Hukuman
Pembersihan Total Pegunungan Kazit – Akhir
Kesimpulannya,
aktivitas sabotase Patausche Kivia berakhir dengan kegagalan total.
Sejak awal, bisa
dikatakan kekuatan politik Patausche di Kota No-Fan hampir nihil. Ditambah
lagi, dia sadar diri—dirinya memang tidak cocok untuk pekerjaan taktis di balik
layar.
Singkatnya,
yang Patausche lakukan adalah konfrontasi langsung. Kepada sang Panglima,
Marcolas Esgain.
"──Lalu?"
Ucap
Esgain dengan nada dingin dan tanpa emosi.
Itu adalah ruang
kerja di benteng pusat, jantung Kota No-Fan. Sebuah ruangan yang dikelilingi
perabotan mewah yang memberikan kesan intimidasi.
Esgain dan Patausche
duduk berhadapan dengan meja kayu ek di antara mereka.
"Patausche Kivia.
Bicara yang singkat. Aku tidak punya banyak waktu untuk disia-siakan."
Waktu sia-sia.
Sejak awal dia sudah menegaskan hal itu. Sontak, situasi menjadi tidak menguntungkan.
Sebenarnya,
untuk bisa sampai ke tahap konfrontasi langsung ini saja, Patausche sudah
mengerahkan upaya maksimalnya.
Selain
permohonan yang gigih, sepertinya para perwira dari eks-Ordo Ksatria Suci
Ketiga Belas yang dulu merupakan bawahan Patausche juga ikut bergerak.
Meski dia
tidak bisa bertemu dengan Zofrek atau Sienna, dia mengetahui hal itu dari kabar
burung.
(Semuanya
masih menaruh harapan padaku.)
Patausche
memutuskan untuk percaya pada hal itu, mengingat dukungan yang mereka berikan.
(Aku pasti
akan memenangkan pertempuran ini. Aku tidak akan membiarkan mereka mati……!)
Xylo Forbartz.
Sang Dewi Teoritta. Serta
para Prajurit Hukuman.
Memang menjadi
masalah karena Xylo jelas-jelas menaruh hati padanya hingga terkadang
kehilangan penilaian dingin, tapi sebagai militer, pria itu tidak diragukan
lagi sangat kompeten. Dia telah memimpin banyak operasi yang dianggap mustahil
menuju keberhasilan.
Karena itulah,
dia harus meyakinkan Marcolas Esgain.
(Pasti. Aku
akan melakukannya.)
Patausche
mengarahkan tatapan tajamnya pada Marcolas Esgain.
"Panglima.
Ada yang ingin kusampaikan."
"Apa. Cepat
katakan."
Esgain tidak
tampak gentar sedikit pun. Hanya saja, ekspresinya terlihat lesu.
"Tiga menit.
Hanya itu waktu yang kuberikan untukmu."
"Jika
aku terus mengabaikanmu, ada orang-orang berisik yang akan mengeluh. Para mantan bawahanmu itu."
"Jika mereka
ribut, suaranya akan menyebar. Itu bisa memengaruhi popularitas milikku."
Citra diri. Bagi
Esgain, sepertinya hanya itu hal yang penting.
"Jadi, ini
adalah waktu yang sia-sia. Meski tahu ini sia-sia, aku akan mendengarmu."
"Apa yang
ingin kau katakan, Prajurit Hukuman?"
"……Unit
Prajurit Hukuman telah ditempatkan di Pegunungan Kazit dan diperintahkan untuk
memusnahkan Fairy."
"Ditempatkan?
Hun. Ditempatkan, ya, meski hanya beberapa orang."
Esgain
menyeringai tipis. Lalu dia menatap Patausche dengan mata yang penuh ejekan
terang-terangan.
"Dan kau
sendirian saja yang tetap tinggal di kota ini."
"Aku bahkan
bisa menghukummu saat ini juga karena melanggar perintah──kau terselamatkan
oleh nama keluarga Kivia."
"Keluargamu
masih punya nilai guna."
Begitu rupanya, Patausche
akhirnya mengerti satu hal. Keluarga Kivia belum mengusirnya.
Dia juga tahu
alasannya. Keluarga Kivia adalah bangsawan pendeta.
Dibanding
bangsawan biasa, mereka jauh lebih mementingkan sikap terhadap iman dan
kehormatan silsilah keluarga.
Ada kecenderungan
kuat bahwa jika mereka mengakui Patausche telah berbuat dosa dan
mengeluarkannya dari silsilah dengan gegabah, itu akan menodai garis keturunan
mereka. Setidaknya, begitulah pandangan orang-orang di sekitar.
Oleh karena itu,
dia mendengar bahwa hingga saat ini keluarga Kivia masih bersengketa dan
menyuarakan bahwa Patausche tidak bersalah.
Mereka tidak akan
melepaskan sikap itu sampai mereka bisa membuktikan dengan cara tertentu bahwa Patausche
"sebenarnya adalah anak dari garis keturunan sampingan", atau sampai
lobi-lobi kepada pihak terkait selesai dilakukan.
"Namun, Patausche
Kivia. Apa kau tidak punya rasa malu?"
Esgain
melanjutkan bicaranya. Dia sedang memprovokasi.
Karena tahu akan
hal itu, Patausche tidak meledak marah.
"Saat
rekan-rekanmu sedang bertarung melawan para Fairy, hanya kau sendiri
yang berada di tempat aman. Yah, setidaknya kau cukup cerdik."
"……Alasanku
tetap tinggal di sini adalah!"
Patausche
menggebrak meja dengan tangannya.
"Untuk meminta bala bantuan."
"Bala bantuan?"
"Benar. Lima ratus orang yang dikumpulkan sebagai unit
pendukung Prajurit Hukuman."
"Serta para bajak laut Zehai Dae yang kami tangkap di
Selat Valligahi. Kirimkan mereka sebagai bala bantuan ke Pegunungan
Kazit."
"Dengan begitu──"
Patausche menarik napas. Hanya hal ini yang bisa dia
tegaskan dengan penuh percaya diri.
"Kami pasti akan memusnahkan seluruh musuh di wilayah
pegunungan tersebut."
"Kau bicara besar juga. Tapi, aku tidak bisa memberi
izin."
"Kenapa? Musuh di Pegunungan Kazit adalah ancaman bagi
No-Fan ini juga──"
"Karena tidak ada yang punya wewenang itu."
"Orang-orang di 'unit pendukung' yang kau sebutkan tadi
secara resmi telah menjadi bagian dari Brigade Relik Suci yang dipimpin oleh
Orang Suci Yulisa."
"Kalau begitu, biarkan aku bernegosiasi dengan Orang
Suci Yulisa!"
"Itu
juga tidak bisa. Orang Suci sedang sangat sibuk sekarang."
Jari Esgain
menelusuri peta di atas meja. Peta bersih yang hampir tidak ada coretannya,
namun terdapat dua bidak di sana.
"Brigade
Relik Suci yang dipimpin Orang Suci Yulisa Kidaphreny sedang bergerak untuk
membebaskan pemukiman di sekitar Kota No-Fan."
Bidak pertama
adalah bidak "Kera" putih yang biasa digunakan dalam permainan Jigu.
Sepertinya itu melambangkan unit yang dipimpin Orang Suci Yulisa.
"Namun di
tengah operasi, mereka bertemu dengan sebuah Demon Lord Phenomenon dan
mulai terlibat pertempuran. Demon Lord Phenomenon No. 16,
Deadora."
"Deadora──"
Patausche juga pernah mendengar nama itu. Katanya itu adalah
Demon Lord Phenomenon berbentuk manusia yang menyerupai seorang gadis.
Hampir tidak ada catatan tentangnya, yang diketahui hanyalah
agresivitasnya yang buas.
"Demon Lord Phenomenon Deadora sepertinya
memiliki otoritas untuk mengubah topografi sesuka hati."
"Mereka terhalang oleh ngarai dan hutan yang muncul
tiba-tiba, sehingga komunikasi dengan pihak kami tidak berjalan lancar. Dan
juga──"
Jari Esgain tidak berhenti di sana dan menunjuk lebih jauh
ke utara.
Di sana juga terdapat sebuah bidak Jigu. "Naga"
putih.
Karena berada di garis depan wilayah perbukitan utara, itu
pasti bidak yang melambangkan Ordo Ksatria Suci Kesebelas──Beux Wintier.
"Ordo Ksatria Suci Kesebelas di sini juga dikabarkan
bertemu dengan Demon Lord Phenomenon yang aneh. Saat ini mereka sedang bertempur."
"……Demon
Lord Phenomenon yang aneh?"
"Sebuah Demon Lord Phenomenon yang
'bernyanyi'."
"Prajurit yang mendengar nyanyian yang terdengar
seperti jeritan itu akan jatuh ke dalam kondisi panik, atau jatuh pingsan.
Musuh yang merepotkan. Operasi militer pun terhambat."
Yang satu ini bahkan Patausche belum pernah mendengarnya.
Apakah sosok seperti itu benar-benar ada?
Demon Lord Phenomenon yang "bernyanyi"
terdengar sangat ganjil. Identitasnya
pun tidak diketahui. Namun, ada satu hal yang dia pahami.
(Situasinya
berbahaya. Ini bukan saatnya mengirim bala bantuan ke lini depan lain……!)
Dua unit kekuatan
utama yang ditempatkan Aliansi Kerajaan di garis depan telah dihentikan
pergerakannya.
Terutama jika
Ordo Ksatria Suci Kesebelas itu pun tidak bisa maju sesuai rencana, ini adalah
masalah besar. Pasukan militer, hanya dengan berada di sana tanpa bergerak
sedikit pun, akan mengonsumsi logistik dalam jumlah besar.
Mungkin Demon
Lord Phenomenon berniat menyerang jalur logistik kami.
"──Cukup
sekian, Patausche Kivia."
Seolah memutus
pemikiran Patausche, Esgain mengibaskan satu tangannya.
"Tiga menit
sudah berlalu. Aku tidak punya waktu lagi untukmu."
Gawat, pikir Patausche,
tapi sudah terlambat. Dia membuang waktu dengan pembicaraan yang tidak perlu.
Situasi Orang
Suci maupun situasi Ordo Ksatria Suci Kesebelas sebenarnya adalah hal yang
tidak diperlukan.
"Seperti
yang kukatakan sebelumnya, aku perlu menyiapkan dukungan untuk kedua unit di
garis depan secepat mungkin."
"Selain
reorganisasi pasukan, aku sedang mengerahkan seluruh tenaga untuk memulihkan
fungsi artileri No-Fan. Aku tidak punya waktu luang untuk percakapan seperti
ini."
Di kejauhan,
suara lonceng mulai bergema. Sepertinya hari ini pun mereka akan melakukan
tembakan artileri peringatan.
Di luar jendela,
delapan laras meriam yang dijuluki "Delapan Gerbang Cahaya Suci"
mulai terangkat perlahan.
"Segera
keluar. Semua usulanmu ditolak."
"Tunggu
sebentar. Prajurit Hukuman adalah──"
"Keluar,
kataku. Kau tidak dengar?"
"Jika bukan
prajurit, logistik saja tidak apa-apa! Selama ada itu, kami pasti akan
menumbangkan musuh!"
"Itu akan
berkontribusi pada kemenangan umat manusia!"
Esgain
tidak menjawab lagi dan membunyikan bel di atas mejanya.
Tanpa kata, para
prajurit yang berbaris di sisi kanan dan kiri bergerak, mengamankan Patausche
dari kedua sisi.
"Bersyukurlah
aku masih mau mendengarkan ucapan orang sepertimu. Kau tahu bagaimana reputasi
kalian?"
"Pemberontak,
kriminal kelas teri, pengkhianat. Benar-benar buruk."
Reputasi Prajurit
Hukuman bisa dibilang jatuh ke titik terendah lagi akibat terungkapnya
identitas asli Rhyno dan pelariannya.
Sejak pertempuran
di Tujin Tuga, mulai terlihat beberapa prajurit yang bersikap ramah, namun
sekarang mereka hampir tidak ada lagi. Situasinya seperti reputasi yang
terjungkal balik.
Meski begitu,
setidaknya──dari para prajurit yang diselamatkan langsung oleh Xylo dan yang
lain, masih ada sedikit dukungan. Marcolas Esgain mungkin mencemaskan hal itu.
"Nah,
Tanvos, Hushu. Usir Prajurit Hukuman itu. Jangan biarkan dia masuk ke bangunan ini
lagi."
"Dimengerti."
Patausche bisa
saja melawan. Ada dua
prajurit di sini, dan dua lagi berjaga.
Untuk orang
sekelas Patausche, melumpuhkan mereka adalah hal mudah. Namun, hal itu tidak
akan ada gunanya.
"──Sialan!"
Patausche Kivia
tidak hanya diusir dari ruang kerja. Dia dilarang masuk ke benteng pusat Kota
Meriam No-Fan.
Dengan begini,
dia tidak bisa menjalankan misinya.
"Marcolas
Esgain……!"
Di gang menuju
barak yang dialokasikan, Patausche menghantamkan tinjunya ke dinding.
"Apa aku
akan membiarkannya berakhir begini……! Setiap hari! Aku akan terus mengajukan
petisi berkali-kali!"
"……Setiap
hari? Berkali-kali? Aku mendengar kata-kata yang sangat sia-sia."
Terdengar sebuah
suara dari belakang. Tentu saja suara itu tidak asing.
Frensy Mastivolt.
Wanita tanpa ekspresi itu sedang berdiri di sana.
"Mengenaskan
sekali, Patausche Kivia. Pasti ada cara lain, kan."
"Apa
katamu……"
Patausche melotot
ke arahnya. Alasannya tidak jelas, tapi intinya dia tidak cocok dengan wanita
bernama Frensy ini.
Setiap ucapannya
terasa seperti menggores sarafnya.
"Frensy. Apa kau juga sudah sampai di No-Fan?"
"Iya. Meski begitu, kekuatanku hanya sekitar dua puluh
orang."
Secara tersirat,
itu sama saja dengan mengatakan jangan mengandalkan Night Ghoul Selatan sebagai
kekuatan militer.
Mengapa Night
Ghoul Selatan yang berjumlah ratusan saat penyerangan Benteng Brock Numea bisa
berkurang drastis sampai begini? Patausche bisa membayangkan alasannya.
(Ngarai
Selatan terlalu jauh.)
Jika ingin
menggerakkan pasukan dalam jumlah besar tanpa bergantung pada jalur logistik
Galtuill, maka logistik dan personil harus diangkut dari wilayah selatan yang
sangat jauh.
Untuk menjaga
kemandirian dari Galtuill, Frensy dan yang lain harus bergerak dengan jumlah
sedikit untuk sementara waktu.
Namun, apa
maksudnya menampakkan diri di hadapannya sekarang? Patausche menyadari wajahnya
menjadi masam.
"……Ada
urusan apa. Apa kau datang untuk mencaciku?"
"Itu juga.
Karena kau sangat mengenaskan."
"Apa? Menggerakkan pemegang kekuasaan tertinggi militer
melalui petisi…… apa ada cara lain yang lebih efektif dari itu?"
"Tentu saja
ada."
"Tentu
saja…… eh, tentu saja?"
"Lagipula,
caramu terlalu menggunakan jalur resmi."
"Apa suamiku
benar-benar memercayakan harapan bala bantuan kepadamu? Yah, dia memang pria
yang sepertinya tidak paham hal-hal semacam itu. Tapi, biarlah."
Frensy
menyisir rambut peraknya ke atas.
"Aku akan
membantumu. Demi suamiku, dan demi Unit Prajurit Hukuman."
Entah kenapa, Patausche
merasa istilah itu sangat tidak menyenangkan. Terutama bagian
"suamiku" yang terasa sangat menjengkelkan.
Tanpa sadar, dia
mendekati wajah Frensy dan bicara dengan nada tinggi.
"Apa
masalahnya dengan jalur resmi? Jika menggunakan cara kotor, akan muncul
penyimpangan."
"Lihat saja
penangkapan Rhyno itu, sudah jelas kan. Membayar harga adalah hal yang
lumrah di mana pun."
"Mendapatkan hasil dengan cara mengemplang harga
tersebut. Itulah yang dilakukan oleh para Prajurit Hukuman yang dipimpin
suamiku."
Patausche ingin
sekali membantah, tapi dia tidak bisa menyangkalnya.
Kalau
dipikir-pikir, Xylo dan yang lainnya selalu memilih cara yang salah.
Terlepas dari itu
baik atau buruk, jika memikirkan apa maknanya──memang benar bahwa mereka selalu
memberikan hasil yang tak terduga.
Dirinya mulai
merasa nyaman berada di Unit Prajurit Hukuman tersebut. Patausche menyadari hal
itu.
"Jika
menyerang dari depan tidak berhasil, maka serang dari sisi lain. Itu hal yang
wajar, kan."
Frensy
menyipitkan mata.
"Memulangkan
Xylo Forbartz dalam keadaan hidup. Demi hal itu, aku akan melakukan apa
pun."
"Patausche Kivia.
Termasuk memanfaatkanmu."
Entah kenapa dia
merasa tertekan, Patausche Kivia menyadari dirinya menarik dagunya.
Padahal ada
perbedaan tinggi badan, tapi dia merasa seperti sedang dipelototi dari depan.
"Bekerja
samalah, Patausche Kivia."
Di kejauhan,
suara tembakan artileri peringatan dari "Delapan Gerbang Cahaya Suci"
bergemuruh.
◆
Setelah Patausche
Kivia pergi, Marcolas Esgain meninggalkan dua orang pria di ruang kerjanya.
Keduanya adalah
perwira muda.
Salah satunya
bernama Tanvos. Dia adalah staf ahli yang dibina dan dibesarkan oleh Esgain.
Di antara para
anak muda, dialah yang paling menonjol. Meski agak kurang fleksibel, dia tajam dan
yang paling penting, sangat setia.
"Awasi Patausche
Kivia. Jangan lewatkan dengan siapa dia bertemu."
"Dimengerti."
Mendengar
instruksi Esgain, Tanvos mengangguk tanpa membantah.
"Bagaimana,
Tanvos. Apa ada orang yang bisa digunakan untuk pekerjaan semacam ini?"
"Ada.
Keluarga Torsep sedang mencoba mendekati kita."
Torsep.
Belakangan ini, Esgain juga sering mendengar nama keluarga itu.
Salah satu
keluarga bangsawan utama yang terdaftar dalam dewan No-Fan, dikabarkan memiliki
silsilah yang murni hingga dijuluki "Tiga Keluarga Besar" dan
memiliki kekayaan melimpah.
Mereka terutama
ahli dalam intrik, dan memiliki jaringan informasi sendiri bahkan di era
Kerajaan Met lama. Karena hal itu pula, mereka memiliki hak suara terbesar di
dewan saat ini.
Prajurit pribadi
mereka untuk keperluan spionase dijuluki "Musang Api" (Hibashiri),
diambil dari lambang musang yang berlari di tengah api milik keluarga Torsep.
"Aku berniat
menggunakan 'Musang Api' mereka. Seharusnya mereka bisa menunjukkan taringnya
dalam spionase semacam ini."
"Begitu ya.
Tapi, apa yang mereka minta? Uang? Hak istimewa?"
"Bukan
keduanya. Mereka menawarkan
kerja sama tanpa pamrih."
"……Penawaran
yang paling tidak bisa dipercaya."
Esgain
memutar otaknya dengan hati-hati.
Menyerahkan
tugas spionase berarti memberikan sebagian rahasia dapur kepada mereka. Namun,
kegunaannya memang nyata.
Esgain
mengingat wajah kepala keluarga Torsep. Seorang pria yang tampak ramah
dan cenderung gemuk.
"Yah, sudahlah. Gunakan tangan Torsep."
Esgain mengambil keputusan. Apa pun rencana mereka, jika itu
adalah pertempuran di bidang seperti ini, dia juga punya kepercayaan diri.
Pertama-tama
adalah mengetahui kemampuan dan keinginan lawan. Dengan begitu, dia pasti bisa
memegang kelemahan mereka lebih dulu.
"Bagaimana
pergerakan orang-orang 'Musang Api' itu. Pastikan kau mengetahuinya dan
laporkan semuanya padaku."
"Dimengerti.
Kalau begitu, aku akan menyuruh mereka mengawasi Patausche Kivia dan
orang-orang di sekitarnya."
"Dengar.
Jika mereka melakukan hal aneh pun, jangan segera menangkapnya. Tidak ada
alasan untuk itu."
"Kalau soal
alasan, kita bisa membuatnya sebanyak apa pun," ucap Tanvos.
Di bagian itulah
ketidakfleksibelannya muncul. Esgain mendengus.
"Biarkan
mereka berkeliaran untuk saat ini. Ini kesempatan bagus untuk memancing keluar
para bangsawan yang menentangku atau anggota dewan No-Fan."
"Jika wanita
itu tidak terlalu bodoh, dia pasti akan mencoba menghubungi orang-orang semacam
itu."
"Baiklah."
"Lalu,
Hushu."
Esgain memanggil
satu pria lainnya.
Pemuda yang satu
ini memiliki kesan yang sangat tipis. Terkadang sifat tidak menonjolnya itu justru
berguna.
Setelah
mencoba menggunakannya sebentar, Esgain menilai dia adalah pria yang bisa
bertindak taktis di saat-saat penting. Jika dipasangkan dengan Tanvos, mereka
akan saling melengkapi kekurangan masing-masing.
Membuat
dua orang semacam itu bersaing adalah gaya Esgain. Dia membuat mereka bekerja sama, tapi tidak
membuat mereka rukun.
Ibaratnya, dia
akan membunuh salah satu dari mereka yang tidak berguna. Ini adalah persaingan
promosi. Akan merepotkan jika pihak yang kalah menaruh dendam padanya.
"Aku akan
menyerahkan tugas lain padamu. Hushu, kau urus pihak kuil."
"Baik."
"Nicolde
Ibuton. Ketua Agung Pendeta yang bodoh itu selalu saja berisik."
Pria itu memiliki
pemikiran bahwa pendapatan pajak seharusnya digunakan untuk perlindungan
pengungsi atau pemulihan wilayah yang telah dibebaskan.
Permintaan yang
mustahil. Esgain telah mengantongi pendapatan pajak dalam jumlah yang tidak
sedikit. Secara ketat, itu adalah penggelapan.
Uang itu dia
gunakan untuk memberi imbalan kepada para bangsawan yang patuh padanya. Jika
aliran itu terputus atau tersendat, sistem kekuasaan yang dibangun Esgain akan
goyah.
"Bungkam
pembawa pesan dari kuil. Sebulan saja cukup. Selama itu, sebagian besar
urusanku akan selesai."
Peras saja sampai
habis. Setelah itu, sisa pendapatan pajak yang sudah kering boleh saja
digunakan untuk kegiatan amal seperti yang dikatakan Nicolde Ibuton.
Dia hanya perlu
menghentikan tuntutan dari kuil sampai saat itu tiba.
"Gunakan
cara apa pun dan segera berikan hasil."
"Baik."
Jawaban Hushu
selalu singkat dan tanpa keraguan. Terkadang itu sedikit mengecewakan, tapi dia
selalu menyelesaikan tugasnya dengan mantap.
Bagian itu sama
dengan Tanvos. Bisa
dibilang dia perwira yang berguna.
"Bagus. Mulailah. ……Benar-benar deh, semuanya
saja──"
Esgain mengambil cerutu dari laci mejanya.
Dia sempat berhenti merokok sejak menjadi Panglima, tapi
sekarang dia mulai menghisapnya lagi.
"Kenapa
mereka tidak bisa patuh saja pada instruksiku."
Tanpa ragu,
begitulah seharusnya. Rantai komando yang menyerupai kediktatoran adalah hal
yang diinginkan.
Dunia ini penuh
dengan hal-hal yang tidak berjalan sesuai keinginan──pikir Esgain. Bahkan
setelah menjadi Panglima Galtuill pun, penderitaannya tidak kunjung berakhir.
◆
Bisa dibilang
Anis telah memegang hampir seluruh kekuasaan militer Demon Lord Phenomenon.
Demon Lord Phenomenon No. 23, Anis.
Sekarang dia
dijuluki Anis si "Mahkota Hitam".
Dia menerima
mahkota dari Raja para Demon Lord Phenomenon, dan kekuasaan komando
telah dialihkan kepadanya.
Di sebuah altar
raksasa yang dibangun di Puncak Spiral, ujung utara benua, upacara penobatan
bahkan telah dilaksanakan. Nama altar itu adalah "Tir na nog".
Kecuali mereka
yang masih bertempur di garis depan, upacara itu dihadiri oleh hampir seluruh Demon
Lord Phenomenon di wilayah utara.
Tovitz Huker juga
menghadirinya dan menyaksikan seluruh prosesnya. Karena dia merasa tertarik.
(Tak disangka,
mereka ternyata peduli pada formalitas ya.)
Tovitz merasakan
hal itu dengan penuh keterkejutan.
(Tidak──itu
wajar saja. Jika itu keinginan Sang Raja, maka para Demon Lord Phenomenon
akan menjalankan peran tersebut.)
Sesuai
julukannya, Anis yang mengenakan mahkota hitam dan berdiri di depan altar
tampak sangat tenang.
Namun, jelas
bahwa itu hanyalah tampilan luar saja. Terlihat dari hawa dingin yang terpancar
dari tubuhnya.
Area di sekitar
altar terasa sedingin musim dingin.
"Aku berjanji, aku pasti akan memusnahkan umat manusia," ucap Anis si "Mahkota Hitam" memberi pernyataan.
"Umat
manusia yang melangkah kaki ke tanah utara ini, tak akan kubiarkan satu pun
pulang dalam keadaan hidup. Semuanya akan kubunuh. Jika mereka yang bertarung
telah punah, perlawanan pun akan terhenti."
Kata-kata itu
mengandung kebencian yang amat pekat.
"Raja
bersabda agar peperangan panjang kali ini diakhiri di sini. Karena itu, aku
akan mewujudkannya. Sebagaimana Yang Mulia Abaddon mengharapkannya, aku akan
meneruskan wasiat beliau."
Entah berapa
banyak dari mereka yang bisa memahami arti ucapan itu──pikir Tovitz.
Banyak sekali Demon
Lord Phenomenon yang meski memiliki inteligensi, namun tidak memahami
hal-hal sejenis emosi.
Bahkan ada yang
pola pikirnya sama sekali tidak bisa dimengerti oleh manusia.
Tetap saja, ada
cara untuk menyampaikan kehendak Anis.
(Tir na nog,
ya?)
Altar raksasa
inilah yang memberikan tujuan tunggal bagi para Demon Lord Phenomenon,
dan memungkinkan mereka bertempur di bawah sebuah strategi tertentu.
(Kira-kira
bagaimana mekanismenya──)
Tovitz
mengalihkan pandangannya ke atas altar.
Seorang
gadis yang tampak masih belia sedang meringkuk tidur di atas altar tersebut.
Gadis dengan warna rambut aneh, perpaduan antara putih dan biru.
Tubuhnya
terhubung dengan altar melalui banyak pipa yang menyerupai tali. Tidurnya
sepertinya tidak nyenyak. Kerutan dalam terlihat di antara alisnya, dan dia
sesekali mengerang pelan.
(Dia
terlihat seperti sedang didera mimpi buruk.)
Tovitz
tidak tahu namanya. Tidak tahu juga siapa dia sebenarnya. Para Demon Lord
Phenomenon sepertinya diperintah dengan tegas untuk tidak menyentuhnya.
Tovitz pun belum pernah melihatnya terbangun.
(Mungkin
saja, gadis inilah sosok asli dari Tir na nog.)
Pikiran itu
melintas. Jika benar, maka dia adalah eksistensi yang sangat krusial. Tanpa Tir
na nog ini, kemenangan akan sulit diraih. Kawanan ini bisa saja tercerai-berai.
Demon Lord
Phenomenon memang kuat,
tapi di sisi lain, mereka juga punya kerapuhan. Itulah yang mulai dirasakannya
sekarang.
(Mengalahkan
umat manusia dengan benar ternyata merupakan pekerjaan yang cukup besar.)
Jika Anis
menginginkannya, Tovitz berniat mewujudkannya. Meski harus menjadikan umat
manusia dan segalanya sebagai musuh──betapa menyenangkannya menetapkan hal itu.
Dia merasa bersemangat hingga menganggap dirinya sendiri kekanak-kanakan.
(Bagus juga.
Inilah yang namanya hidup.)
Kehidupan yang
selama ini terasa hampa bagi Tovitz, kini mulai ia nikmati sepenuhnya.
"……Tovitz
Huker."
Anis sang Mahkota
Hitam memanggil nama Tovitz.
"Apa yang
lucu?"
"Eh. Apa
tadi aku tertawa?"
Tovitz mencubit
pipinya sendiri. Dia berniat berakting sekonyol mungkin, namun ekspresi Anis
tidak berubah. Dia bisa merasakan tatapan para Demon Lord Phenomenon di
sekitarnya mulai terpusat padanya.
Odin yang terbang
di angkasa membawa para Valkyrie. Tao Wu yang tubuh baja raksasanya
mengeluarkan suara berdecit. Balor yang menggeliat dengan mata terpejam.
Masing-masing
mengarahkan perhatian pada Tovitz. Tak pelak, dia merasa tegang. Berkumpulnya
entitas-entitas sekuat ini di satu tempat saja sudah cukup membuat kuduk
merinding.
"Waduh,
gawat."
Tovitz memutuskan
untuk jujur.
"Tadi
aku mendadak merasa senang, jadi tidak sengaja tertawa. Maaf kalau itu
menyinggungmu."
"Tidak
ada yang menyenangkan. Aku juga tidak berniat mendengar pembelaanmu. Cukup jawab pertanyaanku."
Layaknya seorang
ratu, Anis melontarkan pertanyaan secara sepihak.
"Kamulah
yang bilang bahwa cara berperang harus diubah untuk melawan manusia.
Lalu, kau
menggerakkan pasukan Demon Lord Phenomenon. Deadora dan Nuckelavee.
Mereka berdua sekarang sedang menghentikan unit manusia."
"Benar.
Mereka memenuhi ekspektasiku."
Baik Deadora
maupun Nuckelavee telah berhasil menyerap sisa-sisa jasad Dewi ke dalam
tubuh mereka.
Bisa dibilang,
mereka adalah 'Orang Suci' di pihak Demon Lord Phenomenon. Deadora
memegang kekuatan Dewi Bumi.
Nuckelavee
memegang kekuatan Dewi Ratapan──otoritas yang dulu bisa digunakan oleh
para Dewi, kini bisa mereka gunakan juga.
"Ordo
Ksatria Suci Kesebelas sedang dihentikan oleh nyanyian Nuckelavee. Unit yang
dipimpin Yulisa Kidaphreny sedang diadang oleh Deadora dan dipisahkan dari
pasukan utama. Mereka bekerja dengan sangat baik."
Tujuan keduanya
hanyalah untuk menahan lawan.
Mengulur waktu
dan mengikis kekuatan tempur musuh. Itulah strategi yang diusulkan Tovitz.
Sementara itu,
pasukan besar Demon Lord Phenomenon dan Fairy dikumpulkan,
ditempa, dan dipersiapkan untuk pertempuran penentuan.
Waktu adalah
sekutu bagi Demon Lord Phenomenon. Umat manusia selalu dicemaskan oleh
masalah logistik──karena itu, mereka ditarik jauh ke pedalaman utara ini untuk
dihancurkan.
Itulah pilihan
ideal pertama yang dipikirkan Tovitz.
"Apa kau
mengharapkan hasil yang lebih dari ini, Anis?"
Menang
terlalu telak juga bukan hal yang baik.
Jika manusia
memutuskan untuk menarik diri dari ekspedisi dan memperkuat pertahanan, maka
penyelesaiannya akan memakan waktu lebih lama.
Menarik mereka
masuk lalu memusnahkannya adalah jalan terbaik.
"Tidak.
Ini bukan soal hasil perang. Ini soal Deadora dan Nuckelavee."
"Maksudmu?"
"Dulu kau pernah bilang──memberitahu umat manusia bahwa
mereka adalah entitas yang menyerap jasad Dewi akan memberikan efek yang
kuat. Kenapa kau tidak melakukannya?
Bukankah dengan deklarasi itu, kau bisa memberikan ketakutan pada mereka?"
"Pemilihan
waktu itu penting. Pihak lawan yang paham legenda mungkin sudah menyadarinya,
tapi terlalu dini untuk menyebarkannya secara luas. Tunggulah sampai 'Orang
Suci' Yulisa beraksi lebih banyak lagi."
"Kenapa
begitu?"
"Saat
seseorang meragukan apa yang selama ini mereka yakini. Di saat itulah, manusia
akan lebih merasa takut dan memberikan reaksi yang berlebihan."
Contohnya adalah
Unit Prajurit Hukuman. Fakta bahwa mereka memelihara Demon Lord Phenomenon
telah terbongkar, dan posisi mereka kini dipastikan memburuk dibanding
sebelumnya. Untuk sementara, mereka tidak akan menjadi ancaman.
(Tapi, itu
hanya untuk sementara.)
Tovitz tidak
meremehkan Prajurit Hukuman. Dia yakin suatu saat mereka akan kembali sebagai
ancaman dengan cara curang tertentu. Sebelum itu terjadi, ada beberapa hal yang
ingin dia coba.
"Ha, hahaha!
Aku tidak paham, Anis sang Mahkota Hitam. Apa pendapat makhluk ini
sepenting itu?"
Suara tawa
bergema. Demon Lord Phenomenon Tao Wu menggerakkan tubuh baja raksasanya
yang berdecit dan menatap Tovitz.
"Memang
benar, cara bertarung makhluk ini akurat──sangat berguna. Tapi, membosankan!
Kaku, tidak ada seni, dan terlalu sederhana! Apakah akhir dari pertarungan
macam itu akan sesuai dengan kehendak Raja?"
"……Membicarakan
kehendak Raja adalah hal yang sangat tidak sopan, Tao Wu."
Suara
lesu lainnya menanggapi. Demon Lord Phenomenon Balor angkat bicara.
"Menurutku…… ini eksperimental dan menarik. Intinya adalah jumlah percobaan. Karena
kita tidak bisa mengetahui kehendak Raja, maka tidak ada pilihan selain……
mencoba berbagai hal berulang kali. Sampai terlihat konyol sekalipun……"
"Fufu!
Pemikiranmu terlalu komedi. Semakin sering diulang, sebuah pertunjukan akan
menjadi basi. Perlu ada seleksi ketat. Karena kau sudah memiliki wujud fisik,
gunakanlah kemampuan berpikirmu!"
"Pemikiranmu
jugalah yang terlalu tragedi……. Berlebihan, menindas, dan perfeksionis……"
Tao Wu dan Balor.
Tovitz sudah beberapa kali menyaksikan keduanya beradu mulut.
Dia tidak
menyangka bahwa di antara Demon Lord Phenomenon pun terdapat perbedaan
haluan. Meski begitu, kekuatan mereka terletak pada adanya satu pemimpin mutlak
yang menyatukan pendapat.
"──Cukup
sampai di situ."
Begitu Anis
bersuara, Tao Wu dan Balor langsung berhenti bicara. Odin yang terbang di
langit pun melipat sayapnya dan turun ke tanah. Dia menatap lurus ke arah Anis
dengan satu mata birunya.
Semua Demon
Lord Phenomenon di tempat itu terdiam sepenuhnya secara bersamaan.
"Sudah
cukup. Perdebatan kita hanya membosankan. Tidak ada nilainya."
Anis mengibaskan
tangannya dengan malas.
"Tovitz,
pemanfaatan jasad Dewi kuserahkan padamu. Lanjutkan saja."
"Terima
kasih banyak. Kalau begitu, bolehkah aku kembali ke garis depan? Ada beberapa
hal yang ingin kulakukan."
"Hal yang
ingin kau lakukan? Katakan padaku. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Pertama-tama,
eksperimen."
Satu hal yang
dipikirkan Tovitz sejak berada di pihak Demon Lord Phenomenon adalah
betapa mereka sangat tidak tahu apa-apa soal manusia.
Individu yang
menaruh minat pada manusia sangatlah langka, dan itu memberinya ruang untuk
menunjukkan kemampuannya.
"Jasad Dewi
itu. Aku ingin mencoba apakah bisa berfungsi dengan baik."
"Begitu.
Sepertinya kau sudah bersenang-senang menggunakan para petualang, ya."
Apa yang
dikatakan Anis benar. Tovitz telah menggunakan para petualang untuk menjelajahi
tanah utara ini.
Dia menyuruh
mereka masuk ke reruntuhan satu per satu, dan membuahkan beberapa hasil.
Salah satunya
adalah jasad Dewi Bulan. Kini, jasad Dewi yang dimiliki para Demon
Lord Phenomenon berjumlah tiga.
Dewi Bumi, Dewi Ratapan, dan Dewi
Bulan. Semuanya akan berguna
untuk mengalahkan umat manusia.
"Ini baru
uji coba, tapi akan kulakukan. Jika berhasil, ini akan sangat
menguntungkan──lalu, satu hal lagi. Aku berniat melakukan upaya
pembunuhan."
Ini juga hal yang
patut dicoba.
"Ryufen
Cauldron. Jika pria itu bisa dibunuh, kita bisa menang tanpa perlu pertempuran
penentuan."
Si jenius
logistik. Kunci militer Aliansi Kerajaan sekaligus Komandan Ordo Ksatria Suci.
Ryufen
Cauldron──Tovitz sudah memperhatikannya sejak dia masih di militer.
Dalam hal
kemampuan menjalankan perang, Tovitz merasa dirinya pun masih kalah jauh.
Berkat
keberadaannya jugalah, umat manusia bisa melangkah melakukan ekspedisi besar
ini. Jika pria itu lenyap, pasukan Aliansi Kerajaan akan mengalami disfungsi.
"Aku akan
menggunakan unit 7110 wilayah Jutob yang telah kutempa. Rencananya sudah
berjalan, jadi hasilnya akan keluar dalam beberapa hari. Lalu, aku juga harus
mencoba eksperimen penanganan mendasar untuk Prajurit Hukuman."
"Baiklah.
Untuk membuat umat manusia putus asa dan ketakutan, cobalah segala hal yang
bisa kau lakukan."
Anis sang
Mahkota Hitam mengangguk kecil.
"Benar──keputusasaan
dan ketakutan. Itulah tujuan keberadaan kami."
Apakah itu juga yang dikatakan Abaddon? Tovitz sedikit penasaran.



Post a Comment