NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 7 Chapter 18

Hukuman

Pencegahan Pembunuhan Lyuphen Kaulon – Akhir


Sepertinya serangan ke Ryufen telah dipersiapkan dengan sangat matang.

Ryufen belum pernah melihat kawanan Fairy yang terorganisir sedemikian rupa. Namun, dia sempat mendengar rumor selentingan; tentang unit sabotase Fairy yang muncul di sekitar Bloc Noumea.

Di stasiun, seharusnya ada dua ratus prajurit yang berjaga, tapi mereka semua telah dibantai. Ketepatan serangan mereka sungguh mengerikan. Fakta bahwa tidak ada manusia yang tercampur di antara para penyerang juga merupakan hal yang luar biasa.

Di tengah hujan yang kembali menderas, Ryufen dan yang lainnya berlari dalam keadaan basah kuyup.

(Situasinya jauh lebih buruk dari yang kukira.)

Piringan komunikasi tidak berfungsi, tidak bisa terhubung ke mana pun.

Sepertinya ada metode tertentu yang mengganggu sinyalnya.

Akibatnya, mereka tidak bisa menghubungi unit yang seharusnya bermarkas di sekitar sini. Mereka terisolasi.

Ryufen sendiri tidak terlalu percaya diri dalam bertarung, dan pria bernama Vanetim itu tanpa ragu menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak berguna dalam pertempuran.

Sementara itu, Jiaosu hampir dalam kondisi koma. Luka-lukanya memang sudah menutup berkat pemberian Sprite, tapi menggerakkan tubuhnya adalah hal yang harus dihindari.

Pada akhirnya, mereka harus bergantung pada Nivrenne, sang Goddess kekuatan. Demi menembus kepungan Fairy, dia terus bertarung sekuat tenaga.

"Ayo, berangkat!"

Bersamaan dengan seruannya, Nivrenne melompat. Lumpur terpercik di bawah kakinya.

Itu adalah lompatan yang kuat, seperti digerakkan oleh pegas. Tujuannya adalah kawanan Fairy. Nivrenne menerjang tepat ke tengah-tengah mereka dan menghantamkan tinju yang telah diayunkan.

Satu musuh di depannya langsung hancur berkeping-keping hanya dengan satu pukulan.

Tinju Nivrenne tidaklah lebih besar dari manusia biasa, dan lengannya tampak ramping layaknya gadis remaja.

Meski begitu, serangannya istimewa. Goddess Nivrenne memanggil "Kekuatan" murni itu sendiri. Dengan menyelaraskannya pada pukulannya, dia mampu menciptakan serangan yang destruktif.

Faktanya, metode ini bisa menekan konsumsi energi seminimal mungkin, dan juga bisa digunakan untuk pertahanan.

Nivrenne bahkan mempelajari teknik bela diri demi memaksimalkan cara bertarung seperti itu.

"Nah, ini yang terakhir! Ryufen!"

Sambil menendang hancur musuh terakhir, Nivrenne berteriak.

"Bagus, ayo terjang!"

"Dimengerti. Vanetim-san, tolong pegangi Jiaosu. Aku mengandalkanmu!"

"Eh? Ah, iya."

Mendengar suara Vanetim yang agak kurang meyakinkan di belakangnya, Ryufen mencambuk kudanya. Itu adalah kereta kuda tipe Holy Seal.

Model terbaru yang disiapkan di stasiun; sebuah mahakarya yang dibantu Holy Seal sehingga seekor kuda mampu menarik kereta berkapasitas empat orang.

Kereta ini dirancang untuk memperlancar suplai ke wilayah utara, sehingga memiliki sedikit zirah dan persenjataan. Meski desainnya agak terganggu oleh lambang besar Perusahaan Varkul yang terpasang di sana.

"Nivrenne, naik!"

"Nn."

Nivrenne mengangguk singkat dan melompat naik ke kereta. Kereta segera melaju cepat──menuju arah barat laut melalui jalan lama yang tidak terawat.

Mereka tidak bisa melarikan diri ke arah Bloc Noumea karena kepungan di sana terlalu rapat. Ryufen merasa mereka sengaja digiring untuk lari ke arah ini, tapi tidak ada pilihan lain.

(Sudah lebih dari setengah hari kami terus melarikan diri sejak saat itu. Tidak, apa sudah lebih lama lagi……?)

Dalam cuaca hujan begini, posisi matahari tidak terlihat jelas. Kepalanya mulai tidak bisa bekerja dengan baik karena kelelahan.

(Gawat.)

Ryufen merasa cemas. Karena mereka menggunakan kereta kuda, jalur pelarian mereka menjadi sangat terbatas. Pasti ada jebakan lain yang menunggu di depan.

"Aduh, bagaimana ya……"

"Tenang saja. Kan ada aku."

Sepertinya Ryufen tidak sengaja bergumam, karena Nivrenne langsung tersenyum. Itu adalah senyum yang sangat ceria.

"Makhluk seperti itu, biarpun ada ratusan pun bukan tandingan! Ryufen boleh tidur di situ, kok."

"Terima kasih. Itu sangat membesarkan hati."

Namun, Ryufen tidak bisa bersikap optimis.

Jika itu Nivrenne, memang benar sepuluh atau dua puluh Fairy kecil seperti Knocker bukan masalah baginya. Tapi bagaimana jika seribu atau dua ribu? Musuh ini sedang mengincar terkurasnya tenaga Nivrenne.

"Hei, Vanetim-san."

Ryufen memanggil satu-satunya variabel tak tentu dalam situasi ini.

"Apa kamu punya ide bagus? Kalau begini terus kita gawat. Kita sedang digiring ke utara."

"Haa."

Sejujurnya, Ryufen tidak mengharapkan jawaban yang bermutu.

Pria yang seharusnya menjadi komandan Prajurit Hukuman ini sudah kacau sejak awal mereka bertemu. Bayangkan saja, kata-kata pertamanya adalah 'Tolong bantu saya'.

Kemampuan tempurnya nol, dan ketika diminta saran, dia tidak memberikan apa-apa.

Bahkan, dia sempat merencanakan pembunuhan palsu atas dirinya sendiri, yang gagal sebelum rencana pembunuhan aslinya dimulai.

(Benar-benar melakukan hal yang gila ya.)

Dalam artian tertentu, dia memang rekan yang cocok bagi Xylo. Sifatnya berada di luar dimensi masalah percaya atau tidak percaya.

──Namun, pada saat ini, jawaban Vanetim benar-benar di luar dugaan Ryufen.

"Yah, kalau terus maju sepertinya akan baik-baik saja. Saya sudah menyiapkan langkah-langkahnya."

"Eh, benarkah?"

Cara bicaranya terdengar seperti seorang penasihat yang sangat kompeten. Ryufen sungguh terkejut.

"Itu artinya, ada bala bantuan?"

"Iya. Bala bantuan. Saya sudah mengatur dua pihak."

Vanetim tampak sangat tenang. Mungkin dia memiliki nyali yang besar.

"Salah satunya adalah kartu as terkuat yang paling saya andalkan."

"Eh…… anu, tidak. Aku tidak paham arah bicaranya, itu maksudnya──"

"Ryufen!"

Suara Nivrenne terdengar bersemangat. Dia menjulurkan tubuh dari kereta sambil menunjuk ke arah depan.

"Ada yang besar. Itu Troll!"

Sesosok raksasa menghalangi jalan.

Sepertinya itu adalah individu Knocker yang infeksinya bertambah parah hingga berukuran raksasa.

Makhluk itu membawa kawanan Fairy bertubuh keras seperti Knocker dan Cobran.

Mereka benar-benar telah dihadang. Musuh pasti berniat menangkap mereka di sini.

"Kita digerakkan sesuai keinginan mereka, ya."

Meski begitu, Ryufen terpaksa menghentikan keretanya.

Tanah yang becek memercikkan lumpur akibat hujan beberapa hari terakhir.

Kuda meringkik, dan terdengar suara Vanetim yang kepalanya terbentur sesuatu.

(Tenang──apa bisa ditembus?)

Ryufen menghitung jumlah musuh. Memperkirakan kekuatan musuh adalah kemampuan dasar yang wajib dimiliki seorang perwira.

Satu Troll raksasa. Knocker dan Cobran totalnya mungkin sekitar seratus. Semuanya memegang senjata. Dan itu bukan tombak atau pedang, melainkan tongkat petir.

(Benar-benar mimpi buruk.)

Ryufen merogoh bagian dalam jubahnya. Dia juga membawa tongkat petir. Itu adalah model terbaru yang dibawakan oleh Nivrenne.

Akurasi tembakannya cukup tinggi bahkan untuk orang seperti Ryufen. Meski dia ragu seberapa efektif senjata itu nantinya.

"……Wah wah…… mengejutkan sekali. Kamu ceroboh ya, Ryufen Cauldron."

Tiba-tiba, terdengar suara yang menyapa mereka.

Bagi Ryufen, itu adalah hal yang paling mengejutkan. Di tengah gerombolan musuh, salah satu Knocker berbicara dengan bahasa manusia yang jelas.

Knocker yang bicara. Atau, apakah itu Demon Lord Phenomenon yang sangat mirip dengan Fairy?

Jika dilihat teliti, lengannya jauh lebih panjang dan besar dibanding Knocker biasa, bahkan memiliki ekor.

"Tidak sangka, kamu keluar tanpa pengawalan yang memadai," ucap Knocker yang bicara itu sambil menggelengkan kepala.

"Sama sekali tidak terlihat seperti orang terpenting di Kerajaan Serikat."

"Itu sanjungan yang berlebihan."

Ryufen memutuskan untuk meladeni percakapan itu. Siapa sebenarnya musuh ini? Dia merasa harus tahu demi berjaga-jaga jika mereka selamat. Memang begitulah cara kerja otak Ryufen.

"Siapa kamu? Apa jangan-jangan kamu adalah dalang dari Demon Lord Phenomenon?"

"Suatu kehormatan, tapi itu terlalu berlebihan. Aku ini Fairy…… hanya Fairy biasa."

Knocker yang bicara itu tertawa rendah. Sepertinya dia juga mengerti lelucon. Melihat Knocker di sekitarnya juga ikut tertawa, berarti mereka semua berada pada tingkat kecerdasan yang sama.

"Aku Nanatsume (Si Mata Tujuh). Tidak punya nama. Tapi, tergantung hasil pekerjaan kali ini…… mungkin aku bisa dapat nama. Lebih cepat dari Kakak Yotsume (Si Mata Empat)…… fufu. Untuk pendatang baru, ini prestasi besar, kan……"

Fairy Knocker itu menjulurkan satu tangannya dengan santai. Sebuah tongkat petir tergenggam di sana.

"Tentu saja kalau aku berhasil membunuhmu."

Tongkat petir itu aktif──namun, kilatnya meleset sebelum mengenai Ryufen.

"Mana mungkin aku membiarkan hal itu terjadi!"

Nivrenne sedang melompat tinggi. Apa yang dia panggil adalah "Kekuatan" yang tidak terlihat.

Dia mampu menggerakkan benda tanpa menyentuhnya, atau memperkuat sesuatu──dan membelokkan anak panah yang meluncur. Bahkan terhadap kilat pun, "Kekuatan" itu mampu menjangkaunya.

Dalam kondisi prima, tidak ada yang bisa melukai Nivrenne secara fisik.

(Dia tidak terkalahkan. Ya, dia sendiri.)

Musuh mulai bergerak serempak. Mereka mengepung kereta dan melepaskan tembakan tongkat petir.

Zirah kereta mengeluarkan suara tajam saat terkena kilat. Retakan mulai muncul. Nivrenne merentangkan kedua tangannya.

"Berhenti! Apa-apaan kalian, curang sekali! Ryufen itu kan lemah……!"

"Jangan, Nivrenne!"

Ryufen berteriak, tapi terlambat.

Gadis itu menepukkan kedua tangannya yang terentang di depan wajah. Suara tepukan kering terdengar nyaring.

Percikan api muncul di udara kosong, dan "Kekuatan" yang dipanggil mulai memancar.

Kekuatan itu mengempaskan butiran hujan yang turun dan menyapu bersih kepungan Fairy. Seolah-olah ada raksasa tak kasat mata yang mengayunkan lengannya secara sembarangan.

"Datanglah sebanyak apa pun. Aku yang akan jadi lawan kalian!"

Sambil mendeklarasikannya dengan lantang, Nivrenne sebenarnya sedang berlagak kuat. Memberikan efek "Kekuatan" pada jangkauan seluas ini memberikan beban yang cukup besar baginya.

Apalagi, dia sudah terus-menerus menggunakan kekuatan pemanggilannya sejak beberapa jam yang lalu.

"Sebab aku ini tidak terkalahkan, tahu."

"Ooh, takutnya."

Fairy yang mengaku bernama Nanatsume itu mengangkat bahu.

Seolah itu adalah aba-aba, Troll mulai bergerak. Bumi bergetar. Nivrenne memasang kuda-kuda rendah. Itu adalah teknik bela diri unik yang dia gunakan. Bahkan melawan Troll pun, dia bisa membereskannya dalam hitungan detik.

(Tapi, setelah itu?)

Musuh terlalu banyak. Kepungan mereka semakin menebal. Bukan lagi ratusan, jumlah mereka yang berkumpul mulai mencapai ribuan.

Sambil diserang rasa cemas, Ryufen mengambil tongkat petirnya. Akhirnya, hanya ini yang tersisa. Musuh tadi bilang target utamanya adalah dirinya.

(Umpan. Aku? Apa akan berfungsi……)

Pokoknya, dia harus mencoba. Ryufen memantapkan hatinya.

"Vanetim-san, apa kamu bisa menembak dengan tongkat petir?"

"Lebih baik jangan."

Vanetim menggelengkan kepala dengan wajah yang sangat tenang.

"Jika seandainya tidak sengaja mengenai Nona Nivrenne, itu akan gawat. Lagipula saya tidak tahu cara mengganti magasinnya."

"Anu…… levelmu cuma sampai di situ? Padahal kamu tentara dan komandan, kan, setidaknya."

"Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing."

"Tinggal tembak pakai pelatuk ini. Tarik bagian ini, buka, lalu ganti! Kamu urus musuh dari samping dulu──oh?"

Saat tanpa sengaja menunjuk ke arah samping, arah timur, Ryufen mengernyitkan dahi.

"Apa itu?"

Ryufen merasa dataran di timur bergetar. Sesuatu sedang datang.

Apa Fairy musuh yang baru──bukan. Itu suara derap kaki kuda.

Terdengar juga teriakan, suara terompet tanduk, dan lonceng.

Itu adalah segerombolan orang yang menunggang kuda.

Beberapa orang Puluhan, Ratusan Atau mungkin lebih banyak lagi?

Terlihat jelas kegelisahan melanda para Fairy. Sesuatu yang tak terduga oleh mereka pun sedang datang.

Pasukan itu menyerang kawanan Fairy dari arah samping.

Kilat menyambar berturut-turut, dan sesuatu meledak dengan sangat terang di tengah gerombolan musuh.

Itu adalah Explosion Seal. Apa itu model terbaru dari Zatte Finde?

"Sial. Apa-apaan, sudah ada bala bantuan ya. Padahal baru mau masuk bagian serunya……!"

Nanatsume mengumpat dan mengayunkan satu tangannya di atas kepala. Sepertinya dia sudah dilatih agar bisa memberikan instruksi melalui gestur seperti itu.

"Panggil makhluk-makhluk besar! Hubungi Ichitsume (Si Mata Satu), ada pengganggu datang!"

Benturan terjadi. Pertempuran sengit yang singkat. Namun, itu pun tidak akan bertahan lama. Para Fairy mulai kocar-kacir.

"Apa-apaan itu……"

Ryufen justru fokus pada persenjataan kelompok baru tersebut. Tongkat petir model terbaru──bahkan lebih baru lagi.

Mereka bahkan dilengkapi dengan tongkat petir serbu tipe otomatis yang seharusnya masih dalam tahap prototipe.

"Vanetim-san, apa itu 'bala bantuan'-mu?"

"Eh? Ah, bukan…… itu adalah……"

Vanetim tampak benar-benar terkejut. Sepertinya itu bukan bala bantuan yang dia siapkan.

"Mana mungkin. Gawat juga ya. Itu bukan bala bantuan yang saya panggil…… sepertinya, itu adalah pengejarku."

Di tengah hujan, sebuah panji berkibar. Seekor burung hantu yang menggigit bunga.

(Aku pernah melihatnya. Bukankah itu lambang Perusahaan Varkul?)

Pasukan itu mengoyak satu sisi gerombolan Fairy, menembus kepungan, dan dalam sekejap mencapai kereta Ryufen.

Vanetim tampak sangat ketakutan melihat mereka.

"Maaf, saya akan mengungsi sebentar──aaah."

"……Vanetim! Kurang ajar!"

Seseorang mencengkeram kerah baju Vanetim yang hendak bersembunyi di dalam kereta. Lalu orang itu membentak.

"Jangan kabur, dasar sampah!"

Dia adalah ksatria berkuda yang berhasil menembus kepungan. Seorang pria yang mengenakan jubah ungu cerah.

Rambut perak yang tertata rapi. Ryufen merasa dia sedikit mirip dengan Vanetim──tunggu.

Ryufen mengenal sosok ini. Tidak mungkin orang di departemen logistik tidak mengenalnya.

"Phizius Varkul……! Kenapa bisa ada di sini?"

Sosok paling berpengaruh yang digadang-gadang sebagai penerus Perusahaan Varkul──sosok itu sedang mencengkeram kerah baju Vanetim dan mengguncangnya dengan keras.

Dia bahkan tidak melihat Ryufen. Dia tampak sangat murka.

"Apa yang kamu pikirkan? Ah, kamu memang tidak pernah berpikir apa-apa, ya! Bagaimana bisa kamu menyebarkan kebohongan seperti itu! Seberapa banyak lagi kamu ingin mencoreng nama keluarga kita baru kamu puas? Jawab sesuatu!"

"M-maaf, Kakak……"

Vanetim mengangkat kedua tangannya seolah mencoba menenangkan kakaknya.

"Leher saya sakit, jadi kalau Kakak bisa…… melepaskan tangannya, saya akan senang……"

"Kamu……! Cuma itu? Hanya itu yang keluar dari mulutmu sebelum meminta maaf!"

"Ah. M-mohon maaf sebesar-besarnya! Saya sangat menyesal karena telah mencoreng nama keluarga!"

"……Mengharapkan permintaan maaf darimu adalah sebuah kesalahan. Kenapa kamu bisa begitu──"

"Daripada itu, Kak. Anu…… apa pengawal Kakak cuma segini saja?"

"Apa?"

Phizius mendongak. Para Fairy di sekitar mereka mulai merapikan barisan kembali.

Pasukan ksatria berkuda yang menerobos tadi pastilah tentara pribadi Perusahaan Varkul. Paling banyak hanya seratus ksatria. Sementara musuh yang mulai berkumpul jumlahnya terus bertambah.

"Sebenarnya kami sedang dalam kesulitan yang luar biasa…… anu, saya akan senang jika Kakak membawa lebih banyak pengawal. Kalau bisa sekitar seribu orang……"

"Apa kamu bodoh. Mana mungkin aku bisa menggerakkan tentara pribadi sebanyak itu secara mendadak."

"Gawat! Kalau begitu Kakak ke sini mau apa! Bukannya kita semua bakal mati?"

"Bukan 'mau apa'! Aku ke sini untuk menangkapmu! Lagipula, apa kamu pikir aku sebodoh itu sampai datang ke sini tanpa rencana? Lihatlah."

Phizius menunjuk ke arah utara dengan dagunya.

Dari sana pun terdengar suara derap kaki kuda. Terlebih lagi, suaranya jauh lebih besar dan mengguncang bumi dibanding pasukan Phizius, seolah-olah gelombang raksasa sedang menerjang. Tampaknya itu adalah pasukan ksatria berkuda.

"Kudengar itu adalah pasukan dari Nophan yang dikirim untuk menyelamatkan Komandan Ksatria Suci Ryufen. Sepertinya pasukan itu disusun dari ksatria berkuda yang gesit. Walaupun mendadak, jumlahnya hampir dua ribu."

"Aaah…… syukurlah……! Ternyata pesannya sampai ke Nophan ya."

Vanetim sepertinya langsung lemas seketika. Dia terduduk lemas di dalam kereta.

"Kira saya bakal mati lagi…… Ternyata Tuan Kafzen benar-benar seorang Komandan Ksatria Suci ya."

"Kafzen?"

"Bukan, lupakan saja. Anggap saja tadi aku tidak bilang apa-apa."

Mendengar nama asing yang diulang oleh Ryufen, Vanetim mendadak tampak ketakutan lagi.

"Aku sama sekali tidak paham maksudnya…… tapi, bagaimana kalian tahu aku sedang diserang? Serangannya terjadi tengah malam…… hebat sekali bisa sampai dari Nophan ke sini tepat waktu."

"Iya. Itu karena sedari awal saya memang sudah menyusun rencana pembunuhan atas diri Anda, Tuan. Saya sudah menyampaikan ke Nophan sebelumnya bahwa kemungkinan besar Anda akan dibunuh."

"O-begitu ya…… Tapi lain kali, tolong jangan buat rencana pembunuhan untukku ya."

"Mohon maaf sebesar-besarnya……"

"Benar sekali. Perbuatan yang bahkan tidak pantas dimaafkan, Komandan Ksatria Suci Ryufen Cauldron."

Berbanding terbalik dengan Vanetim yang menciut, Phizius yang dipanggil 'Kakak' itu menegakkan punggungnya dan menundukkan kepala kepada Ryufen.

"Adikku yang bodoh telah merepotkan Anda. Aku tidak mengharapkan pengampunan, biarkan dia menebusnya dengan cara yang semestinya."

"Eh, tidak usah begitu. Faktanya aku terselamatkan…… atau lebih tepatnya, sekarang bukan saatnya membicarakan itu. Aku juga masih belum terlalu paham situasinya."

Mengabaikan kebingungan Ryufen, teriakan perang membahana.

Gerombolan musuh kembali goyah. Terjangan ksatria berkuda menembus musuh yang hendak membentuk formasi pengepungan. Ryufen juga mengenal wanita yang memimpin di barisan paling depan.

Dia adalah mantan koleganya──yaitu, Patausche Kivia.

"Serbu!"

Bersamaan dengan teriakan itu, suara derap kaki kuda semakin kencang.

Ujung tombak mereka tampak berkilau terkena hujan. Mereka menerjang barisan tempur musuh dengan sangat perkasa.

(Ini pertama kalinya aku melihatnya di medan perang, tapi hebat sekali. Begitu juga para ksatria yang dia pimpin……!)

Keahlian memimpin yang mampu melihat celah di antara gerombolan musuh lalu menerobosnya. Koordinasi yang mampu menyebarkan unit lalu menyatukannya kembali dalam sekejap. Jika dilihat baik-baik, unit yang dia pimpin bukankah personel dari Ksatria Suci Ketiga Belas yang dulu?

(Kudengar dia menarik para tentara bayaran hebat dari utara untuk membentuk unit ini…… memang luar biasa.)

Fairy berukuran besar seperti Troll terlalu lamban untuk bisa menghalangi mereka. Di sisi lain, Fairy berukuran kecil yang mencoba menahan dengan jumlah justru menjadi sasaran empuk. Para Knocker membentuk formasi, namun perisai cahaya mementalkan tombak yang mereka tusukkan. Dan di saat yang sama, mereka terlempar.

Begitu celah terbuka, unit pendukung tinggal memperlebar celah tersebut. Mirip seperti ujung sebuah bor.

"──Kerja bagus, Vanetim."

Patausche yang datang setelah memporak-porandakan kawanan Fairy memberikan pujian tersebut kepada Vanetim.

"Kali ini aku terkesan. Kamu melakukannya dengan baik."

Napas Patausche sedikit terengah-engah. Dia bahkan tersenyum.

"Tidak sangka kamu punya cara seperti ini agar kami bisa berangkat dari Nophan."

"Eh?"

"Kenapa memasang wajah bingung begitu. Jangan pura-pura bodoh."

"Eh, anu……"

"Jika Ryufen Cauldron berada dalam bahaya, seberapa besar pun ego Marcolas Esgain, dia terpaksa mengizinkan pengiriman bala bantuan. Karena kemewahan yang dia nikmati selama ini adalah berkat jerih payah departemen logistik."

Ryufen tidak merasa dirinya adalah orang sepenting itu. Jadi ketika tatapan tertuju padanya, dia hanya bisa tersenyum canggung.

"Artinya──Esgain tidak punya pilihan selain mengizinkan kami berangkat."

Patausche mengibaskan tombaknya, membersihkan darah yang menempel.

"Faktanya, sejak komunikasi dengan stasiun terputus dan beberapa jam kemudian Ryufen Cauldron sendiri dinyatakan hilang, Esgain terpaksa menggerakkan pasukan dan perintah diberikan kepada kami."

"Ah, begitu ya."

Ryufen mulai memahami latar belakang masalahnya. Jika dibilang semacam penipuan, mungkin memang benar begitu.

"Ternyata komunikasinya memang diputus ya."

"Ah. Kalau itu, saya yang melakukannya. Para pembunuh bayaran yang saya sewa ternyata cukup kompeten…… mereka menghancurkan titik komunikasi perantara. Lalu, rumor tentang hilangnya Komandan Ryufen juga……"

"A…… apa katamu?"

Mendengar kata-kata Vanetim, Patausche terbelalak. Ryufen pun tidak kalah terkejut.

"Ternyata ulahmu, kekacauan di titik perantara itu! Aku pikir kamu setidaknya cuma menggiring para Fairy itu, tidak sangka kamu sampai tanganmu sendiri yang melakukan sabotase."

"Habisnya, kalau bisa dihubungi, bala bantuannya tidak akan datang, kan?"

Memang benar. Sepertinya para pembunuh bayaran yang disewa Vanetim sudah sangat berpengalaman. Meski terasa ada yang mengganjal, namun fakta bahwa mereka tertolong adalah benar.

"Apa yang sudah berlalu biarlah berlalu…… tapi, bagaimanapun juga," Patausche berdehem sebelum melanjutkan.

"Dengan ini kita bisa pergi menyelamatkan Pegunungan Kazit. Tentu saja dengan kedok mengawal Komandan Ksatria Suci Ryufen. Pasukan Frensi sudah mulai bergerak ke arah utara. Vanetim, itu memang tujuanmu, kan?"

"……Iya. Tentu saja, memang begitu. Itu tujuanku."

"Ah! Kamu! Jangan-jangan…… kamu sedang berbohong ya! Ternyata sebenarnya beda jauh ya?"

"Sejak dulu dia memang seperti itu. Tidak pernah memikirkan apa-apa. Semuanya cuma kebetulan yang menguntungkan saja."

"Sejak dulu ya…… sebagai kakaknya, aku turut prihatin."

"Begitu juga aku. Sepertinya sampah ini sudah sangat merepotkan kalian ya."

Patausche dan Phizius saling menyahut. Vanetim memasang senyum di wajahnya sambil semakin menciutkan tubuhnya. Saat itulah Ryufen baru menyadari──senyum itu adalah senyum basa-basi.

(Entah kenapa, aku merasa ada kemiripan dengannya.)

Kini, arah pertempuran sudah mulai ditentukan.

Dengan serangan dari samping dan belakang, pasukan Fairy sudah di ambang kehancuran.

Hanya area di sekitar Nanatsume saja yang masih terorganisir. Mereka mengumpulkan Fairy berukuran besar dan mencoba menerjang ke arah sini.

"Troll, lalu kawanan Barguest ya."

Patausche mengernyitkan dahi. Dia mengayunkan tombaknya.

"Lawan yang sulit bagi ksatria berkuda──Siena! Apa bisa menembak jitu?"

"Tidak, tidak perlu."

Vanetim yang menghentikannya. Dia bahkan mengembuskan napas lega.

"Seperti yang saya katakan, saya meminta bala bantuan kepada beberapa pihak, dan bantuan terakhir sudah datang."

"Eh. Beberapa pihak, jadi itu benar?"

Ryufen sungguh terkejut. Dia tidak menyangka pria bernama Vanetim ini bisa berbicara dengan penuh percaya diri.

"Iya. Ini adalah kartu as terkuat yang saya tahu──nah, Tatsuya."

Sambil menempelkan jari pada Holy Seal di lehernya, Vanetim berbisik.

"Bertarunglah seperti seorang pahlawan."

"Apa?" gumam Patausche.

Hampir bersamaan dengan itu, tubuh raksasa Troll mulai miring. Bagian leher ke atasnya meledak hilang. Sesosok bayangan manusia yang aneh layaknya Fairy melesat cepat melewati pandangan. Kecepatannya bagaikan angin puyuh.

Manusia yang membawa kapak perang──bukan, apa dia benar-benar manusia?

Hanya lengan kanannya yang memanjang secara tidak wajar, dan di punggungnya seolah tumbuh sayap.

Dan itu bukan sayap burung, melainkan sayap serangga. Pria yang mengenakan jubah hitam compang-camping itu mengeluarkan teriakan yang aneh.

"Vaaaa."

Kapak perang diayunkan lagi.

"Vauuu──jiiiii!"

Kali ini Troll di sebelahnya terbelah dua. Tidak ada pertahanan yang sempat dilakukan.

"──Iiiiiiiiiruaaaaaaa!"

Raungan membahana. Troll berikutnya tertebas secara diagonal.

Sayap serangga yang tumbuh di punggung pria itu mengepak, menciptakan akselerasi dan daya lompat yang tidak masuk akal.

"Ooh……"

Nivrenne mengeluarkan suara kagum. Meski dia berlagak kuat, sepertinya dia memang sudah sangat lelah.

Dia bersandar pada Ryufen seolah menitipkan punggungnya.

"Hebat juga. Bagaimana cara kerja orang itu?"

Dan para Barguest yang lebih lincah bahkan tidak bisa bergerak sama sekali.

Tembakan artileri yang datang meluncur membuat tubuh mereka meledak dalam sekejap.

Hmm. Bagus juga. Ini zirah artileri pinjaman, tapi akurasinya tidak perlu diragukan……

Terdengar komunikasi melalui Holy Seal. Suara yang terdengar sangat ramah sampai-sampai terasa mencurigakan.

Maaf membuatmu menunggu, Kawan Vanetim. Syukurlah sempat tepat waktu.

Sesosok zirah artileri berwarna abu-abu biru. Sosok itu menembaki para Barguest satu per satu dan meledakkan mereka.

Ini pun merupakan tembakan artileri yang sangat akurat sampai sulit dinalar. Tidak tahu bagaimana cara dia membidiknya.

"Tatsuya. Lalu, Rhyno……!" gumam Patausche.

Dia pernah mendengarnya. Itu adalah nama Prajurit Hukuman.

"Kenapa mereka bisa muncul di tempat seperti ini! Vanetim, apa bala bantuan yang kamu maksud itu mereka?"

"Eh, yah, begitulah…… kurang lebih……"

"Apa kamu bodoh! Kenapa kamu malah memanggil mereka di depan mata banyak orang seperti ini……! Ada perintah untuk menangkap sekaligus mengeksekusi mereka, tahu!"

"Begitu ya. Makanya saya sedang memikirkan cara untuk mengatasinya."

"Bagaimana caranya!"

Patausche menodongkan tombaknya ke depan hidung Vanetim.

Jika dibiarkan, tombak itu sepertinya bisa langsung menembus hidungnya.

Dengan kekuatan lengannya, dia benar-benar bisa menembus tengkorak Vanetim sekaligus.

"Intinya, kita cuma perlu membuktikan kalau mereka berdua itu aman, kan?"

"Makanya, bagaimana cara membuktikannya!"

"Eh? Itu, anu…… kira-kira seperti ini. Kalian berdua, sudah cukup. Silakan berhenti."




Bagi Ryufen, pemandangan itu terlihat seolah-olah mereka patuh pada instruksi Vanetim.

Fairy berukuran besar telah disapu bersih, dan Nanatsume sudah mulai melarikan diri. Sebagai gantinya, sosok pria menyerupai monster yang mendekap kapak perang serta zirah artileri abu-abu biru itu tetap diam di sana──lalu, mereka berlutut. Tepat di hadapan Vanetim. Meskipun dari sudut pandang tertentu, Tatsuya tampak lebih seperti ambruk karena kehabisan tenaga.

"──Terima kasih. Aku berterima kasih dengan tulus, Kawan Vanetim."

Rhyno berucap dengan nada yang dibuat-buat, sangat sopan dan formal.

"Kau percaya pada kami dan menunggu, bukan? Apa kami sempat tepat waktu?"

"Iya. Kalian menjawab ekspektasi saya dengan luar biasa. Selamat atas kerja keras kalian berdua."

Mendengar percakapan itu, kegemparan mulai menjalar di antara para ksatria berkuda yang datang dari Nophan.

"Sudah kuduga──"

Bisik-bisik itu menyebar dengan cepat.

"Ternyata cerita itu benar? Lihat saja. Makhluk seperti itu sudah pasti Demon Lord Phenomenon……!"

"Tidak salah lagi. Monster-monster itu menundukkan kepala mereka."

"N-nah, kan! Apa kubilang? Catatan Libio, Bulanan Dotz, bahkan Jurnal Januly pun menulis hal yang sama! Itu dia, rencana rahasia Perusahaan Varkul yang melegenda itu!"

"Jadi Prajurit Hukuman dipekerjakan sebagai kelinci percobaan untuk eksperimen itu!"

"Mustahil…… Benarkah mereka bekerja sama dengan Galtuille untuk melakukan hal semacam itu……"

Di tengah riuhnya gumaman, satu kalimat terdengar sangat tajam di telinga Ryufen.

"Akhirnya mereka berhasil menciptakan Demon Lord Phenomenon. Fenomena yang tunduk pada manusia!"

(Apa katamu?)

Ryufen menyadari wajahnya kini tampak konyol karena terperangah.

(Menciptakan Demon Lord Phenomenon? Perusahaan Varkul bekerja sama dengan Galtuille?)

Ide itu terdengar sangat tidak masuk akal, tapi apakah rumor seperti itu memang sudah beredar di kalangan prajurit? Nama-nama seperti 'Catatan Libio' atau 'Bulanan Dotz' yang baru saja dia dengar adalah tabloid gosip terkenal yang penuh dengan rumor tak jelas dan teori konspirasi.

(Itu rumor yang konyol. Kalau mereka bisa mengendalikan Demon Lord Phenomenon, mereka pasti sudah melakukannya dari dulu.)

Namun, Ryufen refleks menoleh ke arah Phizius Varkul, kakak Vanetim.

Pria itu berteriak dengan suara menggelegar hingga seluruh tubuhnya gemetar.

"──Itu tidak mungkin!"

Teriakan itu pasti mencapai telinga sebagian besar prajurit. Begitu putus asa suaranya.

"Hal semacam itu tidak mungkin terjadi! Sebagai pewaris utama Perusahaan Varkul, aku, Phizius Varkul, menegaskan hal ini!"

"Kabar bahwa kami menciptakan Demon Lord Phenomenon hanyalah hoax tak berdasar. Terlebih lagi, mengklaim bahwa kami bisa mengendalikannya demi kepentingan pribadi, hal itu──"

"Benar! Itu hal yang mustahil!"

Suara Vanetim menyahut, lebih kuat dan lebih nyaring daripada suara Phizius.

Jika harus mencari kelebihan pria ini──pikir Ryufen──mungkin itu adalah suaranya yang lantang. Sulit dipercaya bahwa dia adalah orang yang sama dengan pria yang baru saja memasang wajah seperti akan mati tadi.

"Mana mungkin Perusahaan Varkul melakukan hal seperti itu! Coba pikirkan pakai logika sehat!"

"Vanetim, kau──"

"Seperti kata Kakak, semua ini bohong! Tolong percayalah padaku! Kedua orang ini, ah bukan, kedua ekor ini pastilah sebuah kesalahan!"

"Hanya sebuah ketidaksengajaan mereka membantu kami secara kebetulan──uwaakh!"

"Berhenti, diam kau!"

Pekikan terakhir Vanetim disebabkan oleh bogem mentah dari Phizius. Perhatian semua orang kini tertuju pada Vanetim yang jatuh tersungkur di atas lumpur, dan keributan pun semakin menjadi-jadi.

(Keadaan jadi semakin gawat saja……)

Industri militer raksasa seperti Perusahaan Varkul memang selalu lekat dengan teori konspirasi. Tidak ada yang benar-benar bisa memercayai mereka. Terlebih lagi jika dibela oleh orang semacam Vanetim.

Dan yang paling krusial, bukti tak terbantahkan ada tepat di depan mata.

Tatsuya dan Rhyno. Fakta bahwa kedua orang yang hanya bisa dianggap sebagai Demon Lord Phenomenon ini tetap berlutut tanpa bergerak sedikit pun di tengah kericuhan, membuat argumen Phizius dan Vanetim terdengar sangat mencurigakan.

Manusia terkadang lebih memercayai apa yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri atau apa yang mereka simpulkan dalam pikiran mereka.

Jauh lebih percaya daripada kata-kata orang asing yang tidak mereka kenal.

Apalagi, perusahaan publik atau instansi pemerintah yang besar selalu menjadi target utama kecurigaan. Terlebih lagi Perusahaan Varkul yang selama ini sudah terlalu sering dicurigai sebagai pedagang senjata yang licik.

"Sialan."

Phizius mengumpat dan mengambil tongkat petirnya. Dia mengarahkan ujung senjata itu ke arah Tatsuya.

Meski begitu, Tatsuya tidak bergerak sedikit pun. Justru lengan Phizius-lah yang gemetar.

"……Sial! Apa-apaan ini! Kenapa jadi begini……!"

Sambil terengah-engah, Phizius menurunkan tongkat petirnya. Dia mungkin menyadari bahwa menembakkan kilat dan membunuh Tatsuya atau Rhyno justru akan memberikan efek sebaliknya.

Monster yang tetap menunjukkan kepatuhan mutlak meski dibunuh. Keberadaan seperti itulah yang justru akan dia buktikan dengan tangannya sendiri.

"Sayang sekali, Kakak," gumam Vanetim dengan nada prihatin.

"Begitu saya membelanya, semuanya berakhir. Tidak ada orang di dunia ini yang bisa memercayai saya saat saya sedang serius."

"……Apakah ini memang rencanamu, Vanetim?"

Patausche bertanya dengan suara rendah, terdengar agak tidak senang.

"Aku sulit percaya kalau kau bisa memikirkan siasat sejauh ini."

"Eh? Iya. Benar. Saya sudah memeras otak saya."

"Lalu kenapa kau berbohong soal hal yang tidak penting begitu! Kalau kebetulan, ya bilang saja kebetulan!"

"Iya, ini kebetulan, maafkan saya! Sebenarnya saya berniat menyebarkan rumor ini perlahan-lahan, tapi tidak sangka hasilnya akan jadi sedramatis ini. Yah…… anggap saja hasilnya bagus……"

Tampaknya Vanetim memiliki koneksi dengan tabloid-tabloid gosip yang asal-usulnya meragukan. Ryufen pun tahu seberapa besar pengaruh media seperti itu. Hal-hal tersebut telah menjadi hiburan besar bagi para bintara dan prajurit rendahan, dan sering kali jauh lebih sulit diabaikan daripada koran resmi atau pengumuman pemerintah.

"Tapi, tidak sangka aku akan sangat dibenci oleh Kak Phizius…… Sepertinya masa depanku bakal menakutkan nih……"

"Ternyata kau masih punya perasaan takut seperti manusia biasa ya."

"Haha. Untuk saat ini, masih. Entah bagaimana nanti…… mungkin……"

Vanetim tertawa tipis. Antara kepasrahan atau sekadar berlagak kuat, Ryufen tidak bisa membedakannya. Atau mungkin bukan keduanya.

"Nah──Komandan Ksatria Suci Ryufen. Bisakah saya meminta bantuan?"

"Apa yang kau ingin aku lakukan?"

"Bala bantuan. Kita harus menolong Xylo-kun. Sepertinya sesuatu yang besar sedang terjadi di Pegunungan Kazit sekarang."

"Ya. Aku tahu betul."

Tanpa diperintah pun, itu memang niatnya. Mengumpulkan logistik dan mengirimnya ke utara adalah alasan dia berada di sini. Menggerakkan pasukan dengan dalih 'Transportasi Logistik'. Itulah rencananya.

Namun sekarang, dengan bala bantuan yang tak terduga, kesiapan mereka sudah jauh lebih dari cukup.

"Aku punya utang budi yang cukup besar pada Xylo. Sesekali aku harus membayarnya."

Ryufen menatap langit utara. Awan hitam yang mengisyaratkan hujan yang lebih deras mulai menyelimuti Pegunungan Kazit.

"Semoga saja sempat."

Ryufen bertanya-tanya, sudah berapa tahun berlalu sejak terakhir kali dia bertukar kata dengan Xylo Forbartz.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close