NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 10 Interlude II & III

Interlude 2

Keajaiban di Distrik Permukiman


Hari ini, tamu dari luar datang ke Distrik Permukiman ke-536.

Jarang sekali ada orang dari luar yang datang selain rombongan karavan pedagang. Kalaupun ada, paling-paling hanya orang-orang dari distrik lain yang datang untuk mengemis makanan.

Beberapa hari yang lalu, ada seorang pemuda yang dibawa oleh Hunter bernama Mire, dan katanya mereka ini adalah rekan-rekannya.

Astaga, baru lima belas tahun tapi sudah punya dua istri?

Aku dengar ada beberapa distrik yang melegalkan poligami atau poliandri, tapi bocah ini benar-benar membuatku iri sekaligus jengkel.

Namun, yang menarik adalah kabar bahwa rombongan ini bekerja sebagai pedagang keliling.

Ini benar-benar berkah.

Menonton nyanyian atau tarian memang menyenangkan, tapi tidak ada hiburan yang lebih hebat daripada berbelanja barang dari dunia luar.

 

Di alun-alun, seorang wanita muda yang mengaku sebagai istri pemuda itu sedang menjajakan barang dagangan.

Bagiku, kesenangan nomor satu adalah buku-buku yang belum pernah kulihat, tapi aku tidak menemukannya di sana. Yah, lagipula kalaupun ada, buku itu sangat mahal jadi aku jarang bisa membelinya.

Sepertinya barang yang dijual memang fokus pada makanan dan keperluan sehari-hari yang cepat laku.

Aku sangat suka ikan kering, jadi aku senang ada yang menjualnya, meski ini bukan barang langka karena karavan pedagang juga sering membawanya.

Pokoknya, aku putuskan untuk membeli ikan kering.

Para wanita tampaknya sedang tergila-gila dengan manisan buah, tapi aku sendiri lebih memilih minuman keras.

Yah, aku tahu kalau cuma pulang membawa alkohol dan ikan, istri dan anak perempuanku pasti akan mengomel habis-habisan, jadi tentu saja aku juga membeli manisan buah.

 

Lalu, apa ada hal menarik lainnya.... Hmm?

"Nona kecil, itu benih apa?"

Seorang gadis yang lebih kecil dari putriku sedang menjajakan sesuatu yang tampak seperti benih tanaman.

Meski terlihat seperti anak kecil yang sedang bermain, barang itu diberi harga yang layak.

"Ini benih buah-buahan."

"Benih buah, ya. Bakal tumbuh jadi apa?"

"Ini benih anggur. Ini benih anggur yang ditanam oleh Papa, jadi pasti tumbuh subur. Karena ini varietas untuk bahan wine, mungkin kulitnya agak sedikit tebal kalau langsung dimakan."

"Wine, ya... Kedengarannya seperti sebuah mimpi."

 

Kalau tidak salah, pohon anggur butuh waktu dua atau tiga tahun sampai berbuah, kan?

Lalu kalau mau dibuat wine, butuh setidaknya satu tahun lagi sampai bisa diminum.

Satu paket berisi sepuluh benih harganya sepuluh Port. Cocoklah untuk sekadar bahan obrolan.

Tapi, apa jualan benih begini bisa untung?

Ya sudahlah, toh mereka sudah dapat izin dari Hunter Guild, jadi harusnya ini bukan sesuatu yang merusak tanah.

"Terima kasih sudah membeli. Apa Anda ingin sekalian membeli pupuknya? Ini pupuk organik yang ramah lingkungan."

Begitu rupanya, benih itu cuma pancingan agar orang-orang membeli pupuknya.

Pintar juga berdagangnya.

 

Lagipula, anak yang sejak tadi bicara denganku ini, apa dia benar-benar anak kecil?

Dibandingkan putriku yang berumur lima tahun di rumah—tidak, dia bahkan jauh lebih dewasa dariku?

Punya anak seperti ini, aku jadi iri pada ayahnya.

Pasti ayahnya sosok yang sangat keren.

Tepat saat aku berpikir begitu, sang ayah datang menghampiri.

Begitu melihat sosoknya, aku membatin.

...Dia jauh lebih keren dariku saat muda... tidak, dia bahkan lebih cantik daripada istriku saat muda.

 

Pokoknya, aku menanam benih yang kubeli di depan rumah dan menaburkan pupuknya.

Istriku memarahiku karena dianggap membuang-buang uang.

Sepertinya meski memakai uang sakuku sendiri, pemborosan tetap tidak dimaafkan.

Tapi, aku punya senjata rahasia: manisan buah.

Aku menyajikannya untuk istri dan putriku.

Aku malah dimarahi lagi karena hanya membeli satu botol. Sepertinya manisan itu luar biasa enak.

Ujung-ujungnya, sore itu juga aku disuruh pergi lagi ke alun-alun untuk membeli tambahan.

 

Keesokan paginya.

Istriku menyuruhku membeli manisan buah lagi kalau masih ada yang jualan di alun-alun.

Saat aku bertanya apa semuanya sudah habis dimakan, dia melempar bantal ke arahku sambil membentak, "Tentu saja untuk stok simpanan, bodoh!"

Aku pun keluar rumah sambil meminta maaf, tapi tiba-tiba aku langsung masuk lagi ke dalam.

"Ta-ta-ta-ta-ta-tunggu!"

"Baru juga keluar sudah pulang lagi. Ada apa, sih?"

"Gawat! Di depan rumah—"

"Di depan rumah?"

 

Karena istriku tidak paham, aku menarik tangannya keluar untuk melihat sendiri.

Di sana, telah tumbuh sepuluh pohon yang sudah dewasa.

Benih yang baru kutanam kemarin semuanya telah berubah menjadi pohon.

Bahkan, semuanya sudah berbuah anggur yang lebat.

"Apa-apaan ini? Kamu membeli pohon anggur dewasa dan menanamnya semalaman?"

"Jangan ngaco... mana mungkin gaji kecilku bisa beli pohon begini? Kan sudah kubilang, yang kubeli cuma benih dan pupuk saja."

Entah pupuknya yang terlalu bagus atau benihnya yang tidak normal, tapi ini benar-benar luar biasa.

 

"Ibu, aku bawakan obat."

Aku, yang tinggal berdua dengan Ibu di Distrik ke-536, membawakan obat yang kubeli di alun-alun untuk Ibu yang terbaring sakit.

Kupikir, jika obat ini bisa meredakan rasa sakit secara umum, setidaknya ini bisa sedikit membantu Ibu yang menderita.

Suamiku sudah lama meninggal, dan ketiga anakku sudah menikah dan punya keluarga masing-masing.

Bisa dibilang Ibu adalah satu-satunya keluarga yang tinggal bersamaku sekarang.

Tapi Ibu jatuh sakit dan kini hanya bisa terbaring di tempat tidur.

"Maafkan Ibu... benar-benar maaf merepotkanmu."

"Jangan minta maaf, Ibu."

Untungnya, distrik ini tidak menerapkan sistem saran bunuh diri (alias bunuh diri paksa) bagi mereka yang tidak bisa bekerja, tapi tetap saja hidup terasa berat.

Apalagi penyakit ini katanya tidak akan bisa sembuh.

Ibu pasti sudah menyadari hal itu.

"Ini, ayo minum. Karena obat cair, jadi mudah ditelan."

Aku membuka tutup botolnya dan memberikannya pada Ibu.

Botol kacanya sangat indah. Rasanya botol ini saja harganya sudah lumayan mahal.

Padahal, harga obatnya tidak sampai setengah dari harga obat yang dijual karavan pedagang.

Orang yang melakukan Appraisal bilang sambil tersenyum kalau ini bukan racun, tapi aku tidak terlalu berharap banyak soal khasiatnya.

 

"Terima kasih."

Ibu menerima obat itu dengan air mata berlinang, lalu meminumnya sekitar sepertiga botol.

Saat itulah, senyum mengembang di wajah Ibu.

Ini pertama kalinya Ibu tersenyum sejak beliau jatuh sakit.

"Rasanya enak sekali. Baru kali ini Ibu minum sesuatu seenak ini."

Enak? Sebuah obat?

Biasanya, obat itu pahit sampai-sampai membuat orang mengernyitkan dahi.

Jangan-jangan, mereka menjual sari buah yang menyamar sebagai obat?

Tidak, meskipun itu cuma sari buah, harganya tetap terlalu murah.

Tanpa perlu berbohong pun, kalau mereka jujur bilang itu sari buah dan menjualnya dengan harga yang sama, pasti akan langsung ludes.

Kalau begitu, mungkin mereka memang mengutamakan kemudahan untuk diminum.

Jika benar begitu, khasiatnya pasti tidak bisa diharapkan.

Tapi, karena sudah lama tidak melihat senyum Ibu, aku merasa bersyukur telah membeli obat ini dari lubuk hatiku yang terdalam.

 

Keesokan paginya.

Saat aku hendak pergi ke agen penyalur kerja untuk mencari jahitan, mataku terbelalak melihat sosok Ibu yang sudah berdiri tegak.

"Ibu!? Kenapa bisa?"

"Entahlah, tiba-tiba saja Ibu bisa berdiri. Mungkin obat kemarin itu sangat manjur."

"Gara-gara obat kemarin!?"

Sebuah keajaiban yang sulit dipercayai.

Aku sering bermimpi hal seperti ini terjadi, tapi aku selalu menyerah dan menganggapnya hanya bunga tidur.

Ternyata mimpi itu menjadi kenyataan.

Melihat keajaiban ini, aku bersujud kepada Tuhan dan kepada para pedagang keliling yang menjual obat itu dengan tangis penuh syukur.


Interlude 3

Malam Pertama yang Tak Bisa Terlelap

Aku——Kuruto, setelah mendapatkan izin dari Yurishia-san dan yang lainnya, memutuskan untuk secara resmi menerima permintaan dari Haarel-san.

Hari itu kami pindah kamar, dan diputuskan bahwa kami berempat—aku, Yurishia-san, Lise-san, dan Akuri—akan menempati satu ruangan yang sama.

Sepertinya status hubungan kami sebagai tunangan, juga sebagai orang tua dan anak, sudah disampaikan kepada pihak penginapan.

Sejujurnya, tidur berempat dalam satu kamar adalah hal yang sangat jarang terjadi. Malah, kurasa ini adalah yang pertama kalinya.

"Ini pertama kalinya kita berempat tidur di kamar yang sama, ya."

"Benar juga. Biasanya kalau menginap di penginapan, kita setidaknya ambil dua kamar, dan di Desa Haste pun kamar kita terpisah."

"Iya. Tapi aku pernah tidur di tenda yang sama dengan Yurishia-san, lho."

Begitu aku mengatakannya, tiba-tiba Yurishia-san berjalan menuju pintu seolah hendak membukanya.

Namun, tepat saat Yurishia-san hendak menggenggam kenop pintu, pintu itu sendiri lenyap dan tangannya hanya meraih udara kosong.

Eh, tunggu dulu?

Aku terkejut pintunya menghilang, tapi seingatku di sana memang tidak ada pintu.

Pintu kamar ini harusnya cuma ada satu.

"……Ilusi! Lise, apa kamu sekarang sudah bisa menciptakan ilusi pada benda mati juga?"

Yurishia-san bergumam dengan nada kesal.

Pintu kamar yang asli ternyata berada tepat di belakang Lise-san. Dalam sekejap, sebuah pertempuran sengit yang melibatkan perang psikologis telah meletus.

"Aduh, Yurishia-san. Sebagai seorang pengawal, bukankah seharusnya hal pertama yang dilakukan adalah memastikan jalur pelarian? Kupikir kamu sudah merenungi kesalahanmu saat membiarkan Kuruto-sama diculik Wyvern, tapi ternyata kewaspadaanmu agak mengendur, ya?"

Begitu ya, jadi dia sedang memastikan jalur pelarian.... Kalau aku yang dulu, mungkin aku akan salah paham begitu, tapi setelah mengetahui perasaan mereka berdua, aku sadar baru saja mengatakan sesuatu yang tidak perlu.

"Lise-san, tunggu dulu. Biarkan aku yang menjelaskan."

"Baiklah, jika itu permintaan Kuruto-sama, aku akan menunggu selamanya."

"Syukurlah."

"Tapi, setelah aku membereskan pengkhianat ini dulu——Padahal dia berkali-kali menyuruhku menahan diri dan bersabar sampai menikah, tapi beraninya dia mencuri start——"

"Seram, seram! Lise, tunggu! Stay!"

"Tidur di tenda yang sama dengan Kuruto-sama? Berdua? Cuma berdua saja? Aku tidak butuh penjelasan soal bagaimana kejadiannya. Vonisnya sudah pasti hukuman mati."

"Bukan, kami tidak tidur bersama! Tidak terjadi apa pun seperti yang kamu bayangkan. Begitu aku tidur di sebelahnya, Kuruto langsung keluar dan tidur di luar tenda. Benar! Kalau aku terbukti bohong, aku rela keluar dari Fanclub Kurumi-chan!"

Pembelaan diri Yurishia-san terdengar sangat putus asa.

Aku jadi tahu lagi kalau saat itu sebenarnya Yurishia-san sedang terjaga.

Tapi, mengajukan syarat aneh seperti keluar dari fanclub kalau berbohong... itu bukannya malah menyiram bensin ke dalam api—

"……Mempertaruhkan nyawa saja belum tentu menghapus kecurigaanku, tapi kalau kamu sampai bicara sejauh itu, sepertinya itu memang benar."

Dia percaya!?

Eh? Apa keluar dari fanclub-ku itu keputusan yang lebih berat daripada mempertaruhkan nyawa!?

"Tapi, fakta bahwa kalian pernah tidur bersama sejenak itu tetap benar, kan."

"Tunggu! Saat itu aku baru saja bertemu Kuruto dan belum menyukainya, jadi anggap saja tidak dihitung!"

"Tidak bisa, sekali tetap sekali. Berarti berikutnya giliranku."

Suasana kembali memanas. Kalau dibiarkan, entah akan jadi seperti apa.

Apa tidak ada solusi yang bagus? Saat aku berpikir begitu, Akuri menarik ujung bajuku dan berbisik.

"Aku jalan-jalan dulu sekitar dua jam, ya! Kalau ada bahaya, aku bisa kabur pakai teleportasi, jadi tenang saja."

"Tidak perlu sampai segitunya! Resepsionis Hunter Guild juga sudah memperingatkan supaya jangan macam-macam karena dindingnya tipis, lho."

"Tapi, kalau Papa kan bisa melakukan renovasi kedap suara tanpa menimbulkan berisik, kan?"

"Hal semacam itu kan bisa dilakukan oleh siapa saja yang hobi DIY."

Tepat setelah aku mengatakan itu, Yurishia-san dan Lise-san menatapku dengan mata penuh harap. Kurasa wajah mereka sedikit merona.

Bukankah ini situasi yang berbahaya?

"Kalau begitu, aku main ke rumah Mire-san saja. Sepertinya aku akan menginap di sana, jadi besok pagi baru kembali."

"Kuruto-sama, karena Akuri sudah bilang begitu, mari kita terima kebaikannya."

"Benar juga. Yah, melakukannya sebelum menikah memang agak bagaimana, tapi——kurasa hal seperti ini perlu dialami sekali untuk pengalaman."

"Betul, Ayah dan Ibu juga bilang kalau hal semacam ini perlu dialami sekali agar ikatan batin kita semakin kuat."

Aku mengangguk mantap.

"Kuruto-sama juga membicarakan hal seperti itu dengan Ayah dan Ibu, ya? Kupikir keluarga Kuruto-sama jauh dari hal-hal semacam itu."

"Eh? Ayah dan Ibu sebenarnya sampai sekarang pun masih sering melakukannya di malam hari. Setiap kali mengetahuinya, aku merasa sangat... tidak bisa berkata-kata."

"Yah, bagi seorang anak, itu memang canggung sekali, sih...."

Yurishia-san mengangguk setuju. Aku sangat paham kenapa Akuri ingin keluar dari kamar. Karena itu, aku menggenggam tangan mereka berdua dan memohon.

"Jadi, kumohon! Tolong jangan bertengkar!"

"""Bertengkar?"""

Yurishia-san, Lise-san, dan Akuri memiringkan kepala mereka di sudut yang sama.

"Tunggu, Kuruto. Sejak tadi kamu bicara soal pertengkaran?"

"Eh? Habisnya kalian berdua sedang bertengkar, kan?"

Kalau bertengkar dengan suara keras, dinding kamar ini tipis jadi bakal terdengar sampai keluar.

Kedua orang tuaku biasanya rukun, tapi sebenarnya mereka cukup sering bertengkar. Meski setelah itu langsung baikan lagi.

Orang tuaku selalu bilang begini:

"Apa yang kami lakukan ini bukan bertengkar, tapi saling mengadu argumen. Kuruto juga harus mengatakan apa yang ingin dikatakan sekali sebelum menikah, kalau tidak, nanti setelah menikah bakal repot, lho."

"Benar, Kuruto. Yurishia-san dan Lise-san itu gadis yang baik, tapi justru karena itulah pasti ada hal-hal yang tidak bisa mereka katakan padamu. Sesekali, perlu disediakan kesempatan seperti itu."

Begitu katanya.

"Haaah.... Yah, namanya juga Kuruto."

"Iya, karena ini Kuruto-sama, jadi mau bagaimana lagi."

Lho? Kok kesannya aku yang salah? Tapi karena entah kenapa mereka berdua sepertinya sudah berbaikan, kurasa aku bisa tidur dengan tenang.

Tengah malam.

Tiba-tiba aku terbangun, dan saat melirik ke tempat tidur sebelah, aku menyadari Lise-san sedang menatapku lekat-lekat, seolah dia tidak bisa tidur.

"Lise-san, kalau tidak bisa tidur, mau kusiapkan obat? Atau susu hangat—"

"Tidak perlu, jangan khawatirkan aku. Aku memang tidak bisa tidur, tapi rasa bahagiaku jauh lebih besar daripada itu, jadi aku tidak apa-apa."

"……Begitu ya."

Kalau Lise-san bilang tidak apa-apa, mungkin memang begitu. Aku mencoba memejamkan mata sedikit lagi sambil melirik.

Lise-san masih menatapku tajam.

Karena kurang tidur, pembuluh darah di matanya seolah mulai terlihat. Apa dia benar-benar tidak apa-apa?

Aku khawatir dengan kesehatan Lise-san, tapi lebih dari itu, aku merasa diperhatikan terus saat tidur sampai-sampai aku sendiri jadi sulit terlelap.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close