NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yushu Sugite Tsuiho sa reta Seimin Majutsu-shi - Muno no Furi Shite gomi Kizoku o Jurin Suru Volume 1 Chapter 1

Chapter 1

Bergerak Dibalik Layar


"Mulai hari ini, kau diusir dari Ibu Kota!"

Suara vulgar Bowman Goldbarrel menggema di dalam ruang kepala perpustakaan Imperial Library.

"Mu... mulai hari ini?"

Aku bertanya balik sembari sekuat tenaga menahan tawa yang hampir meledak melihat wajah beringas Bowman. Menahan tawa ternyata usaha yang cukup berat juga.

"Benar, mulai hari ini! Huhahahaha! Aku bisa minum sake sambil menikmati wajah melongomu itu! Perbedaan antara wajah bodohmu sekarang dengan senyum tipis sok tenangmu yang biasanya itu benar-benar tiada duanya... Jagid Deabold!"

Bowman meneriakkan namaku dengan lantang hingga lemak di dagunya bergetar. Dia pasti sangat senang karena akhirnya bisa menyingkirkan dan membuangku—si duri dalam daging—dari Ibu Kota.

Dia tertawa begitu keras sampai-sampai kumis palsunya miring.

Bowman Goldbarrel. Usianya sama denganku, dua puluh lima tahun.

Dia adalah atasan langsungku di Imperial Library, sekaligus salah satu bangsawan kelas istimewa yang mewarisi darah Empat Pahlawan Besar yang terkutuk itu.

"Padahal cuma rakyat jelata, tapi kau itu sangat merusak pemandangan. Aku ini Kepala Imperial Library yang terhormat, seorang Magic Warrior yang menguasai teknik pedang dan sihir, dan yang terpenting, aku ini bangsawan kelas istimewa!"

"Berani-beraninya kau lebih menonjol dariku! Tahu diri sedikit, dong!"

Aku melirik Bowman yang sedang besar kepala itu, lalu bahuku gemetar karena menahan tawa. Diusir dari Ibu Kota mulai hari ini.

Semuanya berjalan persis seperti dugaanku. Padahal aku menyusun rencana dengan memperhitungkan kemungkinan meleset beberapa hari, tapi siapa sangka hasilnya bisa pas sekali tanpa meleset barang satu inci pun.

Aku selalu tahu kalau Bowman itu tolol, tapi tidak kusangka dia semudah ini dikendalikan. Karena semuanya terlalu sesuai rencana, hal ini malah jadi terasa di luar dugaan. Dia benar-benar tolol melebihi ekspektasiku.

"Lihat ini!"

Bowman mengibaskan mantel panjang militer Imperial dengan berlebihan, lalu mengeluarkan selembar perkamen dari balik bajunya.

Lemak di pergelangan tangannya yang memakai gelang emas mewah tampak terjepit, pemandangan yang sungguh buruk rupa.

"Aku sudah mendapat izin pengasingan dari Yang Mulia Kaisar. Aku sudah melaporkan semua kejahatanmu lewat fitnah yang mendalam."

Setelah memastikan bahwa Mana Kaisar yang bersemayam di segel tersebut asli, aku membaca isi suratnya.

Kelalaian dalam tugas, mabuk saat jam kerja, penggelapan dana, hingga membawa pelacur ke ruang kepala perpustakaan untuk pesta liar... Berbagai kejahatan berat tertulis berderet di sana, namun semuanya hanyalah kebohongan belaka.

Ah, tidak, semua kejahatan itu sebenarnya dilakukan oleh Bowman sendiri.

Aku melirik botol kecil obat perangsang dan robekan stoking yang tergeletak di pojok sofa kulit, lalu menghela napas di dalam hati. Kasihan sekali Kaisar yang harus menerima laporan fitnah seperti ini.

"Apa maksud tatapanmu itu? Kau pikir kau bisa melawan aku, anggota keluarga Goldbarrel yang merupakan bangsawan kelas istimewa?"

Sambil berkata begitu, Bowman menyentuhkan jarinya ke gagang rapier emas penuh permata norak yang tergantung di pinggangnya.

"……Tidak, saya tidak berani."

Keluarga Goldbarrel. Keturunan dari pahlawan legendaris Dominance Goldbarrel, salah satu dari Empat Pahlawan Besar yang mengalahkan Raja Iblis dan menyelamatkan Kekaisaran tujuh ratus tahun lalu.

Mereka adalah bangsawan kelas istimewa yang memiliki wewenang melampaui hukum dan etika, bahkan terkadang melebihi otoritas Kaisar.

Dengan kata lain, mereka adalah distorsi dunia ini.

"Hmph! Begitu baru benar. Bangsawan adalah keadilan! Menjadi bukan bangsawan itu sendiri adalah sebuah dosa!"

Setelah meneriakkan kata-kata yang memadatkan pola pikir bangsawan itu, Bowman mengeluarkan botol berdesain modis dari saku mantelnya dengan perasaan riang.

Itu adalah Potion, minuman kesehatan yang dibuat dari ekstrak kristal Mana.

Katanya, dengan meminumnya, Mana akan masuk ke dalam tubuh dan memberikan efek pemulihan yang setara dengan mantra Heal... tapi itu hanyalah iklan yang sangat berlebihan.

Kandungan Mana dalam Potion yang dijual bebas sangatlah sedikit, dan efek nyatanya hampir tidak terasa.

Dari fakta bahwa dia gemar meminum benda seperti itu saja, sudah terlihat betapa rendahnya literasi sihir Bowman. Sebutan Magic Warrior benar-benar jadi bahan lelucon.

"Kalau tidak salah, pahlawan Kekaisaran, Sleek Anhellion, seumuran denganmu, kan?"

Bowman menaikkan kakinya ke atas meja yang dipenuhi tumpukan dokumen berdebu dan buku sihir mahal yang berantakan, lalu menyeringai licik.

……Sleek Anhellion. Mendengar nama yang sudah sangat akrab itu, alisku berkedut sedikit.

"Kudengar Pahlawan Sleek terus menumpas pemberontak Kekaisaran dan monster kelas S-Rank, hingga dia naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal di usia yang sangat muda. Huhahahaha! Beda jauh denganmu yang dipecat dari perpustakaan dan diasingkan! Seperti langit dan bumi!"

Sleek…… apa yang kau pikirkan?

Sepuluh tahun telah berlalu sejak hari itu, saat dia masuk militer Kekaisaran. Naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal hanya dalam sepuluh tahun bukan lagi sekadar luar biasa, tapi sudah tidak normal.

Dia seperti orang yang terburu-buru ingin mati. Sleek, apa kau juga sama sepertiku, mengincar masyarakat bangsawan—

"Tapi, mau dipuja sebagai pahlawan Kekaisaran pun, rakyat jelata tetaplah rakyat jelata! Dia itu barang tiruan! Pahlawan sejati hanya lahir dari kalangan bangsawan, seperti aku ini! Huha! Huha! Huhahahaha!"

Mengingat hari ini adalah terakhir kalinya aku mendengar suara tawa yang menyakitkan telinga ini di ruang kepala perpustakaan, rasanya jadi sedikit emosional.

Nah, mengenai tempat pengasinganku……

Bowman punya lingkaran pertemanan yang luas dan koneksi yang banyak, meski sebenarnya tidak berguna. Tapi, karena niat dangkal Bowman sangat mudah dibaca, bisa dibilang tidak ada seorang pun yang benar-benar menjalin hubungan tulus dengannya.

Jadi, koneksi yang bisa digunakan Bowman akan mengerucut dengan sendirinya.

"Jagid! Biar kuberitahu tempat pengasinganmu!"

Tujuan Bowman adalah menjatuhkan aku yang lebih hebat darinya di tempat pengasingan nanti. Maka dia akan bergantung pada kekuasaan Keluarga Goldbarrel.

Artinya, kota yang diperintah oleh ayah Bowman, Maralva Goldbarrel.

"Kota Emas, Domina Domina!"

Benar-benar pria yang mudah dikendalikan, kau ini, Bowman Goldbarrel.

◆◇◆

Aku duduk di bangku taman dekat perpustakaan dan memandang sekeliling dengan tatapan kosong.

Saat siang hari, taman ini sangat ramai dengan anak-anak yang bermain alat sihir dengan polosnya. Namun sekarang, saat matahari telah terbenam, taman ini diselimuti keheningan tanpa ada satu jiwa pun.

Ini adalah kesunyian terbaik untuk meresapi keberhasilan rencanaku yang berjalan mulus.

Aku sudah membaca bahwa Bowman akan mengasingkanku ke Kota Emas Domina Domina—atau lebih tepatnya, aku mengarahkannya agar berakhir seperti itu.

Persiapan pindah sudah kuselesaikan jauh-jauh hari. Urusan tempat tinggal dan perabotan pun sudah beres.

Barang bawaanku hanya satu koper dan sebilah pedang ini. Aku mengalihkan pandangan ke pedang panjang (tachi) yang kusandarkan di bangku.

Hiasannya yang berkilauan sangat berbeda dengan gaya norak Bowman yang berlebihan; pedang ini terlihat mewah namun tetap anggun. Bagi aku yang merupakan penyihir murni, membawa benda ini mungkin terasa sia-sia, tapi aku yakin ini akan sangat berguna untuk rencana ke depannya.

Tiba-tiba aku memeriksa waktu di jam saku dan menyadari masih ada sedikit waktu sebelum kapal menuju Kota Emas Domina Domina tiba.

Saat aku hendak merogoh saku mantel untuk mengambil camilan dan beristirahat sejenak—

"Jagid-senpai!"

Tiba-tiba seseorang meneriakkan namaku dengan keras, membuatku kehilangan momen untuk makan camilan.

Aku berdiri dan menoleh. Di sana, seorang gadis berambut merah muda cerah sedang berdiri dengan wajah cemberut.

Di belakangnya, ada dua belas orang pria dan wanita yang mengenakan seragam militer Kekaisaran. Semuanya adalah penyihir militer yang bekerja di Imperial Library—dengan kata lain, rekan kerja dan junior-juniorku.

"Wah, ramai sekali ya."

Aku menanggapi dengan nada bercanda dan senyum tipis, tapi juniorku yang berambut merah muda itu—Violetta Pialel—tampak sangat marah hingga hampir menangis.

"Baru saja kami dengar dari Kepala Perpustakaan Bowman kalau Jagid-senpai dimutasi...!"

"Maaf ya. Tadinya aku berencana mengirim surat setelah sampai di Kota Emas Domina Domina."

"Kenapa lapornya setelah kejadian, sih!"

Melihat Violetta yang berteriak dengan suara serak, aku merasa bersalah. Namun, aku tetap berpura-pura tenang dan mencoba tersenyum santai.

"Yah, aku tidak terlalu suka suasana haru saat berpamitan, sih."

"Ini bukan waktunya bilang begitu! Mutasi ini praktis sama saja dengan pengasingan, kan!"

Menanggapi kemarahan Violetta, dua belas orang lainnya ikut bersuara, membuat taman seketika menjadi bising.

Melihat teman-teman perpustakaan yang menunjukkan kemarahan demi aku, hatiku malah dipenuhi perasaan tenang yang luar biasa.

Semua orang yang bekerja di Imperial Library adalah penyihir milik militer Kekaisaran.

Sampai sepuluh tahun yang lalu, perpustakaan ini hanyalah tempat pembuangan bagi anggota militer yang kemampuannya rendah atau mereka yang bermasalah.

Bisa dibilang, ini adalah departemen "bangku cadangan" untuk orang-orang buangan. Saat aku baru pertama kali datang ke sini, kondisinya benar-benar sangat parah.




Tetapi, aku tidak tinggal diam.

Aku melakukan berbagai percobaan di bawah radar agar tidak terdeteksi oleh militer Kekaisaran, melatih ulang para "orang buangan" tersebut, dan perlahan membenahi perpustakaan.

Hasilnya adalah orang-orang yang ada di hadapanku sekarang.

Saat ini, perpustakaan telah menjadi salah satu organisasi magis terbaik di militer Kekaisaran.

……Tentu saja, pengecualian bagi Bowman.

Rasanya lucu jika mengingat masa-masa ketika tempat ini dijuluki sebagai "tempat pembuangan penyihir tidak berguna".

Aku yakin, perpustakaan akan tetap aman meski aku tidak ada.

Keyakinan itu muncul saat aku menatap wajah rekan-rekanku satu per satu. Aku melirik juniorku yang masih saja menggembungkan pipinya, lalu mengangguk kecil.

"Hari ini pun kamu tetap modis ya, Fioretta."

Fioretta mengenakan celana pendek ketat dan sepatu bot yang sedang tren di kalangan prajurit wanita Kekaisaran. Paduan itu sangat serasi dengan rambut merah mudanya yang merupakan simbol dari Keluarga Pialel yang ternama.

"Eh? Ehehe~, Senior sadar ya? Dekorasi pada bot ini adalah favoritku, lho— Hei, bukan itu masalahnya! Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!"

Sambil mengangkat mata sayunya sekuat tenaga agar terlihat galak, Fioretta menaikkan tensi kemarahannya.

"Jagid-senpai! Aku ini benar-benar sedang marah, tahu!"

"Aku sungguh minta maaf karena ketidakmampuanku, aku sampai dimutasi dari perpustakaan... tidak, sampai diusir dari Ibu Kota. Semuanya, aku minta maaf."

Melihatku membungkuk dengan tulus, Fioretta malah merasa geram. "Jagid-senpai tidak perlu minta maaf!" serunya kesal.

"Tapi tenang saja. Aku sudah merekomendasikan Fioretta sebagai penggantiku."

"Eh!"

Fioretta membelalakkan matanya, benar-benar seperti disambar petir di siang bolong.

"Aku sudah menyiapkan panduan cara merawat buku sihir kuno. Kalau kamu yang pegang, aku bisa tenang."

"Te-terima kasih banyak...! Tapi, bukan itu poinnya!"

"Ah, aku mengerti. Aku juga sudah menyiapkan berbagai panduan penanganan jika terjadi situasi darurat. Semuanya sudah lengkap."

"Te-terima kasih banyak...! Tapi, tetap saja bukan itu poinnya!"

Fioretta sempat kebingungan menghadapi caraku yang terus menghindar dengan berbagai alasan. Namun, tampaknya dia akhirnya melewati ambang batas kesabarannya. Rambutnya berantakan saat dia meledakkan emosinya.

"Duh! Jagid-senpai ini terlalu baik hati, tahu!"

Dua belas rekan di belakang Fioretta serentak mengangguk setuju.

Ada yang memberikan dukungan pada Fioretta, ada yang ingin menumpahkan perasaan padaku, ada yang geram pada Bowman, dan ada juga yang malah merasa gemas melihat Fioretta yang sedang kewalahan.

"Sampai di saat mau dimutasi pun masih sempat menyiapkan banyak hal untuk penggantinya! Senior ini terlalu cekatan sampai-sampai aku merinding! Duh! Senior terlalu baik!"

"Aku bingung harus merasa dihina atau dipuji."

"Ini pujian!"

Fioretta mendesakku dengan napas memburu dan mata yang berkaca-kaca.

"Karena Jagid-senpai terlalu baik hati, semua jasa Senior selama ini selalu dirampas oleh Kepala Perpustakaan Bowman!"

"Jasa atau prestasi itu tidak penting bagiku. Aku tidak tertarik pada kenaikan jabatan."

"Tapi tetap saja tidak masuk akal menyerahkan semua prestasi itu kepada orang seperti Kepala Perpustakaan Bowman!"

Memang, itu tidak masuk akal. Aku sangat memahami kekesalannya.

Namun, hal itu sangat diperlukan agar Bowman tetap besar kepala. Tentu saja, aku tidak bisa mengatakan niat asliku kepada Fioretta dan yang lainnya, jadi biarlah ini tersimpan di dalam hati saja.

"Apa yang dikatakan Fioretta benar!"

"Jagid-san harusnya lebih bangga dengan pencapaian Anda sendiri!"

Terpantik oleh semangat Fioretta, rekan-rekan yang lain mulai bersuara satu per satu.

"Memusnahkan kelompok Necromancer kejam, Kokuzetsushu, seorang diri!"

"Menyelamatkan seluruh batalion militer Kekaisaran yang terpojok dalam pertempuran melawan organisasi revolusioner tanpa ada satu pun korban!"

"Melepaskan kutukan Millennium Relic yang tidak bisa dipecahkan oleh siapa pun sepanjang sejarah!"

"Semua itu, semuanya! Itu adalah jasa Jagid-senpai, tapi kenapa malah diberikan kepada orang seperti Bowman! Senior terlalu baik hati!"

Menerima semua perasaan dari Fioretta dan kawan-kawan, dadaku terasa panas. Namun, aku tetap bersikap tenang agar tidak menunjukkannya di permukaan.

"Terima kasih. Perasaan kalian adalah prestasi terbesar bagiku."

……Ucapanku barusan terdengar menjijikkan, bahkan bagiku sendiri.

Lagipula, aku bukannya tidak punya ambisi. Justru aku meraih hasil-hasil itu demi sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar nama besar.

Saat memusnahkan Kokuzetsushu, aku diam-diam mengambil buku rahasia ilmu hitam mereka. Saat membantu militer Kekaisaran, aku mendapatkan akses informasi internal sebagai balas budi.

Lalu, dengan melepaskan segel Millennium Relic, aku bisa menyentuh sihir kuno langka yang akan membuat penyihir mana pun iri setengah mati.

"Aku tahu! Bagaimana kalau kita melakukan aksi tanda tangan agar mutasi ini dibatalkan!"

"Jangan lakukan itu."

Aku langsung memotong dan menggelengkan kepala.

Aku merasa tidak enak pada Fioretta yang sangat bersemangat, tapi jika mereka melakukan itu, rencanaku bisa hancur berantakan.

Terlebih lagi, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Bowman jika Fioretta dan yang lainnya ikut menjadi incaran.

"Ta-tapi! Kalau kita meminta bantuan dari Magic Academy, seharusnya ada jalan keluar."

Benar kata Fioretta, jika aku meminta bantuan pada pihak Academy, mereka pasti akan meminjamkan kekuatannya.

Dulu, saat terjadi perselisihan antara perpustakaan dan Academy, akulah yang menjadi penengah dan menyelesaikannya dengan baik.

Berkat itu, para pengajar maupun murid di sana sangat menghormatiku.

Bahkan aku menjalin hubungan akrab dengan Kepala Sekolah yang merupakan salah satu orang paling berpengaruh di dunia sihir.

Namun, koneksi dengan Magic Academy ingin kusimpan sebagai kartu as. Aku berniat meminta bantuan mereka pada saat yang tepat, setelah fondasi rencanaku siap.

"Aku sangat berterima kasih atas perhatian kalian... tapi Kepala Perpustakaan Bowman adalah bangsawan kelas istimewa. Lebih baik jangan cari masalah dengannya. Kalian sendiri tahu kan betapa mengerikannya kaum bangsawan?"

"Ugh..."

Mendengar pertanyaanku, Fioretta dan yang lainnya langsung menciut dan wajah mereka pucat pasi. Pasti ada banyak kejadian yang terlintas di pikiran mereka.

Bahkan generasi muda pun sudah sangat hafal dengan tirani, kesewenang-wenangan, dan ketidakadilan kaum bangsawan.

Sekali lagi, aku merasakan distorsi masyarakat bangsawan ini dan hatiku terasa perih.

"Tapi... tapi tetap saja!"

Dengan wajah tegang, Fioretta berusaha keras memeras kata-kata untuk membantah.

"Justru karena itulah! Aku ingin mutasi Jagid-senpai dibatalkan! Karena, Kota Emas Domina Domina yang menjadi tempat mutasi Senior itu dikuasai oleh Keluarga Goldbarrel, kan? Kepala keluarga di sana adalah ayah Kepala Perpustakaan Bowman! Dimutasi ke tempat seperti itu, itu..."

Kalimat Fioretta terhenti, dia menatapku dengan tatapan pilu.

Bangsawan bertahta di Kekaisaran dengan kekuasaan absolut.

Mereka menyiksa rakyat dengan penindasan, melakukan tekanan yang tidak masuk akal, dan mengayunkan ketidakadilan demi memuaskan nafsu bejat mereka.

Namun, mereka tetap dipuja sebagai keturunan dari Empat Pahlawan Besar yang menyelamatkan Kekaisaran tujuh ratus tahun lalu.

Dimutasi ke kota yang dikuasai bangsawan seperti itu, wajar jika Fioretta merasa ngeri.

……Tapi, aku berbeda.

Justru karena kota itu dikuasai oleh bangsawan seperti mereka, aku harus pergi ke sana.

"Fioretta... terima kasih."

Aku mengucapkan rasa terima kasih yang tulus sambil tersenyum lembut.

"Tapi, maaf. Aku sudah membulatkan tekad."

"Eh...?"

"Aku sedang memikirkan cara agar bisa membenahi Kota Emas Domina Domina seperti saat aku membenahi perpustakaan dulu. Tentu saja, aku tidak akan melakukan pemberontakan. Aku hanya berpikir untuk mencoba melakukan apa yang bisa kulakukan, selama itu tidak membahayakan diriku."

Mendengar jawabanku, Fioretta terpaku seolah kehilangan kata-kata. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti Sea Dragon yang bodoh.

"Lagi pula, Kota Emas Domina Domina adalah kota perdagangan nomor satu di Kekaisaran. Aku bahkan merasa bersemangat karena mungkin saja aku bisa mendapatkan camilan berhadiah langka yang tidak ada di Ibu Kota."

"Ca... camilan...?"

"Iya. Camilan berhadiah itu bagus, lho. Kandungan gulanya cocok untuk memulihkan otak yang lelah, dan membuka hadiahnya bisa membangkitkan jiwa kekanak-kanakan. Itu adalah sistem hiburan yang luar biasa."

Melihatku berbicara dengan sangat serius, Fioretta tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sambil mengangkat bahu.

"Jagid-senpai ini biasanya terlihat keren dan dewasa, tapi kalau sudah bicara soal camilan, tiba-tiba jadi seperti anak kecil, ya."

Dengan ekspresi yang tampak lebih lega—atau mungkin lebih tepatnya pasrah—Fioretta kembali menatapku dan berbicara dengan mantap.

"Duh! Baiklah kalau begitu! Kalau Jagid-senpai sudah bertekad, maka aku... tidak, kami juga! Kami akan berusaha sebaik mungkin di sini!"

Berbanding terbalik dengan sebelumnya, emosi positif Fioretta kini menular ke semua orang.

Mungkin itu semacam kepasrahan. Mungkin ada sedikit rasa heran juga padaku.

Namun, selama semua orang di perpustakaan bisa tetap hidup dengan positif setelah aku pergi, alasan apa pun tidak masalah bagiku.

"Kami akan menjaga perpustakaan ini agar Jagid-senpai bisa pulang kapan saja!"

"Ya, tolong ya. Jika itu kalian, aku yakin semuanya akan baik-baik saja."

Di masa depan, kamu akan menjadi kepala perpustakaan yang hebat.

……Aku menelan kata-kata yang hampir keluar itu dan hanya mengangguk pelan. Ekspresiku yang terpantul di mata Fioretta yang berkaca-kaca terlihat sangat lembut.

Setelah berjanji untuk rutin mengirim surat, aku pun berpamitan pada Fioretta dan yang lainnya.

Aku menolak saat mereka ingin mengantarku sampai ke kapal karena aku tidak mau perpisahan ini menjadi semakin sedih.

Lagipula, mataku sendiri sudah mulai terasa panas.

Di pintu keluar taman yang sudah benar-benar gelap, aku berhenti sejenak dan menatap kastil raksasa yang menjulang di seberang danau besar.

Bendera negara dengan lambang bintang yang agung berkibar dengan gagah ditiup angin malam.

Kekaisaran Stellaria telah menikmati masa damai selama tujuh ratus tahun.

Namun, itu hanyalah kedamaian palsu yang dilumuri nafsu dan kekejaman, yang disamarkan di atas tumpukan mayat yang tak terhitung jumlahnya.

Masyarakat bangsawan yang korup dan penuh ketidakadilan ini dikuasai oleh keturunan Empat Pahlawan Besar: Keluarga Misericorde, Keluarga Goldbarrel, Keluarga Eterna, dan Keluarga Merrybirth.

Sejarah yang busuk ini akan segera berakhir.

──Akulah yang akan mengakhirinya.

Dimulai dari Kota Emas, Domina Domina.

Target pertamanya adalah Keluarga Goldbarrel, keturunan dari sang Prajurit Legendaris.

◆◇◆

Setelah menempuh perjalanan laut selama enam hari, akhirnya aku tiba di Kota Emas Domina Domina.

Karena Ibu Kota yang terletak di tengah benua Nifluga terhubung langsung oleh sungai besar menuju Domina Domina, akses menggunakan kapal sangatlah mudah.

Jika lewat darat dengan kuda, perjalanan akan menjadi adu stamina yang melelahkan. Namun dengan kapal layar yang diperkuat sihir, perjalanannya menjadi aman dan nyaman.

……Ngomong-ngomong, Peanut Butter Marshmallow Pie yang kumakan di atas kapal tadi benar-benar lezat.

Perpaduan selai kacang yang sudah pasti enak dengan marshmallow lembut dan pai renyah benar-benar membuat jiwa dan ragaku tenggelam dalam kebahagiaan gula yang hakiki.

Desain medali hadiahnya pun sangat detail, memberikan sensasi menyenangkan saat membukanya.

Memang Glitch Rabbit Co. tidak pernah mengecewakan. Keputusanku untuk membeli satu dus di tempat tadi memang tepat.

Di bawah langit senja yang merah membara, saat aku turun di pelabuhan sungai, sebuah patung emas dengan bentuk yang aneh langsung menyita perhatianku.

Itu adalah patung gemuk yang menyerupai Maralva Goldbarrel, kepala keluarga Goldbarrel saat ini.

Di sekitarnya berjejer berbagai monumen mewah yang kemungkinan dibeli dari luar negeri.

Alih-alih menyambut, kemewahan yang mencolok itu justru terasa seperti mengancam siapa pun yang datang ke Domina Domina.

Terlebih lagi, aku menyadari banyaknya lambang singa emas di mana-mana, yang membuat rasa muak muncul di benakku.

Itu semua adalah lambang Keluarga Goldbarrel, tapi jumlahnya terlalu berlebihan.

Benar-benar pemandangan vulgar yang menunjukkan kebiasaan buruk kaum bangsawan.

Padahal Domina Domina terletak di wilayah barat benua dengan iklim lembut sepanjang tahun yang membuatnya nyaman untuk ditinggali, tapi selera buruk Keluarga Goldbarrel merusak segalanya.

"Halo, Tuan di sana! Apa ini pertama kalinya Anda ke Kota Emas Domina Domina?"

Saat aku sedang merasa lelah karena suasana yang menyesakkan ini, seorang pria muda yang mengenakan jas ekor penguin (tailcoat) menyapaku.

Jas murah dan senyum yang dipaksakan di wajahnya menunjukkan dengan jelas bahwa dia adalah seorang calo.

Mungkin dia mengira aku punya banyak uang karena aku mengenakan mantel militer Kekaisaran.

"Tidak. Aku sudah sering ke sini sebelumnya. Hari ini pun aku berniat mampir ke toko langgananku untuk minum. Wah~ kota ini memang luar biasa, ya!"

Layanan calo yang vulgar harus dibalas dengan jawaban yang vulgar pula.

Aku menyingkirkan calo itu dengan kebohongan asal-asalan dan bergegas pergi.

Dia menawarkan untuk memandu ke kedai minuman yang enak, tapi sayangnya aku tidak tertarik pada alkohol.

Jika dia tahu toko kue yang enak, aku akan sangat tertarik……

Meski begitu, aku sudah membuat daftar toko kue incaran sejak lama.

Klaim sepihak kaum bangsawan dan calo yang vulgar.

Aku mengangkat bahu, menganggap ini sebagai "upacara penyambutan" dari Kota Emas Domina Domina.

Domina Domina dikenal sebagai kota perdagangan nomor satu di Kekaisaran berkat jalur air sungai yang besar dan jalur darat yang terintegrasi dengan baik.

Kedekatannya dengan laut juga membuatnya aktif dalam perdagangan internasional, menjadikannya gerbang masuk Kekaisaran.

Tentu saja, sektor pertanian dari sungai dan perikanan dari laut juga sangat maju.

Dan jangan lupakan pegunungan megahnya saat membicarakan kota ini.

Deretan tambang kaya akan emas, perak, permata, hingga logam langka membentang tanpa ujung.

Yang terpenting adalah kota ini merupakan salah satu penghasil Mana Crystal terbesar di Kekaisaran.

Mana Crystal adalah kebutuhan pokok bahkan bagi orang awam untuk menjalankan alat-alat sihir dalam kehidupan sehari-hari.

Karena monster kuat seperti Naga yang tumbuh dengan mengonsumsi Mana Crystal muncul di daerah vulkanik, Guild Petualang dan bisnis tentara bayaran juga sangat berkembang pesat di sini.

Singkatnya, Domina Domina mencakup segala jenis industri: sektor primer (pertanian, perikanan, pertambangan), sektor sekunder oleh para pandai besi hebat, hingga sektor tersier berupa sistem perdagangan aktif yang melibatkan para petualang. Itulah mengapa tempat ini dijuluki Kota Emas.

……Jika dipikir-pikir, kota ini memang terlihat sangat memikat. Tidak, kota ini memang memikat. Hanya saja, klan berbahaya yang merusak pesona itulah yang menggerogoti segalanya.

Sambil menahan emosi negatif yang meluap, aku melangkah masuk ke area komersial yang bersebelahan dengan pelabuhan sungai—Central Capital Entertainment District.

Central Capital Entertainment District adalah distrik hiburan yang sangat ramai, seolah menjadi perwujudan citra luar dari Kota Emas Domina Domina.

Sebagian besar orang di tengah hiruk pikuk ini adalah manusia, namun banyak juga terlihat Dwarf yang kekar.

Karena ada desa Dwarf di pegunungan, tampaknya banyak dari mereka yang datang ke sini untuk bekerja.

Seharusnya jumlah Beastman juga banyak, tapi aku tidak melihat satu pun di keramaian. Justru Elf yang lebih sering terlihat.

Kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh penganiayaan terhadap seluruh ras Beastman oleh kaum bangsawan setelah seorang Beastman memicu revolusi lima tahun lalu. Benar-benar tidak adil.

Di antara deretan toko milik perusahaan ternama, aku melihat cabang Impess Trading Company yang membuat kepalaku pening. Meski aku sudah mengetahuinya dari penyelidikan awal, tetap saja terasa mengejutkan saat melihatnya langsung.

Impess Trading Company adalah perusahaan alat sihir dari Kota Sihir Megrimseed yang terkenal buruk karena kualitas barangnya yang rendah dan praktik penipuan harga. Di Ibu Kota, perusahaan ini sudah masuk daftar hitam.

Fakta bahwa perusahaan seperti itu bisa membuka toko di lokasi utama menunjukkan betapa rendahnya tingkat pengetahuan sihir di Domina Domina.

Ini pasti dampak buruk karena kepala keluarga saat ini, Maralva Goldbarrel, membenci para penyihir.

Pria dan wanita elegan berbelanja dalam jumlah besar, nyonya-nyonya terhormat minum teh di kafe teras, dan turis-turis kaya berlalu-lalang.

Ke mana pun mata memandang, hanya ada orang-orang makmur. Tempat ini hampir terlihat seperti surga di dunia.

Namun.

Aku tahu bahwa di balik sisi lain dari Central Capital Entertainment District, kegelapan tengah membentang.

Itulah bayangan dari Kota Emas yang dilahirkan oleh Keluarga Goldbarrel. Darkest Market, pasar gelap raksasa yang mencampuradukkan barang legal dan ilegal. Dan jauh di baliknya, terdapat area kumuh bernama Deep Side.

Di sana, kriminalitas terjadi setiap hari, sebuah kawah keputusasaan yang berdampingan dengan kematian. Kasus pembunuhan berantai tragis tiga tahun lalu juga terjadi di Darkest Market dan Deep Side.

Namun, mereka yang tinggal di Central Capital Entertainment District berpura-pura tidak tahu dan memalingkan mata dari kegelapan itu.

Itulah wajah asli Kota Emas Domina Domina. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin sangatlah ekstrem.

Hanya segelintir orang yang punya hubungan dengan bangsawan yang bisa hidup makmur.

Penduduk lainnya diinjak-injak oleh kesewenang-wenangan Keluarga Goldbarrel, dipaksa hidup miskin, dan terus-menerus dihancurkan oleh tekanan yang tidak adil.

Masyarakat di mana mayoritas menderita demi kebahagiaan segelintir orang.

Kota ini adalah mikrokosmos dari Kekaisaran.

◆◇◆

Di bawah langit malam dengan awan kelabu yang menggantung, aku melangkahkan kaki dengan berat menuju Colosseum yang terletak di pusat Kota Emas Domina Domina.

Aku memindahkan barang bawaanku ke kediaman baru yang terletak di antara distrik hiburan Central Capital dan pasar gelap raksasa Darkest Market.

Baru saja hendak beristirahat sejenak, aku dipaksa datang oleh utusan Keluarga Goldbarrel. Gara-gara itu, Peanut Butter Marshmallow Pie-ku jadi tertunda.

Sosok yang memanggilku tidak lain adalah Maralva, kepala keluarga Goldbarrel saat ini.

Niat busuknya sudah terbaca jelas: dia ingin merundungku, penyihir yang diasingkan dari Ibu Kota, demi memuaskan egonya.

Keluarga Goldbarrel terkenal membenci penyihir, dan Maralva adalah yang paling parah. Dia masih memegang teguh prasangka kuno yang disebut "tradisi prajurit".

Dia juga sangat membenci sesama bangsawan dari klan penyihir legendaris, Keluarga Eterna, dan klan biarawan legendaris, Keluarga Merrybirth. Gesekan ini sudah berlangsung selama tujuh ratus tahun.

Penyebabnya bukan hanya Keluarga Goldbarrel. Keluarga Eterna yang berisi para penyihir Elf sombong memandang rendah prajurit sebagai kaum biadab dan membenci para biarawan yang menggunakan sihir untuk kepentingan agama.

Begitu pula Keluarga Merrybirth yang menghina prajurit dan penyihir karena tidak memiliki iman. Perselisihan antar bangsawan ini seolah tidak pernah ada habisnya.

Singkatnya, tiga dari empat garis keturunan Empat Pahlawan Besar ini sedang berada dalam kondisi saling menjatuhkan yang berlumpur.

"GYAAAAAAA——!!"

Tiba-tiba, jeritan mengerikan bergema dari arah panggung arena. Namun, utusan Keluarga Goldbarrel yang memanduku tidak mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun dan terus melangkah dengan tenang.

Di dalam Colosseum yang diselimuti kegelapan malam, hampir tidak ada pencahayaan dari alat sihir. Hanya ada obor-obor primitif yang menerangi sekeliling dengan remang.

Maralva mungkin sengaja melakukannya untuk menciptakan suasana mencekam, tapi bagiku ini hanya merepotkan.

Tepat di tengah panggung arena yang luas, sebuah patung batu raksasa menjulang tinggi. Jika diukur dengan standar pengukuran budaya Pahlawan, tingginya pasti lebih dari dua puluh meter.

Patung pria perkasa yang memegang pedang besar dan kapak besar itu melambangkan sosok prajurit legendaris sekaligus pendiri keluarga, Goldbarrel Pertama.

Meski tujuannya untuk memamerkan kekuasaan, mendirikan benda raksasa seperti ini di tengah panggung arena jelas sangat mengganggu. Bisa dibilang ini adalah cacat besar bagi sebuah arena pertarungan.

"Gufu. Gufu. Gufufu."

Suara berisik yang mirip dengan lenguhan Magic Bull-Frog terdengar. Saat aku mengalihkan pandangan ke arah panggung, sebuah pemandangan abnormal terbentang di sana.

Panggung yang diterangi cahaya remang itu telah berubah menjadi lautan darah merah kehitaman. Mayat-mayat yang dicincang dengan kejam bergelimpangan di mana-mana. Ras, jenis kelamin, dan usia para korban bervariasi.

Melihat bekas luka pada mayat-mayat itu, terlihat jelas bahwa tebasan pedangnya sangat berantakan. Tidak sulit membayangkan betapa mereka sangat menderita sebelum tewas.

"Gufufu. Gufu. Gufu."

Aku mengatupkan geraham kuat-kuat agar kemarahan tidak nampak di wajahku, lalu menatap sosok yang mengeluarkan suara menjijikkan itu.

Seorang pria buruk rupa yang tampak seperti Bowman versi beberapa kali lebih bengkak dan disiram minyak kotor.

Dia mengenakan pakaian bulu yang mewah, namun rasanya tidak ada orang lain yang lebih tidak cocok memakainya selain dia.

Mahkota emas yang bertengger di atas kepalanya yang hampir botak justru membuat penampilannya terlihat murahan dan sangat konyol.

Dialah penguasa Kota Emas Domina Domina sekaligus kepala keluarga Goldbarrel saat ini, Maralva Goldbarrel.

"Gufufu. Selamat datang, penyihir tidak berguna yang diusir dari Ibu Kota."

Menyadari kehadiranku, Maralva menggoyangkan lemak dagunya yang berlapis-lapis dan mengeluarkan suara vulgar.

Di tangannya tergenggam sebilah pedang lengkung aneh yang dipenuhi taring-taring tajam, dengan potongan daging yang masih menempel di bilahnya.

Meski suasananya remang, aku bisa merasakan tatapan tajam dari para prajurit pengawal yang berjaga di sekeliling.

Sungguh malang nasib mereka harus mempertaruhkan nyawa demi melindungi pria seperti ini.

"Mulai hari ini saya ditugaskan di Kota Emas Domina Domina. Nama saya adalah Jagid Deabold."

Aku melakukan hormat ala militer Kekaisaran dan menatap langsung ke mata Maralva.

Melihat sosok yang tampak seperti personifikasi dari pembusukan masyarakat bangsawan ini membuatku ingin muntah, tapi aku tidak boleh membiarkan emosi mengacaukan segalanya. Hatiku sudah lama membeku.

Demi membuatnya lengah dan besar kepala, aku akan berpura-pura menjadi orang tidak berguna di hadapannya.

"Aaah, aku tahu. Akulah yang mengusulkan pengasinganmu kepada Kaisar demi putraku tersayang, Bowman. Bagaimana... apa kau membenciku?"

"Tidak, saya tidak berani merasa demikian."

"Gufufu. Yah, kau memang tidak punya pilihan lain selain menjawab begitu."

Sambil menggoyangkan tubuhnya yang penuh lemak—sangat jauh dari citra keturunan prajurit legendaris—Maralva menendang potongan daging yang ada di dekat kakinya.

"Ngomong-ngomong, apa kau tidak penasaran dengan keadaan di sini?"

Atas desakan Maralva, aku memandang sekeliling panggung Colosseum.

Aku menyadari bahwa selain mayat dan potongan daging, ada banyak sekali senjata yang berserakan.

Pedang dengan bola mata yang tertanam di bilahnya, tombak dengan hiasan telinga Elf seperti bulu, hingga kapak yang disambung menggunakan tulang rusuk.

Semuanya adalah senjata-senjata aneh yang mengerikan.

"Semua ini adalah hasil perbuatanku. Gufu, gufufu."

Tanpa menunjukkan emosi, aku hanya mengangguk singkat sambil bergumam, "Begitu rupanya."

Sudah rahasia umum bahwa hobi Maralva adalah mengoleksi senjata dan melakukan uji coba tebasan (tameshigiri).

Dia tidak segan-segan menggunakan cara apa pun untuk mendapatkan senjata langka, mulai dari pemerasan, perampokan, hingga pembunuhan.

Dan pertunjukan pembantaian di Colosseum yang dia sebut sebagai "uji coba senjata" ini... adalah rahasia umum bagi penduduk Kota Emas Domina Domina.

"Apakah mereka ini para penjahat?"

"Ya, mereka penjahat."

Maralva menjawab pertanyaanku dengan cepat sambil menyeringai licik.

"Karena tidak menjadi bangsawan adalah dosa besar! Gufufu!"

...Benar-benar mirip dengan Bowman dalam banyak hal.

Maralva menangkap orang-orang dengan alasan yang dibuat-buat—persis seperti saat dia memfitnahku—lalu menjadikan mereka sasaran uji coba tebasan.

Terlebih lagi, dia membelenggu tangan dan kaki mereka agar tidak bisa melawan sebelum menyiksa mereka sesuka hati.

Meski perutku mual melihat perbuatan biadab yang sudah seperti di film-film ini, aku tetap menatap Maralva dengan wajah tenang dan mengangguk.

"Anda benar sekali."

Setelah melirik Maralva yang tertawa puas, aku mengalihkan pandangan ke mahkota emas yang berkilau di atas kepalanya yang botak.

Mahkota itu berbentuk singa, lambang keluarga Goldbarrel, dan bertatahkan Mana Crystal kualitas tertinggi.

Itu adalah Talisman berkualitas sangat baik yang sebenarnya terlalu mewah untuk orang seperti Maralva.

"Aku dengar dari Bowman... hei penyihir jelata, kau ahli dalam mantra Heal, kan? Coba sembuhkan orang yang hampir mati di sana."

Maralva memberi isyarat ke arah seorang pria yang terkapar dan masih bernapas dengan susah payah.

Punggungnya dicincang habis-habisan, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat. Jika dibiarkan, jelas dia akan segera mati.

"Baik, saya laksanakan."

Tanpa ragu sedikit pun, aku mengarahkan tangan kananku ke arah pria itu. Sambil menjaga emosi agar tetap stabil, aku memfokuskan Mana di telapak tanganku.

Kemudian, aku melepaskan Mana tersebut seperti menghembuskan napas ringan.

"Heal."

Bersamaan dengan penyebutan nama mantra penyembuhan itu, tubuh si pria beregenerasi seolah waktu diputar mundur. Luka di punggungnya menutup dalam sekejap mata.

Karena aku meregenerasi hingga ke sel darahnya, pasokan darah yang hilang pun kembali sempurna. Setelah ini, jika dia beristirahat dengan tenang, dia akan segera pulih.

Heal adalah mantra yang memasukkan Mana ke dalam organ Mana di kepala untuk mengaktifkan sel-sel secara paksa guna meningkatkan daya penyembuhan alami.

Ini adalah mantra populer dalam sihir Kekaisaran, namun penggunaannya cukup sulit karena efektivitasnya bergantung pada bentuk organ Mana target.

Semakin tinggi tingkat kemahiran sihir seseorang (seperti penyihir atau Elf), maka bentuk organ Mana mereka akan semakin kompleks, sehingga Heal sulit meresap ke dalam tubuh dan efek penyembuhannya menjadi lemah.

Karena itulah di militer Kekaisaran yang penuh dengan penyihir dan Magic Warrior, pengguna Heal jarang dihargai dan biasanya dijauhkan dari garis depan.

Sebagai catatan, organ Mana makhluk selain manusia atau tumbuhan memiliki bentuk yang sangat berbeda, sehingga Heal tidak akan berpengaruh sama sekali pada mereka.

Jika penyembuhan makhluk selain manusia bisa dilakukan, masalah pangan dunia akan mudah diselesaikan dengan meregenerasi daging yang telah dipotong terus-menerus.

Meski hal itu pasti akan memicu masalah baru yang lain.

"Luar biasa! Ini di luar dugaanku...! Aku belum pernah melihat Heal sekuat ini!"

Melihat punggung pria itu pulih sempurna tanpa meninggalkan satu bekas luka pun, mata kecil Maralva melotot kaget.

"Gufu! Ini bagus sekali! Biasanya mereka langsung kubuang, tapi kalau begini, mereka bisa didaur ulang!"

Memahami maksud dari kata-kata Maralva yang kegirangan sambil menyemburkan ludah itu, aku merasa geram jauh di dalam hati.

Jika pria ini kubantu pulih hanya untuk ditebas kembali dan disiksa lebih parah, bukankah membiarkannya mati tadi akan lebih menyelamatkannya...?

Tidak, melawan pun percuma. Maralva bisa menangkap siapa saja dengan alasan yang tidak masuk akal untuk melakukan uji coba tebasan sesuka hatinya.

Hak istimewa bangsawan dengan mudah melampaui hukum. Tidak ada cara untuk menghentikannya, baik itu oleh militer Kekaisaran atau siapa pun.

Sistem bangsawan kelas istimewa ini sudah busuk sampai ke akar-akarnya. Sebuah sistem bodoh yang hanya membuat sampah menjadi tak terkalahkan.

Memang, masalah ini harus diselesaikan dari dasarnya——

"Oi, Deabold! Dengan Heal-mu itu, apakah kau bisa menumbuhkan kembali kepala yang sudah putus?"

"Meskipun konsumsi Mana-nya besar, itu mungkin saja dilakukan. ……Namun, saya tidak bisa mengembalikan nyawa yang sudah hilang."

"Bukankah kau bisa menggunakan yang namanya Necromancy?"

Padahal benci penyihir, tapi tahu juga ya soal ilmu hitam seperti itu, pikirku dalam hati sambil merasa heran.

"Necromancy hanyalah mantra untuk menggerakkan mayat sesuai dengan gerakan yang sudah ditentukan sebelumnya. Itu hanya membuat zombi, bukan menghidupkan kembali orang mati. ……Lagipula, Necromancy sudah ditetapkan sebagai sihir terlarang."

Necromancy, atau nama resminya adalah Spirit Inscription Arts. Sebuah teknik untuk mengendalikan mayat dengan menanamkan segel berisi Mana.

Teknik ini populer di Zaman Kegelapan dua ratus tahun lalu, namun karena efeknya yang tidak manusiawi, teknik ini dilarang setelah diskusi antara Magic Academy dan Providence (Asosiasi Sihir).

Jadi saat ini, boro-boro menggunakannya, mempelajarinya saja tidak diperbolehkan. ……Secara resmi, sih.

"Begitu ya, menebas zombi sih tidak asyik. Kenikmatan utama dari uji coba senjata adalah jeritan asli dan tekstur daging yang nyata! Gufu, gufu."

Sambil duduk dengan santai di atas pria yang baru saja kupulihkan dengan Heal, Maralva menyilangkan kakinya yang pendek.

Kemudian, sambil menggesekkan bilah pedang lengkungnya ke leher pria itu, dia tertawa dengan suara yang mirip Magic Bull-Frog.

"Hm? Ada apa? Apa kau punya keluhan terhadapku?"

Menyadari tatapanku, Maralva mengernyitkan alis dengan heran, lemak pipinya yang tembam ikut bergoyang.

"Tidak. Hanya saja saya penasaran dengan... itu..."

Aku sengaja berpura-pura ragu, lalu menatap belati yang tersimpan di sarung pinggang Maralva.

Gagangnya dihiasi singa emas, dan sarungnya ditaburi berbagai permata berharga dengan sangat berlebihan. Meski masih tersarung, benda itu memancarkan keberadaan Mana yang luar biasa.

"Kau penasaran dengan ini? Gufufufu! Matamu tajam juga, Deabold."

Maralva berdehem dengan riang, perutnya yang buncit ikut membal.

"Benar. Ini adalah Regalia!"

Sudah kuduga...!

Aku tidak bisa menahan keterkejutanku saat akhirnya berhadapan langsung dengan pedang penuh takdir itu.

Namun, reaksiku itu justru membuat suasana hati Maralva semakin baik, dan dia tertawa kegirangan.

"Gufu! Gufut! Wajar saja kalau kau bersemangat! Karena Regalia adalah harta terbesar sekaligus kekuatan tempur terkuat di Kekaisaran ini!"

Regalia.

Tujuh ratus tahun yang lalu, empat bilah belati dibuat dari hasil pengolahan empat tanduk Raja Iblis yang dikalahkan oleh Empat Pahlawan Besar.

Benda-benda ini adalah pusaka suci yang diwariskan secara turun-temurun oleh para kepala keluarga dari keturunan Empat Pahlawan.

Dalam buku sejarah tertulis bahwa menarik pedang ini akan melepaskan kekuatan dahsyat yang melampaui akal manusia, namun rinciannya tidak pernah diungkap ke publik.

"Karena kau terlihat sangat tertarik, aku jadi ingin memamerkan kekuatan Regalia ini kepadamu, tapi..."

Sambil berkata demikian, Maralva yang suka pamer itu mengelus Regalia dengan jarinya yang gemuk. Namun, dia melepaskan tangannya di saat-saat terakhir dan menyeringai licik.

"Bahkan aku pun tidak bisa sembarangan menarik pedang ini. Bisa-bisa memicu masalah internasional."

Apa yang dikatakan Maralva bukan sekadar kiasan, tapi fakta murni. Karena Kekaisaran bisa menjaga kedamaian selama tujuh ratus tahun adalah berkat keberadaan Regalia.

Sejak Empat Pahlawan Besar dan Kekaisaran menjalin hubungan erat setelah mengalahkan Raja Iblis, perang dengan negara lain menjadi tidak ada lagi.

Sebagai gantinya, Kekaisaran memperluas wilayahnya dengan menyerap negara lain yang menyerah tanpa syarat atau dengan membelinya, hingga akhirnya menjadi negara adidaya yang menguasai seperempat dunia.

Penyebab utamanya adalah Regalia.

Meskipun tidak ada orang yang pernah melihat kekuatan Regalia—secara catatan resmi—dikatakan bahwa kekuatan yang berasal dari Mana di tanduk Raja Iblis dan kehendak Empat Pahlawan memiliki daya hancur yang bisa dengan mudah menghancurkan dunia.

Dengan kata lain, negara lain takut pada Regalia milik Kekaisaran, dan Kekaisaran memamerkan keberadaan Regalia untuk menekan negara lain demi menjaga keseimbangan dunia.

Berkat pendidikan cuci otak Kekaisaran yang digerogoti oleh kaum bangsawan, bahkan anak kecil yang tidak mengerti sejarah atau politik pun menganggap bangsawan sebagai sosok yang luar biasa. Mereka percaya bahwa berkat Regalia, perdamaian dunia tetap terjaga.

Mereka menganggap Regalia sebagai pencegah perang dan simbol perdamaian.

Salah.

Itu salah besar.

Regalia hanyalah senjata pemusnah massal belaka...!

"Aku tidak bisa menarik pedangnya, tapi aku akan memberitahu namaya yang agung. Simbol kekuatan Goldbarrel! Pedang Penakluk, Bebelgius!"

Bebelgius...

Karena aku tidak tahu kemampuannya, aku tidak bisa memastikan apakah Bebelgius adalah Regalia yang telah menghancurkan desa itu atau bukan.

Tapi, itu tidak masalah. Apa pun kemampuan Regalia milik Keluarga Goldbarrel, tujuanku tidak berubah. Rencanaku tidak akan goyah.

"Gufu! Gufu! Gufufu!"

Maralva yang mengira aku telah tunduk pada kekuatan Regalia tertawa dengan sangat puas, lalu mulai menceritakan kisah-kisah kepahlawanan Goldbarrel.

Meski aku sama sekali tidak tertarik, aku terus memberikan tanggapan seperlunya agar dia tidak tersinggung. Untungnya perhatian Maralva teralih dari uji coba tebasan di hadapannya.

Kepala keluarga Goldbarrel sebelumnya memang seorang tiran, tapi setidaknya dia masih punya bakat sebagai pedagang dan karisma sebagai prajurit.

Namun, Maralva saat ini adalah orang paling tolol yang pernah ada sepanjang sejarah klan, dan Keluarga Goldbarrel saat ini terlihat jelas sedang berada di ambang kehancuran.

Ada rumor gelap bahwa Maralva melenyapkan orang tua dan saudara-saudaranya demi berebut harta.

Entah itu benar atau hanya konspirasi dari bangsawan lain, yang jelas saat ini Keluarga Goldbarrel sedang dalam masa sulit dan hanya tersisa sedikit anggota keluarga.

Garis keturunan Goldbarrel yang masih hidup hanyalah Maralva, putra keduanya yaitu Bowman, dan putra sulungnya, Vischio.

Hanya tiga orang itulah benang tipis yang menyambung silsilah Goldbarrel.

Cuma tiga orang——.

◆◇◆

Pagi hari setelah bertemu Maralva di Colosseum, aku mengunjungi fasilitas kerja paksa bawah tanah tempatku dimutasi.

Tadi malam benar-benar melelahkan karena aku harus mendengarkan bualan dan cerita kepahlawanan Maralva, tapi berkat itu aku mendapatkan banyak informasi yang berguna.

Tempat kerja baruku adalah area penambangan yang dibangun di bawah bekas benteng di pinggiran Kota Emas Domina Domina.

Benteng itu awalnya dibangun oleh Goldbarrel Pertama untuk pertahanan, namun bagi Kekaisaran yang tidak pernah berperang karena adanya Regalia, benteng itu menjadi tidak berguna. Katanya, tempat itu sudah lama ditinggalkan.

Ada jejak-jejak bahwa tempat itu pernah digunakan sebagai fasilitas komersial sekitar lima ratus tahun lalu, dan bagian bawah tanahnya telah menjadi reruntuhan yang sangat luas.

Ini adalah dungeon buatan yang terbentuk secara tidak sengaja karena akumulasi sejarah. Oleh karena itu, tidak ada risiko munculnya monster.

Pekerjaanku di fasilitas bawah tanah ini adalah menambang di dalam dungeon dan menemukan artefak berharga. Peranku adalah sebagai pengawas lapangan.

Karena ini adalah rekomendasi dari Bowman, dia pasti berniat merundungku dengan memberiku pekerjaan fisik yang tidak disukai penyihir. Benar-benar pemikiran pendek khas Bowman.

Meskipun aku bekerja di perpustakaan, aku adalah tentara Kekaisaran.

Aku selalu menjaga massa otot minimal yang diperlukan, dan aku juga memiliki keahlian bertarung jarak dekat untuk berjaga-jaga jika aku berada dalam situasi di mana sihir tidak bisa digunakan.

Karena aku sangat berbeda dengan Keluarga Goldbarrel yang hanya gumpalan lemak, sayangnya rencana Bowman meleset jauh.

Aku menuruni tangga melingkar yang menuju ke bawah tanah, lalu membuka pintu ganda yang tertutup rapat dengan kunci khusus.

"……Ugh!"

Seketika itu juga, bau busuk yang luar biasa dan debu yang pekat menyergapku, membuatku hampir muntah.

Bau tajam yang menusuk hidung, campuran dari keringat, darah, dan kotoran. Ditambah lagi dengan pekatnya debu yang membuat paru-paru terasa perih setiap kali aku bernapas.

Terlebih lagi, suhu panas dan kelembapan yang luar biasa membuat keringat mengucur dari seluruh tubuh, dan kepalaku terasa sakit berdenyut serta pusing akibat pengaruh Mana beracun yang mencemari udara.

Aku bahkan tidak tahu lagi rasa mual ini berasal dari mana.

Pantas saja tidak ada orang yang mengawasiku di lingkungan seburuk ini.

Katanya pengawas sebelumnya jatuh sakit dan melarikan diri hanya dalam waktu satu minggu, lalu dia dieksekusi karena memicu kemarahan Maralva.

Aku menenangkan diri dan memutar Mana di dalam tubuh untuk menyesuaikan kondisinya dengan lingkungan sekitar.

Meski hanya tindakan darurat, ini jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa pun.

Aku memandang sekeliling fasilitas bawah tanah yang hanya diterangi cahaya temaram dari lentera tua, lalu menyeka keringat dingin di dahi.

Di sana, banyak sekali Beastman yang dipaksa bekerja secara tidak manusiawi.

Mereka semua adalah orang-orang yang dibawa paksa dari daerah kumuh Deep Side atau desa-desa sekitar—singkatnya, mereka adalah budak.

Beastman memiliki kemampuan fisik yang sangat tinggi, namun karena jumlah total Mana mereka sangat sedikit, kecocokan mereka sebagai penyihir sangat rendah.

Mereka adalah ras yang paling cocok untuk pekerjaan penggalian di bawah tanah, namun di lingkungan yang buruk ini, karakteristik unggul mereka pun jadi sia-sia.

Para Beastman itu hanya mengenakan kain tipis kotor yang dililitkan langsung ke tubuh mereka.

Rambut dan kulit mereka rusak, tubuh mereka kurus kering dan penuh luka, serta tidak ada tanda-tanda kehidupan dari ekspresi wajah mereka.

Namun, aku merasa mata mereka belum benar-benar mati.

Menurut daftar yang diberikan sebelumnya, jumlah pekerja adalah dua puluh delapan orang, namun Beastman yang ada di depanku berjumlah dua puluh sembilan orang.

Ketidakmampuan mereka mengelola jumlah orang dengan benar menunjukkan betapa cerobohnya Keluarga Goldbarrel dan betapa rendahnya minat mereka terhadap fasilitas ini.

"Oh, pengawas baru ya."

Seorang Beastman bertelinga anjing yang tampaknya adalah pemimpin mereka menyapaku dengan suara ceria sambil menggenggam tanganku.

Senyumnya yang tulus terpancar cerah, dan rambut pirangnya yang penuh lumpur menunjukkan keanggunan liar yang bermartabat.

Aku langsung mengerti bahwa dialah alasan mengapa mata Beastman lainnya belum mati.

Di tengah lingkungan kerja yang buruk ini, hanya pemimpin bertelinga anjing ini yang tidak menyerah dan terus melawan keputusasaan.

Keberadaannya yang kuat dan ceria adalah harapan hidup bagi Beastman lainnya.

"Salam kenal. Namaku Jagid Deabold, aku baru saja ditugaskan sebagai pengawas di sini. Mohon bantuannya."

Aku mencoba menyapa dengan nada selembut mungkin untuk mengurangi permusuhan, namun reaksi dari Beastman selain si pemimpin telinga anjing tidak begitu baik.

"Mohon bantuannya juga, Tuan Penyihir. Aku adalah—"

"Hausie Uwan. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan pahlawan yang dijuluki 'Kilat Padang Rumput'."

Mendengar kata-kataku, Hausie—si pemimpin telinga anjing—mengerjapkan matanya lalu tertawa keras.

"Hahahaha! Kau sudah menyelidikiku dengan baik, ya. Aku sudah hampir lupa dengan julukan itu."

Dulu, Hausie adalah petualang yang dengan mudah menyelesaikan misi tingkat tinggi dan menumpas monster kuat dengan gagah, hingga dia dicintai oleh penduduk Kota Emas Domina Domina.

Namun, prestasinya membuat Keluarga Goldbarrel iri, dan tiga tahun lalu dia dijebak dengan licik lalu dibuang ke fasilitas kerja paksa bawah tanah ini.

Hausie adalah korban Keluarga Goldbarrel sekaligus harapan bagi para Beastman. Ditambah lagi dengan kepribadiannya yang ceria ini. Jelas dia adalah kepingan penting yang tidak boleh dilewatkan dalam rencanaku.

Demi mendapatkan kepercayaannya dan memanfaatkannya untuk rencana ke depan, hal pertama yang harus kulakukan sudah ditentukan. Aku kembali memandang sekeliling fasilitas bawah tanah.

Bau busuk, debu pekat, panas lembap, dan kontaminasi Mana beracun, ditambah lagi tidak ada peralatan medis, alat kerja, maupun makanan yang layak.

Terlebih lagi karena diberi target kerja yang tidak masuk akal, mereka tidak bisa pulang selama berhari-hari dan terpaksa tidur di dalam fasilitas ini setiap malam.

Menurut laporan, sejauh ini belum ada artefak yang ditemukan. Sama sekali tidak ada hasil.

Karena itulah Keluarga Goldbarrel tidak menaruh harapan pada tempat ini dan terus melakukan penanganan yang ceroboh.

Alhasil, mereka terjebak dalam lingkaran setan yang semakin dalam.

"Pertama-tama, mari kita perbaiki lingkungan kerja ini."

Usulanku membuat para Beastman sedikit gaduh, namun mereka segera terdiam dan kembali menunjukkan kepasrahan. Bahkan Hausie pun terlihat ragu dan menunjukkan ekspresi skeptis.

"Itu mustahil."

Sosok yang memecah keheningan yang berat itu adalah seorang gadis berambut biru muda.

Di puncak kepalanya tumbuh telinga rubah, dan dipadukan dengan wajah cantiknya yang seperti pahatan kuno, dia memancarkan atmosfer yang misterius.

"Meskipun kau adalah penyihir hebat, mustahil bisa memperbaiki neraka seperti ini. Sebanyak apa pun tenaga yang kau keluarkan tidak akan ada artinya, justru malah akan memperburuk keadaan."

Setelah berkata demikian dengan nada dingin, gadis berambut biru itu memalingkan wajahnya dengan tidak senang.

"Anu, kalau kau..."

Gadis berambut biru itu mengenakan kain tipis kotor yang sama seperti Beastman lainnya, namun dia memakainya dengan gaya unik seperti mini-onepiece ketat.

Sosoknya yang memperlihatkan lekuk tubuh dengan jelas itu terasa sensual namun juga seperti pakaian adat yang misterius.

Informasi tentangnya tidak ada di daftar pekerja. Apakah Keluarga Goldbarrel yang ceroboh melakukan kesalahan pada daftar, atau justru——.

"Namaku Kambase. Aku baru mulai bekerja dua minggu lalu sebagai pendatang baru. Tapi, kau tidak perlu mengingatku."

Setelah berucap dengan datar, Kambase menatap wajahku dengan tatapan tajam.

"Toh kau juga akan segera menghilang dari sini."

Sepertinya aku sangat tidak disukai ya, pikirku sambil mengangkat bahu dan tersenyum kecut.

"Entahlah, kita lihat saja nanti."

Aku mengabaikan kata-kata Kambase dengan santai, lalu dengan gerakan tenang aku mengarahkan tangan kananku ke arah Hausie. Sambil menjaga emosi agar tetap stabil, aku mengendalikan Mana dan menyebutkan nama mantranya.

"Heal."

Dengan aktifnya mantra penyembuhan, Mana mengalir ke dalam tubuh Hausie, dan luka-luka tak terhitung yang terukir di seluruh tubuhnya pun sembuh dalam sekejap mata.

Meskipun tidak terlihat, luka di bagian yang tertutup kain tipis pun pasti sudah sembuh secara otomatis oleh mantra tersebut.

"Apa?!"

Sosok yang bersuara lebih dulu bukanlah Hausie yang menjadi target, melainkan Kambase.

Wajahnya yang semula cemberut kini berubah drastis, mulutnya terbuka lebar dengan ekspresi kaget yang luar biasa.

"Menyembuhkan luka di seluruh tubuh dalam sekejap...! Jangan-jangan, Heal itu adalah Omnia...?"

"……Tidak. Ini hanya Heal biasa. Hanya saja aku sedikit lebih ahli dalam Heal dibandingkan penyihir lainnya. Itu karena guruku adalah master dalam penyembuhan."

Kenangan masa lalu yang jauh terlintas di pikiranku, membuat bagian dalam dadaku terasa perih.

Namun, aku berhati-hati agar emosi sentimental tidak terlihat, dan dengan senyum lembut aku terus merapalkan Heal secara beruntun kepada para Beastman lainnya.

"Wah! Lukaku sembuh! Penyihir itu hebat sekali!"

"Eh! Lukaku juga sudah sembuh entah sejak kapan! Eh! Kau juga!"

"Benar! Apa-apaan ini! Hebat sekali! Pengawas baru ini luar biasa! Dia penyihir jenius!"

Para Beastman yang telah selesai diobati memberikan berbagai komentar dan bermain-main dengan gembira.

Karena kondisi fisik yang buruk dalam waktu lama membuat mereka sering murung, kegembiraan mereka kali ini seolah meledak untuk melampiaskan kekesalan selama ini.

"Tuan Penyihir, kau hebat sekali! Lihat, bahkan peradangan di selangkanganku sembuh total! Padahal ini sulit sekali sembuh dan sangat mengganggu! Lihat, sekarang sudah mulus!"

Hausie terlihat sangat senang sampai-sampai dia menyingkap kain tipisnya untuk memamerkan pangkal pahanya, membuatku buru-buru memalingkan wajah dan tetap bersikap sopan.

Beastman cenderung kurang memiliki rasa malu terhadap ketelanjangan dibandingkan manusia, tapi ini pertama kalinya aku bertemu wanita yang seberani ini.

……Yah, anggap saja dia sudah mempercayaiku.

"Terakhir adalah giliranmu, Kambase."

Kambase yang menjadi sasaran tangan kananku tampak terkejut, namun dia segera menggelengkan kepala dengan tenang.

"……Kau pasti lelah karena sudah menggunakan Heal kepada semua orang, kan?"

"Terima kasih atas perhatianmu. Tapi tidak apa-apa. Beastman memiliki daya penyembuhan alami yang tinggi, jadi efek Heal mudah meresap dan konsumsi Mana-nya sedikit."

Begitu mendengar kata-kataku, ekspresi Kambase langsung mendung dan dia menjaga jarak agar keluar dari jangkauan mantranya.

"A-aku tidak punya luka serius, jadi tidak perlu."

Suara Kambase sedikit bergetar.

Menolak Heal sampai sejauh ini terasa tidak wajar. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu... tapi untuk sekarang aku tidak akan menyelidikinya lebih lanjut.

Jika aku terlalu memaksanya dan memicu keributan yang tidak perlu, itu hanya akan mengganggu rencanaku. Setelah mendapatkan kepercayaannya, aku bisa memeriksanya sepuas hati.

"Kalau begitu, selanjutnya mari kita perbaiki udara di sini. Bau busuk, debu pekat, panas lembap, dan kontaminasi Mana beracun di udara. Jika semua ini diselesaikan sekaligus, lingkungan kerja akan membaik secara drastis."

"Itu benar-benar mustahil."

Sambil tetap menjaga jarak dariku, Kambase membantah dengan nada tajam.

"Mungkin kau berniat meniup debu dengan mantra Tornado atau memurnikan Mana beracun dengan mantra Refresh, tapi semua itu sia-sia dan tidak ada artinya."

"Wah, kau mengerti sihir juga ya."

Mendengar komentarku, Kambase sedikit terkejut dan bergumam, "Dulu aku pernah mempelajarinya sedikit."

Kata-kata Kambase memang ofensif, tapi ada benarnya. Meniup debu dengan Tornado atau memurnikan dengan Refresh hanyalah tindakan sementara.

Itu tidak akan cukup untuk menyelesaikan masalah di lingkungan yang buruk ini. Benar-benar sia-sia. Tapi sepertinya dia mengkhawatirkanku dengan caranya sendiri.

"Kambase, pemikiranmu sebagian besar benar."

"Eh...?"

"Pemilihan mantra Tornado dan Refresh itu sudah sangat tepat. Sekarang tinggal menambahkan sedikit sentuhan saja, maka semuanya akan beres."

Aku memfokuskan Mana yang mengandung doa di tangan kananku, dan memfokuskan Mana dengan imajinasi badai yang mengamuk di tangan kiriku.

Setelah mengembangkan dua mantra berbeda secara bersamaan, aku menyebutkan nama mantranya sambil menjaga keseimbangan keduanya.

"Airy Pure!"

Plak! Begitu aku menangkupkan kedua telapak tanganku, sebuah tornado kecil muncul di hadapanku.

"I-ini...!"

Kambase mengintip ke arah tornado kecil itu sambil berhati-hati agar kain tipis yang dipakainya tidak tersingkap ditiup angin. Dia terlihat seperti anak kecil yang sangat tertarik pada mainan baru.

"Ini adalah mantra komposit, gabungan dari Tornado dan Refresh."

Mantra Tornado untuk mengubah Mana menjadi sifat angin dan mengendalikannya, digabungkan dengan mantra Refresh untuk memurnikan efek status abnormal yang berasal dari sihir.

Dengan menggabungkan keduanya, aku menciptakan tornado yang memiliki efek pemurnian.

Tornado kecil itu bergerak perlahan sambil menyerap udara di sekelilingnya, lalu melepaskan mantra pemulihan status abnormal sebagai gantinya.

Dengan cara ini, bau busuk, debu, dan Mana beracun akan dikumpulkan dan dimurnikan oleh tornado, lalu diubah menjadi udara segar.

Aku terus merapalkan beberapa Airy Pure lagi dan melepaskannya ke area sekitar.

Dengan ini, udara di seluruh fasilitas bawah tanah akan bersirkulasi, dan suhu serta kelembapannya juga akan disesuaikan secara proporsional.

Untuk urusan pembuangan kotoran, aku akan melakukannya diam-diam menggunakan mantra air setelah jam kerja selesai.

Setelah itu, aku tinggal membawa mereka semua ke pemandian umum di Darkest Market dan mengganti pakaian mereka dengan yang bersih, maka masalah kebersihan selesai.

"Mustahil, kau bisa mengendalikan dua jenis mantra secara bersamaan...! Padahal biasanya kesadaran akan terbagi dan salah satu mantranya akan menjadi kacau!"

Maaf saja bagi Kambase yang memberikan reaksi kaget secara berlebihan, tapi mantra komposit sebenarnya hanya menggabungkan mantra-mantra yang sudah ditentukan sebelumnya, jadi aslinya lebih mudah daripada kelihatannya.

Pengaturan waktunya memang cukup sulit, tapi siapa pun pasti bisa menguasainya setelah berlatih selama sekitar sepuluh tahun.

"Ini hebat! Luar biasa hebat!"

Hausie mengeluarkan komentar dengan perbendaharaan kata yang terbatas sambil mengejar tornado kecil itu.

Dia mencoba menyentuhnya dengan jari, tapi tornado kecil itu selalu menghindar di saat-saat terakhir.

Aku memang memberikan instruksi pada mantra itu agar mendeteksi dan menghindari makhluk hidup atau rintangan guna mencegah kecelakaan.

"Dengan ini, untuk sementara masalah udara sudah teratasi. Walaupun ini bukan solusi permanen jika penyebab keluarnya Mana beracun tidak ditangani..."

Setelah memastikan efek dari beberapa Airy Pure akan bertahan selama sekitar satu jam, aku mengangguk kecil.

"Mari kita istirahat sejenak."

Hausie yang sudah memegang beliung tua dengan penuh semangat langsung mematung dengan mulut terbuka mendengar perkataanku. Beastman lainnya juga ikut mematung dengan mulut terbuka lebar, persis seperti anak burung yang meniru induknya.

Hanya Kambase yang menatapku dengan alis berkerut penuh kecurigaan. Namun, terlihat jelas bahwa di balik tatapannya itu juga tersimpan sebuah harapan.

◆◇◆

"Apa ini?"

Melirik camilan yang kubagikan, Kambase bergumam dengan suara bingung. Beastman lainnya juga memiringkan kepala sambil menggenggam camilan tersebut.

"Ini adalah Peanut Butter Marshmallow Pie dari Glitch Rabbit Co. Kolaborasi antara selai kacang yang sangat manis, marshmallow yang lembut, dan pai yang renyah benar-benar yang terbaik! Kau pasti akan merasa sangat bahagia baik jiwa maupun raga! Kualitas medali hadiahnya juga sangat tinggi dan—"

"Bukan itu yang ingin kudengar."

Memotong penjelasanku yang mulai cepat, Kambase mengeluh dengan ekspresi kecewa.

Karena dia sempat berharap pada perbaikan yang kulakukan, dia merasa terkejut dengan perubahan mendadak di mana aku malah membagikan camilan.

"Berhenti bercanda. Mana ada waktu untuk makan camilan seperti ini—"

"Aku tidak sedang bercanda."

Gantian aku yang memotong kata-kata Kambase, lalu aku menyeringai percaya diri sambil memegang Peanut Butter Marshmallow Pie. Kemasannya yang antik terlihat berkilau elegan diterangi cahaya lentera.

"Meskipun luka bisa disembuhkan dengan Heal, kelelahan mental dan stres tidak bisa dihilangkan begitu saja. Dan stres kronis adalah sumber dari segala penyakit. Karena itulah tubuh perlu asupan gula untuk mengistirahatkan otak. Singkatnya, ini juga merupakan bagian dari perbaikan lingkungan kerja. Ada pepatah bilang 'biar lambat asal selamat', kan?"

Mendengar argumenku yang logis, Kambase terdiam sambil menggumam tidak jelas.

Aku bisa saja terus mendesaknya dengan logika, tapi aku khawatir itu akan terlihat seperti penindasan. Tinggal satu dorongan kecil lagi, maka Kambase pasti akan setuju.

"Cobalah makan dulu, anggap saja kau sedang tertipu olehku."

Mengalihkan pandangannya ke Peanut Butter Marshmallow Pie di telapak tangannya, Kambase mengerutkan dahi.

Dia pasti sedang bergejolak antara sifat seriusnya yang ingin membantahku dan sisi baik hatinya yang tidak ingin menolak mentah-mentah niatku.

"Bukankah tradisi kesopanan ras Beastman adalah tidak menolak pemberian dari orang lain...?"

"Ugh."

Terpukul di bagian yang sensitif, Kambase kehilangan kata-kata dan menundukkan kepalanya dengan lesu.

Beastman di sekitarnya mulai gaduh sambil bergumam, "Memangnya ada tradisi seperti itu?", "Sepertinya nenek pernah bilang begitu~", atau "Pengawas tahu banyak hal ya".

Namun suara mereka tampaknya tidak sampai ke telinga Kambase yang sedang tertekan.

"……Baiklah. Aku akan makan satu."

Sambil berkata demikian, Kambase membuka kemasannya dengan gerakan tangan yang ragu-ragu.

Dia mengambil satu Peanut Butter Marshmallow Pie seukuran satu suapan, memasukkannya ke dalam mulut dengan hati-hati, dan—saat dia mulai mengunyahnya, matanya yang semula sayu langsung terbuka lebar.

"Enak...!"

Manisnya selai kacang yang pekat dan manisnya marshmallow yang segar.

Kelembutan marshmallow yang empuk dan kerenyahan pai yang garing di gigi.




Aroma panggang dari pai itu berpadu dengan kepekatan selai kacang.

Masing-masing mengeluarkan kualitas terbaiknya, bercampur dalam keseimbangan yang elok, dan melantunkan harmoni yang agung. Kelezatan Peanut Butter Marshmallow Pie itu membuat Kambase terbawa suasana; dia menunjukkan ekspresi mabuk kepayang sambil mengembuskan napas manis.

Melihat Kambase telah tertawan, para Beastman lainnya ikut terpengaruh dan mulai menyantap Peanut Butter Marshmallow Pie mereka secara serempak.

Tak lama kemudian, kebahagiaan yang dipicu oleh asupan gula itu menular, membuat suasana di fasilitas kerja paksa bawah tanah menjadi manis dan menyenangkan.

"……A-aku tidak keberatan kalau harus makan satu lagi, sih?"

Gumam Kambase pelan—entah alasan itu ditujukan untuk siapa—sambil memasukkan pai kedua ke dalam mulutnya.

Begitu hal itu terjadi, tamat sudah; Kambase yang hatinya telah dicuri sepenuhnya oleh Peanut Butter Marshmallow Pie mulai melahap yang ketiga, keempat, dan seterusnya.

Setelah merasa tenang melihat sosok Kambase yang makan dengan pipi menggembung penuh, aku berdiri di waktu yang tepat.

Rona wajah para Beastman terlihat membaik secara signifikan, dan mereka kini dipenuhi semangat yang cerah.

Berkat asupan gula dan suasana yang santai, energi asli kaum Beastman tampaknya telah bangkit, membuat kekuatan meluap dari raga maupun jiwa mereka.

Dengan begini, aku bisa memanfaatkan karakteristik sejati mereka.

"Nah, mari kita mulai bekerja."

Aku memusatkan imajinasi cahaya yang menyilaukan di ujung jariku, lalu merapalkan nama mantra, "Wisp."

Bersamaan dengan itu, sebuah bola cahaya seukuran telapak tangan muncul di hadapanku, menerangi sekeliling yang remang dengan cahaya yang benderang.

"Oohhh—!"

Melihat mantra yang kulepaskan, para Beastman bertepuk tangan meriah. Syukurlah, berkat efek camilan tadi, mereka jadi benar-benar akrab denganku.

Mantra cahaya, Wisp. Meski tidak memiliki kemampuan menyerang, konsumsi Mana-nya sedikit dan durasinya lama.

Intensitas cahayanya pun bisa diatur, bahkan bisa digunakan untuk membutakan mata musuh di saat darurat, jadi ini adalah mantra favoritku karena kepraktisannya.

"Menurut laporan, sering terjadi kecelakaan di tempat gelap, jadi selama bekerja aku akan membantu kalian dengan Wisp."

"Kau menyiapkan semuanya sampai sedetail ini, aku jadi merasa tidak enak," ujar Hausie dengan tawa kecut meski nada suaranya tidak bisa menyembunyikan kegembiraan.

"Ini sudah menjadi tugasku sebagai pengawas," balasku sambil tersenyum.

"Tapi mulai dari sini, kekuatan kalian sangatlah krusial. Hausie, aku ingin kamu menemukan sumber Mana beracun yang mencemari udara ini. Baunya sangat tidak nyaman…… kalau diibaratkan, seperti bau amis pakaian dalam yang dipakai seharian penuh saat puncak musim panas."

"Begitu ya, bau celana dalam busuk! Serahkan padaku, Tuan Penyihir. Berkatmu, hidung tersumbatku yang sudah lama akhirnya sembuh total!"

Sambil berkata demikian, Hausie mulai mengendus-endus bau di sekeliling dengan penuh semangat.

Orang sering salah paham bahwa pendengaran Beastman-lah yang paling berkembang karena telinga hewan mereka yang khas, padahal sebenarnya indra penciuman mereka adalah yang terbaik.

Mereka bahkan bisa mencium bau Mana yang tidak bisa dirasakan oleh ras lain dan mengidentifikasinya dengan akurat.

Dengan memanfaatkan penciuman itu, para Beastman biasa berburu harta karun, berburu monster, atau membasmi penjahat.

Sebagai penyihir manusia, aku termasuk ahli dalam deteksi Mana, namun tetap saja tidak bisa menandingi penciuman Beastman.

Daripada mencari sumber Mana beracun sendirian, jauh lebih efisien jika aku menyerahkannya pada mereka.

Lagipula, membiarkan mereka menghasilkan prestasi dengan tangan sendiri akan meningkatkan motivasi mereka—sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.

"Endus, endus…… Bau banget! Endus, endus…… Haaah, ugh! Bau bangettt~!"

Hausie dengan cepat mendeteksi sumber bau busuk itu dan berseru dengan wajah berseri-seri.

"Lewat sini! Endus. Bau busuknya meluap dari arah sini!"

Aku mengikuti Hausie yang berlari dengan antusias, hingga kami sampai di sebuah ruang rahasia di bawah tangga batu. Karena Airy Pure tidak menjangkau ruang rahasia ini, bagian dalamnya dipenuhi oleh Mana beracun dan kondisinya sangat mengerikan.

Sampai di titik ini, kemampuan deteksiku pun sudah bisa menentukan sumbernya…… tapi mari kita coba memancing sedikit.

"Kambase, apa kamu tahu di mana posisi sumbernya?"

"Eh? A-aku? Anu, saat ini hidungku sedang…… sedikit tersumbat……"

Kambase yang mendadak ditunjuk terlihat sangat gugup. Sikapnya jelas aneh.

Aku nyaris mengatakan bahwa hidung tersumbat bisa disembuhkan dengan mudah menggunakan Heal, tapi aku menelan kembali kata-kata itu.

Benar juga, Kambase itu ternyata——.

"Kalau hidungmu tersumbat, mau bagaimana lagi."

Aku menyahut sekadarnya dan tersenyum ramah. Meski tadi aku bertanya karena penasaran, sebaiknya aku berhenti menyudutkan Kambase.

Saat ini, aku harus fokus menjalankan rencana di depan mata selangkah demi selangkah.

"Jadi ini sumbernya."

Setelah melacak Mana di udara dan menggali sedikit di bawah reruntuhan, aku menemukan sebuah alat sihir berwarna ungu berbentuk tengkorak yang terkubur di sana.

"Sepertinya ini perangkap untuk mengusir penyusup dungeon."

Aku mengangguk setelah memastikan adanya pola geometris yang terukir di permukaan tengkorak ungu yang beracun itu.

Seal Arts.

Sihir yang telah diperluas prosedurnya—itulah Seal Arts. Dengan memberikan ukiran yang dialiri Mana, mantra ini akan aktif secara otomatis saat memenuhi syarat tertentu, menjadikannya pilihan terbaik untuk perangkap.

Mantra sihir biasa yang aktif hanya dengan ucapan memiliki jangkauan kemampuan yang sempit, namun kemampuan Seal Arts sangat luas karena bisa memasukkan proses yang kompleks sebelum aktif. Hanya saja, konsumsi Mana-nya besar, serta memerlukan pengetahuan khusus dan teknik yang halus untuk mengukirnya.

Berbeda dengan sihir ala Kekaisaran yang mementingkan efisiensi dan fleksibilitas, Seal Arts yang secara harfiah bisa dimodifikasi secara ekstrem ini lebih disukai oleh para Elf tipe peneliti atau seniman.

Sebagai informasi, barang sehari-hari seperti toilet, bak mandi, dan alat penerangan juga menggunakan Seal Arts.

Menurut sejarah sihir kuno, alat-alat sihir yang menjadi fondasi kehidupan ini merupakan hasil reproduksi budaya Pahlawan yang dibawa oleh Pahlawan Yuzel yang konon bereinkarnasi dari dunia lain.

Kini, kecuali bagi mereka yang sangat menyukai sejarah, teknik yang dibawa Pahlawan Yuzel sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat hingga sulit membedakan mana yang merupakan budaya asli Pahlawan.

"Apa yang akan kau lakukan pada perangkap itu? Kalau kau menghancurkannya sembarangan, Seal Arts-nya bisa mengamuk, lho."

Saat aku menyampaikan terima kasih kepada Kambase karena telah mengkhawatirkanku, pipinya memerah dan dia langsung memalingkan wajah.

Ketika aku memeriksa tengkorak ungu itu, ternyata pada lubang matanya terpasang Mana Cartridge yang terbuat dari olahan Mana Crystal.

Karena Mana disuplai oleh cartridge tersebut, sistem Seal Arts ini tidak akan terputus dalam waktu dekat.

Dengan cartridge model ini, sepertinya ia bisa bertahan lebih dari satu tahun lagi.

"Mantra yang terukir di sini tampaknya adalah Ill Poison."

Saat aku memusatkan kesadaran pada aliran Mana yang meluap dari tengkorak ungu tersebut, terungkap bahwa Seal Arts yang digunakan adalah mantra racun, Ill Poison.

Sifat Mana-nya sedikit berbeda dari Ill Poison masa kini, aktif dengan sistem berantakan yang penuh pemborosan. Ini pasti mantra dari zaman dahulu kala.

"Confine."

Sambil membedah sistem mantra racun itu di dalam otak, aku merapalkan nama mantra pembatal sihir dengan tenang.

"Endus…… Oh! Bau busuknya sudah hilang!"

Hausie menyadari bahwa Ill Poison telah dinetralkan bahkan lebih cepat daripada deteksiku, dan dia berseru dengan lantang.

Mantra pembatal sihir, Confine.

Ini adalah sihir tandingan yang menganalisis struktur sihir target, lalu menonaktifkan dan menghapus kemampuannya.

"T-tidak mungkin……! Ini mustahil! Padahal Confine hanya bisa menghapus mantra yang sistemnya sudah dipahami sepenuhnya……! Bagaimana bisa kau menghapus Seal Arts dari perangkap kuno seperti ini……!"

Kambase berseru kaget dan melangkah mundur dengan lunglai, seolah hampir kehilangan kekuatan di kakinya.

"Kalau kau tanya bagaimana, aku hanya menganalisis mantranya secara normal lalu membongkarnya secara normal juga."

"N-normal? Apa-apaan itu…… Aku benar-benar tidak mengerti……"

Kambase tertunduk lesu, namun aku tidak bisa menjelaskan lebih dari itu.

Aku teringat kata-kata guru di Akademi Sihir bahwa mantra Confine adalah yang paling mengandalkan intuisi di antara sihir Kekaisaran, sehingga sangat sulit diajarkan kepada murid. Dalam hati, aku sangat setuju dengannya.

"Tuan Pengawaaas! Hausie-saaan!"

Mendengar panggilan dengan suara ceria itu, aku keluar dari ruang rahasia dan disambut oleh seorang Beastman bertelinga terkulai yang tersenyum lebar.

"Aku mencoba menggali di tempat yang baunya enak, dan…… jreng! Lihat ini!"

Dengan nada polos, Beastman bertelinga terkulai itu menyodorkan sebuah tombak besar berwarna merah tua.

"Ini kan…… Artifact!"

Melihat tombak besar dengan mata pisau sepanjang hampir satu meter itu, aku tidak bisa menahan suara takjub.

Pada mata tombaknya, selain ada ukiran naga terbang, terdapat pula Seal Arts kuno yang rumit dan aneh.

Dengan kata lain, ini adalah alat sihir purbakala—sebuah Artifact. Meski di beberapa bagian tampak berkarat, benda ini pasti akan kembali bersinar jika dirawat dengan sihir.

"Hehe~ hebat, kan!"

Karena sangat senang dipuji, Beastman bertelinga terkulai itu melompat-lompat kegirangan.

Penciuman Beastman yang selama ini tertindas oleh bau busuk, debu, dan Mana beracun kini telah kembali ke kekuatan aslinya.

Terlebih lagi, mereka berinisiatif menggali sendiri sebelum aku memberi instruksi; mereka ternyata jauh lebih cekatan dan hebat dari bayanganku.

Jika begini, tidak butuh waktu lama sampai aku bisa menyerahkan seluruh pekerjaan fasilitas ini kepada mereka dan aku bisa bergerak dengan bebas.

"Aku juga menemukan ini—! Buku yang kelihatannya hebat!"

"Aku juga menemukan sesuatu yang luar biasa! Lihat, lihat—!"

"Bukankah ini gila—! Bau enak dan bau busuknya campur aduk—!"

Laporan dari segala penjuru terus berdatangan, membuatku yakin bahwa perbaikan fasilitas kerja paksa bawah tanah ini sukses besar.

Bukan hanya Artifact, tapi banyak sekali temuan berharga seperti alat sihir kuno, buku teknik rahasia, hingga koin emas dan permata.

Menata lingkungan kerja, mendapatkan kepercayaan dari para Beastman hebat yang dipimpin oleh Hausie, lalu membiarkan mereka mengerahkan kemampuan asli untuk melakukan penggalian.

Kemudian, mempersembahkan Artifact hasil galian kepada Keluarga Goldbarrel demi mendekati Maralva sang kolektor senjata.

Siklus sempurna ini telah mulai berputar. ……Rencanaku berjalan lancar tanpa sayatan.

Selama dua jam berikutnya, aku terus melakukan penggalian bersama para Beastman.

Hasilnya, kami menemukan banyak sekali Artifact dan menemukan rute yang belum terjamah setelah menyingkirkan perangkap yang mengganggu.

Menurut Hausie, "bau enak" masih meluap dari tempat-tempat lain, jadi kita bisa sangat berharap untuk ke depannya.

"……Jagid."

Saat aku sedang mengerahkan seluruh pengetahuan dari perpustakaan untuk mengidentifikasi Artifact, Kambase mendekat dengan ekspresi malu-malu. Apa dia ingin tambah Peanut Butter Marshmallow Pie lagi?

"Maafkan aku!"

Permintaan maaf yang mendadak itu membuatku terperanjat, hingga aku nyaris menjatuhkan Artifact yang sedang kupegang.

"A-ada apa?"

"Aku ingin minta maaf karena sudah membantah mentah-mentah dan bilang mustahil memperbaiki tempat ini. ……Aku telah meremehkanmu. Kau telah melakukan segalanya yang tidak bisa kulakukan…… dengan kemahiran yang jauh melampaui imajinasiku. Karena itu, aku benar-benar minta maaf!"

Terhadap Kambase yang kembali menundukkan kepala meminta maaf, aku ikut berjongkok agar pandangan kami sejajar.

Di matanya yang jauh lebih jernih daripada Mana Crystal kualitas tinggi, tampak air mata yang sedikit menggenang.

"Lagi pula, karena kau adalah penyihir Kekaisaran, aku curiga pasti ada niat tersembunyi, jadi aku bersikap semakin kasar……"

Bahwa "niat tersembunyi" itu memang benar adanya, tentu saja tidak akan pernah kuucapkan sampai mati.

"Tidak apa-apa, Kambase."

Dengan suara lembut yang biasa kugunakan untuk membujuk Violetta di perpustakaan, aku menyebut nama Kambase.

"Aku bisa merasakan dengan jelas bahwa kau marah karena mengkhawatirkanku. Kau anak yang sangat baik. Bukan hanya aku, tapi Hausie dan yang lainnya pun pasti tahu hal itu. Benar, kan?"

"Tentu saja!"

Yang menjawab dengan semangat bukanlah Kambase, melainkan Hausie dan kawan-kawan yang sedari tadi bersembunyi di sudut sambil mengintip.

Dua puluh delapan Beastman lainnya memberikan senyum ramah yang disengaja kepada Kambase, sambil tampak gelisah seolah ingin segera memeluknya.

"Eh! Apa-apaan kalian semua……!"

Kambase kehilangan kata-kata karena rasa malu yang luar biasa, wajahnya memerah padam sambil meringkuk kecil.

◆◇◆

Satu minggu telah berlalu sejak perbaikan fasilitas kerja paksa bawah tanah dilakukan. Siklus kerja berjalan lancar, target dari Keluarga Goldbarrel pun tercapai tanpa kesulitan, dan segala sesuatunya berlangsung tanpa sayatan.

Belakangan ini, pekerjaan menjadi semakin efisien sehingga aku bisa memberikan banyak waktu luang bagi para Beastman.

Mereka yang awalnya kurus kering kini terlihat sehat khas kaum Beastman, raga mereka kembali lentur, dan mereka menjalani kehidupan yang memuaskan.

Pada suatu hari, aku dan Kambase melangkah menuju kediaman Keluarga Goldbarrel, Gold Palace.

Selama ini aku memang rutin mempersembahkan Artifact kepada Maralva, namun kali ini jumlahnya sangat banyak sehingga sulit dibawa sendirian, jadi aku meminta bantuan Kambase.

"Maaf ya, Kambase. Nanti akan kutraktir sesuatu."

"Jangan dipikirkan. Kau tidak perlu meminta maaf."

Meski Kambase sangat kasar di hari pertama, kini dia tidak lagi menunjukkan permusuhan padaku, dan kami telah menjalin hubungan yang memungkinkan percakapan tenang seperti ini.

Belakangan ini dia juga sudah akrab dengan Hausie dan yang lainnya, serta rajin bekerja sama dalam penggalian.

Sebagai informasi, aku telah membagikan pakaian yang bersih dan mudah dipakai kepada semua orang di fasilitas bawah tanah, namun Kambase tetap lebih menyukai gaya berpakaian ketat yang menonjolkan lekuk tubuh bahkan dengan pakaian barunya.

Beastman lainnya juga mengenakan pakaian dengan tingkat eksposur yang cukup tinggi, namun selera estetika Kambase memang unik dan entah kenapa memancarkan aura yang menggoda.

"Apa?"

Di tengah pendakian tangga Gold Palace yang panjangnya berlebihan, Kambase yang menyadari tatapanku mengerutkan dahi dengan heran.

"Tidak, aku hanya berpikir bahwa pakaianmu hari ini juga sangat menawan."

"……Hmph."

Tampak jelas Kambase tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya karena dipuji soal fesyennya; suaranya terdengar ceria sambil ia memalingkan wajah.

Aku sempat tergoda untuk menggodanya lebih jauh agar dia memberikan reaksi yang menarik, namun sayangnya kami sudah tiba di pintu masuk istana. Acara menjahilinya terpaksa ditunda.

"Inilah istana Keluarga Goldbarrel……"

Kambase yang baru pertama kali datang bergumam takjub sambil menengadah menatap istana emas itu.

Gold Palace memamerkan kekurangseleraan yang sempurna dari segala sudut mana pun kau memandangnya.

Meskipun mereka adalah bangsawan dengan tradisi tujuh ratus tahun, kemampuan mereka untuk mewujudkan kesan "orang kaya baru" yang murahan ini justru terasa luar biasa. Sebuah kedangkalan yang dipupuk selama tujuh ratus tahun.

Lagipula, nama "Istana Emas Keluarga Goldbarrel" atau Gold Palace benar-benar nama yang sangat lugas dan mencerminkan garis keturunan orang-orang bodoh.

Setelah menyelesaikan prosedur singkat dan masuk ke dalam istana, kami dipandu oleh penjaga yang tampak malas menuju sebuah aula yang sangat luas.

Awalnya itu adalah ruangan untuk tamu, namun Maralva yang pemalas mengubahnya menjadi ruang pribadinya.

"……Ugh."

Begitu masuk ke aula, aroma dupa yang sangat kuat menusuk hidung, membuatku nyaris mual. Bau manis yang menyengat seperti buah tropis yang membusuk memenuhi seluruh ruangan.

Bahkan bagiku yang menyukai makanan manis, bau ini sangat menyiksa. Ini adalah bau menyengat yang bisa membuat Beastman pingsan, namun Kambase berhasil bertahan meski wajahnya berkerut hebat.

Lebih dari sekadar bau, Kambase tampak terperangah melihat dekorasi interior aula tersebut.

Ruangan itu dipenuhi hiasan emas yang mencolok dan dekorasi Mana Crystal yang berlebihan.

Berjejer pula penyekat ruangan emas dan awetan naga emas yang mungkin didatangkan dari luar negeri, menunjukkan selera yang sangat buruk.

Ruangan ini seperti konsentrasi dari segala hal yang tidak berkelas dari Keluarga Goldbarrel.

"Gufu. Kau sudah datang, Deabold……!"

Maralva yang sedang berbaring di atas takhta raksasa yang tidak berkelas itu menyadari kedatanganku dan mengeluarkan tawa menjijikkan seperti Magic Bull-Frog. Sepertinya sebagai hasil dari terus-menerus mempersembahkan Artifact, dia mulai sedikit menyukaiku.

Maralva menyandarkan sikunya pada sebuah tembikar besar berbentuk kaki gajah, sambil meminum High Potion dengan gaya yang berantakan.

Aku menyapa dengan sopan sambil berpura-pura patuh, sambil memperhatikan tembikar tempat sikunya bersandar.

Itu adalah Elephant Hoof Inkstone, sebuah bak tinta kuno yang digali dari dungeon purbakala di sekitar Kota Emas Domina Domina, sebuah peninggalan dengan nilai sejarah yang sangat tinggi.

Hingga beberapa tahun lalu, benda itu dipajang di museum sejarah Central Capital, namun karena kuratornya memicu kemarahan Maralva, museum itu dihancurkan, dan kini benda berharga itu berakhir hanya menjadi sandaran siku bagi bangsawan tidak berguna.

Sambil menahan rasa mual melihat kebodohan yang secara harfiah menginjak-injak sejarah, di permukaan aku tetap memasang senyum ramah dan fokus mengambil hati Maralva.

"Berani sekali kau membawa Beastman yang menjijikkan ke sini."

Maralva menatap Kambase dengan pandangan seperti melihat sampah.

"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Karena sulit bagi saya membawa Artifact ini sendirian, saya mengajaknya sebagai asisten yang dapat dipercaya. Jika Anda merasa tidak nyaman, saya akan segera memintanya……"

"Hmph. Sudahlah, tidak apa-apa. Untuk hari ini akan kubiarkan. Akan kumaafkan demi upeti yang kau berikan selama satu minggu ini. Gufu, gufufu."

Sambil memandangi berbagai persenjataan besar dan kecil yang menghiasi dinding, Maralva mengangguk dengan napas yang memburu.

Sepertinya dia sedang dalam suasana hati yang sangat baik berkat Artifact yang digali dari fasilitas bawah tanah serta senjata langka yang kukumpulkan saat aku masih di Ibu Kota.

Dia tipe pria yang mudah dikendalikan, mirip dengan anaknya, Bowman.

Di sekeliling Maralva, para selir dengan pakaian menggoda tampak menempel padanya; ada yang mengupaskan kulit buah untuk disuapkan, ada yang mengipasi, dan ada yang memijatnya.

Sangat menyedihkan melihat mereka berusaha keras melakukan gerakan yang menggoda.

Selain itu, ada seorang pria tua kerdil (Dwarf) yang berdiri sedikit di belakang, dia adalah Hestios Silverg.

Meski memiliki ekspresi lemah yang tidak biasa bagi seorang Dwarf, dia adalah tangan kanan Maralva sekaligus penguasa yang mengendalikan Kota Emas Domina Domina sebagai perwakilan serikat pandai besi.

Dan yang menjaga di sekitar Maralva adalah empat Gold Knight yang perkasa.

Masing-masing adalah pejuang ternama, dan dari jauh pun sudah terlihat jelas bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat mahir.

Sambil memikirkan bagaimana cara memanfaatkan Silverg sang tangan kanan dan para Gold Knight ini sembari meladeni percakapan tidak bermutu Maralva, seorang pria muncul di aula dengan langkah kaki yang terlalu mencolok.

"Ayahanda! Aku sudah kembali dari ekspedisi! Perburuan kali ini sangat memuaskan, jadi aku bergegas kembali karena ingin Ayahanda segera melihat hasilnya!"

Pria yang bersuara melengking dan mendekati Maralva dengan langkah cepat itu adalah putra sulung Keluarga Goldbarrel, Vischio Goldbarrel.

Dia adalah putra Maralva dan kakak dari Bowman.

Dia mengenakan pakaian mencolok yang sangat disukai para bangsawan, namun berbeda dengan Bowman atau Maralva, dia tidak gemuk; tubuhnya justru atletis dan ramping.

Wajahnya yang cukup tampan mungkin mirip dengan ibunya.

"Oh? Kupikir ada wajah baru yang belum pernah kulihat, ternyata kau adalah si penyihir jelata yang sedang dirumorkan itu ya. Salam kenal. Aku Vischio. Penerus Keluarga Goldbarrel yang agung…… singkatnya, aku adalah pria paling berkuasa nomor dua di Kota Emas Domina Domina ini."

Keangkuhan khas Keluarga Goldbarrel terpancar jelas di setiap nada bicara Vischio yang tenang. Meski tampak sedikit lebih pintar dibandingkan Bowman atau Maralva, pada akhirnya dia tetaplah bangsawan tidak berguna.

Aku sudah menyelidiki bahwa Vischio melakukan kejahatan demi kepentingannya sendiri.

Terutama, fakta bahwa dia diam-diam bertransaksi dengan Kota Sihir Megrimseed—yang seharusnya sedang berselisih dengan Kota Emas Domina Domina—bisa sangat dimanfaatkan sebagai pemantik konflik.

"Saya mohon maaf karena terlambat menyapa, saya Jagid Dear—"

Memotong sapaan formal dariku, Vischio melompat dengan langkah ringan ke depan Maralva. Kemudian, dia mengeluarkan sebilah belati dari tas kulit yang dipanggulnya.

"Dalam ekspedisi kali ini aku menemukan barang yang sangat bagus! Ayahanda! Silakan lihat!"

"Kau membuatnya lagi ya, dasar kau ini memang maniak. Coba kulihat…… ooh!"

Maralva menyeringai dengan tawa yang menjijikkan dan menerima belati itu dari Vischio. Begitu bilahnya terlihat, aku merasa ekspresi Kambase di sampingku sedikit mendung.

Vischio memiliki hobi melakukan perburuan manusia yang berkedok ekspedisi, lalu mengolah tubuh korbannya menjadi senjata.

Dia menginjak-injak nyawa manusia dan mempermainkan martabat mereka hanya demi mendapatkan pujian dari ayahnya yang merupakan kolektor senjata.

Dia adalah monster yang kekejaman kekanak-kannya semakin membesar.

Kemungkinan besar, bahan pembuat belati itu juga——.

Aku menahan rasa muak yang meluap dan mengamati gerak-gerik Vischio.

"Belati ini…… sungguh luar biasa! Aku membuatnya dengan mengasah tanduk seorang gadis dari ras Oni!"

"Ooh! Kau menemukan sisa-sisa ras Oni!"

Sambil menggoyangkan tubuhnya yang lembek, Maralva berdiri dan menatap belati itu dengan saksama.

Mungkin karena berbahan dasar tanduk Oni, bilah belati itu berwarna hitam yang mengerikan, dan mengandung Mana jahat yang terasa sampai ke dasar perut.

"Gufu, gufu! Tanduk Oni muda yang belum tumbuh sempurna memang barang yang bagus……!"

Dengan suara lengket yang penuh gairah hingga ludahnya hampir menetes, Maralva mengusapkan pipinya yang kotor ke bilah belati tersebut.

Oni adalah ras yang tinggal di ujung timur Benua Niflga hingga tujuh ratus tahun yang lalu, namun mereka dimusnahkan oleh Empat Pahlawan Besar.

Dalam literatur yang diwariskan di Kekaisaran, ras Oni dicatat sebagai ras iblis yang liar, kejam, sewenang-wenang, tidak berkelas, dan sangat jahat…… namun kebenaran aslinya telah terkubur dalam kegelapan sejarah.

Penampilan Oni tidak berbeda dengan manusia kecuali adanya dua tanduk di kepala mereka.

Tanduk itu sebenarnya adalah organ Mana yang terlalu berkembang hingga membesar, menembus tengkorak, dan mengeras.

Dengan kata lain, tanduk Oni adalah gumpalan Mana dengan kemurnian tinggi.

Orang-orang yang dibutakan oleh ketamakan terus memburu Oni hanya demi mendapatkan Mana kualitas tinggi, hingga membuat mereka nyaris punah.

Kemudian, mereka memfitnah pemimpin Oni yang baik hati sebagai Raja Iblis untuk membenarkan tindakan mereka. ……Itulah kebenaran sejati dari legenda Empat Pahlawan yang terkubur dalam sejarah.

Saat aku hendak menyela percakapan Maralva dan Vischio yang sudah tak sanggup kudengar lagi, tiba-tiba udara bergetar sedikit.

Aku merasakan Mana yang murni seperti air lelehan salju mulai bergejolak. Sumbernya tepat di sampingku. Dari Kambase.

Kambase berniat merapalkan suatu mantra. Terlebih lagi, berdasarkan gelombang Mana yang kurasakan dari dalam tubuhnya, itu adalah mantra serangan.

Dilihat dari kekuatan Mana yang perlahan terfokus di jari telunjuk kanannya, itu adalah mantra petir yang mematikan…… atau mantra api.

Baik Maralva, Vischio, bawahan mereka, selir-selir, bahkan para Gold Knight yang merupakan kekuatan tempur tertinggi Keluarga Goldbarrel, tidak ada satu pun yang menyadari permulaan mantra Kambase.

Hanya orang sepertiku yang ahli dalam deteksi Mana dan selalu waspada terhadap sekitar yang bisa menyadarinya.

Namun, itu tidak akan berhasil.

"Tuan Maralva."

Aku sengaja meninggikan suaraku untuk menarik perhatian Maralva dan Vischio.

Kemudian, aku bergerak ke depan Kambase, masuk ke dalam lintasan tembak mantra serangannya.

Dengan ini, jika Kambase melepaskan mantranya, serangan itu tidak akan mengenai Maralva atau Vischio, melainkan mengenaku.

Aku merasakan gejolak Mana dari belakangku perlahan melemah. Kambase yang memahami situasi telah membatalkan mantranya.

Saat aku melirik wajahnya sekilas, dia tampak menunjukkan ekspresi campur aduk antara bingung dan marah.

Untuk sekarang, ini sudah cukup.

Terlepas dari alasan mengapa Kambase ingin menyerang Maralva dan Vischio, tidak ada gunanya memprovokasi Keluarga Goldbarrel di saat seperti ini.

Membunuh mereka…… ada waktunya nanti.

"Apakah saya sudah boleh mempersembahkan barang-barang ini?"

Sambil tetap mengawasi Kambase agar keanehannya tidak terbongkar, aku menyodorkan sejumlah besar Artifact yang telah kami bawa ke hadapan Maralva.

"Ooh!"

Begitu melihat Artifact tersebut, minat Maralva langsung berpindah seketika, dan belati hadiah dari Vischio pun dilemparkan begitu saja secara kasar.

Melihat tindakan ayahnya itu, Vischio menatapku dengan pandangan penuh rasa iri dan benci.

Membenciku alih-alih ayahnya…… tapi tidak apa-apa, rasa tidak suka sebesar ini adalah biaya yang wajar.

Justru ini mungkin bisa kumanfaatkan dalam bentuk tertentu. Sambil berpikir demikian, aku menyusun rencana masa depan di dalam otakku.

"T-tombak ini……! Gufufuu!"

Maralva tampak tidak bisa menahan kegembiraannya hingga seluruh lemak tubuhnya bergetar; dia mengambil sebuah tombak dari tumpukan Artifact tersebut.

Itu adalah tombak besar yang pertama kali digali di fasilitas bawah tanah, yang sempat sangat berkarat hingga butuh waktu lama untuk memulihkannya sehingga baru bisa dipersembahkan sekarang.

"Ukiran naga terbang yang mendetail hingga ke tiap kepingan sisiknya! Bilah yang berkilau dengan pola gelombang! Bekas luka kehormatan yang terukir dengan menyedihkan! T-tidak salah lagi……! Persis seperti yang tertulis dalam legenda! Gufu! Tombak Bersimbah Darah Pembantai Naga Jahat, Gratvolg!"

Setelah menyemburkan ludah ke arah Gratvolg yang malang itu, Maralva mulai memberikan ceramah yang panjang lebar dengan semangat yang mengganggu.

Satu jam berikutnya diisi dengan celotehannya tentang Gratvolg, bahkan dia mulai memamerkan pengetahuannya tentang Artifact lainnya—sebuah waktu yang terasa seperti penyiksaan.

Apakah sikap ramahku saat memberikan tanggapan tadi justru berbalik merugikanku?

Tidak, jika ini bisa membuatku disukai Maralva, maka aku tidak punya pilihan lain.

Demi rencana besar, hal sekecil ini sangatlah mudah.

Tanpa kusadari Vischio dan Silverg sudah tidak terlihat lagi, mungkin mereka melarikan diri karena muak mendengar ceramah Maralva.

Para selir tampaknya sudah terbiasa atau sudah menyerah, mereka terus memberikan tanggapan hampa seperti mainan yang rusak. Kambase pun terlihat sudah sangat kelelahan.

"Ngomong-ngomong, Deabold. Aku sudah penasaran sejak tadi, pedang panjang itu…… buatannya sangat bagus ya."

Seolah tidak puas hanya dengan Artifact, mata kecil Maralva melirik tajam ke arah pedang panjang yang kusandang, dan dia menjilat bibirnya dengan tatapan seperti pemburu yang mengincar mangsa.

"Sepertinya itu sisik naga, ya?"

"Seperti yang diharapkan dari Tuan Maralva. Pengamatan Anda sungguh tajam. Ini adalah Ryurin Mijinnuri-zaya Tachi Koshirae—pedang Tachi dengan sarung hiasan serbuk sisik naga."

Sesuai namanya, sarung pedang yang ditaburi sisik naga hijau itu berkilau layaknya prisma, memancarkan wibawa yang tenang.

"Berikan padaku."

Maralva berucap dengan nada perintah mutlak, wajahnya menyeringai buruk. Dia mungkin berniat mengintimidasi, tapi karena sosoknya sama sekali tidak punya wibawa, dia malah terlihat konyol.

Aku memutar otak, menimbang apakah harus menyerahkan pedang ini atau tidak.

Maralva mulai sedikit menyukaiku. Sebagai pengguna Heal, bawahan yang cekatan, sekaligus teman bicara yang menyenangkan, tidak akan ada orang di Kota Emas Domina Domina yang bisa menggantikanku.

Sekalipun aku menolak memberikan pedang ini, aku tidak terancam dibunuh.

Kalaupun dia benar-benar ingin membunuhku, aku tinggal bersujud meminta maaf saat itu juga.

Urusannya akan selesai. Maralva hanyalah pria yang mudah dikendalikan, persis seperti Bowman.

"……Mohon ampun, Tuan Maralva. Meski ini perintah Anda, saya mohon jangan yang satu ini."

"Rakyat jelata sepertimu berani menentangku? Kau tahu kan apa akibatnya?"

Dengan wajah murka, Maralva mengangkat Gratvolg—tombak pembantai naga yang baru kuberikan—dan mengarahkan ujungnya padaku.

Namun, karena tidak terbiasa menggunakan tombak, posisinya sangat canggung dan tidak ada ketegangan sama sekali. Meski begitu, aku memasang ekspresi terpojok sambil menatapnya.

"Ini adalah kenang-kenangan berharga dari mendiang guru saya……"

Aku mulai bercerita dengan air mata yang menggenang di sudut mata.

Guru saya adalah sosok yang lembut, cerdas, meski terkadang ceroboh; beliau sudah seperti ibu bagi saya. Pedang ini adalah peninggalannya.

Bagi saya, ini adalah harta tak ternilai yang penuh dengan kenangan.

Karena itu, meski ini permintaan Tuan Maralva, saya tetap tidak bisa menyerahkannya…… Begitulah ceritaku. Tentu saja, itu semua bohong.

Tapi karena aku mengucapkannya dengan penuh emosi, kredibilitasnya pasti meningkat.

"Hoo."

Mendengar kisah sedih karanganku, Maralva mengeluarkan suara menjijikkan dari tenggorokannya dan menyipitkan mata dengan licik.

"……Aku mengerti situasinya. Kali ini kau kumaafkan. Gufu. Gufufu."

Pedang tanpa nama tapi dengan hiasan megah, pembangkangan rakyat jelata terhadap bangsawan, ditambah nilai emosional sebuah kenang-kenangan—perpaduan itu tampaknya memicu minat sadis Maralva.

Terlihat jelas dia sedang menikmati bayangan tentang bagaimana cara merebutnya dariku nanti.

"Sebagai gantinya, kau harus menemaniku di pesta perjamuan akhir pekan ini."

Maralva meneguk habis sebotol High Potion miliknya.

"Perjamuan, Tuan? Apakah orang seperti saya pantas hadir?"

"Aku berniat melakukan uji coba senjata sebagai hiburan. Dengan Heal milikmu, aku bisa menebas mereka sepuasnya."

Tragedi di Colosseum terlintas di benakku. Aku menggigit bibir bawah agar tidak ketahuan olehnya.

Dia pasti berniat menggunakan Gratvolg atau senjata buatan Vischio untuk mengadakan pertunjukan pembantaian yang mengerikan.

"Bowman juga akan ikut. Bersama Vischio, ini akan jadi acara keluarga Goldbarrel. Gufu, gufufu. Kau juga ingin bertemu Bowman lagi, kan?"

"……Saya mengerti."

Aku menerima undangannya dengan tenang, sementara dalam hati aku menyeringai lebar.

◆◇◆

Saat akhirnya aku terbebas dari Maralva, matahari telah terbenam, dan Kota Emas Domina Domina mulai riuh oleh hiruk-pikuk malam.

 Kambase tampak sangat lelah dan terus terdiam. Suasana distrik hiburan Central Capital saat malam hari penuh dengan nafsu yang pekat, tidak baik untuk kesehatan mental. Lebih baik segera pergi dari sini.

Tanpa bertukar kata, kami berjalan pelan menuju tujuan yang sama.

Dulunya Kambase dan yang lain tinggal di gubuk reot yang menempel pada fasilitas kerja bawah tanah, tapi sekarang mereka tinggal dengan tenang di Apartment yang kusiapkan.

Karena lokasinya dekat dengan tempat tinggalku, kami harus menembus Darkest Market.

Pasar gelap raksasa itu dipenuhi atmosfer beracun yang berbeda dari distrik hiburan.

Chaos yang luar biasa—multinasional, tanpa kewarganegaraan, legal, ilegal—semuanya bercampur aduk seperti panci gelap yang tumpah.

Teriakan dan gelak tawa terdengar di mana-mana, tapi tempat ini jauh lebih nyaman dibanding kebisingan kaum borjuis yang berminyak.

Kegelapan Darkest Market adalah kontras yang nyata bagi kemilau distrik hiburan. Bisa dibilang, dualitas inilah daya tarik utama Domina Domina.

Lentera-lentera yang dipasangi Seal Arts memancarkan cahaya neon kuning dan pink menyengat, menerangi kegelapan malam dengan cara yang aneh.

Di gang-gang sempit, toko-toko berhimpitan, bangunan-bangunan ganjil yang dipaksakan dari kayu dan seng bertumpuk ke atas tanpa aturan.

Poster-poster bertuliskan "Aman karena telah diperiksa keselamatannya oleh Keluarga Goldbarrel" tertempel di mana-mana, tapi itu justru terlihat sangat mencurigakan.

Tekanan dan kolusi Keluarga Goldbarrel terlihat jelas di baliknya.

Toko senjata, pelindung, pengolah Seal Arts, apotek, toko buku, hingga toko loak—segala jenis toko ada di sini.

Namun yang jumlahnya paling mendominasi adalah bar dan rumah bordil.

Orang-orang menelan kekecewaan terhadap bangsawan dengan alkohol murah, dan saling menghibur kecemasan akan hari esok dengan bualan.

Darkest Market yang seperti labirin tanpa jalan keluar ini perlahan-lahan menyeret pengunjungnya ke dalam kegelapan, persis seperti sarang semut singa.

Secara pribadi, aku tertarik pada toko-toko spesialis di sini.

Toko palu perang, perisai, pedang besar, pedang panjang nagamaki, hingga sabit berantai—deretan yang unik khas kota perdagangan.

Sayangnya, semuanya sepi karena tekanan tirani bangsawan dan resesi ekonomi.

"Kambase."

Saat memasuki gang di samping teater kecil yang sudah tutup, aku memanggil namanya dengan pelan.

Di sini jarang ada orang, dan kita bisa segera menyadari jika ada yang datang. Tempat yang tepat untuk pembicaraan rahasia. Kambase menatapku dengan curiga, lalu melangkah ragu ke dalam gang.

"Kenapa kau mencoba membunuh Goldbarrel tadi?"

Mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba, tubuh Kambase menegang dan dia melangkah mundur. Seketika, gejolak Mana yang jernih seperti air salju bangkit.

Persis seperti sebelumnya, dia bersiap merapalkan mantra serangan. Tapi, aku segera mengangkat kedua tangan untuk menunjukkan bahwa aku tidak punya niat buruk.

"Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Aku hanya ingin tahu niat yang kau sembunyikan."

Kambase tetap menatapku tajam sambil mempertahankan aliran Mana-nya. Sepertinya dia tidak akan menurunkan kewaspadaannya dengan mudah. ……Yah, kalaupun dia menyerang, aku punya banyak cara untuk membalasnya.

"Aku tidak menyembunyikan apa pun."

"Meskipun kau berpura-pura menjadi Beastman?"

Saat aku menunjuk telinga rubah di kepalanya, mata Kambase membelalak. Pupil matanya bergetar, memancarkan emosi antara terkejut dan terguncang. Kemudian, dia memancarkan niat membunuh yang nyata bersamaan dengan ledakan Mana.

"Blaze!"

Kambase meneriakkan nama mantra api itu, melepaskan api biru ke arahku.

Biasanya mantra api berwarna merah, tapi milik Kambase adalah biru menawan—bukti bahwa itu mengandung Mana dengan kemurnian tinggi.

Blaze biru ini punya daya rusak besar; jika terkena langsung, luka fatal tak akan terelakkan.

Namun, tepat sebelum menghantam tubuhku, api biru itu lenyap seolah mencair.

Kambase tertegun, menatap kosong ke arah api yang telah musnah menjadi uap.

"Sayang sekali, itu adalah Talisman."

Aku mengeluarkan gantungan kunci yang sudah hangus dari saku dalam mantelku.

Talisman adalah alat sihir yang dipasangi Seal Arts dari mantra pembatal sihir, Confine. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari aksesori, jimat, hingga mainan.

Seal Arts pada Talisman akan aktif secara otomatis saat pemiliknya terkena serangan sihir, dan menetralkannya satu kali. Targetnya hanya terbatas pada mantra serangan agar tidak membatalkan efek alat sihir lain di kota secara sembarangan.

Sebagai catatan, membawa banyak Talisman sekaligus tidak disarankan karena mantra Confine di dalamnya akan saling berbenturan dan menyebabkan bug.

"Talisman murah seperti gantungan kunciku ini akan hancur setelah sekali pakai, tapi barang mewah bisa digunakan berkali-kali. Mahkota Maralva jelas adalah Talisman performa tinggi. Sembilan puluh persen kemungkinan Vischio juga memakainya."

Mata Kambase membelalak lebar mendengar penjelasanku. Aku sampai khawatir bola matanya akan copot.

"Jadi, seranganmu tadi pasti akan gagal karena Talisman mereka, meskipun aku tidak menghalangimu. Itu terlalu ceroboh."

Lagipula, dengan adanya Gold Knight yang bersiaga, membunuh Maralva dan Vischio di situasi tadi adalah hal yang mustahil.

Bahkan bagiku pun mustahil untuk melakukannya tanpa ada korban jiwa.

"…………Maafkan aku."

Termasuk serangannya padaku tadi, Kambase meminta maaf dengan suara yang lembut.

Ketajamannya yang biasa dan hawa dingin yang menjauhkan orang lain memudar; Kambase yang sekarang tampak seperti gadis remaja yang polos.

"Aku sudah lama menahan diri terhadap tingkah laku Goldbarrel. Aku tahu mereka memang bajingan. Tapi, saat melihat belati buatan Vischio itu, aku tidak bisa menahan emosiku lagi——"

Suara Kambase bergetar seolah hendak menangis saat dia menyentuh telinga rubahnya.

Detik berikutnya, telinga rubah itu berubah bentuk menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.

"……Inilah wujud asliku."

Di tempat telinga rubah tadi berada, kini tumbuh dua tanduk tajam. Tanduk hitam legam yang seolah menembus langit malam itu sangat kontras dengan rambut biru airnya yang mistis, berkilau redup dengan warna yang membawa firasat buruk.

"Sudah kuduga…… seorang Oni."

Kambase bukanlah Beastman, melainkan Oni.

Mana yang jernih, kekuatan mantra api yang tinggi, dan berbagai elemen yang tidak menyerupai Beastman—semuanya masuk akal jika dia adalah seorang Oni.

Alasan dia menolak Heal di fasilitas bawah tanah pasti karena takut struktur organ Mana-nya akan membongkar identitasnya.

"Mantra itu adalah bagian dari ilmu gaib Omokage Gozen, bukan?"

"……Kau benar-benar tahu segalanya, ya."




Sambil mendesah pelan dan mengangkat bahu, Kambase menunjukkan ekspresi kagum yang melampaui rasa terkejutnya.

"Iya, kau benar."

Sambil merasa antusias melihat teknik Omokage Gozen untuk pertama kalinya, aku mengingat kembali informasi dari literatur kuno di Ruang Arsip Khusus Perpustakaan Kekaisaran.

Ilmu gaib adalah teknik asal-muasal yang diciptakan oleh ras Oni. Berbeda dengan Seal Arts modern, teknik ini membutuhkan proses rumit seperti lantunan mantra dan medium tertentu.

Meski mengonsumsi Mana dalam jumlah masif, ia mampu menghasilkan kemampuan yang jauh lebih kompleks dan ganjil. Namun, karena ilmu gaib sejatinya adalah teknik ritual, ia sama sekali tidak memiliki kemampuan menyerang.

Segala prosesnya, termasuk lantunan mantra, hanyalah sarana untuk mempersembahkan doa kepada alam dan leluhur.

Hampir seluruh sihir yang beredar saat ini sebenarnya meniru sistem ilmu gaib yang telah dipangkas proses rumitnya hingga batas maksimal. Tentu saja, kebenaran tersebut telah dikubur dalam kegelapan sejarah.

Kini sangat sedikit orang yang tahu keberadaannya, apalagi yang bisa menggunakannya.

Omokage Gozen yang digunakan Kambase adalah ilmu gaib untuk mengubah bagian kepalanya dengan bebas. Kambase hanya mengubah tanduknya menjadi telinga rubah, tapi ia bisa saja mengubah wajahnya menjadi orang lain.

Namun, karena ini hanya mengubah penampilan, karakteristik unik seperti penciuman tajam Beastman atau kualitas suara tidak bisa ditiru.

Hal yang mengerikan dari Omokage Gozen adalah kemampuan kamuflase yang membuat Mana miliknya tidak dapat dideteksi oleh orang lain. Bahkan aku yang selalu mencurigai Kambase pun tidak bisa menyadarinya.

Setiap ilmu gaib mengonsumsi Mana yang sangat besar. Namun, Kambase tetap mempertahankan wujudnya bahkan saat bekerja di fasilitas bawah tanah.

Itu adalah keahlian yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Oni yang jumlah total Mana-nya berkali-kali lipat dari manusia biasa.

"Jadi, apa rencanamu sekarang? Kudengar siapa pun yang menangkap Oni akan mendapat imbalan besar dari bangsawan."

"Lagipula, kalau kau memang seorang penyihir, kau pasti sangat menginginkan tandukku, kan?"

Kambase merentangkan kedua tangannya dengan senyum mencela diri sendiri. Ia tidak menunjukkan niat untuk melawan sedikit pun.

Sepertinya ia sudah menyerah setelah identitas aslinya terbongkar olehku, seorang penyihir Kekaisaran yang patuh pada bangsawan.

Aku menyunggingkan senyum lembut.

"Menginginkan bagian tubuh manusia? Tolong jangan samakan aku dengan sampah seperti Maralva."

"Eh?"

Mendengar kata-kataku yang blak-blakan, Kambase mengeluarkan suara konyol dan mematung dengan mulut ternganga.

"Waduh, sepertinya sebagai penyihir Kekaisaran, aku tidak boleh bicara begitu ya. Ahaha! Tolong lupakan saja. Rahasia ya, rahasia!"

Aku berpura-pura panik secara berlebihan untuk mencairkan suasana.

"……Kau ini orang yang aneh, ya."

"Akan kuanggap itu sebagai pujian."

Aku mengangguk dengan wajah sombong yang penuh kepercayaan diri, membuat Kambase akhirnya tertawa kecil. Ketegangan Kambase mulai mencair, dan ekspresinya berangsur-angsur menjadi lebih lembut.

"Aku tidak akan melakukan apa pun padamu. Tentu saja, aku tidak akan mengadukan identitasmu. Jadi, tenanglah."

Kambase menatap wajahku yang berbicara dengan tulus, lalu mengembuskan napas lega. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding bata tua dan mulai membuka suara dengan sikap yang lebih rileks.

"Alasanku berpura-pura menjadi Beastman adalah untuk mendekati bangsawan."

Kambase mengelus tanduk hitam legamnya dengan lembut.

"Keluargaku menggunakan Omokage Gozen untuk menyembunyikan identitas kami dan hidup tenang di sebuah desa kecil. Namun delapan tahun yang lalu, identitas kami terbongkar."

"Manusia memaki kami sebagai ras iblis yang jahat, dan seluruh keluargaku dibunuh."

Kambase menghentikan bicaranya sejenak dan berdeham pelan.

"Setelah itu, manusia-manusia itu mencabut tanduk dari mayat mereka. Untuk dijual mahal kepada bangsawan sebagai bahan pembuat senjata."

"Mereka menggembar-gemborkan keadilan yang tidak masuk akal, padahal pada akhirnya itu semua demi uang."

Ekspresi Kambase saat bercerita terasa sangat dingin. Suaranya diwarnai oleh kutukan terhadap kelemahannya sendiri yang hanya bisa melihat mereka mati tanpa daya.

Rasa bersalahnya terlalu kuat. Seolah-olah wadah bernama Kambase itu bisa pecah kapan saja.

"Aku melarikan diri dari desa dengan sisa tenaga yang ada dan berkelana tanpa tujuan. Aku menggunakan Omokage Gozen untuk membaur di masyarakat manusia."

"Aku merangkak demi bisa bertahan hidup tanpa peduli caranya. Aku tidak punya waktu untuk putus asa."

"Sebab, ada sesuatu yang ingin kulakukan—tidak, sesuatu yang harus kulakukan."

Kambase menatap tajam ke arah kegelapan malam sambil mengepalkan tinjunya. Di arah pandangannya, terdapat patung batu Goldbarrel pertama yang mencuat dari Colosseum.

Niat membunuhnya yang terasah bahkan terasa indah untuk dilihat. Namun, jelas bahwa dalam niat membunuh itu tidak ada rasa benci atau keinginan untuk balas dendam pribadi.

Niat membunuhnya sangat jernih. Dendam Kambase terhadap Goldbarrel bukanlah sekadar masalah pribadi.

Bahkan kata keadilan pun terasa terlalu dangkal untuk menggambarkannya. Jika harus disebut, itu adalah sebuah kewajiban agung.

"Bagi Oni, tanduk adalah kehormatan dan bukti keberadaan diri. Tanduk juga merupakan batu nisan tempat jiwa bersemayam setelah kematian."

"Karena itu, aku ingin mengambil kembali seluruh tanduk keluargaku—tanduk para Oni—dan menguburkan mereka dengan layak."

Seluruh tanduk para Oni. Itu artinya, termasuk empat tanduk milik Amatsumi sang Pemimpin Oni, bukan?

Bahkan setelah kematiannya, Amatsumi tetap dihina sebagai Tiga Penjahat Besar Kekaisaran. Tanduknya yang mengandung Mana masif diolah menjadi Regalia simbol bangsawan.

Kambase berniat merebut kembali bahkan Regalia itu dari tangan bangsawan untuk menyelamatkan jiwa mereka.

"……Begitu ya. Jadi kau berpura-pura menjadi Beastman dan bekerja di fasilitas bawah tanah untuk mendekati Maralva."

"Apa menurutmu aku bodoh?"

Mendengar pertanyaan Kambase, aku menggelengkan kepala dalam diam. Sama sekali tidak bodoh.

Yang bodoh adalah para bangsawan, dan sistem kebangsawanan itu sendiri yang membiarkan mereka bertindak semena-mena.

Namun, kenyataan bahwa tindakannya sangat mustahil tetap tidak bisa dihindari. Menjadikan bangsawan sebagai musuh berarti menjadikan seluruh Kekaisaran sebagai musuh.

Meski begitu, aku adalah orang yang paling paham bahwa menyuruhnya menyerah adalah hal yang sia-sia. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.

Saat aku sedang kebingungan, tiba-tiba suara kruyuuuk yang lucu bergema dari perut Kambase.

"……Ah."

Sangat kontras dengan topik pembicaraan tadi, reaksi jujur tubuhnya membuat wajah Kambase memerah padam karena malu. Mungkin karena ia melewatkan makan malam demi mendengarkan ceramah Maralva.

Aku tersenyum lembut. Ini momen yang pas untuk mencairkan suasana.

"Kalau begitu, ayo kita cari makan."

◆◇◆

"Enaknya……"

Kambase menggumamkan kata-kata penuh suka cita saat mulutnya penuh dengan Omurice yang kaya akan mentega. Kelezatannya membuat ia bersuara tanpa sadar; nada suaranya terdengar sangat lembut dan ceria.

Ini sepertinya pertama kali Kambase makan Omurice. Ia terus melahapnya dengan rakus tanpa memedulikan sekeliling.

Melihat celah antara sosok kerennya yang biasa dengan sosok polos khas gadis remaja ini, insting kebapakanku terusik. Tanpa sadar aku terus menawarkan porsi tambahan.

Ngomong-ngomong, tanduk di kepala Kambase sudah berubah kembali menjadi telinga rubah berkat Omokage Gozen. Bahkan setelah tahu ia adalah Oni, telinga itu terlihat sangat asli dari sudut mana pun.

Sifat Mana-nya pun disamarkan menjadi milik Beastman. Bahkan penyihir paling hebat sekalipun tidak akan bisa mengenali Kambase sebagai Oni saat ini.

Sambil menikmati Ruby Salmon Meuniere di kursi depan Kambase, aku memandang sekeliling restoran dengan santai.

Raden-tei, sebuah kedai rakyat dua lantai yang terletak di salah satu sudut Darkest Market.

Bagian dalam kedai yang diterangi cahaya jingga itu dipenuhi energi yang meluap-luap. Para Dwarf dan Elf saling merangkul sambil minum bir dengan tawa.

Tidak ada diskriminasi terhadap Beastman di sini. Semua orang mabuk dengan setara tanpa memandang ras.

Karena Raden-tei juga berfungsi sebagai cabang serikat petualang, sebagian besar pelanggannya adalah prajurit kasar dan tentara bayaran yang tangguh. Banyak juga orang-orang sangar yang kelihatannya punya masa lalu kelam.

Namun, senyum mereka cerah. Anehnya, tidak ada jejak kegelapan sedikit pun di tempat ini, sesuatu yang langka di Darkest Market.

Makanannya pun lezat dengan harga murah, serta pelayan yang ramah. Tak heran kedai ini menjadi salah satu tempat terpopuler.

Mungkin membawa Hausie dan yang lainnya ke sini untuk berpesta di hari libur nanti adalah ide yang bagus.

Aku menghabiskan Meuniere-ku, lalu membasuh lemak gurih di mulut dengan air berkarbonasi. Sambil menikmati sensasi segar, aku memperhatikan Kambase yang tampak sedang menimbang-nimbang untuk menambah porsi lagi.

Setelah itu, aku mengalihkan perhatianku pada gerak-gerik salah satu pelayan.

Seorang pelayan wanita yang berlari ke sana kemari di dalam kedai yang panas itu, bekerja dengan cekatan. Rambut oranyenya yang lembut diikat di kedua sisi.

Ia memancarkan keberadaan yang cerah seperti bunga matahari di tengah musim panas. Meski ia tidak segan-segan memperlihatkan lekuk dada dan kakinya yang indah, anehnya tidak ada kesan vulgar sedikit pun.

Ia memancarkan daya tarik kesehatan yang penuh energi. Namanya Bibisana, gadis idola Raden-tei.

Usianya kulihat seumuran dengan Kambase. Nama belakangnya tidak diketahui, tapi itu hal biasa bagi penduduk Darkest Market.

Pemilik kedai ini kabarnya sedang beristirahat karena sakit pinggang, jadi saat ini Bibisana yang mengelolanya sebagai pengganti.

Bibisana bergerak lincah mengantarkan makanan dan minuman, meneriakkan pesanan ke dapur yang bising dengan suara lantang. Ia mengobrol dengan senyum cerah tanpa rasa takut kepada para pelanggan yang berwajah penjahat.

"……Hei, Jagid. Sejak tadi kau melirik pelayan itu terus, apa kau suka tipe wanita enerjik seperti dia?"

Ditatap dengan mata menyelidik oleh Kambase, aku hanya mengangkat bahu dan tersenyum tipis.




"Tidak. Hanya ada sesuatu yang sedikit mengganjal di pikiranku."

Aku berkelit sekenanya. Kambase mengerutkan alis, tampak tidak puas dengan jawabanku.

Namun, perhatiannya segera teralih ke buku menu. Ia mulai galau memilih Omurice mana yang akan dipesan untuk porsi tambahan.

Apakah topping Mentaiko? Keju? Atau sekalian saja pakai Hamburger Steak yang mengenyangkan?

Saat aku sedang meladeni konsultasi Kambase yang kebingungan itu…… tiba-tiba, terdengar suara pertengkaran yang tidak menyenangkan dari kursi yang agak jauh.

"Tidakkah kau merasa terhina karena menjilat ampas keluarga Silvarg itu?!"

Suara bentakan serak bergema dibarengi bunyi meja kayu yang digebrak keras.

Pemilik suara itu adalah seorang pria manusia berusia lima puluhan dengan jubah kumal. Wajahnya merah padam, entah karena mabuk berat atau karena amarah.

"Kami juga terpaksa bersabar melakukannya!"

Yang membalas si pria mabuk dengan suara berat adalah seorang pemuda Dwarf yang gempal. Di sampingnya, seorang pemuda Elf yang bergaya pesolek ikut melototi si pria mabuk.

"Cuih! Justru karena anak muda seperti kalian terlalu banyak bersabar, kami yang tua-tua ini jadi kena getahnya!"

"Gunakan masa muda kalian untuk melakukan satu saja perlawanan terhadap Goldbarrel!"

"Ja-jangan bicara sembarangan! Kau tahu sendiri apa yang akan terjadi jika—"

"Hasil dari perlawanan itulah si tua pemabuk ini! Kakkakkak!"

Si pria mabuk tertawa terbahak-bahak setelah meracaukan hal-hal yang tidak masuk akal.

Pemuda Dwarf dan Elf itu mengepalkan tinju dengan ekspresi gemas.

Aku menilai situasi ini akan meledak jika dibiarkan, lalu aku segera bergegas berdiri. Aku menyelinap di antara si pria mabuk dan pemuda Dwarf itu sembari menyibakkan mantelku dengan gagah.

"……Geh!"

Pemuda Elf yang menyadari lambang bintang di mantelku bergumam dengan ekspresi pahit, "Tentara Kekaisaran, ya……."

Ia menarik pelan lengan si pemuda Dwarf. Pemuda Dwarf itu pun menyadari kalau aku adalah tentara Kekaisaran.

Mereka berdua pun pergi terbirit-birit karena merasa suasananya menjadi tidak enak.

"Cih! Dasar orang-orang lemah!"

Si pria mabuk mencela mereka, lalu duduk kembali dan meneguk habis minuman keras berwarna ambar di gelasnya.

"……Jadi kau orangnya? Penyihir yang dirumorkan telah memperbaiki fasilitas kerja bawah tanah itu."

Aku terkejut karena ternyata hal itu sudah menjadi rumor tanpa kusadari.

Padahal aku berniat untuk tidak menarik perhatian dulu untuk sementara waktu…….

Mungkin para Beastman yang ceria dan suka bicara seperti Hausie telah menyebarkan topik ini ke mana-mana.

"Kau terlihat sangat memihak para Beastman, sebenarnya apa yang kau rencanakan? Dasar anjing bangsawan!"

Mendengar si pria mabuk terus menghina penyihir Kekaisaran, para berandal di sekitar yang tadinya berwajah merah karena mabuk langsung pucat pasi dan mulai berbisik-bisik gaduh.

"O-oi! Tuan Peaberry! Kalau kau bicara begitu dan sampai terdengar ke telinga Goldbarrel—"

"Tidak apa-apa, kok."

Untuk menenangkan para berandal yang khawatir, aku melepas mantel mantel seragam Kekaisaranku dengan gerakan santai.

"Lihat, dengan begini aku sudah di luar jam tugas."

Aku berniat memberikan sedikit pertunjukan kecil yang elegan, namun reaksi orang-orang di sekitar tidak begitu bagus.

Sepertinya rasa tidak percaya dan ketidakpuasan terhadap tentara Kekaisaran—dan para bangsawan—memang sudah sedalam itu.

Aku meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukan karena aktingku yang buruk.

Setelah berdeham pelan, aku mengalihkan pandangan kepada pria mabuk yang dipanggil Tuan Peaberry tadi.

"Ngomong-ngomong, mungkinkah Anda adalah Dr.Peaberry?"

"……Sekarang aku bukan Dokter atau apa pun itu. Hanya kakek tua pemabuk."

Dr.Peaberry menjawab dengan nada ketus, lalu menatap botol minuman yang kosong dengan penuh kebencian.

"Sebab, Keluarga Goldbarrel telah merampas segalanya dariku."

Pastoro Peaberry. Dia adalah pria yang hingga beberapa tahun lalu menjabat sebagai kepala museum sejarah di Kota Emas Domina Domina.

Aku ingat cerita seorang pengajar di Akademi Sihir tentangnya.

Ia memberikan kritik keras kepada Maralva yang lancang mengasah pedang Otachi bernilai sejarah tinggi sesuka hatinya.

Akibatnya, ia memicu amarah Maralva. Museumnya dihancurkan, ia kehilangan pekerjaan, ditinggal anak istrinya, dan akhirnya terlantung-lantung di jalanan…….

"Sialan! Dasar Goldbarrel……! Padahal mereka sama sekali tidak paham nilai dari sejarah……!"

Amarah tampaknya meluap seiring dengan rasa mabuknya. Dr.Peaberry memukul meja dengan kepalan tangan sambil memasang wajah yang mengerikan.

Kalau dia tahu Maralva menggunakan Zouteiken sebagai sandaran siku, mungkin darahnya akan naik ke kepala dan dia bisa mati karena marah.

"Lagipula, keberadaan bangsawan itu sendiri sudah merupakan sebuah kesalahan!"

Oh.

"Empat Pahlawan? Party Pahlawan? Jangan bercanda! Mereka itu cuma penjajah!"

"Mereka menjadikan Oni sebagai ras iblis, merenggut nyawa, merampas wilayah, mencuri teknologi, dan akhirnya menjadi hama yang melahap habis Kekaisaran! Orang-orang seperti mereka tidak mungkin seorang pahlawan!"

Para berandal di sana hanya terdiam seribu bahasa mendengar pernyataan Dr.Peaberry tanpa melontarkan satu pun ejekan.

Bagi banyak orang yang tidak mempelajari sejarah yang benar, pernyataan Dr.Peaberry hanyalah dianggap sebagai teori konspirasi murahan.

Meskipun mereka tidak puas dengan tirani dan kesewenang-wenangan, mereka takut akan diincar bangsawan jika menyuarakannya.

Menjadikan bangsawan sebagai musuh akan membuat keseharian mereka hancur dengan sangat mudah.

Itulah sebabnya, orang-orang memalingkan mata dari kejanggalan politik bangsawan, menganggap sejarah yang benar sebagai teori konspirasi, dan terpaksa menerima keadaan apa adanya.

Inilah penyimpangan bernama kebijakan pembodohan rakyat yang diciptakan oleh masyarakat bangsawan selama bertahun-tahun.

"Hah, mulai lagi deh."

Bibisana yang sedang mengantarkan Omurice mendesah sambil mengangkat bahu dengan nada bosan.

Namun, di balik ekspresinya itu, mau tak mau aku merasa melihat kilasan sesuatu yang terasa segar.

Mungkin saja, meski tidak ditunjukkan secara terang-terangan, pemikirannya sama dengan Dr.Peaberry.

"Eei! Tidakkah kalian merasa malu! Kalian malah makan Masakan Pahlawan dengan gembira!"

Dr.Peaberry memelototi ayam goreng dan kentang goreng yang sedang dimakan para berandal sambil berteriak-teriak.

Kambase yang sedang melahap Mentaiko Cheese Hamburger Omurice diam-diam menyembunyikan keberadaannya agar tidak ikut terseret.

Aku setuju bahwa Empat Pahlawan itu jahat, dan fakta bahwa para bangsawan itu hampir semuanya adalah sampah.

Namun, menolak budaya Pahlawan yang sudah mengakar dalam kehidupan sehari-hari itu sudah berlebihan.

Bukan hanya teknologi dasar seperti alat penerangan dan sanitasi, tapi bahasa universal yang tersebar di dunia ini asalnya adalah budaya dunia lain yang dibawa oleh Pahlawan.

Hal-hal seperti itu perlu dipisahkan satu sama lain.

"Jika kau orang Niflheim asli, makanlah masakan tradisional Bennupoyansoy!"

"Be-bennu…… poya?"

Bibisana memiringkan kepala mendengar kata yang asing di telinganya itu.

Dulu, karena resep Bennupoyansoy ada di perpustakaan, aku pernah mencoba membuatnya karena penasaran.

Rasanya kering seperti sedang mengunyah padang pasir yang dipadatkan, benar-benar tidak enak.

Jika masakan tradisionalnya seperti itu, masuk akal jika Masakan Pahlawan bisa menyebar luas.

"Bennupoyansoy memang bagus, tapi Potato Salad juga enak, lho."

Aku mencicipi sedikit Potato Salad yang dipesan Kambase, lalu duduk di kursi depan Dr.Peaberry.

Kambase menatap Potato Salad-nya dengan wajah sedih karena aku ambil sedikit, jadi aku memesankan satu porsi tambahan untuknya. Maaf ya, Kambase.

Meski sekarang sudah jadi pemabuk berat, Dr.Peaberry adalah orang yang berbakat.

Pengetahuannya sebagai sarjana sangat meyakinkan, ia memiliki semangat perlawanan terhadap bangsawan, dan yang terpenting, ia punya keyakinan yang tak tergoyahkan.

Termasuk sifat keras kepalanya, ia adalah salah satu sumber daya manusia yang mutlak dibutuhkan dalam rencanaku. Aku ingin menjalin koneksi di sini.

"Oh?"

Aku bersuara—berusaha agar tidak terdengar terlalu dibuat-buat—saat menyadari ada sebuah buku saku yang tergeletak di dekat tangan Dr.Peaberry.

Sampulnya berwarna hitam menyeramkan dengan punggung buku berhiaskan sisik naga hijau. Halaman-halamannya yang memudar terlihat meskipun buku dalam keadaan tertutup.

Tidak ada judul yang tertulis di mana pun, tapi aku tahu identitas asli buku itu. Tidak, aku sangat mengenalnya.

"Itu adalah Hedolonomicon, kan? Terlebih lagi, ini adalah Edisi Revisi Kedelapan."

"Mu! Tepat sekali seperti katamu…… tapi bagaimana kau bisa tahu?"

Wajah Dr.Peaberry sempat berbinar sejenak, namun ia segera memasang wajah kaku kembali dengan alis yang berkedut.

Buku Hedolonomicon itu sudah terlihat sangat usang, namun bukan karena diperlakukan dengan kasar, melainkan karena tanda-tanda telah dibaca berulang-ulang kali.

Mengingat ia membawanya bahkan sampai ke kedai minum, sudah pasti ini adalah buku favoritnya.

"Sebab, aku pun sangat suka membacanya."

Aku mengeluarkan buku Hedolonomicon Edisi Revisi Kedelapan dari saku dadaku.

Aku tidak melewatkan momen saat wajah Dr.Peaberry langsung melunak ketika melihat tingkat keusangan buku milikku.

Hedolonomicon adalah catatan harian penyihir wanita bernama Hedoloa yang hidup tujuh ratus tahun lalu.

Keistimewaannya adalah catatan hasil penelitian masa awal sihir yang ditulis bersamaan dengan situasi Kekaisaran saat itu dalam gaya bahasa yang sinis dan jujur.

Namun, buku yang beredar sekarang sebagian besar telah dipalsukan oleh Keluarga Eterna, keturunan penyihir, dan isinya tidak lagi asli karena adanya manipulasi opini yang jahat.

Edisi Revisi Kedelapan yang disusun oleh para cendekiawan pemberani diterbitkan dalam bentuk yang paling mendekati catatan asli Hedoloa, namun telah ditetapkan sebagai buku terlarang yang harus dibakar oleh Keluarga Eterna.

Aku mendapatkannya secara rahasia melalui koneksi di Perpustakaan Kekaisaran, sementara Dr.Peaberry mungkin membelinya lewat jalur belakang di Darkest Market.

"Jika bicara soal buku pelajaran sihir, standarnya bukan Hedolonomicon melainkan Jirulda Text, tapi aku merasa skeptis dengan buku itu…… atau lebih tepatnya, aku menolaknya."

Aku melirik mantel tentara Kekaisaran yang tersampir di sandaran kursi, lalu tertawa santai sambil berkata, "Yah, agak gawat sih kalau seorang penyihir Kekaisaran bicara begini."

Dr.Peaberry tidak tersenyum, tapi sudut mulutnya sedikit melunak.

"Sebab aku bukan penggemar Jirulda si Penyihir N. Eterna dari legenda Empat Pahlawan, melainkan penggemar Hedoloa si 'Penyihir Genangan'."

"……Masih muda tapi selera yang langka, ya."

Dr.Peaberry mengelus punggung buku Hedolonomicon dengan ujung jarinya, lalu mengangguk pelan.

"Namun, Hedoloa adalah salah satu dari Tiga Penjahat Besar Kekaisaran. Ia terus dicela sebagai wanita jahat yang kejam, egois, dan pencemburu."

"Selain itu, ia juga dikabarkan menjalin hubungan dengan Raja Iblis…… meski begitu, kau masih berani menyebut dirimu penggemarnya?"

Suara bentakannya tadi entah hilang ke mana, kini Dr.Peaberry berbicara dengan nada intelektual layaknya seorang sarjana.

"Aku tidak suka menggunakan dualitas baik dan jahat dalam membahas sejarah……."

"Terlepas dari itu, fakta bahwa ia menjalin hubungan dengan Raja Iblis sudah cukup membuktikan bagiku bahwa Hedoloa adalah orang yang memiliki akal sehat."

Dr.Peaberry mengangguk dalam sambil merenungkan setiap kata-kataku, dan perlahan-lahan ia mulai menyeringai lebar.

"Sebab menurut pemikiranku, Raja Iblis Amatsumi adalah orang yang sangat baik."

Mendengar jawabanku yang dibarengi seringai, Dr.Peaberry langsung melonjak berdiri dari kursinya.

"Tepat sekali!"

Kambase yang sedang melahap Omurice di sudut kedai juga mengangguk pelan namun mantap.

"Baik Raja Iblis maupun Hedoloa adalah orang baik, mereka adalah korban yang tertindas oleh sejarah sang pemenang!"

"Justru Jirulda si Penyihir N. Eterna itulah wanita jahat yang kejam, egois, dan pencemburu! Dia menulis sihir komposit hasil pengembangan Hedoloa ke dalam Jirulda Text seolah itu karyanya sendiri, lalu mencaci-maki Hedoloa!"

"Merampas hasil kerja keras orang lain memang keahlian para bangsawan, bukan hanya Goldbarrel saja. ……Waduh, barusan itu aku salah bicara. Tolong lupakan saja."

Dr.Peaberry menyemburkan minumannya saat aku berakting konyol.

Kemudian, emosi positif yang tadi terpendam oleh amarah dan mabuk meledak seketika, dan suara tawa kerasnya bergema di seluruh kedai.

"Kakkakkak! Kau berani juga bicara begitu!"

Dr.Peaberry yang sedang dalam suasana hati yang sangat baik mulai menyantap Potato Salad dengan lahap, sepertinya ia merasa lapar setelah antusias mengobrol.

"Aku memang bukan penyihir, tapi aku sudah membaca habis Hedolonomicon sebagai buku sejarah. Sebenarnya, aku juga penggemar Hedoloa. Penggemar berat malah. Sindiran humoris dan pilihan katanya yang seksi itu benar-benar luar biasa."

Dr.Peaberry membalik halaman buku Hedolonomicon dengan tangan yang terbiasa, lalu mulai menceritakan kehebatan Hedoloa dengan wajah senang, "Misalnya bagian ini, nih."

"Iya, aku mengerti. Di tengah dunia yang gelap saat Kekaisaran mulai digerogoti oleh para Pahlawan, tulisan Hedoloa yang tetap bersikap tegar tanpa berputus asa benar-benar meresap ke dalam hati."

Untuk beberapa saat kami mengobrol seru tentang kehebatan Hedoloa, lalu berlanjut ke diskusi sejarah untuk memperdalam kedekatan kami. Setelah itu, Dr.Peaberry pergi ke toilet dengan ekspresi puas.

Sepertinya ia merasa sangat senang sehingga rasa mabuknya terasa nikmat. Ia sudah menghabiskan seluruh Potato Salad-nya.

"Luar biasa ya kau bisa akrab dengan Tuan Peaberry!"

Bibisana, si gadis idola kedai, menyapa dengan nada suara yang penuh semangat. Ia menatap wajahku lekat-lekat dengan matanya yang besar, lalu memancarkan senyum cerah tanpa beban.

"Paman itu selalu mabuk dan membuat masalah, semua orang di sini sampai bingung menghadapinya karena tidak ada yang mau meladeninya. Tentu saja, aku tahu dia bukan orang jahat."

"Ahahaha, dia memang lebih keras kepala daripada Dwarf biasa, sih."

Bibisana menanggapi setuju dengan jawaban polos, "Iya, benar sekali!"

Ada kecerahan yang muncul dari dasar hatinya tanpa ada sedikit pun kesan sinis. Itu bukan sekadar semangat yang dibuat-buat, melainkan kekuatan prinsip yang tak tergoyahkan.

Kecerahan dan kekuatan Bibisana entah kenapa terasa mirip dengan sosok Hedoloa yang terpancar dari tulisan-tulisannya di Hedolonomicon. Mungkin itulah alasan Dr.Peaberry sering datang ke kedai ini.

"Aku bisa menangani berandal yang temperamental, tapi aku payah menghadapi orang pintar yang rumit. Soalnya aku sendiri tidak berpendidikan. Kau benar-benar sangat membantu, terima kasih! Ini, silakan dinikmati sebagai tanda terima kasih!"

Bibisana memberikan sebuah Sorbet dengan aroma sitrus yang menyegarkan. Sorbet yang segar ini sangat pas sebagai hidangan penutup setelah makan.

"Terima kasih. Aku senang karena aku suka makanan manis."

"Kau suka makanan manis? Cowok tampan yang suka makanan manis itu punya kesan gap yang menarik, ya."

Begitu Bibisana memujiku secara langsung, tatapan cemburu langsung menusukku dari segala penjuru kedai.

Mereka pasti salah paham dan mengira Bibisana menaruh minat padaku. Sekali lagi, aku menyadari betapa populernya Bibisana.

"Lalu, aku juga memberikan layanan tambahan untuk temanmu itu."

Bibisana memberi isyarat dengan matanya ke arah Kambase yang matanya berbinar melihat seporsi besar Omurice.

Aku benar-benar terkejut sekaligus kagum dengan nafsu makan Kambase yang tak berdasar.

Apakah ia masih mau makan lagi?

Meskipun ras Oni memiliki metabolisme tinggi sehingga butuh porsi makan banyak, tapi ini benar-benar luar biasa.

"Silakan datang lagi kapan saja. Aku akan memberimu servis tambahan. Kurasa kau bisa menjadi teman bicara yang baik bagi Tuan Peaberry."

"Tentu saja."

Bibisana menatap wajahku dalam-diam, lalu mendekatkan wajahnya hingga sangat dekat sambil mengerutkan dahi. Jaraknya begitu dekat hingga ujung hidung kami hampir bersentuhan.

Sebenarnya aku tidak keberatan berdekatan dengan wanita cantik seperti ini, tapi aku ingin ia segera menjauh sebelum rasa cemburu orang-orang di sekitar berubah menjadi niat membunuh yang nyata.

"Jagid Deabold, penyihir jenius yang diusir dari Kekaisaran…… hmm. Aku sudah dengar rumornya, tapi ternyata kau itu——"

Setelah terdiam sesaat, Bibisana berbicara dengan senyum yang merekah.

"——Terlihat sangat mencurigakan, ya!"

Aku mematung saking terkejutnya, sampai-sampai hampir jatuh dari kursi.

Berani-beraninya dia menyebut orang yang baru saja dibantu dan dipujinya sebagai orang mencurigakan tepat di depan wajahnya……. Tingkat kengeriannya berbeda dengan Kambase.

"Ah! Maaf ya! Ini bukan hinaan, kok. Maksudku mencurigakan dalam arti yang bagus, atau mungkin mencurigakan yang terasa menyegarkan!"

"……Apa itu bisa dianggap sebagai pujian?"

Melihatku mengangkat bahu dan tertawa kecut, Bibisana tertawa terbahak-bahak.

Aku sempat waspada, jangan-jangan ia secara intuitif menyadari rencanaku atau maksud terselubungku padanya……. Namun melihat senyumnya yang tanpa topeng itu, sepertinya aku hanya terlalu khawatir.

Bibisana adalah matahari yang bersinar terang dengan kepolosan yang luar biasa. Justru karena itulah, untuk mengukur kegunaan keberadaannya, aku sengaja mengubah suasana dan berbicara dengan nada berat.

"Ngomong-ngomong, apa pendapatmu tentang Keluarga Goldbarrel?"

"Tiba-tiba bicara apa? Kau jadi bicara soal politik seperti Tuan Peaberry juga……."

"Hanya rasa penasaran yang jujur."

Aku menatap tajam ke arah Bibisana yang tampak bingung sambil tertawa canggung, lalu menyambung kata-kataku dengan ekspresi serius.

"Tidak usah pedulikan fakta bahwa aku adalah tentara Kekaisaran. Aku hanya ingin tahu apa pendapat idola Darkest Market tentang Kota Emas Domina Domina saat ini."

Mendengar pertanyaanku, Bibisana memiringkan kepala dengan wajah serius dan mulai berpikir dalam.

Sepertinya ia tidak terbiasa dengan topik semacam ini, namun fakta bahwa ia tidak mengabaikannya dan memikirkannya dengan sungguh-sungguh memberikan kesan yang sangat baik bagiku.

Aku merasa telah menemukan satu lagi alasan mengapa ia begitu populer.

"Keluarga Goldbarrel itu sudah tidak bisa tertolong lagi."

Bibisana melontarkan kata-kata itu dengan nada suara yang blak-blakan.

"Soalnya, para Tuan Bangsawan itu memang sudah tidak bisa apa-apa lagi, kan? Mereka memutarbalikkan hukum sesuka hati, mereka terlihat lebih berkuasa daripada Kaisar, jadi tidak ada gunanya orang biasa sepertiku berpendapat apa pun."

"Bahkan Revolusi Beastman lima tahun lalu pun, pada akhirnya tidak mengubah apa-apa meskipun para Beastman diperlakukan tidak adil……."

Bibisana mengacak-acak rambut oranyenya yang lembut dengan kedua tangan, lalu melontarkan kata-kata penuh keluhan dengan ekspresi yang tampak sudah menyerah sepenuhnya.

"Aku ini tidak berdaya!"

Namun, bertolak belakang dengan arti kata-katanya, suara Bibisana terdengar sangat penuh semangat.

"Jadi, setidaknya aku ingin membuat Darkest Market…… tidak, setidaknya kedai Raden-tei milikku ini menjadi cerah! Kalau cuma segitu, aku pun bisa melakukannya."

"Aku memang tidak bisa menyelesaikan ketidakpuasan semua orang, tapi aku ingin mereka bisa bersenang-senang meskipun hanya sedikit selama berada di kedai ini!"

Perkataan Bibisana memang terdengar kasar, dan jika salah dengar, bisa dianggap sebagai sikap masa bodoh. Namun ekspresi dan nada suaranya menunjukkan bahwa ia tidak bersikap masa bodoh ataupun menyerah.

Bibisana menerima kenyataan tentang masyarakat bangsawan yang korup, namun ia tidak pernah menyerah dan terus berusaha maju dengan melakukan apa yang bisa ia lakukan. Itu adalah kecerahan yang memiliki isi, berbeda dari sekadar pemikiran positif yang kosong.

Ia dipenuhi energi yang sanggup membuat orang percaya bahwa ia mampu memukul balik segala kesulitan.

"Itu sangat luar biasa."

Aku mengangguk dengan ekspresi tenang sambil berpura-pura tetap kalem.

Keputusanku datang ke Raden-tei hari ini adalah pilihan yang sangat tepat. Selain bertemu dengan Dr.Peaberry, aku juga berhasil mencapai tujuan awal. Ini adalah pencapaian yang luar biasa besar.

Nah, sekarang tinggal urusan dengannya——.

Aku mengganti fokus pikiranku, lalu melirik Kambase yang sudah dalam kondisi kenyang setelah melahap habis Omurice-nya.

◆◇◆

"Tempatnya sangat nyaman sampai-sampai kita mampir cukup lama, ya."

Setelah memastikan Dr.Peaberry sudah pulang, aku dan Kambase meninggalkan Raden-tei dengan perasaan senang satu sama lain.

Sebagai catatan, Kambase telah menghabiskan total empat piring Omurice, satu piring Omurice porsi besar, dua piring Potato Salad, serta tambahan satu set ayam goreng porsi gunung. Ia terlihat sangat puas lahir dan batin.

Gang-gang di Darkest Market yang sempit dan semrawut dipenuhi oleh kerumunan pemabuk.

Suara nyanyian dari penyair keliling terdengar di kejauhan, bercampur aduk dengan gelak tawa riang dari para penari dan wanita penghibur.

"Hei, Jagid."

Saat aku sedang melihat-lihat pedagang kaki lima yang menghamparkan permadani tua untuk menjual Talisman berbentuk aneh, suara dingin Kambase menghentikanku dari belakang.

Setelah melirik sejenak ke arah telinga rubah yang menyatu dengan rambut biru mistisnya, aku mengalihkan pandangan ke wajah Kambase.

Suasana tegang yang berbeda jauh dari saat ia sedang lahap memakan Omurice mulai terlihat jelas.

"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan?"

Kambase bertanya secara singkat sambil menatap lurus ke mataku.

"Menyembunyikan? Memang sih, aku menyembunyikan berbagai camilan rahasia di dalam saku……."

"Aku sudah paham kalau kau menyimpan dendam terhadap bangsawan. Itulah sebabnya aku bisa mengerti kenapa kau tidak menghukumku meskipun tahu identitas asliku."

"Namun, membiarkan tujuanku tanpa menegurnya itu benar-benar aneh."

Kambase mengabaikan candaan konyolku dan terus berbicara dengan tenang.

"Lagipula, kau berbeda dari pemikir seperti Pastoro Peaberry. Ini hanyalah intuisi tanpa dasar logika, tapi…… kau terlihat seperti menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih fundamental."

Pertanyaan Kambase hanyalah didasari oleh rasa janggal yang samar.

Akan sangat mudah untuk membungkamnya jika aku berkelit sekenanya. Mungkin dengan begitu segalanya akan berakhir dengan lebih tenang.

Namun.

Melihat sorot mata Kambase, hatiku bergetar dengan cara yang mengejutkan bahkan bagi diriku sendiri.

Tekad yang bersemayam di mata Kambase sangatlah murni dan jernih.

Perasaan yang ada di sana adalah sebuah kewajiban agung yang murni untuk mendoakan sesama kaumnya.

Dalam ingatanku yang membeku, aku merasa sosok Kambase tumpang tindih dengan diriku di masa lalu.

Jika aku membiarkan Kambase begitu saja, ia akan menyerang bangsawan sendirian, menjadikan Kekaisaran sebagai musuh, dan hancur dalam sekejap.

Meskipun kemampuan Kambase tinggi dan memiliki ilmu gaib Omokage Gozen, tidak mungkin untuk menjungkirbalikkan dunia hanya dengan kekuatan militer semata.

Ia hanya akan berakhir diinjak-injak seperti Revolusi Beastman lima tahun lalu.

Yang terpenting, ada Sleek di tentara Kekaisaran. Sleek Annhelion, Ksatria Suci terkuat di Kekaisaran yang dijuluki sebagai Fifth Regalia.

Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa mengalahkannya dalam hal kekuatan militer. Aku, sebagai sahabatnya, adalah orang yang paling tahu tentang itu.

Itulah sebabnya, satu-satunya cara untuk menghancurkan masyarakat ini bukanlah dengan kekuatan militer, melainkan dengan strategi muslihat.

Saat ini, rencanaku berjalan dengan sangat lancar. Bergabungnya variabel tidak terduga seperti Kambase tidak akan menggoyahkan rencanaku.

Jika rencanaku sampai goyah dan aku tidak bisa memperbaikinya, berarti rencanaku memang hanya sebatas itu saja.

Aku bukannya tergerak oleh perasaan iba. Namun bukan berarti aku bermaksud menjadi orang yang tidak punya perasaan.

Aku akan menempuh jalan yang kuyakini dan menuntaskan rencanaku.

Membuang Kambase justru akan menjadi pengkhianatan terhadap diriku sendiri.

Andaikan Kambase berkhianat pun—tidak, ia tidak akan berkhianat.

Sebab, Kambase sama dengan diriku yang dulu.

Setelah meyakini hal itu, aku mengembuskan napas pendek.

"Bicara padamu berarti akan melibatkanmu, apakah kau tidak keberatan?"

Kambase mengangguk dengan ekspresi mantap menjawab pertanyaan pelanku. Sepertinya jawabannya memang sudah sangat jelas.

"Mari pindah tempat sedikit."

Meskipun di sekitar sini hanya ada pemabuk, akan sangat berbahaya jika rencana ini sampai terdengar oleh orang lain.

Aku memutuskan untuk pindah ke gang yang tadi sempat kami gunakan.

Tempat itu jauh dari kedai dan rumah bordil, serta jarang dilewati orang, sehingga sangat cocok untuk pertemuan rahasia.

"Nah."

Setelah sampai di gang samping teater kecil yang tutup, aku kembali memusatkan perhatian pada aliran Mana di sekitar.

Mendeteksi aliran Mana sudah menjadi kebiasaanku sehari-hari, namun apa yang akan kubicarakan sekarang berkaitan dengan prinsip dasarku. Aku harus lebih waspada dari biasanya.

"Kau tidak perlu tegang begitu. Santai saja, nih."

Aku mengeluarkan permen karamel yang kubeli dari pedagang kaki lima di jalan tadi, lalu melemparkan sebutir kepada Kambase.

"……Akan kumakan nanti."

Kambase memasukkan karamel itu ke dalam kantong di pinggangnya, lalu menatapku dengan sorot mata yang seolah mendesak.

Aku berniat untuk meredakan ketegangannya…… namun saat berpikir sampai di situ, aku tersadar. Ternyata yang sedang tegang bukan siapa-siapa, melainkan diriku sendiri.

Menunda pembicaraan dengan Kambase, memberikan berbagai alasan, hingga mengandalkan camilan, semuanya kulakukan untuk meredakan keteganganku sendiri.

Karena aku akan menceritakan rahasia yang tidak pernah kuungkapkan kepada siapa pun selama sepuluh tahun, aku jadi merasa gugup, tidak seperti biasanya.

Sambil merasakan keterkejutan dan sedikit rasa senang karena ternyata masih ada sisi manusiawi dalam diriku, kali ini aku benar-benar membulatkan tekad dan mulai merangkai kata-kata.

"Kota ini adalah mikrokosmos dari Kekaisaran."

Sambil mengulum permen karamel di dalam mulut, aku menatap Colosseum yang berada di balik kegelapan malam, serta patung batu Goldbarrel pertama.

"Central Capital, tempat di mana segelintir orang kaya yang terhubung dengan bangsawan menikmati kemewahan. Darkest Market, labirin hasrat tempat ketidakpuasan terhadap bangsawan dan kecemasan akan hari esok bertumpuk. Serta Deep Side, sudut jurang pemukiman kumuh tempat keputusasaan tidak masuk akal yang diciptakan bangsawan menyebar luas."

Di antara ketiganya, Deep Side telah menjadi zona tanpa hukum yang membuat siapa pun ingin memalingkan mata.

Orang-orang yang kehilangan tempat tinggal akibat tirani bangsawan terpaksa menjual tubuh mereka sendiri, tunduk pada kekerasan geng, dan bergantung pada obat-obatan untuk menetralkan keputusasaan mereka agar tetap bisa hidup. Atau, mereka menyerah pada hidup dan jatuh ke dalam kehancuran.

"Dalam struktur tiga lapis Kota Emas Domina Domina ini, orang-orang menjilat bangsawan, menanggung kesewenang-wenangan, dan pura-pura buta terhadap tragedi yang terjadi. Sebab sudah sangat jelas bahwa melawan bangsawan akan berakhir dengan kehilangan segalanya, seperti Dr.Peaberry."

Tidak, Dr.Peaberry jauh lebih beruntung karena ia tidak dibunuh. Ada begitu banyak orang yang menderita kekejaman tak terhingga karena melawan bangsawan—mulai dari mereka yang seluruh keluarga dan temannya dibantai, hingga mereka yang kampung halamannya dibumihanguskan.

Kenyataannya, banyak junior di Perpustakaan Kekaisaran yang juga menjadi korban.

Mengingat kembali kejadian-kejadian yang diceritakan junior-juniorku sambil menangis, aku mengepalkan tinju sambil gemetar karena amarah.

"Apa kamu tahu tentang insiden pembantaian yang terjadi tiga tahun lalu di Darkest Market dan Deep Side?"

"Ya, tentu saja. Korban pembantaian membabi buta yang terjadi setiap malam itu... ada empat belas orang. Aku baca di koran kalau pelakunya ditangkap oleh Gold Knight dan dieksekusi oleh Viskio Goldbarrel di Colosseum."

"Orang yang dieksekusi itu cuma kambing hitam. Pelaku aslinya adalah orang lain."

"Eh...?"

Aku mengunyah karamel yang sudah meleleh, lalu menelan rasa muak itu dalam-dalam.

"Pelaku aslinya sangat bodoh sampai-sampai meninggalkan banyak bukti di lokasi kejadian, dan wajahnya pun sudah dikenali banyak orang. Meski begitu, dia tidak pernah ditangkap."

"Jangan-jangan..."

Kambase yang peka sepertinya sudah bisa menebak siapa pelaku aslinya, wajahnya seketika pucat pasi.

"Ya, pelaku aslinya adalah Bowman Goldbarrel. Putra kedua Maralva."

Aku mengernyitkan dahi saat membayangkan pria obesitas dengan kumis tempelan itu. Dia adalah Kepala Perpustakaan Kekaisaran sekaligus mantan atasanku, sosok yang mengusirku dari ibu kota.

"Bukti-bukti dilenyapkan dan orang-orang tidak berani menyebut identitas pelaku aslinya, semua itu karena Bowman adalah bangsawan Goldbarrel."

Setelah insiden itu dianggap selesai, Maralva mengatur segalanya agar Bowman mendapatkan jabatan Kepala Perpustakaan Kekaisaran. Mereka menyebutnya promosi, tapi kenyataannya itu hanyalah tempat persembunyian sampai masalahnya mereda.

Meski begitu, Bowman yang sudah menjadi kepala perpustakaan tetap saja menyebarkan reputasi buruknya di ibu kota.

"Putra sulungnya, Viskio, melakukan perburuan manusia dengan kedok ekspedisi, lalu mengolah mayat mereka menjadi senjata. Prajurit keluarga Goldbarrel dan tentara Kekaisaran ikut mengawal ekspedisi itu, dan biayanya dibayar menggunakan pajak."

"Semua itu diizinkan hanya karena Viskio adalah bangsawan Goldbarrel."

Hanya dengan membayangkan berapa banyak nyawa yang dikorbankan demi memuaskan nafsu sampah seperti mereka, amarah dan rasa sesak yang luar biasa memenuhi kepalaku.

"Lalu, Maralva sendiri punya hobi mengumpulkan orang secara acak untuk dijadikan sasaran uji coba senjata dan membantai mereka dengan kejam. Tak perlu ditanya lagi... itu pun diizinkan karena Maralva adalah bangsawan Goldbarrel."

Bowman melakukan pembantaian karena meniru ayahnya, dan Viskio menciptakan senjata aneh demi menyenangkan Maralva.

Maralva yang tidak berguna baik sebagai ksatria maupun penguasa adalah wujud nyata dari segala kebusukan Goldbarrel.

"Tapi, bukan berarti keluarga Goldbarrel saja yang tidak normal. Keluarga Eterna, Merribirth, maupun Misericorde, semuanya berisi sampah yang serupa."

"Yang benar-benar tidak normal adalah sistem masyarakat bangsawan itu sendiri, yang memberikan hak istimewa kepada sampah-sampah ini dan membiarkan mereka bebas bertindak."

Hak istimewa bangsawan bisa melampaui hukum dengan mudah, menyebarkan ketidakadilan, dan menginjak-injak nyawa demi keserakahan yang rendah.

Etika dan moral sudah tidak ada sejak awal.

Kesewenang-wenangan bangsawan tidak bisa dihentikan oleh tentara Kekaisaran, bahkan oleh Kaisar sekalipun. Sistem kelas bangsawan itu sendiri sudah membusuk dari akarnya.

Singkatnya, dunia ini sudah gila.

"Karena itulah, aku tidak keberatan mengotori tanganku dengan ilmu hitam atau teknik terlarang demi tujuanku. Aku juga tidak peduli meski harus menghabiskan hampir seluruh hidupku demi rencana ini."

"Sepuluh tahun hidupku hanya ada untuk saat ini. Untuk menggulingkan kekuasaan yang tidak adil, aku harus melawannya dengan cara yang tidak adil juga."

"Jagid... tujuanmu sebenarnya adalah—"

"Mengakhiri masyarakat bangsawan."

Aku langsung memuntahkan jawaban itu sebelum Kambase sempat menyelesaikan pertanyaannya.

"Me-mengakhiri masyarakat bangsawan...?"

Kambase mengulangi kata-kataku dengan suara gemetar dan mata terbelalak.

Di dunia di mana mengkritik bangsawan dianggap tabu, menyuarakan penggulingan bangsawan adalah tabu di atas segala tabu. Aku tahu dia akan terperangah atau bahkan merasa ngeri mendengarnya.

Tujuanku memang sangat ceroboh, bahkan terlalu muluk. Pemabuk di Darkest Market mungkin masih punya idealisme yang lebih masuk akal dibanding ini.

"Aku akan memusnahkan para bangsawan dan mengubah dunia."

Aku menyambung kalimatku untuk menegaskan bahwa ini bukan candaan ataupun igauan.

"……Jagid."

Kambase menatap wajahku tanpa berkedip, lalu membuka mulutnya dengan ragu-ragu. Aku bersiap mendengarkan makian atau cacian yang mungkin keluar.

Tentu saja, aku tidak akan gentar apa pun yang dikatakannya sekarang.

"Di dunia tempat tujuanmu tercapai nanti, apakah Oni bisa hidup dengan normal?"

Aku terpana mendengar pertanyaan Kambase yang di luar dugaan, sampai-sampai aku kelu walau sudah bersiap siaga. Di saat yang sama, aku merasakan panas di balik mataku.

"Tentu saja."

Aku mengangguk mantap untuk menunjukkan tekadku.

"Selain mengakhiri masyarakat bangsawan, aku akan mengungkap sejarah palsu Empat Pahlawan ke hadapan publik. Aku akan membersihkan nama Oni dari tuduhan ras iblis yang kejam."

"Aku akan menunjukkan hubungan asli antara ilmu gaib dan sihir, lalu memberitahu dunia tentang kebenaran yang sesungguhnya."

Setelah itu, aku akan memulihkan kehormatan para pahlawan sejati yang telah dihina selama tujuh ratus tahun sebagai Tiga Penjahat Besar Kekaisaran; "Raja Iblis" Amatsumi, "Kaisar Bodoh" Vester, dan "Penyihir Genangan" Hedoloa.

Aku akan mendoakan jiwa mereka dengan menyebarkan sejarah yang benar.

Bahwa Amatsumi sebenarnya adalah pemuda Oni berhati lembut yang mendambakan hidup berdampingan dengan Kekaisaran.

Bahwa Vester sebenarnya adalah kaisar bijak yang berusaha melindungi Kekaisaran dari tangan jahat Pahlawan sampai akhir hayatnya.

Bahwa Hedoloa sebenarnya bekerja sama dengan Amatsumi dan Vester untuk berjuang demi perdamaian.

"Jadi, di dunia itu tidak perlu lagi menyembunyikan identitas sebagai Oni. Tentu saja, tidak akan ada perburuan tanduk lagi."

"Sama seperti manusia yang berhenti memakan daging manusia seiring perkembangan peradaban, menggunakan tanduk Oni akan menjadi tabu di lingkungan budaya yang maju."

Aku menatap lurus ke arah Kambase, lalu berdiri perlahan dan merentangkan kedua tanganku lebar-lebar. Seolah-olah melepaskan gairah yang meluap dari dasar hatiku.

"Oni, Beastman, Manusia, Dwarf, maupun Elf. Semua ras bisa hidup berdampingan sambil bergandengan tangan."

"Tidak akan ada tirani yang tidak adil atau kesewenang-wenangan yang tidak masuk akal. Sebuah dunia indah di mana orang yang benar akan mendapatkan balasan yang setimpal."

Dunia yang kubayangkan mungkin terlihat seperti coretan mimpi seorang anak kecil. Tapi aku tahu betul kalau ini bukan sekadar teori kosong.

Sebab, aku pernah melihatnya. Aku benar-benar pernah hidup di surga di mana semua ras hidup dalam harmoni.

Jadi, idealismeku bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan!

"Terdengar sangat hebat."

Kambase menjawab singkat dengan nada suara datar. Itu bukan simpati yang dibuat-buat, bukan kebohongan, bukan juga ejekan atau cemoohan, melainkan jawaban yang sangat alami.

"Kamu tidak akan menertawakanku karena teori idealis yang konyol ini?"

"Habisnya, aku merasa kamu pasti bisa melakukannya."

Kambase menyipitkan mata dan tersenyum tipis sambil menatap wajahku. Matanya yang jernih penuh dengan kilauan polos.

Jika bukan karena kegelapan malam, matanya pasti sudah memantulkan wajahku seperti cermin. Aku merasa lega karena tidak perlu melihat wajah seperti apa yang sedang kutunjukkan sekarang.

"Kalau orang lain yang mengatakan hal yang sama, aku mungkin sudah menendangnya."

Kambase menepuk-nepuk paha sendiri dengan ekspresi yang sangat serius. Aku hanya mengangkat bahu dan membalas dengan candaan, "Seram, seram."

"Jagid."

Walaupun banyak hal di luar dugaan, aku tahu apa yang akan Kambase katakan selanjutnya.

"Biarkan aku membantumu dalam rencanamu. Teknik Omokage Gozen milikku pasti akan berguna untukmu."

Memang benar, kemampuan mengubah wujud sangatlah praktis. Walaupun begitu, sebenarnya menjalankan rencana ini sendirian saja sudah cukup bagiku.

Aku berniat menggunakan koneksi atau orang-orang yang berguna, tapi itu hanya sebatas memanfaatkan mereka. Sejak awal aku tidak pernah terpikir untuk bekerja sama dengan siapa pun.

"Kalau aku jadi pengsayat, kamu boleh membuangku kapan saja. Lagipula, posisiku sekarang memang sudah sepantasnya dieksekusi tentara Kekaisaran karena gagal membunuh Goldbarrel."

Begitu ya. Kambase bisa ikut dalam rencanaku, dan aku bisa menggunakannya sebagai pion yang nyaman. Ini adalah hubungan kaki tangan yang hanya memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, tapi—

"—Kamu bilang begitu karena tahu aku tidak akan bisa membuangmu, kan?"

"Entahlah, siapa tahu?"

Kambase menyeringai sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Gadis yang licik."

"Tentu saja, aku kan siluman rubah."

Aku melirik Kambase yang sedang menyentuh telinga rubahnya sambil tersenyum, lalu aku mengangkat bahu.

Bahkan tanpa menghitung untung rugi, membiarkan Kambase yang berniat memusuhi bangsawan sendirian akan lebih buruk bagi kesehatan mentalku daripada membawanya serta. Anggap saja kemampuan berubah wujudnya adalah bonus.

"……Baiklah. Mari kita menjalin hubungan kaki tangan."

Selama sepuluh tahun aku terus mengasah diri sendirian demi rencana ini, aku tak pernah menyangka hari di mana aku akan bekerja sama dengan gadis Oni akan tiba.

Namun, ini juga bagian dari takdir. Mari berdoa semoga ini menjadi hubungan yang baik.

Kalaupun ternyata ini hubungan yang buruk, aku tinggal menebas takdir itu sendiri.

Setelah memastikan dalam hati bahwa tidak ada lagi ganjalan terhadap Kambase, aku menjulurkan tangan kananku perlahan.

Lalu, aku membiarkan Mana merembes hangat di telapak tanganku yang menghadap ke atas.

"Mohon bantuannya, Kambase."

Melihat gerakanku, Kambase tersenyum lembut.

"Wawasanmu luas juga, ya."

Kambase juga menjulurkan tangan kanannya dan menumpukannya di atas telapak tanganku.

Di saat yang sama, Mana yang hangat bercampur di antara telapak tangan kami, mengeluarkan kehangatan seperti sinar matahari di musim semi.

Ini adalah adat istiadat Oni untuk menunjukkan persahabatan dan memperjelas hubungan kepercayaan melalui penyaluran Mana secara langsung.




Setelah resmi menjalin hubungan kaki tangan, Kambase duduk di atas kerangka besi yang menghadap ke arahku.

Ia tampak sudah menurunkan kewaspadaannya dan mulai memercayaiku; ekspresinya terlihat jauh lebih tenang.

Melihat Kambase yang seperti itu, aku merasa lega dan baru saja hendak memasukkan karamel ke mulut—saat itu juga.

"Kalau begitu, apa kita akan segera membunuh Maralva Goldbarrel?"

Pernyataan tiba-tiba dari Kambase membuatku tersedak dan spontan menyemburkan karamel itu keluar.

"Kalau kamu memberikan dukungan, aku bisa menggunakan Omokage Gozen untuk menyamar menjadi selir Maralva dan membunuhnya."

"Tu-tunggu, tunggu dulu. Jangan terburu-buru begitu."

Aku memungut kembali karamel yang jatuh ke tanah, segera membersihkan kerikil yang menempel, lalu memasukkannya lagi ke mulut. Sedikit terasa berpasir, tapi kurasa tidak masalah.

"Ada empat prajurit perkasa yang disebut Gold Knight yang selalu mengawal Maralva. Selama mereka ada, akan sulit melakukan pembunuhan meski kamu menyamar jadi selir sekali pun."

"Kalau begitu, apa itu berarti kita harus membunuh para Gold Knight lebih dulu?"

"Tidak, aku tidak akan membunuh para Gold Knight. Yang akan kuhabisi hanyalah para bangsawan."

Aku mengatakannya dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Mungkin karena merasakan tekanan dari kata-kataku, Kambase sedikit menciut dan meminta maaf, "Ma-maafkan aku."

"Katakanlah pembunuhan itu mungkin dilakukan—dan kita bisa memusnahkan bangsawan secara rahasia—itu tetap tidak akan menjadi solusi fundamental. Masyarakat hanya akan kacau balau dan perebutan kekuasaan yang kotor akan pecah."

"Itulah sebabnya, aku perlu memajukan rencana ini dengan mempertimbangkan apa yang akan terjadi setelah masyarakat bangsawan berakhir."

Jika aku membasmi keluarga Goldbarrel dari depan, bangsawan lain hanya akan mengambil alih Kota Emas Domina Domina dan mengganti posisinya begitu saja.

Agar hal itu tidak terjadi, aku harus menguasai keluarga Goldbarrel dan merebut kekuasaan mereka.

Tentu saja, itu bukan hal yang mudah. Namun, demi mewujudkan hal itulah aku telah mempersembahkan sepuluh tahun hidupku.

"Untuk itu, hal yang mutlak diperlukan adalah Regalia."

Aku membayangkan pedang Bevelgius yang tersimpan di sarung senjata di pinggang Maralva sembari merangkai kata-kata.

Empat Regalia yang dimiliki oleh para bangsawan menjadi kekuatan pencegah, dan dengan menjaga keseimbangan dunia, Kekaisaran telah membangun kedamaian selama tujuh ratus tahun. Dalam satu sisi, itu adalah fakta.

Namun, jika bicara lebih jujur, esensi dari kekuatan pencegah Regalia hanyalah menakut-nakuti negara lain dengan senjata pemusnah massal dan menjalankan politik ketakutan yang menguntungkan Kekaisaran.

Kenyataan bahwa senjata sekonyol itu dimiliki oleh bangsawan adalah sebuah kegilaan.

Jika Maralva hilang kendali dan menghunuskan Regalia, Kota Emas Domina Domina akan hancur menjadi debu dalam sekejap.

Karena untuk mengaktifkan Regalia, tidak peduli teknik, pengalaman, ataupun Mana; selama orang itu adalah bangsawan, bahkan orang tidak berguna pun bisa menggunakannya.

"Tapi, yang bisa memiliki Regalia hanyalah mereka yang memiliki hubungan darah dengan bangsawan. Selain itu, diperlukan ritual dengan kepala keluarga yang sekarang."

Jika kepala keluarga mati sebelum ritual dilakukan, hak kepemilikan Regalia akan tetap berada pada kepala keluarga yang sudah mati itu.

Kemudian, bangsawan lain akan bertindak sebagai perwakilan untuk melakukan ritual dan memindahkan hak kepemilikannya kepada pewaris yang sah.

Berkat sistem itulah, selama tujuh ratus tahun ini pewarisan Regalia tidak pernah terputus.

……Itulah informasi yang kudapatkan setelah menyelidiki segalanya di Perpustakaan Kekaisaran.

"Singkatnya, jika bukan keturunan dari Empat Pahlawan, maka tidak bisa memiliki Regalia. Tentu saja, aku bukan keturunan mereka."

"Lalu, bagaimana caranya? Katakanlah kamu menikah dengan keluarga bangsawan, tapi karena tidak ada hubungan darah, pewarisan itu tetap mustahil………… Ha! Ja-jangan-jangan!"

Kambase menutup mulut dengan tangan dan pipinya merona merah.

"Kamu berniat menikahi banyak putri bangsawan, membuat mereka melahirkan banyak anak, lalu menyuruh anak-anak itu mewarisinya—"

"Jangan berimajinasi yang aneh-aneh. Aku tidak akan melakukan hal serendah itu."

Aku mengernyitkan wajah, menganggap ide itu seperti gaya keluarga Misericorde saja.

Yah, memang benar aku pernah memikirkannya sekali dulu, tapi aku segera sadar itu tidak realistis dan membatalkannya.

"Tenang saja. Demi menguasai Regalia, aku sudah mempersembahkan sepuluh tahun hidupku di Perpustakaan Kekaisaran."

Sambil berkata begitu, aku menggenggam lembut lonceng kaca di dalam saku mantelku.

◆◇◆

Tiga hari telah berlalu sejak aku menjalin hubungan kaki tangan dengan Kambase. Malam itu, setelah selesai bekerja, aku mengunjungi kedai Raden-tei di Darkest Market.

Seperti biasanya, Raden-tei dipenuhi oleh para berandal. Dipimpin oleh Bibisana, para pelayan berlarian membawa tumpukan makanan dan minuman keras, suasananya persis seperti festival kecil.

Aku bersembunyi di kursi pojok kedai sembari meminum Fire Berry Soda dan mencuri dengar percakapan para berandal.

Sebagian besar hanyalah topik cabul yang tidak berguna, tapi terlepas dari isinya, mengumpulkan informasi dari rakyat jelata adalah hal penting dalam menjalankan rencana.

Topik utama para berandal tampaknya adalah tentang pesta perjamuan keluarga Goldbarrel yang akan diadakan lusa.

Meski tidak berani mengutarakan ketidakpuasan secara langsung, mereka tampak sangat iri karena wanita-wanita cantik dari kedai minum dan rumah bordil dikumpulkan untuk pesta itu.

Tiba-tiba, aku menemukan sosok gadis telinga rubah berambut biru muda di kursi yang berseberangan secara diagonal dari tempatku.

Itu adalah Kambase yang entah sejak kapan sudah jadi pelanggan tetap di Raden-tei.

Tanpa memedulikan kebisingan para berandal, ia sedang makan Meat Pie Omurice dari menu rahasia dengan lahap. Tentu saja, porsi besar.

"Dia masih saja makan dengan lahap," pikirku dengan perasaan geli.

Namun saat aku melihat medali pelangi yang berkilauan di dekat tangannya, aku hampir saja berteriak.

Itu adalah Super Secret Rare Medal bonus dari Peanut Butter Marshmallow Pie.

Sepertinya Kambase sudah benar-benar kecanduan kue itu. Aku sering melihatnya memakan itu saat waktu istirahat di fasilitas kerja bawah tanah.

Tetap saja, mendapatkan Super Secret Rare Medal yang bahkan belum kudapatkan sendiri... Kambase benar-benar mengerikan. Berapa banyak Peanut Butter Marshmallow Pie yang sudah dia telan dalam waktu sesingkat ini……!

Saat aku sedang merinding memikirkan nafsu makan Kambase yang tak terukur, sebuah suara serak menyapa dari belakang, "Ternyata kamu di sini!"

Aku menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya mengenakan mantel usang—Dr.Peaberry—sedang berdiri membawa botol minuman keras dan gelas dengan senyum senang.

Berkat diskusi sejarah yang seru sebelumnya, sepertinya dia jadi sangat menyukaiku.

"Kalau tidak ada kamu, rasanya tidak ada tantangan!"

Dr.Peaberry duduk di depanku dan menuangkan minuman ke gelas. Saat aku menyodorkan Ham Cheese Cracker yang kupesan sebagai camilan, ia menerimanya dengan senang hati lalu tertawa lebar.

"Aku dengar, Jagid-kun! Katanya kamu berhasil menggali Blood-Drenched Spear Gratvolg! Nama senjata itu menyebar karena buku palsu konyol berjudul Legenda Pembunuh Naga, padahal aslinya itu adalah peninggalan sejarah yang sangat penting untuk membahas hubungan ras Beastman dan Dwarf!"

Sambil memberikan tanggapan yang tepat agar Dr.Peaberry yang sedang antusias bercerita merasa senang, aku membolak-balik buku menu yang tebal.

Aku ingin makan hidangan penutup yang manis…… buah-buahan sepertinya enak, tapi makan kue setelah sekian lama juga pilihan bagus.

Beradu argumen dengan menu adalah salah satu kenikmatan tersendiri. Malam masih panjang, biarlah aku galau sejenak.

"Lalu…… di mana Blood-Drenched Spear Gratvolg itu sekarang!"

Melihat Dr.Peaberry yang bertanya sambil mencondongkan tubuh, aku merasa tidak enak tapi tetap menjawab dengan jujur.

"……Sayangnya sudah aku persembahkan kepada keluarga Goldbarrel."

Mendengar jawabanku, Dr.Peaberry mengerang dengan suara yang sangat menyedihkan dan jatuh terkulai lemas.

"Sialaaan~! Guuu…… meski ini tak terhindarkan, tapi tetap saja, sialaaan!"

Dr.Peaberry menggeliat karena marah, lalu menelan Ham Cheese Cracker sekaligus dengan minuman keras. Akibatnya, tentu saja ia tersedak dan kali ini menggeliat kesakitan secara fisik. Benar-benar paman yang merepotkan.

"Jagid, makasih ya sudah datang hari ini. Kalau ada kamu, Tuan Peaberry jadi tidak bertengkar dengan pelanggan lain, itu sangat membantu."

Saat diskusi sejarah kami sedang memuncak, Bibisana datang menghampiri di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan.

Dr.Peaberry membuang muka dengan ekspresi canggung dan menggumamkan sesuatu dengan suara pelan.

Sementara itu, Kambase sepertinya sudah kenyang makan Omurice dan sekarang tertidur pulas dengan wajah menempel di meja.

Selain pekerjaan di fasilitas bawah tanah, ia juga banyak membantuku dalam rencana ini, jadi mungkin rasa lelahnya sudah menumpuk.

"Ini, Fruit Cake tanda terima kasih!"

Begitu melihat Fruit Cake yang diberikan Bibisana, mataku langsung terbelalak.

Di atas kue dengan krim kocok yang melimpah, berjajar buah-buahan khas daerah gunung berapi. Hanya dengan melihatnya saja, rasanya gula sudah terserap ke otak.

"Terima kasih, Bibisana."

Setelah menyampaikan terima kasih dengan cepat, aku mencondongkan tubuh dan menatap Fruit Cake itu lekat-lekat.

Cave Kiwi, Fire Strawberry, Salamander Orange, Magma Banana…… semuanya terlihat lezat sampai aku bingung harus mulai makan dari mana.

"Ngomong-ngomong, kamu tahu tidak tentang insiden yang baru-baru ini terjadi di Perpustakaan Kekaisaran?"

Bibisana duduk di kursi terdekat dan menyilangkan kaki jenjangnya yang terlihat dari rok mini denimnya.

Meski para berandal yang mabuk menatapnya dengan penuh damba, aku tetap tenang dan melahap Fruit Cake milikku.

"Insiden di perpustakaan?"

Tentu saja aku sudah tahu karena belakangan ini Kambase yang menyamar jadi jurnalis koran lewat Omokage Gozen sudah mengumpulkan informasi, tapi aku pura-pura tidak tahu dan memiringkan kepala.

Dibandingkan itu, harmoni antara Magma Banana yang lumer di mulut dengan krim kocoknya benar-benar luar biasa.

"Katanya Kepala Perpustakaan melakukan kesalahan dan merusak beberapa buku sihir kuno yang sangat berharga! Kaisar yang suka membaca sampai murka, dan ibu kota jadi gempar. Apalagi, katanya si kepala perpustakaan itu mencoba melimpahkan kesalahannya pada bawahannya, jadi dia makin dibenci!"

"Wah, parah juga ya."

Sambil menikmati rasa asam manis dari Cave Kiwi, aku mengangkat bahu.

Wajah menjijikkan Bowman yang berminyak sempat terlintas di pikiranku dan membuatku mual, tapi untungnya rasa lezat dari Cave Kiwi bisa menetralkannya.

"Padahal perlindungan buku sihir kuno itu awalnya adalah pekerjaanku. Sebelum dimutasi ke Kota Emas Domina Domina, aku sudah menyerahkannya pada juniorku yang terpercaya, tapi tidak kusangka Kepala Perpustakaan Bowman akan melakukan hal seperti itu……."

Bowman yang selalu ingin menyaingiku pasti menjadi sombong dan merampas pekerjaan itu secara paksa dari Violetta.

Tujuannya sudah terbaca; dia pikir jika dia mengerjakan hal yang sama denganku, dia juga akan dipuji.

Sayangnya, sebagai penyihir level rendah, Bowman melakukan kesalahan fatal dan malah merusak buku sihir kuno itu.

Masih saja menjadi pria yang mudah dikendalikan dan bergerak sesuai skenarioku.

"Keterlaluan! Buku sihir kuno yang disimpan di Perpustakaan Kekaisaran adalah harta nasional yang paling berharga! Merusaknya... bahkan hukuman mati pun terasa terlalu ringan!"

Dr.Peaberry bergetar hebat seolah-olah seluruh tubuhnya adalah wujud dari amarah, dan ia berteriak kencang hingga suaranya bergema di seluruh kedai.

Kambase yang sedang tertidur langsung loncat kaget dan melihat sekeliling dengan bingung.

"Lagipula, perlindungan buku sihir kuno itu sulit dilakukan bahkan bagi penyihir tingkat tinggi sekelas Ether Magnus dari Providence. Mana mungkin sampah dari Goldbarrel itu bisa melakukannya!"

"Hee! Jadi, Jagid yang biasa melakukan itu berarti sangat hebat, dong?"

"Bukan cuma hebat lagi! Itu adalah sebuah pencapaian luar biasa!"

Berkat pancingan Bibisana yang tidak disengaja, Dr.Peaberry mengubah emosinya dari kemarahan pada Bowman menjadi kekaguman pada teknikku dan mulai bercerita panjang lebar.

"Buku sihir kuno yang luar biasa terdiri dari buku itu sendiri yang dibentuk dari formula khusus, dan tulisannya pun diukir dengan Seal Art. Karena itu, jika tidak disuplai dengan Mana berkualitas tinggi secara berkala, buku itu akan hancur dengan mudah."

"Itulah sebabnya perlindungan buku sihir kuno membutuhkan pengetahuan sihir yang luas dan teknik Mana Control yang sangat halus. Ini adalah pekerjaan yang terlihat sepele, tapi sebenarnya merupakan tugas yang sangat teliti dan tingkat tinggi!"

"Aku tidak begitu paham, tapi intinya Jagid itu super hebat ya!"

Meskipun terus-menerus dipuji oleh Dr.Peaberry, ditatap dengan kekaguman murni oleh Bibisana, dan menerima tatapan cemburu dari seluruh kedai, aku tetap tenang dan terus memakan Fruit Cake-ku.

Hmm, enak sekali.

Fakta bahwa rumor dari ibu kota sudah sampai ke Darkest Market adalah bukti bahwa masalah ini sudah membesar.

Bowman pasti sedang ketakutan setengah mati. Apalagi, akhir pekan ini ada pesta perjamuan keluarga Goldbarrel.

……Waktunya sudah tepat.

◆◇◆

Langit malam yang mendung terasa menekan dengan berat, dan Darkest Market di tengah malam telah berubah menjadi pusaran kekacauan yang besar.

Di sudut gang sempit, para wanita penghibur jalanan menjual bunga, para berandal sibuk berjudi dengan drum bekas sebagai meja, dan penyair kumal memainkan akordeon untuk memprovokasi para pemabuk.

Apakah barang bermerek yang dijual pedagang kaki lima itu asli atau palsu, atau daging apa yang digunakan dalam gorengan di kedai pinggir jalan, kekacauan yang ada membuat hal-hal sepele seperti itu tidak lagi penting.

Ketidakwajaran yang tidak mungkin ada di ibu kota, kini sudah menjadi pemandangan sehari-hari yang biasa kulihat.

Setelah menikmati makanan di Raden-tei, aku sedang dalam perjalanan pulang menuju apartemen bersama Kambase—saat itu juga, aku merasakan gelombang Mana berkualitas rendah yang bercampur dengan niat membunuh dari beberapa meter di belakang.

Orangnya mungkin merasa sudah bersembunyi, tapi niat membunuhnya sudah terbongkar jelas bagiku.

Nah, apa yang harus kulakukan pada Kambase?

Jika kami berpisah di sini, ada kemungkinan hanya Kambase yang diincar.

Kalau begitu, akan jauh lebih aman jika dia bersamaku.

"Jagid. Ada yang membuntuti kita."

Kambase berbisik agar tidak ketahuan oleh sekitar, lalu memberi isyarat mata padaku.

Ketegasan dan kewibawaannya yang tenang membuatku tidak percaya kalau tadi dia baru saja tertidur pulas karena kebanyakan makan Omurice.

Aku berkomunikasi dengan Kambase lewat tatapan mata, lalu melangkah menuju arah yang berbeda dari apartemen.

Sambil memastikan niat membunuh berkualitas rendah itu tetap mengikuti, kami sampai di sebuah teater kecil yang sudah terbengkalai di gang yang sepi.

Di sini tidak akan ada orang yang melihat, dan fasilitas kedap suaranya pun masih cukup bagus. Aku sudah melakukan survei sebelumnya, jadi keamanannya tidak masalah.

"Repot juga ya kalau harus menyelidiki tempat seperti ini."

Aku masuk ke dalam teater sembari mengobrol sekenanya dengan Kambase agar terdengar oleh si pemilik Mana berkualitas rendah itu.

Karena lampu tidak menyala, bagian dalam teater sangat gelap, dan lantainya yang penuh tambalan terasa rapuh serta berbahaya.

Aku hanya menerangi langkah kaki dengan teknik Wisp seukuran biji kacang dengan cahaya minimal, lalu masuk lebih dalam sembari menunjukkan celah yang sangat kentara.

Saat kami sedang melewati barisan kursi penonton yang rusak menuju panggung bundar, aku merasakan Mana berkualitas rendah di belakang tiba-tiba kacau dan meluap seketika.

Di saat yang sama, suara serak berteriak "Blitz!" bergema di dalam teater.

"Protection."

Tanpa bergeming, aku mengucapkan nama teknik itu dengan tenang terhadap serangan Mana kasar yang mendekat dari belakang.

Seketika, dinding semi transparan terbentuk menutupi punggungku.

Itu adalah teknik Protection, yang memberikan massa pada Mana untuk menciptakan dinding pertahanan sementara.

Serangan petir yang tertahan oleh Protection meledak dengan suara keras, dan percikan listriknya menerangi area sekitar sekejap.

Kemudian, sosok pria gempal tampak sekilas dalam kegelapan.

Pria kerdil yang tampak seperti versi Maralva yang diciutkan lalu dicuci sedikit.

Mengenakan pakaian mewah bermerek yang mencolok dengan mantel tentara Kekaisaran di luarnya, tidak ada manusia lain yang terlihat begitu tidak serasi selain dia.

Wajahnya yang bengkak dengan kumis tempelan untuk memberi sedikit wibawa itu benar-benar terlihat sangat memalukan.

Dia adalah Kepala Perpustakaan Kekaisaran sekaligus putra kedua keluarga Goldbarrel, Bowman Goldbarrel.

"Wah, wah! Bukankah ini Kepala Perpustakaan Bowman yang baru saja membuat gempar ibu kota karena gagal melindungi buku sihir kuno! Sungguh kebetulan ya kita bisa bertemu lagi di tempat seperti ini~"

Aku sengaja meninggikan suara dan tersenyum ramah sembari menatap Bowman.

"Masih saja, senyum tipismu itu membuatku ingin muntah! Jagid Deabold!"

Bowman menggigit bibir bawahnya karena kesal serangannya gagal, lalu menatapku dengan ekspresi yang menyedihkan.

"Kamu pikir kamu berhasil memancingku ke sini…… tapi sayangnya bagi kamu! Kamu hanyalah tikus yang terjebak di dalam lubang. Para elit keluarga Goldbarrel sudah mengepung teater ini! Fuhah! Fuhah!"

Mungkin karena lehernya tercekik lemak, suara Bowman terdengar sesak saat ia tertawa sinis. Wajahnya yang memang berminyak karena panik kini makin berkilau karena keringat dingin.

"Pa-para elit sudah mengepung……?"

Aku berpura-pura terkejut untuk membuat Bowman makin besar kepala, lalu melangkah mundur satu langkah.

Dengan begini, seandainya ada serangan mendadak, aku bisa melindungi Kambase dari jalur serangan teknik tersebut.

Apa yang dikatakan Bowman adalah bohong.

Aku selalu melakukan Mana Detection, dan aku sama sekali tidak merasakan Mana ataupun niat membunuh dari orang-orang yang disebut sebagai elit di sekitar teater.

Meskipun dia adalah ksatria murni yang tidak menggunakan teknik sihir, selama dia adalah makhluk hidup, dia akan menghasilkan Mana di dalam tubuhnya.

Dan bersama dengan niat membunuh atau keberadaan mereka, Mana akan merembes keluar secara alami. Sekalipun itu Beastman dengan jumlah Mana sedikit, tidak mungkin mereka bisa lolos dari jaringan Mana Detection milikku.

Jika kelas master seperti Hausie sih mungkin agak sulit, tapi aku sudah menyelidiki bahwa tidak ada Beastman sehebat itu di bawah bawahan Goldbarrel.

Tentu saja, meskipun ada elit yang menunggu, tidak akan ada masalah dalam hal pertempuran, tapi akan lebih baik jika masalahnya sesedikit mungkin.

"Orang picik sepertimu pasti tahu, kan? Bahwa pelaku asli insiden pembantaian tiga tahun lalu adalah aku! Dan kejahatanku telah dilenyapkan oleh kekuatan ayahanda!"

Bowman yang mengira aku takut pada para elit itu mulai memamerkan kekuasaannya dengan bangga, lalu melompat ke atas panggung sembari menggoyangkan lemak perutnya secara heboh.

Selain itu, ia mengucapkan nama teknik cahaya "Wisp!" dengan suara melengking yang aneh, dan memunculkan sumber cahaya berbentuk tidak karuan di belakangnya.

Sifat suka pamer itu benar-benar murni keturunan Goldbarrel.

"Singkatnya, jika kamu terbunuh di sini, aku tidak akan dimintai pertanggungjawaban! Sebaliknya, aku akan menjadikannya kisah kepahlawananku saat menumpas penyihir rakyat jelata yang jahat! Fuha! Fuhaha!"

Diterangi oleh cahaya yang berkelok-kelok, Bowman tertawa rendah dengan wajah mengerikannya yang berkilau.

Maaf saja jika aku mengatakannya, tapi meskipun dia bertindak seolah-olah menjadi aktor utama di atas panggung, dia terlihat seperti contoh nyata dari karakter yang ditakdirkan untuk kalah.

"Di ibu kota, keluarga Misericorde keturunan Pahlawan itu sangat dominan sehingga aku tidak bisa melakukan uji coba tebasan. Sudah lama sekali aku tidak menebas orang, rasanya mendebarkan! Apalagi bisa membunuhmu, ini perasaan yang paling luar biasa! Fuhahah!"

Sambil berkata begitu, Bowman memegang gagang rapier emas di pinggangnya.

Selama membiarkan Bowman terus berceloteh dengan bangga, aku tetap waspada dan mencoba mendeteksi Mana di sekitar teater dengan output maksimal, tapi aku tetap tidak merasakan tanda-tanda para elit bersembunyi.

Ternyata memang benar, Bowman hanya berbohong.

"Jagid."

Aku menoleh ke arah Kambase di belakangku, ia sedang menatap Bowman dengan wajah penuh kebencian.

Di telapak tangannya, Mana kemurnian tinggi sedang berpusar. Ia mengisyaratkan bahwa ia bisa menyerang dengan teknik api kapan saja.

Namun, Bowman memiliki Talisman berkualitas tinggi.

Aku melirik gelang emas norak di pergelangan tangan Bowman, lalu memberi isyarat mata kepada Kambase untuk menghentikan serangannya.

Kambase yang mengerti perlahan-lahan memadamkan gejolak Mana dari telapak tangannya.

Talisman milik Bowman berbeda dari yang biasa; karena menggunakan kristal Mana kelas tertinggi dari Kota Emas Domina Domina, sistemnya tidak akan hancur meskipun menerima teknik penghilang sihir Confine berkali-kali.

Sepertinya pertahanan terhadap teknik penetrasi pun sudah sempurna.

Karena merasa pertahanan terhadap penyihir sudah matang, Bowman berani menunjukkan dirinya di hadapanku dengan penuh percaya diri.

……Aku bisa membunuhnya seketika jika menggunakan teknik komposit kartu as-ku, tapi kurasa membuang-buang biaya jika menggunakannya untuk orang sekelas Bowman.

"Nah! Mari kita mulai pertunjukan pembantaian megah dari ksatria sihir Bowman Goldbarrel!"

Bowman yang sudah sepenuhnya merasa menjadi tokoh utama meneriakkan dialog penutupnya, lalu menghunuskan rapier emas itu dari sarungnya.

Bilah rapier yang diterangi cahaya Wisp itu tampak putih kebiruan pucat, dengan tekstur halus yang menyeramkan. Pasti ini adalah buatan Viskio dari tulang Elf. Benar-benar selera yang buruk seperti biasanya.

Bilah rapier itu dipenuhi oleh ukiran Seal Art yang sangat halus. Dari tulisan kecil yang khas, aku tahu itu adalah karya pengukir terkenal di ibu kota.

Fakta bahwa ada beberapa tanda pengerjaan yang asal-asalan menunjukkan bahwa Bowman memaksanya bekerja lewat koneksi bangsawan. Mungkin itu adalah bentuk perlawanan kecil dari si pengukir.

"Ja-jangan-jangan, Seal Art itu adalah...!"

Untuk membuat Bowman makin besar kepala, aku berpura-pura terkejut dan ketakutan.

"Fuhah! Benar! Ini adalah teknik Mana Boost yang akan memperkuat Mana-ku yang memang sudah sangat kuat! Fuhoho!"

Sepertinya syarat pengaktifan Seal Art telah terpenuhi, bilah rapier itu kini berwarna merah tua. Dan aku merasakan Mana buatan yang membengkak di dalam tubuh Bowman.

Teknik Mana Boost adalah penguatan Strength yang melipatgandakan Mana pengguna untuk sementara waktu. Namun, ada batas jumlah Mana yang bisa ditingkatkan, sehingga senjata ini tidak berguna bagi penyihir tingkat atas.

Biasanya hanya dipasang di tongkat sihir pemula, yang mana dalam satu sisi sangat cocok untuk Bowman.

Bowman berteriak melengking, lalu melompat menyerang seperti bola karet. Meskipun dia berniat melakukan gerakan trik, tapi niat membunuhnya yang dangkal sangat mudah terbaca, begitu pun dengan ujung pedangnya yang membidik leherku.

Aku mencabut pedang Odachi dari pinggang dengan tenang, lalu menangkis serangan Bowman tanpa menghunuskannya dari sarung pedang.

Selain itu, aku memanfaatkan momentumnya untuk memukul rapier-nya hingga terlempar.

"A-apa! Tidak mungkin...!"

Bowman yang mengeluarkan suara menyedihkan sambil mengejar rapier yang terlempar ke kursi penonton langsung kusambar dengan tebasan sarung pedang yang menghancurkan gelang emasnya. "Prak!" Gelang itu hancur berkeping-keping dengan suara murahan, dan kristal Mana-nya bergulir jatuh.

"Spike."

Menyadari aku mengucapkan nama teknik dengan tenang, Bowman panik dan meneriakkan nama teknik pertahanan.

"P-p-pro, Protection!"

Dinding pertahanan tidak tembus pandang dengan bentuk aneh menutupi Bowman, namun gelombang kejut Mana tajam yang kulepaskan menembusnya dengan mulus. Teknik Spike yang menerapkan sistem Confine pada serangan memang bisa menembus pertahanan sihir.

"Gyaaah!"

Bahu kanannya tertembus oleh teknik Spike, Bowman berteriak menyakitkan lalu jatuh terduduk.

"Aduh... sa-sakit... sakit, fuhahfuu... Berani-beraninya kamu! Berani sekali kamu melakukan ini! Aku ini bangsawan! Aku Goldbarrel!"

Pemandangan Bowman yang berguling-guling sembari memamerkan kekuasaannya benar-benar terlihat sangat menyedihkan.

"Apa kamu tahu apa yang akan terjadi jika kamu memicu kemarahan bangsawan! Jika Ayahanda dan Kakanda tahu kamu melukaiku, mereka tidak akan tinggal diam! Fu, fuhe! Fuha! Fuhaha! Keluarga kamu! Teman kamu! Bahkan kampung halaman kamu akan dibasmi sampai—"

"Sudah dibasmi habis sejak lama sekali."

Aku menjawab dengan nada suara membeku tanpa emosi yang membuat diriku sendiri terkejut, lalu menatap rendah Bowman dengan gerakan yang santai.

……Yah, tapi ada satu sahabatku yang masih hidup, sih.

"Apa yang akan aku lakukan sekarang bukanlah dendam."

Aku memungut rapier yang jatuh di kursi penonton, lalu mengarahkan ujung pedang birunya ke leher Bowman.

"Ini demi sebuah kewajiban agung yang murni."

Aku menelusuri jakunnya yang tenggelam di balik lemak dengan ujung pedang, lalu memberitahunya dengan nada dingin.

"Selama tiga tahun sejak kamu ditugaskan di Perpustakaan Kekaisaran, aku sengaja memamerkan pencapaianku. Agar kamu yang gila karena cemburu merengek pada ayahmu untuk membuangku ke Kota Emas Domina Domina."

Setiap kali aku merangkai kata-kata, cahaya Wisp yang berbentuk aneh itu perlahan memudar. Fakta bahwa ia selama ini digerakkan sesuai rencanaku membuat harga diri Bowman hancur berantakan.

"Aku sudah menduga setelah aku dibuang, kamu akan merampas pekerjaan Violetta karena kesombongan konyolmu. Dan sesuai dugaanku, kamu gagal melindungi buku sihir kuno, membuat Kaisar murka, dan posisimu terancam. Di saat itulah, kamu akan memohon bantuan pada ayahmu, Maralva."

Melihat kenyataan bahwa dia melakukan kesalahan dan dicaci-maki, sementara aku yang dibuang justru makin dikenal karena memperbaiki fasilitas bawah tanah, sudah pasti Bowman yang iri akan hilang kendali dan bertindak gegabah.

"Kamu terpikir untuk membunuhku sembari meminta ayahmu melenyapkan kesalahanmu. Kamu pasti merasa sangat antusias karena bisa melakukan pembantaian lagi setelah sekian lama, kan? Sudah bisa kutebak kamu akan datang lebih awal ke Kota Emas Domina Domina demi pesta perjamuan keluarga Goldbarrel di akhir pekan."

Benar-benar pria yang mudah dikendalikan, dia datang tepat sesuai dugaanku tanpa meleset beberapa hari pun.

"Ja-jangan bicara omong kosong yang tidak jelas!"

Entah karena dia jadi gila setelah terdesak, atau jadi gila karena tidak paham situasinya, atau mungkin dia memang sudah gila sejak awal. Yang pasti, dia sudah tidak bisa diselamatkan lagi.

"Kenapa, kenapa aku harus mengalami hal seperti ini! Memangnya apa yang sudah kulakukan! Aku ini keturunan Dominance Goldbarrel, salah satu dari Empat Pahlawan! Aku ini bangsawan!"

"Ya, benar."

Pembantaian tiga tahun lalu, berbagai kejahatan di perpustakaan, perusakan buku sihir kuno…… dosa-dosa Bowman sudah tidak terhitung lagi. Namun, jika semua itu digabungkan—

"—Menjadi bangsawan itu sendiri adalah sebuah dosa."

Aku menusukkan rapier itu dalam-dalam ke leher Bowman, lalu menutup mataku perlahan.

Bersama dengan suara erangan seperti udara yang bocor, aku merasakan dagingnya bergetar hebat yang merambat melalui rapier. Seluruh sel tubuhnya berusaha melawan maut sekuat tenaga.

Namun perlawanan itu sia-sia, dan tak lama kemudian suara maupun getarannya menghilang.

Saat aku membuka mata, cahaya Wisp sudah benar-benar padam, dan satu mayat gempal tergeletak di atas panggung yang gelap gulita.

"Jagid..."

Tanpa menjawab panggilan Kambase di belakang, aku mencabut rapier dari mayat Bowman, lalu segera mengucapkan nama teknik "Heal" di saat darah mulai memancar.

Mana yang keluar dari telapak tanganku mengalir menuju organ Mana milik Bowman, dan dalam sekejap luka di lehernya sudah pulih seperti semula.

Berkat organ Mana Bowman yang sangat sederhana dan kosong, pemulihannya menjadi sangat mudah.

"A-apa yang sedang kamu lakukan...?"

Merespons pertanyaan Kambase, aku terus menatap mayat Bowman sembari berbicara dengan tenang.

"Ini adalah teknik Resurrect Heal untuk memulihkan kerusakan pada mayat. Sihir yang digunakan oleh pengurus jenazah untuk proses pengawetan. Fungsinya sama seperti Heal biasa, hanya saja ia memaksa kemampuan penyembuhan diri sendiri pada mayat."

Aku menahan perasaan yang meluap dari dasar tubuhku sekuat tenaga, lalu memasukkan ujung jariku yang gemetar ke dalam saku mantel.

Ini adalah pertama kalinya jantungku berdegup sekencang ini selama dua puluh lima tahun hidupku.

Aku mengingatkan diri sendiri untuk tidak terburu-buru, lalu mengeluarkan lonceng kaca dari saku.

"Dan…… teknik yang akan kugunakan sekarang adalah alasan kenapa aku bertahan di Perpustakaan Kekaisaran selama sepuluh tahun. Untuk membaca dokumen kuno yang paling rahasia, dibutuhkan beberapa izin khusus, dan butuh waktu bertahun-tahun untuk menguasai tekniknya meskipun sudah selesai membacanya. Aku baru berhasil menguasainya sekitar dua bulan yang lalu."

Mengikuti perasaan yang meluap dari dasar tubuh, gelombang Mana di seluruh tubuhku mulai bercampur aduk.

Secara perlahan, seolah-olah sedang mengaitkan kancing mantel satu per satu.

Aku menetralkan rasa marah, benci, senang, maupun antusias secara merata.

Aku membunyikan lonceng kaca dengan suara yang jernih. Clink.

Lalu, aku mulai mengucapkan mantra sembari menenun Mana dengan segenap perasaanku pada setiap katanya.

"Batas atas sehitam-hitamnya, sisanya seputih-putihnya. Apakah sekuntum bunga yang lahir lalu mati, Ataukah mimpi di bawah kantuk. Putuskan dan berpisahlah, Sekarang, Kembalilah. Diriku adalah Bakeneko Sembilan Tingkat Kehidupan."

Clink.

Lonceng kaca berbunyi sembilan kali, dan bersamaan dengan itu, Mana yang dilepaskan dari tubuhku berubah bentuk menjadi kucing.

Kucing yang bentuknya samar-samar itu mengeong "Nyan!", lalu melompat dengan lincah dan menyatu ke dalam mayat Bowman.

Pikiranku seolah tersentak hebat dan indraku menjadi ganda. Seolah-olah pikiranku terbelah menjadi dua di dalam otak; dua pandangan mata terbentang, dan dua jenis suara bergema.

Tentu saja, bau, rasa, maupun indra peraba pun menjadi ganda, banjir informasi yang rumit menyerbu seketika.

Sakit kepala, pusing, dan mual terus berputar akibat beban yang ditanggung otak, namun aku berusaha menjaga ketenangan dengan memutar Mana di dalam tubuh.

Jika aku lengah sedikit saja, rasanya aku bahkan tidak bisa bernapas lagi.

"Jagid……? Eh? Hyah!"

Wajar saja jika Kambase mengeluarkan suara terperangah yang menyerupai teriakan. Tiba-tiba saja, mayat Bowman bangkit berdiri.

"Tidak apa-apa, Kambase."

Yang menjawab bukanlah aku, melainkan mayat Bowman.

"Karena yang sedang mengendalikan mayat ini adalah aku."

Yang menjawab bukanlah mayat Bowman, melainkan aku.

"Ba-ba-bagaimana bisa...?"

Meskipun tidak terlihat jelas di dalam kegelapan, Kambase yang terpantul dalam pandangan Bowman tampak kebingungan dengan ekspresi bodoh.

Ia menatap bergantian antara mayat Bowman dan punggungku dengan wajah yang sangat panik.

"Ilmu Gaib: Sembilan Tingkat Kehidupan."

Aku membuat mayat Bowman berbicara dengan sikap angkuh, sesuai dengan kepribadian Bowman saat masih hidup.

"Ini adalah teknik untuk membagi jiwa sendiri dan mengendalikan benda yang dirasuki."

Singkatnya, sekarang aku sedang mengendalikan mayat Bowman dengan merasukkan sebagian jiwaku ke dalamnya.

Oleh karena itu, aku memiliki panca indra Bowman selain panca indraku sendiri, dan aku bisa menggerakkan mayat Bowman seolah-olah menggerakkan tubuhku sendiri.

"Ilmu gaib inilah yang menjadi kartu as untuk mengakhiri masyarakat bangsawan……!"

Jagid yang terpantul di mata Bowman menunjukkan senyum beku yang mengejutkan bahkan bagi diriku sendiri.

◆◇◆

"Ma-Maralva-sama."

Saat aku sedang membelai Blood-Drenched Spear Gratvolg sembari dipijat oleh para selir, Silvarg memanggilku. Meski dia seorang Dwarf, wajahnya tetap saja terlihat menyedihkan.

Pria yang membuatku kesal setiap kali melihatnya. Jika bukan karena hubungan keluarga Goldbarrel dan Silvarg yang sudah terjalin turun-temurun, dia pasti sudah kubuang sejak lama.

"Ada apa?"

Silvarg yang ciut karena tatapan tajamku tampak gemetar ketakutan, lalu ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kirin kecil dengan terburu-buru.

"A, anu, ini…… ada tanda persahabatan dari keluarga Eterna keturunan penyihir……!"

Aku merebut kotak itu dari Silvarg dan mengerutkan dahi.

"Apa isinya?"

Mendengar pertanyaanku, Silvarg terbata-bata dan menjawab dengan suara parau yang lemah, "Wafer……."

"Wafer? Lagi-lagi camilan tidak berguna! Dasar bocah tua sialan! Beraninya dia menyebut ini tanda persahabatan! Beraninya ras lemah sepertinya mempermainkanku!"

Karena marah, aku membanting kotak kayu itu ke lantai dan menginjak-injak camilan yang berhamburan sekuat tenaga.

Selain itu, aku menusuk-nusuk camilan itu dengan Blood-Drenched Spear Gratvolg, membuat para selir gemetar terperangah. Sepertinya mereka terpesona melihat sosok gagahku. Gufu!

"Cih!"

Aku menyuruh Silvarg membereskan camilan yang hancur berantakan itu, lalu aku bersandar pada sandaran siku porselenku.

Melihat seorang Dwarf membungkuk-bungkuk untuk bersih-bersih adalah pemandangan yang sangat memalukan sekaligus sangat menyenangkan.

"Hei, setelah ini selesai, panggil Deabold ke sini. Aku ingin mengobrol dengannya untuk membunuh waktu."

Meski aku ingin memamerkan koleksi senjataku, Silvarg maupun para selir tidak akan bisa mengikuti pengetahuanku.

Dalam hal itu, Deabold punya pengetahuan luas dan merupakan pendengar yang baik. Dia sangat cocok menjadi teman bicara untuk meluapkan kekesalanku terhadap keluarga Eterna.

"Eh? Memanggil penyihir itu? ……Tapi, bukankah dia terlalu jenius sehingga berbahaya jika—"

"Bodoh! Dia hanya jenius dalam hal Heal saja!"

Aku membentak Silvarg yang mencoba membantah dengan ragu-ragu, lalu aku menyeringai.

"Deabold hanyalah penyihir rakyat jelata. Dia tidak akan pernah bisa menandingi aku yang merupakan bangsawan agung. Singkatnya, dia hanyalah badut tidak berguna yang menari di telapak tanganku! Sekarang aku akan memanfaatkannya sepuasnya, dan setelah dia tidak berguna lagi, aku akan melimpahkan sebuah dosa padanya lalu membuangnya!"

Saat itulah waktu yang tepat untuk merebut pedang pusakanya.

Aku benar-benar tidak sabar melihat wajah sok tenangnya itu hancur berantakan! Gufu, gufufu, gufufufu!




Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close