berutang budi pada pemegang kekuasaan, namun kali ini pengecualian.

Tidak mengambil tindakan pencegahan di saat ada kemungkinan 'sesuatu bakal terjadi' adalah tindakan yang terlalu optimis.

Terlebih lagi, Kai sendiri tidak punya cara untuk menyelesaikannya dengan kekuatan sendiri.

"Anu, Shikkoku-sama, apakah Anda sudah memprediksi bahwa kediaman ini akan diserang? Karena Anda tampaknya ingin memperketat penjagaan lebih dari biasanya."

"Tidak, bukan begitu. Aku tidak punya informasi seperti itu, dan kalaupun punya, aku pasti akan memberitahu Pak Residen, kan?"

"Bukannya Shikkoku-sama adalah tipe orang yang akan menyelesaikannya sendirian sebelum sempat memberitahu?"

"Tentu saja tidak sehebat itu. Ini hanya untuk berjaga-jaga seandainya terjadi sesuatu yang buruk."

Kai merasa sedang dicurigai, namun jika ia punya kekuatan untuk menyelesaikannya sendirian, ia pasti sudah asyik menjelajahi dungeon sebagai Treasure Hunter.

Ia juga tidak akan gemetaran menghadapi Layla, sang gila perang yang baru kembali ke kota ini.

"Semakin banyak orang, semakin banyak hal yang bisa ditangani, dan secara umum tingkat keselamatan semua orang juga akan naik. Ini pendapat orang awam, tapi kurasa lebih baik berlebihan. Penting juga untuk membuat lawan berpikir 'ini mustahil' dan menyerah."

"Saya mengerti apa yang Anda sampaikan. Namun, apakah benar-benar tidak apa-apa? Saya tahu bahwa berutang budi kepada banyak pihak adalah hal yang merugikan bagi Shikkoku-sama."

"Tidak apa-apa, kok."

Apa yang dikatakan Residen memang benar.

Karena statusnya hanya rakyat jelata, ia sebisa mungkin tidak ingin punya utang budi pada pemegang kekuasaan yang menakutkan.

Terutama karena ia tidak percaya diri bisa membalas utang budi tersebut dengan cara yang memuaskan bagi mereka.

Namun, kali ini adalah pengecualian.

"Aku akan repot kalau Pak Residen sampai kenapa-kenapa."

"!"

"Aku sangat mengandalkanmu, dan tentu saja, aku juga ingin kita semua selamat."

"Fufu…… Terima kasih banyak. Kalau begitu, akan saya sampaikan hal ini kepada Digoot-sama. Seluruh personel kemungkinan besar akan lengkap dalam satu atau dua hari ke depan."

"Tolong, ya. Hadiahnya akan kusiapkan nanti."

Entah hadiah macam apa yang harus disiapkan……. Tekanannya sampai membuat perutnya sakit, tapi itu masih lebih baik daripada tidak merasa aman.

"Ah—lalu, untuk kalian berdua juga."

Kai mengulurkan tangan kepada Karen dan Lifia yang masih asyik berdebat, meminta mereka untuk gencatan senjata sejenak.

Setelah mereka siap mendengarkan, ia melanjutkan.

"Untuk beberapa waktu ke depan, sebaiknya kalian berdua mengurangi kegiatan di luar. Sebab ada kemungkinan yang diawasi itu adalah kalian berdua."

"Ba-baiklah. Sesuai saranmu, kami akan membatasi diri seminimal mungkin."

"……Hei. Sebagai gantinya, hari ini kamu harus bermain banyak denganku, kan?"

Mengurangi kegiatan di luar berarti frekuensi mereka datang ke kediaman ini akan menurun.

Terhadap Karen yang menuntut kompensasi atas kerugian itu—.

"Itu bukan kalimat yang pantas diucapkan oleh orang yang tadi menghentikan permainan Reversi di tengah jalan, lho—"

Tepat setelah ia membalas dengan nada menggoda.

"Lancang sekali!"

Karen berdiri dari sofa sambil berkacak pinggang. Kemudian ia berjalan mengitari meja, mendekati Kai yang sedang duduk selangkah demi selangkah.

"……"

"……"

Selama beberapa detik, posisi Kai didominasi oleh tatapan Karen yang pipinya menggembung lucu.

Lalu, dengan gerakan tubuh yang anggun, Karen berbalik dan duduk di atas pangkuan Kai seolah-olah itu adalah hal yang lumrah.

"Oi, oi? Di sini bukan kursi, lho."

"Aku juga tahu itu. Ini balasan karena sudah menyerangku dengan kata-kata!"




"Ya."

"Apa-apaan nada bicara yang tidak puas itu? Aku ini sedang melindungimu, tahu. Lagipula, Kakak pasti bakal mulai cari-cari kesempatan buat menjahilimu lagi."

"Karen, kamu ini..."

Suara lemah terdengar dari sebelahku.

Aku tidak tahu apa ucapan Karen benar atau tidak. Namun, mengingat betapa cerdiknya Lifia, aku merasa dia mungkin akan mencoba lagi demi sensasi 'ketahuan atau tidak'.

"Karen, boleh aku tanya satu hal?"

"Boleh saja."

"Reversi ini... jadi susah sekali dimainkan. Padahal aku menikmatinya lebih dari yang kamu bayangkan, lho."

Saat aku menyampaikan pesan 'aku jadi tidak bisa konsentrasi' lewat punggungnya, jawaban yang kudapat justru jauh lebih telak.

"Bukannya kamu tidak punya pilihan selain membiarkanku? Mengingat status yang kamu tetapkan sendiri."

"Aku sama sekali tidak paham maksud 'pengaturan' itu... tapi cara menyerangmu itu benar-benar curang. Sama saja dengan memanfaatkan fakta bahwa aku tidak bisa melawan untuk berbuat sesukamu."

"Bodo amat! Daripada itu, ayo! Cepat lanjutkan. Sekarang giliranmu."

Dia mencondongkan tubuhnya dalam-dalam, lalu mengambil biji hitam dengan kedua tangannya. Tepat setelah meletakkannya, Karen langsung bicara seenaknya sendiri.

Pandangan Kai hanya tertuju pada punggung ramping Karen, jadi dia tidak punya cara untuk tahu—bahwa saat ini, gadis itu sedang tersenyum puas.

"I-iya, aku mengerti, jadi jangan bersandar padaku terus. Biarkan aku konsentrasi."

"Habisnya, begini lebih nyaman."

"Kalau begitu nanti kita tukar posisi."

"Boleh saja."

"Tidak boleh, dong. Aku bisa remuk nanti."

Candaan itu ditanggapi serius, dan Kai pun membalasnya dengan serius sambil terus bergerak meski Karen masih duduk di pangkuannya.

Ia menatap papan Reversi, menambah biji putih di kotak agar tidak salah langkah, lalu membalik biji hitam yang terjepit.

Lifia yang melihat seluruh rangkaian kejadian itu tampak matanya berbinar terang.

Melihat sosok Kai yang dengan tegas bersikap seolah kasta mereka jauh berbeda.

'Kalau begini, aku bisa berbuat sesukaku...' Lewat tindakan Karen, ia berhasil mempelajari cara untuk bermanja-manja.

Sementara itu, sang Residen yang bisa membaca isi pikiran kakak-beradik keluarga Duke itu hanya menyipitkan mata dan terus mengamati dalam diam.


Saat awan senja yang fantastis mulai memenuhi cakrawala.

Di dalam kereta kuda yang membawa kakak-beradik keluarga Duke dengan barisan pengawal yang kini ketambahan seorang pria berjubah hitam—Kai—.

"Jujur saja, aku benar-benar iri padamu. Siapa pun bisa melihat betapa Shikkoku-sama sangat menyayangimu."

"Benar, apa yang Kakak katakan itu ada benarnya."

"Fufu... Seharusnya aku menahan diri, tapi aku hanya bisa merasa senang."

Percakapan ceria khas obrolan gadis-gadis mulai mengalir.

Di dalam kereta yang menuju kediaman Karen dan Lifia ini, ada satu orang lagi yang ikut serta, yaitu sang Residen.

Mengapa bisa jadi begini?

Mungkin beberapa dari kalian sudah bisa menebaknya, tapi ini karena kejadian pengintaian oleh sosok misterius tadi.

Metode yang paling minim risiko untuk melindungi Karen, Lifia, dan sang Residen secara bersamaan adalah dengan berpindah tempat bersama-sama.

Sang Residen sempat berpendapat untuk tetap tinggal di kediaman demi berjaga-jaga, namun Shikkoku tidak mengizinkannya. Di saat itulah, untuk kedua kalinya ia berkata, "Aku akan repot kalau kamu sampai kenapa-kenapa."

Itu juga momen di mana Karen dan Lifia merasakan kecemburuan yang besar.

"Lagipula, bukankah Lifia-sama dan Karen-sama juga sudah cukup disayangi? Buktinya, Shikkoku-sama sendiri yang turun tangan mengawal agar kalian bisa pulang dengan aman."

"Tapi kami tidak dikatakan 'Aku akan repot kalau kamu sampai kenapa-kenapa' sampai dua kali. Benar kan, Karen?"

"Benar sekali. Itu curang!"

"Itu hanya karena tidak ada momen yang pas untuk menyampaikannya kepada kalian berdua. Meski sangat lancang untuk memberi contoh seperti ini, tapi jika posisinya dibalik, saya yakin beliau akan mengucapkan kalimat yang sama."

"Semoga saja begitu."

"Kalau aku, sepertinya dia tidak akan pernah mengatakannya."

"Saya rasa tidak mungkin begitu, Karen-sama."

Bukan sekadar gurauan atau candaan, sang Residen benar-benar merasa sedang dicemburui, namun itu justru membuatnya senang.

Kejadian ini semakin memperkuat perasaan bahwa dirinya 'disayangi oleh sang majikan'.

"Ah, maaf saya menyampaikannya sekarang. Lifia-sama."

"Ada apa?"

"Bisakah Anda menyerahkan surat ini kepada Digoot-sama? Ini adalah surat permohonan untuk pengerahan penjaga."

"Eh... Kamu tidak ikut menemui Ayah?"

"Benar."

Tujuan mereka adalah kediaman Duke, jadi sebenarnya ada kesempatan untuk menjelaskan situasi sambil bertatap muka.

Hubungan antara sang Duke dan sang Residen pun tidak buruk.

Pertanyaan Lifia sangat masuk akal, namun ada alasan di baliknya.

"Shikkoku-sama meminta agar segera kembali begitu selesai mengantarkan kalian berdua."

"Dia bilang begitu!? Orang itu."

"Alasannya, 'Aku tidak boleh menyita waktu berharga Anda secara mendadak'."

"Padahal tidak perlu sungkan sampai begitu..."

Sambil menerima surat dari sang Residen dengan kedua tangannya, Lifia menundukkan mata dengan lesu.

Kekecewaannya begitu dalam, seolah baru saja melihat langsung surat cintanya dibuang ke tempat sampah.

"Padahal Kakak tadi matanya sampai berbinar-binar, ya, karena berpikir masih bisa bersama-sama lebih lama lagi."

"Ka-Karen juga mengangguk senang sambil bilang 'iya, iya!', kan... Jangan bicara seolah-olah ini bukan urusanmu."

"A-aku tidak merasa senang atau semacamnya... Aku cuma mengangguk saja."

Karen bicara dengan nada dingin, padahal dialah yang merengek langsung pada Shikkoku dengan kata-kata, 'Hari ini kamu harus bermain banyak denganku, kan?'.

Fakta bahwa dia hanya berpura-pura kuat terpancar jelas dari ekspresinya, dan Lifia pun merasa malu jika topik ini dibahas lebih dalam.

Ia pun segera mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Te-terlepas dari itu, apa tidak apa-apa Shikkoku-sama meninggalkan rumahnya dalam keadaan kosong... Seandainya yang mengawasi tadi adalah pencuri, bukankah sekarang adalah kesempatan emas..."

"Mungkin... Ramuan Ajaib Legendaris itu ada di sana. Di rumah itu."

"E-eee!? Benarkah!?"

"Habisnya, saat menolong kita dulu, orang itu membawa banyak sekali..."

Dengan kata lain, jika terjadi masalah, ini benar-benar bukan lelucon lagi.

Wajah cantik Lifia seketika memucat.

Dan, mungkin karena memikirkan kemungkinan terburuk... sang Residen segera menyela Karen yang menunjukkan ekspresi serius.

"Bagi saya pribadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Terutama karena beliau bersikeras agar saya tidak tetap tinggal di kediaman."

"Apa... maksudnya itu?"

Dari wajah pucat pasi menjadi wajah penuh tanya.

Melihat Lifia yang ekspresinya berubah-ubah dengan cepat, sang Residen menjawab dengan penuh percaya diri.

"Meski sarana komunikasinya tidak diketahui—kurasa kali ini bawahan Shikkoku-sama, orang-orang dari Veltahl, yang mengambil alih tugas jaga menggantikan saya. Seperti kata Karen-sama, di kediaman itu tersimpan barang-barang berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang, termasuk Lambang Segel. Meninggalkan rumah tanpa persiapan adalah tindakan yang tidak akan pernah dilakukan bahkan oleh orang paling bodoh sekalipun."

"—Hatchi!"

"Jika ada yang mengincar saat rumah kosong, saya yakin beliau sudah memasang perangkap agar pelakunya tertangkap."

"Ah, benar juga. Itu terdengar lebih masuk akal."

"Tapi... orang itu baru saja bersin di waktu yang sangat sial, kan?"

"I-itu pasti cuma kebetulan saja."

"Semoga saja begitu..."

Suara bersin itu terdengar sampai ke dalam kereta kuda.

Lifia terus berkedip berkali-kali mencoba menenangkan Karen yang mengernyitkan dahi sambil menatap sosok Shikkoku.

"Eh, tapi dengar penjelasan tadi, bukannya lebih baik menyuruh bawahannya saja yang menjaga rumah daripada mengerahkan pengawal? Nanti biaya tanda terima kasihnya jadi besar, kan?"

"Karena beliau sering menegaskan bahwa dirinya adalah 'rakyat jelata'. Mungkin beliau memikirkan tindakan yang tidak menimbulkan kecurigaan."

"Padahal tidak menempatkan penjaga di rumah sebesar itu sudah sangat jauh dari kata normal, lho. Belum lagi item dan senjata yang dia punya."

"Apa yang dikatakan Karen-sama memang benar, tapi untuk poin pertama, mungkin itu bagian dari pengaturan sebagai 'Rakyat jelata yang memiliki kekuatan'."

"Bukannya itu agak kurang matang?"

"Mungkin alasannya justru karena itu 'pas'. Buktinya, kita jadi tidak bisa menggali topik itu lebih dalam, kan? Dengan menciptakan keganjilan, beliau mencegah kita untuk menyelidikinya terlalu jauh."

"Ja-jadi, semua pengaturan itu sudah diperhitungkan?"

"Karena ini Shikkoku-sama, hal itu sangat mungkin terjadi. Beliau sengaja menciptakan keganjilan karena ada keuntungannya."

"L-luar biasa sekali... kalau benar begitu."

Pendapat Lifia dan sang Residen kurang lebih sama.

Karen, yang kembali menyadari betapa misteriusnya sosok Shikkoku, tanpa sadar memeluk lengannya sendiri.

"Karen hebat sekali, ya, bisa menang main Reversi melawan Shikkoku-sama yang seperti itu."

"Fufun, begitulah. Katanya dia mau latihan lagi, tapi aku tidak akan kalah di pertandingan berikutnya."

"Bagaimana kalau saya minta duel saat kita berkunjung lagi nanti?"

"Saya juga ingin meminta hal yang sama. Shikkoku-sama juga terlihat sangat menikmatinya."

Hanya Residen yang jeli memperhatikan sekitar yang bisa memberikan dorongan seperti itu.

Atmosfer lembut menyelimuti bagian dalam kereta kuda, namun seseorang kemudian memberikan peringatan tegas.

"Syarat utamanya adalah aku harus ikut mengawasi. Kakak."

"...!!"

Karen yang menatap tajam dengan mata mengantuk itu sudah merasa yakin.

Bahwa Lifia pasti akan mencoba bermanja-manja lagi pada Shikkoku dalam kesempatan sempit.

"Su-sudahlah, maafkan aku, kan? Karen saja duduk di pangkuan Shikkoku-sama selama puluhan menit."

"Karena Kakak melakukannya diam-diam, dosanya jadi lebih berat."

Lifia yang tadi memujinya kini tidak mendapat ampun sedikit pun.

"Lagipula... aku yang lebih dulu mengincarnya, tahu. Orang itu."

"A-aku juga bertemu takdir dengannya di menara jam yang seharusnya tidak didatangi siapa pun... Tidak boleh memonopolinya sendiri."

"Yang duluan memonopoli itu kan Kakak!"

Begitu masuk ke topik ini, mereka berdua segera terlibat adu mulut.

Pasti di kediaman Duke nanti hal serupa akan terjadi lagi.

Selain itu, karena status Shikkoku yang hampir pasti adalah anggota Veltahl, Duke Digoot yang akan mendengar perdebatan karena rasa suka ini pasti tidak akan bisa tenang.

Sang Residen yang merasa sedikit kasihan bergumam dalam hati, 'Kejadian seperti ini tidak mungkin bisa diprediksi, ya,' sambil menyunggingkan senyum.

◆◇◆

Beberapa puluh menit kemudian, saat mereka akhirnya sampai di tujuan dengan selamat.

"Ah, Pak Residen, bagaimana rencanamu setelah ini? Aku mau langsung pulang... tapi kata pengawal, mereka sudah menyiapkan tempat menginap, jadi kamu boleh ambil cuti dan tinggal di sini kalau mau. Pasti banyak hal yang ingin kalian bicarakan."

"Tidak, saya akan pulang bersama Shikkoku-sama."

"Apa kamu merasa sungkan padaku...? Boleh bermanja-manja sedikit, kok."

"Ucapan bermanja-manja baru saja saya sampaikan tadi."

"...O-oh. Kalau begitu ya sudah."

Lifia dan Karen yang mendengar percakapan antara Shikkoku dan sang Residen dari dekat, saling berbisik sambil berpandangan.

"Sepertinya tinggal di kediaman sana memang jauh lebih nyaman bagi beliau. Pasti."

"Karena ada orang itu di sana. Wajar saja kalau jadi begitu."

Interaksi mereka berdua menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami perasaan sang Residen.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close