Hukuman
Pemusnahan Reruntuhan Pegunungan Kazit 5
Aku bermimpi.
Sebuahy Mimpi dimasa
lalu.
Kala itu, aku
menyandang gelar Komandan Ksatria Suci. Cenerva, anak-anak unit ksatria,
semuanya ada di sana.
Dalam mimpi itu,
kami sedang bergerak maju ke arah timur melintasi Pegunungan Kazit untuk
mengejar pasukan musuh.
Aku ingat betul
operasi itu. Demon Lord Phenomenon yang terusir dari Nophan mencoba
menyusun kembali kekuatan mereka di bagian timur Pegunungan Kazit, dan mulai
menjadi ancaman besar.
Keberangkatan
kami adalah untuk melenyapkan mereka.
Seingatku, waktu
itu hujan juga turun. Hujan yang seolah merendam seluruh gunung terus
berlanjut, dan jika bukan karena "Subway" yang dipanggil Cenerva,
kami pasti sudah sangat kesulitan.
"──Mereka
datang, Komandan."
Si sulung
dari Diele bersaudara memperingatkan.
"Gerombolan
besar sesuai rumor. Ada tipe
raksasa yang tercampur. Kurasa itu hampir seluruh kekuatan tempur mereka."
Tidak ada nada
tegang sedikit pun dalam suara itu. Cara bicaranya agak terseret-seret. Berbeda dengan adiknya, dia adalah
perwira yang selalu memiliki keceriaan yang santai.
"Musuh
sepertinya sudah nekat, ya."
Ephmat,
sersan penembak jitu, sudah menyandang tongkat petirnya.
"Mari kita
selesaikan di sini. Besok kita buat pesta pora."
Saat itu, apa
jawabanku? Aku tidak terlalu ingat.
Namun, aku yakin
Cenerva yang ada di sampingku tersenyum tipis. Dia melangkah maju, merentangkan
kedua tangannya seolah melindungi kami.
"Tentu saja,
ayo lakukan. Sudah pasti menang mudah."
Setiap kali
bertempur, dia selalu mengatakan itu. Ya──menang mudah.
Dia adalah tipe
orang yang percaya tanpa ragu bahwa kami tentu saja bisa menang melawan musuh
mana pun, kapan pun.
"Nah Xylo,
bagaimana? Kamu ingin aku memanggil apa?"
Apa yang kuminta
pada Cenerva saat itu? Tembok
benteng? Atau menara raksasa? Mungkin salah satu dari itu.
"──Kalau
begitu, mari kita mulai. Xylo, pastikan kamu mendekapku erat-erat dengan baik."
Cenerva
bersandar padaku, menitipkan punggungnya.
"Jangan
pernah lepaskan, ya. Kalau kamu menjatuhkanku, aku akan mendendam padamu."
Dia
menegaskan──aku menjawab dengan gurauan asal-asalan, lalu mengangkat dan
mendekap Cenerva.
Pertempuran sudah
dimulai. Unit kakak Diele menahan musuh, sementara unit penembak jitu Ephmat
memusatkan daya tembak.
Pasukan artileri
yang dipimpin adik Diele juga mulai memberikan bantuan tembakan.
Itu adalah cara
bertarung kami yang biasa. Pada titik di mana musuh mencoba melakukan terobosan
nekat, bisa dikatakan kemenangan sudah hampir pasti.
Polanya adalah
mereka melompat tepat ke dalam genggaman kami yang sudah menunggu.
Sisanya, kami
para prajurit kilat akan memberikan pukulan penentu.
Meski jumlahnya
sangat sedikit, unit tempur prajurit kilat adalah kekuatan utama Ksatria Suci
Kelima. Persiapan sudah matang sejak tadi.
"Kapan pun
bisa berangkat."
Ajudanku
mendesak. Orang ini ahli dalam urusan administrasi, tapi juga punya bakat
sebagai prajurit kilat.
Kontras dengan
wajah dan perawakannya yang sangar, dia bertarung dengan cara yang hati-hati
dan halus.
"Mari kita
sapu bersih. Jika tidak menang mutlak di sini, akan ada masalah dengan
logistik."
Dia dengan serius
menunjukkan masalah logistik, lalu──lalu, memperingatanku dengan wajah merengut
seperti biasanya. Dia tahu betul tentang kebiasaan burukku.
Nama itu. Wajah
itu. Saat mencoba mengingatnya, aku merasakan sakit kepala tumpul yang
berdenyut.
Ada sensasi
seolah ingatanku terluka. Mengerikan. Jika semua orang dalam ingatanku lenyap,
bukankah aku akan menjadi sendirian di dalam kenanganku sendiri?
Jika aku terus
menjadi Prajurit Hukuman, hal itu pasti akan terjadi suatu saat nanti.
"──Dengar
ya, Komandan."
Begitu kata
ajudanku. Seharusnya.
"Jangan
menyerbu terlalu jauh ke depan. Memberikan perlindungan itu sulit, tahu."
Sejauh ingatanku,
itulah yang terakhir.
Kemenangan
terakhir bagi Ksatria Suci Kelima. Kejayaan terakhir.
Pada akhirnya,
aku membunuh Cenerva dalam operasi tepat setelah itu, dan meninggalkan semua
orang.
Waktu itu, kalau
tidak salah──aku merasa hujan terus turun tanpa henti──tidak, salah. Bukan
hujan sederas ini. Bukan hujan dahsyat yang disertai gemuruh guntur.
Kalau
begitu, apa yang terdengar sekarang adalah──.
◆
"Tuan
Forbartz!"
Bahuku
diguncang, dan aku terbangun dari tidur dangkal.
Aku
merasa berkeringat deras, dan di saat yang sama, ada sedikit kekacauan dalam
ingatan.
(Tenang.
Pegunungan Kazit. Di sini Pegunungan Kazit…… dan sedang dalam pertempuran,
kan.)
Ya──aku
paham situasinya.
Operasi
Pemusnahan dan Pembersihan Pegunungan Kazit, hari kedua belas.
Suara
hujan deras. Gemuruh guntur bergema. Di depanku ada wajah pria bertato. Pola
yang melingkar itu mungkin melambangkan matahari. Dia adalah Nalk Dexter.
"Apa
Anda baik-baik saja? Anda meracau cukup parah tadi."
"Hal
biasa. Jangan dipikirkan."
Aku
menegakkan tubuh bagian atas dan sengaja menguap. Aku tadi tidur ayam tepat di
pintu masuk 'Lubang Kubur' agar bisa merespons serangan musuh kapan saja.
Kami
sudah tersudut ke dalam 'Lubang Kubur' ini. Tiga lapis garis pertahanan pun sudah ditinggalkan
semuanya.
Tadi malam juga
sempat ada satu kali serangan. Serangan yang sangat singkat, seolah hanya ingin
memastikan sesuatu.
"Musuh
mendekat lagi?"
"Iya.
Lagipula, ada jenis Fairy yang tidak kita lihat sampai kemarin. Tipe tumbuhan dan tipe berkaki
banyak."
"Alraune
dan Bogart, ya."
Ini pun
sudah kuprediksi.
Selama
musuh adalah Demon Lord Phenomenon, jumlah Fairy yang menjadi
kekuatan tempur mereka akan bertambah seiring berjalannya waktu.
Sepertinya
ada semacam batasan jumlah Fairy yang bisa diinfiltrasi dan dikendalikan
oleh tiap individu, jadi tidak tak terbatas. Meski begitu, pertambahan kekuatan musuh tetap
saja terasa tidak adil.
(Jangan panik.
Masih bisa bertahan.)
Aku menghirup
udara lembap perlahan.
Di sini ada
Teoritta, dan karena dalam beberapa hari terakhir kami telah memasang
pertahanan Holy Seal dengan teliti, area sekitar 'Lubang Kubur' tidak
akan terinfiltrasi.
Bogart yang
melakukan serangan kejutan dari dalam tanah pun tidak akan semudah itu.
Kuncinya adalah menghadapinya dengan tenang.
"Tsav dan
Dotta sudah kutempatkan di bagian belakang. Tolong panggilkan Norunagayu dan
Teoritta."
"Apa kita
akan segera menggunakan 'mekanisme' itu?"
Wajah Nalk tampak
terkejut. Sebenarnya, itu adalah sesuatu yang direncanakan untuk digunakan di
saat-saat terakhir.
"Lakukan
saja. Penting untuk menyerang saat mereka lengah."
Selain itu, meski
tidak bisa diucapkan, musuh ternyata lebih tangguh dari dugaan.
Yang memimpin
pastilah Boojum. Kematian Milete memperjelas hal itu. Dia musuh yang cukup
merepotkan──tempo serangannya bervariasi, dan dia juga sangat teliti. Sejauh
ini, dia belum melakukan serangan serampangan yang ceroboh.
"Mereka
datang!"
Seseorang
dari Pasukan Forbartz berteriak. Mereka adalah orang-orang yang ditugaskan
berjaga di sekitar 'Lubang Kubur'.
Aku
memukul tanah di bawah kakiku dengan tinju kiri. Gema. Malas rasanya menghitung jumlahnya, tapi
untuk permulaan sepertinya ada sekitar beberapa ratus.
Alih-alih
pengintaian, ini lebih mirip pengintaian bersenjata. Cara bertarung Boojum
perlahan-lahan mulai menyerupai tentara manusia.
Kekuatan utamanya
adalah Fuua dan Alraune. Keduanya adalah Fairy yang cocok untuk
pergerakan di medan seperti ini.
"Apa kita
menembak, Tuan Forbartz?"
Di depan 'Lubang
Kubur', telah dibangun gundukan tanah dan parit sederhana. Jika ada kawat, aku
ingin sekali menggunakan kawat berduri buatan Yang Mulia, tapi itu mustahil.
Di gundukan tanah
itu, sepuluh penembak termasuk Nalk sudah bersiap. Lima pemanah, lima pengguna
tongkat petir.
"Belum."
Aku menahan
mereka. Karena anak
panah dan magasin sangat berharga.
Di balik
hujan deras. Dari balik
pepohonan, Fuua-fuua mulai maju sambil melompat-lompat.
Yang mengikuti di
belakang mereka adalah pepohonan yang menyerupai binatang berkaki empat.
Anggota badan
yang tampak seperti pintalan akar dan tanaman merambat, dengan bunga raksasa
mekar sebagai pengganti kepala.
Itu adalah Fairy jenis Alraune. Makhluk ini jarang
muncul di garis depan.
Lemah terhadap api, memiliki batasan untuk beraktivitas, dan
kemampuan geraknya akan turun drastis jika bukan siang hari. N
amun, jika mereka berniat menyerang di siang bolong dengan
jumlah yang cukup, mereka adalah ancaman yang memadai.
Kenyataannya, ada prajurit yang wajahnya memucat melihat
itu.
"Tuan
Forbartz. Masih belum?"
"Belum."
Harus
ditarik lebih dekat lagi. Musuh mendekat. Sampai gundukan tanah, tinggal tiga
puluh langkah. Dua puluh langkah.
"Tuan
Forbartz……"
Suara
yang sedikit gemetar. Rasanya mereka akan mulai menembak kapan saja. Sudah di
batas, ya.
Saat
itulah, ada bayangan yang menerjang dari samping. Tudung serigala. Itu
Saritaff.
"Kuaaaaaaa──aaaaah!"
Pekikan
nyaring seperti burung. Sambil meluncur menuruni lereng, dia melompat ke dalam
gerombolan musuh.
Tepat di
titik yang memisahkan gerombolan Fuua dan Alraune. Kapak tangannya dihantamkan,
membuat hujan, daging, dan darah bermekaran.
Inilah
saatnya.
"Tembak!"
Tembakan
dimulai untuk melindungi Saritaff. Tongkat petir memancarkan cahaya, dan
busur melontarkan anak panah. Anak panah ber-Holy Seal itu meledak,
mengempaskan beberapa Fuua sekaligus.
Lalu aku melompat. Menendang gundukan tanah, mengaktifkan Flight
Seal, dan mencapai posisi di atas kepala musuh.
Fuua mencoba melompat untuk menangkapku, dan Alraune
menjulurkan lengan tanaman merambatnya, tapi mereka tidak bisa mengejar
seranganku.
Pisau
yang kulemparkan meledak di tengah-tengah musuh dan berkobar. Bagi Alraune, ini
adalah serangan yang mendekati predator alami.
Hanya
dengan ini saja, api menjalar dan menimbulkan kerusakan berantai. Berkat itu,
aku bisa bergabung dengan Saritaff. Dia sedang mengayunkan kapak tangannya,
menebas hancur Fuua bertubuh besar seolah sedang memukulnya.
"Kuaaa!"
Bersamaan
dengan teriakan itu, kapak tangannya menderu. Kekuatan lengannya luar biasa,
meski tidak selevel Tatsuya.
Dia
mengempaskan Fuua yang menerjang dengan kekuatan fisik murni, lalu mengembuskan
napas panas.
"Kamu
cukup bersemangat ya."
Aku
mengambil posisi melindungi punggung Saritaff. Pisau yang kulepaskan meledak
dan mengempaskan musuh.
Mungkin karena
waspada, para Fairy itu mundur. Keheningan selama beberapa detik
menyelimuti kami.
"Tarik napas
dalam-dalam. Musuh masih banyak."
"Aku……
tahu!"
Sambil terus
bernapas terengah-engah, Saritaff goyah dan berlutut. Lumpur di bawah kakinya
memercik.
Tampaknya sebagai
ganti kemampuan fisik itu, rasa lelah saat melakukan gerakan beban tinggi juga
sangat hebat.
Dibandingkan
orang dataran rendah seperti kami, ciri khas mereka sebagai karnivora mungkin
lebih kuat.
"Tetap di
situ. Istirahatlah sebentar."
"Jangan
bicara bodoh, Pahlawan."
Hujan yang
mengguyur menciptakan uap air di sekitar tubuh Saritaff. Sepertinya
tubuhnya bersuhu sangat tinggi.
"Di tempat seperti ini…… mana bisa…… istirahat……!"
"Sekarang
ini pertempuran kelompok. Kamu punya kawan."
Kata-kataku
segera terbukti.
Tembakan dari
tongkat petir menembus Fuua yang hendak menyerang kami.
Anak panah yang
dilepaskan dari busur menancap di tubuh Alraune dan membakarnya.
Akhirnya ada
waktu luang untuk sekadar mengobrol.
"Jika saling
melindungi, kita akan menjadi jauh lebih kuat. Apa kamu tidak diajarkan itu di
Yamanobe?"
"……Diajarkan."
Saritaff
mengerang seperti binatang dan melirik ke belakang.
"……Mereka
juga, kalau mau melakukan, bisa juga ya."
"Kan.
Nah, sudah bisa bergerak?"
Rasanya
aku seperti sedang bicara sebagai instruktur. Atau senior dalam unit. Mungkin
terdengar sok hebat. Namun, Saritaff mendengus dan mengangguk.
"Kata-kata
Pahlawan, punya nilai untuk didengarkan…… begitu kata kakek dan kakakku."
"Hah?"
"Ayo
berangkat. Pahlawan. Jangan tertinggal."
Saritaff menebas
tumbang Alraune yang menyerbu dengan nekat. Sekali tebas.
Kekuatan telah
kembali ke lengannya. Aku hanya bisa mengejar saat dia terus maju begitu saja.
(Menyerbu
terlalu jauh ke depan. Susah dilindungi.)
Padahal
situasinya begini──tidak. Justru karena situasinya begini, aku jadi ingin menertawakan diri
sendiri.
(Itu kalimat
yang sering dikatakan padaku dulu. Sekarang aku sedikit paham perasaan itu.
Tapi──)
Sejak saat itu,
aku juga sudah jadi sedikit lebih pintar. Aku sudah memasang jaminan.
Saritaff dan aku
yang terus maju segera berakhir dikepung lagi. Aku menyadari pergerakan para Fairy
sedikit demi sedikit berubah.
Bukan karena
terbiasa dengan pertempuran kelompok, melainkan karena mulai terorganisir. Apa
komandannya muncul? Atau, Unit 7110?
Baguslah kalau
begitu.
"Kuauuu!"
Kapak tangan
Saritaff menebas musuh. Kali
ini tidak bisa ditembus dengan mudah. Tampaknya mereka mengepung kami untuk menguras tenaga.
Saritaff kembali
mengembuskan napas panas. Pisauku pun tidak tak terbatas. Kelemahan Explosion
Seal: Zatte Finde adalah konsumsi senjata yang sangat boros.
Namun, kelemahan
itu sudah bisa diatasi sekarang.
"Ksatria-ku!
Sepertinya sudah saatnya giliranku──"
Dari arah 'Lubang
Kubur', terdengar suara jernih yang berwibawa. Percikan api muncul di udara
kosong.
"Tiarap!"
Kilauan bilah
pedang. Cahaya itu turun bersama hujan, menembus gerombolan musuh dengan
akurat.
Jika diserang
begini, para Fairy tidak bisa berbuat apa-apa. Unit garis depan mereka
hancur seketika. Itulah alasan aku dan Saritaff menjadi umpan untuk memancing
musuh.
"Sekarang!"
Aku
menatap ke balik hujan. Cahaya kilat menerangi bayangan di balik pepohonan.
Di tengah
formasi yang sangat teratur untuk ukuran para Fairy, ada satu bayangan
menyerupai goblin kecil. Mengenakan baju zirah, memegang tongkat petir di satu
tangan.
Aku
langsung tahu itu bukan Fairy biasa.
(Unit 7110,
ya.)
Aku mencabut
pisau.
(Bukannya aku
sudah memaafkan kalian. Akan kubuat kalian membayar hutang karena telah
menjebak Ksatria Suci Kelima waktu itu.)
Goblin mungil──Fairy
yang diduga komandan itu meneriakkan sesuatu. Itu perintah. Merespons hal itu, para Fairy
di sekitarnya serentak mengambil posisi menembak. Semuanya adalah goblin.
Disiplin yang biasanya tidak terpikirkan.
"Teoritta!"
"Iya!"
Dengan jarak
sejauh ini, komunikasi semacam itu masih bisa dilakukan.
Keuntungan
bergerak terpisah dari Goddess terletak pada bagian ini. Serangan nekat
namun terencana dari sang kontraktor yang dijalankan dengan dukungan barisan
belakang dari Goddess. Dukungan yang sangat tepat sasaran.
"Wahai
pedang, lindungilah para ksatria-ku!"
Beberapa
pedang besar dipanggil dan turun menghujam. Itu menjadi perisai yang menahan
tembakan serentak dari tongkat petir.
Aku dan
Saritaff mendekat dengan gerakan melompat. Suara hujan. Guntur. Wajah Fairy
yang tampak seperti komandan itu terdistorsi oleh ketakutan.
Dengan
begini bisa terkejar. Bisa dibunuh. Begitu aku berpikir bisa menghabisi
komandan dan segera beralih ke serangan balik──instingku meneriakkan
peringatan.
Bisa
merentangkan tangan dengan seketika adalah sebuah keajaiban bagi diriku
sendiri.
"Saritaff!"
"Hei! Apa
yang──"
Saritaff tidak
bisa menyelesaikan protesnya. Di tanah yang hendak kami pijak berikutnya.
Dari sana, sebuah
sabit raksasa berwarna merah hitam mencuat keluar. Darah yang bercampur dengan
lumpur──firasat kematian melintas di ujung hidung.
(Boojum……!
Dia ada di dekat sini!)
Di balik
pepohonan ini. Di tempat yang tidak begitu jauh.
Mungkin
saja, kami saling mendengar suara langkah kaki di atas lumpur.
Aku dan
Saritaff hampir berguling saat tiarap di tempat itu. Di atas kepala kami, anak panah darah melesat
lewat. Sebuah hindaran yang sangat tipis.
Akurasi serangan
ini. Tidak salah lagi, dia ada di jarak yang sangat dekat.
(Ini saat
penentuannya……!)
Inilah saatnya
mengeluarkan kartu as. Aku menyentuh Holy Seal di leherku dengan jari.
"Norunagayu!
Maaf, tapi tolong!"
『Baiklah.
Sedikit terlalu cepat──tapi jika itu keputusan Panglima Xylo, aku akan patuh.
Ini adalah pertempuran penentuan yang mempertaruhkan eksistensi negaraku,
bukan?』
Suara berat
Norunagayu terdengar. Segala sesuatu yang dikatakan orang ini salah, tapi aku
benci karena kesimpulannya selalu benar.
Sama seperti
Dotta. Jika salah satu saja salah, aku ingin dia konsisten salah dalam segala
hal.
『Sekarang, aktifkan Great Wall of the Kingdom.
Seluruh pasukan, mundur!』
◆
Ada dua jalur untuk mendekati 'Lubang Kubur'.
Jalur
dari bawah dengan mendaki lereng.
Dan jalur
dari atas dengan memutar ke punggung bukit lalu menuruni lereng curam dari
puncak gunung.
Tsav,
Dotta, dan Trishill membawa beberapa prajurit untuk menjaga 'jalur dari atas'.
Sisi ini relatif
lebih mudah dijaga. Lerengnya
terlalu curam untuk didekati secara normal. Bahkan Fuua pun terpaksa
menggunakan cara yang membuat mereka terguling jatuh.
Jika itu Fairy
ukuran besar, mereka justru akan meruntuhkan lereng yang memang sudah rapuh.
Ditambah lagi dengan hujan deras ini.
Pihak
penjaga akan membidik musuh yang turun dengan hati-hati, lalu menikam musuh
yang terguling jatuh. Begitulah cara bertarungnya.
(Kalau
aku yang menyerang tempat ini, aku akan menyiapkan korps zeni.)
Itulah
cara yang seharusnya, pikir Tsav.
Memasang
tangga di lereng. Atau membuat mekanisme untuk turun.
Sejajar
dengan itu, menjatuhkan bom dalam jumlah besar untuk mengusir musuh di bawah
lereng sebelum mulai turun.
(Begini
ini membosankan ya──)
Tsav
mengamati mendekatnya musuh dari atas pohon. Satu lagi, kali ini Fairy
jenis Bogart mencoba turun.
Fairy berkaki banyak. Pantas saja,
mereka turun di lereng curam tanpa banyak kesulitan.
Tongkat
petir Tsav memancarkan cahaya dan menembaknya jatuh.
──Tiga
ekor berturut-turut. Dengan gerakan halus, dia mengganti magasin penyimpan
cahaya.
Berikutnya.
Mereka pasti akan mencoba cara lain.
Apa ada
yang lolos dari bidikan di lereng?
Tsav
mencari dengan teliti. Dia pernah bertemu dengan Fairy yang menggunakan
semacam kamuflase warna, dan sejak saat itu dia menjadi sangat berhati-hati.
『B-berikutnya!
Tsav, berikutnya datang!』
Suara Dotta
melalui piringan komunikasi. Apa pria itu masih belum terbiasa menggunakannya?
Dia bersiap di bawah lereng bersama Trishill dan para prajurit.
『Tipe manusia.
Mungkin goblin…… di
atas sana, sedang melakukan sesuatu yang aneh……』
"Hehehehe!
Melakukan sesuatu yang aneh itu apa maksudnya?"
Tsav malah
tertawa.
"Tolong
jelaskan yang benar dong, kalau begitu aku tidak paham sama sekali! Apa itu?
Mereka mulai menyalakan api unggun dan menari? Atau berkelahi sesama
teman?"
『Bukan, tahu! Semacam…… membawa peralatan…… tali? Eh, itu?
Tangga tali……? Sepertinya mereka sedang membuat tangga tali!』
"Heh."
Tsav
sedikit terkejut. Dia bersiul. Melalui lensa tongkat bidiknya, dia memandang ke
arah atas lereng.
"Fairy
yang pintar ya. Apa mereka yang namanya Unit 7110? Itu gawat kalau
begitu."
『Apa
kamu sedang dalam posisi untuk kagum, pembunuh?』
Kali ini
Trishill. Suara yang bercampur kekesalan dan kegelisahan. Dia tipe yang sangat
mudah dibaca, itu membantu. Bukan tipe yang tidak terduga seperti Dotta.
『Cepat bunuh
mereka. Apa tidak bisa membidik dari sana?』
"Yah…… tidak bisa. Mereka mengeluarkan perisai."
Orang-orang di atas lereng itu menjajarkan perisai. Bukan
papan kayu, melainkan sesuatu yang menyerupai ikatan dahan pohon yang tebal.
Untuk tongkat petir, benda semacam itu menjadi dinding
pelindung yang efektif. Mengejutkan melihat Fairy bisa terpikir cara
ini.
"Perisai itu sulit ditembus dengan tongkat bidik, lho.
Mereka pintar juga ya."
『Makanya, ini bukan waktunya untuk kagum! Hei, rubah
gantung, hubungi Xylo! Kalau begini terus──』
『Norunagayu, maaf tapi──』
『Ah! Gawat,
mereka datang! Tsav, mereka datang!』
『──Great
Wall──Mundur──』
『Berisik,
jangan ribut rubah gantung!』
"Ah. Tunggu
sebentar."
Tsav menghentikan
kata-kata wanita itu. Sensasi seperti ada gangguan suara. Bukan dari piringan
komunikasi──ini dari Holy Seal di leher. Suara Xylo dan Norunagayu
saling tumpang tindih.
(Ini artinya.)
Tsav segera
memahami situasi saat ini.
Dia
melilitkan sabuk ke batang pohon, dengan cepat mengamankan tubuhnya.
"Semuanya,
lebih baik kalian tiarap. 'Benda itu' akan datang."
『Eh?
Sudah?』
『Lebih
cepat dari rencana. Ini……!』
Zugu.
『Hieee!』
Guguuu──gagagagagagagagagah.
Gemuruh
suara bumi menggetarkan seluruh gunung. Tanpa melebih-lebihkan, kurasa
dampaknya sebesar itu. Sampai-sampai goblin yang sedang bekerja di atas lereng
semuanya jatuh tersungkur.
Namun,
anomali yang sebenarnya ada di arah 'Lubang Kubur'──lebih tepatnya, seluruh
bagian bawahnya. Lereng gunung mulai runtuh seperti longsoran salju.
Tanah
hancur, bercampur dengan hujan dan lumpur, memicu tanah longsor skala besar.
Hal itu
berantai menjadi aliran puing yang menyapu habis para Fairy yang sedang
menyerbu.
Tsav
melihatnya melalui lensa tongkat bidiknya. Di balik hujan dan kilatan petir.
(Pikirannya hebat juga ya.)
Namanya Fragmentation Seal. Holy Seal yang
meresap ke dalam tanah, menghancurkannya menjadi butiran halus, dan mengubahnya
menjadi kondisi berlumpur.
Benda itu
ditanam di seluruh lereng gunung dan diaktifkan secara serentak. Hasilnya
adalah aliran puing ini. Inilah 'kartu as' yang dipasang Norunagayu.
(Jauh
lebih luas dan kuat dibanding saat di Benteng Myurid.)
Bagaimana
cara membuatnya meresap jauh ke dalam tanah? Norunagayu menyelesaikannya dengan
mekanisme pengeboran semi-otomatis berstruktur spiral, namun Tsav sendiri tidak
terlalu paham cara kerjanya.
Di tengah
para Fairy yang tersapu, ada satu sosok yang sangat mencolok. Zirah
darah yang besarnya hampir sama dengan Fairy ukuran besar.
Itu pasti
Boojum. Dia mengepakkan sayap yang terbentuk dari darah, terbang ke
angkasa──sehingga dia terbebas dari aliran puing.
Ada satu
bayangan yang terbang mengejarnya.
Jubah
merah hitam yang basah kuyup oleh hujan. Itu adalah Xylo Forbartz.
(Bos
serius rupanya.)
Menyelesaikannya
di sini. Itu pasti langkah untuk tujuan itu.
Seharusnya Fragmentation
Seal ini diaktifkan di titik penting besok sesuai rencana.
Pertemuan sesaat.
Pertempuran udara. Melawan Boojum yang memiliki sayap, Xylo terlihat dalam
posisi yang sangat tidak menguntungkan.
Namun, Xylo
menggendong peralatan aneh di punggungnya.
Sesuatu di antara
sayap dan layang-layang──apakah itu Gliding Seal?
Mengubah lintasan
terbang dengan kemiringan tubuh. Dan di tangan Xylo, ada sebuah pedang. Pedang
satu tangan kasar tanpa hiasan apa pun.
(Pedang Suci.)
Boojum
jelas-jelas takut akan hal itu. Gerakan menghindar.
『Tsav.』
Suara Xylo.
『Kamu
melihatnya, kan. Tembak!』
"Hehe──ketahuan
ya?"
Ini juga
merupakan kerja sama yang pernah dilakukan di Benteng Myurid.
"Kalau
begitu, silakan terima ini!"
Kilat tembakan
dari Tsav menembus sayap darah Boojum dan menghancurkannya.
Posisinya
goyah, dan dia tidak bisa menghindar lagi. Lengan dari zirah merah itu
menggapai udara dengan sia-sia.
Pedang
Suci Xylo terhantamkan seolah terhisap ke dalam tubuh itu──bukan.
Sesaat
sebelum itu, zirah darah itu hancur berantakan seperti meledak.
『Sial……!』
Umpatan Xylo.
Darah yang berhamburan menjadi bilah tajam dan menyerangnya, namun lenyap
dengan satu ayunan Pedang Suci.
『Waktu di Kota
Yoaf pun dia bertahan hidup dengan cara ini ya. Boneka…… yang dibuat
dari darah……!』
Xylo yang meluncur kembali ke arah 'Lubang Kubur'.
Tampaknya Boojum yang tadi hanyalah semacam tiruan.
Tidak berhasil dihabisi. Dia lawan yang sangat berhati-hati.
(Kalau begitu……)
Tsav menyisir rambutnya yang basah oleh hujan. Dengan satu
tangan, dia mengikatnya menjadi satu dengan terampil.
(Artinya aku kalah taruhan ya. Perilaku keseharian Bos
memang buruk sih.)
Sepertinya bagian ini dia harus bersemangat. Dia harus melindungi orang-orang
yang tidak tertolong itu.
Di tengah
ketegangan dan antusiasme, Tsav merasakan pipinya melonggar karena tersenyum.
◆
Hasilnya, musuh berhasil dipukul mundur.
Namun, hanya
sebatas itu saja. Aku kalah taruhan. Bisa juga dikatakan aku kalah dalam adu
siasat dengan Boojum.
(Dia
lebih berhati-hati dan gigih dari dugaan.)
Dengan
teliti, dia menghindari risiko bahaya secara langsung.
(Dengan
ini, 'kartu as' Norunagayu juga sudah habis terjual.)
Saat aku
kembali ke 'Lubang Kubur' dengan berlumuran lumpur, yang pertama kali
menyambutku adalah Teoritta.
"Luar biasa…… Ksatria-ku……!"
Sambil terhuyung, dia memelukku──hampir sama saja dengan
jatuh tersungkur. Aku harus menopangnya di saat yang genting.
Wajar saja, dia terlihat menderita tepat setelah memanggil
Pedang Suci.
Dengan ini, selama tiga hari ke depan, Pedang Suci tidak
bisa digunakan.
Mengingat
konsumsi dan kelelahan harian Teoritta selama ini, dia benar-benar harus
berhenti memaksakan diri.
"Sempurna…… ya. Memancing mereka ke sini…… lalu
mengalahkan semuanya sekaligus……!"
Meski
begitu, Teoritta bergumam di sela-sela napasnya yang sesak.
"Sayang
sekali serangan Pedang Suci-nya meleset, tapi ini sesuai rencana. Mereka pasti
sedang gigit jari…… kan, Xylo……! Kita yang melakukannya. Kita yang……!"
Bagian
terakhirnya menjadi gumaman seperti igauan. Memang konsumsinya sangat hebat.
"Ya.
Kita menang. Kita memberikan pukulan telak pada Demon Lord Phenomenon
dan memaku mereka di gunung ini…… jadi tenanglah."
Aku mengelus
kepala Teoritta yang bergumam penuh semangat. Dengan tangan yang penuh lumpur.
Niatku tadinya
ingin menjahilinya, tapi sepertinya Teoritta tidak menanggapinya begitu.
"Fufu."
Dengan senyum
lebar di wajahnya yang pucat, Teoritta memercikkan api di ujung rambutnya.
"Tentu saja, tentu saja…… Apa kamu terkejut karena aku
adalah Goddess yang sangat agung?"
"Ya. Aku
terkejut. Tapi, mulai sekarang keadaan akan jadi sedikit lebih berat. Termasuk
bagimu."
Aku berlutut.
Menatap Teoritta tepat dari depan. Mata yang bagaikan api.
"Bisa
melakukannya?"
"……Iya."
Teoritta
mencengkeram bahuku. Ini adalah hal yang diputuskan setelah didiskusikan
bersama. Teoritta akan memikul peran yang sangat berat.
Mulai sekarang,
dan seterusnya.
"Aku bisa. Jika……
itu demi melindungi semua orang."
Kartu as sudah habis digunakan, dan pertahanan di luar sudah
tidak ada lagi. Musuh akan merangsek masuk ke dalam 'Lubang Kubur' ini.
"Ksatria-ku. Kamu bilang ada peluang menang, kan. Ada cara agar kita bisa
pulang hidup-hidup bersama semuanya. Aku percaya."
"Ya──jujur saja, kita memang akan menang, tapi
setelahnya itu yang merepotkan. Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya."
Saat bantuan tidak kunjung datang, dan saat 'kartu as' sudah
habis.
Untuk saat-saat
seperti itulah, ada cara terakhir yang telah disiapkan.
Ini sama sekali
bukan cara untuk memusnahkan musuh.
Menggunakan cara
ini mungkin justru akan membuat keadaan jadi lebih merepotkan.
Dan belum
tentu akan berhasil dengan pasti.
Meski begitu,
jika ada kemungkinan bagi kami untuk bertahan hidup, hanya ini pilihannya.
(Musuh juga
mulai terjebak dalam rencana ini.)
'Kartu as' pihak
sini sudah terlihat, dan Pedang Suci sudah tidak bisa digunakan lagi.
Hal itu pasti
sudah jelas di mata musuh. Justru karena itulah cara ini akan manjur.
Ini adalah hal
yang kuputuskan setelah memikirkannya berkali-kali. Aku meyakinkan diriku
sendiri akan hal itu.
"Masih ada
poin di mana kita lebih unggul dari musuh. Dibandingkan tujuan mereka yang
sudah jelas, tujuan kita yang sebenarnya masih belum ketahuan."
"Tujuan
kita. Xylo, beri tahu aku──apa yang berniat kamu lakukan?"
"Akan
kujelaskan sekarang. Semacam tipuan atau penipuan yang cukup berisiko.
Sebenarnya aku ingin Vanetim yang melakukannya, tapi──"
Aku sedikit ragu.
Apa aku bisa melakukannya sebagai ganti Vanetim yang sepertinya kebangkitannya
tidak akan sempat?
Di saat seperti
ini, kesimpulannya selalu sama. Akhirnya, aku harus melakukannya.
"Dalam
bentuk apa pun, kita pasti akan menang dan pulang hidup-hidup. Apa kamu mau
memberiku berkat, Teoritta?"
"Iya. Tentu
saja."
Teoritta
tersenyum dengan sangat bahagia dari lubuk hatinya.
"Berkat
dari Goddess yang agung, akan kuberikan sebanyak mungkin! Akan kuberikan kepada kalian semua!"
Jika ada itu,
kami bisa bertarung. Pasti akan berhasil. Kami harus percaya begitu.
'Ruang
Persemayaman' di bagian terdalam 'Lubang Kubur' kini menjadi ruang takhta bagi
Norunagayu.
Atau lebih
tepatnya, sebuah 'bengkel'. Beberapa orang yang terluka dan tidak bisa
bertarung sedang membantu pekerjaan Norunagayu.
Mereka adalah
orang-orang dengan luka terlalu besar yang tidak bisa disembuhkan sepenuhnya
bahkan dengan Holy Seal medis.
Duduk di atas
takhta yang diberi hiasan dan ukiran mewah secara berlebihan, Norunagayu
mencurahkan tenaganya untuk bekerja hampir tanpa tidur. Takhta dan meja untuk
pemrosesan Holy Seal memang perpaduan yang aneh, tapi entah kenapa
sangat cocok untuk pria ini.
"Efek
dari Fragmentation Seal tadi biasa saja ya."
Saat aku
melangkah masuk ke bengkel, Norunagayu berkata demikian.
"Jika
penempatannya sedikit lebih kreatif, kekuatannya seharusnya bisa bertambah dua
puluh persen…… perlu ada
perbaikan."
Meski itu
Norunagayu, wajahnya tetap menunjukkan kelelahan. Padahal begitu, matanya tetap
berkilat saat tenggelam dalam pekerjaannya, membuat penampilannya jadi agak
sulit didekati.
"Panglima Xylo.
Berapa lama waktu yang tersisa sebelum musuh menyerbu ke sini?"
"Paling
cepat tengah malam. Paling lambat saat fajar besok. Karena jalannya sudah
kuhancurkan, mereka pasti butuh waktu sedikit."
"Fumu. Kalau
begitu, mungkin akan sempat."
"Apa lagi,
senjata rahasia baru?"
"Sifatnya
sedikit berbeda dengan senjata untuk menyerang. Aku kepikiran saat melihat musuh. Ada sesuatu yang
ingin kucoba."
Bagaimana isi
kepala Norunagayu ini sebenarnya?
Dia menerapkan
apa pun yang terlihat berguna ke dalam Holy Seal.
Benar-benar orang
ini, jika tidak ada pertempuran melawan Demon Lord Phenomenon──seandainya
dia tidak menganggap dirinya sebagai raja, mungkin dia sudah menjadi penemu
besar yang bersejarah.
"Yang
Mulia──mohon maaf sebelumnya. Bagaimana kalau Anda tidur siang sebentar, atau
jalan-jalan di luar?"
Tanpa sadar, aku
mengatakan hal itu.
"Mumpung
masih bisa menghirup udara luar sebentar. Kalau terus di sini, Anda akan sesak
napas, kan."
"Akhirnya
kamu mulai mengerti juga ya. Tidak, atau haruskah kubilang kamu baru ingat?
Dalam dirimu tercampur bagian yang sudah terbiasa dan bagian yang belum.
Seolah-olah ada kerusakan dalam ingatanmu."
Mungkin saja
begitu. Sejak aku menjadi Komandan Ksatria Suci, ada hal-hal yang telah hilang.
Hal yang telah
kulupakan. Aku penasaran apa itu menurut pandangan Norunagayu.
"……Baru
ingat apa maksudmu?"
"Cara
menaikkan moral."
Norunagayu
menjawab singkat, lalu meniup pelat besi berukir. Bubuk beterbangan.
"Ada banyak
orang yang senang diperlakukan seperti kawan seperjuangan olehmu. Sadarilah
itu. Dan manfaatkanlah."
Mungkin hanya
ilusi, tapi aku merasa ada rasa pahit di dalam mulutku.
"……Maksudmu,
manfaatkanlah untuk menyeret orang lain ke neraka?"
"Ada orang
yang memilih jalan itu dengan sukarela. Tidak banyak, tapi juga tidak sedikit.
Jangan menutupi hal itu dengan kata-kata sinis."
"Kamu
sendiri yang punya bakat menghasut orang lain."
"Benar. Yang
ada padaku adalah bakat sebagai raja."
Bibir Norunagayu
melonggar. Apa dia tersenyum? Ditambah dengan wajahnya yang kuyu, itu juga
terlihat seperti senyum yang mengerikan.
"Sebagai
gantinya, aku tidak akan memegang pedang untuk bertarung. Jika terjadi sesuatu,
lindungilah aku meski harus mempertaruhkan nyawa. Sampaikan juga dengan tegas
kepada semua orang. Sepertinya terlalu banyak orang yang tidak memiliki rasa
hormat padaku."
"Aku
tahu."
Semua
orang hebat itu memang seenaknya sendiri.
Teoritta
begitu, Norunagayu juga begitu.
Mereka
bertindak nekat──jika kami orang-orang rendahan yang tidak hebat ini tidak
bertindak nekat dalam kadar yang sama, semuanya tidak akan seimbang.
Jangan-jangan
memang itu tujuannya, pikirku.



Post a Comment