NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenmetsu END wo Shinimonogurui de Kaihishita ~ Party ga Yanda Volume 3 Chapter 1

Chapter 1

Memori Air Mata


Kalau dipikir-pikir lagi, aku benar-benar tidak pernah menyangka hari di mana aku menerima imbalan langsung dari Sang Saintess akan benar-benar tiba.

Di dalam kamarku di penginapan Le Bouquet. Sembari mengistirahatkan perut yang baru saja dimanjakan oleh makan siang spesial buatan Rose, tiba-tiba aku didera perasaan aneh—seolah semua kejadian di Katedral pagi tadi hanyalah sebuah mimpi yang teramat megah.

Habisnya, dia itu Sang Saint, lho. Sosok inkarnasi dewa yang menjadi simbol absolut Gereja Suci Chriscless. Dalam "karya asli" pun, dia pastilah salah satu karakter paling krusial yang direncanakan muncul dengan sangat bombastis.

Normalnya, orang biasa seperti kami tidak akan bisa menemuinya semudah itu. Jika ada lansia yang taat di Kota Suci ini melihatnya, tidak heran jika mereka akan langsung bersujud sambil menangis haru—mungkin.

Dan dengan salah satu dari para Saint itu, Yang Mulia LesterdiaSang White Clay Saint, aku baru saja berbincang berdua saja tanpa ada yang mengganggu. Kami bahkan mengobrol akrab seperti teman masa kecil atau teman sekelas.

Bagaimana ceritanya bisa jadi begini……?

"……Wolka, apa benar kalian cuma bicara soal penghakiman? Kamu tidak diapa-apakan, kan? Jangan malu-malu, beri tahu aku yang sebenarnya."

"Sudah kubilang, memang benar-benar cuma itu kok……"

Gara-gara itu, Master juga jadi sangat curiga padaku. Maksudku, Master sebenarnya mengira Dia—Lesterdia(nama panggilan yang dia paksakan padaku lewat mandat Saint)—telah berbuat 'apa' padaku?

Memang sih, jarak posisi duduk kami tadi terbilang cukup dekat.

Tapi jika dibandingkan dengan Master yang sekarang sedang menjajah tempat tidurku, kejadian tadi itu tidak ada apa-apanya.

……Apa tempat tidurku ini akan terus dikuasai oleh Master?

Namun, Master tidak mengendurkan tatapan curiganya sedikit pun.

"Tidaaak, aku tahu itu! Anak itu pasti berniat menarik Wolka ke pihak Gereja! Itu sama sekali tidak boleh! Wolka harus terus bersamaku selamanya!"

Yuritia dan Atri yang juga sedang beristirahat di kamar ikut setuju. Yuritia menggembungkan pipinya sedikit seperti anak kecil, sementara Atri menunjukkan ekspresi tenang tanpa keraguan sedikit pun.

"Benar! Memang Sang Saint adalah orang yang hebat, tapi…… tolong andalkan kami dulu. Kamu boleh mengandalkan kami untuk apa pun, sungguh tidak apa-apa!"

"Eum. Kalau Wolka menginginkannya, aku akan melakukan apa pun."

"U-umu……"

Sial, semuanya masih tetap terasa sangat "berat" seperti biasa……

Semenjak aku memakai penutup mata dan kaki palsu ini, aku berusaha menjalani hari-hari demi kembali ke masyarakat dan menghindari Bad Ending di mana party-ku menjadi gila. Namun, sejauh ini nyaris belum ada hasil yang berarti.

Bahkan saat perjalanan pulang dari Katedral tadi pun……

Wolka, kamu sudah tidak boleh pergi ke mana-mana lagi. Harus terus bersamaku. Karena kalau tidak ada Wolka, aku bisa hancur. Aku tidak bisa hidup kalau Wolka tidak ada di sampingku, jadi benar-be-nar tidak boleh, ya.

Senior sudah mempertaruhkan nyawa dan hidupnya demi melindungi kami. Karena itu, aku juga akan berusaha sekuat tenaga seolah mempersembahkan jiwa dan ragaku untuk Senior! Mulai sekarang, selamanya, sampaai kapan pun, aku akan terus berada di sampingmu.

Aku sudah memutuskan untuk mati demi kamu. Wolka, demi kamu, aku akan melakukan apa pun. Segalanya bisa kulakukan. Sehelai rambut, serpihan tulang, setetes darah, seluruh jiwa…… milikku seutuhnya, silakan lakukan sesukamu, ya?

Aku baru saja menerima "sumpah janji" yang terlampau berat dari mereka. Ah, memikirkannya saja sudah membuat lambungku terasa perih……

Tergantung cara berpikirnya, sebagai seorang pria, mungkin aku sedang mendapatkan kasih sayang yang diimpikan banyak orang.

Namun pada akhirnya, dasar dari perasaan Master dan yang lainnya adalah rasa bersalah, perasaan tak berdaya, dan penyesalan karena aku terluka parah.

Itu adalah kondisi menyimpang yang sudah melenceng dari hubungan asli kami.

Alasan mereka sangat memedulikanku adalah karena jika tidak begitu, mereka tidak akan bisa memaafkan diri mereka sendiri.

Mengalihkan pandangan dari penderitaan Master dan yang lainnya lalu merasa senang karena 'dikelilingi gadis-gadis'…… entah kenapa, aku merasa itu adalah hal yang salah.

Memang benar tujuanku adalah Happy Ending di mana Master dan yang lainnya selalu bisa tersenyum.

Namun, meski itu adalah senyuman, aku dengan tegas menolak jenis senyuman "sakit" yang kilaunya telah hilang dari mata mereka.

Memang aku harus segera kembali berbaur dengan masyarakat secepat mungkin agar mereka setidaknya bisa sedikit merasa tenang……!

Sambil menyadari kembali situasiku saat ini, aku pun mengubah topik pembicaraan ke langkah selanjutnya.

"Ngomong-ngomong, berarti siang ini kita pergi ke Guild, kan?"

Alis Master berkedut sedikit.

"U-umu…… i-iya juga ya……"

Meskipun lisannya setuju, bicaranya jelas terbata-bata dan matanya melirik ke sana kemari.

Yah, aku paham perasaannya. Bagi kami yang sekarang, Guild Petualang Kota Suci adalah tempat yang agak sensitif dan sulit untuk didatangi.

Kota Luther tempat kami tinggal sebelumnya terasa lebih mudah dikunjungi karena itu adalah negeri asing di mana kami tidak perlu mempedulikan pandangan orang. Namun, lain ceritanya setelah kembali ke Kota Suci.

Begitu sampai di Guild, mustahil untuk tidak bertemu dengan kenalan, dan penampilan mata tertutup serta kaki palsuku ini pasti akan menuai berbagai reaksi.

Tergantung kata-kata yang terdengar nanti, bisa saja Master dan yang lainnya malah akan semakin depresi.

Tapi, ada urusan yang tidak bisa ditunda lagi.

"Kita harus bicara baik-baik dengan Shannon-san, kan?"

Seperti yang dikatakan Yuritia, Shannon—staf Guild yang selalu mendukung aktivitas Silvery Grey—entah mengapa menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan verifikasi penaklukan kali ini.

Mengingat party-ku sendiri sudah di ambang kehancuran mental, aku tidak bisa membiarkan kenalan di luar party pun ikut-ikutan jadi tidak stabil.

Apalagi aku dengar saat aku sedang kritis dan tak sadarkan diri, Master dan Shannon sempat bertengkar lalu berpisah dengan cara yang tidak baik.

Setidaknya, membuat mereka berdua berbaikan adalah hal yang wajib dilakukan.

Akan sangat menguntungkan kalau kebetulan Shannon lewat di depan penginapan ini untuk urusan lain.

Tapi di dunia komik yang dibuat oleh si pengarang brengsek itu, mana mungkin urusan bisa berjalan selancar—

"Wolka-chan, apa kamu punya waktu sebentar?"

Saat itu, terdengar suara ketukan pintu dan suara Rose. Begitu aku menyahut dari dalam,

"Baru saja Shannon-chan datang ke sini. Dia tanya apa bisa bertemu. ……Kira-kira, kalian bisa bicara?"

……Sepertinya urusannya berjalan sangat lancar. Sungguh sebuah berkah Dewa—tidak, aku sama sekali tidak akan percaya pada 'Dewa' alias si pengarang dunia ini!

Bagaimanapun, ini kesempatan emas. Aku memutuskan lebih baik bicara di kamarku daripada di lobi penginapan yang ramai orang.

"Baiklah. Apa boleh bicara di sini?"

"Tentu saja. Tunggu ya, aku panggilkan dia sekarang."

Langkah kaki Rose menjauh. Karena kejadian yang mendadak ini, Master sama sekali belum siap secara mental.

"Tu-tunggu sebentar, aku belum memutuskan harus minta maaf seperti apa……!"

"Te-tenang saja, Lizel-san, aku juga akan ikut minta maaf!"

"Eum, Shannon pasti mengerti."

Selagi mereka panik, terdengar langkah kaki yang terburu-buru mendekat. Pintu kamar diketuk dua kali dengan tempo cepat.

"Sem-semuanya, ini Shannon! Apa boleh aku masuk……!?"

Meskipun dia adalah kakak perempuan yang dua tahun lebih tua dariku, tapi bicaranya memakai bahasa santun seperti adik kelas.

Sepertinya dia berlari dengan sangat terburu-buru, bahkan dari balik pintu pun terdengar jelas kalau dia hampir kehabisan napas.

Setelah aku memastikan Master berhasil memulihkan 'Mode Master'-nya yang sempat hancur, barulah aku menjawab.

"Iya, silakan."

"Wolka-kun……!!"

Begitu aku menjawab, pintu didorong terbuka, dan aku pun bertemu kembali dengan Shannon setelah kurang lebih satu bulan lamanya.

 

Tentang Shannon, staf Guild yang selalu mendukung kami, Silvery Grey.

Singkat kata, dia adalah kakak perempuan yang punya reputasi sangat mirip dengan anjing. Penilaian itu merujuk pada sifatnya yang ceria dan mudah akrab dengan orang.

Tapi sebenarnya, dari segi penampilan pun, di kedua sisi kepalanya tumbuh telinga anjing yang gagah—.

Tentu saja itu bercanda. Itu hanyalah rambut mencuat yang memang terlihat seperti telinga anjing.

Menurut pengakuannya sendiri, itu adalah rambut mencuat abadi yang tidak bisa dirapikan dengan cara apa pun.

Karena ujung rambutnya agak memutih, hal itu membuatnya semakin terlihat seperti telinga anjing…… Tentu saja, dia adalah manusia tulen sepertiku.

Usianya sembilan belas tahun, tingginya hampir sama dengan Anze.

Mungkin karena sifatnya yang ramah atau karena rambut mencuatnya yang khas, dia sering memberikan kesan lebih muda dari usia aslinya.

Aku pun awalnya tidak menyangka kalau dia ternyata lebih tua dariku.

Dia mengikat rambut cokelatnya yang sebahu dengan model ponytail, dan memakai kacamata tipe oval yang terlihat cerdas.

Mungkin itu adalah bentuk perlawanan kecilnya agar terlihat sedikit lebih dewasa.

Seperti yang sudah diketahui, dia adalah staf Guild yang bertanggung jawab atas Silvery Grey.

Karena sifatnya yang akan sangat tulus pada hal-hal yang dia sukai, dia menjadi sangat akrab dengan Master dan yang lainnya, bahkan di luar urusan pekerjaan.

Dialah yang mengajari kami segala hal tentang Kota Suci saat kami pertama kali tiba di sini.

Shannon yang merupakan sosok berjasa bagi Silvery Grey itu, dalam waktu singkat perubahannya sudah seperti orang yang berbeda.

Keceriaan alaminya telah musnah tak berbekas. Terlihat jelas bahwa dia sedang tertekan secara mental dan tidak mendapatkan tidur yang cukup.

Aku tidak akan bilang dia terlihat hancur, tapi…… gawat, melihatnya saja sudah membuat lambungku terasa perih.

Begitu melompat masuk ke kamar, Shannon langsung terpaku.

Dia hanya menatapku yang sedang duduk di tempat tidur dengan tatapan kosong nan nanar.

"Shannon,"

Begitu aku memanggil namanya, Shannon tersentak gemetar.

"Maaf sudah membuatmu khawatir, tapi seperti yang kau lihat, aku sudah kemba—Eh? Eh? Eh? Kenapa tiba-tiba?!"

Dalam kondisi tatapan kosong itu, secara tiba-tiba, air mata dalam jumlah besar tumpah seperti ember yang dibalik—bendungannya jebol.

"Uwaaaaaaaaaaaaaaaah, Wolka-kuuuuuuuuuuun!!"

"Uwoh……"

Dia mencoba menerjang ke arahku tapi kakinya tersandung di tengah jalan.

Dia jatuh terduduk, namun tangannya masih berusaha keras menggapai dan memeluk kaki kananku.

"Higu, uuuh, Wolka-kun, Wolka-kun, Wolka-guuuuuuuuuun……!!"

"Tu-tunggu, Sha, Shannon……!"

Itu bukan air mata bahagia karena melihatku selamat. Itu adalah air mata dingin yang murni basah oleh penyesalan dan kepedihan.

Tentu saja, melihat Shannon menangis kencang untuk pertama kalinya membuat lambungku serasa diremas.

"Shannon, tidak apa-apa, aku tidak apa-apa kok……!"

"Hueeeeeeeeeeeeen!"

Otakku tahu bahwa aku harus menenangkannya, tapi pikiranku hanya berputar-putar tanpa bisa mengeluarkan kata-kata.

Akhirnya, Master dan yang lainnya yang tidak tega melihat itu segera membantuku, sehingga situasi di mana tamu penginapan lain bisa menaruh curiga padaku berhasil dihindari.

Ah, sekali lagi aku benar-benar tersadar dari lubuk hati yang terdalam.

Air mata perempuan adalah hal yang paling tidak bisa kuhadapi.

Lambungku…… lambungkuuuuu.




◆◇◆

──Sampai sekarang pun, aku masih menyesal dari lubuk hatiku yang terdalam. Meski rekan-rekan di Guild semuanya menghiburku dan berkata bahwa aku tidak bersalah sedikit pun.

Memang benar, semua itu hanyalah pengandaian, dan mungkin sulit bagi Shannon untuk mencegah kecelakaan ini terjadi.

Party Flamberge yang bertanggung jawab atas investigasi verifikasi dungeon Gozel adalah kelompok veteran yang telah naik ke Rank A selama lima tahun, dengan rekam jejak menyelesaikan misi serupa beberapa kali.

Meskipun baru-baru ini ada pergantian satu anggota, mereka tetap beraktivitas tanpa masalah berarti.

Apalagi Gozel diklasifikasikan sebagai dungeon berskala kecil—bagi Shannon yang hanya menangani prosedur di atas kertas, mungkin mustahil untuk mencium bau bahaya hanya dari data sekecil itu.

Namun, andai saja. Andai saja aku menyadarinya lebih awal.

Seandainya aku bisa merasakan kejanggalan saat melihat sosok mereka—bahwa hubungan antaranggota mereka sedang retak dan berada di ambang perpecahan.

Seharusnya Shannon bisa menghentikannya.

Dia berada di posisi di mana dia bisa menunda investigasi Flamberge, dan mengubah masa depan agar Wolka dan yang lainnya tidak mengalami nasib tragis seperti itu.

Tapi, dia tidak bisa melakukannya. Dia bahkan tidak menyadarinya.

Setelah semuanya terlambat, hanya penyesalan sia-sia yang terus terbayang di benaknya; seharusnya aku begini, seharusnya aku begitu.

Fakta bahwa Wolka menderita luka parah yang hampir merenggut nyawanya, hingga kehilangan mata kanan dan kaki kirinya.

Fakta bahwa karena hal itu, Lizel dan yang lainnya menderita luka batin yang sangat dalam.

Padahal selama ini dia selalu bersikap sok seperti kakak yang perhatian, tapi justru di saat yang paling genting, dia tidak berguna sama sekali.

Sungguh—aku benci diriku yang tak berdaya ini.

 

Kisah ini bermula dari satu bulan yang lalu.

Hari itu, setelah Shannon menyelesaikan istirahat makan siangnya lebih awal dan kembali ke Guild, dia merasakan atmosfer di ruangan itu anehnya terasa gaduh.

Semua orang berkumpul di dekat jendela, bertukar pendapat dengan ekspresi yang sangat serius.

──Apa mereka sedang rapat ya?

Shannon berjinjit tanpa alasan yang jelas untuk mengintip kerumunan itu.

Hal yang sangat langka terjadi, di antara para staf yang sedang berdiskusi, ada sosok Fuji di sana.

Si tukang bolos itu tidak sedang bermalas-malasan di sofa, yang berarti masalah yang datang kali ini pastilah sangat penting.

"Ada apa yaaa?"

"……Ups, Shannon-chan."

Begitu dia menyapa dengan nada santai, pandangan semua orang—termasuk Fuji—langsung tertuju pada Shannon.

Itu bukan sekadar tatapan merespons sapaan, melainkan tatapan yang mengandung maksud tertentu. Shannon sontak berjengit.

"Eh, a-ada apa?"

"Bukan apa-apa…… maaf ya. Soalnya kami memang sedang menunggumu, Shannon-chan."

Fuji memisahkan diri dari kerumunan, menghampiri Shannon dengan wajah serius yang tidak biasanya.

"Baru saja, ada burung datang dari Luther."

Istilah 'burung datang' berarti ada informasi yang dibawa oleh burung pengirim pesan dengan kertas yang diikatkan di kakinya.

Meskipun belakangan ini alat sihir bernama Communication Device telah ditemukan dan memungkinkan komunikasi jarak jauh, alat itu baru tersedia di sebagian kecil wilayah Kota Suci dan Ibu Kota.

Di Guild Petualang pun, cara tradisional ini masih digunakan untuk berkomunikasi dengan kota-kota yang letaknya sangat jauh.

Shannon menerima surat yang tampaknya baru saja tiba itu dari tangan Fuji. Pengirimnya adalah Guild Petualang Luther.

Bagian awal berisi permintaan maaf karena melewati salam pembuka akibat urusan mendesak, lalu dilanjutkan dengan tulisan tangan yang kaku, seolah-olah menunjukkan ketegangan sang penulis.

Dugaan terjadinya kecelakaan verifikasi penaklukan di Dungeon Gozel.

Satu orang dari party Silvery Grey yang datang dari Kota Suci berada dalam kondisi kritis dan sedang dalam perawatan.

Mohon bantuan investigasi segera──

"──Hah? Eh? Apa…… eh?"

Butuh waktu yang sangat lama bagi Shannon untuk bisa memahami tiga baris kalimat sederhana itu.

"Shannon-chan. Bukankah kamulah yang mengurus prosedur verifikasi penaklukan Gozel?"

──Itu memang benar, Shannon juga berpikir demikian.

Namun, hal yang mencabik kesadaran Shannon dengan suara yang mengerikan dari sudut pikirannya bukanlah itu.

"Silvery Grey, satu orang, kondisi kritis──"

Silvery Grey. Party petualang favorit yang paling didukung oleh Shannon saat ini.

Teman-teman yang sudah dia kenal sejak mereka pertama kali tiba di Kota Suci, yang sudah sering dia urus layaknya seorang kakak.

Wolka. Lizel. Yuritia. Atri.

Kondisi kritis? Siapa? Sebenarnya, siapa?

"──,"

Shannon merasa lehernya seolah tercekik oleh rasa dingin yang menjalar, napasnya terasa kering dan tersumbat.

Ujung jarinya yang memegang surat gemetar, pandangannya menyempit hingga dia tidak bisa mendengar apa pun selain detak jantungnya sendiri.

Kondisi kritis. Kalau tidak salah, kondisi kritis itu lebih parah daripada luka berat, sebuah kondisi di mana nyawa dalam bahaya.

Sedang dalam perawatan. Berkali-kali dia membaca, tetap saja tertulis 'sedang dalam perawatan'.

Tidak tertulis bagian paling penting: apakah dia selamat atau tidak. Suara jantungnya sangat berisik, saking berisiknya dia merasa akan pingsan.

Kenapa? Setelah dirawat, bagaimana hasilnya? Kenapa hasilnya tidak dituliskan? Jangan-jangan, mungkinkah……

"──Shannon-chan. Shannon-chan, sadarlah!"

"……!?"

Bahu Shannon diguncang oleh Fuji, membuatnya kembali sadar.

Begitu kesadarannya kembali, rasa takut dan air mata meledak seketika dari dalam tubuhnya.

"P-Paman……!! Wolka-kun dan yang lainnya, Wo-Wolka-kun dan yang lainnya……!!"

Dia mencengkeram lengan Fuji dengan kedua tangannya yang gemetar. Dia tidak akan bisa berdiri jika tidak melakukannya.

Kepalanya sangat pening, wajah Fuji terlihat berkedip-kedip hitam putih. Dia merasa mual dan tidak bisa bernapas dengan benar.

"Shannon-chan,"

Kata-kata Fuji terdengar mantap dan tenang. Dia mendudukkan Shannon di kursi terdekat, lalu menatap matanya dengan tulus.

"Fakta bahwa dia sedang dalam perawatan berarti dia sudah berhasil dibawa ke gereja. Dan dengan Holy Magic gereja, kemungkinan terburuk tidak akan terjadi semudah itu."

"Ta-tapi……!"

"Bagaimana ceritanya kalau Shannon-chan sendiri tidak percaya mereka akan selamat?"

Kata-kata Fuji menusuk dadanya, perlahan warna kembali pada dunianya yang sempat hitam putih. Rasa mualnya sedikit berkurang.

Di surat itu hanya tertulis 'sedang dalam perawatan'──artinya, masih terlalu dini untuk membayangkan kemungkinan terburuk. Saat itulah Shannon baru menyadarinya.

Benar. Shannon adalah orang di Guild ini yang paling tahu betapa kuatnya party Wolka dan kawan-kawan.

Dia membuang jauh-jauh pikiran buruk yang mengganggu itu, meyakinkan diri bahwa dia tidak boleh menyerah lebih dulu.

Fuji tersenyum dan berkata, "Bagus."

"Pokoknya, karena sudah begini, kita harus pergi ke Luther. ……Shannon-chan, kamu ikut, kan?"

Pertanyaan itu bahkan tidak perlu dijawab.

"Ikut! Aku ikut……!"

"Kalau begitu, paman akan menyiapkan kuda spesial untukmu."

Di dalam kepalanya yang belum sepenuhnya tenang, Shannon merasa tawaran Fuji sangat mengejutkan.

Fuji adalah staf Guild yang sama dengan Shannon, tapi di saat yang sama, dia juga seorang veteran yang memiliki kualifikasi petualang.

Tugasnya sangat luas, mulai dari mengawasi berbagai ujian di Guild, menengahi perselisihan antarpetualang, hingga terkadang membimbing party pemula.

Singkatnya, semua tugas yang berkaitan dengan kekuatan fisik adalah tanggung jawabnya.

Hanya saja, kepribadian aslinya sangat santai dan malas. Seragam Guild-nya selalu terlihat berantakan dan tidak rapi.

Ditambah lagi, jika tidak ada pekerjaan, dia sering bermalas-malasan di sofa, sehingga sebagian besar staf menganggapnya sebagai tukang bolos.

Sangat jarang melihat pria seperti itu bergerak atas inisiatif sendiri tanpa perintah dari siapa pun.

Menyadari tatapan Shannon, Fuji menggaruk rambutnya yang berwarna hijau keabu-abuan dan bergumam kecil.

"Karena kali ini, sepertinya paman juga harus bekerja dengan serius……"

Shannon tidak begitu paham apa maksud perkataan Fuji, dan dia tidak punya cukup ruang di kepalanya untuk memikirkannya dalam-dalam.

Meskipun rasa pening dan mualnya sudah mereda, rasa sesak di jantungnya yang seolah akan hancur sama sekali tidak berubah.

Shannon sering diejek "mirip anjing" oleh rekan-rekan kerjanya.

Mungkin itu karena kepribadiannya yang sekali menyukai sesuatu, dia akan menyukainya sampai akhir dan tenggelam di dalamnya.

Hal itu juga berlaku dalam hubungan antarmanusia.

Sebagian besar staf Guild Petualang biasanya memiliki setidaknya satu 'party favorit' yang mereka dukung di dalam hati.

Bagi Shannon, party itu tak lain adalah Silvery Grey.

Mereka adalah anak-anak petualang yang paling Shannon cintai di dunia ini.

Karena itu, dia berdoa dengan sungguh-sungguh.

(Tolong, Dewa…!! Kumohon, kumohon semoga semuanya selamat…!!)

◆◇◆

──Surat yang diperlihatkan kepada Shannon tadi adalah pesan yang dikirimkan oleh Guild Luther agar Kota Suci segera mengetahui situasi terkini secepat mungkin.

Surat itu dilepaskan tadi malam. Yaitu setelah Wolka dibawa ke gereja Luther, dan setelah sang 'Protagonis Karya Asli' memberikan laporan kepada Guild.

Hanya saja, laporan dari sang protagonis asli ini terlalu singkat.

Dia hanya menyatakan secara padat bahwa Silvery Grey telah mengalahkan monster Boss di dungeon, dan satu orang terluka lalu sedang dirawat.

Hanya dua poin itu yang dia sampaikan, lalu dia segera pergi tanpa mempedulikan pihak Guild yang belum memahami situasinya secara utuh.

Ini sesuai dengan pengaturan dalam karya asli bahwa sang protagonis adalah orang yang sangat pendiam dan tidak menyukai tempat ramai.

Tentu saja pihak Guild segera mencoba mengonfirmasi detailnya. Namun, selain Wolka yang sedang sekarat, Lizel dan yang lainnya juga berada dalam kondisi yang sangat hancur.

Saat pihak Guild mencoba mencari orang yang setidaknya bisa diajak bicara……

"Maaf, tolong nanti saja!! Orang yang dibawa ke sini benar-benar dalam kondisi bahaya, kami semua sedang berjuang sekuat tenaga!!"

Mereka tidak bisa berbuat apa-apa setelah diteriaki dengan wajah serius oleh seorang Suster gereja.

Karena itu, pihak Guild menyerah untuk memahami detailnya saat itu juga, dan lebih memprioritaskan untuk segera meneruskan informasi tersebut ke Kota Suci.

Shannon, yang percaya pada keselamatan Wolka dan kawan-kawan—bagaimana mungkin dia bisa siap secara mental?

Bahwa luka pada mata kanan dan kaki kiri Wolka sudah tidak bisa disembuhkan lagi, bahkan dengan Holy Magic sekalipun.

Bahwa sebagai bayaran untuk mempertahankan nyawanya yang nyaris hilang, dia harus kehilangan kedua bagian tubuh itu.

◆◇◆

Sambil terguncang di atas kuda yang dipacu oleh Fuji, Shannon tiba di Kota Luther saat matahari hampir terbenam keesokan harinya.

Begitu sampai dan turun dari kuda, lututnya hampir lemas dan jatuh ke tanah.

"Se-seluruh ototkuuuuuu……"

Dia tidak pernah membayangkan kalau hanya dibonceng di belakang saja akan menguras tenaga sebanyak ini.

Otot paha bagian dalam harus terus menegang agar tidak terjatuh, dan seluruh otot inti tubuh harus terus dikerahkan untuk menahan guncangan.

Dia benar-benar meremehkan kuda. Ternyata mitra penting umat manusia ini adalah kendaraan yang begitu melelahkan.

Saat dia gemetaran, Fuji menertawakannya.

"Haha, mau bagaimana lagi. Orang yang tidak biasa naik kuda memang akan jadi begitu."

"Kalau begitu, Paman yang hobinya bolos terus juga seharusnya sama saja kan~……"

Padahal Fuji selalu bilang "aku sudah tua", tapi dia terlihat biasa saja tanpa perubahan warna wajah sedikit pun.

"Bisa jalan, kan?"

"Da-dapat, kok."

Shannon memaksakan kakinya untuk tegak. Fuji mengangguk puas.

"Kalau begitu, kita berpencar. Shannon-chan, pergilah ke gereja untuk menemui Wolka dan yang lainnya. Urusan Guild biar Paman yang tangani."

"Eh…… tapi, apa tidak apa-apa?"

Shannon bertanya dengan tatapan ragu. Bukankah mereka datang sebagai perwakilan resmi untuk mengonfirmasi fakta?

"Memahami situasi Wolka juga merupakan bagian dari pekerjaan. Lagipula, kamu datang sejauh ini untuk itu, kan? Urusan yang merepotkan biar orang dewasa yang urus."

"……Terima kasih."

Tukang bolos yang biasanya bermalas-malasan itu, entah kenapa terlihat sangat keren di mata Shannon.

Shannon sedikit mengubah penilaiannya terhadap Fuji, lalu dia berlari sekuat tenaga menuju gereja.

Saat dia sampai di bawah salib Gereja Suci Chriscless, dadanya terasa sesak seolah akan meledak karena kelelahan berlari.

Namun, tanpa membuang waktu untuk mengatur napas, dia segera melompat masuk dan bertanya pada Suster di bagian resepsionis.

Mendengar teriakan Shannon, seorang Suster senior segera datang menghampiri.

"──Apa maksudnya aku tidak boleh bertemu mereka?"

Suara Shannon yang menahan emosi terdengar rendah di lobi gereja yang sunyi.

Dia sudah menempuh perjalanan jauh, namun yang dia terima dari Suster senior itu hanyalah penolakan mentah-mentah.

Suster senior itu mengembuskan napas panjang sebelum menjawab.

"Staf Guild dari Kota Suci ya. Apa kamu ingin menginterogasi mereka tentang apa yang terjadi di dungeon?"

Tatapannya mengandung sedikit celaan, seolah menganggap Shannon tidak punya perasaan. Shannon tersentak, namun tetap membela diri.

"Itu juga termasuk, tapi…… pertama-tama aku ingin tahu keadaan mereka! Mereka itu party yang aku tangani di Kota Suci…… mereka adalah temanku!"

"……Begitu ya."

Sorot mata Suster senior itu sedikit melunak.

"Yang dibawa ke sini adalah pemuda bernama Wolka. Lukanya sangat parah, tapi dia berhasil bertahan dan nyawanya terselamatkan. Tiga gadis lainnya hampir tidak terluka, jadi tenanglah."

"──Be-begitu ya."

──Benar saja, itu Wolka-kun……

Meski sudah menduganya, jantung Shannon terasa diremas. Namun di sisi lain, dia merasa lega mendengar nyawa Wolka terselamatkan.

"Sekarang, mereka semua ada di ruang perawatan di bagian dalam."

"Kalau begitu……! Kumohon, sebentar saja juga tidak apa-apa!"

Tapi jawaban sang Suster tetap sama. Beliau menggelengkan kepala.

"Kamu sudah tahu keadaan mereka, kan? Karena itu, tolong biarkan mereka tenang untuk saat ini."

"Ke-kenapa?! Kan pengobatannya sudah berhasil──"

Suster itu menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya, mengisyaratkan Shannon untuk diam.

"Apa kamu bisa mendengarnya? Suara anak itu."

"Eh,"

Shannon mempertajam pendengarannya. Dan akhirnya dia menyadarinya.

Dari bagian dalam gereja, terdengar suara tangisan seorang gadis yang sangat samar.

Wolka, Wolka, Wolka. Dia terus memanggil nama orang yang berharga baginya itu berulang kali dengan nada penuh keputusasaan.

Shannon tidak mungkin salah mengenali suara itu.

"Li-zel……?"

Shannon kehilangan kata-kata. Lizel menangis di sana. Kenapa? Bukankah pengobatan Wolka berhasil?

Kenapa tangisannya terdengar begitu hancur, seolah-olah dia telah kehilangan segalanya?

"……Ayo kita bicara di tempat lain. Ikutlah denganku."

Suster senior itu melewati Shannon dan berjalan menuju pintu keluar.

Shannon mengikutinya tanpa mengerti apa-apa. Mereka pergi ke sudut halaman gereja yang tersembunyi di balik bayangan pepohonan.

"──Kami pun belum begitu paham apa yang terjadi pada mereka."

Suster senior itu memulai pembicaraan di bawah naungan pohon.

"Hanya saja…… sepertinya mereka bertemu monster yang sangat kuat di dungeon. Katanya, Wolka bertarung sekuat tenaga untuk melindungi yang lainnya."

Pikiran Shannon masih tertuju pada suara tangis Lizel yang seolah terngiang di telinganya.

"Karena luka parah itu, meski nyawanya selamat, rekan-rekannya masih belum bisa menerima kenyataan. Mereka tidak dalam kondisi bisa diajak bicara dengan tenang──itu sebabnya aku tidak mengizinkanmu bertemu."

"Tapi, Wolka-kun selamat, kan? Dia sudah tidak apa-apa, kan?"

Shannon berusaha menolak firasat buruk yang mulai merayapi punggungnya.

"Lalu, kenapa……"

"Ya. Nyawanya memang selamat."

Ekspresi Suster senior itu tidak menunjukkan kelegaan, melainkan penyesalan yang mendalam.

"……Dengarkan baik-baik. Wolka-san itu──"

Kenyataan yang diucapkan oleh Suster itu seketika merobek hati Shannon dan menjatuhkannya ke dalam kegelapan.

"──Kaki kirinya harus diamputasi, dan mata kanannya kemungkinan besar buta. Lukanya begitu parah sampai keajaibanlah yang membuatnya tetap hidup…… dan sampai sekarang, dia belum sadarkan diri."

"………………Eh?"

◆◇◆

Sementara itu, Fuji yang berpisah dengan Shannon mengunjungi Guild Petualang kecil di kota tersebut.

Meski baru saja terjadi kecelakaan besar yang langka di negara ini, suasana Guild di sana tampak seperti biasa.

Begitu Fuji menunjukkan kartu identitas stafnya, resepsionis di sana langsung berubah pucat dan mengantarnya ke ruang tamu.

"Maaf telah membuat Anda menempuh perjalanan jauh."

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya yang merupakan Wakil Kepala Guild datang menemui Fuji.

"Kepala Guild kami…… sedang tidak enak badan. Jadi saya yang akan mewakili."

"Yah, siapa pun tidak masalah asal bisa bicara."

Fuji duduk santai sambil menaruh kakinya. Dia langsung masuk ke inti pembicaraan tentang kecelakaan di dungeon Gozel.

Wakil Kepala Guild itu bercerita bahwa awalnya, seorang pria misterius datang ke Guild saat senja dua hari yang lalu.

"Pria misterius…… bukan anggota Silvery Grey?"

"Benar. Pria berambut merah dengan pakaian hitam dan jubah merah gelap, wajahnya tertutup tudung. Kira-kira usianya dua puluh tahun."

Fuji langsung tahu itu bukan Wolka.

"Dia hanya melaporkan secara singkat bahwa party Silvery Grey telah mengalahkan Boss di lapisan dalam Gozel, dan satu orang terluka lalu dirawat di gereja."

Fuji berpikir sambil mengelus dagunya. Jelas pria itu bukan anggota party. Dan sejauh yang Fuji tahu, Wolka tidak punya kenalan misterius seperti itu.

"Dia melaporkan itu, lalu pergi begitu saja dari kota."

"Pergi? Dia tidak memberikan identitasnya?"

"Dia hanya bilang, 'Aku hanya melaporkan apa yang kulihat. Sisanya adalah pekerjaan kalian'."

Fuji tertawa kecil mendengar itu. Sangat efisien, tapi juga sangat tidak sopan.

"Meski identitasnya tidak jelas, tapi fakta bahwa ada petualang yang dirawat di gereja adalah benar. Itulah sebabnya kami segera mengirimkan laporan ke Kota Suci."




"Ada perkembangan sampai hari ini?"

Wakil Ketua Guild menggelengkan kepala.

"Kami baru mengambil tindakan sementara dengan melarang akses ke 'Gozel'. Mengenai interogasi terhadap party yang bersangkutan, kami belum mendapat izin dari pihak Gereja...

Namun, petualang yang terluka kabarnya berhasil melewati masa kritis setelah menjalani perawatan semalam suntuk."

"……Apa dia laki-laki?"

Fuji bertanya meski dia sudah merasa yakin. Jawaban yang kembali pun sesuai dengan dugaannya.

"Benar... Kalau tidak salah, namanya 'Wolka'."

"……Begitu, ya."

Fuji menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu mengembuskan napas perlahan. Sudah kuduga, pikirnya.

Awalnya itu hanyalah dungeon skala kecil yang tidak memunculkan monster berbahaya. Namun, jika pemuda yang kemampuannya menonjol di antara generasinya saja sampai jatuh dalam bahaya, berarti bos aslinya adalah monster yang sangat kuat.

Di tengah situasi yang serba mendadak dan tidak realistis itu, pemuda tersebut pasti bertarung tanpa memedulikan dirinya sendiri demi melindungi rekan-rekannya.

Dan dengan mempertaruhkan nyawa, dia berhasil melindungi mereka semua.

Padahal, orang dewasa pun belum tentu bisa melakukan hal seperti itu.

(Hebat juga dia, benar-benar—)

Fuji tidak memiliki hubungan spesial dengan 'Silver Gray'. Namun, karena ada sosok agung tertentu yang sangat menyayangi Wolka, Fuji sering mengamati pemuda itu dari jarak yang tidak terlalu dekat maupun terlalu jauh.

Karena itu, dia merasa cukup mengenal kepribadian pemuda bernama Wolka tersebut.

Seorang petualang Rank A yang sedang naik daun, pengguna teknik pedang misterius yang disebut Battoujutsu. Tapi yang paling patut dicatat adalah hatinya yang ingin melindungi sesama—mentalitas baja yang bisa menghadapi bahaya di depan mata tanpa ragu.

Pantas saja ada seorang ksatria narsistik yang mengeluh betapa "dia lebih cocok jadi ksatria daripada petualang". Di satu sisi dia terlihat nekat seperti pemuda tujuh belas tahun pada umumnya, tapi di sisi lain dia memiliki kedewasaan yang melampaui usianya.

Di antara semua orang yang pernah Fuji amati, dia adalah salah satu manusia yang paling menarik.

"──Ngomong-ngomong, pria merah itu cukup mengusik pikiranku."

Fuji menegakkan duduknya dari sandaran sofa.

"Perawatan dilakukan sepanjang malam, yang artinya pria itu pergi tanpa memastikan keadaan Wolka-kun. Sepertinya dia bukan rekannya."

Wakil Ketua Guild mengangguk setuju.

"Luka parah yang mengancam nyawa—kalau memang rekan, mustahil dia pergi tanpa menunggu hasil perawatan."

Oleh karena itu, kemungkinan dia adalah kenalan yang menjelajahi dungeon bersama sangatlah kecil. Lagipula, untuk permintaan pemeriksaan rutin di dungeon yang sudah ditaklukkan, tidak ada alasan bagi Wolka dan timnya untuk repot-repot meminta bantuan orang luar.

"Mengingat dia membawa Wolka-kun ke Gereja, berarti dia juga ada di 'Gozel'... Tapi, apa yang dia lakukan di sana?"

Seandainya pria itu bukan petualang maupun ksatria, alasan orang asing mencurigakan mendekati dungeon biasanya hanya dua: mencuri harta karun yang tertinggal, atau melakukan 'sesuatu' yang tidak ingin dilihat orang lain. Secara umum, kemungkinannya berkisar di sana.

Singkatnya, dia adalah orang yang sangat mencurigakan. Namun, jika memang begitu, apakah dia mau repot-repot membawa petualang yang terluka sampai ke Gereja?

Ditambah lagi, dia memberikan bantuan ekstra dengan memberikan laporan minimal ke Guild sebagai perwakilan Lizel dan yang lain yang tidak bisa meninggalkan sisi Wolka—jika dilihat dari sisi itu, tindakan pria tersebut menunjukkan sisi kebaikan yang sangat tulus.

"Jubah merah kehitaman, rambut merah..."

Ada sebuah rumor yang tiba-tiba terlintas di ingatan Fuji.

"──'Revenge Demon Levanche'."

"Levanche... katamu?"

"Bukan apa-apa, hanya rumor kecil. Katanya ada seorang pria yang bukan petualang maupun ksatria, tapi dia berkeliling memburu monster sendirian. Ciri-cirinya berusia sekitar dua puluh tahun, memakai jubah merah kehitaman, rambut merah... dan haus darah yang tidak normal terhadap monster, seolah dia dirasuki oleh dendam."

Identitas dan asal-usulnya tidak diketahui. Ada yang memaki karena buruannya dicuri sehingga gagal menyelesaikan misi, tapi ada juga yang memujinya sebagai penyelamat nyawa rekan mereka.

Karena kekuatannya yang luar biasa seakan dia hidup hanya untuk membantai monster, nama 'Revenge Demon Levanche' mulai dikenal sebagai sosok berserker misterius.

"Rumor seperti itu... memalukan sekali, saya bahkan belum pernah mendengarnya. Anda sangat berwawasan luas, ya."

"Yah, ini hanya rumor di kalangan tertentu saja. Aku punya koneksi untuk informasi semacam itu."

Jika pria itu memang Levanche, maka masuk akal kenapa dia pergi begitu saja setelah memberikan laporan singkat. Katanya dia tidak suka berurusan dengan orang lain, dan tidak akan berkomunikasi dengan benar meski diajak bicara.

Alasan identitasnya tidak diketahui sama sekali adalah karena tidak ada satu pun orang yang bisa akrab dengannya sampai bisa menanyakan hal tersebut.

Wakil Ketua Guild melipat tangan sambil berpikir.

"……Tapi, begitu ya. Petualang veteran yang sempat melihat pria itu berkata, hanya dengan melihatnya saja, kekuatannya sudah cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri. Kalau dia petualang, dia pasti kelas atas Rank A, atau bahkan—"

"──Rank S?"

Wakil Ketua Guild mengangguk berat.

"Kenapa sosok seperti itu ada di dungeon yang sudah ditaklukkan...?"

"Entahlah. Tapi dia adalah orang yang dirumorkan 'hanya punya niat membunuh monster di kepalanya'. Kalau dia mendeteksi hawa monster kuat saat lewat lalu menyelidikinya... aku tidak akan terkejut."

"Mungkinkah hal seperti itu..."

Yah, Fuji sendiri pun belum pernah mendengar kemampuan mendeteksi hawa bos monster dari luar dungeon.

Lebih realistis jika menganggap dia adalah pengelana yang masuk untuk mencari harta karun sisa, lalu terpaksa menolong Wolka dan yang lain karena keadaan, kemudian segera pergi sebelum diinterogasi.

Meski begitu, entah kenapa Fuji merasa bahwa pria itu memang 'Revenge Demon Levanche'.

"……"

"Ada apa?"

Wakil Ketua Guild tampak melamun dengan wajah muram. Saat Fuji bertanya, dia tersadar.

"Ah, tidak... Saya hanya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu. Di usia semuda dua puluh tahun, memiliki kekuatan sehebat itu, namun terus memburu monster sendirian tanpa membentuk tim dengan siapa pun..."

"……Yah, pasti bukan cerita yang menyenangkan."

Hanya ada pembunuhan monster di kepalanya—tidak sulit untuk membayangkan kejadian apa yang bisa mendorong seseorang sampai dikuasai kebencian sedalam itu.

Alasan kenapa dia terus bertarung sendirian pun, kemungkinan besar juga karena hal yang sama.

"Tapi aku sedikit lega."

"Lega... maksud Anda?"

"Karena pria itu menolong Wolka-kun, kan? Meski dia dirasuki dendam, itu artinya dia masih punya hati nurani."

Jika dia benar-benar hanya peduli soal membunuh monster, tidak mungkin dia mau menggendong orang asing yang terluka ke Gereja.

Apalagi sampai repot-repot memberikan laporan ke Guild sebagai perwakilan.

Fuji menyeringai hingga giginya terlihat.

"Mungkin dia tidak seseram rumor yang beredar."

Wakil Ketua Guild pun menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.

"Semoga saja begitu. Dia masih sangat muda..."

"Yah, kita tidak punya cara untuk memastikan apakah dia benar-benar Levanche. Cukup soal omong kosongnya, mari bicara hal yang lebih realistis."

"……Ya, Anda benar."

Setelah itu, mereka berdiskusi mengenai tindakan selanjutnya. Saat semuanya selesai, matahari sudah hampir terbenam sepenuhnya.

Fuji yang keluar dari Guild memijat bahunya di bawah langit senja.

"Haa~... payah sekali, benar-benar."

Dia meregangkan lehernya ke kiri dan kanan, lalu mengembuskan napas panjang seolah-olah baru saja menyelesaikan tugas maha berat.

Sambil menatap langit jingga kemerahan yang mulai gelap, dia bergumam.

"Bagaimana ya cara melaporkan ini pada para Tuan Putri itu...?"

Yah, mau bagaimana lagi, dia hanya bisa menuliskan semuanya secara jujur di atas kertas.

Gadis dengan lambang salju pasti akan gemetar hebat seolah ingin merobek laporan itu sambil berguling-guling dan berteriak "Ugaaa!".

Gadis dengan lambang pedang mungkin akan langsung lari dari Katedral tanpa menoleh lagi karena saking mengkhawatirkan Wolka.

Gadis dengan lambang bintang pasti akan terkekeh sambil menantikan saat penghakiman tiba.

Dan gadis dengan lambang bulan pasti akan memasang wajah super malas lalu melemparkan semua urusan kepadanya sambil bilang "tolong urus ya".

Meskipun bergerak di saat darurat seperti ini adalah tugasnya, Fuji tetap berdoa agar kekacauan ini tidak semakin meluas karena dia tidak ingin mati karena kerja rodi.

"──Nah. Apa Shannon-chan masih di Gereja, ya?"

Untuk bertemu Shannon, Fuji melangkahkan kakinya menuju salib Gereja yang terlihat di atas bukit.

Melewati jalanan yang dipenuhi penginapan dan toko peralatan, tepat di awal tanjakan menuju Gereja, dia menemukan rambut ikal yang sangat ia kenal di sebuah bangku.

"……Shannon-chan?"

Itu memang Shannon.

Dia duduk membungkuk sangat dalam dengan tangan terkepal erat di atas kedua lututnya, hingga ekspresinya sama sekali tidak terlihat dari posisi Fuji.

Jika dia sudah selesai dengan urusannya dan sedang menunggu Fuji, suasananya terasa aneh.

Anak hilang yang tersesat di jalan pulang bahkan terlihat masih jauh lebih bersemangat daripada dirinya saat ini.

Merasa ada yang tidak beres, Fuji segera mendekat.

"Sedang apa di tempat seperti ini? Halo, Shannon-chan?"

"──"

Shannon mengangkat wajahnya dengan reaksi kaku seperti boneka otomatis yang rusak.

Dan saat itu, Fuji merasa...

"──Apa yang terjadi?"

Suaranya mendadak mendingin, dan dia merasakan otot di antara alisnya menegang.

Di mata Shannon yang menatap Fuji, tidak ada secercah kehidupan atau emosi pun yang tersisa.

Hanya ada 'kekosongan' yang memusingkan, seolah-olah kau akan jatuh terperosok saat mengintip ke dalamnya.

Namun, saat menyadari bahwa yang memanggilnya adalah Fuji, sedikit riak emosi kembali ke dasar matanya.

"Paman..."

"Shannon-chan. Kau bisa mendengar suaraku dengan jelas?"

"……Bisa, kok."

Sepertinya dia masih bisa merespons. Fuji mengendurkan kerutan di keningnya, menggaruk kepala sambil menggeram pelan.

"……Sebenarnya apa yang terjadi?"

Fuji duduk di samping Shannon.

Dia menunggu sekitar sepuluh detik, namun tidak ada jawaban.

"Kau sudah ke Gereja, kan?"

Kali ini, hanya anggukan kecil yang kembali sebagai jawaban. ...Kalau begitu, jawabannya hanya satu.

Mengingat kondisi 'Silver Gray' yang Fuji dengar, alasan yang bisa membuat Shannon sehancur ini hanya ada satu hal.

"……Tentang Wolka-kun, ya?"

Shannon gemetar.

Getaran itu menjadi retakan di hatinya, membuat emosi yang selama ini tertahan perlahan meluap keluar.

"Wol, kun, dia..."

Itu adalah curahan hati yang terdengar seperti isak tangis.

"Mata kanan dan kaki kiri Wol-kun... su-sudah hilang...!!"

"……!"

Fuji yang biasanya tenang pun tidak bisa menemukan kata-kata untuk membalasnya dengan mudah.

Seorang pendekar pedang dengan bakat luar biasa meski usianya belum genap tujuh belas tahun.

Jika hanya bicara soal kemampuan pedang, keahliannya adalah salah satu yang terbaik di Rank A, bahkan sering menjadi topik pembicaraan di antara para staf Guild.

Pemuda itu kehilangan mata kanan dan kaki kirinya.

Bagi seorang pendekar pedang yang mengandalkan tubuh sehat sebagai modal utama, itu adalah luka yang sangat berat, setara dengan kehilangan nyawanya.

Berhasil melewati masa kritis—itu artinya, 'hanya nyawanya yang berhasil selamat'.

"Apa ini, salahku...?"

"……Apa yang kau bicarakan?"

Bagi Shannon, Wolka adalah petualang favorit yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

"Soalnya, aku yang mengurus prosedur persetujuan penaklukan itu. Terus, kalau gara-gara itu Wol-kun jadi terluka parah..."

"Jangan bicara bodoh."

Bagi Shannon yang memiliki kepribadian yang akan menyukai sesuatu dengan sepenuh hati, hal ini pasti mustahil untuk ditanggungnya.

"Shannon-chan, kau kan hanya melakukan pekerjaan administratif saja."

"Tapi, tapi...!!"

Suaranya bergetar hebat, hingga rasanya ajaib kata-katanya masih bisa terdengar.

Setelah itu, percakapan tidak lagi berlanjut.

"Wol-kun...!! Wol-kun... tidak mauuu...!!"

Dia hanya terus mengulang nama Wolka. Air mata yang menetes satu demi satu meninggalkan noda dingin di lututnya.

Petualang yang dibunuh monster. Petualang yang mayatnya dimakan hingga tidak bisa dimakamkan.

Petualang yang melihat rekannya disiksa dan dibunuh di depan mata, lalu memilih mengakhiri hidup karena tidak sanggup menerima tragedi itu.

Petualang yang hilang kabar selama bertahun-tahun setelah pergi berkelana, hingga akhirnya hanya dianggap mati di atas kertas tanpa ada seorang pun yang mengenalinya selain namanya saja.

Jika menggali sejarah, ada banyak sekali orang yang menghilang seperti itu.

Jadi, meskipun dia kehilangan mata kanan dan kaki kirinya, fakta bahwa dia bisa pulang dengan nyawa selamat saja sudah merupakan...

"……Benar-benar payah. Sialan."

Fuji merasa mual pada dirinya sendiri karena sempat berpikir demikian, lalu ia mendongak menatap langit dengan kasar.

Dunia ini tidak berubah.

Meski seorang pemuda kehilangan satu mata dan satu kakinya, meski seorang gadis meneteskan air mata keputusasaan, dunia tetap menatap mereka tanpa berubah sedikit pun.




Prolog | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close