Interlude 2
Keajaiban di Distrik Permukiman
Hari ini, tamu
dari luar datang ke Distrik Permukiman ke-536.
Jarang
sekali ada orang dari luar yang datang selain rombongan karavan pedagang.
Kalaupun ada, paling-paling hanya orang-orang dari distrik lain yang datang
untuk mengemis makanan.
Beberapa
hari yang lalu, ada seorang pemuda yang dibawa oleh Hunter bernama Mire, dan
katanya mereka ini adalah rekan-rekannya.
Astaga, baru lima
belas tahun tapi sudah punya dua istri?
Aku dengar ada
beberapa distrik yang melegalkan poligami atau poliandri, tapi bocah ini
benar-benar membuatku iri sekaligus jengkel.
Namun, yang
menarik adalah kabar bahwa rombongan ini bekerja sebagai pedagang keliling.
Ini benar-benar
berkah.
Menonton nyanyian
atau tarian memang menyenangkan, tapi tidak ada hiburan yang lebih hebat
daripada berbelanja barang dari dunia luar.
Di alun-alun,
seorang wanita muda yang mengaku sebagai istri pemuda itu sedang menjajakan
barang dagangan.
Bagiku,
kesenangan nomor satu adalah buku-buku yang belum pernah kulihat, tapi aku
tidak menemukannya di sana. Yah, lagipula kalaupun ada, buku itu sangat mahal
jadi aku jarang bisa membelinya.
Sepertinya barang
yang dijual memang fokus pada makanan dan keperluan sehari-hari yang cepat
laku.
Aku sangat suka
ikan kering, jadi aku senang ada yang menjualnya, meski ini bukan barang langka
karena karavan pedagang juga sering membawanya.
Pokoknya, aku
putuskan untuk membeli ikan kering.
Para wanita
tampaknya sedang tergila-gila dengan manisan buah, tapi aku sendiri lebih
memilih minuman keras.
Yah, aku tahu
kalau cuma pulang membawa alkohol dan ikan, istri dan anak perempuanku pasti
akan mengomel habis-habisan, jadi tentu saja aku juga membeli manisan buah.
Lalu, apa ada hal
menarik lainnya.... Hmm?
"Nona kecil,
itu benih apa?"
Seorang gadis
yang lebih kecil dari putriku sedang menjajakan sesuatu yang tampak seperti
benih tanaman.
Meski terlihat
seperti anak kecil yang sedang bermain, barang itu diberi harga yang layak.
"Ini benih buah-buahan."
"Benih buah, ya. Bakal tumbuh jadi apa?"
"Ini benih anggur. Ini benih anggur yang ditanam oleh
Papa, jadi pasti tumbuh subur. Karena ini varietas untuk bahan wine,
mungkin kulitnya agak sedikit tebal kalau langsung dimakan."
"Wine, ya... Kedengarannya seperti sebuah
mimpi."
Kalau tidak salah, pohon anggur butuh waktu dua atau tiga
tahun sampai berbuah, kan?
Lalu kalau mau dibuat wine, butuh setidaknya satu
tahun lagi sampai bisa diminum.
Satu paket berisi
sepuluh benih harganya sepuluh Port. Cocoklah untuk sekadar bahan obrolan.
Tapi, apa jualan
benih begini bisa untung?
Ya sudahlah, toh
mereka sudah dapat izin dari Hunter Guild, jadi harusnya ini bukan sesuatu yang
merusak tanah.
"Terima
kasih sudah membeli. Apa Anda ingin sekalian membeli pupuknya? Ini pupuk
organik yang ramah lingkungan."
Begitu rupanya,
benih itu cuma pancingan agar orang-orang membeli pupuknya.
Pintar juga
berdagangnya.
Lagipula, anak
yang sejak tadi bicara denganku ini, apa dia benar-benar anak kecil?
Dibandingkan
putriku yang berumur lima tahun di rumah—tidak, dia bahkan jauh lebih dewasa
dariku?
Punya anak
seperti ini, aku jadi iri pada ayahnya.
Pasti ayahnya
sosok yang sangat keren.
Tepat
saat aku berpikir begitu, sang ayah datang menghampiri.
Begitu
melihat sosoknya, aku membatin.
...Dia
jauh lebih keren dariku saat muda... tidak, dia bahkan lebih cantik daripada
istriku saat muda.
Pokoknya,
aku menanam benih yang kubeli di depan rumah dan menaburkan pupuknya.
Istriku
memarahiku karena dianggap membuang-buang uang.
Sepertinya
meski memakai uang sakuku sendiri, pemborosan tetap tidak dimaafkan.
Tapi, aku punya
senjata rahasia: manisan buah.
Aku menyajikannya
untuk istri dan putriku.
Aku malah
dimarahi lagi karena hanya membeli satu botol. Sepertinya manisan itu luar
biasa enak.
Ujung-ujungnya,
sore itu juga aku disuruh pergi lagi ke alun-alun untuk membeli tambahan.
Keesokan paginya.
Istriku
menyuruhku membeli manisan buah lagi kalau masih ada yang jualan di alun-alun.
Saat aku bertanya
apa semuanya sudah habis dimakan, dia melempar bantal ke arahku sambil
membentak, "Tentu saja untuk stok simpanan, bodoh!"
Aku pun keluar
rumah sambil meminta maaf, tapi tiba-tiba aku langsung masuk lagi ke dalam.
"Ta-ta-ta-ta-ta-tunggu!"
"Baru
juga keluar sudah pulang lagi. Ada apa, sih?"
"Gawat!
Di depan rumah—"
"Di
depan rumah?"
Karena
istriku tidak paham, aku menarik tangannya keluar untuk melihat sendiri.
Di sana,
telah tumbuh sepuluh pohon yang sudah dewasa.
Benih
yang baru kutanam kemarin semuanya telah berubah menjadi pohon.
Bahkan,
semuanya sudah berbuah anggur yang lebat.
"Apa-apaan
ini? Kamu membeli pohon anggur dewasa dan menanamnya semalaman?"
"Jangan
ngaco... mana mungkin gaji kecilku bisa beli pohon begini? Kan sudah kubilang,
yang kubeli cuma benih dan pupuk saja."
Entah pupuknya
yang terlalu bagus atau benihnya yang tidak normal, tapi ini benar-benar luar
biasa.
"Ibu, aku
bawakan obat."
Aku, yang tinggal
berdua dengan Ibu di Distrik ke-536, membawakan obat yang kubeli di alun-alun
untuk Ibu yang terbaring sakit.
Kupikir, jika
obat ini bisa meredakan rasa sakit secara umum, setidaknya ini bisa sedikit
membantu Ibu yang menderita.
Suamiku sudah
lama meninggal, dan ketiga anakku sudah menikah dan punya keluarga
masing-masing.
Bisa dibilang Ibu
adalah satu-satunya keluarga yang tinggal bersamaku sekarang.
Tapi Ibu jatuh
sakit dan kini hanya bisa terbaring di tempat tidur.
"Maafkan
Ibu... benar-benar maaf merepotkanmu."
"Jangan
minta maaf, Ibu."
Untungnya,
distrik ini tidak menerapkan sistem saran bunuh diri (alias bunuh diri paksa)
bagi mereka yang tidak bisa bekerja, tapi tetap saja hidup terasa berat.
Apalagi penyakit
ini katanya tidak akan bisa sembuh.
Ibu pasti sudah
menyadari hal itu.
"Ini, ayo
minum. Karena obat cair, jadi mudah ditelan."
Aku membuka tutup
botolnya dan memberikannya pada Ibu.
Botol kacanya
sangat indah. Rasanya botol ini saja harganya sudah lumayan mahal.
Padahal, harga
obatnya tidak sampai setengah dari harga obat yang dijual karavan pedagang.
Orang yang
melakukan Appraisal bilang sambil tersenyum kalau ini bukan racun, tapi
aku tidak terlalu berharap banyak soal khasiatnya.
"Terima
kasih."
Ibu menerima obat
itu dengan air mata berlinang, lalu meminumnya sekitar sepertiga botol.
Saat itulah,
senyum mengembang di wajah Ibu.
Ini pertama
kalinya Ibu tersenyum sejak beliau jatuh sakit.
"Rasanya
enak sekali. Baru kali ini Ibu minum sesuatu seenak ini."
Enak? Sebuah
obat?
Biasanya, obat
itu pahit sampai-sampai membuat orang mengernyitkan dahi.
Jangan-jangan,
mereka menjual sari buah yang menyamar sebagai obat?
Tidak, meskipun
itu cuma sari buah, harganya tetap terlalu murah.
Tanpa perlu
berbohong pun, kalau mereka jujur bilang itu sari buah dan menjualnya dengan
harga yang sama, pasti akan langsung ludes.
Kalau begitu,
mungkin mereka memang mengutamakan kemudahan untuk diminum.
Jika benar
begitu, khasiatnya pasti tidak bisa diharapkan.
Tapi, karena
sudah lama tidak melihat senyum Ibu, aku merasa bersyukur telah membeli obat
ini dari lubuk hatiku yang terdalam.
Keesokan paginya.
Saat aku hendak
pergi ke agen penyalur kerja untuk mencari jahitan, mataku terbelalak melihat
sosok Ibu yang sudah berdiri tegak.
"Ibu!?
Kenapa bisa?"
"Entahlah,
tiba-tiba saja Ibu bisa berdiri. Mungkin obat kemarin itu sangat manjur."
"Gara-gara
obat kemarin!?"
Sebuah keajaiban
yang sulit dipercayai.
Aku sering
bermimpi hal seperti ini terjadi, tapi aku selalu menyerah dan menganggapnya
hanya bunga tidur.
Ternyata mimpi
itu menjadi kenyataan.
Melihat keajaiban
ini, aku bersujud kepada Tuhan dan kepada para pedagang keliling yang menjual
obat itu dengan tangis penuh syukur.
Interlude 3
Malam Pertama yang Tak Bisa Terlelap
Aku——Kuruto,
setelah mendapatkan izin dari Yurishia-san dan yang lainnya, memutuskan untuk
secara resmi menerima permintaan dari Haarel-san.
Hari itu
kami pindah kamar, dan diputuskan bahwa kami berempat—aku, Yurishia-san, Lise-san,
dan Akuri—akan menempati satu ruangan yang sama.
Sepertinya
status hubungan kami sebagai tunangan, juga sebagai orang tua dan anak, sudah
disampaikan kepada pihak penginapan.
Sejujurnya,
tidur berempat dalam satu kamar adalah hal yang sangat jarang terjadi. Malah, kurasa ini adalah yang pertama
kalinya.
"Ini pertama
kalinya kita berempat tidur di kamar yang sama, ya."
"Benar juga.
Biasanya kalau menginap di penginapan, kita setidaknya ambil dua kamar, dan di
Desa Haste pun kamar kita terpisah."
"Iya. Tapi
aku pernah tidur di tenda yang sama dengan Yurishia-san, lho."
Begitu aku
mengatakannya, tiba-tiba Yurishia-san berjalan menuju pintu seolah hendak
membukanya.
Namun, tepat saat
Yurishia-san hendak menggenggam kenop pintu, pintu itu sendiri lenyap dan
tangannya hanya meraih udara kosong.
Eh, tunggu dulu?
Aku terkejut
pintunya menghilang, tapi seingatku di sana memang tidak ada pintu.
Pintu kamar ini
harusnya cuma ada satu.
"……Ilusi! Lise,
apa kamu sekarang sudah bisa menciptakan ilusi pada benda mati juga?"
Yurishia-san
bergumam dengan nada kesal.
Pintu kamar yang
asli ternyata berada tepat di belakang Lise-san. Dalam sekejap, sebuah pertempuran sengit yang
melibatkan perang psikologis telah meletus.
"Aduh,
Yurishia-san. Sebagai seorang pengawal, bukankah seharusnya hal pertama yang
dilakukan adalah memastikan jalur pelarian? Kupikir kamu sudah merenungi
kesalahanmu saat membiarkan Kuruto-sama diculik Wyvern, tapi ternyata
kewaspadaanmu agak mengendur, ya?"
Begitu
ya, jadi dia sedang memastikan jalur pelarian.... Kalau aku yang dulu, mungkin
aku akan salah paham begitu, tapi setelah mengetahui perasaan mereka berdua,
aku sadar baru saja mengatakan sesuatu yang tidak perlu.
"Lise-san,
tunggu dulu. Biarkan aku yang menjelaskan."
"Baiklah,
jika itu permintaan Kuruto-sama, aku akan menunggu selamanya."
"Syukurlah."
"Tapi,
setelah aku membereskan pengkhianat ini dulu——Padahal dia berkali-kali
menyuruhku menahan diri dan bersabar sampai menikah, tapi beraninya dia mencuri
start——"
"Seram,
seram! Lise, tunggu! Stay!"
"Tidur
di tenda yang sama dengan Kuruto-sama? Berdua? Cuma berdua saja? Aku tidak
butuh penjelasan soal bagaimana kejadiannya. Vonisnya sudah pasti hukuman
mati."
"Bukan,
kami tidak tidur bersama! Tidak terjadi apa pun seperti yang kamu bayangkan.
Begitu aku tidur di sebelahnya, Kuruto langsung keluar dan tidur di luar tenda.
Benar! Kalau aku terbukti bohong, aku rela keluar dari Fanclub
Kurumi-chan!"
Pembelaan
diri Yurishia-san terdengar sangat putus asa.
Aku jadi
tahu lagi kalau saat itu sebenarnya Yurishia-san sedang terjaga.
Tapi,
mengajukan syarat aneh seperti keluar dari fanclub kalau berbohong... itu
bukannya malah menyiram bensin ke dalam api—
"……Mempertaruhkan
nyawa saja belum tentu menghapus kecurigaanku, tapi kalau kamu sampai bicara
sejauh itu, sepertinya itu memang benar."
Dia
percaya!?
Eh? Apa
keluar dari fanclub-ku itu keputusan yang lebih berat daripada mempertaruhkan
nyawa!?
"Tapi,
fakta bahwa kalian pernah tidur bersama sejenak itu tetap benar, kan."
"Tunggu!
Saat itu aku baru saja bertemu Kuruto dan belum menyukainya, jadi anggap saja
tidak dihitung!"
"Tidak bisa,
sekali tetap sekali. Berarti berikutnya giliranku."
Suasana kembali
memanas. Kalau dibiarkan, entah akan jadi seperti apa.
Apa tidak ada
solusi yang bagus? Saat aku berpikir begitu, Akuri menarik ujung bajuku dan
berbisik.
"Aku
jalan-jalan dulu sekitar dua jam, ya! Kalau ada bahaya, aku bisa kabur pakai
teleportasi, jadi tenang saja."
"Tidak perlu
sampai segitunya! Resepsionis Hunter Guild juga sudah memperingatkan supaya
jangan macam-macam karena dindingnya tipis, lho."
"Tapi, kalau
Papa kan bisa melakukan renovasi kedap suara tanpa menimbulkan berisik,
kan?"
"Hal semacam
itu kan bisa dilakukan oleh siapa saja yang hobi DIY."
Tepat setelah aku
mengatakan itu, Yurishia-san dan Lise-san menatapku dengan mata penuh harap.
Kurasa wajah mereka sedikit merona.
Bukankah ini
situasi yang berbahaya?
"Kalau
begitu, aku main ke rumah Mire-san saja. Sepertinya aku akan menginap di sana,
jadi besok pagi baru kembali."
"Kuruto-sama,
karena Akuri sudah bilang begitu, mari kita terima kebaikannya."
"Benar juga.
Yah, melakukannya sebelum menikah memang agak bagaimana, tapi——kurasa hal
seperti ini perlu dialami sekali untuk pengalaman."
"Betul, Ayah
dan Ibu juga bilang kalau hal semacam ini perlu dialami sekali agar ikatan
batin kita semakin kuat."
Aku mengangguk
mantap.
"Kuruto-sama
juga membicarakan hal seperti itu dengan Ayah dan Ibu, ya? Kupikir keluarga Kuruto-sama
jauh dari hal-hal semacam itu."
"Eh? Ayah
dan Ibu sebenarnya sampai sekarang pun masih sering melakukannya di malam hari.
Setiap kali mengetahuinya, aku merasa sangat... tidak bisa berkata-kata."
"Yah,
bagi seorang anak, itu memang canggung sekali, sih...."
Yurishia-san
mengangguk setuju. Aku sangat paham kenapa Akuri ingin keluar dari kamar.
Karena itu, aku menggenggam tangan mereka berdua dan memohon.
"Jadi,
kumohon! Tolong jangan bertengkar!"
"""Bertengkar?"""
Yurishia-san, Lise-san,
dan Akuri memiringkan kepala mereka di sudut yang sama.
"Tunggu, Kuruto.
Sejak tadi kamu bicara soal pertengkaran?"
"Eh?
Habisnya kalian berdua sedang bertengkar, kan?"
Kalau bertengkar
dengan suara keras, dinding kamar ini tipis jadi bakal terdengar sampai keluar.
Kedua orang tuaku
biasanya rukun, tapi sebenarnya mereka cukup sering bertengkar. Meski setelah itu langsung baikan
lagi.
Orang
tuaku selalu bilang begini:
"Apa
yang kami lakukan ini bukan bertengkar, tapi saling mengadu argumen. Kuruto
juga harus mengatakan apa yang ingin dikatakan sekali sebelum menikah, kalau
tidak, nanti setelah menikah bakal repot, lho."
"Benar,
Kuruto. Yurishia-san dan Lise-san itu gadis yang baik, tapi justru karena
itulah pasti ada hal-hal yang tidak bisa mereka katakan padamu. Sesekali, perlu
disediakan kesempatan seperti itu."
Begitu
katanya.
"Haaah....
Yah, namanya juga Kuruto."
"Iya, karena
ini Kuruto-sama, jadi mau bagaimana lagi."
Lho? Kok kesannya
aku yang salah? Tapi karena entah kenapa mereka berdua sepertinya sudah
berbaikan, kurasa aku bisa tidur dengan tenang.
Tengah malam.
Tiba-tiba aku
terbangun, dan saat melirik ke tempat tidur sebelah, aku menyadari Lise-san
sedang menatapku lekat-lekat, seolah dia tidak bisa tidur.
"Lise-san,
kalau tidak bisa tidur, mau kusiapkan obat? Atau susu hangat—"
"Tidak
perlu, jangan khawatirkan aku. Aku memang tidak bisa tidur, tapi rasa bahagiaku
jauh lebih besar daripada itu, jadi aku tidak apa-apa."
"……Begitu
ya."
Kalau Lise-san
bilang tidak apa-apa, mungkin memang begitu. Aku mencoba memejamkan mata sedikit lagi sambil
melirik.
Lise-san masih
menatapku tajam.
Karena kurang
tidur, pembuluh darah di matanya seolah mulai terlihat. Apa dia benar-benar
tidak apa-apa?
Aku khawatir dengan kesehatan Lise-san, tapi lebih dari itu, aku merasa diperhatikan terus saat tidur sampai-sampai aku sendiri jadi sulit terlelap.



Post a Comment