Chapter 6
Mata Bintang, Kata-Kata Rembulan
"──Yah,
begitulah ceritanya sampai aku akhirnya bisa membawa mereka kembali."
Sambil
mendengarkan kesaksian Fuji, Frixel merenungkan kembali ingatan hingga ia
sampai di titik ini.
Setelah
berhasil menangkap Rex dan yang lainnya—entah kata 'menangkap' itu tepat atau
tidak—Frixel diserahkan ke tangan Christ Knights dan ditempatkan di
bawah pengawasan mereka di fasilitas penahanan hingga hari ini.
Meski
begitu, ia tidak diperlakukan dengan buruk; ia diberi kamar dan makanan yang
layak, hanya saja merasa sedikit lebih terkekang dari biasanya. Ia tidak tahu
bagaimana nasib Rex dan yang lainnya yang dijebloskan ke dalam jeruji besi.
Di ruang
sidang yang membentang di bawah ruang bawah tanah Katedral Agung, persidangan
berlangsung dengan khidmat.
Berlawanan
dengan dugaan Frixel, Alphana bersikap sangat lembut dan patuh.
Ia
mengira wanita itu akan berteriak-teriak mengaku tidak bersalah, namun ternyata
ia menyerahkan hampir seluruh kesaksian insiden tersebut kepada Rex dan Dino,
sementara dirinya sendiri hanya memberikan jawaban minimal dengan sikap yang
tampak rapuh.
Apakah ia
berniat memanfaatkan kekuatan Star Eye dengan berpura-pura menjadi
wanita malang yang dituduh secara tidak adil, sambil berlindung di balik
perlindungan Rex dan kawan-kawan?
Frixel merasa
mual. Meski anak-anak terluka karena ulah mereka, di saat seperti ini pun
wanita itu hanya memikirkan keselamatannya sendiri.
"──Begitu
ya. Aku sudah memahami garis besar kejadiannya hingga hari ini."
Dari altar hukum
yang terletak di tempat tertinggi di ruang sidang ini, kata-kata Yulirias jatuh
bagaikan serbuk bintang.
"Kerja bagus
atas penangkapan Flamberge. Kamu sudah bekerja keras, Fuji."
"Jangan
memuji setinggi itu. Ini semua berkat keinginan Tuan Putri, aku hanya sekadar
menggerakkan kaki saja."
'Tuan
Putri'──Frixel sudah samar-samar menduga, tapi sepertinya Fuji memanggil Sang Saintess
dengan sebutan itu. Namun, ia tidak tahu apakah sebutan itu ditujukan untuk
semua Saintess di depannya, atau gelar kehormatan khusus untuk satu orang saja.
Yulirias hanya tersenyum dalam keheningan.
"……Tu-tunggu
sebentar!"
Akhirnya, Alphana
berdiri dari kursi saksi dan berteriak. Entah apa yang membuatnya berlagak
hebat padahal dialah yang seharusnya dikecam, ia menunjuk Fuji dan menyerangnya
dengan suara nyaring.
"Kami telah
dipengaruhi oleh Magic Tool aneh yang digunakan pria itu! Gara-gara itu,
kepala kami jadi tidak beres……!"
Setidaknya, itu
adalah tuntutan yang masuk akal.
Frixel sendiri
sebenarnya masih belum bisa menerima bagian itu. Fuji menunjukkan liontin Christcrest
kepada Rex dan Dino yang sudah mencabut senjata dan hendak melawan tanpa peduli
apa pun.
Seketika itu
juga, mereka bertiga seolah berubah menjadi orang yang berbeda, menjadi
penurut, dan entah kenapa justru setuju untuk kembali ke Kota Suci atas
inisiatif sendiri.
Terlepas dari
logika dan dasarnya, jika disimpulkan dari hasilnya, ada dugaan yang mungkin.
Pemikiran Frixel secara kebetulan sejalan dengan klaim Alphana──meski rasanya
sangat menyebalkan memiliki pendapat yang sama dengan rubah betina itu.
"Pasti dia
menggunakan Magic Tool ilegal untuk memanipulasi pikiran kami──"
"──Huaaaah."
Sebuah helaan
napas panjang, entah itu menguap atau desahan bosan, memotong ucapan berapi-api
Alphana.
Misfortune
Saint, Alkasiel──Gadis
Rembulan yang sedari tadi tidak menunjukkan minat pada jalannya persidangan,
untuk pertama kalinya menunduk menatap Alphana dengan pupil biru pucat yang
dingin.
"……Hah.
Kamu yang bilang begitu?"
"Hah?
……A-apa maksud Anda?"
Sangat lesu.
Sangat bosan.
Pertanyaan yang
telah Frixel ulangi berkali-kali.
Alasan mengapa
Rex dan Dino begitu mendukung dan melindungi Alphana secara tidak wajar.
……Jawaban itu terucap begitu saja dengan sangat mudah.
"──Kamulah
dalang yang sebenarnya, yang memanipulasi kedua pria itu menjadi boneka
penurut. Benar, kan?"
Ruang sidang
seketika hening.
Suara Alphana
yang mengatupkan rahangnya karena kehilangan kata-kata seolah sampai ke telinga
Frixel.
Setelah
jeda hampir sepuluh detik, Rex akhirnya merespons.
"……Tunggu
sebentar, aku tidak mengerti apa maksud Anda. Kami sama sekali tidak pernah diperlakukan seperti
itu oleh Alphana."
"Tentu saja,
tidak ada gunanya kalau kamu menyadarinya."
Alkasiel
menopang dagu di atas buaiannya.
"Terus-menerus
membisikkan kata-kata yang sama, sedikit demi sedikit melumpuhkan pemikiran
lawan. Seperti racun yang meresap perlahan, mengubah mereka menjadi boneka
penurut…… itu adalah sihir pesona."
"……,"
"Coba
ingat-ingat kembali. Sejak kapan kamu mulai memercayai wanita ini tanpa
berpikir?"
……Sebagai
kemungkinan, Frixel bukannya tidak pernah memikirkan hal itu.
Jika hanya
sekadar memanjakan dengan uang, ia masih bisa sedikit mengerti.
Namun, tindakan
tanpa logika seperti membantu Alphana melarikan diri ke luar negeri bahkan
menanggung semua dosa demi dirinya, sepertinya tidak bisa dijelaskan dengan hal
lain selain 'cuci otak'──ia memang pernah meragukannya di sudut pikirannya.
Ia tidak bisa
yakin karena ia merasa mustahil Alphana bisa menggunakan sihir seperti itu.
Sihir yang
menginterfensi mental seseorang diatur dengan sangat ketat sebagai rahasia di
atas rahasia karena masalah etika.
Tidak ada rumus
mantra yang dipublikasikan secara umum, dan penggunaannya hanya diizinkan bagi
orang-orang dengan jabatan publik penting untuk tujuan tertentu.
Itu wajar; jika
sihir semacam itu tersebar luas, tatanan masyarakat manusia akan mudah runtuh.
Karena itu, bagi
orang biasa seperti Frixel, sihir manipulasi mental adalah sesuatu dari dunia
yang sama sekali berbeda.
Namun, pada
akhirnya, sepertinya memang hanya itu jawabannya.
"Tu-tunggu,
itu salah!!"
Topeng Alphana
yang berpura-pura lembut mulai retak. Ia memukul meja saksi dan berteriak dalam
kegelisahan yang memuncak.
"Itu
omong kosong!! Apa dasarnya Anda bicara begitu!?"
"Dasarnya?
Lihat saja kedua orang di sana, sudah jelas kan?"
Alkasiel menunjuk
Rex dan Dino hanya dengan tatapannya.
Sosok mereka yang
tadi memberikan kesaksian dengan teguh bahwa Alphana tidak bersalah dan seluruh
penyebab kecelakaan adalah kesalahan mereka sendiri, kini telah lenyap tak
berbekas.
"Begitu──ya.
Kenapa kami, sebenarnya, sejak kapan……"
"Bohong,
kan……? Jadi, jadi selama ini kami……"
"Tunggu,
Rex!! Dino!?"
Rex dan Dino
berdiri mematung dengan wajah syok, seolah baru saja didorong jatuh dari
tebing. Alkasiel berkata dengan datar.
"Pesona
semacam ini akan kehilangan pengaruhnya saat target menyadari dan memahaminya.
……Sandiwara tuan putri yang manis sudah berakhir."
"Tsk……!!"
"Lagipula,
kamulah yang sudah memanipulasi hati orang sesuka hati. Jika kamu memang
dipengaruhi oleh 'Magic Tool aneh', apa masalahnya?"
Kuku Alphana
mencengkeram erat sandaran tangan meja saksi. Wajahnya tampak seperti anjing
gila, seolah-olah ia bisa melompat dan menggigit tenggorokan lawannya kapan
saja.
Yulirias
mengambil alih hak bicara.
"Manipulasi
mental melalui kata-kata tidak akan dimulai jika lawan tidak mau mendengarkan
Anda. Dalam hal itu, Rex dan Dino sepertinya sudah menyukai Anda sejak awal,
jadi sepertinya tidak terlalu sulit bagi Anda untuk merapal mantranya."
Mungkin sejak
bergabung dengan party ini, Alphana berulang kali masuk ke kamar mereka
dengan alasan mempererat hubungan, dan perlahan-lahan menyisipkan pengaruhnya
dalam percakapan.
Tanpa
sepengetahuan Frixel. Frixel mengira tidak masalah baginya jika mereka menjalin
hubungan baik secara pribadi, namun sikap membiarkan itu justru menjadi
bumerang.
Lalu sejak kapan
Rex dan Dino mulai menjadi aneh?
Sejauh mana
mereka waras, dan dari mana mereka tidak waras?
Tidak diragukan
lagi bahwa mereka sudah menjadi boneka Alphana saat melarikan diri dari Kota
Suci.
Lalu saat mereka
mulai berfoya-foya dengan hadiah sertifikasi dan mulai mengambil tabungan party?
Ataukah saat
mereka menerima misi sertifikasi demi imbalannya?
Tidak, mungkinkah
sejak awal mereka mulai memberikan uang kepada Alphana, mereka sudah──.
"Kalau
begitu, karena kesaksian sudah terkumpul, mari kita lanjutkan
persidangannya."
Setelah Yulirias
berkata demikian sambil mengangkat tangannya sedikit, seorang kepala pelayan
tua muncul tanpa suara dari balik bayangan altar hukum.
"Tolong
tunggu sebentar. Maklum, kaki saya tidak begitu baik."
Kepala
pelayan tua itu menggendong Yulirias dengan hormat, dan dengan suara sepatu
yang berbunyi teratur, ia turun tangga menuju lantai yang sama dengan Frixel
dan yang lainnya.
Sementara
itu, seorang ksatria meletakkan sebuah kursi kecil di depan mereka.
Melalui
gerakan yang sangat anggun dan memikat, Yulirias didudukkan dengan lembut di
kursi itu oleh si kepala pelayan tua.
Jaraknya
memang tidak tepat di depan mata, namun cukup dekat untuk melihat dengan jelas
lambang bintang pada tiaranya.
Kenapa dia
tiba-tiba mendekat ke arah kami? ──Belum sempat Frixel mengerutkan kening karena bingung,
"……!"
Ia menahan napas
secara spontan. Yulirias mengarahkan tangannya ke belakang kepala dan
melepaskan penutup matanya. Star Eye Saint──saat ia melepas penutup
matanya, itu berarti.
"Mulai dari
sini, Anda tidak perlu bicara lagi."
Kelopak matanya
terpejam dengan lembut, menampakkan wajah asli Yulirias yang dihiasi senyum
anggun dan tulus.
Berdasarkan
tinggi badannya yang mungil, ia membayangkan gadis itu berusia sekitar sepuluh
tahun, dan kesan itu benar adanya; ia adalah seorang gadis kecil dengan fitur
wajah yang sangat kekanakan dan mungil.
Mungkin tidak
jauh berbeda dengan penyihir kecil paling imut di Silver Grey, Lizel.
Namun, meskipun
wajah asli Yulirias tampak seperti gadis kecil, suasana khidmat di ruang sidang
tidak sedikit pun mengendur.
Tidak, ia justru
merasa suasana semakin jernih hingga ia mulai merasa sesak.
Perasaan ingin
bersujud──seolah-olah jika ia menggerakkan satu jari saja, ia akan dihukum
karena telah menodai tempat suci ini.
"Sekarang──beri
tahu aku tentang dirimu."
Lalu Yulirias
membuka Star Eye (Mata Bintang).
Sensasi
yang tak dapat dijelaskan menyelimuti seluruh tubuh Frixel.
Benar,
sebutan 'Mata Bintang' memang sangat tepat──bintang-bintang yang bersinar
terang di dekapan langit malam membentang luas di dalam pupil mata kecil gadis
itu sebagai dunia yang tak terbatas.
Saat
masih kecil, Frixel pernah memandang bintang-bintang di langit malam dengan
kecemasan seolah-olah akan terhisap ke dalamnya.
Ia takut jika
saat menatap langit malam, tiba-tiba pijakan kakinya terbalik dan ia akan jatuh
ke dalam kegelapan malam.
Ia teringat
sensasi saat itu. Melebihi ungkapan sederhana 'fantastis', sensasi ini bahkan
memicu rasa takut.
Meskipun ini
adalah ruang bawah tanah di bawah Katedral Agung di mana langit sama sekali
tidak terlihat, Frixel merasa seolah-olah ia sedang diawasi dengan sengaja oleh
seluruh langit di atas kepalanya, seolah-olah isi hatinya sedang ditembus
hingga ke dasarnya.
Pasti Alphana,
Rex, dan Dino juga merasakan sensasi yang sama. Mereka terperangkap dalam Star
Eye Yulirias hingga tidak bisa menggerakkan satu jari pun dan lupa cara
bernapas.
"Mata ini
menangkap kalian bukan melalui tubuh fisik, melainkan melalui 'jiwa'. Seberapa
keras pun kalian mencoba menutupi dosa kalian, kemilau jiwa tidak dapat
dipalsukan oleh siapa pun."
Rambut biru tua Yulirias
yang mencapai bahunya semakin bersinar bagaikan bintang seolah-olah merespons
matanya, lalu mengembang dan bergoyang perlahan meski tidak ada angin.
Sungguh, meski
penampilannya sangat fantastis dan indah luar biasa.
"Alphana,
Rex, Dino. Aku bertanya pada kalian bertiga."
Lalu mengapa hati
Frixel terasa begitu gelisah dan tidak tenang.
Pasti karena saat
ini 'jiwa' yang bersemayam di suatu tempat di dalam dirinya sedang ditembus.
"──Apakah
kalian benar-benar melakukan investigasi Sertifikasi Penaklukan?"
Frixel butuh
waktu beberapa detik untuk memahami arti pertanyaan itu.
Begitu ia
memahaminya, sensasi dingin menjalar naik dari kakinya seketika.
"──Bohong,
kan. Jangan-jangan, kalian."
"Bukan, kami
melakukannya!! Kami pasti melakukannya, kan!?"
Melihat Alphana
yang berteriak, senyum Yulirias semakin dalam.
"Ah……
ternyata benar, kalian berhenti di tengah jalan dan pulang. Itulah sebabnya
kalian tidak menemukan jebakan teleportasi. Karena sejak awal, kalian bahkan
tidak menginjakkan kaki di area jebakan itu berada."
"M-makanya,
aku bilang itu sa──"
"Apakah ada
alasan tak terelakkan yang membuat kalian terpaksa menghentikan
investigasi?"
"I-iya,
benar! Sebenarnya,"
"Hmm,
ternyata bukan. Jadi, kalian
sengaja meninggalkannya di tengah jalan, ya."
"Tu-tunggu
sebentar."
"Fufu,
bukankah aku sudah bilang? Bahwa Anda tidak perlu bicara lagi. ……Jiwamu sangat buruk dan hitam.
Sepertinya kamu pulang karena lelah di tengah investigasi, bosan, dan merasa
muak."
Frixel kesulitan
menelan kata-kata Yulirias. ──Lelah, bosan, dan muak lalu pulang? Mengabaikan
investigasi sertifikasi penaklukan yang disertai tanggung jawab besar di tengah
jalan?
Karena alasan
sekonyol itu.
Karena alasan
yang setara dengan yang terburuk dari yang terburuk, anak-anak Silver Grey
yang tidak ada hubungannya──.
"Rex
dan Dino juga setuju karena sedang berada dalam pengaruh pesona. Mengingat
hampir tidak ada monster di dalam dungeon, kalian mengira Silver Grey
sudah benar-benar menaklukkannya, kan? Kalian bertiga sepertinya berpikiran hal
yang sama…… bahwa melakukan investigasi dengan serius sampai akhir adalah hal
yang konyol."
Namun,
Frixel tidak diberi waktu luang untuk sekadar merasa pening.
Segalanya
terasa sepihak. Meski Alphana, Rex, maupun Dino tidak ada yang membantah atau
membenarkan, Yulirias terus bicara.
"Fufu, jujur
sekali ya kalian. Lalu insiden ini terjadi, dan awalnya kalian berniat berkelit
saat pemeriksaan Perserikatan. Namun, situasi berubah total saat Gereja
mengeluarkan surat perintah untuk hadir di persidangan. Kalian panik karena
tidak menyangka akan sampai diperintahkan hadir. Karena jika dibawa ke ruang
sidang, aku akan membongkar kebohongan kalian."
Yulirias berkata,
"Itulah
sebabnya Alphana, Anda memutuskan untuk membebankan semua dosa kepada Rex dan
Dino. Anda sendiri akan melarikan diri ke luar negeri, sementara mereka berdua
akan menanggung dosa di persidangan nanti. Karena itulah Anda melarikan diri
dari Kota Suci, dan sepanjang perjalanan menuju perbatasan, Anda berulang kali
membisikkan kata-kata kepada mereka──'Alphana tidak bersalah, yang salah adalah
kita semua'."
Ia berkata lagi,
"Ada
beberapa alasan mengapa kalian tidak menggunakan kapal. Jika tujuannya untuk
pergi ke luar negeri, diperlukan pengajuan izin sebelumnya, dan bagi petualang,
pengajuan izin itu harus melalui Perserikatan. Kalian pasti akan tertangkap
karena dianggap berniat melarikan diri. Meskipun bisa mengajukan izin, catatan
perjalanan kalian akan tersimpan dan jejak kalian akan terlacak…… bagaimanapun
juga, kalian memilih jalur darat karena perlu menghabiskan waktu untuk
melakukan cuci otak. ……Fufu, begitu ya. Sepertinya hari ini aku sedang dalam
kondisi baik."
Ia terus berkata,
"Dengan cara
itu, Anda memikat keduanya hingga mereka percaya bahwa kebohongan itu adalah
kebenaran──tidak, sepertinya lebih tepat disebut cuci otak. Dengan begitu,
meski keduanya melindungimu, memang benar bahwa ada kemungkinan mataku akan
tertipu karena mereka mengatakannya dengan keyakinan penuh bahwa itu adalah
fakta. Anda pun terbebas dari tuntutan dosa, dan tidak perlu khawatir akan ada
pengejar meski sudah menyeberang negara."
Ia berkata lagi.
Sambil tetap menyembunyikan senyum yang sangat anggun dan cantik, terakhir ia
menatap ketiga orang itu perlahan, kecuali Frixel.
"……Hmm,
sepertinya sampai di sini saja. Yah, seperti yang kalian lihat, cuci otak itu
pun terbongkar dengan mudah, jadi ini hanyalah rencana dangkal yang sejak awal
tidak akan berhasil."
"……A-apa-apaan
ini. Apa-apaan kamu ini……"
Raut wajah
Alphana menampakkan ketakutan terhadap keberadaan yang tidak dapat dijelaskan.
Apakah ini
kemampuan Star Eye (Mata Bintang)?
Ini sudah bukan
lagi berada di level yang bisa disebut sebagai deduksi.
──Melihat dosa dan kebohongan?
Yang benar saja,
ini sama saja dengan membaca pikiran.
Namun, Yulirias
menangkupkan kedua tangannya dan berseru dengan gembira.
"Aku sangat
menyukai waktu-waktu seperti ini. Mencari tahu apa yang benar dan apa yang
bohong, selangkah demi selangkah mendekati jawaban melalui jiwa kalian…… lihat,
di luar sana juga ada permainan teka-teki seperti itu, kan? Mengulangi
pertanyaan yang bisa dijawab dengan 'ya' atau 'tidak'──"
Alphana
mengeraskan rahangnya dan meledak marah,
"Maksudmu,
kamu menghakimi orang seolah-olah itu adalah sebuah permainan……!?"
"Memangnya
tidak boleh?"
Yulirias
memiringkan kepalanya dengan polos.
"Setiap kali
aku menggunakan kekuatan ini, semua orang menganggapku menjijikkan seolah-olah
aku bukan manusia. Tapi yang salah adalah kalian yang telah melakukan hal yang
tidak benar, bukan aku, kan?"
Ucapannya memang
benar. Yang salah adalah manusia yang berbuat dosa, dan ia hanyalah menjalankan
persidangan sesuai dengan misinya.
Keberadaan
'kebaikan' yang tidak perlu diragukan, yang terus menjaga kedamaian Kota Suci
dengan menghukum dosa.
Namun, meskipun
ia memahaminya.
"Aku tidak
begitu mengerti. Mengapa manusia justru sengaja melakukan dosa dalam hidup
mereka yang hanya sekali, dan mengotori jiwa mereka sendiri. Jika kalian tidak
suka dosa kalian terbongkar, bukankah seharusnya kalian hidup dengan bersih dan
benar sejak awal?"
Saintess dari Christcrest
adalah perwakilan Dewa yang bisa disebut setengah manusia setengah dewa.
Artinya,
setengah dari dirinya tidak bisa disebut manusia.
Saintess
yang menghakimi dosa manusia bagaikan sebuah permainan──Frixel tidak bisa
menahan rasa merinding di punggungnya.
"Sebelum
Anda datang ke negara ini, Anda juga telah menghancurkan party petualang
dengan cara yang sama sambil berpindah-pindah negara. ……Ah, ini tidak ada
hubungannya dengan kekuatanku. Penyelidik gereja yang hebat telah
menyelidikinya untukku."
Yulirias menatap
Alphana dengan rasa kasihan.
"Memanfaatkan
banyak pria sesuka hati, lalu membuangnya berulang kali. Jiwa hitam yang
dilapisi oleh kebohongan yang tak terhitung jumlahnya…… saat ini, hampir tidak
ada lagi hal jujur yang tersisa dalam dirimu. Bahkan nama 'Alphana' itu sendiri
pun bohong."
"M-makhluk
ini……!!"
Alphana
memancarkan kebencian yang luar biasa di antara kedua alisnya, lalu meludah
ketus.
"Dasar
MONSTER……!!"
"……Fufu,
panggilan yang sangat kurindukan."
Ekspresi Yulirias
seketika menerawang jauh. Senyum tenang yang menghiasi bibirnya mungkin adalah
bentuk ejekan terhadap diri sendiri.
"Tetapi, aku
masih kalah olehmu. ──Olehmu yang begitu rakus dan angkuh, yang tidak akan puas
jika segala sesuatu di dunia ini tidak berjalan sesuai keinginanmu."
Dan Yulirias
melanjutkan tanpa konteks apa pun.
"Alphana.
Kamu bukanlah manusia murni, kan?"
"……Hah?"
Suara bodoh
keluar dari mulut Frixel.
Sesaat ia mengira
Yulirias sedang membalas ejekan monster tersebut dengan merujuk pada sifat
Alphana yang rakus dan angkuh.
Namun, Yulirias
berkata dengan sangat serius.
"Di dalam
tubuhnya mengalir darah Vampire."
"……,"
Frixel bahkan
tidak bisa mengeluarkan erangan untuk kedua kalinya.
Vampire──salah satu suku iblis yang memiliki
wilayah kekuasaan di dungeon jauh di sebelah barat negara ini, yang memiliki
kekuatan luar biasa setara dengan Dragon maupun Spirit.
Untungnya Frixel
belum pernah bertemu sekalipun, namun kemampuan tempur mereka bahkan saat masih
anak-anak sekalipun sudah setara dengan petualang peringkat A tingkat tinggi,
dan konon ada monster di luar nalar yang bahkan petualang peringkat S pun tidak
sanggup melawannya.
──Darah suku
iblis semacam itu ada di dalam tubuh Alphana?
"Namun,
darah itu sangat sedikit, dan dia hampir sepenuhnya manusia biasa. Darah itu
pasti sudah tercampur ke leluhurnya sejak zaman dahulu kala."
Rex dan
Dino menatap Alphana dengan ternganga. Sepertinya mereka berdua pun sama sekali tidak tahu.
Sebaliknya,
Alphana tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menutup bibirnya rapat-rapat dalam
keheningan.
"Namun,
fakta bahwa ia memiliki darah suku iblis meski hanya sedikit adalah benar.
Pesonanya berasal dari darah tersebut. Sihir yang tidak didapat melalui
keterampilan setelah lahir, melainkan hanya bisa dijalankan melalui garis
keturunan sejak lahir…… ini disebut sebagai 'Inherited Magic'."
Frixel mencoba
mencerna informasi yang masuk, meski hanya sebagian.
Sangat mudah
untuk menyalahkan sihir atas semua penyebab kecelakaan ini, dengan alasan bahwa
Alphana telah memikat rekan-rekannya.
Namun, untuk
berpikir seperti itu, ada satu masalah yang tidak bisa diabaikan.
Sejak awal,
bagaimana Alphana bisa menggunakan sihir manipulasi mental?
Bagaimana ia bisa
mengetahui rumus mantra yang seharusnya dikelola dengan sangat ketat oleh
setiap negara demi menjaga tatanan masyarakat?
Jawabannya
adalah, ia tidak mempelajarinya, melainkan sudah bisa menggunakannya sejak awal
karena ia memiliki darah suku iblis──itu sungguh, benar-benar,
"Konon Vampire
memikat manusia yang mereka sukai dengan kemampuan semacam itu, menjadikannya
boneka, dan membuat mereka menyerahkan darah mereka dengan sukarela. Sangat
mirip dengan apa yang Anda lakukan. ……Hanya saja, yang Anda buat mereka
serahkan bukanlah darah, melainkan uang."
"…………"
……Harus mulai
dari mana ia menerima semua ini?
Ceritanya terlalu
mengejutkan hingga logikanya tidak sanggup mengikutinya.
Fakta bahwa
rekan-rekannya selama ini dipengaruhi pesona. Fakta bahwa karena alasan yang
paling menjijikkan, yaitu 'bosan dan muak', mereka mengabaikan investigasi
sertifikasi penaklukan.
Dan fakta bahwa
Alphana adalah manusia keturunan suku iblis.
Ia tidak tahu
apakah ia boleh menyalahkan semuanya pada pesona.
Kenyataannya,
meski sihir manipulasi mental diatur dengan ketat, di dunia ini ada orang-orang
yang disebut penipu yang bisa memanipulasi pikiran orang hanya dengan kemampuan
bicara yang lihai.
Pada akhirnya,
manusia tidak butuh sihir untuk mengendalikan manusia lain, dan saat Flamberge
menerima wanita bernama Alphana sebagai anggota, mungkin mereka memang
ditakdirkan untuk runtuh cepat atau lambat tanpa peduli soal pesona.
Namun,
seandainya──seandainya saja pesona Alphana tidak ada.
Atau seandainya
Frixel sebagai rekan mampu menyadarkan Rex dan Dino lebih awal.
Bukankah masa
depan di mana kecelakaan sertifikasi penaklukan ini tidak terjadi pasti pernah
ada?
Masa depan di
mana anak-anak Silver Grey tidak mengalami penderitaan pasti pernah
ada──.
"……Alphana,"
Rex menatap tajam
ke arah Alphana dengan ekspresi yang tidak bisa dibedakan antara marah atau
sedih.
Di setiap
kata-katanya tersirat penderitaan karena harus menanyakan hal ini.
"Kenapa kau
melakukan ini……! Padahal kami menganggapmu sebagai rekan……!"
"……"
Tatap mata
Alphana yang menoleh ke arah Rex sangatlah dingin.
Tatapan mata yang
ditujukan kepada boneka yang benangnya sudah putus dan tidak berguna lagi.
Tak lama
kemudian, ia mencakar-cakar kepalanya sendiri dengan tangan kiri, lalu──
"Fu──fufu,
fufufu……"
Ia tertawa dengan
nada yang gemetar seolah-olah sedang kejang.
Ia menjawab.
"Kenapa?
Tentu saja karena petualang semuanya bodoh."
Kini Alphana yang
anggun dan menawan sudah tidak ada lagi. Ia menghirup napas panjang dengan
bahunya.
"Hanya
dengan berpura-pura menjadi wanita yang manis dan memuji sedikit saja, mereka
semua akan merasa senang seperti orang bodoh dan tertipu dengan mudahnya.
Sepertinya pedagang dan bangsawan punya otak yang berbeda ya, mereka sangat
penuh curiga jadi rencanaku tidak pernah berjalan semulus ini pada
mereka."
Fakta bahwa ia
telah memikat rekan-rekannya dan fakta bahwa ia memiliki darah suku iblis
semuanya telah terbongkar, dan menyadari bahwa ia sudah tidak bisa berbuat
apa-apa lagi, ia jatuh ke dalam keputusasaan.
Sekali
bendungannya jebol, ia tidak bisa lagi menahan emosinya; kata-kata yang keluar
dari mulut Alphana semakin bertambah deras kekuatannya.
"Yah, aku
sudah mendapatkan banyak kesenangan, jadi aku tidak akan protes jika kalian
menanggung semua dosanya. Aku tidak menyangka kalian ternyata tidak berguna
sampai sejauh ini. Sungguh mengecewakan."
Ia menatap tajam
ke arah Yulirias.
"Lagipula,
apa-apaan soal kelalaian sertifikasi itu, bukankah semua party juga
melakukannya? Hanya saja selama ini mereka tidak ketahuan. Dan hanya karena
kebetulan itu aku tertangkap dan diperlakukan sebagai kriminal, bukankah
persidangan yang 'adil' ini sangat hebat?"
Meski semakin
banyak ia bicara, semakin ia seolah melangkah menuju tebing jurang.
Namun sepertinya
ia sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Ia dibongkar
habis-habisan secara sepihak tanpa diizinkan untuk melawan maupun membantah,
melalui kemampuan abnormal di luar akal sehat yang disebut 'melihat segala dosa
dan kebohongan'.
Terlebih lagi,
Sang Saintess justru menikmati persidangan seolah itu adalah sebuah permainan,
dengan tambahan kalimat "di luar sana juga ada permainan teka-teki seperti
itu, kan".
Bagi Alphana, itu
pasti sangat tidak adil dan menjengkelkan.
"Entah itu
kehilangan mata atau kaki, aku tidak peduli. Tapi hanya karena seseorang di
suatu tempat tidak mati dengan tuntas, itu benar-benar merepotkanku."
Itulah sebabnya,
dalam emosi yang meledak-ledak, dengan sikap yang memuakkan dan dangkal, ia
melontarkan kata-kata itu demi rasa ingin membalas dendam sedikit saja.
Kata-kata fatal
yang menentukan takdirnya.
"Silver
Grey, ya? ──Seharusnya mereka semua mati tanpa sisa!"
Suara kursi yang
roboh di atas altar hukum berdentang nyaring, dan untuk sesaat──hanya
sesaat──gelombang kekuatan yang terlalu suci untuk disebut sebagai haus darah
menggetarkan ruangan.
Jika bukan karena
itu, Frixel mungkin sudah hilang kendali karena marah dan menerjang Alphana
bagaikan binatang buas.
Saat Frixel mendongak ke arah altar hukum, sosok White
Clay Saint dan Saint of the Heavenly Sword telah menghilang.
Namun dari balik altar hukum yang tidak terlihat dari posisi
Frixel, terdengar suara perdebatan mereka yang tidak bisa ditahan.
"Lepaskan
aku, Lord Dia!! Wanita itu, wanita itu……!!"
"Tenanglah!
Mengeluarkan itu benar-benar berlebihan!! Benda milikmu itu tidak boleh diarahkan ke
manusia…… ah, ayolah Paman Tua, Roche, bantu aku!!"
Suara Saint of
the Heavenly Sword yang berteriak hampir menangis, dan White Clay Saint
yang mencoba menenangkannya.
Tak lama
kemudian, suara mereka menjauh, bahkan hawa keberadaan manusia di balik altar
hukum menghilang seketika.
Sepertinya mereka
memutuskan untuk meninggalkan ruangan karena melihat sulit untuk menenangkan Saint
of the Heavenly Sword.
"……Haah."
Alkasiel yang
tinggal sendirian di altar hukum merengut dengan raut wajah yang sangat kesal
di atas buaiannya.
"Berisik
sekali…… aku sudah tidak tahan mendengarnya."
Ia
melayang bersama buaiannya di udara, turun langsung ke samping Yulirias tanpa
menggunakan tangga.
Dari
posisi yang sedikit lebih tinggi daripada berdiri biasa, ia menatap dingin ke
arah Alphana bagaikan sosok rembulan itu sendiri.
"Euri.
Biar aku yang membungkam wanita ini."
"……Benar,
sepertinya tidak perlu lagi melanjutkan persidangan lebih jauh. Namun, apa yang
akan Kakak lakukan?"
"Gampang
saja."
Untuk
pertama kalinya ia bangun dari buaian yang selama ini ia gunakan untuk
berbaring.
"Aku akan
memberikan hukuman pertama. Hukum sebab akibat yang paling primitif di dunia
ini──kriminal yang tidak bisa diselamatkan harus merasakan nasib yang sama
dengan korban, setidaknya sekali."
Bernasib
sama dengan korban──Silver Grey.
Itu
berarti,
"Hah?
……Jangan-jangan, kamu menyuruhku bertarung dengan Grim-apa itu tadi?"
Alphana
mengerahkan seluruh keberaniannya yang tersisa dan tertawa mengejek.
"Bagaimana
caranya? Itu monster yang bahkan jarang muncul di dungeon, kan. Hal yang
mustahil seperti itu──"
"Aku
akan memberimu mimpi. Mimpi terburuk yang sangat luar biasa, hingga kamu akan
merasa lebih baik mati saja."
"A-apa? Apa
yang kamu…… tunggu sebentar, apa yang kamu katakan. Kamu bercanda, kan!?"
Alphana mulai
panik, dan di saat yang sama Frixel juga menyadarinya.
Rambut Alkasiel
yang tergerai dari ujung buaiannya sungguh sangat panjang hingga membuat sesama
wanita terkejut.
Rambut yang
tampak berwarna biru muda pucat namun bisa terlihat putih bersih tergantung
sudut pandangnya, kumpulan kilauan aneh yang bukan milik manusia itu bersinar
dengan pendar cahaya yang indah bagaikan cahaya bulan.
Cantik sekali,
Frixel sampai lupa akan situasi saat ini dan terpana melihatnya.
Jika seorang dewi
turun dari dunia langit, pasti sosoknya akan seperti ini──pendar cahaya
misterius yang mampu mencuri hati siapa pun.
Namun tentu saja,
dewi itu tidak muncul untuk memberkati manusia.
Tidak ada belas
kasihan maupun kasih sayang dalam suaranya, dan ia hanya menganggap nyawa
Alphana yang ia tatap sebagai sesuatu yang tidak berarti.
"Jangan
khawatir, kamu tidak akan benar-benar mati. Tapi, seluruh rasa sakit yang kamu rasakan adalah
nyata."
Frixel akhirnya
yakin. Magic Tool yang digunakan Fuji waktu itu.
Interfensi mental
yang menembus pesona Alphana dan membuat Rex dan kawan-kawan seketika menjadi
patuh.
──Ooh…… inilah
kekuatan Tuan Alkasiel……
Kata-kata ksatria
yang gemetar karena haru itu membuktikan segalanya.
Bahwa 'kekuatan' Alkasiel
berada di level yang luar biasa, hingga membuat pesona Alphana terlihat seperti
mainan anak-anak──.
"Anak-anak
yang kamu tertawakan itu…… rasakanlah
rasa sakit dan penderitaan mereka sepuas hatimu sampai kamu merasa ingin
mati."
Itulah otoritas Dewa
yang diberikan langit kepada Misfortune Saint. Hak mutlak untuk
menguasai kesadaran.
──Celestial Mystery, Voice of the Moon: Quella.
◆◇◆
"──? Apa...
Apa-apaan ini? Di mana ini?"
Seketika, Alphana
menyadari dirinya berdiri sendirian di sebuah ruang yang remang-remang.
Ini bukan
ruang sidang Katedral Agung. Sosok Rex, Dino, Frixel, maupun para Saintess
terkutuk itu tidak terlihat di mana pun.
Saat ia
mencoba menajamkan penglihatannya menembus kegelapan, ia hanya bisa samar-samar
menyadari bahwa tempat ini adalah ruang batu yang jauh lebih luas daripada
ruang sidang tadi.
Lantainya
terasa dingin. Seolah-olah ia sedang berdiri di atas bongkahan es.
"Heii! Di
mana ini sebenarnya!? Saintess sialan itu, apa yang dia lakukan padaku──"
Bersamaan dengan
teriakan kesal Alphana yang menggema di ruangan itu, sebuah perubahan terjadi.
Cahaya. Dari atas
kepala Alphana hingga jauh ke dalam ruangan, api mulai menyala satu demi satu
pada deretan pilar di sisi kiri dan kanan.
Itu adalah
barisan tengkorak yang menyemburkan api biru yang pekat.
Tengkorak raksasa
yang terpaku pada pilar menyalakan api yang cukup besar untuk menelan manusia,
perlahan-lahan memukul mundur kegelapan di sekitarnya.
Begitu garis luar
ruangan itu mulai terlihat, ia baru menyadari bahwa rasa dingin yang menusuk
kulitnya sebenarnya adalah Miasma yang mengerikan.
"Ugh...!?"
Hampir terjatuh,
ia melompat mundur ke area yang tidak terpapar Miasma. Matanya bergerak
liar ke sana kemari tanpa memahami situasi.
Di mana ini
sebenarnya?
Ini bukan ruang
sidang ataupun bagian mana pun dari Kota Suci.
Bahkan, ini bukan
tempat yang layak dihuni manusia. Ini sudah seperti... ruang bos di dalam
sebuah dungeon──
──Aku akan
memberimu mimpi. Mimpi terburuk yang sangat luar biasa, hingga kamu akan merasa
lebih baik mati saja.
Kata-kata Alkasiel
terngiang kembali di otaknya bersamaan dengan rasa ngeri yang menjalar.
"Jangan
bercanda, apa ini benar-benar terjadi...!? Hei, keluarkan aku dari sini!! Kau melihatku dari
suatu tempat, kan!? Keluarkan akuuu!!"
Meski ruangan itu
sangat dingin hingga membuatnya menggigil, keringat lengket mulai membasahi
dahi Alphana.
Itu karena ia
telah memahami sepenuhnya apa yang sedang menantinya di wilayah terkutuk ini.
Hukum
sebab-akibat yang paling primitif di dunia. Ia akan merasakan nasib yang sama
dengan Silver Grey.
Artinya,
"ia" ada di ruangan ini. Monster yang ditakuti oleh semua petualang
sebagai Grim Reaper yang tidak boleh ditemui──
"────────aa,"
Saat itu, yang
dirasakan Alphana dari arah belakangnya adalah 'Kematian'.
Satu demi satu,
sensasi kehidupan lenyap.
Napasnya
terhenti, suhu tubuhnya menghilang, seluruh darah di tubuhnya membeku, tubuhnya
tidak bisa digerakkan sedikit pun, bahkan ia tidak tahu lagi apa yang terjadi
pada detak jantungnya.
Jika pandangan di
depan matanya hilang, maka selesailah sudah; semuanya akan tertutup kegelapan
pekat dan ia tidak akan pernah bisa kembali──sebuah ketakutan akan kematian
yang dipenuhi kesunyian yang tak tertahankan.
Meski seharusnya
ia tidak bisa menggerakkan satu jari pun atas kehendaknya sendiri, entah kenapa
kepalanya berputar dengan sendirinya untuk menoleh ke belakang.
"──Hi,"
Grim Reaper
(Sang Pencabut Nyawa).
Sosok yang
menyerupai bayangan perpaduan antara jubah compang-camping dan arwah.
Tubuh raksasa
seperti kegelapan itu sendiri yang mampu menelan manusia bulat-bulat, serta
sabit besar nan mengerikan yang merupakan wujud nyata dari keputusasaan.
Grim Reaper yang memetik nyawa para petualang.
Di balik tudung
yang menatap ke arah Alphana, semuanya hitam pekat.
Bukan karena
tersembunyi oleh bayangan. Di suatu sudut pikirannya, Alphana tersadar──ah, Grim
Reaper ini memang tidak memiliki 'wajah' sejak awal.
"Agakh──"
Mata kanannya
tertebas.
"Ghh...
AAAAAAAAAAAAAAAAKKKHHH!?"
Sambil
menekan darah segar yang menyembur, Alphana terguling ke belakang.
Indra-indranya yang sempat mati rasa kini menyerang secara bersamaan.
Rasa
sakit yang luar biasa, yang membuatnya yakin bahwa ia benar-benar telah
ditebas.
Dengan
pandangan yang tersisa separuh, ia melihat tangan kanannya; darah merah kental
menempel di sana seperti sebuah lelucon buruk.
"Gkh,
hha... hi,"
Meski
seluruh kesadarannya berteriak dengan suara keras untuk segera lari, tubuhnya
tidak bisa melakukan apa pun selain menggeliat kesakitan.
Perintah
otak untuk menggerakkan kedua kakinya terputus oleh rasa sakit yang seolah
membelah kepala.
"Ti-tidak...
ini, ini cuma mimpi, cuma mimpi,"
Alphana
mati-matian meyakinkan dirinya sendiri. Mustahil ini kenyataan.
Memindahkan
seseorang dari ruang sidang ke ruang lain yang berbeda total, lalu menyuruhnya
diserang oleh Grim Reaper, bahkan seorang Saintess pun tidak mungkin
bisa melakukannya. Wanita itu sendiri bilang ini mimpi, kan? Jadi ini pasti
bohong──
──Benarkah?
Rasa sakit luar
biasa dari mata kanan yang ditebas adalah nyata. Lendir dan kehangatan darah yang menempel di
tangannya adalah nyata.
Dingin yang
menusuk kulit seperti kutub adalah nyata. Keberadaan Grim Reaper yang mengerikan
adalah nyata.
Rasa
ngeri yang menggetarkan sumsum tulang belakangnya hingga hampir gila adalah
nyata.
Rasa sakit,
gemetar, panas, maupun ketakutan; semua yang ia rasakan adalah nyata tanpa
keraguan.
Kalau begitu,
kalau begitu jika ia terbunuh oleh Grim Reaper ini──.
"Ahahat...
ha, HAHAHAhaHah...!!"
Pada akhirnya,
yang bisa dilakukan Alphana saat merangkak di tanah hanyalah tertawa.
Mustahil baginya
untuk berpikir untuk bertarung atau melawan.
Mentalnya
langsung melewati batas ambang dalam sekejap, dan tidak ada pilihan lain selain
tertawa seperti orang yang sudah rusak.
"──Bohong,
ini pasti bohong, hal seperti ini... tidak mungkin bisa dihadapi oleh
manusia──"
──Grim Reaper
adalah keberadaan yang memberikan kematian penuh keputusasaan kepada petualang.
Karena itu, ia
tidak akan membunuh lawannya dengan mudah sebelum mereka merasakan keputusasaan
yang mendalam.
Ia akan menahan skill
kematian instannya yang kuat, memamerkan tubuhnya yang abadi sepuas hati, dan
menggunakan perbedaan kekuatan yang tidak masuk akal.
Ia akan memetik
nyawa korbannya, sambil mempermainkannya.
◆◇◆
Tubuh Alphana
yang tiba-tiba ambruk segera ditahan oleh seorang ksatria, yang kemudian
membaringkannya di lantai dengan gerakan yang terasa sedikit kasar.
Frixel
memperhatikan manik mata wanita itu yang terbuka hampa; segala cahayanya telah
sirna, seolah-olah dia hanyalah cangkang kosong setelah jiwanya direnggut
paksa.
Rex bertanya
dengan suara lirih, gurat penyesalan masih membekas tipis di wajahnya.
"Dia
itu……,"
"Cuma sedang
bermimpi. Yah, meski itu mimpi buruk yang bisa membunuhnya."
Pendar cahaya
dari rambut panjang Alkasiel perlahan memudar, dan sang Saintess kembali ke
sosok aslinya yang tampak sama sekali tidak punya semangat hidup. Dia
merebahkan diri dengan lunglai di dalam buaiannya.
"Haah,
capeknya……"
"Kerja
bagus, Alka."
Yulirias
memberikan apresiasi kepada rekannya dari posisi miring di bawah.
Sampai di titik
ini, Rex dan Dino pun pasti mau tidak mau sudah memahami betapa abnormalnya
sosok Saintess yang melayang di udara ini.
"Akhirnya
saya mengerti. Liontin yang Fuji-san gunakan pada kami waktu itu adalah……"
"Benar. Itu
adalah benda yang kupenuhi dengan 'doa' agar kalian cepat-cepat pulang ke Kota
Suci."
Hanya dengan
sebuah doa, benda itu berubah menjadi Magic Tool mengerikan yang mampu
membuat orang tunduk dengan mudah.
Memanipulasi hati
manusia hingga memperlihatkan ilusi yang mustahil sesuka hati──sebuah
penguasaan mental absolut yang membuat pesona milik Alphana tak lebih dari
sekadar tipuan anak kecil.
Itulah Otoritas Dewa,
wewenang suci yang menjadikan sosoknya sebagai Misfortune Saint.
Jika Otoritas
milik Yulirias sudah dianggap curang, maka milik Alkasiel benar-benar berada di
luar nalar dan konyol.
Secara ekstrem,
jika dia mau, dia bisa saja mengubah Frixel dan yang lainnya menjadi pelayan
setia Gereja dalam sekejap mata.
Rex tersenyum
kecut dan berujar.
"Kalau Anda
punya kemampuan itu, bukankah sejak awal Anda bisa memaksa kami mengaku?"
"Malas…….
Ini melelahkan tahu. Pakai sedikit saja, aku harus tidur berjam-jam…… huaah."
Alkasiel mengucek
kelopak matanya yang tampak sangat berat.
"Rekor
terlamaku, aku pernah tidur sampai sepuluh tahun lebih……"
"Se-sepuluh……!?"
"Makanya,
aku suka orang yang tidak membuatku repot. Kalau di Kota Suci banyak orang
seperti itu, aku tidak perlu pakai kekuatan ini. Aku benci orang yang hobi
bikin masalah…… seperti wanita ini."
Setelah si biang
keribut—Alphana—menjadi tenang, keheningan yang khidmat kembali menyelimuti
ruang sidang.
Frixel bertumpu
pada meja saksi dengan kedua tangannya, mati-matian menahan keinginan untuk
berjongkok dan berteriak sekeras mungkin.
Emosi yang campur
aduk antara amarah, kesedihan, dan penyesalan meluap bagaikan banjir bandang,
hingga rasanya dia ingin menangis saja sekalian.
"Benar-benar……
ini yang terburuk……!"
Dia
mengumpat dari lubuk hatinya. Segalanya terasa begitu rendah, dan dia hanya
didera rasa bersalah yang teramat sangat kepada anak-anak Silver Grey.
Hanya
karena alasan konyol seperti 'lelah dan bosan', mereka mengabaikan investigasi
Sertifikasi Penaklukan yang begitu krusial──hanya karena alasan serendah itu
Wolka terluka parah, dan masa depan anak-anak itu hancur.
Ini
terlalu buruk sampai-sampai tidak ada kata yang sanggup mewakilinya.
Jika mata
dan kakinya sendiri bisa menjadi pengganti, dia rasanya ingin mencongkel atau
memotongnya sekarang juga untuk diberikan kepada mereka.
"……Karena
orang yang berisik sudah tidur, ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada
kalian."
Frixel mengangkat
wajah saat mendengar suara bagai serbuk bintang milik Yulirias.
Mungkin karena
kekuatannya sudah tidak diperlukan lagi, manik matanya kini tertutup oleh
kelopak mata indah yang tampak seperti buatan.
"Kabarnya,
Wolka dari Silver Grey mengatakan ini terkait kecelakaan tersebut.
……Terlepas dari ada atau tidaknya kelalaian dalam Sertifikasi Penaklukan, dia
sama sekali tidak berniat menyalahkan kalian."
"──Eh?"
Rasa sesak seolah
sudah puluhan detik tidak bernapas menyerang Frixel.
Di tengah sensasi
darah yang serasa surut dari wajahnya, dia mencoba menghirup udara.
"……Apa
maksud Anda? Kenapa anak itu sampai bicara begitu?"
Fuji memang
pernah bilang──bahwa setelah menderita luka parah yang mempertaruhkan nyawa
pun, Wolka sama sekali tidak patah semangat, justru sedang berjuang keras agar
bisa segera kembali ke masyarakat.
Tapi Frixel
mengira itu adalah masalah yang berbeda dengan apakah dia membenci mereka atau
tidak.
Wolka adalah
korban yang hanya terseret masalah, jadi wajar saja jika dia menyimpan
kemarahan atau niat untuk menyalahkan, meski tidak sampai membenci.
Namun.
"Mengingat
monster yang menunggu di bagian terdalam dungeon adalah Grim Reaper,
pengorbanan tidak akan bisa terelakkan dalam bentuk apa pun. Karena itu, fakta
bahwa tidak ada nyawa yang terenggut dan hanya dibayar dengan satu mata serta
satu kakinya…… dia justru merasa itu adalah sebuah keberuntungan."
Apa yang
disampaikan Yulirias benar-benar tidak terdengar seperti kata-kata yang keluar
dari pemuda yang lebih muda darinya.
"Kudengar
dia kehilangan kedua orang tuanya sejak dini, menghabiskan waktu sejak kecil
untuk berlatih pedang, hingga dia sendiri mengakui bahwa hanya pedanglah
kelebihannya. Kehilangan satu mata dan satu kaki berarti jalan yang dia lalui
dan jalan yang akan dia tempuh, semuanya telah runtuh. ……Meski begitu, dia
bilang hasil ini adalah sebuah berkah. Anak yang baru berusia tujuh belas
tahun, mengatakan hal itu."
"……"
Pada saat itu,
rasa bersalah Frixel terhadap Wolka melampaui batasnya.
Melewati batas
itu, rasa bersalah itu berputar balik menjadi amarah yang meluap.
"──Apa-apaan
itu."
Ah, begitu
ya──dia berniat melindungi Frixel dan yang lainnya juga?
Melindungi
rekan-rekannya, membela Frixel dan kawan-kawan, lalu memikul semuanya
sendirian?
"Dengan
perasaan seperti apa dia mengucapkan kata-kata itu…… hal itu bahkan melampaui
imajinasiku."
Seandainya Frixel
berada di posisi pemuda itu, apakah dia sanggup mengatakan hal yang sama?
Kehilangan satu
mata dan satu kaki, merasakan penderitaan yang nyaris membunuhnya, dihadapkan
pada kenyataan kejam bahwa dia tidak bisa lagi menjalani hidup seperti
sebelumnya, melihat seluruh hasil kerja kerasnya runtuh begitu saja──namun
tetap sanggup bersitegas tidak membenci siapa pun, dan berkata syukurlah hanya
dia yang mengalami ini?
Perasaan macam
apa yang dibutuhkan agar bisa mengatakan hal itu?
Berapa banyak
emosi yang harus dia tekan sampai kata-kata itu bisa terucap?
(Apa-apaan
sih, sok keren begitu……!! Apa dia bodoh……!?)
Sulit dipercaya,
jangan bercanda, bukankah kamu sudah mempertaruhkan nyawa demi melindungi
rekan-rekanmu, bukankah itu sudah lebih dari cukup, kalau begitu setelahnya
tinggal salahkan saja semua pada orang dewasa, tidak apa-apa kalau kamu mau
melampiaskannya pada kami──begitulah kemarahannya.
……Sepertinya,
alasan mengapa dia harus bertemu pemuda itu bertambah satu lagi.
"Terakhir,
apakah ada yang ingin kalian sampaikan? Jika tidak, maka dengan ini kita akan
berlanjut ke tahap vonis."
"──Tunggu
dulu."
Dino, yang sedari
tadi terdiam terpukul karena syok, akhirnya angkat bicara.
Wajahnya bukan
lagi wajah pecundang yang terlena oleh wanita.
Dia
menatap Alkasiel dengan lurus dan kuat, seolah-olah sedang menantang dengan
amarah.
"Tolong
perlihatkan mimpi yang sama dengan Alphana padaku juga. ……Anda bisa
melakukannya, kan, Saintess-sama?"
"Ngh……?
……Yah, bisa saja sih."
Sambil
menahan kantuk, Alkasiel mengernyitkan dahi dengan curiga. Frixel yang terkejut
lantas bertanya.
"Kamu,
jangan bilang berniat pergi menyelamatkan Alphana──"
"Bukan
begitu!!"
Suara
keras dan tajam itu memotong ucapan Frixel secara tak terduga. Kepalan
tangannya bergetar hebat, bahkan terlihat jelas dari mata Frixel.
"Bukan itu!
……Kalau aku melihat mimpi yang sama, aku juga akan mengerti, kan. Aku jadi tahu
nasib mengerikan apa yang menimpa party itu gara-gara ulah kami,
kan?"
Seolah sedang
menantang dengan marah──tidak, kenyataannya dia memang sedang murka. Terutama
kepada dirinya sendiri yang telah menari-nari di atas telapak tangan Alphana
selama berbulan-bulan.
"──Kalau
begitu aku harus tahu, dong! Kalau aku bahkan tidak tahu soal itu…… gimana ya,
rasanya tidak adil, kan!"
……Di tengah
segala omong kosong yang dilontarkan Alphana, sebenarnya ada satu kalimat yang
tidak bisa dibantah mentah-mentah.
Yaitu, 'petualang
semuanya bodoh'──Alphana mungkin mengatakannya hanya untuk melampiaskan
kekesalan, tapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa jumlah mereka yang
mengandalkan otot tanpa pendidikan itu banyak.
Selama punya
kemampuan dan etika umum minimal, siapa pun bisa menghasilkan uang dengan
mempertaruhkan nyawa──begitulah profesi petualang.
Dan bicara soal
Dino, dia adalah pemimpin dari golongan 'hanya modal otot' itu.
Bahasanya kasar,
sifatnya berangasan, sikapnya buruk, dan tata kramanya nol besar.
Jika harus
menyebutkan kekurangannya, tidak akan ada habisnya, dan Frixel yakin dia bisa
mengkritik Dino semalam suntuk.
Tanpa basa-basi, Dino itu bodoh.
Tapi satu-satunya hal yang bisa dipuji darinya adalah,
terlepas dari segalanya, dia hidup dengan lurus tanpa pernah terjerumus dalam
kejahatan.
Meski sekarang
itu sudah jadi masa lalu setelah dia dipermainkan Alphana…… intinya Dino adalah
pria yang seperti itu.
"Begitu
ya."
Yulirias membuka
kelopak matanya, menatap Dino dengan tenang menggunakan Mata Bintangnya.
"Perlu
kusampaikan, penyesalan di saat seperti ini tidak akan meringankan hukuman,
tahu? Semuanya akan dijalankan sesuai aturan tanpa pengecualian."
"Bukan itu
tujuanku! ……Ah, maksud saya, bukan itu maksudnya."
"Fufu, tidak
perlu pakai bahasa formal juga aku tidak keberatan."
"──Alkasiel-sama,
saya juga mohon perlihatkan mimpi yang sama."
Lalu, Rex
mengikuti langkah Dino.
"Apa yang
Dino katakan itu benar. Kami bahkan tidak bisa membayangkan betapa
mengerikannya berhadapan dengan Grim Reaper itu…… jadi, tolonglah."
Rex adalah pria
yang mudah terbawa suasana dan bimbang meskipun posisinya adalah pemimpin.
Namun sisi
baiknya, itu berarti dia adalah orang baik yang bisa menghargai posisi dan
pendapat orang lain.
Karena itulah dia
menerima Alphana yang asing dengan tangan terbuka, dan jatuh ke dalam perangkap
pesona dengan sangat mudahnya.
Bisa
dibilang, dia bodoh dalam arti yang berbeda dengan Dino. Yang satu bodoh, yang
ini juga bodoh. Benar-benar, pria-pria di Flamberge semuanya cuma
kumpulan orang bodoh.
Tapi,
karena itulah.
"──Ya ampun,
mau bagaimana lagi ya. Kalau begitu aku juga akan ikut."
Akhirnya……
akhirnya, Frixel merasa dua orang yang dia kenal telah kembali.
Rex dan Dino
tampak panik secara kasat mata.
"Eh?
Tu-tunggu dulu Frixel, kamu tidak perlu ikut-ikutan! Ini adalah masalah yang
harus kami hadapi sendiri……!"
"Meskipun
cuma mimpi, lawannya itu Grim Reaper tahu!?"
"Aku tahu,
kok."
Sesekali
orang-orang ini bicara dengan benar──ya, mereka juga harus merasakan nasib yang
sama dengan Silver Grey.
Seberapa
menakutkan, seberapa sakit, dan seberapa menderita kejadian itu.
Frixel merasa
baru setelah memahami hal itu dengan tubuhnya sendiri, dia bisa melangkahkan
kaki menemui mereka.
Maka, dia
pun berujar sambil menyeringai.
"Aku
kan suka dengan anak-anak Silver Grey. Jadi aku tidak akan puas sebelum
memberi satu pukulan telak pada bajingan Grim Reaper yang menyiksa
mereka itu."
""……""
Seketika
itu juga Rex dan Dino mendadak tenang kembali, lalu berkali-kali melirik ke
arahnya dengan ekspresi yang sangat aneh. Saat Frixel merasa heran, Dino
berujar.
"……Hei,
Frixel. Aku sih tahu seleramu, tapi kalau seleranya anak sepuluh tahun lebih
muda, bukannya itu agak……"
"Kami tidak
punya hak untuk bicara sih…… tapi tolong jangan lakukan hal yang tidak sopan
pada mereka, ya?"
"Benar-benar
ya, kalian itu memang tidak punya hak untuk bicara……!!"
Sepertinya
sebelum melawan Grim Reaper , dia perlu memberi satu pukulan telak pada dua
orang di depannya ini.
Frixel bersumpah
akan membalas mereka nanti. Kalau di dalam mimpi, menghajar mereka sepuas hati
mungkin tidak akan dihitung, sepertinya.
Alkasiel menghela
napas.
"……Terserah
kalian saja. Jangan menyesal ya kalau nanti kapok."
Rex menjawab
sambil tersenyum kecut, entah kenapa dia tampak sedikit lebih lega.
"Kami
pergi justru untuk menyesal, kok."
"Kenapa kamu
malah sok keren begitu sih……"
"Bahkan aku
pun tahu ini bukan saatnya ngomong begitu tahu……"
"E-eh,
bukan begitu, aku tidak bermaksud sok keren, tahu!?"
"Duh, kalau
mau mulai cepatlah…… aku sudah mengantuk nih……"
Frixel dan yang
lainnya segera diam dengan patuh.
"……Kalau
begitu, ayo mulai."
Rambut panjang Alkasiel
kembali berkilauan dengan pendar cahaya biru pucat.
Tak lama
kemudian, sensasi seolah kesadarannya terpisah dari tubuh mulai menyebar, dan
dalam hitungan detik, Frixel benar-benar kehilangan kesadarannya.
Sambil
membayangkan sosok Silver Grey, dia berpikir dalam hati; begitu semua
ini selesai, aku pasti akan pergi menemui kalian.
◆◇◆
Setelah diam-diam
meninggalkan ruang sidang Katedral Agung dari balik altar hukum, terdapat ruang
tunggu eksklusif nan elegan bagi para Saintess yang terletak tak jauh dari
sana.
Sebenarnya,
ruangan ini diperuntukkan bagi Star Eye Saint untuk beristirahat sebelum atau
sesudah persidangan, namun saat ini Dia menggunakannya untuk menenangkan Anze
yang tidak mau berhenti menangis.
"──Iya, iya,
aku mengerti, jadi berhentilah menangis. Kamu ini benar-benar cengeng ya."
"Ta-tapi……!
Habisnya……!"
Aura berkat yang
biasanya bersinar terang entah hilang ke mana; Anze jatuh ke dalam kondisi
emosional yang tidak stabil sambil terus meneteskan air mata besar.
Sejak
melangkahkan kaki keluar dari ruang sidang, dia terus-menerus bersikap seperti
ini.
Dia berkali-kali
mengelus bahu Anze dengan lembut.
"Lihat,
Paman Tua sudah menyeduhkan teh untukmu. Ada camilan juga. Enak
lho?"
"Hiks, uuuu…… Wolka-samaaa……!!"
Di atas meja, teh dan camilan buatan Paman Tua sudah siaga
seolah berkata 'serahkan saja padaku', namun Anze hanya terus terisak tanpa
meliriknya sedikit pun.
Meski biasanya Anze adalah sosok yang paling terlihat
seperti Saintess di antara para Saintess lainnya, dia akan berubah menjadi
wanita biasa seperti ini hanya jika hal itu berkaitan dengan Wolka.
Yah, mau bagaimana lagi. Berkat rubah betina bernama Alphana
itu, persidangan tadi benar-benar terasa sangat memuakkan hingga sulit
ditoleransi.
Di hadapan Star Eyes milik Yuri yang tidak
mengizinkan alasan atau tipu muslihat apa pun, sesekali memang muncul tipe
orang yang menjadi putus asa dan akhirnya bertindak nekat seperti itu.
"Ya
ampun, benar-benar deh."
Selagi
dia terpaksa terus mengelus punggung Anze untuk menghiburnya, gagang pintu
berbunyi dan Roche kembali.
Zirah
ksatria suci miliknya yang terbuat dari perak bintang berkilau tanpa cacat,
disempurnakan dengan dekorasi merah dan emas yang memancarkan kewibawaan.
Dia yang biasanya berkeliling dengan kostum ksatria biasa, kali ini memancarkan aura kemuliaan yang sesuai dengan jabatannya.
"Sudah
kembali. Bagaimana hasilnya?"
Namun,
kata-kata itu hanya terucap sampai ia melangkah masuk ke ruangan ini.
Di depan
Dia dan Anze, ia kembali menjadi pria ramah yang santai seperti biasanya.
"Wanita itu
sepertinya sudah ditidurkan oleh Alka-sama. Katanya, biar dia merasakan
penderitaan yang sama dengan Wolka dan kawan-kawan sampai serasa ingin
mati."
"……Jangan-jangan,
maksudmu dia dipaksa bertarung melawan Grim Reaper di dalam mimpi?"
"Kemungkinan
besar begitu."
"Waduh,"
Dia meringis lebar, "seram banget. Itu pasti setengahnya karena dendam
pribadi. Dia juga tipe yang sangat pendendam, sih."
"Pihak
Katedral juga menghabiskan banyak tenaga dan biaya gara-gara kasus ini."
Dalam
persidangan kali ini, sosok yang paling tidak bisa memaafkan Flamberge
pastilah Anze.
Namun, si
'Putri Pemalas' alias Alka, meski bertindak sesuai nilai-nilainya sendiri,
sebenarnya juga sudah sangat naik pitam sejak awal.
Secara
spesifik, amarahnya bermakna: "Kalian tahu tidak, gara-gara kalian Kota
Suci jadi repot setengah mati?"
Kerugian
yang ditimbulkan oleh insiden Gouzel tidak hanya terbatas pada hilangnya
mata kanan dan kaki kiri Wolka.
Pada
dasarnya, sebuah dungeon sering kali tetap dikunjungi orang bahkan setelah bos
monsternya dikalahkan oleh petualang pemberani.
Entah itu
mereka yang ingin mencari harta karun sisa dengan aman, party pemula
yang menjadikannya tempat latihan, atau bahkan menjadi tempat wisata jika
pemandangannya indah.
Namun,
semua itu berdiri di atas kepercayaan yang disebut Sertifikasi Penaklukan.
Begitu insiden ini terbongkar, serbuan kecaman dan tuntutan penjelasan dari
para petualang membanjiri Perserikatan.
Wajar
saja. Sebab, 'tidak tertutup kemungkinan bahwa dungeon yang sering mereka
kunjungi ternyata belum benar-benar ditaklukkan, dan suatu hari nanti mereka
bisa saja mendadak bertemu bos monster lalu terbunuh'.
Untuk
mempertanggungjawabkan hal itu, penyelidikan ulang secara menyeluruh harus
dilakukan terhadap dungeon-dungeon utama di sekitar Kota Suci yang statusnya
sudah 'takluk'.
Meski
sekarang situasinya sudah mulai tenang, kala itu skalanya melampaui kemampuan
Perserikatan, hingga Katedral harus menggerakkan pasukan ksatria.
Namun,
menggerakkan ksatria itu tidak gratis. Menggerakkan orang berarti ada aliran
dana dan logistik yang terlibat; begitulah hukum dunia manusia.
Singkatnya,
kerugian finansial yang dialami Kota Suci akibat kekacauan ini membengkak
hingga tidak bisa ditutupi hanya dengan memeras denda dari Perserikatan atau Flamberge.
Itulah alasan
Alka sangat marah. Bagi Misfortune Saint, hal terpenting adalah keseharian yang
damai tanpa gangguan, di mana ia bisa tidur nyenyak di dalam buaiannya──hanya
itu.
Dia menduga,
alasan Alka sampai 'bermurah hati' membantu menangkap Flamberge adalah
karena ia tidak mau direpotkan lebih jauh lagi.
"Dengar
Anze, wanita sialan itu sedang dihukum oleh Alka. Katanya sekarang dia sedang
merasakan penderitaan yang nyaris mati."
"Hiks……"
Anze akhirnya
berhenti menangis. Ia menyeka air mata yang bening bagai mutiara dengan
jarinya.
"……Tadinya,
aku berniat menghormati perasaan Wolka-sama."
Perasaan
Wolka──bahwa dirinya sama sekali tidak berniat mendendam pada Flamberge,
dan baginya cukup jika mereka diadili dengan benar sesuai hukum.
Karena ini adalah
nasib buruk di mana seseorang pasti harus menjadi korban, fakta bahwa hanya
mata dan kakinya yang hilang justru dianggap sebagai keberuntungan, sebab nyawa
manusia tidak ada gantinya.
Kata-kata itu
kini kembali membebani hati Dia dan yang lainnya dengan berat yang tak terukur.
"Tapi, ini
sungguh keterlaluan……! Kenapa Wolka-sama harus kehilangan mata dan kakinya……!?
Hanya karena alasan sekonyol itu, kenapa Wolka-sama harus mengalami
ini……!!"
"……"
Jujur saja──akan
jauh lebih baik jika kelalaian Flamberge memiliki alasan tertentu, atau
jika ini murni kecelakaan tragis yang tak terhindarkan.
Setidaknya bagi
Anze, hal itu masih menyisakan ruang baginya untuk berdamai dengan keadaan.
Luka Wolka memang
sangat menyesakkan dan menyedihkan, tapi jika memang tidak ada pihak yang bisa
disalahkan, ia pasti bisa perlahan menata perasaannya dan melangkah maju.
Namun
kenyataannya tidak demikian.
──Mereka pulang
karena lelah, bosan, dan muak di tengah penyelidikan.
Toh, party
lain juga sering malas-malasan saat penyelidikan. Tidak adil kalau cuma dia yang diadili.
Gara-gara Wolka
selamat, aku jadi ikut repot. Seharusnya orang-orang dari Silver Grey
mati saja semuanya tanpa sisa──.
Sebagai tragedi
di mana orang terkasih kehilangan mata dan kaki, adakah ketidakadilan yang
lebih besar dari ini?
Anze mengatupkan
rahangnya begitu rapat hingga bahunya gemetar.
"Kenapa
hanya Wolka-sama yang harus menanggung beban seperti ini……!!"
Alih-alih mereda
setelah persidangan, kemarahan dan penyesalan Anze justru semakin dalam hingga
ke level yang tak terbayangkan.
Ia bahkan sampai
kesulitan mengendalikan emosinya sendiri, hingga nyaris memicu bangkitnya
kekuatan Heavenly Sword.
Dia pun bisa
memahami perasaan itu. Seorang pemuda yang meniti masa lalu kelam yang tak bisa
diceritakan pada siapa pun, pemuda yang memendam kekecewaan dan dendam besar
pada Dewa.
Namun, bahkan
kisah kepahlawanannya saat mempertaruhkan nyawa demi melindungi rekan-rekannya,
tak lebih dari sebuah absurditas yang dipicu oleh skenario terburuk bertajuk
'lelah dan bosan'.
Bahkan jalan
pedang yang menjadi tumpuan hatinya pun, gara-gara itu──.
"……Mungkin
di dalam hatinya, Wolka ingin memercayai Flamberge."
Kata-kata Roche
terdengar tenang di permukaan, namun matanya memiliki ketajaman seolah
tangannya sedang bersiap menghunus pedang.
"Bukannya
dia tidak mendendam, tapi mungkin dia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa
dia tidak ingin mendendam. ……Meski begitu, sepertinya perasaan Wolka sama
sekali tidak sampai ke hati wanita itu."
"……"
Dia mengembuskan
napas panjang yang suram, lalu menyandarkan tubuhnya dengan lunglai ke sofa.
Ia bergumam.
"Gimana
caranya menjelaskan hal ini pada Wolka-sama, ya……"
Seluruh tubuhnya
terasa berat. Mengambil tindakan hukum sesuai aturan seperti yang diinginkan
Wolka memang bukan masalah.
Namun, apakah dia
benar-benar bisa menerima kenyataan ini?
Sebuah bayangan
buruk melintas di kepala Dia──jika mengetahui kebenaran ini, jangan-jangan
kekecewaan Wolka terhadap dunia akan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa
diperbaiki lagi.
Apalagi, dia
adalah orang yang bisa dengan gamblang berujar "aku membenci Dewa "
semudah menghirup napas.
"Kita hanya
bisa menceritakan kebenaran dan terus mendukungnya."
"Iya……!"
Roche menegaskan
hal itu, dan Anze yang matanya masih berkaca-kata berujar layaknya sebuah
sumpah kepada Dewa.
"Aku pasti
akan mendukungnya……! Agar bisa menyembuhkan hati Wolka-sama meski hanya
sedikit, aku pasti, pasti akan memberikan seluruh jiwa dan ragaku……!"
"……"
Melihat Anze yang
emosinya meluap-luap tanpa henti, Dia tidak sanggup menegurnya untuk
"bersikap sewajarnya".
Bukan hanya
karena suasana yang tidak memungkinkan untuk bercanda, tapi karena Dia pun
merasakan hal yang sama.
Ia bergumam pelan
pada dirinya sendiri.
"……Untuk
sementara, sistem Sertifikasi Penaklukan harus ditinjau ulang."
"Benar……
demi mencegah kejadian serupa terulang, kita harus mendiskusikannya."
Toh, party
lain juga sering malas-malasan saat penyelidikan──sulit untuk sekadar menertawakan dan mengabaikan
kata-kata wanita itu.
Insiden kali ini
dengan jelas menunjukkan bahwa sistem yang ada sekarang terlalu bergantung pada
asumsi bahwa semua orang itu jujur.
"Hal itu
juga harus diselesaikan dengan benar, kalau tidak, kita tidak punya muka di
depan Wolka-sama. Meski rasanya malas harus bicara lagi dengan orang-orang dari
Seven Laws……"
"Ngomong-ngomong,
soal kasus kali ini, sepertinya Tuan Law of Genesis bersikap tenang
secara mengejutkan, ya."
Mendengar nama
yang paling tidak ingin ia dengar, wajah Dia langsung berkerut. Law of
Genesis, Elfiette──kursi kedua dari Seven Laws, sang penyihir agung
yang terus merevolusi teknologi sihir di negara ini, sekaligus seorang ateis
yang menentang keyakinan Gereja secara terang-terangan. Dia menghela napas.
"Ah. Aku
sudah minta padanya agar tidak memberi tahu Elfiette soal Wolka-sama."
"Heh."
"Aku cuma
bicara langsung dengan kursi pertama dan ketiga, sisanya aku tidak tahu."
Awalnya Dia
berniat untuk mengejek mereka habis-habisan, seperti "Lihat nih, monster
yang kalian lawan ramai-ramai bisa dikalahkan sendirian oleh
petualangku!".
Namun setelah
mengenal Wolka, ia justru berpikir bahwa informasi tentang pemuda itu tidak
boleh sampai ke telinga orang-orang yang merepotkan.
Dan pemimpin dari
daftar 'orang merepotkan' itu adalah Elfiette sang Law of Genesis.
"Hmm, jadi
mendapatkan kerja samanya memang tidak realistis, ya…… padahal kalau soal kaki
palsu Wolka, aku pikir dialah orangnya."
"Dia itu
tipe yang bahkan memodifikasi tubuhnya sendiri, sih. Aku mengerti
maksudmu."
Dia juga paham
rasionalitas dari ide membuatkan kaki palsu untuk Wolka melalui wanita itu.
Jika sudah bicara
soal teknologi sihir, mungkin tidak ada orang di negara ini yang bisa
menandinginya.
Namun itu hanya
berlaku jika kita menutup mata sekuat tenaga dari fakta bahwa dia adalah
pembuat masalah nomor satu di Ibu Kota.
"Tapi
lupakan saja, mustahil menjalin hubungan kerja sama dengannya. Paling-pilih,
dia cuma bakal memanfaatkan kita habis-habisan."
"……Aku
pernah dengar rumornya sih, tapi sepertinya dia memang orang yang sangat sulit
dihadapi, ya."
"Bukannya
sulit lagi……"
Saat Dewa
memberikan kehidupan pada manusia bernama Elfiette, Dia sepertinya melakukan
satu kesalahan fatal.
Sambil
menganugerahkan kejeniusan alami sebagai anak emas alat magis, Dewa lupa
memasukkan hal-hal seperti norma, etika, dan kesopanan ke dalam jiwanya.
Hasilnya, sejak
kecil hingga sekarang, dia adalah perwujudan dari sikap sewenang-wenang yang
kacau.
Kecuali pada
segelintir orang dekat, dia memandang rendah segala kehidupan di dunia ini
secara natural.
Bisa dibilang,
dia sadar betul bahwa dirinya adalah sosok yang spesial, lebih dari siapa pun.
Karena itu, dia
hanya bergerak sesuai nilai-nilainya sendiri dan terus mengubah teknologi sihir
sesuka hati tanpa mau diperintah oleh siapa pun.
Singkatnya, egois
adalah istilah yang paling tepat untuknya.
Seandainya saja
dia sedikit lebih mudah diajak bicara, hubungan antara 'sini' dan 'sana' pasti
tidak akan sekaku sekarang.
"Orang tipe
begitu biasanya bakal melakukan apa saja demi mendapatkan hal yang menarik
minatnya. Tidak menutup kemungkinan kan kalau Wolka-sama bakal jadi
incarannya?"
"Memang
benar juga, sih."
Elfiette tidak
akan puas sebelum mendapatkan hal yang menarik minatnya, bahkan jika itu adalah
sesama manusia. Dan dia tidak suka jika 'serangga' mengerumuni favoritnya.
Jika ada
petualang yang bisa mengalahkan monster yang biasanya harus dihadapi oleh tujuh
orang Seven Laws sekaligus──ada kemungkinan besar rasa penasarannya akan
tergelitik, dan jika itu terjadi, pasti akan pecah keributan yang merepotkan.
Mungkin kursi
pertama dan ketiga dari pihak sana juga bisa membayangkan hal itu dengan mudah,
sehingga mereka menerima pendapat Dia tanpa banyak perlawanan.
Karena itu,
Elfiette seharusnya sampai sekarang hanya tahu fakta bahwa 'telah terjadi
insiden Sertifikasi Penaklukan di Kota Suci'.
Namun, kecemasan
tetaplah besar.
Meski kursi
pertama dan ketiga adalah orang-orang yang bisa dipercaya, mungkinkah
terus-menerus menyembunyikan informasi dari sang penyihir agung terhebat di
negara ini?
Bagaimana jika
Elfiette, karena suatu hal, mengetahui keberadaan Wolka?
Bagaimana jika
dia mulai bergerak untuk menjadikan Wolka sebagai objek penelitian demi
mengusir hari-harinya yang membosankan──.
"……Hei,
Anze."
"Iya."
Kepada Anze yang
emosinya sepertinya sudah mulai mereda, Dia mencoba bertanya.
"Seandainya, ini cuma seandainya lho. Kalau wanita itu tahu soal Wolka-sama, lalu dia
bilang 'kirim dia ke Ibu Kota karena aku tertarik'──"
"Akan
kutolak mentah-mentah."
Jawabannya datang
seketika sebelum
Dia selesai
bicara. Anze
mengucapkannya sambil tetap tersenyum.
Dia pun berpikir
'sudah kuduga', lalu melanjutkan.
"……Tapi
kalau dia memakai cara paksa untuk membawa Wolka-sama?"
"Kalau itu
terjadi……"
Anze berpikir
sejenak, lalu menjawab dengan semangat yang imut.
"Aku juga
akan mencabut pedangku dan melindungi Wolka-sama dengan segenap
kekuatanku!"
"Be-begitu ya. Ahaha."
Sudut bibir Dia berkedut.
Jika Saint of the Heavenly Sword mencabut pedangnya,
itu adalah pernyataan perang menggunakan metode pertahanan level tertinggi di
Kota Suci.
──Perang antar kota antara Saint of the Heavenly Sword
melawan Misfortune Saint?
Tolonglah, jangan
sampai terjadi. Serius.
Merasakan masa
depan yang sepertinya akan benar-benar datang suatu saat nanti, sosok paling
menderita di antara para Saintess itu pun diam-diam merasakan sakit di
lambungnya.
◆◇◆
──Dan di Kawasan
Seiteigai yang mulai meredup oleh sinar matahari terbenam, saat persidangan
seharusnya sudah lama usai.
"Oi, oi, oi,
Wolka…… aku dengar rumornya, lho? Kekeke, ternyata mata kanan dan kaki kirimu
benar-benar tamat ya. Aduh, kasihan sekali, padahal kamu petualang peringkat A
yang punya masa depan cerah, tapi malah jadi begini!"
Aku, entah
kenapa, sedang dihadang oleh seorang pemabuk.
Kenapa jadi begini, sih!



Post a Comment