Catatan Operasional Saint
Pertempuran Pertahanan Kota Meriam No-Fan
Pesisir selatan
Selat Valigahi. Pelabuhan militer Biakko tampak sibuk dengan hilir mudik kapal
yang tak terhitung jumlahnya.
Angin musim
dingin yang menusuk kulit telah berhenti, digantikan semilir angin musim semi
yang terasa hangat, namun entah mengapa terasa menyesakkan.
Mungkin itu bukan
sekadar soal musim hujan yang akan tiba sebelum musim panas nanti. Hal itu
kemungkinan besar berasal dari situasi saat ini dan suasana hatinya sendiri.
Begitulah yang
dipikirkan Komandan Ksatria Suci Keenam, Lyuphen Kaulon.
(Sederhananya,
aku sedang malas.)
Suasana hati itu
kian diperburuk oleh satu orang yang kini berada tepat di hadapannya.
Dia adalah
Komandan Ksatria Suci Keempat, Savette Fizballer. Seorang wanita dengan rambut
emas bergelombang dan mata sehijau zamrud. Sejak tadi, dia terus menghujani
Lyuphen dengan berbagai pertanyaan.
"──Apa Anda
benar-benar berniat pergi sendiri?"
Nada
bicaranya terdengar seperti sedang menggoda, namun setengahnya lagi terdengar
jengah.
"Komandan
Ksatria Suci Lyuphen Kaulon. Jangan-jangan, Anda tidak sadar dengan posisi Anda sendiri?"
"Mungkin
saja begitu. Aku memang payah kalau soal jabatan."
Ini adalah
kejujuran. Bekerja dengan terlalu memikirkan posisi terasa sangat mengekang
baginya.
Sejak kecil dia
diharapkan demikian, namun dia merasa tak pernah bisa memenuhi ekspektasi
keluarganya. Bahkan setelah menjadi Ksatria Suci pun tetap sama. Pasalnya,
secara mendasar Ksatria Suci tidak bisa memiliki keluarga. Lebih
tepatnya, tidak boleh memiliki keluarga.
"Yah…… tapi mau bagaimana lagi."
Lyuphen Kaulon
tersenyum tipis.
"Jalur
suplai sudah terlalu panjang. Kalau tidak membangun markas di garis depan, aku
bisa gila karena terlalu sibuk."
Sambil
berkata demikian, dia memasang label "Milik Pribadi" pada barang
bawaan terakhirnya.
Itu
adalah label logam yang diukir dengan segel suci; dengan menggunakan cap
verifikasi khusus, seseorang bisa mengetahui isi, lokasi, hingga apakah barang
itu pernah dibuka atau tidak.
Inovasi
semacam ini dibuat demi menyelamatkan dirinya sendiri yang sangat ceroboh dan
pemalas.
"Lagipula,
Yang Mulia Bux bergerak terlalu cepat. Mengikutinya saja sudah setengah mati,
aku sampai pusing dibuatnya. Yang Mulia Esgain juga terlalu banyak menuntut,
itu merepotkan."
Ada dua
unit sekutu yang membuat Lyuphen pening.
Pasukan
Ksatria Suci Kesebelas yang dipimpin oleh si "Pahlawan" Bux Wintier
terus merangsek maju tanpa henti. Saat ini mereka dikabarkan telah tersebar di
perbukitan utara No-Fan, saling berhadapan dengan Demon Lord Phenomenon
di seberang Sungai Scar.
Sementara
itu, pasukan utama di bawah pimpinan Panglima Marcorus Esgain telah menetap di
No-Fan, bersiap mendukung Pasukan Ksatria Suci Kesebelas.
Tugas utama
mereka adalah membebaskan desa-desa sekitar, berpusat pada unit milik Saint
Yulisa.
(Kedua lini
depan itu sama-sama tidak bisa diabaikan……)
Mengatur logistik
untuk keduanya sambil menyesuaikan diri dengan situasi lapangan yang berubah
cepat adalah tugas yang sangat mustahil.
Melakukannya dari
Ibukota sudah tidak efektif lagi. Akhirnya, Lyuphen memutuskan tidak ada
pilihan lain selain terjun langsung ke pesisir utara Valigahi.
Karena itulah dia
berada di pelabuhan sekarang. Kedatangan Savette—yang bertugas mengendalikan
cuaca di sepanjang pantai—mungkin setengahnya untuk membunuh waktu, dan
setengahnya lagi sebagai peringatan.
"Komandan
Ksatria Suci Bux itu terlalu manja kepadamu."
Savette
Fizballer meletakkan tangannya di atas salah satu peti barang milik Lyuphen.
Dia menumpukan berat badannya agar peti itu tidak mudah digerakkan. Jelas
sebuah tindakan menghalangi.
"Karena
kamu terlalu lihai mengatur logistik, semua orang jadi besar kepala. Padahal kalau kamu mau sedikit santai
saja."
"Aku sudah
santai, kok. Aku ini sangat pemalas."
Ini juga
kejujuran. Demi bisa bermalas-malasan, Lyuphen telah melakukan banyak hal. Tetap saja pekerjaan justru
semakin menumpuk, militer memang tempat yang mengerikan. Sayang sekali begitu
menjadi Ksatria Suci, dia tidak bisa berhenti begitu saja.
"Memikirkan
jumlah barang itu merepotkan, memikirkan rute transportasi sendiri juga
merepotkan. Aku benar-benar ogah melakukannya karena pasti gagal. Makanya,
belakangan ini aku membuat sebagian besar sistemnya menjadi otomatis──"
"Bukan itu
maksudku."
Savette memotong
rentetan penjelasan upaya Lyuphen dengan satu kalimat.
"Maksudku,
tidak baik jika pada akhirnya kamu selalu berhasil menyelesaikannya dengan
baik. Bagaimana kalau begini, Pak Komandan? Jika kamu maju ke garis depan demi
mencari kehormatan perang sebagai ksatria, tugas berat sebagai pengurus
logistik pasti akan dilemparkan ke orang lain."
"Itu malah
lebih gawat. Aku juga payah kalau di garis depan. Aku selalu heran bagaimana
orang-orang bisa menentukan cara bertarung tanpa ragu sedikit pun. Aku sangat
menghormati mereka."
Lyuphen sengaja
mengatakannya dengan nada sarkas. Kemudian, dia menyentuh peti yang ditindih
oleh Savette.
"Bisa tolong
menyingkir, Komandan Ksatria Suci Keempat? Sudah waktunya aku berangkat.
Nivrenne-ku sudah naik ke kapal dengan semangat berapi-api."
"──Begitu
ya. Aku mengerti sekarang. Bahwa
kamu sama sekali tidak berniat mundur."
Savette tampak
menyerah di sana.
"Tapi,
berhati-hatilah dengan satu hal ini. Kamu sepertinya tidak menyadarinya, tapi
bagi umat manusia──"
"Lyuphen!"
Tiba-tiba, suara
nyaring bergema. Suara itu berasal dari arah kapal.
Seorang
gadis menjulurkan tubuhnya dari pinggir kapal sambil melompat-lompat. Penampilannya terlihat sangat belia.
Namanya adalah
Nivrenne, sang "Dewi" Kekuatan. Dia adalah Dewi yang terikat kontrak dengan
Lyuphen.
"Lagi
apa, sih! Lambat! Cepat naik, kapten bilang kita sudah bisa berangkat kapan
saja!"
"Iya, aku
akan naik sekarang."
"Kamu selalu
bilang begitu! Kata 'sekarang' milik Lyuphen itu lambat sekali!"
Lyuphen tertawa
kecil.
"Jangan
melompat-lompat begitu. Kamu bisa jatuh ke laut nanti."
"Mana
mungkin aku jatuh! Kamu pikir aku ini siapa──eh, loh? Savette-chan!"
Nivrenne
menyadari keberadaan Savette dan melambaikan kedua tangannya dengan ceria.
"Kamu
datang untuk mengantar? Terima kasih! Di sini aman, serahkan saja Lyuphen padaku!"
"……Dewi-mu
benar-benar bersemangat, ya."
Savette
tersenyum kecut dan akhirnya melepaskan tangannya dari barang bawaan Lyuphen.
"Jaga
dirimu baik-baik. Hanya itu yang ingin kukatakan."
"……Terima
kasih."
Setelah
membungkuk kecil, Lyuphen menatap punggung Savette yang menjauh. Wanita itu terlihat gagah seperti
biasanya, namun ada sedikit perbedaan pada cara jalannya. Terasa sedikit
lamban.
(Sepertinya
dia kelelahan, ya wajar saja.)
Selama beberapa
bulan terakhir, sepertinya Dewi miliknya telah mengerahkan kemampuan
pemanggilan tanpa henti──berkat itu, iklim di pesisir pantai tetap terjaga
ideal. Selain pembagian penggunaan pemanggilan tersebut, Savette juga memiliki
tugas untuk mengkaji jaringan pertahanan di bagian barat.
(Berat
juga, ya. Semuanya pun begitu.)
Lyuphen
berpikir demikian sambil melepas kepergian rambut emas Savette yang berkibar.
(Ini
akan menjadi pertempuran penentuan yang terakhir. Keuangan Kerajaan sudah di ambang batas. Sekarang,
harapan terakhir sedang berjuang.)
Bux Wintier.
Xylo Forbartz.
Dulu dia pernah
berandai-andai. Jika kedua orang ini bisa dibuat bekerja sama dan berkoordinasi
secara sempurna, adakah yang sanggup melawan mereka di dunia ini?
Dan
mungkin, tidak ada orang lain selain dirinya yang bisa mendukung pertarungan
tersebut.
(Memikirkan
hal seperti ini terasa seperti delusi keagungan. Tapi──)
Lyuphen menatap
ke seberang lautan.
Kira-kira, apa
yang sedang dilakukan Xylo Forbartz sekarang? Dia dengar situasinya menjadi
sangat buruk setelah terungkap bahwa Demon Lord Phenomenon telah
menyusup ke dalam unit Prajurit Hero. Mungkin dia akan diterjunkan ke medan perang
yang lebih berbahaya lagi.
Apa pun itu,
hanya ada satu hal yang harus dilakukan Lyuphen.
(Aku akan
menemanimu sampai akhir, kali ini pastinya.)
◆
"──Semuanya ditolak."
Panglima Pasukan
Aliansi Kerajaan, Marcorus Esgain, menolak dengan penuh wibawa.
"Pasukan
kita tidak akan bergerak dari sini. Membangun sistem pertahanan No-Fan adalah
prioritas utama."
Dia menumpukan
siku di meja, menangkupkan tangan, dan tidak bergerak sedikit pun.
Dia tahu posisi
seperti itu memberikan tekanan pada orang di sekitarnya. Terbukti, para perwira
yang berbaris tampak sedikit tegang dan merapatkan ekspresi wajah mereka.
Ini adalah ruang
kerja di benteng pusat Kota Meriam No-Fan. Karena ruangan ini digunakan secara
darurat, furnitur yang tersedia sangat sedikit, membuatnya terasa luas dan
sunyi.
Perwira yang
dikumpulkan di sini pun dibatasi jumlahnya. Hanya mereka yang bisa dipercaya
dan dikendalikan oleh Esgain.
"Ini adalah
keputusanku sebagai Panglima Galtuille. Sampaikan itu pada Ksatria Suci
Kesebelas dan juga sang Saint."
"Tapi,
Panglima."
Yang angkat
bicara adalah salah satu staf ahli bentukan Esgain sendiri. Seorang veteran
dengan banyak pengalaman lapangan yang kariernya sempat mandek sebelum akhirnya
ditarik naik oleh Esgain.
"Brigade
Jenazah Suci yang dipimpin Saint Yulisa mengirimkan permintaan bantuan hampir
setiap hari. Mereka menyatakan bahwa kekuatan tempur untuk menjaga desa-desa
yang telah dibebaskan sangatlah krusial. Selain itu, ada juga permintaan
tambahan unit logistik dari Pasukan Ksatria Suci Kesebelas."
"Tentu saja,
keduanya kutolak."
Keberatan dari
staf ini sebenarnya adalah bagian dari skenario yang telah disusun Esgain.
"Dengan kita
mengamankan area sekitar No-Fan, pasukan garis depan bisa bertarung dengan
maksimal. Pertama-tama, memperkuat pertahanan adalah hal utama. Meriam-meriam
itu harus bisa ditembakkan. Dan juga, pengaturan pendapatan pajak."
Kota Meriam
No-Fan telah bertahan dengan baik meski terisolasi di wilayah utara ini.
Sudah sekitar
tiga tahun sejak koordinasi dengan pusat terputus. Ada dua faktor yang membuat
mereka sanggup bertahan selama itu: keberadaan "Aliansi Pita Abu-abu"
sebagai pusat perlawanan manusia di utara, dan perkebunan sekitar yang
memungkinkan swasembada pangan.
Dari keduanya,
Esgain berfokus pada poin terakhir. Para pemilik tanah di perkebunan yang
dikelilingi tembok kokoh itu memiliki aset tertentu.
Jika demikian,
maka aset itu harus ditarik sebagai pajak. Dengan begitu, dia bisa memberi
imbalan kepada para bangsawan yang mengikutinya dan perwira bawahannya.
Bagi Esgain yang
posisinya masih belum stabil—sejenis orang kaya baru di dunia militer—hal ini
sangatlah penting.
"Lagi pula,
kita tidak berada di bawah Kuil. Hubungan kita dengan Ksatria Suci dan Saint
adalah setara. Kita akan melindungi Aliansi Kerajaan dengan kekuatan kita
sendiri, bukan dengan keajaiban para Dewi. Kalian sudah siap dengan tekad itu,
kan?"
"Tentu saja.
Mendengar itu membuat saya tenang. Luar biasa, Panglima."
Staf ahli itu
menyeringai. Sikap yang lebih memercayai kekuatan manusia daripada Dewi sangat
efektif untuk mengambil hati orang-orang di tempat seperti ini. Sebenarnya,
bagi Esgain, yang mana pun tidak masalah.
"──Selain
itu, apakah ada yang punya kekhawatiran lain?"
"Anu."
Yang mengangkat
satu tangan adalah staf ahli yang lain. Dia masih muda dan bukan sepenuhnya
kaki tangan setia Esgain. Meski begitu, dia adalah putra sulung dari keluarga
bangsawan ternama, jadi dia punya nilai untuk diperhatikan.
"Mengenai
perlakuan terhadap Unit Prajurit Hero."
"Ah. Sudah
seperti yang kusampaikan tadi."
Esgain menjawab
dengan sabar.
"Aku sudah
memberikan tugas kepada mereka."
"Tapi, tugas seperti itu…… itu lebih terlihat seperti
hukuman daripada sebuah misi."
"Benar. Hukuman. Memangnya apalagi? Mereka secara
mengerikan telah menyembunyikan Demon Lord Phenomenon di dalam unit
mereka sendiri. Bisa dibilang mereka setara dengan pengkhianat umat
manusia."
"Meski begitu, mereka selalu membuahkan hasil."
Staf muda itu tetap bersikeras.
"Kegelisahan mulai menyebar di kalangan perwira rendah
dan prajurit biasa. Banyak dari mereka yang menganggap orang-orang itu sebagai
pahlawan karena dipimpin oleh Dewi dan berhasil memukul mundur Demon Lord
Phenomenon."
"Justru di situlah letak kesalahannya."
Entah sudah berapa kali dia mendengar nama Xylo Forbartz dan
sang Dewi Pedang, Teoritta.
Dia tahu reputasi
mereka sedang naik di kalangan perwira rendah dan prajurit. Bahkan ada yang
memprovokasi bahwa merekalah pahlawan yang sebenarnya.
Karena itulah hal
ini berbahaya. Dan juga, tidak menyenangkan.
Tidak boleh ada
orang yang mendapatkan kepercayaan massa selain dirinya sebagai Panglima
Galtuille. Bux Wintier dan Saint Yulisa adalah pengecualian karena mereka harus
diangkat sebagai simbol, tapi para Prajurit Hero itu beda.
(Jika
membiarkan orang-orang seperti itu merajalela, ketertiban tidak akan bisa
tegak.)
Dia merasa perlu
untuk menyingkirkan mereka bagaimanapun caranya. Dia tidak butuh orang yang
memiliki ketenaran lebih darinya.
Jika lawan tidak
bisa dibunuh, maka dia akan menghancurkan reputasi mereka sepenuhnya. Setelah
itu, dia akan terus menerjunkan mereka ke dalam misi sampai kepribadian mereka
terkikis habis, dan membunuh mereka berkali-kali.
"Kali ini,
mereka pasti akan mati."
Lebih tepatnya,
"kali ini juga". Ke depannya, tidak akan ada satu pun operasi yang
akan dibiarkan berhasil oleh Unit Prajurit Hero.
Bahkan Dewi
Teoritta itu pun tidak akan diperlukan lagi. Setidaknya, baginya saat ini, dia
tidak punya nilai guna.
Bagi Esgain yang
mendapatkan posisinya sekarang dengan memanfaatkan kebencian dan
ketidapercayaan terhadap Kuil serta keyakinan agama, tidak ada jalan lain yang
tersisa. Dia akan terus menekan.
Sikap
konfrontatif terhadap Kuil, keluarga kerajaan, dan otoritas yang ada harus
tetap dipertahankan──walaupun suatu saat nanti dia mungkin perlu berkompromi
dan mengubah arah kebijakannya.
"Cukup
sekian. Ada yang keberatan?"
Saat staf muda
itu hendak membuka mulut, seorang perwira lain di sampingnya menghentikannya.
Perwira itu
menegur si pemuda dengan tatapan tajam, lalu mengangguk sambil tersenyum ke
arah Esgain.
Seolah berkata
bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Ternyata benar keputusannya melibatkan
staf muda itu. Biarkan dia mengeluarkan pendapat sekali, lalu tolak.
Lakukan itu
berulang kali untuk menanamkan pemahaman bahwa perlawanan itu sia-sia.
Lama-kelamaan, dia tidak akan berani lagi mengajukan keberatan.
Esgain bersandar
dalam di kursinya dan menatap ke luar jendela.
Lonceng kota
mulai berdentang. Itu adalah sinyal persiapan penembakan meriam.
Kota Meriam
No-Fan. Delapan menara yang menjadi simbol nama kota tersebut mulai aktif. Itu
adalah "Meriam" untuk tembakan jarak jauh yang ditempatkan di tembok
kota yang mengelilingi pemukiman.
Keberadaan
"Meriam" inilah yang mencegah Demon Lord Phenomenon mendekati
kota ini. Mereka biasa disebut sebagai "Delapan Gerbang Cahaya Suci".
(Tapi itu
cerita masa lalu.)
Esgain sudah
mengetahui kondisi kota yang sebenarnya.
Melakukan
persiapan penembakan sekali sehari seperti ini hanyalah gertakan semata.
Sesekali satu
meriam mungkin akan menembak jarak pendek sebagai bentuk ancaman, namun itu pun
hanya untuk membubarkan kerumunan Fairy yang mulai berkumpul, bukan
bertujuan untuk memusnahkan mereka.
(Tak
kusangka benda-benda itu sudah tidak berguna lagi. Perhitunganku meleset……!)
Kenyataannya,
saat ini "Delapan Gerbang Cahaya Suci" hampir tidak bisa digunakan
sama sekali. Penyebabnya adalah kurangnya tenaga ahli dan bahan baku.
Kota
Meriam No-Fan yang terisolasi dalam waktu lama dan berjuang setengah mati ini
sebenarnya telah jatuh ke dalam disfungsi, berbanding terbalik dengan
julukannya yang megah.
Terutama
kekurangan tenaga ahli yang sangat fatal. Para penembak meriam yang disebut
"Maestro" karena kemahiran tembakan jarak jauhnya hampir semuanya
telah meninggal dunia. Bahkan terjadi konflik internal dalam memperebutkan
posisi penerus mereka.
(Isinya
hanya orang-orang tidak berguna.)
Dalam
situasi seperti ini, Esgain selalu menyingkirkan penyebab ketidakbergunaan
tersebut. Sampai sekarang, Esgain selalu memiliki "atasan". Komandan,
jenderal, staf ahli, panglima──dari sudut pandang Esgain, dia terus
menyingkirkan "atasan" yang tidak berguna itu hingga mencapai
posisinya sekarang. Namun jika dipikirkan kembali, dia menyadari betapa tidak
bebasnya hal itu.
Setelah
sampai di titik ini, dia tidak bisa lagi mencari penyebab ketidakbergunaan pada
"atasan". Sekarang semuanya bergerak berdasarkan keputusannya
sendiri.
(Meskipun
begitu, kenapa sampai tidak berjalan semulus ini?)
Atau, mungkinkah
penyebabnya ada pada kemampuannya sendiri?
Hanya hal
itu yang tidak akan pernah dia akui. Esgain memperingatkan dirinya sendiri.
Dia sudah berdiri di puncak. Sekarang, dia tidak punya pilihan selain menentukan segalanya sendirian.



Post a Comment