Chapter 2
Kehidupan Hunter Kuruto
Aku—Yurishia—sempat
tertegun, tidak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi.
Padahal
Wyvern itu baru saja menyambar dan membawa lari Kuruto.
Namun,
tubuhku bergerak lebih cepat dari pikiran.
Aku
menghunus pedang kesayanganku, Setsuka, dan mencoba menebas Wyvern itu.
Sayangnya,
makhluk itu berkelit, lalu kepakan sayapnya membawanya melesat tinggi ke
angkasa.
"Akuri!
Teleport aku ke posisi Wyvern itu!"
"Enggak
bisa, Mama Eulis! Mustahil melakukan Teleport ke Wyvern yang sedang
bergerak. Meleset sedikit
saja, Mama bisa jatuh!"
"Meski
begitu, cepat lakukan Teleport—"
Kuruto
diculik gara-gara kesalahanku yang sangat fatal.
Terlalu
sering bersama Kuruto membuatku terbiasa dengan kedatangan naga saat sedang
memasak. Aku jadi terlalu
santai sampai kewaspadaanku terbang entah ke mana.
Padahal aku tahu
kalau Wyvern dan naga itu secara teknis adalah spesies yang berbeda.
"Tolong
tenanglah. Akuri sudah bilang, 'kan, kalau gagal kalian bisa mati!"
"Tapi—cih."
Aku
mendecak saat melihat wajah Lise.
Melihat Lise
yang memasang ekspresi seolah dunia akan kiamat namun tetap berusaha bertindak
tenang, membuatku merasa malu karena sempat kehilangan kendali.
Sosok
Wyvern itu sudah tidak terlihat lagi.
Mengejarnya
dengan Teleport Akuri pun mustahil dilakukan.
"Menggunakan
Teleport untuk menjemput kuda yang lari cepat lalu mengejarnya... juga
tidak mungkin, ya."
"Ya, tanpa Kuruto,
kita tidak bisa menyesuaikan alat penyerap Miasma. Ada risiko kuda-kuda itu
malah berubah jadi monster. Akuri, apa kamu bisa membawa kapal terbang ke
sini?"
Aku bertanya pada
Akuri, menggantungkan secercah harapan terakhir padanya.
Jika ada kapal
terbang, menemukan sarang Wyvern pasti akan mudah.
"Benda
sebesar itu tidak bisa di-Teleport. Lagipula, alat sihir seperti itu
berisiko mengamuk di dunia yang penuh Miasma ini, jadi menurutku tidak bisa
digunakan."
"Kalau
begitu, mari kembali ke distrik permukiman untuk mencari informasi tentang
Wyvern."
Jika
daging monster dijual di pasar, pasti ada orang-orang seperti petualang yang
memburunya.
Mereka mungkin
tahu di mana letak sarang Wyvern.
Dan juga—
"Nietzsche. Kuruto
masih membawa dahanmu, 'kan?"
Nietzsche
mengangguk pelan.
"Sebagai
sesama dahan, bukankah kamu bisa merasakan lokasinya melalui ikatan
batin?"
"Mohon maaf,
saya tidak bisa mendeteksi lokasinya. Namun, jika Kuruto-sama menanam dahan itu
dan memanggil saya, saya bisa menjalin komunikasi dengannya."
Berarti, tidak
ada pilihan selain berharap Kuruto bisa meloloskan diri dengan kekuatannya
sendiri.
Kuruto hanya
memiliki Combat Aptitude peringkat G Rank, jadi melarikan diri
dengan bertarung mungkin akan sulit baginya.
Tapi jika tujuan
Wyvern itu adalah untuk memakannya, Kuruto pasti setidaknya bisa memasak di
depan makhluk itu dan menjinakkannya dengan makanan.
Dia juga bisa
saja mencampurkan obat tidur ke dalam makanan itu.
Kurasa dia tidak
akan sebodoh itu dengan menyerang kaki Wyvern saat sedang terbang—karena itu
hanya akan membuatnya jatuh dan hancur menghantam tanah.
"Tetaplah
selamat—Kuruto."
◆◇◆
Setelah berhasil
meloloskan diri dari Wyvern, aku—Kuruto—sampai di sebuah distrik permukiman
bersama Mire-san yang kutemui secara tidak sengaja.
Aku harus
mengabari Yurishia-san dan Lise-san kalau aku baik-baik saja.
Untuk itu,
awalnya aku ingin menanam dahan Nietzsche-san dan menghubunginya, tapi jika aku
bertindak sendirian di sini, mereka akan curiga.
Aku sadar betul
dengan kemampuanku sendiri. Jika Mire-san mencurigaiku dan meninggalkanku di
sini, akan sulit bagiku untuk sampai ke distrik permukiman dengan selamat.
Bahkan jika aku
menanam dahan Nietzsche-san sekarang, proses menyambungkan nadi bumi memakan
waktu, jadi Akuri tidak akan bisa langsung melakukan Teleport.
Terlebih lagi,
ada kemungkinan Yurishia-san dan yang lain sudah meninggalkan tempat mereka
menanam pohon Nietzsche karena sedang mengejarku, sehingga komunikasi tidak
bisa langsung terjalin.
Karena itu,
pilihan terbaik yang bisa kuambil sekarang adalah tidak bertindak mencurigakan.
Aku memantapkan
tekadku.
"Kuruto,
kamu tidak apa-apa?"
"……!? Iya,
aku tidak apa-apa."
"……Begitu
ya."
Mire-san
menatapku dengan mata hitamnya yang jernih.
Entah kenapa aku
merasa Mire-san sedang mencurigaiku.
Tapi, aku merasa
dia sangat baik karena tetap mempedulikanku yang sedang murung karena terpisah
dari teman-teman.
Pikirku sembari
menggendong Wild Boar seberat dua ratus kilogram.
"Distrik
permukimannya sudah dekat. Distrik Permukiman ke-536."
"Distrik
Permukiman ke-536, ya. Ngomong-ngomong, apakah angka pada distrik ini memiliki
arti tertentu?"
"Aku
pernah dengar dari orang Karavan Transportasi, katanya tidak ada artinya. Dulu
sekali, distrik permukiman punya nama seperti manusia, tapi nama-nama itu
dilarang digunakan karena akan dipakai untuk nama kota di Dunia Baru."
"Orang-orang
yang pindah ke sana melarang kami menggunakannya, dan sebagai gantinya kami
diberi angka acak. Astaga,
mereka pikir tempat tinggal kami ini apa..."
Mire-san
mengatakannya dengan nada benci.
Sepertinya
Mire-san menyebut orang-orang yang pindah itu sebagai 'Para Penyeberang', dan
dia benar-benar menaruh dendam pada mereka.
Namun, melihat
daratan gersang yang bahkan hampir tidak ditumbuhi rumput ini, aku bisa
memahami perasaan bencinya.
Ini bukan dunia
yang layak ditinggali makhluk hidup secara normal.
Manusia bisa
bertahan hidup di sini mungkin karena adanya monster yang tercipta dari Miasma,
seperti Wild Boar ini, sehingga mereka bisa menjadikannya bahan pangan.
Monster tabu yang
membawa dunia menuju kehancuran—ironisnya, orang-orang yang tertinggal di Dunia
Lama justru tidak bisa hidup tanpa kekuatan Miasma yang disebarkan oleh monster
tersebut.
Sungguh sebuah
ironi yang luar biasa.
Hari sudah
beranjak sore saat kami tiba di Distrik Permukiman ke-536.
Di langit yang
berkabut, aku tidak bisa melihat di mana letak matahari, tapi seluruh langit
bersinar dengan warna emas yang indah.
Ukuran distrik
ini sepertinya tidak jauh berbeda dengan Distrik Permukiman ke-257 yang baru
saja kukunjungi.
Dan seperti yang
kuduga, ada penjaga di pos pemeriksaan pintu masuk.
Seorang
pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan wibawa seperti seorang veteran.
"Mire,
siapa itu?"
Mire-san
menyerahkan masker penyerap Miasma-nya kepada penjaga itu, lalu menjawab.
"Pengelana
yang jatuh setelah dicengkeram Wyvern, namanya Kuruto. Tenaganya kuat,
jadi aku minta tolong dia membantuku membawa Wild Boar ini."
"Selain kuat, dia juga punya alat penyerap Miasma yang
belum pernah kulihat. Katanya dia
bisa jalan-jalan di luar tanpa perlu pakai masker."
"Dicengkeram
Wyvern? Apa dia mengalahkan Wyvern itu?"
"Enggak, dia
cuma dicengkeram dan dibawa terbang, tapi dia berhasil meloloskan diri sendiri.
Ah, tapi jangan berharap banyak soal kemampuan bertarungnya. Aku melihat
caranya saat meloloskan diri tadi, dia sepertinya sama sekali tidak terbiasa
bertarung."
Memang benar
kalau aku tidak kuat, tapi mendengarnya langsung tetap saja membuatku sedikit
sakit hati.
Penjaga itu
menatapku seolah sedang menaksir hargaku.
"Bukan
orang buangan, 'kan? Di distrik kami tidak ada jatah untuk imigran baru. Kami
sudah cukup pusing menerima keluhan dari pasangan suami-istri yang dilarang
punya anak."
"Dia
cuma numpang tinggal sementara sampai Karavan Transportasi datang. Katanya dia
ingin pergi ke Distrik Permukiman ke-38 untuk menyusul teman-temannya."
"……Kalau
begitu dia benar-benar bukan orang buangan. Tidak mungkin orang buangan sengaja
ingin pergi ke tempat seperti itu."
Setelah
mengatakan itu, penjaga tersebut menatapku dan tampak puas dengan suatu
kesimpulan di kepalanya.
Katanya di sana
ada tempat penahanan narapidana, apakah itu berarti tempat itu punya tingkat
keamanan yang buruk?
"Appraisal…… Tidak ada catatan hukuman atau
pelanggaran. Nak, siapa namamu?"
"Nama saya Kuruto Rockhans."
"Begitu ya. Untuk sementara aku izinkan kamu masuk,
tapi untuk izin tinggal resmi, mintalah pada Kepala Distrik."
"Selain itu, aku tidak tahu bagaimana aturan di distrik
asalmu, tapi selama kamu tinggal di sini, kamu harus mematuhi peraturan kami. Mire akan menjelaskan detailnya nanti,
tapi kalau kamu melanggar, meski kamu pengelana, kami akan menangkapmu. Jika
orang luar melakukan kejahatan, mereka akan dicap sebagai kriminal dan
diasingkan ke luar distrik."
"Baik,
saya mengerti."
Di mana
bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Sebenarnya
dengan statusku sekarang, aku memiliki hak istimewa bangsawan di Dunia Baru
sehingga tidak perlu mematuhi aturan semacam ini, tapi dulu hal seperti ini
adalah kewajaran.
Bukan
hanya antarnegara, setiap wilayah pun memiliki peraturan yang berbeda-beda, dan
sudah menjadi tradisi bagi pengelana untuk mematuhinya.
"Ah,
satu lagi. Ada aturan pajak masuk bagi orang selain Karavan Transportasi. Apa
kamu punya uang? Kalau tidak ada, kamu harus bekerja untuk melunasinya."
"Berapa biayanya?"
"Tiga puluh ribu Port."
"Kalau
segitu, saya bisa bayar."
Aku hendak
mengeluarkan uang dari Magic Bag, tapi tanganku terhenti saat menyadari
sesuatu yang sangat penting.
"Kenapa?
Ternyata tidak punya uang?"
"Saya baru
sadar kalau semua uang milik teman-teman saya, saya yang membawanya. Saya jadi
khawatir mereka akan kesulitan karena saya menghilang."
Aku mengeluarkan
tiga lembar uang sepuluh ribu Port dari tas dan menyerahkannya kepada penjaga.
"Bukankah
kamu malah beruntung? Kalau itu benar, teman-temanmu pasti akan berusaha
mati-matian untuk menemukanmu, 'kan?"
"Benar juga,
ya."
Kuyakin mereka
bertiga akan mencariku meski aku tidak membawa uang mereka, tapi karena bagi
petualang pada umumnya hal itu masuk akal, aku pun menyetujuinya.
Aku memasuki
distrik permukiman.
Katanya populasi
di distrik ini sekitar dua ratus orang.
Tanaman utama
yang ditanam di sini sepertinya adalah kentang.
Mungkin karena
jumlah kalori yang dihasilkan per luas lahan lebih banyak daripada gandum.
Meskipun
jumlahnya tidak sebanyak kentang, mereka juga menanam padi. Karena mereka
memompa air tanah dalam jumlah besar, menanam padi pun jadi memungkinkan.
Orang-orang
yang sedang bekerja di ladang melambaikan tangan saat melihat Mire-san.
Mire-san
pun membalas lambaian mereka.
"Distrik
yang bagus, 'kan? Orangnya sedikit, tapi alamnya asri. Lagipula, orang tua di
sini tidak akan dibunuh meski sudah tidak sanggup bekerja lagi."
Mire-san
mengatakan itu sambil tersenyum.
Karena
saat makan tadi dia tetap memakai masker setengah wajah, ini pertama kalinya
aku melihat wajahnya secara utuh.
"Kenapa?"
"Ah,
tidak, ternyata wajah Mire-san seperti itu, ya."
Warna
rambut, mata, dan kulitnya berbeda dengan orang-orang di distrik ini.
Apakah dia mirip dengan Danzo-san?
Jika menelusuri
leluhurnya, mungkin mereka berasal dari etnis yang sama.
"Orang-orang
bilang aku terlihat lebih cantik saat pakai masker. Apa kamu kecewa?"
"……?
Menurutku Mire-san lebih cantik kalau tidak pakai masker, kok?"
Mendengar
ucapanku, Mire-san memasang wajah tidak senang.
"Jangan-jangan
kamu sedang mencoba merayuku? Kalau iya, maaf saja, aku tidak tertarik pada
laki-laki lemah."
"Eh,
bukan begitu maksud saya—saya sudah punya tunangan, kok."
"Eh? Kamu
sudah punya tunangan? Jangan-jangan
orang yang pergi bersamamu itu...?"
Mire-san
bertanya balik dengan ekspresi terkejut yang tulus.
"Iya,
benar."
"Begitu
ya. Tunangan, ya. Kalau begitu, semoga kamu bisa cepat bertemu mereka
kembali."
"Iya!"
Ternyata
Mire-san benar-benar orang yang baik.
Aku
merasa bersyukur atas pertemuan ini.
Di pusat
distrik, terdapat sebuah bangunan besar. Sepertinya ini adalah Hunter
Guild.
Mire-san memberitahuku bahwa di distrik ini, organisasi
bernama Hunter Guild—yang mirip dengan Adventurer Guild—memegang berbagai peran
seperti eksekutif, yudikatif, hingga legislatif.
Namun, Guild Master dari Hunter Guild dipilih melalui
pemungutan suara oleh seluruh penduduk distrik, itulah alasan mengapa sistemnya
tidak berubah menjadi kediktatoran.
Oleh karena itu, Guild Master Hunter Guild juga merangkap
jabatan sebagai Kepala Distrik.
Saat memasuki bangunan, orang-orang yang tampak seperti
Hunter menatap tajam ke arah kami, namun ekspresi mereka langsung berubah saat
melihat apa yang kupanggul di punggung.
Tentu saja, mereka pasti terkejut melihat Wild Boar hasil
buruan Mire-san yang begitu luar biasa.
Ukurannya kira-kira lima puluh persen lebih besar daripada
Wild Boar yang aku tahu.
"(Oi, lihat
anak itu. Siapa dia? Belum pernah lihat, tapi dia menggendong Wild Boar
dengan entengnya.)"
"(Apa dia punya Skill Physical Reinforcement? Tapi dengan Support Aptitude
biasa, mustahil bisa mengangkat beban seberat itu.)"
"(Kelihatannya
cuma bocah krempeng, tapi sepertinya lebih baik jangan cari gara-gara
dengannya.)"
Semua
orang melihat ke arahku sambil berbisik-bisik.
Aku tahu mereka
salah paham, tapi aku merasa malu karena menjadi pusat perhatian.
Aku sedikit
menundukkan wajah dan menurunkan Wild Boar itu.
"Selamat
datang kembali, Mire-san—wah, ini tangkapan besar lagi! Hebat sekali kamu bisa
membawanya sampai sini."
Seorang staf
Guild wanita muda berkacamata berseru kaget.
Setelah beberapa
staf lain datang untuk mengangkut Wild Boar tersebut, pandangannya beralih
dariku ke arah Kuruto.
"Anda pasti
Tuan Kuruto Rockhans. Saya sudah mendengar ceritanya. Anda hanya akan tinggal
sementara sampai Karavan Transportasi datang, benar?"
"Iya."
"Di kota ini
tidak ada penginapan. Tidak ada tamu selain Karavan Transportasi, dan mereka
semua tidur di kereta barang mereka. Sebagai gantinya, ada tempat tidur kosong
di ruang perawatan Hunter Guild, Anda boleh menggunakannya."
"Terima
kasih banyak."
Sebenarnya
asalkan ada tempat untuk berteduh dari hujan dan angin aku sudah bersyukur,
jadi aku akan menerima kebaikan hati mereka.
"Namun,
karena ini adalah organisasi bantuan bersama para Hunter, Tuan Kuruto
diwajibkan untuk mendaftar sebagai Hunter selama menunggu karavan datang, dan
menjalankan tugas-tugas yang kami berikan... apakah Anda bersedia? Tentu saja,
kami akan memberikan upah secara terpisah."
"Eh? Boleh,
kah!?"
Aku merasa tidak
enak jika menumpang secara cuma-cuma, tapi mereka malah memberiku pekerjaan.
Apakah
benar-benar tidak apa-apa?
"Ngomong-ngomong,
Tuan Kuruto punya keahlian apa? Seperti Skill, misalnya?"
Apakah ini
semacam wawancara?
Aku merasa
orang-orang di sekitar sedang memasang telinga, mungkin karena pengelana adalah
hal yang langka bagi mereka.
Keahlian yang
kupunya paling-paling cuma membawakan barang atau pekerjaan serabutan, aku
tidak punya kepercayaan diri selain itu.
Tapi, sekarang
berbeda.
Sejak bekerja di
bengkel, aku mulai memiliki kepercayaan diri.
Oleh karena itu,
aku mengatakannya dengan lantang.
"Keahlian saya adalah memasak dan bersih-bersih!"
“““Kandidat istri idaman banget, sih!”””
Suara-suara
seru menyambar dari sekeliling.
“(Boleh juga, nih.)”
Saat
seseorang bergumam pelan di belakangku, rasa merinding menjalar di punggung.
Aku tidak
mendengarnya dengan jelas, tapi mungkinkah itu sejenis kutukan?
Apakah di
Hunter Guild ada tradisi melemparkan kutukan kepada Hunter pemula untuk menguji
Curse Resistance mereka?
"Kuruto-san,
selain itu apa lagi keahlianmu?"
"Eks,
anu, aku juga ahli dalam Mining."
Waktu
Mimiko-san melihat bakatku, kalau tidak salah memasak, bersih-bersih, dan Mining
semuanya mendapat peringkat B Rank.
"Bagaimana dengan Skill Aptitude-mu?"
"Skill Aptitude—maaf, aku belum pernah
mengukurnya jadi aku tidak tahu."
"Ah, begitu ya? Yah, memang ada beberapa distrik
permukiman yang tidak punya alat ukur, sih."
"Kalau
begitu, Mire-san, maaf merepotkan. Tolong urus prosedur penjualan Wild
Boar-nya di tempat penjagalan, ya."
"Oke, mengerti. Kuruto, semangat ya."
Beberapa staf Guild menaikkan Wild Boar ke atas kereta
dorong, lalu pergi ke luar bersama Mire-san.
Setelah itu, aku berbicara dengan resepsionis wanita di
sana.
Resepsionis ini entah kenapa suasananya mirip dengan
Kirschel-san—resepsionis di Halo-Halo Work Station yang dulu pernah membantuku.
Ngomong-ngomong, kudengar Kirschel-san dipindahtugaskan ke
bank, apa dia baik-baik saja ya?
Waktu aku bertanya pada staf yang sekarang bekerja di
Halo-Halo Work Station cabang Valha, katanya itu adalah promosi jabatan yang
berkedok pindah tugas, jadi harusnya tidak ada masalah.
"Kuruto-san, ini adalah Magic Stone untuk mengukur Skill
Aptitude."
"Nilai kecocokan bisa diukur dari F Rank sampai SS
Rank. Silakan pasang di gelang ini untuk menggunakannya."
Rasanya benar-benar mirip tes kecocokan di Halo-Halo Work
Station—pikirku.
Katanya,
begitu dipasang di gelang, alatnya akan otomatis bersinar.
Peringkatnya
bisa diketahui dari warna cahaya tersebut.
"Baiklah, mari kita mulai dari pengukuran Skill Physical
Reinforcement."
"Baik."
Pengukuran
Skill Aptitude pun dimulai—dan hasilnya, tidak terjadi apa-apa.
Resepsionis
itu mencoba mengganti gelang milikku dengan gelang milik Guild, tapi tetap
tidak ada reaksi.
Bahkan
saat menggunakan Magic Stone pengukur lainnya pun, hasilnya tetap nihil.
"Kuruto-san, ini adalah Magic Stone Ironization.
Bisa tolong dicoba?"
"Baik...... anu, bagaimana cara pakainya?"
Lise-san menggunakannya seolah itu hal yang alami, tapi aku
tidak tahu cara memicu Skill.
Aku
mencoba mengerahkan tenaga sekuat tenaga.
"Ah,
Skill-nya aktif, kok."
"Eh?
Benarkah?"
"Lihat,
di ujung jari ini—warnanya jadi sedikit hitam."
"............"
Seingatku tidak
ada tahi lalat di bagian sini.
Saat aku
menyentuhnya dengan tangan satunya, rasanya sedikit aneh, seperti ada benda
asing.
Jadi bagian ini
sudah berubah menjadi besi, ya.
"Sepertinya
alat ukurnya tidak bermasalah. Mari kita lanjutkan pengukurannya."
Sambil berkata
begitu, dia terus mengganti Magic Stone satu per satu untuk mengukur Skill-ku.
Hasilnya, alat
ukur itu tidak bereaksi sama sekali terhadap Magic Stone mana pun.
"Anu,
bagaimana dengan kecocokanku?"
"Sepertinya,
semua Skill Aptitude milik Kuruto-san berada di bawah F Rank—alias
peringkat G Rank."
Apakah karena aku
berasal dari dunia yang berbeda, jadinya aku tidak punya bakat Skill?
Pikirku begitu,
tapi sepertinya di dunia ini pun ada cukup banyak orang yang tidak memiliki
bakat Skill.
Resepsionis itu
tidak tampak terkejut ataupun merasa kasihan, dia terus mengisi dokumen dengan
tenang.
Dari sekeliling,
terdengar suara-suara kecewa seperti, "Apa-apaan, ternyata cuma G Rank."
Aku jadi teringat
saat pertama kali menjalani tes kecocokan di Halo-Halo Work Station.
Waktu itu pun,
semua bakat tipe tempurku memang G Rank.
"(Eh, tunggu
sebentar! Aku baru sadar, berarti anak itu menggendong Wild Boar tadi tanpa
menggunakan Skill? Tenaga macam apa itu?)"
"(Cih, aku
sudah menyimpulkan logika itu tepat saat hasil Skill Aptitude-nya
dinyatakan G Rank.)"
"(Kalau soal
itu, aku sudah menyadari dari awal kalau dia menggendong Wild Boar tanpa Skill,
tahu.)"
"(Bohong banget.)"
"(......Boleh...... juga, nih.)"
Lagi-lagi
rasa merinding menjalar di tubuhku.
Jika ini
adalah firasat buruk, aku jadi khawatir pada Yurishia-san dan yang lain.
Tapi, aku
harus mengkhawatirkan diriku sendiri dulu.
Kalau aku
tidak bisa bekerja, aku tidak akan bisa menginap di Hunter Guild—tidak mungkin
begitu, kan?
"Meski
tidak punya Skill, tetap ada pekerjaan, kok. Jadi tenang saja dan silakan
beristirahat untuk hari ini."
"............Baik."
Kalau
diingat-ingat, Kirschel-san juga pernah memperkenalkan pekerjaan padaku seperti
ini.
Waktu itu
aku dipecat dari proyek konstruksi hanya dalam tiga hari, kali ini aku harus
berjuang lebih keras.
"Kalau
begitu, saya akan antar ke kamar. Silakan istirahat. Mungkin kamarnya agak
sempit dan kurang nyaman."
"Terima
kasih banyak."
Kamar yang
ditunjukkan memang sempit seperti kata resepsionis tadi, sebuah kamar sederhana
yang hanya berisi tempat tidur.
Akhir-akhir ini
aku sering tidur di ranjang mewah di bengkel, tapi dulu saat masih di Dragon's
Flame Fang, aku sering diusir oleh Golnova-san dari kamar laki-laki.
Saat menyewa
kereta, aku juga tidur di bak kereta, jadi menurutku ini sudah termasuk
fasilitas yang mewah.
"Kalau
begitu, saya akan panggil lagi jika perhitungan pembayaran Wild Boar-nya sudah
selesai."
"Terima
kasih atas segalanya."
"Ini sudah
bagian dari pekerjaan saya."
Resepsionis itu
memberikan senyum bisnis yang manis sebelum pergi.
Akhirnya aku bisa
sendirian.
Sebelum
beristirahat, aku mengeluarkan barang-barang yang diperlukan dari Magic Bag
untuk memanggil Nietzsche-san.
Pertama adalah
tanah liat.
Aku meremasnya
hingga membentuk sebuah pot tanaman.
Di dalamnya aku
masukkan tanah dan sedikit pupuk dari kotoran naga.
Jika terlalu
banyak pupuk, pohonnya bisa tumbuh terlalu besar hingga menjebol pot.
Segini kurasa
cukup.
Aku menancapkan
dahan ke tanah dan memberinya air.
Dahan itu tumbuh
sedikit.
Ukurannya pas
untuk masuk ke dalam pot.
Kudengar di
negara asal Danzo-san, pohon dalam pot seperti ini disebut Bonsai, dan
populer di kalangan orang kaya.
"Nietzsche-san, apa kau mendengarku? Jika dengar,
tolong jawab."
Aku berbicara
pada pohon itu.
Tidak ada reaksi.
Apakah aku harus
membuatnya lebih besar lagi?
Sesaat setelah
aku berpikir begitu, sebuah tangan kecil muncul dari pangkal pohon.
Tangan yang jauh
lebih kecil dari Akuri itu mencengkeram tanah dan merangkak keluar.
Yang muncul
adalah sosok Nietzsche-san dengan tinggi sekitar sepuluh sentimeter.
Dia menyandarkan
tangannya di tepi pot sambil terengah-engah.
"......Kuruto-sama,
Anda selamat?"
"Nietzsche-san
sendiri apa tidak apa-apa? Apakah mustahil untuk mewujudkan diri dalam ukuran
biasa jika hanya menggunakan pot tanaman?"
"Ukurannya
kecil karena dahannya belum tumbuh sempurna, tapi aku merasa lelah karena
tempat ini berada di dalam segel."
"Sepertinya,
segel di distrik permukiman ini hampir tidak dilewati nadi bumi. Karena itu,
energi dari luar tidak bisa masuk."
"Berarti
jika berada di dalam distrik, akan sulit bagi Akuri dan yang lain untuk
melakukan Teleport ke sini?"
"Begitulah.
Jika ingin melakukan Teleport, tolong tanam di luar distrik
permukiman."
"Lagipula,
saat ini mereka tidak ada di dekat sini, jadi komunikasi tidak bisa
terhubung."
"Eh?
Semuanya pergi ke mana?"
"Karena
informasi tentang sarang Wyvern sudah didapat, mereka pergi ke sana."
"Mereka
bilang akan kembali paling lambat besok, jadi jika ada kontak dari Kuruto-sama,
mereka berpesan agar Anda menunggu di tempat yang aman."
Kecepatan bertindak Yurishia-san sebagai petualang malah
berbuah simalakama.
Haruskah aku langsung menanam dahan Nietzsche-san tadi tanpa
memedulikan kecurigaan Mire-san?
Atau mungkin
lebih baik jika aku jujur saja menceritakan semuanya.
Aku memberi tahu
Nietzsche-san nomor distrik tempatku berada, agar dia bisa menghubungi Yurishia-san
dan yang lain saat mereka kembali.
Tentu saja, jika
ada kesempatan keluar dari distrik, aku akan mencoba menanam dahan
Nietzsche-san yang baru di sana.
Tepat
saat aku berpikir begitu.
"—! Kuruto-sama,
mohon maaf!"
Nietzsche-san
berkata begitu lalu menyelinap masuk ke dalam bajuku.
Sebelum
aku sempat bereaksi terhadap kejadian mendadak itu—
"Kuruto,
ada di dalam?"
Mire-san
mengetuk pintu dan bertanya.
Sepertinya
Nietzsche-san menyadari keberadaan Mire-san dan langsung bersembunyi.
Padahal
aku sendiri bahkan tidak mendengar suara langkah kakinya.
"Iya,
ada."
Saat aku menjawab
dan membuka pintu, Mire-san tampak sangat gembira.
"Tadi perhitungan Wild Boar-nya sudah selesai. Aku
sudah menerima biaya pembasmian monster dan uang penjualannya."
"Total uang penjualan kulit dan dagingnya, setelah
dipotong biaya jagal, adalah delapan puluh ribu Port."
Sambil berkata begitu, Mire-san menunjukkan delapan lembar
uang sepuluh ribu Port yang sudah lecek.
Lalu dia menyodorkan setengahnya, yaitu empat lembar,
kepadaku.
"Ini, bagian
untuk Kuruto."
"Bagianku?"
"Tentu saja.
Tanpamu, aku tidak akan bisa membawa separuhnya pun ke sini, jadi ini sudah
sewajarnya."
"Biaya
pembasmian monster hanya kuterima sendiri, tapi untuk yang ini, aku harus
membaginya agar adil."
"Terima
kasih banyak."
Berarti dia
mengakui pekerjaanku, kan?
Aku merasa
ketegangan di wajahku sedikit mengendur.
Melihatku begitu,
Mire-san pun tersenyum.
"Ngomong-ngomong,
Kuruto. Pot tanaman yang ada di situ punya siapa? Apa memang sudah ada di kamar
ini?"
"Ah, ini
barang pribadiku......"
Haruskah aku
bilang kalau aku memasukkannya dengan Skill Storage?
Tapi, karena Skill
Aptitude-ku barusan ketahuan G Rank, pasti akan ketahuan kalau aku
tidak mungkin bisa memakai Skill sehebat itu, kan?
"Tadi
aku masukkan ke dalam tas."
"Di
dalam tas? Eh? Apa tasmu muat untuk ukuran sebesar itu!?"
Gawat!
Di dunia
ini sihir tidak eksis.
Magic
Bag yang biasa
digunakan di duniaku mungkin dianggap sebagai benda sesat di sini.
Apalagi tadi baru
saja ketahuan kalau aku tidak bisa memakai Skill...... bagaimana cara aku
berkilah?
"Anu, aku
ini ahli dalam menata barang bawaan."
"Kurasa itu bukan ukuran yang bisa masuk hanya dengan
menata barang...... yah, sudahlah."
Ketertarikan
Mire-san beralih dari ukuran tas ke pot tanaman tersebut.
Aku bisa
bernapas lega.
"Kuruto, apa
hobimu mengoleksi Bonsai? Hobimu antik juga ya."
"Eh, bukan
hobi juga, sih...... anu, Mire-san, ada apa?"
Tiba-tiba Mire-san memasang wajah serius dan tampak
memikirkan sesuatu.
Ada apa ya...... mungkinkah Mire-san menyadari kalau pohon
ini bukan pohon biasa, melainkan pohon yang dihuni roh?
"Kuruto,
kau ahli dalam Mining, kan? Apa kau pernah melakukan investigasi reruntuhan?"
"Reruntuhan—iya.
Sudah beberapa kali."
Aku pernah
menginvestigasi reruntuhan peradaban Laplace atas permintaan Mimiko-san.
Meskipun aku cuma
bisa melakukan hal biasa seperti menemukan ruang rahasia atau menerjemahkan
huruf kuno, sih.
Begitu aku menjawab, Mire-san terdiam sejenak.
"Besok
pagi aku akan datang lagi. Kantin ada di belakang Hunter Guild."
"Aku
sarankan pesan menu harian, harganya delapan ratus Port dan porsinya sangat
mengenyangkan."
Setelah berkata
begitu, Mire-san keluar dari kamar.
Nietzsche-san
merangkak keluar dari dalam bajuku.
"Reruntuhan
di dunia ini, apakah berarti ada sesuatu dari peradaban kuno yang tertidur di
sana?"
"Entahlah.
Tapi kalau bisa ikut investigasi reruntuhan, aku bisa mencari celah untuk
menanam dahan Nietzsche-san."
"Jadinya,
aku akan coba ke kantin yang disarankan Mire-san."
"Tunggu
sebentar, Kuruto-sama."
Nietzsche-san
menatap pot tanaman itu lekat-lekat—
"Tolong
taruh potnya di ambang jendela yang terkena sinar matahari. Aku ingin
berfotosintesis."
Dia
menginstruksikanku untuk memindahkannya ke tempat yang terkena cahaya matahari.
Setelah itu, aku
pergi ke kantin yang diberitahu Mire-san.
Saat memesan menu harian, aku disuguhi setumpuk daging Wild
Boar.
Sangat sedikit sayuran atau biji-bijian, isinya benar-benar
cuma daging.
Sepertinya keseimbangan nutrisinya sangat buruk.
Andai saja aku
juga bisa berfotosintesis.
Keesokan paginya.
Yang datang
menemuiku bukanlah Mire-san, melainkan dua orang laki-laki.
Satu orang pria
berusia sekitar empat puluh tahun yang memakai bucket hat.
Satu lagi adalah
pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
"Kau yang
namanya pengelana Kuruto itu......"
Pria yang memakai
bucket hat itu menatapku seolah sedang mengobservasi secara mendalam.
Keheningan
berlanjut.
Anu, siapa ya
mereka?
"Ayah, Anda
belum memperkenalkan diri."
"Beliau
adalah Guild Master Hunter Guild sekaligus Kepala Distrik permukiman ini, Tuan
Harrel. Saya putranya sekaligus sekretaris beliau, nama saya Hail."
"Kepala
Distrik!? Maaf atas kelancangan saya. Saya Kuruto Rockhans."
Aku buru-buru
menundukkan kepala.
Harrel-san dan
Hail-san, meskipun keduanya memiliki rambut cokelat, wajah mereka tidak terlalu
mirip sehingga aku tidak menyadari kalau mereka ayah dan anak.
"Terima
kasih telah mengizinkan saya menumpang sejak kemarin. Mohon maaf saya terlambat
memberi salam."
"Aku tidak
merasa pernah mengurusmu secara khusus."
Setelah berkata
begitu, Harrel-san langsung keluar kamar tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Apa beliau sedang
marah?
"Tolong
jangan masukkan ke dalam hati. Ayah memang selalu begitu."
"Lagipula,
kemarin Ayah tidak ada di Hunter Guild, jadi wajar saja Anda tidak bisa memberi
salam."
Hail-san mencoba
menenangkanku.
Lalu, dia
menundukkan kepala dengan sopan dan keluar dari kamar.
Tak lama
kemudian, Mire-san masuk menggantikan mereka.
"Kuruto,
Guild Master tadi ke sini, ada apa?"
"Sepertinya
beliau datang untuk menyapa. Padahal harusnya aku yang datang menemui beliau......"
"Bagaimana
ya, apa sebaiknya aku pergi memberi salam sekali lagi? Apakah tidak sopan kalau
aku membawakan kue kering?"
"Tadi aku
sempat berpikir Kuruto itu lebih mirip perempuan daripada aku, tapi ternyata
kamu punya sisi seperti ibu-ibu, ya?"
"Eh!?"
Aku sering
dibilang feminin, tapi dibilang mirip ibu-ibu baru pertama kali ini.
Tapi kalau
dipikir-pikir, saat Ibu pergi memberi salam ke tetangga, beliau memang sering
membawakan kue kering, jadi mungkin itu tidak sepenuhnya salah.
"Kurasa
tidak perlu memberi salam lagi. Guild Master itu tipe orang yang membangun
dinding."
"Dia
tidak membiarkan orang mendekat. Meski kau bawa kue pun, dia pasti akan bilang
'Memberi hadiah kepada Kepala Distrik dilarang oleh peraturan distrik' lalu
menolaknya."
"Yah,
tapi kinerjanya bagus dan dia kuat, jadi reputasinya baik. Dia bukan orang
jahat, itu pasti."
Sepertinya
Mire-san sendiri sangat menaruh kepercayaan pada Harrel-san.
Beliau
pasti orang yang sangat hebat.
"Lalu Kuruto,
soal pekerjaan Hunter."
"Iya! Aku
akan melakukan apa pun yang bisa kubantu!"
"......Jangan
bilang 'melakukan apa pun' dengan wajah seperti itu. Yah, ini bukan hal sulit, kok."
"Kita akan
melakukan investigasi reruntuhan. Kita akan meninggalkan distrik selama tiga
hari, jadi bersiaplah."
"Investigasi
reruntuhan?"
"Iya. Aku
sudah lama mengajukan permohonan, dan akhirnya izinnya turun."
"Barang yang
ditemukan di reruntuhan boleh dimiliki sendiri, jadi kalau beruntung kita bisa
kaya mendadak."
"Kau punya
pengalaman investigasi reruntuhan, kan? Apa yang kau lakukan saat itu?"
"Yang
kutemukan saat investigasi reruntuhan hanya peralatan makan logam dari Mithril
yang punya nilai sejarah, bukan barang yang bisa diuangkan."
"Mithril?
Logam yang belum pernah kudengar, tapi kalau punya nilai sejarah pasti laku
sedikit, kan."
"Karena itu
investigasi instansi resmi, semua barangnya harus disimpan untuk dilestarikan,
jadi tidak menghasilkan uang."
Lho? Kurasa
Mithril adalah logam yang bisa ditemukan di mana saja kalau kita menggali.
Apa di benua ini
tidak ada depositnya?
Kalau
diingat-ingat, selain di Desa Haste, aku hampir tidak pernah melihat Mithril
digunakan.
Aneh sekali.
Mithril yang
harusnya bisa ditambang di mana saja—tapi aku tidak pernah melihatnya dipakai.
Apa sebenarnya
penyebab dari kontradiksi ini?
Padahal kalau
Mithril dipakai untuk peralatan makan, dia punya efek Detoxification,
kalau dipoles juga cantik, dan yang terpenting dia keras dan kuat sehingga
sangat praktis.
—Jangan-jangan!?
Aku sampai pada
satu kesimpulan.
Begitu ya, aku
sudah salah paham besar.
Kukira di rumah
biasa orang menggunakan piring keramik, dan bangsawan menggunakan piring perak
karena mereka tidak terpikir untuk menggunakan Mithril...... tapi ternyata
bukan itu.
Pasti karena
Mithril adalah logam yang terlalu umum ditemukan di mana-mana, sehingga
menggunakannya dianggap memalukan.
Kalau
dipikir-pikir, gelas atau piring keramik yang dijual di toko peralatan makan
mewah harganya sangat mahal.
Padahal
kekuatannya sangat rendah sampai bisa pecah hanya karena jatuh ke lantai kayu.
Padahal kalau
dibuat dengan benar, piring kaca sekalipun tidak akan pecah meski dilempar ke
pelat besi.
Dari situ aku
sadar.
Mungkin,
peralatan makan justru semakin berharga jika semakin mudah pecah.
Gawat. Begitu
pulang ke bengkel nanti, aku harus membuat peralatan makan yang mudah pecah.
......Tapi kalau
membuat cangkir yang langsung belah dua hanya karena disentuh, itu sepertinya
keterlaluan.
Sepertinya
kekuatan yang membuatnya pecah hanya karena jatuh adalah yang paling pas.
Hmm, mencari
batas kekuatannya sepertinya akan sulit.
"Kuruto, ada
apa?"
"Ah, maaf. Aku sedang berpikir kira-kira
tingkat kekerasan apa yang paling bagus."
"Sudah
kubilang tidak perlu bawa kue kering, tapi aku sendiri sih lebih suka yang
keras. Jadi, bagaimana, apa kau mau ikut investigasi reruntuhan
bersamaku?"
"Jika
kau tidak keberatan denganku. Aku bisa berangkat kapan saja."
Jika aku
bisa keluar dari distrik permukiman, aku akan punya kesempatan untuk menanam
dahan Nietzsche-san.
Dan yang
terpenting, aku ingin membalas budi kepada Mire-san dan orang-orang Hunter
Guild yang telah membantuku.
"Benarkah?
Kalau begitu bisa berangkat sekarang?"
"Iya!
Semua barang bawaanku sudah siap."
"Kalau
diingat-ingat, barang bawaanmu cuma itu saja ya saat diculik Wyvern."
"Tapi,
pastikan bawa botol minum, ya."
"Ah,
aku bawa botol minum, kok. Isinya juga masih banyak."
Aku
mengeluarkan botol minum dari dalam tas.
"Tasmu itu isinya macam-macam ya. Oh ya, parasut dan
alat masak juga ada di dalamnya, kan?"
"Keahlianmu menata barang bukan cuma isapan jempol
semata. Kapan-kapan aku ingin kau
membantuku membereskan rumah."
"Aku siap
membantu kapan saja."
Begitu aku
berkata begitu, Mire-san menatapku dengan mata setengah tertutup.
"......Kalau
kau terlalu sering bilang begitu, nanti tunanganmu bisa kehilangan rasa sayang
padamu, lho?"
"Eh?"
Kenapa ya?
Kurasa mereka
berdua bukan tipe orang yang akan marah jika aku membantu membersihkan kamar
orang yang telah menolongku.
◆◇◆
Aku
berjalan keluar dari distrik bersama Mire-san.
Katanya
tujuan kami bisa dicapai dengan berjalan kaki selama setengah hari, jadi kami
akan sampai sebelum malam tiba.
"Reruntuhan
macam apa yang akan kita tuju?"
"Distrik
Permukiman ke-121. Itu adalah distrik yang ditinggalkan lima belas tahun lalu
karena alat pemelihara segelnya rusak."
Mire-san yang
memakai masker penyerap Miasma menjelaskan padaku.
Kira reruntuhan
yang dimaksud adalah dari peradaban kuno, ternyata distrik permukiman yang
sudah ditinggalkan juga disebut reruntuhan.
"Apakah ada
barang berharga di sana?"
"Begitulah.
Sesaat setelah segel distrik itu hancur, monster muncul dan membuat distrik itu
jadi tumpukan puing."
"Jadi uang
atau barang berharga lainnya terkubur begitu saja di bawah puing-puing
itu."
Monster?
Saat aku berpikir
jangan-jangan itu—tiba-tiba, langit berubah menjadi gelap.
"Panjang umur...... Kuruto, ayo sembunyi di balik
bayangan batu."
Atas
instruksi Mire-san, kami bersembunyi di balik bayangan batu besar terdekat.
Sambil
menahan napas, di tempat yang jaraknya sekitar lima kilometer dari kami,
makhluk itu tiba-tiba muncul.
Sesosok
monster raksasa yang sangat tinggi seolah menembus langit.
Makhluk
itu berjalan dengan dua kaki layaknya manusia.
—Itu
pastilah Monster Tabu.
Waktu
makhluk itu muncul di Pegunungan Scene, aku sedang pingsan jadi tidak bisa
melihatnya.
Makhluk
yang diciptakan di zaman kuno sebagai penghasil Miasma tak terbatas, yang
kemudian mengamuk dan menjadi dalang kehancuran dunia.
Bentuknya
persis seperti yang diceritakan Yurishia-san saat makhluk itu muncul di
Pegunungan Scene.
"Itu——"
Aku
mengeluarkan teropong kecil dari dalam tas dan melihat ke arah kaki Monster
Tabu tersebut.
Di sana,
aku melihat pemandangan di mana monster-monster bermunculan dari bawah kaki
Monster Tabu.
Miasma
yang terkonsentrasi pekat berubah wujud menjadi monster.
"Kuruto,
sudah kubilang sembunyi, kan. Meski jaraknya jauh kurasa kita aman, tapi kalau ketahuan bakal
gawat."
"Tenang
saja, sebentar lagi dia akan menghilang."
"Maaf."
Aku
meminta maaf dan kembali bersembunyi di balik batu.
Tak lama
kemudian, langit kembali terang dan sosok Monster Tabu itu telah menghilang.
Namun,
monster-monster yang tadi muncul tetap berada di tempat itu.
"Sudah
aman. Ayo berangkat."
Mire-san
berbicara padaku seolah tidak terjadi apa-apa.
"Apa
monster-monster itu dibiarkan saja?"
"Lama-lama
mereka akan berpencar. Tempat itu pasti terlihat dari menara pengawas distrik,
sekarang Hunter Guild pasti sedang sibuk-sibuknya."
"Kalau
muncul di dekat distrik, tenaga untuk mengangkut dagingnya jadi lebih
sedikit."
Sepertinya
dia tidak menganggap monster sebagai ancaman, melainkan sebagai stok daging.
Mungkin
karena selama berada di dalam distrik mereka tidak perlu takut pada monster,
makanya pola pikirnya jadi begitu.
Mungkin
kalau soal korban akibat monster, berkat adanya segel, Dunia Lama justru jauh
lebih aman daripada duniaku.
Tapi untuk
memelihara segel itu, dunia ini harus tetap dipenuhi Miasma.
"Sebenarnya
aku ingin segera makan siang, tapi mari kita menjauh sedikit dari
monster-monster itu."
Mengikuti
Mire-san, kami mulai bergerak lagi.
Akhirnya kami
baru bisa makan siang satu jam kemudian.
Di kejauhan,
Distrik Permukiman ke-121 yang menjadi tujuan kami sudah terlihat.
Tapi dari sini
mungkin butuh waktu tiga jam berjalan kaki.
"Biar aku
yang masakan makanannya."
Sambil
berkata begitu, aku mengeluarkan alat masak dan bahan makanan dari dalam tas.
Benar juga,
mumpung ada kesempatan, bagaimana kalau aku masak hidangan ikan?
Ada
banyak ikan kering di dalam tasku.
Rasanya sudah
asin, jadi kubuat sup saja.
Persiapan api
unggun, oke.
Persiapan bahan,
oke.
Tinggal
dipanaskan saja.
"Tunggu
sebentar! Eh? Kapan kamu menyalakan apinya?"
"Terus,
baunya sudah enak begini, apa memasak memang bisa secepat itu?"
"Aku cuma
menyalakan api dan menyiapkan bahan makanan seperti biasa, kok. Ikan ini kubeli
di distrik permukiman yang kita singgahi sebelumnya. Ini pertama kalinya aku
memasak ikan jenis ini, jadi maaf ya kalau rasanya kurang enak."
"Bau seenak
ini mana mungkin rasanya nggak oke... Selamat makan."
Mire-san menerima
mangkuk sup dan sendok yang kusodorkan.
Mire-san menatap
mangkuk dan sendok itu sejenak—bergumam, "Ini juga, ya"—lalu
menyeruput supnya.
"……"
"Eh?"
Mire-san
menangis.
Aku tersentak
kaget melihat kejadian yang tiba-tiba itu.
"Mire-san,
ada apa?"
"Ini terlalu
enak. Sup apa sih, ini?"
"Ini sup
ikan yang menggunakan bumbu bernama Miso."
"Miso...
aku belum pernah dengar, tapi rasanya benar-benar menenangkan."
Mire-san terus
meminum sup miso ikan itu tanpa menyeka air matanya.
Namun, saat
itulah—
"——Kuruto,
gawat! Kita harus
kabur sekarang! Tinggalkan barang-barangmu dan lari!"
Mire-san
mendadak menarik lenganku dan mulai berlari kencang.
Saat aku
masih kebingungan, seekor Wyvern menukik dari langit, menyambar panci berisi
sup miso itu, lalu terbang menjauh.
"Bukankah
itu Wyvern yang menculik Kuruto kemarin?"
"Mungkin
saja……"
"Begitu
ya. Jadi alasan Kuruto diserang kemarin itu karena dia terpancing bau makanan
yang enak, ya."
Mire-san
mengenakan maskernya kembali, lalu memperingatanku agar tidak terlalu sering
memasak saat berada di luar distrik permukiman.
Haa, aku
ceroboh lagi.
Karena
ada kemungkinan Wyvern itu kembali, kami menyudahi waktu istirahat dan bergegas
menuju Distrik Permukiman ke-121.
Akhirnya,
kami tiba di gerbang masuk distrik tersebut.
Sesuai
perkataan Mire-san, tempat ini benar-benar hancur lebur.
Tembok
bentengnya sudah runtuh di banyak sisi, dan sebagian besar bangunan di dalamnya
telah rata dengan tanah.
Jika
dibandingkan, Reruntuhan Laplace di sebelah barat Valha sepertinya masih jauh
lebih utuh.
"Ini,
Kuruto."
Mire-san
menyodorkan sepotong dendeng padaku.
"Kuruto
belum sempat makan apa-apa, kan? Jadi aku bagi dendengku. Anggap saja ini
balasan untuk sup tadi."
"Boleh,
nih?"
"Bakal repot
kalau kamu pingsan karena kelaparan."
"Terima
kasih banyak."
Aku berterima
kasih pada Mire-san lalu mulai mengunyah dendeng itu.
Sepertinya ini
daging ular.
Baunya masih agak
amis, rasanya terlalu asin sampai menutupi rasa dagingnya, dan setiap kali
dikunyah, rasanya cairan di mulutku semakin terkuras.
Tapi, rasanya
sangat hangat.
Walaupun
setelahnya aku jadi merasa sangat haus.
"Kuruto,
jangan terlalu banyak minum, nanti airnya habis. Kamu juga bakal bolak-balik ke toilet."
"Iya,
aku akan hati-hati."
Padahal
botol minum ini sudah dipasangi Magic Crystal sehingga airnya akan terus keluar
selama masih ada sisa mana, tapi memang kalau kebanyakan minum aku jadi ingin
ke... ah!
"Maaf, boleh
aku ke toilet sebentar?"
"Duh, baru
juga dibilangin. Ya sudah, lagipula nggak ada tanda-tanda monster, selesaikan
saja di balik reruntuhan itu. Aku akan mengawasi sekitar."
"Baik."
Aku bergegas ke
balik reruntuhan, lalu mengeluarkan pot tanaman berisi dahan Nietzsche-san dari
tas dan menanamnya kembali.
Di sini, siapa
pun yang melakukan Teleport tidak akan terlihat atau disadari orang
lain.
Supaya tidak
tumbuh terlalu mencolok, aku tidak menggunakan pupuk dan hanya memindahkannya
saja.
Nietzsche-san muncul dari dalam tanah.
Kecepatan
kemunculannya lebih baik dari kemarin, tapi ukurannya tetap kecil.
Sepertinya
ukuran tubuhnya memang berhubungan langsung dengan ukuran pohonnya.
"Kuruto-sama,
ini di mana?"
Rupanya, meski
dia bisa menghubungkan lokasi melalui nadi bumi, dia tidak mendapatkan
informasi geografis secara otomatis.
"Distrik
Permukiman ke-121. Kalau berdasarkan peta yang dibawa Yurishia-san dulu,
posisinya ada di sini."
Aku menggambar
ulang peta dalam ingatanku ke secarik kertas dengan cepat agar tidak ketahuan
Mire-san, lalu menunjukkannya pada Nietzsche-san.
"Aku
mengerti. Dari sini, kita bisa melakukan Teleport dengan kekuatan
Akuri-sama."
"Apa ada
kabar dari Yurishia-san dan yang lain?"
"Belum,
mereka masih belum kembali dari pegunungan Wyvern. Sepertinya besok baru
kembali."
"Begitu ya... Nietzsche-san, maaf ya. Mire-san sudah
menungguku."
"Baik. Berhati-hatilah
karena di luar segel banyak monster. Terutama keberadaan makhluk yang disebut
Monster Tabu."
"Haha...
aku sudah bertemu dengannya. Mengerikan sekali. Padahal dia kehilangan satu kaki, tapi hebat ya mereka
semua bisa menang."
"…………Begitulah."
Entah kenapa
Nietzsche-san setuju sambil membuang muka ke arah lain.
"Kuruto, di
sebelah sana ada tempat yang biasa dipakai sebagai base camp, kita akan
menginap di sana malam ini."
Aku mengikuti
petunjuk Mire-san menuju pusat distrik.
Karena tempat ini
sudah beberapa kali disurvei, sepertinya lokasi yang aman sudah terpetakan
dengan baik.
Atau begitulah pikirku……
"Ini…… tempatnya?"
"Iya…… padahal tiga tahun lalu aku dengar mereka
beristirahat di sini."
Gedung yang dulunya sebuah gereja dan digunakan sebagai base
camp kini telah menjadi gundukan puing.
Sepertinya
mustahil untuk bisa tidur di sini.
"Maaf, Kuruto.
Harusnya aku sudah memperhitungkan kemungkinan ini. Tunggu sebentar, aku akan
cari tempat kemah baru."
"Tunggu
dulu! Kurasa di sana ada pintu masuk ruang bawah tanah, mungkin kita bisa
istirahat dengan tenang di sana."
"Eh? Ruang
bawah tanah?"
Aku menyingkirkan
puing-puing seadanya untuk membuka jalan.
Di sana terlihat
papan lantai yang penuh goresan, dan saat aku membongkarnya, sebuah lubang
menuju bawah tanah muncul. Ada juga tangga kayu di sana.
"Ternyata
ada ruang bawah tanah di sini. Tapi apa aman? Apa udaranya tidak pengap?"
"Aman, kok.
Sepertinya ada alat pemurni udara di bawah sana."
Karena tangga
kayunya sudah sangat rapuh, aku membuat tangga tali dari kain parasut yang
kugunakan saat jatuh dari langit tadi. Dengan begini, meski tangga kayunya
patah, kami tidak akan jatuh.
"Duh, ini
sih levelnya sudah di atas sekadar terampil. Tunggu sebentar—"
Mire-san melihat
ke arah bawah tanah dan menggumamkan Appraisal.
"Miasma-nya
tidak terlihat. Benar-benar memurnikan udara ya, tidak sangka ada fasilitas
seperti ini. Aku turun duluan, Kuruto menyusul ya."
"Baik, aku
mengerti."
Mire-san menuruni
tangga.
Begitu mendengar
suaranya yang bilang kalau semuanya aman, aku pun menyusul turun.
Ruang bawah tanah
itu terbagi menjadi beberapa ruangan.
Di bagian atas
ruangan terdapat semacam pipa saluran udara, sepertinya pemurni udaranya
bekerja untuk seluruh ruangan di sini.
Aku mengeluarkan
lampu, mencari-cari di sekitar, dan menemukan sebuah sakelar.
"Ini
sakelar lampunya."
Begitu
kutekan, langit-langit pun bercahaya.
Sepertinya
langit-langitnya dilapisi dengan Magic Dust—serbuk Magic Crystal—sehingga bisa
bercahaya saat dialiri mana.
"Apa-apaan
ini!?"
"Tenang
saja. Ini cuma lampu, kok."
"Cuma lampu
katamu... ya sudahlah. Ayo lihat ruangan lain. Kalau fasilitasnya semewah ini,
siapa tahu ada sesuatu yang bisa diuangkan."
Mire-san
meletakkan tangannya di gagang pintu.
Namun, dia tampak
ragu untuk memutarnya.
"Mire-san, ada apa?"
"Yah... aku cuma sedikit gugup."
"Kurasa tidak ada jebakan di sini."
"Bukan itu... ah, iya, benar juga. Tidak apa-apa."
Mire-san pun
membuka pintu itu.
Ternyata isinya
adalah gudang.
Sepertinya tempat
ini digunakan jauh sebelum distrik ini ditinggalkan, mungkin sejak zaman
peradaban kuno.
Ada tumpukan
kertas—meskipun kurasa itu kertas khusus yang bisa tahan ribuan tahun, tetap
saja sudah lapuk. Baru disentuh sedikit saja pasti langsung hancur.
Kalau punya
waktu, aku ingin sekali mencoba merestorasinya.
Namun, perhatian
Mire-san teralih pada benda-benda sihir.
Meskipun
sepertinya tidak ada yang terlalu langka.
"Ini
Artefak, kan!"
"Artefak?"
"Kuruto,
kamu ikut investigasi reruntuhan tapi nggak tahu soal Artefak? Itu benda-benda
buatan orang-orang yang pergi ke Dunia Atas, alat-alat yang kita sendiri nggak
tahu gimana cara buatnya."
Rupanya teknologi
pembuatan alat sihir sudah punah, tapi alat-alatnya sendiri masih tersisa dan
disebut sebagai Artefak.
"Ini bisa
dijual mahal! Walaupun Kuruto yang menemukan ruangannya, tapi aku yang
menemukan Artefaknya, jadi bagiannya setengah-setengah ya."
"Iya, aku
tidak keberatan."
"……Padahal
kamu boleh sedikit serakah, tahu?"
Entah kenapa
Mire-san bilang begitu, tapi karena aku tidak terlalu butuh uang, jadi memang
tidak apa-apa.
"Ayo lihat
ruangan selanjutnya."
Suasana hati
Mire-san berubah drastis menjadi ceria saat membuka pintu ruangan lain.
Ternyata itu
gudang makanan.
Berisi banyak
makanan kaleng. Untung saja hanya makanan kaleng.
Aku tidak sanggup
membayangkan jika isinya yang lain.
Tentu saja, aku
tidak punya nyali untuk mencoba membukanya dan memakannya.
Mire-san yang
tidak tahu apa itu kalengan sempat mengajak untuk membukanya, tapi segera
kuhentikan.
"Ini ruangan
terakhir. Pintu logamnya paling mewah. Mungkin ini gudang harta."
"Iya, tapi
pintunya terkunci."
"Bisa kamu
buka?"
"Akan
kucoba."
Aku mengeluarkan
kawat dari tas, tapi saat hendak memasukkannya, aku menyadari sesuatu.
Lubang kunci ini
cuma tipuan.
Jika ada sesuatu
yang dimasukkan, alat alarm akan aktif, dan kemungkinan besar gas beracun akan
menyembur dari langit-langit.
Aku tidak tahu
apakah alarmnya masih berfungsi, tapi mengutak-atik lubang kunci tidak akan
membuka pintu ini.
Bahkan dinding,
langit-langit, dan lantainya sepertinya juga dipasangi jebakan serupa jika ada
yang mencoba masuk selain lewat pintu.
Keamanannya
sangat ketat.
Benar-benar
seperti gudang harta karun.
Kalau cara licik
tidak bisa, berarti harus pakai cara frontal.
"Kuruto,
kamu lagi apa?"
"Sepertinya
pintu ini hanya bisa dibuka oleh orang tertentu dan keturunannya, atau orang
yang diberi izin. Jadi aku sedang mencoba mengubah datanya. Anggap saja seperti
menangkap Golem liar dan mengatur ulang perintahnya."
"Mengatur
ulang perintah Golem? Memangnya bisa?"
"Bisa,
kok. Di desa... maksudku di distrik asalku, semua orang melakukannya untuk
membantu pekerjaan berat."
"Distrik
asalmu itu... sudahlah, rasanya kalau aku tanya lebih lanjut, pembicaraan ini
bakal jadi rumit."
Aku
mengeluarkan Dungeon Core kosong lalu mengalirkan mana ke dalamnya.
Orang-orang
di dunia ini memang tidak bisa menggunakan sihir, tapi bukan berarti mereka
tidak punya mana.
Sama sepertiku
yang punya mana tapi tidak bisa sihir.
Mana manusia
punya pola tertentu, misalnya pola mana antara orang tua, anak, dan cucu itu
punya kesamaan gelombang.
Pasti pintu ini
didesain untuk terbuka berdasarkan gelombang mana tersebut.
"Bisa dibuka
dengan mudah?"
"Yah, kurang
lebih begitu. Sebenarnya datanya ada sekitar dua pangkat empat puluh delapan,
tapi karena mana manusia punya faktor yang sama, kalau bagian itu disisihkan,
aku cuma perlu memasukkan sekitar dua pangkat enam belas pola data sampai ada
yang cocok."
"Dua pangkat
enam belas? Aku nggak jago hitung, tapi apa itu gampang?"
"Iya,
gampang kok. Cuma perlu mencoba sekitar enam puluh lima ribu data sampai ketemu
yang pas. Mire-san istirahat saja dulu."
"Enam puluh
lima ribu!?"
Dengan
menggunakan Dungeon Core, aku mengubah pola manaku sebanyak seratus pola per
detik.
Dengan cara acak
seperti itu, rata-rata butuh waktu kurang dari enam menit sampai ketemu yang
pas.
Mungkin di sistem
aslinya, jika ada orang yang diam selama enam menit di depan pintu, kamera
pengawas akan menyadarinya dan petugas keamanan akan datang... tapi sekarang
hal itu tidak perlu dikhawatirkan lagi.
Sepertinya
keberuntunganku sedang buruk, karena butuh waktu delapan menit sampai akhirnya
pintu itu terbuka.
Terdengar
suara "Klik" dari pintu.
"Sudah
terbuka."
"…………Beneran
bisa terbuka. Padahal kamu tadi cuma terlihat diam sambil pegang bola kristal
cantik. Kuruto, apa kamu sebenarnya hebat?"
"Ah,
tidak kok. Ini biasa saja."
Aku
mengatakan itu bukan karena rendah hati, tapi memang fakta.
Di dunia
di mana sihir telah mundur, wajar jika ini dianggap mustahil, tapi jika tidak,
siapa pun pasti bisa melakukannya.
Saat pintu
terbuka, lampu di dalam ruangan otomatis menyala.
Di dalamnya
terdapat alat sihir raksasa seukuran mesin pendorong kapal terbang.
Sepertinya ini
semacam fasilitas pusat.
"Ini apa? Sepertinya
sudah tidak jalan."
Mire-san bertanya sambil kebingungan.
Sepertinya dia tidak mengenali alat ini, padahal menurutku
alat ini ada di setiap distrik permukiman.
"Sepertinya ini adalah alat untuk memelihara
segel."
"Artinya, karena alat ini rusak, segelnya jadi
berhenti?"
Aku membuka penutup perawatan dan memeriksa bagian dalamnya.
Sirkuit mananya masih utuh.
Hm, orang-orang zaman dulu benar-benar memikirkannya dengan
matang saat membuat ini.
Ada
beberapa teknologi mengagumkan yang disisipkan di dalamnya.
Paman Urano pasti
senang kalau melihat ini.
"Aku tidak
tahu kenapa dia berhenti, tapi sepertinya alat ini tidak rusak."
"Berarti,
kalau dijalankan lagi, distrik ini bisa kembali seperti semula?"
"Ini hanya
untuk memelihara segel, aku harus melihat alat pembangkitnya dulu baru bisa
memastikan."
"Begitu ya.
Tapi ini penemuan besar! Kalau lapor ke Guild, kita pasti dapat hadiah
besar!"
"Syukurlah!"
Aku merasa lega
bisa berguna bagi Mire-san dan Hunter Guild.
Malam itu, kami
memutuskan untuk tidur di ruangan tersebut.
Untuk makan
malam, kami memakan roti yang kusimpan di dalam Magic Bag.
"……Tas Kuruto
beneran isinya macam-macam, ya. Kalau aku bilang minta selai, apa bakal keluar
juga?"
"Nggak semua
hal ada, kok. Tapi kalau selai sih, ada."
"Ada
beneran!?"
Aku memberikan
botol berisi selai buah Papamomo, dan Mire-san menatap tas milikku dengan penuh
rasa heran.
Awalnya Magic
Bag ini cuma kuisi alat kerja, tapi karena aku tidak tahu apa yang
dibutuhkan untuk investigasi di dunia ini, aku memasukkan apa saja yang
terpikirkan.
……Ngomong-ngomong,
di dalam Magic Bag yang kuberikan pada Golnova-san dan Marlephis-san
juga sudah kuisi banyak makanan, apa mereka makan dengan teratur ya?
Rasanya lancang
sekali kalau aku mengkhawatirkan mereka, Golnova-san pasti akan marah kalau
tahu, tapi tetap saja aku khawatir.
"Kuruto,
kamu merasa kesepian ya karena terpisah dari tunanganmu?"
"Eh? Iya,
tentu saja."
Meski yang
kupikirkan bukan cuma Yurishia-san dan Lise-san, tapi tetap saja aku rindu
mereka, jadi aku mengangguk.
"Benar juga
ya, keluarga memang harusnya selalu bersama."
Ekspresi Mire-san
saat mengatakan itu terlihat jauh lebih kesepian dariku.
Aku jadi
penasaran bagaimana kabar keluarga Mire-san.
Aku bimbang
apakah boleh menanyakannya lebih jauh.
"Aku...
nggak punya keluarga."
Tiba-tiba
Mire-san mulai bercerita sendiri.
"Maksudku,
aku nggak ingat. Lima belas tahun lalu saat segel di sini hancur,
monster-monster menyerang. Sebagian besar penduduk dibunuh oleh monster-monster
itu, dan saat Guild Master datang membawa para Hunter, semuanya sudah
terlambat. Aku satu-satunya yang selamat yang ditemukan di balik
reruntuhan."
Begitu ya,
ternyata Mire-san berasal dari sini.
"Lalu,
keluarga Mire-san——"
Mereka pasti
tewas saat itu.
Namun, jawaban
Mire-san sedikit berbeda dari dugaanku.
"Itulah
yang... aku nggak tahu. Aku nggak punya ingatan sebelum dipungut oleh Guild
Master. Mungkin karena ketakutan saat distrik ini hancur, aku jadi lupa
ingatan. Jadi, aku bahkan nggak tahu apa aku punya keluarga atau tidak."
"Lupa
ingatan, ya... maaf, aku juga sering hilang ingatan, aku ingin sekali
menyembuhkannya tapi belum ada obatnya."
"Aku nggak
berharap banyak, kok. Eh, tunggu, Kuruto juga sering lupa ingatan?"
"Iya. Kami
sering mendadak pingsan dan lupa ingatan selama sehari penuh. Sepertinya itu
penyakit endemik di distrik asalku."
"Ahaha, aku
senang kamu mencoba menghiburku, tapi carilah bohong yang lebih masuk akal.
Nggak pernah ada penyakit kayak gitu."
Mire-san tertawa
mendengar penjelasanku.
"Makanya,
investigasi reruntuhan ini juga buatku setengahnya adalah mencari asal-usulku.
Tadi aku sempat gugup saat masuk ke bawah tanah karena aku berharap di tempat
seperti ini mungkin ada catatan penduduk, yang mungkin bisa memberitahuku siapa
aku sebenarnya. Tapi ya, satu-satunya barang peninggalan masa lalu yang kupunya
cuma hiasan rambut ini, jadi aku nggak berharap bakal ketemu dengan
gampang."
Mire-san melepas
hiasan rambut berbentuk bel tanpa suara yang terpasang di rambut hitamnya, lalu
menatapnya dengan sedih.
Aku pun bertekad
untuk membantu mencari asal-usulnya.
Berkat sistem
sirkulasi udara yang baik, suhu dan kelembapan di bawah tanah sangat stabil dan
nyaman, sehingga aku bisa tidur dengan nyenyak.
Saat pagi tiba
dan kami kembali ke permukaan, tidak ada perubahan berarti di sekitar.
Langit masih
tetap tertutup kabut seperti biasanya.
Pekerjaan hari
ini adalah melakukan survei di distrik.
Terutama
menyingkirkan puing bangunan yang hancur parah dan mencari benda-benda yang
masih bisa digunakan atau dokumen berharga dari masa itu.
Di tengah jalan,
kami menemukan jenazah yang sepertinya tertimbun bangunan saat Monster Tabu
muncul. Meski sudah
tinggal tulang dan hancur, kami mengeluarkan dan menguburkan mereka.
Saat
menyingkirkan puing rumah besar, kami menemukan brankas besi berisi uang Port.
Benda-benda
ini akan dibawa ke Hunter Guild, dan sebagian besar akan menjadi upah kami.
Karena brankasnya
masih bisa dipakai, kami memutuskan untuk membawanya pulang.
Namun, tetap saja
tidak ada petunjuk soal keluarga Mire-san.
"Aku nggak
berharap bakal ketemu dengan mudah, kok. Lagipula, kita sudah menemukan banyak
barang dan dapat banyak uang, jadi datang ke sini nggak sia-sia."
"……Iya."
Saat aku
mengangguk, terlihat sesosok bayangan manusia di kejauhan.
Bayangan itu
berjalan perlahan ke arah kami.
Bukan cuma satu,
tapi banyak sekali.
Apa mereka Hunter
yang juga sedang melakukan survei seperti kami? Atau penduduk asli yang datang
menengok keadaan?
……Tapi tunggu.
Rasanya jumlah mereka terlalu banyak.
Bukan cuma satu
atau dua orang.
Lalu, meski tidak
jelas karena melawan cahaya, bukankah tubuh mereka terlihat... busuk?
"Zombi!? Eh?
Kenapa ada Undead muncul di sini?"
"Apa
di sekitar sini memang sering muncul zombi?"
"Jarang
sekali ada! Kuruto, lari! Mereka nggak bakal mati kalau kepalanya nggak
dihancurkan, aku nggak bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Tapi gerakan
mereka lambat, jadi jangan panik!"
"Baik!"
Aku menggendong
brankas besi itu dan berlari menuju gerbang distrik.
Akan tetapi——
"Nggak
mungkin."
Di dekat gerbang
pun sudah dipenuhi kerumunan zombi, seolah-olah mereka sengaja menghalangi
jalan keluar kami.
"Lewat
sini!"
Kami berlari
menghindari para zombi.
Aneh, setiap kali
kami mencoba kabur, para zombi itu selalu bisa mencegat kami.
"Kuruto,
kamu sadar?"
"Iya, aneh
sekali. Seolah-olah kita sedang digiring ke suatu tempat."
Zombi itu sama
seperti Tengkorak, kecerdasannya rendah, jadi mereka tidak mungkin bisa
memahami medan dan mengepung mangsa. Tengkorak yang menyerang Valha dulu saja
cuma bisa berjalan lurus.
Karena itu, aku
ingin menganggap ini cuma perasaanku saja.
Cuma kebetulan
semata.
Di depan kami
tidak ada zombi, dan kami bisa kabur lewat celah tembok yang hancur.
——Tentu saja
kenyataannya tidak semudah itu.
Aku lupa.
Bahwa sebuah
petualangan itu selalu penuh dengan bahaya.
"Kita
terkepung."
Mire-san berdecak
kesal.
"Bisa-bisanya
aku diakali oleh zombi."
"Mire-san
saja yang kabur. Mire-san pasti bisa menerobos tembok zombi itu."
Aku meletakkan
barang bawaanku.
"Mana
mungkin aku bisa melakukan itu!"
Mire-san
menyiapkan busur silangnya dan menembak.
Satu anak panah
telak mengenai kepala zombi, tapi makhluk itu tidak juga tumbang.
"Daripada
kita berdua jadi makanan zombi, lebih baik Mire-san saja yang keluar! Kemarin
ada banyak monster muncul dan banyak Hunter di sekitar sini, siapa tahu ada
orang di dekat sini. Tolong panggil bantuan!"
"Mana ada
kebetulan seperti itu... lagipula, sepertinya mustahil. Zombi-zombinya semakin
banyak. Aku nggak akan bisa menerobos jumlah sebanyak ini sendirian."
Sesuai perkataan
Mire-san, tembok zombi yang mengelilingi kami semakin menebal.
"Kuruto,
api! Nyalakan api!"
"Baik!"
Aku mengeluarkan
kayu bakar dari tas dan menyalakannya.
Mire-san kini
menembak kaki para zombi.
Zombi yang
kakinya tertembak jatuh, tapi zombi lain langsung melangkahinya.
Mire-san
melemparkan kayu bakar yang menyala ke arah mereka.
Sia-sia, mereka
sama sekali tidak gentar.
Dan perlahan,
tembok zombi itu semakin mendekat ke arah kami.
Saat aku berpikir
harus mencari cara untuk melawan sebelum kami dimakan hidup-hidup——
Akar pohon muncul
dari bawah tanah dan menyapu para zombi itu.
Dan,
bersamaan dengan akar pohon tersebut, muncullah——
"Anda
selamat, Kuruto-sama?"
Itu adalah sosok
Nietzsche-san ukuran kecil.
Sepertinya
dia menyadari ada yang aneh dan langsung datang membantu.
"Eh!?
Siapa!? Anak kecil!?"
Aku
merasa lega melihat Nietzsche-san, sementara Mire-san terlihat kebingungan.
"Kuruto-sama,
jangan lengah. Aku memaksakan
akarku memanjang jadi tenagaku tidak maksimal."
Nietzsche-san
memanjangkan akarnya dan menembus kepala zombi.
Namun, para zombi
itu malah mulai menggigit akar pohon tersebut.
Karena ukuran
tubuhnya kecil, Nietzsche-san sepertinya tidak dalam kondisi puncaknya.
Haruskah kami
menggali lubang dan pindah lewat bawah tanah——tidak, zombi adalah monster yang
merangkak keluar dari dalam tanah, jadi kalau kami kabur ke dalam tanah, mereka
tetap bisa mengejar.
Kalau begini
terus, kami semua bakal——
"……Kuruto-sama——kita
tidak punya waktu. Kamu
bawa Pistol Sihir, kan?"
Nietzsche-san
bertanya padaku sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.
"Iya,
aku bawa. Tapi meski aku menggunakannya, aku tidak akan bisa mengalahkan
zombi-zombi ini——"
"Tembakkan
ke arah langit. Lurus ke atas."
Menembak
ke langit?
Untuk
apa?
Tidak,
tidak ada waktu untuk ragu.
Aku
mempercayai Nietzsche-san, mengeluarkan Pistol Sihir dari tas, mematikan fungsi
pelacaknya, lalu menembakkannya lurus ke langit.
Cahaya
menyilaukan meluncur membawa mana, menembus kabut yang menutupi langit.
Di balik
kabut itu, terlihatlah langit biru yang jernih.
"…………Cantik
sekali."
Mire-san
bergumam saat melihat langit biru yang mungkin baru pertama kali ia lihat
seumur hidupnya.
Namun,
para zombi tetap tidak peduli dan terus mendekat ke arah kami.
Nietzsche-san
juga sudah di batas kemampuannya——
Tepat
saat itu, sesuatu melintasi lubang di langit tersebut.
"Di
saat begini... ini yang terburuk……"
Yang
melintas tadi adalah seekor Wyvern.
Wyvern
itu berputar dan mulai mendekat ke arah kami.
Melawan
zombi saja sudah kewalahan, sekarang malah ditambah Wyvern.
……Eh?
Aku
menatap Wyvern itu dan menyadari sesuatu.
"Mire-san,
tenanglah. Kita sudah aman."
Aku
merasa lega, sampai rasanya ingin berlutut di tempat, tapi aku berusaha sekuat
tenaga untuk tetap berdiri.
"Eh?
Apa maksudmu?"
"Orang-orang
yang bisa diandalkan sudah datang."
Aku
menarik napas dalam-dalam——
"Semuanya,
di sini!"
Aku
berteriak sekuat tenaga.
Ke arah
tiga wanita yang menunggangi punggung Wyvern itu——Yurishia-san, Lise-san, dan
Akuri.



Post a Comment