Chapter 1
Memori Air Mata
Kalau
dipikir-pikir lagi, aku benar-benar tidak pernah menyangka hari di mana aku
menerima imbalan langsung dari Sang Saintess akan benar-benar tiba.
Di dalam kamarku
di penginapan Le Bouquet. Sembari mengistirahatkan perut yang baru saja
dimanjakan oleh makan siang spesial buatan Rose, tiba-tiba aku didera perasaan
aneh—seolah semua kejadian di Katedral pagi tadi hanyalah sebuah mimpi yang
teramat megah.
Habisnya, dia itu
Sang Saint, lho. Sosok inkarnasi dewa yang menjadi simbol absolut Gereja Suci Chriscless.
Dalam "karya asli" pun, dia pastilah salah satu karakter paling
krusial yang direncanakan muncul dengan sangat bombastis.
Normalnya, orang
biasa seperti kami tidak akan bisa menemuinya semudah itu. Jika ada lansia yang
taat di Kota Suci ini melihatnya, tidak heran jika mereka akan langsung
bersujud sambil menangis haru—mungkin.
Dan dengan salah
satu dari para Saint itu, Yang Mulia LesterdiaSang White Clay Saint, aku
baru saja berbincang berdua saja tanpa ada yang mengganggu. Kami bahkan
mengobrol akrab seperti teman masa kecil atau teman sekelas.
Bagaimana
ceritanya bisa jadi begini……?
"……Wolka,
apa benar kalian cuma bicara soal penghakiman? Kamu tidak diapa-apakan, kan?
Jangan malu-malu, beri tahu aku yang sebenarnya."
"Sudah
kubilang, memang benar-benar cuma itu kok……"
Gara-gara itu, Master
juga jadi sangat curiga padaku. Maksudku, Master sebenarnya mengira Dia—Lesterdia(nama
panggilan yang dia paksakan padaku lewat mandat Saint)—telah berbuat 'apa'
padaku?
Memang
sih, jarak posisi duduk kami tadi terbilang cukup dekat.
Tapi jika
dibandingkan dengan Master yang sekarang sedang menjajah tempat tidurku,
kejadian tadi itu tidak ada apa-apanya.
……Apa tempat
tidurku ini akan terus dikuasai oleh Master?
Namun, Master
tidak mengendurkan tatapan curiganya sedikit pun.
"Tidaaak,
aku tahu itu! Anak itu pasti berniat menarik Wolka ke pihak Gereja! Itu sama
sekali tidak boleh! Wolka harus terus bersamaku selamanya!"
Yuritia
dan Atri yang juga sedang beristirahat di kamar ikut setuju. Yuritia
menggembungkan pipinya sedikit seperti anak kecil, sementara Atri menunjukkan
ekspresi tenang tanpa keraguan sedikit pun.
"Benar!
Memang Sang Saint adalah orang yang hebat, tapi…… tolong andalkan kami dulu. Kamu boleh mengandalkan
kami untuk apa pun, sungguh tidak apa-apa!"
"Eum. Kalau
Wolka menginginkannya, aku akan melakukan apa pun."
"U-umu……"
Sial, semuanya
masih tetap terasa sangat "berat" seperti biasa……
Semenjak aku
memakai penutup mata dan kaki palsu ini, aku berusaha menjalani hari-hari demi
kembali ke masyarakat dan menghindari Bad Ending di mana party-ku
menjadi gila. Namun, sejauh ini nyaris belum ada hasil yang berarti.
Bahkan saat
perjalanan pulang dari Katedral tadi pun……
—Wolka, kamu
sudah tidak boleh pergi ke mana-mana lagi. Harus terus bersamaku. Karena kalau
tidak ada Wolka, aku bisa hancur. Aku tidak bisa hidup kalau Wolka tidak ada di
sampingku, jadi benar-be-nar tidak boleh, ya.
—Senior sudah
mempertaruhkan nyawa dan hidupnya demi melindungi kami. Karena itu, aku juga
akan berusaha sekuat tenaga seolah mempersembahkan jiwa dan ragaku untuk
Senior! Mulai sekarang, selamanya, sampaai kapan pun, aku akan terus berada di
sampingmu.
—Aku sudah
memutuskan untuk mati demi kamu. Wolka, demi kamu, aku akan melakukan apa pun.
Segalanya bisa kulakukan. Sehelai rambut, serpihan tulang, setetes darah,
seluruh jiwa…… milikku seutuhnya, silakan lakukan sesukamu, ya?
Aku baru saja
menerima "sumpah janji" yang terlampau berat dari mereka. Ah,
memikirkannya saja sudah membuat lambungku terasa perih……
Tergantung cara
berpikirnya, sebagai seorang pria, mungkin aku sedang mendapatkan kasih sayang
yang diimpikan banyak orang.
Namun pada
akhirnya, dasar dari perasaan Master dan yang lainnya adalah rasa bersalah,
perasaan tak berdaya, dan penyesalan karena aku terluka parah.
Itu adalah
kondisi menyimpang yang sudah melenceng dari hubungan asli kami.
Alasan mereka
sangat memedulikanku adalah karena jika tidak begitu, mereka tidak akan bisa
memaafkan diri mereka sendiri.
Mengalihkan
pandangan dari penderitaan Master dan yang lainnya lalu merasa senang karena
'dikelilingi gadis-gadis'…… entah kenapa, aku merasa itu adalah hal yang salah.
Memang benar
tujuanku adalah Happy Ending di mana Master dan yang lainnya selalu bisa
tersenyum.
Namun, meski itu
adalah senyuman, aku dengan tegas menolak jenis senyuman "sakit" yang
kilaunya telah hilang dari mata mereka.
Memang aku harus
segera kembali berbaur dengan masyarakat secepat mungkin agar mereka setidaknya
bisa sedikit merasa tenang……!
Sambil menyadari
kembali situasiku saat ini, aku pun mengubah topik pembicaraan ke langkah
selanjutnya.
"Ngomong-ngomong,
berarti siang ini kita pergi ke Guild, kan?"
Alis Master
berkedut sedikit.
"U-umu……
i-iya juga ya……"
Meskipun
lisannya setuju, bicaranya jelas terbata-bata dan matanya melirik ke sana
kemari.
Yah, aku
paham perasaannya. Bagi kami yang sekarang, Guild Petualang Kota Suci adalah
tempat yang agak sensitif dan sulit untuk didatangi.
Kota Luther
tempat kami tinggal sebelumnya terasa lebih mudah dikunjungi karena itu adalah
negeri asing di mana kami tidak perlu mempedulikan pandangan orang. Namun, lain
ceritanya setelah kembali ke Kota Suci.
Begitu
sampai di Guild, mustahil untuk tidak bertemu dengan kenalan, dan penampilan
mata tertutup serta kaki palsuku ini pasti akan menuai berbagai reaksi.
Tergantung
kata-kata yang terdengar nanti, bisa saja Master dan yang lainnya malah akan
semakin depresi.
Tapi, ada
urusan yang tidak bisa ditunda lagi.
"Kita
harus bicara baik-baik dengan Shannon-san, kan?"
Seperti
yang dikatakan Yuritia, Shannon—staf Guild yang selalu mendukung aktivitas Silvery
Grey—entah mengapa menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan verifikasi
penaklukan kali ini.
Mengingat
party-ku sendiri sudah di ambang kehancuran mental, aku tidak bisa membiarkan
kenalan di luar party pun ikut-ikutan jadi tidak stabil.
Apalagi
aku dengar saat aku sedang kritis dan tak sadarkan diri, Master dan Shannon
sempat bertengkar lalu berpisah dengan cara yang tidak baik.
Setidaknya,
membuat mereka berdua berbaikan adalah hal yang wajib dilakukan.
Akan sangat
menguntungkan kalau kebetulan Shannon lewat di depan penginapan ini untuk
urusan lain.
Tapi di dunia
komik yang dibuat oleh si pengarang brengsek itu, mana mungkin urusan bisa
berjalan selancar—
"Wolka-chan,
apa kamu punya waktu sebentar?"
Saat itu,
terdengar suara ketukan pintu dan suara Rose. Begitu aku menyahut dari dalam,
"Baru saja Shannon-chan datang ke sini. Dia tanya apa bisa bertemu. ……Kira-kira,
kalian bisa bicara?"
……Sepertinya
urusannya berjalan sangat lancar. Sungguh sebuah berkah Dewa—tidak, aku sama
sekali tidak akan percaya pada 'Dewa' alias si pengarang dunia ini!
Bagaimanapun, ini
kesempatan emas. Aku memutuskan lebih baik bicara di kamarku daripada di lobi
penginapan yang ramai orang.
"Baiklah.
Apa boleh bicara di sini?"
"Tentu
saja. Tunggu ya, aku panggilkan dia sekarang."
Langkah kaki Rose
menjauh. Karena kejadian yang mendadak ini, Master sama sekali belum siap
secara mental.
"Tu-tunggu
sebentar, aku belum memutuskan harus minta maaf seperti apa……!"
"Te-tenang
saja, Lizel-san, aku juga akan ikut minta maaf!"
"Eum,
Shannon pasti mengerti."
Selagi mereka
panik, terdengar langkah kaki yang terburu-buru mendekat. Pintu kamar diketuk
dua kali dengan tempo cepat.
"Sem-semuanya,
ini Shannon! Apa boleh aku masuk……!?"
Meskipun dia
adalah kakak perempuan yang dua tahun lebih tua dariku, tapi bicaranya memakai
bahasa santun seperti adik kelas.
Sepertinya dia
berlari dengan sangat terburu-buru, bahkan dari balik pintu pun terdengar jelas
kalau dia hampir kehabisan napas.
Setelah aku
memastikan Master berhasil memulihkan 'Mode Master'-nya yang sempat hancur,
barulah aku menjawab.
"Iya,
silakan."
"Wolka-kun……!!"
Begitu aku
menjawab, pintu didorong terbuka, dan aku pun bertemu kembali dengan Shannon
setelah kurang lebih satu bulan lamanya.
Tentang Shannon,
staf Guild yang selalu mendukung kami, Silvery Grey.
Singkat kata, dia
adalah kakak perempuan yang punya reputasi sangat mirip dengan anjing.
Penilaian itu merujuk pada sifatnya yang ceria dan mudah akrab dengan orang.
Tapi sebenarnya,
dari segi penampilan pun, di kedua sisi kepalanya tumbuh telinga anjing yang
gagah—.
Tentu saja itu
bercanda. Itu hanyalah rambut mencuat yang memang terlihat seperti telinga
anjing.
Menurut
pengakuannya sendiri, itu adalah rambut mencuat abadi yang tidak bisa dirapikan
dengan cara apa pun.
Karena ujung
rambutnya agak memutih, hal itu membuatnya semakin terlihat seperti telinga
anjing…… Tentu saja, dia adalah manusia tulen sepertiku.
Usianya sembilan
belas tahun, tingginya hampir sama dengan Anze.
Mungkin karena
sifatnya yang ramah atau karena rambut mencuatnya yang khas, dia sering
memberikan kesan lebih muda dari usia aslinya.
Aku pun awalnya
tidak menyangka kalau dia ternyata lebih tua dariku.
Dia mengikat
rambut cokelatnya yang sebahu dengan model ponytail, dan memakai
kacamata tipe oval yang terlihat cerdas.
Mungkin itu
adalah bentuk perlawanan kecilnya agar terlihat sedikit lebih dewasa.
Seperti yang
sudah diketahui, dia adalah staf Guild yang bertanggung jawab atas Silvery
Grey.
Karena sifatnya
yang akan sangat tulus pada hal-hal yang dia sukai, dia menjadi sangat akrab
dengan Master dan yang lainnya, bahkan di luar urusan pekerjaan.
Dialah yang
mengajari kami segala hal tentang Kota Suci saat kami pertama kali tiba di
sini.
Shannon yang
merupakan sosok berjasa bagi Silvery Grey itu, dalam waktu singkat
perubahannya sudah seperti orang yang berbeda.
Keceriaan
alaminya telah musnah tak berbekas. Terlihat jelas bahwa dia sedang tertekan secara mental dan tidak
mendapatkan tidur yang cukup.
Aku tidak
akan bilang dia terlihat hancur, tapi…… gawat, melihatnya saja sudah membuat
lambungku terasa perih.
Begitu
melompat masuk ke kamar, Shannon langsung terpaku.
Dia hanya
menatapku yang sedang duduk di tempat tidur dengan tatapan kosong nan nanar.
"Shannon,"
Begitu
aku memanggil namanya, Shannon tersentak gemetar.
"Maaf
sudah membuatmu khawatir, tapi seperti yang kau lihat, aku sudah kemba—Eh? Eh?
Eh? Kenapa tiba-tiba?!"
Dalam
kondisi tatapan kosong itu, secara tiba-tiba, air mata dalam jumlah besar
tumpah seperti ember yang dibalik—bendungannya jebol.
"Uwaaaaaaaaaaaaaaaah,
Wolka-kuuuuuuuuuuun!!"
"Uwoh……"
Dia
mencoba menerjang ke arahku tapi kakinya tersandung di tengah jalan.
Dia jatuh
terduduk, namun tangannya masih berusaha keras menggapai dan memeluk kaki
kananku.
"Higu, uuuh,
Wolka-kun, Wolka-kun, Wolka-guuuuuuuuuun……!!"
"Tu-tunggu,
Sha, Shannon……!"
Itu bukan air
mata bahagia karena melihatku selamat. Itu adalah air mata dingin yang murni
basah oleh penyesalan dan kepedihan.
Tentu saja,
melihat Shannon menangis kencang untuk pertama kalinya membuat lambungku serasa
diremas.
"Shannon,
tidak apa-apa, aku tidak apa-apa kok……!"
"Hueeeeeeeeeeeeen!"
Otakku tahu bahwa
aku harus menenangkannya, tapi pikiranku hanya berputar-putar tanpa bisa
mengeluarkan kata-kata.
Akhirnya, Master dan
yang lainnya yang tidak tega melihat itu segera membantuku, sehingga situasi di
mana tamu penginapan lain bisa menaruh curiga padaku berhasil dihindari.
Ah,
sekali lagi aku benar-benar tersadar dari lubuk hati yang terdalam.
Air mata perempuan adalah hal yang paling tidak bisa
kuhadapi.
Lambungku…… lambungkuuuuu.
◆◇◆
──Sampai sekarang pun, aku masih menyesal dari lubuk hatiku
yang terdalam. Meski rekan-rekan di Guild semuanya menghiburku dan berkata
bahwa aku tidak bersalah sedikit pun.
Memang benar, semua itu hanyalah pengandaian, dan mungkin
sulit bagi Shannon untuk mencegah kecelakaan ini terjadi.
Party Flamberge yang bertanggung jawab atas
investigasi verifikasi dungeon Gozel adalah kelompok veteran yang telah
naik ke Rank A selama lima tahun, dengan rekam jejak menyelesaikan misi
serupa beberapa kali.
Meskipun
baru-baru ini ada pergantian satu anggota, mereka tetap beraktivitas tanpa
masalah berarti.
Apalagi Gozel
diklasifikasikan sebagai dungeon berskala kecil—bagi Shannon yang hanya
menangani prosedur di atas kertas, mungkin mustahil untuk mencium bau bahaya
hanya dari data sekecil itu.
Namun, andai
saja. Andai saja aku menyadarinya lebih awal.
Seandainya aku
bisa merasakan kejanggalan saat melihat sosok mereka—bahwa hubungan
antaranggota mereka sedang retak dan berada di ambang perpecahan.
Seharusnya
Shannon bisa menghentikannya.
Dia berada di
posisi di mana dia bisa menunda investigasi Flamberge, dan mengubah masa
depan agar Wolka dan yang lainnya tidak mengalami nasib tragis seperti itu.
Tapi, dia tidak
bisa melakukannya. Dia bahkan tidak menyadarinya.
Setelah semuanya
terlambat, hanya penyesalan sia-sia yang terus terbayang di benaknya; seharusnya
aku begini, seharusnya aku begitu.
Fakta bahwa Wolka
menderita luka parah yang hampir merenggut nyawanya, hingga kehilangan mata
kanan dan kaki kirinya.
Fakta bahwa
karena hal itu, Lizel dan yang lainnya menderita luka batin yang sangat dalam.
Padahal selama
ini dia selalu bersikap sok seperti kakak yang perhatian, tapi justru di saat
yang paling genting, dia tidak berguna sama sekali.
Sungguh—aku
benci diriku yang tak berdaya ini.
Kisah ini
bermula dari satu bulan yang lalu.
Hari itu,
setelah Shannon menyelesaikan istirahat makan siangnya lebih awal dan kembali
ke Guild, dia merasakan atmosfer di ruangan itu anehnya terasa gaduh.
Semua
orang berkumpul di dekat jendela, bertukar pendapat dengan ekspresi yang sangat
serius.
──Apa mereka
sedang rapat ya?
Shannon berjinjit
tanpa alasan yang jelas untuk mengintip kerumunan itu.
Hal yang sangat
langka terjadi, di antara para staf yang sedang berdiskusi, ada sosok Fuji di
sana.
Si tukang bolos
itu tidak sedang bermalas-malasan di sofa, yang berarti masalah yang datang
kali ini pastilah sangat penting.
"Ada apa yaaa?"
"……Ups, Shannon-chan."
Begitu dia menyapa dengan nada santai, pandangan semua
orang—termasuk Fuji—langsung tertuju pada Shannon.
Itu bukan sekadar tatapan merespons sapaan, melainkan
tatapan yang mengandung maksud tertentu. Shannon sontak berjengit.
"Eh, a-ada apa?"
"Bukan
apa-apa…… maaf ya. Soalnya kami memang sedang menunggumu, Shannon-chan."
Fuji memisahkan
diri dari kerumunan, menghampiri Shannon dengan wajah serius yang tidak
biasanya.
"Baru
saja, ada burung datang dari Luther."
Istilah
'burung datang' berarti ada informasi yang dibawa oleh burung pengirim pesan
dengan kertas yang diikatkan di kakinya.
Meskipun
belakangan ini alat sihir bernama Communication Device telah ditemukan
dan memungkinkan komunikasi jarak jauh, alat itu baru tersedia di sebagian
kecil wilayah Kota Suci dan Ibu Kota.
Di Guild
Petualang pun, cara tradisional ini masih digunakan untuk berkomunikasi dengan
kota-kota yang letaknya sangat jauh.
Shannon menerima
surat yang tampaknya baru saja tiba itu dari tangan Fuji. Pengirimnya adalah
Guild Petualang Luther.
Bagian awal
berisi permintaan maaf karena melewati salam pembuka akibat urusan mendesak,
lalu dilanjutkan dengan tulisan tangan yang kaku, seolah-olah menunjukkan
ketegangan sang penulis.
Dugaan
terjadinya kecelakaan verifikasi penaklukan di Dungeon Gozel.
Satu orang
dari party Silvery Grey yang datang dari Kota Suci berada dalam kondisi kritis
dan sedang dalam perawatan.
Mohon bantuan
investigasi segera──
"──Hah? Eh?
Apa…… eh?"
Butuh waktu yang
sangat lama bagi Shannon untuk bisa memahami tiga baris kalimat sederhana itu.
"Shannon-chan.
Bukankah kamulah yang mengurus prosedur verifikasi penaklukan Gozel?"
──Itu memang
benar, Shannon juga berpikir demikian.
Namun, hal yang
mencabik kesadaran Shannon dengan suara yang mengerikan dari sudut pikirannya
bukanlah itu.
"Silvery
Grey, satu orang, kondisi kritis──"
Silvery Grey. Party petualang favorit yang paling
didukung oleh Shannon saat ini.
Teman-teman yang sudah dia kenal sejak mereka pertama kali
tiba di Kota Suci, yang sudah sering dia urus layaknya seorang kakak.
Wolka. Lizel. Yuritia. Atri.
Kondisi kritis? Siapa? Sebenarnya, siapa?
"──,"
Shannon merasa lehernya seolah tercekik oleh rasa dingin
yang menjalar, napasnya terasa kering dan tersumbat.
Ujung jarinya yang memegang surat gemetar, pandangannya
menyempit hingga dia tidak bisa mendengar apa pun selain detak jantungnya
sendiri.
Kondisi kritis. Kalau tidak salah, kondisi kritis itu lebih
parah daripada luka berat, sebuah kondisi di mana nyawa dalam bahaya.
Sedang dalam perawatan. Berkali-kali dia membaca, tetap saja
tertulis 'sedang dalam perawatan'.
Tidak tertulis bagian paling penting: apakah dia selamat
atau tidak. Suara jantungnya sangat
berisik, saking berisiknya dia merasa akan pingsan.
Kenapa? Setelah
dirawat, bagaimana hasilnya? Kenapa hasilnya tidak dituliskan? Jangan-jangan,
mungkinkah……
"──Shannon-chan.
Shannon-chan, sadarlah!"
"……!?"
Bahu Shannon
diguncang oleh Fuji, membuatnya kembali sadar.
Begitu
kesadarannya kembali, rasa takut dan air mata meledak seketika dari dalam
tubuhnya.
"P-Paman……!!
Wolka-kun dan yang lainnya, Wo-Wolka-kun dan yang lainnya……!!"
Dia
mencengkeram lengan Fuji dengan kedua tangannya yang gemetar. Dia tidak akan
bisa berdiri jika tidak melakukannya.
Kepalanya
sangat pening, wajah Fuji terlihat berkedip-kedip hitam putih. Dia merasa mual
dan tidak bisa bernapas dengan benar.
"Shannon-chan,"
Kata-kata
Fuji terdengar mantap dan tenang. Dia mendudukkan Shannon di kursi terdekat, lalu menatap matanya dengan
tulus.
"Fakta bahwa
dia sedang dalam perawatan berarti dia sudah berhasil dibawa ke gereja. Dan
dengan Holy Magic gereja, kemungkinan terburuk tidak akan terjadi
semudah itu."
"Ta-tapi……!"
"Bagaimana
ceritanya kalau Shannon-chan sendiri tidak percaya mereka akan selamat?"
Kata-kata Fuji
menusuk dadanya, perlahan warna kembali pada dunianya yang sempat hitam putih.
Rasa mualnya sedikit berkurang.
Di surat itu
hanya tertulis 'sedang dalam perawatan'──artinya, masih terlalu dini untuk
membayangkan kemungkinan terburuk. Saat itulah Shannon baru menyadarinya.
Benar. Shannon
adalah orang di Guild ini yang paling tahu betapa kuatnya party Wolka dan
kawan-kawan.
Dia membuang
jauh-jauh pikiran buruk yang mengganggu itu, meyakinkan diri bahwa dia tidak
boleh menyerah lebih dulu.
Fuji
tersenyum dan berkata, "Bagus."
"Pokoknya,
karena sudah begini, kita harus pergi ke Luther. ……Shannon-chan, kamu
ikut, kan?"
Pertanyaan itu
bahkan tidak perlu dijawab.
"Ikut! Aku
ikut……!"
"Kalau
begitu, paman akan menyiapkan kuda spesial untukmu."
Di dalam
kepalanya yang belum sepenuhnya tenang, Shannon merasa tawaran Fuji sangat
mengejutkan.
Fuji adalah staf
Guild yang sama dengan Shannon, tapi di saat yang sama, dia juga seorang
veteran yang memiliki kualifikasi petualang.
Tugasnya sangat
luas, mulai dari mengawasi berbagai ujian di Guild, menengahi perselisihan
antarpetualang, hingga terkadang membimbing party pemula.
Singkatnya, semua
tugas yang berkaitan dengan kekuatan fisik adalah tanggung jawabnya.
Hanya saja,
kepribadian aslinya sangat santai dan malas. Seragam Guild-nya selalu terlihat
berantakan dan tidak rapi.
Ditambah lagi,
jika tidak ada pekerjaan, dia sering bermalas-malasan di sofa, sehingga
sebagian besar staf menganggapnya sebagai tukang bolos.
Sangat jarang
melihat pria seperti itu bergerak atas inisiatif sendiri tanpa perintah dari
siapa pun.
Menyadari tatapan
Shannon, Fuji menggaruk rambutnya yang berwarna hijau keabu-abuan dan bergumam
kecil.
"Karena kali
ini, sepertinya paman juga harus bekerja dengan serius……"
Shannon tidak
begitu paham apa maksud perkataan Fuji, dan dia tidak punya cukup ruang di
kepalanya untuk memikirkannya dalam-dalam.
Meskipun rasa
pening dan mualnya sudah mereda, rasa sesak di jantungnya yang seolah akan
hancur sama sekali tidak berubah.
Shannon sering
diejek "mirip anjing" oleh rekan-rekan kerjanya.
Mungkin itu
karena kepribadiannya yang sekali menyukai sesuatu, dia akan menyukainya sampai
akhir dan tenggelam di dalamnya.
Hal itu juga
berlaku dalam hubungan antarmanusia.
Sebagian besar
staf Guild Petualang biasanya memiliki setidaknya satu 'party favorit' yang
mereka dukung di dalam hati.
Bagi Shannon, party itu tak lain adalah Silvery Grey.
Mereka adalah anak-anak petualang yang paling Shannon cintai
di dunia ini.
Karena itu, dia berdoa dengan sungguh-sungguh.
(Tolong, Dewa…!! Kumohon, kumohon semoga semuanya selamat…!!)
◆◇◆
──Surat yang
diperlihatkan kepada Shannon tadi adalah pesan yang dikirimkan oleh Guild Luther
agar Kota Suci segera mengetahui situasi terkini secepat mungkin.
Surat itu
dilepaskan tadi malam. Yaitu setelah Wolka dibawa ke gereja Luther, dan
setelah sang 'Protagonis Karya Asli' memberikan laporan kepada Guild.
Hanya saja,
laporan dari sang protagonis asli ini terlalu singkat.
Dia hanya
menyatakan secara padat bahwa Silvery Grey telah mengalahkan monster
Boss di dungeon, dan satu orang terluka lalu sedang dirawat.
Hanya dua poin
itu yang dia sampaikan, lalu dia segera pergi tanpa mempedulikan pihak Guild
yang belum memahami situasinya secara utuh.
Ini sesuai dengan
pengaturan dalam karya asli bahwa sang protagonis adalah orang yang sangat
pendiam dan tidak menyukai tempat ramai.
Tentu saja pihak
Guild segera mencoba mengonfirmasi detailnya. Namun, selain Wolka yang sedang
sekarat, Lizel dan yang lainnya juga berada dalam kondisi yang sangat hancur.
Saat pihak Guild
mencoba mencari orang yang setidaknya bisa diajak bicara……
"Maaf,
tolong nanti saja!! Orang yang dibawa ke sini benar-benar dalam kondisi bahaya,
kami semua sedang berjuang sekuat tenaga!!"
Mereka tidak bisa
berbuat apa-apa setelah diteriaki dengan wajah serius oleh seorang Suster
gereja.
Karena itu, pihak
Guild menyerah untuk memahami detailnya saat itu juga, dan lebih
memprioritaskan untuk segera meneruskan informasi tersebut ke Kota Suci.
Shannon, yang
percaya pada keselamatan Wolka dan kawan-kawan—bagaimana mungkin dia bisa siap
secara mental?
Bahwa luka pada
mata kanan dan kaki kiri Wolka sudah tidak bisa disembuhkan lagi, bahkan dengan
Holy Magic sekalipun.
Bahwa sebagai
bayaran untuk mempertahankan nyawanya yang nyaris hilang, dia harus kehilangan
kedua bagian tubuh itu.
◆◇◆
Sambil terguncang
di atas kuda yang dipacu oleh Fuji, Shannon tiba di Kota Luther saat
matahari hampir terbenam keesokan harinya.
Begitu sampai dan
turun dari kuda, lututnya hampir lemas dan jatuh ke tanah.
"Se-seluruh
ototkuuuuuu……"
Dia tidak pernah
membayangkan kalau hanya dibonceng di belakang saja akan menguras tenaga
sebanyak ini.
Otot paha bagian
dalam harus terus menegang agar tidak terjatuh, dan seluruh otot inti tubuh
harus terus dikerahkan untuk menahan guncangan.
Dia
benar-benar meremehkan kuda. Ternyata mitra penting umat manusia ini adalah kendaraan yang begitu
melelahkan.
Saat dia
gemetaran, Fuji menertawakannya.
"Haha, mau
bagaimana lagi. Orang
yang tidak biasa naik kuda memang akan jadi begitu."
"Kalau
begitu, Paman yang hobinya bolos terus juga seharusnya sama saja kan~……"
Padahal
Fuji selalu bilang "aku sudah tua", tapi dia terlihat biasa saja
tanpa perubahan warna wajah sedikit pun.
"Bisa jalan,
kan?"
"Da-dapat,
kok."
Shannon
memaksakan kakinya untuk tegak. Fuji mengangguk puas.
"Kalau
begitu, kita berpencar. Shannon-chan, pergilah ke gereja untuk menemui Wolka
dan yang lainnya. Urusan Guild biar Paman yang tangani."
"Eh…… tapi,
apa tidak apa-apa?"
Shannon bertanya
dengan tatapan ragu. Bukankah mereka datang sebagai perwakilan resmi untuk
mengonfirmasi fakta?
"Memahami
situasi Wolka juga merupakan bagian dari pekerjaan. Lagipula, kamu datang
sejauh ini untuk itu, kan? Urusan yang merepotkan biar orang dewasa yang
urus."
"……Terima
kasih."
Tukang bolos yang
biasanya bermalas-malasan itu, entah kenapa terlihat sangat keren di mata
Shannon.
Shannon sedikit
mengubah penilaiannya terhadap Fuji, lalu dia berlari sekuat tenaga menuju
gereja.
Saat dia sampai
di bawah salib Gereja Suci Chriscless, dadanya terasa sesak seolah akan
meledak karena kelelahan berlari.
Namun, tanpa
membuang waktu untuk mengatur napas, dia segera melompat masuk dan bertanya
pada Suster di bagian resepsionis.
Mendengar
teriakan Shannon, seorang Suster senior segera datang menghampiri.
"──Apa
maksudnya aku tidak boleh bertemu mereka?"
Suara Shannon
yang menahan emosi terdengar rendah di lobi gereja yang sunyi.
Dia sudah
menempuh perjalanan jauh, namun yang dia terima dari Suster senior itu hanyalah
penolakan mentah-mentah.
Suster senior itu
mengembuskan napas panjang sebelum menjawab.
"Staf Guild
dari Kota Suci ya. Apa kamu ingin menginterogasi mereka tentang apa yang
terjadi di dungeon?"
Tatapannya
mengandung sedikit celaan, seolah menganggap Shannon tidak punya perasaan.
Shannon tersentak, namun tetap membela diri.
"Itu juga
termasuk, tapi…… pertama-tama aku ingin tahu keadaan mereka! Mereka itu party
yang aku tangani di Kota Suci…… mereka adalah temanku!"
"……Begitu
ya."
Sorot mata Suster
senior itu sedikit melunak.
"Yang dibawa
ke sini adalah pemuda bernama Wolka. Lukanya sangat parah, tapi dia berhasil
bertahan dan nyawanya terselamatkan. Tiga gadis lainnya hampir tidak terluka,
jadi tenanglah."
"──Be-begitu
ya."
──Benar saja, itu
Wolka-kun……
Meski sudah
menduganya, jantung Shannon terasa diremas. Namun di sisi lain, dia merasa lega
mendengar nyawa Wolka terselamatkan.
"Sekarang,
mereka semua ada di ruang perawatan di bagian dalam."
"Kalau
begitu……! Kumohon, sebentar saja juga tidak apa-apa!"
Tapi jawaban sang
Suster tetap sama. Beliau menggelengkan kepala.
"Kamu sudah
tahu keadaan mereka, kan? Karena itu, tolong biarkan mereka tenang untuk saat
ini."
"Ke-kenapa?!
Kan pengobatannya sudah berhasil──"
Suster itu
menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya, mengisyaratkan Shannon untuk diam.
"Apa kamu
bisa mendengarnya? Suara anak itu."
"Eh,"
Shannon
mempertajam pendengarannya. Dan akhirnya dia menyadarinya.
Dari bagian dalam
gereja, terdengar suara tangisan seorang gadis yang sangat samar.
Wolka, Wolka,
Wolka. Dia terus
memanggil nama orang yang berharga baginya itu berulang kali dengan nada penuh
keputusasaan.
Shannon tidak
mungkin salah mengenali suara itu.
"Li-zel……?"
Shannon
kehilangan kata-kata. Lizel menangis di sana. Kenapa? Bukankah pengobatan Wolka
berhasil?
Kenapa
tangisannya terdengar begitu hancur, seolah-olah dia telah kehilangan
segalanya?
"……Ayo kita
bicara di tempat lain. Ikutlah denganku."
Suster senior itu
melewati Shannon dan berjalan menuju pintu keluar.
Shannon
mengikutinya tanpa mengerti apa-apa. Mereka pergi ke sudut halaman gereja yang
tersembunyi di balik bayangan pepohonan.
"──Kami pun
belum begitu paham apa yang terjadi pada mereka."
Suster senior itu
memulai pembicaraan di bawah naungan pohon.
"Hanya
saja…… sepertinya mereka bertemu monster yang sangat kuat di dungeon. Katanya,
Wolka bertarung sekuat tenaga untuk melindungi yang lainnya."
Pikiran
Shannon masih tertuju pada suara tangis Lizel yang seolah terngiang di
telinganya.
"Karena luka
parah itu, meski nyawanya selamat, rekan-rekannya masih belum bisa menerima
kenyataan. Mereka tidak dalam kondisi bisa diajak bicara dengan tenang──itu
sebabnya aku tidak mengizinkanmu bertemu."
"Tapi,
Wolka-kun selamat, kan? Dia sudah tidak apa-apa, kan?"
Shannon berusaha
menolak firasat buruk yang mulai merayapi punggungnya.
"Lalu,
kenapa……"
"Ya.
Nyawanya memang selamat."
Ekspresi Suster
senior itu tidak menunjukkan kelegaan, melainkan penyesalan yang mendalam.
"……Dengarkan
baik-baik. Wolka-san itu──"
Kenyataan yang
diucapkan oleh Suster itu seketika merobek hati Shannon dan menjatuhkannya ke
dalam kegelapan.
"──Kaki
kirinya harus diamputasi, dan mata kanannya kemungkinan besar buta. Lukanya
begitu parah sampai keajaibanlah yang membuatnya tetap hidup…… dan sampai
sekarang, dia belum sadarkan diri."
"………………Eh?"
◆◇◆
Sementara itu,
Fuji yang berpisah dengan Shannon mengunjungi Guild Petualang kecil di kota
tersebut.
Meski baru saja
terjadi kecelakaan besar yang langka di negara ini, suasana Guild di sana
tampak seperti biasa.
Begitu Fuji
menunjukkan kartu identitas stafnya, resepsionis di sana langsung berubah pucat
dan mengantarnya ke ruang tamu.
"Maaf telah
membuat Anda menempuh perjalanan jauh."
Tak lama
kemudian, seorang pria paruh baya yang merupakan Wakil Kepala Guild datang
menemui Fuji.
"Kepala
Guild kami…… sedang tidak enak badan. Jadi saya yang akan mewakili."
"Yah, siapa
pun tidak masalah asal bisa bicara."
Fuji duduk santai
sambil menaruh kakinya. Dia langsung masuk ke inti pembicaraan tentang
kecelakaan di dungeon Gozel.
Wakil Kepala
Guild itu bercerita bahwa awalnya, seorang pria misterius datang ke Guild saat
senja dua hari yang lalu.
"Pria
misterius…… bukan anggota Silvery Grey?"
"Benar. Pria
berambut merah dengan pakaian hitam dan jubah merah gelap, wajahnya tertutup
tudung. Kira-kira usianya dua puluh tahun."
Fuji langsung
tahu itu bukan Wolka.
"Dia hanya
melaporkan secara singkat bahwa party Silvery Grey telah mengalahkan
Boss di lapisan dalam Gozel, dan satu orang terluka lalu dirawat di
gereja."
Fuji
berpikir sambil mengelus dagunya. Jelas pria itu bukan anggota party. Dan
sejauh yang Fuji tahu, Wolka tidak punya kenalan misterius seperti itu.
"Dia
melaporkan itu, lalu pergi begitu saja dari kota."
"Pergi?
Dia tidak memberikan identitasnya?"
"Dia
hanya bilang, 'Aku hanya melaporkan apa yang kulihat. Sisanya adalah pekerjaan
kalian'."
Fuji
tertawa kecil mendengar itu. Sangat efisien, tapi juga sangat tidak sopan.
"Meski identitasnya tidak jelas, tapi fakta bahwa ada petualang yang dirawat di gereja adalah benar. Itulah sebabnya kami segera mengirimkan laporan ke Kota Suci."
"Ada
perkembangan sampai hari ini?"
Wakil
Ketua Guild menggelengkan kepala.
"Kami
baru mengambil tindakan sementara dengan melarang akses ke 'Gozel'. Mengenai
interogasi terhadap party yang bersangkutan, kami belum mendapat izin dari
pihak Gereja...
Namun,
petualang yang terluka kabarnya berhasil melewati masa kritis setelah menjalani
perawatan semalam suntuk."
"……Apa dia
laki-laki?"
Fuji bertanya
meski dia sudah merasa yakin. Jawaban yang kembali pun sesuai dengan dugaannya.
"Benar...
Kalau tidak salah, namanya 'Wolka'."
"……Begitu,
ya."
Fuji menyandarkan
punggungnya ke sofa, lalu mengembuskan napas perlahan. Sudah kuduga, pikirnya.
Awalnya itu
hanyalah dungeon skala kecil yang tidak memunculkan monster berbahaya. Namun,
jika pemuda yang kemampuannya menonjol di antara generasinya saja sampai jatuh
dalam bahaya, berarti bos aslinya adalah monster yang sangat kuat.
Di tengah situasi
yang serba mendadak dan tidak realistis itu, pemuda tersebut pasti bertarung
tanpa memedulikan dirinya sendiri demi melindungi rekan-rekannya.
Dan
dengan mempertaruhkan nyawa, dia berhasil melindungi mereka semua.
Padahal,
orang dewasa pun belum tentu bisa melakukan hal seperti itu.
(Hebat
juga dia, benar-benar—)
Fuji
tidak memiliki hubungan spesial dengan 'Silver Gray'. Namun, karena ada sosok
agung tertentu yang sangat menyayangi Wolka, Fuji sering mengamati pemuda itu
dari jarak yang tidak terlalu dekat maupun terlalu jauh.
Karena
itu, dia merasa cukup mengenal kepribadian pemuda bernama Wolka tersebut.
Seorang
petualang Rank A yang sedang naik daun, pengguna teknik pedang misterius yang
disebut Battoujutsu. Tapi yang paling patut dicatat adalah hatinya yang
ingin melindungi sesama—mentalitas baja yang bisa menghadapi bahaya di depan
mata tanpa ragu.
Pantas
saja ada seorang ksatria narsistik yang mengeluh betapa "dia lebih cocok
jadi ksatria daripada petualang". Di satu sisi dia terlihat nekat seperti pemuda tujuh belas tahun pada
umumnya, tapi di sisi lain dia memiliki kedewasaan yang melampaui usianya.
Di antara semua
orang yang pernah Fuji amati, dia adalah salah satu manusia yang paling
menarik.
"──Ngomong-ngomong,
pria merah itu cukup mengusik pikiranku."
Fuji menegakkan
duduknya dari sandaran sofa.
"Perawatan
dilakukan sepanjang malam, yang artinya pria itu pergi tanpa memastikan keadaan
Wolka-kun. Sepertinya dia bukan rekannya."
Wakil Ketua Guild
mengangguk setuju.
"Luka parah
yang mengancam nyawa—kalau memang rekan, mustahil dia pergi tanpa menunggu
hasil perawatan."
Oleh karena itu,
kemungkinan dia adalah kenalan yang menjelajahi dungeon bersama sangatlah
kecil. Lagipula, untuk permintaan pemeriksaan rutin di dungeon yang sudah
ditaklukkan, tidak ada alasan bagi Wolka dan timnya untuk repot-repot meminta
bantuan orang luar.
"Mengingat
dia membawa Wolka-kun ke Gereja, berarti dia juga ada di 'Gozel'... Tapi, apa
yang dia lakukan di sana?"
Seandainya pria
itu bukan petualang maupun ksatria, alasan orang asing mencurigakan mendekati
dungeon biasanya hanya dua: mencuri harta karun yang tertinggal, atau melakukan
'sesuatu' yang tidak ingin dilihat orang lain. Secara umum, kemungkinannya
berkisar di sana.
Singkatnya, dia
adalah orang yang sangat mencurigakan. Namun, jika memang begitu, apakah dia
mau repot-repot membawa petualang yang terluka sampai ke Gereja?
Ditambah lagi,
dia memberikan bantuan ekstra dengan memberikan laporan minimal ke Guild
sebagai perwakilan Lizel dan yang lain yang tidak bisa meninggalkan sisi
Wolka—jika dilihat dari sisi itu, tindakan pria tersebut menunjukkan sisi
kebaikan yang sangat tulus.
"Jubah merah
kehitaman, rambut merah..."
Ada sebuah rumor
yang tiba-tiba terlintas di ingatan Fuji.
"──'Revenge
Demon Levanche'."
"Levanche...
katamu?"
"Bukan
apa-apa, hanya rumor kecil. Katanya ada seorang pria yang bukan petualang
maupun ksatria, tapi dia berkeliling memburu monster sendirian. Ciri-cirinya
berusia sekitar dua puluh tahun, memakai jubah merah kehitaman, rambut merah...
dan haus darah yang tidak normal terhadap monster, seolah dia dirasuki oleh
dendam."
Identitas dan
asal-usulnya tidak diketahui. Ada yang memaki karena buruannya dicuri sehingga
gagal menyelesaikan misi, tapi ada juga yang memujinya sebagai penyelamat nyawa
rekan mereka.
Karena
kekuatannya yang luar biasa seakan dia hidup hanya untuk membantai monster,
nama 'Revenge Demon Levanche' mulai dikenal sebagai sosok berserker
misterius.
"Rumor
seperti itu... memalukan sekali, saya bahkan belum pernah mendengarnya. Anda
sangat berwawasan luas, ya."
"Yah, ini
hanya rumor di kalangan tertentu saja. Aku punya koneksi untuk informasi
semacam itu."
Jika pria itu
memang Levanche, maka masuk akal kenapa dia pergi begitu saja setelah
memberikan laporan singkat. Katanya dia tidak suka berurusan dengan orang lain,
dan tidak akan berkomunikasi dengan benar meski diajak bicara.
Alasan
identitasnya tidak diketahui sama sekali adalah karena tidak ada satu pun orang
yang bisa akrab dengannya sampai bisa menanyakan hal tersebut.
Wakil
Ketua Guild melipat tangan sambil berpikir.
"……Tapi,
begitu ya. Petualang veteran yang sempat melihat pria itu berkata, hanya dengan
melihatnya saja, kekuatannya sudah cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri. Kalau dia petualang, dia pasti kelas atas
Rank A, atau bahkan—"
"──Rank
S?"
Wakil Ketua Guild
mengangguk berat.
"Kenapa
sosok seperti itu ada di dungeon yang sudah ditaklukkan...?"
"Entahlah.
Tapi dia adalah orang yang dirumorkan 'hanya punya niat membunuh monster di
kepalanya'. Kalau dia mendeteksi hawa monster kuat saat lewat lalu
menyelidikinya... aku tidak akan terkejut."
"Mungkinkah
hal seperti itu..."
Yah, Fuji sendiri
pun belum pernah mendengar kemampuan mendeteksi hawa bos monster dari luar
dungeon.
Lebih realistis
jika menganggap dia adalah pengelana yang masuk untuk mencari harta karun sisa,
lalu terpaksa menolong Wolka dan yang lain karena keadaan, kemudian segera
pergi sebelum diinterogasi.
Meski begitu,
entah kenapa Fuji merasa bahwa pria itu memang 'Revenge Demon Levanche'.
"……"
"Ada
apa?"
Wakil Ketua Guild
tampak melamun dengan wajah muram. Saat Fuji bertanya, dia tersadar.
"Ah, tidak... Saya hanya bertanya-tanya apa yang
sebenarnya terjadi pada pria itu. Di usia semuda dua puluh tahun, memiliki
kekuatan sehebat itu, namun terus memburu monster sendirian tanpa membentuk tim
dengan siapa pun..."
"……Yah,
pasti bukan cerita yang menyenangkan."
Hanya ada
pembunuhan monster di kepalanya—tidak sulit untuk membayangkan kejadian apa
yang bisa mendorong seseorang sampai dikuasai kebencian sedalam itu.
Alasan kenapa dia
terus bertarung sendirian pun, kemungkinan besar juga karena hal yang sama.
"Tapi aku
sedikit lega."
"Lega...
maksud Anda?"
"Karena pria
itu menolong Wolka-kun, kan? Meski dia dirasuki dendam, itu artinya dia masih
punya hati nurani."
Jika dia
benar-benar hanya peduli soal membunuh monster, tidak mungkin dia mau
menggendong orang asing yang terluka ke Gereja.
Apalagi sampai repot-repot memberikan laporan ke Guild
sebagai perwakilan.
Fuji menyeringai hingga giginya terlihat.
"Mungkin dia tidak seseram rumor yang beredar."
Wakil Ketua Guild pun menyunggingkan senyum tipis di
bibirnya.
"Semoga saja
begitu. Dia masih sangat muda..."
"Yah, kita
tidak punya cara untuk memastikan apakah dia benar-benar Levanche. Cukup soal
omong kosongnya, mari bicara hal yang lebih realistis."
"……Ya,
Anda benar."
Setelah
itu, mereka berdiskusi mengenai tindakan selanjutnya. Saat semuanya selesai, matahari sudah hampir
terbenam sepenuhnya.
Fuji yang keluar
dari Guild memijat bahunya di bawah langit senja.
"Haa~...
payah sekali, benar-benar."
Dia meregangkan
lehernya ke kiri dan kanan, lalu mengembuskan napas panjang seolah-olah baru
saja menyelesaikan tugas maha berat.
Sambil
menatap langit jingga kemerahan yang mulai gelap, dia bergumam.
"Bagaimana
ya cara melaporkan ini pada para Tuan Putri itu...?"
Yah, mau
bagaimana lagi, dia hanya bisa menuliskan semuanya secara jujur di atas kertas.
Gadis dengan
lambang salju pasti akan gemetar hebat seolah ingin merobek laporan itu sambil
berguling-guling dan berteriak "Ugaaa!".
Gadis dengan
lambang pedang mungkin akan langsung lari dari Katedral tanpa menoleh lagi
karena saking mengkhawatirkan Wolka.
Gadis
dengan lambang bintang pasti akan terkekeh sambil menantikan saat penghakiman
tiba.
Dan gadis
dengan lambang bulan pasti akan memasang wajah super malas lalu melemparkan
semua urusan kepadanya sambil bilang "tolong urus ya".
Meskipun
bergerak di saat darurat seperti ini adalah tugasnya, Fuji tetap berdoa agar
kekacauan ini tidak semakin meluas karena dia tidak ingin mati karena kerja
rodi.
"──Nah.
Apa Shannon-chan masih di Gereja, ya?"
Untuk
bertemu Shannon, Fuji melangkahkan kakinya menuju salib Gereja yang terlihat di
atas bukit.
Melewati
jalanan yang dipenuhi penginapan dan toko peralatan, tepat di awal tanjakan
menuju Gereja, dia menemukan rambut ikal yang sangat ia kenal di sebuah bangku.
"……Shannon-chan?"
Itu memang Shannon.
Dia duduk membungkuk sangat dalam dengan tangan terkepal
erat di atas kedua lututnya, hingga ekspresinya sama sekali tidak terlihat dari
posisi Fuji.
Jika dia sudah selesai dengan urusannya dan sedang menunggu
Fuji, suasananya terasa aneh.
Anak hilang yang tersesat di jalan pulang bahkan terlihat
masih jauh lebih bersemangat daripada dirinya saat ini.
Merasa
ada yang tidak beres, Fuji segera mendekat.
"Sedang apa
di tempat seperti ini? Halo, Shannon-chan?"
"──"
Shannon
mengangkat wajahnya dengan reaksi kaku seperti boneka otomatis yang rusak.
Dan saat itu,
Fuji merasa...
"──Apa yang
terjadi?"
Suaranya mendadak
mendingin, dan dia merasakan otot di antara alisnya menegang.
Di mata Shannon
yang menatap Fuji, tidak ada secercah kehidupan atau emosi pun yang tersisa.
Hanya ada
'kekosongan' yang memusingkan, seolah-olah kau akan jatuh terperosok saat
mengintip ke dalamnya.
Namun, saat
menyadari bahwa yang memanggilnya adalah Fuji, sedikit riak emosi kembali ke
dasar matanya.
"Paman..."
"Shannon-chan.
Kau bisa mendengar suaraku dengan jelas?"
"……Bisa,
kok."
Sepertinya dia
masih bisa merespons. Fuji mengendurkan kerutan di keningnya, menggaruk kepala
sambil menggeram pelan.
"……Sebenarnya
apa yang terjadi?"
Fuji duduk di
samping Shannon.
Dia menunggu
sekitar sepuluh detik, namun tidak ada jawaban.
"Kau sudah
ke Gereja, kan?"
Kali ini, hanya
anggukan kecil yang kembali sebagai jawaban. ...Kalau begitu, jawabannya hanya
satu.
Mengingat kondisi
'Silver Gray' yang Fuji dengar, alasan yang bisa membuat Shannon sehancur ini
hanya ada satu hal.
"……Tentang Wolka-kun, ya?"
Shannon gemetar.
Getaran itu
menjadi retakan di hatinya, membuat emosi yang selama ini tertahan perlahan
meluap keluar.
"Wol,
kun, dia..."
Itu
adalah curahan hati yang terdengar seperti isak tangis.
"Mata kanan
dan kaki kiri Wol-kun... su-sudah hilang...!!"
"……!"
Fuji yang
biasanya tenang pun tidak bisa menemukan kata-kata untuk membalasnya dengan
mudah.
Seorang pendekar
pedang dengan bakat luar biasa meski usianya belum genap tujuh belas tahun.
Jika hanya bicara
soal kemampuan pedang, keahliannya adalah salah satu yang terbaik di Rank A,
bahkan sering menjadi topik pembicaraan di antara para staf Guild.
Pemuda itu
kehilangan mata kanan dan kaki kirinya.
Bagi seorang
pendekar pedang yang mengandalkan tubuh sehat sebagai modal utama, itu adalah
luka yang sangat berat, setara dengan kehilangan nyawanya.
Berhasil melewati
masa kritis—itu artinya, 'hanya nyawanya yang berhasil selamat'.
"Apa ini,
salahku...?"
"……Apa yang
kau bicarakan?"
Bagi Shannon,
Wolka adalah petualang favorit yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Soalnya,
aku yang mengurus prosedur persetujuan penaklukan itu. Terus, kalau gara-gara
itu Wol-kun jadi terluka parah..."
"Jangan
bicara bodoh."
Bagi Shannon yang
memiliki kepribadian yang akan menyukai sesuatu dengan sepenuh hati, hal ini
pasti mustahil untuk ditanggungnya.
"Shannon-chan,
kau kan hanya melakukan pekerjaan administratif saja."
"Tapi,
tapi...!!"
Suaranya bergetar
hebat, hingga rasanya ajaib kata-katanya masih bisa terdengar.
Setelah itu,
percakapan tidak lagi berlanjut.
"Wol-kun...!!
Wol-kun... tidak mauuu...!!"
Dia hanya terus
mengulang nama Wolka. Air mata yang menetes satu demi satu meninggalkan noda
dingin di lututnya.
Petualang yang
dibunuh monster. Petualang yang mayatnya dimakan hingga tidak bisa dimakamkan.
Petualang yang
melihat rekannya disiksa dan dibunuh di depan mata, lalu memilih mengakhiri
hidup karena tidak sanggup menerima tragedi itu.
Petualang yang
hilang kabar selama bertahun-tahun setelah pergi berkelana, hingga akhirnya
hanya dianggap mati di atas kertas tanpa ada seorang pun yang mengenalinya
selain namanya saja.
Jika menggali
sejarah, ada banyak sekali orang yang menghilang seperti itu.
Jadi, meskipun
dia kehilangan mata kanan dan kaki kirinya, fakta bahwa dia bisa pulang dengan
nyawa selamat saja sudah merupakan...
"……Benar-benar
payah. Sialan."
Fuji merasa mual
pada dirinya sendiri karena sempat berpikir demikian, lalu ia mendongak menatap
langit dengan kasar.
Dunia ini tidak
berubah.
Meski seorang pemuda kehilangan satu mata dan satu kakinya, meski seorang gadis meneteskan air mata keputusasaan, dunia tetap menatap mereka tanpa berubah sedikit pun.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment