Hukuman
Pemusnahan Reruntuhan Pegunungan Kazit 3
──Operasi
Pemusnahan dan Pembersihan Pegunungan Kazit, hari kesepuluh.
Serangan
gerombolan Fairy baru mereda sekitar waktu fajar.
Kurasa semua
orang sudah kelelahan sampai ke titik nadir. Aku pun tidak terkecuali.
Hanya Teoritta
yang kusuruh tetap di belakang untuk menyimpan tenaga──meski dia sendiri tampak
tidak puas.
"Aku juga
akan bertarung! Sebagai seorang Goddess, aku harus membimbing kalian
semua!"
Begitulah, dia
bersikeras ingin maju ke garis depan, tapi kami berhasil bertahan hampir hanya
dengan mengandalkan jebakan.
Kekuatan Teoritta
baru dikerahkan saat kami melakukan serangan pengejaran terhadap musuh yang
mulai mundur.
Ini tentu saja
bertujuan untuk membuat musuh salah mengira kekuatan tempur kami.
Jika kami terlalu
sering menggunakan kekuatan Teoritta, ketidaksiapan kami akan terekspos.
Yah, aku
tidak tahu seberapa besar efektivitas taktik ini.
Jika
komandan lawan adalah tipe yang sangat tegas dalam menyerang, mungkin
selanjutnya mereka akan melancarkan serbuan nekat tanpa memedulikan apa pun.
Kalau itu
terjadi, aku punya cara lain. Informasi untuk melancarkan langkah selanjutnya
pun sudah terkumpul.
Terutama fakta
bahwa jebakan-jebakan kami jauh lebih efektif dari dugaan, itu adalah
pencapaian besar.
Memang
tidak membunuh, tapi bisa menghentikan langkah mereka. Artinya, kita bisa
menyerang musuh yang terpaku dari jarak jauh secara sepihak.
"Ini
sih benar-benar menang gampang. Nggak ada tantangannya banget."
Begitulah
Tsav mengoceh sombong bahkan sampai menguap segala.
Dia tidak
menggunakan tongkat sniping. Pasalnya, Flash Magazine itu barang
berharga.
Dia bertarung dengan busur dan panah biasa untuk menembus
kepala gerombolan Fairy.
Aku menempatkan Tsav dan Dotta sebagai tim penembak jitu,
dan bisa dikatakan hasilnya cukup memuaskan──setidaknya untuk Tsav.
Dotta benar-benar merepotkan jika sudah masuk ke pertempuran
langsung. Saat Tsav membunuh sepuluh ekor, Dotta baru nyaris bisa membunuh satu
ekor, begitulah kondisinya.
Sepertinya dia memang tidak seharusnya dianggap sebagai
prajurit biasa.
"Dotta-san,
sedang apa sih! Kau sengaja main-main, ya?"
Tsav sepertinya
merasa hal itu sangat tidak masuk akal. Setelah pertempuran usai, dia langsung
menginterogasinya seperti itu.
"Musuhnya
banyak, gerakannya juga lambat, target segitu sih sambil tidur juga kena! Bagaimana bisa tidak kena satu pun, apa
kau sehat-sehat saja, Dotta-san?"
"A-aku juga sudah membidik, tahu…… tapi gara-gara
angin, panahnya tidak terbang sesuai mauku……"
"Bwahaha! Hehehehe! Harusnya kau sudah menghitung
faktor itu dong! Kocak banget!"
"……Xylo! Tsav berisik sekali, suruh dia diam!"
Melihat kondisi ini, sepertinya besok lebih baik Dotta
disuruh melakukan hal lain. Sayang sekali anak panahnya terbuang percuma.
Padahal di situasi sekarang, penembak jitu seharusnya
menjadi kartu truf yang lebih krusial dari biasanya.
(Sepertinya
aku masih bisa mengulur waktu sedikit lagi. Kerugian personel kita juga bisa
ditekan.)
Hanya saja,
karena aku sangat mengutamakan keselamatan dalam bertarung, jebakan-jebakan
kami pun terkuras habis. Pertahanan lapis pertama sudah hampir tidak berfungsi.
Musuh bahkan
sudah berhasil menekan sampai ke lapis kedua. Begitu besar dan gigihnya serangan yang
terjadi sekali itu. Besok, mungkin lapis ketiga pun akan terancam.
(Baru
awal pertempuran saja sudah begini. Ternyata cara menyerang musuh dengan
sepuluh ribu pasukan di belakang memang berbeda.)
Mereka mungkin
mencoba mengukur kekuatan kami, dan jika ada kesempatan, langsung melumat kami
sekaligus. Tekad mereka tidak buruk, tapi harus kuakui masih setengah-setengah.
(Komandan para
Demon Lord Phenomenon itu cukup paham taktik. Entah itu Gwythion atau
pengaturan si Mata Ketiga. Tapi──)
Kalau meminjam
kata-kata instrukturnya dulu, mungkin bisa dibilang 'Punya taktik tapi tidak
punya strategi'.
Mungkin itulah
titik lemah musuh. Aku
butuh informasi tentang komandan mereka. Jika itu diketahui, pilihan langkah yang bisa kuambil pun akan bertambah.
(Masih bisa.
Kami memang terpojok, tapi belum tentu kalah.)
Untuk saat ini,
sisa masalah kami adalah soal makanan, ya?
Hanya makan
daging kering akan membuat moral pasukan merosot tajam──aku harus membuat
makanan sedikit lebih mewah dengan berburu dan memancing.
Dalam hal ini,
Trishill menunjukkan keahlian yang tak terduga. Dia berhasil menangkap ikan
sebanyak dekapan kedua tangannya dengan jebakan yang dia pasang di sungai.
Ternyata dia cukup terampil.
"Makanan
yang layak adalah dasar dari menjaga moral. Kalau sudah porsinya dikit, lalu
cuma makan daging kering, mereka tidak akan kuat. Tidak akan bisa bertarung dengan
maksimal," ucap Trishill sambil mendengus.
"Xylo. Apa
kau paham dasar-dasar logistik? Tidak semua orang punya ketahanan
sepertimu."
"Kena mental
aku. Kau benar sekali."
Aku hanya bisa
menjawab dengan jujur. Soal logistik termasuk makanan, dulu di Ksatria Suci
Kelima selalu ada Ryufen.
Dialah sumbu
utama yang membuat rencana-rencana mustahil menjadi nyata.
"Selagi
masih ada matahari, kita harus mengumpulkan makanan sebanyak mungkin. Trishill,
sepertinya kau ahli dalam hal ini."
"Ini hal
biasa kalau kau terbiasa hidup sebagai tentara bayaran. Bagaimana denganmu?
Bisa berburu?"
"……Kurang
percaya diri, sih."
"Sudah
kuduga. Hei, Pembunuh Bayaran, kau pasti bisa berburu, kan. Cuma kemampuanmu
itu saja yang bisa diandalkan."
"Eh? Wah,
menyuruhku berburu sekarang itu namanya salah prioritas! Benar kan,
Bos?"
"Ah…… ya, benar juga sih."
Aku mengangguk. Mulai sekarang ini adalah perang ketahanan.
Ini akan menjadi pertarungan tentang seberapa jauh kami bisa menekan kerugian
pihak kami.
Di tengah kondisi
itu, pembagian waktu istirahat sangatlah penting.
Daripada menyuruh Tsav berburu, lebih baik dia
beristirahat secukupnya agar bisa terus mengawasi musuh. Dia mampu melakukan
itu.
Kalau begitu,
urusan berburu harus kuserahkan pada Saritaff yang terbiasa hidup di
gunung──begitu pikirku saat kembali ke "Lubang Kubur", namun ternyata
situasi yang merepotkan sedang terjadi.
"Kalian
semua adalah pengecut!"
Saritaff
berteriak sambil menunjuk wajah-wajah 'Pasukan Forbartz'.
Semua orang
tampak kebingungan. Namun, aku sedikit banyak memahami latar belakang situasi
ini. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi suatu saat nanti.
Saritaff
memamerkan taringnya, seolah siap menggigit siapa pun di sana.
"Musuh
semuanya sudah lari! Kenapa tidak dikejar dan dilawan? Gwythion ada di belakang mereka!
Kalau tidak bertarung, kalian sama saja dengan orang-orang dataran rendah di
Nophan!"
Saritaff
berteriak sambil memukul dinding.
"Apa
kalian takut mati? Apa kalian bersembunyi di sini karena menyayangkan nyawa
kalian!"
"──Bukan
begitu. Ini adalah perang, Saritaff."
Nalk-lah
yang menjawab, dengan berani dia mendebat kemarahan Saritaff secara langsung.
"Ini
bukan soal nyawa berharga atau tidak. Jika kita mengejar, kita akan dikepung mereka dan kalah. Kami bertarung
untuk menang. Untuk itu, kami akan bertahan selama apa pun."
Itu
argumen yang benar. Namun, argumen benar seperti itu tidak mungkin masuk ke
kepala Saritaff.
"Aku
tidak mengerti! Padahal kukira kalian berbeda dari orang-orang dataran rendah
di Nophan!"
"Aku tidak
memintamu memercayai kami. Bisakah kau memercayai Tuan Forbartz?"
"……Orang
ini, maksudmu!"
Saritaff
sepertinya menyadari aku sudah kembali. Dia menunjukku dengan tajam.
"Xylo!
Kenapa kau tidak bertarung? Hari ini kau cuma lari-larian saja, kan!"
Dalam pertempuran
hari ini, aku menyuruh Saritaff fokus memancing musuh dan mengaktifkan jebakan
di titik-titik penting.
Karena
itulah yang paling efektif.
Dia punya
mobilitas dalam arti yang berbeda dari Tsav atau Dotta.
Dia
sangat mengenal gunung ini. Kupikir dia tidak akan tertangkap dengan mudah oleh
para Fairy.
"Barusan
mereka kabur! Harusnya kita kejar dan bunuh Gwythion!"
"Dikejar
pun tidak akan bisa membunuhnya. Kau kan dari suku Yamanobe, harusnya ahli
dalam berburu."
Aku
memutuskan untuk menggunakan taktik serangan balik secara verbal. Karena
tipenya mirip denganku, aku sangat paham.
Jika
harga dirinya disenggol, dia tidak akan tahan. Dia tidak mau diremehkan, dan
hal itu justru bisa membuatnya tenang dalam bidang tersebut.
"Pemburu
itu menggerakkan mangsa. Kalau digerakkan oleh mangsa, itu namanya pemburu
kelas tiga."
Kata-kata ini
sebenarnya hanya kutipan belaka.
Tepatnya,
ini adalah dasar pendidikan militer yang diberikan kepada para perwira.
Bukan
dirimu yang bergerak, tapi buatlah musuh yang bergerak.
"Aku
tidak melakukan pengejaran agar bisa memancing Gwythion keluar. Supaya lain
kali mereka menyerang lebih dalam lagi."
Yah,
meski ini sebenarnya hanya harapan kosong saja.
Jika
Gwythion adalah Demon Lord Phenomenon dengan kepribadian waspada, dia
tidak akan pernah maju ke depan.
Kurasa taktik
kami yang suka membunuh komandan musuh pun sudah mulai diketahui. Keberadaan
Teoritta justru membuat mereka semakin waspada.
"Bertahanlah
hari ini, Saritaff. Tunggulah sampai tiga hari ke depan."
"Ujung-ujungnya
kau tetap tidak bertarung. Apa
kau juga takut mati! Dasar pengecut!"
"Pendapatmu
salah sasaran. Apa kau tidak tahu siapa kami?"
"Apa
maksudmu? Jangan mengalihkan pembicaraan!"
"Kami adalah
Prajurit Hukuman. Kami sedang menjalani hukuman 'tidak bisa mati'."
"Apa
katamu?"
Saat aku
menunjukkan Stigma yang terukir di leherku, Saritaff terdiam. Entah
kenapa, dia tampak sedikit gentar.
"Kalian…… adalah pahlawan (Yusha)?"
"Begitulah. Kau tahu soal itu? Kami ini pendosa yang
terpaksa bertarung lagi meski sudah mati."
"……Bukan.
Pendosa? Bukan, itu salah."
"Apanya yang
salah?"
"Pahlawan
adalah mereka yang memusnahkan Demon Lord Phenomenon. Mereka yang
membawa kedamaian dan keselarasan……. Mereka bukan pendosa. Begitulah yang
kudengar dari kakek-kakekku."
"Kau terlalu
memuji kami. Atau mungkin, dulu memang seperti itu?"
"……Kau seorang Prajurit Hukuman…… begitu ya."
Saritaff bergumam, lalu membelakangi aku dan 'Pasukan Forbartz'.
"Tanda di
lehermu itu sepertinya asli. Kata pengecut tadi ditarik kembali."
Reaksi yang tak
terduga. Aku tidak menyangka kata-kata seperti itu akan keluar.
Bukankah Holy
Seal di leher ini adalah bukti sebagai pendosa?
Ataukah dulu,
orang yang dengan sukarela menjadi 'prajurit tak bisa mati' benar-benar disebut
'Pahlawan' dan dihormati?
"Hanya
sekali ini saja. Aku akan menaruh hormat pada kata-kata pahlawan. ……Kalau kau
yang bilang, aku akan bertahan!"
"Hei. Mau ke
mana?"
"Berburu.
Lapar."
Hanya itu yang
dia katakan sebelum keluar dari ruangan.
Sebenarnya aku
memang berniat minta bantuan Saritaff untuk berburu, jadi ini cukup
menguntungkan, tapi dia meninggalkan kata-kata yang mengganjal di pikiran.
Suku Yamanobe.
Suku yang memiliki ciri fisik yang sangat berbeda dari kami, orang dataran
rendah.
Aku teringat hal
yang dikhawatirkan Norunagayu. Dari mana mereka, atau kami, berasal?
Namun situasi
sekarang tidak mengizinkanku untuk tenggelam dalam pemikiran seperti itu.
"──Tuan Forbartz.
Terima kasih banyak……!"
Nalk Dexter dan
Milete berlutut di sampingku. Posisi hormat yang satu tingkat di atas biasanya,
seperti saat seseorang akan menerima pelantikan sebagai ksatria. Mereka ini
selalu saja berlebihan.
"Untuk saat
ini, kita berhasil memukul balik serangan awal."
"Ya. Kalian bertahan lebih baik dari dugaanku. Kalian
hebat juga…… akan lebih bagus lagi kalau kalian berhenti menyebut diri 'Pasukan
Forbartz', sih."
"Saya sangat tersanjung! Kami bertekad untuk berjuang
lebih keras lagi besok!"
Sindiran halusku
sama sekali tidak mempan pada Nalk. Rasanya aku sudah pasrah saja.
"Pertahankan
caramu mengatur prajurit seperti itu. Lalu…… Milete. Penggunaan Gliding
Seal-mu bagus juga."
Aku membicarakan saat dia menggunakan Gliding Seal
milik Norunagayu untuk melancarkan serangan dari atas kepala musuh. Caranya
bergerak dan mengukur jarak sangat luar biasa.
Dia punya bakat sebagai prajurit petir. Tapi, aku tidak mengatakannya sampai sejauh itu.
"Hehe…… Ke-kebanggaan yang luar biasa……! Besok, saya
akan membunuh lebih banyak lagi……!"
"Lakukanlah.
Kalian harus bertahan sedikit lebih lama lagi. Kalian berdua sanggup, kan?"
"Si-siap……
laksanakan."
"Tentu
saja! Pasti!"
Milete
mengangguk sambil menunduk, sementara Nalk bahkan sampai memberi hormat formal.
"Tersisa
tiga hari lagi, ya. Apakah bala bantuan akan datang? Bagaimana kabar dari
Nophan?"
"Mustahil
dalam situasi begini. Jangan terlalu berharap, tunggu saja."
Jarak ke kota
terlalu jauh. Lagipula, apakah Patausche bisa melakukannya dengan baik?
(Dia
sepertinya payah dalam urusan lobi politik seperti ini.)
Mungkin hanya
sedikit lebih baik dariku. Aku tidak bisa berharap terlalu banyak.
Paling parah, dia
mungkin akan datang sendirian dan mengaku sebagai 'bala bantuan'──kalau
dipikir-pikir, itu sangat mungkin terjadi. Seharusnya aku melarangnya melakukan
hal itu sejak awal.
(Tapi, jika
dia bisa bergabung dengan Southern Night Ogre dan yang lainnya, mungkin ada
peluang.)
Terhadap para
Southern Night Ogre itu, aku sudah memutuskan untuk tidak memberi ampun lagi.
Jika memang itu
niat mereka, aku akan memanfaatkan mereka habis-habisan.
(Ternyata
akulah yang belum siap secara mental.)
Aku merasakannya
dengan jelas saat pertempuran di Block Numea.
Jika
mereka memang orang-orang bodoh yang tidak tertolong dan nekat terjun ke medan
perang seperti neraka, aku akan menyeret mereka ke dalam pertempuran kami.
Demi
kemenangan. Jika dengan begitu mereka akhirnya muak padaku, itu lebih baik.
Pada
akhirnya, ini hanyalah soal aku yang tidak siap secara mental untuk dibenci
atau didendam oleh orang lain.
(Kalau bala
bantuan tidak datang. Saat itu──)
Saat itu, aku
akan menggunakan kartu terakhir.
Aku tidak tahu
apakah situasi akan selesai dengan itu, dan ke depannya mungkin akan menjadi
masalah besar dengan Pasukan Kerajaan Bersatu. Jika bisa, aku tidak ingin
melakukannya.
"Jangan
khawatir. Masih ada cara lain. Aku tidak sebegitu seriusnya sampai bertarung
tanpa peluang menang sama sekali," ucapku sambil tersenyum pada Nalk.
Aku juga sedang
membohongi mereka, para 'Pasukan Forbartz' ini. Tidak apa-apa. Biarkan mereka
bertarung sampai-sampai membenciku nantinya.
"Sisanya
tinggal soal apakah kalian bisa memercayainya atau tidak."
"Kami
percaya. Karena kami adalah bawahan Tuan Forbartz."
Nalk membalas
senyumku dengan alami──padahal aku lebih suka kalau dia terlihat lebih tegang,
pikirku.
"Ksatria
Suci Kelima selalu menang dan tak pernah kalah. Kami tahu hal itu."
"Anggap saja
begitu."
Tidak ada hal
lain yang bisa kukatakan. Unit yang masih menyandang gelar selalu menang dan
tak pernah kalah saat ini adalah Ksatria Suci Kesebelas──unit yang dipimpin
oleh Vieux Vintier.
Kudengar saat ini
mereka sedang bergerak ke utara bersama Horde Crivios dari Ksatria Suci
Kesembilan.
Aku teringat
wajah Horde yang sangat serius dan selalu tampak seperti menahan penderitaan.
Setidaknya,
kuharap mereka menderita sama besarnya dengan kami.
◆
Vieux Vintier
menerima kabar itu di sore hari saat hujan mulai turun. Dia menerima selembar
dokumen, membacanya, lalu sedikit memicingkan sebelah matanya.
(Reaksi yang
langka.)
Horde Crivios
menyaksikan hal itu tepat di depannya. Pria ini ternyata bisa menunjukkan
ekspresi wajah.
"Apakah
isi dokumen ini benar?"
"Benar.
Sudah dikonfirmasi."
"Bagus."
Vieux
mengangguk, menuliskan sesuatu di dokumen itu, lalu menyerahkannya pada pembawa
pesan. Kemudian dia mengumumkan.
"Mulai
sekarang, kita lancarkan serangan total. Komandan Ksatria Suci Crivios, berikan
dukungan."
"……Apa
katamu?"
Mendengar
pernyataan yang sangat tiba-tiba itu, Horde refleks bertanya kembali.
Sudah hampir satu
bulan sejak mereka menempati posisi di daerah perbukitan ini. Selama itu pula,
Vieux Vintier tampak jelas kesulitan untuk menyerang. Ada dua alasannya.
Pertama,
sungai-sungai berliku yang disebut Sungai "Bekas Luka" membuat
pergerakan pasukan menjadi sulit.
Kedua, ada Demon
Lord Phenomenon yang bisa 'bernyanyi' di pihak musuh. Demon Lord
Phenomenon yang diduga telah merampas jasad Goddess Ratapan ini
sepertinya punya kekuatan untuk mengubah kesadaran manusia secara drastis lewat
nyanyiannya.
Kadang orang
melarikan diri karena ketakutan yang luar biasa, kadang diserang rasa kantuk
yang tak tertahankan, bahkan pernah terjadi saling bunuh antar rekan sendiri.
Sialnya,
hal ini tidak bisa ditahan dengan Holy Seal. Itu adalah kekuatan seorang
Goddess, jadi itu hal yang wajar──sehingga satu-satunya cara adalah
dengan menyumbat telinga untuk menutup pendengaran, dan hal itu sangat
menghambat efisiensi tempur.
Padahal begitu
kondisinya, tapi pria ini malah.
"Sekarang
juga, Komandan Ksatria Suci Horde Crivios. Kau tidak dengar?"
"Tunggu
dulu. Bagaimana caramu menyerang? Bagaimana dengan penyeberangan sungai dan
persiapan menghadapi 'nyanyian' musuh?"
"Aku
sudah memberikan instruksi pada unit pengalih. Saat ini, mereka pasti sedang
membakar pangkalan logistik musuh."
"Apa?"
Pangkalan
logistik musuh. Horde merasakan firasat buruk.
Selama
ini Demon Lord Phenomenon hampir tidak punya konsep logistik.
Mereka
bukan tipe yang membangun benteng. Jika ada sesuatu yang disebut pangkalan logistik, maka itu adalah──.
"Kau…… membakar pemukiman warga sipil……! Kau!"
"Benar. Sudah dua pemukiman yang kubakar."
Horde menyadari bahwa segalanya sudah terlambat. Di langit
utara, dua kepulan asap mulai membubung.
"……Tega sekali kau. Apa kau sadar apa yang telah kau
lakukan?"
"Tentu saja
aku paham. Apa kau sendiri tidak paham? Jika begitu, berarti aku selama ini
terlalu melebih-lebihkanmu."
Vieux menunjukkan
sedikit ekspresi keraguan.
"Dengan
langkah ini, musuh tidak punya pilihan selain mundur. Jika mereka tetap
bertahan, aku tinggal membakar sisa logistik mereka dan mencekik mereka, tapi
itu tidak akan terjadi. Jika penasihat musuh punya otak, target mereka adalah
pertempuran penentuan di Utara. Tidak mungkin mereka membuang-buang prajurit
dengan sia-sia sampai saat itu tiba. Kalau mereka memang mau membuangnya, ya
silakan saja. Selesai. Ada pertanyaan?"
"……Apakah
atasan tahu soal rencana ini?"
"Atasan
siapa?"
Vieux mengerutkan
kening dengan wajah yang semakin tidak mengerti.
"Memangnya
ada 'atasan' yang lebih ahli militer dariku? ……Ah, Ryufen Kaulon, ya. Tentu saja sudah
dikonfirmasi. Intinya adalah seberapa besar keperluan untuk melakukan penyitaan
logistik lokal dalam operasi militer di Utara. Jawabannya adalah tidak perlu.
Jadi, tindakan ini tidak akan membuat kita kekurangan logistik."
Pria ini
benar-benar tidak bisa diajak bicara. Horde Crivios mengepalkan tinjunya, tapi
dia tidak melanjutkan perdebatannya. Hanya saja──ada satu hal yang sangat
mengganjal yang harus dia tanyakan.
"……Kenapa
sekarang? Laporan apa yang kau terima dari pembawa pesan tadi?"
"Xylo Forbartz
sudah mulai bertahan di Pegunungan Kazit dengan menjadikan Goddess
sebagai umpan. Keputusan yang masuk akal."
"Apa
katamu?"
"Oleh karena
itu, kita tidak perlu lagi mencemaskan ancaman dari arah Pegunungan Kazit. Jika
pria itu yang melakukannya, dia akan menyapu bersih semua Demon Lord
Phenomenon tanpa sisa. Artinya, sudah saatnya kita bergerak
maju."
"Bodoh…… bagaimana kau bisa begitu memercayai mereka?
Itu terdengar mustahil……!"
"Karena jika aku yang melakukannya, itu tidak sesulit
itu. Maka dari itu, Xylo yang setingkat di bawahku pun pasti bisa. ……Sayang
sekali membuang waktu untuk bicara. Kita sudah membuang nyaris satu menit. Ayo
bergerak, Luxutte."
『──Oops!』
Sebuah
suara terdengar dari belakang Vieux.
Suara seorang
anak laki-laki. Sebuah
bayangan raksasa berdiri sambil mengerang.
Garis bentuknya yang aneh sangat mirip dengan Artery
Armor.
『Akhirnya, giliranku tiba? Aku sudah bosan…… menunggu…… aku
senang sekali!』
Zirah itu mulai memancarkan cahaya yang menyilaukan.
Cahaya yang kuat──di bawah langit yang tertutup awan
mendung, cahaya itu mengingatkan pada terangnya matahari. Horde Crivios sangat
mengenalnya.
Inilah 'Cahaya Matahari' yang dipanggil oleh Luxutte, sang Goddess
Matahari.
Di bawah naungan Goddess ini, segala jenis senjata
ber-Holy Seal akan beroperasi dengan efisiensi maksimal.
Alasan mengapa
mereka disebut pasukan tak terkalahkan, salah satunya adalah karena keberadaan
Luxutte ini.
"Horde
Crivios. Kami akan maju duluan, susul saja sesukamu."
Vieux sudah
berada di atas kudanya. Horde tidak punya pilihan selain segera menaiki kudanya
juga.
"Tunggu!"
"Tidak
perlu."
"Apa kau
menganggap orang lain itu apa! Bagaimana dengan nyawa warga sipil, atau
kehidupan mereka?"
"Kalian
sajalah yang memikirkan hal itu. Kalau mau menghakimiku, lakukan saja
sesukamu."
Menatap
punggung Vieux yang pergi, Horde menggertakkan giginya.
Dunia menyebut
pria ini sebagai 'Pahlawan'. Sekarang, setelah Xylo menjadi Prajurit Hukuman,
dialah yang bisa dibilang sebagai harapan terbesar umat manusia.
(Tapi, ini──)
Mungkinkah,
mereka sedang melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki lagi?
Membakar
pemukiman warga sipil tanpa ragu demi kemenangan, dan sama sekali tidak merasa
bimbang atas tindakannya sendiri. Itulah pria bernama Vieux.
(……Apakah ini
tidak apa-apa? Apakah orang yang bisa mengorbankan segalanya demi kemenangan,
memang pantas disebut sebagai pahlawan?)
Horde Crivios
tidak bisa membuang firasat buruk yang terus menghantuinya.
Hukuman
Pemusnahan Reruntuhan Pegunungan Kazit 4
──Operasi
Pemusnahan dan Pembersihan Pegunungan Kazit, hari kesebelas.
Pagi itu hujan
turun. Menurut Saritaff, hujan ini akan bertahan cukup lama. Membayangkan hujan
terus mengguyur sampai hari terakhir membuat suasana hati jadi suram. Namun,
bagi pertempuran kami, ini sebenarnya menguntungkan.
Serangan musuh
terhenti tepat saat fajar menyingsing. Garis pertahanan lapis kedua nyaris saja
jebol.
Kami pun bergegas
memulihkan pagar pertahanan dan memasang kembali jebakan-jebakan pencegat.
Kerusakan harus
diperbaiki sekarang agar bisa menahan mereka lebih lama, meski hanya sesaat.
Kami baru bisa
mengambil istirahat singkat lewat tengah hari, dan akhirnya kami terpaksa
memakan daging kering itu.
Kami semua yang
bekerja di lapangan duduk melingkar, saling melontarkan keluhan tentang ransum
paling buruk sedunia ini.
"……Apakah
tidak ada yang bisa dilakukan terhadap daging kering ini?"
Bahkan Teoritta
pun sampai mengernyitkan dahi.
"Ah, tentu
saja sebagai Goddess aku bisa menahannya, tapi aku ingin kalian makan
sesuatu yang lebih enak…… Lihat, Xylo, apa tidak bisa bumbunya disesuaikan saat
memasak……?"
"Yah, itu
pertanyaan bagus."
Direbus dalam
panci sampai larut menjadi sup. Dipanggang lalu dijepit di antara roti.
Dicampur ke dalam
nasi. Segala upaya itu hancur berantakan karena rasa daging kering ini terlalu
kuat. Mungkin karena zat pengawetnya.
"Aku sudah
mencoba berbagai cara saat masih menjadi Komandan Ksatria Suci, tapi semuanya
sia-sia. Benda ini musuh yang tangguh."
"Saat kamu
masih menjadi Komandan Ksatria Suci──"
Pandangan
Teoritta sedikit bergeser. Dia melirik kerajinan perak di pergelangan kakiku,
seolah ingin memastikan sesuatu.
"Ceritakanlah
padaku. Aku tertarik. Kamu diberikan wilayah ini sebagai daerah kekuasaan,
kan?"
"Begitulah.
Aku bertempur di sekitar sini dan mengusir para Demon Lord Phenomenon.
Makanya aku hafal daerah ini. Aku berperang di sekitar sini selama lebih dari
setengah tahun."
"Setelah
itu? Apa kamu terus bergerak maju ke utara?"
"Benar.
Melewati daerah perbukitan menuju ibu kota lama Kerajaan Meto──seharusnya kami
bergerak ke sana."
Akhirnya,
itu tidak pernah terjadi. Karena aku membunuh Goddess itu.
Kejadian
itu menjadi pemicu umat manusia terpaksa mundur dari wilayah utara, dan
perlahan-lahan kehilangan jalur komunikasi dengan utara seperti bola salju yang
menggelinding jatuh.
"……Lalu, apa
lagi?"
Teoritta
mendongak menatapku.
"Medan
perang seperti apa yang sudah kamu lalui?"
Dia sedang
menyentuh bagian ingatanku yang perih dan penuh luka. Dia sendiri pasti
merasakan sesuatu yang mirip dengan rasa sakit.
Namun, Teoritta
bertanya seolah itu bukan masalah besar.
"Aku ingin
tahu tentang masa lalu Xylo juga. Di mana, dengan siapa, dan bagaimana kamu
bertarung. Aku ingin tahu segalanya jika memungkinkan. Sebagai Goddess
milikmu."
"──Itu juga
hal yang sangat ingin kami dengar."
Nalk Dexter
menyambung pembicaraan. Matanya tampak berbinar-binar.
"Salah satu
sayap terkuat umat manusia. Tolong ceritakan lebih banyak tentang perjuangan
Tuan Forbartz. Aku akan menyuruh Milete mencatatnya. Mimpinya adalah menulis
biografi tentang Anda."
"Iya. Jika
itu cerita tentang Tuan Forbartz, aku ingin tahu setiap detail sekecil apa
pun……"
Di
samping Nalk, Milete mengangkat wajahnya. Dia sudah membuka buku catatan.
Padahal
biasanya dia selalu memasang ekspresi lesu, tapi entah kenapa hanya di saat
seperti ini dia terlihat bersemangat.
"Bagaimana cara Anda membantai para Fairy dan Demon
Lord Phenomenon…… Teror bagi para Demon Lord Phenomenon, separuh
hidup Xylo Forbartz…… Fufu……! Aku akan menyebarluaskannya tanpa terlewat
sedikit pun……"
Sulit sekali menanggapi gaya bicara unik gadis ini.
Lagipula, jika diserahkan kepada Milete, entah bumbu dramatis macam apa yang
akan dia tambahkan ke ceritanya.
Selain itu,
tatapan penuh rasa ingin tahu dari Teoritta dan para 'Pasukan Forbartz' ini
membuatku merasa tidak nyaman.
"Tuan Forbartz.
Saya sudah mendengar desas-desus tentang berbagai pertempuran sengit Anda sejak
menjadi Prajurit Hukuman."
Nalk
mendekat dengan sikap yang sangat formal sampai lututnya hampir menempel
padaku.
"Itu…… bolehkah saya mendengar cerita saat Anda masih
menjadi Komandan Ksatria Suci?"
Aku merasa
terintimidasi oleh sikapnya. Matanya terlalu serius. Dia juga menggenggam
tumpukan kertas di satu tangannya sebagai ganti buku catatan. Milete pun memasang telinga
lebar-lebar.
"Dengan
orang-orang seperti apa dan di medan perang mana Anda berpindah-pindah tugas? Itu……
misalnya, apakah di unit Tuan Forbartz ada seseorang yang menjabat sebagai
penasihat, atau ajudan, atau posisi semacam itu?"
"Ha? Oh……"
Tidak ada penasihat di unit kami. Karena kami dibenci oleh
pusat di Galtuille, pasokan personel semacam itu sering tersendat, dan kurasa
kami melakukan banyak hal gila. Yang menjalankan fungsi penasihat adalah
ajudanku.
"Silakan," ucap Nalk sambil menggeser lututnya
lebih dekat lagi.
"Bolehkah kami mendengarnya?"
Matanya begitu serius sampai aku hendak bertanya apa
alasannya.
Tepat saat
itulah, alarm peringatan dari Tsav menggema.
『──Bos. Mereka
bergerak. Dari sisi selatan, arah jam lima!』
Ketegangan
langsung memuncak. Musuh yang kukira sudah mundur saat fajar ternyata sudah
bergerak lagi.
Itu artinya,
mereka sudah bertekad untuk melancarkan serangan bergelombang.
"Ayo
berangkat."
Semua orang
mengernyit sambil menelan daging kering ke dalam mulut mereka──rasanya
benar-benar hancur.
◆
Tanpa menunggu
matahari terbenam, Boojum melanjutkan serangannya.
Dia merasa ini
adalah keputusan yang berani, tapi ini juga merupakan hal yang dia pelajari
dari pertempuran selama ini.
Serangan
dengan tempo yang bervariasi. Jangan terjebak dalam permainan mengulur waktu
mereka.
Atau,
berpura-puralah mengikuti permainan mereka lalu menerjang masuk sekaligus. Guncangan mental seperti itu sangat
diperlukan.
"Kekuatan
musuh kemungkinan kecil," ucap si Mata Ketiga.
Dia terus
mengikuti di samping Boojum tanpa menjauh sedikit pun. Tanduknya berpendar
redup.
"Aku
memprediksi jumlah mereka tidak sampai seratus orang."
"Aku juga
berpikir begitu. Meski tentu saja ada kemungkinan itu hanya penyamaran."
Boojum
berlari cepat mendaki lereng Gunung Daktarev. Area punggung bukit sangat
berbahaya.
Kemarin
mereka menderita kerugian besar karena bergerak di tebing yang curam.
Dia mencari jalan
tanpa jebakan secara perlahan tapi pasti. Meski memakan banyak korban, Boojum
mulai berhasil melakukannya.
(Jangan takut
pada pengorbanan.)
Saat ini, itulah
satu-satunya cara agar tidak terjebak dalam siasat musuh.
Menyerang
dengan kesiapan untuk berkorban. Dengan menunjukkan sikap itu, dia bisa tahu apakah kekuatan musuh itu hanya
gertakan atau bukan.
"Oh.
Akhirnya, mulai menyerang dengan serius ya."
Si Mata
Kedua yang mengikuti di belakang Boojum bergumam sambil menguap.
Di antara
para Fairy Unit 7110, kemampuan fisiknya adalah yang paling menonjol.
Bahkan di
jalan pegunungan yang terjal ini, dia berlari hampir tanpa rasa lelah.
"Aku jadi
sedikit bersemangat. Terutama si Xylo itu, sepertinya dia kuat."
"Mata Kedua.
Akan merepotkan jika suasana hatimu memengaruhi jalannya operasi," si Mata
Ketiga memperingatkan dengan tajam.
"Ikuti saja
perintah Tuan Boojum. Buang jauh-jauh pemikiran yang tidak perlu."
"Eh…… itu mustahil. Kalau tidak suka, hukum saja aku…… Kalau kalian bisa, sih."
"Kau……!"
Mata si Mata
Ketiga berkilat amarah. Boojum mengangkat satu tangan untuk menghentikan
mereka.
"Cukup.
Kalian berdua sudah tidak sopan. Lagipula…… mereka datang."
Terdengar
suara seperti sesuatu yang hancur. Atau suara ledakan. Boojum mendengarnya
dengan jelas.
"Lihat.
Pasukan Mata Keempat terhenti. Itu serangan balasan musuh."
Di depan mereka,
terdengar jeritan memilukan. Pasukan Mata Keempat yang dikerahkan sebagai pion
terdepan berjatuhan dari tebing.
Mereka jatuh dari
jalur yang terlihat curam tapi sepertinya bisa didaki. Jalannya runtuh.
Dari atas kepala
mereka, kerikil ber-Holy Seal menghujani mereka seperti hujan es──benda
itu mengeluarkan kilat saat berbenturan.
Fairy ukuran kecil tidak berdaya menghadapinya.
Dalam sekejap, garis depan berantakan.
"Wah. Di
sini juga ada jebakan ya," gumam si Mata Kedua sambil menghela napas.
"Jadi tidak seru lagi…… Ini sama saja mereka bilang
sendiri kalau mereka tidak punya kekuatan tempur yang berarti."
"Tapi
faktanya, perlawanan mereka sangat sengit. Haruskah kita mencari jalan memutar,
Tuan Boojum?"
"Tidak."
Boojum
menggelengkan kepala menanggapi saran si Mata Ketiga.
Kemarin dan tadi
pagi, jika mereka membentur perlawanan kuat, mereka segera mundur untuk menekan
kerugian.
Dia sengaja
memperlihatkan gaya bertarung seperti itu. Tujuannya agar Unit 7110 tetap utuh,
tapi sekarang sudah tiba saatnya.
"Kita tekan
terus. Kita hancurkan mereka hanya dengan kekuatan kita."
Boojum
mengayunkan satu tangan. Darah menetes dan mengalir, membentuk bilah tajam
berbentuk cakram.
"Ikuti aku.
Kita hancurkan perlawanan itu."
"Dimengerti."
"Oke,
oke. Meski aku tidak berharap banyak sih……"
Mata
Ketiga mengangguk pelan dan menyiapkan tongkat petir miliknya.
Mata
Kedua menjulurkan lidah seperti anjing, lalu mulai berlari dengan napas
memburu.
Dia
melompati jurang seolah sedang bermain.
Sementara itu,
serangan musuh semakin mengganjal.
Terutama dari
atas kepala. Hujan kerikil memang merepotkan, tapi manusia-manusia yang terbang
dengan membentangkan kain seperti 'sayap' juga sangat mengganggu. 'Sayap' itu.
Apakah mereka
terbang menggunakan Holy Seal?
Dari tebing ke
tebing──mereka mengoperasikan tongkat petir sambil meluncur, menghujani
serangan dari atas.
Di antara mereka,
manusia yang terbang paling depan──yang kemungkinan adalah
komandannya──sangatlah mengganggu mata.
Kelihatannya
seperti wanita bertubuh mungil, tapi terkadang dia menukik tajam seolah
menghujam ke tanah, mengayunkan tombak untuk bertarung dalam jarak dekat.
Bisa dibilang itu
adalah performa yang luar biasa. Mata Keempat mencoba memusatkan kekuatan untuk
melakukan terobosan di satu titik, tapi gerakannya terus dihadang oleh wanita
itu.
"Fufu……"
Bahkan, wanita
itu tertawa. Dia memasang senyum yang entah kenapa terasa suram saat menyambut
serbuan para Fairy.
"Di sini…… jackpot……! Ada yang tangguh! Tunjukkan kekuatan Pasukan Forbartz. Bunuh!"
Begitulah dia
menyemangati para prajuritnya. Hal itu membuat mereka mengerahkan kekuatan
berkali-kali lipat──Boojum merasa hormat pada gaya bertarung itu. Dia adalah
perwira yang hebat.
Artinya, dia
harus segera dibunuh.
"Mata Kedua,
Mata Ketiga."
Boojum
memberikan instruksi sambil memadatkan bilah darahnya.
"Jatuhkan
wanita yang terbang di barisan depan itu."
"Dimengerti."
"Siap,
siap."
Serangan
dan pertahanan itu terjadi dalam sekejap. Boojum melepaskan cakram darah yang
dia bentuk. Blood Alchemy.
Cakram
darah yang lebih kuat dari baja itu terbang sambil memantulkan hujan kerikil
dan tembakan tongkat petir.
Mata Kedua dan
Mata Ketiga tidak melewatkan celah itu.
Tembakan sniper
dari tongkat petir milik Mata Ketiga menembus 'sayap' manusia yang diduga
komandan tersebut.
Meski begitu,
target itu masih berusaha kabur. Dia mengendalikan posisinya, mencoba jatuh ke
dalam rimbunnya pepohonan yang aman──tapi Mata Kedua tidak membiarkannya.
"Koau!"
suara seperti lolongan keluar.
Mata Kedua
menunjukkan daya lompat yang melebihi Fua.
Dalam sekejap, pedang yang dia cabut berkilat.
Kaki kanan wanita
komandan yang kehilangan keseimbangan itu terbang di udara. Darah memuncrat
keluar dari kakinya yang terpotong.
(Mata Kedua.
Kamu menahan diri ya.)
Boojum
menyadarinya. Mata Kedua menggunakan dua bilah pedang.
Dengan
kemampuannya, jika dia bisa memotong kaki, dia seharusnya bisa membelah tubuh
wanita itu menjadi dua.
Mata Kedua memang
punya kebiasaan terang-terangan menahan diri terhadap lawan yang lemah.
Nanti dia harus
diberi hukuman. Jika dia terus menahan diri seperti ini, kerugian akan
bertambah.
Dia harus paham
bahwa tindakan itu fatal bagi militer──sebaiknya dia tidak digunakan lagi di
garis depan.
──Namun, wanita
komandan yang jatuh itu tidak akan bertahan lama.
Pasukan Mata
Keempat menyerbu, mengepung dan mencincangnya.
Dia sempat
melawan dan membunuh dua ekor, tapi hanya sampai di situ.
Akhirnya Mata
Keempat sendiri yang menghabisinya dengan tembakan tongkat petir tepat di
kepala.
Ini saatnya
memberikan tekanan terakhir. Perlawanan musuh terasa melemah secara drastis.
"Maju."
Boojum
mengayunkan tangannya sekali lagi, membentuk cakar tajam dari darah yang
menetes.
"Tembus
garis pertahanan mereka. Jangan pedulikan kerugian!"
Raungan para Fairy
menggema. Di bawah perlindungan tembakan dari unit Mata Ketiga, Mata Keempat
melanjutkan pergerakannya.
Kali ini mereka
sudah siap dengan risiko terkena hujan kerikil atau reruntuhan batu. Beberapa Fairy
melarikan diri, namun Mata Keempat tetap maju dengan mantap sesuai instruksi.
(Mungkin pada
akhirnya, hanya prajurit jenis inilah yang bisa diandalkan.)
Begitu pikirnya.
Kemampuan tempur Mata Kedua memang tinggi, tapi jika melihat hasil nyatanya,
Mata Ketiga dan Mata Keempat jauh lebih unggul. Mereka merangsek maju sambil
melumat perlawanan manusia dengan teliti.
Dengan demikian,
Boojum berhasil menembus garis pertahanan lapis ketiga dan menyudutkan para
Prajurit Hukuman ke dekat puncak gunung.
Menurut laporan,
ada sesuatu yang menyerupai gua di sana.
(Apakah itu
jalan bawah tanah?)
Itulah yang
membuat mereka sangat kesulitan selama beberapa hari ini. Tidak tahu jebakan
apa yang menanti. Boojum memerintahkan seluruh pasukan untuk berhenti.
Fakta bahwa tidak
ada pergerakan sama sekali dari Nophan juga terasa ganjil──mencari tahu situasi
itu mungkin lebih prioritas.
(Benar-benar
merepotkan, ya.)
Gumam
Boojum sambil menggertakkan gigi.
(Tapi, mulai
sekarang──)
Ada satu cara
lagi yang bisa kugunakan. Keuntungan sebagai seorang Demon Lord Phenomenon.
Sambil memejamkan
mata, Boojum mulai melakukan infiltrasi ke dalam ekosistem.
◆
Lewat tengah
hari, serangan musuh berhenti.
Kami akhirnya
bisa beristirahat, namun tidak ada helaan napas lega. Kurasa wajah semua orang
tampak sangat kacau. Kami benar-benar terdesak.
Tiga lapis garis
pertahanan telah hilang, dan kami terpojok sampai ke "Lubang Kubur".
Aku bisa tahu kalau musuh sudah mengepung sekeliling kami.
Hampir semua
jebakan sudah tidak bisa digunakan lagi.
(Tapi, ada
masalah yang lebih besar dari itu.)
Ada korban jiwa
lagi.
Ditambah dengan
mereka yang terluka parah hingga tidak bisa bertarung, jumlah orang yang
tersisa hanya tinggal dua puluh tiga orang.
Terutama
kehilangan Milete adalah pukulan telak. Dia adalah perwira garis depan dengan
tipe yang berbeda dari Nalk Dexter.
Dia menyadari
rencana Unit 7110 yang mencoba melakukan terobosan di satu titik, lalu berusaha
menghentikannya dengan sedikit orang.
Menurut penuturan
orang yang selamat, di sana mereka bertemu dengan Demon Lord Phenomenon
yang memanipulasi darah.
(Boojum……!)
Mendengar ciri-cirinya, tidak salah lagi itu dia. Aku juga
pernah bertarung dengannya di Kota Yoaf.
Kudengar dia juga
menampakkan diri dalam pertempuran di Ibu Kota Kedua.
(Ternyata dia
masih hidup.)
Demi menghadapi Fairy
ukuran besar yang menyerang dari timur, aku harus menangani sisi itu dan
terpaksa membiarkan Milete bergerak sendirian.
Kekurangan jumlah
personel terlihat jelas dampaknya.
(Bukannya aku
salah ambil keputusan. Tidak ada pilihan lain.)
Milete tewas
setelah bertemu dengan unit Boojum. Tiga prajurit yang bersamanya juga ikut
terbunuh.
Mendengar laporan
itu, Nalk menggigit bibirnya sampai berdarah, namun dia memaksakan diri untuk
tersenyum.
"Menghadapi
dua Demon Lord Phenomenon sekaligus. Pertempuran yang hebat. Milete
pasti akan merasa iri."
"Mungkin
saja."
Aku
menjawab singkat sambil menumpuk batu di samping Nalk. Aku memilih batu yang
sedatar mungkin.
Ini bukan jebakan
untuk mencegat musuh. Ini adalah sesuatu yang diminta oleh Teoritta.
"──Mari kita
buat makam," ucapnya dengan mata yang seolah berkobar.
"Setidaknya,
hanya ini yang bisa kita lakukan."
Sebenarnya
berbahaya keluar dari "Lubang Kubur", tapi aku tidak melarangnya.
Ada dua
belas orang yang tewas. Dua belas nisan berjejer di dekat puncak gunung, dan
Teoritta mempersembahkan bunga putih.
Dia
menangkupkan tangan seperti sedang berdoa, dan yang lainnya mengikuti.
Hanya
Saritaff yang tampak bosan dan menguap sendirian. Mungkin suku Yamanobe tidak
punya tradisi meratapi orang mati seperti itu.
Tentu
saja, di bawah makam ini tidak ada jenazah yang dikubur. Kami memang tidak bisa
mengevakuasi jasad mereka.
Mengenai
jenazah Milete, ada yang melaporkan melihat Boojum mengisap darahnya.
Mendengar
hal itu, moral semua orang sepertinya malah semakin meningkat.
Berdasarkan
pengalamanku, ini bukan pertanda yang baik. Kebencian terkadang bisa
memengaruhi taktik di saat-saat krusial.
"Kurasa
segini cukup."
Setelah selesai,
aku menepukkan kedua telapak tanganku. Tujuannya untuk mengajak Teoritta yang
masih berlutut.
Hujan mulai turun
lagi. Kali ini sepertinya tidak akan berhenti untuk sementara waktu.
"Ayo pergi,
Teoritta. Makam yang layak akan kita buat nanti."
"……Benar.
Saat fajar menyingsing setelah kita merebut kembali gunung ini."
Teoritta
mengangkat wajahnya dan memaksakan senyum.
Seperti Nalk. Itu
adalah cara tersenyum seorang prajurit. Goddess ini sudah mulai bisa
menunjukkan ekspresi seperti itu.
"Mari kita musnahkan para Demon Lord Phenomenon itu. Karena aku ada bersamamu."
Kata-kata itu
membuat raut wajah para prajurit sedikit melunak.
Bagaimanapun
juga, keberadaan Teoritta memang diperlukan. Bukan sekadar dalam artian
kekuatan tempur semata.
Keberadaannya
memberikan kekuatan bagi semua orang.
Bahkan Saritaff
pun menatap Teoritta dengan pandangan yang sedikit lebih hormat.
Pada saat itulah,
aku menyadari sesuatu.
Teoritta
mengepalkan tinjunya, dan percikan api kecil tampak memercik dari sana.
(Secara mental, dia sudah cukup tertekan. Tapi, mau bagaimana lagi.)
Mulai dari sini,
pertempuran yang menuntut ketabahan Teoritta akan terus berlanjut.
"Maaf,
Teoritta. Begitu kita kembali ke 'Lubang Kubur', kamu tidak akan bisa keluar
untuk sementara waktu. Apa kamu bisa tahan?"
"Tentu
saja."
Teoritta
mengangkat sudut bibirnya dengan gaya menantang yang khas.
"Jika
bersama kalian semua, aku bisa bertahan berapa lama pun. Berikan berkat bagi mereka yang
bertarung bersama!"
Di bawah
langit yang mendung, matanya bersinar bagaikan api.
Tangan
dan pipinya berlumuran lumpur, namun hal itu justru memberikan kesan mistis
pada penampilannya.
Orang-orang
dari 'Pasukan Forbartz' memandang Teoritta dengan takjub.
Harus
kuakui, sang Goddess adalah aktris yang luar biasa.
──Itu
artinya, Teoritta memiliki bakat untuk menyeret orang lain bersamanya ke dalam
neraka.
(Yang
namanya Goddess itu, benar-benar ya.)
Manusia
purba yang menciptakan makhluk-makhluk ini pastilah memiliki kepribadian yang
sangat buruk.
(Meski
begitu──mereka masih lebih mending daripada kami.)
Begitu
kembali ke 'Lubang Kubur', aku terpaksa berpikir demikian.
Pasalnya,
unit Prajurit Hukuman yang bertugas menjaga markas berada dalam kondisi yang
memprihatinkan.
Tsav,
Dotta, dan Trishill. Ketiganya sedang memegang botol minuman di satu tangan
sambil mengocok dadu.
Norunagayu
yang tidak terlihat pastilah masih sibuk bekerja bersama para korban luka di
'Ruang Persemayaman' bagian dalam.
Dia bilang itu
adalah mekanisme pertahanan tahap akhir.
Karena itulah,
orang-orang ini jadi benar-benar lepas kendali.
"Oh! Bos,
sudah selesai ya?"
Tsav menoleh ke
arah kami, memainkan dadu di telapak tangannya.
Mereka pasti
sedang bermain judi 'Zudahare'.
Itu permainan
sederhana yang pemenangnya ditentukan oleh angka dadu.
Tsav sangat
menyukainya, bahkan sampai membuat aturan khusus sendiri untuk unit Prajurit
Hukuman.
"Padahal
santai-santai dulu juga tidak apa-apa! Ayolah, doa-doa, menyanyi, atau apalah,
pemakaman itu kan ada banyak macamnya? Aku ahli soal begituan, lho. Karena aku
sering membunuh saudara-saudara yang tumbuh bersamaku, aku sudah sangat
berpengalaman! Trik cara bersedih pun aku sudah khatam!"
Rasanya sangat
menjengkelkan, tapi aku tidak tahu harus mulai menyangkal dari mana.
Perasaan itu
tersampaikan dari Teoritta, dan Nalk beserta 'Pasukan Forbartz' lainnya pasti
merasakan hal yang sama.
Namun, sayangnya
apa yang dikatakan Tsav hampir sepenuhnya benar.
Dan jika ditanya
apa bedanya hal itu dengan cara kami berkabung, aku tidak punya jawabannya.
Hanya saja,
karena aku merasa kesal, aku menendang Tsav.
"Aduh!
Apa-apaan sih, Bos──ah! Jahat
banget! Angkanya ampas lagi!"
Sepertinya
gara-gara tendanganku, dadunya bergulir dengan cara yang aneh.
Dadu yang
dilempar Tsav menunjukkan hasil yang sangat menyedihkan.
"Ugeee…… padahal ini pertempuran penentuan!"
"Yesss!"
Dotta-lah yang memekik kegirangan.
"Aku
menang! Hei, ini aku ambil semua, kan? Sudah lama sekali aku tidak menang
sebanyak ini! Kalau begitu,
camilan hari ini jadi milikku……"
"Cih. Aku
kalah juga."
Trishill berdecak
kesal. Menurut pengamatanku, dia ini tipe yang sangat suka judi tapi sebenarnya
payah.
"Anggap saja
ini karena keberanianmu yang tidak buruk untuk ukuran seekor rubah
gantung……!"
Ucapnya
asal-asalan sambil menyodorkan biskuit ke arah Dotta.
Itu adalah jatah
makanan berharga, tapi mereka malah menggunakannya untuk taruhan.
Aku jadi semakin
tidak senang.
"Wah──kalah
telak ya! Omong-omong Kak Trishill, ternyata payah juga main judi. Baru
kali ini aku melihat orang yang lebih payah dariku!"
"……Tadi itu alur yang sangat memungkinkan untuk menang.
Jika angka dadu kalian sesuai dengan nilai harapan, aku pasti menang! Setidaknya dengan probabilitas
enam puluh persen! Aku sudah menghitung probabilitasnya dengan benar……!"
"Nah, keluar deh! Orang yang bahas nilai harapan dalam
judi! Hal-hal begitu kan
akhirnya──oat! Bahaya!"
"Berisik.
Diam kau."
Lengan
kanan Trishill bergerak seperti pegas, mencoba memukul Tsav.
Lengan
kanannya jelas bukan milik manusia, dan terkadang menunjukkan daya ledak yang
tidak normal.
Hanya
saja, reaksi Tsav lebih cepat darinya.
"Kalian
ini……"
Aku
mencengkeram kerah baju Tsav dan Dotta. Itu karena Dotta mencoba kabur dengan
cepat.
"Kenapa
kalian santai sekali main judi, hah?"
"B-bukan
berarti aku santai, lho! Tugas-tugas sudah kukerjakan, aku tidak
malas-malasan!"
"Iya Bos,
mumpung luang. Pas banget lagi istirahat. Kalau melihat jadwal piket neraka
yang Bos buat, waktu istirahatku cuma dua jam (koku) sehari, lho! Aku harus
menikmatinya sepuas mungkin!"
"──Itu tekad
yang bagus."
Mendengar ocehan Tsav
yang menyebalkan, tiba-tiba Saritaff bergumam.
"Kalian
adalah Pahlawan. Begitulah seharusnya. Tidak ada alasan untuk meratapi mereka
yang mati dalam pertempuran. Apa orang dataran rendah berbeda?"
"Oh!
Memang Saritaff-chan paling mengerti! Kamu paham juga ya."
"Hei! Berhenti!
Aku tidak memujimu, jangan sentuh! ……Jangan sentuh tandukku! Kubunuh kau!"
"Silakan kalau bisa! Hehehehe!"
Tsav yang mulai besar kepala mencoba mengelus kepala
Saritaff, namun langsung mendapat ancaman sengit.
Lebih tepatnya, dia dipukul dengan kekuatan penuh dan harus
berguling untuk menghindar. Dia malah tertawa kegirangan.
(Benar juga ya.)
Aku berniat memarahi Tsav, tapi niat itu kuurungkan.
Justru karena situasinya seperti inilah.
Jika terus-menerus dalam ketegangan, kami tidak akan kuat.
Aku merasa ingin menertawakan diri sendiri karena sempat
melupakan hal semacam ini.
Bukankah perang pengepungan adalah keahlianku dulu?
(Apa gunanya memasang wajah serius di saat genting?)
Aku
menyadari ekspresi orang-orang dari 'Pasukan Forbartz'.
Mereka tampak
terperangah. Bahkan Nalk pun memasang wajah seperti itu.
(Setidaknya,
ada satu elemen yang bisa memberi harapan. Yaitu fakta bahwa Boojum ada di
pihak musuh.)
Ini adalah
pencapaian Milete. Pertempurannya berhasil memancing Boojum ke garis depan dan
menampakkan diri di hadapan kami.
Dengan ini,
pilihan langkah yang bisa kuambil bertambah.
Jika hanya
Gwythion yang menjadi lawan, aku harus menggunakan cara bertarung yang lebih
merepotkan dengan peluang keberhasilan yang lebih rendah.
Informasi tentang
komandan musuh yang sangat kuinginkan. Mengetahui hal ini adalah keuntungan
besar.
(Masih banyak
yang bisa kulakukan. Kamu sangat membantu, Milete.)
Aku mengucapkan
terima kasih dalam hati.
Dan
Teoritta──dia mendongak menatapku sambil sedikit tersenyum. Senyumnya tidak
segetir tadi.
"Xylo.
Aku juga ingin mencoba
permainan itu! Berbeda
dengan Jig, kan?"
Dia
sengaja bersikap ceria. Mencoba
menunjukkan sisi polosnya. Aku tahu itu.
Namun, sepertinya
dia sudah mendapatkan kembali cukup energi untuk bisa berakting seperti itu.
Tsav pun
bertepuk tangan menanggapi hal ini.
"Wuih,
mantap! Teoritta-chan mau ikut main? Bagaimana kalau aku jadi lawanmu! Bos,
boleh pinjam uang? Nanti pasti aku kembalikan!"
Kalau sudah
begini, aku hanya bisa meladeninya.
Perilaku Teoritta
yang terlalu transparan untuk disebut akting ini akan kubuat seolah-olah nyata.
"Kesempatan
melihat Goddess main judi itu sangat langka, tahu. Kalian semua,
tontonlah baik-baik."
Aku
menoleh ke arah orang-orang 'Pasukan Forbartz' dan duduk bersila.
"Dotta, satu
ronde lagi. Kita main sambil mengajari aturannya pada Teoritta."
"Eeeh……?
Enggak ah, aku sudah menang banyak……"
"Ya
tinggal menang sekali lagi, kan?"
"Dotta! Aku
mengerti perasaanmu yang gemetar ketakutan di hadapanku. Tidak apa-apa kalau
mau lari!"
"……Yah,
kalau ada Teoritta-sama sepertinya aku tidak akan kalah telak…… dia kan
pemula……"
"Mukk.
Kurang ajar sekali! Aku ini Goddess, lho! Aku adalah gumpalan
keberuntungan dan berkat!"
"──Begitulah,
semuanya. Sang Goddess ingin bermain."
Aku menoleh ke
arah 'Pasukan Forbartz'.
"Kalian yang
dapat jadwal istirahat siang, bagaimana?"
"……Tentu
saja."
Nalk tersenyum.
Benar saja, ketegangan yang dipaksakan tadi sepertinya sudah mulai mengendur.
"Dengan
senang hati, kami akan menemani Anda!"
Mereka
yang gugur dalam pertempuran tidak akan pernah hilang dari ingatan kami.
Besok
pasti akan menjadi lebih berat. Namun, satu hal yang pasti adalah kami hanya
bisa memberikan yang terbaik.
──Pada
akhirnya, terdesak oleh keberuntungan Teoritta, tepat setelah ini Dotta
mendapatkan angka terendah.
Kami semua tertawa bersama, menganggapnya sebagai hal yang biasa terjadi.



Post a Comment