Hukuman
Pencegahan Pembunuhan Lyuphen Kaulon – Akhir
Sepertinya
serangan ke Ryufen telah dipersiapkan dengan sangat matang.
Ryufen
belum pernah melihat kawanan Fairy yang terorganisir sedemikian rupa.
Namun, dia sempat mendengar rumor selentingan; tentang unit sabotase Fairy
yang muncul di sekitar Bloc Noumea.
Di
stasiun, seharusnya ada dua ratus prajurit yang berjaga, tapi mereka semua
telah dibantai. Ketepatan serangan mereka sungguh mengerikan. Fakta bahwa tidak
ada manusia yang tercampur di antara para penyerang juga merupakan hal yang
luar biasa.
Di tengah
hujan yang kembali menderas, Ryufen dan yang lainnya berlari dalam keadaan
basah kuyup.
(Situasinya
jauh lebih buruk dari yang kukira.)
Piringan
komunikasi tidak berfungsi, tidak bisa terhubung ke mana pun.
Sepertinya
ada metode tertentu yang mengganggu sinyalnya.
Akibatnya,
mereka tidak bisa menghubungi unit yang seharusnya bermarkas di sekitar sini.
Mereka terisolasi.
Ryufen
sendiri tidak terlalu percaya diri dalam bertarung, dan pria bernama Vanetim
itu tanpa ragu menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak berguna dalam
pertempuran.
Sementara itu,
Jiaosu hampir dalam kondisi koma. Luka-lukanya memang sudah menutup berkat
pemberian Sprite, tapi menggerakkan tubuhnya adalah hal yang harus dihindari.
Pada akhirnya,
mereka harus bergantung pada Nivrenne, sang Goddess kekuatan. Demi
menembus kepungan Fairy, dia terus bertarung sekuat tenaga.
"Ayo,
berangkat!"
Bersamaan
dengan seruannya, Nivrenne melompat. Lumpur terpercik di bawah kakinya.
Itu
adalah lompatan yang kuat, seperti digerakkan oleh pegas. Tujuannya adalah
kawanan Fairy. Nivrenne menerjang tepat ke tengah-tengah mereka dan
menghantamkan tinju yang telah diayunkan.
Satu
musuh di depannya langsung hancur berkeping-keping hanya dengan satu pukulan.
Tinju
Nivrenne tidaklah lebih besar dari manusia biasa, dan lengannya tampak ramping
layaknya gadis remaja.
Meski
begitu, serangannya istimewa. Goddess Nivrenne memanggil
"Kekuatan" murni itu sendiri. Dengan menyelaraskannya pada
pukulannya, dia mampu menciptakan serangan yang destruktif.
Faktanya,
metode ini bisa menekan konsumsi energi seminimal mungkin, dan juga bisa
digunakan untuk pertahanan.
Nivrenne
bahkan mempelajari teknik bela diri demi memaksimalkan cara bertarung seperti
itu.
"Nah,
ini yang terakhir! Ryufen!"
Sambil
menendang hancur musuh terakhir, Nivrenne berteriak.
"Bagus,
ayo terjang!"
"Dimengerti.
Vanetim-san, tolong pegangi Jiaosu. Aku mengandalkanmu!"
"Eh?
Ah, iya."
Mendengar
suara Vanetim yang agak kurang meyakinkan di belakangnya, Ryufen mencambuk
kudanya. Itu adalah kereta kuda tipe Holy Seal.
Model
terbaru yang disiapkan di stasiun; sebuah mahakarya yang dibantu Holy Seal
sehingga seekor kuda mampu menarik kereta berkapasitas empat orang.
Kereta
ini dirancang untuk memperlancar suplai ke wilayah utara, sehingga memiliki
sedikit zirah dan persenjataan. Meski desainnya agak terganggu oleh lambang
besar Perusahaan Varkul yang terpasang di sana.
"Nivrenne,
naik!"
"Nn."
Nivrenne
mengangguk singkat dan melompat naik ke kereta. Kereta segera melaju
cepat──menuju arah barat laut melalui jalan lama yang tidak terawat.
Mereka tidak bisa
melarikan diri ke arah Bloc Noumea karena kepungan di sana terlalu rapat.
Ryufen merasa mereka sengaja digiring untuk lari ke arah ini, tapi tidak ada
pilihan lain.
(Sudah lebih
dari setengah hari kami terus melarikan diri sejak saat itu. Tidak, apa sudah
lebih lama lagi……?)
Dalam cuaca hujan
begini, posisi matahari tidak terlihat jelas. Kepalanya mulai tidak bisa
bekerja dengan baik karena kelelahan.
(Gawat.)
Ryufen merasa
cemas. Karena mereka menggunakan kereta kuda, jalur pelarian mereka menjadi
sangat terbatas. Pasti ada jebakan lain yang menunggu di depan.
"Aduh,
bagaimana ya……"
"Tenang
saja. Kan ada aku."
Sepertinya
Ryufen tidak sengaja bergumam, karena Nivrenne langsung tersenyum. Itu adalah
senyum yang sangat ceria.
"Makhluk
seperti itu, biarpun ada ratusan pun bukan tandingan! Ryufen boleh tidur di
situ, kok."
"Terima
kasih. Itu sangat membesarkan hati."
Namun,
Ryufen tidak bisa bersikap optimis.
Jika itu
Nivrenne, memang benar sepuluh atau dua puluh Fairy kecil seperti
Knocker bukan masalah baginya. Tapi bagaimana jika seribu atau dua ribu? Musuh
ini sedang mengincar terkurasnya tenaga Nivrenne.
"Hei,
Vanetim-san."
Ryufen
memanggil satu-satunya variabel tak tentu dalam situasi ini.
"Apa kamu
punya ide bagus? Kalau begini terus kita gawat. Kita sedang digiring ke utara."
"Haa."
Sejujurnya,
Ryufen tidak mengharapkan jawaban yang bermutu.
Pria yang
seharusnya menjadi komandan Prajurit Hukuman ini sudah kacau sejak awal mereka
bertemu. Bayangkan saja,
kata-kata pertamanya adalah 'Tolong bantu saya'.
Kemampuan
tempurnya nol, dan ketika diminta saran, dia tidak memberikan apa-apa.
Bahkan, dia
sempat merencanakan pembunuhan palsu atas dirinya sendiri, yang gagal sebelum
rencana pembunuhan aslinya dimulai.
(Benar-benar
melakukan hal yang gila ya.)
Dalam
artian tertentu, dia memang rekan yang cocok bagi Xylo. Sifatnya berada di luar
dimensi masalah percaya atau tidak percaya.
──Namun,
pada saat ini, jawaban Vanetim benar-benar di luar dugaan Ryufen.
"Yah, kalau
terus maju sepertinya akan baik-baik saja. Saya sudah menyiapkan
langkah-langkahnya."
"Eh,
benarkah?"
Cara bicaranya
terdengar seperti seorang penasihat yang sangat kompeten. Ryufen sungguh
terkejut.
"Itu
artinya, ada bala bantuan?"
"Iya. Bala
bantuan. Saya sudah mengatur dua pihak."
Vanetim tampak sangat tenang. Mungkin dia memiliki nyali
yang besar.
"Salah satunya adalah kartu as terkuat yang paling saya
andalkan."
"Eh…… anu, tidak. Aku tidak paham arah bicaranya, itu
maksudnya──"
"Ryufen!"
Suara
Nivrenne terdengar bersemangat. Dia menjulurkan tubuh dari kereta sambil
menunjuk ke arah depan.
"Ada
yang besar. Itu Troll!"
Sesosok
raksasa menghalangi jalan.
Sepertinya
itu adalah individu Knocker yang infeksinya bertambah parah hingga berukuran
raksasa.
Makhluk
itu membawa kawanan Fairy bertubuh keras seperti Knocker dan Cobran.
Mereka
benar-benar telah dihadang. Musuh
pasti berniat menangkap mereka di sini.
"Kita
digerakkan sesuai keinginan mereka, ya."
Meski
begitu, Ryufen terpaksa menghentikan keretanya.
Tanah
yang becek memercikkan lumpur akibat hujan beberapa hari terakhir.
Kuda
meringkik, dan terdengar suara Vanetim yang kepalanya terbentur sesuatu.
(Tenang──apa
bisa ditembus?)
Ryufen
menghitung jumlah musuh. Memperkirakan kekuatan musuh adalah kemampuan dasar
yang wajib dimiliki seorang perwira.
Satu
Troll raksasa. Knocker dan Cobran totalnya mungkin sekitar seratus. Semuanya
memegang senjata. Dan itu bukan tombak atau pedang, melainkan tongkat petir.
(Benar-benar
mimpi buruk.)
Ryufen
merogoh bagian dalam jubahnya. Dia juga membawa tongkat petir. Itu adalah model
terbaru yang dibawakan oleh Nivrenne.
Akurasi
tembakannya cukup tinggi bahkan untuk orang seperti Ryufen. Meski dia ragu seberapa efektif senjata
itu nantinya.
"……Wah wah……
mengejutkan sekali. Kamu ceroboh ya, Ryufen Cauldron."
Tiba-tiba,
terdengar suara yang menyapa mereka.
Bagi Ryufen, itu
adalah hal yang paling mengejutkan. Di tengah gerombolan musuh, salah satu
Knocker berbicara dengan bahasa manusia yang jelas.
Knocker yang
bicara. Atau, apakah itu Demon Lord Phenomenon yang sangat mirip dengan Fairy?
Jika dilihat
teliti, lengannya jauh lebih panjang dan besar dibanding Knocker biasa, bahkan
memiliki ekor.
"Tidak
sangka, kamu keluar tanpa pengawalan yang memadai," ucap Knocker yang
bicara itu sambil menggelengkan kepala.
"Sama sekali
tidak terlihat seperti orang terpenting di Kerajaan Serikat."
"Itu
sanjungan yang berlebihan."
Ryufen memutuskan
untuk meladeni percakapan itu. Siapa sebenarnya musuh ini? Dia merasa harus
tahu demi berjaga-jaga jika mereka selamat. Memang begitulah cara kerja otak
Ryufen.
"Siapa kamu?
Apa jangan-jangan kamu adalah dalang dari Demon Lord Phenomenon?"
"Suatu
kehormatan, tapi itu terlalu berlebihan. Aku ini Fairy…… hanya Fairy
biasa."
Knocker yang bicara itu tertawa rendah. Sepertinya dia juga
mengerti lelucon. Melihat Knocker di sekitarnya juga ikut tertawa, berarti
mereka semua berada pada tingkat kecerdasan yang sama.
"Aku
Nanatsume (Si Mata Tujuh). Tidak punya nama. Tapi, tergantung hasil pekerjaan
kali ini…… mungkin aku bisa dapat nama. Lebih cepat dari Kakak Yotsume (Si Mata
Empat)…… fufu. Untuk pendatang baru, ini prestasi besar, kan……"
Fairy Knocker itu menjulurkan satu tangannya
dengan santai. Sebuah tongkat petir tergenggam di sana.
"Tentu saja
kalau aku berhasil membunuhmu."
Tongkat petir itu
aktif──namun, kilatnya meleset sebelum mengenai Ryufen.
"Mana
mungkin aku membiarkan hal itu terjadi!"
Nivrenne sedang
melompat tinggi. Apa yang dia panggil adalah "Kekuatan" yang tidak
terlihat.
Dia mampu
menggerakkan benda tanpa menyentuhnya, atau memperkuat sesuatu──dan membelokkan
anak panah yang meluncur. Bahkan terhadap kilat pun, "Kekuatan" itu
mampu menjangkaunya.
Dalam kondisi
prima, tidak ada yang bisa melukai Nivrenne secara fisik.
(Dia
tidak terkalahkan. Ya, dia sendiri.)
Musuh
mulai bergerak serempak. Mereka
mengepung kereta dan melepaskan tembakan tongkat petir.
Zirah kereta
mengeluarkan suara tajam saat terkena kilat. Retakan mulai muncul. Nivrenne
merentangkan kedua tangannya.
"Berhenti!
Apa-apaan kalian, curang sekali! Ryufen itu kan lemah……!"
"Jangan,
Nivrenne!"
Ryufen
berteriak, tapi terlambat.
Gadis itu
menepukkan kedua tangannya yang terentang di depan wajah. Suara tepukan kering
terdengar nyaring.
Percikan
api muncul di udara kosong, dan "Kekuatan" yang dipanggil mulai
memancar.
Kekuatan
itu mengempaskan butiran hujan yang turun dan menyapu bersih kepungan Fairy.
Seolah-olah ada raksasa tak kasat mata yang mengayunkan lengannya secara
sembarangan.
"Datanglah
sebanyak apa pun. Aku yang akan jadi lawan kalian!"
Sambil
mendeklarasikannya dengan lantang, Nivrenne sebenarnya sedang berlagak kuat.
Memberikan efek "Kekuatan" pada jangkauan seluas ini memberikan beban
yang cukup besar baginya.
Apalagi,
dia sudah terus-menerus menggunakan kekuatan pemanggilannya sejak beberapa jam
yang lalu.
"Sebab aku
ini tidak terkalahkan, tahu."
"Ooh,
takutnya."
Fairy yang mengaku bernama Nanatsume itu
mengangkat bahu.
Seolah itu adalah aba-aba, Troll mulai bergerak. Bumi bergetar. Nivrenne memasang
kuda-kuda rendah. Itu adalah teknik bela diri unik yang dia gunakan. Bahkan
melawan Troll pun, dia bisa membereskannya dalam hitungan detik.
(Tapi, setelah
itu?)
Musuh terlalu
banyak. Kepungan mereka semakin menebal. Bukan lagi ratusan, jumlah mereka yang
berkumpul mulai mencapai ribuan.
Sambil
diserang rasa cemas, Ryufen mengambil tongkat petirnya. Akhirnya, hanya ini
yang tersisa. Musuh tadi bilang target utamanya adalah dirinya.
(Umpan.
Aku? Apa akan berfungsi……)
Pokoknya, dia
harus mencoba. Ryufen memantapkan hatinya.
"Vanetim-san,
apa kamu bisa menembak dengan tongkat petir?"
"Lebih baik
jangan."
Vanetim
menggelengkan kepala dengan wajah yang sangat tenang.
"Jika
seandainya tidak sengaja mengenai Nona Nivrenne, itu akan gawat. Lagipula saya
tidak tahu cara mengganti magasinnya."
"Anu…… levelmu cuma sampai di situ? Padahal kamu
tentara dan komandan, kan, setidaknya."
"Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan
masing-masing."
"Tinggal tembak pakai pelatuk ini. Tarik bagian ini, buka, lalu ganti! Kamu urus
musuh dari samping dulu──oh?"
Saat tanpa
sengaja menunjuk ke arah samping, arah timur, Ryufen mengernyitkan dahi.
"Apa
itu?"
Ryufen
merasa dataran di timur bergetar. Sesuatu sedang datang.
Apa Fairy musuh yang baru──bukan. Itu suara derap kaki kuda.
Terdengar
juga teriakan, suara terompet tanduk, dan lonceng.
Itu
adalah segerombolan orang yang menunggang kuda.
Beberapa
orang Puluhan, Ratusan Atau mungkin lebih banyak lagi?
Terlihat
jelas kegelisahan melanda para Fairy. Sesuatu yang tak terduga oleh
mereka pun sedang datang.
Pasukan itu
menyerang kawanan Fairy dari arah samping.
Kilat
menyambar berturut-turut, dan sesuatu meledak dengan sangat terang di tengah
gerombolan musuh.
Itu adalah Explosion Seal. Apa itu model terbaru dari
Zatte Finde?
"Sial. Apa-apaan, sudah ada bala bantuan ya. Padahal
baru mau masuk bagian serunya……!"
Nanatsume mengumpat dan mengayunkan satu tangannya di atas
kepala. Sepertinya dia sudah dilatih agar bisa memberikan instruksi melalui
gestur seperti itu.
"Panggil makhluk-makhluk besar! Hubungi Ichitsume (Si
Mata Satu), ada pengganggu datang!"
Benturan
terjadi. Pertempuran sengit yang singkat. Namun, itu pun tidak akan bertahan lama. Para Fairy
mulai kocar-kacir.
"Apa-apaan
itu……"
Ryufen justru
fokus pada persenjataan kelompok baru tersebut. Tongkat petir model terbaru──bahkan lebih baru
lagi.
Mereka
bahkan dilengkapi dengan tongkat petir serbu tipe otomatis yang seharusnya
masih dalam tahap prototipe.
"Vanetim-san, apa itu 'bala bantuan'-mu?"
"Eh? Ah, bukan…… itu adalah……"
Vanetim
tampak benar-benar terkejut. Sepertinya itu bukan bala bantuan yang dia siapkan.
"Mana
mungkin. Gawat juga ya. Itu bukan bala bantuan yang saya panggil……
sepertinya, itu adalah pengejarku."
Di tengah hujan, sebuah panji berkibar. Seekor burung hantu yang menggigit bunga.
(Aku pernah
melihatnya. Bukankah itu lambang Perusahaan Varkul?)
Pasukan itu
mengoyak satu sisi gerombolan Fairy, menembus kepungan, dan dalam
sekejap mencapai kereta Ryufen.
Vanetim tampak
sangat ketakutan melihat mereka.
"Maaf, saya
akan mengungsi sebentar──aaah."
"……Vanetim!
Kurang ajar!"
Seseorang
mencengkeram kerah baju Vanetim yang hendak bersembunyi di dalam kereta. Lalu
orang itu membentak.
"Jangan
kabur, dasar sampah!"
Dia adalah
ksatria berkuda yang berhasil menembus kepungan. Seorang pria yang mengenakan jubah ungu cerah.
Rambut
perak yang tertata rapi. Ryufen merasa dia sedikit mirip dengan Vanetim──tunggu.
Ryufen
mengenal sosok ini. Tidak mungkin orang di departemen logistik tidak
mengenalnya.
"Phizius
Varkul……! Kenapa bisa ada di sini?"
Sosok paling
berpengaruh yang digadang-gadang sebagai penerus Perusahaan Varkul──sosok itu
sedang mencengkeram kerah baju Vanetim dan mengguncangnya dengan keras.
Dia
bahkan tidak melihat Ryufen. Dia tampak sangat murka.
"Apa yang
kamu pikirkan? Ah, kamu memang tidak pernah berpikir apa-apa, ya! Bagaimana
bisa kamu menyebarkan kebohongan seperti itu! Seberapa banyak lagi kamu ingin
mencoreng nama keluarga kita baru kamu puas? Jawab sesuatu!"
"M-maaf,
Kakak……"
Vanetim
mengangkat kedua tangannya seolah mencoba menenangkan kakaknya.
"Leher saya
sakit, jadi kalau Kakak bisa…… melepaskan tangannya, saya akan senang……"
"Kamu……!
Cuma itu? Hanya itu yang keluar dari mulutmu sebelum meminta maaf!"
"Ah. M-mohon
maaf sebesar-besarnya! Saya sangat menyesal karena telah mencoreng nama
keluarga!"
"……Mengharapkan
permintaan maaf darimu adalah sebuah kesalahan. Kenapa kamu bisa begitu──"
"Daripada
itu, Kak. Anu…… apa pengawal Kakak cuma segini saja?"
"Apa?"
Phizius
mendongak. Para Fairy di sekitar mereka mulai merapikan barisan kembali.
Pasukan ksatria
berkuda yang menerobos tadi pastilah tentara pribadi Perusahaan Varkul. Paling
banyak hanya seratus ksatria. Sementara musuh yang mulai berkumpul jumlahnya
terus bertambah.
"Sebenarnya
kami sedang dalam kesulitan yang luar biasa…… anu, saya akan senang jika Kakak
membawa lebih banyak pengawal. Kalau bisa sekitar seribu orang……"
"Apa kamu
bodoh. Mana mungkin aku bisa menggerakkan tentara pribadi sebanyak itu secara
mendadak."
"Gawat!
Kalau begitu Kakak ke sini mau apa! Bukannya kita semua bakal mati?"
"Bukan 'mau
apa'! Aku ke sini untuk menangkapmu! Lagipula, apa kamu pikir aku sebodoh itu
sampai datang ke sini tanpa rencana? Lihatlah."
Phizius menunjuk
ke arah utara dengan dagunya.
Dari sana pun
terdengar suara derap kaki kuda. Terlebih lagi, suaranya jauh lebih besar dan
mengguncang bumi dibanding pasukan Phizius, seolah-olah gelombang raksasa
sedang menerjang. Tampaknya itu adalah pasukan ksatria berkuda.
"Kudengar
itu adalah pasukan dari Nophan yang dikirim untuk menyelamatkan Komandan
Ksatria Suci Ryufen. Sepertinya pasukan itu disusun dari ksatria berkuda yang
gesit. Walaupun mendadak, jumlahnya hampir dua ribu."
"Aaah…… syukurlah……! Ternyata pesannya sampai ke Nophan ya."
Vanetim
sepertinya langsung lemas seketika. Dia terduduk lemas di dalam kereta.
"Kira saya
bakal mati lagi…… Ternyata Tuan Kafzen benar-benar seorang Komandan Ksatria
Suci ya."
"Kafzen?"
"Bukan,
lupakan saja. Anggap saja tadi aku tidak bilang apa-apa."
Mendengar nama
asing yang diulang oleh Ryufen, Vanetim mendadak tampak ketakutan lagi.
"Aku sama
sekali tidak paham maksudnya…… tapi, bagaimana kalian tahu aku sedang diserang?
Serangannya terjadi tengah malam…… hebat sekali bisa sampai dari Nophan ke sini
tepat waktu."
"Iya. Itu
karena sedari awal saya memang sudah menyusun rencana pembunuhan atas diri
Anda, Tuan. Saya sudah menyampaikan ke Nophan sebelumnya bahwa kemungkinan
besar Anda akan dibunuh."
"O-begitu ya…… Tapi lain kali, tolong jangan buat
rencana pembunuhan untukku ya."
"Mohon maaf sebesar-besarnya……"
"Benar sekali. Perbuatan yang bahkan tidak pantas
dimaafkan, Komandan Ksatria Suci Ryufen Cauldron."
Berbanding terbalik dengan Vanetim yang menciut, Phizius
yang dipanggil 'Kakak' itu menegakkan punggungnya dan menundukkan kepala kepada
Ryufen.
"Adikku
yang bodoh telah merepotkan Anda. Aku tidak mengharapkan pengampunan, biarkan
dia menebusnya dengan cara yang semestinya."
"Eh,
tidak usah begitu. Faktanya aku terselamatkan…… atau lebih tepatnya, sekarang bukan saatnya
membicarakan itu. Aku juga masih belum terlalu paham situasinya."
Mengabaikan
kebingungan Ryufen, teriakan perang membahana.
Gerombolan musuh
kembali goyah. Terjangan ksatria berkuda menembus musuh yang hendak membentuk
formasi pengepungan. Ryufen juga mengenal wanita yang memimpin di barisan
paling depan.
Dia adalah mantan
koleganya──yaitu, Patausche Kivia.
"Serbu!"
Bersamaan dengan
teriakan itu, suara derap kaki kuda semakin kencang.
Ujung tombak
mereka tampak berkilau terkena hujan. Mereka menerjang barisan tempur musuh
dengan sangat perkasa.
(Ini pertama
kalinya aku melihatnya di medan perang, tapi hebat sekali. Begitu juga para
ksatria yang dia pimpin……!)
Keahlian memimpin
yang mampu melihat celah di antara gerombolan musuh lalu menerobosnya.
Koordinasi yang mampu menyebarkan unit lalu menyatukannya kembali dalam
sekejap. Jika dilihat baik-baik, unit yang dia pimpin bukankah personel dari
Ksatria Suci Ketiga Belas yang dulu?
(Kudengar dia menarik para tentara bayaran hebat dari
utara untuk membentuk unit ini…… memang luar biasa.)
Fairy berukuran besar seperti Troll
terlalu lamban untuk bisa menghalangi mereka. Di sisi lain, Fairy
berukuran kecil yang mencoba menahan dengan jumlah justru menjadi sasaran
empuk. Para Knocker membentuk formasi, namun perisai cahaya mementalkan tombak
yang mereka tusukkan. Dan di saat yang sama, mereka terlempar.
Begitu
celah terbuka, unit pendukung tinggal memperlebar celah tersebut. Mirip seperti
ujung sebuah bor.
"──Kerja
bagus, Vanetim."
Patausche
yang datang setelah memporak-porandakan kawanan Fairy memberikan pujian
tersebut kepada Vanetim.
"Kali ini
aku terkesan. Kamu melakukannya dengan baik."
Napas Patausche
sedikit terengah-engah. Dia bahkan tersenyum.
"Tidak
sangka kamu punya cara seperti ini agar kami bisa berangkat dari Nophan."
"Eh?"
"Kenapa
memasang wajah bingung begitu. Jangan pura-pura bodoh."
"Eh,
anu……"
"Jika Ryufen
Cauldron berada dalam bahaya, seberapa besar pun ego Marcolas Esgain, dia
terpaksa mengizinkan pengiriman bala bantuan. Karena kemewahan yang dia nikmati
selama ini adalah berkat jerih payah departemen logistik."
Ryufen
tidak merasa dirinya adalah orang sepenting itu. Jadi ketika tatapan tertuju padanya, dia hanya
bisa tersenyum canggung.
"Artinya──Esgain
tidak punya pilihan selain mengizinkan kami berangkat."
Patausche
mengibaskan tombaknya, membersihkan darah yang menempel.
"Faktanya,
sejak komunikasi dengan stasiun terputus dan beberapa jam kemudian Ryufen
Cauldron sendiri dinyatakan hilang, Esgain terpaksa menggerakkan pasukan dan
perintah diberikan kepada kami."
"Ah, begitu
ya."
Ryufen mulai
memahami latar belakang masalahnya. Jika dibilang semacam penipuan, mungkin memang benar begitu.
"Ternyata
komunikasinya memang diputus ya."
"Ah. Kalau
itu, saya yang melakukannya. Para pembunuh bayaran yang saya sewa
ternyata cukup kompeten…… mereka menghancurkan titik komunikasi perantara.
Lalu, rumor tentang hilangnya Komandan Ryufen juga……"
"A…… apa katamu?"
Mendengar kata-kata Vanetim, Patausche terbelalak. Ryufen
pun tidak kalah terkejut.
"Ternyata ulahmu, kekacauan di titik perantara itu! Aku
pikir kamu setidaknya cuma menggiring para Fairy itu, tidak sangka kamu
sampai tanganmu sendiri yang melakukan sabotase."
"Habisnya, kalau bisa dihubungi, bala bantuannya tidak
akan datang, kan?"
Memang benar. Sepertinya para pembunuh bayaran yang disewa Vanetim
sudah sangat berpengalaman. Meski terasa ada yang mengganjal, namun fakta bahwa
mereka tertolong adalah benar.
"Apa yang sudah berlalu biarlah berlalu…… tapi,
bagaimanapun juga," Patausche berdehem sebelum melanjutkan.
"Dengan ini
kita bisa pergi menyelamatkan Pegunungan Kazit. Tentu saja dengan kedok
mengawal Komandan Ksatria Suci Ryufen. Pasukan Frensi sudah mulai bergerak ke
arah utara. Vanetim, itu memang tujuanmu, kan?"
"……Iya.
Tentu saja, memang begitu. Itu
tujuanku."
"Ah! Kamu!
Jangan-jangan…… kamu sedang berbohong ya! Ternyata sebenarnya beda jauh
ya?"
"Sejak dulu
dia memang seperti itu. Tidak pernah memikirkan apa-apa. Semuanya cuma
kebetulan yang menguntungkan saja."
"Sejak dulu ya…… sebagai kakaknya, aku turut
prihatin."
"Begitu juga
aku. Sepertinya sampah ini sudah sangat merepotkan kalian ya."
Patausche dan
Phizius saling menyahut. Vanetim memasang senyum di wajahnya sambil semakin
menciutkan tubuhnya. Saat itulah Ryufen baru menyadari──senyum itu adalah
senyum basa-basi.
(Entah kenapa,
aku merasa ada kemiripan dengannya.)
Kini, arah
pertempuran sudah mulai ditentukan.
Dengan
serangan dari samping dan belakang, pasukan Fairy sudah di ambang
kehancuran.
Hanya
area di sekitar Nanatsume saja yang masih terorganisir. Mereka mengumpulkan Fairy
berukuran besar dan mencoba menerjang ke arah sini.
"Troll, lalu kawanan Barguest ya."
Patausche mengernyitkan dahi. Dia mengayunkan tombaknya.
"Lawan yang sulit bagi ksatria berkuda──Siena! Apa bisa
menembak jitu?"
"Tidak, tidak perlu."
Vanetim yang menghentikannya. Dia bahkan mengembuskan napas
lega.
"Seperti yang saya katakan, saya meminta bala bantuan
kepada beberapa pihak, dan bantuan terakhir sudah datang."
"Eh.
Beberapa pihak, jadi itu benar?"
Ryufen sungguh
terkejut. Dia tidak menyangka pria bernama Vanetim ini bisa berbicara dengan
penuh percaya diri.
"Iya. Ini
adalah kartu as terkuat yang saya tahu──nah, Tatsuya."
Sambil
menempelkan jari pada Holy Seal di lehernya, Vanetim berbisik.
"Bertarunglah
seperti seorang pahlawan."
"Apa?" gumam Patausche.
Hampir bersamaan dengan itu, tubuh raksasa Troll mulai
miring. Bagian leher ke
atasnya meledak hilang. Sesosok bayangan manusia yang aneh layaknya Fairy
melesat cepat melewati pandangan. Kecepatannya bagaikan angin puyuh.
Manusia yang membawa kapak perang──bukan, apa dia
benar-benar manusia?
Hanya lengan kanannya yang memanjang secara tidak wajar, dan
di punggungnya seolah tumbuh sayap.
Dan itu bukan sayap burung, melainkan sayap serangga. Pria
yang mengenakan jubah hitam compang-camping itu mengeluarkan teriakan yang
aneh.
"Vaaaa."
Kapak perang
diayunkan lagi.
"Vauuu──jiiiii!"
Kali ini
Troll di sebelahnya terbelah dua. Tidak ada pertahanan yang sempat dilakukan.
"──Iiiiiiiiiruaaaaaaa!"
Raungan
membahana. Troll berikutnya tertebas secara diagonal.
Sayap
serangga yang tumbuh di punggung pria itu mengepak, menciptakan akselerasi dan
daya lompat yang tidak masuk akal.
"Ooh……"
Nivrenne
mengeluarkan suara kagum. Meski dia berlagak kuat, sepertinya dia memang sudah
sangat lelah.
Dia
bersandar pada Ryufen seolah menitipkan punggungnya.
"Hebat
juga. Bagaimana cara kerja
orang itu?"
Dan para Barguest
yang lebih lincah bahkan tidak bisa bergerak sama sekali.
Tembakan artileri
yang datang meluncur membuat tubuh mereka meledak dalam sekejap.
『Hmm. Bagus
juga. Ini zirah artileri pinjaman, tapi akurasinya tidak perlu diragukan……』
Terdengar
komunikasi melalui Holy Seal. Suara yang terdengar sangat ramah
sampai-sampai terasa mencurigakan.
『Maaf membuatmu
menunggu, Kawan Vanetim. Syukurlah sempat tepat waktu.』
Sesosok zirah
artileri berwarna abu-abu biru. Sosok itu menembaki para Barguest satu per satu
dan meledakkan mereka.
Ini pun merupakan
tembakan artileri yang sangat akurat sampai sulit dinalar. Tidak tahu
bagaimana cara dia membidiknya.
"Tatsuya. Lalu, Rhyno……!" gumam Patausche.
Dia pernah
mendengarnya. Itu adalah nama Prajurit Hukuman.
"Kenapa
mereka bisa muncul di tempat seperti ini! Vanetim, apa bala bantuan yang kamu
maksud itu mereka?"
"Eh, yah, begitulah…… kurang lebih……"
"Apa kamu bodoh! Kenapa kamu malah memanggil mereka di
depan mata banyak orang seperti ini……! Ada perintah untuk menangkap sekaligus
mengeksekusi mereka, tahu!"
"Begitu ya. Makanya saya sedang memikirkan cara untuk
mengatasinya."
"Bagaimana caranya!"
Patausche menodongkan tombaknya ke depan hidung Vanetim.
Jika dibiarkan, tombak itu sepertinya bisa langsung menembus
hidungnya.
Dengan
kekuatan lengannya, dia benar-benar bisa menembus tengkorak Vanetim sekaligus.
"Intinya,
kita cuma perlu membuktikan kalau mereka berdua itu aman, kan?"
"Makanya,
bagaimana cara membuktikannya!"
"Eh? Itu, anu…… kira-kira seperti ini. Kalian berdua, sudah cukup. Silakan berhenti."
Bagi Ryufen,
pemandangan itu terlihat seolah-olah mereka patuh pada instruksi Vanetim.
Fairy berukuran besar telah disapu bersih, dan
Nanatsume sudah mulai melarikan diri. Sebagai gantinya, sosok pria menyerupai
monster yang mendekap kapak perang serta zirah artileri abu-abu biru itu tetap
diam di sana──lalu, mereka berlutut. Tepat di hadapan Vanetim. Meskipun dari
sudut pandang tertentu, Tatsuya tampak lebih seperti ambruk karena kehabisan
tenaga.
"──Terima
kasih. Aku berterima kasih dengan tulus, Kawan Vanetim."
Rhyno
berucap dengan nada yang dibuat-buat, sangat sopan dan formal.
"Kau percaya
pada kami dan menunggu, bukan? Apa kami sempat tepat waktu?"
"Iya.
Kalian menjawab ekspektasi saya dengan luar biasa. Selamat atas kerja keras kalian berdua."
Mendengar
percakapan itu, kegemparan mulai menjalar di antara para ksatria berkuda yang
datang dari Nophan.
"Sudah
kuduga──"
Bisik-bisik itu
menyebar dengan cepat.
"Ternyata
cerita itu benar? Lihat saja. Makhluk seperti itu sudah pasti Demon Lord
Phenomenon……!"
"Tidak salah
lagi. Monster-monster itu menundukkan kepala mereka."
"N-nah, kan!
Apa kubilang? Catatan Libio, Bulanan Dotz, bahkan Jurnal Januly pun menulis hal
yang sama! Itu dia, rencana rahasia Perusahaan Varkul yang melegenda itu!"
"Jadi
Prajurit Hukuman dipekerjakan sebagai kelinci percobaan untuk eksperimen
itu!"
"Mustahil…… Benarkah mereka bekerja sama dengan
Galtuille untuk melakukan hal semacam itu……"
Di tengah riuhnya gumaman, satu kalimat terdengar sangat
tajam di telinga Ryufen.
"Akhirnya mereka berhasil menciptakan Demon Lord
Phenomenon. Fenomena yang tunduk
pada manusia!"
(Apa katamu?)
Ryufen menyadari
wajahnya kini tampak konyol karena terperangah.
(Menciptakan Demon
Lord Phenomenon? Perusahaan Varkul bekerja sama dengan Galtuille?)
Ide itu terdengar
sangat tidak masuk akal, tapi apakah rumor seperti itu memang sudah beredar di
kalangan prajurit? Nama-nama seperti 'Catatan Libio' atau 'Bulanan Dotz' yang
baru saja dia dengar adalah tabloid gosip terkenal yang penuh dengan rumor tak jelas
dan teori konspirasi.
(Itu rumor
yang konyol. Kalau mereka bisa mengendalikan Demon Lord Phenomenon,
mereka pasti sudah melakukannya dari dulu.)
Namun, Ryufen
refleks menoleh ke arah Phizius Varkul, kakak Vanetim.
Pria itu
berteriak dengan suara menggelegar hingga seluruh tubuhnya gemetar.
"──Itu tidak
mungkin!"
Teriakan itu
pasti mencapai telinga sebagian besar prajurit. Begitu putus asa suaranya.
"Hal semacam
itu tidak mungkin terjadi! Sebagai pewaris utama Perusahaan Varkul, aku,
Phizius Varkul, menegaskan hal ini!"
"Kabar bahwa
kami menciptakan Demon Lord Phenomenon hanyalah hoax tak berdasar.
Terlebih lagi, mengklaim bahwa kami bisa mengendalikannya demi kepentingan
pribadi, hal itu──"
"Benar! Itu hal yang mustahil!"
Suara Vanetim menyahut, lebih kuat dan lebih nyaring
daripada suara Phizius.
Jika harus mencari kelebihan pria ini──pikir Ryufen──mungkin
itu adalah suaranya yang lantang. Sulit dipercaya bahwa dia adalah orang yang
sama dengan pria yang baru saja memasang wajah seperti akan mati tadi.
"Mana
mungkin Perusahaan Varkul melakukan hal seperti itu! Coba pikirkan pakai logika
sehat!"
"Vanetim,
kau──"
"Seperti
kata Kakak, semua ini bohong! Tolong percayalah padaku! Kedua orang ini, ah
bukan, kedua ekor ini pastilah sebuah kesalahan!"
"Hanya
sebuah ketidaksengajaan mereka membantu kami secara kebetulan──uwaakh!"
"Berhenti,
diam kau!"
Pekikan terakhir Vanetim
disebabkan oleh bogem mentah dari Phizius. Perhatian semua orang kini tertuju
pada Vanetim yang jatuh tersungkur di atas lumpur, dan keributan pun semakin
menjadi-jadi.
(Keadaan jadi
semakin gawat saja……)
Industri militer
raksasa seperti Perusahaan Varkul memang selalu lekat dengan teori konspirasi.
Tidak ada yang benar-benar bisa memercayai mereka. Terlebih lagi jika dibela
oleh orang semacam Vanetim.
Dan yang paling
krusial, bukti tak terbantahkan ada tepat di depan mata.
Tatsuya dan Rhyno.
Fakta bahwa kedua orang yang hanya bisa dianggap sebagai Demon Lord
Phenomenon ini tetap berlutut tanpa bergerak sedikit pun di tengah
kericuhan, membuat argumen Phizius dan Vanetim terdengar sangat mencurigakan.
Manusia terkadang
lebih memercayai apa yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri atau apa yang
mereka simpulkan dalam pikiran mereka.
Jauh lebih
percaya daripada kata-kata orang asing yang tidak mereka kenal.
Apalagi,
perusahaan publik atau instansi pemerintah yang besar selalu menjadi target
utama kecurigaan. Terlebih lagi Perusahaan Varkul yang selama ini sudah terlalu
sering dicurigai sebagai pedagang senjata yang licik.
"Sialan."
Phizius
mengumpat dan mengambil tongkat petirnya. Dia mengarahkan ujung senjata itu ke
arah Tatsuya.
Meski
begitu, Tatsuya tidak bergerak sedikit pun. Justru lengan Phizius-lah
yang gemetar.
"……Sial! Apa-apaan ini! Kenapa jadi begini……!"
Sambil terengah-engah, Phizius menurunkan tongkat petirnya.
Dia mungkin menyadari bahwa menembakkan kilat dan membunuh Tatsuya atau Rhyno
justru akan memberikan efek sebaliknya.
Monster yang tetap menunjukkan kepatuhan mutlak meski
dibunuh. Keberadaan seperti
itulah yang justru akan dia buktikan dengan tangannya sendiri.
"Sayang
sekali, Kakak," gumam Vanetim dengan nada prihatin.
"Begitu saya membelanya, semuanya berakhir. Tidak ada
orang di dunia ini yang bisa memercayai saya saat saya sedang serius."
"……Apakah ini memang rencanamu, Vanetim?"
Patausche bertanya dengan suara rendah, terdengar agak tidak
senang.
"Aku sulit
percaya kalau kau bisa memikirkan siasat sejauh ini."
"Eh? Iya. Benar. Saya sudah memeras otak saya."
"Lalu
kenapa kau berbohong soal hal yang tidak penting begitu! Kalau kebetulan, ya bilang saja kebetulan!"
"Iya, ini
kebetulan, maafkan saya! Sebenarnya saya berniat menyebarkan rumor ini
perlahan-lahan, tapi tidak sangka hasilnya akan jadi sedramatis ini. Yah……
anggap saja hasilnya bagus……"
Tampaknya Vanetim memiliki koneksi dengan tabloid-tabloid
gosip yang asal-usulnya meragukan. Ryufen pun tahu seberapa besar pengaruh
media seperti itu. Hal-hal tersebut telah menjadi hiburan besar bagi para
bintara dan prajurit rendahan, dan sering kali jauh lebih sulit diabaikan
daripada koran resmi atau pengumuman pemerintah.
"Tapi, tidak sangka aku akan sangat dibenci oleh Kak
Phizius…… Sepertinya masa depanku bakal menakutkan nih……"
"Ternyata
kau masih punya perasaan takut seperti manusia biasa ya."
"Haha. Untuk
saat ini, masih. Entah bagaimana nanti…… mungkin……"
Vanetim tertawa tipis. Antara kepasrahan atau sekadar
berlagak kuat, Ryufen tidak bisa membedakannya. Atau mungkin bukan keduanya.
"Nah──Komandan Ksatria Suci Ryufen. Bisakah saya
meminta bantuan?"
"Apa yang
kau ingin aku lakukan?"
"Bala
bantuan. Kita harus menolong Xylo-kun. Sepertinya sesuatu yang besar sedang
terjadi di Pegunungan Kazit sekarang."
"Ya. Aku
tahu betul."
Tanpa diperintah
pun, itu memang niatnya. Mengumpulkan logistik dan mengirimnya ke utara adalah
alasan dia berada di sini. Menggerakkan pasukan dengan dalih 'Transportasi
Logistik'. Itulah rencananya.
Namun sekarang,
dengan bala bantuan yang tak terduga, kesiapan mereka sudah jauh lebih dari
cukup.
"Aku punya
utang budi yang cukup besar pada Xylo. Sesekali aku harus membayarnya."
Ryufen menatap
langit utara. Awan hitam yang mengisyaratkan hujan yang lebih deras mulai
menyelimuti Pegunungan Kazit.
"Semoga saja
sempat."
Ryufen
bertanya-tanya, sudah berapa tahun berlalu sejak terakhir kali dia bertukar
kata dengan Xylo Forbartz.



Post a Comment