NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenmetsu END wo Shinimonogurui de Kaihishita ~ Party ga Yanda Volume 3 Prolog

Prolog


Selatan Kota Suci Granfroze—sebuah kota air dan iman yang dialiri kanal-kanal jernih di bawah bimbingan Katedral Pusat, jantung dari Gereja Suci Christcrest.

Sebagai kota yang menjadi pilar negara bersama Ibu Kota Utara Eisenvista, skala kota ini benar-benar berbeda jauh dengan Kota Luther, tempat sebuah party menetap hingga beberapa hari yang lalu.

Di pelabuhan dagang utara yang menghadap ke laut, kapal-kapal datang dan pergi tanpa henti siang dan malam.

Di tiga benteng yang terletak di timur, barat, dan selatan, para petualang serta pengembara tak putus-putusnya berlalu-lalang.

Distrik Pertanian di Kota Houjou menyuguhkan pemandangan alam yang hijau nan asri.

Sementara di Distrik Industri dan Perdagangan, berbagai macam serikat dagang serta bengkel berdiri berderet rapat.

Banyak orang memilih kota dengan tingkat keamanan terbaik di dunia ini sebagai tempat tinggal seumur hidup mereka.

Debat mengenai "Mana yang lebih unggul, Ibu Kota atau Kota Suci?" bisa dibilang merupakan diskusi abadi bagi penduduk negeri ini.

Maka sudah sewajarnya, Guild Petualang pun membangun gedung di empat lokasi—Timur, Barat, Selatan, dan Utara—untuk menyesuaikan dengan besarnya kota ini.

Ada satu cabang kecil di Kota Higashi Yuraku, yang menjadi pintu masuk timur Kota Suci.

Satu lagi di Kota Nishi Yuraku, pintu masuk sebelah barat.

Satu lagi di Kota Minami Yuraku, pintu masuk sebelah selatan.

Dan yang terakhir berada di utara, yaitu Kantor Pusat yang berdiri di Distrik Seitei, pusat dari Kota Suci itu sendiri.

"Yah... ahh, memang kedamaian itu nomor satu, ya."

Di Kantor Pusat Guild Petualang tersebut, entah mengapa ada seorang pria yang sedang mencoba menikmati tidur malas di atas sofa.

Lokasinya berada di lantai dua, ruang administrasi yang hanya boleh dimasuki oleh staf Guild.

Seharusnya, pria ini berada dalam posisi di mana dia harus bekerja dengan serius, tapi—

"Syukurlah semuanya sudah mulai tenang. Rasanya paman ini sudah bekerja setara jatah tiga bulan hanya dalam bulan ini saja~"

Dengan kedua tangan terlipat di belakang kepala sebagai bantal, dia melemparkan uapan malas ke arah langit-langit, sama sekali tidak terlihat seperti staf yang sedang bertugas.

Wajahnya tampak lesu dengan janggut tipis yang tidak terawat, memberikan kesan pria yang berantakan.

Namun, tak satu pun staf yang sedang merapikan dokumen di sekitarnya menegurnya.

Mereka hanya tersenyum kecut atau membuang muka karena sudah terlalu terbiasa melihat pemandangan itu.

Tiba-tiba,

"Hei, dasar tukang bolos."

"Aduh!"

Seorang gadis yang baru kembali dari lantai satu sambil memeluk tumpukan dokumen memukul kepala pria itu dengan berkas tersebut.

Dari balik kacamatanya, dia memberikan tatapan dingin dan menghela napas panjang.

"Baru ditinggal sebentar sudah bolos lagi... Kamu benar-benar sudah kembali ke setelan pabrik ya, Paman Fuji."

Entah itu nama asli atau nama panggilan, pria yang dipanggil 'Fuji' itu melambaikan tangan kanannya di udara.

"Tentu saja, itu karena aku sudah bekerja keras sampai mandi keringat. Kamu lihat sendiri kan aksi keren paman di balik layar?"

"Paman harus mandi keringat dulu baru bisa dibilang bekerja seperti manusia normal. Jangan besar kepala."

"Kejamnyaaa~"

◆◇◆

Sekitar satu bulan sejak kecelakaan verifikasi penaklukan Dungeon Gozel, rutinitas harian di Guild Petualang Kota Suci akhirnya mulai pulih.

Itu berarti, kondisi selama sebulan terakhir benar-benar jauh dari kata normal.

Bagaimanapun, ini adalah kecelakaan verifikasi penaklukan pertama yang terjadi di negara ini dalam puluhan tahun terakhir.

Para petualang datang menyerbu tanpa henti untuk menanyakan detail kecelakaan, menuntut pertanggungjawaban, hingga membatalkan pesanan misi.

Bahkan staf administrasi yang biasanya hanya berhadapan dengan tumpukan dokumen pun terpaksa dikerahkan ke garis depan dalam pertempuran total setiap harinya.

Kehebohan itu akhirnya meluap keluar dari pintu Guild, menyebar dari mulut ke mulut hingga menjadi rumor yang tak terkendali, dan berkembang menjadi skandal yang mengguncang seluruh Kota Suci.

Akibatnya, tiga cabang di Distrik Yuraku semuanya lumpuh karena melebihi kapasitas. Staf paling kompeten di Guild bahkan ada yang mengalami regresi mental dan merengek ingin pulang ke rumah.

Bisa dikatakan, satu bulan kemarin adalah kekacauan yang menyerupai neraka dunia.

Meski begitu, bagi orang-orang yang tidak berhubungan dengan Guild Petualang, mungkin mereka akan bingung mengapa hal ini menjadi masalah besar.

Bukankah Bos asli dari Dungeon itu sudah dikalahkan? Lalu apa lagi masalahnya? Wajar saja jika mereka berpikir demikian.

Faktanya, mengenai Gozel itu sendiri, tidak ada lagi keributan yang berarti.

Masalahnya justru muncul pada hal lain selain Gozel—yaitu rantai keraguan yang tak bisa dihentikan oleh siapa pun: "Kalau begitu, apakah verifikasi penaklukan dungeon lain benar-benar aman?"

Hasilnya, seluruh dungeon yang telah dinyatakan 'takluk' di negeri ini dalam beberapa tahun terakhir harus diverifikasi ulang.

Prosedur tersebut, beserta pengaturan personelnya, menjadi urusan besar yang bahkan melibatkan Pasukan Ksatria Suci Christ Knights.

Setelah satu bulan berlalu, sebagian besar verifikasi ulang telah selesai, dan situasi akhirnya mulai mereda.

Namun, menghapus sepenuhnya keraguan yang telah tumbuh di hati para petualang adalah hal yang sulit.

"Bagaimana situasi di bawah?"

Mendengar pertanyaan Fuji, gadis itu membetulkan pelukannya pada dokumen.

"...Seperti dugaan, jumlah petualang masih sepi. Misi yang berkaitan dengan dungeon hampir tidak ada yang menyentuh."

"Yah, memang bakal begitu, sih."

Di dalam dungeon lain yang sudah dianggap takluk selain Gozel, mungkin saja masih ada Bos Monster asli yang sangat kuat yang bersembunyi.

Jika seseorang melangkah masuk dengan perasaan ringan dan tak sengaja bertemu monster seperti itu, satu party pasti akan musnah seketika.

Terutama party petualang peringkat rendah, mereka benar-benar ketakutan. Misi yang mengharuskan pergi ke dungeon kini sepi layaknya kuburan.

Meski sudah mereda, bukan berarti semua masalah telah selesai dengan bersih.

Namun, mengungkit masalah ini di depan para staf yang baru saja bisa bernapas lega terasa sedikit kejam.

Fuji bangkit dari sofa.

"Yah, untuk sekarang mau bagaimana lagi. Yang penting, akhirnya kita bisa sedikit melemaskan bahu—"

Dia mendongak menatap gadis itu dari posisi miring di bawahnya, lalu memanggil namanya dengan nada prihatin.

"Shannon-chan, sebaiknya kamu istirahat. Kamu sadar kan bagaimana warna wajahmu sekarang?"

"……"

Mata gadis itu—Shannon—tiba-tiba tampak nanar. Fokusnya mendadak terlepas dari realita, seolah dia terjatuh ke dalam kegelapan.

Fuji menghela napas pendek.

"Kamu terus berlarian ke sana kemari tanpa istirahat sama sekali. Ambil libur satu hari saja tidak apa-apa, tidurlah sepuasnya, lalu pergilah bicara dengan Wolka-kun dan yang lainnya."

"...Aku tidak apa-apa, kok."

Nada bicaranya terdengar sangat nekat dan menyalahkan diri sendiri, siapa pun yang mendengar pasti tahu itu bohong.

"Orang yang bilang begitu biasanya adalah yang paling tidak baik-baik saja. Tidak lucu kalau kamu tiba-tiba pingsan dan tahu-tahu sudah ada di tempat tidur gereja."

Tanpa kata-kata spesifik, staf di sekitar pun ikut setuju dengan Fuji melalui keheningan yang penuh kekhawatiran.

Wajah Shannon saat ini sama sekali tidak bisa dibilang segar. Bayangan gelap tanda kelelahan mulai muncul di bawah matanya.

Ini karena sejak kecelakaan Gozel terjadi, dia terus bekerja setiap hari hingga matahari terbenam tanpa mengambil libur satu hari pun.

Meskipun dia seharusnya pulang ke rumah setiap malam, tapi...

"Libur pun tidak ada gunanya. Lagipula aku tetap tidak bisa tidur."

"Dengar ya, Shannon-chan—"

"Lizel dan yang lainnya mengalami hal yang jauh lebih buruk!"

Dia memotong teguran Fuji dengan nada bicara yang agak keras.

"Paman juga lihat sendiri saat itu, kan? Luka parah Wolka-kun... dan betapa menderitanya Lizel serta yang lainnya."

"……"

Itu terjadi sesaat setelah kecelakaan terungkap. Fuji membawa Shannon bergegas menuju Kota Luther untuk memahami fakta lapangan.

Baik Fuji maupun Shannon masih bisa mengingat kejadian itu seolah-olah mereka masih berada di sana. Mereka tidak bisa melupakannya.

Wolka, yang kehilangan satu mata dan satu kakinya, terus tertidur tanpa sadar.

Dan Lizel serta yang lainnya, yang hancur melihat kondisi tragis rekan berharga mereka, hati mereka tercabik-cabik, hanya bisa tenggelam dalam keputusasaan tanpa bisa berbuat apa-apa—

"Dibandingkan dengan itu, hal seperti ini tidak ada apa-apanya. Lagipula, semuanya... semuanya ini salahku."

"...Shannon-chan, kamu terlalu berlebihan memikirkannya. Wolka-kun dan yang lainnya tidak mungkin berpikir seperti itu."

"...Entahlah."

Sejak saat itu, Shannon menjadi tidak stabil.

Mungkin itu wajar saja. Meski wajahnya terlihat agak kekanak-kanakan, dia sudah berusia sembilan belas tahun tahun ini. Posisinya sedikit lebih tua dibandingkan anggota party Silvery Grey.

Sifatnya yang selalu berusaha sekuat tenaga untuk orang yang dia sukai sering diejek mirip seperti anak anjing. Dia dulu selalu mengurus Wolka dan yang lainnya dengan penuh semangat sambil berseru, "Karena aku ini kakak kalian!".

Bagi Shannon yang seperti itu, tragedi ini pasti tak tertahankan.

Tragedi di mana party petualang favoritnya hampir saja tidak pernah kembali lagi. Keputusasaan melihat Wolka yang dia sayangi seperti adik sendiri harus berjuang antara hidup dan mati, bahkan kehilangan mata dan kakinya.

—Dan fakta bahwa yang memproses prosedur investigasi verifikasi Gozel adalah dirinya sendiri.

"Andai aku... andai aku menyadarinya lebih awal...!"

Dalam kecelakaan kali ini, party Flamberge yang menerima tugas investigasi verifikasi sangat dicurigai telah melalaikan tugas.

Secara situasional, hal ini sudah bisa dianggap pasti. Mereka mengalami perpecahan internal karena perselisihan antar anggota, dan berada dalam kondisi di mana mereka tidak bisa menjalankan misi dengan kemampuan asli mereka.

Sambil menyembunyikan fakta itu dari Guild, mereka menerima tugas tersebut demi imbalan yang melimpah.

Tentu saja, jika dikatakan bahwa tidak ada kewajiban untuk melaporkan hubungan pribadi antar anggota party kepada Guild, maka urusannya selesai sampai di situ, tapi—

Itulah sebabnya Shannon menyalahkan dirinya sendiri, merasa bahwa dialah yang seharusnya menyadari kejanggalan pada Flamberge saat menangani prosedurnya.

"...Rasa tanggung jawabmu terlalu kuat, Shannon-chan."

Meski begitu, menyalahkan Shannon sendirian atas kejadian ini adalah hal yang tidak adil.

Walaupun dia yang menangani prosedurnya, itu hanyalah urusan di atas kertas. Orang-orang di atasnyalah yang membubuhkan stempel persetujuan pada dokumen yang dia ajukan.

Bisa dikatakan ini adalah kesalahan organisasi Guild Petualang, karena itulah semua orang mencoba menghibur Shannon dengan mengatakan ini bukan tanggung jawabnya seorang diri.

Namun, dia tidak pernah sekalipun mau mengangguk setuju.

"Boro-boro bisa membantu, aku malah membuat Lizel dan yang lainnya marah, membuat mereka sedih... Lalu dengan wajah seperti apa aku harus menemui mereka? Bagaimana aku harus meminta maaf...!"

Ditambah lagi, saat dia pergi ke Kota Luther untuk melakukan penyelidikan, terjadi masalah kecil dengan Lizel dan yang lainnya karena hal sepele—kesalahpahaman yang malang itu semakin memicu rasa bersalah Shannon.

Sifatnya yang terlalu berempati dan mencurahkan seluruh hatinya pada orang yang dia sukai adalah kelebihan sekaligus kelemahan bagi gadis bernama Shannon ini.

Sambil berusaha keras menahan air mata, Shannon berkata,

"Lagipula Wolka-kun dan yang lainnya belum kembali, kan? Ma-mungkin saja mereka sudah tidak mau lagi kembali ke Kota Suci—"

"A-anu..."

Saat itu, seorang pemuda yang duduk agak jauh dari Shannon mengangkat tangannya dengan ragu-ragu. Sebagai pendatang baru yang tidak terlalu pandai bergaul, dia memperhatikan tatapan orang-orang di sekitarnya dengan canggung.

"Wolka-san dan yang lainnya... itu, mereka sudah pulang, lho?"

"Eh?"

"Tadi saat jam istirahat siang, aku tidak sengaja melihat mereka... keluar dari Katedral..."

"—"

Shannon menjatuhkan seluruh tumpukan dokumen yang dipeluknya ke lantai.

◆◇◆

Distrik Seitei yang menjadi pondasi politik Kota Suci, merupakan tempat berkumpulnya berbagai pusat organisasi dan kelompok selain Katedral dan Guild Petualang. Markas pasukan Christ Knights adalah salah satunya.

Secara harfiah, tempat itu adalah pusat kehidupan dan pelatihan bagi para ksatria. Namun, tak banyak penduduk Kota Suci yang menyadari bahwa di bawah tanahnya terdapat 'Ruang Tahanan'.

Sebuah fasilitas untuk mengurung tersangka kasus atau kriminal yang hukumannya telah ditetapkan—singkatnya, bisa disebut sebagai 'Penjara Bawah Tanah'.

Seorang ksatria wanita mengetuk pintu yang keras dan dingin di dalam penjara itu, membuat zirah peraknya berdenting.

"Aku masuk."

Tidak ada jawaban. Seolah sudah tahu takkan ada balasan sejak awal, sang ksatria wanita dengan terampil membuka tiga kunci yang berjejer di sana.

Dia membiarkan dua bawahannya berjaga di luar, lalu melangkah masuk dengan suara langkah kaki yang sengaja diperkeras.

Untuk ukuran penjara bawah tanah, ruangan itu tergolong cukup bersih, meski sempitnya setara dengan penginapan murah kelas rendah.

Di atas tempat tidur mungil yang mungkin akan membuat pria bertubuh besar merasa kesempitan, seorang wanita tampak meringkuk membelakangi pintu seperti anak kecil yang sedang merajuk.

Ksatria wanita itu menghela napas prihatin.

"Benar-benar tidak ada semangat hidup. Ini sama sekali bukan gayamu, Frixel."

"……Tentu saja aku jadi begini, mau bagaimana lagi."

Wanita itu berbalik seperti ulat bulu lalu bangkit duduk. Wajahnya tampak mengerikan seolah jiwanya telah tercabut, hampir tidak ada pancaran kehidupan manusia di sana.

Frixel—dia adalah petualang wanita yang merupakan anggota dari Flamberge, party yang saat ini tengah menjadi pusat skandal di Kota Suci.

Sang ksatria wanita kembali menghela napas.

"Apa kamu sudah merasa seperti benar-benar dilempar ke penjara? Sikap patuhmu itu bagus, tapi habiskanlah makananmu. Rasanya tidak buruk, kan?"

Ksatria wanita itu mengangkat tangan kanannya sedikit, dan bawahannya yang berjaga segera mendorong kereta makanan masuk.

Sekali lagi, untuk ukuran penjara bawah tanah, menu itu terasa terlalu mewah; makanan biasa yang bisa ditemukan di kedai-kedai umum. Ada hidangan utama, hidangan pendamping, dan sup yang masih mengepulkan uap.

Wajar saja, karena ini adalah ruangan untuk menahan sementara orang yang kesalahannya belum ditetapkan, bukan sel penjara tempat kriminal menyesali perbuatannya dengan makanan basi.

Jika diperhatikan lagi, selain ruangannya yang minimalis, kondisi higienisnya pun standar. Terlihat jelas bahwa Frixel sama sekali tidak diperlakukan dengan buruk.

Selama vonis belum dijatuhkan, tak ada seorang pun yang bisa disebut kriminal—itulah prinsip utama di Kota Suci.

Namun, Frixel tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun pada aroma hangat yang biasanya akan langsung disambar oleh tahanan bawah tanah mana pun. Melihat itu, sang ksatria wanita terpaksa langsung masuk ke inti pembicaraan.

"Ada dua hal yang ingin kusampaikan. ……Pertama, kemarin, Yang Mulia Saint of the Heavenly Sword telah kembali ke Kota Suci. Maaf membuatmu menunggu lama, tapi sebentar lagi penghakiman untuk kalian akan segera dilaksanakan."

"……Eum."

"Kedua. Party Silvery Grey itu juga sudah kembali ke Kota Suci kemar—"

"Pertemukan aku dengan mereka sekarang juga!!"

Gairah meledak seketika di wajah Frixel yang tadinya kosong. Dia menerjang dan mencengkeram dada zirah sang ksatria wanita.

Bawahan yang bersiaga hampir saja menghunus pedang, namun sang ksatria wanita menahan mereka dengan tangan.

"Itu tidak mungkin. Sekarang kamu sedang menunggu penghakiman dari Sang Saint—kontak dengan pihak luar tidak diizinkan. Apalagi dengan orang-orang yang terlibat langsung dalam kasus ini."

"Guh……"

Tubuh Frixel limbung, dia terduduk kembali di tempat tidur seolah seluruh tenaganya telah terkuras habis.

Melihat reaksi ini, jelas bahwa Frixel mengenal party Silvery Grey. Meski bukan hubungan pertemanan, melainkan hubungan di mana Frixel mengenal mereka secara sepihak.

"……Padahal, aku harus meminta maaf."

Suaranya gemetar saat dia memaksakan kata-kata keluar.

"Sebab, ini semua karena kami……! Anak laki-laki dari party itu, dia kehilangan satu mata dan satu kakinya, lho……!?"

"……Maksudmu pemuda itu, ya."

Ksatria wanita itu juga menunjukkan emosi yang menyesakkan.

"Aku tidak begitu paham dengan istilah 'oshi' yang sering kamu katakan itu…… tapi aku bisa membayangkan perasaanmu sekarang. Karena itulah, penghakiman harus dilakukan terlebih dahulu."

"Jangan khawatir. Yang Mulia Star Eye Saint akan mengungkap segalanya. Termasuk apa yang dipikirkan rekan-rekanmu, tidak akan ada rahasia yang bisa disembunyikan darinya."

"……"

Mendengar ucapan sang ksatria wanita, emosi Frixel akhirnya tertahan tepat sebelum dia kembali menjadi raga yang kosong. Dia mengembuskan napas panjang seperti mencoba menenangkan diri.

"……Baiklah, aku mengerti."

"Bagus kalau begitu. ……Jadwal penghakiman akan kuberitahukan segera setelah diputuskan. Penghakiman Sang Saint pasti akan sangat menakutkan, jadi pulihkanlah tenagamu baik-baik."

Sang ksatria wanita pergi bersama bawahannya, meninggalkan Frixel sendirian lagi di dalam ruangan.

Frixel mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kuku-kukunya nyaris merobek kulit. Karena emosinya yang tertahan setengah jalan, rasa perih yang menyengat mulai naik ke pangkal hidungnya.

"Benar-benar yang terburuk……!"

Dia menutupi wajahnya. Jika Dewa bisa mengabulkan satu saja permintaan, Frixel ingin segera kembali ke dua bulan yang lalu dan memukuli rekan-rekannya yang bodoh itu hingga babak belur.

Rasa sesalnya benar-benar tak terhingga.

"Maafkan aku, maafkan aku……! Maafkan aku……!!"

Hanya karena pertengkaran konyol mereka, orang lain yang tidak ada hubungannya harus mengalami luka yang sangat parah.

Melibatkan seorang anak yang bertahun-tahun lebih muda, lalu menghancurkan hidup anak itu.

—Hal seperti itu seharusnya tidak boleh terjadi, apa pun alasannya.

◆◇◆

Karena Distrik Seitei merupakan fondasi politik Kota Suci, banyak tempat makan berkumpul di sana untuk mengisi perut orang-orang yang berlalu-lalang.

Saat jam makan siang tiba, gelak tawa riang terdengar dari sebagian besar kedai, bahkan di beberapa tempat, para petualang yang sedang bersemangat sudah mulai menenggak alkohol lebih awal.

"──Ngomong-ngomong, kalian sudah dengar belum?"

Di salah satu sudut sebuah bar, empat petualang paruh baya berusia tiga puluhan duduk mengelilingi satu meja.

 Pria berambut biru memajukan tubuhnya sambil memegang gelas besar, wajahnya tampak penuh arti seolah sedang meminta perhatian dari ketiga rekannya.

"Itu lho, si anu... ah, siapa ya namanya? Ada kan, si pemakai teknik Batto-apa-gitu."

"Oh, anak dari Silvery Grey ya."

"Kalau tidak salah, namanya Wolka, kan?"

Si rambut merah dan si rambut pirang menyahut dengan santai.

Hanya pria terakhir berambut abu-abu yang tetap diam, entah mendengarkan atau tidak, matanya menatap kosong ke arah lain sambil menyesap minumannya sedikit demi sedikit.

Si rambut merah berkata sambil mengunyah daging,

"Kalau dipikir-pikir, belakangan ini aku jarang melihatnya. Apa dia sedang pergi ke dungeon yang jauh, ya?"

Si rambut pirang mengernyitkan dahi dan berdecak lidah,

"Cih, enak sekali nasibnya, bertualang sambil dikelilingi tiga pelayan wanita."

"Enaknya ya, jadi anak muda..."

Selama punya kemampuan, baik wanita maupun anak-anak tidak akan kesulitan uang sebagai petualang.

Namun pada kenyataannya, jumlah pria jauh lebih dominan daripada wanita.

Bukan hal aneh bagi seorang petualang jika seumur hidupnya belum pernah merasakan satu party dengan lawan jenis.

Karena kondisi industri yang seperti itu, party Silvery Grey yang terdiri dari satu pria dan tiga wanita cukup dikenal, bahkan di luar urusan kemampuan bertarung mereka.

Spesifiknya, dalam artian: "Sialan, aku iri sekali...".

Si rambut merah mendesak si rambut biru untuk melanjutkan.

"Lalu, ada apa dengan anak itu?"

"Nah... sepertinya dia sudah pulang tanpa kita sadari. Tadi saat mau ke sini, aku sempat melihatnya sekilas."

Si rambut biru semakin memajukan dahinya dan tersenyum licik, seolah hendak membongkar rahasia yang sangat istimewa.

"──Kaki anak itu, sudah jadi kaki palsu."

"……Hah?"

Pria berambut abu-abu akhirnya bereaksi. Tangannya yang sedang memegang gelas mendadak berhenti, dan dia memberikan tatapan tajam yang sangat kuat kepada si rambut biru di depannya.

"Oi, jangan melotot padaku begitu. Ramzey, apa kau sudah mabuk?"

"……"

Pria berambut abu-abu yang dipanggil Ramzey itu tidak mengendurkan ekspresinya sedikit pun.

"Kau tidak salah lihat, kan?"

"Mana mungkin salah. Itu pasti kaki palsu. ……Oiya sekalian saja kubilang, matanya juga ditutup sebelah."

"…………"

Ramzey kembali terdiam. Si rambut merah mengerjapkan matanya,

"Apa-apaan itu? Maksudmu dia kehilangan satu mata dan satu kaki?"

"Apa lagi kalau bukan itu? Yah, paling-paling dia melakukan kesalahan bodoh saat melawan monster."

Orang yang paling cepat menangkap maksud terselubung si rambut biru adalah si rambut pirang.

"Heh, kasihan sekali... kurasa itu yang namanya 'paku yang menonjol akan dipukul'."

Berlawanan dengan kata-katanya, tak ada sedikit pun rasa kasihan pada raut wajah si rambut pirang terhadap Wolka. Malah sebaliknya, dia tersenyum licik seperti si rambut biru.

"Kalau begitu, bajingan itu sudah harus pensiun jadi petualang, dong? Wah, ternyata Petualang Rank A cuma sampai di situ saja ya, payah sekali!"

"Itu karena dia bergaya dengan teknik pedang aneh atau apalah itu. Sejak awal aku sudah merasa dia itu mencurigakan."

'Teknik Batto' yang direkonstruksi Wolka berdasarkan ingatan dari kehidupan sebelumnya adalah ilmu pedang yang unik dan aneh bagi logika umum di negeri ini.

Wajar saja jika pedang dicabut dari sarungnya untuk bertarung, jadi teknik yang mengharuskan memasukkan kembali pedang ke sarungnya setiap kali hendak memasang kuda-kuda dianggap sebagai tumpukan kesia-siaan dan tidak rasional.

Orang dengan sensitivitas yang bisa langsung merasa teknik itu luar biasa seperti Yuritia hanyalah minoritas.

Meskipun begitu, Wolka berhasil memanjat hingga Rank A di usia muda.

Maka wajar jika ada rekan seprofesi seperti si rambut biru dan si rambut pirang yang menganggap keberadaan Wolka sebagai duri dalam daging.

"Berarti kalau dia cepat-cepat pensiun, gadis-gadis di party-nya jadi sasaran empuk, kan?"

"Bener banget, kan? Tidak ada salahnya mencoba mendekati mereka."

Si rambut merah merasa sangat muak melihat kedua temannya yang bersemangat itu.

"Kalian ini, mereka itu sedang mengalami musibah besar. Memalukan sekali bersikap begitu pada anak-anak."

"Berisik! Sekali saja tidak apa-apa! Sekali saja aku juga ingin satu party dengan gadis-gadis, sialan!"

"Benar, benar! Sialan!"

"Bodoh sekali... Hei Ramzey, kau katakan sesuatu juga padanya. ……Ramzey?"

Si rambut merah menoleh, namun Ramzey masih terdiam dengan raut wajah yang sangat tegang.

"Ramzey, ada apa? ……Memang ceritanya tragis, sih, tapi apa kau punya hubungan khusus dengannya?"

"……Mana mungkin. Bukan apa-apa."

Saat itu, si rambut merah, biru, maupun pirang tidak ada yang tahu apa yang sedang Ramzey ingat.

Mereka bertiga dan Ramzey baru berteman selama beberapa tahun terakhir, dan yang mereka tahu tentang satu sama lain hanyalah sebatas durasi pertemanan itu saja.

"──Cih. Dasar bocah bodoh..."

Decakan lidah Ramzey yang terdengar kesal itu terlalu kecil dan singkat untuk bisa didengar di tengah riuhnya suasana kedai yang penuh sesak.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close