Chapter 1
Bergerak Dibalik
Layar
"Mulai hari ini, kau diusir dari Ibu Kota!"
Suara vulgar Bowman Goldbarrel menggema di dalam ruang
kepala perpustakaan Imperial Library.
"Mu... mulai hari ini?"
Aku bertanya balik sembari sekuat tenaga menahan tawa yang
hampir meledak melihat wajah beringas Bowman. Menahan tawa ternyata usaha yang
cukup berat juga.
"Benar, mulai hari ini! Huhahahaha! Aku bisa minum sake
sambil menikmati wajah melongomu itu! Perbedaan antara wajah bodohmu sekarang
dengan senyum tipis sok tenangmu yang biasanya itu benar-benar tiada duanya...
Jagid Deabold!"
Bowman
meneriakkan namaku dengan lantang hingga lemak di dagunya bergetar. Dia pasti
sangat senang karena akhirnya bisa menyingkirkan dan membuangku—si duri dalam
daging—dari Ibu Kota.
Dia tertawa
begitu keras sampai-sampai kumis palsunya miring.
Bowman
Goldbarrel. Usianya sama denganku, dua puluh lima tahun.
Dia adalah atasan
langsungku di Imperial Library, sekaligus salah satu bangsawan kelas istimewa
yang mewarisi darah Empat Pahlawan Besar yang terkutuk itu.
"Padahal
cuma rakyat jelata, tapi kau itu sangat merusak pemandangan. Aku ini Kepala
Imperial Library yang terhormat, seorang Magic Warrior yang menguasai
teknik pedang dan sihir, dan yang terpenting, aku ini bangsawan kelas
istimewa!"
"Berani-beraninya
kau lebih menonjol dariku! Tahu diri sedikit, dong!"
Aku melirik
Bowman yang sedang besar kepala itu, lalu bahuku gemetar karena menahan tawa.
Diusir dari Ibu Kota mulai hari ini.
Semuanya berjalan
persis seperti dugaanku. Padahal aku menyusun rencana dengan memperhitungkan
kemungkinan meleset beberapa hari, tapi siapa sangka hasilnya bisa pas sekali
tanpa meleset barang satu inci pun.
Aku selalu tahu
kalau Bowman itu tolol, tapi tidak kusangka dia semudah ini dikendalikan.
Karena semuanya terlalu sesuai rencana, hal ini malah jadi terasa di luar
dugaan. Dia benar-benar tolol melebihi ekspektasiku.
"Lihat
ini!"
Bowman
mengibaskan mantel panjang militer Imperial dengan berlebihan, lalu
mengeluarkan selembar perkamen dari balik bajunya.
Lemak di
pergelangan tangannya yang memakai gelang emas mewah tampak terjepit,
pemandangan yang sungguh buruk rupa.
"Aku sudah
mendapat izin pengasingan dari Yang Mulia Kaisar. Aku sudah melaporkan semua
kejahatanmu lewat fitnah yang mendalam."
Setelah
memastikan bahwa Mana Kaisar yang bersemayam di segel tersebut asli, aku
membaca isi suratnya.
Kelalaian dalam
tugas, mabuk saat jam kerja, penggelapan dana, hingga membawa pelacur ke ruang
kepala perpustakaan untuk pesta liar... Berbagai kejahatan berat tertulis
berderet di sana, namun semuanya hanyalah kebohongan belaka.
Ah, tidak, semua
kejahatan itu sebenarnya dilakukan oleh Bowman sendiri.
Aku melirik botol
kecil obat perangsang dan robekan stoking yang tergeletak di pojok sofa kulit,
lalu menghela napas di dalam hati. Kasihan sekali Kaisar yang harus menerima
laporan fitnah seperti ini.
"Apa maksud
tatapanmu itu? Kau pikir kau bisa melawan aku, anggota keluarga Goldbarrel yang
merupakan bangsawan kelas istimewa?"
Sambil berkata
begitu, Bowman menyentuhkan jarinya ke gagang rapier emas penuh permata
norak yang tergantung di pinggangnya.
"……Tidak, saya
tidak berani."
Keluarga
Goldbarrel. Keturunan dari pahlawan legendaris Dominance Goldbarrel, salah satu
dari Empat Pahlawan Besar yang mengalahkan Raja Iblis dan menyelamatkan
Kekaisaran tujuh ratus tahun lalu.
Mereka adalah
bangsawan kelas istimewa yang memiliki wewenang melampaui hukum dan etika,
bahkan terkadang melebihi otoritas Kaisar.
Dengan kata lain,
mereka adalah distorsi dunia ini.
"Hmph!
Begitu baru benar. Bangsawan adalah keadilan! Menjadi bukan bangsawan itu
sendiri adalah sebuah dosa!"
Setelah
meneriakkan kata-kata yang memadatkan pola pikir bangsawan itu, Bowman
mengeluarkan botol berdesain modis dari saku mantelnya dengan perasaan riang.
Itu adalah Potion,
minuman kesehatan yang dibuat dari ekstrak kristal Mana.
Katanya, dengan
meminumnya, Mana akan masuk ke dalam tubuh dan memberikan efek pemulihan
yang setara dengan mantra Heal... tapi itu hanyalah iklan yang sangat
berlebihan.
Kandungan Mana
dalam Potion yang dijual bebas sangatlah sedikit, dan efek nyatanya
hampir tidak terasa.
Dari fakta bahwa
dia gemar meminum benda seperti itu saja, sudah terlihat betapa rendahnya
literasi sihir Bowman. Sebutan Magic Warrior benar-benar jadi bahan
lelucon.
"Kalau tidak
salah, pahlawan Kekaisaran, Sleek Anhellion, seumuran denganmu, kan?"
Bowman menaikkan
kakinya ke atas meja yang dipenuhi tumpukan dokumen berdebu dan buku sihir
mahal yang berantakan, lalu menyeringai licik.
……Sleek
Anhellion. Mendengar nama yang sudah sangat akrab itu, alisku berkedut sedikit.
"Kudengar
Pahlawan Sleek terus menumpas pemberontak Kekaisaran dan monster kelas S-Rank,
hingga dia naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal di usia yang sangat muda.
Huhahahaha! Beda jauh denganmu yang dipecat dari perpustakaan dan diasingkan! Seperti
langit dan bumi!"
Sleek…… apa yang kau pikirkan?
Sepuluh tahun
telah berlalu sejak hari itu, saat dia masuk militer Kekaisaran. Naik pangkat
menjadi Brigadir Jenderal hanya dalam sepuluh tahun bukan lagi sekadar luar
biasa, tapi sudah tidak normal.
Dia
seperti orang yang terburu-buru ingin mati. Sleek, apa kau juga sama sepertiku,
mengincar masyarakat bangsawan—
"Tapi, mau
dipuja sebagai pahlawan Kekaisaran pun, rakyat jelata tetaplah rakyat jelata!
Dia itu barang tiruan! Pahlawan sejati hanya lahir dari kalangan bangsawan,
seperti aku ini! Huha! Huha! Huhahahaha!"
Mengingat hari
ini adalah terakhir kalinya aku mendengar suara tawa yang menyakitkan telinga
ini di ruang kepala perpustakaan, rasanya jadi sedikit emosional.
Nah, mengenai
tempat pengasinganku……
Bowman punya
lingkaran pertemanan yang luas dan koneksi yang banyak, meski sebenarnya tidak
berguna. Tapi, karena niat dangkal Bowman sangat mudah dibaca, bisa dibilang
tidak ada seorang pun yang benar-benar menjalin hubungan tulus dengannya.
Jadi,
koneksi yang bisa digunakan Bowman akan mengerucut dengan sendirinya.
"Jagid!
Biar kuberitahu tempat pengasinganmu!"
Tujuan
Bowman adalah menjatuhkan aku yang lebih hebat darinya di tempat pengasingan
nanti. Maka dia akan bergantung pada kekuasaan Keluarga Goldbarrel.
Artinya,
kota yang diperintah oleh ayah Bowman, Maralva Goldbarrel.
"Kota
Emas, Domina Domina!"
Benar-benar
pria yang mudah dikendalikan, kau ini, Bowman Goldbarrel.
◆◇◆
Aku duduk
di bangku taman dekat perpustakaan dan memandang sekeliling dengan tatapan
kosong.
Saat
siang hari, taman ini sangat ramai dengan anak-anak yang bermain alat sihir
dengan polosnya. Namun sekarang, saat matahari telah terbenam, taman ini
diselimuti keheningan tanpa ada satu jiwa pun.
Ini
adalah kesunyian terbaik untuk meresapi keberhasilan rencanaku yang berjalan
mulus.
Aku sudah
membaca bahwa Bowman akan mengasingkanku ke Kota Emas Domina Domina—atau lebih
tepatnya, aku mengarahkannya agar berakhir seperti itu.
Persiapan pindah
sudah kuselesaikan jauh-jauh hari. Urusan tempat tinggal dan perabotan pun
sudah beres.
Barang bawaanku
hanya satu koper dan sebilah pedang ini. Aku mengalihkan pandangan ke pedang
panjang (tachi) yang kusandarkan di bangku.
Hiasannya yang
berkilauan sangat berbeda dengan gaya norak Bowman yang berlebihan; pedang ini
terlihat mewah namun tetap anggun. Bagi aku yang merupakan penyihir murni,
membawa benda ini mungkin terasa sia-sia, tapi aku yakin ini akan sangat
berguna untuk rencana ke depannya.
Tiba-tiba aku
memeriksa waktu di jam saku dan menyadari masih ada sedikit waktu sebelum kapal
menuju Kota Emas Domina Domina tiba.
Saat aku hendak
merogoh saku mantel untuk mengambil camilan dan beristirahat sejenak—
"Jagid-senpai!"
Tiba-tiba
seseorang meneriakkan namaku dengan keras, membuatku kehilangan momen untuk
makan camilan.
Aku berdiri dan
menoleh. Di sana, seorang gadis berambut merah muda cerah sedang berdiri dengan
wajah cemberut.
Di
belakangnya, ada dua belas orang pria dan wanita yang mengenakan seragam
militer Kekaisaran. Semuanya adalah penyihir militer yang bekerja di Imperial
Library—dengan kata lain, rekan kerja dan junior-juniorku.
"Wah,
ramai sekali ya."
Aku
menanggapi dengan nada bercanda dan senyum tipis, tapi juniorku yang berambut
merah muda itu—Violetta Pialel—tampak sangat marah hingga hampir menangis.
"Baru saja
kami dengar dari Kepala Perpustakaan Bowman kalau Jagid-senpai
dimutasi...!"
"Maaf ya.
Tadinya aku berencana mengirim surat setelah sampai di Kota Emas Domina
Domina."
"Kenapa
lapornya setelah kejadian, sih!"
Melihat Violetta
yang berteriak dengan suara serak, aku merasa bersalah. Namun, aku tetap berpura-pura
tenang dan mencoba tersenyum santai.
"Yah, aku
tidak terlalu suka suasana haru saat berpamitan, sih."
"Ini
bukan waktunya bilang begitu! Mutasi ini praktis sama saja dengan pengasingan,
kan!"
Menanggapi
kemarahan Violetta, dua belas orang lainnya ikut bersuara, membuat taman
seketika menjadi bising.
Melihat
teman-teman perpustakaan yang menunjukkan kemarahan demi aku, hatiku malah
dipenuhi perasaan tenang yang luar biasa.
Semua orang yang
bekerja di Imperial Library adalah penyihir milik militer Kekaisaran.
Sampai sepuluh
tahun yang lalu, perpustakaan ini hanyalah tempat pembuangan bagi anggota
militer yang kemampuannya rendah atau mereka yang bermasalah.
Bisa dibilang, ini adalah departemen "bangku cadangan" untuk orang-orang buangan. Saat aku baru pertama kali datang ke sini, kondisinya benar-benar sangat parah.
Tetapi,
aku tidak tinggal diam.
Aku
melakukan berbagai percobaan di bawah radar agar tidak terdeteksi oleh militer
Kekaisaran, melatih ulang para "orang buangan" tersebut, dan perlahan
membenahi perpustakaan.
Hasilnya
adalah orang-orang yang ada di hadapanku sekarang.
Saat ini,
perpustakaan telah menjadi salah satu organisasi magis terbaik di militer
Kekaisaran.
……Tentu saja,
pengecualian bagi Bowman.
Rasanya lucu jika
mengingat masa-masa ketika tempat ini dijuluki sebagai "tempat pembuangan
penyihir tidak berguna".
Aku yakin,
perpustakaan akan tetap aman meski aku tidak ada.
Keyakinan itu
muncul saat aku menatap wajah rekan-rekanku satu per satu. Aku melirik juniorku
yang masih saja menggembungkan pipinya, lalu mengangguk kecil.
"Hari ini
pun kamu tetap modis ya, Fioretta."
Fioretta
mengenakan celana pendek ketat dan sepatu bot yang sedang tren di kalangan
prajurit wanita Kekaisaran. Paduan itu sangat serasi dengan rambut merah
mudanya yang merupakan simbol dari Keluarga Pialel yang ternama.
"Eh? Ehehe~,
Senior sadar ya? Dekorasi pada bot ini adalah favoritku, lho— Hei, bukan itu
masalahnya! Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!"
Sambil mengangkat
mata sayunya sekuat tenaga agar terlihat galak, Fioretta menaikkan tensi
kemarahannya.
"Jagid-senpai!
Aku ini benar-benar sedang marah, tahu!"
"Aku
sungguh minta maaf karena ketidakmampuanku, aku sampai dimutasi dari
perpustakaan... tidak, sampai diusir dari Ibu Kota. Semuanya, aku minta
maaf."
Melihatku
membungkuk dengan tulus, Fioretta malah merasa geram. "Jagid-senpai tidak perlu minta maaf!"
serunya kesal.
"Tapi tenang
saja. Aku sudah merekomendasikan Fioretta sebagai penggantiku."
"Eh!"
Fioretta
membelalakkan matanya, benar-benar seperti disambar petir di siang bolong.
"Aku sudah
menyiapkan panduan cara merawat buku sihir kuno. Kalau kamu yang pegang, aku bisa tenang."
"Te-terima
kasih banyak...! Tapi, bukan itu poinnya!"
"Ah, aku
mengerti. Aku juga sudah menyiapkan berbagai panduan penanganan jika terjadi
situasi darurat. Semuanya sudah lengkap."
"Te-terima
kasih banyak...! Tapi, tetap saja bukan itu poinnya!"
Fioretta sempat
kebingungan menghadapi caraku yang terus menghindar dengan berbagai alasan.
Namun, tampaknya dia akhirnya melewati ambang batas kesabarannya. Rambutnya
berantakan saat dia meledakkan emosinya.
"Duh!
Jagid-senpai ini terlalu baik hati, tahu!"
Dua belas
rekan di belakang Fioretta serentak mengangguk setuju.
Ada yang
memberikan dukungan pada Fioretta, ada yang ingin menumpahkan perasaan padaku,
ada yang geram pada Bowman, dan ada juga yang malah merasa gemas melihat
Fioretta yang sedang kewalahan.
"Sampai di
saat mau dimutasi pun masih sempat menyiapkan banyak hal untuk penggantinya!
Senior ini terlalu cekatan sampai-sampai aku merinding! Duh! Senior terlalu
baik!"
"Aku bingung
harus merasa dihina atau dipuji."
"Ini
pujian!"
Fioretta
mendesakku dengan napas memburu dan mata yang berkaca-kaca.
"Karena
Jagid-senpai terlalu baik hati, semua jasa Senior selama ini selalu dirampas
oleh Kepala Perpustakaan Bowman!"
"Jasa atau
prestasi itu tidak penting bagiku. Aku tidak tertarik pada kenaikan
jabatan."
"Tapi tetap
saja tidak masuk akal menyerahkan semua prestasi itu kepada orang seperti
Kepala Perpustakaan Bowman!"
Memang,
itu tidak masuk akal. Aku sangat memahami kekesalannya.
Namun,
hal itu sangat diperlukan agar Bowman tetap besar kepala. Tentu saja, aku tidak
bisa mengatakan niat asliku kepada Fioretta dan yang lainnya, jadi biarlah ini
tersimpan di dalam hati saja.
"Apa yang
dikatakan Fioretta benar!"
"Jagid-san
harusnya lebih bangga dengan pencapaian Anda sendiri!"
Terpantik oleh
semangat Fioretta, rekan-rekan yang lain mulai bersuara satu per satu.
"Memusnahkan
kelompok Necromancer kejam, Kokuzetsushu, seorang diri!"
"Menyelamatkan
seluruh batalion militer Kekaisaran yang terpojok dalam pertempuran melawan
organisasi revolusioner tanpa ada satu pun korban!"
"Melepaskan
kutukan Millennium Relic yang tidak bisa dipecahkan oleh siapa pun
sepanjang sejarah!"
"Semua itu,
semuanya! Itu adalah jasa Jagid-senpai, tapi kenapa malah diberikan kepada
orang seperti Bowman! Senior terlalu baik hati!"
Menerima semua
perasaan dari Fioretta dan kawan-kawan, dadaku terasa panas. Namun, aku tetap
bersikap tenang agar tidak menunjukkannya di permukaan.
"Terima
kasih. Perasaan kalian adalah prestasi terbesar bagiku."
……Ucapanku
barusan terdengar menjijikkan, bahkan bagiku sendiri.
Lagipula, aku
bukannya tidak punya ambisi. Justru aku meraih hasil-hasil itu demi sesuatu
yang jauh lebih berharga daripada sekadar nama besar.
Saat memusnahkan
Kokuzetsushu, aku diam-diam mengambil buku rahasia ilmu hitam mereka. Saat
membantu militer Kekaisaran, aku mendapatkan akses informasi internal sebagai
balas budi.
Lalu, dengan
melepaskan segel Millennium Relic, aku bisa menyentuh sihir kuno langka
yang akan membuat penyihir mana pun iri setengah mati.
"Aku tahu!
Bagaimana kalau kita melakukan aksi tanda tangan agar mutasi ini
dibatalkan!"
"Jangan
lakukan itu."
Aku
langsung memotong dan menggelengkan kepala.
Aku
merasa tidak enak pada Fioretta yang sangat bersemangat, tapi jika mereka
melakukan itu, rencanaku bisa hancur berantakan.
Terlebih
lagi, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Bowman jika Fioretta dan yang
lainnya ikut menjadi incaran.
"Ta-tapi!
Kalau kita meminta bantuan dari Magic Academy, seharusnya ada jalan
keluar."
Benar kata
Fioretta, jika aku meminta bantuan pada pihak Academy, mereka pasti akan
meminjamkan kekuatannya.
Dulu, saat
terjadi perselisihan antara perpustakaan dan Academy, akulah yang
menjadi penengah dan menyelesaikannya dengan baik.
Berkat itu, para
pengajar maupun murid di sana sangat menghormatiku.
Bahkan aku
menjalin hubungan akrab dengan Kepala Sekolah yang merupakan salah satu orang
paling berpengaruh di dunia sihir.
Namun, koneksi
dengan Magic Academy ingin kusimpan sebagai kartu as. Aku berniat
meminta bantuan mereka pada saat yang tepat, setelah fondasi rencanaku siap.
"Aku sangat
berterima kasih atas perhatian kalian... tapi Kepala Perpustakaan Bowman adalah
bangsawan kelas istimewa. Lebih baik jangan cari masalah dengannya. Kalian
sendiri tahu kan betapa mengerikannya kaum bangsawan?"
"Ugh..."
Mendengar
pertanyaanku, Fioretta dan yang lainnya langsung menciut dan wajah mereka pucat
pasi. Pasti ada banyak kejadian yang terlintas di pikiran mereka.
Bahkan generasi
muda pun sudah sangat hafal dengan tirani, kesewenang-wenangan, dan
ketidakadilan kaum bangsawan.
Sekali lagi, aku
merasakan distorsi masyarakat bangsawan ini dan hatiku terasa perih.
"Tapi...
tapi tetap saja!"
Dengan wajah
tegang, Fioretta berusaha keras memeras kata-kata untuk membantah.
"Justru
karena itulah! Aku ingin mutasi Jagid-senpai dibatalkan! Karena, Kota Emas
Domina Domina yang menjadi tempat mutasi Senior itu dikuasai oleh Keluarga
Goldbarrel, kan? Kepala keluarga di sana adalah ayah Kepala Perpustakaan
Bowman! Dimutasi ke tempat seperti itu, itu..."
Kalimat Fioretta
terhenti, dia menatapku dengan tatapan pilu.
Bangsawan
bertahta di Kekaisaran dengan kekuasaan absolut.
Mereka menyiksa
rakyat dengan penindasan, melakukan tekanan yang tidak masuk akal, dan
mengayunkan ketidakadilan demi memuaskan nafsu bejat mereka.
Namun, mereka
tetap dipuja sebagai keturunan dari Empat Pahlawan Besar yang menyelamatkan
Kekaisaran tujuh ratus tahun lalu.
Dimutasi ke kota
yang dikuasai bangsawan seperti itu, wajar jika Fioretta merasa ngeri.
……Tapi, aku
berbeda.
Justru karena
kota itu dikuasai oleh bangsawan seperti mereka, aku harus pergi ke sana.
"Fioretta...
terima kasih."
Aku mengucapkan
rasa terima kasih yang tulus sambil tersenyum lembut.
"Tapi, maaf.
Aku sudah membulatkan tekad."
"Eh...?"
"Aku sedang
memikirkan cara agar bisa membenahi Kota Emas Domina Domina seperti saat aku
membenahi perpustakaan dulu. Tentu saja, aku tidak akan melakukan
pemberontakan. Aku hanya berpikir untuk mencoba melakukan apa yang bisa
kulakukan, selama itu tidak membahayakan diriku."
Mendengar
jawabanku, Fioretta terpaku seolah kehilangan kata-kata. Mulutnya terbuka dan
tertutup seperti Sea Dragon yang bodoh.
"Lagi pula,
Kota Emas Domina Domina adalah kota perdagangan nomor satu di Kekaisaran. Aku
bahkan merasa bersemangat karena mungkin saja aku bisa mendapatkan camilan
berhadiah langka yang tidak ada di Ibu Kota."
"Ca... camilan...?"
"Iya. Camilan berhadiah itu bagus, lho. Kandungan
gulanya cocok untuk memulihkan otak yang lelah, dan membuka hadiahnya bisa
membangkitkan jiwa kekanak-kanakan. Itu adalah sistem hiburan yang luar
biasa."
Melihatku berbicara dengan sangat serius, Fioretta tiba-tiba
tertawa terbahak-bahak sambil mengangkat bahu.
"Jagid-senpai ini biasanya terlihat keren dan dewasa,
tapi kalau sudah bicara soal camilan, tiba-tiba jadi seperti anak kecil,
ya."
Dengan ekspresi yang tampak lebih lega—atau mungkin lebih
tepatnya pasrah—Fioretta kembali menatapku dan berbicara dengan mantap.
"Duh! Baiklah kalau begitu! Kalau Jagid-senpai sudah
bertekad, maka aku... tidak, kami juga! Kami akan berusaha sebaik mungkin di
sini!"
Berbanding terbalik dengan sebelumnya, emosi positif
Fioretta kini menular ke semua orang.
Mungkin itu
semacam kepasrahan. Mungkin ada sedikit rasa heran juga padaku.
Namun, selama
semua orang di perpustakaan bisa tetap hidup dengan positif setelah aku pergi,
alasan apa pun tidak masalah bagiku.
"Kami akan
menjaga perpustakaan ini agar Jagid-senpai bisa pulang kapan saja!"
"Ya, tolong
ya. Jika itu kalian, aku yakin semuanya akan baik-baik saja."
Di masa depan,
kamu akan menjadi kepala perpustakaan yang hebat.
……Aku menelan
kata-kata yang hampir keluar itu dan hanya mengangguk pelan. Ekspresiku yang
terpantul di mata Fioretta yang berkaca-kaca terlihat sangat lembut.
Setelah berjanji
untuk rutin mengirim surat, aku pun berpamitan pada Fioretta dan yang lainnya.
Aku menolak saat
mereka ingin mengantarku sampai ke kapal karena aku tidak mau perpisahan ini
menjadi semakin sedih.
Lagipula, mataku
sendiri sudah mulai terasa panas.
Di pintu keluar
taman yang sudah benar-benar gelap, aku berhenti sejenak dan menatap kastil
raksasa yang menjulang di seberang danau besar.
Bendera negara
dengan lambang bintang yang agung berkibar dengan gagah ditiup angin malam.
Kekaisaran
Stellaria telah menikmati masa damai selama tujuh ratus tahun.
Namun, itu
hanyalah kedamaian palsu yang dilumuri nafsu dan kekejaman, yang disamarkan di
atas tumpukan mayat yang tak terhitung jumlahnya.
Masyarakat
bangsawan yang korup dan penuh ketidakadilan ini dikuasai oleh keturunan Empat
Pahlawan Besar: Keluarga Misericorde, Keluarga Goldbarrel, Keluarga Eterna, dan
Keluarga Merrybirth.
Sejarah
yang busuk ini akan segera berakhir.
──Akulah
yang akan mengakhirinya.
Dimulai
dari Kota Emas, Domina Domina.
Target
pertamanya adalah Keluarga Goldbarrel, keturunan dari sang Prajurit Legendaris.
◆◇◆
Setelah
menempuh perjalanan laut selama enam hari, akhirnya aku tiba di Kota Emas
Domina Domina.
Karena
Ibu Kota yang terletak di tengah benua Nifluga terhubung langsung oleh sungai
besar menuju Domina Domina, akses menggunakan kapal sangatlah mudah.
Jika
lewat darat dengan kuda, perjalanan akan menjadi adu stamina yang melelahkan.
Namun dengan kapal layar yang diperkuat sihir, perjalanannya menjadi aman dan
nyaman.
……Ngomong-ngomong,
Peanut Butter Marshmallow Pie yang kumakan di atas kapal tadi
benar-benar lezat.
Perpaduan
selai kacang yang sudah pasti enak dengan marshmallow lembut dan pai
renyah benar-benar membuat jiwa dan ragaku tenggelam dalam kebahagiaan gula
yang hakiki.
Desain medali
hadiahnya pun sangat detail, memberikan sensasi menyenangkan saat membukanya.
Memang Glitch Rabbit Co. tidak pernah mengecewakan.
Keputusanku untuk membeli satu dus di tempat tadi memang tepat.
Di bawah langit senja yang merah membara, saat aku turun di
pelabuhan sungai, sebuah patung emas dengan bentuk yang aneh langsung menyita
perhatianku.
Itu adalah patung gemuk yang menyerupai Maralva Goldbarrel,
kepala keluarga Goldbarrel saat ini.
Di sekitarnya berjejer berbagai monumen mewah yang
kemungkinan dibeli dari luar negeri.
Alih-alih menyambut, kemewahan yang mencolok itu justru
terasa seperti mengancam siapa pun yang datang ke Domina Domina.
Terlebih lagi, aku menyadari banyaknya lambang singa emas di
mana-mana, yang membuat rasa muak muncul di benakku.
Itu semua adalah lambang Keluarga Goldbarrel, tapi jumlahnya
terlalu berlebihan.
Benar-benar pemandangan vulgar yang menunjukkan kebiasaan
buruk kaum bangsawan.
Padahal Domina Domina terletak di wilayah barat benua dengan
iklim lembut sepanjang tahun yang membuatnya nyaman untuk ditinggali, tapi
selera buruk Keluarga Goldbarrel merusak segalanya.
"Halo, Tuan
di sana! Apa ini pertama kalinya Anda ke Kota Emas Domina Domina?"
Saat aku sedang
merasa lelah karena suasana yang menyesakkan ini, seorang pria muda yang
mengenakan jas ekor penguin (tailcoat) menyapaku.
Jas murah dan
senyum yang dipaksakan di wajahnya menunjukkan dengan jelas bahwa dia adalah
seorang calo.
Mungkin dia
mengira aku punya banyak uang karena aku mengenakan mantel militer Kekaisaran.
"Tidak. Aku
sudah sering ke sini sebelumnya. Hari ini pun aku berniat mampir ke toko
langgananku untuk minum. Wah~ kota ini memang luar biasa, ya!"
Layanan calo yang
vulgar harus dibalas dengan jawaban yang vulgar pula.
Aku menyingkirkan
calo itu dengan kebohongan asal-asalan dan bergegas pergi.
Dia menawarkan
untuk memandu ke kedai minuman yang enak, tapi sayangnya aku tidak tertarik
pada alkohol.
Jika dia tahu
toko kue yang enak, aku akan sangat tertarik……
Meski begitu, aku
sudah membuat daftar toko kue incaran sejak lama.
Klaim sepihak
kaum bangsawan dan calo yang vulgar.
Aku mengangkat
bahu, menganggap ini sebagai "upacara penyambutan" dari Kota Emas
Domina Domina.
Domina Domina
dikenal sebagai kota perdagangan nomor satu di Kekaisaran berkat jalur air
sungai yang besar dan jalur darat yang terintegrasi dengan baik.
Kedekatannya
dengan laut juga membuatnya aktif dalam perdagangan internasional,
menjadikannya gerbang masuk Kekaisaran.
Tentu saja,
sektor pertanian dari sungai dan perikanan dari laut juga sangat maju.
Dan jangan
lupakan pegunungan megahnya saat membicarakan kota ini.
Deretan tambang
kaya akan emas, perak, permata, hingga logam langka membentang tanpa ujung.
Yang terpenting
adalah kota ini merupakan salah satu penghasil Mana Crystal terbesar di
Kekaisaran.
Mana Crystal adalah kebutuhan pokok bahkan bagi orang
awam untuk menjalankan alat-alat sihir dalam kehidupan sehari-hari.
Karena monster
kuat seperti Naga yang tumbuh dengan mengonsumsi Mana Crystal muncul di
daerah vulkanik, Guild Petualang dan bisnis tentara bayaran juga sangat
berkembang pesat di sini.
Singkatnya,
Domina Domina mencakup segala jenis industri: sektor primer (pertanian,
perikanan, pertambangan), sektor sekunder oleh para pandai besi hebat, hingga
sektor tersier berupa sistem perdagangan aktif yang melibatkan para petualang.
Itulah mengapa tempat ini dijuluki Kota Emas.
……Jika
dipikir-pikir, kota ini memang terlihat sangat memikat. Tidak, kota ini memang memikat.
Hanya saja, klan berbahaya yang merusak pesona itulah yang menggerogoti
segalanya.
Sambil
menahan emosi negatif yang meluap, aku melangkah masuk ke area komersial yang
bersebelahan dengan pelabuhan sungai—Central Capital Entertainment District.
Central
Capital Entertainment District adalah distrik hiburan yang sangat ramai, seolah menjadi perwujudan
citra luar dari Kota Emas Domina Domina.
Sebagian
besar orang di tengah hiruk pikuk ini adalah manusia, namun banyak juga
terlihat Dwarf yang kekar.
Karena
ada desa Dwarf di pegunungan, tampaknya banyak dari mereka yang datang ke sini
untuk bekerja.
Seharusnya
jumlah Beastman juga banyak, tapi aku tidak melihat satu pun di keramaian.
Justru Elf yang lebih sering terlihat.
Kemungkinan
besar hal ini disebabkan oleh penganiayaan terhadap seluruh ras Beastman oleh
kaum bangsawan setelah seorang Beastman memicu revolusi lima tahun lalu.
Benar-benar tidak adil.
Di antara
deretan toko milik perusahaan ternama, aku melihat cabang Impess Trading
Company yang membuat kepalaku pening. Meski aku sudah mengetahuinya dari
penyelidikan awal, tetap saja terasa mengejutkan saat melihatnya langsung.
Impess
Trading Company adalah perusahaan alat sihir dari Kota Sihir Megrimseed yang
terkenal buruk karena kualitas barangnya yang rendah dan praktik penipuan
harga. Di Ibu Kota, perusahaan ini sudah masuk daftar hitam.
Fakta
bahwa perusahaan seperti itu bisa membuka toko di lokasi utama menunjukkan
betapa rendahnya tingkat pengetahuan sihir di Domina Domina.
Ini pasti
dampak buruk karena kepala keluarga saat ini, Maralva Goldbarrel, membenci para
penyihir.
Pria dan
wanita elegan berbelanja dalam jumlah besar, nyonya-nyonya terhormat minum teh
di kafe teras, dan turis-turis kaya berlalu-lalang.
Ke mana
pun mata memandang, hanya ada orang-orang makmur. Tempat ini hampir terlihat
seperti surga di dunia.
Namun.
Aku tahu
bahwa di balik sisi lain dari Central Capital Entertainment District,
kegelapan tengah membentang.
Itulah
bayangan dari Kota Emas yang dilahirkan oleh Keluarga Goldbarrel. Darkest
Market, pasar gelap raksasa yang mencampuradukkan barang legal dan ilegal.
Dan jauh di baliknya, terdapat area kumuh bernama Deep Side.
Di sana,
kriminalitas terjadi setiap hari, sebuah kawah keputusasaan yang berdampingan
dengan kematian. Kasus pembunuhan berantai tragis tiga tahun lalu juga terjadi
di Darkest Market dan Deep Side.
Namun,
mereka yang tinggal di Central Capital Entertainment District
berpura-pura tidak tahu dan memalingkan mata dari kegelapan itu.
Itulah
wajah asli Kota Emas Domina Domina. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin
sangatlah ekstrem.
Hanya
segelintir orang yang punya hubungan dengan bangsawan yang bisa hidup makmur.
Penduduk
lainnya diinjak-injak oleh kesewenang-wenangan Keluarga Goldbarrel, dipaksa
hidup miskin, dan terus-menerus dihancurkan oleh tekanan yang tidak adil.
Masyarakat di
mana mayoritas menderita demi kebahagiaan segelintir orang.
Kota ini adalah
mikrokosmos dari Kekaisaran.
◆◇◆
Di bawah langit
malam dengan awan kelabu yang menggantung, aku melangkahkan kaki dengan berat
menuju Colosseum yang terletak di pusat Kota Emas Domina Domina.
Aku memindahkan
barang bawaanku ke kediaman baru yang terletak di antara distrik hiburan Central
Capital dan pasar gelap raksasa Darkest Market.
Baru saja hendak
beristirahat sejenak, aku dipaksa datang oleh utusan Keluarga Goldbarrel.
Gara-gara itu, Peanut Butter Marshmallow Pie-ku jadi tertunda.
Sosok yang
memanggilku tidak lain adalah Maralva, kepala keluarga Goldbarrel saat ini.
Niat busuknya
sudah terbaca jelas: dia ingin merundungku, penyihir yang diasingkan dari Ibu
Kota, demi memuaskan egonya.
Keluarga
Goldbarrel terkenal membenci penyihir, dan Maralva adalah yang paling parah.
Dia masih memegang teguh prasangka kuno yang disebut "tradisi
prajurit".
Dia juga sangat
membenci sesama bangsawan dari klan penyihir legendaris, Keluarga Eterna, dan
klan biarawan legendaris, Keluarga Merrybirth. Gesekan ini sudah berlangsung
selama tujuh ratus tahun.
Penyebabnya bukan
hanya Keluarga Goldbarrel. Keluarga Eterna yang berisi para penyihir Elf
sombong memandang rendah prajurit sebagai kaum biadab dan membenci para
biarawan yang menggunakan sihir untuk kepentingan agama.
Begitu pula
Keluarga Merrybirth yang menghina prajurit dan penyihir karena tidak memiliki
iman. Perselisihan antar bangsawan ini seolah tidak pernah ada habisnya.
Singkatnya, tiga
dari empat garis keturunan Empat Pahlawan Besar ini sedang berada dalam kondisi
saling menjatuhkan yang berlumpur.
"GYAAAAAAA——!!"
Tiba-tiba,
jeritan mengerikan bergema dari arah panggung arena. Namun, utusan Keluarga
Goldbarrel yang memanduku tidak mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun dan
terus melangkah dengan tenang.
Di dalam
Colosseum yang diselimuti kegelapan malam, hampir tidak ada pencahayaan dari
alat sihir. Hanya ada obor-obor primitif yang menerangi sekeliling dengan
remang.
Maralva mungkin
sengaja melakukannya untuk menciptakan suasana mencekam, tapi bagiku ini hanya
merepotkan.
Tepat di tengah
panggung arena yang luas, sebuah patung batu raksasa menjulang tinggi. Jika
diukur dengan standar pengukuran budaya Pahlawan, tingginya pasti lebih dari
dua puluh meter.
Patung pria
perkasa yang memegang pedang besar dan kapak besar itu melambangkan sosok
prajurit legendaris sekaligus pendiri keluarga, Goldbarrel Pertama.
Meski tujuannya
untuk memamerkan kekuasaan, mendirikan benda raksasa seperti ini di tengah
panggung arena jelas sangat mengganggu. Bisa dibilang ini adalah cacat besar
bagi sebuah arena pertarungan.
"Gufu. Gufu.
Gufufu."
Suara berisik
yang mirip dengan lenguhan Magic Bull-Frog terdengar. Saat aku
mengalihkan pandangan ke arah panggung, sebuah pemandangan abnormal terbentang
di sana.
Panggung yang
diterangi cahaya remang itu telah berubah menjadi lautan darah merah kehitaman.
Mayat-mayat yang dicincang dengan kejam bergelimpangan di mana-mana.
Ras, jenis kelamin, dan usia para korban bervariasi.
Melihat bekas luka pada mayat-mayat itu, terlihat jelas
bahwa tebasan pedangnya sangat berantakan. Tidak sulit membayangkan betapa
mereka sangat menderita sebelum tewas.
"Gufufu. Gufu. Gufu."
Aku mengatupkan geraham kuat-kuat agar kemarahan tidak
nampak di wajahku, lalu menatap sosok yang mengeluarkan suara menjijikkan itu.
Seorang pria buruk rupa yang tampak seperti Bowman versi
beberapa kali lebih bengkak dan disiram minyak kotor.
Dia mengenakan pakaian bulu yang mewah, namun rasanya tidak
ada orang lain yang lebih tidak cocok memakainya selain dia.
Mahkota emas yang bertengger di atas kepalanya yang hampir
botak justru membuat penampilannya terlihat murahan dan sangat konyol.
Dialah penguasa Kota Emas Domina Domina sekaligus kepala
keluarga Goldbarrel saat ini, Maralva Goldbarrel.
"Gufufu. Selamat datang, penyihir tidak berguna yang
diusir dari Ibu Kota."
Menyadari kehadiranku, Maralva menggoyangkan lemak dagunya
yang berlapis-lapis dan mengeluarkan suara vulgar.
Di tangannya tergenggam sebilah pedang lengkung aneh yang
dipenuhi taring-taring tajam, dengan potongan daging yang masih menempel di
bilahnya.
Meski suasananya
remang, aku bisa merasakan tatapan tajam dari para prajurit pengawal yang
berjaga di sekeliling.
Sungguh malang
nasib mereka harus mempertaruhkan nyawa demi melindungi pria seperti ini.
"Mulai hari
ini saya ditugaskan di Kota Emas Domina Domina. Nama saya adalah Jagid Deabold."
Aku melakukan
hormat ala militer Kekaisaran dan menatap langsung ke mata Maralva.
Melihat sosok
yang tampak seperti personifikasi dari pembusukan masyarakat bangsawan ini
membuatku ingin muntah, tapi aku tidak boleh membiarkan emosi mengacaukan
segalanya. Hatiku sudah lama membeku.
Demi membuatnya
lengah dan besar kepala, aku akan berpura-pura menjadi orang tidak berguna di
hadapannya.
"Aaah, aku
tahu. Akulah yang mengusulkan pengasinganmu kepada Kaisar demi putraku
tersayang, Bowman. Bagaimana... apa kau membenciku?"
"Tidak, saya
tidak berani merasa demikian."
"Gufufu.
Yah, kau memang tidak punya pilihan lain selain menjawab begitu."
Sambil
menggoyangkan tubuhnya yang penuh lemak—sangat jauh dari citra keturunan
prajurit legendaris—Maralva menendang potongan daging yang ada di dekat
kakinya.
"Ngomong-ngomong,
apa kau tidak penasaran dengan keadaan di sini?"
Atas desakan
Maralva, aku memandang sekeliling panggung Colosseum.
Aku menyadari
bahwa selain mayat dan potongan daging, ada banyak sekali senjata yang
berserakan.
Pedang dengan
bola mata yang tertanam di bilahnya, tombak dengan hiasan telinga Elf seperti
bulu, hingga kapak yang disambung menggunakan tulang rusuk.
Semuanya adalah
senjata-senjata aneh yang mengerikan.
"Semua ini
adalah hasil perbuatanku. Gufu, gufufu."
Tanpa menunjukkan
emosi, aku hanya mengangguk singkat sambil bergumam, "Begitu
rupanya."
Sudah rahasia
umum bahwa hobi Maralva adalah mengoleksi senjata dan melakukan uji coba
tebasan (tameshigiri).
Dia tidak
segan-segan menggunakan cara apa pun untuk mendapatkan senjata langka, mulai
dari pemerasan, perampokan, hingga pembunuhan.
Dan pertunjukan
pembantaian di Colosseum yang dia sebut sebagai "uji coba senjata"
ini... adalah rahasia umum bagi penduduk Kota Emas Domina Domina.
"Apakah
mereka ini para penjahat?"
"Ya, mereka
penjahat."
Maralva menjawab
pertanyaanku dengan cepat sambil menyeringai licik.
"Karena
tidak menjadi bangsawan adalah dosa besar! Gufufu!"
...Benar-benar
mirip dengan Bowman dalam banyak hal.
Maralva
menangkap orang-orang dengan alasan yang dibuat-buat—persis seperti saat dia
memfitnahku—lalu menjadikan mereka sasaran uji coba tebasan.
Terlebih
lagi, dia membelenggu tangan dan kaki mereka agar tidak bisa melawan sebelum
menyiksa mereka sesuka hati.
Meski
perutku mual melihat perbuatan biadab yang sudah seperti di film-film ini, aku
tetap menatap Maralva dengan wajah tenang dan mengangguk.
"Anda
benar sekali."
Setelah
melirik Maralva yang tertawa puas, aku mengalihkan pandangan ke mahkota emas
yang berkilau di atas kepalanya yang botak.
Mahkota
itu berbentuk singa, lambang keluarga Goldbarrel, dan bertatahkan Mana
Crystal kualitas tertinggi.
Itu
adalah Talisman berkualitas sangat baik yang sebenarnya terlalu mewah
untuk orang seperti Maralva.
"Aku
dengar dari Bowman... hei penyihir jelata, kau ahli dalam mantra Heal,
kan? Coba sembuhkan orang yang hampir mati di sana."
Maralva
memberi isyarat ke arah seorang pria yang terkapar dan masih bernapas dengan
susah payah.
Punggungnya
dicincang habis-habisan, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat. Jika dibiarkan,
jelas dia akan segera mati.
"Baik, saya
laksanakan."
Tanpa ragu
sedikit pun, aku mengarahkan tangan kananku ke arah pria itu. Sambil menjaga emosi agar tetap
stabil, aku memfokuskan Mana di telapak tanganku.
Kemudian, aku
melepaskan Mana tersebut seperti menghembuskan napas ringan.
"Heal."
Bersamaan dengan
penyebutan nama mantra penyembuhan itu, tubuh si pria beregenerasi seolah waktu
diputar mundur. Luka di punggungnya menutup dalam sekejap mata.
Karena aku
meregenerasi hingga ke sel darahnya, pasokan darah yang hilang pun kembali
sempurna. Setelah ini, jika dia beristirahat dengan tenang, dia akan segera
pulih.
Heal adalah mantra yang memasukkan Mana
ke dalam organ Mana di kepala untuk mengaktifkan sel-sel secara paksa
guna meningkatkan daya penyembuhan alami.
Ini adalah mantra
populer dalam sihir Kekaisaran, namun penggunaannya cukup sulit karena
efektivitasnya bergantung pada bentuk organ Mana target.
Semakin tinggi
tingkat kemahiran sihir seseorang (seperti penyihir atau Elf), maka bentuk
organ Mana mereka akan semakin kompleks, sehingga Heal sulit
meresap ke dalam tubuh dan efek penyembuhannya menjadi lemah.
Karena itulah di
militer Kekaisaran yang penuh dengan penyihir dan Magic Warrior,
pengguna Heal jarang dihargai dan biasanya dijauhkan dari garis depan.
Sebagai catatan,
organ Mana makhluk selain manusia atau tumbuhan memiliki bentuk yang
sangat berbeda, sehingga Heal tidak akan berpengaruh sama sekali pada
mereka.
Jika penyembuhan
makhluk selain manusia bisa dilakukan, masalah pangan dunia akan mudah
diselesaikan dengan meregenerasi daging yang telah dipotong terus-menerus.
Meski hal itu
pasti akan memicu masalah baru yang lain.
"Luar
biasa! Ini di luar dugaanku...! Aku belum pernah melihat Heal sekuat
ini!"
Melihat
punggung pria itu pulih sempurna tanpa meninggalkan satu bekas luka pun, mata
kecil Maralva melotot kaget.
"Gufu!
Ini bagus sekali! Biasanya mereka langsung kubuang, tapi kalau begini, mereka
bisa didaur ulang!"
Memahami
maksud dari kata-kata Maralva yang kegirangan sambil menyemburkan ludah itu,
aku merasa geram jauh di dalam hati.
Jika pria
ini kubantu pulih hanya untuk ditebas kembali dan disiksa lebih parah, bukankah
membiarkannya mati tadi akan lebih menyelamatkannya...?
Tidak,
melawan pun percuma. Maralva bisa menangkap siapa saja dengan alasan yang tidak
masuk akal untuk melakukan uji coba tebasan sesuka hatinya.
Hak
istimewa bangsawan dengan mudah melampaui hukum. Tidak ada cara untuk
menghentikannya, baik itu oleh militer Kekaisaran atau siapa pun.
Sistem
bangsawan kelas istimewa ini sudah busuk sampai ke akar-akarnya. Sebuah sistem
bodoh yang hanya membuat sampah menjadi tak terkalahkan.
Memang,
masalah ini harus diselesaikan dari dasarnya——
"Oi,
Deabold! Dengan Heal-mu itu, apakah kau bisa menumbuhkan kembali kepala
yang sudah putus?"
"Meskipun
konsumsi Mana-nya besar, itu mungkin saja dilakukan. ……Namun, saya tidak
bisa mengembalikan nyawa yang sudah hilang."
"Bukankah
kau bisa menggunakan yang namanya Necromancy?"
Padahal benci
penyihir, tapi tahu juga ya soal ilmu hitam seperti itu, pikirku dalam hati sambil merasa heran.
"Necromancy
hanyalah mantra untuk menggerakkan mayat sesuai dengan gerakan yang sudah
ditentukan sebelumnya. Itu hanya membuat zombi, bukan menghidupkan
kembali orang mati. ……Lagipula, Necromancy sudah ditetapkan sebagai
sihir terlarang."
Necromancy, atau nama resminya adalah Spirit
Inscription Arts. Sebuah
teknik untuk mengendalikan mayat dengan menanamkan segel berisi Mana.
Teknik
ini populer di Zaman Kegelapan dua ratus tahun lalu, namun karena efeknya yang
tidak manusiawi, teknik ini dilarang setelah diskusi antara Magic Academy
dan Providence (Asosiasi Sihir).
Jadi saat
ini, boro-boro menggunakannya, mempelajarinya saja tidak diperbolehkan.
……Secara resmi, sih.
"Begitu
ya, menebas zombi sih tidak asyik. Kenikmatan utama dari uji coba senjata
adalah jeritan asli dan tekstur daging yang nyata! Gufu, gufu."
Sambil
duduk dengan santai di atas pria yang baru saja kupulihkan dengan Heal,
Maralva menyilangkan kakinya yang pendek.
Kemudian,
sambil menggesekkan bilah pedang lengkungnya ke leher pria itu, dia tertawa
dengan suara yang mirip Magic Bull-Frog.
"Hm? Ada
apa? Apa kau punya keluhan terhadapku?"
Menyadari
tatapanku, Maralva mengernyitkan alis dengan heran, lemak pipinya yang tembam
ikut bergoyang.
"Tidak.
Hanya saja saya penasaran dengan... itu..."
Aku sengaja
berpura-pura ragu, lalu menatap belati yang tersimpan di sarung pinggang
Maralva.
Gagangnya dihiasi
singa emas, dan sarungnya ditaburi berbagai permata berharga dengan sangat
berlebihan. Meski masih tersarung, benda itu memancarkan keberadaan Mana
yang luar biasa.
"Kau
penasaran dengan ini? Gufufufu! Matamu tajam juga, Deabold."
Maralva
berdehem dengan riang, perutnya yang buncit ikut membal.
"Benar. Ini adalah Regalia!"
Sudah kuduga...!
Aku tidak bisa menahan keterkejutanku saat akhirnya
berhadapan langsung dengan pedang penuh takdir itu.
Namun, reaksiku itu justru membuat suasana hati Maralva
semakin baik, dan dia tertawa kegirangan.
"Gufu! Gufut! Wajar saja kalau kau bersemangat! Karena Regalia adalah harta
terbesar sekaligus kekuatan tempur terkuat di Kekaisaran ini!"
Regalia.
Tujuh ratus tahun
yang lalu, empat bilah belati dibuat dari hasil pengolahan empat tanduk Raja
Iblis yang dikalahkan oleh Empat Pahlawan Besar.
Benda-benda ini
adalah pusaka suci yang diwariskan secara turun-temurun oleh para kepala
keluarga dari keturunan Empat Pahlawan.
Dalam buku
sejarah tertulis bahwa menarik pedang ini akan melepaskan kekuatan dahsyat yang
melampaui akal manusia, namun rinciannya tidak pernah diungkap ke publik.
"Karena kau
terlihat sangat tertarik, aku jadi ingin memamerkan kekuatan Regalia ini
kepadamu, tapi..."
Sambil berkata
demikian, Maralva yang suka pamer itu mengelus Regalia dengan jarinya
yang gemuk. Namun, dia melepaskan tangannya di saat-saat terakhir dan
menyeringai licik.
"Bahkan aku
pun tidak bisa sembarangan menarik pedang ini. Bisa-bisa memicu masalah
internasional."
Apa yang
dikatakan Maralva bukan sekadar kiasan, tapi fakta murni. Karena Kekaisaran
bisa menjaga kedamaian selama tujuh ratus tahun adalah berkat keberadaan Regalia.
Sejak Empat
Pahlawan Besar dan Kekaisaran menjalin hubungan erat setelah mengalahkan Raja
Iblis, perang dengan negara lain menjadi tidak ada lagi.
Sebagai gantinya,
Kekaisaran memperluas wilayahnya dengan menyerap negara lain yang menyerah
tanpa syarat atau dengan membelinya, hingga akhirnya menjadi negara adidaya
yang menguasai seperempat dunia.
Penyebab utamanya
adalah Regalia.
Meskipun tidak
ada orang yang pernah melihat kekuatan Regalia—secara catatan
resmi—dikatakan bahwa kekuatan yang berasal dari Mana di tanduk Raja
Iblis dan kehendak Empat Pahlawan memiliki daya hancur yang bisa dengan mudah
menghancurkan dunia.
Dengan kata lain,
negara lain takut pada Regalia milik Kekaisaran, dan Kekaisaran
memamerkan keberadaan Regalia untuk menekan negara lain demi menjaga
keseimbangan dunia.
Berkat pendidikan
cuci otak Kekaisaran yang digerogoti oleh kaum bangsawan, bahkan anak kecil
yang tidak mengerti sejarah atau politik pun menganggap bangsawan sebagai sosok
yang luar biasa. Mereka percaya bahwa berkat Regalia, perdamaian dunia
tetap terjaga.
Mereka menganggap
Regalia sebagai pencegah perang dan simbol perdamaian.
Salah.
Itu salah besar.
Regalia hanyalah senjata pemusnah massal
belaka...!
"Aku tidak
bisa menarik pedangnya, tapi aku akan memberitahu namaya yang agung. Simbol
kekuatan Goldbarrel! Pedang Penakluk, Bebelgius!"
Bebelgius...
Karena aku tidak
tahu kemampuannya, aku tidak bisa memastikan apakah Bebelgius adalah Regalia
yang telah menghancurkan desa itu atau bukan.
Tapi, itu tidak
masalah. Apa pun kemampuan Regalia milik Keluarga Goldbarrel, tujuanku
tidak berubah. Rencanaku tidak akan goyah.
"Gufu! Gufu!
Gufufu!"
Maralva yang
mengira aku telah tunduk pada kekuatan Regalia tertawa dengan sangat
puas, lalu mulai menceritakan kisah-kisah kepahlawanan Goldbarrel.
Meski aku sama
sekali tidak tertarik, aku terus memberikan tanggapan seperlunya agar dia tidak
tersinggung. Untungnya perhatian Maralva teralih dari uji coba tebasan di
hadapannya.
Kepala keluarga
Goldbarrel sebelumnya memang seorang tiran, tapi setidaknya dia masih punya
bakat sebagai pedagang dan karisma sebagai prajurit.
Namun, Maralva
saat ini adalah orang paling tolol yang pernah ada sepanjang sejarah klan, dan
Keluarga Goldbarrel saat ini terlihat jelas sedang berada di ambang kehancuran.
Ada rumor gelap
bahwa Maralva melenyapkan orang tua dan saudara-saudaranya demi berebut harta.
Entah itu benar
atau hanya konspirasi dari bangsawan lain, yang jelas saat ini Keluarga
Goldbarrel sedang dalam masa sulit dan hanya tersisa sedikit anggota keluarga.
Garis keturunan
Goldbarrel yang masih hidup hanyalah Maralva, putra keduanya yaitu Bowman, dan
putra sulungnya, Vischio.
Hanya tiga orang
itulah benang tipis yang menyambung silsilah Goldbarrel.
Cuma tiga
orang——.
◆◇◆
Pagi hari setelah
bertemu Maralva di Colosseum, aku mengunjungi fasilitas kerja paksa bawah tanah
tempatku dimutasi.
Tadi malam
benar-benar melelahkan karena aku harus mendengarkan bualan dan cerita
kepahlawanan Maralva, tapi berkat itu aku mendapatkan banyak informasi yang
berguna.
Tempat kerja
baruku adalah area penambangan yang dibangun di bawah bekas benteng di
pinggiran Kota Emas Domina Domina.
Benteng itu
awalnya dibangun oleh Goldbarrel Pertama untuk pertahanan, namun bagi
Kekaisaran yang tidak pernah berperang karena adanya Regalia, benteng
itu menjadi tidak berguna. Katanya, tempat itu sudah lama ditinggalkan.
Ada jejak-jejak
bahwa tempat itu pernah digunakan sebagai fasilitas komersial sekitar lima
ratus tahun lalu, dan bagian bawah tanahnya telah menjadi reruntuhan yang
sangat luas.
Ini adalah dungeon
buatan yang terbentuk secara tidak sengaja karena akumulasi sejarah. Oleh
karena itu, tidak ada risiko munculnya monster.
Pekerjaanku di
fasilitas bawah tanah ini adalah menambang di dalam dungeon dan
menemukan artefak berharga. Peranku adalah sebagai pengawas lapangan.
Karena ini adalah
rekomendasi dari Bowman, dia pasti berniat merundungku dengan memberiku
pekerjaan fisik yang tidak disukai penyihir. Benar-benar pemikiran pendek khas
Bowman.
Meskipun aku
bekerja di perpustakaan, aku adalah tentara Kekaisaran.
Aku selalu
menjaga massa otot minimal yang diperlukan, dan aku juga memiliki keahlian
bertarung jarak dekat untuk berjaga-jaga jika aku berada dalam situasi di mana
sihir tidak bisa digunakan.
Karena aku sangat
berbeda dengan Keluarga Goldbarrel yang hanya gumpalan lemak, sayangnya rencana
Bowman meleset jauh.
Aku menuruni
tangga melingkar yang menuju ke bawah tanah, lalu membuka pintu ganda yang
tertutup rapat dengan kunci khusus.
"……Ugh!"
Seketika itu
juga, bau busuk yang luar biasa dan debu yang pekat menyergapku, membuatku
hampir muntah.
Bau tajam yang
menusuk hidung, campuran dari keringat, darah, dan kotoran. Ditambah lagi
dengan pekatnya debu yang membuat paru-paru terasa perih setiap kali aku
bernapas.
Terlebih lagi,
suhu panas dan kelembapan yang luar biasa membuat keringat mengucur dari
seluruh tubuh, dan kepalaku terasa sakit berdenyut serta pusing akibat pengaruh
Mana beracun yang mencemari udara.
Aku bahkan tidak
tahu lagi rasa mual ini berasal dari mana.
Pantas
saja tidak ada orang yang mengawasiku di lingkungan seburuk ini.
Katanya
pengawas sebelumnya jatuh sakit dan melarikan diri hanya dalam waktu satu
minggu, lalu dia dieksekusi karena memicu kemarahan Maralva.
Aku
menenangkan diri dan memutar Mana di dalam tubuh untuk menyesuaikan
kondisinya dengan lingkungan sekitar.
Meski hanya
tindakan darurat, ini jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa pun.
Aku memandang
sekeliling fasilitas bawah tanah yang hanya diterangi cahaya temaram dari
lentera tua, lalu menyeka keringat dingin di dahi.
Di sana, banyak
sekali Beastman yang dipaksa bekerja secara tidak manusiawi.
Mereka semua
adalah orang-orang yang dibawa paksa dari daerah kumuh Deep Side atau
desa-desa sekitar—singkatnya, mereka adalah budak.
Beastman memiliki
kemampuan fisik yang sangat tinggi, namun karena jumlah total Mana
mereka sangat sedikit, kecocokan mereka sebagai penyihir sangat rendah.
Mereka adalah ras
yang paling cocok untuk pekerjaan penggalian di bawah tanah, namun di
lingkungan yang buruk ini, karakteristik unggul mereka pun jadi sia-sia.
Para Beastman itu
hanya mengenakan kain tipis kotor yang dililitkan langsung ke tubuh mereka.
Rambut dan kulit
mereka rusak, tubuh mereka kurus kering dan penuh luka, serta tidak ada
tanda-tanda kehidupan dari ekspresi wajah mereka.
Namun, aku merasa
mata mereka belum benar-benar mati.
Menurut daftar
yang diberikan sebelumnya, jumlah pekerja adalah dua puluh delapan orang, namun
Beastman yang ada di depanku berjumlah dua puluh sembilan orang.
Ketidakmampuan
mereka mengelola jumlah orang dengan benar menunjukkan betapa cerobohnya
Keluarga Goldbarrel dan betapa rendahnya minat mereka terhadap fasilitas ini.
"Oh,
pengawas baru ya."
Seorang Beastman
bertelinga anjing yang tampaknya adalah pemimpin mereka menyapaku dengan suara
ceria sambil menggenggam tanganku.
Senyumnya yang
tulus terpancar cerah, dan rambut pirangnya yang penuh lumpur menunjukkan
keanggunan liar yang bermartabat.
Aku langsung
mengerti bahwa dialah alasan mengapa mata Beastman lainnya belum mati.
Di tengah
lingkungan kerja yang buruk ini, hanya pemimpin bertelinga anjing ini yang
tidak menyerah dan terus melawan keputusasaan.
Keberadaannya
yang kuat dan ceria adalah harapan hidup bagi Beastman lainnya.
"Salam
kenal. Namaku Jagid Deabold, aku baru saja ditugaskan sebagai pengawas di sini.
Mohon bantuannya."
Aku mencoba
menyapa dengan nada selembut mungkin untuk mengurangi permusuhan, namun reaksi
dari Beastman selain si pemimpin telinga anjing tidak begitu baik.
"Mohon
bantuannya juga, Tuan Penyihir. Aku adalah—"
"Hausie
Uwan. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan pahlawan yang dijuluki 'Kilat
Padang Rumput'."
Mendengar
kata-kataku, Hausie—si pemimpin telinga anjing—mengerjapkan matanya lalu
tertawa keras.
"Hahahaha!
Kau sudah menyelidikiku dengan baik, ya. Aku sudah hampir lupa dengan julukan
itu."
Dulu, Hausie
adalah petualang yang dengan mudah menyelesaikan misi tingkat tinggi dan
menumpas monster kuat dengan gagah, hingga dia dicintai oleh penduduk Kota Emas
Domina Domina.
Namun,
prestasinya membuat Keluarga Goldbarrel iri, dan tiga tahun lalu dia dijebak
dengan licik lalu dibuang ke fasilitas kerja paksa bawah tanah ini.
Hausie adalah
korban Keluarga Goldbarrel sekaligus harapan bagi para Beastman. Ditambah lagi
dengan kepribadiannya yang ceria ini. Jelas dia adalah kepingan penting yang
tidak boleh dilewatkan dalam rencanaku.
Demi mendapatkan
kepercayaannya dan memanfaatkannya untuk rencana ke depan, hal pertama yang
harus kulakukan sudah ditentukan. Aku kembali memandang sekeliling fasilitas
bawah tanah.
Bau busuk, debu
pekat, panas lembap, dan kontaminasi Mana beracun, ditambah lagi tidak
ada peralatan medis, alat kerja, maupun makanan yang layak.
Terlebih lagi
karena diberi target kerja yang tidak masuk akal, mereka tidak bisa pulang
selama berhari-hari dan terpaksa tidur di dalam fasilitas ini setiap malam.
Menurut laporan,
sejauh ini belum ada artefak yang ditemukan. Sama sekali tidak ada hasil.
Karena itulah
Keluarga Goldbarrel tidak menaruh harapan pada tempat ini dan terus melakukan
penanganan yang ceroboh.
Alhasil,
mereka terjebak dalam lingkaran setan yang semakin dalam.
"Pertama-tama,
mari kita perbaiki lingkungan kerja ini."
Usulanku membuat
para Beastman sedikit gaduh, namun mereka segera terdiam dan kembali
menunjukkan kepasrahan. Bahkan Hausie pun terlihat ragu dan menunjukkan
ekspresi skeptis.
"Itu
mustahil."
Sosok yang
memecah keheningan yang berat itu adalah seorang gadis berambut biru muda.
Di puncak
kepalanya tumbuh telinga rubah, dan dipadukan dengan wajah cantiknya yang
seperti pahatan kuno, dia memancarkan atmosfer yang misterius.
"Meskipun
kau adalah penyihir hebat, mustahil bisa memperbaiki neraka seperti ini.
Sebanyak apa pun tenaga yang kau keluarkan tidak akan ada artinya, justru malah
akan memperburuk keadaan."
Setelah berkata
demikian dengan nada dingin, gadis berambut biru itu memalingkan wajahnya
dengan tidak senang.
"Anu, kalau
kau..."
Gadis berambut
biru itu mengenakan kain tipis kotor yang sama seperti Beastman lainnya, namun
dia memakainya dengan gaya unik seperti mini-onepiece ketat.
Sosoknya yang
memperlihatkan lekuk tubuh dengan jelas itu terasa sensual namun juga seperti
pakaian adat yang misterius.
Informasi
tentangnya tidak ada di daftar pekerja. Apakah Keluarga Goldbarrel yang ceroboh
melakukan kesalahan pada daftar, atau justru——.
"Namaku
Kambase. Aku baru mulai bekerja dua minggu lalu sebagai pendatang baru. Tapi,
kau tidak perlu mengingatku."
Setelah
berucap dengan datar, Kambase menatap wajahku dengan tatapan tajam.
"Toh
kau juga akan segera menghilang dari sini."
Sepertinya
aku sangat tidak disukai ya, pikirku sambil mengangkat bahu dan tersenyum kecut.
"Entahlah,
kita lihat saja nanti."
Aku mengabaikan
kata-kata Kambase dengan santai, lalu dengan gerakan tenang aku mengarahkan
tangan kananku ke arah Hausie. Sambil menjaga emosi agar tetap stabil, aku mengendalikan Mana
dan menyebutkan nama mantranya.
"Heal."
Dengan
aktifnya mantra penyembuhan, Mana mengalir ke dalam tubuh Hausie, dan
luka-luka tak terhitung yang terukir di seluruh tubuhnya pun sembuh dalam
sekejap mata.
Meskipun
tidak terlihat, luka di bagian yang tertutup kain tipis pun pasti sudah sembuh
secara otomatis oleh mantra tersebut.
"Apa?!"
Sosok
yang bersuara lebih dulu bukanlah Hausie yang menjadi target, melainkan
Kambase.
Wajahnya
yang semula cemberut kini berubah drastis, mulutnya terbuka lebar dengan
ekspresi kaget yang luar biasa.
"Menyembuhkan
luka di seluruh tubuh dalam sekejap...! Jangan-jangan, Heal itu
adalah Omnia...?"
"……Tidak. Ini hanya Heal biasa. Hanya saja aku
sedikit lebih ahli dalam Heal dibandingkan penyihir lainnya. Itu karena
guruku adalah master dalam penyembuhan."
Kenangan masa lalu yang jauh terlintas di pikiranku, membuat
bagian dalam dadaku terasa perih.
Namun, aku berhati-hati agar emosi sentimental tidak
terlihat, dan dengan senyum lembut aku terus merapalkan Heal secara
beruntun kepada para Beastman lainnya.
"Wah! Lukaku
sembuh! Penyihir itu hebat sekali!"
"Eh! Lukaku
juga sudah sembuh entah sejak kapan! Eh! Kau juga!"
"Benar!
Apa-apaan ini! Hebat sekali! Pengawas baru ini luar biasa! Dia penyihir
jenius!"
Para Beastman
yang telah selesai diobati memberikan berbagai komentar dan bermain-main dengan
gembira.
Karena kondisi
fisik yang buruk dalam waktu lama membuat mereka sering murung, kegembiraan
mereka kali ini seolah meledak untuk melampiaskan kekesalan selama ini.
"Tuan
Penyihir, kau hebat sekali! Lihat, bahkan peradangan di selangkanganku sembuh
total! Padahal ini sulit sekali sembuh dan sangat mengganggu! Lihat, sekarang
sudah mulus!"
Hausie terlihat
sangat senang sampai-sampai dia menyingkap kain tipisnya untuk memamerkan
pangkal pahanya, membuatku buru-buru memalingkan wajah dan tetap bersikap
sopan.
Beastman
cenderung kurang memiliki rasa malu terhadap ketelanjangan dibandingkan
manusia, tapi ini pertama kalinya aku bertemu wanita yang seberani ini.
……Yah, anggap
saja dia sudah mempercayaiku.
"Terakhir
adalah giliranmu, Kambase."
Kambase yang
menjadi sasaran tangan kananku tampak terkejut, namun dia segera menggelengkan
kepala dengan tenang.
"……Kau pasti
lelah karena sudah menggunakan Heal kepada semua orang, kan?"
"Terima
kasih atas perhatianmu. Tapi tidak apa-apa. Beastman memiliki daya penyembuhan
alami yang tinggi, jadi efek Heal mudah meresap dan konsumsi Mana-nya
sedikit."
Begitu mendengar
kata-kataku, ekspresi Kambase langsung mendung dan dia menjaga jarak agar
keluar dari jangkauan mantranya.
"A-aku tidak
punya luka serius, jadi tidak perlu."
Suara Kambase
sedikit bergetar.
Menolak Heal
sampai sejauh ini terasa tidak wajar. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu...
tapi untuk sekarang aku tidak akan menyelidikinya lebih lanjut.
Jika aku terlalu
memaksanya dan memicu keributan yang tidak perlu, itu hanya akan mengganggu
rencanaku. Setelah mendapatkan kepercayaannya, aku bisa memeriksanya sepuas
hati.
"Kalau
begitu, selanjutnya mari kita perbaiki udara di sini. Bau busuk, debu pekat,
panas lembap, dan kontaminasi Mana beracun di udara. Jika semua ini
diselesaikan sekaligus, lingkungan kerja akan membaik secara drastis."
"Itu
benar-benar mustahil."
Sambil tetap
menjaga jarak dariku, Kambase membantah dengan nada tajam.
"Mungkin kau
berniat meniup debu dengan mantra Tornado atau memurnikan Mana
beracun dengan mantra Refresh, tapi semua itu sia-sia dan tidak ada
artinya."
"Wah,
kau mengerti sihir juga ya."
Mendengar
komentarku, Kambase sedikit terkejut dan bergumam, "Dulu aku pernah
mempelajarinya sedikit."
Kata-kata
Kambase memang ofensif, tapi ada benarnya. Meniup debu dengan Tornado
atau memurnikan dengan Refresh hanyalah tindakan sementara.
Itu tidak
akan cukup untuk menyelesaikan masalah di lingkungan yang buruk ini.
Benar-benar sia-sia. Tapi sepertinya dia mengkhawatirkanku dengan caranya
sendiri.
"Kambase,
pemikiranmu sebagian besar benar."
"Eh...?"
"Pemilihan
mantra Tornado dan Refresh itu sudah sangat tepat. Sekarang tinggal menambahkan sedikit
sentuhan saja, maka semuanya akan beres."
Aku memfokuskan Mana
yang mengandung doa di tangan kananku, dan memfokuskan Mana dengan
imajinasi badai yang mengamuk di tangan kiriku.
Setelah
mengembangkan dua mantra berbeda secara bersamaan, aku menyebutkan nama
mantranya sambil menjaga keseimbangan keduanya.
"Airy
Pure!"
Plak! Begitu aku menangkupkan kedua telapak
tanganku, sebuah tornado kecil muncul di hadapanku.
"I-ini...!"
Kambase mengintip
ke arah tornado kecil itu sambil berhati-hati agar kain tipis yang dipakainya
tidak tersingkap ditiup angin. Dia terlihat seperti anak kecil yang sangat
tertarik pada mainan baru.
"Ini adalah
mantra komposit, gabungan dari Tornado dan Refresh."
Mantra Tornado
untuk mengubah Mana menjadi sifat angin dan mengendalikannya,
digabungkan dengan mantra Refresh untuk memurnikan efek status abnormal
yang berasal dari sihir.
Dengan
menggabungkan keduanya, aku menciptakan tornado yang memiliki efek pemurnian.
Tornado kecil itu
bergerak perlahan sambil menyerap udara di sekelilingnya, lalu melepaskan
mantra pemulihan status abnormal sebagai gantinya.
Dengan cara ini,
bau busuk, debu, dan Mana beracun akan dikumpulkan dan dimurnikan oleh
tornado, lalu diubah menjadi udara segar.
Aku terus
merapalkan beberapa Airy Pure lagi dan melepaskannya ke area sekitar.
Dengan ini, udara
di seluruh fasilitas bawah tanah akan bersirkulasi, dan suhu serta
kelembapannya juga akan disesuaikan secara proporsional.
Untuk urusan
pembuangan kotoran, aku akan melakukannya diam-diam menggunakan mantra air
setelah jam kerja selesai.
Setelah itu, aku
tinggal membawa mereka semua ke pemandian umum di Darkest Market dan
mengganti pakaian mereka dengan yang bersih, maka masalah kebersihan selesai.
"Mustahil,
kau bisa mengendalikan dua jenis mantra secara bersamaan...! Padahal biasanya
kesadaran akan terbagi dan salah satu mantranya akan menjadi kacau!"
Maaf saja bagi
Kambase yang memberikan reaksi kaget secara berlebihan, tapi mantra komposit
sebenarnya hanya menggabungkan mantra-mantra yang sudah ditentukan sebelumnya,
jadi aslinya lebih mudah daripada kelihatannya.
Pengaturan
waktunya memang cukup sulit, tapi siapa pun pasti bisa menguasainya setelah
berlatih selama sekitar sepuluh tahun.
"Ini hebat!
Luar biasa hebat!"
Hausie
mengeluarkan komentar dengan perbendaharaan kata yang terbatas sambil mengejar
tornado kecil itu.
Dia mencoba
menyentuhnya dengan jari, tapi tornado kecil itu selalu menghindar di saat-saat
terakhir.
Aku memang
memberikan instruksi pada mantra itu agar mendeteksi dan menghindari makhluk
hidup atau rintangan guna mencegah kecelakaan.
"Dengan ini,
untuk sementara masalah udara sudah teratasi. Walaupun ini bukan solusi
permanen jika penyebab keluarnya Mana beracun tidak ditangani..."
Setelah
memastikan efek dari beberapa Airy Pure akan bertahan selama sekitar
satu jam, aku mengangguk kecil.
"Mari kita
istirahat sejenak."
Hausie yang sudah
memegang beliung tua dengan penuh semangat langsung mematung dengan mulut
terbuka mendengar perkataanku. Beastman lainnya juga ikut mematung dengan mulut
terbuka lebar, persis seperti anak burung yang meniru induknya.
Hanya Kambase
yang menatapku dengan alis berkerut penuh kecurigaan. Namun, terlihat jelas
bahwa di balik tatapannya itu juga tersimpan sebuah harapan.
◆◇◆
"Apa
ini?"
Melirik camilan
yang kubagikan, Kambase bergumam dengan suara bingung. Beastman lainnya juga
memiringkan kepala sambil menggenggam camilan tersebut.
"Ini adalah Peanut
Butter Marshmallow Pie dari Glitch Rabbit Co. Kolaborasi antara selai
kacang yang sangat manis, marshmallow yang lembut, dan pai yang renyah
benar-benar yang terbaik! Kau pasti akan merasa sangat bahagia baik jiwa maupun
raga! Kualitas medali hadiahnya juga sangat tinggi dan—"
"Bukan itu
yang ingin kudengar."
Memotong
penjelasanku yang mulai cepat, Kambase mengeluh dengan ekspresi kecewa.
Karena dia sempat
berharap pada perbaikan yang kulakukan, dia merasa terkejut dengan perubahan
mendadak di mana aku malah membagikan camilan.
"Berhenti
bercanda. Mana ada waktu untuk makan camilan seperti ini—"
"Aku tidak
sedang bercanda."
Gantian aku yang
memotong kata-kata Kambase, lalu aku menyeringai percaya diri sambil memegang Peanut
Butter Marshmallow Pie. Kemasannya yang antik terlihat berkilau elegan
diterangi cahaya lentera.
"Meskipun
luka bisa disembuhkan dengan Heal, kelelahan mental dan stres tidak bisa
dihilangkan begitu saja. Dan stres kronis adalah sumber dari segala penyakit.
Karena itulah tubuh perlu asupan gula untuk mengistirahatkan otak. Singkatnya,
ini juga merupakan bagian dari perbaikan lingkungan kerja. Ada pepatah bilang
'biar lambat asal selamat', kan?"
Mendengar
argumenku yang logis, Kambase terdiam sambil menggumam tidak jelas.
Aku bisa
saja terus mendesaknya dengan logika, tapi aku khawatir itu akan terlihat
seperti penindasan. Tinggal satu dorongan kecil lagi, maka Kambase pasti akan
setuju.
"Cobalah
makan dulu, anggap saja kau sedang tertipu olehku."
Mengalihkan
pandangannya ke Peanut Butter Marshmallow Pie di telapak tangannya,
Kambase mengerutkan dahi.
Dia pasti
sedang bergejolak antara sifat seriusnya yang ingin membantahku dan sisi baik
hatinya yang tidak ingin menolak mentah-mentah niatku.
"Bukankah
tradisi kesopanan ras Beastman adalah tidak menolak pemberian dari orang
lain...?"
"Ugh."
Terpukul
di bagian yang sensitif, Kambase kehilangan kata-kata dan menundukkan kepalanya
dengan lesu.
Beastman
di sekitarnya mulai gaduh sambil bergumam, "Memangnya ada tradisi seperti
itu?", "Sepertinya nenek pernah bilang begitu~", atau
"Pengawas tahu banyak hal ya".
Namun
suara mereka tampaknya tidak sampai ke telinga Kambase yang sedang tertekan.
"……Baiklah.
Aku akan makan satu."
Sambil berkata
demikian, Kambase membuka kemasannya dengan gerakan tangan yang ragu-ragu.
Dia mengambil
satu Peanut Butter Marshmallow Pie seukuran satu suapan, memasukkannya
ke dalam mulut dengan hati-hati, dan—saat dia mulai mengunyahnya, matanya yang
semula sayu langsung terbuka lebar.
"Enak...!"
Manisnya selai
kacang yang pekat dan manisnya marshmallow yang segar.
Kelembutan marshmallow
yang empuk dan kerenyahan pai yang garing di gigi.
Aroma panggang
dari pai itu berpadu dengan kepekatan selai kacang.
Masing-masing
mengeluarkan kualitas terbaiknya, bercampur dalam keseimbangan yang elok, dan
melantunkan harmoni yang agung. Kelezatan Peanut Butter Marshmallow Pie
itu membuat Kambase terbawa suasana; dia menunjukkan ekspresi mabuk kepayang
sambil mengembuskan napas manis.
Melihat Kambase
telah tertawan, para Beastman lainnya ikut terpengaruh dan mulai menyantap Peanut
Butter Marshmallow Pie mereka secara serempak.
Tak lama
kemudian, kebahagiaan yang dipicu oleh asupan gula itu menular, membuat suasana
di fasilitas kerja paksa bawah tanah menjadi manis dan menyenangkan.
"……A-aku
tidak keberatan kalau harus makan satu lagi, sih?"
Gumam Kambase
pelan—entah alasan itu ditujukan untuk siapa—sambil memasukkan pai kedua ke
dalam mulutnya.
Begitu hal itu
terjadi, tamat sudah; Kambase yang hatinya telah dicuri sepenuhnya oleh Peanut
Butter Marshmallow Pie mulai melahap yang ketiga, keempat, dan seterusnya.
Setelah merasa
tenang melihat sosok Kambase yang makan dengan pipi menggembung penuh, aku
berdiri di waktu yang tepat.
Rona wajah para
Beastman terlihat membaik secara signifikan, dan mereka kini dipenuhi semangat
yang cerah.
Berkat asupan
gula dan suasana yang santai, energi asli kaum Beastman tampaknya telah
bangkit, membuat kekuatan meluap dari raga maupun jiwa mereka.
Dengan
begini, aku bisa memanfaatkan karakteristik sejati mereka.
"Nah, mari
kita mulai bekerja."
Aku memusatkan
imajinasi cahaya yang menyilaukan di ujung jariku, lalu merapalkan nama mantra,
"Wisp."
Bersamaan dengan
itu, sebuah bola cahaya seukuran telapak tangan muncul di hadapanku, menerangi
sekeliling yang remang dengan cahaya yang benderang.
"Oohhh—!"
Melihat
mantra yang kulepaskan, para Beastman bertepuk tangan meriah. Syukurlah, berkat
efek camilan tadi, mereka jadi benar-benar akrab denganku.
Mantra
cahaya, Wisp. Meski tidak memiliki kemampuan menyerang, konsumsi Mana-nya
sedikit dan durasinya lama.
Intensitas
cahayanya pun bisa diatur, bahkan bisa digunakan untuk membutakan mata musuh di
saat darurat, jadi ini adalah mantra favoritku karena kepraktisannya.
"Menurut
laporan, sering terjadi kecelakaan di tempat gelap, jadi selama bekerja aku
akan membantu kalian dengan Wisp."
"Kau
menyiapkan semuanya sampai sedetail ini, aku jadi merasa tidak enak," ujar
Hausie dengan tawa kecut meski nada suaranya tidak bisa menyembunyikan
kegembiraan.
"Ini
sudah menjadi tugasku sebagai pengawas," balasku sambil tersenyum.
"Tapi mulai
dari sini, kekuatan kalian sangatlah krusial. Hausie, aku ingin kamu menemukan
sumber Mana beracun yang mencemari udara ini. Baunya sangat tidak
nyaman…… kalau diibaratkan, seperti bau amis pakaian dalam yang dipakai
seharian penuh saat puncak musim panas."
"Begitu ya, bau celana dalam busuk! Serahkan padaku,
Tuan Penyihir. Berkatmu, hidung tersumbatku yang sudah lama akhirnya sembuh
total!"
Sambil
berkata demikian, Hausie mulai mengendus-endus bau di sekeliling dengan penuh
semangat.
Orang
sering salah paham bahwa pendengaran Beastman-lah yang paling berkembang karena
telinga hewan mereka yang khas, padahal sebenarnya indra penciuman mereka
adalah yang terbaik.
Mereka
bahkan bisa mencium bau Mana yang tidak bisa dirasakan oleh ras lain dan
mengidentifikasinya dengan akurat.
Dengan
memanfaatkan penciuman itu, para Beastman biasa berburu harta karun, berburu
monster, atau membasmi penjahat.
Sebagai
penyihir manusia, aku termasuk ahli dalam deteksi Mana, namun tetap saja
tidak bisa menandingi penciuman Beastman.
Daripada
mencari sumber Mana beracun sendirian, jauh lebih efisien jika aku
menyerahkannya pada mereka.
Lagipula,
membiarkan mereka menghasilkan prestasi dengan tangan sendiri akan meningkatkan
motivasi mereka—sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.
"Endus, endus…… Bau banget! Endus, endus…… Haaah,
ugh! Bau bangettt~!"
Hausie dengan cepat mendeteksi sumber bau busuk itu dan
berseru dengan wajah berseri-seri.
"Lewat sini! Endus. Bau busuknya meluap dari arah
sini!"
Aku mengikuti Hausie yang berlari dengan antusias, hingga
kami sampai di sebuah ruang rahasia di bawah tangga batu. Karena Airy Pure
tidak menjangkau ruang rahasia ini, bagian dalamnya dipenuhi oleh Mana
beracun dan kondisinya sangat mengerikan.
Sampai di titik
ini, kemampuan deteksiku pun sudah bisa menentukan sumbernya…… tapi mari kita
coba memancing sedikit.
"Kambase,
apa kamu tahu di mana posisi sumbernya?"
"Eh? A-aku?
Anu, saat ini hidungku sedang…… sedikit tersumbat……"
Kambase yang
mendadak ditunjuk terlihat sangat gugup. Sikapnya jelas aneh.
Aku nyaris
mengatakan bahwa hidung tersumbat bisa disembuhkan dengan mudah menggunakan Heal,
tapi aku menelan kembali kata-kata itu.
Benar juga,
Kambase itu ternyata——.
"Kalau
hidungmu tersumbat, mau bagaimana lagi."
Aku
menyahut sekadarnya dan tersenyum ramah. Meski tadi aku bertanya karena penasaran, sebaiknya aku berhenti
menyudutkan Kambase.
Saat ini, aku
harus fokus menjalankan rencana di depan mata selangkah demi selangkah.
"Jadi ini
sumbernya."
Setelah melacak Mana
di udara dan menggali sedikit di bawah reruntuhan, aku menemukan sebuah alat
sihir berwarna ungu berbentuk tengkorak yang terkubur di sana.
"Sepertinya
ini perangkap untuk mengusir penyusup dungeon."
Aku
mengangguk setelah memastikan adanya pola geometris yang terukir di permukaan
tengkorak ungu yang beracun itu.
Seal Arts.
Sihir yang telah diperluas prosedurnya—itulah Seal Arts.
Dengan memberikan ukiran yang dialiri Mana, mantra ini akan aktif secara
otomatis saat memenuhi syarat tertentu, menjadikannya pilihan terbaik untuk
perangkap.
Mantra sihir biasa yang aktif hanya dengan ucapan memiliki
jangkauan kemampuan yang sempit, namun kemampuan Seal Arts sangat luas
karena bisa memasukkan proses yang kompleks sebelum aktif. Hanya saja, konsumsi
Mana-nya besar, serta memerlukan pengetahuan khusus dan teknik yang
halus untuk mengukirnya.
Berbeda dengan sihir ala Kekaisaran yang mementingkan
efisiensi dan fleksibilitas, Seal Arts yang secara harfiah bisa
dimodifikasi secara ekstrem ini lebih disukai oleh para Elf tipe peneliti atau
seniman.
Sebagai
informasi, barang sehari-hari seperti toilet, bak mandi, dan alat penerangan
juga menggunakan Seal Arts.
Menurut
sejarah sihir kuno, alat-alat sihir yang menjadi fondasi kehidupan ini
merupakan hasil reproduksi budaya Pahlawan yang dibawa oleh Pahlawan Yuzel yang
konon bereinkarnasi dari dunia lain.
Kini,
kecuali bagi mereka yang sangat menyukai sejarah, teknik yang dibawa Pahlawan
Yuzel sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat hingga sulit membedakan
mana yang merupakan budaya asli Pahlawan.
"Apa yang
akan kau lakukan pada perangkap itu? Kalau kau menghancurkannya sembarangan, Seal
Arts-nya bisa mengamuk, lho."
Saat aku
menyampaikan terima kasih kepada Kambase karena telah mengkhawatirkanku,
pipinya memerah dan dia langsung memalingkan wajah.
Ketika aku
memeriksa tengkorak ungu itu, ternyata pada lubang matanya terpasang Mana
Cartridge yang terbuat dari olahan Mana Crystal.
Karena Mana
disuplai oleh cartridge tersebut, sistem Seal Arts ini tidak akan
terputus dalam waktu dekat.
Dengan cartridge
model ini, sepertinya ia bisa bertahan lebih dari satu tahun lagi.
"Mantra yang
terukir di sini tampaknya adalah Ill Poison."
Saat aku
memusatkan kesadaran pada aliran Mana yang meluap dari tengkorak ungu
tersebut, terungkap bahwa Seal Arts yang digunakan adalah mantra racun, Ill
Poison.
Sifat Mana-nya
sedikit berbeda dari Ill Poison masa kini, aktif dengan sistem
berantakan yang penuh pemborosan. Ini pasti mantra dari zaman dahulu kala.
"Confine."
Sambil membedah
sistem mantra racun itu di dalam otak, aku merapalkan nama mantra pembatal
sihir dengan tenang.
"Endus…… Oh! Bau busuknya sudah hilang!"
Hausie menyadari bahwa Ill Poison telah dinetralkan
bahkan lebih cepat daripada deteksiku, dan dia berseru dengan lantang.
Mantra pembatal sihir, Confine.
Ini adalah sihir tandingan yang menganalisis struktur sihir
target, lalu menonaktifkan dan menghapus kemampuannya.
"T-tidak
mungkin……! Ini mustahil! Padahal Confine hanya bisa menghapus mantra
yang sistemnya sudah dipahami sepenuhnya……! Bagaimana bisa kau menghapus Seal
Arts dari perangkap kuno seperti ini……!"
Kambase berseru
kaget dan melangkah mundur dengan lunglai, seolah hampir kehilangan kekuatan di
kakinya.
"Kalau kau
tanya bagaimana, aku hanya menganalisis mantranya secara normal lalu
membongkarnya secara normal juga."
"N-normal?
Apa-apaan itu…… Aku
benar-benar tidak mengerti……"
Kambase
tertunduk lesu, namun aku tidak bisa menjelaskan lebih dari itu.
Aku
teringat kata-kata guru di Akademi Sihir bahwa mantra Confine adalah
yang paling mengandalkan intuisi di antara sihir Kekaisaran, sehingga sangat
sulit diajarkan kepada murid. Dalam hati, aku sangat setuju dengannya.
"Tuan
Pengawaaas! Hausie-saaan!"
Mendengar
panggilan dengan suara ceria itu, aku keluar dari ruang rahasia dan disambut
oleh seorang Beastman bertelinga terkulai yang tersenyum lebar.
"Aku mencoba
menggali di tempat yang baunya enak, dan…… jreng! Lihat ini!"
Dengan nada
polos, Beastman bertelinga terkulai itu menyodorkan sebuah tombak besar
berwarna merah tua.
"Ini kan…… Artifact!"
Melihat tombak besar dengan mata pisau sepanjang hampir satu
meter itu, aku tidak bisa menahan suara takjub.
Pada mata tombaknya, selain ada ukiran naga terbang,
terdapat pula Seal Arts kuno yang rumit dan aneh.
Dengan kata lain,
ini adalah alat sihir purbakala—sebuah Artifact. Meski di beberapa
bagian tampak berkarat, benda ini pasti akan kembali bersinar jika dirawat
dengan sihir.
"Hehe~
hebat, kan!"
Karena sangat
senang dipuji, Beastman bertelinga terkulai itu melompat-lompat kegirangan.
Penciuman
Beastman yang selama ini tertindas oleh bau busuk, debu, dan Mana
beracun kini telah kembali ke kekuatan aslinya.
Terlebih lagi,
mereka berinisiatif menggali sendiri sebelum aku memberi instruksi; mereka
ternyata jauh lebih cekatan dan hebat dari bayanganku.
Jika begini,
tidak butuh waktu lama sampai aku bisa menyerahkan seluruh pekerjaan fasilitas
ini kepada mereka dan aku bisa bergerak dengan bebas.
"Aku juga
menemukan ini—! Buku yang kelihatannya hebat!"
"Aku juga
menemukan sesuatu yang luar biasa! Lihat, lihat—!"
"Bukankah
ini gila—! Bau enak dan bau busuknya campur aduk—!"
Laporan dari segala penjuru terus berdatangan, membuatku
yakin bahwa perbaikan fasilitas kerja paksa bawah tanah ini sukses besar.
Bukan hanya Artifact, tapi banyak sekali temuan
berharga seperti alat sihir kuno, buku teknik rahasia, hingga koin emas dan
permata.
Menata lingkungan kerja, mendapatkan kepercayaan dari para
Beastman hebat yang dipimpin oleh Hausie, lalu membiarkan mereka mengerahkan
kemampuan asli untuk melakukan penggalian.
Kemudian, mempersembahkan Artifact hasil galian
kepada Keluarga Goldbarrel demi mendekati Maralva sang kolektor senjata.
Siklus sempurna ini telah mulai berputar. ……Rencanaku
berjalan lancar tanpa sayatan.
Selama dua jam
berikutnya, aku terus melakukan penggalian bersama para Beastman.
Hasilnya, kami
menemukan banyak sekali Artifact dan menemukan rute yang belum terjamah
setelah menyingkirkan perangkap yang mengganggu.
Menurut Hausie,
"bau enak" masih meluap dari tempat-tempat lain, jadi kita bisa
sangat berharap untuk ke depannya.
"……Jagid."
Saat aku sedang
mengerahkan seluruh pengetahuan dari perpustakaan untuk mengidentifikasi Artifact,
Kambase mendekat dengan ekspresi malu-malu. Apa dia ingin tambah Peanut
Butter Marshmallow Pie lagi?
"Maafkan
aku!"
Permintaan maaf
yang mendadak itu membuatku terperanjat, hingga aku nyaris menjatuhkan Artifact
yang sedang kupegang.
"A-ada
apa?"
"Aku ingin
minta maaf karena sudah membantah mentah-mentah dan bilang mustahil memperbaiki
tempat ini. ……Aku telah meremehkanmu. Kau telah melakukan segalanya yang tidak
bisa kulakukan…… dengan kemahiran yang jauh melampaui imajinasiku. Karena itu, aku
benar-benar minta maaf!"
Terhadap Kambase
yang kembali menundukkan kepala meminta maaf, aku ikut berjongkok agar
pandangan kami sejajar.
Di matanya yang
jauh lebih jernih daripada Mana Crystal kualitas tinggi, tampak air mata
yang sedikit menggenang.
"Lagi pula,
karena kau adalah penyihir Kekaisaran, aku curiga pasti ada niat tersembunyi,
jadi aku bersikap semakin kasar……"
Bahwa "niat
tersembunyi" itu memang benar adanya, tentu saja tidak akan pernah
kuucapkan sampai mati.
"Tidak
apa-apa, Kambase."
Dengan suara
lembut yang biasa kugunakan untuk membujuk Violetta di perpustakaan, aku
menyebut nama Kambase.
"Aku bisa
merasakan dengan jelas bahwa kau marah karena mengkhawatirkanku. Kau anak yang
sangat baik. Bukan hanya aku, tapi Hausie dan yang lainnya pun pasti tahu hal
itu. Benar, kan?"
"Tentu
saja!"
Yang menjawab
dengan semangat bukanlah Kambase, melainkan Hausie dan kawan-kawan yang sedari
tadi bersembunyi di sudut sambil mengintip.
Dua puluh delapan
Beastman lainnya memberikan senyum ramah yang disengaja kepada Kambase, sambil
tampak gelisah seolah ingin segera memeluknya.
"Eh!
Apa-apaan kalian semua……!"
Kambase
kehilangan kata-kata karena rasa malu yang luar biasa, wajahnya memerah padam
sambil meringkuk kecil.
◆◇◆
Satu minggu telah
berlalu sejak perbaikan fasilitas kerja paksa bawah tanah dilakukan. Siklus
kerja berjalan lancar, target dari Keluarga Goldbarrel pun tercapai tanpa
kesulitan, dan segala sesuatunya berlangsung tanpa sayatan.
Belakangan ini,
pekerjaan menjadi semakin efisien sehingga aku bisa memberikan banyak waktu
luang bagi para Beastman.
Mereka yang
awalnya kurus kering kini terlihat sehat khas kaum Beastman, raga mereka
kembali lentur, dan mereka menjalani kehidupan yang memuaskan.
Pada suatu hari,
aku dan Kambase melangkah menuju kediaman Keluarga Goldbarrel, Gold Palace.
Selama ini aku
memang rutin mempersembahkan Artifact kepada Maralva, namun kali ini
jumlahnya sangat banyak sehingga sulit dibawa sendirian, jadi aku meminta
bantuan Kambase.
"Maaf ya,
Kambase. Nanti akan kutraktir sesuatu."
"Jangan
dipikirkan. Kau tidak perlu meminta maaf."
Meski Kambase
sangat kasar di hari pertama, kini dia tidak lagi menunjukkan permusuhan
padaku, dan kami telah menjalin hubungan yang memungkinkan percakapan tenang
seperti ini.
Belakangan ini
dia juga sudah akrab dengan Hausie dan yang lainnya, serta rajin bekerja sama
dalam penggalian.
Sebagai
informasi, aku telah membagikan pakaian yang bersih dan mudah dipakai kepada
semua orang di fasilitas bawah tanah, namun Kambase tetap lebih menyukai gaya
berpakaian ketat yang menonjolkan lekuk tubuh bahkan dengan pakaian barunya.
Beastman lainnya
juga mengenakan pakaian dengan tingkat eksposur yang cukup tinggi, namun selera
estetika Kambase memang unik dan entah kenapa memancarkan aura yang menggoda.
"Apa?"
Di tengah
pendakian tangga Gold Palace yang panjangnya berlebihan, Kambase yang
menyadari tatapanku mengerutkan dahi dengan heran.
"Tidak, aku
hanya berpikir bahwa pakaianmu hari ini juga sangat menawan."
"……Hmph."
Tampak jelas
Kambase tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya karena dipuji soal fesyennya;
suaranya terdengar ceria sambil ia memalingkan wajah.
Aku sempat
tergoda untuk menggodanya lebih jauh agar dia memberikan reaksi yang menarik,
namun sayangnya kami sudah tiba di pintu masuk istana. Acara menjahilinya
terpaksa ditunda.
"Inilah
istana Keluarga Goldbarrel……"
Kambase yang baru
pertama kali datang bergumam takjub sambil menengadah menatap istana emas itu.
Gold Palace memamerkan kekurangseleraan yang sempurna
dari segala sudut mana pun kau memandangnya.
Meskipun mereka
adalah bangsawan dengan tradisi tujuh ratus tahun, kemampuan mereka untuk
mewujudkan kesan "orang kaya baru" yang murahan ini justru terasa
luar biasa. Sebuah kedangkalan yang dipupuk selama tujuh ratus tahun.
Lagipula, nama
"Istana Emas Keluarga Goldbarrel" atau Gold Palace benar-benar
nama yang sangat lugas dan mencerminkan garis keturunan orang-orang bodoh.
Setelah
menyelesaikan prosedur singkat dan masuk ke dalam istana, kami dipandu oleh
penjaga yang tampak malas menuju sebuah aula yang sangat luas.
Awalnya itu
adalah ruangan untuk tamu, namun Maralva yang pemalas mengubahnya menjadi ruang
pribadinya.
"……Ugh."
Begitu masuk ke
aula, aroma dupa yang sangat kuat menusuk hidung, membuatku nyaris mual. Bau
manis yang menyengat seperti buah tropis yang membusuk memenuhi seluruh
ruangan.
Bahkan bagiku
yang menyukai makanan manis, bau ini sangat menyiksa. Ini adalah bau menyengat
yang bisa membuat Beastman pingsan, namun Kambase berhasil bertahan meski
wajahnya berkerut hebat.
Lebih
dari sekadar bau, Kambase tampak terperangah melihat dekorasi interior aula
tersebut.
Ruangan
itu dipenuhi hiasan emas yang mencolok dan dekorasi Mana Crystal yang
berlebihan.
Berjejer
pula penyekat ruangan emas dan awetan naga emas yang mungkin didatangkan dari
luar negeri, menunjukkan selera yang sangat buruk.
Ruangan
ini seperti konsentrasi dari segala hal yang tidak berkelas dari Keluarga
Goldbarrel.
"Gufu. Kau sudah datang, Deabold……!"
Maralva yang sedang berbaring di atas takhta raksasa yang
tidak berkelas itu menyadari kedatanganku dan mengeluarkan tawa menjijikkan
seperti Magic Bull-Frog. Sepertinya sebagai hasil dari terus-menerus
mempersembahkan Artifact, dia mulai sedikit menyukaiku.
Maralva menyandarkan sikunya pada sebuah tembikar besar
berbentuk kaki gajah, sambil meminum High Potion dengan gaya yang
berantakan.
Aku menyapa dengan sopan sambil berpura-pura patuh, sambil
memperhatikan tembikar tempat sikunya bersandar.
Itu adalah Elephant Hoof Inkstone, sebuah bak tinta
kuno yang digali dari dungeon purbakala di sekitar Kota Emas Domina
Domina, sebuah peninggalan dengan nilai sejarah yang sangat tinggi.
Hingga beberapa tahun lalu, benda itu dipajang di museum
sejarah Central Capital, namun karena kuratornya memicu kemarahan
Maralva, museum itu dihancurkan, dan kini benda berharga itu berakhir hanya
menjadi sandaran siku bagi bangsawan tidak berguna.
Sambil menahan rasa mual melihat kebodohan yang secara
harfiah menginjak-injak sejarah, di permukaan aku tetap memasang senyum ramah
dan fokus mengambil hati Maralva.
"Berani
sekali kau membawa Beastman yang menjijikkan ke sini."
Maralva
menatap Kambase dengan pandangan seperti melihat sampah.
"Saya
mohon maaf yang sebesar-besarnya. Karena sulit bagi saya membawa Artifact
ini sendirian, saya mengajaknya sebagai asisten yang dapat dipercaya. Jika Anda merasa tidak nyaman, saya akan
segera memintanya……"
"Hmph.
Sudahlah, tidak apa-apa. Untuk hari ini akan kubiarkan. Akan kumaafkan demi
upeti yang kau berikan selama satu minggu ini. Gufu, gufufu."
Sambil memandangi
berbagai persenjataan besar dan kecil yang menghiasi dinding, Maralva
mengangguk dengan napas yang memburu.
Sepertinya dia
sedang dalam suasana hati yang sangat baik berkat Artifact yang digali
dari fasilitas bawah tanah serta senjata langka yang kukumpulkan saat aku masih
di Ibu Kota.
Dia tipe pria
yang mudah dikendalikan, mirip dengan anaknya, Bowman.
Di sekeliling
Maralva, para selir dengan pakaian menggoda tampak menempel padanya; ada yang
mengupaskan kulit buah untuk disuapkan, ada yang mengipasi, dan ada yang
memijatnya.
Sangat
menyedihkan melihat mereka berusaha keras melakukan gerakan yang menggoda.
Selain itu, ada
seorang pria tua kerdil (Dwarf) yang berdiri sedikit di belakang, dia adalah
Hestios Silverg.
Meski memiliki
ekspresi lemah yang tidak biasa bagi seorang Dwarf, dia adalah tangan kanan
Maralva sekaligus penguasa yang mengendalikan Kota Emas Domina Domina sebagai
perwakilan serikat pandai besi.
Dan yang menjaga
di sekitar Maralva adalah empat Gold Knight yang perkasa.
Masing-masing
adalah pejuang ternama, dan dari jauh pun sudah terlihat jelas bahwa mereka
adalah orang-orang yang sangat mahir.
Sambil memikirkan
bagaimana cara memanfaatkan Silverg sang tangan kanan dan para Gold Knight
ini sembari meladeni percakapan tidak bermutu Maralva, seorang pria muncul di
aula dengan langkah kaki yang terlalu mencolok.
"Ayahanda!
Aku sudah kembali dari ekspedisi! Perburuan kali ini sangat memuaskan, jadi aku bergegas kembali karena ingin
Ayahanda segera melihat hasilnya!"
Pria yang
bersuara melengking dan mendekati Maralva dengan langkah cepat itu adalah putra
sulung Keluarga Goldbarrel, Vischio Goldbarrel.
Dia adalah putra
Maralva dan kakak dari Bowman.
Dia mengenakan
pakaian mencolok yang sangat disukai para bangsawan, namun berbeda dengan
Bowman atau Maralva, dia tidak gemuk; tubuhnya justru atletis dan ramping.
Wajahnya yang
cukup tampan mungkin mirip dengan ibunya.
"Oh? Kupikir
ada wajah baru yang belum pernah kulihat, ternyata kau adalah si penyihir
jelata yang sedang dirumorkan itu ya. Salam kenal. Aku Vischio. Penerus
Keluarga Goldbarrel yang agung…… singkatnya, aku adalah pria paling berkuasa
nomor dua di Kota Emas Domina Domina ini."
Keangkuhan khas Keluarga Goldbarrel terpancar jelas di
setiap nada bicara Vischio yang tenang. Meski tampak sedikit lebih pintar
dibandingkan Bowman atau Maralva, pada akhirnya dia tetaplah bangsawan tidak
berguna.
Aku sudah menyelidiki bahwa Vischio melakukan kejahatan demi
kepentingannya sendiri.
Terutama, fakta bahwa dia diam-diam bertransaksi dengan Kota
Sihir Megrimseed—yang seharusnya sedang berselisih dengan Kota Emas Domina
Domina—bisa sangat dimanfaatkan sebagai pemantik konflik.
"Saya mohon maaf karena terlambat menyapa, saya Jagid
Dear—"
Memotong
sapaan formal dariku, Vischio melompat dengan langkah ringan ke depan Maralva.
Kemudian, dia mengeluarkan sebilah belati dari tas kulit yang dipanggulnya.
"Dalam
ekspedisi kali ini aku menemukan barang yang sangat bagus! Ayahanda! Silakan
lihat!"
"Kau
membuatnya lagi ya, dasar kau ini memang maniak. Coba kulihat……
ooh!"
Maralva
menyeringai dengan tawa yang menjijikkan dan menerima belati itu dari Vischio.
Begitu bilahnya terlihat, aku merasa ekspresi Kambase di sampingku sedikit
mendung.
Vischio
memiliki hobi melakukan perburuan manusia yang berkedok ekspedisi, lalu
mengolah tubuh korbannya menjadi senjata.
Dia
menginjak-injak nyawa manusia dan mempermainkan martabat mereka hanya demi
mendapatkan pujian dari ayahnya yang merupakan kolektor senjata.
Dia adalah
monster yang kekejaman kekanak-kannya semakin membesar.
Kemungkinan
besar, bahan pembuat belati itu juga——.
Aku
menahan rasa muak yang meluap dan mengamati gerak-gerik Vischio.
"Belati ini…… sungguh luar biasa! Aku membuatnya dengan mengasah tanduk seorang
gadis dari ras Oni!"
"Ooh! Kau
menemukan sisa-sisa ras Oni!"
Sambil
menggoyangkan tubuhnya yang lembek, Maralva berdiri dan menatap belati itu
dengan saksama.
Mungkin
karena berbahan dasar tanduk Oni, bilah belati itu berwarna hitam yang
mengerikan, dan mengandung Mana jahat yang terasa sampai ke dasar perut.
"Gufu,
gufu! Tanduk Oni muda yang belum tumbuh sempurna memang barang yang
bagus……!"
Dengan
suara lengket yang penuh gairah hingga ludahnya hampir menetes, Maralva
mengusapkan pipinya yang kotor ke bilah belati tersebut.
Oni
adalah ras yang tinggal di ujung timur Benua Niflga hingga tujuh ratus tahun
yang lalu, namun mereka dimusnahkan oleh Empat Pahlawan Besar.
Dalam
literatur yang diwariskan di Kekaisaran, ras Oni dicatat sebagai ras iblis yang
liar, kejam, sewenang-wenang, tidak berkelas, dan sangat jahat…… namun
kebenaran aslinya telah terkubur dalam kegelapan sejarah.
Penampilan
Oni tidak berbeda dengan manusia kecuali adanya dua tanduk di kepala mereka.
Tanduk
itu sebenarnya adalah organ Mana yang terlalu berkembang hingga
membesar, menembus tengkorak, dan mengeras.
Dengan kata lain,
tanduk Oni adalah gumpalan Mana dengan kemurnian tinggi.
Orang-orang yang
dibutakan oleh ketamakan terus memburu Oni hanya demi mendapatkan Mana
kualitas tinggi, hingga membuat mereka nyaris punah.
Kemudian, mereka
memfitnah pemimpin Oni yang baik hati sebagai Raja Iblis untuk membenarkan
tindakan mereka. ……Itulah kebenaran sejati dari legenda Empat Pahlawan yang
terkubur dalam sejarah.
Saat aku hendak
menyela percakapan Maralva dan Vischio yang sudah tak sanggup kudengar lagi,
tiba-tiba udara bergetar sedikit.
Aku merasakan Mana
yang murni seperti air lelehan salju mulai bergejolak. Sumbernya tepat di
sampingku. Dari Kambase.
Kambase berniat
merapalkan suatu mantra. Terlebih lagi, berdasarkan gelombang Mana yang
kurasakan dari dalam tubuhnya, itu adalah mantra serangan.
Dilihat dari
kekuatan Mana yang perlahan terfokus di jari telunjuk kanannya, itu
adalah mantra petir yang mematikan…… atau mantra api.
Baik Maralva,
Vischio, bawahan mereka, selir-selir, bahkan para Gold Knight yang
merupakan kekuatan tempur tertinggi Keluarga Goldbarrel, tidak ada satu pun
yang menyadari permulaan mantra Kambase.
Hanya orang
sepertiku yang ahli dalam deteksi Mana dan selalu waspada terhadap
sekitar yang bisa menyadarinya.
Namun, itu tidak
akan berhasil.
"Tuan
Maralva."
Aku sengaja
meninggikan suaraku untuk menarik perhatian Maralva dan Vischio.
Kemudian,
aku bergerak ke depan Kambase, masuk ke dalam lintasan tembak mantra
serangannya.
Dengan
ini, jika Kambase melepaskan mantranya, serangan itu tidak akan mengenai
Maralva atau Vischio, melainkan mengenaku.
Aku merasakan
gejolak Mana dari belakangku perlahan melemah. Kambase yang memahami
situasi telah membatalkan mantranya.
Saat aku melirik
wajahnya sekilas, dia tampak menunjukkan ekspresi campur aduk antara bingung
dan marah.
Untuk sekarang,
ini sudah cukup.
Terlepas dari
alasan mengapa Kambase ingin menyerang Maralva dan Vischio, tidak ada gunanya
memprovokasi Keluarga Goldbarrel di saat seperti ini.
Membunuh mereka…… ada waktunya nanti.
"Apakah saya sudah boleh mempersembahkan barang-barang
ini?"
Sambil tetap mengawasi Kambase agar keanehannya tidak
terbongkar, aku menyodorkan sejumlah besar Artifact yang telah kami bawa
ke hadapan Maralva.
"Ooh!"
Begitu melihat Artifact tersebut, minat Maralva
langsung berpindah seketika, dan belati hadiah dari Vischio pun dilemparkan
begitu saja secara kasar.
Melihat tindakan ayahnya itu, Vischio menatapku dengan
pandangan penuh rasa iri dan benci.
Membenciku alih-alih ayahnya…… tapi tidak apa-apa, rasa
tidak suka sebesar ini adalah biaya yang wajar.
Justru
ini mungkin bisa kumanfaatkan dalam bentuk tertentu. Sambil berpikir demikian,
aku menyusun rencana masa depan di dalam otakku.
"T-tombak
ini……! Gufufuu!"
Maralva
tampak tidak bisa menahan kegembiraannya hingga seluruh lemak tubuhnya
bergetar; dia mengambil sebuah tombak dari tumpukan Artifact tersebut.
Itu
adalah tombak besar yang pertama kali digali di fasilitas bawah tanah, yang
sempat sangat berkarat hingga butuh waktu lama untuk memulihkannya sehingga
baru bisa dipersembahkan sekarang.
"Ukiran
naga terbang yang mendetail hingga ke tiap kepingan sisiknya! Bilah yang
berkilau dengan pola gelombang! Bekas luka kehormatan yang terukir dengan
menyedihkan! T-tidak salah lagi……! Persis seperti yang tertulis dalam legenda!
Gufu! Tombak Bersimbah Darah Pembantai Naga Jahat, Gratvolg!"
Setelah
menyemburkan ludah ke arah Gratvolg yang malang itu, Maralva mulai
memberikan ceramah yang panjang lebar dengan semangat yang mengganggu.
Satu jam
berikutnya diisi dengan celotehannya tentang Gratvolg, bahkan dia mulai
memamerkan pengetahuannya tentang Artifact lainnya—sebuah waktu yang
terasa seperti penyiksaan.
Apakah
sikap ramahku saat memberikan tanggapan tadi justru berbalik merugikanku?
Tidak, jika ini
bisa membuatku disukai Maralva, maka aku tidak punya pilihan lain.
Demi rencana besar, hal sekecil ini sangatlah mudah.
Tanpa kusadari Vischio dan Silverg sudah tidak terlihat
lagi, mungkin mereka melarikan diri karena muak mendengar ceramah Maralva.
Para selir tampaknya sudah terbiasa atau sudah menyerah,
mereka terus memberikan tanggapan hampa seperti mainan yang rusak. Kambase pun
terlihat sudah sangat kelelahan.
"Ngomong-ngomong, Deabold. Aku sudah penasaran sejak
tadi, pedang panjang itu…… buatannya sangat bagus ya."
Seolah tidak puas hanya dengan Artifact, mata kecil
Maralva melirik tajam ke arah pedang panjang yang kusandang, dan dia menjilat
bibirnya dengan tatapan seperti pemburu yang mengincar mangsa.
"Sepertinya
itu sisik naga, ya?"
"Seperti
yang diharapkan dari Tuan Maralva. Pengamatan Anda sungguh tajam. Ini adalah Ryurin
Mijinnuri-zaya Tachi Koshirae—pedang Tachi dengan sarung hiasan serbuk
sisik naga."
Sesuai namanya,
sarung pedang yang ditaburi sisik naga hijau itu berkilau layaknya prisma,
memancarkan wibawa yang tenang.
"Berikan
padaku."
Maralva berucap
dengan nada perintah mutlak, wajahnya menyeringai buruk. Dia mungkin berniat
mengintimidasi, tapi karena sosoknya sama sekali tidak punya wibawa, dia malah
terlihat konyol.
Aku memutar otak,
menimbang apakah harus menyerahkan pedang ini atau tidak.
Maralva mulai
sedikit menyukaiku. Sebagai pengguna Heal, bawahan yang cekatan,
sekaligus teman bicara yang menyenangkan, tidak akan ada orang di Kota Emas
Domina Domina yang bisa menggantikanku.
Sekalipun
aku menolak memberikan pedang ini, aku tidak terancam dibunuh.
Kalaupun
dia benar-benar ingin membunuhku, aku tinggal bersujud meminta maaf saat itu
juga.
Urusannya akan
selesai. Maralva hanyalah pria yang mudah dikendalikan, persis seperti Bowman.
"……Mohon
ampun, Tuan Maralva. Meski ini perintah Anda, saya mohon jangan yang satu
ini."
"Rakyat
jelata sepertimu berani menentangku? Kau tahu kan apa akibatnya?"
Dengan wajah
murka, Maralva mengangkat Gratvolg—tombak pembantai naga yang baru
kuberikan—dan mengarahkan ujungnya padaku.
Namun, karena
tidak terbiasa menggunakan tombak, posisinya sangat canggung dan tidak ada
ketegangan sama sekali. Meski begitu, aku memasang ekspresi terpojok sambil
menatapnya.
"Ini adalah
kenang-kenangan berharga dari mendiang guru saya……"
Aku mulai
bercerita dengan air mata yang menggenang di sudut mata.
Guru saya adalah
sosok yang lembut, cerdas, meski terkadang ceroboh; beliau sudah seperti ibu
bagi saya. Pedang ini adalah peninggalannya.
Bagi saya, ini
adalah harta tak ternilai yang penuh dengan kenangan.
Karena itu, meski
ini permintaan Tuan Maralva, saya tetap tidak bisa menyerahkannya…… Begitulah
ceritaku. Tentu saja, itu semua bohong.
Tapi karena aku
mengucapkannya dengan penuh emosi, kredibilitasnya pasti meningkat.
"Hoo."
Mendengar kisah
sedih karanganku, Maralva mengeluarkan suara menjijikkan dari tenggorokannya
dan menyipitkan mata dengan licik.
"……Aku
mengerti situasinya. Kali ini kau kumaafkan. Gufu. Gufufu."
Pedang tanpa nama
tapi dengan hiasan megah, pembangkangan rakyat jelata terhadap bangsawan,
ditambah nilai emosional sebuah kenang-kenangan—perpaduan itu tampaknya memicu
minat sadis Maralva.
Terlihat jelas
dia sedang menikmati bayangan tentang bagaimana cara merebutnya dariku nanti.
"Sebagai
gantinya, kau harus menemaniku di pesta perjamuan akhir pekan ini."
Maralva meneguk
habis sebotol High Potion miliknya.
"Perjamuan,
Tuan? Apakah orang
seperti saya pantas hadir?"
"Aku berniat
melakukan uji coba senjata sebagai hiburan. Dengan Heal milikmu, aku
bisa menebas mereka sepuasnya."
Tragedi di
Colosseum terlintas di benakku. Aku menggigit bibir bawah agar tidak ketahuan
olehnya.
Dia pasti berniat
menggunakan Gratvolg atau senjata buatan Vischio untuk mengadakan
pertunjukan pembantaian yang mengerikan.
"Bowman juga
akan ikut. Bersama Vischio, ini akan jadi acara keluarga Goldbarrel. Gufu, gufufu. Kau juga ingin
bertemu Bowman lagi, kan?"
"……Saya
mengerti."
Aku
menerima undangannya dengan tenang, sementara dalam hati aku menyeringai lebar.
◆◇◆
Saat
akhirnya aku terbebas dari Maralva, matahari telah terbenam, dan Kota Emas
Domina Domina mulai riuh oleh hiruk-pikuk malam.
Kambase tampak sangat lelah dan terus terdiam.
Suasana distrik hiburan Central Capital saat malam hari penuh dengan
nafsu yang pekat, tidak baik untuk kesehatan mental. Lebih baik segera pergi dari sini.
Tanpa bertukar
kata, kami berjalan pelan menuju tujuan yang sama.
Dulunya Kambase
dan yang lain tinggal di gubuk reot yang menempel pada fasilitas kerja bawah
tanah, tapi sekarang mereka tinggal dengan tenang di Apartment yang
kusiapkan.
Karena
lokasinya dekat dengan tempat tinggalku, kami harus menembus Darkest Market.
Pasar
gelap raksasa itu dipenuhi atmosfer beracun yang berbeda dari distrik hiburan.
Chaos
yang luar biasa—multinasional, tanpa kewarganegaraan, legal, ilegal—semuanya
bercampur aduk seperti panci gelap yang tumpah.
Teriakan
dan gelak tawa terdengar di mana-mana, tapi tempat ini jauh lebih nyaman
dibanding kebisingan kaum borjuis yang berminyak.
Kegelapan
Darkest Market adalah kontras yang nyata bagi kemilau distrik hiburan.
Bisa dibilang, dualitas inilah daya tarik utama Domina Domina.
Lentera-lentera
yang dipasangi Seal Arts memancarkan cahaya neon kuning dan pink
menyengat, menerangi kegelapan malam dengan cara yang aneh.
Di
gang-gang sempit, toko-toko berhimpitan, bangunan-bangunan ganjil yang
dipaksakan dari kayu dan seng bertumpuk ke atas tanpa aturan.
Poster-poster
bertuliskan "Aman karena telah diperiksa keselamatannya oleh Keluarga
Goldbarrel" tertempel di mana-mana, tapi itu justru terlihat sangat
mencurigakan.
Tekanan
dan kolusi Keluarga Goldbarrel terlihat jelas di baliknya.
Toko
senjata, pelindung, pengolah Seal Arts, apotek, toko buku, hingga toko
loak—segala jenis toko ada di sini.
Namun
yang jumlahnya paling mendominasi adalah bar dan rumah bordil.
Orang-orang
menelan kekecewaan terhadap bangsawan dengan alkohol murah, dan saling
menghibur kecemasan akan hari esok dengan bualan.
Darkest
Market yang
seperti labirin tanpa jalan keluar ini perlahan-lahan menyeret pengunjungnya ke
dalam kegelapan, persis seperti sarang semut singa.
Secara
pribadi, aku tertarik pada toko-toko spesialis di sini.
Toko palu
perang, perisai, pedang besar, pedang panjang nagamaki, hingga sabit
berantai—deretan yang unik khas kota perdagangan.
Sayangnya,
semuanya sepi karena tekanan tirani bangsawan dan resesi ekonomi.
"Kambase."
Saat
memasuki gang di samping teater kecil yang sudah tutup, aku memanggil namanya
dengan pelan.
Di sini
jarang ada orang, dan kita bisa segera menyadari jika ada yang datang. Tempat
yang tepat untuk pembicaraan rahasia. Kambase menatapku dengan curiga, lalu
melangkah ragu ke dalam gang.
"Kenapa
kau mencoba membunuh Goldbarrel tadi?"
Mendengar
pertanyaanku yang tiba-tiba, tubuh Kambase menegang dan dia melangkah mundur.
Seketika, gejolak Mana yang jernih seperti air salju bangkit.
Persis
seperti sebelumnya, dia bersiap merapalkan mantra serangan. Tapi, aku segera
mengangkat kedua tangan untuk menunjukkan bahwa aku tidak punya niat buruk.
"Aku
tidak bermaksud menyalahkanmu. Aku hanya ingin tahu niat yang kau
sembunyikan."
Kambase tetap
menatapku tajam sambil mempertahankan aliran Mana-nya. Sepertinya
dia tidak akan menurunkan kewaspadaannya dengan mudah. ……Yah, kalaupun dia
menyerang, aku punya banyak cara untuk membalasnya.
"Aku tidak menyembunyikan apa pun."
"Meskipun kau berpura-pura menjadi Beastman?"
Saat aku menunjuk telinga rubah di kepalanya, mata Kambase
membelalak. Pupil matanya bergetar, memancarkan emosi antara terkejut dan
terguncang. Kemudian, dia memancarkan niat membunuh yang nyata bersamaan dengan
ledakan Mana.
"Blaze!"
Kambase
meneriakkan nama mantra api itu, melepaskan api biru ke arahku.
Biasanya mantra
api berwarna merah, tapi milik Kambase adalah biru menawan—bukti bahwa itu
mengandung Mana dengan kemurnian tinggi.
Blaze biru ini punya daya rusak besar; jika
terkena langsung, luka fatal tak akan terelakkan.
Namun, tepat
sebelum menghantam tubuhku, api biru itu lenyap seolah mencair.
Kambase tertegun,
menatap kosong ke arah api yang telah musnah menjadi uap.
"Sayang
sekali, itu adalah Talisman."
Aku mengeluarkan
gantungan kunci yang sudah hangus dari saku dalam mantelku.
Talisman adalah alat sihir yang dipasangi Seal
Arts dari mantra pembatal sihir, Confine. Bentuknya bermacam-macam,
mulai dari aksesori, jimat, hingga mainan.
Seal Arts pada Talisman akan aktif secara
otomatis saat pemiliknya terkena serangan sihir, dan menetralkannya satu kali.
Targetnya hanya terbatas pada mantra serangan agar tidak membatalkan efek alat
sihir lain di kota secara sembarangan.
Sebagai catatan, membawa banyak Talisman sekaligus
tidak disarankan karena mantra Confine di dalamnya akan saling
berbenturan dan menyebabkan bug.
"Talisman murah seperti gantungan kunciku ini
akan hancur setelah sekali pakai, tapi barang mewah bisa digunakan
berkali-kali. Mahkota Maralva jelas
adalah Talisman performa tinggi. Sembilan puluh persen kemungkinan
Vischio juga memakainya."
Mata
Kambase membelalak lebar mendengar penjelasanku. Aku sampai khawatir bola
matanya akan copot.
"Jadi,
seranganmu tadi pasti akan gagal karena Talisman mereka, meskipun aku
tidak menghalangimu. Itu terlalu ceroboh."
Lagipula,
dengan adanya Gold Knight yang bersiaga, membunuh Maralva dan Vischio di
situasi tadi adalah hal yang mustahil.
Bahkan bagiku pun
mustahil untuk melakukannya tanpa ada korban jiwa.
"…………Maafkan
aku."
Termasuk
serangannya padaku tadi, Kambase meminta maaf dengan suara yang lembut.
Ketajamannya yang
biasa dan hawa dingin yang menjauhkan orang lain memudar; Kambase yang sekarang
tampak seperti gadis remaja yang polos.
"Aku sudah
lama menahan diri terhadap tingkah laku Goldbarrel. Aku tahu mereka memang
bajingan. Tapi, saat melihat belati buatan Vischio itu, aku tidak bisa menahan
emosiku lagi——"
Suara
Kambase bergetar seolah hendak menangis saat dia menyentuh telinga rubahnya.
Detik
berikutnya, telinga rubah itu berubah bentuk menjadi sesuatu yang sama sekali
berbeda.
"……Inilah
wujud asliku."
Di tempat
telinga rubah tadi berada, kini tumbuh dua tanduk tajam. Tanduk hitam legam
yang seolah menembus langit malam itu sangat kontras dengan rambut biru airnya
yang mistis, berkilau redup dengan warna yang membawa firasat buruk.
"Sudah kuduga…… seorang Oni."
Kambase bukanlah
Beastman, melainkan Oni.
Mana yang jernih, kekuatan mantra api yang
tinggi, dan berbagai elemen yang tidak menyerupai Beastman—semuanya masuk akal
jika dia adalah seorang Oni.
Alasan dia
menolak Heal di fasilitas bawah tanah pasti karena takut struktur organ Mana-nya
akan membongkar identitasnya.
"Mantra itu
adalah bagian dari ilmu gaib Omokage Gozen, bukan?"
"……Kau benar-benar tahu segalanya, ya."
Sambil mendesah
pelan dan mengangkat bahu, Kambase menunjukkan ekspresi kagum yang melampaui
rasa terkejutnya.
"Iya, kau
benar."
Sambil merasa
antusias melihat teknik Omokage Gozen untuk pertama kalinya, aku
mengingat kembali informasi dari literatur kuno di Ruang Arsip Khusus
Perpustakaan Kekaisaran.
Ilmu gaib adalah
teknik asal-muasal yang diciptakan oleh ras Oni. Berbeda dengan Seal Arts modern, teknik
ini membutuhkan proses rumit seperti lantunan mantra dan medium tertentu.
Meski
mengonsumsi Mana dalam jumlah masif, ia mampu menghasilkan kemampuan
yang jauh lebih kompleks dan ganjil. Namun, karena ilmu gaib sejatinya adalah teknik ritual, ia sama sekali
tidak memiliki kemampuan menyerang.
Segala prosesnya,
termasuk lantunan mantra, hanyalah sarana untuk mempersembahkan doa kepada alam
dan leluhur.
Hampir seluruh
sihir yang beredar saat ini sebenarnya meniru sistem ilmu gaib yang telah
dipangkas proses rumitnya hingga batas maksimal. Tentu saja, kebenaran tersebut
telah dikubur dalam kegelapan sejarah.
Kini sangat
sedikit orang yang tahu keberadaannya, apalagi yang bisa menggunakannya.
Omokage Gozen yang digunakan Kambase adalah ilmu gaib
untuk mengubah bagian kepalanya dengan bebas. Kambase hanya mengubah tanduknya
menjadi telinga rubah, tapi ia bisa saja mengubah wajahnya menjadi orang lain.
Namun, karena ini
hanya mengubah penampilan, karakteristik unik seperti penciuman tajam Beastman
atau kualitas suara tidak bisa ditiru.
Hal yang
mengerikan dari Omokage Gozen adalah kemampuan kamuflase yang membuat Mana
miliknya tidak dapat dideteksi oleh orang lain. Bahkan aku yang selalu
mencurigai Kambase pun tidak bisa menyadarinya.
Setiap ilmu gaib
mengonsumsi Mana yang sangat besar. Namun, Kambase tetap mempertahankan
wujudnya bahkan saat bekerja di fasilitas bawah tanah.
Itu adalah
keahlian yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Oni yang jumlah total Mana-nya
berkali-kali lipat dari manusia biasa.
"Jadi, apa
rencanamu sekarang? Kudengar siapa pun yang menangkap Oni akan mendapat imbalan
besar dari bangsawan."
"Lagipula,
kalau kau memang seorang penyihir, kau pasti sangat menginginkan tandukku,
kan?"
Kambase
merentangkan kedua tangannya dengan senyum mencela diri sendiri. Ia tidak
menunjukkan niat untuk melawan sedikit pun.
Sepertinya
ia sudah menyerah setelah identitas aslinya terbongkar olehku, seorang penyihir
Kekaisaran yang patuh pada bangsawan.
Aku
menyunggingkan senyum lembut.
"Menginginkan
bagian tubuh manusia? Tolong jangan samakan aku dengan sampah seperti
Maralva."
"Eh?"
Mendengar
kata-kataku yang blak-blakan, Kambase mengeluarkan suara konyol dan mematung
dengan mulut ternganga.
"Waduh,
sepertinya sebagai penyihir Kekaisaran, aku tidak boleh bicara begitu ya. Ahaha! Tolong lupakan saja. Rahasia ya,
rahasia!"
Aku berpura-pura
panik secara berlebihan untuk mencairkan suasana.
"……Kau
ini orang yang aneh, ya."
"Akan
kuanggap itu sebagai pujian."
Aku mengangguk
dengan wajah sombong yang penuh kepercayaan diri, membuat Kambase akhirnya
tertawa kecil. Ketegangan
Kambase mulai mencair, dan ekspresinya berangsur-angsur menjadi lebih lembut.
"Aku tidak
akan melakukan apa pun padamu. Tentu saja, aku tidak akan mengadukan
identitasmu. Jadi, tenanglah."
Kambase menatap
wajahku yang berbicara dengan tulus, lalu mengembuskan napas lega. Ia
menyandarkan punggungnya pada dinding bata tua dan mulai membuka suara dengan
sikap yang lebih rileks.
"Alasanku
berpura-pura menjadi Beastman adalah untuk mendekati bangsawan."
Kambase
mengelus tanduk hitam legamnya dengan lembut.
"Keluargaku
menggunakan Omokage Gozen untuk menyembunyikan identitas kami dan hidup
tenang di sebuah desa kecil. Namun delapan tahun yang lalu, identitas kami
terbongkar."
"Manusia
memaki kami sebagai ras iblis yang jahat, dan seluruh keluargaku dibunuh."
Kambase
menghentikan bicaranya sejenak dan berdeham pelan.
"Setelah
itu, manusia-manusia itu mencabut tanduk dari mayat mereka. Untuk dijual mahal
kepada bangsawan sebagai bahan pembuat senjata."
"Mereka
menggembar-gemborkan keadilan yang tidak masuk akal, padahal pada akhirnya itu
semua demi uang."
Ekspresi Kambase
saat bercerita terasa sangat dingin. Suaranya diwarnai oleh kutukan terhadap
kelemahannya sendiri yang hanya bisa melihat mereka mati tanpa daya.
Rasa bersalahnya
terlalu kuat. Seolah-olah wadah bernama Kambase itu bisa pecah kapan saja.
"Aku
melarikan diri dari desa dengan sisa tenaga yang ada dan berkelana tanpa
tujuan. Aku menggunakan Omokage Gozen untuk membaur di masyarakat
manusia."
"Aku
merangkak demi bisa bertahan hidup tanpa peduli caranya. Aku tidak punya waktu
untuk putus asa."
"Sebab,
ada sesuatu yang ingin kulakukan—tidak, sesuatu yang harus kulakukan."
Kambase
menatap tajam ke arah kegelapan malam sambil mengepalkan tinjunya. Di arah
pandangannya, terdapat patung batu Goldbarrel pertama yang mencuat dari
Colosseum.
Niat
membunuhnya yang terasah bahkan terasa indah untuk dilihat. Namun, jelas bahwa
dalam niat membunuh itu tidak ada rasa benci atau keinginan untuk balas dendam
pribadi.
Niat
membunuhnya sangat jernih. Dendam Kambase terhadap Goldbarrel bukanlah sekadar
masalah pribadi.
Bahkan kata
keadilan pun terasa terlalu dangkal untuk menggambarkannya. Jika harus disebut,
itu adalah sebuah kewajiban agung.
"Bagi Oni,
tanduk adalah kehormatan dan bukti keberadaan diri. Tanduk juga merupakan batu
nisan tempat jiwa bersemayam setelah kematian."
"Karena itu,
aku ingin mengambil kembali seluruh tanduk keluargaku—tanduk para Oni—dan
menguburkan mereka dengan layak."
Seluruh tanduk
para Oni. Itu artinya, termasuk empat tanduk milik Amatsumi sang Pemimpin Oni,
bukan?
Bahkan setelah
kematiannya, Amatsumi tetap dihina sebagai Tiga Penjahat Besar Kekaisaran.
Tanduknya yang mengandung Mana masif diolah menjadi Regalia
simbol bangsawan.
Kambase berniat
merebut kembali bahkan Regalia itu dari tangan bangsawan untuk
menyelamatkan jiwa mereka.
"……Begitu
ya. Jadi kau berpura-pura menjadi Beastman dan bekerja di fasilitas bawah tanah
untuk mendekati Maralva."
"Apa
menurutmu aku bodoh?"
Mendengar
pertanyaan Kambase, aku menggelengkan kepala dalam diam. Sama sekali tidak
bodoh.
Yang bodoh adalah
para bangsawan, dan sistem kebangsawanan itu sendiri yang membiarkan mereka
bertindak semena-mena.
Namun, kenyataan
bahwa tindakannya sangat mustahil tetap tidak bisa dihindari. Menjadikan
bangsawan sebagai musuh berarti menjadikan seluruh Kekaisaran sebagai musuh.
Meski begitu, aku
adalah orang yang paling paham bahwa menyuruhnya menyerah adalah hal yang
sia-sia. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.
Saat aku sedang
kebingungan, tiba-tiba suara kruyuuuk yang lucu bergema dari perut
Kambase.
"……Ah."
Sangat kontras
dengan topik pembicaraan tadi, reaksi jujur tubuhnya membuat wajah Kambase
memerah padam karena malu. Mungkin karena ia melewatkan makan malam demi
mendengarkan ceramah Maralva.
Aku tersenyum
lembut. Ini momen yang pas untuk mencairkan suasana.
"Kalau
begitu, ayo kita cari makan."
◆◇◆
"Enaknya……"
Kambase
menggumamkan kata-kata penuh suka cita saat mulutnya penuh dengan Omurice
yang kaya akan mentega. Kelezatannya membuat ia bersuara tanpa sadar; nada
suaranya terdengar sangat lembut dan ceria.
Ini sepertinya
pertama kali Kambase makan Omurice. Ia terus melahapnya dengan rakus
tanpa memedulikan sekeliling.
Melihat celah
antara sosok kerennya yang biasa dengan sosok polos khas gadis remaja ini,
insting kebapakanku terusik. Tanpa sadar aku terus menawarkan porsi tambahan.
Ngomong-ngomong,
tanduk di kepala Kambase sudah berubah kembali menjadi telinga rubah berkat Omokage
Gozen. Bahkan setelah tahu ia adalah Oni, telinga itu terlihat sangat asli
dari sudut mana pun.
Sifat Mana-nya
pun disamarkan menjadi milik Beastman. Bahkan penyihir paling hebat sekalipun
tidak akan bisa mengenali Kambase sebagai Oni saat ini.
Sambil menikmati Ruby
Salmon Meuniere di kursi depan Kambase, aku memandang sekeliling restoran
dengan santai.
Raden-tei, sebuah kedai rakyat dua lantai yang
terletak di salah satu sudut Darkest Market.
Bagian dalam
kedai yang diterangi cahaya jingga itu dipenuhi energi yang meluap-luap. Para Dwarf dan Elf saling
merangkul sambil minum bir dengan tawa.
Tidak ada
diskriminasi terhadap Beastman di sini. Semua orang mabuk dengan setara tanpa
memandang ras.
Karena Raden-tei
juga berfungsi sebagai cabang serikat petualang, sebagian besar pelanggannya
adalah prajurit kasar dan tentara bayaran yang tangguh. Banyak juga orang-orang
sangar yang kelihatannya punya masa lalu kelam.
Namun,
senyum mereka cerah. Anehnya, tidak ada jejak kegelapan sedikit pun di tempat
ini, sesuatu yang langka di Darkest Market.
Makanannya
pun lezat dengan harga murah, serta pelayan yang ramah. Tak heran kedai ini
menjadi salah satu tempat terpopuler.
Mungkin
membawa Hausie dan yang lainnya ke sini untuk berpesta di hari libur nanti
adalah ide yang bagus.
Aku
menghabiskan Meuniere-ku, lalu membasuh lemak gurih di mulut dengan air
berkarbonasi. Sambil menikmati sensasi segar, aku memperhatikan Kambase yang
tampak sedang menimbang-nimbang untuk menambah porsi lagi.
Setelah
itu, aku mengalihkan perhatianku pada gerak-gerik salah satu pelayan.
Seorang
pelayan wanita yang berlari ke sana kemari di dalam kedai yang panas itu,
bekerja dengan cekatan. Rambut oranyenya yang lembut diikat di kedua sisi.
Ia
memancarkan keberadaan yang cerah seperti bunga matahari di tengah musim panas.
Meski ia tidak segan-segan memperlihatkan lekuk dada dan kakinya yang indah,
anehnya tidak ada kesan vulgar sedikit pun.
Ia
memancarkan daya tarik kesehatan yang penuh energi. Namanya Bibisana, gadis idola Raden-tei.
Usianya kulihat
seumuran dengan Kambase. Nama belakangnya tidak diketahui, tapi itu hal biasa
bagi penduduk Darkest Market.
Pemilik kedai ini
kabarnya sedang beristirahat karena sakit pinggang, jadi saat ini Bibisana yang
mengelolanya sebagai pengganti.
Bibisana bergerak
lincah mengantarkan makanan dan minuman, meneriakkan pesanan ke dapur yang
bising dengan suara lantang. Ia mengobrol dengan senyum cerah tanpa rasa takut
kepada para pelanggan yang berwajah penjahat.
"……Hei,
Jagid. Sejak tadi kau melirik pelayan itu terus, apa kau suka tipe wanita
enerjik seperti dia?"
Ditatap dengan mata menyelidik oleh Kambase, aku hanya mengangkat bahu dan tersenyum tipis.
"Tidak.
Hanya ada sesuatu yang sedikit mengganjal di pikiranku."
Aku
berkelit sekenanya. Kambase mengerutkan alis, tampak tidak puas dengan
jawabanku.
Namun,
perhatiannya segera teralih ke buku menu. Ia mulai galau memilih Omurice
mana yang akan dipesan untuk porsi tambahan.
Apakah topping Mentaiko?
Keju? Atau sekalian saja pakai Hamburger Steak yang mengenyangkan?
Saat aku
sedang meladeni konsultasi Kambase yang kebingungan itu…… tiba-tiba, terdengar
suara pertengkaran yang tidak menyenangkan dari kursi yang agak jauh.
"Tidakkah
kau merasa terhina karena menjilat ampas keluarga Silvarg itu?!"
Suara
bentakan serak bergema dibarengi bunyi meja kayu yang digebrak keras.
Pemilik
suara itu adalah seorang pria manusia berusia lima puluhan dengan jubah kumal. Wajahnya merah padam, entah karena mabuk
berat atau karena amarah.
"Kami juga
terpaksa bersabar melakukannya!"
Yang membalas si
pria mabuk dengan suara berat adalah seorang pemuda Dwarf yang gempal. Di
sampingnya, seorang pemuda Elf yang bergaya pesolek ikut melototi si pria
mabuk.
"Cuih!
Justru karena anak muda seperti kalian terlalu banyak bersabar, kami yang
tua-tua ini jadi kena getahnya!"
"Gunakan
masa muda kalian untuk melakukan satu saja perlawanan terhadap
Goldbarrel!"
"Ja-jangan
bicara sembarangan! Kau tahu sendiri apa yang akan terjadi jika—"
"Hasil dari
perlawanan itulah si tua pemabuk ini! Kakkakkak!"
Si pria mabuk
tertawa terbahak-bahak setelah meracaukan hal-hal yang tidak masuk akal.
Pemuda Dwarf dan
Elf itu mengepalkan tinju dengan ekspresi gemas.
Aku menilai
situasi ini akan meledak jika dibiarkan, lalu aku segera bergegas berdiri. Aku
menyelinap di antara si pria mabuk dan pemuda Dwarf itu sembari menyibakkan
mantelku dengan gagah.
"……Geh!"
Pemuda Elf yang
menyadari lambang bintang di mantelku bergumam dengan ekspresi pahit,
"Tentara Kekaisaran, ya……."
Ia menarik pelan
lengan si pemuda Dwarf. Pemuda Dwarf itu pun menyadari kalau aku adalah tentara
Kekaisaran.
Mereka berdua pun
pergi terbirit-birit karena merasa suasananya menjadi tidak enak.
"Cih!
Dasar orang-orang lemah!"
Si pria
mabuk mencela mereka, lalu duduk kembali dan meneguk habis minuman keras
berwarna ambar di gelasnya.
"……Jadi
kau orangnya? Penyihir yang dirumorkan telah memperbaiki fasilitas kerja bawah
tanah itu."
Aku terkejut
karena ternyata hal itu sudah menjadi rumor tanpa kusadari.
Padahal aku
berniat untuk tidak menarik perhatian dulu untuk sementara waktu…….
Mungkin para
Beastman yang ceria dan suka bicara seperti Hausie telah menyebarkan topik ini
ke mana-mana.
"Kau
terlihat sangat memihak para Beastman, sebenarnya apa yang kau rencanakan?
Dasar anjing bangsawan!"
Mendengar si pria
mabuk terus menghina penyihir Kekaisaran, para berandal di sekitar yang tadinya
berwajah merah karena mabuk langsung pucat pasi dan mulai berbisik-bisik gaduh.
"O-oi! Tuan
Peaberry! Kalau kau bicara begitu dan sampai terdengar ke telinga
Goldbarrel—"
"Tidak
apa-apa, kok."
Untuk menenangkan
para berandal yang khawatir, aku melepas mantel mantel seragam Kekaisaranku
dengan gerakan santai.
"Lihat,
dengan begini aku sudah di luar jam tugas."
Aku berniat
memberikan sedikit pertunjukan kecil yang elegan, namun reaksi orang-orang di
sekitar tidak begitu bagus.
Sepertinya rasa
tidak percaya dan ketidakpuasan terhadap tentara Kekaisaran—dan para
bangsawan—memang sudah sedalam itu.
Aku meyakinkan
diri sendiri bahwa ini bukan karena aktingku yang buruk.
Setelah berdeham
pelan, aku mengalihkan pandangan kepada pria mabuk yang dipanggil Tuan Peaberry
tadi.
"Ngomong-ngomong, mungkinkah Anda adalah Dr.Peaberry?"
"……Sekarang aku bukan Dokter atau apa pun itu. Hanya
kakek tua pemabuk."
Dr.Peaberry menjawab dengan nada ketus, lalu menatap botol
minuman yang kosong dengan penuh kebencian.
"Sebab, Keluarga Goldbarrel telah merampas segalanya
dariku."
Pastoro Peaberry. Dia adalah pria yang hingga beberapa tahun
lalu menjabat sebagai kepala museum sejarah di Kota Emas Domina Domina.
Aku ingat cerita seorang pengajar di Akademi Sihir
tentangnya.
Ia memberikan kritik keras kepada Maralva yang lancang
mengasah pedang Otachi bernilai sejarah tinggi sesuka hatinya.
Akibatnya, ia memicu amarah Maralva. Museumnya dihancurkan,
ia kehilangan pekerjaan, ditinggal anak istrinya, dan akhirnya
terlantung-lantung di jalanan…….
"Sialan!
Dasar Goldbarrel……! Padahal mereka sama sekali tidak paham nilai dari
sejarah……!"
Amarah tampaknya
meluap seiring dengan rasa mabuknya. Dr.Peaberry memukul meja dengan kepalan
tangan sambil memasang wajah yang mengerikan.
Kalau dia tahu
Maralva menggunakan Zouteiken sebagai sandaran siku, mungkin darahnya
akan naik ke kepala dan dia bisa mati karena marah.
"Lagipula,
keberadaan bangsawan itu sendiri sudah merupakan sebuah kesalahan!"
Oh.
"Empat Pahlawan? Party Pahlawan? Jangan bercanda! Mereka itu cuma penjajah!"
"Mereka
menjadikan Oni sebagai ras iblis, merenggut nyawa, merampas wilayah, mencuri
teknologi, dan akhirnya menjadi hama yang melahap habis Kekaisaran! Orang-orang
seperti mereka tidak mungkin seorang pahlawan!"
Para berandal di
sana hanya terdiam seribu bahasa mendengar pernyataan Dr.Peaberry tanpa
melontarkan satu pun ejekan.
Bagi banyak orang
yang tidak mempelajari sejarah yang benar, pernyataan Dr.Peaberry hanyalah
dianggap sebagai teori konspirasi murahan.
Meskipun mereka
tidak puas dengan tirani dan kesewenang-wenangan, mereka takut akan diincar
bangsawan jika menyuarakannya.
Menjadikan
bangsawan sebagai musuh akan membuat keseharian mereka hancur dengan sangat
mudah.
Itulah sebabnya,
orang-orang memalingkan mata dari kejanggalan politik bangsawan, menganggap
sejarah yang benar sebagai teori konspirasi, dan terpaksa menerima keadaan apa
adanya.
Inilah
penyimpangan bernama kebijakan pembodohan rakyat yang diciptakan oleh
masyarakat bangsawan selama bertahun-tahun.
"Hah, mulai
lagi deh."
Bibisana yang
sedang mengantarkan Omurice mendesah sambil mengangkat bahu dengan nada
bosan.
Namun, di balik
ekspresinya itu, mau tak mau aku merasa melihat kilasan sesuatu yang terasa
segar.
Mungkin saja,
meski tidak ditunjukkan secara terang-terangan, pemikirannya sama dengan Dr.Peaberry.
"Eei!
Tidakkah kalian merasa malu! Kalian malah makan Masakan Pahlawan dengan
gembira!"
Dr.Peaberry
memelototi ayam goreng dan kentang goreng yang sedang dimakan para berandal
sambil berteriak-teriak.
Kambase
yang sedang melahap Mentaiko Cheese Hamburger Omurice diam-diam
menyembunyikan keberadaannya agar tidak ikut terseret.
Aku
setuju bahwa Empat Pahlawan itu jahat, dan fakta bahwa para bangsawan itu
hampir semuanya adalah sampah.
Namun,
menolak budaya Pahlawan yang sudah mengakar dalam kehidupan sehari-hari itu
sudah berlebihan.
Bukan
hanya teknologi dasar seperti alat penerangan dan sanitasi, tapi bahasa
universal yang tersebar di dunia ini asalnya adalah budaya dunia lain yang
dibawa oleh Pahlawan.
Hal-hal seperti
itu perlu dipisahkan satu sama lain.
"Jika kau
orang Niflheim asli, makanlah masakan tradisional Bennupoyansoy!"
"Be-bennu…… poya?"
Bibisana memiringkan kepala mendengar kata yang asing di
telinganya itu.
Dulu, karena resep Bennupoyansoy ada di perpustakaan,
aku pernah mencoba membuatnya karena penasaran.
Rasanya
kering seperti sedang mengunyah padang pasir yang dipadatkan, benar-benar tidak
enak.
Jika masakan
tradisionalnya seperti itu, masuk akal jika Masakan Pahlawan bisa menyebar
luas.
"Bennupoyansoy memang bagus, tapi Potato
Salad juga enak, lho."
Aku mencicipi sedikit Potato Salad yang dipesan
Kambase, lalu duduk di kursi depan Dr.Peaberry.
Kambase menatap Potato Salad-nya dengan wajah sedih
karena aku ambil sedikit, jadi aku memesankan satu porsi tambahan untuknya.
Maaf ya, Kambase.
Meski sekarang sudah jadi pemabuk berat, Dr.Peaberry adalah
orang yang berbakat.
Pengetahuannya sebagai sarjana sangat meyakinkan, ia
memiliki semangat perlawanan terhadap bangsawan, dan yang terpenting, ia punya
keyakinan yang tak tergoyahkan.
Termasuk sifat keras kepalanya, ia adalah salah satu sumber
daya manusia yang mutlak dibutuhkan dalam rencanaku. Aku ingin menjalin koneksi
di sini.
"Oh?"
Aku bersuara—berusaha agar tidak terdengar terlalu
dibuat-buat—saat menyadari ada sebuah buku saku yang tergeletak di dekat tangan
Dr.Peaberry.
Sampulnya berwarna hitam menyeramkan dengan punggung buku
berhiaskan sisik naga hijau. Halaman-halamannya
yang memudar terlihat meskipun buku dalam keadaan tertutup.
Tidak ada judul
yang tertulis di mana pun, tapi aku tahu identitas asli buku itu. Tidak, aku
sangat mengenalnya.
"Itu adalah Hedolonomicon,
kan? Terlebih lagi, ini adalah Edisi Revisi Kedelapan."
"Mu! Tepat
sekali seperti katamu…… tapi bagaimana kau bisa tahu?"
Wajah Dr.Peaberry
sempat berbinar sejenak, namun ia segera memasang wajah kaku kembali dengan
alis yang berkedut.
Buku Hedolonomicon
itu sudah terlihat sangat usang, namun bukan karena diperlakukan dengan kasar,
melainkan karena tanda-tanda telah dibaca berulang-ulang kali.
Mengingat ia
membawanya bahkan sampai ke kedai minum, sudah pasti ini adalah buku
favoritnya.
"Sebab, aku
pun sangat suka membacanya."
Aku mengeluarkan
buku Hedolonomicon Edisi Revisi Kedelapan dari saku dadaku.
Aku tidak
melewatkan momen saat wajah Dr.Peaberry langsung melunak ketika melihat tingkat
keusangan buku milikku.
Hedolonomicon adalah catatan harian penyihir wanita
bernama Hedoloa yang hidup tujuh ratus tahun lalu.
Keistimewaannya
adalah catatan hasil penelitian masa awal sihir yang ditulis bersamaan dengan
situasi Kekaisaran saat itu dalam gaya bahasa yang sinis dan jujur.
Namun, buku yang
beredar sekarang sebagian besar telah dipalsukan oleh Keluarga Eterna,
keturunan penyihir, dan isinya tidak lagi asli karena adanya manipulasi opini
yang jahat.
Edisi Revisi
Kedelapan yang disusun oleh para cendekiawan pemberani diterbitkan dalam bentuk
yang paling mendekati catatan asli Hedoloa, namun telah ditetapkan sebagai buku
terlarang yang harus dibakar oleh Keluarga Eterna.
Aku
mendapatkannya secara rahasia melalui koneksi di Perpustakaan Kekaisaran,
sementara Dr.Peaberry mungkin membelinya lewat jalur belakang di Darkest
Market.
"Jika bicara
soal buku pelajaran sihir, standarnya bukan Hedolonomicon melainkan Jirulda
Text, tapi aku merasa skeptis dengan buku itu…… atau lebih tepatnya, aku
menolaknya."
Aku melirik
mantel tentara Kekaisaran yang tersampir di sandaran kursi, lalu tertawa santai
sambil berkata, "Yah, agak gawat sih kalau seorang penyihir Kekaisaran
bicara begini."
Dr.Peaberry tidak
tersenyum, tapi sudut mulutnya sedikit melunak.
"Sebab aku
bukan penggemar Jirulda si Penyihir N. Eterna dari legenda Empat Pahlawan,
melainkan penggemar Hedoloa si 'Penyihir Genangan'."
"……Masih
muda tapi selera yang langka, ya."
Dr.Peaberry
mengelus punggung buku Hedolonomicon dengan ujung jarinya, lalu
mengangguk pelan.
"Namun,
Hedoloa adalah salah satu dari Tiga Penjahat Besar Kekaisaran. Ia terus
dicela sebagai wanita jahat yang kejam, egois, dan pencemburu."
"Selain itu,
ia juga dikabarkan menjalin hubungan dengan Raja Iblis…… meski begitu, kau
masih berani menyebut dirimu penggemarnya?"
Suara bentakannya
tadi entah hilang ke mana, kini Dr.Peaberry berbicara dengan nada intelektual
layaknya seorang sarjana.
"Aku tidak
suka menggunakan dualitas baik dan jahat dalam membahas sejarah……."
"Terlepas
dari itu, fakta bahwa ia menjalin hubungan dengan Raja Iblis sudah cukup
membuktikan bagiku bahwa Hedoloa adalah orang yang memiliki akal sehat."
Dr.Peaberry
mengangguk dalam sambil merenungkan setiap kata-kataku, dan perlahan-lahan ia
mulai menyeringai lebar.
"Sebab
menurut pemikiranku, Raja Iblis Amatsumi adalah orang yang sangat baik."
Mendengar
jawabanku yang dibarengi seringai, Dr.Peaberry langsung melonjak berdiri dari
kursinya.
"Tepat
sekali!"
Kambase yang
sedang melahap Omurice di sudut kedai juga mengangguk pelan namun
mantap.
"Baik Raja
Iblis maupun Hedoloa adalah orang baik, mereka adalah korban yang tertindas
oleh sejarah sang pemenang!"
"Justru
Jirulda si Penyihir N. Eterna itulah wanita jahat yang kejam, egois, dan
pencemburu! Dia menulis sihir komposit hasil pengembangan Hedoloa ke dalam Jirulda
Text seolah itu karyanya sendiri, lalu mencaci-maki Hedoloa!"
"Merampas
hasil kerja keras orang lain memang keahlian para bangsawan, bukan hanya
Goldbarrel saja. ……Waduh, barusan itu aku salah bicara. Tolong lupakan
saja."
Dr.Peaberry
menyemburkan minumannya saat aku berakting konyol.
Kemudian, emosi
positif yang tadi terpendam oleh amarah dan mabuk meledak seketika, dan suara
tawa kerasnya bergema di seluruh kedai.
"Kakkakkak!
Kau berani juga bicara begitu!"
Dr.Peaberry yang
sedang dalam suasana hati yang sangat baik mulai menyantap Potato Salad
dengan lahap, sepertinya ia merasa lapar setelah antusias mengobrol.
"Aku memang
bukan penyihir, tapi aku sudah membaca habis Hedolonomicon sebagai buku
sejarah. Sebenarnya, aku juga penggemar Hedoloa. Penggemar berat malah.
Sindiran humoris dan pilihan katanya yang seksi itu benar-benar luar
biasa."
Dr.Peaberry
membalik halaman buku Hedolonomicon dengan tangan yang terbiasa, lalu
mulai menceritakan kehebatan Hedoloa dengan wajah senang, "Misalnya bagian
ini, nih."
"Iya, aku
mengerti. Di tengah dunia yang gelap saat Kekaisaran mulai digerogoti oleh para
Pahlawan, tulisan Hedoloa yang tetap bersikap tegar tanpa berputus asa
benar-benar meresap ke dalam hati."
Untuk beberapa
saat kami mengobrol seru tentang kehebatan Hedoloa, lalu berlanjut ke diskusi
sejarah untuk memperdalam kedekatan kami. Setelah itu, Dr.Peaberry pergi ke
toilet dengan ekspresi puas.
Sepertinya ia
merasa sangat senang sehingga rasa mabuknya terasa nikmat. Ia sudah
menghabiskan seluruh Potato Salad-nya.
"Luar biasa
ya kau bisa akrab dengan Tuan Peaberry!"
Bibisana, si
gadis idola kedai, menyapa dengan nada suara yang penuh semangat. Ia menatap
wajahku lekat-lekat dengan matanya yang besar, lalu memancarkan senyum cerah
tanpa beban.
"Paman itu
selalu mabuk dan membuat masalah, semua orang di sini sampai bingung
menghadapinya karena tidak ada yang mau meladeninya. Tentu saja, aku tahu dia
bukan orang jahat."
"Ahahaha,
dia memang lebih keras kepala daripada Dwarf biasa, sih."
Bibisana
menanggapi setuju dengan jawaban polos, "Iya, benar sekali!"
Ada kecerahan
yang muncul dari dasar hatinya tanpa ada sedikit pun kesan sinis. Itu bukan
sekadar semangat yang dibuat-buat, melainkan kekuatan prinsip yang tak
tergoyahkan.
Kecerahan dan
kekuatan Bibisana entah kenapa terasa mirip dengan sosok Hedoloa yang terpancar
dari tulisan-tulisannya di Hedolonomicon. Mungkin itulah alasan Dr.Peaberry
sering datang ke kedai ini.
"Aku bisa
menangani berandal yang temperamental, tapi aku payah menghadapi orang pintar
yang rumit. Soalnya aku sendiri tidak berpendidikan. Kau benar-benar sangat
membantu, terima kasih! Ini, silakan dinikmati sebagai tanda terima
kasih!"
Bibisana
memberikan sebuah Sorbet dengan aroma sitrus yang menyegarkan. Sorbet
yang segar ini sangat pas sebagai hidangan penutup setelah makan.
"Terima
kasih. Aku senang karena aku suka makanan manis."
"Kau suka
makanan manis? Cowok tampan yang suka makanan manis itu punya kesan gap yang
menarik, ya."
Begitu Bibisana
memujiku secara langsung, tatapan cemburu langsung menusukku dari segala
penjuru kedai.
Mereka pasti
salah paham dan mengira Bibisana menaruh minat padaku. Sekali lagi, aku
menyadari betapa populernya Bibisana.
"Lalu, aku
juga memberikan layanan tambahan untuk temanmu itu."
Bibisana memberi
isyarat dengan matanya ke arah Kambase yang matanya berbinar melihat seporsi
besar Omurice.
Aku
benar-benar terkejut sekaligus kagum dengan nafsu makan Kambase yang tak
berdasar.
Apakah ia masih
mau makan lagi?
Meskipun ras Oni
memiliki metabolisme tinggi sehingga butuh porsi makan banyak, tapi ini
benar-benar luar biasa.
"Silakan
datang lagi kapan saja. Aku akan memberimu servis tambahan. Kurasa kau bisa
menjadi teman bicara yang baik bagi Tuan Peaberry."
"Tentu
saja."
Bibisana menatap
wajahku dalam-diam, lalu mendekatkan wajahnya hingga sangat dekat sambil
mengerutkan dahi. Jaraknya begitu dekat hingga ujung hidung kami hampir
bersentuhan.
Sebenarnya aku
tidak keberatan berdekatan dengan wanita cantik seperti ini, tapi aku ingin ia
segera menjauh sebelum rasa cemburu orang-orang di sekitar berubah menjadi niat
membunuh yang nyata.
"Jagid
Deabold, penyihir jenius yang diusir dari Kekaisaran…… hmm. Aku sudah dengar
rumornya, tapi ternyata kau itu——"
Setelah terdiam
sesaat, Bibisana berbicara dengan senyum yang merekah.
"——Terlihat
sangat mencurigakan, ya!"
Aku mematung
saking terkejutnya, sampai-sampai hampir jatuh dari kursi.
Berani-beraninya
dia menyebut orang yang baru saja dibantu dan dipujinya sebagai orang
mencurigakan tepat di depan wajahnya……. Tingkat kengeriannya berbeda dengan
Kambase.
"Ah! Maaf
ya! Ini bukan hinaan, kok. Maksudku mencurigakan dalam arti yang bagus, atau
mungkin mencurigakan yang terasa menyegarkan!"
"……Apa itu
bisa dianggap sebagai pujian?"
Melihatku
mengangkat bahu dan tertawa kecut, Bibisana tertawa terbahak-bahak.
Aku sempat
waspada, jangan-jangan ia secara intuitif menyadari rencanaku atau maksud
terselubungku padanya……. Namun melihat senyumnya yang tanpa topeng itu,
sepertinya aku hanya terlalu khawatir.
Bibisana adalah
matahari yang bersinar terang dengan kepolosan yang luar biasa. Justru karena
itulah, untuk mengukur kegunaan keberadaannya, aku sengaja mengubah suasana dan
berbicara dengan nada berat.
"Ngomong-ngomong, apa pendapatmu tentang Keluarga
Goldbarrel?"
"Tiba-tiba bicara apa? Kau jadi bicara soal politik
seperti Tuan Peaberry juga……."
"Hanya rasa
penasaran yang jujur."
Aku menatap tajam
ke arah Bibisana yang tampak bingung sambil tertawa canggung, lalu menyambung
kata-kataku dengan ekspresi serius.
"Tidak usah
pedulikan fakta bahwa aku adalah tentara Kekaisaran. Aku hanya ingin tahu apa
pendapat idola Darkest Market tentang Kota Emas Domina Domina saat
ini."
Mendengar
pertanyaanku, Bibisana memiringkan kepala dengan wajah serius dan mulai
berpikir dalam.
Sepertinya ia
tidak terbiasa dengan topik semacam ini, namun fakta bahwa ia tidak
mengabaikannya dan memikirkannya dengan sungguh-sungguh memberikan kesan yang
sangat baik bagiku.
Aku merasa telah
menemukan satu lagi alasan mengapa ia begitu populer.
"Keluarga Goldbarrel itu sudah tidak bisa tertolong
lagi."
Bibisana
melontarkan kata-kata itu dengan nada suara yang blak-blakan.
"Soalnya,
para Tuan Bangsawan itu memang sudah tidak bisa apa-apa lagi, kan? Mereka
memutarbalikkan hukum sesuka hati, mereka terlihat lebih berkuasa daripada
Kaisar, jadi tidak ada gunanya orang biasa sepertiku berpendapat apa pun."
"Bahkan
Revolusi Beastman lima tahun lalu pun, pada akhirnya tidak mengubah apa-apa
meskipun para Beastman diperlakukan tidak adil……."
Bibisana
mengacak-acak rambut oranyenya yang lembut dengan kedua tangan, lalu
melontarkan kata-kata penuh keluhan dengan ekspresi yang tampak sudah menyerah
sepenuhnya.
"Aku ini
tidak berdaya!"
Namun, bertolak
belakang dengan arti kata-katanya, suara Bibisana terdengar sangat penuh
semangat.
"Jadi,
setidaknya aku ingin membuat Darkest Market…… tidak, setidaknya kedai Raden-tei
milikku ini menjadi cerah! Kalau cuma segitu, aku pun bisa melakukannya."
"Aku
memang tidak bisa menyelesaikan ketidakpuasan semua orang, tapi aku ingin
mereka bisa bersenang-senang meskipun hanya sedikit selama berada di kedai
ini!"
Perkataan
Bibisana memang terdengar kasar, dan jika salah dengar, bisa dianggap sebagai
sikap masa bodoh. Namun ekspresi dan nada suaranya menunjukkan bahwa ia tidak
bersikap masa bodoh ataupun menyerah.
Bibisana
menerima kenyataan tentang masyarakat bangsawan yang korup, namun ia tidak
pernah menyerah dan terus berusaha maju dengan melakukan apa yang bisa ia
lakukan. Itu adalah kecerahan yang memiliki isi, berbeda dari sekadar pemikiran
positif yang kosong.
Ia
dipenuhi energi yang sanggup membuat orang percaya bahwa ia mampu memukul balik
segala kesulitan.
"Itu
sangat luar biasa."
Aku
mengangguk dengan ekspresi tenang sambil berpura-pura tetap kalem.
Keputusanku
datang ke Raden-tei hari ini adalah pilihan yang sangat tepat. Selain
bertemu dengan Dr.Peaberry, aku juga berhasil mencapai tujuan awal. Ini adalah
pencapaian yang luar biasa besar.
Nah,
sekarang tinggal urusan dengannya——.
Aku
mengganti fokus pikiranku, lalu melirik Kambase yang sudah dalam kondisi
kenyang setelah melahap habis Omurice-nya.
◆◇◆
"Tempatnya
sangat nyaman sampai-sampai kita mampir cukup lama, ya."
Setelah
memastikan Dr.Peaberry sudah pulang, aku dan Kambase meninggalkan Raden-tei
dengan perasaan senang satu sama lain.
Sebagai catatan,
Kambase telah menghabiskan total empat piring Omurice, satu piring Omurice
porsi besar, dua piring Potato Salad, serta tambahan satu set ayam
goreng porsi gunung. Ia terlihat sangat puas lahir dan batin.
Gang-gang di Darkest
Market yang sempit dan semrawut dipenuhi oleh kerumunan pemabuk.
Suara nyanyian
dari penyair keliling terdengar di kejauhan, bercampur aduk dengan gelak tawa
riang dari para penari dan wanita penghibur.
"Hei,
Jagid."
Saat aku sedang
melihat-lihat pedagang kaki lima yang menghamparkan permadani tua untuk menjual
Talisman berbentuk aneh, suara dingin Kambase menghentikanku dari
belakang.
Setelah melirik
sejenak ke arah telinga rubah yang menyatu dengan rambut biru mistisnya, aku
mengalihkan pandangan ke wajah Kambase.
Suasana tegang
yang berbeda jauh dari saat ia sedang lahap memakan Omurice mulai
terlihat jelas.
"Sebenarnya
apa yang kau sembunyikan?"
Kambase bertanya
secara singkat sambil menatap lurus ke mataku.
"Menyembunyikan?
Memang sih, aku menyembunyikan berbagai camilan rahasia di dalam saku……."
"Aku sudah
paham kalau kau menyimpan dendam terhadap bangsawan. Itulah sebabnya aku bisa
mengerti kenapa kau tidak menghukumku meskipun tahu identitas asliku."
"Namun,
membiarkan tujuanku tanpa menegurnya itu benar-benar aneh."
Kambase
mengabaikan candaan konyolku dan terus berbicara dengan tenang.
"Lagipula,
kau berbeda dari pemikir seperti Pastoro Peaberry. Ini hanyalah intuisi tanpa
dasar logika, tapi…… kau terlihat seperti menyembunyikan sesuatu yang jauh
lebih fundamental."
Pertanyaan
Kambase hanyalah didasari oleh rasa janggal yang samar.
Akan
sangat mudah untuk membungkamnya jika aku berkelit sekenanya. Mungkin dengan
begitu segalanya akan berakhir dengan lebih tenang.
Namun.
Melihat
sorot mata Kambase, hatiku bergetar dengan cara yang mengejutkan bahkan bagi
diriku sendiri.
Tekad
yang bersemayam di mata Kambase sangatlah murni dan jernih.
Perasaan
yang ada di sana adalah sebuah kewajiban agung yang murni untuk mendoakan
sesama kaumnya.
Dalam
ingatanku yang membeku, aku merasa sosok Kambase tumpang tindih dengan diriku
di masa lalu.
Jika aku
membiarkan Kambase begitu saja, ia akan menyerang bangsawan sendirian,
menjadikan Kekaisaran sebagai musuh, dan hancur dalam sekejap.
Meskipun
kemampuan Kambase tinggi dan memiliki ilmu gaib Omokage Gozen, tidak
mungkin untuk menjungkirbalikkan dunia hanya dengan kekuatan militer semata.
Ia hanya
akan berakhir diinjak-injak seperti Revolusi Beastman lima tahun lalu.
Yang
terpenting, ada Sleek di tentara Kekaisaran. Sleek Annhelion, Ksatria Suci
terkuat di Kekaisaran yang dijuluki sebagai Fifth Regalia.
Tidak ada
satu pun orang di dunia ini yang bisa mengalahkannya dalam hal kekuatan
militer. Aku, sebagai sahabatnya, adalah orang yang paling tahu tentang itu.
Itulah
sebabnya, satu-satunya cara untuk menghancurkan masyarakat ini bukanlah dengan
kekuatan militer, melainkan dengan strategi muslihat.
Saat ini,
rencanaku berjalan dengan sangat lancar. Bergabungnya variabel tidak terduga seperti
Kambase tidak akan menggoyahkan rencanaku.
Jika
rencanaku sampai goyah dan aku tidak bisa memperbaikinya, berarti rencanaku
memang hanya sebatas itu saja.
Aku bukannya
tergerak oleh perasaan iba. Namun bukan berarti aku bermaksud menjadi orang yang tidak punya
perasaan.
Aku akan menempuh
jalan yang kuyakini dan menuntaskan rencanaku.
Membuang Kambase
justru akan menjadi pengkhianatan terhadap diriku sendiri.
Andaikan Kambase
berkhianat pun—tidak, ia tidak akan berkhianat.
Sebab, Kambase
sama dengan diriku yang dulu.
Setelah meyakini
hal itu, aku mengembuskan napas pendek.
"Bicara
padamu berarti akan melibatkanmu, apakah kau tidak keberatan?"
Kambase
mengangguk dengan ekspresi mantap menjawab pertanyaan pelanku. Sepertinya
jawabannya memang sudah sangat jelas.
"Mari
pindah tempat sedikit."
Meskipun
di sekitar sini hanya ada pemabuk, akan sangat berbahaya jika rencana ini
sampai terdengar oleh orang lain.
Aku
memutuskan untuk pindah ke gang yang tadi sempat kami gunakan.
Tempat
itu jauh dari kedai dan rumah bordil, serta jarang dilewati orang, sehingga
sangat cocok untuk pertemuan rahasia.
"Nah."
Setelah
sampai di gang samping teater kecil yang tutup, aku kembali memusatkan
perhatian pada aliran Mana di sekitar.
Mendeteksi
aliran Mana sudah menjadi kebiasaanku sehari-hari, namun apa yang akan
kubicarakan sekarang berkaitan dengan prinsip dasarku. Aku harus lebih waspada
dari biasanya.
"Kau
tidak perlu tegang begitu. Santai saja, nih."
Aku
mengeluarkan permen karamel yang kubeli dari pedagang kaki lima di jalan tadi,
lalu melemparkan sebutir kepada Kambase.
"……Akan
kumakan nanti."
Kambase
memasukkan karamel itu ke dalam kantong di pinggangnya, lalu menatapku dengan
sorot mata yang seolah mendesak.
Aku
berniat untuk meredakan ketegangannya…… namun saat berpikir sampai di situ, aku
tersadar. Ternyata yang sedang tegang bukan siapa-siapa, melainkan diriku
sendiri.
Menunda
pembicaraan dengan Kambase, memberikan berbagai alasan, hingga mengandalkan
camilan, semuanya kulakukan untuk meredakan keteganganku sendiri.
Karena
aku akan menceritakan rahasia yang tidak pernah kuungkapkan kepada siapa pun
selama sepuluh tahun, aku jadi merasa gugup, tidak seperti biasanya.
Sambil
merasakan keterkejutan dan sedikit rasa senang karena ternyata masih ada sisi
manusiawi dalam diriku, kali ini aku benar-benar membulatkan tekad dan mulai
merangkai kata-kata.
"Kota ini
adalah mikrokosmos dari Kekaisaran."
Sambil mengulum
permen karamel di dalam mulut, aku menatap Colosseum yang berada di balik
kegelapan malam, serta patung batu Goldbarrel pertama.
"Central
Capital, tempat di mana segelintir orang kaya yang terhubung dengan
bangsawan menikmati kemewahan. Darkest Market, labirin hasrat tempat
ketidakpuasan terhadap bangsawan dan kecemasan akan hari esok bertumpuk. Serta Deep
Side, sudut jurang pemukiman kumuh tempat keputusasaan tidak masuk akal
yang diciptakan bangsawan menyebar luas."
Di antara
ketiganya, Deep Side telah menjadi zona tanpa hukum yang membuat siapa
pun ingin memalingkan mata.
Orang-orang
yang kehilangan tempat tinggal akibat tirani bangsawan terpaksa menjual tubuh
mereka sendiri, tunduk pada kekerasan geng, dan bergantung pada obat-obatan
untuk menetralkan keputusasaan mereka agar tetap bisa hidup. Atau, mereka
menyerah pada hidup dan jatuh ke dalam kehancuran.
"Dalam
struktur tiga lapis Kota Emas Domina Domina ini, orang-orang menjilat
bangsawan, menanggung kesewenang-wenangan, dan pura-pura buta terhadap tragedi
yang terjadi. Sebab sudah sangat jelas bahwa melawan bangsawan akan berakhir
dengan kehilangan segalanya, seperti Dr.Peaberry."
Tidak, Dr.Peaberry
jauh lebih beruntung karena ia tidak dibunuh. Ada begitu banyak orang yang
menderita kekejaman tak terhingga karena melawan bangsawan—mulai dari mereka
yang seluruh keluarga dan temannya dibantai, hingga mereka yang kampung
halamannya dibumihanguskan.
Kenyataannya,
banyak junior di Perpustakaan Kekaisaran yang juga menjadi korban.
Mengingat
kembali kejadian-kejadian yang diceritakan junior-juniorku sambil menangis, aku
mengepalkan tinju sambil gemetar karena amarah.
"Apa
kamu tahu tentang insiden pembantaian yang terjadi tiga tahun lalu di Darkest
Market dan Deep Side?"
"Ya,
tentu saja. Korban pembantaian membabi buta yang terjadi setiap malam itu...
ada empat belas orang. Aku baca di koran kalau pelakunya ditangkap oleh Gold
Knight dan dieksekusi oleh Viskio Goldbarrel di Colosseum."
"Orang
yang dieksekusi itu cuma kambing hitam. Pelaku aslinya adalah orang lain."
"Eh...?"
Aku
mengunyah karamel yang sudah meleleh, lalu menelan rasa muak itu dalam-dalam.
"Pelaku
aslinya sangat bodoh sampai-sampai meninggalkan banyak bukti di lokasi
kejadian, dan wajahnya pun sudah dikenali banyak orang. Meski begitu, dia tidak
pernah ditangkap."
"Jangan-jangan..."
Kambase
yang peka sepertinya sudah bisa menebak siapa pelaku aslinya, wajahnya seketika
pucat pasi.
"Ya,
pelaku aslinya adalah Bowman Goldbarrel. Putra kedua Maralva."
Aku mengernyitkan
dahi saat membayangkan pria obesitas dengan kumis tempelan itu. Dia adalah
Kepala Perpustakaan Kekaisaran sekaligus mantan atasanku, sosok yang mengusirku
dari ibu kota.
"Bukti-bukti
dilenyapkan dan orang-orang tidak berani menyebut identitas pelaku aslinya,
semua itu karena Bowman adalah bangsawan Goldbarrel."
Setelah insiden
itu dianggap selesai, Maralva mengatur segalanya agar Bowman mendapatkan
jabatan Kepala Perpustakaan Kekaisaran. Mereka menyebutnya promosi, tapi
kenyataannya itu hanyalah tempat persembunyian sampai masalahnya mereda.
Meski begitu,
Bowman yang sudah menjadi kepala perpustakaan tetap saja menyebarkan reputasi
buruknya di ibu kota.
"Putra
sulungnya, Viskio, melakukan perburuan manusia dengan kedok ekspedisi, lalu
mengolah mayat mereka menjadi senjata. Prajurit keluarga Goldbarrel dan tentara
Kekaisaran ikut mengawal ekspedisi itu, dan biayanya dibayar menggunakan
pajak."
"Semua itu
diizinkan hanya karena Viskio adalah bangsawan Goldbarrel."
Hanya dengan
membayangkan berapa banyak nyawa yang dikorbankan demi memuaskan nafsu sampah
seperti mereka, amarah dan rasa sesak yang luar biasa memenuhi kepalaku.
"Lalu,
Maralva sendiri punya hobi mengumpulkan orang secara acak untuk dijadikan
sasaran uji coba senjata dan membantai mereka dengan kejam. Tak perlu ditanya
lagi... itu pun diizinkan karena Maralva adalah bangsawan Goldbarrel."
Bowman melakukan
pembantaian karena meniru ayahnya, dan Viskio menciptakan senjata aneh demi
menyenangkan Maralva.
Maralva yang
tidak berguna baik sebagai ksatria maupun penguasa adalah wujud nyata dari
segala kebusukan Goldbarrel.
"Tapi, bukan
berarti keluarga Goldbarrel saja yang tidak normal. Keluarga Eterna,
Merribirth, maupun Misericorde, semuanya berisi sampah yang serupa."
"Yang
benar-benar tidak normal adalah sistem masyarakat bangsawan itu sendiri, yang
memberikan hak istimewa kepada sampah-sampah ini dan membiarkan mereka bebas
bertindak."
Hak istimewa
bangsawan bisa melampaui hukum dengan mudah, menyebarkan ketidakadilan, dan
menginjak-injak nyawa demi keserakahan yang rendah.
Etika dan
moral sudah tidak ada sejak awal.
Kesewenang-wenangan
bangsawan tidak bisa dihentikan oleh tentara Kekaisaran, bahkan oleh Kaisar
sekalipun. Sistem kelas bangsawan itu sendiri sudah membusuk dari akarnya.
Singkatnya,
dunia ini sudah gila.
"Karena
itulah, aku tidak keberatan mengotori tanganku dengan ilmu hitam atau teknik
terlarang demi tujuanku. Aku juga tidak peduli meski harus menghabiskan hampir
seluruh hidupku demi rencana ini."
"Sepuluh
tahun hidupku hanya ada untuk saat ini. Untuk menggulingkan kekuasaan yang
tidak adil, aku harus melawannya dengan cara yang tidak adil juga."
"Jagid...
tujuanmu sebenarnya adalah—"
"Mengakhiri
masyarakat bangsawan."
Aku langsung
memuntahkan jawaban itu sebelum Kambase sempat menyelesaikan pertanyaannya.
"Me-mengakhiri
masyarakat bangsawan...?"
Kambase
mengulangi kata-kataku dengan suara gemetar dan mata terbelalak.
Di dunia di mana
mengkritik bangsawan dianggap tabu, menyuarakan penggulingan bangsawan adalah
tabu di atas segala tabu. Aku tahu dia akan terperangah atau bahkan merasa
ngeri mendengarnya.
Tujuanku memang
sangat ceroboh, bahkan terlalu muluk. Pemabuk di Darkest Market mungkin masih
punya idealisme yang lebih masuk akal dibanding ini.
"Aku
akan memusnahkan para bangsawan dan mengubah dunia."
Aku
menyambung kalimatku untuk menegaskan bahwa ini bukan candaan ataupun igauan.
"……Jagid."
Kambase
menatap wajahku tanpa berkedip, lalu membuka mulutnya dengan ragu-ragu. Aku
bersiap mendengarkan makian atau cacian yang mungkin keluar.
Tentu
saja, aku tidak akan gentar apa pun yang dikatakannya sekarang.
"Di dunia
tempat tujuanmu tercapai nanti, apakah Oni bisa hidup dengan normal?"
Aku terpana
mendengar pertanyaan Kambase yang di luar dugaan, sampai-sampai aku kelu walau
sudah bersiap siaga. Di saat yang sama, aku merasakan panas di balik mataku.
"Tentu
saja."
Aku mengangguk
mantap untuk menunjukkan tekadku.
"Selain
mengakhiri masyarakat bangsawan, aku akan mengungkap sejarah palsu Empat
Pahlawan ke hadapan publik. Aku akan membersihkan nama Oni dari tuduhan ras
iblis yang kejam."
"Aku akan
menunjukkan hubungan asli antara ilmu gaib dan sihir, lalu memberitahu dunia
tentang kebenaran yang sesungguhnya."
Setelah itu, aku
akan memulihkan kehormatan para pahlawan sejati yang telah dihina selama tujuh
ratus tahun sebagai Tiga Penjahat Besar Kekaisaran; "Raja Iblis"
Amatsumi, "Kaisar Bodoh" Vester, dan "Penyihir Genangan"
Hedoloa.
Aku akan
mendoakan jiwa mereka dengan menyebarkan sejarah yang benar.
Bahwa Amatsumi
sebenarnya adalah pemuda Oni berhati lembut yang mendambakan hidup berdampingan
dengan Kekaisaran.
Bahwa Vester
sebenarnya adalah kaisar bijak yang berusaha melindungi Kekaisaran dari tangan
jahat Pahlawan sampai akhir hayatnya.
Bahwa Hedoloa
sebenarnya bekerja sama dengan Amatsumi dan Vester untuk berjuang demi
perdamaian.
"Jadi, di
dunia itu tidak perlu lagi menyembunyikan identitas sebagai Oni. Tentu saja,
tidak akan ada perburuan tanduk lagi."
"Sama
seperti manusia yang berhenti memakan daging manusia seiring perkembangan
peradaban, menggunakan tanduk Oni akan menjadi tabu di lingkungan budaya yang
maju."
Aku menatap lurus
ke arah Kambase, lalu berdiri perlahan dan merentangkan kedua tanganku
lebar-lebar. Seolah-olah melepaskan gairah yang meluap dari dasar hatiku.
"Oni,
Beastman, Manusia, Dwarf, maupun Elf. Semua ras bisa hidup berdampingan sambil
bergandengan tangan."
"Tidak
akan ada tirani yang tidak adil atau kesewenang-wenangan yang tidak masuk akal.
Sebuah dunia indah di mana orang yang benar akan mendapatkan balasan yang
setimpal."
Dunia
yang kubayangkan mungkin terlihat seperti coretan mimpi seorang anak kecil.
Tapi aku tahu betul kalau ini bukan sekadar teori kosong.
Sebab,
aku pernah melihatnya. Aku benar-benar pernah hidup di surga di mana semua ras
hidup dalam harmoni.
Jadi,
idealismeku bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan!
"Terdengar
sangat hebat."
Kambase
menjawab singkat dengan nada suara datar. Itu bukan simpati yang dibuat-buat,
bukan kebohongan, bukan juga ejekan atau cemoohan, melainkan jawaban yang
sangat alami.
"Kamu tidak
akan menertawakanku karena teori idealis yang konyol ini?"
"Habisnya,
aku merasa kamu pasti bisa melakukannya."
Kambase
menyipitkan mata dan tersenyum tipis sambil menatap wajahku. Matanya yang
jernih penuh dengan kilauan polos.
Jika bukan karena
kegelapan malam, matanya pasti sudah memantulkan wajahku seperti cermin. Aku
merasa lega karena tidak perlu melihat wajah seperti apa yang sedang
kutunjukkan sekarang.
"Kalau orang
lain yang mengatakan hal yang sama, aku mungkin sudah menendangnya."
Kambase
menepuk-nepuk paha sendiri dengan ekspresi yang sangat serius. Aku hanya
mengangkat bahu dan membalas dengan candaan, "Seram, seram."
"Jagid."
Walaupun
banyak hal di luar dugaan, aku tahu apa yang akan Kambase katakan selanjutnya.
"Biarkan aku
membantumu dalam rencanamu. Teknik Omokage Gozen milikku pasti akan
berguna untukmu."
Memang benar,
kemampuan mengubah wujud sangatlah praktis. Walaupun begitu, sebenarnya
menjalankan rencana ini sendirian saja sudah cukup bagiku.
Aku berniat
menggunakan koneksi atau orang-orang yang berguna, tapi itu hanya sebatas
memanfaatkan mereka. Sejak awal aku tidak pernah terpikir untuk bekerja sama
dengan siapa pun.
"Kalau aku
jadi pengsayat, kamu boleh membuangku kapan saja. Lagipula, posisiku sekarang
memang sudah sepantasnya dieksekusi tentara Kekaisaran karena gagal membunuh
Goldbarrel."
Begitu ya.
Kambase bisa ikut dalam rencanaku, dan aku bisa menggunakannya sebagai pion
yang nyaman. Ini adalah hubungan kaki tangan yang hanya memberikan keuntungan
bagi kedua belah pihak, tapi—
"—Kamu
bilang begitu karena tahu aku tidak akan bisa membuangmu, kan?"
"Entahlah,
siapa tahu?"
Kambase
menyeringai sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Gadis
yang licik."
"Tentu
saja, aku kan siluman rubah."
Aku
melirik Kambase yang sedang menyentuh telinga rubahnya sambil tersenyum, lalu
aku mengangkat bahu.
Bahkan
tanpa menghitung untung rugi, membiarkan Kambase yang berniat memusuhi
bangsawan sendirian akan lebih buruk bagi kesehatan mentalku daripada
membawanya serta. Anggap saja kemampuan berubah wujudnya adalah bonus.
"……Baiklah.
Mari kita menjalin hubungan kaki tangan."
Selama
sepuluh tahun aku terus mengasah diri sendirian demi rencana ini, aku tak
pernah menyangka hari di mana aku akan bekerja sama dengan gadis Oni akan tiba.
Namun,
ini juga bagian dari takdir. Mari berdoa semoga ini menjadi hubungan yang baik.
Kalaupun
ternyata ini hubungan yang buruk, aku tinggal menebas takdir itu sendiri.
Setelah
memastikan dalam hati bahwa tidak ada lagi ganjalan terhadap Kambase, aku
menjulurkan tangan kananku perlahan.
Lalu, aku
membiarkan Mana merembes hangat di telapak tanganku yang menghadap ke
atas.
"Mohon
bantuannya, Kambase."
Melihat
gerakanku, Kambase tersenyum lembut.
"Wawasanmu
luas juga, ya."
Kambase
juga menjulurkan tangan kanannya dan menumpukannya di atas telapak tanganku.
Di saat
yang sama, Mana yang hangat bercampur di antara telapak tangan kami,
mengeluarkan kehangatan seperti sinar matahari di musim semi.
Ini
adalah adat istiadat Oni untuk menunjukkan persahabatan dan memperjelas
hubungan kepercayaan melalui penyaluran Mana secara langsung.
Setelah
resmi menjalin hubungan kaki tangan, Kambase duduk di atas kerangka besi yang
menghadap ke arahku.
Ia tampak
sudah menurunkan kewaspadaannya dan mulai memercayaiku; ekspresinya terlihat
jauh lebih tenang.
Melihat
Kambase yang seperti itu, aku merasa lega dan baru saja hendak memasukkan
karamel ke mulut—saat itu juga.
"Kalau
begitu, apa kita akan segera membunuh Maralva Goldbarrel?"
Pernyataan
tiba-tiba dari Kambase membuatku tersedak dan spontan menyemburkan karamel itu
keluar.
"Kalau
kamu memberikan dukungan, aku bisa menggunakan Omokage Gozen untuk
menyamar menjadi selir Maralva dan membunuhnya."
"Tu-tunggu,
tunggu dulu. Jangan terburu-buru begitu."
Aku
memungut kembali karamel yang jatuh ke tanah, segera membersihkan kerikil yang
menempel, lalu memasukkannya lagi ke mulut. Sedikit terasa berpasir, tapi
kurasa tidak masalah.
"Ada
empat prajurit perkasa yang disebut Gold Knight yang selalu mengawal
Maralva. Selama mereka ada,
akan sulit melakukan pembunuhan meski kamu menyamar jadi selir sekali
pun."
"Kalau
begitu, apa itu berarti kita harus membunuh para Gold Knight lebih
dulu?"
"Tidak,
aku tidak akan membunuh para Gold Knight. Yang akan kuhabisi hanyalah
para bangsawan."
Aku
mengatakannya dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Mungkin karena
merasakan tekanan dari kata-kataku, Kambase sedikit menciut dan meminta maaf,
"Ma-maafkan aku."
"Katakanlah
pembunuhan itu mungkin dilakukan—dan kita bisa memusnahkan bangsawan secara
rahasia—itu tetap tidak akan menjadi solusi fundamental. Masyarakat hanya akan
kacau balau dan perebutan kekuasaan yang kotor akan pecah."
"Itulah
sebabnya, aku perlu memajukan rencana ini dengan mempertimbangkan apa yang akan
terjadi setelah masyarakat bangsawan berakhir."
Jika aku membasmi
keluarga Goldbarrel dari depan, bangsawan lain hanya akan mengambil alih Kota
Emas Domina Domina dan mengganti posisinya begitu saja.
Agar hal itu
tidak terjadi, aku harus menguasai keluarga Goldbarrel dan merebut kekuasaan
mereka.
Tentu saja, itu
bukan hal yang mudah. Namun, demi mewujudkan hal itulah aku telah
mempersembahkan sepuluh tahun hidupku.
"Untuk itu,
hal yang mutlak diperlukan adalah Regalia."
Aku membayangkan
pedang Bevelgius yang tersimpan di sarung senjata di pinggang Maralva
sembari merangkai kata-kata.
Empat Regalia
yang dimiliki oleh para bangsawan menjadi kekuatan pencegah, dan dengan menjaga
keseimbangan dunia, Kekaisaran telah membangun kedamaian selama tujuh ratus
tahun. Dalam satu sisi, itu adalah fakta.
Namun, jika
bicara lebih jujur, esensi dari kekuatan pencegah Regalia hanyalah
menakut-nakuti negara lain dengan senjata pemusnah massal dan menjalankan
politik ketakutan yang menguntungkan Kekaisaran.
Kenyataan bahwa
senjata sekonyol itu dimiliki oleh bangsawan adalah sebuah kegilaan.
Jika Maralva
hilang kendali dan menghunuskan Regalia, Kota Emas Domina Domina akan
hancur menjadi debu dalam sekejap.
Karena untuk
mengaktifkan Regalia, tidak peduli teknik, pengalaman, ataupun Mana;
selama orang itu adalah bangsawan, bahkan orang tidak berguna pun bisa
menggunakannya.
"Tapi, yang
bisa memiliki Regalia hanyalah mereka yang memiliki hubungan darah
dengan bangsawan. Selain itu, diperlukan ritual dengan kepala keluarga yang
sekarang."
Jika kepala
keluarga mati sebelum ritual dilakukan, hak kepemilikan Regalia akan
tetap berada pada kepala keluarga yang sudah mati itu.
Kemudian,
bangsawan lain akan bertindak sebagai perwakilan untuk melakukan ritual dan
memindahkan hak kepemilikannya kepada pewaris yang sah.
Berkat sistem
itulah, selama tujuh ratus tahun ini pewarisan Regalia tidak pernah
terputus.
……Itulah
informasi yang kudapatkan setelah menyelidiki segalanya di Perpustakaan
Kekaisaran.
"Singkatnya,
jika bukan keturunan dari Empat Pahlawan, maka tidak bisa memiliki Regalia.
Tentu saja, aku bukan keturunan mereka."
"Lalu,
bagaimana caranya? Katakanlah kamu menikah dengan keluarga bangsawan, tapi
karena tidak ada hubungan darah, pewarisan itu tetap mustahil………… Ha!
Ja-jangan-jangan!"
Kambase menutup
mulut dengan tangan dan pipinya merona merah.
"Kamu
berniat menikahi banyak putri bangsawan, membuat mereka melahirkan banyak anak,
lalu menyuruh anak-anak itu mewarisinya—"
"Jangan
berimajinasi yang aneh-aneh. Aku tidak akan melakukan hal serendah itu."
Aku
mengernyitkan wajah, menganggap ide itu seperti gaya keluarga Misericorde saja.
Yah,
memang benar aku pernah memikirkannya sekali dulu, tapi aku segera sadar itu
tidak realistis dan membatalkannya.
"Tenang
saja. Demi menguasai Regalia, aku sudah mempersembahkan sepuluh tahun
hidupku di Perpustakaan Kekaisaran."
Sambil
berkata begitu, aku menggenggam lembut lonceng kaca di dalam saku mantelku.
◆◇◆
Tiga hari
telah berlalu sejak aku menjalin hubungan kaki tangan dengan Kambase. Malam
itu, setelah selesai bekerja, aku mengunjungi kedai Raden-tei di Darkest
Market.
Seperti
biasanya, Raden-tei dipenuhi oleh para berandal. Dipimpin oleh Bibisana, para
pelayan berlarian membawa tumpukan makanan dan minuman keras, suasananya persis
seperti festival kecil.
Aku
bersembunyi di kursi pojok kedai sembari meminum Fire Berry Soda dan
mencuri dengar percakapan para berandal.
Sebagian
besar hanyalah topik cabul yang tidak berguna, tapi terlepas dari isinya,
mengumpulkan informasi dari rakyat jelata adalah hal penting dalam menjalankan
rencana.
Topik
utama para berandal tampaknya adalah tentang pesta perjamuan keluarga
Goldbarrel yang akan diadakan lusa.
Meski
tidak berani mengutarakan ketidakpuasan secara langsung, mereka tampak sangat
iri karena wanita-wanita cantik dari kedai minum dan rumah bordil dikumpulkan
untuk pesta itu.
Tiba-tiba,
aku menemukan sosok gadis telinga rubah berambut biru muda di kursi yang
berseberangan secara diagonal dari tempatku.
Itu
adalah Kambase yang entah sejak kapan sudah jadi pelanggan tetap di Raden-tei.
Tanpa
memedulikan kebisingan para berandal, ia sedang makan Meat Pie Omurice
dari menu rahasia dengan lahap. Tentu saja, porsi besar.
"Dia masih
saja makan dengan lahap," pikirku dengan perasaan geli.
Namun saat aku
melihat medali pelangi yang berkilauan di dekat tangannya, aku hampir saja
berteriak.
Itu adalah Super Secret Rare Medal bonus dari Peanut
Butter Marshmallow Pie.
Sepertinya Kambase sudah benar-benar kecanduan kue itu. Aku
sering melihatnya memakan itu saat waktu istirahat di fasilitas kerja bawah
tanah.
Tetap saja, mendapatkan Super Secret Rare Medal yang
bahkan belum kudapatkan sendiri... Kambase benar-benar mengerikan. Berapa
banyak Peanut Butter Marshmallow Pie yang sudah dia telan dalam waktu
sesingkat ini……!
Saat aku sedang merinding memikirkan nafsu makan Kambase
yang tak terukur, sebuah suara serak menyapa dari belakang, "Ternyata kamu
di sini!"
Aku menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya mengenakan
mantel usang—Dr.Peaberry—sedang berdiri membawa botol minuman keras dan gelas
dengan senyum senang.
Berkat diskusi sejarah yang seru sebelumnya, sepertinya dia
jadi sangat menyukaiku.
"Kalau tidak
ada kamu, rasanya tidak ada tantangan!"
Dr.Peaberry
duduk di depanku dan menuangkan minuman ke gelas. Saat aku menyodorkan Ham
Cheese Cracker yang kupesan sebagai camilan, ia menerimanya dengan senang
hati lalu tertawa lebar.
"Aku
dengar, Jagid-kun! Katanya kamu berhasil menggali Blood-Drenched Spear
Gratvolg! Nama senjata itu menyebar karena buku palsu konyol berjudul
Legenda Pembunuh Naga, padahal aslinya itu adalah peninggalan sejarah yang
sangat penting untuk membahas hubungan ras Beastman dan Dwarf!"
Sambil
memberikan tanggapan yang tepat agar Dr.Peaberry yang sedang antusias bercerita
merasa senang, aku membolak-balik buku menu yang tebal.
Aku ingin makan
hidangan penutup yang manis…… buah-buahan sepertinya enak, tapi makan kue
setelah sekian lama juga pilihan bagus.
Beradu argumen
dengan menu adalah salah satu kenikmatan tersendiri. Malam masih
panjang, biarlah aku galau sejenak.
"Lalu…… di mana Blood-Drenched Spear Gratvolg
itu sekarang!"
Melihat Dr.Peaberry yang bertanya sambil mencondongkan
tubuh, aku merasa tidak enak tapi tetap menjawab dengan jujur.
"……Sayangnya sudah aku persembahkan kepada keluarga
Goldbarrel."
Mendengar jawabanku, Dr.Peaberry mengerang dengan suara yang
sangat menyedihkan dan jatuh terkulai lemas.
"Sialaaan~! Guuu…… meski ini tak terhindarkan, tapi
tetap saja, sialaaan!"
Dr.Peaberry menggeliat karena marah, lalu menelan Ham
Cheese Cracker sekaligus dengan minuman keras. Akibatnya, tentu saja ia tersedak dan kali ini
menggeliat kesakitan secara fisik. Benar-benar paman yang merepotkan.
"Jagid,
makasih ya sudah datang hari ini. Kalau ada kamu, Tuan Peaberry jadi tidak
bertengkar dengan pelanggan lain, itu sangat membantu."
Saat diskusi
sejarah kami sedang memuncak, Bibisana datang menghampiri di sela-sela
kesibukannya melayani pelanggan.
Dr.Peaberry
membuang muka dengan ekspresi canggung dan menggumamkan sesuatu dengan suara
pelan.
Sementara itu,
Kambase sepertinya sudah kenyang makan Omurice dan sekarang tertidur
pulas dengan wajah menempel di meja.
Selain pekerjaan
di fasilitas bawah tanah, ia juga banyak membantuku dalam rencana ini, jadi
mungkin rasa lelahnya sudah menumpuk.
"Ini, Fruit
Cake tanda terima kasih!"
Begitu melihat Fruit
Cake yang diberikan Bibisana, mataku langsung terbelalak.
Di atas kue
dengan krim kocok yang melimpah, berjajar buah-buahan khas daerah gunung
berapi. Hanya dengan melihatnya saja, rasanya gula sudah terserap ke otak.
"Terima
kasih, Bibisana."
Setelah
menyampaikan terima kasih dengan cepat, aku mencondongkan tubuh dan menatap Fruit
Cake itu lekat-lekat.
Cave Kiwi, Fire Strawberry, Salamander
Orange, Magma Banana…… semuanya terlihat lezat sampai aku bingung
harus mulai makan dari mana.
"Ngomong-ngomong, kamu tahu tidak tentang insiden yang
baru-baru ini terjadi di Perpustakaan Kekaisaran?"
Bibisana duduk di kursi terdekat dan menyilangkan kaki
jenjangnya yang terlihat dari rok mini denimnya.
Meski para berandal yang mabuk menatapnya dengan penuh
damba, aku tetap tenang dan melahap Fruit Cake milikku.
"Insiden di perpustakaan?"
Tentu saja aku sudah tahu karena belakangan ini Kambase yang
menyamar jadi jurnalis koran lewat Omokage Gozen sudah mengumpulkan
informasi, tapi aku pura-pura tidak tahu dan memiringkan kepala.
Dibandingkan itu, harmoni antara Magma Banana yang
lumer di mulut dengan krim kocoknya benar-benar luar biasa.
"Katanya Kepala Perpustakaan melakukan kesalahan dan
merusak beberapa buku sihir kuno yang sangat berharga! Kaisar yang suka membaca
sampai murka, dan ibu kota jadi gempar. Apalagi, katanya si kepala perpustakaan itu mencoba melimpahkan
kesalahannya pada bawahannya, jadi dia makin dibenci!"
"Wah, parah
juga ya."
Sambil menikmati
rasa asam manis dari Cave Kiwi, aku mengangkat bahu.
Wajah menjijikkan
Bowman yang berminyak sempat terlintas di pikiranku dan membuatku mual, tapi
untungnya rasa lezat dari Cave Kiwi bisa menetralkannya.
"Padahal
perlindungan buku sihir kuno itu awalnya adalah pekerjaanku. Sebelum dimutasi
ke Kota Emas Domina Domina, aku sudah menyerahkannya pada juniorku yang
terpercaya, tapi tidak kusangka Kepala Perpustakaan Bowman akan melakukan hal
seperti itu……."
Bowman yang
selalu ingin menyaingiku pasti menjadi sombong dan merampas pekerjaan itu
secara paksa dari Violetta.
Tujuannya sudah
terbaca; dia pikir jika dia mengerjakan hal yang sama denganku, dia juga akan
dipuji.
Sayangnya,
sebagai penyihir level rendah, Bowman melakukan kesalahan fatal dan malah
merusak buku sihir kuno itu.
Masih saja
menjadi pria yang mudah dikendalikan dan bergerak sesuai skenarioku.
"Keterlaluan!
Buku sihir kuno yang disimpan di Perpustakaan Kekaisaran adalah harta nasional
yang paling berharga! Merusaknya... bahkan hukuman mati pun terasa terlalu
ringan!"
Dr.Peaberry
bergetar hebat seolah-olah seluruh tubuhnya adalah wujud dari amarah, dan ia
berteriak kencang hingga suaranya bergema di seluruh kedai.
Kambase
yang sedang tertidur langsung loncat kaget dan melihat sekeliling dengan
bingung.
"Lagipula,
perlindungan buku sihir kuno itu sulit dilakukan bahkan bagi penyihir tingkat
tinggi sekelas Ether Magnus dari Providence. Mana mungkin sampah
dari Goldbarrel itu bisa melakukannya!"
"Hee!
Jadi, Jagid yang biasa melakukan itu berarti sangat hebat, dong?"
"Bukan
cuma hebat lagi! Itu adalah sebuah pencapaian luar biasa!"
Berkat
pancingan Bibisana yang tidak disengaja, Dr.Peaberry mengubah emosinya dari
kemarahan pada Bowman menjadi kekaguman pada teknikku dan mulai bercerita
panjang lebar.
"Buku
sihir kuno yang luar biasa terdiri dari buku itu sendiri yang dibentuk dari
formula khusus, dan tulisannya pun diukir dengan Seal Art. Karena itu,
jika tidak disuplai dengan Mana berkualitas tinggi secara berkala, buku
itu akan hancur dengan mudah."
"Itulah
sebabnya perlindungan buku sihir kuno membutuhkan pengetahuan sihir yang luas
dan teknik Mana Control yang sangat halus. Ini adalah pekerjaan yang
terlihat sepele, tapi sebenarnya merupakan tugas yang sangat teliti dan tingkat
tinggi!"
"Aku
tidak begitu paham, tapi intinya Jagid itu super hebat ya!"
Meskipun
terus-menerus dipuji oleh Dr.Peaberry, ditatap dengan kekaguman murni oleh
Bibisana, dan menerima tatapan cemburu dari seluruh kedai, aku tetap tenang dan
terus memakan Fruit Cake-ku.
Hmm, enak
sekali.
Fakta
bahwa rumor dari ibu kota sudah sampai ke Darkest Market adalah bukti
bahwa masalah ini sudah membesar.
Bowman
pasti sedang ketakutan setengah mati. Apalagi, akhir pekan ini ada pesta
perjamuan keluarga Goldbarrel.
……Waktunya
sudah tepat.
◆◇◆
Langit
malam yang mendung terasa menekan dengan berat, dan Darkest Market di
tengah malam telah berubah menjadi pusaran kekacauan yang besar.
Di sudut
gang sempit, para wanita penghibur jalanan menjual bunga, para berandal sibuk
berjudi dengan drum bekas sebagai meja, dan penyair kumal memainkan akordeon
untuk memprovokasi para pemabuk.
Apakah
barang bermerek yang dijual pedagang kaki lima itu asli atau palsu, atau daging
apa yang digunakan dalam gorengan di kedai pinggir jalan, kekacauan yang ada
membuat hal-hal sepele seperti itu tidak lagi penting.
Ketidakwajaran
yang tidak mungkin ada di ibu kota, kini sudah menjadi pemandangan sehari-hari
yang biasa kulihat.
Setelah
menikmati makanan di Raden-tei, aku sedang dalam perjalanan pulang menuju
apartemen bersama Kambase—saat itu juga, aku merasakan gelombang Mana
berkualitas rendah yang bercampur dengan niat membunuh dari beberapa meter di
belakang.
Orangnya
mungkin merasa sudah bersembunyi, tapi niat membunuhnya sudah terbongkar jelas
bagiku.
Nah, apa yang
harus kulakukan pada Kambase?
Jika kami
berpisah di sini, ada kemungkinan hanya Kambase yang diincar.
Kalau begitu,
akan jauh lebih aman jika dia bersamaku.
"Jagid. Ada yang membuntuti kita."
Kambase berbisik agar tidak ketahuan oleh sekitar, lalu
memberi isyarat mata padaku.
Ketegasan dan kewibawaannya yang tenang membuatku tidak
percaya kalau tadi dia baru saja tertidur pulas karena kebanyakan makan Omurice.
Aku berkomunikasi dengan Kambase lewat tatapan mata, lalu
melangkah menuju arah yang berbeda dari apartemen.
Sambil memastikan niat membunuh berkualitas rendah itu tetap
mengikuti, kami sampai di sebuah teater kecil yang sudah terbengkalai di gang
yang sepi.
Di sini tidak akan ada orang yang melihat, dan fasilitas
kedap suaranya pun masih cukup bagus. Aku sudah melakukan survei sebelumnya,
jadi keamanannya tidak masalah.
"Repot juga ya kalau harus menyelidiki tempat seperti
ini."
Aku masuk ke dalam teater sembari mengobrol sekenanya dengan
Kambase agar terdengar oleh si pemilik Mana berkualitas rendah itu.
Karena lampu tidak menyala, bagian dalam teater sangat
gelap, dan lantainya yang penuh tambalan terasa rapuh serta berbahaya.
Aku hanya menerangi langkah kaki dengan teknik Wisp
seukuran biji kacang dengan cahaya minimal, lalu masuk lebih dalam sembari
menunjukkan celah yang sangat kentara.
Saat kami sedang melewati barisan kursi penonton yang rusak
menuju panggung bundar, aku merasakan Mana berkualitas rendah di
belakang tiba-tiba kacau dan meluap seketika.
Di saat
yang sama, suara serak berteriak "Blitz!" bergema di dalam teater.
"Protection."
Tanpa
bergeming, aku mengucapkan nama teknik itu dengan tenang terhadap serangan Mana
kasar yang mendekat dari belakang.
Seketika,
dinding semi transparan terbentuk menutupi punggungku.
Itu adalah teknik
Protection, yang memberikan massa pada Mana untuk menciptakan
dinding pertahanan sementara.
Serangan petir
yang tertahan oleh Protection meledak dengan suara keras, dan percikan
listriknya menerangi area sekitar sekejap.
Kemudian, sosok
pria gempal tampak sekilas dalam kegelapan.
Pria kerdil yang
tampak seperti versi Maralva yang diciutkan lalu dicuci sedikit.
Mengenakan
pakaian mewah bermerek yang mencolok dengan mantel tentara Kekaisaran di
luarnya, tidak ada manusia lain yang terlihat begitu tidak serasi selain dia.
Wajahnya yang
bengkak dengan kumis tempelan untuk memberi sedikit wibawa itu benar-benar
terlihat sangat memalukan.
Dia adalah Kepala
Perpustakaan Kekaisaran sekaligus putra kedua keluarga Goldbarrel, Bowman
Goldbarrel.
"Wah, wah!
Bukankah ini Kepala Perpustakaan Bowman yang baru saja membuat gempar ibu kota
karena gagal melindungi buku sihir kuno! Sungguh kebetulan ya kita bisa bertemu
lagi di tempat seperti ini~"
Aku sengaja
meninggikan suara dan tersenyum ramah sembari menatap Bowman.
"Masih saja,
senyum tipismu itu membuatku ingin muntah! Jagid Deabold!"
Bowman menggigit
bibir bawahnya karena kesal serangannya gagal, lalu menatapku dengan ekspresi
yang menyedihkan.
"Kamu pikir
kamu berhasil memancingku ke sini…… tapi sayangnya bagi kamu! Kamu hanyalah
tikus yang terjebak di dalam lubang. Para elit keluarga Goldbarrel sudah
mengepung teater ini! Fuhah! Fuhah!"
Mungkin karena
lehernya tercekik lemak, suara Bowman terdengar sesak saat ia tertawa sinis.
Wajahnya yang memang berminyak karena panik kini makin berkilau karena keringat
dingin.
"Pa-para
elit sudah mengepung……?"
Aku berpura-pura
terkejut untuk membuat Bowman makin besar kepala, lalu melangkah mundur satu
langkah.
Dengan
begini, seandainya ada serangan mendadak, aku bisa melindungi Kambase dari
jalur serangan teknik tersebut.
Apa yang
dikatakan Bowman adalah bohong.
Aku selalu
melakukan Mana Detection, dan aku sama sekali tidak merasakan Mana
ataupun niat membunuh dari orang-orang yang disebut sebagai elit di sekitar
teater.
Meskipun dia
adalah ksatria murni yang tidak menggunakan teknik sihir, selama dia adalah
makhluk hidup, dia akan menghasilkan Mana di dalam tubuhnya.
Dan bersama
dengan niat membunuh atau keberadaan mereka, Mana akan merembes keluar
secara alami. Sekalipun itu Beastman dengan jumlah Mana sedikit, tidak
mungkin mereka bisa lolos dari jaringan Mana Detection milikku.
Jika kelas master
seperti Hausie sih mungkin agak sulit, tapi aku sudah menyelidiki bahwa tidak
ada Beastman sehebat itu di bawah bawahan Goldbarrel.
Tentu saja,
meskipun ada elit yang menunggu, tidak akan ada masalah dalam hal pertempuran,
tapi akan lebih baik jika masalahnya sesedikit mungkin.
"Orang
picik sepertimu pasti tahu, kan? Bahwa pelaku asli insiden pembantaian tiga tahun lalu adalah aku! Dan
kejahatanku telah dilenyapkan oleh kekuatan ayahanda!"
Bowman yang
mengira aku takut pada para elit itu mulai memamerkan kekuasaannya dengan
bangga, lalu melompat ke atas panggung sembari menggoyangkan lemak perutnya
secara heboh.
Selain itu, ia
mengucapkan nama teknik cahaya "Wisp!" dengan suara melengking
yang aneh, dan memunculkan sumber cahaya berbentuk tidak karuan di belakangnya.
Sifat suka pamer itu benar-benar murni keturunan Goldbarrel.
"Singkatnya, jika kamu terbunuh di sini, aku tidak akan
dimintai pertanggungjawaban! Sebaliknya, aku akan menjadikannya kisah
kepahlawananku saat menumpas penyihir rakyat jelata yang jahat! Fuha!
Fuhaha!"
Diterangi oleh cahaya yang berkelok-kelok, Bowman tertawa
rendah dengan wajah mengerikannya yang berkilau.
Maaf saja jika aku mengatakannya, tapi meskipun dia
bertindak seolah-olah menjadi aktor utama di atas panggung, dia terlihat
seperti contoh nyata dari karakter yang ditakdirkan untuk kalah.
"Di ibu kota, keluarga Misericorde keturunan Pahlawan
itu sangat dominan sehingga aku tidak bisa melakukan uji coba tebasan. Sudah
lama sekali aku tidak menebas orang, rasanya mendebarkan! Apalagi bisa
membunuhmu, ini perasaan yang paling luar biasa! Fuhahah!"
Sambil berkata begitu, Bowman memegang gagang rapier emas di
pinggangnya.
Selama membiarkan Bowman terus berceloteh dengan bangga, aku
tetap waspada dan mencoba mendeteksi Mana di sekitar teater dengan
output maksimal, tapi aku tetap tidak merasakan tanda-tanda para elit
bersembunyi.
Ternyata
memang benar, Bowman hanya berbohong.
"Jagid."
Aku
menoleh ke arah Kambase di belakangku, ia sedang menatap Bowman dengan wajah
penuh kebencian.
Di
telapak tangannya, Mana kemurnian tinggi sedang berpusar. Ia
mengisyaratkan bahwa ia bisa menyerang dengan teknik api kapan saja.
Namun,
Bowman memiliki Talisman berkualitas tinggi.
Aku
melirik gelang emas norak di pergelangan tangan Bowman, lalu memberi isyarat
mata kepada Kambase untuk menghentikan serangannya.
Kambase
yang mengerti perlahan-lahan memadamkan gejolak Mana dari telapak
tangannya.
Talisman milik Bowman berbeda dari yang
biasa; karena menggunakan kristal Mana kelas tertinggi dari Kota Emas
Domina Domina, sistemnya tidak akan hancur meskipun menerima teknik penghilang
sihir Confine berkali-kali.
Sepertinya
pertahanan terhadap teknik penetrasi pun sudah sempurna.
Karena merasa
pertahanan terhadap penyihir sudah matang, Bowman berani menunjukkan dirinya di
hadapanku dengan penuh percaya diri.
……Aku bisa
membunuhnya seketika jika menggunakan teknik komposit kartu as-ku, tapi kurasa
membuang-buang biaya jika menggunakannya untuk orang sekelas Bowman.
"Nah! Mari
kita mulai pertunjukan pembantaian megah dari ksatria sihir Bowman
Goldbarrel!"
Bowman yang sudah
sepenuhnya merasa menjadi tokoh utama meneriakkan dialog penutupnya, lalu
menghunuskan rapier emas itu dari sarungnya.
Bilah rapier yang
diterangi cahaya Wisp itu tampak putih kebiruan pucat, dengan tekstur
halus yang menyeramkan. Pasti ini adalah buatan Viskio dari tulang Elf.
Benar-benar selera yang buruk seperti biasanya.
Bilah rapier itu
dipenuhi oleh ukiran Seal Art yang sangat halus. Dari tulisan kecil yang
khas, aku tahu itu adalah karya pengukir terkenal di ibu kota.
Fakta bahwa ada
beberapa tanda pengerjaan yang asal-asalan menunjukkan bahwa Bowman memaksanya
bekerja lewat koneksi bangsawan. Mungkin itu adalah bentuk perlawanan kecil
dari si pengukir.
"Ja-jangan-jangan,
Seal Art itu adalah...!"
Untuk membuat
Bowman makin besar kepala, aku berpura-pura terkejut dan ketakutan.
"Fuhah!
Benar! Ini adalah teknik Mana Boost yang akan memperkuat Mana-ku
yang memang sudah sangat kuat! Fuhoho!"
Sepertinya syarat
pengaktifan Seal Art telah terpenuhi, bilah rapier itu kini berwarna
merah tua. Dan aku merasakan Mana buatan yang membengkak di dalam tubuh
Bowman.
Teknik Mana
Boost adalah penguatan Strength yang melipatgandakan Mana
pengguna untuk sementara waktu. Namun, ada batas jumlah Mana yang bisa
ditingkatkan, sehingga senjata ini tidak berguna bagi penyihir tingkat atas.
Biasanya hanya
dipasang di tongkat sihir pemula, yang mana dalam satu sisi sangat cocok untuk
Bowman.
Bowman
berteriak melengking, lalu melompat menyerang seperti bola karet. Meskipun dia
berniat melakukan gerakan trik, tapi niat membunuhnya yang dangkal sangat mudah
terbaca, begitu pun dengan ujung pedangnya yang membidik leherku.
Aku
mencabut pedang Odachi dari pinggang dengan tenang, lalu menangkis
serangan Bowman tanpa menghunuskannya dari sarung pedang.
Selain
itu, aku memanfaatkan momentumnya untuk memukul rapier-nya hingga terlempar.
"A-apa!
Tidak mungkin...!"
Bowman
yang mengeluarkan suara menyedihkan sambil mengejar rapier yang terlempar ke
kursi penonton langsung kusambar dengan tebasan sarung pedang yang
menghancurkan gelang emasnya. "Prak!" Gelang itu hancur
berkeping-keping dengan suara murahan, dan kristal Mana-nya bergulir
jatuh.
"Spike."
Menyadari
aku mengucapkan nama teknik dengan tenang, Bowman panik dan meneriakkan nama
teknik pertahanan.
"P-p-pro,
Protection!"
Dinding
pertahanan tidak tembus pandang dengan bentuk aneh menutupi Bowman, namun
gelombang kejut Mana tajam yang kulepaskan menembusnya dengan mulus.
Teknik Spike yang menerapkan sistem Confine pada serangan memang
bisa menembus pertahanan sihir.
"Gyaaah!"
Bahu
kanannya tertembus oleh teknik Spike, Bowman berteriak menyakitkan lalu
jatuh terduduk.
"Aduh...
sa-sakit... sakit, fuhahfuu... Berani-beraninya kamu! Berani sekali kamu
melakukan ini! Aku ini bangsawan! Aku Goldbarrel!"
Pemandangan
Bowman yang berguling-guling sembari memamerkan kekuasaannya benar-benar
terlihat sangat menyedihkan.
"Apa kamu
tahu apa yang akan terjadi jika kamu memicu kemarahan bangsawan! Jika Ayahanda
dan Kakanda tahu kamu melukaiku, mereka tidak akan tinggal diam! Fu, fuhe!
Fuha! Fuhaha! Keluarga kamu! Teman kamu! Bahkan kampung halaman kamu akan
dibasmi sampai—"
"Sudah
dibasmi habis sejak lama sekali."
Aku menjawab
dengan nada suara membeku tanpa emosi yang membuat diriku sendiri terkejut,
lalu menatap rendah Bowman dengan gerakan yang santai.
……Yah, tapi ada
satu sahabatku yang masih hidup, sih.
"Apa yang
akan aku lakukan sekarang bukanlah dendam."
Aku memungut
rapier yang jatuh di kursi penonton, lalu mengarahkan ujung pedang birunya ke
leher Bowman.
"Ini demi sebuah kewajiban agung yang murni."
Aku menelusuri jakunnya yang tenggelam di balik lemak dengan
ujung pedang, lalu memberitahunya dengan nada dingin.
"Selama tiga
tahun sejak kamu ditugaskan di Perpustakaan Kekaisaran, aku sengaja memamerkan
pencapaianku. Agar kamu yang gila karena cemburu merengek pada ayahmu untuk
membuangku ke Kota Emas Domina Domina."
Setiap kali aku
merangkai kata-kata, cahaya Wisp yang berbentuk aneh itu perlahan
memudar. Fakta bahwa ia selama ini digerakkan sesuai rencanaku membuat harga
diri Bowman hancur berantakan.
"Aku sudah
menduga setelah aku dibuang, kamu akan merampas pekerjaan Violetta karena
kesombongan konyolmu. Dan sesuai dugaanku, kamu gagal melindungi buku sihir
kuno, membuat Kaisar murka, dan posisimu terancam. Di saat itulah, kamu akan
memohon bantuan pada ayahmu, Maralva."
Melihat kenyataan
bahwa dia melakukan kesalahan dan dicaci-maki, sementara aku yang dibuang
justru makin dikenal karena memperbaiki fasilitas bawah tanah, sudah pasti
Bowman yang iri akan hilang kendali dan bertindak gegabah.
"Kamu
terpikir untuk membunuhku sembari meminta ayahmu melenyapkan kesalahanmu. Kamu
pasti merasa sangat antusias karena bisa melakukan pembantaian lagi setelah
sekian lama, kan? Sudah bisa kutebak kamu akan datang lebih awal ke Kota Emas
Domina Domina demi pesta perjamuan keluarga Goldbarrel di akhir pekan."
Benar-benar pria
yang mudah dikendalikan, dia datang tepat sesuai dugaanku tanpa meleset
beberapa hari pun.
"Ja-jangan
bicara omong kosong yang tidak jelas!"
Entah
karena dia jadi gila setelah terdesak, atau jadi gila karena tidak paham
situasinya, atau mungkin dia memang sudah gila sejak awal. Yang pasti, dia sudah tidak bisa
diselamatkan lagi.
"Kenapa,
kenapa aku harus mengalami hal seperti ini! Memangnya apa yang sudah kulakukan!
Aku ini keturunan Dominance Goldbarrel, salah satu dari Empat Pahlawan! Aku ini
bangsawan!"
"Ya,
benar."
Pembantaian tiga
tahun lalu, berbagai kejahatan di perpustakaan, perusakan buku sihir kuno……
dosa-dosa Bowman sudah tidak terhitung lagi. Namun, jika semua itu digabungkan—
"—Menjadi
bangsawan itu sendiri adalah sebuah dosa."
Aku menusukkan
rapier itu dalam-dalam ke leher Bowman, lalu menutup mataku perlahan.
Bersama dengan
suara erangan seperti udara yang bocor, aku merasakan dagingnya bergetar hebat
yang merambat melalui rapier. Seluruh sel tubuhnya berusaha melawan maut sekuat
tenaga.
Namun perlawanan
itu sia-sia, dan tak lama kemudian suara maupun getarannya menghilang.
Saat aku membuka
mata, cahaya Wisp sudah benar-benar padam, dan satu mayat gempal
tergeletak di atas panggung yang gelap gulita.
"Jagid..."
Tanpa menjawab
panggilan Kambase di belakang, aku mencabut rapier dari mayat Bowman, lalu
segera mengucapkan nama teknik "Heal" di saat darah mulai
memancar.
Mana yang keluar dari telapak tanganku
mengalir menuju organ Mana milik Bowman, dan dalam sekejap luka di
lehernya sudah pulih seperti semula.
Berkat organ Mana
Bowman yang sangat sederhana dan kosong, pemulihannya menjadi sangat mudah.
"A-apa
yang sedang kamu lakukan...?"
Merespons
pertanyaan Kambase, aku terus menatap mayat Bowman sembari berbicara dengan
tenang.
"Ini
adalah teknik Resurrect Heal untuk memulihkan kerusakan pada mayat.
Sihir yang digunakan oleh pengurus jenazah untuk proses pengawetan. Fungsinya
sama seperti Heal biasa, hanya saja ia memaksa kemampuan penyembuhan
diri sendiri pada mayat."
Aku
menahan perasaan yang meluap dari dasar tubuhku sekuat tenaga, lalu memasukkan
ujung jariku yang gemetar ke dalam saku mantel.
Ini
adalah pertama kalinya jantungku berdegup sekencang ini selama dua puluh lima
tahun hidupku.
Aku
mengingatkan diri sendiri untuk tidak terburu-buru, lalu mengeluarkan lonceng
kaca dari saku.
"Dan…… teknik yang akan kugunakan sekarang adalah
alasan kenapa aku bertahan di Perpustakaan Kekaisaran selama sepuluh tahun.
Untuk membaca dokumen kuno yang paling rahasia, dibutuhkan beberapa izin
khusus, dan butuh waktu bertahun-tahun untuk menguasai tekniknya meskipun sudah
selesai membacanya. Aku baru berhasil menguasainya sekitar dua bulan yang
lalu."
Mengikuti perasaan yang meluap dari dasar tubuh, gelombang Mana
di seluruh tubuhku mulai bercampur aduk.
Secara perlahan, seolah-olah sedang mengaitkan kancing
mantel satu per satu.
Aku menetralkan rasa marah, benci, senang, maupun antusias
secara merata.
Aku membunyikan lonceng kaca dengan suara yang jernih. Clink.
Lalu, aku mulai mengucapkan mantra sembari menenun Mana
dengan segenap perasaanku pada setiap katanya.
"Batas atas sehitam-hitamnya, sisanya seputih-putihnya.
Apakah sekuntum bunga yang lahir lalu mati, Ataukah mimpi di bawah kantuk.
Putuskan dan berpisahlah, Sekarang, Kembalilah. Diriku adalah 【Bakeneko】
Sembilan Tingkat Kehidupan."
Clink.
Lonceng kaca berbunyi sembilan kali, dan bersamaan dengan
itu, Mana yang dilepaskan dari tubuhku berubah bentuk menjadi kucing.
Kucing yang bentuknya samar-samar itu mengeong
"Nyan!", lalu melompat dengan lincah dan menyatu ke dalam mayat
Bowman.
Pikiranku
seolah tersentak hebat dan indraku menjadi ganda. Seolah-olah pikiranku
terbelah menjadi dua di dalam otak; dua pandangan mata terbentang, dan dua
jenis suara bergema.
Tentu
saja, bau, rasa, maupun indra peraba pun menjadi ganda, banjir informasi yang
rumit menyerbu seketika.
Sakit
kepala, pusing, dan mual terus berputar akibat beban yang ditanggung otak,
namun aku berusaha menjaga ketenangan dengan memutar Mana di dalam
tubuh.
Jika aku
lengah sedikit saja, rasanya aku bahkan tidak bisa bernapas lagi.
"Jagid……?
Eh? Hyah!"
Wajar
saja jika Kambase mengeluarkan suara terperangah yang menyerupai teriakan.
Tiba-tiba saja, mayat Bowman bangkit berdiri.
"Tidak
apa-apa, Kambase."
Yang
menjawab bukanlah aku, melainkan mayat Bowman.
"Karena
yang sedang mengendalikan mayat ini adalah aku."
Yang
menjawab bukanlah mayat Bowman, melainkan aku.
"Ba-ba-bagaimana
bisa...?"
Meskipun
tidak terlihat jelas di dalam kegelapan, Kambase yang terpantul dalam pandangan
Bowman tampak kebingungan dengan ekspresi bodoh.
Ia
menatap bergantian antara mayat Bowman dan punggungku dengan wajah yang sangat
panik.
"Ilmu Gaib:
Sembilan Tingkat Kehidupan."
Aku membuat mayat
Bowman berbicara dengan sikap angkuh, sesuai dengan kepribadian Bowman saat
masih hidup.
"Ini adalah
teknik untuk membagi jiwa sendiri dan mengendalikan benda yang dirasuki."
Singkatnya,
sekarang aku sedang mengendalikan mayat Bowman dengan merasukkan sebagian
jiwaku ke dalamnya.
Oleh karena itu,
aku memiliki panca indra Bowman selain panca indraku sendiri, dan aku bisa
menggerakkan mayat Bowman seolah-olah menggerakkan tubuhku sendiri.
"Ilmu gaib
inilah yang menjadi kartu as untuk mengakhiri masyarakat bangsawan……!"
Jagid yang
terpantul di mata Bowman menunjukkan senyum beku yang mengejutkan bahkan bagi
diriku sendiri.
◆◇◆
"Ma-Maralva-sama."
Saat aku sedang
membelai Blood-Drenched Spear Gratvolg sembari dipijat oleh para selir,
Silvarg memanggilku. Meski dia seorang Dwarf, wajahnya tetap saja terlihat
menyedihkan.
Pria yang
membuatku kesal setiap kali melihatnya. Jika bukan karena hubungan keluarga
Goldbarrel dan Silvarg yang sudah terjalin turun-temurun, dia pasti sudah
kubuang sejak lama.
"Ada
apa?"
Silvarg yang ciut
karena tatapan tajamku tampak gemetar ketakutan, lalu ia mengeluarkan sebuah
kotak kayu kirin kecil dengan terburu-buru.
"A, anu, ini…… ada tanda persahabatan dari keluarga
Eterna keturunan penyihir……!"
Aku
merebut kotak itu dari Silvarg dan mengerutkan dahi.
"Apa
isinya?"
Mendengar
pertanyaanku, Silvarg terbata-bata dan menjawab dengan suara parau yang lemah,
"Wafer……."
"Wafer?
Lagi-lagi camilan tidak berguna! Dasar bocah tua sialan! Beraninya dia menyebut
ini tanda persahabatan! Beraninya ras lemah sepertinya mempermainkanku!"
Karena
marah, aku membanting kotak kayu itu ke lantai dan menginjak-injak camilan yang
berhamburan sekuat tenaga.
Selain itu, aku menusuk-nusuk camilan itu dengan Blood-Drenched
Spear Gratvolg, membuat para selir gemetar terperangah. Sepertinya mereka
terpesona melihat sosok gagahku. Gufu!
"Cih!"
Aku menyuruh Silvarg membereskan camilan yang hancur
berantakan itu, lalu aku bersandar pada sandaran siku porselenku.
Melihat seorang Dwarf membungkuk-bungkuk untuk bersih-bersih
adalah pemandangan yang sangat memalukan sekaligus sangat menyenangkan.
"Hei,
setelah ini selesai, panggil Deabold ke sini. Aku ingin mengobrol dengannya
untuk membunuh waktu."
Meski aku ingin
memamerkan koleksi senjataku, Silvarg maupun para selir tidak akan bisa
mengikuti pengetahuanku.
Dalam hal itu,
Deabold punya pengetahuan luas dan merupakan pendengar yang baik. Dia sangat
cocok menjadi teman bicara untuk meluapkan kekesalanku terhadap keluarga
Eterna.
"Eh? Memanggil penyihir itu? ……Tapi, bukankah dia
terlalu jenius sehingga berbahaya jika—"
"Bodoh! Dia hanya jenius dalam hal Heal
saja!"
Aku membentak Silvarg yang mencoba membantah dengan
ragu-ragu, lalu aku menyeringai.
"Deabold hanyalah penyihir rakyat jelata. Dia tidak
akan pernah bisa menandingi aku yang merupakan bangsawan agung. Singkatnya, dia hanyalah badut
tidak berguna yang menari di telapak tanganku! Sekarang aku akan
memanfaatkannya sepuasnya, dan setelah dia tidak berguna lagi, aku akan
melimpahkan sebuah dosa padanya lalu membuangnya!"
Saat
itulah waktu yang tepat untuk merebut pedang pusakanya.
Aku
benar-benar tidak sabar melihat wajah sok tenangnya itu hancur berantakan!
Gufu, gufufu, gufufufu!



Post a Comment