NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 2 Chapter 4

Chapter 4

Persilangan


"……Hah?"

Dua hari setelah rangkaian pertemuan dengan Tiga Pilar—keluarga Albrera, serta salam perpisahan dengan Remi dan Polka—akhirnya selesai.

Kai, yang sudah belajar cara menghindari perhatian publik, melepas seluruh perlengkapan Shikkoku dan pergi keluar.

Namun, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Tempat itu adalah penginapan yang sering membantunya sejak pertama kali ia tiba di kota ini.

Bahkan setelah pindah ke kediaman pribadi, ia masih sering mampir ke kedai makannya yang dikelola oleh pemilik yang baik hati.

Sejak insiden jembatan hancur, ia sangat sibuk hingga tidak sempat mampir.

Karena itulah, saat ia berkunjung setelah beberapa hari, sebuah perubahan besar terpampang di depan matanya.

"Ke-kenapa jadi begini……?"

Meski bisnis utamanya adalah penginapan, entah mengapa barisan antrean panjang mengular di depan kedai makannya—pemandangan abnormal yang tidak terlihat di toko lain.

Karena sebelumnya tidak pernah ada antrean, tanpa sadar Kai bergumam sendiri... dan suaranya ditangkap oleh salah satu pelanggan yang sedang mengantre.

"Oho, penasaran ya, Mas?"

"Eh…… Ah, maksudku, rasanya dalam sekejap tempat ini jadi ramai sekali……"

Kenapa orang yang baru pertama kali bertemu bisa menyapa dengan begitu akrab ya?

Sambil merasa iri dengan kemampuan komunikasi setinggi itu, Kai membalas dengan malu-malu.

"Ya wajar kalau ramai! Kedai ini kan sudah menjalin kerja sama dengan Gereja Suci untuk program dapur umum. Lagipula, sebagian keuntungan toko ini disumbangkan untuk orang miskin melalui Gereja Suci. Sebagai penganut setia, aku juga ingin berkontribusi lewat sini."

"He~……?"

"Tapi ya! Ada rumor kalau Nona Nina dan Nona Marie juga sering makan di sini, makanya aku ikut makan di sini juga!? Mana mungkin ada kesempatan lain untuk bisa makan di tempat yang sama dengan mereka!"

"E-eh, yah, intinya... ini hubungan win-win solution, ya."

"Tepat sekali!"

Pelanggan itu nyengir lebar sambil mengacungkan jempol. Benar-benar gaya karakter figuran, tapi di dunia ini, setiap individu memiliki kehendaknya sendiri.

"Ah, tapi kenapa bisa jadi begitu? Kerja sama dengan Gereja Suci maksudku."

"Ini sih kabar burung, tapi katanya Tuan Shikkoku yang ada di balik semua ini. Mas juga tahu beliau, kan?"

"Sedikit, sih…… Eh, hmm?"

Tiba-tiba saja nama yang sudah biasa ia dengar muncul dalam konteks yang sama sekali tidak ia ingat. Konfirmasi adalah harga mati.

"Maksudnya dia 'ada di balik semua ini'?"

"Susah menjelaskannya, tapi... sepertinya Tuan Shikkoku yang mendorong pemilik kedai saat pemiliknya bilang, 'Saya tidak bisa menerima imbalan lebih dari ini'. Beliau bilang kalau merasa sudah cukup, bagikanlah kepada yang membutuhkan. Dan katanya, beliau memberikan saran serupa kepada pihak Gereja Suci."

"Saran……?"

Sambil memberikan balasan singkat, Kai melipat tangan dan mencoba menggali ingatannya.

"Lagipula, kurasa ini memang benar. Karena kedai ini adalah langganan favorit Tuan Shikkoku, keluarga Ansage jadi percaya dan menjalin kerja sama."

"……Ja-jadi begitu."

Setelah mendengar penjelasan yang terdengar sangat meyakinkan itu, Kai merasa memang pernah memberikan saran semacam itu.

Kepada keluarga Ansage yang mengelola Gereja Suci, Kai memang menolak seluruh imbalan dari Nina dan Marie sambil berkata, "Daripada menggunakan uang sebanyak ini untukku, pasti akan lebih bermakna jika kalian yang mengelolanya."

Sama seperti imbalan dari pihak Polka tempo hari, ia memang tidak bisa bersikap serakah di hadapan orang-orang berkuasa.

Lalu kepada pemilik penginapan ini, ia berkata, "Kalau Paman benar-benar tidak bisa menerimanya, jangan simpan di kantong sendiri, gunakanlah untuk kedai ini."

"Misalnya coba buat harga khusus anak-anak untuk menarik pelanggan, atau lainnya... seperti dapur umum untuk mempromosikan kedai."

Saat itu, ia hanya asal bicara demi meyakinkan sang pemilik agar mau menerima tanda terima kasih karena telah menyembunyikannya saat ia dicari-cari oleh Tiga Pilar yang identitasnya belum ia ketahui.

Bisa dibilang, ini adalah kolaborasi yang dimulai tanpa ia sengaja sama sekali…….

Dulu, Nina juga pernah makan di kedai ini. Pasti mereka sudah punya hubungan yang cukup dekat untuk mengobrol, dan saran asal-asalan Kai ternyata selaras dengan pemikiran mereka.

"Wah, kalau... kalau rumor itu benar, Tuan Shikkoku keren juga ya."

"Oi, oi, Mas! Bukan cuma keren lagi!? Tuan Shikkoku itu setiap hari selalu menolong orang habis-habisan!"

"Eh? Itu... kurasa itu cuma dilebih-lebihkan saja…… Dia juga kan menarik perhatian dengan cara yang buruk……?"

Kai mencoba bertanya, namun saat ia pergi memberikan kudapan untuk orang-orang yang memperbaiki jembatan, ia merasakannya sendiri.

Bukan sekadar perasaan, tapi rasa takut dari penduduk kota memang tersampaikan padanya.

"Aku merasa beliau benar-benar malang. Karena kekuatannya terlalu besar, meski sudah menolong orang sebanyak apa pun, orang-orang di sekitar tetap saja takut padanya."

"……Itu memang malang sekali, ya."

──Malang karena padahal aslinya ia tidak punya kekuatan sehebat itu, tapi disalahpahami seperti itu.

"Yah, pokoknya terima kasih informasinya. Aku sudah paham situasinya."

"Hehe, santai saja. Eh, sekalian saja Mas ikut mengantre? Ada menu baru, lho."

"Maaf sekali, hari ini aku ada urusan. Aku akan menikmatinya lain kali."

"Oalah, oke oke!"

Bahaya kalau pemilik kedai sampai keceplosan atau identitas aslinya sebagai "Shikkoku" terbongkar secara tidak sengaja.

Paling buruk, anak-anak mungkin akan menjerit ketakutan. Jika itu terjadi, ia malah akan merepotkan kedai ini.

Ia harus penuh pertimbangan. Lagipula, lebih nyaman berjalan-jalan di kota tanpa ada yang tahu wajah aslinya.

"……Ah, kalau bertemu pemiliknya, tolong sampaikan 'Salam dari pria bernama Kai'."

"Osi, serahkan padaku!"

"Maaf merepotkan. Kalau begitu, aku titip ya."

Waktu berikutnya ia bertemu pemilik kedai adalah saat pelanggan sedang sepi.

Setelah mempertimbangkan hal itu, Kai pun meninggalkan tempat tersebut.

◆◇◆

Pada waktu yang sama.

"Iya kan? Serius, Tuan Shikkoku itu luar biasa, kan? Dia orang paling hebat dari semua yang pernah kutemui, kan?"

"Benar-benar luar biasa…… Padahal aku tidak bisa memberikan imbalan yang memadai, tapi saat aku mencoba membalas satu budi, dia malah membalasnya berkali-kali lipat lebih banyak……"

"Fufu, kalau begitu Ayah Polka sekarang pasti sedang kesulitan, ya?"

"Benar-benar belum pernah sesulit ini sebelumnya……"

Marie, putri sulung keluarga Ansage yang mengelola Gereja Suci. Polka, putri sulung keluarga Albrera, pemimpin Otoritas Perdagangan. Serta Lifia, putri sulung keluarga Duke.

Ketiga putri dari keluarga yang disebut Tiga Pilar itu berkumpul di sebuah ruangan untuk melepas penat.

Sejak awal, pertemuan ini sudah dijanjikan akan dilakukan setelah rangkaian salam dengan Shikkoku selesai.

"Terutama Remi, dia hanya membicarakan soal Tuan Shikkoku terus……"

"Ara, Karen juga sama saja."

"Nee-chan juga sama. Malah, aku yakin tempatku yang paling berisik. Begitu aku menyebut nama Tuan Shikkoku, dia langsung datang berlari."

"A-apakah Nina-chan yang itu?"

"Eh~!?"

"Aku tidak bohong."

Lifia dan Polka mengerjapkan mata karena terkejut. Wajar jika mereka tidak bisa langsung percaya.

Karena tuntutan pekerjaannya sebagai Saintess, Nina adalah sosok yang sangat anggun dan dewasa, tidak mencerminkan usianya sama sekali.

Bisa dibilang, melihat sosoknya yang kekanak-kanakan adalah hal yang sangat langka.

"Bagaimana dengan tempat kalian? Ada perubahan lain?"

"Remi jadi mau mengerjakan hal-hal yang dia benci. Meski aku hanya menghasutnya dengan bilang 'Tuan Shikkoku pasti akan memujimu'."

"Karen sampai menulis catatan tentang cara mencari perhatian atau cara agar bisa bersikap jujur, lho."

"Hihi, yah, wajar saja jadi begitu. Dengan kepribadian dan kekuatan seperti itu."

Pendapat yang tidak mau mengalah terus dilontarkan, namun tidak ada pertengkaran di antara mereka.

Itu karena mereka semua sangat berempati dengan kata-kata Marie.

"Eh, tapi jujur saja, kalian berdua juga pasti ikut membantu adik kalian dan ikut berteriak, 'Aku ingin bertemu~', kan?"

"Ha-hal seperti itu…… tidak akan kulakukan. A-aku kan sudah dewasa. Iya, kan?"

"U-um, benar sekali."

Polka segera menyetujui ajakan Lifia, namun mata mereka berdua benar-benar tidak bisa diam. Tak hanya itu. Mereka berusaha menegakkan postur tubuh yang sudah tegak, dan berusaha keras menghindari kontak mata.

Mereka mati-matian menutupi kenyataan bahwa tuduhan itu tepat sasaran──namun mereka menyadari dari ekspresi Marie yang tampak lelah melihat tingkah mereka. Bahwa mereka 'tidak bisa berkelit lagi'.

"E-ehem. Marie yang bicara begitu sepertinya justru yang paling bersemangat membantu Nina-chan, ya."

"Benar, cara bicaranya di awal tadi sudah mencurigakan."

"Ya-yah, lupakan soal siapa yang nomor satu, tapi aku memang membantu, sih. Targetku sekarang adalah jadi lebih akrab dengan Tuan Shikkoku dan melihat wajahnya."

"Eh? Marie belum melihatnya?"

"……Ha?"

Jawaban yang diterima Marie benar-benar di luar dugaan.

Dengan wajah melongo ia mencoba mencerna situasi, sementara alis tipisnya berkedut.

Ia menatap Polka mencari sekutu, namun Polka justru tampak membelalakkan matanya.

"Tu-tunggu sebentar. Kalian sudah lihat!? Bukannya Tuan Shikkoku punya aura 'tidak bisa memperlihatkan wajah asli' gitu!?"

"Aku berkat Remi……"

"Kalau saya, dulu pernah tidak sengaja bertemu dengan wajah asli Tuan Shikkoku, lalu beliau memberitahu saya di hari pertemuan tempo hari……"

"Serius!? Jadi yang tidak tahu wajah asli Tuan Shikkoku cuma aku saja!?"

Pada saat itu, Marie baru menyadari. Bahwa dialah satu-satunya yang ditinggalkan dalam situasi ini.

"Hei, serius tolong! Tolong beritahu aku wajah Tuan Shikkoku!? Aku benar-benar penasaran setengah mati!! Nee-chan juga sama sekali tidak mau memberitahu!"

"Ma-Marie-chan, tapi kalau soal itu……"

"Saya juga harus tetap tutup mulut……"

"Ugh, ayolah!! Ah, tapi benar juga ya…… Haaah."

Melihat Polka dan Lifia yang melambaikan kedua tangan tanda menolak, Marie mengeluh, namun segera kembali tenang.

Sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis untuk 'tidak membocorkan informasi yang merugikan beliau atau memengaruhi pekerjaannya'.

Mengingat beliau kemungkinan besar berasal dari organisasi sehebat itu, ada seseorang yang segera merasakan kejanggalan dalam situasi ini.

"Hei, Marie."

"Ada apa, Lifi? Tumben serius begitu."

"Mungkin ini akan membuatmu cemas, tapi……"

Lifia menggerakkan bibirnya dengan raut wajah penuh kewaspadaan.

"Tuan Shikkoku tidak memperlihatkan wajahnya padamu, mungkinkah ada alasan tertentu?"

"He?"

"Ha-habisnya, ini tidak wajar, kan? Dalam pertemuan resmi, hanya Marie yang wajahnya disembunyikan."

"Benar juga, karena kami sudah diperlihatkan, sepertinya beliau tidak dibatasi oleh aturan 'tidak boleh memperlihatkan wajah'……"

"A-anu ya. Kalau pendapat itu benar, ini gawatnya tidak main-main…… Tuan Shikkoku itu pemilik mata yang sangat tajam, sampai-sampai tidak aneh kalau beliau bisa membaca masa depan…… Kasus organisasi agama baru itu saja selesai begitu mudah hanya karena kami menuruti saran beliau bulat-bulat……"

Marie merasa merinding dan pipinya menegang.

Begitu dibilang 'ada alasan tertentu', ia terpaksa percaya karena pencapaian Kai sudah menumpuk begitu tinggi.

"Aku harus mendiskusikan ini dengan semuanya…… Minggu depan kan kami akan mengadakan dapur umum di Katedral Utama……"

"Jika memang ada alasannya, mungkinkah itu akan memengaruhi hari tersebut?"

Lifia menaruh tangannya yang lentik di dagu──lalu menatap Polka, yang berasal dari keluarga pedagang dan paling pintar di antara mereka bertiga, seolah berharap padanya.

Namun, segalanya tidak berjalan semudah itu.

Polka membalas dengan senyum pahit.

"Se-seandainya aku bisa menyadari tujuan Tuan Shikkoku, mungkin aku bisa membuat perasaan Ayah jadi lebih tenang……"

"Itu juga menyindirku, sih…… Eh, kalau nanti kalian dapat informasi, tolong beritahu aku ya? Kali ini tidak ada saran dari Tuan Shikkoku, jadi seharusnya tidak akan ada kejadian berbahaya, tapi untuk berjaga-jaga. Terus, tidak usah tanya langsung ke Tuan Shikkoku, ya. Aku tidak mau gara-gara ini beliau jadi menjauh dariku."

"Baiklah, aku mengerti. Tapi besok aku harus menghadiri pesta bangsawan di kota tetangga, jadi kalaupun aku dapat informasi, sepertinya aku baru bisa menghubungi lusa."

"Aku juga akan beritahu kalau tahu sesuatu. Tapi, soal harapannya……"

"Tidak apa-apa! Terima kasih ya, kalian berdua!"

Marie menunjukkan deretan gigi putihnya dan berterima kasih dengan tulus.

Begitu pulang, ia berpikir untuk segera membuat forum diskusi dengan kedua orang tuanya.

◆◇◆

Dua hari kemudian di waktu sore.

Pria yang sama sekali tidak tahu-menahu soal situasi itu──Kai, yang mengenakan perlengkapan Shikkoku, sedang berjalan dengan puas di jalanan raya yang tertata rapi, menuju gerbang kota yang dikelilingi tembok tinggi.

Rangkaian salam dengan keluarga-keluarga ternama yang disebut Tiga Pilar akhirnya mencapai titik jeda.

Beban di pundaknya terangkat, dan ia akhirnya bisa memperluas jangkauan aktivitasnya ke luar kota dengan dalih berwisata.

'Mumpung sudah datang ke dunia ini, jangan cuma wisata saja, pergilah ke Dungeon.'

'Kalau punya pengetahuan, pergilah bertualang mengumpulkan harta dan item.'

Kai akan mengangguk kuat terhadap pendapat-pendapat seperti itu. Ia sangat setuju. Dulu di game saja sudah sangat menyenangkan.

Sekarang ia bisa menaklukkannya dengan mengandalkan seluruh panca indranya, pasti akan jauh lebih seru.

Namun, ada satu perbedaan mencolok antara dulu dan sekarang. Bahwa di sini "nyawa adalah taruhannya" dan tidak ada fitur restart.

Terlebih lagi, di dalam Dungeon tidak hanya ada monster yang menyerang dengan otot, tapi juga ada jebakan-jebakan sadis serta area berbahaya yang mewajibkan penggunaan sihir kebangkitan atau item kebangkitan dari rekan setim.

Meski sangat tertarik, tindakan 'coba-coba mengintip sedikit' bisa berakibat fatal.

Karena kekuatannya saat ini belum sebanding dengan senjata dan zirahnya, wajar jika ia menjadi sangat berhati-hati.

"Tapi, suatu saat nanti pasti…… Aku punya satu cincin anti mati mendadak untuk saat darurat, dan aku juga ingin melihat para Demi-Human……"

Di kota selatan yang hanya dihuni oleh ras manusia ini ia tidak menemukannya.

Namun jika pergi ke Ibukota yang sangat makmur di pusat benua, akan ada Beastman, Elf, Dwarf, dan ras Demi-Human lainnya. Sama seperti Dungeon, ia ingin melihat mereka sekali-kali.

"Untuk itu, setidaknya aku harus punya rasa percaya diri untuk bisa menang melawan pencuri atau bandit gunung……"

Semakin ia memikirkannya, hatinya semakin berdebar, namun waktu masih sangat panjang.

Sambil menahan rasa tidak sabar, ia melangkah selangkah demi selangkah melewati area hijau.

Dan saat tembok kota Aldia yang menjadi markasnya mulai terlihat.

"Ah……"

Secara kebetulan, Kai melihat sesuatu. Sebuah kereta kuda mewah dengan jendela kaca berhias lambang emas, dikelilingi oleh beberapa pengawal, sedang menuju ke arah yang sama.

"Lambang itu seingatku……"

Ia menyipitkan mata ke arah lambang yang terasa sangat familiar. Ia teringat segel lambang pemberian Tiga Pilar yang sama sekali tidak ia ketahui kegunaannya──.

" Nng!!"

Ia yakin itu adalah segel lambang keluarga Duke. Artinya, orang di dalam kereta itu adalah anggota keluarga Duke.

Meskipun salah, dari jumlah pengawalnya, sudah pasti ada orang berkuasa di dalamnya.

"G-gawat nih……"

Sambil mengucurkan keringat dingin di dalam zirahnya, ia mundur satu, dua langkah, dan dengan cepat bersembunyi di balik pohon yang kebetulan tumbuh di sana.

Jika itu Karen atau Lifia yang sudah memiliki hubungan dengannya, ia masih bisa bertemu, tapi ia tidak tahu pasti siapa yang ada di dalam.

Seandainya yang naik adalah Tuan Duke…… Seandainya Nyonya Duke…… Atau keluarga lainnya…… Ia merasa sangat segan.

Terlebih lagi, para pengawal tangguh itu menakutkan.

Meski tindakannya bisa disebut pengecut, bagi orang biasa yang tidak percaya diri dengan penggunaan bahasa formal, siapa pun pasti akan memilih opsi ini.

"Pokoknya tunggu saja……"

Hanya dengan menunggu, ia bisa melewati situasi ini. Sambil meyakini kedamaian perjalanannya pulang, ia terus memantau jarak yang semakin menjauh. 'Cepatlah masuk ke kota', doanya.

"──Ngh!?"

Namun, doa itu justru membawa petaka. Memperhatikannya terlalu tajam adalah sebuah kesalahan. Kereta kuda yang seharusnya maju ke depan... entah mengapa berhenti.

Malah, para pengawal mengubah arah tubuh mereka ke sini──seolah mengikuti garis pandangannya, ia merasa seolah mata mereka bertemu.

"……Tidak, tenanglah. Mana mungkin hal seperti itu terjadi."

Ia kembali bersembunyi di balik batang pohon sambil menata situasi dengan tenang. Ia menggelengkan kepala, merasa dirinya terlalu berpikiran buruk.

'Sudah, jangan mengintip lagi, sembunyi saja dengan tenang……'

Setelah memutuskan hal itu dan diam membeku seolah menyatu dengan pohon, beberapa detik berlalu. Dari balik batang pohon, terdengar suara langkah kaki yang mendekat.

'Semoga tidak ketahuan, semoga dia segera kembali saja……'

Ia memejamkan mata dan berdoa dalam hati agar keberadaannya tetap tersembunyi. Beberapa puluh detik berlalu.

"……"

Langkah kaki orang itu berhenti tepat di depan batang pohon. Namun, karena ia bersembunyi dengan baik, tidak ada suara yang memanggilnya.

Dan meski waktu berlalu, suara langkah kaki yang menjauh pun tidak terdengar.

'A-apa yang sebenarnya terjadi……'

Saat keraguan itu bertambah, entah mengapa aroma bunga mulai tercium. Situasi yang benar-benar tidak masuk akal.

Demi meredakan kecemasan itu, ia membuka mata dan menggerakkan kepalanya untuk mencari tahu situasi. Pada saat itulah.

"hah!?"

Seorang gadis berambut merah melongokkan wajahnya dari balik batang pohon ke arahnya. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali mereka bertemu, Kai kini beradu pandang dengan putri sulung keluarga Duke, Lifia.

"……Ha-halo."

"Iya! Sudah lama tidak bertemu, Tuan Shikkoku!"

Kenapa tadi ia hanya mengintip tanpa langsung menyapa?

Sambil memendam misteri itu, Kai perlahan mengembalikan postur tubuhnya dari posisi bersembunyi dan berhadapan dengan Lifia yang membalas sapaannya dengan senyum lebar.

Mungkin itu senyum formal, tapi ekspresi alaminya memang menunjukkan kelas sebagai orang yang besar di keluarga Duke.

Gadis itu kemudian menanyakan hal yang sangat wajar.

"Anu…… maaf jika saya menanyakan hal yang janggal, tapi apa yang Tuan Shikkoku lakukan barusan?"

"Y-yah, itu…… Aku merasa lelah berjalan, jadi sedang beristirahat sebentar……"

Meski ia tahu itu alasan yang sangat payah, ia tidak bisa memikirkan alasan lain. Sayangnya, kepalanya tidak cukup fleksibel untuk itu.

Saat ia sedang mengerutkan dahi sambil memikirkan cara berkelit dari kemungkinan Lifia berkata, 'Anda bohong, kan?'

"Fufu, maafkan saya atas pertanyaan yang menjahili tadi."

"……"

"Bagi saya, bertegur sapa dengan Anda bukanlah sebuah beban. Justru karena saya sangat ingin mendapatkan kesempatan untuk berbincang secara pribadi, saya akan sangat senang jika ke depannya Lifia—saya ini—tidak dianggap sebagai beban oleh Anda."

"……Be-begitu ya. Kalau begitu, lain kali aku tidak akan sungkan……"

"Terima kasih banyak."

Lifia sepertinya benar-benar percaya bahwa Kai bersembunyi demi tidak menambah beban sapaan di tengah perjalanan pulangnya.

Ia menyipitkan mata dan menautkan jemari kedua tangannya sambil berterima kasih dengan anggun.

Karena ia sebenarnya sengaja menghindari sapaan dan bukan karena penuh pertimbangan, rasa bersalah pun muncul.

Namun, mengoreksinya justru akan lebih menyakitkan.

Ia terpaksa membiarkannya percaya begitu saja, dan demi mengalihkan perasaannya saat ini, Kai mengubah topik.

"Ng-ngomong-ngomong…… Nona Lifia dari mana?"

Sebenarnya ia sudah penasaran sejak tadi.

Rambut merah cantiknya dihiasi tiara bertahtakan permata, dan ia mengenakan gaun indah yang luar biasa.

Jika bukan karena tekanan menakutkan dari nama 'Keluarga Duke', ia pasti sudah terpesona.

"Ah, sebenarnya sejak kemarin saya menghadiri pesta yang diadakan oleh bangsawan di kota tetangga, dan sekarang saya sedang dalam perjalanan pulang."

"Oho……"

Ia ingin mengembangkan pembicaraan, tapi ia tidak punya bayangan jelas soal 'Pesta Bangsawan'.

Sebagai orang biasa, imejnya bukan menyenangkan, melainkan sangat kaku──.

"Pastinya melelahkan ya, harus berkeliling menyapa orang-orang……"

"Fufu, kata-kata yang sangat khas Tuan Shikkoku, ya."

"Hm?"

"Mungkin Anda membayangkan hal itu karena saat Anda menghadiri pesta, pasti akan ada antrean panjang orang-orang yang ingin menyapa Anda."

"……Ha, haha."

'Bagaimana jalan pikirannya bisa sampai ke sana ya?'

Sambil menyimpan pertanyaan itu di dalam hati, ia melontarkan hal lain yang jujur ia pikirkan.

"(Kalau aku ikut pun) Mana mungkin aku bisa membuat antrean panjang seperti Nona Lifia yang cantik ini…… Pasti."

"Anda pandai sekali memuji."

"Seandainya aku benar-benar pandai, alangkah baiknya."

"Hah!?"

Jika ia benar-benar pandai bicara, seandainya ia melakukan kesalahan kepada orang hebat pun, ia pasti bisa menghindar di saat-saat terakhir dengan kelancaran lidahnya.

Karena tidak bisa melakukan itu, Kai mengatakannya dari lubuk hati terdalam.

"Eh, kenapa kamu terlihat sangat terkejut begitu?"

"Ma-mohon maaf……. Saya sama sekali tidak menyangka kalau Tuan Shikkoku…… menganggap saya seperti itu……"

"Ah…… Kurasa kamu terlalu rendah diri. Siapa pun yang melihat pasti akan menganggap Nona Lifia sangat memikat."

"Apa!"

Mungkin ini bisa disalahpahami sebagai rayuan, tapi perbedaan status antara orang biasa dan keluarga Duke itu seperti langit dan bumi.

Mana mungkin ia berani melakukan hal senekat itu. Justru karena itu adalah kata-kata jujur tanpa niat terselubung, ia bisa mengatakannya tanpa rasa malu.

"Kenyataannya, di pesta tadi kamu pasti diajak bicara oleh banyak bangsawan, kan?"

"Ya-yah, setidaknya beberapa……"

"Oho…… Kalau begitu, para pria lainnya pasti tidak punya cukup keberanian untuk mengajakmu."

"Ja-jangan menjahili saya terus…… Tuan Shikkoku……"

"Tidak, aku tidak akan melakukan hal (menakutkan) seperti itu. Aku mengatakannya dengan tulus."

"……Mou."

Ia memberikan koreksi ganda agar tidak terjadi kesalahpahaman, tapi wajah Lifia tampak lebih merah dari biasanya.

Tingkahnya juga agak aneh. Matanya melirik ke sana kemari. Sepertinya dia benar-benar mengira sedang dijahili.

Saat ia merasakan firasat buruk itu, ia beradu pandang dengan pengawal yang menjaga jarak tertentu.

Tatapannya seolah berkata, 'Sudah waktunya'.

Sebenarnya ia tidak tahu apa yang dipikirkan para pengawal itu, tapi ia merasa ciut saat ditatap tajam oleh orang yang lebih kuat darinya.

Tepat saat ia ingin menyinggung soal pengawal yang menunggu demi mencari waktu berpisah agar tidak merepotkan lebih jauh.

"A-anu…… Tuan Shikkoku sendiri hari ini pergi ke mana……?"

Mungkin karena penuh pertimbangan, Lifia membuka topik baru, tapi sudah pasti lebih baik jika segera diselesaikan.

"Aku? Aku…… ada urusan sampai ke luar kota."

"Ah, pantas saja Anda sedang mengistirahatkan kaki tadi."

"Yah, istirahatnya sudah cukup, dan urusanku juga sudah selesai, jadi sekarang aku mau berkeliling ke area pertokoan sebelum pulang."

Demi memudahkan Lifia memberikan salam perpisahan, Kai memberitahu rencana selanjutnya. Namun, ia merasa mata biru gadis itu mendadak berbinar. Seolah-olah dia baru saja memikirkan sesuatu yang bagus.

"Apakah Tuan Shikkoku akan berkeliling sendirian?"

"……Sendirian, ya, um."

"Apakah itu berarti sendirian akan lebih nyaman bagi Anda……?"

"Tidak, bukan begitu. Cuma tidak ada teman untuk berkeliling bersama saja."

Setelah datang ke kota ini, ia memang sudah punya beberapa kenalan, tapi kenyataannya mereka semua adalah orang-orang hebat.

Tidak ada orang yang bisa ia ajak dengan santai. Paling-paling cuma pemilik penginapan.

Tepat saat ia menggelengkan kepala dan menjawab dengan jujur, pemandangan itu muncul.

Dalam diam, Lifia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk yang lentik secara tegak.

"……"

"……"

Lifia menggerakkan jari telunjuknya dengan gerakan besar, seolah berkata, 'Tolong ajaklah saya!'

Karena ia memiliki atmosfer yang lembut, desakannya ini terlihat seperti sebuah celah pesona, tapi sisi agresifnya ini memang pernah muncul sebelumnya.

──Hari saat ia menerima vila dari Duke Digote. Hari saat kedua putri Duke memandu di vila itu.

Lifia pernah memberikan isyarat kepada Karen sambil memegang bola besar dengan kedua tangan, lalu mengangkatnya seolah berkata, 'Aku ingin kamu mengangkat helm zirahnya', demi melihat wajah yang tersembunyi—sebuah permintaan yang agak memaksa.

Mengingat kejadian itu, tindakan ini memang terasa sangat khas Lifia dan menggemaskan, tapi tetap saja pipi Kai menegang.

"A-apakah saya merepotkan?"

"Tidak, sama sekali tidak merepotkan, tapi bukannya kamu harus melaporkan soal pesta tadi kepada orang tuamu?"

"Jika masih hari ini, tidak ada masalah!"

"……Dengan status Nona Lifia, bukankah agak gawat kalau kelayapan di pertokoan saat hari mulai gelap?"

"Saya akan menyamar dengan topeng!"

"……"

Gadis itu mencondongkan tubuhnya, menyampaikan perasaan ingin dimengerti.

Memang benar jika mengikuti alasan itu, sepertinya garis yang tidak boleh dilewati masih terjaga, tapi ia butuh konfirmasi sedikit lagi.

"Ngomong-ngomong…… kalau kita melakukan itu, mungkinkah aku akan menerima teguran dari Tuan Duke……?"

"Tentu saja tidak, karena ini adalah permintaan saya sendiri."

"Be-begitu ya. Kalau begitu, maukah berkeliling bersamaku?"

"Iya! Tentu saja!"

Mungkin karena biasanya tidak punya banyak kebebasan, ia menunjukkan senyum kegembiraan seperti anak kecil.

Melihat sosoknya yang seperti itu, Kai merasa senang telah mengajaknya.

Bagi dirinya sendiri pun, berkeliling bersama seseorang adalah hal yang membahagiakan.

"Kalau begitu! Bagaimana dengan kereta kudanya?"

"Karena dekat, kurasa lebih baik berjalan kaki saja saat berangkat. Terus…… paling lambat aku ingin sudah di rumah pukul delapan malam."

"Dimengerti. Mohon tunggu sebentar! Saya akan sampaikan hal itu, termasuk meminta kereta kuda bersiaga di kediaman Tuan Shikkoku pada waktu tersebut!"

"A-ah…… baiklah."

Karena ia pergi bersama Lifia yang menyembunyikan identitasnya, kereta kuda dengan lambang keluarga itu tidak bisa digunakan.

Lagi pula, jika harus menyiapkan kereta pengganti pun akan memakan waktu, jadi berjalan kaki adalah pilihan bijak.

Sebenarnya Kai berniat mengantarnya pulang meski tidak ada kereta yang datang menjemput, tapi mungkin bagi Lifia cara ini lebih nyaman.

"Eh, apa?"

Sambil merasa 'Aku sudah membuat keputusan yang bagus', Kai menatap Lifia yang pergi melapor──.

Entah mengapa, seluruh pengawal membungkuk dalam-dalam ke arahnya, lalu pergi menuju gerbang kota bersama kereta kuda.

Kemudian, Lifia yang memegang topeng di tangannya berlari-lari kecil sendirian ke arahnya.

"Maaf membuat Anda menunggu!"

"……Di mana pengawal Nona Lifia?"

"Privasi adalah prioritas utama kami. Selain itu, karena Tuan Shikkoku tidak memasang penjaga di kediaman Anda, kami berpikir kehadiran mereka justru akan merepotkan Anda."

"……Be-begitu, ya. ……Terima kasih."

"Sama-sama!"

Lifia melambaikan kedua tangannya dengan mata yang jernih, tapi sejujurnya Kai ingin setidaknya ada tiga pengawal untuk melindunginya.

Ia tidak tahu kenapa bisa mendapatkan kepercayaan sebesar ini, tapi ia tidak memiliki kekuatan sehebat yang dipikirkan semua orang.

Ia sebenarnya ingin para pengawal itu jangan langsung pergi begitu saja.

"Mohon beritahu saya biaya untuk perlindungan Anda terhadap saya nanti."

"Tidak perlu, gratis saja. Sebagai gantinya... demi keamanan, aku ingin kamu selalu berada di sampingku."

"Huh, baik…… Saya akan selalu berada di sisi Anda……"

Setelah menjawab begitu, Lifia mengenakan topeng yang menutupi area matanya dengan gerakan yang agak terburu-buru.

Meski wajahnya tertutup, kecantikannya tetap terpancar, dan entah mengapa ia mengipasi wajahnya dengan tangan seolah sedang kegerahan.

"Kalau begitu, karena sudah sore, mari kita berangkat."

"Tentu!"

Sambil melihat gadis itu mengangguk mantap, ada satu hal yang lupa Kai sampaikan.

"Ah…… Nona Lifia. Maaf, bolehkah aku menambahkan satu syarat lagi untuk layanan gratis tadi?"

"Tentu saja. Jadi, apa syaratnya?"

"Maaf jika aku tidak sopan, tapi bisakah kita juga berpegangan tangan?"

"──Hah!?"

"Aku tahu ini mungkin hal yang tidak menyenangkan, tapi jika terjadi sesuatu pada Nona Lifia, aku tidak akan bisa mempertanggungjawabkannya. Anggap saja ini demi keamanan saat kita berkeliling, jadi mohon bersabarlah."

Kai menatap Lifia dan memohon dengan serius. Jika terjadi sesuatu, tanggung jawabnya tidak akan bisa ditebus bahkan dengan nyawa sekalipun.

Sebenarnya ini adalah permintaan yang memalukan, tapi rasa takut akan kemungkinan buruk jauh lebih besar. Pikirannya penuh dengan kecemasan 'Pokoknya harus pegangan tangan'.

"A-anu, saya justru…… Bukan! Se-sebaliknya, apakah Tuan Shikkoku sendiri tidak keberatan? Berpegangan tangan dengan saya……"

"Mana mungkin aku keberatan. Kalau bisa berpegangan, aku justru sangat senang."

"Hah!!"

Karena kemungkinan untuk bisa melindunginya akan meningkat drastis. Karena kemungkinan dia tersesat juga akan menjadi nol.

Kai menyatakan hal yang menurutnya sangat wajar, namun entah mengapa Lifia tampak sangat terguncang bahkan dari balik topengnya.

Meski merasa ada yang janggal, rasa gundah Kai sirna saat gadis itu mengangguk pelan dan segera menyodorkan tangannya.

"Kalau begitu…… Mari kita jalan."




Sambil mengucapkan kata-kata itu, aku menggenggam tangan Lifia dan kami pun melangkah bersama menuju gerbang kota.

Karena aku mengenakan perlengkapan pelindung, tidak banyak sensasi sentuhan yang terasa, tapi justru karena itulah aku bisa tetap bersikap tenang. Semuanya sempurna.

Lifia tampak agak gelisah, tapi kurasa hanya masalah waktu sampai dia bisa tenang.

◆◇◆

(Ini pertama kalinya aku berkeliling di sini hanya berdua dengannya... benar-benar yang pertama.)

Sepuluh menit berjalan ke arah timur laut setelah melewati gerbang kota.

Seorang gadis bangsawan bertopeng yang gerak-geriknya anggun—siapa pun yang melihat pasti tahu dia berasal dari keluarga terpandang. Serta seorang pengawal mencurigakan yang mengenakan perlengkapan Shikkoku serba hitam.

Kai dan Lifia melangkah masuk ke area pertokoan sambil menjadi pusat perhatian orang-orang.

"Wah... bahkan di jam segini pun masih sangat ramai, ya."

"Hm?"

"Memalukan memang, tapi ini pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir aku menginjakkan kaki di area pertokoan saat senja begini... Biasanya, aku dilarang keluar rumah lewat dari pukul 16.00."

"Ah, begitu rupanya."

Muncul pertanyaan dalam benakku, 'Padahal kamu tinggal di kota ini?', tapi mengingat posisinya sebagai putri sulung keluarga Duke, hal itu tidaklah mengherankan.

Aku tidak tahu banyak soal kehidupan bangsawan, tapi yang jelas kebebasan mereka sangat terbatas.

"……Berat juga ya, padahal kamu masih muda."

"Fufu, terima kasih atas kata-kata perhatiannya. Tapi sebagai gantinya aku hidup dalam kemewahan, jadi tidak selamanya terasa menyakitkan, kok."

"Aku agak sulit membayangkan Nona Lifia sedang bermewah-mewah."

"Benarkah begitu? Pakaian, alas kaki, hingga aksesori. Semuanya diganti baru satu demi satu, lho."

"Oho……"

(Bukankah itu lebih ke barang kebutuhan pokok untuk formalitas sapaan daripada sekadar kemewahan?)

Pikirku begitu, tapi kalau dia sendiri bilang itu mewah, mungkin memang benar.

"Yah, demi menjaga martabat keluarga Duke, memakai baju yang sama terus-menerus sepertinya memang kurang baik. Kalian tidak boleh terlihat seolah-olah kekurangan kekayaan, kan?"

"……Tepat seperti yang Anda katakan. Tapi setiap kali harus mengganti yang baru padahal barang lama masih sangat layak pakai, rasanya hatiku sedikit... 'nguugh'."

"Haha, jarang-jarang ada bangsawan yang punya nilai-nilai seperti itu."

Mendengar ucapannya, aku tahu dia tidak melakukan kemewahan umum seperti 'Beli ini! Beli itu!'. Sebaliknya, aku bisa membayangkan wajahnya yang tersenyum pahit setiap kali melihat pakaian atau perhiasan baru.

"Tapi, kalau kamu bilang sering ganti barang baru... jangan-jangan tidak ada barang yang menarik minatmu di sini?"

"Sama sekali tidak begitu! Aku jarang punya kesempatan untuk berkeliling dan melihat-lihat sendiri, jadi waktu ini benar-benar menyenangkan bagiku."

"Kalau begitu syukurlah."

Aku merasa sedikit membuatnya merasa tidak enak, tapi melihat caranya menoleh ke sana kemari menatap barang dagangan dengan penuh minat, sepertinya dia jujur.

"Kalau ada sesuatu yang menarik minatmu, jangan sungkan mengatakannya. Aku akan dengan senang hati mampir ke toko itu."

"Aku pun ingin Tuan Shikkoku melakukan hal yang sama. Meski nanti genggaman tangan kita terlepas, aku akan tetap berada di sisi Anda."

"Terima kasih. Tapi biasanya aku cuma berkeliling melihat-lihat tanpa membeli apa pun, sih……"

"Dan sebagai gantinya, Anda memberikan bantuan itu kepada orang lain…… ya."

"Eh?"

"Maafkan saya. Saya hanya bicara sendiri."

"Asal tahu saja, aku tidak melakukan apa-apa, lho? Aku tidak punya banyak kelonggaran untuk itu."

"Fufufu……"

"……"

Meski aku membantah dengan wajar, Lifia tidak membalas dan hanya menutup mulut dengan tangan sambil tersenyum penuh arti.

Seolah ingin bilang 'Aku mengerti kok', aku merasa dia memberikan sedikit remasan pada tangan yang kami genggam.

(Jangan-jangan dia sengaja melakukan ini……?)

Pikiran itu terlintas karena dia tidak percaya meski aku sudah membantah, tapi karena lawanku adalah Lifia yang baik hati, aku terpaksa menepis pikiran itu.

Sambil memendam perasaan campur aduk, kami berjalan pelan di jalan lurus yang diapit deretan kios di kiri dan kanan.

"Lagipula…… di jam-jam seperti ini, jalanan ini dipenuhi banyak pasangan, ya."

"Kalau dipikir-pikir benar juga. Sepertinya sekarang memang waktu puncaknya, kan? Soalnya kalau sudah malam waktunya pulang."

Aku tidak menyadarinya sampai dia mengatakannya, tapi begitu sadar, aku jadi terpikir sesuatu.

"……Iri rasanya."

"Benar-benar sulit dipercaya. Padahal Tuan Shikkoku tidak memiliki pendamping."

"Aku senang kamu bilang begitu... tapi jujur saja, aku bahkan tidak bisa melihat gambaran masa depanku, sepertinya aku bakal kalah telak dari Karen."

Tanpa sadar aku menggaruk bagian belakang kepalaku sambil membocorkan isi hati.

Jika Karen punya pacar lebih dulu, dia pasti akan bilang hal yang secara alami menyakitkan seperti, 'Kamu masih jomblo? Kenapa, sih?'. Aku bisa membayangkannya dengan mudah.

"Ah, benar juga. Bagaimana dengan Nona Lifia sendiri?"

"W-wa-saya?"

"Iya. Misalnya ada pria yang menjalin hubungan baik denganmu di pesta kota tetangga kemarin."

"U-um…… Ada beberapa orang yang menawarkan hal seperti itu, tapi semuanya saya tolak."

"Be-begitu ya. Itu…… luar biasa."

Sama-sama tidak punya pacar. Tapi kenyataannya, kami berada di arena yang berbeda. Sebenarnya tidak mungkin Lifia tidak ada yang mendekati.

Wajahnya cantik, sifatnya baik, sangat menyayangi keluarga sampai-sampai Karen sangat mengaguminya. Dan bagi sebagian orang, status sosialnya sudah lebih dari cukup. Benar-benar tanpa cela.

"Hanya bayanganku saja, sih, tapi pria bangsawan yang mengajakmu sepertinya semuanya pria-pria hebat... apa tidak ada yang cocok?"

"Fufu, memang mereka semua orang yang memikat dan obrolannya pun nyambung, tapi saat ini ada sesuatu yang ingin lebih saya prioritaskan."

"Ah, begitu ya. Itu hal yang bagus."

Aku penasaran dengan apa yang ingin diprioritaskannya—entah itu hobi atau apa—tapi mungkin dia tidak ingin hal itu dikulik terlalu dalam.

Aku tidak bertanya dan hanya menyampaikan apa yang kupikirkan──tapi sepertinya rasa 'penasaranku' ketahuan.

"Seandainya saja, lho? Seandainya hal yang ingin saya prioritaskan adalah hubungan saya dengan Tuan Shikkoku…… bagaimana menurut Anda?"

"Hm? Haha."

Mendengar candaan seperti itu.

"Kalau begitu, dengan terpaksa aku akan bilang itu 'sia-sia'."

"Eh."

"Soalnya hidupku ini berantakan sekali sampai tidak bisa diceritakan ke orang lain…… Aku ini. Kalau aku orang yang lebih mapan, mungkin ceritanya akan beda."

Pendapatku bahwa 'Seseorang harus melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan' tidak berubah, tapi jika hal itu berkaitan dengan diriku yang payah, ceritanya jadi lain.

Perasaan ingin menjaga agar dia 'Lebih baik menghabiskan waktu untuk hal lain' jadi lebih dominan.

"──Ah, maaf Nona Lifia."

"Hah!"

Aku bersuara agar dia tidak tersandung, lalu menarik tangannya untuk membawanya mendekat ke arahku.

Saat itu, aku melihat dua pria bertubuh besar dengan perlengkapan yang tampak seperti Treasure Hunter sedang berjalan dengan angkuh tanpa mau mengalah di jalan.

(Bisa gawat kalau sampai berurusan dengan otot-otot itu……)

Dari cara berjalannya saja mereka terlihat punya kemampuan yang lumayan, dan rasanya kalau tidak sengaja bersenggolan sedikit saja bisa jadi masalah panjang.

Tepat setelah aku mengantisipasi masalah itu, mata kami beradu dengan orang-orang mengerikan itu.

──Bahu mereka berdua tersentak kaget.

"Hm?"

Lalu, setelah memasang senyum kaku, mereka menundukkan kepala dan berjalan terburu-buru melewati kami.

"A-anu…… terima kasih. Saya mengerti alasannya……"

"Syukurlah kalau kamu mengerti."

(Kalau sampai berurusan, aku pasti sudah babak belur tadi……)

Jika berniat melindungi Lifia, kejadian seperti ini sudah sewajarnya terjadi.

"Apakah Anda mengenal orang-orang tadi?"

"Tidak, tapi sepertinya mereka merasa pernah melihatku di suatu tempat."

"Karena saya sama sekali tidak beradu pandang dengan mereka, sudah pasti reaksi tadi adalah karena mereka melihat Tuan Shikkoku."

"Apa mereka melihat sesuatu yang aneh dariku ya……?"

"Apakah Tuan Shikkoku pernah melakukan 'pan-pan' kepada mereka……?"

"Ma-mana mungkin!"

(Onomatope itu…… sebaiknya cara pakainya diperbaiki, deh, benar-benar.)

Mungkin maksudnya adalah 'pan-pan' dalam arti memberikan hukuman dengan kekuatan fisik, tapi entah kenapa terdengar sedikit ambigu di telingaku.

Jika dia memaksudkan yang kedua, aku benar-benar akan kehilangan kata-kata, tapi mana mungkin Lifia orang yang seperti itu.

"Yah, karena orang seperti itu ada di mana-mana, kita berdua harus hati-hati ya. Tapi kalau terjadi sesuatu…… serahkan saja padaku."

"Jika situasinya menjadi rumit, silakan Anda gendong saya secara asal lalu lari saja."

"Aku terima niat baiknya saja……"

(Mana mungkin aku bisa memperlakukan putri sulung keluarga Duke dengan kasar seperti membawa barang bawaan……)

Meskipun Lifia memberikan izin, aku pasti akan langsung diincar dengan hawa membunuh oleh semua orang di bawah kendali sang Duke.

Pemandangan mengerikan itu dengan mudah terbayang di kepalaku, membuatku merinding.

Demi keamanan, aku memastikan kondisi sekitar untuk mencari apakah ada mata-mata, dan saat itulah.

"……Ah. Benda itu sepertinya akan cocok untuk Nona Lifia."

Di sebuah kios yang berada sedikit di depan kami, ada sebuah barang yang tampak sangat menonjol.

"Maaf, bolehkah kita melihatnya lebih dekat?"

"E-eh. Tentu saja."

Sebenarnya aku sudah mencarinya sejak tadi. Sebuah kesempatan untuk sedikit membalas budi karena mereka telah menanggung biaya perbaikan jembatan.

Karena senang akhirnya menemukan barang yang bagus, tanpa sadar aku menggenggam tangan Lifia lebih erat dan menuju ke kios tersebut.

◆◇◆

Benar-benar, kenapa orang sehebat ini menganggap dirinya sendiri berantakan ya……

Dia telah menyelamatkan Karen dari bahaya seorang diri. Dan hari ini, dia mendengarkan keinginan egoku untuk 'ingin berkeliling bersama'.

Agar waktu yang menyenangkan ini tidak hilang, agar tidak terjadi masalah, dia menarik tangan saya... tangan Lifia ini untuk melindungi saya. Dan kemudian──.

"──Tuh, kan, benar-benar cocok sekali."

Dia meminta izin kepada pemilik toko untuk membiarkanku mencobanya, lalu memakaikan sebuah gelang dengan hiasan batu safir di pergelangan tanganku.

"Yah... karena Nona Lifia itu cantik, aku yakin orang-orang sering bilang 'Apa pun cocok untukmu'. Tapi mengesampingkan hal itu, aku benar-benar berpikir begitu."

"Te-terima kasih banyak……"

Padahal aku memakai topeng, tapi aku tetap menundukkan pandangan.

Hanya dengan mengulang kata-katanya di dalam kepalaku saja, wajahku terasa panas.

Mungkin terdengar sombong, tapi di posisi ini, dipuji adalah pekerjaan Lifia, dan memuji adalah pekerjaan para bangsawan pria.

Meski menghabiskan hari-hari seperti itu, ini pertama kalinya aku mendengar kalimat seperti ini. Pujian yang diberikan tanpa niat terselubung, yang membuat hati benar-benar bahagia.

(Tu-Tuan Shikkoku ini……)

Mungkin saja itu adalah kalimat yang selalu beliau gunakan setiap hari.

Mengingat posisinya, beliau pasti mempelajari teknik memanipulasi hati orang dan hanya menyembunyikannya dengan sangat rapi. Tapi, meskipun begitu, aku tetap merasa sangat bahagia.

"Mumpung kita di sini, kalau Nona Lifia mau, aku ingin memberikannya sebagai hadiah…… bagaimana menurutmu? Mungkin kamu sudah punya terlalu banyak perhiasan, jadi kalau mau barang lain juga tidak apa-apa."

"Saya ingin yang ini saja!"

Demi 'menjaga martabat keluarga Duke', biasanya ada banyak perhiasan yang masuk ke tanganku, tapi kali ini berbeda.

Pria yang menurutku paling luar biasa, memilihkan hadiah ini khusus untukku.

Itu adalah sesuatu yang lebih memikat daripada barang semahal apa pun atau barang dengan kualitas sebaik apa pun.

"Kalau begitu syukurlah."

Saat dia berkata begitu, aku merasa seolah dia sedang tersenyum di balik helm zirahnya.

Aku juga merasakan kesan lega darinya. Itu semua pasti karena dia memilihnya dengan sangat serius.

"A-anu, maaf saya baru mengatakannya sekarang."

"Aku memang hanya ingin memberimu hadiah, jadi jangan dipikirkan, ya?"

"Saya merasa sangat tidak enak……"

Sebelum menerima hadiah, sudah merupakan tata krama yang wajar untuk bertanya, 'Apakah tidak apa-apa?'.

Namun, tadi aku terlanjur melayang kegirangan. Aku memberikan jawaban yang tamak tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu.

Namun beliau seolah melindungi kesalahanku itu, bahkan berpura-pura tidak tahu demi menjaga harga diriku.

(Padahal beliau orang yang bisa melakukan hal seperti ini……)

Benar-benar misteri kenapa beliau tidak bisa melihat gambaran masa depan di mana beliau memiliki kekasih.

"Nah, kalau begitu gelangnya sudah diputuskan... Aku tahu ini mungkin akan merusak suasana, tapi bolehkah aku sekalian memilihkan hadiah untuk Karen juga?"

"Hah!! Anda bahkan akan membelikan hadiah untuk Karen juga?"

"Di usianya sekarang, dia pasti belum bisa menahan diri kalau cuma 'Kakaknya saja yang dapat'…… Saat aku seumur Karen, aku pun pasti begitu. Jadi jika Nona Lifia tidak keberatan, aku ingin melakukan itu."

"Terima kasih banyak, benar-benar……"

"Tidak, itu harusnya kalimatku."

Memilih hadiah untuk orang lain di kesempatan seperti ini adalah tindakan yang bisa mengurangi kesan spesial.

Beliau pasti paham hal itu sehingga menggunakan ungkapan 'merusak suasana', tapi Karen adalah keluarga yang tak tergantikan dan sangat berharga. Aku tidak akan pernah berpikir begitu.

Jika harus membuang rasa malu, aku justru ingin memohon agar 'Tolong berikan juga hadiah untuk Karen'.

Karena aku tahu, itulah hal yang akan paling membuat Karen bahagia.

"Anu, apakah uang yang Anda bawa cukup? Anda membeli dua buah hadiah sekaligus……"

"Tentu saja. Sebenarnya aku membiasakan diri membawa banyak uang. Agar jika terjadi situasi yang mendesak, aku bisa menyelesaikannya dengan itu."

"Fufu, Anda bercanda lagi."

(Padahal Anda punya kekuatan untuk menyelesaikan segalanya sendirian, tapi orang ini……)

"Tidak, ini serius, lho…… Yah, pokoknya jangan khawatir soal uang."

Mungkin itu triknya untuk merendah, tapi aku tidak akan tertipu.

"Ngomong-ngomong, aku sudah mengincar sesuatu untuk hadiah Karen, bagaimana menurut Lifia? Aku rasa warna merah akan cocok untuk Karen, apalagi ini sepasang dengan gelang milik Nona Lifia, sepertinya dia akan makin senang."

Dia menunjuk sebuah gelang yang dihiasi batu rubi, lengkap dengan alasan yang dipikirkannya dengan matang.

"Aku juga bisa membayangkan dia akan berjingkrak kegirangan."

"Haha, kalau begitu hadiah untuk Karen yang ini saja."

Dia mengangguk mantap, mengambil gelang itu dengan hati-hati seolah tidak ingin ada goresan sedikit pun──.

"Semoga dia senang…… benar-benar."

(Ah……)

Beliau bergumam sendirian dengan suara pelan. Saat mendengar suara yang penuh ketulusan itu, dadaku terasa menghangat.

Benar-benar, aku kembali merasa bahwa dia adalah orang yang sangat luar biasa.

(…………)

Benar. Lifia belum pernah bertemu dengan pria yang begitu memikirkan adik perempuannya seperti ini.

Belum ada bangsawan yang memikirkan Karen tanpa menurunkan prioritasnya.

──Kenyataannya, saat menerima hadiah dari bangsawan lain untuk memperdalam hubungan pribadi atau persahabatan, aku akan diberikan barang yang penuh makna, tapi barang yang diberikan bersamaan dengan ucapan 'Ini untuk Nona Karen' itu berbeda.

Saat ditanya maknanya mereka tidak bisa menjawab, atau sekadar barang yang dipikirkan sekilas, atau barang yang terkesan 'yang penting ada'……

Mengingat aku sudah berusia 18 tahun dan memasuki masa pertunangan, aku mengerti kenapa orang-orang di sekitar lebih menitikberatkan padaku, tapi mengabaikan anggota keluarga itu membuat hatiku merasa gundah.

Terlebih lagi saat adik kesayanganku dijadikan alat kenyamanan seperti, 'Jika aku memberi hadiah pada Karen, kesannya akan jadi lebih baik', itu membuatku semakin kesal.

Karen sendiri pun seolah menyadari situasi itu sehingga dia tidak merasa senang meski diberi hadiah.

(……Andai saja Tuan Shikkoku sama dengan pria-pria lainnya.)

Maksud dari 'Sama' adalah tindakan memberikan daya tarik sebagai lawan jenis.

Meski Lifia banyak didekati, orang yang benar-benar ia inginkan justru tidak melakukannya. Perasaan yang begitu rumit.

'Seandainya saja, hal yang ingin saya prioritaskan adalah hubungan saya dengan Tuan Shikkoku…… bagaimana menurut Anda?'

Meski aku sudah memberanikan diri mengatakan itu, dia malah berkelit dengan lihai sambil bilang, 'Akan kubilang itu sia-sia'.

Aku tahu, meskipun itu menyakitkan, bahwa aku tidak dianggap sebagai lawan jenis.

Tapi, karena aku sudah sedikit menyadarinya... makanya muncul 'sesuatu yang lebih ingin kuprioritaskan'.

Sampai aku bisa merelakannya, aku tidak akan bisa memikirkan pria lain.

"……"

Tangan yang kulepaskan saat mencoba gelang tadi. Aku menggenggam tangan itu sekali lagi.

"Li-Nona Lifia?"

"Ada apa?"

"E-eh... aku terbantu sih kamu melakukan itu, tapi maksudku sekarang aku mau pergi membayar."

"Fufu, kalau tidak begini, mungkin saja saya akan pergi entah ke mana, lho?"

"Tu-tunggu……"

Meski aku tiba-tiba menggandeng tangannya, dia tidak terlihat goyah ataupun tegang.

Dia hanya merasa kesulitan seperti hal yang wajar. Reaksi itu juga sedikit membuatku kesal. Aku ingin dia mulai menyadariku.

(Setidaknya, aku ingin percaya bahwa ini semua gara-gara perlengkapan pelindung yang menghalangi kehangatan kulit ini……)

Berbagai perasaan mulai tumbuh, namun waktu ini terasa sangat menyenangkan.

Lain kali dari siang sampai sore…… Tidak, Lifia berpikir ingin menghabiskan waktu bersama dari pagi sampai sore.

Ia menatap tajam ke arah Kai dengan pandangan mendongak dan berkata:

"……Anu, terakhir, bolehkah saya menanyakan hal yang agak janggal?"

"Ah, iya?"

"Tidak ada maksud mendalam, tapi apakah Anda pernah memberikan perhiasan seperti ini kepada Polka atau Marie……?"

"Tidak, ini pertama kalinya untuk Nona Lifia. Dan berkeliling di tempat seperti ini bersama-sama juga baru pertama kali dengan Nona Lifia."

"Hah!!"

"Makanya hari ini jadi kenangan yang indah bagiku. Terima kasih."

"S-s-s-sama sekali bukan masalah……"

Benar-benar kata-kata yang sulit dipercaya, tapi dia tidak tampak seperti sedang berbohong.

(Ja-jadi aku adalah orang pertama di kota ini... yang bisa dibilang melakukan kencan dengan Tuan Shikkoku……)

Semakin ia memikirkannya, detak jantungnya semakin cepat dan seluruh tubuhnya terasa panas. Wajahnya memerah, dan senyum kecilnya tidak bisa berhenti.

(Pa-padahal yang saya tanyakan cuma soal hadiah……)

Lifia berusaha sekuat tenaga untuk menahan perasaan ini, ia bahkan mengerahkan tenaga sampai ke ujung kakinya demi menahan rasa malu yang membuncah.

◆◇◆

Setelah pembayaran selesai dan mereka berkeliling sedikit lagi di area pertokoan, batas waktu pun tiba seolah waktu telah meleleh begitu saja.

Mereka berdua menaiki kereta kuda sewaan yang bisa digunakan siapa saja dengan membayar, dan segera sampai di kediaman tempat Shikkoku tinggal.

"Kenapaaa! Kakak yang baru saja pulang dari kota tetangga malah melakukan hal yang tidak ada di rencana! Ayah dan Ibu sedang marah, tahu!"

"Ma-maafkan kakak…… Sebenarnya kakak berniat langsung pulang, tapi dengan Tuan Shikkoku kakak itu……"

"Apa pun yang terjadi, laporan adalah prioritas, kan?"

"……Iya."

Karen, yang sepertinya datang menaiki kereta kuda khusus keluarga Duke sebagai pemberi wejangan, melontarkan argumen yang sangat tepat kepada Lifia yang tampak menciut.

Meski situasinya benar-benar terbalik, dalam kasus ini Kai merasa dirinya terlibat sangat jauh.

Demi bertanggung jawab, ia menengahi mereka.

"Ya, ya, sudahlah Karen…… Tolong maklumi dia untuk hari ini saja. Ini juga karena aku yang mengajaknya."

"Hmm. Aku sudah dengar lho dari pengawal. Katanya Kakak yang bermanja-manja."

"Eh!?"

"Melihat reaksi itu, Kakak juga berbohong kan? Bilang kalau 'Laporan tidak masalah jika dilakukan hari ini' atau semacamnya. Padahal aslinya sama sekali tidak boleh."

"I-itu, itu……"

"Tunggu, Karen. Apa itu benar?"

"Melihat reaksi Kakak saja sudah jelas, kan?"

"……Benar juga."

Lifia menunduk sambil menautkan kedua tangannya dengan gelisah.

Sudah tidak perlu dikatakan lagi bahwa apa yang dikatakan Karen adalah benar.

Lifia yang terus disudutkan itu pun kini berada dalam situasi yang semakin sulit.

"Benar-benar deh, padahal aku yang bertemu duluan…… Aku tahu secara waktu memang sulit, tapi setidaknya ajaklah aku juga……"

"Hah!"

"Mana dapat hadiah juga lagi……"

──Melihat Karen yang berharga mengernyitkan dahi dengan mata yang berkaca-kaca.

Karena mereka adalah saudara, Lifia semakin menyadarinya.

Bahwa dia benar-benar telah menyakiti hati Karen.

Ia tidak tahu apakah Karen akan diizinkan jika ia mengajaknya.

Jika tidak diizinkan, ia hanya akan memberi harapan palsu.

Karena pertimbangan itulah ia tidak menyampaikannya melalui pengawal, tapi ternyata itu adalah kesalahan.

Ia tadi sudah memakai gelangnya lebih dulu karena berpikir 'Kan ada hadiah untuk Karen juga', tapi ternyata pertimbangannya kurang matang.

Akibat dari perasaan yang terlanjur melayang kegirangan. Dirinya yang penuh dengan kesalahan.

Tepat saat ia hendak menundukkan kepala untuk meminta maaf.

"Oho, jadi hari ini kamu sedang ingin bermain ya, Karen. Maaf soal itu."

Suara Shikkoku yang terdengar senang saat mendekati Karen membuat Lifia kehilangan momentum untuk meminta maaf.

"Hah? Bukannya aku ingin bermain bersamamu, ya! Aku cuma ingin bermain bersama Kakak!"

"Meski bohong, tolong masukkan aku juga dong."

"Sudah pasti tidak akan kumasukkan!"

'Aku yang bertemu duluan' 'Mana dapat hadiah juga lagi'

Dari kata-kata penuh rasa kepemilikan itu, sudah jelas siapa sosok yang ingin diajak bermain──namun Lifia membelalakkan mata melihat cara bicara Kai yang seolah percaya mentah-mentah pada kata-kata Karen.

"Kalau kamu memasukkan aku juga, aku bakal bantu Karen dalam banyak hal, lho…… Sayang sekali ya."

"A-apa yang mau kamu bantu?"

Detailnya disampaikan kepada Karen yang rasa penasarannya mulai terlihat dari kata-katanya yang penuh arti.

"Besok aku tidak ada rencana apa-apa jadi bisa bermain dengan Karen, aku juga akan ikut dalam rencana mengajak Lifia keluar bermain, lalu yah…… kamu boleh datang membolos ke sini dengan menyebut namaku, selama tidak merepotkan. ……Sesekali. Saat itu tentu saja aku akan menyesuaikan ceritanya."

"Se-seberapa besar sih kamu ingin aku bilang 'Aku juga ingin bermain bersamamu'? Menjijikkan tahu."

"Besok aku sedang senggang. Hari ini aku sudah berkeliling di luar kota, jadi aku ingin melakukan hal lain."

"Kalau senggang ya istirahat saja. Kamu kan sibuk."

"Aku paling benci kalau sedang senggang."

"Haaah…… Kalau kamu sampai bilang begitu, aku akan menemanimu bermain besok pagi. Terpaksa, lho ya."

"Haha, kalau begitu biar aku yang susun rencananya."

Hanya dengan satu percakapan, dia menghapus kegundahan Karen satu demi satu.

Bukan dengan cara mengambil hati lewat hadiah, melainkan dengan sikap yang menghadapinya secara tulus.

Bukan dengan cara mengganti rugi atau menemani dengan terpaksa, melainkan dengan sikap memikirkan apa yang bisa dilakukan agar mereka bisa menikmati waktu bersama.

Lifia yang berada di luar percakapan itu kembali tenang dan merasakan detak jantungnya bertambah cepat melihat perlakuan ini.

Karena selain keluarga sendiri, ia belum pernah bertemu orang yang memperlakukan Karen dengan begitu berharga.

"……Hei. Kamu serius bilang begitu?"

"Hm?"

"Aku tanya, apa besok aku benar-benar boleh datang sejak pagi!"

"Memangnya ada masalah kalau datang pagi……? Kalau ada, aku akan mengurungkan niatku, sih……"

"Bukan begitu, Kakak kan tidak bisa datang di pagi hari sebagai hukuman karena bertindak sesuka hati tadi……? Jadi itu berarti, di pagi hari hanya akan ada aku sendirian."

Mungkin ingatannya sudah memudar dan sekarang rasanya sulit dipercaya, tapi dulu Karen adalah orang yang kakinya bermasalah.

Karena ruang geraknya yang terbatas dan Lifia-lah yang menjadi target utama untuk masa pertunangan, dulu Karen sering dianggap sebagai pengganggu meski diajak melakukan sesuatu.

Sikapnya yang menjadi sangat berhati-hati ini berasal dari pengalaman masa lalunya tersebut.

"Heh, ternyata ada aturan keluarga seperti itu ya…… tapi itu kan tidak ada hubungannya dengan rencana bermain besok. Karen bisa datang tanpa hambatan, kan?"

"Hah!!"

──Karena dia memiliki keseharian seperti itu, wajar jika dia terkejut. Karena itu berarti 'Bermain dengan Karen adalah tujuan utamanya'.

"Ah, supaya tidak salah paham, aku tidak memikirkan hal aneh meski kita cuma berdua, ya? Di rumah ini ada petugas yang berjaga, bawa juga pengawalmu."

"Aku juga tahu kok…… Orang yang memikirkan hal seperti itu tidak mungkin menggunakan Elixir universal itu untukku…… Bodoh."

"Bodoh? Nona Lifia, tolong adukan ke Tuan Duke kalau Karen baru saja mengucapkan kata-kata kasar."

"Fufu, jika dilaporkan, Karen akan diberikan hukuman refleksi, jadi besok dia baru bisa datang di sore hari, lho?"

"Benarkah…… kalau begitu tolong lupakan pembicaraan tadi."

"Benar-benar deh, sesenggang apa sih kamu ini……"

Meski berkata dengan nada lelah, Karen tampak tidak keberatan sambil memutar-mutar rambut twin-tail-nya dengan jari telunjuk.

Dia merasa senang karena Kai membatalkan aduannya demi 'bisa bermain'. Perasaan itu tampak sekilas dari wajahnya.

Tepat saat rasa cemburu Karen tadi benar-benar menghilang, Kai mengatakannya di waktu yang seolah-olah bukan kebetulan.

"Ngomong-ngomong Karen, aku mau ganti topik, kalau kamu tidak segera menyadarinya sekarang, aku tidak akan mendapatkan momentumnya."

"Menyadari kalau tangan kirimu ada di pinggang? Apa? Sakit pinggang?"

"Ya, yah begitulah──"

Seolah sudah menyerah pada Karen yang sama sekali tidak menyadarinya, Kai memperlihatkan apa yang selama ini ia sembunyikan di balik pinggangnya.

"Tuh, hadiah untuk Karen juga. Aku akan senang kalau kamu mau memakainya saat suasana hatimu sedang bagus."

"Eh……"

Setelah menyampaikan apa yang harus disampaikan, Kai meraih pergelangan tangan Karen dan meletakkan hadiah yang terbungkus kain lembut di telapak tangannya.

"……"

Sepertinya dia tidak menyangka akan jadi begini.

Karen membeku sambil menatap hadiah di telapak tangannya dengan mulut terkatup rapat.

Melihat hal itu, tidak ada yang bersuara dan membiarkannya mengikuti temponya sendiri untuk beberapa saat.

Seolah-olah merasa takut, Karen membuka kantong itu perlahan tanpa mengeluarkan isinya, ia mengintip ke dalam──dan pasti melihat gelang yang dihiasi batu rubi tersebut.

Karen pun segera menyembunyikan hadiah itu di balik pakaiannya.

"Jangan-jangan kamu menganggapku sebagai tipe orang yang bakal bilang 'Sini kembalikan'?"

"H-hmp. Tidak mungkin."

"Kalau begitu baguslah."

"…………"

Tidak ada jawaban untuk kata-kata itu. Karen kembali terdiam seperti sebelumnya, namun setelah jeda sesaat, ia bergumam pelan.

"……Te-terima kasih."

"Sama-sama."

"Be-besok…… aku akan memakainya, jadi tunggulah."

"Aku akan berdoa semoga kamu tidak datang sambil menangis karena bilang 'Hilang~'."

"Duh! Bodoh!"

"Haha, jangan sering-sering bicara begitu dong."

Sambil membalas candaan itu dengan wajah merah padam, Karen dengan cepat membuang muka dan memutar tubuhnya ke arah Lifia──ia meraih pergelangan tangan Lifia untuk segera melarikan diri dari tempat itu, menariknya menuju kereta kuda di mana pengawal sudah menunggu.

"Tu-tuh kan, Kakak! Ayo pulang. Nanti sifat jahil orang itu bisa menular."

"Ah!? Tu-tunggu sebentar, Karen."

"Aku ikut mengantar juga, ya?"

"Sudah sana kamu istirahat saja!"

"……Iya, iya."

Meski Karen mengatakannya dengan nada ketus, isinya penuh dengan perhatian. Jika mengenal Karen, siapa pun yang mendengarnya pasti tidak akan salah paham.

"Kalau begitu, sampai besok."

"Hmp!"

"Ka-Karen! Ah, ya ampun…… Tu-Tuan Shikkoku, terima kasih banyak untuk hari ini!"

"Sama-sama."

Lifia yang terus ditarik paksa oleh Karen akhirnya berhasil menyampaikan rasa terima kasihnya dengan benar di saat terakhir.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close