Chapter 3
Penindasan
Tiga hari telah
berlalu sejak Viskio dijebloskan ke penjara bawah tanah atas tuduhan
pengkhianatan.
Meskipun
penahanan Viskio tidak diumumkan secara resmi, informasi tersebut telah
tersebar luas di masyarakat melalui majalah gosip kelas tiga berkat kebocoran
yang diatur oleh Kambase.
Ditambah lagi,
desas-desus mengenai Maralva yang memecat pejabat dan prajurit satu per satu
mulai merebak.
Frustrasi
penduduk di Kota Emas Domina pun kini hampir mencapai puncaknya.
Inilah saatnya
rencanaku memasuki babak penentuan terakhir.
Setelah membuat
Maralva tertidur dengan tanaman herbal berefek hipnotis, aku mengunjungi
pinggiran Kota Emas Domina bersama Kambase.
Penjara yang
merupakan hasil renovasi bekas pos pemeriksaan itu tertutup dekorasi yang
sangat mencolok.
Kesombongan
keluarga Goldbarrel benar-benar meluap secara sia-sia di tempat ini.
"Terima
kasih atas kerja kerasnya, saatnya pergantian sif. Serahkan sisanya kepada
kami."
Kambase, yang
telah berubah menjadi sipir wanita menggunakan kemampuan Omokage Gozen,
memulangkan para penjaga gerbang.
Aku mengikuti di
belakangnya dengan wajah tersembunyi di balik tudung jubah.
Para penjaga
gerbang dan sipir membiarkanku lewat begitu saja tanpa rasa curiga sedikit pun.
Sikap malas dan
cara kerja mereka yang ceroboh benar-benar sulit dipercayai.
Kelak, aku akan
meminta Maralva untuk mengusir mereka semua.
Setelah
mendeteksi aliran Mana di seluruh area untuk memastikan tidak ada
gangguan, kami pun melangkahkan kaki ke dalam.
Kami menuruni
tangga yang mewah namun sia-sia, lalu menyusuri lorong bawah tanah dengan
struktur yang rumit.
Mayoritas
narapidana di sini adalah mereka yang dipenjara secara tidak adil oleh keluarga
Goldbarrel.
Aku berniat
membebaskan mereka secara bertahap seiring berjalannya rencana.
Sisa narapidana
lainnya juga banyak yang terjerumus ke dunia kriminal akibat tirani keluarga
Goldbarrel.
Rencana untuk
mendukung rehabilitasi mereka pun sedang disusun secara rahasia.
"Nah, di
sini tempatnya."
Menggunakan kunci
yang diterima dari sipir, aku membuka pintu emas yang besar.
Di baliknya
terbentang ruangan yang luasnya berlebihan, dan di balik jeruji besi emas,
tampak Viskio yang sudah melemah.
"Benar-benar
konyol."
Melihat
pemandangan di depan mataku, aku sampai dibuat terperangah.
Sel khusus yang
disiapkan mendadak oleh Maralva untuk Viskio ini jauh lebih luas dari tempat
tinggalku.
Tempat itu
dilengkapi tempat tidur bersih dan berbagai furnitur nyaman yang tertata sangat
mewah.
Bahkan
terdapat toilet dan kamar mandi pribadi yang lengkap di sana.
Tempat
ini lebih pantas disebut sebagai kamar hotel mewah daripada sebuah sel penjara.
Terlebih
lagi, Viskio mengenakan pakaian bermerek yang sama sekali tidak terlihat
seperti seragam tahanan.
Menurut
laporan, dia bahkan diberikan hidangan yang sangat mewah tiga kali sehari.
Aku
tersenyum getir saat menyadari tumpukan wafer yang menggunung di atas meja.
Sepertinya, itu
adalah cara Maralva mengkhawatirkan dan memanjakan putranya.
"Ya ampun,
bagaimana kabar Anda, Viskio-sama?"
Sambil melepaskan
jubah dan menunjukkan wajah asliku, aku menyapa Viskio yang berada di balik
jeruji.
"Ja-Jagid
Deabold! Kenapa kau ada di sini! Tidak, apa yang sedang kau rencanakan!"
Begitu melihatku,
Viskio langsung panik namun tetap meraih pedang yang disandarkan di samping
tempat tidurnya.
Sepertinya dia
telah menjalani pelatihan prajurit dengan serius karena kuda-kudanya terlihat
cukup mantap.
"……Jadi
sipir-sipir itu sudah berada di bawah kendalimu, ya."
Viskio melirik
Kambase yang berdiri di belakangku, lalu menghela napas panjang yang bercampur
dengan rasa pasrah.
Dia menghunuskan
pedang dari sarungnya, mengarahkan bilah pedang yang ditanami banyak bola mata
itu ke arah aku.
"Senjata
Anda masih seburuk biasanya, ya."
Dengan sikap
tenang, aku membuka kunci dan mendorong pintu jeruji emas itu hingga terbuka
dengan suara derit yang berat.
Kini,
tidak ada lagi penghalang di antara aku dan Viskio.
"Terima
kasih, Viskio."
Sambil
bertepuk tangan dengan senyum lebar, aku melangkah masuk ke dalam sel mewah
tersebut.
"Justru
karena kamu mencurigai kutukan itu, keraguan Maralva semakin memuncak."
"Keretakan
hubungan ayah dan anak ini pun terus melebar karenanya."
"Berkat
itu, aku bisa sampai di titik ini jauh lebih cepat dari yang kubayangkan. Jadi,
benar-benar terima kasih."
"A-apa
katamu……?"
"Artinya,
kamu sudah tidak berguna lagi."
Merasakan
haus darah yang kupancarkan, Viskio melangkah mundur dengan wajah ketakutan.
Namun,
dia segera mendapatkan kembali ekspresi seorang prajurit dan kembali memasang
kuda-kuda pedangnya.
"Tidak
berguna? Jangan besar kepala dulu, dasar penyihir rakyat jelata!"
"Di hadapan
Talisman kualitas tertinggiku, sihir sama sekali tidak ada artinya!"
Viskio berteriak
lantang sembari menyibak dadanya, memamerkan kalung emas yang ia kenakan.
Pada Talisman itu
terukir segel Confine, teknik pembatalan sihir yang bisa digunakan
berkali-kali.
Karena memiliki
proteksi anti-penyihir yang sangat kuat inilah, Viskio bisa mendapatkan kembali
keberaniannya.
"Sifatmu
yang terlalu memuja Talisman itu benar-benar mirip dengan adikmu."
Kata-kata yang
tiba-tiba kulontarkan itu membuat ekspresi Viskio langsung mendung.
Rasa ngeri, putus
asa, dan kebencian kini bercampur aduk di wajahnya.
"Ja-jangan-jangan,
Bowman juga……? Kurang ajar kamu!"
Merasakan Mana
di dalam tubuh Viskio bergejolak, aku bergumam singkat, "Tutup mata."
Setelah
memastikan Kambase menutup matanya dalam diam, aku pun membuka suara.
"Wisp."
Aku merapalkan
nama teknik itu dengan cepat dan menembakkan bola cahaya kecil ke depan.
Seketika, kilatan
cahaya yang sangat dahsyat meledak dan memenuhi seluruh ruangan sel tersebut.
"Argh!"
Viskio yang
terkena serangan membutakan mata itu mengeluarkan teriakan yang menyedihkan.
Confine hanya membatalkan sihir yang bersifat
ofensif, sementara Wisp yang hanya berefek cahaya berada di luar
targetnya.
Dalam kondisi
mata tertutup, aku membaca aliran Mana dan menendang perut Viskio sekuat
tenaga.
Suara tumpul yang
tidak enak didengar bergema saat Viskio jatuh tersungkur.
Aku segera
menindih tubuhnya dan membuka mata tepat saat cahaya Wisp menghilang.
Aku menatap
rendah ke arah Viskio yang mengerang, lalu memungut pedang yang jatuh di dekat
kakinya.
"A-aku adalah prajurit bangsawan—"
Viskio sepertinya ingin mengatakan sesuatu, namun aku
langsung menghujamkan pedang itu ke tenggorokannya dengan kuat.
◆◇◆
Berita sensasional mengenai Viskio Goldbarrel yang
mengakhiri hidupnya di dalam penjara menyebar dalam sekejap mata.
Aku memalsukan penyebab kematian pada jasad Viskio
menggunakan Heal agar terlihat seperti bunuh diri.
Lalu, sebelum Maralva sempat bertindak, aku sudah meminta
Kambase membocorkan informasinya ke majalah gosip.
Mengapa Viskio
dipenjara? Apa alasan dia bunuh diri? Bagaimana nasib keluarga
Goldbarrel setelah ini?
Apakah ini
kutukan atau konspirasi? Orang-orang mulai bergunjing sesuka hati mereka.
Hal itu semakin
memicu kemarahan Maralva, membuatnya merasa semakin terpojok dan menderita.
"Kurang
ajar……!"
Maralva
menunjukkan kemarahan yang meluap-luap, lalu membanting botol High Potion
di tangannya ke lantai.
"Viskio…… kenapa kamu memilih mati! Padahal aku berniat memaafkanmu setelah suasana
mereda!"
"Lagi-lagi
kamu mengkhianati perasaanku!"
Sambil
membersihkan pecahan botol di kaki Maralva, aku menyunggingkan senyum sembari
tetap menundukkan kepala.
Kemarahan Maralva
bukan karena kematian anaknya, melainkan karena segala sesuatunya tidak
berjalan sesuai keinginannya.
Dia hanya takut
dipandang rendah oleh bangsawan lain karena kehilangan pewaris.
Bahkan setelah
putra kandungnya sendiri tewas, yang ia pikirkan hanyalah perlindungan diri.
Melihat
sampah yang benar-benar tidak tertolong seperti ini, aku malah merasa sedikit
lega.
"Jagid! Apa
yang harus kulakukan…… katakan padaku!"
Maralva
menggeram, membuat lemak di sekitar lehernya bergetar hebat.
"Mohon maaf
jika saya tidak sopan. Seharusnya Maralva-sama masih memiliki satu orang anak
lagi."
Mendengar
perkataanku, alis Maralva berkedut dan dia menggigit bibir bawahnya dengan
ekspresi kesal.
"I-itu…… anak yang kubuat karena iseng sekitar dua
puluh tahun yang lalu."
"Bukankah kamu membiarkannya hidup selama dua puluh
tahun ini untuk menjadikannya pewaris darurat?"
Maralva
bukanlah tipe orang yang akan memberikan belas kasihan kepada Bibisana, si anak
selir.
Dia
adalah pria yang tega menghabisi keluarga sendiri demi memenuhi nafsu
pribadinya.
Alasan Maralva
membiarkan Bibisana tetap hidup hanyalah karena perhitungan murni.
"T-tapi,
menjadikan anak selir sebagai pewaris akan merusak harga diriku sebagai
bangsawan!"
Sangat khas
Maralva; seorang bodoh yang masih ragu-ragu di saat genting karena gengsi
semata.
Dia tidak sadar
bahwa tindakannya yang selalu terlambat justru sedang mencekik lehernya
sendiri.
Bagiku, apakah
dia akan memilih Bibisana atau tidak, hasilnya tetap sama. Silakan saja bimbang
sesukanya.
"Mari kita
pikirkan masalah pewaris ini nanti saja."
Aku menenangkan
Maralva yang sedang memegangi kepalanya, lalu menyodorkan High Potion
tambahan.
"Mengenai masalah Viskio-sama…… sepertinya itu bukan
bunuh diri, melainkan karena kutukan."
"Ku-kutukan……"
Melihat sekeliling aula yang dipenuhi berbagai item penolak
bala, napas Maralva menjadi memburu.
"Roh orang-orang yang dibunuh untuk uji coba senjata
telah menaruh dendam pada Viskio-sama."
"Kumpulan kebencian yang tak terhitung jumlahnya itulah
yang menjatuhkan putra Anda."
"Jadi benar,
alasan Viskio mengkhianatiku juga karena kutukan……?"
"Ya, tidak
salah lagi."
Aku segera
membenarkannya dan menatap wajah Maralva yang tampak semakin memburuk.
Akibat konsumsi High
Potion berlebihan, wajahnya menjadi gelap dan matanya merah meradang.
"Maralva-sama
dilindungi oleh banyak item penolak bala, namun Viskio-sama benar-benar tanpa
pertahanan."
"Karena
itulah, dia menjadi sasaran empuk bagi roh-roh penuh dendam tersebut."
"Seandainya
aku tahu, seharusnya kupaksa dia memakan wafer itu!"
Maralva menggeram
marah sembari melahap wafer dan meminum High Potion dalam sekali teguk.
"Mulai
sekarang, kebencian Viskio-sama akan bergabung, dan kutukan akan semakin
hebat."
"Rasa
dendamnya kepada Anda yang telah memenjarakannya pasti sangat besar."
Mendengar nada
suaraku yang menekankan rasa takut, Maralva gemetar hebat dengan sangat
memalukan.
"A-apa
katamu! Kalau begitu, apa yang harus kulakukan! Beritahu aku!"
Maralva memohon
dengan wajah pucat pasi, dia menangis tersedu-sedu sambil berpegangan padaku.
"Sangat
penting untuk menenangkan jiwa Viskio-sama dengan mengadakan pemakaman yang
megah."
"Mungkin ada
baiknya jika makam Bowman-sama juga diperbarui sekaligus."
"……Ah, kamu
benar."
Aku melirik
Maralva yang mengangguk enggan, lalu tersenyum licik di dalam hati.
"Demi
mencukupi biaya itu, apakah kamu tidak keberatan jika aku menjual beberapa
harta karun rahasia milikmu?"
"Apa! Itu
tidak boleh! Kalau koleksi lain tidak apa-apa, tapi harta rahasia milikku
itu──"
"Harta tidak
ada artinya jika nyawa taruhannya, bukan?"
Maralva tidak
bisa membantah kata-kataku dan hanya bisa tertunduk lesu dengan sangat payah.
◆◇◆
Delapan malam
kemudian, setelah menyelesaikan pemakaman Viskio, aku mengunjungi Raden-tei.
Karena penjagaan
Maralva sudah kuserahkan kepada prajurit pilihanku, aku bisa bersantai sejenak
hingga besok pagi.
Aku duduk di
depan Kambase yang sedang asyik memakan nasi omelet sembari menyimak kebisingan
kedai.
Para berandalan
yang mabuk mulai membuat teori konspirasi mengenai kematian Viskio sesuka hati
mereka.
Sangat menarik
melihat bagaimana kebenaran terselip di dalam teori yang absurd tersebut.
"Bibisana,
boleh pesan? Tolong nasi tumis ikan lava satu, ya."
Bibisana menerima
pesananku dengan senyum yang terasa kaku, lalu bergegas menghilang ke dapur.
Karena dia belum
memberikan jawaban mengenai hak warisnya, sepertinya dia merasa canggung
bertemu denganku.
"Aku sudah
menunggumu, Jagid-kun!"
Dokter Peaberry
yang wajahnya memerah karena mabuk duduk di samping Kambase dengan ekspresi
gembira.
Dia mengeluarkan
banyak buku sejarah dari balik pakaiannya dan tersenyum lebar.
"Mari kita
lanjutkan diskusi sejarah kita yang sudah lama tidak kita lakukan!"
"Tentu saja.
Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang ingin kuberikan kepada Anda."
Aku menarik
sebuah kotak kayu besar dari bawah meja.
"Sesuatu
untukku? Apa itu……?"
Melihat wajah
penasaran sang Dokter, aku pun membuka tutup kotak kayu tersebut.
Seketika,
mata dan mulut Dokter Peaberry membelalak lebar karena sangat terkejut.
"I-ini…… bukankah ini Zoteiken!"
Melihat keramik besar yang kukeluarkan dari kotak kayu
tersebut, Dr.Peaberry gemetar hebat.
Benda itu adalah bak tinta berbentuk kaki gajah yang dulu
dirampas Maralva darinya.
"Ooooh! Sudah lama tidak melihatnya, tapi benda ini
masih tetap indah!"
Air mata menggenang di mata Dr.Peaberry saat ia memandangi
benda tersebut dengan penuh kasih sayang.
Meskipun sangat bersemangat, dia sama sekali tidak mencoba
menyentuhnya dengan tangan kosong.
"Demi biaya pemakaman, aku diam-diam mengambil kembali
barang yang dijual Maralva."
"Saat ini
memang belum ada di sini, tapi aku juga mengamankan pusaka lainnya."
Tentu saja, fakta
bahwa Maralva menggunakan benda itu sebagai sandaran siku selama ini tetap
kurahasiakan.
Aku sudah
membersihkannya dengan sangat teliti sehingga tidak akan ketahuan.
"Aku punya
rencana untuk membangun kembali Museum Sejarah di lokasi yang strategis."
"Dr.Peaberry,
maukah Anda menjabat sebagai kuratornya nanti?"
"Apakah ini
mimpi? Ataukah hanya halusinasi belaka?"
Dr.Peaberry
memandang benda itu dan wajahku secara bergantian sembari mengerjapkan mata.
Tampaknya hal ini
terjadi begitu tiba-tiba sehingga logikanya belum bisa mengejar kenyataan.
"Tenanglah,
Pasturo Peaberry. Ini adalah kenyataan."
Kambase dengan
wajah datar mencubit pipi Dr.Peaberry sekuat tenaga.
Sang Dokter
justru berteriak konyol karena merasa cubitan itu tidak sakit akibat rasa
gembiranya.
Aku memutuskan
untuk membiarkannya tenang terlebih dahulu sebelum bicara lebih lanjut.
Kerja sama Dr.Peaberry
sangat diperlukan bagi masa depan kota ini nanti.
Tepat saat aku
hendak mulai makan, tiba-tiba terdengar sorakan yang sangat keras dari arah
depan.
"Uooooohhh!"
Sorakan para
berandalan yang bagaikan guntur membahana di dalam kedai tersebut.
Dua orang
prajurit Kekaisaran muncul sembari membelah kerumunan orang-orang yang mabuk.
"Jagid-senpai!
Sudah lama tidak bertemu!"
Seorang gadis
bermata sayu menyapaku dengan suara ceria yang sangat kukenal.
Dia adalah junior
di Perpustakaan Kekaisaran, Violetta Piarrel.
"Lama tidak
bertemu, Violetta. Tapi, ada apa tiba-tiba ke sini?"
Aku memang rutin
berkirim surat dengannya, namun sudah lama sekali kami tidak bertemu langsung.
Kehadiran putri
keluarga bangsawan di tempat seperti ini benar-benar terasa sangat kontras.
"Aku datang
karena ingin bertemu Jagid-senpai! Ehehe."
Violetta tersipu
malu sembari menggerakkan kakinya dengan gelisah.
"Aku sudah
banyak menulis di surat, tapi izinkan aku mengatakannya lagi!"
"Jagid-senpai
memang luar biasa karena berhasil memperbaiki kota ini!"
Aku tersenyum
getir karena merasa kewalahan dengan cara bicara Violetta yang sangat cepat.
Dipuji dengan
semangat yang begitu meluap-luap benar-benar membuatku merasa malu.
"Hahaha,
terima kasih. Tapi kamu jauh lebih hebat karena sudah menjadi Direktur
Perpustakaan."
Aku mengalihkan
topik pembicaraan dengan senyum ramah dan mempersilakan Violetta duduk.
Tatapan tajam
Kambase kini beralih ke Violetta, namun aku memilih untuk mengabaikannya.
"Selamat
atas jabatan barunya, Direktur Violetta!"
"Hyaaa!
Te-terima kasih banyak!"
Wajah Violetta
memerah padam mendengar ucapan selamat dariku, dia melompat-lompat kecil karena
kegirangan.
"Tapi aku
hanyalah pengganti sementara! Jagid-senpai lah yang lebih pantas!"
"Ahaha,
aku kan orang yang telah diasingkan. Kamu jauh lebih cocok di sana."
Sebenarnya aku
bisa saja kembali jika mau bernegosiasi menggunakan koneksi yang kupunya
sekarang.
Namun, aku masih
memiliki hal lain yang jauh lebih penting untuk dilakukan di sini.
Jika itu
Violetta, aku bisa menyerahkan perpustakaan itu dengan perasaan tenang.
Dia adalah orang
yang sangat tepercaya selama sepuluh tahun masa pengabdianku di sana.
"Tapi tetap
saja, tidak kusangka kamu akan datang bersama orang itu."
Aku tersenyum
getir sembari melirik pemuda berambut putih yang sedang dikerumuni banyak
orang.
Dia adalah
seorang ksatria suci Kekaisaran yang mengenakan seragam militer putih khusus
perwira.
Wajahnya terlihat
polos, namun ia memiliki aura yang sangat dewasa sekaligus tenang.
Namanya adalah
Sleek Angelion.
Dia adalah
pahlawan terkuat di Kekaisaran dengan daftar prestasi yang hampir tidak masuk
akal.
Kekuatannya
bahkan dikatakan setara dengan pusaka legendaris.
Dihadapkan dengan
legenda hidup seperti Sleek, Dr.Peaberry pun tampak sangat gelisah.
Tampaknya dia
ingin meminta tanda tangan, namun harga dirinya sedang berkecamuk.
"Aku
memintanya menemaniku menyelidiki kematian Viskio-san karena ia adalah Direktur
Perpustakaan."
Sleek
menghampiriku dengan senyum cerah sembari membelah kerumunan berandalan.
Sangat khas
Sleek, dia sempat bersalaman dengan Dr.Peaberry dengan sangat ramah.
"Violetta-chan
ternyata jauh lebih kompeten dari bayanganku. Tugas kami selesai dengan
cepat!"
Sleek tersenyum
lebar sembari berkata demikian padaku.
Kedatangan Sleek
memang di luar dugaan, namun tindakanku sebelumnya sudah cukup aman.
Melihat reaksi
mereka, tampaknya penyelidikan jasad Viskio tidak menemukan keganjilan.
"Lama tidak
bertemu, Jagid!"
Sembari
memberikan tanda tangan kepada orang-orang, Sleek menatap wajahku dan
tersenyum.
Senyum ramah yang
tidak berubah sejak sepuluh tahun lalu itu kini terasa agak asing bagiku.
Setelah insiden
sepuluh tahun lalu, kenapa kamu masih bisa tetap seperti itu, Sleek?
"Ya. Sudah
berapa tahun ya, Sleek."
Sejak hari itu,
saat kami berdua memilih jalan yang berbeda di militer Kekaisaran.
"Jagid-kun!
Apakah kamu berteman dengan pahlawan Sleek?"
Dr.Peaberry
bertanya dengan napas memburu sembari memegangi tangan kanannya yang gemetar.
"Kami teman
baik sejak kecil!"
Sleek menjawab
lebih cepat dariku, dan seketika seisi kedai kembali menjadi sangat gaduh.
Para berandalan
yang tadinya mengerumuni Sleek kini menatapku dengan tatapan penuh damba.
"Menjadi teman baik pahlawan Sleek…… kehebatanmu
benar-benar tidak terukur."
Kambase berkata dengan nada tidak percaya, namun matanya
tampak berkilau aneh.
Kepahlawanan Sleek ternyata benar-benar dikenal luas bahkan
oleh orang seperti Kambase.
Bagiku, melihat teman masa kecilku yang kini menjadi
pahlawan besar dunia adalah hal yang luar biasa.
Dalam sepuluh tahun, dia telah berubah menjadi sosok yang
hampir terasa seperti monster.
"Jagid itu benar-benar hebat! Sejak dulu dia adalah
pahlawan di desa kami!"
Sleek bercerita dengan riang seperti anak kecil yang sedang
mendongengkan kisah pahlawan.
Sebaliknya, aku hanya menanggapi dengan dingin, "Itu
kan cerita lama."
"Itu bukan
cerita lama! Kalau kamu serius, kamu pasti bisa jauh lebih sukses dariku!"
Mendengar
Sleek yang begitu yakin, para berandalan serentak bersorak sorai memberikan
dukungan.
Sepertinya
setelah ini aku akan menjadi incaran mereka untuk dimintai tanda tangan juga.
Sleek tidak
sedang menjilat; dia benar-benar memujiku dari lubuk hatinya yang terdalam.
Hal itu sama
sekali tidak berubah sejak sepuluh tahun yang lalu.
Padahal ia telah
melihat berbagai kebusukan dunia selama bertugas di militer Kekaisaran.
Namun, dia tetap
bisa tersenyum tulus tanpa ada bayang-bayang kegelapan sedikit pun.
"Aduh, aku
sudah tidak tahan lagi! Jagid-kun! Sleek-kun! Bolehkah aku meminta tanda tangan
kalian!"
Dr.Peaberry
memohon dengan sangat antusias sembari mengeluarkan buku catatan.
Sleek tertawa
renyah dan mulai menuliskan tanda tangannya dengan sangat terampil.
Aku pun akhirnya
ikut mengambil pena karena merasa tidak enak jika menolak permintaan mereka.
"Ohooo!
Tanda tangan dari dua pahlawan besar berkumpul di sini!"
Sleek mungkin
pahlawan, tapi aku ini bukan pahlawan atau semacamnya, keluhku dalam hati.
Aku hanya
bisa mengangkat bahu saat menyadari antrean orang-orang di belakang sang Dokter
semakin panjang.
◆◇◆
Setelah
menghabiskan waktu beberapa jam untuk memberikan tanda tangan, aku terduduk
lemas.
Rasa
lelah ini terasa berbeda dari sekadar mengerjakan tumpukan dokumen
administratif.
Sleek
masih terus memberikan layanan penggemar dengan penuh energi kepada orang-orang
di sana.
Aku
benar-benar kalah dalam hal vitalitas dibandingkan dengan seorang ksatria suci.
"Anu…… Nona Beastman bertelinga rubah, apa hubungan
Anda dengan Jagid-senpai?"
Violetta bertanya kepada Kambase dengan nada yang terdengar
cukup mengintimidasi.
Keduanya kini saling memelototi seperti anak kelinci yang
sedang bertengkar dengan anak rubah.
"Hmm, hubunganku dengan Jagid itu sulit dijelaskan
dengan satu kata saja."
"Bisa dibilang sebagai bawahan, atau mungkin hubungan
yang sangat akrab."
Kambase menjawab dengan nada sensual, membuat wajah Violetta
merengut kesal.
"T-tidak senonoh!"
"Aduh, bukankah kamu yang berpikiran mesum itu yang
sebenarnya tidak senonoh?"
"Apa!
Ti-ti-tidak mungkin! Sama sekali tidak!"
Wajah
Violetta memerah padam dan ia menjadi sangat panik saat dituduh oleh Kambase.
Sebaliknya,
Kambase sengaja menyilangkan kakinya dan tersenyum licik untuk memprovokasi.
"Lalu,
kamu sendiri siapa? Hanya sekadar junior, bukan?"
"Aku
bukan hanya sekadar junior! Kami
sudah bekerja bersama selama tiga tahun!"
"Waktu yang
dihabiskan bersama itu bukan segalanya dalam sebuah hubungan."
Violetta hendak
membalas, namun Bibisana menyela mereka sembari membawakan pesanan nasi omelet.
"Anu, Kambase-chan? Boleh bicara sebentar?"
Bibisana berbicara dengan nada canggung, membuat Kambase
memiringkan kepalanya dengan heran.
"Bukannya aku mau mengganggu aktingmu…… tapi rokmu
tersingkap lebar lho."
Kambase tampaknya tidak langsung memahami apa yang dikatakan
dan hanya terdiam kaku.
Seperti yang dikatakan Bibisana, rok Kambase tersingkap
sehingga pakaian dalamnya terlihat jelas.
Sepertinya saat ia menyilangkan kakinya tadi, rok ketatnya
tidak sengaja tersingkap ke atas.
Beruntung para berandalan sedang fokus pada Sleek sehingga
hal itu tidak menjadi tontonan publik.
Namun bagi Kambase, ini adalah momen yang sangat memalukan
di depan Violetta.
"Ti-tidak! I-ini
bukan karena aku ceroboh! Tapi ini sengaja dilakukan!"
Meskipun
membantah, pipi Kambase memerah padam sembari ia sibuk merapikan roknya.
"Ooooh!
Ternyata Kambase-san memang luar biasa yaaa~"
Melihat Kambase
yang malu, Violetta kini tersenyum sadis sembari membalas ejekan sebelumnya.
"Padahal
katanya wanita dewasa, tapi ternyata seleranya imut sekali yaaa~!"
Keadaan
benar-benar berbalik, dan kini Kambase-lah yang dibuat terpojok oleh ejekan
Violetta.
Melihat mereka
berdua, aku merasa bahwa meskipun latar belakang mereka berbeda, esensi mereka
mirip.
Suatu hari nanti,
mereka pasti akan bisa menjadi teman baik di dunia baru nanti.
Membayangkan masa
depan yang damai itu, aku pun tanpa sadar tersenyum lembut.
"Sepertinya
suasana hatimu sedang sangat bagus, Jagid!"
Sleek duduk di
sampingku dengan senyum ceria, lalu mulai melahap kentang goreng dengan lahap.
Dia sama sekali
tidak terlihat lelah meski baru saja dikerumuni oleh begitu banyak orang.
"Kamu
yang memperbaiki mayat Bowman, kan? Seperti yang kuduga dari murid nomor satu
Sister."
Kata
'Sister' yang terlontar tiba-tiba itu membuat napas ku tercekat, hingga sendok
di tanganku terjatuh.
Namun,
sebelum sendok itu menghantam lantai, Sleek dengan tangkas menangkapnya dan
mengembalikannya ke tanganku.
"……Haha,
ada-ada saja."
Aku
tertawa hambar, sambil membayangkan sosok Sister yang berdiri di balik ingatan
yang membeku.
Sosok
yang lembut, cerdas, dan terkadang sedikit ceroboh itu sudah seperti ibu bagi
kami.
Beliau
adalah pahlawan pelindung desa, sekaligus penyihir yang unik.
Meskipun
manusia, beliau memiliki total Mana yang setara dengan Oni, kemampuan
deteksi Mana yang menyamai Beastman, sihir sekelas Elf, dan keahlian
teknis layaknya Dwarf.
Dan
anugerah terbesarnya adalah teknik pemulihan segala sesuatu, Omnia.
Itu
adalah sihir universal yang jauh melampaui Heal biasa, sebuah teknik
yang mampu memulihkan tumbuhan dan hewan non-manusia secara sempurna.
"Aku
bukan murid nomor satu Sister. Justru kamulah yang lebih pantas menyandang
gelar itu."
Sleek
juga merupakan pengguna Heal yang istimewa.
Biasanya,
sangat sulit bagi sihir Heal untuk memulihkan tubuh penggunanya sendiri,
namun sihir miliknya justru sebaliknya—berfokus khusus pada pemulihan tubuhnya
sendiri.
Karena
kemampuannya yang bisa meregenerasi bagian tubuh yang hilang dalam sekejap, ia
sampai dijuluki "Unlimited Paladin Abadi".
"Hanya
bisa menyembuhkan diri sendiri itu menyimpang dari prinsip Sister. Heal
milikmu yang bisa menyelamatkan banyak oranglah yang mewarisi Omnia
milik beliau. Ya, itu adalah
kekuatan paling mulia di dunia!"
……Kekuatan mulia,
ya.
Jika Sleek tahu
aku menggunakannya untuk rencana pembunuhan bangsawan—apa yang akan dipikirkan
Sister?
Apakah beliau
akan marah, sedih, atau menyalahkanku?
Apa pun itu,
beliau pasti tidak akan tersenyum.
Tidak,
aku harus berhenti bersikap sentimentil.
Nostalgia
adalah racun.
"Aku
sudah pernah bilang dulu, Jagid. Maukah kamu bertarung bersamaku? Entah sebagai
rekan, bawahan, atau atasan pun tidak masalah. Aku merasa bisa melangkah lebih
jauh jika bersamamu!"
Sleek
menatapku dengan mata yang jernih bagaikan bola kaca, lalu tersenyum lebar.
Dalam hal
senyum yang tanpa beban, dia terasa mirip dengan Bibisana…… namun kecerahan
Sleek menyiratkan hawa keberadaan monster yang tak terduga.
"Ada hal
yang harus kukerjakan. Maaf, tapi aku harus menolak."
Aku berujar
dengan nada santai agar rencanaku tidak terdeteksi, sambil mengangkat sudut
bibirku untuk tersenyum.
Sleek,
dengan mulut penuh kentang goreng, tampak benar-benar lesu dan bergumam,
"Begitu ya~ sayang sekali."
"Ngomong-ngomong,
kamu sepertinya sangat terburu-buru mengejar pangkat. Apa sebenarnya yang kamu
incar?"
"Mempertahankan
kondisi saat ini."
Sleek
menelan tumpukan kentang gorengnya dengan sekali teguk jus jeruk, lalu menjawab
cepat dengan sikap tak acuh.
"Apa
yang kulakukan sekarang tidak berbeda dengan dulu. Aku hanya melakukan apa yang
aku bisa dengan sekuat tenaga, dan berusaha keras menyelamatkan orang-orang
yang bisa kujangkau."
Sambil
berkata demikian, Sleek mengambil saus tomat dan menyiramkannya dengan brutal
ke atas kentang gorengnya.
"Karena
itulah, aku butuh kekuatan. Kekuatan militer, kekuasaan, hingga kekayaan! Aku
menginginkan segala jenis kekuatan. Dengan kekuatan, hal yang bisa kulakukan
akan bertambah, dan jangkauanku akan semakin luas!"
Dasar
monster rakus, batinku sambil tersenyum kecut.
Hal yang
paling mengerikan adalah bagaimana dia bisa membicarakan ambisi yang luar biasa
itu dengan senyum cerah yang berseri-seri.
Tidak,
mungkin kata 'mengerikan' pun belum cukup untuk menggambarkannya.
"……Apa
kamu tidak merasakan apa pun terhadap kaum bangsawan?"
"Tentu
saja aku merasakannya. Tapi, adalah fakta tak terbantahkan bahwa berkat para
bangsawan, masa perdamaian selama tujuh ratus tahun ini bisa bertahan."
Sleek
mengambil kentang goreng yang sudah berlumuran saus merah pekat, lalu tertawa
senang.
Lebih
jauh lagi, dia menaburkan garam dan lada dalam jumlah yang tidak masuk akal.
Seperti
biasa, dia bukan hanya rakus, tapi seleranya juga buruk.
"Aku
sudah melihat sendiri banyak pemicu perang di dunia ini. Sebanyak jumlah
manusia, sebanyak itu pula ambisinya. Sebanyak jumlah negara, sebanyak itu pula
ego keadilan mereka. Namun, justru karena ada ketakutan terhadap Legalia,
Kekaisaran tidak pernah mengalami perang selama tujuh ratus tahun. ……Bukankah
itu pencapaian yang luar biasa?"
"Jadi
maksudmu, kita harus menutup mata terhadap kesewenang-wenangan bangsawan?"
"Demi
menjaga perdamaian sebesar ini, sedikit pengorbanan itu tak terelakkan, kan?
Kalau tidak ada bangsawan, mungkin orang-orang akan mengalami nasib yang lebih
tragis akibat dampak peperangan."
Merasakan
panas yang menjalar di dalam dada, aku mengepalkan tangan di bawah meja.
Tidak ada
gunanya berdebat dengan Sleek di sini. Amarah ini tidak seharusnya kutumpahkan
pada Sleek, melainkan pada kaum bangsawan.
Aku
meyakinkan hatiku sendiri sambil menggigit bibir bawah.
"Karena
itulah, aku butuh naik pangkat untuk mendapatkan kekuatan. Agar bisa melindungi
semua orang dari kesewenang-wenangan bangsawan, agar bisa menyelamatkan mereka
tanpa terkecuali, aku akan memperluas jangkauanku hingga tak terbatas.
Pengorbanan demi perdamaian mungkin tak terelakkan, tapi itu bukan alasan untuk
menelantarkan mereka."
Apa dia bodoh?
Sejak sepuluh
tahun lalu—tidak, bahkan sejak kami masih kecil, orang ini tidak berubah
sedikit pun. Sleek selamanya tetap menjadi anak kecil.
Dia terus
menjunjung tinggi teori idealisme konyol yang biasanya ditinggalkan orang
dewasa demi menerima kenyataan. Bahkan, dia mencoba mewujudkan idealisme itu
dengan kekerasan.
Tujuan Sleek
adalah mempertahankan kondisi saat ini dengan meminimalisir pengorbanan sebisa
mungkin.
Menjaga dunia
tetap berjalan dengan membiarkan bangsawan dan Legalia tetap ada, sambil
menyelamatkan setiap orang yang menderita akibat kesewenang-wenangan dan
perang.
Memperluas
jangkauan hingga batas maksimal untuk menyelamatkan semua orang. Benar-benar idealisme yang konyol.
Dalam
definisi 'semua orang' versi Sleek, dirinya sendiri tidak termasuk di dalamnya.
Dengan
kata lain, itu adalah pengorbanan diri yang ekstrem.
"……Benar-benar
tidak masuk akal."
"Ahaha!
Aku sering dibilang begitu!"
Setelah
melirik Sleek yang tertawa polos, aku menundukkan mata. Ideologi Sleek bertolak
belakang denganku.
Terlepas dari
mana yang lebih realistis, bentrokan di antara kami sepertinya takkan
terelakkan.
"Apa kamu
akan menginap di Kota Emas Domina?"
"Besok aku
pulang. Ada misi lain, dan Fioretto-chan juga punya pekerjaan, sih—"
"Begitu
ya."
Aku berharap,
saat kami bertemu lagi nanti, kami masih bisa menjadi teman baik.
Ya, itulah doa
yang kupanjatkan dalam diam.
◆◇◆
Malam hari
setelah berpisah dengan Sleek dan Fioretto.
Aku kembali
menyelinap keluar dari Istana Emas dan mengunjungi Raden-tei.
Malam ini bukan
sekadar hari libur, melainkan pertemuan utama untuk rencana kami.
"Kalau
begitu, bagaimana jika begini?"
Aku menambahkan
catatan pada dokumen yang terjajar di atas meja, lalu bertanya pada pria sangar
yang duduk di hadapanku.
"Hooo……!
Kalau begini, masalah penjagaan malam dan masalah gaji bisa selesai sekaligus! Memang luar biasa, Tuan
Jagid!"
Pria
sangar itu menatap dokumen tersebut dan mengangguk berkali-kali dengan
antusias.
"Kalau
begitu, sisanya kuserahkan padamu. Aku ingin kamu bekerja sama dengan Housie
agar semuanya berjalan lancar. Tentu saja, hubungi aku jika ada masalah. Oh,
benar juga. Soda Beri Api di sini enak sekali, kamu harus mencobanya."
Mendengar
saranku, pria sangar itu menjawab "Siap!" dengan suara berat, lalu
bergegas menyampaikan pesanan pada Bibisana.
Di balik
penampilannya, dia adalah pria yang sopan dan budiman.
"Kamu
datang, Jagid."
Kambase muncul sambil membawa keranjang penuh buah-buahan.
Begitu menyadari keberadaanku, dia menitipkan barang
bawaannya di dapur lalu menghampiriku.
Sepertinya dia
baru saja membantu membelikan bahan makanan atas permintaan Bibisana.
Mengingat Kambase
yang awalnya adalah serigala penyendiri dan tidak mau berurusan dengan siapa
pun saat pertama kali datang ke fasilitas kerja paksa bawah tanah, kini ia
bahkan mau disuruh belanja oleh Bibisana…… Aku merasakan naluri kebapakan yang
aneh hingga sudut mataku terasa panas.
"Sekalian
belanja tadi aku sempat mampir ke Deep Side, tapi sepertinya masalah di
pemukiman kumuh itu masih menumpuk. Terutama Rosso, bos geng di sana,
sepertinya akan sangat merepotkan."
"Begitukah?"
Aku melirik
Kambase yang duduk di sampingku sambil sedikit memiringkan kepala.
"Rosso
itu orang baik, kok. Benar, kan?"
Sambil menahan
tawa, aku melemparkan pembicaraan pada pria sangar di depan kami.
Pria sangar itu
mengusap kepalanya yang botak plontos dan menggumamkan kata-kata malu,
"Yah, begitulah."
"Jagid,
meskipun itu kamu, Rosso bukan tipe yang mudah dihadapi."
"Ngomong-ngomong,
dialah Rosso."
Aku
memperkenalkan pria sangar di depanku—Rosso—kepada Kambase dengan santai.
Rosso membungkuk
dalam-dalam, sementara Kambase yang saking terkejutnya hingga otaknya tidak
bisa memproses kenyataan, hanya bisa terpaku dengan mulut ternganga.
Tanpa memedulikan
kekhawatiran Kambase, aku sudah lebih dulu menjalin kontak dengan geng di Deep
Side dan menjalin hubungan akrab dengan bos mereka, Rosso.
Memang sempat ada
sedikit kekerasan…… tapi berkat itu, kami berhasil membangun hubungan kerja
sama seperti ini.
"Anggota
geng pun sebenarnya adalah korban penindasan keluarga Goldbarrel. Untuk
mengarahkan kekuatan mereka dengan benar, aku meminta mereka mendirikan unit
penjaga swadaya demi menjaga keamanan Deep Side. Saat ini statusnya adalah
organisasi sipil independen, tapi kelak aku berniat memamerkan pencapaian
mereka agar bisa bekerja sama secara resmi dengan keluarga Goldbarrel."
Melihat
dokumen sambil mendengarkan penjelasanku, Kambase mengerjapkan matanya.
"……Aku
merasa malu karena telah meremehkan kemampuanmu."
Tepat saat senyum
Kambase sedikit kaku, teriakan "Kakak Jagid!" membahana di dalam
kedai.
Saat aku menoleh,
dua pria berlari menghampiri sambil terengah-engah. Mereka adalah Gedon si
pandai besi Dwarf dan Miine si pengukir Elf.
"Laporan
penjualan hari ini sudah keluar, senjata Meteor Iron laku keras,
Kak!"
"Baru kali
ini aku merasa sekaya ini! Kakak!"
Aku menerima buku
catatan dari mereka berdua yang sedang kegirangan, lalu membasahi
kerongkonganku dengan Soda Beri Api yang dipesankan Rosso.
Sesuai laporan,
penjualan lapak Gedon dan Miine yang kubuka sebagai uji coba di Pasar Gelap
Darkest berjalan sangat lancar.
Sepertinya aku
harus mempercepat jadwal untuk memperluas panggung mereka.
"Seberapa
jauh sebenarnya kamu melebarkan sayapmu……"
"Aku hanya
memberikan percikan awal saja, kok."
Aku membalas
Kambase yang tampak sangat heran dengan senyuman.
Faktanya,
aku memang hampir tidak mengeluarkan tenaga untuk urusan ini.
Aku hanya
memperkenalkan mereka pada sekolah Beastman agar bisa mendapatkan Meteor
Iron yang sulit dicari itu secara konstan.
Para
Beastman yang telah dilatih oleh Housie bisa menggunakan kemampuan deteksi Mana
mereka untuk menemukan Meteor Dragon yang bersembunyi di kedalaman dungeon
gunung berapi.
Setelah
itu, mereka tinggal memburunya dengan bela diri ajaran langsung Housie.
Selain
itu, kami juga bekerja sama dengan Raden-tei untuk merilis quest, sehingga para
berandalan dan mantan prajurit Gold Knight bisa ikut serta dalam perburuan
untuk meningkatkan efisiensi.
Meteor
Iron yang
didapatkan kemudian diolah menjadi senjata sihir unggul oleh Gedon dan Miine.
Para
Beastman dan berandalan kemudian menggunakan senjata tersebut untuk memburu
Meteor Dragon dengan lebih efisien lagi…… sebuah siklus positif telah tercipta.
Sambil
memburu Meteor Dragon, mereka juga bisa memburu monster kuat lainnya atau
menambang item di dungeon gunung berapi.
Semakin mereka
aktif, reputasi sekolah Beastman dan Raden-tei pun semakin meroket. Modal awal
yang kukeluarkan bahkan sudah kembali dalam sekejap.
Senjata Meteor
Iron sangat kokoh dan memiliki transmisi Mana yang tinggi sehingga
bisa memicu teknik segel yang kuat.
Bilah pedangnya
yang berwarna merah cerah dan mencolok juga menjadi bahan pembicaraan, membuat
senjata karya Gedon dan Miine semakin populer lewat mulut ke mulut.
Tinggal menunggu
waktu saja sampai nama mereka berdua dikenal di seluruh Kekaisaran.
"Begitu
persiapan selesai, aku ingin kalian berdua membuka toko di lokasi strategis
Central Capital, jadi tolong kerjasamanya, ya."
"Ka-kami membuka toko di Central Capital…… rasanya
seperti mimpi."
Gedon dan Miine bergumam dengan wajah yang seolah meleleh,
namun aku bisa melihat semangat tempur yang membara di dalam dada mereka.
Dwarf dan Elf—dua orang yang melampaui sekat ras ini pasti
akan menjadi tolok ukur bagi dunia baru nanti. ……Yah, aku tidak bisa
mengatakannya secara langsung karena itu akan menjadi tekanan bagi mereka.
Bermula dari toko Gedon dan Miine, aku juga sudah menyiapkan
rencana untuk memindahkan toko-toko spesialis unik yang selama ini mendekam di
Pasar Gelap Darkest satu per satu.
Rencananya adalah menarik minat orang lewat toko-toko unik
tersebut untuk menciptakan jalur menuju Pasar Gelap Darkest.
"Renovasi Colosseum sepertinya berjalan lancar
juga."
Sambil mencicipi gorengan Ruby Salmon yang dipesankan Rosso,
aku mengalihkan pandangan pada Gedon dan Miine yang duduk di depanku.
Mereka berdua meminum Bir Lava dan Likuor Darah Naga, lalu
mengangguk dengan santai.
"Iya! Berkat
Kakak Jagid, semuanya berjalan sangat lancar!"
Dengan kematian
Viskio, wewenang atas Colosseum dan fasilitas kerja paksa bawah tanah yang
sebelumnya berada di bawah kendalinya kini menjadi milikku sepenuhnya.
Oleh karena itu,
aku meminta bantuan tukang bangunan kenalan Gedon untuk melakukan renovasi
besar-besaran pada Colosseum.
Awalnya Colosseum
digunakan untuk pertarungan budak prajurit, namun sekarang fungsinya sudah
benar-benar hilang.
Tempat itu hanya
digunakan secara pribadi oleh Maralva untuk uji coba senjata yang buruk, atau
oleh Viskio untuk mengolah senjata.
Oleh karena itu,
aku merenovasinya secara besar-besaran agar bisa dioperasikan sebagai fasilitas
wisata.
Ada rencana untuk
menggunakannya sebagai ruang pameran tambahan museum bersama Dr.Peaberry, atau
sebagai tempat latihan khusus Housie.
Ada banyak cara
untuk memanfaatkannya secara efektif.
"Ngomong-ngomong,
Miine. Ada satu hal yang ingin kuminta tolong padamu, boleh?"
"Apa pun
permintaan Kakak Jagid, katakan saja!"
Setelah berterima
kasih pada Miine yang menyanggupi dengan senang hati, aku mengeluarkan selembar
memo kecil dari balik saku.
"Aku ingin
kamu memasang ukiran segel di bagian dalam Colosseum sesuai memo ini."
"Ini…… ukiran Wisp dengan skala yang luar biasa
besar ya."
Melihat rancangan segel di memo tersebut, Miine menyeringai
penuh percaya diri.
Alih-alih merasa terintimidasi oleh tugas besar, dia tampak
sangat gembira karena bisa mengerahkan seluruh kemampuannya sebagai pengukir
segel.
"Colosseum yang dulu sengaja dibuat remang-remang untuk
menciptakan suasana menyeramkan. Tapi, sebagai salah satu hiburan fasilitas
wisata, aku ingin tempat itu diterangi oleh cahaya yang cemerlang. Karena
itulah aku butuh ukiran Wisp skala besar ini."
Begitu segel ini selesai, seluruh Colosseum akan tetap
terang benderang bagaikan siang hari meski di tengah malam sekalipun.
Tentu saja, karena skalanya besar, konsumsi Mana-nya
juga tinggi, tapi itu tidak masalah selama kita menggunakan kristal Mana
murni yang selama ini disia-siakan oleh keluarga Goldbarrel.
"Dimengerti! Aku akan mengukir Wisp yang sangat
hebat sampai-sampai bisa menerangi masa depan Kota Emas Domina!"
"Hahaha, itu baru semangat."
Menanggapi pernyataan Miine yang berapi-api, Gedon hanya
menatapku lekat-lekat dengan mata yang berbinar.
"Ada apa,
Gedon?"
"Mungkin aku
tidak seharusnya mengatakan ini…… tapi aku jadi berpikir, alangkah baiknya jika
Kakak Jagid yang menjadi pemimpin tertinggi Kota Emas Domina."
Mendengar
ucapan Gedon, Miine, Rosso, bahkan para berandalan yang sedang mabuk serentak
berseru, "Kami juga berpikir begitu!" Kambase yang sedang asyik makan
nasi omelet pun ikut mengangguk pelan.
"……Aku
senang kalian bicara begitu, tapi aku bukan tipe orang yang pantas memimpin.
Pasti ada orang yang lebih layak untuk membimbing Kota Emas Domina."
Aku
melirik Bibisana yang sedang mengantarkan makanan dari dapur, lalu tersenyum
tipis.
◆◇◆
"Selamat
tinggal, Silverg."
Menatap
rendah ke arah Silverg yang meringkuk payah di lantai, Maralva tertawa dengan
nada menghina.
"Tu-tunggu
dulu! Maralva-sama! Kenapa, kenapa Anda mengusir saya──"
"Berisik!
Sejak dulu aku sudah muak melihat wajahmu itu!"
Maralva
menyingkirkan Silverg yang mencoba memelas, lalu bersandar dengan angkuh di
takhtanya.
Ia memasukkan
wafer ke mulutnya dan menenggaknya bersama High Potion.
"Silverg,
seluruh dosa yang Anda sembunyikan selama bertahun-tahun telah terungkap.
Korupsi pajak, penipuan atas nama keluarga Goldbarrel, kolusi dengan negara
lain, hingga pelecehan berat……"
Aku menyebutkan
daftar kejahatannya satu per satu dengan nada datar, sambil menunjukkan dokumen
bukti di depan wajahnya.
Itu adalah
informasi yang sudah kuselidiki sebelumnya ditambah bukti-bukti yang
dikumpulkan Kambase setelah menyelinap masuk.
"Ugh……"
Menghadapi
dokumen tersebut, Silverg hanya bisa tertunduk lesu dengan sangat payah.
Silverg yang
memiliki kepribadian muram itu memang sudah dibenci oleh Maralva sejak awal,
apalagi Maralva juga menaruh curiga bahwa dia berkhianat karena pernah
mengajarkan teknik pandai besi kepada Viskio.
Begitu aku
membeberkan daftar kejahatannya, menghasut Maralva yang sedang murka untuk
mengusirnya adalah perkara mudah.
Maka, Silverg pun
diseret keluar dari Istana Emas oleh prajurit yang berada di bawah pengaruhku.
Tentu saja, seluruh anggota keluarga Silverg juga ikut diusir tanpa sisa.
Silverg adalah
tipe bajingan yang jika digeledah, boroknya takkan habis-habis.
Tanpa perlu aku
turun tangan pun, cepat atau lambat dia akan ditangkap oleh militer Kekaisaran
dan menerima hukuman yang setimpal.
Dia adalah
pembenci sejati yang selama ini bertahan hidup hanya dengan menjilat keluarga
Goldbarrel. Takkan ada satu pun orang yang sudi membantunya.
"Nah, sesuai
ucapanmu, aku sudah membuang parasit bernama Silverg itu! Jagid! Sekarang apa
lagi? Apa yang harus kulakukan agar bisa selamat dari kutukan? Beritahu aku,
cepat beritahu aku!"
"Tenanglah,
Maralva-sama."
Dengan wajah
berlemak yang menghitam karena ketakutan, Maralva memelas padaku.
Dengan
menyingkirkan Silverg, kini aku secara resmi maupun tidak telah menduduki
posisi orang kepercayaan Maralva.
Maralva sendiri
semakin melemah akibat kutukan bertubi-tubi dan kematian putranya, ia didera
kecurigaan berlebih, dan otaknya yang memang bodoh sejak awal kini menjadi
semakin parah. Ia tak lebih dari sekadar boneka yang mudah dikendalikan.
Namun, Maralva
tetaplah orang berbahaya yang bisa menghunuskan Legalia dalam
kemarahannya.
Jika terlalu
dipojokkan, ia bisa mengamuk, jadi aku harus mengontrolnya dengan memberikan
ritme yang tepat.
"Keberadaan
orang-orang inilah yang menggerogoti keluarga Goldbarrel dan memicu datangnya
kutukan."
Maralva merampas
daftar yang kusiapkan dan memeriksanya dengan mata merah melotot.
Isi daftar itu
adalah nama-nama pejabat yang selama ini menjilat keluarga Goldbarrel demi
keuntungan pribadi dan melakukan berbagai tindak kriminal.
"Aku mengerti. Eksekusi mereka semua."
"Tidak, itu terlalu berlebihan…… Sebaiknya mereka
diusir atau dipenjara saja agar bisa menebus dosa mereka."
"Oh, begitu ya. Baiklah. Aku serahkan padamu."
Tampaknya kemampuan untuk berpikir sendiri telah hilang
sepenuhnya dari Maralva, ia menyetujui semua saranku dengan tatapan kosong.
Dengan ini, aku bisa memangkas seluruh 'lemak' busuk dari
keluarga Goldbarrel. Mulai dari
pejabat korup, prajurit pemalas, hingga perusahaan nakal—semuanya kubuang
sekaligus.
Terlebih lagi,
karena penyingkiran ini dilakukan atas nama amukan Maralva yang takut akan
kutukan, amarah orang-orang tidak akan tertuju padaku.
Bersamaan dengan
diusirnya Silverg, serikat pandai besi pun dibubarkan, dan aku menggunakan
kesempatan ini untuk memacu reformasi.
Pertama-tama,
pajak berat yang tidak masuk akal dan tradisi kuno dihapuskan sekaligus.
Selanjutnya, aku memaksa Maralva mengeluarkan dana bantuan besar-besaran dari
harta pribadinya untuk memperbaiki lingkungan kerja.
Dan terakhir, aku
memutar roda ekonomi lewat para pemuda penuh semangat seperti Gedon dan Miine,
serta menugaskan para pejabat jujur dan kompeten pilihanku untuk menjalankan
pemerintahan yang sehat.
Sisanya, tinggal
mengganti sosok pemimpinnya saja.
"Ini mungkin
laporan yang terlambat, namun demi mencegah dampak kutukan, saya telah
mengevakuasi Nyonya Eliza dan para selir ke luar negeri. Mohon tenang, karena
saya sudah menyertakan prajurit pilihan sebagai pengawal mereka."
"A-apa
katamu!"
Mendengar
pernyataanku yang disampaikan secara tiba-tiba, Maralva langsung naik pitam
dengan napas memburu.
Mahkota emas di
atas kepalanya yang botak bergoyang-goyang seiring amarahnya.
"Lancang
sekali kamu, beraninya melakukan itu tanpa──"
"Kemarahan
Anda sangatlah wajar! Namun! Ini adalah langkah terbaik bagi
Maralva-sama!"
Aku memotong
perkataan Maralva dan menyahut dengan nada tegas. Mengendalikan Maralva yang
sedang ketakutan akan kutukan dan bergantung padaku bukanlah urusan logika,
melainkan emosi. Dan itu sangat mudah dilakukan.
"Langkah terbaik buatku…… apa maksudnya?"
"Seperti kejadian Bowman-sama dulu, ada kemungkinan
Nyonya Eliza dan yang lainnya akan dirasuki roh dendam untuk menyerang
Maralva-sama. Jadi, saya mengambil langkah pencegahan lebih awal."
Mendengar alasan asalku, Maralva langsung percaya dan
mengangguk dalam-dalam sambil bergumam, "Memang luar biasa kamu,
Jagid."
Nyonya Eliza dan
para selir hanyalah korban dari kegilaan Maralva. Karena mereka bukan keturunan
darah Goldbarrel, tidak ada alasan bagiku untuk menghabisi mereka.
Justru mereka
adalah sosok yang harus diselamatkan dari cengkeraman bangsawan busuk ini.
Karena itulah,
aku mengarang alasan apa pun untuk mengungsikan mereka ke negara yang damai.
Meski mungkin
sulit bagi mereka untuk melepas gaya hidup bangsawan yang mewah, aku yakin
wanita-wanita tangguh seperti mereka akan baik-baik saja.
Lagipula bagi
Nyonya Eliza yang kehilangan dua putranya berturut-turut, ini akan menjadi
suasana baru yang baik. ……Yah, agak aneh memang jika aku yang membunuh anaknya
sendiri yang mengatakan ini.
"Setelah
masalah kutukan ini selesai, mari kita panggil kembali Nyonya Eliza dan yang
lainnya."
"Tidak, aku
putus hubungan saja dengan mereka. Sebagai gantinya, kumpulkan gadis-gadis muda
untuk membangun harem baru! Gufu, gufufu!"
Dengan nafsu
bejat yang terpancar jelas, Maralva tertawa dengan wajah yang menjijikkan.
"Lalu aku
akan menghamili permaisuri baru, dan kali ini harus lahir pewaris yang
benar-benar hebat! Ha!"
Dasar sampah.
Aku meludah di
dalam hati, menatap gumpalan daging hina hasil didikan sistem bangsawan ini.
◆◇◆
"Tak
kusangka aku diajak kencan di siang bolong begini."
Di bawah langit
biru cerah tanpa awan, Bibisana melirikku dengan tatapan heran. Aku mengajaknya
kencan di waktu senggang sebelum Raden-tei buka.
Meskipun disebut
kencan, tempat yang kupilih sebagai tujuan sama sekali jauh dari kata indah;
Deep Side.
Terletak di ujung
terjauh dari kekacauan Kota Emas Domina, pemukiman kumuh Deep Side.
Berbeda dengan
Pasar Gelap Darkest yang penuh semangat, Deep Side yang sunyi justru diselimuti
keheningan yang penuh gangguan.
Rumah-rumah tua
dengan atap seng terlihat dipenuhi puing-puing, dan bekas-bekas konflik antar
geng terukir jelas di sana-sini.
"Sudah lama
aku tidak ke Deep Side, tapi tempat ini sudah banyak berubah ya."
Melihat para
tunawisma yang dirawat oleh unit penjaga swadaya dan anak-anak kurus yang
berebut permen, ekspresi Bibisana sedikit melembut.
Meski hawa kelam
masih terasa di sana-sini, pemandangan di Deep Side saat ini terlihat cukup
tenang di permukaan.
"Aku dengar
dari pelanggan. Jagid, kamu kan yang mengatur semuanya hingga Deep Side jadi
lebih baik begini?"
"Aku hanya
memberikan percikan awal saja. Sisanya kuserahkan pada unit penjaga
swadaya."
Aku membeli donat
yang bentuknya tidak keruan dari pedagang kaki lima berpakaian lab putih yang
kumal, lalu menyodorkannya pada Bibisana. "Mau coba?"
"Makasih."
Pedagang itu
terlihat tidak bersih dan memancarkan aura mencurigakan. Donatnya pun terlihat
penyok dan sama sekali tidak menggugah selera. Namun, Bibisana memakannya tanpa
ragu, bahkan ia tersenyum lebar dan melahap donat itu dengan semangat.
"Hm!
Enak!"
Melihat senyum
lebar Bibisana setelah makan donat, aku mengerti mengapa para pelanggan tetap
Raden-tei begitu memujanya.
"Pedagang
itu sebenarnya punya bakat memasak yang hebat di balik penampilannya. Menurut
dugaanku, jika dia mau merapikan diri, dia bisa saja membuka toko kue di lokasi
strategis Central Capital. Tapi ya, itu hanya akan jadi khayalan jika dia
sendiri tidak punya keinginan untuk keluar dari kondisinya sekarang."
Aku memakan
donatku dan menikmati rasa manis yang sederhana itu.
"Mari kita
bicara intinya."
Menyadari adanya
noda darah baru di antara puing-puing di bawah kaki, aku mengembuskan napas
panjang sebelum bicara.
"Perubahan
di Deep Side ini baru sebatas permukaan saja. Selama unit penjaga
swadaya mengawasi, tempat ini memang terlihat damai…… tapi kenyataannya, jika
lapisan tipis ini dikelupas, tempat ini tidak berbeda dengan pemukiman kumuh
yang dulu."
Mendengar
perkataanku yang dingin, Bibisana mengerutkan dahi dengan ekspresi pahit yang
tertahan. Sepertinya dia pun menyadari hal itu.
Gadis
yang menawarkan jasa prostitusi di balik bayangan rumah, anak kecil yang
mengasah senjata berlumuran darah, hingga wanita tua yang menggumamkan kutukan
dengan tatapan kosong—kegelapan Deep Side masih merajalela di mana-mana.
Tempat
ini adalah penampungan bagi mereka yang tergilas oleh tirani dan
kesewenang-wenangan keluarga Goldbarrel, dibuang oleh kebiasaan buruk Kota Emas
Domina yang hanya mau menutup-nutupi borok mereka sendiri, hingga akhirnya
menjadi kasta terendah sepanjang sejarah.
Mereka
yang terusir dari Central Capital dan terbuang dari Pasar Gelap Darkest
berkumpul di sini; Deep Side.
"Meskipun
kita mengulurkan tangan, orang yang sudah tenggelam terlalu dalam di kehidupan
Deep Side tidak akan mudah keluar. Mereka yang lahir di dunia yang tidak adil
hanya bisa hidup di dalam ketidakadilan itu."
Bahkan
jika kita menyediakan fasilitas rehabilitasi, memberi pekerjaan, pendidikan,
atau membangun ulang pemukiman ini sekalipun, mereka tetap akan hancur cepat
atau lambat.
Layaknya
ikan laut dalam yang mati saat dibawa ke daratan karena tidak mampu beradaptasi
dengan lingkungannya.
"Kita
bisa memperbaikinya jika dilakukan dengan sabar, tapi kekuatanku dan unit
penjaga swadaya ada batasnya. ……Namun, ceritanya akan berbeda jika kamu menjadi
kepala keluarga Goldbarrel."
Aku
menyibakkan ujung mantel panjangku dengan mantap dan mengulurkan tangan ke arah
Bibisana.
"Kamu
terlalu berlebihan menilaiku. Sudah kubilang kan, aku ini cuma pelayan kedai
biasa."
"Dan
aku juga sudah bilang. Kamu
punya kapasitas untuk memimpin orang lain."
Bibisana memiliki
karisma yang mampu menggerakkan emosi banyak orang, serta kecerahan bagaikan
matahari yang mampu menyinari kegelapan masyarakat bangsawan.
Itu adalah bakat
alami ditambah pengalaman yang ia pupuk di Raden-tei.
"Saat ini
memang aku yang menggerakkan politik dengan menghasut Maralva, tapi itu hanya
solusi sementara. Meskipun sekarang berjalan lancar, suatu saat pasti akan ada
retakan. Maralva itu terlalu bodoh dan berbahaya. Kita tidak tahu kapan dia
akan lepas kendali dan menggunakan Legalia. Faktanya, Bowman terbunuh
oleh kekuatan Legalia itu sendiri."
Bibisana tampak
kehilangan kata-kata untuk membantah dan hanya bisa mengalihkan pandangannya
dengan gelisah.
"Keluarga Goldbarrel sudah berada dalam
genggamanku."
Dengan kematian Viskio dan Bowman, kini satu-satunya orang
yang secara hukum maupun kenyataan bisa mewarisi keluarga Goldbarrel hanyalah
Bibisana.
Terlebih lagi, aku sudah menyiapkan panggung yang sempurna
dengan orang-orang hebat seperti Housie dan Dr.Peaberry yang siap mendukung
keluarga Goldbarrel yang baru.
"Sekarang tinggal keputusanmu."
Menanggapi rentetan kata-kataku, Bibisana menunduk dan
menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Kata-katamu
memang sangat menggoda. Aku pun sebenarnya ingin…… tidak, aku ingin
sebisa mungkin membuat Kota Emas Domina menjadi lebih baik. Tapi, dunia tidak seindah itu sampai keinginan
kita bisa terwujud begitu saja."
"Karena
itulah, kita harus mengubah dunia."
Menatap Bibisana
yang mulai pasrah karena kenyataan pahit yang ia lihat di Pasar Gelap Darkest,
aku menegaskan keyakinanku yang tak tergoyahkan dan idealisme yang tanpa batas.
"Mengubah
dunia……? Ngomong-ngomong, sebenarnya apa tujuanmu? Menghasutku untuk membangun
ulang Kota Emas Domina──terus mau apa?"
"Bukan hanya
Kota Emas Domina yang akan kuubah. Kota Sihir Megrim Seed, Kota Suci Aurora,
Ibu Kota Swold, hingga seluruh Kekaisaran Stellaria akan kuubah. Dunia yang
indah di mana tidak ada tirani yang tidak masuk akal, tidak ada
kesewenang-wenangan yang kejam, dan orang-orang benar akan mendapat balasan
yang setimpal! Itulah tujuanku……!"
Tanpa sadar aku
bicara dengan sangat bersemangat. Bibisana hanya terpaku menatapku dengan wajah
terbengong-bengong. Namun sesaat kemudian, ia meledak dalam tawa sambil
memegangi perutnya.
"Ahahahaha!
Apa-apaan itu! Ideologimu berat banget! Ahahaha!"
Tampaknya baginya
itu sangat lucu hingga ia tertawa sampai menangis.
"Maksudku,
ekspresi mukamu itu lho! Serius banget pas ngomongin idealisme! Ahahahaha!
Sejak dulu aku sudah curiga, tapi ternyata kamu itu emang bodoh ya! 'Dunia
yang indah! Itulah tujuanku……!' pfft! Ahahahaha!"
Wajah Bibisana memerah padam, ia menarik ujung rok mini
denimnya sambil berseru, "Aku ketawa sampai mau pipis nih!"
Aku hanya bisa terdiam pasrah, menyadari bahwa apa pun
pembelaanku hanya akan membuatku semakin terlihat menyedihkan.
Akhirnya, aku pun
terus menjadi bahan tertawaannya.
"Tapi, aku suka itu!"
Bibisana menyahut
dengan suara lantang yang berwibawa, seolah tidak peduli lagi dengan urusan
remeh seperti celana dalamnya yang nyaris basah tadi.
"Kamu memang
mencurigakan, tapi aku tahu kamu bukan orang jahat. Begini-begini, aku punya insting yang kuat
dalam menilai orang! Meski kurasa, orang yang mendambakan dunia ideal yang
indah itu dalam artian tertentu jauh lebih berbahaya daripada penjahat!
Ahaha!"
Sambil
berkata demikian, Bibisana membuka mulutnya lebar-lebar dan tertawa lepas.
"Lagi
pula, kalau mau membicarakan idealisme, bukankah lebih baik kalau kedengarannya
sebodoh mungkin agar terasa positif!"
Meski
habis ditertawakan dan dikatai bodoh, aku sama sekali tidak merasa tersinggung.
Sebaliknya, perasaan lega justru mulai bersemi di dalam dadaku.
Mungkin
karena Bibisana baru saja menerbangkan semua ganjalan di hatiku dengan tawanya
yang blak-blakan.
"Baiklah!
Aku terima ajakanmu!"
Dengan
acungan jempol yang kuat, Bibisana menegaskan keputusannya.
"Setelah
mendengar idealisme konyolmu, masalahku jadi terasa sangat sepele! Lagipula,
terus-menerus memalingkan mata dari darah Goldbarrel takkan menghapus rasa
bersalah ini. Jadi! Lebih baik aku hadapi saja sekalian!"
Benar
saja, Bibisana adalah sang surya itu sendiri.
Mengingat kembali
malam pertama kali aku mengunjungi Raden-tei, aku semakin yakin.
Dia pasti mampu
membimbing Kota Emas Domina ke arah yang benar. Setelah sistem bangsawan
dihapuskan di akhir rencana ini, keberadaan Bibisana akan menjadi cahaya yang
menerangi dunia.
"Terima
kasih, Bibisana."
Aku membungkuk
dalam-dalam, menyampaikan rasa terima kasih dari lubuk hatiku yang paling
dalam.
"Kalau
begitu."
Aku menegakkan
tubuh, berdeham pelan, lalu menatap wajah Bibisana kembali.
"Mari
kujelaskan rencana untuk menggulingkan Maralva──"
◆◇◆
"Bagaimana
menurut Anda, Maralva-sama?"
Di bawah langit
senja yang memerah, aku membawa Maralva melangkah menuju Colosseum.
Renovasi
Colosseum baru saja selesai beberapa hari yang lalu, dan aku membawanya ke sini
dengan dalih agar ia menjadi orang pertama yang meresmikannya.
"Hmm…… rasanya masih kurang megah."
Maralva
bergumam tidak puas sambil memperhatikan dekorasi Meteor Iron di dinding
serta deretan lampu yang telah diukir dengan teknik segel.
"Saya
sengaja merenovasinya dengan gaya yang lebih tenang agar tidak memicu dendam
roh. Saya juga sudah meminta
pendeta ternama untuk merapal doa, jadi kutukan itu pasti akan mereda."
"Oh, begitu
rupanya! Bagus kalau begitu!"
Dengan pipi gelap
yang bergelambir, Maralva melangkah masuk ke dalam Colosseum dengan langkah
kaki yang tidak stabil.
Jelas sekali
bahwa kurang tidur akibat kutukan di tengah malam telah menguras staminanya
hingga ke batas maksimal.
Ia ibarat balon
yang sudah ditiup hingga sangat kencang, siap meledak kapan saja.
Aku hanya perlu
menusuknya sedikit dengan jarum.
"Silakan
lihat ke sini, ini adalah monumen yang didedikasikan untuk ketenangan
jiwa."
Sambil membual
sekenanya, aku mengawal Maralva menuju panggung utama Colosseum.
Di tengah
panggung, patung batu raksasa sang leluhur, Dominance Goldbarrel, masih berdiri
tegak.
Dari sudut mana
pun, patung itu hanya menjadi penghalang, dan para Dwarf yang mengerjakan
renovasi pun sempat meminta izin untuk menghancurkannya…… namun aku sengaja
membiarkannya tetap di sana.
Satu dari Empat
Pahlawan Besar, sang ksatria legendaris Dominance Goldbarrel.
Bersama dengan
simbol kesombonganmu ini, aku akan mengakhiri masa pemerintahan Maralva.
"Maralva-sama,
mohon tunggu sebentar di sana."
Aku meninggalkan
Maralva yang tampak merah mengerikan terpapar cahaya senja di kaki patung batu
Dominance, lalu aku berpindah ke sudut panggung.
Posisiku sekarang
tepat berhadapan dengan Maralva, terpisah oleh patung batu tersebut.
Colosseum ini
telah kusewa sepenuhnya. Jalanan telah ditutup agar tidak ada yang mendekat,
dan untuk berjaga-jaga, penduduk serta pemilik toko di sekitar sini pun sudah
dievakuasi.
Dengan kata lain,
ia bebas mengamuk sesuka hati.
Baiklah, sudah
waktunya.
Aku menatap
langit di mana matahari mulai tenggelam, lalu menyibakkan mantel panjangku
dengan dramatis.
"Maralva-sama."
Aku memanggil
namanya dengan nada bicara yang tenang, lalu menyambung kalimatku dengan sikap
yang sangat santai.
"Akulah
dalang di balik semua ini."
Pengakuanku
bergema pelan di dalam Colosseum yang luas.
Maralva
memiringkan kepala dengan ekspresi heran yang tidak mengerti, lalu menatap
wajahku dari balik patung Dominance.
Seiring
dengan tenggelamnya matahari dan langit yang mulai menghitam, wajah kusam
Maralva yang tidak sehat pun mulai menyatu dengan kegelapan malam.
"A-apa yang
kamu bicarakan……? Jangan
membuatku kesal dengan omong kosongmu!"
Melihat
Maralva yang mulai murka, aku menyunggingkan senyum tipis.
"Ayahanda
masih saja bodoh seperti biasanya. Fuha! Fuha!"
Bowman muncul
dari balik bayangan patung Dominance. Maralva membelalakkan mata dan mematung
di tempat.
"Hi, hiii!
Kutukan! Roh dendam! Jagid, lakukan sesuatu!"
Bahkan di saat
seperti ini pun ia masih meminta bantuan padaku. Tepat saat Maralva mencoba
mendekat ke arahku, kali ini Viskio menampakkan dirinya.
Aku sudah
membongkar makamnya lebih dulu untuk mengambil mayatnya, lalu merasukinya
dengan Kokonoe Myoubu dan menyembunyikannya di balik patung.
"Ayahanda!
Kenapa Ayah tidak percaya padaku! Bukankah sudah kubilang kalau Jagid Deabold-lah
dalang di balik semua ini!"
"Hii!
Bahkan dendam Viskio juga…… hieeeee!"
Karena didera
rasa takut yang luar biasa, Maralva terjatuh terduduk dan mengeluarkan teriakan
histeris.
"Ini bukan
kutukan. Ini adalah teknik sihirku."
"Si-sihir? ……Apa itu. Hei! Jangan bicara hal yang tidak kumengerti!
Daripada itu, cepat selamatkan aku! Jagid!"
Aku
menatap rendah Maralva yang sedang panik, lalu membuat wajah Bowman berubah
menjadi sangat mengerikan dengan penuh kebencian.
"Alasanku
menyerang Ayahanda tidak lain adalah karena hasutan Deabold. Fuha!"
"A-apa
katamu……?"
Mendengar
pengakuan Bowman, Maralva tampak terguncang. Ia menatapku dengan tatapan kosong.
"Bowman
adalah pria bodoh yang sangat mudah dikendalikan. Aku hanya perlu memancing
harga dirinya dan memupuk ambisinya yang tidak berguna, dia pun langsung
menurut. Berkat itu, dia menjadi bonekaku."
Demi memicu
amarah Maralva, aku mencampurkan kebohongan di dalam kebenaran untuk
menonjolkan kebencian yang nyata.
"Tentu saja,
alasanku mengkhianati Ayahanda juga karena hasutan Jagid Deabold."
Aku membuat
Viskio mengatakannya dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat, lalu aku sengaja
menunjukkan senyum jahat yang mencolok.
"Viskio
yang setengah pintar ini menjadi bumbu yang pas. Lagipula, sejak awal Viskio
memang sudah punya hubungan dengan Kota Sihir Megrim Seed. Memanfaatkan gesekan di antara kalian dan
memanfaatkan sifat penakutnya ternyata sangat mudah."
Menyadari
kegelapan malam mulai merayap naik, aku berbicara dengan cepat.
"Identitas
asli dari kutukan yang menyiksamu siang dan malam adalah trik dari teknik
sihirku. Persis seperti yang Anda katakan dulu; 'Kutukan itu tidak mungkin ada!
Itu hanyalah khayalan belaka. Trik murahan penipu yang memanfaatkan kelemahan
hati!', kan?"
Aku mengulang
setiap kata yang pernah diucapkan Maralva dulu, lalu menyeringai.
Meski wajah
Maralva sudah tidak terlihat lagi tertutup kegelapan malam, aku tahu betul
kalau dia sedang ternganga dengan tampang bodoh.
"Menjilatmu
dengan berpura-pura menjadi bawahan yang tidak kompeten adalah hal yang sangat
mudah.
Kamu yang
ketakutan akan kutukan langsung bergantung padaku dan menjadi boneka yang
penurut.
Bowman, Viskio,
maupun kamu sendiri; keluarga Goldbarrel benar-benar kumpulan orang tidak
berguna."
Ditambah dengan
tumpukan stres dan frustrasi akibat kutukan, pengungkapan seluruh rencana ini
membuat mental Maralva mencapai batasnya.
Balon
yang membengkak itu kini benar-benar di ambang ledakan. Baiklah, mari berikan
dorongan terakhir.
"Bagaimana
rasanya seorang bangsawan keturunan ksatria diinjak-injak oleh penyihir rakyat
jelata?"
Melihat
Bowman dan Viskio menyiapkan senjata mereka, Maralva meraung dengan wajah penuh
keputusasaan.
Dan
akhirnya, Maralva yang sudah terpojok hingga batas maksimal berhenti berpikir.
Emosinya meledak, dan ia menghunuskan Legalia dari sarungnya di
pinggang.
"──Tebuslah
dosamu!──"
Bersamaan
dengan raungan Maralva, Mana yang aneh terpancar kuat, memberikan
tekanan berat yang menindih seluruh tubuh.
Inilah
manipulasi gravitasi dari pusaka keluarga Goldbarrel, Legalia: Overlord
Sword Bevelgius.
Seketika
itu juga.
Menyadari
tekanan luar biasa menghantam tubuh Bowman dan Viskio, aku segera membatalkan Kokonoe
Myoubu.
Namun,
Maralva tidak peduli dan tetap melepaskan kekuatan manipulasi gravitasi dengan
tenaga penuh.
Gelombang
Mana yang mengerikan itu memusat, lalu mayat Bowman dan Viskio—beserta
patung batu Dominance Goldbarrel—hancur berkeping-keping seolah diremas oleh
tangan raksasa yang tak terlihat.
Dengan
suara dentuman keras, patung Dominance hancur dengan tragis, puing-puingnya
beterbangan ke segala arah.
Mayat
Bowman dan Viskio hancur lumat, tak ubahnya saus tomat yang penuh dengan
potongan daging.
Sesuai
rencana, aku berhasil membuat Maralva menghancurkan patung Dominance beserta
kedua putranya.
Runtuhnya
patung raksasa yang menonjol dari Colosseum ini akan membuat orang-orang
menyadari adanya anomali.
Terlebih
lagi, fakta bahwa penyebabnya adalah kekuatan Legalia pasti akan segera
tersebar luas.
Dengan
ini, panggung untuk menjatuhkan Maralva sudah siap sepenuhnya.
"Jagid
Deabold! Hukuman mati pun tidak akan cukup untuk menebus dosamu!"
Suara
kemarahan Maralva menggelegar di tengah kegelapan.
"Huh!
Jika tidak bisa bersuara, kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa! Ternyata
penyihir memang bukan tandingan bagi ksatria agung!"
Persis
seperti kata Maralva, gravitasi yang luar biasa ini membuatku bahkan tidak bisa
menggerakkan bibir dengan benar. Suaraku untuk merapal teknik sihir telah
terkunci sepenuhnya.
Namun,
merasakan gejolak Mana dari seluruh penjuru Colosseum, aku
menyunggingkan senyum, yakin akan kemenanganku.
Waktunya
sangat pas.
Teknik
segel Wisp skala besar yang terukir di seluruh Colosseum aktif secara
serentak.
Cahaya
kilat yang membakar pandangan memancar seketika, menerangi seluruh area
panggung seperti siang hari.
"Guakh!"
Maralva
yang terkena serangan cahaya tersebut mengeluarkan teriakan payah yang sangat
mirip dengan Viskio.
Di saat
ia terkejut itulah, kendalinya atas Bevelgius mengendur, dan tekanan
gravitasi yang menindihku pun seketika menghilang.
Begitu
mendapatkan kembali kebebasan tubuhku, aku segera memperbaiki posisi dan
mengeluarkan lonceng kaca dari saku mantelku.
Karena
terpapar cahaya kilat secara langsung, pandanganku memang menjadi gelap, tapi
ini tak terelakkan.
Untuk
menembus pertahanan Talisman kualitas tinggi milik Maralva dan
menaklukkan manipulasi gravitasi dari Legalia, aku memanfaatkan teknik
segel Wisp raksasa yang diukir oleh Miine.
Syarat
aktivasi segel itu adalah saat matahari benar-benar tenggelam. Itulah sebabnya
aku terus memancing emosi Maralva sambil mengulur waktu, agar ia menghunuskan Legalia
tepat saat senja berakhir.
"Semuanya
berjalan sesuai rencana."
Sambil
membawa amarah yang meluap dari dasar hati, aku menyuntikkan gelombang Mana
yang mengamuk. Seperti sedang merenggut kancing mantel dengan brutal, aku
menajamkan emosi amarahku hingga ke titik tertinggi.
Aku
meremukkan lonceng kaca itu dengan sekuat tenaga.
Prang.
Lalu, aku
mulai merapal mantra, menenun setiap kata dengan Mana yang membara.
"Kerah
merah. Kertas putih. Wahai sosok yang memikat. Kenakanlah api Al-Stella.
Sekarang. Bakar hingga musnah. Inilah Kokonoe Myoubu: Fire Wheel."
Di dalam
pandanganku yang remang-remang, bayangan kucing merah yang membara menari
dengan liar, lalu melompat kuat ke arah Maralva.
Kokonoe
Myoubu: Fire Wheel. Ini
adalah teknik hibrida orisinal yang menggabungkan seni gaib dengan sistem sihir
Kekaisaran untuk meningkatkan daya serangnya.
Aku mengubah
jiwaku sendiri menjadi sifat api, merasuki organ Mana lawan secara
paksa, dan membakarnya dengan api neraka.
Karena dasarnya
adalah seni gaib, Talisman yang berfungsi menangkis serangan sihir tidak
akan mampu menahannya.
Teknik hibrida
seni gaib ini memakan Mana yang sangat besar, dan karena menggunakan
jiwa sendiri sebagai senjata, risikonya pun sangat besar jika gagal.
Terlebih lagi, aku harus menghancurkan medium
khusus sebagai bayarannya, menjadikannya kartu as yang paling pamungkas bagiku.
"Gubuaaaaaaaaakh──!"
Sepertinya teknik
itu tepat sasaran. Maralva
mengeluarkan jeritan memekakkan telinga yang terdengar seperti banteng yang
sedang digilas.
Kokonoe
Myoubu: Fire Wheel
tidak membakar raga, melainkan konsep bernama jiwa.
Api
neraka ini tidak akan memberikan luka sedikit pun pada tubuh fisik, namun terus
membakar jiwa dan memberikan penderitaan yang luar biasa.
Di sana, tidak
ada jalan keluar berupa kematian ataupun pingsan. Hanya ada neraka yang
abadi tanpa akhir.
◆◇◆
"Gubua, gubu…… guboh."
Aku menatap rendah Maralva yang mengeluarkan suara rintihan
menjijikkan, lalu aku menghentikan Kokonoe Myoubu: Fire Wheel.
Teknik itu hanya aktif tidak sampai sepuluh menit, namun
Maralva sudah tampak sangat hancur akibat penderitaan jiwanya yang terbakar. Ia
memuntahkan darah dengan wajah yang mengerikan.
Jika aku terlambat sedikit saja menghentikannya, ia mungkin
sudah kehilangan seluruh martabatnya sebagai manusia. ……Yah, itu pasti akan
terlihat memuakkan.
Lagipula, ada hal terakhir yang harus Maralva lakukan
sebelum ajalnya.
"Berdiri."
Merasakan niat membunuh dari kata-kataku yang singkat,
Maralva bergegas berdiri dengan langkah yang gemetar.
"To-tolong……! He-hentikan……!"
Sepertinya jiwanya yang terbakar api neraka telah menjadi
trauma yang hebat baginya.
Wajah Maralva saat menatapku tampak berkerut karena
ketakutan. Benar-benar wajah yang menjijikkan, lebih dari biasanya.
"Apa! Ka-kamu……!"
Sadar akan kehadiran dua orang yang berdiri di belakangku,
Maralva membelalakkan mata dengan ekspresi jelek yang merupakan campuran antara
rasa takut dan terkejut.
Yang satu adalah Beastman dengan rambut biru muda yang
mistis, Kambase.
Dan satu lagi adalah manusia dengan rambut oranye yang
tegas, Bibisana. Aku memang sudah memanggil mereka lebih dulu untuk saat-saat
ini.
Bibisana melirikku dengan tatapan yang mencerminkan rasa
terkejut dan bingung, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya pada Maralva
yang sudah babak belur.
"Jagid, aku sudah membawanya dari gudang harta Istana
Emas sesuai instruksimu."
Kambase kemudian menyodorkan sebilah pedang indah bersisik
naga. Itu adalah pedang pusaka Sutarezura yang pernah kuberikan pada
Maralva untuk memicu kutukan.
"Terima
kasih."
Setelah
mengucapkan terima kasih dan menerima Sutarezura, aku mencabut pedang
itu perlahan.
Bilah pedangnya
yang memiliki pola api yang ganas tampak berkilau indah diterangi oleh cahaya Wisp.
"Maralva,
sekarang juga, wariskan Legalia ini kepada Bibisana."
"A-apa
katamu……? Mewariskan Legalia kepada anak haram? Jangan bercanda! Kalau
aku mewariskannya pada dia, aku akan kehilangan posisi kepala keluarga, kan!
──Hiii!"
Maralva sempat
membantah perintahku dengan gagah, namun saat ujung pedang Sutarezura
diarahkan padanya, ia langsung merengek payah dan mengecilkan tubuhnya.
"I-iya,
aku mengerti! Aku akan mewariskannya! Ambillah Legalia-nya! Jadi tolong selamatkan aku! Aku tidak mau
merasakan sakit lagi!"
Tanpa membalas
permohonan nyawa dari Maralva, aku segera menyarungkan kembali Sutarezura.
Melihat hal itu,
Maralva mengembuskan napas lega, lalu dengan gerakan lamban ia berhadapan
dengan Bibisana.
Benar-benar
memalukan bagi keturunan Empat Pahlawan Besar; meledakkan patung Dominance demi
amarah dan menyerahkan Legalia begitu saja demi nyawanya.
"……Tak
kusangka, kamu benar-benar menjatuhkan Maralva."
Bibisana bergumam
pelan sambil tersenyum kecut.
"Ka-kalau begitu…… mari kita mulai."
Memungut Legalia: Overlord Sword Bevelgius yang
terjatuh di lantai, Maralva mengangkatnya secara horizontal dengan sikap yang
dibuat-buat seolah-olah agung.
"……Dipersembahkan untuk ksatria agung Dominance
Goldbarrel. A-aku, Maralva Goldbarrel!"
Dengan suara yang terpendam, Maralva menggumamkan kalimat
pewarisan, lalu melukai ujung ibu jarinya dengan bilah pedang Bevelgius.
Tepat saat darah yang memancar menetes ke bilah pedang, aku
merasakan gejolak kecil dari Mana yang aneh. Sepertinya pedang itu
merespons darah Goldbarrel.
"Hei, kamu juga lukai ujung jarimu! Cepat tuangkan
darahmu, tiru ucapanku dan sebutkan namamu!"
Didesak oleh Maralva, Bibisana dengan ekspresi serius
melukai jarinya dengan bilah Bevelgius dan meneteskan darahnya.
Mana yang aneh itu semakin membesar, dan bilah
pedangnya mulai diselimuti oleh cahaya keemasan tipis.
"Dipersembahkan untuk ksatria agung Dominance
Goldbarrel. Aku, Bibisana…… Goldbarrel."
Lalu, Maralva—dengan wajah yang tampak sangat terpaksa namun
gemetar ketakutan padaku—menyerahkan Bevelgius kepada Bibisana.
"Dengan ini, aku meneruskan pusaka keluarga Goldbarrel,
Legalia: Overlord Sword Bevelgius ke generasi berikutnya. Menjalin
sumpah sang pemberani, dengan doa untuk kemakmuran. Aku bersumpah di sini untuk
terus menceritakan kejayaan Dominance Goldbarrel hingga anak cucu kelak."
Setelah menyelesaikan kalimat yang terasa hambar itu,
Maralva melemparkan sarung pedang dari pinggangnya kepada Bibisana, lalu ia
mundur dengan langkah gelisah.
"Bibisana,
tolong pastikan sekali lagi apakah pewarisannya sudah berhasil."
Mendengar
ucapanku, Bibisana mengangguk pelan lalu melirik ke arah Maralva.
Begitu Bibisana
memasang kuda-kuda dengan Bevelgius, Mana yang aneh terlepas, dan
udara yang sangat berat mulai mendominasi Colosseum.
Namun, sepertinya
Bibisana mengendalikan kemampuannya secara instingtif, karena hanya Maralva
saja yang tampak tertekan oleh gravitasi yang luar biasa.
"Heh.
Bisa mengendalikan berat semudah ini, Legalia memang hebat ya."
Bibisana
mengutarakan komentarnya dengan santai sambil menatap Maralva yang
meronta-ronta di tanah.
"Ughh…… Kamu! Jangan berlagak mentang-mentang anak haram! Jika kamu melakukan kekerasan padaku, hukuman
langit akan menimpamu!"
"Kamu bahkan
tidak punya nilai untuk dihukum seperti itu."
Bibisana menyahut
dengan pedas seolah-olah sedang menebasnya, lalu dengan ekspresi datar ia
menyarungkan kembali Bevelgius.
Maralva yang
terbebas dari gravitasi terus meracaukan makian yang menyedihkan, namun
sepertinya Bibisana sudah tidak mendengarnya lagi.
Bagi Bibisana,
Maralva adalah musuh. Sosok yang membunuh ibunya dan membuang dirinya.
Sama sekali tidak
aneh jika ia memendam dendam dan menggunakan Legalia untuk
menghabisinya. Aku pun sudah sedikit bersiap jika Bibisana terbawa emosi dan
melakukan kekerasan pada Maralva.
Namun, aku sama
sekali tidak merasakan kebencian dari kata-kata maupun tindakan Bibisana. Bukan
karena ia menahan amarahnya.
Bukan juga karena
ia sedang berpura-pura menjadi orang suci. Ia benar-benar berpikir dari lubuk
hatinya bahwa membenci Maralva itu tidak ada nilainya.
Bibisana sudah
memalingkan wajahnya dari Maralva dan menatap ke depan.
Bagi Bibisana
yang sedang melihat masa depan tentang bagaimana mereformasi Kota Emas Domina,
sosok seperti Maralva sudah tidak ada lagi dalam jangkauan pandangannya.
"Jagid,
sisanya kuserahkan padamu."
"Ya,
serahkan saja padaku."
Mendengar
jawabanku, Bibisana menyunggingkan senyum tipis lalu mengangguk kecil.
Kemudian, ia
menggandeng tangan Kambase yang sedang menatap Maralva dengan tatapan jijik,
lalu mereka bergegas meninggalkan Colosseum.
"Nah,
Maralva."
Setelah
memastikan mereka berdua pergi, aku menyibakkan mantel panjangku dan mendekati
Maralva.
"Ada satu
hal terakhir yang ingin kutanyakan."
◆◇◆
Aku melotot ke
arah Jagid yang kurang ajar, yang menatapku rendah dengan ekspresi tenang. Aku
didera rasa marah dan terhina hingga mengeluarkan geraman rendah.
Tadi Jagid
bilang, "Ada satu hal terakhir yang ingin kutanyakan."
Artinya, setelah
tanya jawab ini, akhirnya aku akan dibebaskan. Lihat saja nanti, Jagid!
Dosa besar rakyat
jelata yang berani melawan bangsawan!
Hukuman mati pun
terlalu ringan untuk kejahatanmu itu!
"Apakah kamu
tahu tentang Desa Harmonia?"
Tanpa memedulikan
niat membunuhku, Jagid bertanya dengan nada suara yang sangat dingin.
"Desa
Harmonia……?"
Nama desa
yang terdengar sangat mencurigakan.
Aku baru
mau membentaknya dan bilang belum pernah dengar…… namun tiba-tiba, sebuah
ingatan samar muncul kembali.
Nama desa
aneh yang dibangun oleh kepala keluarga Eterna, si nenek lampir kecil itu,
kalau tidak salah memang Desa Harmonia.
Itu
kejadian yang sudah sangat lama, jadi ingatanku agak kabur, tapi sepertinya……
"Sepertinya
kamu tahu sesuatu. Kalau begitu, beritahu aku. Siapa bangsawan yang
menghancurkan Desa Harmonia sepuluh tahun yang lalu? Siapa pemilik 'Legalia
Es'? Merrybirth? Ataukah Misericorde?"
"Le-Legalia
Es……?"
Mendengar
suaranya yang semakin dingin dan tajam, tanpa sadar aku menahan napas.
……Legalia Es.
Jujur saja, aku tidak tahu apa kemampuan Legalia milik bangsawan lain.
Aku bahkan tidak tertarik.
Kenapa? Karena Bevelgius
milikku adalah yang terkuat! ……Ah, sekarang sudah bukan milikku lagi ya.
"Cepat
jawab."
"Hiii! Iya,
aku tahu! Jangan
mendesakku! U-umm! Itu kan…… eeh, anu…… itu…… Legalia Es, ya.
Tunggu, tunggulah sebentar! ……Aku sedang berpikir──maksudku! Aku sedang
mengingat-ingatnya! Guhoho."
Tepat saat aku sedang memeras otak sekuat tenaga, Jagid
berbicara dengan ekspresi yang tampak sangat kecewa.
"……Maralva,
aku akan memberimu satu kesempatan."
Sambil berkata
demikian, Jagid mengeluarkan banyak camilan dari saku mantelnya.
Saat bungkus yang
terlihat murahan itu dibuka, di dalamnya terdapat wafer yang sangat kukenali.
"Bukankah
itu camilan suci yang bisa menangkis kutukan!"
"Itu
bohong."
Apa katamu!
"Ini adalah Wafer
Segel Sihir dari Impress Company."
Jagid menyimpan
'camilan suci'—maksudku, wafer biasa—itu ke dalam kaleng kecil, lalu
melanjutkan bicaranya dengan nada datar.
"Bonusnya
dimasukkan secara acak. Hadiah utamanya adalah stiker lambang yang sangat
bernilai tinggi, tapi selain itu isinya hanyalah stiker putih kosong yang tidak
berguna. Saat ini, aku punya dua belas bungkus Wafer Segel Sihir yang
belum dibuka. Aku akan membuka semuanya, dan jika ada satu saja stiker hadiah
utama yang keluar, aku akan melepaskanmu."
Aku
terperangah ditawari permainan yang tidak masuk akal ini. Namun, jika
dipikir-pikir, ini adalah kesepakatan yang menguntungkan buatku. Dengan dua
belas bungkus, seharusnya mendapatkan satu atau dua hadiah utama bukanlah hal
yang sulit, kan?
"Jika
tidak ada hadiah yang keluar, aku akan membunuhmu."
Jagid
tiba-tiba menghunuskan Sutarezura dan mengarahkan ujung tajamnya tepat
ke ujung hidungku.
"Eh?"
Di sudut mataku,
aku melihat stiker putih polos melayang jatuh. Sepertinya itu adalah stiker
zonk dari wafer yang baru saja dibuka oleh Jagid.
"Ka-kamu…… membunuhku? Ba-bagaimana mungkin! Omong kosong apa itu! Aku ini bangsawan tahu!"
"Ya, justru
karena kamu bangsawanlah aku membunuhmu."
Melihat Jagid
yang menyunggingkan senyum seperti iblis, keringat dingin mulai membasahi
pinggangku.
Melalui insting
seorang ksatria, aku menyadari bahwa pria ini benar-benar tidak akan ragu untuk
membunuhku.
"Tunggu!
Tunggulah dulu, Jagid!"
Namun, seolah
tidak mendengar suaraku, Jagid membuka bungkus wafer kedua dengan ekspresi yang
sangat tenang.
"Dengarkan,
Jagid! Membunuhku yang merupakan keturunan Empat Pahlawan Besar berarti kamu
menentang Kekaisaran! Kamu pasti tahu kan apa akibatnya jika menjadikan
Kekaisaran sebagai musuh!"
Jagid sama sekali
tidak memedulikan permohonanku.
Sambil tetap
menodongkan Sutarezura, ia membuka bungkus wafer satu demi satu dengan
kecepatan yang mengerikan, lalu melemparkan stiker zonk-nya begitu saja.
"Zonk,
zonk, dan zonk lagi."
I-ini
sudah yang ke berapa?
Kelima, bukan, keenam…… eh, ah! Jangan buka dua bungkus sekaligus!
Ini urusan
nyawaku, jangan malas begitu! Buka pelan-pelan sambil pakai perasaan dong!
Hei! Kalau begini
ceritanya, aku sendiri yang harus berdoa. Sebagai seorang bangsawan,
keberuntungan pasti berpihak padaku.
Ayolah,
keluarlah! Memang terlihat sangat konyol berdoa demi sebuah wafer, tapi aku
tidak punya pilihan lain! Aku tidak mau mati dalam permainan konyol seperti
ini!
Leluhur!
Pahlawan! Siapa pun, tolonglah aku!
Sial! Kenapa
isinya zonk semua! Dasar Impress Company! Licik sekali cara dagang mereka!
Eh?
Tu-tunggu! Stiker itu! Tadi
berkilau emas! Bukankah itu hadiah utamanya!
……Ah, ternyata
cuma pantulan cahaya saja ya. Sialan!
"Ini yang
terakhir."
Sambil menatap
sebelas stiker zonk di bawah, Jagid mendekatkan bungkus wafer terakhir ke depan
wajahku. Sekarang,
aku hanya bisa terus merapal doa di dalam hati.
"Kupikir
jika aku mendesakmu, kamu akan membocorkan informasi yang kamu sembunyikan……
tapi sepertinya kamu memang benar-benar tidak tahu apa-apa tentang 'Legalia
Es'."
Tanpa
memedulikan doa tulusku, Jagid membuka bungkusnya dengan cepat dan mengambil
stikernya.
"To-tolonglah!
Keluarlah hadiah utamaaaa!"
Aku
menatap stiker yang melayang jatuh itu dengan perasaan waswas.
"Zonk."
Jagid
mendesis dingin lalu mengayunkan pedang Sutarezura.
"Tu-tunggu!
Mari kita buat kesepakatan! Jagid, katakan apa keinginanmu! Jika kamu
menyelamatkanku, aku akan memberikan apa pun! Uang? Wanita? Jabatan?
Kehormatan? Ayo, katakan! Apa keinginanmu──"
"Dunia."
"Hah?"
Seketika itu juga, bilah pedang Sutarezura bersinar merah terang seolah-olah sedang mekar dengan indahnya.
◆◇◆
"Aku persembahkan bagi sang ksatria agung, Dominance
Goldbarrel. Aku, Maralva Goldbarrel!"
"Aku persembahkan bagi sang ksatria agung, Dominance
Goldbarrel. Aku, Bibisana Goldbarrel!"
"Dengan ini, kuteruskan pusaka Legalia
Goldbarrel, Overlord Sword Bevelgius kepada generasi berikutnya.
Menjalin sumpah sang pemberani, disertai doa demi kemakmuran. Aku bersumpah di
sini untuk terus menceritakan kejayaan Dominance Goldbarrel hingga ke anak cucu
kelak."
Di bawah langit cerah yang seolah membakar cakrawala,
Bibisana yang berdiri di atas panggung Colosseum mengangkat Bevelgius
tinggi-tinggi dengan penuh semangat.
Penduduk Kota Emas Domina yang memadati kursi penonton
serentak bersorak sorai dan memberikan tepuk tangan meriah begitu melihat sosok
gagah sang pemimpin baru keluarga Goldbarrel.
Sehari setelah membunuh Maralva, aku menggunakan Kokonoe
Myoubu untuk mengendalikan mayatnya.
Aku memanfaatkan hak istimewa bangsawan untuk mengumpulkan
penduduk ke Colosseum, tentu saja dengan menggunakan lonceng cadangan sebagai
medium sihirku.
Sambil mengendalikan Maralva di atas panggung, aku berdiri
di antara kerumunan penonton bersama Kambase untuk mengawasi Bibisana.
Patung batu Dominance Goldbarrel yang hancur kemarin telah
disingkirkan sepenuhnya, membuat pemandangan di panggung terasa begitu lega dan
segar.
"Aku sudah
lelah. Urusan kutukan hingga kematian putra-putraku... semuanya benar-benar
membuatku muak!"
Menggunakan alat
sihir pengeras suara yang mampu menjangkau seluruh penjuru Colosseum, Maralva
meluapkan kata-katanya dengan wajah yang tampak sangat kuyu.
"Aku
memutuskan untuk menyerahkan sisanya kepada putriku, Bibisana, dan memilih
untuk pensiun ke desa terpencil. Aku akan meninggalkan dunia yang bising ini
dan menghabiskan sisa hidupku dengan memanjakan koleksi senjataku! Gufu!"
Meskipun Maralva
bicara dengan ekspresi yang menyebalkan, orang-orang hanya menatapnya dengan
pandangan hina dan kecewa.
Namun, tak bisa
dimungkiri ada rasa lega yang terpancar karena pria itu akhirnya pergi.
Selain karena
tirani dan kesewenang-wenangannya selama ini, berita tentang insiden mengerikan
kemarin pun sudah tersebar ke seluruh penjuru kota.
Berita bahwa
Maralva yang melemah akibat gaya hidup tidak sehat telah kehilangan kendali,
menghunus Legalia, lalu menghancurkan patung leluhurnya sendiri.
Informasi itu
disebarkan secara provokatif melalui majalah gosip berkat bocoran dari Kambase.
Citra Maralva
yang memang sudah buruk pun langsung jatuh ke dasar jurang dalam semalam.
Menghunus Legalia,
sang pencegah kehancuran dunia, hanya demi urusan pribadi sebenarnya adalah
masalah level internasional.
Sayangnya,
Kekaisaran tidak memiliki sistem untuk mengadili bangsawan, sehingga ia paling
hanya akan dipandang sinis oleh bangsawan lain.
Karena itu,
skenario Maralva "mengasingkan diri" sebagai bentuk pertobatan dan
mewariskan takhta kepada Bibisana menjadi tontonan yang memuaskan dahaga
keadilan rakyat.
Kepikunan Maralva
sudah begitu nyata di mata semua orang, sehingga tidak ada satu pun yang
melayangkan protes.
Lagi pula, para
pengikut fanatik yang kemungkinan besar akan memprotes sudah lebih dulu
dibereskan oleh tangan Maralva sendiri.
Mengingat Viskio
dan Bowman sudah tewas, tidak ada lagi rival bagi pewaris keluarga Goldbarrel.
Statusnya sebagai
anak haram memang sempat menjadi ganjalan, tapi menunjukkan preseden sejarah
membuat klaim takhtanya menjadi mudah diterima.
Dengan
menyingkirkan Maralva dari muka publik lewat dalih pensiun, aku berhasil
mendapatkan mayatnya secara utuh.
Sekarang, aku
bisa mengendalikannya kapan pun dibutuhkan untuk rencana selanjutnya.
Saat hidup dia
sudah sangat berguna bagiku, maka setelah mati pun akan terus kumanfaatkan
sampai habis.
Begitu Maralva
menyelesaikan salam terakhirnya dan turun dari panggung, Bibisana melangkah
maju dengan gagah sambil menyibakkan jubah bermotif singa emasnya.
Tanpa menggunakan
alat sihir pengeras suara, ia meneriakkan suaranya sekuat tenaga agar terdengar
oleh seluruh penonton.
"Aku ini
tidak berdaya!"
Bibisana sengaja
melewatkan perkenalan diri. Kalimat pembukanya yang penuh vitalitas itu
berhasil mencuri perhatian dan hati orang-orang seketika.
"Tumpukan
dosa keluarga Goldbarrel, kesenjangan akibat struktur tiga lapis kota ini,
kondisi slum... Masalah Kota Emas Domina sangatlah banyak, dan tidak ada satu
pun yang bisa selesai dalam semalam. Sejujurnya, meski dengan harta dan
kekuasaan Goldbarrel sekalipun, ini akan sangat sulit."
Gaya bicara
Bibisana yang jauh dari kesan bangsawan Goldbarrel terdengar sangat jujur,
bahkan mungkin terkesan terlalu santai bagi sebagian orang.
Namun, ekspresi
dan nada suaranya menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak sedang main-main
ataupun menyerah.
"Tapi, aku
punya rekan-rekan yang bisa diandalkan. Dan yang terpenting, aku punya kalian
semua penduduk Kota Domina! Deep Side, Dark Market, Central
Capital! Jika kita menyatukan kekuatan, kita pasti bisa menyelesaikan
masalah ini. Aku percaya kita bisa menjadikan Kota Domina sebagai kota
terbaik!"
Deklarasi jujur
Bibisana disambut sorakan dahsyat.
Para berandalan
langganan kedai Raden-tei bahkan bertepuk tangan sambil bercucuran air mata.
Meski
begitu, tidak semua orang langsung menerima Bibisana.
Bibisana
memang punya dasar kepercayaan karena ia sudah lama dicintai di Dark Market.
Namun,
masih banyak yang ragu karena ia sempat menyembunyikan identitas aslinya, atau
mereka yang memendam kebencian bertahun-tahun pada keluarga Goldbarrel.
Sejarah
kelam yang diukir Goldbarrel selama tujuh ratus tahun terlalu besar untuk
dihapus dalam sekejap.
Mendapat
dukungan dari seluruh penduduk itu mustahil; hanya diktator yang bisa
melakukannya.
Tak
peduli seberapa benar tindakan Bibisana nantinya, ia akan tetap dihujani kritik
dan reputasi buruk yang tak berdasar.
Ia akan
terus dikritik, baik secara tidak adil maupun secara objektif.
Meski begitu,
Bibisana tidak punya pilihan selain menerima semuanya dan terus melangkah.
Terdengar sangat
klise memang, tapi itulah makna sesungguhnya dari Noblesse Oblige
seorang bangsawan.
Aku yakin
Bibisana akan baik-baik saja.
Sebagai penguasa,
ia memang nol dalam hal pengetahuan dan pengalaman, tapi ia memiliki karisma
alami untuk memimpin.
Di balik sifatnya
yang tampak polos, ia memiliki kecerdikan dan ketangguhan. Ia akan menelan
pahit manisnya dunia dan menjalankan kewajibannya sebagai bangsawan yang lurus.
Lagipula,
orang-orang hebat yang akan mendukungnya sudah berkumpul.
Hausie Uwan. Dia
sedang mendedikasikan diri pada pendidikan generasi baru sebagai kepala sekolah
Beastman.
Para Beastman
yang dilatihnya nanti sudah dijadwalkan untuk dipekerjakan sebagai ksatria
keluarga Goldbarrel.
Kiprah Hausie
akan menjadi harapan bagi para Beastman yang tertindas sekaligus menjadi
fondasi kemajuan kota.
Pastolo Peeberry.
Sambil mengelola museum sejarah, ia akan melayani sebagai ajudan terdekat
Bibisana.
Dr.Peaberry
adalah orang yang eksentrik, tapi justru karena itulah ia tidak akan menjadi
bawahan yang hanya bisa bilang "ya", melainkan menjadi penasihat yang
hebat.
Selain itu,
pengetahuan sejarahnya akan sangat berkontribusi pada bisnis pariwisata.
Gedon Hardron dan
Miine Rozluck. Dengan talenta muda dan semangat mereka, mereka akan memimpin
serikat pandai besi yang baru.
Senjata-senjata
hebat yang mereka ciptakan, terutama yang berbahan Meteor Iron, pasti
akan meramaikan Kota Domina baik sebagai kota ksatria maupun kota perdagangan.
Gilbard,
mantan Gold Knight, dan Rosso, mantan gangster. Mereka akan berhadapan
langsung dengan Deep Side sebagai korps penjaga keamanan.
Masalah
slum adalah tugas tersulit, paling sensitif, sekaligus paling penting bagi
Bibisana.
Dengan
Gilbard yang pernah melihat korupsi bangsawan dan Rosso yang tahu seluk-beluk
kegelapan slum, mereka akan menjadi kekuatan reformasi Bibisana.
"Hei,
Jagid."
Di tengah
riuhnya suara massa, Kambase memanggil namaku dengan lembut.
"Seandainya
Bibisana memilih untuk tidak mewarisi keluarga Goldbarrel, apa yang akan kamu
lakukan?"
"Jika itu
terjadi, aku akan tetap pada rencana awal; terus mengendalikan Maralva."
Sudah jelas
Maralva akan menderita penyakit parah akibat gaya hidup buruk dan overdosis High
Potion.
Setelah itu, dia
hanya akan menjadi boneka yang dibiarkan hidup segan mati tak mau. Aku tinggal
mengendalikannya dari balik layar untuk menjalankan pemerintahan, sesederhana
itu.
"Tapi, aku
sudah yakin Bibisana tidak akan menolaknya."
Mataku
bertemu dengan mata Bibisana yang berada di atas panggung.
Aku
tersenyum tipis, membayangkan masa depan Kota Emas Domina yang cerah.
◆◇◆
Rambut
biru mudanya yang seindah lelehan salju bergoyang pelan.
Dengan
kipas bermotif gelombang laut yang terayun anggun di depan api biru yang
berkobar, Kambase menarikan tarian yang tenang dan suci.
Helai
demi helai senjata yang tak terhitung jumlahnya—pedang hingga belati—dilahap
oleh api biru, berubah menjadi asap lembut yang terbang menuju langit timur.
Sehari
setelah upacara suksesi Bibisana, aku dan Kambase mengunjungi tanah kosong
terpencil di pinggiran kota.
Kami di
sini untuk mengkremasi senjata-senjata aneh berbahan tubuh manusia milik
Maralva, Viskio, dan Bowman dengan teknik sihir api, demi mendoakan ketenangan
jiwa mereka.
Menatap
Kambase yang menari dengan gemulai, aku menangkupkan kedua tangan dan berdoa
sesuai dengan budaya klan Oni.
Setelah
kematian Maralva, aku sudah menggeledah seluruh gudang harta Istana Emas, namun
aku tidak menemukan senjata yang dibuat dari tanduk keluarga Kambase.
Tidak ada
jejak yang menunjukkan keluarga Goldbarrel pernah memilikinya. Jika demikian,
berarti tanduk keluarga Kambase berada di tangan bangsawan lain.
"……Fuu."
Selesai
menari, Kambase tersenyum segar sambil menyisir rambutnya ke belakang.
"Kerja
bagus. Mari istirahat sejenak."
Aku mengajak
Kambase duduk di bangku tua, lalu menyodorkan keranjang besar di hadapannya.
Keranjang itu penuh sesak dengan berbagai macam camilan
warna-warni.
Itu adalah paket camilan pemberian Bibisana dan yang lainnya
sebagai ucapan terima kasih karena telah memperbaiki Kota Domina.
"Terima
kasih. Aku ambil ya."
Tanpa ragu,
Kambase memilih Peanut Butter Marshmallow Pie dari tumpukan camilan
tersebut, lalu duduk di sampingku.
Dengan gerakan
terampil, ia membuka bungkusnya dan langsung melahap pai tersebut.
"Mmh…… enak sekali."
Merasakan perpaduan manisnya selai kacang, lembutnya marshmallow,
dan gurihnya kulit pai sekaligus, Kambase mengeluarkan suara imut dengan
ekspresi penuh kebahagiaan.
"Kalau begitu, aku pilih yang mana ya... Hmm? Apa
ini?"
Aku memiringkan kepala saat menemukan sebuah amplop yang
terselip di pinggir keranjang.
Amplopnya sederhana, tapi isinya dilindungi oleh karton
tebal yang kokoh.
Sepertinya ini
bukan surat ucapan terima kasih biasa... Dengan penuh rasa penasaran, aku
membukanya dan──
"Nuhoaa!
I-ini kan!"
Begitu melihat
isi amplop tersebut, aku sontak mengeluarkan suara konyol karena saking
terkejutnya.
Kambase sempat
terkikik melihatku, tapi aku tidak punya waktu untuk merasa malu sekarang.
Sebuah
stiker kecil yang pas di telapak tangan. Kilauannya benar-benar berbeda jauh
dari stiker putih zonk yang biasa kulihat; stiker ini memancarkan cahaya megah
dengan pola avant-garde yang diukir sangat detail.
Tidak
salah lagi! Ini adalah Stiker Hadiah Utama dari Wafer Segel Sihir!
Sambil
memegang stiker itu dengan ujung jari yang gemetar, kepalaku menjadi kacau
balau karena rasa gembira dan haru yang meluap-luap.
"Jagid, kamu
tidak apa-apa...?"
Kambase yang baru
pertama kali melihatku segugup ini bertanya dengan nada khawatir.
Meski merasa
tidak enak padanya, aku tenggelam dalam kebahagiaan memegang stiker hadiah
utama tersebut sampai tidak bisa menjawab.
"Ah, ada
catatannya di sini. Katanya... stiker itu didapat Bibisana saat dia iseng
membeli wafer. Karena dia tidak butuh, jadi diberikan untuk Jagid... begitu
tulisannya."
Iseng
beli dan langsung dapat hadiah utama?
Aku
seolah tidak percaya mendengar isi catatan yang dibacakan Kambase. Aku
benar-benar ngeri dengan keberuntungan luar biasa yang dimiliki Bibisana.
Dibandingkan
denganku yang sudah membeli wafer dalam jumlah tak terhitung tapi tidak pernah
dapat satu pun,
Bibisana
yang cuma iseng beli malah langsung dapat! Rasanya seperti dipukul telak oleh
bakat alami yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Aku
memasukkan kembali stiker itu ke dalam amplop dengan sangat hati-hati agar
tidak tergores, lalu berterima kasih pada Bibisana di dalam hati.
Di saat yang sama, aku semakin yakin bahwa masa depan Kota Emas Domina akan sangat cerah di bawah pimpinan Bibisana yang memiliki keberuntungan sebesar ini.



Post a Comment