NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 10 Chapter 2

Chapter 2

Kehidupan Hunter Kuruto


Aku—Yurishia—sempat tertegun, tidak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi.

Padahal Wyvern itu baru saja menyambar dan membawa lari Kuruto.

Namun, tubuhku bergerak lebih cepat dari pikiran.

Aku menghunus pedang kesayanganku, Setsuka, dan mencoba menebas Wyvern itu.

Sayangnya, makhluk itu berkelit, lalu kepakan sayapnya membawanya melesat tinggi ke angkasa.

"Akuri! Teleport aku ke posisi Wyvern itu!"

"Enggak bisa, Mama Eulis! Mustahil melakukan Teleport ke Wyvern yang sedang bergerak. Meleset sedikit saja, Mama bisa jatuh!"

"Meski begitu, cepat lakukan Teleport—"

Kuruto diculik gara-gara kesalahanku yang sangat fatal.

Terlalu sering bersama Kuruto membuatku terbiasa dengan kedatangan naga saat sedang memasak. Aku jadi terlalu santai sampai kewaspadaanku terbang entah ke mana.

Padahal aku tahu kalau Wyvern dan naga itu secara teknis adalah spesies yang berbeda.

"Tolong tenanglah. Akuri sudah bilang, 'kan, kalau gagal kalian bisa mati!"

"Tapi—cih."

Aku mendecak saat melihat wajah Lise.

Melihat Lise yang memasang ekspresi seolah dunia akan kiamat namun tetap berusaha bertindak tenang, membuatku merasa malu karena sempat kehilangan kendali.

Sosok Wyvern itu sudah tidak terlihat lagi.

Mengejarnya dengan Teleport Akuri pun mustahil dilakukan.

"Menggunakan Teleport untuk menjemput kuda yang lari cepat lalu mengejarnya... juga tidak mungkin, ya."

"Ya, tanpa Kuruto, kita tidak bisa menyesuaikan alat penyerap Miasma. Ada risiko kuda-kuda itu malah berubah jadi monster. Akuri, apa kamu bisa membawa kapal terbang ke sini?"

Aku bertanya pada Akuri, menggantungkan secercah harapan terakhir padanya.

Jika ada kapal terbang, menemukan sarang Wyvern pasti akan mudah.

"Benda sebesar itu tidak bisa di-Teleport. Lagipula, alat sihir seperti itu berisiko mengamuk di dunia yang penuh Miasma ini, jadi menurutku tidak bisa digunakan."

"Kalau begitu, mari kembali ke distrik permukiman untuk mencari informasi tentang Wyvern."

Jika daging monster dijual di pasar, pasti ada orang-orang seperti petualang yang memburunya.

Mereka mungkin tahu di mana letak sarang Wyvern.

Dan juga—

"Nietzsche. Kuruto masih membawa dahanmu, 'kan?"

Nietzsche mengangguk pelan.

"Sebagai sesama dahan, bukankah kamu bisa merasakan lokasinya melalui ikatan batin?"

"Mohon maaf, saya tidak bisa mendeteksi lokasinya. Namun, jika Kuruto-sama menanam dahan itu dan memanggil saya, saya bisa menjalin komunikasi dengannya."

Berarti, tidak ada pilihan selain berharap Kuruto bisa meloloskan diri dengan kekuatannya sendiri.

Kuruto hanya memiliki Combat Aptitude peringkat G Rank, jadi melarikan diri dengan bertarung mungkin akan sulit baginya.

Tapi jika tujuan Wyvern itu adalah untuk memakannya, Kuruto pasti setidaknya bisa memasak di depan makhluk itu dan menjinakkannya dengan makanan.

Dia juga bisa saja mencampurkan obat tidur ke dalam makanan itu.

Kurasa dia tidak akan sebodoh itu dengan menyerang kaki Wyvern saat sedang terbang—karena itu hanya akan membuatnya jatuh dan hancur menghantam tanah.

"Tetaplah selamat—Kuruto."

◆◇◆

Setelah berhasil meloloskan diri dari Wyvern, aku—Kuruto—sampai di sebuah distrik permukiman bersama Mire-san yang kutemui secara tidak sengaja.

Aku harus mengabari Yurishia-san dan Lise-san kalau aku baik-baik saja.

Untuk itu, awalnya aku ingin menanam dahan Nietzsche-san dan menghubunginya, tapi jika aku bertindak sendirian di sini, mereka akan curiga.

Aku sadar betul dengan kemampuanku sendiri. Jika Mire-san mencurigaiku dan meninggalkanku di sini, akan sulit bagiku untuk sampai ke distrik permukiman dengan selamat.

Bahkan jika aku menanam dahan Nietzsche-san sekarang, proses menyambungkan nadi bumi memakan waktu, jadi Akuri tidak akan bisa langsung melakukan Teleport.

Terlebih lagi, ada kemungkinan Yurishia-san dan yang lain sudah meninggalkan tempat mereka menanam pohon Nietzsche karena sedang mengejarku, sehingga komunikasi tidak bisa langsung terjalin.

Karena itu, pilihan terbaik yang bisa kuambil sekarang adalah tidak bertindak mencurigakan.

Aku memantapkan tekadku.

"Kuruto, kamu tidak apa-apa?"

"……!? Iya, aku tidak apa-apa."

"……Begitu ya."

Mire-san menatapku dengan mata hitamnya yang jernih.

Entah kenapa aku merasa Mire-san sedang mencurigaiku.

Tapi, aku merasa dia sangat baik karena tetap mempedulikanku yang sedang murung karena terpisah dari teman-teman.

Pikirku sembari menggendong Wild Boar seberat dua ratus kilogram.

"Distrik permukimannya sudah dekat. Distrik Permukiman ke-536."

"Distrik Permukiman ke-536, ya. Ngomong-ngomong, apakah angka pada distrik ini memiliki arti tertentu?"

"Aku pernah dengar dari orang Karavan Transportasi, katanya tidak ada artinya. Dulu sekali, distrik permukiman punya nama seperti manusia, tapi nama-nama itu dilarang digunakan karena akan dipakai untuk nama kota di Dunia Baru."

"Orang-orang yang pindah ke sana melarang kami menggunakannya, dan sebagai gantinya kami diberi angka acak. Astaga, mereka pikir tempat tinggal kami ini apa..."

Mire-san mengatakannya dengan nada benci.

Sepertinya Mire-san menyebut orang-orang yang pindah itu sebagai 'Para Penyeberang', dan dia benar-benar menaruh dendam pada mereka.

Namun, melihat daratan gersang yang bahkan hampir tidak ditumbuhi rumput ini, aku bisa memahami perasaan bencinya.

Ini bukan dunia yang layak ditinggali makhluk hidup secara normal.

Manusia bisa bertahan hidup di sini mungkin karena adanya monster yang tercipta dari Miasma, seperti Wild Boar ini, sehingga mereka bisa menjadikannya bahan pangan.

Monster tabu yang membawa dunia menuju kehancuran—ironisnya, orang-orang yang tertinggal di Dunia Lama justru tidak bisa hidup tanpa kekuatan Miasma yang disebarkan oleh monster tersebut.

Sungguh sebuah ironi yang luar biasa.

Hari sudah beranjak sore saat kami tiba di Distrik Permukiman ke-536.

Di langit yang berkabut, aku tidak bisa melihat di mana letak matahari, tapi seluruh langit bersinar dengan warna emas yang indah.

Ukuran distrik ini sepertinya tidak jauh berbeda dengan Distrik Permukiman ke-257 yang baru saja kukunjungi.

Dan seperti yang kuduga, ada penjaga di pos pemeriksaan pintu masuk.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan wibawa seperti seorang veteran.

"Mire, siapa itu?"

Mire-san menyerahkan masker penyerap Miasma-nya kepada penjaga itu, lalu menjawab.

"Pengelana yang jatuh setelah dicengkeram Wyvern, namanya Kuruto. Tenaganya kuat, jadi aku minta tolong dia membantuku membawa Wild Boar ini."

"Selain kuat, dia juga punya alat penyerap Miasma yang belum pernah kulihat. Katanya dia bisa jalan-jalan di luar tanpa perlu pakai masker."

"Dicengkeram Wyvern? Apa dia mengalahkan Wyvern itu?"

"Enggak, dia cuma dicengkeram dan dibawa terbang, tapi dia berhasil meloloskan diri sendiri. Ah, tapi jangan berharap banyak soal kemampuan bertarungnya. Aku melihat caranya saat meloloskan diri tadi, dia sepertinya sama sekali tidak terbiasa bertarung."

Memang benar kalau aku tidak kuat, tapi mendengarnya langsung tetap saja membuatku sedikit sakit hati.

Penjaga itu menatapku seolah sedang menaksir hargaku.

"Bukan orang buangan, 'kan? Di distrik kami tidak ada jatah untuk imigran baru. Kami sudah cukup pusing menerima keluhan dari pasangan suami-istri yang dilarang punya anak."

"Dia cuma numpang tinggal sementara sampai Karavan Transportasi datang. Katanya dia ingin pergi ke Distrik Permukiman ke-38 untuk menyusul teman-temannya."

"……Kalau begitu dia benar-benar bukan orang buangan. Tidak mungkin orang buangan sengaja ingin pergi ke tempat seperti itu."

Setelah mengatakan itu, penjaga tersebut menatapku dan tampak puas dengan suatu kesimpulan di kepalanya.

Katanya di sana ada tempat penahanan narapidana, apakah itu berarti tempat itu punya tingkat keamanan yang buruk?

"Appraisal…… Tidak ada catatan hukuman atau pelanggaran. Nak, siapa namamu?"

"Nama saya Kuruto Rockhans."

"Begitu ya. Untuk sementara aku izinkan kamu masuk, tapi untuk izin tinggal resmi, mintalah pada Kepala Distrik."

"Selain itu, aku tidak tahu bagaimana aturan di distrik asalmu, tapi selama kamu tinggal di sini, kamu harus mematuhi peraturan kami. Mire akan menjelaskan detailnya nanti, tapi kalau kamu melanggar, meski kamu pengelana, kami akan menangkapmu. Jika orang luar melakukan kejahatan, mereka akan dicap sebagai kriminal dan diasingkan ke luar distrik."

"Baik, saya mengerti."

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Sebenarnya dengan statusku sekarang, aku memiliki hak istimewa bangsawan di Dunia Baru sehingga tidak perlu mematuhi aturan semacam ini, tapi dulu hal seperti ini adalah kewajaran.

Bukan hanya antarnegara, setiap wilayah pun memiliki peraturan yang berbeda-beda, dan sudah menjadi tradisi bagi pengelana untuk mematuhinya.

"Ah, satu lagi. Ada aturan pajak masuk bagi orang selain Karavan Transportasi. Apa kamu punya uang? Kalau tidak ada, kamu harus bekerja untuk melunasinya."

"Berapa biayanya?"

"Tiga puluh ribu Port."

"Kalau segitu, saya bisa bayar."

Aku hendak mengeluarkan uang dari Magic Bag, tapi tanganku terhenti saat menyadari sesuatu yang sangat penting.

"Kenapa? Ternyata tidak punya uang?"

"Saya baru sadar kalau semua uang milik teman-teman saya, saya yang membawanya. Saya jadi khawatir mereka akan kesulitan karena saya menghilang."

Aku mengeluarkan tiga lembar uang sepuluh ribu Port dari tas dan menyerahkannya kepada penjaga.

"Bukankah kamu malah beruntung? Kalau itu benar, teman-temanmu pasti akan berusaha mati-matian untuk menemukanmu, 'kan?"

"Benar juga, ya."

Kuyakin mereka bertiga akan mencariku meski aku tidak membawa uang mereka, tapi karena bagi petualang pada umumnya hal itu masuk akal, aku pun menyetujuinya.

 

Aku memasuki distrik permukiman.

Katanya populasi di distrik ini sekitar dua ratus orang.

Tanaman utama yang ditanam di sini sepertinya adalah kentang.

Mungkin karena jumlah kalori yang dihasilkan per luas lahan lebih banyak daripada gandum.

Meskipun jumlahnya tidak sebanyak kentang, mereka juga menanam padi. Karena mereka memompa air tanah dalam jumlah besar, menanam padi pun jadi memungkinkan.

Orang-orang yang sedang bekerja di ladang melambaikan tangan saat melihat Mire-san.

Mire-san pun membalas lambaian mereka.

"Distrik yang bagus, 'kan? Orangnya sedikit, tapi alamnya asri. Lagipula, orang tua di sini tidak akan dibunuh meski sudah tidak sanggup bekerja lagi."

Mire-san mengatakan itu sambil tersenyum.

Karena saat makan tadi dia tetap memakai masker setengah wajah, ini pertama kalinya aku melihat wajahnya secara utuh.

"Kenapa?"

"Ah, tidak, ternyata wajah Mire-san seperti itu, ya."

Warna rambut, mata, dan kulitnya berbeda dengan orang-orang di distrik ini.

Apakah dia mirip dengan Danzo-san?

Jika menelusuri leluhurnya, mungkin mereka berasal dari etnis yang sama.

"Orang-orang bilang aku terlihat lebih cantik saat pakai masker. Apa kamu kecewa?"

"……? Menurutku Mire-san lebih cantik kalau tidak pakai masker, kok?"

Mendengar ucapanku, Mire-san memasang wajah tidak senang.

"Jangan-jangan kamu sedang mencoba merayuku? Kalau iya, maaf saja, aku tidak tertarik pada laki-laki lemah."

"Eh, bukan begitu maksud saya—saya sudah punya tunangan, kok."

"Eh? Kamu sudah punya tunangan? Jangan-jangan orang yang pergi bersamamu itu...?"

Mire-san bertanya balik dengan ekspresi terkejut yang tulus.

"Iya, benar."

"Begitu ya. Tunangan, ya. Kalau begitu, semoga kamu bisa cepat bertemu mereka kembali."

"Iya!"

Ternyata Mire-san benar-benar orang yang baik.

Aku merasa bersyukur atas pertemuan ini.

Di pusat distrik, terdapat sebuah bangunan besar. Sepertinya ini adalah Hunter Guild.

Mire-san memberitahuku bahwa di distrik ini, organisasi bernama Hunter Guild—yang mirip dengan Adventurer Guild—memegang berbagai peran seperti eksekutif, yudikatif, hingga legislatif.

Namun, Guild Master dari Hunter Guild dipilih melalui pemungutan suara oleh seluruh penduduk distrik, itulah alasan mengapa sistemnya tidak berubah menjadi kediktatoran.

Oleh karena itu, Guild Master Hunter Guild juga merangkap jabatan sebagai Kepala Distrik.

Saat memasuki bangunan, orang-orang yang tampak seperti Hunter menatap tajam ke arah kami, namun ekspresi mereka langsung berubah saat melihat apa yang kupanggul di punggung.

Tentu saja, mereka pasti terkejut melihat Wild Boar hasil buruan Mire-san yang begitu luar biasa.

Ukurannya kira-kira lima puluh persen lebih besar daripada Wild Boar yang aku tahu.

"(Oi, lihat anak itu. Siapa dia? Belum pernah lihat, tapi dia menggendong Wild Boar dengan entengnya.)"

"(Apa dia punya Skill Physical Reinforcement? Tapi dengan Support Aptitude biasa, mustahil bisa mengangkat beban seberat itu.)"

"(Kelihatannya cuma bocah krempeng, tapi sepertinya lebih baik jangan cari gara-gara dengannya.)"

Semua orang melihat ke arahku sambil berbisik-bisik.

Aku tahu mereka salah paham, tapi aku merasa malu karena menjadi pusat perhatian.

Aku sedikit menundukkan wajah dan menurunkan Wild Boar itu.

"Selamat datang kembali, Mire-san—wah, ini tangkapan besar lagi! Hebat sekali kamu bisa membawanya sampai sini."

Seorang staf Guild wanita muda berkacamata berseru kaget.

Setelah beberapa staf lain datang untuk mengangkut Wild Boar tersebut, pandangannya beralih dariku ke arah Kuruto.

"Anda pasti Tuan Kuruto Rockhans. Saya sudah mendengar ceritanya. Anda hanya akan tinggal sementara sampai Karavan Transportasi datang, benar?"

"Iya."

"Di kota ini tidak ada penginapan. Tidak ada tamu selain Karavan Transportasi, dan mereka semua tidur di kereta barang mereka. Sebagai gantinya, ada tempat tidur kosong di ruang perawatan Hunter Guild, Anda boleh menggunakannya."

"Terima kasih banyak."

Sebenarnya asalkan ada tempat untuk berteduh dari hujan dan angin aku sudah bersyukur, jadi aku akan menerima kebaikan hati mereka.

"Namun, karena ini adalah organisasi bantuan bersama para Hunter, Tuan Kuruto diwajibkan untuk mendaftar sebagai Hunter selama menunggu karavan datang, dan menjalankan tugas-tugas yang kami berikan... apakah Anda bersedia? Tentu saja, kami akan memberikan upah secara terpisah."

"Eh? Boleh, kah!?"

Aku merasa tidak enak jika menumpang secara cuma-cuma, tapi mereka malah memberiku pekerjaan.

Apakah benar-benar tidak apa-apa?

"Ngomong-ngomong, Tuan Kuruto punya keahlian apa? Seperti Skill, misalnya?"

Apakah ini semacam wawancara?

Aku merasa orang-orang di sekitar sedang memasang telinga, mungkin karena pengelana adalah hal yang langka bagi mereka.

Keahlian yang kupunya paling-paling cuma membawakan barang atau pekerjaan serabutan, aku tidak punya kepercayaan diri selain itu.

Tapi, sekarang berbeda.

Sejak bekerja di bengkel, aku mulai memiliki kepercayaan diri.

Oleh karena itu, aku mengatakannya dengan lantang.

"Keahlian saya adalah memasak dan bersih-bersih!"




“““Kandidat istri idaman banget, sih!”””

Suara-suara seru menyambar dari sekeliling.

(Boleh juga, nih.)

Saat seseorang bergumam pelan di belakangku, rasa merinding menjalar di punggung.

Aku tidak mendengarnya dengan jelas, tapi mungkinkah itu sejenis kutukan?

Apakah di Hunter Guild ada tradisi melemparkan kutukan kepada Hunter pemula untuk menguji Curse Resistance mereka?

"Kuruto-san, selain itu apa lagi keahlianmu?"

"Eks, anu, aku juga ahli dalam Mining."

Waktu Mimiko-san melihat bakatku, kalau tidak salah memasak, bersih-bersih, dan Mining semuanya mendapat peringkat B Rank.

"Bagaimana dengan Skill Aptitude-mu?"

"Skill Aptitude—maaf, aku belum pernah mengukurnya jadi aku tidak tahu."

"Ah, begitu ya? Yah, memang ada beberapa distrik permukiman yang tidak punya alat ukur, sih."

"Kalau begitu, Mire-san, maaf merepotkan. Tolong urus prosedur penjualan Wild Boar-nya di tempat penjagalan, ya."

"Oke, mengerti. Kuruto, semangat ya."

Beberapa staf Guild menaikkan Wild Boar ke atas kereta dorong, lalu pergi ke luar bersama Mire-san.

Setelah itu, aku berbicara dengan resepsionis wanita di sana.

Resepsionis ini entah kenapa suasananya mirip dengan Kirschel-san—resepsionis di Halo-Halo Work Station yang dulu pernah membantuku.

Ngomong-ngomong, kudengar Kirschel-san dipindahtugaskan ke bank, apa dia baik-baik saja ya?

Waktu aku bertanya pada staf yang sekarang bekerja di Halo-Halo Work Station cabang Valha, katanya itu adalah promosi jabatan yang berkedok pindah tugas, jadi harusnya tidak ada masalah.

"Kuruto-san, ini adalah Magic Stone untuk mengukur Skill Aptitude."

"Nilai kecocokan bisa diukur dari F Rank sampai SS Rank. Silakan pasang di gelang ini untuk menggunakannya."

Rasanya benar-benar mirip tes kecocokan di Halo-Halo Work Station—pikirku.

Katanya, begitu dipasang di gelang, alatnya akan otomatis bersinar.

Peringkatnya bisa diketahui dari warna cahaya tersebut.

"Baiklah, mari kita mulai dari pengukuran Skill Physical Reinforcement."

"Baik."

Pengukuran Skill Aptitude pun dimulai—dan hasilnya, tidak terjadi apa-apa.

Resepsionis itu mencoba mengganti gelang milikku dengan gelang milik Guild, tapi tetap tidak ada reaksi.

Bahkan saat menggunakan Magic Stone pengukur lainnya pun, hasilnya tetap nihil.

"Kuruto-san, ini adalah Magic Stone Ironization. Bisa tolong dicoba?"

"Baik...... anu, bagaimana cara pakainya?"

Lise-san menggunakannya seolah itu hal yang alami, tapi aku tidak tahu cara memicu Skill.

Aku mencoba mengerahkan tenaga sekuat tenaga.

"Ah, Skill-nya aktif, kok."

"Eh? Benarkah?"

"Lihat, di ujung jari ini—warnanya jadi sedikit hitam."

"............"

Seingatku tidak ada tahi lalat di bagian sini.

Saat aku menyentuhnya dengan tangan satunya, rasanya sedikit aneh, seperti ada benda asing.

Jadi bagian ini sudah berubah menjadi besi, ya.

"Sepertinya alat ukurnya tidak bermasalah. Mari kita lanjutkan pengukurannya."

Sambil berkata begitu, dia terus mengganti Magic Stone satu per satu untuk mengukur Skill-ku.

Hasilnya, alat ukur itu tidak bereaksi sama sekali terhadap Magic Stone mana pun.

"Anu, bagaimana dengan kecocokanku?"

"Sepertinya, semua Skill Aptitude milik Kuruto-san berada di bawah F Rank—alias peringkat G Rank."

Apakah karena aku berasal dari dunia yang berbeda, jadinya aku tidak punya bakat Skill?

Pikirku begitu, tapi sepertinya di dunia ini pun ada cukup banyak orang yang tidak memiliki bakat Skill.

Resepsionis itu tidak tampak terkejut ataupun merasa kasihan, dia terus mengisi dokumen dengan tenang.

Dari sekeliling, terdengar suara-suara kecewa seperti, "Apa-apaan, ternyata cuma G Rank."

Aku jadi teringat saat pertama kali menjalani tes kecocokan di Halo-Halo Work Station.

Waktu itu pun, semua bakat tipe tempurku memang G Rank.

"(Eh, tunggu sebentar! Aku baru sadar, berarti anak itu menggendong Wild Boar tadi tanpa menggunakan Skill? Tenaga macam apa itu?)"

"(Cih, aku sudah menyimpulkan logika itu tepat saat hasil Skill Aptitude-nya dinyatakan G Rank.)"

"(Kalau soal itu, aku sudah menyadari dari awal kalau dia menggendong Wild Boar tanpa Skill, tahu.)"

"(Bohong banget.)"

"(......Boleh...... juga, nih.)"

Lagi-lagi rasa merinding menjalar di tubuhku.

Jika ini adalah firasat buruk, aku jadi khawatir pada Yurishia-san dan yang lain.

Tapi, aku harus mengkhawatirkan diriku sendiri dulu.

Kalau aku tidak bisa bekerja, aku tidak akan bisa menginap di Hunter Guild—tidak mungkin begitu, kan?

"Meski tidak punya Skill, tetap ada pekerjaan, kok. Jadi tenang saja dan silakan beristirahat untuk hari ini."

"............Baik."

Kalau diingat-ingat, Kirschel-san juga pernah memperkenalkan pekerjaan padaku seperti ini.

Waktu itu aku dipecat dari proyek konstruksi hanya dalam tiga hari, kali ini aku harus berjuang lebih keras.

"Kalau begitu, saya akan antar ke kamar. Silakan istirahat. Mungkin kamarnya agak sempit dan kurang nyaman."

"Terima kasih banyak."

Kamar yang ditunjukkan memang sempit seperti kata resepsionis tadi, sebuah kamar sederhana yang hanya berisi tempat tidur.

Akhir-akhir ini aku sering tidur di ranjang mewah di bengkel, tapi dulu saat masih di Dragon's Flame Fang, aku sering diusir oleh Golnova-san dari kamar laki-laki.

Saat menyewa kereta, aku juga tidur di bak kereta, jadi menurutku ini sudah termasuk fasilitas yang mewah.

"Kalau begitu, saya akan panggil lagi jika perhitungan pembayaran Wild Boar-nya sudah selesai."

"Terima kasih atas segalanya."

"Ini sudah bagian dari pekerjaan saya."

Resepsionis itu memberikan senyum bisnis yang manis sebelum pergi.

Akhirnya aku bisa sendirian.

Sebelum beristirahat, aku mengeluarkan barang-barang yang diperlukan dari Magic Bag untuk memanggil Nietzsche-san.

Pertama adalah tanah liat.

Aku meremasnya hingga membentuk sebuah pot tanaman.

Di dalamnya aku masukkan tanah dan sedikit pupuk dari kotoran naga.

Jika terlalu banyak pupuk, pohonnya bisa tumbuh terlalu besar hingga menjebol pot.

Segini kurasa cukup.

Aku menancapkan dahan ke tanah dan memberinya air.

Dahan itu tumbuh sedikit.

Ukurannya pas untuk masuk ke dalam pot.

Kudengar di negara asal Danzo-san, pohon dalam pot seperti ini disebut Bonsai, dan populer di kalangan orang kaya.

"Nietzsche-san, apa kau mendengarku? Jika dengar, tolong jawab."

Aku berbicara pada pohon itu.

Tidak ada reaksi.

Apakah aku harus membuatnya lebih besar lagi?

Sesaat setelah aku berpikir begitu, sebuah tangan kecil muncul dari pangkal pohon.

Tangan yang jauh lebih kecil dari Akuri itu mencengkeram tanah dan merangkak keluar.

Yang muncul adalah sosok Nietzsche-san dengan tinggi sekitar sepuluh sentimeter.

Dia menyandarkan tangannya di tepi pot sambil terengah-engah.

"......Kuruto-sama, Anda selamat?"

"Nietzsche-san sendiri apa tidak apa-apa? Apakah mustahil untuk mewujudkan diri dalam ukuran biasa jika hanya menggunakan pot tanaman?"

"Ukurannya kecil karena dahannya belum tumbuh sempurna, tapi aku merasa lelah karena tempat ini berada di dalam segel."

"Sepertinya, segel di distrik permukiman ini hampir tidak dilewati nadi bumi. Karena itu, energi dari luar tidak bisa masuk."

"Berarti jika berada di dalam distrik, akan sulit bagi Akuri dan yang lain untuk melakukan Teleport ke sini?"

"Begitulah. Jika ingin melakukan Teleport, tolong tanam di luar distrik permukiman."

"Lagipula, saat ini mereka tidak ada di dekat sini, jadi komunikasi tidak bisa terhubung."

"Eh? Semuanya pergi ke mana?"

"Karena informasi tentang sarang Wyvern sudah didapat, mereka pergi ke sana."

"Mereka bilang akan kembali paling lambat besok, jadi jika ada kontak dari Kuruto-sama, mereka berpesan agar Anda menunggu di tempat yang aman."

Kecepatan bertindak Yurishia-san sebagai petualang malah berbuah simalakama.

Haruskah aku langsung menanam dahan Nietzsche-san tadi tanpa memedulikan kecurigaan Mire-san?

Atau mungkin lebih baik jika aku jujur saja menceritakan semuanya.

Aku memberi tahu Nietzsche-san nomor distrik tempatku berada, agar dia bisa menghubungi Yurishia-san dan yang lain saat mereka kembali.

Tentu saja, jika ada kesempatan keluar dari distrik, aku akan mencoba menanam dahan Nietzsche-san yang baru di sana.

Tepat saat aku berpikir begitu.

"—! Kuruto-sama, mohon maaf!"

Nietzsche-san berkata begitu lalu menyelinap masuk ke dalam bajuku.

Sebelum aku sempat bereaksi terhadap kejadian mendadak itu—

"Kuruto, ada di dalam?"

Mire-san mengetuk pintu dan bertanya.

Sepertinya Nietzsche-san menyadari keberadaan Mire-san dan langsung bersembunyi.

Padahal aku sendiri bahkan tidak mendengar suara langkah kakinya.

"Iya, ada."

Saat aku menjawab dan membuka pintu, Mire-san tampak sangat gembira.

"Tadi perhitungan Wild Boar-nya sudah selesai. Aku sudah menerima biaya pembasmian monster dan uang penjualannya."

"Total uang penjualan kulit dan dagingnya, setelah dipotong biaya jagal, adalah delapan puluh ribu Port."

Sambil berkata begitu, Mire-san menunjukkan delapan lembar uang sepuluh ribu Port yang sudah lecek.

Lalu dia menyodorkan setengahnya, yaitu empat lembar, kepadaku.

"Ini, bagian untuk Kuruto."

"Bagianku?"

"Tentu saja. Tanpamu, aku tidak akan bisa membawa separuhnya pun ke sini, jadi ini sudah sewajarnya."

"Biaya pembasmian monster hanya kuterima sendiri, tapi untuk yang ini, aku harus membaginya agar adil."

"Terima kasih banyak."

Berarti dia mengakui pekerjaanku, kan?

Aku merasa ketegangan di wajahku sedikit mengendur.

Melihatku begitu, Mire-san pun tersenyum.

"Ngomong-ngomong, Kuruto. Pot tanaman yang ada di situ punya siapa? Apa memang sudah ada di kamar ini?"

"Ah, ini barang pribadiku......"

Haruskah aku bilang kalau aku memasukkannya dengan Skill Storage?

Tapi, karena Skill Aptitude-ku barusan ketahuan G Rank, pasti akan ketahuan kalau aku tidak mungkin bisa memakai Skill sehebat itu, kan?

"Tadi aku masukkan ke dalam tas."

"Di dalam tas? Eh? Apa tasmu muat untuk ukuran sebesar itu!?"

Gawat!

Di dunia ini sihir tidak eksis.

Magic Bag yang biasa digunakan di duniaku mungkin dianggap sebagai benda sesat di sini.

Apalagi tadi baru saja ketahuan kalau aku tidak bisa memakai Skill...... bagaimana cara aku berkilah?

"Anu, aku ini ahli dalam menata barang bawaan."

"Kurasa itu bukan ukuran yang bisa masuk hanya dengan menata barang...... yah, sudahlah."

Ketertarikan Mire-san beralih dari ukuran tas ke pot tanaman tersebut.

Aku bisa bernapas lega.

"Kuruto, apa hobimu mengoleksi Bonsai? Hobimu antik juga ya."

"Eh, bukan hobi juga, sih...... anu, Mire-san, ada apa?"

Tiba-tiba Mire-san memasang wajah serius dan tampak memikirkan sesuatu.

Ada apa ya...... mungkinkah Mire-san menyadari kalau pohon ini bukan pohon biasa, melainkan pohon yang dihuni roh?

"Kuruto, kau ahli dalam Mining, kan? Apa kau pernah melakukan investigasi reruntuhan?"

"Reruntuhan—iya. Sudah beberapa kali."

Aku pernah menginvestigasi reruntuhan peradaban Laplace atas permintaan Mimiko-san.

Meskipun aku cuma bisa melakukan hal biasa seperti menemukan ruang rahasia atau menerjemahkan huruf kuno, sih.

Begitu aku menjawab, Mire-san terdiam sejenak.

"Besok pagi aku akan datang lagi. Kantin ada di belakang Hunter Guild."

"Aku sarankan pesan menu harian, harganya delapan ratus Port dan porsinya sangat mengenyangkan."

Setelah berkata begitu, Mire-san keluar dari kamar.

Nietzsche-san merangkak keluar dari dalam bajuku.

"Reruntuhan di dunia ini, apakah berarti ada sesuatu dari peradaban kuno yang tertidur di sana?"

"Entahlah. Tapi kalau bisa ikut investigasi reruntuhan, aku bisa mencari celah untuk menanam dahan Nietzsche-san."

"Jadinya, aku akan coba ke kantin yang disarankan Mire-san."

"Tunggu sebentar, Kuruto-sama."

Nietzsche-san menatap pot tanaman itu lekat-lekat—

"Tolong taruh potnya di ambang jendela yang terkena sinar matahari. Aku ingin berfotosintesis."

Dia menginstruksikanku untuk memindahkannya ke tempat yang terkena cahaya matahari.

Setelah itu, aku pergi ke kantin yang diberitahu Mire-san.

Saat memesan menu harian, aku disuguhi setumpuk daging Wild Boar.

Sangat sedikit sayuran atau biji-bijian, isinya benar-benar cuma daging.

Sepertinya keseimbangan nutrisinya sangat buruk.

Andai saja aku juga bisa berfotosintesis.

 

Keesokan paginya.

Yang datang menemuiku bukanlah Mire-san, melainkan dua orang laki-laki.

Satu orang pria berusia sekitar empat puluh tahun yang memakai bucket hat.

Satu lagi adalah pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.

"Kau yang namanya pengelana Kuruto itu......"

Pria yang memakai bucket hat itu menatapku seolah sedang mengobservasi secara mendalam.

Keheningan berlanjut.

Anu, siapa ya mereka?

"Ayah, Anda belum memperkenalkan diri."

"Beliau adalah Guild Master Hunter Guild sekaligus Kepala Distrik permukiman ini, Tuan Harrel. Saya putranya sekaligus sekretaris beliau, nama saya Hail."

"Kepala Distrik!? Maaf atas kelancangan saya. Saya Kuruto Rockhans."

Aku buru-buru menundukkan kepala.

Harrel-san dan Hail-san, meskipun keduanya memiliki rambut cokelat, wajah mereka tidak terlalu mirip sehingga aku tidak menyadari kalau mereka ayah dan anak.

"Terima kasih telah mengizinkan saya menumpang sejak kemarin. Mohon maaf saya terlambat memberi salam."

"Aku tidak merasa pernah mengurusmu secara khusus."

Setelah berkata begitu, Harrel-san langsung keluar kamar tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Apa beliau sedang marah?

"Tolong jangan masukkan ke dalam hati. Ayah memang selalu begitu."

"Lagipula, kemarin Ayah tidak ada di Hunter Guild, jadi wajar saja Anda tidak bisa memberi salam."

Hail-san mencoba menenangkanku.

Lalu, dia menundukkan kepala dengan sopan dan keluar dari kamar.

Tak lama kemudian, Mire-san masuk menggantikan mereka.

"Kuruto, Guild Master tadi ke sini, ada apa?"

"Sepertinya beliau datang untuk menyapa. Padahal harusnya aku yang datang menemui beliau......"

"Bagaimana ya, apa sebaiknya aku pergi memberi salam sekali lagi? Apakah tidak sopan kalau aku membawakan kue kering?"

"Tadi aku sempat berpikir Kuruto itu lebih mirip perempuan daripada aku, tapi ternyata kamu punya sisi seperti ibu-ibu, ya?"

"Eh!?"

Aku sering dibilang feminin, tapi dibilang mirip ibu-ibu baru pertama kali ini.

Tapi kalau dipikir-pikir, saat Ibu pergi memberi salam ke tetangga, beliau memang sering membawakan kue kering, jadi mungkin itu tidak sepenuhnya salah.

"Kurasa tidak perlu memberi salam lagi. Guild Master itu tipe orang yang membangun dinding."

"Dia tidak membiarkan orang mendekat. Meski kau bawa kue pun, dia pasti akan bilang 'Memberi hadiah kepada Kepala Distrik dilarang oleh peraturan distrik' lalu menolaknya."

"Yah, tapi kinerjanya bagus dan dia kuat, jadi reputasinya baik. Dia bukan orang jahat, itu pasti."

Sepertinya Mire-san sendiri sangat menaruh kepercayaan pada Harrel-san.

Beliau pasti orang yang sangat hebat.

"Lalu Kuruto, soal pekerjaan Hunter."

"Iya! Aku akan melakukan apa pun yang bisa kubantu!"

"......Jangan bilang 'melakukan apa pun' dengan wajah seperti itu. Yah, ini bukan hal sulit, kok."

"Kita akan melakukan investigasi reruntuhan. Kita akan meninggalkan distrik selama tiga hari, jadi bersiaplah."

"Investigasi reruntuhan?"

"Iya. Aku sudah lama mengajukan permohonan, dan akhirnya izinnya turun."

"Barang yang ditemukan di reruntuhan boleh dimiliki sendiri, jadi kalau beruntung kita bisa kaya mendadak."

"Kau punya pengalaman investigasi reruntuhan, kan? Apa yang kau lakukan saat itu?"

"Yang kutemukan saat investigasi reruntuhan hanya peralatan makan logam dari Mithril yang punya nilai sejarah, bukan barang yang bisa diuangkan."

"Mithril? Logam yang belum pernah kudengar, tapi kalau punya nilai sejarah pasti laku sedikit, kan."

"Karena itu investigasi instansi resmi, semua barangnya harus disimpan untuk dilestarikan, jadi tidak menghasilkan uang."

Lho? Kurasa Mithril adalah logam yang bisa ditemukan di mana saja kalau kita menggali.

Apa di benua ini tidak ada depositnya?

Kalau diingat-ingat, selain di Desa Haste, aku hampir tidak pernah melihat Mithril digunakan.

Aneh sekali.

Mithril yang harusnya bisa ditambang di mana saja—tapi aku tidak pernah melihatnya dipakai.

Apa sebenarnya penyebab dari kontradiksi ini?

Padahal kalau Mithril dipakai untuk peralatan makan, dia punya efek Detoxification, kalau dipoles juga cantik, dan yang terpenting dia keras dan kuat sehingga sangat praktis.

—Jangan-jangan!?

Aku sampai pada satu kesimpulan.

Begitu ya, aku sudah salah paham besar.

Kukira di rumah biasa orang menggunakan piring keramik, dan bangsawan menggunakan piring perak karena mereka tidak terpikir untuk menggunakan Mithril...... tapi ternyata bukan itu.

Pasti karena Mithril adalah logam yang terlalu umum ditemukan di mana-mana, sehingga menggunakannya dianggap memalukan.

Kalau dipikir-pikir, gelas atau piring keramik yang dijual di toko peralatan makan mewah harganya sangat mahal.

Padahal kekuatannya sangat rendah sampai bisa pecah hanya karena jatuh ke lantai kayu.

Padahal kalau dibuat dengan benar, piring kaca sekalipun tidak akan pecah meski dilempar ke pelat besi.

Dari situ aku sadar.

Mungkin, peralatan makan justru semakin berharga jika semakin mudah pecah.

Gawat. Begitu pulang ke bengkel nanti, aku harus membuat peralatan makan yang mudah pecah.

......Tapi kalau membuat cangkir yang langsung belah dua hanya karena disentuh, itu sepertinya keterlaluan.

Sepertinya kekuatan yang membuatnya pecah hanya karena jatuh adalah yang paling pas.

Hmm, mencari batas kekuatannya sepertinya akan sulit.

"Kuruto, ada apa?"

"Ah, maaf. Aku sedang berpikir kira-kira tingkat kekerasan apa yang paling bagus."

"Sudah kubilang tidak perlu bawa kue kering, tapi aku sendiri sih lebih suka yang keras. Jadi, bagaimana, apa kau mau ikut investigasi reruntuhan bersamaku?"

"Jika kau tidak keberatan denganku. Aku bisa berangkat kapan saja."

Jika aku bisa keluar dari distrik permukiman, aku akan punya kesempatan untuk menanam dahan Nietzsche-san.

Dan yang terpenting, aku ingin membalas budi kepada Mire-san dan orang-orang Hunter Guild yang telah membantuku.

"Benarkah? Kalau begitu bisa berangkat sekarang?"

"Iya! Semua barang bawaanku sudah siap."

"Kalau diingat-ingat, barang bawaanmu cuma itu saja ya saat diculik Wyvern."

"Tapi, pastikan bawa botol minum, ya."

"Ah, aku bawa botol minum, kok. Isinya juga masih banyak."

Aku mengeluarkan botol minum dari dalam tas.

"Tasmu itu isinya macam-macam ya. Oh ya, parasut dan alat masak juga ada di dalamnya, kan?"

"Keahlianmu menata barang bukan cuma isapan jempol semata. Kapan-kapan aku ingin kau membantuku membereskan rumah."

"Aku siap membantu kapan saja."

Begitu aku berkata begitu, Mire-san menatapku dengan mata setengah tertutup.

"......Kalau kau terlalu sering bilang begitu, nanti tunanganmu bisa kehilangan rasa sayang padamu, lho?"

"Eh?"

Kenapa ya?

Kurasa mereka berdua bukan tipe orang yang akan marah jika aku membantu membersihkan kamar orang yang telah menolongku.

◆◇◆

Aku berjalan keluar dari distrik bersama Mire-san.

Katanya tujuan kami bisa dicapai dengan berjalan kaki selama setengah hari, jadi kami akan sampai sebelum malam tiba.

"Reruntuhan macam apa yang akan kita tuju?"

"Distrik Permukiman ke-121. Itu adalah distrik yang ditinggalkan lima belas tahun lalu karena alat pemelihara segelnya rusak."

Mire-san yang memakai masker penyerap Miasma menjelaskan padaku.

Kira reruntuhan yang dimaksud adalah dari peradaban kuno, ternyata distrik permukiman yang sudah ditinggalkan juga disebut reruntuhan.

"Apakah ada barang berharga di sana?"

"Begitulah. Sesaat setelah segel distrik itu hancur, monster muncul dan membuat distrik itu jadi tumpukan puing."

"Jadi uang atau barang berharga lainnya terkubur begitu saja di bawah puing-puing itu."

Monster?

Saat aku berpikir jangan-jangan itu—tiba-tiba, langit berubah menjadi gelap.

"Panjang umur...... Kuruto, ayo sembunyi di balik bayangan batu."

Atas instruksi Mire-san, kami bersembunyi di balik bayangan batu besar terdekat.

Sambil menahan napas, di tempat yang jaraknya sekitar lima kilometer dari kami, makhluk itu tiba-tiba muncul.

Sesosok monster raksasa yang sangat tinggi seolah menembus langit.

Makhluk itu berjalan dengan dua kaki layaknya manusia.

—Itu pastilah Monster Tabu.

Waktu makhluk itu muncul di Pegunungan Scene, aku sedang pingsan jadi tidak bisa melihatnya.

Makhluk yang diciptakan di zaman kuno sebagai penghasil Miasma tak terbatas, yang kemudian mengamuk dan menjadi dalang kehancuran dunia.

Bentuknya persis seperti yang diceritakan Yurishia-san saat makhluk itu muncul di Pegunungan Scene.

"Itu——"

Aku mengeluarkan teropong kecil dari dalam tas dan melihat ke arah kaki Monster Tabu tersebut.

Di sana, aku melihat pemandangan di mana monster-monster bermunculan dari bawah kaki Monster Tabu.

Miasma yang terkonsentrasi pekat berubah wujud menjadi monster.

"Kuruto, sudah kubilang sembunyi, kan. Meski jaraknya jauh kurasa kita aman, tapi kalau ketahuan bakal gawat."

"Tenang saja, sebentar lagi dia akan menghilang."

"Maaf."

Aku meminta maaf dan kembali bersembunyi di balik batu.

Tak lama kemudian, langit kembali terang dan sosok Monster Tabu itu telah menghilang.

Namun, monster-monster yang tadi muncul tetap berada di tempat itu.

"Sudah aman. Ayo berangkat."

Mire-san berbicara padaku seolah tidak terjadi apa-apa.

"Apa monster-monster itu dibiarkan saja?"

"Lama-lama mereka akan berpencar. Tempat itu pasti terlihat dari menara pengawas distrik, sekarang Hunter Guild pasti sedang sibuk-sibuknya."

"Kalau muncul di dekat distrik, tenaga untuk mengangkut dagingnya jadi lebih sedikit."

Sepertinya dia tidak menganggap monster sebagai ancaman, melainkan sebagai stok daging.

Mungkin karena selama berada di dalam distrik mereka tidak perlu takut pada monster, makanya pola pikirnya jadi begitu.

Mungkin kalau soal korban akibat monster, berkat adanya segel, Dunia Lama justru jauh lebih aman daripada duniaku.

Tapi untuk memelihara segel itu, dunia ini harus tetap dipenuhi Miasma.

"Sebenarnya aku ingin segera makan siang, tapi mari kita menjauh sedikit dari monster-monster itu."

Mengikuti Mire-san, kami mulai bergerak lagi.

Akhirnya kami baru bisa makan siang satu jam kemudian.

Di kejauhan, Distrik Permukiman ke-121 yang menjadi tujuan kami sudah terlihat.

Tapi dari sini mungkin butuh waktu tiga jam berjalan kaki.

"Biar aku yang masakan makanannya."

Sambil berkata begitu, aku mengeluarkan alat masak dan bahan makanan dari dalam tas.

Benar juga, mumpung ada kesempatan, bagaimana kalau aku masak hidangan ikan?

Ada banyak ikan kering di dalam tasku.

Rasanya sudah asin, jadi kubuat sup saja.

Persiapan api unggun, oke.

Persiapan bahan, oke.

Tinggal dipanaskan saja.

"Tunggu sebentar! Eh? Kapan kamu menyalakan apinya?"

"Terus, baunya sudah enak begini, apa memasak memang bisa secepat itu?"

"Aku cuma menyalakan api dan menyiapkan bahan makanan seperti biasa, kok. Ikan ini kubeli di distrik permukiman yang kita singgahi sebelumnya. Ini pertama kalinya aku memasak ikan jenis ini, jadi maaf ya kalau rasanya kurang enak."

"Bau seenak ini mana mungkin rasanya nggak oke... Selamat makan."

Mire-san menerima mangkuk sup dan sendok yang kusodorkan.

Mire-san menatap mangkuk dan sendok itu sejenak—bergumam, "Ini juga, ya"—lalu menyeruput supnya.

"……"

"Eh?"

Mire-san menangis.

Aku tersentak kaget melihat kejadian yang tiba-tiba itu.

"Mire-san, ada apa?"

"Ini terlalu enak. Sup apa sih, ini?"

"Ini sup ikan yang menggunakan bumbu bernama Miso."

"Miso... aku belum pernah dengar, tapi rasanya benar-benar menenangkan."

Mire-san terus meminum sup miso ikan itu tanpa menyeka air matanya.

Namun, saat itulah—

"——Kuruto, gawat! Kita harus kabur sekarang! Tinggalkan barang-barangmu dan lari!"

Mire-san mendadak menarik lenganku dan mulai berlari kencang.

Saat aku masih kebingungan, seekor Wyvern menukik dari langit, menyambar panci berisi sup miso itu, lalu terbang menjauh.

"Bukankah itu Wyvern yang menculik Kuruto kemarin?"

"Mungkin saja……"

"Begitu ya. Jadi alasan Kuruto diserang kemarin itu karena dia terpancing bau makanan yang enak, ya."

Mire-san mengenakan maskernya kembali, lalu memperingatanku agar tidak terlalu sering memasak saat berada di luar distrik permukiman.

Haa, aku ceroboh lagi.

Karena ada kemungkinan Wyvern itu kembali, kami menyudahi waktu istirahat dan bergegas menuju Distrik Permukiman ke-121.

Akhirnya, kami tiba di gerbang masuk distrik tersebut.

Sesuai perkataan Mire-san, tempat ini benar-benar hancur lebur.

Tembok bentengnya sudah runtuh di banyak sisi, dan sebagian besar bangunan di dalamnya telah rata dengan tanah.

Jika dibandingkan, Reruntuhan Laplace di sebelah barat Valha sepertinya masih jauh lebih utuh.

"Ini, Kuruto."

Mire-san menyodorkan sepotong dendeng padaku.

"Kuruto belum sempat makan apa-apa, kan? Jadi aku bagi dendengku. Anggap saja ini balasan untuk sup tadi."

"Boleh, nih?"

"Bakal repot kalau kamu pingsan karena kelaparan."

"Terima kasih banyak."

Aku berterima kasih pada Mire-san lalu mulai mengunyah dendeng itu.

Sepertinya ini daging ular.

Baunya masih agak amis, rasanya terlalu asin sampai menutupi rasa dagingnya, dan setiap kali dikunyah, rasanya cairan di mulutku semakin terkuras.

Tapi, rasanya sangat hangat.

Walaupun setelahnya aku jadi merasa sangat haus.

"Kuruto, jangan terlalu banyak minum, nanti airnya habis. Kamu juga bakal bolak-balik ke toilet."

"Iya, aku akan hati-hati."

Padahal botol minum ini sudah dipasangi Magic Crystal sehingga airnya akan terus keluar selama masih ada sisa mana, tapi memang kalau kebanyakan minum aku jadi ingin ke... ah!

"Maaf, boleh aku ke toilet sebentar?"

"Duh, baru juga dibilangin. Ya sudah, lagipula nggak ada tanda-tanda monster, selesaikan saja di balik reruntuhan itu. Aku akan mengawasi sekitar."

"Baik."

Aku bergegas ke balik reruntuhan, lalu mengeluarkan pot tanaman berisi dahan Nietzsche-san dari tas dan menanamnya kembali.

Di sini, siapa pun yang melakukan Teleport tidak akan terlihat atau disadari orang lain.

Supaya tidak tumbuh terlalu mencolok, aku tidak menggunakan pupuk dan hanya memindahkannya saja.

Nietzsche-san muncul dari dalam tanah.

Kecepatan kemunculannya lebih baik dari kemarin, tapi ukurannya tetap kecil.

Sepertinya ukuran tubuhnya memang berhubungan langsung dengan ukuran pohonnya.

"Kuruto-sama, ini di mana?"

Rupanya, meski dia bisa menghubungkan lokasi melalui nadi bumi, dia tidak mendapatkan informasi geografis secara otomatis.

"Distrik Permukiman ke-121. Kalau berdasarkan peta yang dibawa Yurishia-san dulu, posisinya ada di sini."

Aku menggambar ulang peta dalam ingatanku ke secarik kertas dengan cepat agar tidak ketahuan Mire-san, lalu menunjukkannya pada Nietzsche-san.

"Aku mengerti. Dari sini, kita bisa melakukan Teleport dengan kekuatan Akuri-sama."

"Apa ada kabar dari Yurishia-san dan yang lain?"

"Belum, mereka masih belum kembali dari pegunungan Wyvern. Sepertinya besok baru kembali."

"Begitu ya... Nietzsche-san, maaf ya. Mire-san sudah menungguku."

"Baik. Berhati-hatilah karena di luar segel banyak monster. Terutama keberadaan makhluk yang disebut Monster Tabu."

"Haha... aku sudah bertemu dengannya. Mengerikan sekali. Padahal dia kehilangan satu kaki, tapi hebat ya mereka semua bisa menang."

"…………Begitulah."

Entah kenapa Nietzsche-san setuju sambil membuang muka ke arah lain.

"Kuruto, di sebelah sana ada tempat yang biasa dipakai sebagai base camp, kita akan menginap di sana malam ini."

Aku mengikuti petunjuk Mire-san menuju pusat distrik.

Karena tempat ini sudah beberapa kali disurvei, sepertinya lokasi yang aman sudah terpetakan dengan baik.

Atau begitulah pikirku……

"Ini…… tempatnya?"

"Iya…… padahal tiga tahun lalu aku dengar mereka beristirahat di sini."

Gedung yang dulunya sebuah gereja dan digunakan sebagai base camp kini telah menjadi gundukan puing.

Sepertinya mustahil untuk bisa tidur di sini.

"Maaf, Kuruto. Harusnya aku sudah memperhitungkan kemungkinan ini. Tunggu sebentar, aku akan cari tempat kemah baru."

"Tunggu dulu! Kurasa di sana ada pintu masuk ruang bawah tanah, mungkin kita bisa istirahat dengan tenang di sana."

"Eh? Ruang bawah tanah?"

Aku menyingkirkan puing-puing seadanya untuk membuka jalan.

Di sana terlihat papan lantai yang penuh goresan, dan saat aku membongkarnya, sebuah lubang menuju bawah tanah muncul. Ada juga tangga kayu di sana.

"Ternyata ada ruang bawah tanah di sini. Tapi apa aman? Apa udaranya tidak pengap?"

"Aman, kok. Sepertinya ada alat pemurni udara di bawah sana."

Karena tangga kayunya sudah sangat rapuh, aku membuat tangga tali dari kain parasut yang kugunakan saat jatuh dari langit tadi. Dengan begini, meski tangga kayunya patah, kami tidak akan jatuh.

"Duh, ini sih levelnya sudah di atas sekadar terampil. Tunggu sebentar—"

Mire-san melihat ke arah bawah tanah dan menggumamkan Appraisal.

"Miasma-nya tidak terlihat. Benar-benar memurnikan udara ya, tidak sangka ada fasilitas seperti ini. Aku turun duluan, Kuruto menyusul ya."

"Baik, aku mengerti."

Mire-san menuruni tangga.

Begitu mendengar suaranya yang bilang kalau semuanya aman, aku pun menyusul turun.

Ruang bawah tanah itu terbagi menjadi beberapa ruangan.

Di bagian atas ruangan terdapat semacam pipa saluran udara, sepertinya pemurni udaranya bekerja untuk seluruh ruangan di sini.

Aku mengeluarkan lampu, mencari-cari di sekitar, dan menemukan sebuah sakelar.

"Ini sakelar lampunya."

Begitu kutekan, langit-langit pun bercahaya.

Sepertinya langit-langitnya dilapisi dengan Magic Dust—serbuk Magic Crystal—sehingga bisa bercahaya saat dialiri mana.

"Apa-apaan ini!?"

"Tenang saja. Ini cuma lampu, kok."

"Cuma lampu katamu... ya sudahlah. Ayo lihat ruangan lain. Kalau fasilitasnya semewah ini, siapa tahu ada sesuatu yang bisa diuangkan."

Mire-san meletakkan tangannya di gagang pintu.

Namun, dia tampak ragu untuk memutarnya.

"Mire-san, ada apa?"

"Yah... aku cuma sedikit gugup."

"Kurasa tidak ada jebakan di sini."

"Bukan itu... ah, iya, benar juga. Tidak apa-apa."

Mire-san pun membuka pintu itu.

Ternyata isinya adalah gudang.

Sepertinya tempat ini digunakan jauh sebelum distrik ini ditinggalkan, mungkin sejak zaman peradaban kuno.

Ada tumpukan kertas—meskipun kurasa itu kertas khusus yang bisa tahan ribuan tahun, tetap saja sudah lapuk. Baru disentuh sedikit saja pasti langsung hancur.

Kalau punya waktu, aku ingin sekali mencoba merestorasinya.

Namun, perhatian Mire-san teralih pada benda-benda sihir.

Meskipun sepertinya tidak ada yang terlalu langka.

"Ini Artefak, kan!"

"Artefak?"

"Kuruto, kamu ikut investigasi reruntuhan tapi nggak tahu soal Artefak? Itu benda-benda buatan orang-orang yang pergi ke Dunia Atas, alat-alat yang kita sendiri nggak tahu gimana cara buatnya."

Rupanya teknologi pembuatan alat sihir sudah punah, tapi alat-alatnya sendiri masih tersisa dan disebut sebagai Artefak.

"Ini bisa dijual mahal! Walaupun Kuruto yang menemukan ruangannya, tapi aku yang menemukan Artefaknya, jadi bagiannya setengah-setengah ya."

"Iya, aku tidak keberatan."

"……Padahal kamu boleh sedikit serakah, tahu?"

Entah kenapa Mire-san bilang begitu, tapi karena aku tidak terlalu butuh uang, jadi memang tidak apa-apa.

"Ayo lihat ruangan selanjutnya."

Suasana hati Mire-san berubah drastis menjadi ceria saat membuka pintu ruangan lain.

Ternyata itu gudang makanan.

Berisi banyak makanan kaleng. Untung saja hanya makanan kaleng.

Aku tidak sanggup membayangkan jika isinya yang lain.

Tentu saja, aku tidak punya nyali untuk mencoba membukanya dan memakannya.

Mire-san yang tidak tahu apa itu kalengan sempat mengajak untuk membukanya, tapi segera kuhentikan.

"Ini ruangan terakhir. Pintu logamnya paling mewah. Mungkin ini gudang harta."

"Iya, tapi pintunya terkunci."

"Bisa kamu buka?"

"Akan kucoba."

Aku mengeluarkan kawat dari tas, tapi saat hendak memasukkannya, aku menyadari sesuatu.

Lubang kunci ini cuma tipuan.

Jika ada sesuatu yang dimasukkan, alat alarm akan aktif, dan kemungkinan besar gas beracun akan menyembur dari langit-langit.

Aku tidak tahu apakah alarmnya masih berfungsi, tapi mengutak-atik lubang kunci tidak akan membuka pintu ini.

Bahkan dinding, langit-langit, dan lantainya sepertinya juga dipasangi jebakan serupa jika ada yang mencoba masuk selain lewat pintu.

Keamanannya sangat ketat.

Benar-benar seperti gudang harta karun.

Kalau cara licik tidak bisa, berarti harus pakai cara frontal.

"Kuruto, kamu lagi apa?"

"Sepertinya pintu ini hanya bisa dibuka oleh orang tertentu dan keturunannya, atau orang yang diberi izin. Jadi aku sedang mencoba mengubah datanya. Anggap saja seperti menangkap Golem liar dan mengatur ulang perintahnya."

"Mengatur ulang perintah Golem? Memangnya bisa?"

"Bisa, kok. Di desa... maksudku di distrik asalku, semua orang melakukannya untuk membantu pekerjaan berat."

"Distrik asalmu itu... sudahlah, rasanya kalau aku tanya lebih lanjut, pembicaraan ini bakal jadi rumit."

Aku mengeluarkan Dungeon Core kosong lalu mengalirkan mana ke dalamnya.

Orang-orang di dunia ini memang tidak bisa menggunakan sihir, tapi bukan berarti mereka tidak punya mana.

Sama sepertiku yang punya mana tapi tidak bisa sihir.

Mana manusia punya pola tertentu, misalnya pola mana antara orang tua, anak, dan cucu itu punya kesamaan gelombang.

Pasti pintu ini didesain untuk terbuka berdasarkan gelombang mana tersebut.

"Bisa dibuka dengan mudah?"

"Yah, kurang lebih begitu. Sebenarnya datanya ada sekitar dua pangkat empat puluh delapan, tapi karena mana manusia punya faktor yang sama, kalau bagian itu disisihkan, aku cuma perlu memasukkan sekitar dua pangkat enam belas pola data sampai ada yang cocok."

"Dua pangkat enam belas? Aku nggak jago hitung, tapi apa itu gampang?"

"Iya, gampang kok. Cuma perlu mencoba sekitar enam puluh lima ribu data sampai ketemu yang pas. Mire-san istirahat saja dulu."

"Enam puluh lima ribu!?"

Dengan menggunakan Dungeon Core, aku mengubah pola manaku sebanyak seratus pola per detik.

Dengan cara acak seperti itu, rata-rata butuh waktu kurang dari enam menit sampai ketemu yang pas.

Mungkin di sistem aslinya, jika ada orang yang diam selama enam menit di depan pintu, kamera pengawas akan menyadarinya dan petugas keamanan akan datang... tapi sekarang hal itu tidak perlu dikhawatirkan lagi.

Sepertinya keberuntunganku sedang buruk, karena butuh waktu delapan menit sampai akhirnya pintu itu terbuka.

Terdengar suara "Klik" dari pintu.

"Sudah terbuka."

"…………Beneran bisa terbuka. Padahal kamu tadi cuma terlihat diam sambil pegang bola kristal cantik. Kuruto, apa kamu sebenarnya hebat?"

"Ah, tidak kok. Ini biasa saja."

Aku mengatakan itu bukan karena rendah hati, tapi memang fakta.

Di dunia di mana sihir telah mundur, wajar jika ini dianggap mustahil, tapi jika tidak, siapa pun pasti bisa melakukannya.

Saat pintu terbuka, lampu di dalam ruangan otomatis menyala.

Di dalamnya terdapat alat sihir raksasa seukuran mesin pendorong kapal terbang.

Sepertinya ini semacam fasilitas pusat.

"Ini apa? Sepertinya sudah tidak jalan."

Mire-san bertanya sambil kebingungan.

Sepertinya dia tidak mengenali alat ini, padahal menurutku alat ini ada di setiap distrik permukiman.

"Sepertinya ini adalah alat untuk memelihara segel."

"Artinya, karena alat ini rusak, segelnya jadi berhenti?"

Aku membuka penutup perawatan dan memeriksa bagian dalamnya.

Sirkuit mananya masih utuh.

Hm, orang-orang zaman dulu benar-benar memikirkannya dengan matang saat membuat ini.

Ada beberapa teknologi mengagumkan yang disisipkan di dalamnya.

Paman Urano pasti senang kalau melihat ini.

"Aku tidak tahu kenapa dia berhenti, tapi sepertinya alat ini tidak rusak."

"Berarti, kalau dijalankan lagi, distrik ini bisa kembali seperti semula?"

"Ini hanya untuk memelihara segel, aku harus melihat alat pembangkitnya dulu baru bisa memastikan."

"Begitu ya. Tapi ini penemuan besar! Kalau lapor ke Guild, kita pasti dapat hadiah besar!"

"Syukurlah!"

Aku merasa lega bisa berguna bagi Mire-san dan Hunter Guild.

Malam itu, kami memutuskan untuk tidur di ruangan tersebut.

Untuk makan malam, kami memakan roti yang kusimpan di dalam Magic Bag.

"……Tas Kuruto beneran isinya macam-macam, ya. Kalau aku bilang minta selai, apa bakal keluar juga?"

"Nggak semua hal ada, kok. Tapi kalau selai sih, ada."

"Ada beneran!?"

Aku memberikan botol berisi selai buah Papamomo, dan Mire-san menatap tas milikku dengan penuh rasa heran.

Awalnya Magic Bag ini cuma kuisi alat kerja, tapi karena aku tidak tahu apa yang dibutuhkan untuk investigasi di dunia ini, aku memasukkan apa saja yang terpikirkan.

……Ngomong-ngomong, di dalam Magic Bag yang kuberikan pada Golnova-san dan Marlephis-san juga sudah kuisi banyak makanan, apa mereka makan dengan teratur ya?

Rasanya lancang sekali kalau aku mengkhawatirkan mereka, Golnova-san pasti akan marah kalau tahu, tapi tetap saja aku khawatir.

"Kuruto, kamu merasa kesepian ya karena terpisah dari tunanganmu?"

"Eh? Iya, tentu saja."

Meski yang kupikirkan bukan cuma Yurishia-san dan Lise-san, tapi tetap saja aku rindu mereka, jadi aku mengangguk.

"Benar juga ya, keluarga memang harusnya selalu bersama."

Ekspresi Mire-san saat mengatakan itu terlihat jauh lebih kesepian dariku.

Aku jadi penasaran bagaimana kabar keluarga Mire-san.

Aku bimbang apakah boleh menanyakannya lebih jauh.

"Aku... nggak punya keluarga."

Tiba-tiba Mire-san mulai bercerita sendiri.

"Maksudku, aku nggak ingat. Lima belas tahun lalu saat segel di sini hancur, monster-monster menyerang. Sebagian besar penduduk dibunuh oleh monster-monster itu, dan saat Guild Master datang membawa para Hunter, semuanya sudah terlambat. Aku satu-satunya yang selamat yang ditemukan di balik reruntuhan."

Begitu ya, ternyata Mire-san berasal dari sini.

"Lalu, keluarga Mire-san——"

Mereka pasti tewas saat itu.

Namun, jawaban Mire-san sedikit berbeda dari dugaanku.

"Itulah yang... aku nggak tahu. Aku nggak punya ingatan sebelum dipungut oleh Guild Master. Mungkin karena ketakutan saat distrik ini hancur, aku jadi lupa ingatan. Jadi, aku bahkan nggak tahu apa aku punya keluarga atau tidak."

"Lupa ingatan, ya... maaf, aku juga sering hilang ingatan, aku ingin sekali menyembuhkannya tapi belum ada obatnya."

"Aku nggak berharap banyak, kok. Eh, tunggu, Kuruto juga sering lupa ingatan?"

"Iya. Kami sering mendadak pingsan dan lupa ingatan selama sehari penuh. Sepertinya itu penyakit endemik di distrik asalku."

"Ahaha, aku senang kamu mencoba menghiburku, tapi carilah bohong yang lebih masuk akal. Nggak pernah ada penyakit kayak gitu."

Mire-san tertawa mendengar penjelasanku.

"Makanya, investigasi reruntuhan ini juga buatku setengahnya adalah mencari asal-usulku. Tadi aku sempat gugup saat masuk ke bawah tanah karena aku berharap di tempat seperti ini mungkin ada catatan penduduk, yang mungkin bisa memberitahuku siapa aku sebenarnya. Tapi ya, satu-satunya barang peninggalan masa lalu yang kupunya cuma hiasan rambut ini, jadi aku nggak berharap bakal ketemu dengan gampang."

Mire-san melepas hiasan rambut berbentuk bel tanpa suara yang terpasang di rambut hitamnya, lalu menatapnya dengan sedih.

Aku pun bertekad untuk membantu mencari asal-usulnya.

Berkat sistem sirkulasi udara yang baik, suhu dan kelembapan di bawah tanah sangat stabil dan nyaman, sehingga aku bisa tidur dengan nyenyak.

Saat pagi tiba dan kami kembali ke permukaan, tidak ada perubahan berarti di sekitar.

Langit masih tetap tertutup kabut seperti biasanya.

Pekerjaan hari ini adalah melakukan survei di distrik.

Terutama menyingkirkan puing bangunan yang hancur parah dan mencari benda-benda yang masih bisa digunakan atau dokumen berharga dari masa itu.

Di tengah jalan, kami menemukan jenazah yang sepertinya tertimbun bangunan saat Monster Tabu muncul. Meski sudah tinggal tulang dan hancur, kami mengeluarkan dan menguburkan mereka.

Saat menyingkirkan puing rumah besar, kami menemukan brankas besi berisi uang Port.

Benda-benda ini akan dibawa ke Hunter Guild, dan sebagian besar akan menjadi upah kami.

Karena brankasnya masih bisa dipakai, kami memutuskan untuk membawanya pulang.

Namun, tetap saja tidak ada petunjuk soal keluarga Mire-san.

"Aku nggak berharap bakal ketemu dengan mudah, kok. Lagipula, kita sudah menemukan banyak barang dan dapat banyak uang, jadi datang ke sini nggak sia-sia."

"……Iya."

Saat aku mengangguk, terlihat sesosok bayangan manusia di kejauhan.

Bayangan itu berjalan perlahan ke arah kami.

Bukan cuma satu, tapi banyak sekali.

Apa mereka Hunter yang juga sedang melakukan survei seperti kami? Atau penduduk asli yang datang menengok keadaan?

……Tapi tunggu. Rasanya jumlah mereka terlalu banyak.

Bukan cuma satu atau dua orang.

Lalu, meski tidak jelas karena melawan cahaya, bukankah tubuh mereka terlihat... busuk?

"Zombi!? Eh? Kenapa ada Undead muncul di sini?"

"Apa di sekitar sini memang sering muncul zombi?"

"Jarang sekali ada! Kuruto, lari! Mereka nggak bakal mati kalau kepalanya nggak dihancurkan, aku nggak bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Tapi gerakan mereka lambat, jadi jangan panik!"

"Baik!"

Aku menggendong brankas besi itu dan berlari menuju gerbang distrik.

Akan tetapi——

"Nggak mungkin."

Di dekat gerbang pun sudah dipenuhi kerumunan zombi, seolah-olah mereka sengaja menghalangi jalan keluar kami.

"Lewat sini!"

Kami berlari menghindari para zombi.

Aneh, setiap kali kami mencoba kabur, para zombi itu selalu bisa mencegat kami.

"Kuruto, kamu sadar?"

"Iya, aneh sekali. Seolah-olah kita sedang digiring ke suatu tempat."

Zombi itu sama seperti Tengkorak, kecerdasannya rendah, jadi mereka tidak mungkin bisa memahami medan dan mengepung mangsa. Tengkorak yang menyerang Valha dulu saja cuma bisa berjalan lurus.

Karena itu, aku ingin menganggap ini cuma perasaanku saja.

Cuma kebetulan semata.

Di depan kami tidak ada zombi, dan kami bisa kabur lewat celah tembok yang hancur.

——Tentu saja kenyataannya tidak semudah itu.

Aku lupa.

Bahwa sebuah petualangan itu selalu penuh dengan bahaya.

"Kita terkepung."

Mire-san berdecak kesal.

"Bisa-bisanya aku diakali oleh zombi."

"Mire-san saja yang kabur. Mire-san pasti bisa menerobos tembok zombi itu."

Aku meletakkan barang bawaanku.

"Mana mungkin aku bisa melakukan itu!"

Mire-san menyiapkan busur silangnya dan menembak.

Satu anak panah telak mengenai kepala zombi, tapi makhluk itu tidak juga tumbang.

"Daripada kita berdua jadi makanan zombi, lebih baik Mire-san saja yang keluar! Kemarin ada banyak monster muncul dan banyak Hunter di sekitar sini, siapa tahu ada orang di dekat sini. Tolong panggil bantuan!"

"Mana ada kebetulan seperti itu... lagipula, sepertinya mustahil. Zombi-zombinya semakin banyak. Aku nggak akan bisa menerobos jumlah sebanyak ini sendirian."

Sesuai perkataan Mire-san, tembok zombi yang mengelilingi kami semakin menebal.

"Kuruto, api! Nyalakan api!"

"Baik!"

Aku mengeluarkan kayu bakar dari tas dan menyalakannya.

Mire-san kini menembak kaki para zombi.

Zombi yang kakinya tertembak jatuh, tapi zombi lain langsung melangkahinya.

Mire-san melemparkan kayu bakar yang menyala ke arah mereka.

Sia-sia, mereka sama sekali tidak gentar.

Dan perlahan, tembok zombi itu semakin mendekat ke arah kami.

Saat aku berpikir harus mencari cara untuk melawan sebelum kami dimakan hidup-hidup——

Akar pohon muncul dari bawah tanah dan menyapu para zombi itu.

Dan, bersamaan dengan akar pohon tersebut, muncullah——

"Anda selamat, Kuruto-sama?"

Itu adalah sosok Nietzsche-san ukuran kecil.

Sepertinya dia menyadari ada yang aneh dan langsung datang membantu.

"Eh!? Siapa!? Anak kecil!?"

Aku merasa lega melihat Nietzsche-san, sementara Mire-san terlihat kebingungan.

"Kuruto-sama, jangan lengah. Aku memaksakan akarku memanjang jadi tenagaku tidak maksimal."

Nietzsche-san memanjangkan akarnya dan menembus kepala zombi.

Namun, para zombi itu malah mulai menggigit akar pohon tersebut.

Karena ukuran tubuhnya kecil, Nietzsche-san sepertinya tidak dalam kondisi puncaknya.

Haruskah kami menggali lubang dan pindah lewat bawah tanah——tidak, zombi adalah monster yang merangkak keluar dari dalam tanah, jadi kalau kami kabur ke dalam tanah, mereka tetap bisa mengejar.

Kalau begini terus, kami semua bakal——

"……Kuruto-sama——kita tidak punya waktu. Kamu bawa Pistol Sihir, kan?"

Nietzsche-san bertanya padaku sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.

"Iya, aku bawa. Tapi meski aku menggunakannya, aku tidak akan bisa mengalahkan zombi-zombi ini——"

"Tembakkan ke arah langit. Lurus ke atas."

Menembak ke langit?

Untuk apa?

Tidak, tidak ada waktu untuk ragu.

Aku mempercayai Nietzsche-san, mengeluarkan Pistol Sihir dari tas, mematikan fungsi pelacaknya, lalu menembakkannya lurus ke langit.

Cahaya menyilaukan meluncur membawa mana, menembus kabut yang menutupi langit.

Di balik kabut itu, terlihatlah langit biru yang jernih.

"…………Cantik sekali."

Mire-san bergumam saat melihat langit biru yang mungkin baru pertama kali ia lihat seumur hidupnya.

Namun, para zombi tetap tidak peduli dan terus mendekat ke arah kami.

Nietzsche-san juga sudah di batas kemampuannya——

Tepat saat itu, sesuatu melintasi lubang di langit tersebut.

"Di saat begini... ini yang terburuk……"

Yang melintas tadi adalah seekor Wyvern.

Wyvern itu berputar dan mulai mendekat ke arah kami.

Melawan zombi saja sudah kewalahan, sekarang malah ditambah Wyvern.

……Eh?

Aku menatap Wyvern itu dan menyadari sesuatu.

"Mire-san, tenanglah. Kita sudah aman."

Aku merasa lega, sampai rasanya ingin berlutut di tempat, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdiri.

"Eh? Apa maksudmu?"

"Orang-orang yang bisa diandalkan sudah datang."

Aku menarik napas dalam-dalam——

"Semuanya, di sini!"

Aku berteriak sekuat tenaga.

Ke arah tiga wanita yang menunggangi punggung Wyvern itu——Yurishia-san, Lise-san, dan Akuri.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close