NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenmetsu END wo Shinimonogurui de Kaihishita ~ Party ga Yanda Volume 3 Bonus Story

Bonus Chapter

Kisah Yuritia yang Tak Bisa Tidur karena Hatinya Terbakar oleh Kilatan Perak yang Menyambar


"──Ngh, nnn……"

Malam hari. Di salah satu kamar penginapan Le Bouquet, kasur yang seharusnya sudah tenang karena penghuninya terlelap, tampak bergerak-gerak gelisah.

Gerakan itu terlalu aktif untuk sekadar gerakan refleks saat tidur. Jelas terlihat bahwa sang pemilik kamar bukannya sedang terlelap, melainkan sedang terjaga dan melakukan sesuatu di tengah malam yang sunyi.

"Ngh…… hah, ahh──"

Bahkan, terdengar helaan napas yang memburu seolah sedang menahan panas yang menyesakkan.

Suhu ruangan seharusnya tidak tinggi, namun entah mengapa, bagi sang pemilik kamar, suasana terasa begitu panas hingga ia tak tahan lagi.

Suara itu terdengar lagi.

"Ah……, ngh…………"

Ini adalah kamar Yuritia.

Dan karena ini kamar Yuritia, tentu saja sosok yang bergerak gelisah di atas ranjang itu adalah Yuritia sendiri.

Ia menghadap ke kanan, meringkuk, dan terus bergerak-gerak kecil. Sepertinya ia tidak sedang mengalami mimpi buruk.

Napasnya yang terasa sesak terdengar sangat emosional. Sesekali kelopak matanya terangkat sedikit, memperlihatkan sepasang mata merah muda yang tampak basah dan berkaca-kaca.

"Senpai…………"

Mendengar ia memanggil nama Wolka dengan nada pedih, tampaknya penyebab Yuritia menjadi aneh begini adalah pria itu.

Kini ia berbalik ke kiri, kembali bergerak-gerak gelisah dengan gerakan yang mencurigakan.

"Fuah──"

Tak lama kemudian, Yuritia telentang dengan gerakan lambat.

Gerakan gelisahnya terhenti. Ia mengembuskan napas panjang seolah seluruh tenaganya terkuras, menatap langit-langit malam dengan mata yang sayu karena panas, lalu meletakkan punggung tangannya di dahi yang berkeringat sambil bergumam.

"……Haa. Uhh, aku benar-benar tidak bisa tidur……"

──Tentu saja, dia benar-benar hanya merasa gelisah dan tidak bisa tidur.

Menyerah untuk memejamkan mata, Yuritia bangkit perlahan dan membuang panas yang mengendap di dalam tubuhnya melalui helaan napas dalam sekali lagi.

Ia memegang dadanya, lalu bergumam lagi.

"Ini semua salah Senpai, ih……"

Malam itu, setelah duel antara Wolka dan Ramzey berakhir.

Kilat perak yang menghancurkan sihir Ramzey secara telak──cahaya itu telah membakar hatinya hingga ia tak tahu harus berbuat apa.

Itulah yang membuat Yuritia berada dalam kondisi gawat seperti ini.

"Ini semua…… salah Senpai……"

Meski sudah berjuang keras untuk tidur, jantungnya terus berdegup kencang dan seluruh tubuhnya terasa panas. Mustahil baginya untuk bisa diam saja.

Yuritia menyerah untuk memaksa dirinya tidur. Ia keluar dari kamar dan menuju lantai satu penginapan.

Di ruang santai khusus tamu, ia mengambil segelas air, duduk di kursi terdekat, dan mencoba mengatur napas di bawah cahaya lembut lampu batu ajaib.

"Haa…… hebat sekali ya──"

Kalimat itu terucap dengan nada penuh kekaguman, seolah jiwanya sedang melayang dalam euforia yang mendalam.

Sosok itu benar-benar terukir hingga ke sumsum otaknya dan tak mau lepas──sosok pendekar pedang yang paling ia hormati di dunia, yang mampu membuka takdir apa pun hanya dengan satu tebasan kilat.

Setiap kali ia memejamkan mata, seolah-olah seluruh pandangannya kembali memutih oleh cahaya itu.

──Menebas bukan sekadar mengayunkan pedang, tapi mengubah masa depan yang dibayangkan menjadi kenyataan.

Sekarang ia paham sepenuhnya apa maksud dari kata-kata misterius yang pernah diucapkan Wolka dulu.

Tak peduli itu Grim Reaper abadi yang kuat, musuh yang berada di luar jangkauan, penjahat yang menggunakan sandera sebagai tameng, ataupun formula sihir yang seharusnya tidak bisa disentuh secara fisik.

Wolka menundukkan semua rintangan yang menghadang dan memastikan hanya "masa depan hasil tebasannya" yang menjadi kenyataan──.

Itulah puncak ilmu pedang yang telah ia capai.

Pedang kemurnian mutlak yang hanya diizinkan untuk diayunkan oleh dia yang telah melampaui takdir kematian.

Kalau sudah begitu…… kalau sudah begitu, mana mungkin hatinya tidak terbakar oleh perasaan ini?

"Benar-benar…… benar-benar hebat sekali……!"

Padahal ia sengaja turun ke lantai satu untuk menenangkan diri, namun emosi Yuritia justru semakin kuat dari waktu ke waktu hingga tak terkendali.

Suaranya gemetar saat berbisik, dan air mata mulai menggenang di sudut matanya hingga pandangannya kabur.

Wolka pasti mengira Yuritia dan yang lain tidak mendengar kata-katanya.

Kata-kata jujur yang ia lontarkan kepada Ramzey di tengah duel, hal yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun sebelumnya.

Bahwa ia hanya memiliki pedang.

Bahwa dirinya yang sekarang sedang bergantung pada pedang.

Bahwa tanpa pedang, ia tidak tahu bagaimana cara untuk terus hidup.

Namun di dunia tanpa Dewa ini, jika ia tidak menggerakkan kakinya sendiri, ia tidak akan bisa melindungi siapa pun.

Kata-katanya memang tidak banyak. Namun, kenangan sedih macam apa yang Wolka ingat dan perasaan apa yang ia pendam saat mengucapkan kata-kata itu──pasti ada ingatan menyakitkan di sana yang tak mampu dibayangkan oleh Yuritia.

Seseorang yang telah menempuh masa lalu yang tak bisa diceritakan pada siapa pun.

Di balik sikapnya yang selalu terlihat baik-baik saja, sebenarnya ia menderita karena beratnya kehilangan yang ia alami.

Di balik senyumannya yang berkata "Aku tidak apa-apa", sebenarnya ia terluka hingga tak bisa lagi memercayai dunia maupun Dewa.

Dan justru karena itulah, sosok Wolka yang terus melangkah maju tak peduli betapa sakitnya itu, membuat hati Yuritia dan yang lainnya terus terbakar tanpa henti.

"Ini karena kami…… padahal ini semua salah kami……!"

Padahal Yuritia dan rekan-rekannyalah yang telah menjerumuskan Wolka ke dalam penderitaan yang tak terukur, namun pria itu tetap berharap agar mereka semua bisa bahagia.

Untuk itulah ia terus membuktikan keyakinannya melalui tindakan.

Jika ia memutuskan untuk melindungi rekannya, bahkan Grim Reaper pun akan ia tumbangkan.

Jika ia memutuskan untuk menyelamatkan gadis yang menangis, sihir roh pun akan ia hancurkan.

Dan jika ia memutuskan untuk menunjukkan jati diri pedangnya──ia akan melampaui hukum alam dunia seperti itu.

Melihat cara hidup pria itu terukir berkali-kali di pelupuk matanya, Yuritia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara mengendalikan perasaannya sendiri.

Dan semakin terang cahaya yang dipancarkan sosok Wolka, di sisi lain, hal itu justru menjatuhkan bayangan yang gelap dan berat di sudut hati Yuritia.

"Senpai sudah berjuang sekeras itu…… tapi aku, aku tidak bisa melakukan apa pun untuk Senpai……!"

Dibandingkan dengan Wolka, bagaimana dengan dirinya sendiri?

Apakah ia sudah membuktikan dengan tindakan—bukan sekadar kata-kata—atas keinginannya untuk membalas budi dan menjadi sosok yang bisa menopang Wolka dari samping?

Apakah ia adalah wanita yang pantas berdiri di sisi Wolka, pendekar pedang yang ia cintai dan hormati dari lubuk hatinya?

"Maafkan aku, Senpai……! Aku, aku ini……"

Wolka tidak akan pernah berhenti.

Meski dengan tubuh yang kehilangan satu mata dan satu kaki, ia terus melangkah menuju tingkatan yang lebih jauh demi membuktikan keyakinannya.

Jika terus begini, boro-boro berdiri di sampingnya, suatu saat nanti ia benar-benar akan ditinggalkan.

Ia akan menjadi keberadaan yang tak bernilai dan tidak berguna bagi Wolka, sosok yang ada atau tidaknya pun tidak akan membawa perubahan.

Bagi Yuritia, hal itu sama saja dengan kematian.

Setelah merampas mata dan kaki Wolka, jika ia bahkan tidak bisa memberikan penebusan apa pun, maka hidupnya sudah tidak ada artinya lagi.

"Aku ingin terus, terus bersama Senpai……! Aku akan jadi anak baik dan berjuang lebih keras lagi, jadi……!!"

Perasaan ingin hidup demi Wolka, dan perasaan ragu akan eksistensi dirinya sendiri karena hal itu.

Terombang-ambing oleh dua emosi yang bertolak belakang, hati Yuritia jatuh semakin dalam ke wilayah yang tak bisa kembali lagi.

Bersama dengan perasaan yang teramat sangat berat, yang jika Wolka mengetahuinya, mungkin pria itu akan langsung pingsan dengan mata mendelik.

"Jangan buang aku…… Senpai……!!"

──Malam itu, bukan hanya Yuritia yang tidak bisa tidur.

Tak perlu dikatakan lagi soal Lizel dan Atri.

Bahkan Anze, yang mengetahui seluruh jalannya duel dari rekaman sihir proyeksi, juga merasakan luapan perasaan yang sama.

Lizel memeluk lengan Wolka yang tidur di sampingnya sekuat tenaga, Atri berkali-kali merasa hatinya terbakar melihat sosok ksatria yang ia puja, dan Anze mempersembahkan doa yang tulus diiringi tetesan air mata.

Wolka sendiri yang mengakui bahwa ia hanya memiliki pedang.

Dan karena itulah, kilat perak yang meneriakkan keberadaannya──cahaya pedang kemurnian mutlak itu, menjadi cahaya luar biasa yang terukir jauh ke dalam jiwa para gadis itu.

Semakin Wolka berusaha membuktikan keyakinannya, semakin hati para gadis itu terbakar dan membuat perasaan mereka menjadi semakin berat dan rumit.

Perasaan gila yang meluap-luap dan tak bisa berhenti, akal sehat yang berusaha mati-matian agar tidak tertelan, mental mereka terkoyak di antara kedua celah itu dan mempercepat langkah mereka menuju rute kegelapan yang semakin parah.

──Aku hanya bisa memikirkan pria ini.

──Aku ingin membalas perasaan pria ini dengan seluruh keberadaanku.

──Jika aku tidak hidup demi pria ini, maka aku tidak memiliki nilai untuk ada di dunia.

──Asalkan bisa terus bersama pria ini, aku tidak butuh hal lain.

──Jika ada masa depan di mana pria ini tidak terselamatkan, maka lebih baik dunia ini hancur saja.

Namun, Wolka sendiri tampaknya berpikir bahwa ia sedang melangkah perlahan menuju Happy Ending.

Andai saja seorang ksatria sahabatnya mengetahui ketidakselarasan yang fatal ini, dia pasti akan menggelengkan kepala dan berkata:

"Cepatlah ambil tanggung jawab, kawan."




Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Sieri-san yang Malang dan Ceroboh

Bokong itu sedang menggeliat.

Mungkin terdengar tiba-tiba, tapi itulah pemandangan yang tertangkap oleh penglihatanku, jadi apa boleh buat.

Mari kita luruskan situasinya. Saat itu tengah hari di hari libur yang sedang kunikmati bersama Master, tepatnya di pinggir jalan yang menghadap ke sisi barat Katedral Agung.

Saat sedang berjalan bersama Master menuju toko berikutnya, di balik pagar besi tempa—tepatnya di taman dalam Katedral—ada seorang sosok mencurigakan yang memasukkan kepalanya ke dalam semak belukar sambil menggeliatkan bokongnya.

"Ehehe, jangan takut ya—jangan takut. Lihat ini, roti simpanan rahasia punyaku. Khusus buat kamu, aku kasih sedikit ya. Sini, sini—"

""…………""

Aku dan Master mendadak memasang wajah datar dan menghentikan langkah.

Jika ini adalah orang asing yang sama sekali tidak kukenal, mungkin aku bisa lewat begitu saja sambil berpikir ada orang aneh. Masalahnya, aku kenal dengan sosok mencurigakan yang bokongnya sedang menggeliat itu.

Lebih tepatnya, aku sangat mengenal gadis yang berdiri di samping bokong tersebut.

"Duh, Kakak, sampai kapan mau begitu terus…… Lebih cepat kalau kita panggil orang saja, tahu."

Dia adalah Luellie, yang saat ini sedang dalam masa percobaan di Katedral.

Dan Luellie baru saja memanggil bokong yang menggeliat itu dengan sebutan "Kakak". Maka, fakta ini mengonfirmasi identitas asli dari pemilik bokong tersebut adalah—

"Tunggu sebentar, sebentar lagi kok. Sekarang suasananya lagi enak banget…… Tuh kan, ja-ngan ta-kut yaaa—"

Sieri.

Master terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya bergidik ngeri.

"S-sosok mencurigakan……"

"Eh? ……Ah."

Luellie menoleh dan mata kami bertemu. Seketika wajah Luellie pucat pasi.

"Ka-Kakak! Ada Wolka-san, ada Wolka-san dan yang lain di sana! Mereka melihatmu dengan tatapan seolah melihat orang mencurigakan, tahu!?"

"……Eh!? Wo-wo-wo-Wolka-san!? Ah, tunggu, tunggu! Ini salah paham! Posisi ini tuh, anu, itu! Ini punya alasan yang sangat penting, rumit, kompleks, dan mendalaaaaam—"

"FUSHAAAAAAAAA!!"

"FUGYAAAAAAAAA!?"

Tiba-tiba terdengar pekikan binatang kecil dari dalam semak, suara cakaran yang sangat keras, dan bokong Sieri yang gemetaran kejang bersamaan dengan jeritan mautnya.

Tak lama kemudian, seekor kucing melompat keluar dari semak dan lari terbirit-birit menuju semak lainnya. ……Sepertinya kucing itulah alasan mengapa Sieri memasukkan kepalanya ke sana.

Terlepas dari itu,

"Ka-Kakak, sadarlah! Ayo, pokoknya cepat keluar—eh, m-mati."

Ah, sungguh malang nasib bokong Sieri yang kini terkulai lemas tak berdaya di dalam semak.

Padahal baru beberapa hari yang lalu dia bangun dan langsung meninggalkan kesan kuat "Oh, ternyata dia orang yang seperti ini ya……" pada kami.

Aku benar-benar yakin dengan perasaan lega. Sieri…… tak peduli bagaimana pun aku memikirkannya, kamu itu tipe "Si Cantik yang Mengecewakan", ya?

"──Hah!? Wa-wa-wa-tunggu sebentar, Wolka-san!! Salah paham, ini salah paham! Aku bukan orang mencurigakan!?"

Sieri yang bangkit kembali menarik bagian atas tubuhnya keluar dari semak.

Rambutnya yang baru saja kembali berkilau kini mencuat ke mana-mana, dan wajahnya penuh dengan luka cakaran.

Sambil mencengkeram pagar dengan kedua tangan layaknya tahanan yang memohon pembebasan, ia berseru.

"Kucing! Wolka-san juga lihat, kan!? Itu kucing! Ini semua gara-gara dia!"

"Anu…… karena Kakak sudah benar-benar sehat, suster bilang tidak apa-apa kalau mau jalan-jalan sedikit di taman. Terus pas lagi jalan santai, ada kucing itu……. Kakak bersikeras bilang kucing itu pasti tersesat dan dia harus menolongnya."

Luellie memberikan penjelasan tambahan yang mudah dimengerti.

Yah, di Katedral yang juga berfungsi sebagai fasilitas medis, rasanya tidak mungkin ada kucing yang dilepasliarkan, jadi dia tidak salah soal kucing itu tersesat. Master menyahut dengan nada heran.

"Padahal lebih baik serahkan saja pada ksatria penjaga……. Dan juga, pastikan kamu diobati oleh suster ya. Bisa-bisa kamu kena penyakit nanti."

Ah, apa namanya ya, 'Penyakit Cakaran Kucing'? Rasanya aku pernah mendengar nama itu di kehidupanku yang dulu.

Sieri bergumam "ugugu" dengan wajah yang antara kesal dan malu.

"A-anu, aslinya tidak begini lho? Biasanya aku ini tidak begini…… a-aku ini orangnya jauh lebih becus! Ini cuma karena kondisiku belum pulih seratus persen saja!"

Sejujurnya itu sama sekali tidak meyakinkan, apalagi Luellie di sampingnya hanya menatap dengan mata setengah tertutup seolah berkata "Biasanya juga begini, kan".

Tapi demi kehormatan Sieri, mari kita pura-pura percaya saja.

Tiba-tiba, terdengar suara mengeong dari semak di sana. Kucing tadi keluar dengan santai dan mulai menjilati bulunya dengan gaya yang sangat angkuh.

Sieri tampaknya menganggap itu sebagai provokasi.

"Cih, padahal aku sudah baik karena menganggapmu imut, tapi beraninya kamu bersikap kurang ajar begitu……! Aku tidak akan memberimu roti simpanan rahasiaku lagi!"

Lagipula, apa sih roti simpanan rahasia itu?

"Wolka-san, lihat saja! Sieri akan membuktikan bahwa dia bisa membersihkan nama baiknya!"

Sambil berkata begitu, Sieri mengepalkan kedua tangannya dan menerjang kucing itu dengan teriakan semangat yang berapi-api.

Namun di tengah jalan, dia tiba-tiba berhenti.

"Eh, 'membersihkan nama baik' itu benar tidak ya? Apa jangan-jangan, 'memulihkan kehormatan'……!?"

Dua-duanya benar, jadi cepatlah pergi sana.

Sambil melihat satu orang dan satu ekor binatang yang mulai masuk ke posisi siap tempur itu, Luellie mengembuskan napas panjang penuh keputusasaan.

"Haa…… Wolka-san, Lizel-san, maafkan kami. Kakakku yang berisik ini benar-benar memalukan……"

Aku jadi paham kenapa Luellie tumbuh menjadi orang yang sangat becus.

Jika kakaknya sehari-hari seperti itu, adiknya memang harus jadi lebih waras. Dia pasti sudah banyak menderita sejak dulu.

"Jangan dipikirkan. Aku justru senang dia sudah terlihat sangat sehat."

Lagi pula, aku tidak merasa terganggu meski diperlihatkan sosok yang memalukan seperti itu. Bagiku, apa salahnya jika seorang gadis penuh dengan semangat?

Itu jutaan kali lebih baik daripada melihatnya bersedih atau menderita.

"Kalau itu sih benar, tapi menurutku semangatnya ini sudah kelewatan……. Aku sudah sering sekali dibilang kalau sepertinya urutan lahir kami itu tertukar."

"Yah, sepertinya kamu memang sudah banyak berjuang ya."

"Ahaha…… tapi yah, aku sudah terbiasa."

Lagipula, kamu sangat menyayangi kakakmu itu justru karena dia merepotkan begitu, kan?

Dari tadi kamu berpura-pura heran, padahal di dalam hati terlihat jelas kalau kamu sangat senang melihat Sieri sudah ceria kembali. Hubungan kakak-beradik yang sangat manis.

"GYOAAAAAAAHHHH!"

Tiba-tiba terdengar jeritan maut Sieri dari arah semak-semak.

Saat aku melihat ke sana, ternyata dia terlalu bersemangat mengejar si kucing sampai-sampai terjungkal masuk ke dalam semak lagi dengan bokong menungging. Mantan petualang peringkat C, kalah oleh kucing.

"Duh, makanya aku bilang lebih baik panggil orang saja! Kakak bodoh—!"

"……"

Yah, begitulah. Suatu saat nanti ketika Sieri keluar dari rumah sakit dan mulai tinggal di Kota Suci, sepertinya hari-hari kami akan menjadi semakin ramai.

Memiliki teman seperti Sieri pasti akan membuat setiap hari terasa menyenangkan.

Di atas bokong Sieri yang sudah tidak menggeliat lagi, si kucing menguap lebar seolah sedang merayakan kemenangannya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close