NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenmetsu END wo Shinimonogurui de Kaihishita ~ Party ga Yanda Volume 3 Chapter 7

Chapter 7

Pantang Menyerah


"……Bagaimana kalau kita sudahi saja untuk hari ini?"

"Ugh……"

Senja telah tiba. Di sebuah padang rumput yang tenang di Distrik Houjou, tempat yang nyaris tak ada orang lewat, Yulithia sedang terengah-engah sambil menatap langit dengan seluruh tubuhnya yang lemas.

Atri menunggu sejenak, namun karena gadis itu tak kunjung bangun, dia pun mendekat, menumpukan kedua tangan di lutut, dan mengintip wajah Yulithia dari atas.

Dia bertanya.

"Kamu tidak apa-apa?"

"……Fa, fai (Ya)…………"

Di bawah bayangan kecil yang dibentuk tubuh Atri, Yulithia yang kelelahan setengah mati itu berusaha menjawab dengan senyum tipis.

Atri maklum jika Yulithia sampai tidak bisa berdiri. Meski mereka sempat makan siang dan istirahat sejenak, mereka sudah berlatih lebih dari enam jam sejak tiba di Distrik Houjou.

Yulithia masih sangat muda, tubuhnya belum terbentuk sempurna untuk mengikuti porsi latihan seberat itu.

Keringat kecil yang tampak cantik mengalir dari dahi Yulithia.

"A-Atri-san hebat ya, tidak berkeringat sedikit pun……"

Atri membusungkan dada dengan bangga.

"Karena aku terus berlatih."

"……Haa. Aku benar-benar masih jauh ya."

Mau bagaimana lagi. Ini murni masalah perbedaan waktu yang mereka habiskan untuk berlatih sampai hari ini.

Atri tiga tahun lebih tua dari Yulithia, jadi wajar saja jika dia memiliki stamina yang lebih besar.

Lagipula, Yulithia tidak bisa dibilang beruntung dalam perjalanannya sebagai pendekar pedang.

Sebelum bakatnya ditemukan, dia masih terlalu kecil, sehingga hari-harinya hanya diisi dengan latihan dasar yang lebih mirip bermain.

Setelah bakatnya terlihat, gara-gara kakak-kakaknya yang bodoh, dia justru harus menjauh dari pedang.

Dia baru bisa mengayunkan pedang sepuas hati setelah bergabung dengan Silver Grey.

Jika orang lain mendengar ini, mereka pasti akan terperangah tidak percaya──sebab baru sekitar dua tahun Yulithia mulai berlatih pedang secara serius.

Dan dalam dua tahun itu, dia mengejar punggung Atri dengan kecepatan yang luar biasa.

Atri benar-benar merasa itu hebat.

"Yulithia terus bertambah kuat. Hebat, hebat."

"Wa, wawawa……"

Atri duduk di samping Yulithia dan mengelus kepalanya dengan lembut. Wajah Yulithia memerah, dia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas sebelum berkata:

"E-etto, bolehkah aku istirahat sebentar lagi?"

"Hm."

Mereka berdua pun menikmati embusan angin sepoi-sepoi. Aroma rumput subur di Distrik Houjou bercampur dengan aroma laut samar dari Distrik Seitei.

Atri tiba-tiba bertanya-tanya apakah Wolka dan Lizel juga mencium aroma ini.

Dia berharap mereka berdua bisa menikmati hari ini dengan santai.

Napas Yulithia perlahan mulai teratur.

"……Atri-san."

"Hm?"

"Hari ini ada persidangan di Katedral, kan? Itu…… persidangan untuk party itu."

Ah, benar juga ya, Atri mengangguk kecil.

Berdasarkan informasi dari Anze, party yang bertanggung jawab atas Sertifikasi Penaklukan Dungeon Gouzel diduga melakukan kelalaian, sehingga persidangan diadakan di Katedral.

Dan jika kelalaian itu terbukti, Gereja Suci Christcrest akan menghukum mereka sesuai dengan beratnya dosa tersebut.

Yulithia tampak ragu memilih kata-kata.

"Atri-san, bagaimana menurutmu? Jika ternyata itu memang salah party itu……"

"Hm……"

Atri tidak terlalu pintar, jadi sejujurnya dia tidak terlalu paham soal 'kelalaian sertifikasi penaklukan'.

Tapi dia membayangkan, mungkin ini soal apakah mereka seharusnya bisa menemukan jebakan teleportasi yang tidak sengaja diaktifkan Yulithia itu lebih awal.

Tapi itu tidak penting.

Dia sudah menyesalinya berkali-kali sampai tak terhitung.

Entah itu fakta bahwa Lizel yang menerima permintaan itu, Yulithia yang terkena jebakan, atau ada kesalahan dalam sertifikasi.

Jika saja Atri sebagai Arsvarem bisa melindungi semuanya, masalahnya sudah selesai.

Dia menjawab.

"Aku tidak mengerti hal-hal sulit. Tapi, menyalahkan semuanya pada party itu lalu berpikir 'ternyata itu memang tak terhindarkan, aku tidak salah'──itu hal yang tidak boleh dilakukan."

Itu adalah tindakan terendah, memalingkan mata dari dosa yang telah diperbuat dan juga dari tekad Wolka yang bertarung mempertaruhkan segalanya.

Di mana pun tanggung jawab itu berada, fakta bahwa Atri telah menyebabkan Wolka terluka tidak akan berubah.

Seseorang tidak boleh menggunakan dosa orang lain sebagai alasan untuk memanjakan diri sendiri.

Memberikan segalanya demi satu-satunya prajurit yang dihormati Atri.

"Perasaanku tidak akan berubah. Tubuh dan jiwa ini, sampai mati nanti…… tidak, bahkan setelah mati pun, selamanya milik Wolka."

"……"

Yulithia menatap Atri dengan saksama sejenak, lalu senyum lembut tersungging di bibirnya.

"Aku juga sama. ……Kita tidak boleh memalingkan mata, kan."

Lalu, dia melanjutkan.

"Lagipula, jika party itu memang lalai…… yang paling menderita pasti Kak Wolka."

Gara-gara 'kelalaian' itu, nyawa rekan-rekannya terancam bahaya. Nyaris saja mereka semua terbunuh.

Syukurlah dia bisa bertindak tepat di saat kritis──pria bernama Wolka itu pasti berpikir seperti itu tanpa memedulikan lukanya sendiri.

Lalu dia akan terus menekan perasaannya demi rekan-rekannya, sembari bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di permukaan.

"Gereja akan menghukum party itu dalam persidangan hari ini. Aku rasa Kak Wolka juga tidak mengharapkan lebih dari itu. Jadi,"

Yulithia bangun, menatap Atri, dan tersenyum tenang.

"Kita harus menjadi lebih kuat agar bisa benar-benar membantu Kak Wolka. Meski hanya sedikit, dalam hal apa pun, sampai kapan pun──"

Hanya itulah alasan keberadaannya, pikirnya dengan perasaan yang begitu kuat hingga terpancar di manik mata merah mudanya.

"──Jika aku bahkan tidak bisa melakukan itu, hidupku tidak akan ada gunanya."

Atri tidak merasa itu aneh. Justru dia merasa senang karena Yulithia memiliki perasaan yang begitu kuat terhadap Wolka.

Atri tersenyum.

"Hm. ──Aku tidak akan pernah membiarkan Wolka sendirian."

"Iya. Mari kita semua terus, terus bersama Kak Wolka."

"Tentu saja."

Atri sudah bersumpah pada Dewa di dalam dirinya. Wolka ingin Atri bahagia.

Karena itu Atri akan berada di sisinya. Terus ada sebagai pedang bagi Wolka.

'Mati demi orang ini'──hanya itulah satu-satunya kehormatan dan kebahagiaan bagi Arsvarem.

"Ah, sudah waktunya kembali. ……Semoga Kak Wolka dan Kak Lizel menikmati hari ini, ya."

"Bagaimana kalau besok Yulithia yang pergi main dengan Wolka? Lalu lusa giliranku."

"Mu, mumumu……!"

Angin sepoi-sepoi kembali berembus.

Kali ini tercium aroma padang rumput, laut, dan entah kenapa, aroma bunga yang manis.

◆◇◆

Terakhir kali aku melihat jam, rasanya baru awal siang, tapi mungkin benar kata orang bahwa waktu yang berkesan berlalu sangat cepat. Tanpa sadar langit sudah mulai diwarnai warna senja yang terasa akrab.

Di Distrik Seitei, di mana bayangan-bayangan mulai memanjang dibanding siang tadi, jumlah orang yang pulang ke rumah setelah menyelesaikan hari ini mulai meningkat. Sudah waktunya kami kembali ke penginapan juga.

Berkat penjelajahan kami yang diisi dengan permainan, belanja, hingga wisata kuliner manis, aku rasa tujuanku untuk membuat Master bersenang-senang sudah tercapai sepenuhnya.

Jadi, alangkah baiknya jika hari ini berakhir dengan suasana yang menyenangkan tanpa cela, tapi…….

"Wo, Wolka, kamu tidak apa-apa……?"

"Iya, sepertinya aku memang terlalu banyak berjalan. Aduh……"

Di sebuah bangku di pinggir kanal yang masih agak jauh dari penginapan, aku terpaksa harus beristirahat sejenak.

Penyebabnya adalah kaki kiriku membengkak karena terlalu banyak berjalan.

Kaki palsu yang kugunakan sekarang pada dasarnya hanya sebuah benda yang dimasukkan lalu dikunci, jadi setiap kali melangkah, berat badan akan menekan pangkal kaki dan beban itu terakumulasi.

Meski material slime sudah digunakan untuk menguranginya, sepertinya beban itu tidak bisa terserap sepenuhnya jika dipakai berkeliling dari pagi sampai malam.

Sejak tadi aku sudah kesulitan berjalan dengan benar, dan beginilah kondisinya sekarang, terpaksa beristirahat di sini.

Gara-gara itu, Master yang duduk di sampingku tampak berkaca-kaca karena khawatir.

"Maaf ya, maaf, ini karena aku mengajakmu berkeliling……!"

Waduh gawat, Master mulai menyalahkan dirinya lagi……! Padahal tadi adalah hari libur yang menyenangkan, jangan sampai rusak di saat-saat terakhir begini, dong!

Aku segera menggelengkan kepala.

"Tidak, akulah yang mengajak Master berkeliling."

Aku tidak sedang berbasa-basi, itu fakta yang nyata.

Mulai dari main game, belanja, sampai kulineran manis, semuanya aku yang memutuskan demi membuat Master senang.

Singkat cerita, ini hanyalah cerita lucu tentang seseorang yang kelelahan gara-gara rencana yang dia buat sendiri.

"Aku hanya ingin Master bisa bersenang-senang, jadi aku tidak tahan untuk pergi ke sana kemari. Maafkan aku."

"Hiks……"

Saat aku menjawab dengan nada seringan mungkin, Master menjepit ujung lenganku dengan jarinya, seolah menahan suatu emosi yang kuat.

"Wolka, bodohhh……"

Aku rasa itu benar sekali. Seharusnya aku paham batas kemampuanku sendiri dalam berjalan. Maafkan muridmu yang payah ini…….

"Bisa jalan……?"

"Mungkin kalau disiram Potion akan mendingan. Lagipula tidak sampai berdarah──"

"Darah!? Ada darahnya!?"

"Tidak ada, kok!"

Master yang wajahnya pucat pasi langsung menerjang kaki kiriku. Tidak ada darah, kubilang! Malu tahu, ini tempat umum!

Namun sepertinya satu kata tadi membuat pengukur sifat protektif Master langsung penuh seketika.

"Potion saja tidak cukup!! Kamu harus diobati dengan benar……!!"

"Te-tenanglah dulu. Kamu terlalu panik……"

Tapi, apa yang dikatakannya ada benarnya.

Potion hanyalah pertolongan pertama saat dalam perjalanan atau situasi di mana perawatan spesialis tidak tersedia, kekuatannya tidak sebanding dengan sihir suci.

Di Distrik Seitei, Katedral berada tak jauh dari sini, jadi mungkin lebih baik mampir ke sana sebelum pulang.

Lagipula, jika aku pulang sambil menahan sakit seperti ini──.

'Kakak, hari ini tidak boleh memberi beban lagi pada kaki! Mulai sekarang, Kakak tidak perlu melakukan apa-apa lagi!'

'Iya, serahkan semuanya pada kami. ……Ah, kaki palsunya kami sita sampai besok, ya.'

……Mengingat hal itu bukan tidak mungkin terjadi, itu menyeramkan. Ya, lebih baik aku ikuti kata Master saja.

"Baiklah, kalau begitu aku akan mencoba berja──"

"Wolka jangan memaksakan diri!"

Namun sebelum aku bisa mengangkat pinggul, Master berdiri dengan ekspresi penuh tekad dan rasa tanggung jawab yang meluap-luap.

"Aku akan memanggil Suster ke sini! Wolka tunggu saja di sini!"

"Begitu ya……?"

Yah, kalau berjalan cepat, jaraknya pun dekat bagi Master…… sepertinya aku bisa menyerahkan hal itu padanya.

"Baiklah, aku tunggu di sini."

"Serahkan padaku!"

Master melesat pergi dengan kecepatan penuh. Di tengah jalan dia sempat menoleh sekali.

"Dengar ya!? Jangan pergi ke mana-mana dan tunggu di situ! Benar-benar, ja-ngan sampai menghilang, ya!?"

Setelah menekankan hal itu seolah memberi pesan kepada anaknya sendiri, dia berlari kecil menuju Katedral.

Aku duduk kembali di bangku sesuai perintahnya, menghela napas di bawah langit yang memerah.

Meski sudah berjalan dari pagi sampai malam, ternyata baru berjalan begini saja kondisinya sudah begini…… Ini artinya latihan yang baru-baru ini kumulai lagi mungkin akan merusak kaki jika dilakukan lebih berat dari sekarang.

Sungguh, saat-saat seperti ini membuatku menyadari betapa tidak nyamannya tubuhku sendiri.

Sial, aku ingin segera mendapatkan kaki palsu yang sudah di-upgrade…… Tapi apa ini masalah yang bisa selesai hanya dengan kaki palsu baru?

Meskipun kaki palsunya sanggup menahan beban teknik mencabut pedang, kalau hasilnya justru kakiku yang sakit, itu sama saja bohong.

Strength pun bukan sihir tanpa celah yang membuat tubuh tetap baik-baik saja meski dipaksa bekerja keras──.

Aku menggelengkan kepala. Sudah, sudah, memikirkan hal ini sekarang pun tidak ada gunanya.

Aku memandang pemandangan kota untuk berganti suasana. Malam sudah hampir tiba, namun kota ini bukannya tenang justru semakin ramai seolah merayakan penghujung hari.

Anak-anak yang berlarian pulang, kios-kios yang memulai obral menit-menit terakhir dan dikerumuni para ibu, restoran yang menggoda dengan aroma harum dan menarik para petualang, serta kerumunan orang yang tampak tidak tenang di depan sebuah kedai minuman.

"……Hm?"

Kerumunan orang. Di sebuah kedai yang letaknya serong tak jauh dari bangkuku, ada sekitar sepuluh sampai dua puluh orang yang tampak seperti penonton daripada pelanggan.

Jika aku menajamkan telinga, aku bisa mendengar teriakan kemarahan sampai ke sini.

"Hei Nyonya, apa-apaan ini! Beraninya kamu mengusir pelanggan!!"

"Berisik, dasar pemabuk sialan! Orang yang bikin repot toko bukan pelanggan namanya!!"

Sepertinya itu adalah adegan di mana seorang pemabuk baru saja diusir keluar.

Pemabuk yang merepotkan memang ada di mana-mana. Di dunia ini, sayangnya para petualang sering kali menonjol dalam hal seperti itu.

Berbeda dengan ksatria yang merupakan pegawai negeri, kami para petualang itu campuran antara permata dan batu──dari yang berkelakuan baik sampai buruk semuanya ada.

Dan karena pekerjaan yang selalu bertaruh nyawa di luar kota, banyak orang yang ingin membebaskan diri dari tekanan dengan menenggak alkohol di akhir hari.

Meski Kota Suci membanggakan keamanan terbaik di dunia, masalah yang dipicu alkohol tetap tidak bisa dihindari.

Meski begitu, kejadian pemabuk diusir seperti itu seharusnya adalah hal yang lumrah.

Reaksi kerumunan pun tampak biasa saja; ada yang menonton karena penasaran siapa pelakunya, ada juga yang pergi karena malas terseret masalah.

Tiba-tiba,

"Hei, kamu tahu tidak berapa banyak uang yang kuhabiskan di sini setiap hari!?"

"Hah! Pria payah yang cuma bisa minum miras murah jangan banyak tingkah! Perbaiki dulu kebiasaan mabukmu yang sampah itu sebelum berani datang lagi ke sini!!"

Teriakan amarah yang gagah dan suara pintu yang tertutup menggema seperti petir, menandakan kemenangan mutlak bagi sang Nyonya kedai. Sebagian kerumunan tertawa terbahak-bahak.

"Hei Ramzey, kamu melakukannya lagi ya!"

"Berisik!!"

Suara decakan lidah pria bernama Ramzey itu terdengar sampai ke sini.

"Cih…… aku kan cuma mau minta ditemani minum karena tadi ada wanita cantik di sana."

Itu sih murni pelecehan, tahu…….

Dia benar-benar tipe pria yang memalukan. Betapa baiknya Nyonya kedai itu karena hanya mengusirnya.

Jika dia berani melakukan tindakan kurang ajar yang sama di Le Bouquet, Rose pasti akan berkata, "Duh maaf ya tanganku terpeleset♪" dan memberikan serangan tangan kosong secepat kilat yang berujung K.O. seketika.

"Jangan melotot padaku!! Aku bukan tontonan, minggir!!"

Sepertinya pria itu benar-benar sedang marah besar.

Kerumunan orang segera membuka jalan dengan panik saat pria yang tampak sangat tidak senang itu berjalan ke arah sini.

Aku segera berpura-pura menjadi figuran tanpa nama, namun──.

"──Aa? ……Kamu, Wolka ya."

Salah orang, tahu.

Alangkah senangnya jika aku bisa dimaafkan hanya dengan berkata begitu.

Ramzey, si pemabuk yang merepotkan itu, langsung memasang wajah sangat masam begitu menyadari keberadaanku.

"Cih──"

Dia langsung berdecak. Lalu setelah berpikir sejenak, tiba-tiba dia menyeringai dengan wajah yang jahat.

"Oi, oi, oi, Wolka…… aku dengar rumornya, lho? Kekeke, ternyata mata kanan dan kaki kirimu benar-benar tamat ya. Aduh, kasihan sekali, padahal kamu petualang peringkat A yang punya masa depan cerah, tapi malah jadi begini!"

Sepertinya dia mengenalku, dan dia berjalan mendekat dengan langkah berat.

Aduh, merepotkan sekali…… sepertinya aku benar-benar jadi sasarannya.

Diundur dari kedai karena mabuk adalah perbuatan orang yang tidak berguna, dan penampilannya memang tidak jauh dari prasangka itu…… dia terlihat seperti pria yang hidupnya agak berantakan.

Dilihat dari pakaiannya, dia pasti rekan seprofesi. Umurnya sekitar pertengahan sampai akhir tiga puluhan, kurang lebih seumuran dengan Paman Fuji.

Dengan rambut pendek berwarna abu-abu kusam, tatapan mata yang tajam seperti pisau, dan bekas luka di pipinya, wajahnya terlihat sangat buruk hingga bisa saja salah dikira sebagai berandalan.

Jika dia memelototi anak kecil di sekitar sini, mereka pasti akan langsung menangis kencang dan memicu penjaga datang berlari.

Perlengkapan petualangnya pun tampak usang tanpa perawatan, menunjukkan bahwa dia menghabiskan uang hasil jerih payahnya untuk alkohol setiap hari.

Selama punya otot untuk mengalahkan monster dan menjual barang jarahan, tipe petualang seperti ini memang tidak jarang ditemukan.

Ramzey, yang terlihat seperti petualang berandalan itu, tiba-tiba bersikap sok akrab seolah teriakan amarahnya tadi hanyalah bohong.

"Sayang sekali ya Wolka, turut berduka cita…… Kekeke, aku juga ikut sedih, lho. Aku tidak bohong, kan?"

Terima kasih banyak atas kata-katanya yang sama sekali tidak tulus itu. Aku menahan rasa sakit di kaki kiriku dan berdiri.

"Begitu ya. Aku sedang ada urusan, jadi jangan ganggu aku."

"Tunggu dulu…… jangan lari, dong."

Aku mencoba pergi secepat mungkin, namun seperti dugaan, bahuku langsung dicengkeram. Menepisnya lalu lari…… dengan kaki begini sih mustahil.

"Kamu jadi bahan pembicaraan di Perserikatan, tahu? Katanya ada yang melihatmu berjalan pakai penutup mata dan kaki palsu."

"……Mungkin saja."

Aku menjawab tanpa terkejut. Sejak kembali ke Kota Suci sampai hari ini, meskipun aku tidak mendekati Perserikatan, aku sudah sering keluar rumah.

Mungkin ada petualang yang melihatku di kota, lalu bergosip dengan temannya di Perserikatan──begitulah rumor menyebar.

Sebenarnya itu sudah masuk dalam perkiraanku, jadi tidak masalah, tapi…….

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi melihatmu tidak berani menampakkan diri di Perserikatan, pasti alasannya memalukan, kan? Apa kamu jadi besar kepala karena setiap hari dikelilingi pelayan wanita? Peringkat A yang menjanjikan ternyata cuma jadi bahan tertawaan ya!"

Syukurlah Master tidak ada di sini……! Jika ada, Ramzey pasti sudah terpental oleh Vortex dan menjadi objek yang mengapung di kanal.

Meski begitu, apa yang harus kulakukan dalam situasi ini? Tidak mungkin dia membiarkanku pergi begitu saja, lari pun mustahil, aku harus membereskannya sebelum Master kembali, tapi──.

"Wanita-wanita rekanmu juga sepertinya tidak berguna ya. Peringkat A-mu itu ternyata cuma pajangan saja."

"Akan kubantai kau."

Orang ini, barusan menghina Master dan yang lainnya?

Bajingan, kamu…… sudah benar-benar melewati batas!

Menghinaku sendirian masih bisa kumaafkan, tapi kalau kamu mengarahkan mulut busukmu ke Master dan yang lainnya, urusannya beda!

Kamu benar-benar sudah menginjak ranjauku……!!

Sambil mengamuk di dalam hati, aku mati-matian menahan diri agar di permukaan hanya terlihat sedikit niat membunuh saat memelototinya.

Ramzey sempat terbelalak sejenak melihat sikapku yang tiba-tiba berubah jadi menantang, namun dia segera tertawa rendah lagi.

"Heh, kupikir kamu sudah hancur setelah kehilangan mata dan kaki…… ternyata masih punya nyali untuk menjawab ya."

"Begitu juga denganmu. Padahal tadi tidak berkutik di depan Nyonya kedai, tapi di depan orang yang sedang terluka, kamu jadi banyak tingkah ya."

Aku merasakan sudut bibirku sedikit melengkung.

Sejak bereinkarnasi ke dunia ini, aku sudah dilatih habis-habisan oleh Kakek Tua sampai nyaris mati.

Adu urat saraf dengan orang dewasa seperti ini bukan apa-apa bagiku.

Kata Kakek Tua, penghinaan terhadap rekan tidak boleh dimaafkan meski oleh sesama rekan sekalipun.

"Jadi, apa maumu? Karena terpaksa, aku akan menemani pemabuk kesepian sepertimu mengobrol."

"……Dasar amatir yang baru saja celaka karena kecerobohan, ternyata masih berani berlagak ya."

"Dengar ya, apa wajahku terlihat seperti itu? Menurutku wajahku terlihat seperti orang yang sedang direpotkan karena harus meladeni pemabuk menyebalkan."

Tanpa sadar kerumunan orang sudah berpindah mengelilingi kami, dan salah satu dari mereka berteriak mengejek Ramzey sambil tertawa.

"Benar, benar! Memalukan sekali bertingkah seperti itu di depan anak muda!"

"Berisik, diam kalian!!"

Ramzey membungkam mereka dengan tatapan yang seolah bisa membunuh.

"Aku ini, sudah lama tidak suka padamu…… Dikelilingi wanita dan meraih prestasi dengan begitu mulusnya, kamu pasti merasa hebat sekali ya. Tapi ya begitulah, paku yang menonjol pasti akan dipukul. Ini jadi pelajaran bagus, kan? Mulai sekarang, sadarilah posisimu dan hiduplah dengan merunduk."

"Diberitahu begitu oleh orang yang baru saja diusir dari kedai dan menanggung malu, rasanya benar-benar menusuk tulang ya."

Dia berdecak lidah.

"Berhentilah jadi petualang dan pendekar pedang. Dengan kondisi begitu, bagaimana kamu bisa bertarung? Bagaimana kamu bisa mengayunkan pedang? Jelas tidak mungkin, kan. Jangan memaksakan diri."

Heh…… dangkal sekali. Memang benar kalau berpetualang ke sana kemari seperti dulu akan sulit, tapi aku sama sekali tidak berniat membuang pedangku.

Karena teknik mencabut pedangku selangkah lagi menuju evolusi yang lebih tinggi. Jangan meremehkan darah 'gila pedang' yang mengalir di tubuhku.

"……Kamu, jangan bilang benar-benar berpikir bisa terus memegang pedang."

Aku menjawab seketika.

"Iya, aku berpikir begitu."

"──"

Saat itu aku menyadari ada emosi yang sedikit bergetar di dalam mata Ramzey. ──Guncangan?

Apa jawabanku yang instan itu begitu mengganggunya?

Dia tampak terdiam sejenak seolah kehilangan kata-kata dan menggertakkan gigi──.

"──Wolka!! Apa yang terjadi!? Wolkaaa!!"

Lalu berturut-turut, teriakan Master terdengar dari balik kerumunan. Eh, Master sudah kembali……!

Cepat sekali. Mungkin sebelum sampai di Katedral, dia kebetulan bertemu Suster yang baru pulang kerja di dekat sini.

Dengan tubuh kecilnya, Master menyelinap di antara kerumunan dan langsung menerjang lengan kananku tanpa menoleh ke arah lain.

Dan saat itu, Ramzey sudah kembali ke wajah jahatnya yang semula.

"Kekeke, sepertinya Sang Master tercinta sudah tiba."

Dari situasi sekitar, Master langsung tahu bahwa pria di depannya adalah biang kerok keributan ini.

Dengan kewaspadaan dan permusuhan yang kuat terpancar dari manik mata emasnya, dia berujar:

"Apa maumu, kau──"

"Wanita minggir saja. Jangan mengganggu…… kecuali kalau si pengecut ini memang harus dilindungi oleh wanita."

"──Tch!?"

Master bereaksi secara refleks untuk mulai menyusun formula sihir. Aku segera menghalangi Master dengan lenganku.

"Master, tenanglah."

"Wolka!! Orang seperti ini──"

"Tidak apa-apa. ──Ini urusanku."

Pilihan untuk menyelesaikan situasi ini secara damai sudah hilang dari kepalaku.

Aku sudah tahu ini akan terjadi. Tidak semua orang di dunia ini akan merasa kasihan dengan lukaku dan memberikan dukungan dengan tulus.

Ada orang yang menganggap petualang muda peringkat tinggi sebagai duri dalam daging.

Pasti akan ada orang yang berspekulasi tentang alasan lukaku dan menunjuk-nunjukku dengan sinis.

Ini hanyalah masalah yang suatu saat harus kuhadapi, yang kebetulan datang sendiri kepadaku.

Sikap menghindari masalah tidak akan menyelesaikan apa pun.

Sikap setengah-setengah justru akan membuat orang-orang seperti ini semakin melunjak dan memperparah rumor yang beredar seenaknya.

Jika itu terjadi, mungkin sasaran berikutnya bukan aku, melainkan Master dan yang lainnya.

Aku melangkah maju di depan Master, lalu membalas tatapan Ramzey secara frontal.

"Hah, sepertinya kamu benar-benar tidak sadar posisi ya……. Untuk apa terus mengayunkan pedang dengan tubuh seperti itu? Petualang itu menganut paham kekuatan…… karena kamu sudah lebih lemah dariku, diam saja dan dengarkan apa kataku."

Barusan orang ini mengucapkan kata-kata bijak yang harus diingat oleh semua petualang. ──'Petualang itu menganut paham kekuatan'.

Itu benar sekali. Selama punya kekuatan, anak muda seperti kami pun bisa naik ke peringkat A, dan sebaliknya, jika prestasi kurang, meski sudah bertahun-tahun jadi petualang tetap saja mentok di peringkat B atau C.

Apakah bisa sukses sebagai petualang, apakah bisa dipercaya oleh klien, apakah bisa mendapatkan tempat di Perserikatan, semuanya tergantung pada kekuatan sendiri.

"Kalau kamu mau, aku sendiri yang akan mengantarmu ke liang lahat…… kalau kamu punya nyali untuk menerimanya, ya! Tapi ya, dengan tubuh yang bahkan tidak bisa mengayunkan pedang dengan benar itu mustahil──"

"──Hei, Paman."

Aku memotong perkataannya.

Aku menempelkan ujung sarung pedangku ke leher Ramzey.

"──!?"

"Saran yang bagus."

Kepada Ramzey yang terpaku seribu bahasa, aku berujar dengan wajah sombong──setidaknya untuk saat ini.

"Apakah aku punya kualifikasi untuk terus mengayunkan pedang atau tidak…… bersediakah Paman memberiku 'bimbingan' satu jurus saja?"

Semuanya tergantung pada kekuatan sendiri.

Untuk membungkam senior menyebalkan di depanku ini pun, tidak ada jalan lain selain menggunakan kekuatan.

◆◇◆

──Sialan, si bodoh itu benar-benar tidak bisa menjaga mulutnya seperti biasa.

Mari memutar waktu mundur beberapa puluh detik. Di sudut kerumunan, seorang pria menghela napas sambil menutupi wajahnya.

Dia adalah teman Ramzey... tapi menyebut diri sendiri teman si bodoh itu rasanya agak menyebalkan karena seolah-olah mereka berada di level yang sama, jadi sebut saja dia kenalan.

Dia adalah petualang berambut merah yang merupakan kenalan Ramzey. Saat sedang berjalan santai mencari makan dan minum untuk malam ini, malangnya dia justru berpapasan dengan lokasi keributan ini.

Beberapa hari lalu saat berkumpul untuk minum-minum, dia menyadari ada yang aneh dengan sikap Ramzey saat mengetahui tentang luka Wolka.

Alih-alih terkejut atau menyayangkan kemalangan sang pemuda, si rambut merah ingat bahwa Ramzey justru tampak memendam kekesalan yang meluap-luap dari lubuk hatinya.

Dia sudah menduga ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Ramzey... tapi tidak menyangka situasinya akan jadi seperti ini hari ini.

(Sebenarnya ada apa, sih? Kenapa Ramzey sampai segitunya terhadap petualang yang jauh lebih muda darinya...?)

Sejujurnya, Ramzey termasuk kategori petualang yang cukup merepotkan.

Dia memang bukan orang jahat, tapi dengan tampang garang, kepribadian buruk, dan perilaku yang tidak sopan, dia benar-benar tipe orang yang hanya mengandalkan otot.

Gara-gara itu, meski menyandang peringkat B, dia tidak pernah dipercaya menerima permintaan yang melibatkan interaksi antarmanusia──dan dia sendiri pun tidak berniat mengambilnya──.

Hari-harinya hanya dihabiskan dengan berburu monster seadanya lalu menukar material jarahan dengan alkohol.

Namun tetap saja, dia seharusnya bukan tipe berandalan yang tega melontarkan fitnah keji kepada pemuda cacat yang jauh lebih muda darinya.

Entah benar atau tidak, bahkan ada kesaksian bahwa hingga sepuluh tahun yang lalu, dia adalah petualang serius meskipun mulutnya kasar.

Namun entah kenapa, terhadap pemuda bernama Wolka itu, sepertinya ada 'sesuatu' yang membuat Ramzey tidak bisa menahan emosinya.

Seorang petualang yang sempat tidak terlihat selama sebulan, lalu tiba-tiba kembali dalam keadaan kehilangan satu mata dan satu kaki.

Itu memang kisah yang tragis, tapi kenapa harus bersikap seperti itu──.

"Hah, kamu benar-benar tidak sadar posisi ya……. Untuk apa terus mengayunkan pedang dengan tubuh seperti itu? Petualang itu menganut paham kekuatan…… karena kamu sudah lebih lemah dariku, diam saja dan dengarkan apa kataku."

Suasana semakin memanas dan mencekam hingga ke titik didih, apalagi setelah gadis rekan Wolka kembali.

"Kalau kamu mau, aku sendiri yang akan mengantarmu ke liang lahat…… kalau kamu punya nyali untuk menerimanya, ya!"

(Aaaah, dasar si bodoh itu!)

Si rambut merah mengerang dalam diam. Rasanya sulit untuk terus berpura-pura tidak kenal dan hanya menonton.

Dia tidak tahu apa sebenarnya tujuan Ramzey, tapi sebagai kenalan, ini sudah terlalu memuakkan untuk dilihat dan didengar──karena sudah habis kesabaran, dia berniat melayangkan sebuah tendangan ke punggung si bodoh itu.

"Tapi ya, dengan tubuh yang bahkan tidak bisa mengayunkan pedang dengan benar itu mustahil──"

"──Hei, Paman."

Namun, sedetik sebelum si rambut merah yang sudah membulatkan tekad itu melompat maju.

──Sarung pedang Talwar telah menempel pelan di leher Ramzey.

"──Tch!?"

Bukan hanya si rambut merah, semua orang yang berkerumun di sana pasti terbelalak──sebab mereka sama sekali tidak bisa melihat prosesnya; kapan Wolka mencabut pedangnya, dan kapan dia melayangkannya hingga ke leher Ramzey.

Jika Wolka sudah memegang pedang sejak awal, itu masih masuk akal.

Namun, hingga sesaat tadi tangannya benar-benar kosong, dan terlebih lagi, pedangnya masih berada di pinggang kiri dalam kondisi Accessorize.

Artinya, dia membatalkan Accessorize pada pedangnya, menggenggamnya, lalu mengarahkannya ke leher Ramzey──dia menyelesaikan ketiga gerakan itu dalam sekejap mata.

"Saran yang bagus."

Meskipun semua orang melihatnya dengan mata kepala sendiri, otak mereka tidak bisa mengejar apa yang terjadi.

"Apakah aku punya kualifikasi untuk terus mengayunkan pedang atau tidak…… bersediakah Paman memberiku 'bimbingan' satu jurus saja?"

"Apa──"

Ramzey yang akhirnya sadar dari keterpakuannya segera mundur beberapa langkah dengan goyah.

Sambil memegangi leher yang baru saja ditodong, dia berujar dengan penuh kebencian.

"Cih…… itu cuma trik sulap. Bukankah kamu lebih cocok jadi pemain sirkus saja?"

Normalnya, mengaktifkan dan membatalkan Accessorize membutuhkan waktu rata-rata dua sampai tiga detik.

Tentu saja, waktu itu bisa dipersingkat dengan latihan, dan kudengar ada beberapa ahli yang bisa melakukannya dalam waktu kurang dari satu detik──.

Tapi jujur saja, bahkan dari sudut pandang sesama petualang, gerakan tadi benar-benar tidak masuk akal.

Jika bicara soal keajaiban yang melampaui kemampuan manusia biasa, itu memang pantas disebut sebagai atraksi sirkus.

"Oi, Wolka…… kamu pasti paham kan. Apa artinya mengayunkan pedang dengan mata dan kaki seperti itu."

Wolka menyampirkan ujung pedangnya di bahu.

"Orang yang suka mengayunkan pedang itu, tidak ada yang benar-benar waras."

"……Ah, benar juga. Kamu memang hanya punya pedang. Makanya kamu hanya bisa bergantung pada benda itu sampai mati……"

Ramzey tertawa dengan suara rendah yang menggetarkan kerongkongan.

Si rambut merah tidak tahu apa-apa tentang pemuda bernama Wolka selain fakta bahwa dia adalah petualang dari party peringkat A, Silver Grey.

Namun, jika pemuda itu adalah pejuang sejati yang telah mempersembahkan hampir seluruh hidupnya untuk pedang di usia semuda itu.

Jika dia tidak tahu cara hidup lain selain mengayunkan pedang, dan tidak bisa memilih jalan lain meskipun telah kehilangan satu mata dan satu kakinya.

Jika dia tetap harus terus melangkah meskipun tahu itu adalah jalan berduri.

"Kasihan sekali, sungguh──"

Aroma alkohol dalam suara Ramzey mendadak sirna.

Pria yang kini telah menghapus segala senyum dari wajahnya itu menatap dengan mata dingin yang kejam, seolah-olah dia adalah orang yang berbeda.

"──Datanglah ke tempat latihan Perserikatan besok siang. Akan kuantarkan kamu ke liang lahat…… untuk membuktikan bahwa kamu tidak mungkin lagi bisa mengayunkan pedang dengan tubuh seperti itu."

Kerumunan orang sedikit riuh. Tentu saja. Mencari gara-gara dengan orang yang terluka, memakai penutup mata dan kaki palsu, lalu puncaknya malah menantang berkelahi──ini sudah jauh melampaui batas kekanak-kanakan.

"Wo, Wolka!! Jangan, tidak boleh……!?"

Penyihir mungil di sampingnya memucat dan berusaha menghentikannya, namun Wolka hanya meletakkan tangannya dengan lembut di atas topi penyihir itu sambil tetap menatap tajam ke arah Ramzey.

"Bicaramu terlalu panjang. Bilang saja begitu dari awal."

"……Bagus. Jangan coba-kali lari, ya."

Ramzey berbalik pergi, dan kerumunan yang terkejut segera membuka jalan seolah ingin menjauh darinya.

Apakah dia harus mengejar Ramzey dan mendesaknya, atau meminta maaf kepada Wolka mewakili si bodoh itu──si rambut merah bimbang selama sepuluh detik penuh, hingga akhirnya mengacak-acak rambutnya sambil berteriak "Aaaaaah!" dan mengejar punggung si bodoh itu.

Setelah berbelok di tengah jalan dan sosok Wolka tidak lagi terlihat, dia baru memanggilnya untuk berhenti.

"Hei, Ramzey……!"

"Hah?"

Ramzey berbalik tanpa menyembunyikan wajah masamnya dan mendecak lidah.

"Ngapain kamu ada di sini?"

Tanpa menjawab, si rambut merah langsung bertanya pada intinya.

"Hei, ada apa denganmu dan si Wolka itu? Apa yang merasukimu, kenapa kamu sampai──"

"Berisik. ……Ini bukan urusanmu."

Tidak ada ruang untuk berdiskusi. Ramzey yang meludah itu kemudian pergi begitu saja tanpa melirik siapa pun, menghilang di tengah hiruk-pikuk Distrik Seitei yang mulai gelap oleh senja.

"Semuanya benar-benar membuatku kesal──dasar orang-orang bodoh──"

"……"

Dia tidak tahu apa alasannya.

Namun, dia merasa sesuatu telah terjadi. Punggung pria yang dulunya adalah petualang sejati itu tampak seperti bara yang terus membara, seolah-olah waktunya telah terhenti selama bertahun-tahun.

◆◇◆

Pada akhirnya, hari ini berakhir dengan perasaan yang sangat buruk.

Di jalan pulang yang temaram menuju Le Bouquet, Lizel berjalan lunglai sambil tangannya ditarik oleh Wolka.

Padahal saat berangkat dialah yang menarik tangan Wolka, namun perasaan ceria saat itu kini telah sirna entah ke mana.

Jika tidak sedang menggandeng tangan Wolka seperti ini, Lizel pasti sudah jatuh berlutut di tanah dan tidak bisa bergerak lagi.

Padahal ini adalah hari libur yang menyenangkan hanya berdua dengan Wolka, tanpa ada yang mengganggu.

Menghabiskan waktu sendirian dengan Wolka, jalan-jalan bersama, belanja, makan kue yang lezat, dan beristirahat sepuasnya──rasanya ingatan tentang hari yang luar biasa indah ini telah memudar menjadi abu-abu yang pahit.

"……Maaf ya, Master. Di saat-saat terakhir malah jadi begini."

Wolka berhenti dan menoleh ke arah Lizel.

Meskipun kaki kirinya yang sakit tadi sudah diobati dengan sihir suci, Wolka seolah-olah masih merasakan sisa rasa sakitnya.

"Kakiku sakit, lalu malah dihadang pemabuk seperti tadi, benar-benar tidak keren ya……"

"Ti, tidak, bukan begitu! Wolka tidak salah sama sekali……!"

Lizel langsung membantahnya seketika. Wolka mengalami sakit kaki karena dia berjalan sangat banyak demi Lizel, dan dihadang oleh orang kurang ajar itu pun terjadi hanya karena mereka sedang duduk beristirahat.

Wolka tidak salah apa pun.

Yang salah, yang membuat Wolka harus mengalami hal seperti ini adalah──.

"Maafkan aku, maafkan aku Wolka……! Seandainya saja Wolka tidak terluka seperti itu……!"

Semuanya adalah kesalahanku, bukan? Berniat membuat Wolka senang tapi malah membuatnya memaksakan diri, justru lengah di saat seharusnya menolongnya, tidak bisa berada di sisinya; semuanya, semuanya karena Lizel-lah yang telah merebut mata dan kaki Wolka.

Apa yang dikatakan pria itu kepada Wolka, Lizel yang datang terburu-buru hanya mendengar sebagian kecil saja.

Amatir yang celaka karena kecerobohan. Paku yang menonjol akan dipukul. Sadarilah posisimu. Berhentilah jadi petualang dan pendekar pedang, jelas tidak mungkin, jangan memaksakan diri──fakta bahwa Wolka harus menerima begitu banyak kata-kata kasar itu adalah kesalahan Lizel yang tidak bisa melakukan apa-apa saat itu.

Karena dia hanya bisa ketakutan, menangis, dan dilindungi saat nyawa orang terkasihnya terancam menghilang…… hingga sekarang pun, dia masih membuat Wolka mengalami hal yang sulit.

"Hi-hiks…… uuu, uwaaaa……!!"

Isak tangis pun pecah.

Dia benar-benar merasa telah mengacaukan seluruh hidup murid kesayangannya.

"Maafkan aku, maafkan aku, aku──aku──"

"Master."

Tapi tetap saja, apa pun yang terjadi, Wolka tidak akan pernah menyalahkan Lizel.

Begitu melihat air mata Lizel, wajah Wolka langsung berubah. Dia berlutut dengan satu kaki, lalu dengan lembut menyodorkan selembar sapu tangan.

"Master tidak perlu memikirkannya. Aku malah merasa ini adalah waktu yang tepat."

Suara Wolka tidak mengandung kemarahan atau penyesalan sedikit pun, justru terdengar seolah dia sudah membulatkan tekad.

"Tadi dia bilang, kan? 'Sudah jadi bahan pembicaraan di Perserikatan'."

"Hiks……"

"Mau bagaimana lagi, dengan luka ini pasti akan ada spekulasi yang aneh-aneh. ……Makanya, menurutku ini adalah kesempatan bagus untuk membungkam semua rumor itu."

Petualang menganut paham kekuatan. Entah itu anak kecil, wanita, atau orang cacat sekalipun, jika bisa menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya, maka terbukti bahwa tidak ada yang berhak memprotes.

Jika ada yang banyak bicara, tinggal kalahkan saja tanpa ampun. Lizel pun adalah salah satu orang yang sering membungkam orang-orang kurang ajar yang menganggapnya remeh karena masih kecil.

Tapi bagi Wolka, masalahnya tidak sesederhana itu.

"Wolka, apa kamu tidak takut……?"

Meskipun menyakitkan, kenyataannya adalah Wolka yang sekarang tidak lagi bisa mengayunkan pedang dengan leluasa.

Namun begitu berdiri di medan laga, dia harus meraih kemenangan mutlak tanpa celah sedikit pun agar tidak ada alasan bagi orang lain untuk mencemoohnya.

Kehilangan satu mata dan satu kaki tidak bisa dijadikan alasan.

Namun,

"Mana mungkin."

Yang dilihat Lizel adalah manik mata yang pantang menyerah, seolah pedang yang memantulkan cahaya.

Serta sebuah senyum tipis yang memancarkan kelembutan yang agak kaku.

"Aku pasti menang. Karena aku tidak bisa membiarkan Master memasang wajah sedih seperti itu."

"……"

Pada saat itu, Lizel merasa hatinya benar-benar kacau dan hancur berantakan.

Wolka selalu begitu. Padahal dialah yang paling menderita, tapi dia selalu memikirkan orang-orang di sekitarnya. Bukan demi dirinya sendiri, tapi demi orang lain dia bisa melangkah maju tanpa ragu.

Kapan pun, dia selalu memikirkan Lizel lebih dari dirinya sendiri.

"──Wolka,"

Karena itu, tanpa Lizel sadari──dia melingkarkan kedua lengannya di leher Wolka yang sedang menyejajarkan pandangan dengannya, lalu memeluknya dengan erat seolah penuh kasih sayang.

"Uwo. ……M-Master?"

"Wolka…………"

Hanya untuk menahan gejolak emosi di dalam dadanya saja, rasanya dia sudah ingin pingsan.

Rasa senang, rasa sedih, rasa pilu, rasa marah, rasa sayang, rasa sesal, rasa bahagia, rasa berdosa; semuanya bercampur menjadi satu gejolak emosi yang luar biasa besar──dan menakutkan.

Hanya dengan melingkarkan lengan seperti ini saja rasanya tidak akan pernah cukup.

Terhadap Wolka, satu-satunya murid kesayangan di dunia, orang terpenting dalam hidup Lizel ini; dia ingin memeluknya lebih, lebih erat lagi, ingin menjadikan semuanya, semuanya──sebagai miliknya sendiri. Begitulah perasaannya.




Berbagai macam perasaan datang silih berganti menyerbu bak ombak besar, beresonansi menjadi satu gelombang Vortex raksasa yang meluluhlantakkan isi hati Lizel satu per satu.

Perasaan itu mengamuk, seolah ingin meledak keluar detik ini juga.

Jantungnya menjerit kesakitan, dan tubuhnya nyaris bergerak secara impulsif mengikuti dorongan yang tak ia pahami.

"Master, ada apa? Master?"

Suara panggilan Wolka terdengar jelas tepat di telinganya, namun entah kenapa tidak bisa meresap ke dalam kesadarannya. Tidak boleh, pikirnya.

Setiap kali momen di mana ia memikirkan Wolka dengan begitu kuat ini datang, ia menyadari rem emosinya semakin lama semakin tidak berfungsi.

Hanya dengan tumpukan perasaan kacau terhadap Wolka, pikiran Lizel nyaris menjadi putih bersih.

"Master, serius, ada apa? Kamu baik-baik saja?"

"──Akh."

Tepukan pelan Wolka di punggungnya memberikan kejutan lembut yang menyentak Lizel kembali ke realitas. Ia buru-buru melepaskan kedua lengan yang melingkar di leher Wolka.

"……Du-duh. Wolka, kamu benar-benar bodoh……"

Ia berdalih dengan kata-kata itu.

Dada dan jantungnya terus menjerit kesakitan.

"Iya…… maaf ya, aku selalu membuatmu khawatir, Master."

Memang benar. Membuat Lizel merasakan perasaan yang tidak karuan seperti ini. Membuatnya merasa nyaris menjadi gila.

Apakah Wolka mengerti?

Lizel sudah sampai pada titik di mana ia merasa tidak bisa hidup jika Wolka tidak ada di sisinya.

Saat berjalan ia ingin menggandeng tangannya, saat tidur ia ingin berada di ranjang yang sama, bahkan saat tidak melakukan apa pun ia ingin berada di ruang yang sama dengan Wolka; ia tidak bisa merasakan sensasi hidup jika tidak merasakan keberadaan pemuda itu.

Benarkah dia mengerti?

Untuk saat ini, ia masih bisa menahannya. Ia masih bisa menekannya dengan sisa-sisa logika bahwa dirinya adalah Master Wolka, dan Wolka memercayainya.

──Tapi, bagaimana dengan berikutnya?

Meskipun berikutnya masih baik-baik saja, bagaimana dengan setelahnya lagi?

"Ayo, kita pulang."

"……Ehm."

Mereka bergandengan tangan. Bayangan mereka memanjang di jalanan senja.

Lizel menggenggam jemari orang paling berharga di dunia ini dengan sangat kuat, seolah tidak akan membiarkannya kabur ke mana pun.

──Setiap kali momen perasaan kuat terhadap Wolka ini datang, emosi ini perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dikendalikan lagi.

Kalau begitu, suatu saat nanti.

Suatu saat nanti, Lizel pasti akan──

(──Wolka)

Lizel menggerakkan bibirnya tanpa suara ke arah punggung Wolka yang tidak tahu apa-apa.

Seolah ia ingin memeluk punggung itu sekuat tenaga, membuatnya tidak bisa bergerak, lalu membisikkan kata-kata manis di telinganya.

──Lama-lama, aku benar-benar bisa kehilangan kesabaran, tahu?

◆◇◆

"──Kakak!!"

Matahari telah terbenam sepenuhnya, dan cahaya bulan yang pucat mulai menguasai Kota Suci di awal malam ini.

Yulithia, yang sudah tidak bisa tenang lagi, segera melesat keluar dari kamarnya dan menyerbu kamar Wolka bersama Atri.

Melihat sosok Yulithia dan kawannya yang menerjang masuk bahkan sampai lupa mengetuk pintu, Wolka yang sedang merawat pedangnya di atas tempat tidur langsung terbelalak.

"A-ada apa? Kenapa kalian?"

"Jangan tanya ada apa!!"

Sambil merasakan desakan air mata di balik matanya, Yulithia langsung merangsek mendekati Wolka.

Ia naik ke atas tempat tidur dengan momentum itu, nyaris menindih Wolka dengan aura yang meledak-ledak.

"Kenapa, kenapa Kakak selalu melakukan hal nekat!?"

"Aku sudah dengar semuanya dari Lizel……!"

Atri ikut mendesak dengan cara yang sama, membuat Wolka memasang ekspresi canggung yang serba salah.

Begitu kembali ke Le Bouquet setelah selesai berlatih, mereka langsung menyadari bahwa sepertinya Wolka dan Lizel tidak menikmati hari libur yang menyenangkan.

Karena itu, setelah membawa Lizel ke kamarnya dan menginterogasinya habis-habisan, terungkaplah bahwa di saat-asat terakhir Wolka dihina karena lukanya oleh petualang bernama Ramzey, dan puncaknya, mereka akan melakukan 'adu tanding' di Perserikatan besok siang.

──Lagi-lagi, Wolka berniat bertarung sendirian……!

Melihat sosok Lizel yang menceritakan hal itu sambil terisak, mana mungkin mereka tidak mendesak Wolka.

Wolka, yang nyaris terjungkal ke belakang, berujar:

"Ne-nekat bagaimana. Itu cuma adu tanding sebentar di Perserikatan……"

"Mana mungkin itu tidak nekat!!"

Yulithia berteriak sambil sekuat tenaga mengatur hatinya yang nyaris meluap.

Semakin ia mencoba menahan emosinya, semakin banyak air mata yang menggenang di matanya.

"Kakak kan baru saja terbiasa dengan kaki palsu dan baru memulai kembali latihan pagi!? Tapi, kenapa malah bertarung sendirian……!"

"Itu cuma adu tanding di Perserikatan. Tidak ada bahaya apa pun."

Mereka tahu itu. Di bawah tanah Perserikatan terdapat tempat latihan yang cukup besar, dan jika sesama petualang melakukan adu tanding di sana, mereka diwajibkan menggunakan Heartless.

Dengan menyelimuti senjata dengan kekuatan sihir khusus, serangan fisik akan diubah menjadi guncangan magis──konon itu adalah sihir yang dulu digunakan dalam duel para bangsawan, namun karena kegunaannya yang sangat menekan daya bunuh senjata, kini sihir itu sangat dihargai untuk berbagai tujuan, mulai dari duel petualang hingga penangkapan kriminal oleh ksatria.

Tapi, menggunakan Heartless bukan berarti sepenuhnya aman.

Meskipun guncangan magis, jika mengenai titik vital tetap bisa menyebabkan cedera, dan lagi, mana ada jaminan orang yang berani menghina Wolka yang sekarang akan bertarung secara ksatria dalam adu tanding itu?

Bisa saja dia merencanakan cara licik untuk mencelakai Wolka.

"A-aku saja yang bertarung! Aku sudah berlatih banyak dengan Atri-san…… aku tidak takut meski lawanku orang dewasa!!"

"Tidak, aku saja. Siapa pun yang mengganggu Wolka, akan kuhancurkan semuanya……!!"

"Tu-tunggu, tunggu dulu. Tenanglah."

Wolka mendorong balik Yulithia dan Atri secara perlahan. Yulithia mencengkeram lengan itu dengan kedua tangannya sangat, sangat kuat. Mana mungkin dia bisa tenang.

Mungkin saja Yulithia yang sekarang hanya sedang menyusahkan Wolka secara tidak perlu. Tapi, tetap saja.

"Aku tidak mau……!!"

Air mata pun tumpah.

"Aku sudah tidak mau lagi hanya melihat Kakak bertarung sendirian……!!"

Ingatan saat diserang oleh Grim Reaper bangkit kembali.

Sosok Wolka yang menceburkan diri dalam pertarungan dengan kesiapan membuang nyawa, dan dirinya yang hanya bisa merangkak di tanah.

Dirinya yang hanya bisa menonton tanpa mampu berbuat apa pun saat nyawa orang paling berharganya meredup.

Membiarkan Wolka memikul semuanya sendirian, hal seperti itu tidak boleh terjadi untuk kedua kalinya.

Padahal ia sudah bersumpah untuk menyingkirkan segala penderitaan yang menghalangi Wolka dan menjadi sosok yang bisa mendukungnya di sisinya──

──Deg, kulitnya terasa merinding.

"Yulithia, Atri."

Mereka tersentak.

Aura Wolka berubah──begitu memahaminya, sekujur tubuh Yulithia merinding hebat, dan tanpa sadar ia lupa cara bernapas.

Itu adalah ranah para Dewa (Transenden) yang pernah dicapai Wolka secara tidak sadar saat bermeditasi waktu itu.

Sebuah aura keheningan yang membuat kulit siapa pun yang melihatnya merinding dan mewarnai otak hingga menjadi putih bersih.

Sepasang mata yang bagaikan pedang yang diasah dengan indah menatap lurus ke arah Yulithia dan Atri.

"Maaf…… saat ini, tidak ada kata-kata bagus yang bisa kupikirkan."

"──"

Mereka terdiam seribu bahasa. Terhisap ke dalam sensasi putih bersih.

Dalam keheningan di mana berkedip pun terasa tidak diizinkan, ia bisa merasakan jantungnya mulai berdegup kencang seolah sudah gila.

Tekad murni dan suci dari pendekar pedang yang paling mereka cintai di dunia ini.

Dengan kilatan petir perak di matanya, Wolka berujar.

Ia menggenggam pedang kesayangannya di tangan kiri, mengangkatnya sedikit ke arah Yulithia dan yang lainnya.

"Karena itu──dengan pedang ini, aku akan membuktikannya."

"──Ah."

Sama──ini adalah sosok pria yang menebas Grim Reaper yang mengerikan, menghancurkan sihir roh yang jahat, dan membuka takdir di depan matanya hanya dengan satu tebasan.

Sosok itu kini terpampang di depan mata Yulithia dalam jarak yang terjangkau oleh tangan. Lewat dunia yang terpantul di matanya, sosok itu membakar habis mental Yulithia tanpa sisa.

Mana mungkin ia bisa memalingkan mata.

"──Kakak benar-benar curang."

Pantas saja Lizel tidak bisa menghentikannya.

Hal seperti ini mana mungkin bisa dibantah. Yulithia tidak tahu lagi bagaimana cara menahan pria yang menghadapi pertarungan dengan tekad yang bisa membakar siapa pun yang melihatnya.

Sisa air mata di sudut matanya mengalir menuruni pipi sebagai tetesan kecil.

"Curang sekali, dasar bodoh……!"

Benar…… sebenarnya ia mengerti, tidak ada ruang baginya untuk mencampuri pertarungan ini.

Sekalipun Yulithia bertarung menggantikannya, itu sama sekali tidak akan menolong Wolka.

Justru sebaliknya, itu hanya akan memberikan celah bagi lawan untuk mengejek bahwa Wolka 'ciut dan kabur dari tantangan' atau 'menangis minta tolong pada wanita', yang akan membuat posisi Wolka semakin sulit.

Karena itulah Wolka bertarung──untuk menundukkan segalanya dengan satu tebasan pedang itu, dan membuktikan keberadaannya.

Atri memeluk tubuhnya sendiri, mengembuskan napas panas yang seolah terpilin.

"……Wolka, apa lagi yang ingin kau biarkan aku persembahkan padamu?"

"Hah?"

"Tubuh dan jiwa ini, semuanya sudah milik Wolka. Lebih dari ini, aku sudah──"

"Eh, tunggu, tunggu, berat sekali, tidak perlu mempersembahkan apa pun lagi, kok."

──Duh, Atri-san ada-ada saja……

Yulithia merasa heran di dalam hatinya, namun ia bukan tidak bisa memahami perasaan Atri yang seolah ingin menerjang dan menindih Wolka.

Yulithia pun sama; ia tidak tahu bagaimana cara mengontrol perasaan yang sudah tumbuh terlalu besar hingga tak muat lagi di dalam tubuhnya mulai besok.

"Yu-Yulithia! Tolong hentikan Atri……!"

Ia tidak berniat menyangkal jalan hidup Wolka.

Tapi jika Wolka terus-menerus membakar hati mereka dengan cara hidupnya seperti ini.

Jika ia mengacak-acak perasaan mereka hingga mereka tidak bisa lagi membayangkan dunia tanpa Wolka.

Suatu saat nanti, entah itu Yulithia, Atri, Lizel, maupun Anze, hari di mana perasaan yang tak terlukiskan ini melampaui batas pasti akan tiba──.

"Eh, Yu-Yulithia!? Ce-cepat tolong aku……!"

Benar-benar orang yang merepotkan.

"……Duh, Atri-san? Aku sudah bilang tidak boleh melakukan hal seperti itu, lho──"

"Muu……"

Yulithia hanya bisa meringis masam, namun untuk saat ini, ia membantu melepaskan Atri yang menempel pada Wolka.

──Nanti kalau saatnya tiba, Kakak harus bertanggung jawab, ya?




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close