NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 7 Interlude II

Catatan Operasional Saint

Pertempuran Pertahanan Kota Meriam No-Fan


Pesisir selatan Selat Valigahi. Pelabuhan militer Biakko tampak sibuk dengan hilir mudik kapal yang tak terhitung jumlahnya.

Angin musim dingin yang menusuk kulit telah berhenti, digantikan semilir angin musim semi yang terasa hangat, namun entah mengapa terasa menyesakkan.

Mungkin itu bukan sekadar soal musim hujan yang akan tiba sebelum musim panas nanti. Hal itu kemungkinan besar berasal dari situasi saat ini dan suasana hatinya sendiri.

Begitulah yang dipikirkan Komandan Ksatria Suci Keenam, Lyuphen Kaulon.

(Sederhananya, aku sedang malas.)

Suasana hati itu kian diperburuk oleh satu orang yang kini berada tepat di hadapannya.

Dia adalah Komandan Ksatria Suci Keempat, Savette Fizballer. Seorang wanita dengan rambut emas bergelombang dan mata sehijau zamrud. Sejak tadi, dia terus menghujani Lyuphen dengan berbagai pertanyaan.

"──Apa Anda benar-benar berniat pergi sendiri?"

Nada bicaranya terdengar seperti sedang menggoda, namun setengahnya lagi terdengar jengah.

"Komandan Ksatria Suci Lyuphen Kaulon. Jangan-jangan, Anda tidak sadar dengan posisi Anda sendiri?"

"Mungkin saja begitu. Aku memang payah kalau soal jabatan."

Ini adalah kejujuran. Bekerja dengan terlalu memikirkan posisi terasa sangat mengekang baginya.

Sejak kecil dia diharapkan demikian, namun dia merasa tak pernah bisa memenuhi ekspektasi keluarganya. Bahkan setelah menjadi Ksatria Suci pun tetap sama. Pasalnya, secara mendasar Ksatria Suci tidak bisa memiliki keluarga. Lebih tepatnya, tidak boleh memiliki keluarga.

"Yah…… tapi mau bagaimana lagi."

Lyuphen Kaulon tersenyum tipis.

"Jalur suplai sudah terlalu panjang. Kalau tidak membangun markas di garis depan, aku bisa gila karena terlalu sibuk."

Sambil berkata demikian, dia memasang label "Milik Pribadi" pada barang bawaan terakhirnya.

Itu adalah label logam yang diukir dengan segel suci; dengan menggunakan cap verifikasi khusus, seseorang bisa mengetahui isi, lokasi, hingga apakah barang itu pernah dibuka atau tidak.

Inovasi semacam ini dibuat demi menyelamatkan dirinya sendiri yang sangat ceroboh dan pemalas.

"Lagipula, Yang Mulia Bux bergerak terlalu cepat. Mengikutinya saja sudah setengah mati, aku sampai pusing dibuatnya. Yang Mulia Esgain juga terlalu banyak menuntut, itu merepotkan."

Ada dua unit sekutu yang membuat Lyuphen pening.

Pasukan Ksatria Suci Kesebelas yang dipimpin oleh si "Pahlawan" Bux Wintier terus merangsek maju tanpa henti. Saat ini mereka dikabarkan telah tersebar di perbukitan utara No-Fan, saling berhadapan dengan Demon Lord Phenomenon di seberang Sungai Scar.

Sementara itu, pasukan utama di bawah pimpinan Panglima Marcorus Esgain telah menetap di No-Fan, bersiap mendukung Pasukan Ksatria Suci Kesebelas.

Tugas utama mereka adalah membebaskan desa-desa sekitar, berpusat pada unit milik Saint Yulisa.

(Kedua lini depan itu sama-sama tidak bisa diabaikan……)

Mengatur logistik untuk keduanya sambil menyesuaikan diri dengan situasi lapangan yang berubah cepat adalah tugas yang sangat mustahil.

Melakukannya dari Ibukota sudah tidak efektif lagi. Akhirnya, Lyuphen memutuskan tidak ada pilihan lain selain terjun langsung ke pesisir utara Valigahi.

Karena itulah dia berada di pelabuhan sekarang. Kedatangan Savette—yang bertugas mengendalikan cuaca di sepanjang pantai—mungkin setengahnya untuk membunuh waktu, dan setengahnya lagi sebagai peringatan.

"Komandan Ksatria Suci Bux itu terlalu manja kepadamu."

Savette Fizballer meletakkan tangannya di atas salah satu peti barang milik Lyuphen. Dia menumpukan berat badannya agar peti itu tidak mudah digerakkan. Jelas sebuah tindakan menghalangi.

"Karena kamu terlalu lihai mengatur logistik, semua orang jadi besar kepala. Padahal kalau kamu mau sedikit santai saja."

"Aku sudah santai, kok. Aku ini sangat pemalas."

Ini juga kejujuran. Demi bisa bermalas-malasan, Lyuphen telah melakukan banyak hal. Tetap saja pekerjaan justru semakin menumpuk, militer memang tempat yang mengerikan. Sayang sekali begitu menjadi Ksatria Suci, dia tidak bisa berhenti begitu saja.

"Memikirkan jumlah barang itu merepotkan, memikirkan rute transportasi sendiri juga merepotkan. Aku benar-benar ogah melakukannya karena pasti gagal. Makanya, belakangan ini aku membuat sebagian besar sistemnya menjadi otomatis──"

"Bukan itu maksudku."

Savette memotong rentetan penjelasan upaya Lyuphen dengan satu kalimat.

"Maksudku, tidak baik jika pada akhirnya kamu selalu berhasil menyelesaikannya dengan baik. Bagaimana kalau begini, Pak Komandan? Jika kamu maju ke garis depan demi mencari kehormatan perang sebagai ksatria, tugas berat sebagai pengurus logistik pasti akan dilemparkan ke orang lain."

"Itu malah lebih gawat. Aku juga payah kalau di garis depan. Aku selalu heran bagaimana orang-orang bisa menentukan cara bertarung tanpa ragu sedikit pun. Aku sangat menghormati mereka."

Lyuphen sengaja mengatakannya dengan nada sarkas. Kemudian, dia menyentuh peti yang ditindih oleh Savette.

"Bisa tolong menyingkir, Komandan Ksatria Suci Keempat? Sudah waktunya aku berangkat. Nivrenne-ku sudah naik ke kapal dengan semangat berapi-api."

"──Begitu ya. Aku mengerti sekarang. Bahwa kamu sama sekali tidak berniat mundur."

Savette tampak menyerah di sana.

"Tapi, berhati-hatilah dengan satu hal ini. Kamu sepertinya tidak menyadarinya, tapi bagi umat manusia──"

"Lyuphen!"

Tiba-tiba, suara nyaring bergema. Suara itu berasal dari arah kapal.

Seorang gadis menjulurkan tubuhnya dari pinggir kapal sambil melompat-lompat. Penampilannya terlihat sangat belia.

Namanya adalah Nivrenne, sang "Dewi" Kekuatan. Dia adalah Dewi yang terikat kontrak dengan Lyuphen.

"Lagi apa, sih! Lambat! Cepat naik, kapten bilang kita sudah bisa berangkat kapan saja!"

"Iya, aku akan naik sekarang."

"Kamu selalu bilang begitu! Kata 'sekarang' milik Lyuphen itu lambat sekali!"

Lyuphen tertawa kecil.

"Jangan melompat-lompat begitu. Kamu bisa jatuh ke laut nanti."

"Mana mungkin aku jatuh! Kamu pikir aku ini siapa──eh, loh? Savette-chan!"

Nivrenne menyadari keberadaan Savette dan melambaikan kedua tangannya dengan ceria.

"Kamu datang untuk mengantar? Terima kasih! Di sini aman, serahkan saja Lyuphen padaku!"

"……Dewi-mu benar-benar bersemangat, ya."

Savette tersenyum kecut dan akhirnya melepaskan tangannya dari barang bawaan Lyuphen.

"Jaga dirimu baik-baik. Hanya itu yang ingin kukatakan."

"……Terima kasih."

Setelah membungkuk kecil, Lyuphen menatap punggung Savette yang menjauh. Wanita itu terlihat gagah seperti biasanya, namun ada sedikit perbedaan pada cara jalannya. Terasa sedikit lamban.

(Sepertinya dia kelelahan, ya wajar saja.)

Selama beberapa bulan terakhir, sepertinya Dewi miliknya telah mengerahkan kemampuan pemanggilan tanpa henti──berkat itu, iklim di pesisir pantai tetap terjaga ideal. Selain pembagian penggunaan pemanggilan tersebut, Savette juga memiliki tugas untuk mengkaji jaringan pertahanan di bagian barat.

(Berat juga, ya. Semuanya pun begitu.)

Lyuphen berpikir demikian sambil melepas kepergian rambut emas Savette yang berkibar.

(Ini akan menjadi pertempuran penentuan yang terakhir. Keuangan Kerajaan sudah di ambang batas. Sekarang, harapan terakhir sedang berjuang.)

Bux Wintier.

Xylo Forbartz.

Dulu dia pernah berandai-andai. Jika kedua orang ini bisa dibuat bekerja sama dan berkoordinasi secara sempurna, adakah yang sanggup melawan mereka di dunia ini?

Dan mungkin, tidak ada orang lain selain dirinya yang bisa mendukung pertarungan tersebut.

(Memikirkan hal seperti ini terasa seperti delusi keagungan. Tapi──)

Lyuphen menatap ke seberang lautan.

Kira-kira, apa yang sedang dilakukan Xylo Forbartz sekarang? Dia dengar situasinya menjadi sangat buruk setelah terungkap bahwa Demon Lord Phenomenon telah menyusup ke dalam unit Prajurit Hero. Mungkin dia akan diterjunkan ke medan perang yang lebih berbahaya lagi.

Apa pun itu, hanya ada satu hal yang harus dilakukan Lyuphen.

(Aku akan menemanimu sampai akhir, kali ini pastinya.)

"──Semuanya ditolak."

Panglima Pasukan Aliansi Kerajaan, Marcorus Esgain, menolak dengan penuh wibawa.

"Pasukan kita tidak akan bergerak dari sini. Membangun sistem pertahanan No-Fan adalah prioritas utama."

Dia menumpukan siku di meja, menangkupkan tangan, dan tidak bergerak sedikit pun.

Dia tahu posisi seperti itu memberikan tekanan pada orang di sekitarnya. Terbukti, para perwira yang berbaris tampak sedikit tegang dan merapatkan ekspresi wajah mereka.

Ini adalah ruang kerja di benteng pusat Kota Meriam No-Fan. Karena ruangan ini digunakan secara darurat, furnitur yang tersedia sangat sedikit, membuatnya terasa luas dan sunyi.

Perwira yang dikumpulkan di sini pun dibatasi jumlahnya. Hanya mereka yang bisa dipercaya dan dikendalikan oleh Esgain.

"Ini adalah keputusanku sebagai Panglima Galtuille. Sampaikan itu pada Ksatria Suci Kesebelas dan juga sang Saint."

"Tapi, Panglima."

Yang angkat bicara adalah salah satu staf ahli bentukan Esgain sendiri. Seorang veteran dengan banyak pengalaman lapangan yang kariernya sempat mandek sebelum akhirnya ditarik naik oleh Esgain.

"Brigade Jenazah Suci yang dipimpin Saint Yulisa mengirimkan permintaan bantuan hampir setiap hari. Mereka menyatakan bahwa kekuatan tempur untuk menjaga desa-desa yang telah dibebaskan sangatlah krusial. Selain itu, ada juga permintaan tambahan unit logistik dari Pasukan Ksatria Suci Kesebelas."

"Tentu saja, keduanya kutolak."

Keberatan dari staf ini sebenarnya adalah bagian dari skenario yang telah disusun Esgain.

"Dengan kita mengamankan area sekitar No-Fan, pasukan garis depan bisa bertarung dengan maksimal. Pertama-tama, memperkuat pertahanan adalah hal utama. Meriam-meriam itu harus bisa ditembakkan. Dan juga, pengaturan pendapatan pajak."

Kota Meriam No-Fan telah bertahan dengan baik meski terisolasi di wilayah utara ini.

Sudah sekitar tiga tahun sejak koordinasi dengan pusat terputus. Ada dua faktor yang membuat mereka sanggup bertahan selama itu: keberadaan "Aliansi Pita Abu-abu" sebagai pusat perlawanan manusia di utara, dan perkebunan sekitar yang memungkinkan swasembada pangan.

Dari keduanya, Esgain berfokus pada poin terakhir. Para pemilik tanah di perkebunan yang dikelilingi tembok kokoh itu memiliki aset tertentu.

Jika demikian, maka aset itu harus ditarik sebagai pajak. Dengan begitu, dia bisa memberi imbalan kepada para bangsawan yang mengikutinya dan perwira bawahannya.

Bagi Esgain yang posisinya masih belum stabil—sejenis orang kaya baru di dunia militer—hal ini sangatlah penting.

"Lagi pula, kita tidak berada di bawah Kuil. Hubungan kita dengan Ksatria Suci dan Saint adalah setara. Kita akan melindungi Aliansi Kerajaan dengan kekuatan kita sendiri, bukan dengan keajaiban para Dewi. Kalian sudah siap dengan tekad itu, kan?"

"Tentu saja. Mendengar itu membuat saya tenang. Luar biasa, Panglima."

Staf ahli itu menyeringai. Sikap yang lebih memercayai kekuatan manusia daripada Dewi sangat efektif untuk mengambil hati orang-orang di tempat seperti ini. Sebenarnya, bagi Esgain, yang mana pun tidak masalah.

"──Selain itu, apakah ada yang punya kekhawatiran lain?"

"Anu."

Yang mengangkat satu tangan adalah staf ahli yang lain. Dia masih muda dan bukan sepenuhnya kaki tangan setia Esgain. Meski begitu, dia adalah putra sulung dari keluarga bangsawan ternama, jadi dia punya nilai untuk diperhatikan.

"Mengenai perlakuan terhadap Unit Prajurit Hero."

"Ah. Sudah seperti yang kusampaikan tadi."

Esgain menjawab dengan sabar.

"Aku sudah memberikan tugas kepada mereka."

"Tapi, tugas seperti itu…… itu lebih terlihat seperti hukuman daripada sebuah misi."

"Benar. Hukuman. Memangnya apalagi? Mereka secara mengerikan telah menyembunyikan Demon Lord Phenomenon di dalam unit mereka sendiri. Bisa dibilang mereka setara dengan pengkhianat umat manusia."

"Meski begitu, mereka selalu membuahkan hasil."

Staf muda itu tetap bersikeras.

"Kegelisahan mulai menyebar di kalangan perwira rendah dan prajurit biasa. Banyak dari mereka yang menganggap orang-orang itu sebagai pahlawan karena dipimpin oleh Dewi dan berhasil memukul mundur Demon Lord Phenomenon."

"Justru di situlah letak kesalahannya."

Entah sudah berapa kali dia mendengar nama Xylo Forbartz dan sang Dewi Pedang, Teoritta.

Dia tahu reputasi mereka sedang naik di kalangan perwira rendah dan prajurit. Bahkan ada yang memprovokasi bahwa merekalah pahlawan yang sebenarnya.

Karena itulah hal ini berbahaya. Dan juga, tidak menyenangkan.

Tidak boleh ada orang yang mendapatkan kepercayaan massa selain dirinya sebagai Panglima Galtuille. Bux Wintier dan Saint Yulisa adalah pengecualian karena mereka harus diangkat sebagai simbol, tapi para Prajurit Hero itu beda.

(Jika membiarkan orang-orang seperti itu merajalela, ketertiban tidak akan bisa tegak.)

Dia merasa perlu untuk menyingkirkan mereka bagaimanapun caranya. Dia tidak butuh orang yang memiliki ketenaran lebih darinya.

Jika lawan tidak bisa dibunuh, maka dia akan menghancurkan reputasi mereka sepenuhnya. Setelah itu, dia akan terus menerjunkan mereka ke dalam misi sampai kepribadian mereka terkikis habis, dan membunuh mereka berkali-kali.

"Kali ini, mereka pasti akan mati."

Lebih tepatnya, "kali ini juga". Ke depannya, tidak akan ada satu pun operasi yang akan dibiarkan berhasil oleh Unit Prajurit Hero.

Bahkan Dewi Teoritta itu pun tidak akan diperlukan lagi. Setidaknya, baginya saat ini, dia tidak punya nilai guna.

Bagi Esgain yang mendapatkan posisinya sekarang dengan memanfaatkan kebencian dan ketidapercayaan terhadap Kuil serta keyakinan agama, tidak ada jalan lain yang tersisa. Dia akan terus menekan.

Sikap konfrontatif terhadap Kuil, keluarga kerajaan, dan otoritas yang ada harus tetap dipertahankan──walaupun suatu saat nanti dia mungkin perlu berkompromi dan mengubah arah kebijakannya.

"Cukup sekian. Ada yang keberatan?"

Saat staf muda itu hendak membuka mulut, seorang perwira lain di sampingnya menghentikannya.

Perwira itu menegur si pemuda dengan tatapan tajam, lalu mengangguk sambil tersenyum ke arah Esgain.

Seolah berkata bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Ternyata benar keputusannya melibatkan staf muda itu. Biarkan dia mengeluarkan pendapat sekali, lalu tolak.

Lakukan itu berulang kali untuk menanamkan pemahaman bahwa perlawanan itu sia-sia. Lama-kelamaan, dia tidak akan berani lagi mengajukan keberatan.

Esgain bersandar dalam di kursinya dan menatap ke luar jendela.

Lonceng kota mulai berdentang. Itu adalah sinyal persiapan penembakan meriam.

Kota Meriam No-Fan. Delapan menara yang menjadi simbol nama kota tersebut mulai aktif. Itu adalah "Meriam" untuk tembakan jarak jauh yang ditempatkan di tembok kota yang mengelilingi pemukiman.

Keberadaan "Meriam" inilah yang mencegah Demon Lord Phenomenon mendekati kota ini. Mereka biasa disebut sebagai "Delapan Gerbang Cahaya Suci".

(Tapi itu cerita masa lalu.)

Esgain sudah mengetahui kondisi kota yang sebenarnya.

Melakukan persiapan penembakan sekali sehari seperti ini hanyalah gertakan semata.

Sesekali satu meriam mungkin akan menembak jarak pendek sebagai bentuk ancaman, namun itu pun hanya untuk membubarkan kerumunan Fairy yang mulai berkumpul, bukan bertujuan untuk memusnahkan mereka.

(Tak kusangka benda-benda itu sudah tidak berguna lagi. Perhitunganku meleset……!)

Kenyataannya, saat ini "Delapan Gerbang Cahaya Suci" hampir tidak bisa digunakan sama sekali. Penyebabnya adalah kurangnya tenaga ahli dan bahan baku.

Kota Meriam No-Fan yang terisolasi dalam waktu lama dan berjuang setengah mati ini sebenarnya telah jatuh ke dalam disfungsi, berbanding terbalik dengan julukannya yang megah.

Terutama kekurangan tenaga ahli yang sangat fatal. Para penembak meriam yang disebut "Maestro" karena kemahiran tembakan jarak jauhnya hampir semuanya telah meninggal dunia. Bahkan terjadi konflik internal dalam memperebutkan posisi penerus mereka.

(Isinya hanya orang-orang tidak berguna.)

Dalam situasi seperti ini, Esgain selalu menyingkirkan penyebab ketidakbergunaan tersebut. Sampai sekarang, Esgain selalu memiliki "atasan". Komandan, jenderal, staf ahli, panglima──dari sudut pandang Esgain, dia terus menyingkirkan "atasan" yang tidak berguna itu hingga mencapai posisinya sekarang. Namun jika dipikirkan kembali, dia menyadari betapa tidak bebasnya hal itu.

Setelah sampai di titik ini, dia tidak bisa lagi mencari penyebab ketidakbergunaan pada "atasan". Sekarang semuanya bergerak berdasarkan keputusannya sendiri.

(Meskipun begitu, kenapa sampai tidak berjalan semulus ini?)

Atau, mungkinkah penyebabnya ada pada kemampuannya sendiri?

Hanya hal itu yang tidak akan pernah dia akui. Esgain memperingatkan dirinya sendiri.

Dia sudah berdiri di puncak. Sekarang, dia tidak punya pilihan selain menentukan segalanya sendirian.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close