NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenmetsu END wo Shinimonogurui de Kaihishita ~ Party ga Yanda Volume 3 Epilog

Epilog


"Permisi, aku mau ambil penugasan ini!"

"Iya, tunggu sebentar!"

"Heh, kurang ajar! Aku yang lebih dulu melihat papan penugasan itu, tahu!"

"Apa? Mana aku peduli. Bukannya aku yang lebih dulu mengambilnya?"

"Jangan menyerobot begitu, dong!"

"Uwaaa, tolong jangan bertengkar di sini!"

Sehari setelah keributan duel antara Wolka dan Ramzey mereda, lobi Perserikatan Petualang sudah dipenuhi kerumunan sejak pagi buta.

Para petualang berkumpul di depan papan pengumuman untuk memperebutkan lembar penugasan.

Pemandangan seperti ini sudah jarang terlihat selama sebulan terakhir.

Sejak insiden kegagalan pengakuan penjelajahan itu, atmosfer di seluruh perserikatan menjadi kaku dan canggung.

Banyak petualang mulai menjauhi penugasan tipe penjelajahan labirin.

Namun hari ini, suasana berubah drastis menjadi sangat ramai hingga para staf kewalahan dan berlarian ke sana kemari.

Sepertinya, masa stagnasi di mana penyelesaian tugas sempat tersendat telah berakhir secara tiba-tiba.

"Oi, aku mau ambil tugas i—ugeh!"

"Ehm, tidak sopan sekali melihat wajah perempuan lalu bereaksi seperti itu."

Shannon menyambut petualang paruh baya yang baru tiba di meja resepsionis dengan tatapan dingin dari balik kacamatanya. Hari ini Shannon bertugas sebagai resepsionis.

Biasanya ia adalah staf administrasi yang berkutat dengan dokumen.

Namun karena kepribadiannya yang ceria dan luwes, sesekali ia diminta duduk di meja depan untuk penyegaran suasana.

Pria di hadapannya ini adalah salah satu dari mereka yang kemarin ketahuan membicarakan hal buruk tentang Wolka saat duel berlangsung. Shannon segera mengubah ekspresinya kembali tersenyum cerah.

"Jadi, mau mengambil tugas?"

"……Iya."

Pria itu menjawab dengan kaku sambil menyerahkan lembar penugasan. Shannon meminta pria itu menunggu sebentar, lalu ia mencari daftar registrasi dari barisan dokumen di belakangnya.

"Hmm…… eh, ini penugasan yang cukup berat ya. Kamu semangat sekali tampaknya."

"Y-yah, begitulah."

"Padahal kemarin baru saja menjelek-jelekkan Wolka-kun."

"Uhuk, uhuk, uhuk!" Pria itu terbatuk karena merasa canggung.

"H-hentikan pembicaraan itu! Aku sudah bilang aku menyesal, 'kan……"

"Tentu saja harus menyesal. Fitnah keji seperti itu bisa terkena penalti, lho."

Setelah duel yang dimulai oleh Ramzey berakhir, Shannon benar-benar menyeret pria ini ke ruang terpisah. Ia menceramahi pria itu habis-habisan sampai matahari terbenam.

Wajar saja jika pria itu langsung berjengit saat melihat wajah Shannon. Mungkin memori pahit itu langsung terbayang di kepalanya.

Shannon mengajukan beberapa pertanyaan singkat dan memproses administrasi penugasan dengan gerakan tangan yang lihai. Keheningan sempat menyelimuti mereka berdua sejenak.

Meskipun begitu, suasana di depan papan pengumuman tetap bising. Para petualang masih berebut tugas sampai ada yang berteriak, "Kalau begitu, ayo kita duel saja!"

Tanpa basa-basi atau kalimat pembuka, pria itu tiba-tiba bergumam.

"……Sejujurnya, awalnya aku tidak mengerti kenapa dia sampai harus berduel dengan Ramzey."

Shannon mengangkat wajahnya perlahan. Pria itu menyandarkan sikunya di meja resepsionis sambil menatap kerumunan petualang dengan pandangan jauh.

"Memang benar aku tidak menyukai si Wolka itu. Teknik mencabut pedangnya terasa mencurigakan, dan yang paling penting, dia laki-laki sendirian di tim yang berisi tiga gadis cantik! Itu curang sekali……!"

"Jadi akhirnya ujung-ujungnya cuma masalah itu?"

"Memangnya ada alasan lain lagi!"

Shannon merasa lelah dari lubuk hatinya yang terdalam. Yah, profesi petualang memang didominasi laki-laki, jadi wajar jika industri ini dianggap sulit untuk urusan asmara.

"Sekadar info saja, kamu sudah terlambat lima belas tahun. Itu sudah masuk kategori kriminal, tahu."

"Sialaaan!"

Pria itu mengepalkan tinjunya dengan kesal, namun raut wajahnya segera melunak dan ia mengembuskan napas panjang.

"Yah, aku memang sempat berpikiran begitu. Tapi—setelah melihat pertarungan itu, aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi."

Duel antara Wolka dan Ramzey menjadi buah bibir yang menyebar ke seantero perserikatan hanya dalam semalam. Mungkin kabar ini juga sudah mulai sampai ke telinga para ksatria.

Bagaimana tidak, seorang pendekar pedang muda yang kehilangan satu mata dan satu kaki, berhasil menang telak hanya dengan ilmu pedang melawan seorang veteran yang kekuatannya setara peringkat A. Belum lagi kejutan di akhir saat dia menebas sihir.

Shannon dan pria itu adalah bagian dari kerumunan yang menyaksikan momen tersebut dengan mata kepala sendiri.

"Aku kurang mengerti hal-hal seperti itu, tapi…… sihir itu biasanya tidak bisa ditebas dengan pedang, kan?"

"Tergantung jenis sihirnya, tapi sebagian besar memang tidak bisa. Kalau kamu tiba-tiba diberi pedang lalu disuruh menebas api atau air, apa kamu bisa?"

Tentu saja tidak mungkin. Bukan karena Shannon seorang amatir dalam pedang, tapi secara logika hal itu memang mustahil dilakukan.

"Kalau soal menebas sihir, aku pernah melihat orang melakukannya, dan kalau aku meniru gerakannya mungkin aku bisa sedikit melakukannya. Tapi secara teknis, itu namanya 'menyelimuti senjata dengan sihir untuk menebas sihir'. Sihir hanya bisa diintervensi oleh sihir."

Namun, apa yang dilakukan Wolka saat itu berbeda.

"Si brengsek itu melakukannya hanya dengan sebilah pedang tanpa sihir sedikit pun. Yang dia gunakan hanyalah Strength, itu pun kalau penglihatanku tidak salah."

Itulah alasan mengapa para petualang, baik yang muda maupun veteran, terus membicarakannya dengan penuh kekaguman.

"Sekarang aku baru sadar. Ternyata dia itu orang bodoh yang benar-benar mempertaruhkan seluruh hidupnya hanya untuk mengayunkan pedang."

Kata 'orang bodoh' yang diucapkan pria itu sama sekali tidak mengandung nada hinaan. Sebaliknya, itu terdengar seperti pengakuan.

"Aku jadi berpikir, apakah dalam hidupku ini pernah ada satu hal saja yang benar-benar aku geluti dengan sungguh-sungguh seperti itu……"

Kalimat itu terdengar seperti seseorang yang baru saja melihat cahaya yang terlalu terang hingga harus menyipitkan mata.

"……Aku hanya merasa terpacu, meskipun usiaku sudah tidak muda lagi."

"……"

"Orang-orang yang berkumpul di sana pun pasti merasakan hal yang sama, kan? Laki-laki yang menjadi petualang itu, siapa pun mereka, pasti pernah memimpikan 'kekuatan' setidaknya sekali dalam hidup. Tentu saja mereka akan terpengaruh."

Perebutan tugas di sana akhirnya diselesaikan dengan suit. Terlihat kontras antara petualang yang mengangkat tinju kegirangan dan petualang yang jatuh terduduk karena kalah.

Namun pria yang kalah itu segera bangkit dan kembali menyerbu papan pengumuman untuk mencari tugas lain. Rekan kerja Shannon berteriak sekuat tenaga, "Tugasnya tidak akan lari, jadi tolong tenang sedikit!"

Kemampuan Wolka yang menundukkan segalanya dalam pertarungan jujur telah menarik mentalitas para petualang ke level yang lebih tinggi.

"……Laki-laki itu sederhana sekali ya."

Shannon tersenyum tipis.

"Tapi, aku merasa hal seperti itu cukup bagus."

"Oh, jangan-jangan kamu mulai menyadari pesonaku? Bagaimana kalau setelah tugas ini selesai kita makan ma—"

"Iya, iya, cepat sana pergi dasar paman mesum."

"Sialan! Kalau saja aku masih muda!" Pria itu berteriak sambil berlari pergi. Shannon melambaikan tangannya santai, lalu menopang dagu sambil merenung dalam-dalam.

"Rasanya semuanya berakhir dengan damai ya."

Saat pertama kali mendengar Wolka ditantang duel, Shannon merasa sangat khawatir dan tidak tenang.

"Benar juga ya."

Senior yang duduk di meja resepsionis sebelah menyetujui, lalu menurunkan alisnya dengan ekspresi yang sedikit pahit.

"Tapi, aku tidak menyangka Ramzey-san akan berhenti."

"……Benar juga."

Shannon menyahut singkat. Tepat saat perserikatan baru saja dibuka tadi pagi—Ramzey mengembalikan jimat Sword & Wand yang merupakan bukti identitas petualang. Dengan kata lain, dia berhenti dari profesinya.

Dia hanya berkata, "Sudah waktunya."

Meski selama ini dia adalah petualang yang sulit diatur, kepergiannya yang mendadak meninggalkan sedikit rasa hampa.

"Padahal kemampuannya hanya bertarung, kalau berhenti jadi petualang dia mau cari uang dari mana ya. Tabungannya pasti sedikit."

"……Yah, dia pasti bisa bertahan entah bagaimana caranya."

Shannon sebenarnya tidak terlalu khawatir. Meski ada sedikit rasa gengsi karena Ramzey pernah menjelekkan Wolka-kun, ada alasan yang lebih besar di balik itu.

"Wajahnya tadi terlihat seperti beban beratnya sudah hilang. Mungkin ini yang namanya memulai hidup baru."

Senior itu berpikir sejenak, lalu terkekeh pelan.

"……Benar juga. Dia pasti bisa mengatasinya, dia bukan anak kecil lagi."

"Benar sekali."

Bahkan jika hanya menjual barang jarahan dari monster untuk ditukar uang, itu bisa dilakukan tanpa menjadi petualang resmi. Jika tidak ada masalah besar, dia tidak akan sampai menggelandang di jalanan.

Mungkin saat ini dia sedang santai mengayunkan alat pancing di pelabuhan.

"Permisi, aku mau ambil penugasan ini!"

"Iya, sebentar!"

Perserikatan petualang yang telah kembali hidup, dan wajah Ramzey yang tampak lega.

Mungkin yang ditebas oleh Wolka saat itu bukan hanya sihir semata—Shannon tiba-tiba memikirkan hal itu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close