Chapter 4
Biang Keladi Muncul
Ini pertama
kalinya kami berempat tidur di kamar yang sama.
Awalnya aku
merasa agak risi dengan tatapan Lise-san, tapi akhirnya aku bisa tidur dengan
sangat lelap.
Seperti biasa,
aku terbangun sebelum fajar dan mulai menyiapkan sarapan.
Lise-san ternyata
juga sudah bangun (apa semalam dia benar-benar tidur?), jadi aku meminta
bantuannya sedikit untuk menyiapkan makanan.
Saat Yurishia-san
dan Akuri bangun, aku bahkan sudah selesai menyiapkan bekal makan siang untuk
kami semua.
Selagi mereka
bertiga berganti pakaian di kamar, aku meminjam ruang ganti laki-laki yang
biasa digunakan para Hunter. Setelah memberikan sedikit roti lapis sisa kepada
resepsionis Hunter Guild yang sudah bertugas, kami pun sarapan.
Setelah itu, aku
membereskan kamar yang kami gunakan dengan cepat, lalu bergegas menuju tempat
titik kumpul.
Meskipun masih
sepuluh menit sebelum waktu keberangkatan, sudah ada sekitar tiga puluh Hunter
yang berkumpul di sana.
Aku juga melihat
sosok Mire-san dan Harrel-san.
Lalu, di sudut
kerumunan Hunter, ada seorang pria bernama Octar. Setahuku dia adalah seorang
informan dan bukan Hunter, tapi apakah dia akan ikut dalam eksplorasi kali ini?
Tepat saat waktu
yang dijadwalkan tiba, putra Harrel-san yang bernama Haile juga menampakkan
diri.
"Apa yang
kau lakukan di sini, Haile?"
"Aku juga
akan ikut mendampingi kalian."
"Tidak
perlu, pulanglah."
"Aku akan
ikut. Aku juga punya ketertarikan pada reruntuhan kuno."
Mereka
berdua mulai berdebat tentang masalah ikut atau tidak.
Apakah Harrel-san
merasa khawatir karena harus membawa putranya ke tempat yang berbahaya?
"Bukankah
lebih baik bawa saja dia? Membuang-buang waktu dengan berdebat di sini hanya
akan merugikan kita."
Yurishia-san
menyahut, seolah-olah memberikan pembelaan bagi Haile-san.
Seketika,
Hunter lain pun mulai menyuarakan pendapat yang senada.
Alasan
semua orang berkumpul sepagi ini adalah karena jika waktu keberangkatan
tertunda, kami tidak akan bisa memulai penyelidikan hari ini, dan kepulangan
besok pun jadi terancam.
Meski
status mereka adalah Guild Master dan sekretaris, fakta bahwa mereka adalah
ayah dan anak sudah diketahui publik.
Berdebat
soal urusan keluarga hingga membuang waktu berharga dianggap sebagai hal yang
tidak baik.
Akhirnya, Harrel-san
terpaksa mengalah dan mengizinkan Haile-san untuk ikut serta.
Kecuali
kelompok kami dan Mire-san, semua orang mulai bergerak setelah mengenakan
masker penyerap partikel jahat.
Beberapa
Hunter bertanya, "Apa kalian tidak butuh masker?", tapi aku
menjelaskan bahwa kami menggunakan teknologi khusus dari Benua Tengah sehingga
mereka pun merasa maklum.
Kemudian, aku
berpindah menggunakan kereta kuda.
Yurishia-san dan Lise-san
duduk di kursi kusir.
Karena barang
bawaan para Hunter juga ikut dimuat, ruang di dalam jadi sempit. Alhasil, hanya
aku dan Akuri yang beristirahat di bak belakang, yang sejujurnya membuatku
merasa agak tidak enak hati.
Di tengah
perjalanan, monster tabu tidak muncul, namun monster biasa beberapa kali
menampakkan diri.
Mungkin ini
karena jumlah monster di sekitar sini meningkat setelah kemunculan monster tabu
beberapa hari yang lalu.
Mire-san pun ikut
bertarung menggunakan crossbow miliknya.
Dia menggunakan crossbow
bertali kawat dengan sangat lihai untuk melumpuhkan Wild Boar.
Berbeda dengan
busur panah milik Lise-san, senjata itu memiliki daya rusak yang tinggi, meski
sepertinya butuh waktu agak lama untuk mengisi ulang anak panahnya.
Hmm, kalau
sedikit dimodifikasi, sepertinya senjatanya bisa diisi ulang lebih cepat dan
daya rusaknya bisa ditambah.
"Papa,
sedang membuat apa?"
"Karena
Mire-san sudah banyak membantu kita, aku terpikir untuk membuatkan crossbow
sebagai ucapan terima kasih. Karena pengisiannya lama, mungkin aku akan
membuatnya jadi tipe yang bisa menampung banyak peluru sekaligus? Dayanya juga
akan kutambah."
"Apa Papa
juga akan memasang fitur pelacak otomatis pada anak panahnya?"
"Ahaha, itu
tidak mungkin. Memasang fitur seperti itu pada crossbow biasa adalah hal
yang mustahil."
Aku pernah
memasangnya pada Pistol Sihir, tapi ujung-ujungnya malah jadi tidak praktis.
"Ah,
syukurlah Papa menyadari hal itu."
"Sebagai
gantinya, mungkin aku akan memasang fungsi pemandu dan penggulung otomatis jika
menggunakan kawat. Lalu, aku akan memasang Kristal Sihir dan—"
"Ternyata
Papa tetaplah Papa."
Akuri menghela
napas panjang.
Apa aku
mengatakan sesuatu yang aneh?
Dulu dia selalu
bersemangat bersamaku, tapi setelah tumbuh besar, reaksinya jadi terasa agak
dingin.
Mungkinkah ini
yang dinamakan masa puber?
Aku
sering mendengar para ayah berkata, "Jangan menganggap anakmu sendiri itu
spesial." Akuri memang Roh Agung dan usianya ribuan tahun lebih tua
dariku, tapi mungkin dia memang tidak sespesial yang kukira.
"Sepertinya
yang Papa pikirkan itu salah, lho."
"Apa Akuri
bisa menggunakan ilmu membaca pikiran?"
"Tanpa
menggunakannya pun aku sudah tahu."
Kalau bukan
membaca pikiran, mungkin itu yang disebut profiling?
Hebat sekali, dia
memang pantas disebut sebagai Sage Agung yang telah mengamati manusia selama
ribuan tahun.
"Kuruto! Bantu aku mengurus Wild Boar ini!"
"Baik, saya mengerti!"
Karena aku tidak berguna dalam pertarungan, setidaknya aku
harus bekerja keras di saat-saat seperti ini.
Aku mengangkut Wild Boar sesuai instruksi Mire-san.
Aku juga harus mengoleskan pengawet agar organ dalamnya
tidak cepat busuk.
Melakukan hal ini
mengingatkanku pada masa-masa saat aku masih menjadi pesuruh di kelompok
"Dragon Fang of Flame".
Sebelum tengah
hari, kami tiba di pemukiman ke-121 yang menjadi tujuan kami.
Karena bagian
dalam reruntuhan dipenuhi puing dan banyak lorong sempit, aku meminta maaf
kepada Deku dan memintanya menunggu di luar saja.
"Ah, aku
sudah menyiapkan makanan untuk semuanya."
Aku berkata
demikian sambil mengeluarkan kotak bekal.
Isi kotak bekal
itu adalah roti lapis ikan goreng (Fish Fry Sandwich).
Selain itu, aku
juga menyiapkan roti lapis katsu menggunakan daging Wild Boar.
"Kalian mau
ikan? Atau daging babi hutan?"
"Kami juga
boleh minta? Kalau begitu, aku mau ikan!"
"Aku juga
ikan. Sejujurnya aku sudah bosan makan babi hutan."
"Aku tidak
suka ikan, jadi tolong daging babi hutan... eh, enak sekali! Ini benar-benar berbeda dengan
daging babi hutan yang kukenal!"
"Serius?
Kalau kau bilang begitu, aku juga mau yang daging babi... gila, ini enak
banget!"
"Tidak,
tidak, ikannya juga enak. Kalau
bisa makan seenak ini setiap hari, aku jadi ingin ikut investigasi reruntuhan
setiap hari saja."
"Saus di
rotinya luar biasa. Saus apa ini, rasanya sangat mendalam..."
Semua orang
tampak sangat senang menikmatinya.
Saat aku sedang
berpikir begitu, Octar-san menyodorkan segelas air padaku.
"Ini,
bagianmu."
"Terima
kasih banyak. Octar-san juga, silakan. Mau daging babi hutan atau ikan?"
"Kalau
begitu, aku mau daging babi hutan."
Aku menyerahkan
roti lapis katsu kepadanya.
Kupikir dia orang
yang mencurigakan, tapi ternyata dia orang baik yang mau berkeliling membagikan
air kepada semua orang.
Aku melihat
Mire-san melakukan Appraisal pada airnya sebelum meminumnya.
Sepertinya air
itu aman.
Rasanya agak asam
segar, sangat cocok dipadukan dengan roti lapis tadi.
"Harrel-san juga, silakan ambil satu."
"Aku tidak usah. Aku sudah membawa makan siang
sendiri."
Hanya Harrel-san yang tidak menerima roti lapis itu. Dia
meminum air sambil mengunyah daging kering yang dibawanya.
"Daripada
itu, Kuruto-kun. Bisakah kau mengantarku ke lokasi bawah tanah itu?"
"Eh? Tapi
kita masih makan."
"Aku ingin
melihatnya lebih dulu."
"……Baiklah,
saya mengerti. Mari ikut saya."
Aku berkata
demikian dan bersiap memandu Harrel-san.
"Guild
Master, aku juga ikut. Bagaimanapun, aku juga salah satu penemu
pertamanya."
Mire-san
menyadari niat kami dan memutuskan untuk ikut bergabung.
Sambil tetap
waspada terhadap zombie di sekitar, kami tiba di lokasi tujuan.
Pintu masuknya
telah kusembunyikan kembali agar monster tidak sembarangan masuk, jadi kami
harus membongkar papan lantai terlebih dahulu.
"Hebat juga
kau bisa menemukannya."
Harrel-san
melompat turun seolah-olah dia sudah tidak sabar lagi.
Aku dan Mire-san
pun bergegas turun mengikutinya.
Harrel-san sudah
meletakkan tangannya di pintu ruang tempat perangkat pemelihara pelindung
berada.
"Ah, tunggu
sebentar, Guild Master. Pintu itu tidak bisa dibuka dengan mudah—eh?"
Belum sempat
Mire-san menyelesaikan kalimatnya, pintu itu terbuka dengan mulus saat Harrel-san
menyentuhnya.
Seolah-olah sang
pemilik fasilitas telah pulang kembali.
Aku dan
Mire-san saling berpandangan karena terkejut.
Lalu,
tepat saat Harrel-san hendak melangkah masuk ke dalam ruangan, topinya terlepas
seolah-olah ditarik oleh sesuatu.
Seketika, bagian
kepalanya pun terlihat dengan jelas.
"Eh!?"
Mire-san
memekik kaget.
Harrel-san
berhenti di tempat dan menoleh.
Aku tidak
bisa membayangkan apa yang ada di pikiran Harrel-san dari ekspresinya.
Hanya
saja, aku tahu Mire-san benar-benar terkejut.
Aku pun
sama terkejutnya.
"……Akhirnya
terlihat juga, ya."
Harrel-san
bergumam sambil menyentuh sesuatu di kepalanya.
Di sana
terdapat sesuatu yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.
"Siapa pun
yang ada di sana, tampakkan diri kalian."
Harrel-san
berkata demikian—bukan kepada kami, melainkan ke arah tempat yang seharusnya
kosong.
Tiba-tiba saja, Yurishia-san,
Lise-san, Akuri, dan Haile-san muncul di sana.
Sepertinya orang
yang mengambil topi Harrel-san adalah salah satu dari mereka berempat yang tadi
menyembunyikan keberadaan menggunakan sihir kupu-kupu.
Ekspresi
Haile-san tampak dipenuhi amarah, sementara Yurishia-san, Lise-san, dan Akuri
tampak diselimuti rasa bersalah.
"……Haile,
ya. Apa maksudmu melakukan ini?"
"Ayah—justru
itu kalimat yang ingin kuucapkan. Aku ingin memercayaimu. Meskipun orang-orang
bilang kau sebenarnya adalah Iblis dan pelaku yang menghancurkan pelindung, aku
ingin tetap memercayaimu sampai aku melihatnya sendiri."
"Aku
menghancurkan pelindung? Dan juga Iblis? Apa yang kau bicarakan? Itu—"
"Jangan
berpura-pura bodoh! Sesuatu di kepalamu itu adalah bukti yang tak
terbantahkan!"
Haile-san
berteriak lantang sambil menunjuk tanduk yang tumbuh di kepala Harrel-san.
Namun, menanggapi
hal itu, aku pun angkat bicara.
"Itu bukan
tanduk Iblis, tapi tanduk kaum bertanduk—tanduk Ras Mazoku, lho?"
Bentuknya
berbeda dengan tanduk Iblis.
Saat aku
mengatakannya, Haile-san tampak bingung sejenak, seolah tidak mengerti
maksudku.
"Mazoku?
Apa itu sebutan lain untuk
Iblis?"
"Beda jauh.
Tanduk itu adalah organ eksternal untuk mengubah partikel jahat menjadi energi
sihir. Dia bukan Iblis."
"Bukankah
mereka makhluk jahat?"
"Teman masa
kecilku juga seorang Mazoku, tapi dia anak yang sangat baik. Tentu saja ada
Mazoku yang jahat, tapi itu sama halnya dengan ada manusia yang baik dan
manusia yang jahat."
Mendengar itu, Haile-san menoleh ke arah Yurishia-san dan
yang lainnya.
"Apa itu benar!? Dia bukan Iblis, melainkan ras bernama
Mazoku, dan mereka hampir tidak berbeda dengan kita manusia?"
Mendengar
pertanyaan itu, ketiganya mengangguk.
"Ya,
Iblis yang kukenal seluruh tubuhnya mengilat hitam pekat, dan tanduknya pun
tidak seperti itu."
"Iblis
memiliki aura kegelapan yang sangat menjijikkan, tapi Ayahmu tidak memilikinya
sama sekali."
"Iya.
Benar kata Papa."
Ya,
memang begitu.
Tapi
syukurlah. Sepertinya apa yang kudengar dari Harrel-san kemarin hanyalah
perasaan saja.
"Syukurlah
ya, Harrel-san. Ternyata ini semua hanya salah paham."
"Eh? Kuruto,
apa maksudmu?"
"Sebenarnya
kemarin Harrel-san bertanya padaku. Dia merasa sikap putranya, Haile-san,
terasa aneh. Dia bertanya apakah itu yang disebut masa puber. Karena posisinya
sebagai kepala wilayah, dia bisa berkonsultasi soal pekerjaan tapi tidak bisa
bertanya soal masalah pribadi seperti mendidik anak. Itulah sebabnya dia
bertanya padaku yang sesama ayah... tapi sepertinya dia hanya salah paham
mengira Anda Iblis karena tidak tahu soal Ras Mazoku."
Harrel-san
berdehem, lalu mengambil topinya yang terjatuh dan memakainya kembali.
Mungkin dia
merasa malu.
Sifatnya yang
sulit mengekspresikan emosi ini sedikit mengingatkanku pada Solflare-san.
"Jadi begitu
rupanya yang kau pikirkan."
"Ya.
Belakangan ini cara pandang Haile padaku memang terasa tidak wajar."
"Lalu, apa
alasanmu sering mengunjungi pemukiman ini belasan tahun yang lalu?"
"Pelindung
pemukiman menyerap partikel jahat di sekitar dan mengubahnya menjadi energi
untuk bertahan. Namun, terjadi anomali pada perangkat itu sehingga partikel
jahat tidak lagi bisa diubah menjadi energi pelindung. Atas permintaan kepala
wilayah saat itu, aku secara rutin datang untuk menyuntikkan energi bernama
kekuatan sihir ke dalam perangkat tersebut. Kami kaum bertanduk memiliki
kemampuan yang sama dengan perangkat pemelihara pelindung, yaitu menyerap
partikel jahat di sekitar dan mengubahnya menjadi energi sihir. Sayangnya,
kekuatan sihirku tidak cukup kuat untuk menahan serangan monster itu, dan aku
gagal melindungi pemukiman ini. Padahal jika aku bisa meyakinkan kepala wilayah
saat itu dan menyarankan evakuasi lebih awal, mungkin lebih banyak penduduk
yang bisa terselamatkan."
Mengatakan hal
itu, Harrel-san menundukkan kepalanya.
"Mire,
maafkan aku."
Dia meminta maaf
kepada Mire-san, satu-satunya korban yang ada di sini.
"Angkat
kepalamu, Guild Master. Tanpamu, aku tidak akan hidup sampai sekarang. Meski
mungkin tidak sedalam Haile-san, aku juga menganggapmu seperti ayahku sendiri,
dan aku sangat berterima kasih padamu."
"Begitu
rupanya."
Harrel-san
menjawab singkat.
Apa dia
tidak merasa senang?
"Dia
hanya malu. Sepertinya dia sedang tersipu."
Melihat
sikapnya yang dingin membuatku memiringkan kepala, tapi Akuri langsung menyahut
seolah mewakili perasaan Harrel-san.
Jangan-jangan
Akuri benar-benar bisa membaca pikiran...
Yurishia-san
berkata dengan nada lega.
"Jadi
kesimpulannya, semua yang dikatakan informan itu hanya kesalahpahaman karena
melihat tanduk di kepalanya, ya?"
"Eh? Yurishia-san,
apa yang baru saja Anda katakan?"
"Informasi
dari si informan itu salah."
"Informan...
maksud Anda Octar-san?"
Saat aku
bertanya, Haile-san mengangguk.
"Benar.
Dialah yang bercerita bahwa Ayah adalah Iblis dan pelaku yang menghancurkan
pelindung pemukiman ini. Bahkan dia bilang Ayah berencana menghancurkan
pelindung pemukiman tempat kita tinggal sekarang."
Mendengar
itu, aku, Mire-san, dan Harrel-san terbelalak.
Sebab
kemarin, saat kami sedang berdiskusi, Octar-san muncul dan memberi tahu bahwa
Haile-san lah yang berencana menghancurkan pelindung pemukiman.
Aku
sempat berpikir itu terlalu berlebihan meski untuk anak di masa puber
sekalipun, tapi Harrel-san sedikit memercayainya setelah melihat sikap
Haile-san belakangan ini.
Begitu
aku menceritakan hal itu pada Haile-san dan yang lainnya, ekspresi semua orang
menjadi tegang.
"Octar
sialan, jadi dia memberikan informasi palsu kepada kedua belah pihak?"
"Kita harus
menanyakan langsung pada orangnya apa maksudnya melakukan ini."
Harrel-san dan
Haile-san berkata demikian, lalu mereka keluar dari ruang perangkat.
Kami mengikuti
mereka kembali ke permukaan, ke tempat para Hunter berada.
"Octar! Apa
maksud semua ini!"
"Maksud
apa... aduh, ketahuan juga ya. Padahal kalau kalian saling menghancurkan,
pekerjaanku akan jadi jauh lebih mudah nanti."
Mengatakan itu,
Octar menatap ke arah langit.
Senyumnya tampak
menyerupai seringai iblis.
"Ya,
semuanya bohong. Menyenangkan sekali melihat wajah kalian yang meski ragu tapi
tetap menaruh curiga, lalu menelan mentah-mentah bukti palsu yang kuberikan
hingga menganggapnya sebagai kebenaran. Tapi sungguh, kalian benar-benar bodoh.
Tadinya kupikir kalau salah satu dari kalian saling membunuh, aku akan
membiarkan setengah dari kalian pulang dengan nyawa selamat."
"Apa
maksudmu? Apa kau pikir kau bisa menang melawan orang sebanyak ini?"
"Orang
sebanyak ini? Maksudmu mereka semua?"
Tepat saat Octar
mengatakannya, tiba-tiba zombie-zombie muncul dari sekeliling kami.
Ternyata selama
ini mereka bersembunyi.
Para Hunter mulai
gaduh melihat kemunculan zombie yang tiba-tiba itu.
"Ah, aku
lupa bilang. Zombie-zombie ini asalnya adalah manusia, lho. Dengan meminumkan
obat tertentu dan memperdengarkan gelombang suara khusus, daging mereka akan
membusuk dan mereka akan berubah menjadi boneka penurut yang menjalankan
perintahku. Yah, agak sayang sih kalau wanitanya juga ikut membusuk—"
"Jangan-jangan,
di dalam air yang tadi kau bagikan..."
"Tebakan
yang bagus! Itu adalah obat kutukan spesial yang tidak akan terdeteksi sebagai
racun bahkan dengan Appraisal. Nah, cukup sekian obrolannya—"
Octar
mengeluarkan benda yang menyerupai seruling dari balik pakaiannya.
"Hentikan
dia!"
"Terlambat!"
Harrel-san
berteriak, tapi Octar sudah meniup serulingnya.
"Ugh!"
Tiba-tiba Harrel-san
mengerang kesakitan dan berlutut di tempat.
"Ooh,
seperti yang diharapkan dari Tuan Harrel. Ternyata memang benar kau seorang
Mazoku. Kelemahan obat ini adalah efeknya sangat lemah bagi manusia dengan
kekuatan sihir yang besar. Mustahil mengubahmu menjadi zombie. Namun, sekarang
orang-orang yang melindungimu—"
Octar
melihat sekeliling dan mendadak terdiam seribu bahasa.
Sebab, selain Harrel-san,
tidak ada satu pun orang yang mengalami perubahan.
"Kenapa bisa
begitu! Kenapa kalian semua baik-baik saja! Kenapa kalian tidak berubah jadi
zombie!?"
Hmm,
sepertinya...
"Anu, karena
aku menggunakan pengawet pada ikan dan daging di makanan yang dimakan semua
orang kecuali Harrel-san, sepertinya itu berpengaruh."
"…………Pe-ngawet?"
Mendengar
kata-kataku, Octar tampak heran sejenak, lalu berteriak penuh amarah.
"Jangan
bercanda! Mana ada obat kutukan yang bisa ditangkal hanya dengan pengawet!
Pasti kau sudah menyadari rencanaku dan melakukan sesuatu! Kalau sudah begini,
saatnya para zombie beraksi! Pasukan zombie ini bukan kacung yang menyerang
kalian sebelumnya!"
"Jadi
kau yang menyuruh zombie-zombie itu menyerang kami waktu itu!"
Mire-san
menatap Octar dengan tatapan menghina.
"Benar!
Aku berniat membunuhmu di sini, lalu menyebarkan info palsu kepada Harrel dan
Haile bahwa kau tewas karena dijebak oleh Mire agar mereka menyelidiki tempat
ini. Rencananya berubah, tapi tak masalah."
Octar
menoleh ke arah para zombie.
Selagi
para Hunter menyiapkan senjata masing-masing, Octar berteriak.
"Para
zombie! Bantai semua orang yang ada di sini—"
Seketika, cahaya
menyilaukan memancar dari arah Yurishia-san dan menyelimuti area sekitar.
Saat cahaya itu
hilang, gerombolan zombie tadi telah lenyap tak bersisa.
"Bantai—apa
tadi katamu?"
"Mustahil,
pasukan zombiku musnah dalam sekejap!?"
Hebat! Aku tidak
tahu apa yang dia lakukan, tapi Yurishia-san mengalahkan para zombie itu dalam
satu serangan.
"Sial! Aku
tidak akan membiarkannya berakhir di sini!"
Octar tiba-tiba
mulai berlari.
Targetnya
adalah—Akuri.
"Kalian
semua! Jangan bergerak! Berani melangkah satu kali saja, aku tidak peduli apa
yang akan terjadi pada nyawa bocah ini—eh!?"
Tangan
Octar hanya menangkap udara kosong.
Sesaat kemudian,
Akuri muncul di tempat lain—begitulah kelihatannya.
"Akuri,
barusan itu sihir teleportasi?"
"Itu ilusi
dari Mama Lise. Sejak
tadi aku terus berada di belakang Mama Yuli, kok."
Akuri
yang bersembunyi di belakang Yurishia-san sejak kejadian bermula angkat bicara.
"Aku sendiri
pun sebenarnya bisa mengatasi orang itu. Meskipun dia menggunakan alat-alat
aneh, gerakannya tidak ada apa-apanya."
Benar kata Akuri,
gerakan Octar tidak selincah Yurishia-san atau Hunter lainnya.
Jelas
sekali dia tidak terbiasa bertarung.
"Sepertinya sudah berakhir, ya."
"Ya, begitulah. Sekarang, kita harus mencari tahu apa tujuannya dan bagaimana dia tahu Harrel
adalah seorang Mazoku. Juga soal zombie yang katanya manusia itu, bagaimana dia
mengumpulkannya. Masih banyak yang harus digali."
Yurishia-san
menyarungkan pedang Sekka miliknya, lalu membunyikan buku-buku jarinya.
"Sialan,
beraninya dia meminumkan obat aneh pada kami."
"Ayo kita
hajar dia ramai-ramai!"
Para Hunter yang
tadi entah kenapa hanya diam menonton mulai ikut gaduh.
Tepat saat
kupikir semuanya sudah benar-benar beres, Octar kembali mengeluarkan sebuah
seruling.
"Apa lagi?
Kami tidak akan jadi zombie. Atau kali ini kau mau mengubah kami jadi
Iblis?"
"Atau kau
mau memainkan musik agar suasana jadi meriah?"
Saat para Hunter
mengejeknya, aku menyadari sesuatu.
"Seruling
itu! Berbeda dengan yang tadi!"
Namun, saat itu
semuanya sudah terlambat.
"Ya, akan
kubuat suasana jadi meriah! Dengan kekuatan makhluk ini!"
Begitu Octar
meniup serulingnya, tiba-tiba itu muncul.
Simbol ketakutan
yang telah memusnahkan pemukiman ini, bahkan menghancurkan dunia lama itu
sendiri—
Monster Tabu.
◆◇◆
Suasana langsung
berubah menjadi panik saat monster tabu mendadak muncul tepat setelah Octar
meniup seruling logamnya.
Kenapa monster
tabu harus muncul di saat seperti ini?
Apa yang sebenarnya dilakukan Octar!?
Tepat setelah aku—Yurishia—berpikir begitu, Octar yang
seharusnya memanggil monster itu malah tewas terinjak oleh si monster tabu.
Bunuh diri—bukan, ini jauh lebih buruk.
Dulu kami bisa memukul mundur makhluk ini berkat energi
sihir melimpah di kapal terbang dan kekuatan Pedang Suci Excalibur, itu pun
saat posisi lawan dirugikan karena kehilangan satu kaki.
Tapi kali
ini, monster tabu berada dalam kondisi sempurna.
"Guaakh!"
Para Hunter mulai
merintih kesakitan.
Kenapa? Padahal
monster itu belum melakukan apa pun!
"Partikel
sihirnya terlalu pekat! Kapasitas penyerapan masker partikel jahat mereka sudah
tidak sanggup lagi mengatasinya!"
Teriakan pilu Kuruto
terdengar—aku mengerti sekarang. Kami bisa bertahan berkat alat sihir pemurni
partikel sihir buatan Kuruto, tapi tanpa itu, kami tamat.
"Evakuasi ke
bawah tanah! Sistem ventilasi di sana bisa menahan partikel jahat!"
Harrel yang
bersimbah keringat dingin berteriak.
Karena dia
seorang Mazoku, sepertinya dia masih bisa beraktivitas meski di tengah partikel
sihir yang terlalu pekat ini.
Tiba-tiba
saja, monster-monster mulai bermunculan.
Benar-benar
merepotkan di saat seperti ini.
"Aku akan
menciptakan ilusi untuk mengalihkan perhatian monster-monster itu. Semuanya,
cepat evakuasi!"
Saat Lise berkata
demikian, muncul banyak orang bertopeng yang berlarian di sekitar monster.
Sepertinya dia
membayangkan sosok Phantom.
Alasan Lise yang
melakukannya dan bukan Kuruto yang paling ahli adalah karena Kuruto tidak akan
tega menjadikan ilusi sebagai umpan monster.
"Siapa
yang masih bisa bergerak, gendong mereka yang pingsan!"
Aku
memberi instruksi.
Namun,
sebagian besar dari mereka sudah jatuh pingsan.
Aku
meminta Akuri mengumpulkan sekitar sepuluh orang untuk dipindahkan ke bawah
tanah terlebih dahulu dengan sihir teleportasi.
Lise sibuk
mengalihkan perhatian monster dengan ilusi kupu-kupunya.
Mustahil membawa
dua puluh orang sisanya sambil melindungi mereka dari monster.
Kalaupun
dipaksakan, mungkin Kuruto bisa menggendong sekitar empat orang lagi dan—
"Eh, Kuruto!
Mau ke mana kau!"
Kuruto tiba-tiba
berlari ke arah yang berlawanan.
"Aku punya ide! Yurishia-san dan Lise-san, tolong ulur
waktu!"
"……Baiklah!"
"Iya, aku mengerti!"
Dalam kondisi seperti ini, Kuruto adalah orang yang bisa
diandalkan.
Aku akan
fokus mengulur waktu.
Namun,
tepat saat aku berpikir begitu, muncul sesuatu yang membuat usaha mengulur
waktu kami jadi terancam.
Raksasa bermata
satu—Cyclops menampakkan diri.
Meski tidak
sebesar monster tabu, tinggi tubuhnya tetap mencapai sepuluh meter.
Di dunia kami,
monster ini setara dengan peringkat S—lawan tangguh yang setara dengan Fenrir
yang pernah dikalahkan oleh "Dragon Fang of Flame".
Bahkan, ada tiga
ekor yang muncul sekaligus.
Untuk melawan
para Cyclops itu, Lise menciptakan ilusi ksatria besar bertopeng, tapi
begitu para Cyclops itu mengaum keras, ilusi tersebut langsung buyar
seketika.
Aku pernah dengar
kalau raungan Cyclops memiliki efek pembatal sihir.
Sial, justru di
saat kami harus mengulur waktu malah jadi begini—
Kalaupun kami
melarikan diri ke fasilitas bawah tanah, jika diserang oleh raksasa-raksasa
itu, kami semua akan terkubur hidup-hidup.
Kudengar
kelemahan mereka adalah mata besarnya, tapi pedangku tidak akan sampai ke sana.
Anak panah Lise pun tidak cukup kuat dayanya.
Seandainya Kuruto
masih di sini, aku bisa meminjam Pistol Sihir untuk menjatuhkan setidaknya satu
ekor—
—Pshh!
Terdengar suara
seperti kantong kertas yang diledakkan, dan wajah salah satu Cyclops
hancur berantakan.
Apa yang terjadi?
Saat aku menoleh,
Mire sedang mematung dengan posisi membidik crossbow dengan wajah yang
sama herannya denganku.
"Mire?"
"…………"
"Hei, Mire!"
"Ah! Eh? Apa yang terjadi?"
"Apa yang terjadi katamu, bukankah kau yang
melakukannya!"
"Aku tidak tahu! Eh... saat aku mencoba memakai crossbow yang kuterima dari Kuruto, tiba-tiba kepala monster besar itu meledak..."
"Kuruto lagi!?"
"Apa yang sebenarnya terjadi sampai sebuah crossbow
bisa meledakkan kepala monster S-Rank dalam satu serangan!?"
"Kurasa
hanya bisa dijawab dengan kalimat 'karena itu Kuruto', ya... Anu, mungkin salah
satu dari beberapa batu kristal sihir yang terpasang di crossbow itu
punya mekanisme yang membuatnya meledak saat anak panahnya kena
sasaran...?"
Aku tidak
mengerti.
"Pokoknya,
kalahkan yang lainnya juga!"
"I-iya, aku
mengerti!"
Mire menembakkan
anak panah dari crossbow-nya berturut-turut, menghabisi seluruh Cyclops
yang bermunculan.
"Kalau
begini, bukankah monster itu juga bisa dikalahkan?"
Mire yang sedang
bersemangat mulai membidikkan anak panah ke arah Monster Tabu.
Anak panah itu
mengenai tubuh sang Monster Tabu dan meledak.
"Eh!?
Tidak tergores sedikit pun!?"
"Bodoh!
Jangan memancingnya!"
Untungnya,
Monster Tabu itu bahkan tidak menyadari keberadaan kami. Sepertinya dia merasa
serangan tadi tidak lebih dari sekadar gigitan nyamuk.
Lagipula,
kalau monster itu bisa dikalahkan dengan cara semudah itu, dunia ini tidak akan
hancur.
Kudengar saat itu
pun ada penduduk Desa Haste yang memiliki kemampuan unik seperti Kuruto.
Tapi, jumlah
monster sekarang malah lebih banyak dari sebelumnya.
Memang banyak
monster lemah, tapi ada juga yang merepotkan jika dilawan dengan pedang,
seperti Silver Golem.
Andai ada Kuruto,
dia pasti bisa membereskannya dengan teknik penambangannya.
Kalau begini
terus—
"Yuri-san!
Lihat itu!"
"Lise, ada
apa lagi sekarang!?"
Saat aku menoleh,
di sana berdiri sebuah pohon raksasa yang seharusnya tidak ada di sana beberapa
saat lalu.
Ukurannya tidak
sebesar Monster Tabu, tapi setidaknya setara dengan Cyclops tadi.
Itu adalah—
"Maaf
membuat Anda menunggu."
Bersamaan dengan
suara itu, Nietzsche muncul bersama akar-akar pohonnya. Ia tidak hanya
mendorong mundur monster di sekitar, tapi juga mengangkut Heill dan yang
lainnya yang tumbang menuju dekat fasilitas bawah tanah.
Begitu rupanya,
jadi ini rencana Kuruto.
Kuruto sudah
menunggu di pintu masuk fasilitas dan membawa mereka lebih jauh ke bawah tanah.
Karena adanya
fasilitas bawah tanah ini, sepertinya akar Nietzsche tidak bisa merambat lebih
jauh lagi.
Bersama Lise, Mire,
dan Harrel, kami pun turun ke bawah tanah.
Di lantai bawah,
telah terbentang kasur lipat raksasa yang sebelumnya tidak ada, dan para Hunter
yang tidak bisa bergerak dibaringkan di sana.
Meskipun tidak
terlalu tebal, rasanya agak aneh.
"Kuruto,
apa-apaan kasur lipat ini?"
"Maaf, ini
bukan kasur lipat, tapi matras penyerap guncangan untuk saat terjatuh ke tanah.
Aku terpikir kalau benda seperti ini akan berguna jika dijatuhkan dari Wyvern,
jadi aku membuatnya saat kembali ke bengkel. Supaya lain kali dijatuhkan dari Wyvern
pun tidak apa-apa."
Kurasa seseorang
tidak akan dijatuhkan dari Wyvern berkali-kali, tapi yah, ini yang namanya
sedia payung sebelum hujan.
Karena lebih baik
daripada tidur langsung di lantai, katanya benda itu digunakan sebagai
pengganti kasur.
Begitu sampai di
bawah, kami melepas Masker Penyerap Jaso milik semuanya, lalu membiarkan mereka
menghirup udara yang telah dimurnikan oleh fasilitas.
Namun, tidak ada
tanda-tanda mereka akan terbangun.
"Mana di
dalam tubuh mereka sudah penuh, ya."
"Gelang
untuk mengeluarkan Mana dari dalam tubuh itu, apa kamu tidak membawanya?"
"Maaf.
Benda itu akan langsung tidak berguna begitu dibawa ke dunia ini..."
Gelang
yang dulu digunakan saat pertempuran melawan Raja Iblis untuk mengeluarkan Mana
dari dalam tubuh.
Benda
yang menggunakan Dungeon Core dari langit itu memiliki daya serap yang
terlalu kuat. Alih-alih menyerap Mana di dalam tubuh, benda itu akan langsung
menyerap Mana di udara hingga kapasitasnya penuh dalam sekejap. Benda itu tidak
bisa digunakan di dunia yang penuh dengan Mana ini.
Oleh
karena itu, sebagai ganti karena tidak bisa menyedot Mana di dalam tubuh, kami
memakai kalung yang daya serapnya sudah disesuaikan.
"Setidaknya,
aku akan membersihkan Mana yang menempel pada Masker Penyerap Jaso
mereka."
Sambil
berkata begitu, Kuruto mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti detergen, lalu
mulai mencuci masker semua orang dengan benda tersebut.
"Jika kita
kembali ke area pemukiman, ada mesin untuk menghilangkan Jaso. Itu kalau
monster tadi sudah pergi."
"Apa mereka
akan bertahan sampai saat itu?"
"Melihat
kondisinya, paling lama hanya setengah hari lagi."
Harrel, yang
kondisinya membaik setelah memakan roti lapis berisi pengawet buatan Kuruto,
mengatakannya sambil mengelus kepala Heill yang juga menderita akibat Mana.
Bahkan jika kami
mulai mengungsi sekarang, Masker Penyerap Jaso akan langsung kehilangan
fungsinya jika terpapar Mana konsentrasi tinggi yang dihasilkan Monster Tabu.
"Monster itu
paling lama akan pergi dalam satu jam."
Harrel berkata
demikian, tapi kalaupun kami mulai bergerak setelah itu, entah kami akan sempat
atau tidak.
"Deku...
apakah dia baik-baik saja?"
Kuruto
mengkhawatirkan Deku yang menunggu di luar area pemukiman.
Karena tidak
diikat dengan tali, setidaknya dia harusnya bisa melarikan diri jika monster
mendekat.
"Ah, aku
juga khawatir. Deku
sendiri memang penting, tapi tanpa dia, akan sangat melelahkan mengangkut orang
sebanyak ini."
Lalu, aku
berbisik kepada Akuri.
"Bagaimana
kalau menggunakan Teleport untuk menyuruh Kuruto mengambilkan gelang
penyedot Mana itu? Tidak, malah lebih baik kalau mereka semua di-Teleport
ke Desa Haste saja? Orang-orang di sana pasti bisa mengobati mereka."
"Maaf, Mama
Yuri. Karena Monster Tabu itu, energi sihir di sekitar sini sangat terpengaruh,
jadi kita tidak bisa melakukan Teleport menggunakan jalur nadi
bumi."
Saat aku dan Akuri
sedang berbincang, Lise berkata seolah baru saja terpikirkan sesuatu.
"Kuruto-sama.
Bisakah Anda membuatkan sup yang menghangatkan tubuh untuk makan malam?"
...Di saat
seperti ini malah memikirkan makanan.
Yah, sekarang
memang lebih baik memulihkan stamina, jadi tidak banyak yang bisa dilakukan
selain makan.
Terutama karena
suhu di Dunia Lama lebih rendah daripada dunia kami, aku paham kenapa dia
menginginkan sup hangat.
Kami meminumkan
sup yang sudah jadi kepada para Hunter yang tumbang.
Benar-benar sup
buatan Kuruto.
Dalam kondisi
begini, normalnya mereka tidak akan punya tenaga untuk makan, tapi begitu
mencium aroma supnya, bahkan mereka yang napasnya sudah di ujung tanduk pun
membuka mulut dan menelannya dengan mantap.
Sepertinya tubuh
mereka sangat mendambakan sup ini dicerna oleh lambung, bahkan tidak ada yang
tersedak.
Lalu, wajah
mereka sedikit membaik.
Kuruto bilang ini
tidak punya efek sebagai obat, tapi ini tetap memberikan efek yang lebih dari
sekadar penghibur hati.
"…………"
"Ada apa,
Yuri-san?"
"Tidak, aku
hanya sedang merenung, betapa anehnya aku yang sampai menganggap masakan buatan
Kuruto sebagai obat."
"Jangan
bicara yang tidak-tidak dan ayo bekerja."
Tanpa diperintah
pun aku sudah tahu, tapi aku butuh waktu untuk menata perasaanku.
Setelah selesai
makan, aku menyadari Harrel sedang memeriksa perangkat pemeliharaan penghalang.
"Apa yang
sedang kamu lakukan?"
"Memeriksa
perangkat."
"Bukan
begitu, maksudku kenapa di saat seperti ini?"
"Hanya untuk
berjaga-jaga."
Berjaga-jaga
untuk apa, sih?
"Maaf ya, Yurishia-san.
Guildmaster memang selalu kurang dalam berkata-kata. Tapi, Kuruto bilang perangkat ini
tidak rusak, lho?"
"Sepertinya
begitu."
Harrel menutup
penutup pemeriksaan, lalu membuka bagian lainnya.
Ia
memeriksanya dengan ekspresi yang sangat serius.
"O-i,
Kuruto! Kemarilah sebentar!"
"Baik!"
Kuruto
datang.
"Harrel,
gantian dengan Kuruto. Begitu akan lebih cepat."
Aku
mengatakannya, tapi Harrel mengernyitkan dahi.
"Tidak,
ini—"
"Sudahlah,
minggir."
Aku
berkata begitu dan memaksanya berganti posisi dengan Kuruto.
Lalu,
tiga detik setelah Kuruto melihatnya.
"Ah, di sini
sirkuit energi sihirnya terputus. Mungkin gagal melakukan restart saat penghalang menerima beban
besar?"
"Apa
katamu?"
Harrel
memastikannya.
"Benar juga.
Kalau begini sepertinya bisa diperbaiki."
"Kamu tidak
terlalu terkejut ya melihat Kuruto bisa memahami mekanisme perangkat ini dalam
sekejap?"
"Padahal aku
bermaksud untuk terkejut. Daripada itu, mumpung ada kesempatan, aku ingin
bertanya. Kalian bukan manusia dari dunia ini, kan?"
"Begitulah.
Yah, sudah sampai sejauh ini jadi tidak ada gunanya disembunyikan lagi. Tapi,
kenapa kamu berpikir begitu?"
"Ada
beberapa elemen penentu."
Justru elemen
mananya yang ingin kutanyakan.
Saat kutanya
lebih lanjut, pengetahuannya tentang kaum iblis dan keberadaan kristal sihir
pada crossbow buatan Kuruto untuk Mire memang jadi alasan, tapi alasan
utamanya adalah buah yang diawetkan dengan gula yang dibawa Kuruto—buah
Papamomo yang digunakan di sana.
Sepertinya
itu buah yang tidak ada di dunia ini.
Anggur
memang ada, tapi ini pertama kalinya dia melihat atau mendengar nama Papamomo.
Di dunia
kami buah itu lumayan umum dan dimakan di seluruh dunia, jadi aku tidak
menyangka kalau buah itu tidak ada di sini.
"Manusia
biasa tidak terlalu tahu tentang dunia di luar area pemukiman. Jadi mungkin tidak akan ketahuan."
"Apa kamu
tahu tentang dunia di luar area pemukiman?"
"Umurku
sudah lebih dari tiga ratus tahun. Aku sudah melihat banyak hal."
Tidak kelihatan
seperti orang berusia tiga ratus tahun, sih.
Yah, umur
kaum iblis memang berbeda dengan kami.
"Kalian
sendiri tidak terkejut mendengar umurku, ya."
"Habisnya
di sekitarku isinya orang-orang yang memalsukan umur semua."
"Omong-omong,
kaum bertanduk kami—kalian menyebutnya kaum iblis, ya? Sepertinya kalian punya
banyak kenalan seperti itu."
Tidak
hanya kaum iblis, yang lainnya pun luar biasa, tahu?
Penyihir Istana
Kursi Kedua, Michelle sang Elf berusia delapan puluh tahun.
Hildegard yang
berusia lebih dari seribu dua ratus tahun dan disebut sebagai Kaisar Abadi
karena meminum ramuan keabadian.
Lalu Akuri yang
hidup berkali-kali lipat lebih lama sebagai Penyihir Agung, dan Bandana yang
menyegel dirinya sendiri demi menantang batas umur manusia.
Masing-masing
dari mereka punya level pemalsuan umur yang membuat Mimiko terlihat imut.
"Mire juga
tahu kalau mereka adalah manusia dari dunia langit?"
"Iya. Kuruto
pernah membawaku ke dunia sana. Langitnya sangat indah. Terutama saat malam
hari. Malam di dunia ini hanya gelap saja, tapi di dunia sana terbentang
sesuatu yang disebut langit berbintang."
"Begitu ya.
Lalu, bagaimana keadaan kaum iblis di dunia kalian?"
Harrel mengangguk
mendengar cerita Mire, lalu menatapku dan bertanya kembali.
"Perang
berkepanjangan dengan manusia sempat terjadi. Tapi, baru-baru ini perdamaian
akhirnya tercapai, dan sekarang kami hidup berdampingan dengan damai."
Harrel
kembali mengangguk dan mengucap "begitu ya".
Aku tidak
tahu emosi apa yang terkandung dalam kata-kata itu.
Namun,
aku merasa dia sedikit tersenyum.
Satu jam
telah berlalu.
Seharusnya
Monster Tabu sudah pergi sekarang.
"U-uwaaaa!?"
Salah
satu Hunter yang sudah sadar berteriak kaget.
Akar
pohon menembus sebagian dinding dan muncul keluar.
"Nietzsche!?"
Rantingnya
bergerak-gerak melakukan sesuatu.
"Kuruto,
kertas dan pena!"
"Baik!"
Saat Kuruto
membawakan pena dan kertas, akar pohon itu menerimanya dengan cekatan,
meletakkan kertas di lantai, dan mulai menulis huruf dengan sangat terampil
pula.
Posisi tulisannya
terbalik dari tempatku berdiri sehingga sulit dibaca, tapi aku mengerti apa
yang ingin disampaikannya.
Monster
Tabu itu masih betah berdiam diri di atas tanah.
Monster
terus bermunculan satu demi satu, dan di antaranya muncul musuh yang sangat
janggal.
Darkness—sebutan kami dulu untuk monster
yang merupakan gumpalan Mana.
Itu artinya
konsentrasi Mana sudah meningkat sejauh itu.
Harrel bergumam dengan wajah penuh kecurigaan.
"Aneh. Seharusnya monster itu tidak pernah berdiam diri
selama ini. Normalnya, setelah muncul dia akan menghilang dalam beberapa
saat..."
"Apakah karena seruling pria itu?"
"Mungkin
saja."
Aku mengangguk
menanggapi pertanyaan Kuruto.
Sial, sekarang
setelah Auclair—satu-satunya orang yang tahu seruling macam apa itu—telah mati,
tidak ada cara untuk memastikan kapan monster itu akan menghilang.
"Aku akan
menggunakan cara terakhir."
Sambil berkata
begitu, Harrel menuju ke ruangan tempat perangkat pemeliharaan penghalang
berada.
Kami juga berniat
mengikutinya, tapi suara Lise terdengar.
"Kuruto-sama!
Kondisi orang ini...!"
"Kuruto, Mire,
kalian urus yang di sana!"
Aku mengatakan
itu dan mengejar Harrel.
Harrel berdiri di
depan perangkat pemeliharaan penghalang.
"Hei, apa
yang ingin kamu lakukan?"
"Kita tidak
tahu sampai kapan monster itu akan ada di sini. Jika dibiarkan, monster yang
lebih banyak dan lebih kuat akan lahir."
Akan sangat gawat
jika monster kuat seperti monster kegelapan tadi muncul dalam jumlah banyak.
Kami pernah
bertarung di Pegunungan Scene, tapi itu bisa teratasi karena adanya senjata
Mythril.
Namun sekarang
kekuatan tempur kami sedikit, dan itu akan sangat merepotkan.
"Apa kamu
punya cara untuk mengalahkannya?"
"Membangun
kembali penghalang. Seharusnya penghalang memiliki kekuatan yang cukup untuk
mencegah monster masuk."
"Tapi, dia
kan sudah masuk ke dalam area pemukiman? ...Tidak, kalau penghalang terbentang, mungkin
dia akan berpindah tempat. Kalau begitu efek seruling itu mungkin akan
terputus."
Ketinggian
penghalang yang terpasang, jika melihat area pemukiman lain, sekitar tiga puluh
meter. Sebaliknya, panjang total Monster Tabu mencapai ratusan meter.
Posisi
penghalang paling-paling hanya setinggi tulang kering Monster Tabu.
Jika ada
benda asing yang mengenainya di sana, mungkin dia akan mulai bergerak.
Serangan crossbow
Mire memang tidak mempan, tapi kalau itu kekuatan penghalang yang selama ribuan
tahun terus menghalangi invasi Monster Tabu, beda cerita.
"Tapi, kalau
kamu bisa membangun kembali penghalangnya, kenapa baru bicara sekarang!?"
"Ada dua
alasan. Jika penghalang dipasang, monster yang ada di dalam tidak akan bisa
keluar. Dan satu lagi, membangun kembali penghalang membutuhkan Mana yang
sangat besar. Mana yang kusimpan di tanduk ini sama sekali tidak cukup."
"Lalu
bagaimana?"
"Aku akan
mengubah nyawaku menjadi Mana."
"Apa!? Itu
artinya kamu akan mati!?"
Tanpa
sengaja aku berteriak, dan Harrel mengangguk dalam diam.
"Dengar,
kamu butuh Mana, kan? Mana milik Kuruto itu jauh lebih hebat dari yang kamu
bayangkan. Dengan Mana
miliknya—"
"Itu tidak
bisa. Seharusnya, melakukan restart pada penghalang itu mustahil. Orang
yang menciptakan area pemukiman dulunya adalah seorang jenius. Karena jenius,
mereka salah mengira bahwa apa yang mereka buat bisa dibuat oleh siapa saja,
sehingga mereka tidak memikirkan cara memperbaiki penghalang tersebut. Untuk
menciptakan penghalang, seseorang harus mengubah atribut Mana ke seluruh
atribut dalam sekejap, dan mengalirkan enam jenis Mana yaitu Api, Air, Tanah,
Angin, Cahaya, dan Kegelapan. Terlebih lagi, itu harus dilakukan oleh orang
yang sama."
"Enam jenis
atribut?"
Astaga, apa yang
dipikirkan orang yang membuat ini.
Atribut yang
dimiliki manusia biasa paling banyak hanya tiga jenis, tahu?
Kuruto dan
murid-murid yang diajarnya di sekolah memang bisa menggunakan tidak hanya enam
atribut itu, tapi juga banyak atribut tingkat tinggi lainnya. Meski begitu,
mengubah atribut menjadi enam jenis dalam sekejap itu mustahil.
"Apa kamu
bisa melakukannya?"
"Ya. Batu
sihir ini—ini adalah batu sihir yang bisa menggunakan skill Energy
Conversion. Mengubah kekuatan angin menjadi api, api menjadi gravitasi, dan
berbagai konversi lainnya dimungkinkan. Jika digunakan oleh orang dengan
kecocokan skill Energy Conversion peringkat A-Rank ke
atas, dia bisa mengubah atribut menjadi enam jenis sekaligus. Tapi, meskipun Kuruto-kun
punya banyak Mana, dia tidak akan bisa menguasai batu sihir ini. Hanya aku yang
bisa melakukannya... dengan mengubah nyawa menjadi Mana. Aku sendiri tidak tahu
apakah aku akan selamat."
Harrel
menambahkan lagi.
"Ada
seseorang yang ingin kulindungi meski harus mempertaruhkan nyawa."
Entah yang
dimaksud itu Heill, Mire, atau semua orang yang ada di sini.
Tapi, tekad
Harrel tersampaikan padaku.
Namun di
saat seperti itu, terdengar suara yang lantang.
"Tunggu,
Guildmaster!"
Mire
berdiri di pintu masuk ruangan.
"Aku
sudah mendengar pembicaraan tadi, tapi apa benar-benar mustahil bagi Kuruto?"
"Mustahil.
Kecocokan skill-nya adalah G-Rank."
"Tapi
Kuruto, saat masuk ke ruangan ini, dia memegang bola kaca yang mirip batu sihir
dan mengubahnya menjadi sepuluh jenis energi sihir dalam satu detik untuk
membuka pintu. Aku tidak terlalu paham soal mengubah atribut, tapi bukankah itu
prinsip yang sama?"
Mendengar
itu, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, jadi aku bertanya pada Harrel.
"...Hei,
Harrel-san. Bagaimana cara kalian memeriksa kecocokan skill?"
"Ada alat
pemeriksa. Dengan itu, kita bisa tahu nilai kecocokan dari F-Rank sampai
SS-Rank. Kuruto-kun adalah G-Rank yang bahkan tidak bisa
diperiksa dengan itu. Kenyataannya, saat dia menggunakan skill Ironization,
dia hanya bisa mengubah kulitnya menjadi besi sebesar lubang jarum."
"Ironization itu pada dasarnya adalah skill
tempur, kan? Terutama untuk
pertahanan atau semacamnya."
"Benar."
...Begitu
rupanya, jadi begitu ya.
"Omong-omong,
kalau alatnya bisa mengukur sampai SS-Rank, itu artinya kecocokan yang
lebih tinggi dari itu juga tidak bisa diukur dan dianggap sama dengan G-Rank,
kan?"
"Secara
teori memang begitu. Hal semacam itu disebut SSS-Rank, tapi kecocokan skill
seperti itu, selama beberapa ratus tahun terakhir tidak pernah—"
"Hahaha!"
Tanpa sadar aku
tertawa terbahak-bahak.
Lalu aku
menjelaskannya pada Harrel yang tampak kebingungan.
"Kamu
mungkin tidak tahu, tapi di dunia kami juga ada yang namanya nilai kecocokan.
Kebetulan peringkatnya sama dengan di dunia ini, dari G-Rank sampai SSS-Rank.
Nilai kecocokan Kuruto untuk segala hal tentang pertempuran semuanya G-Rank
yang payah. Kenyataannya, kalau dia mencoba bertarung dengan belati, dia malah
akan menusuk kakinya sendiri."
Saat aku
menjelaskan begitu, Mire bergumam "Ah, waktu itu juga begitu," seolah
teringat sesuatu.
Tapi—lanjutku.
"Untuk hal
selain pertempuran, dia adalah SSS-Rank. Dia adalah bakat yang muncul
sekali dalam beberapa ratus tahun seperti yang kamu katakan tadi. Aku tidak
tahu apakah konversi energi itu termasuk skill tempur atau bukan.
Mungkin semua skill-nya memang G-Rank. Tapi—"
Aku memprediksi
masa depan yang akan terjadi dan menyatakannya dengan penuh percaya diri.
"Daripada
mempertaruhkan nyawa, aku merasa tingkat keberhasilannya akan lebih tinggi jika
kita bertaruh pada Kuruto."
Aku memberitahu
Harrel dan Mire bahwa Kuruto punya sifat agak aneh di mana dia akan kehilangan
kesadaran dan ingatannya jika menyadari kemampuannya tidak normal, lalu aku
meminta mereka untuk berakting.
Nah, pertama-tama
aku harus memastikan apakah benar kecocokan skill non-tempur Kuruto itu SSS-Rank.
"Yurishia-san, Anda memanggil saya?"
"Ya, Kuruto.
Aku ingin kamu mencoba sebuah skill. Ada yang namanya skill Energy
Conversion, katanya bisa mengubah api menjadi angin atau menjadi udara
dingin."
"Mengubah
api menjadi angin atau udara dingin... maksudnya menggunakan tenaga api untuk
pembangkit listrik, lalu menggunakan listrik itu untuk memutar kipas atau
memuaikan udara untuk menciptakan hawa dingin, begitu ya?"
"Bukan,
kurasa tidak serumit itu... Kuruto, mau mencobanya?"
"Eh? Tapi
kecocokan skill saya G-Rank, lho?"
"Mungkin
saja ada skill yang bisa digunakan meski G-Rank, kan? Kecocokan
tempur Kuruto memang G-Rank, tapi kamu bisa menusuk kaki Wyvern dengan
belati, kan?"
Begitu
aku berkata demikian, Harrel memberikan bantuan.
"Sebagai
kepala Hunter Guild, aku perlu menilai kemampuan para Hunter
dengan akurat. Di saat
seperti ini memang kurang tepat, tapi aku minta kerja samamu dalam
tugasku."
"Saya
mengerti. Jika begitu masalahnya, saya juga ingin mencobanya."
Kuruto segera
memasangkan batu sihir ke gelangnya.
"Tunggu
sebentar. Seharusnya di antara peninggalan kuno ada alat sihir yang bisa
mengeluarkan api. Meskipun di dalam ruangan, sistem ventilasinya bagus jadi
harusnya tidak masalah."
Sambil berkata
begitu, Harrel mengeluarkan api menggunakan alat sihir dan merebus air di panci
milik Kuruto.
Katanya, dengan
menggunakan skill pada air mendidih, air itu bisa didinginkan. Jika
Harrel yang punya kecocokan A-Rank, air mendidih pun bisa berubah
menjadi air dingin dalam sepuluh detik.
"Kuruto.
Jika menggunakan skill itu, seharusnya akan tercipta hawa dingin yang
mengembalikan air panas menjadi air biasa."
"Semangat
ya!"
Harrel
menjelaskan, dan Mire memberi semangat.
"Baik,
saya mengerti!"
Kalau Kuruto,
pasti dalam sekejap akan jadi air dingin—
"Ah! Maaf,
saya gagal."
Airnya langsung
jadi es dalam sekejap.
Seberapa banyak
hawa dingin yang kamu ciptakan, sih?
Bukannya ini
malah bisa dipakai bertarung?
Yah, karena ini Kuruto,
kalau dia berniat menggunakannya untuk bertarung pasti dia akan gagal.
"Bagaimana
dengan hasil ini?"
"…………"
Harrel yang
biasanya sudah tanpa ekspresi, kini ekspresinya semakin menghilang.
"Anu,
Harrel-san?"
"……G-Rank,
ya. Memang G-Rank, tapi termasuk kategori yang lumayan bisa
digunakan."
"Benarkah!?"
"…………Ya."
Harrel, maaf ya.
Tolong teruskan aktingmu.
Mire, sembunyikan
wajahmu lebih baik lagi. Pokoknya tutup mulutmu.
Kuruto melepas
batu sihir dari gelangnya dan berkata.
"Kuruto.
Kudengar Mana milikmu lebih banyak dari orang lain. Jika kamu bisa
menggunakannya sejauh itu, harusnya tidak ada masalah."
"Eh? Apa
maksudnya?"
"Untuk me-Restart
perangkat ini, perlu dilakukan proses mengalirkan Mana sambil mengubahnya ke
dalam enam jenis atribut: Air, Api, Angin, Tanah, Cahaya, dan Kegelapan dalam
waktu satu detik, sampai Mana-nya penuh."
"Baik,
saya mengerti cara aktivasinya. Tinggal dialirkan ke perangkat ini saja,
kan?"
Kuruto
berkata begitu dan menempelkan tangannya pada perangkat.
"Ya.
Gunakan skill Energy Conversion tadi—"
"Pengisian
Mana sudah selesai."
"Gunakan…………………
tadi, kamu bilang apa?"
Kuruto, serius,
barusan kamu bilang apa?
"Iya.
Pengisian Mana sudah selesai."
Sudah selesai?
Padahal Kuruto sudah mengembalikan batu sihir untuk skill Energy
Conversion pada Harrel, kan?
"Apa? Apa Kuruto
juga punya batu sihir skill Energy Conversion?"
"Eh? Tinggal
mengalirkan Mana sambil mengubahnya ke enam jenis atribut dalam satu detik,
kan? Hal seperti itu bukannya biasa dilakukan meski tanpa skill?"
"Mana
mungkin…………"
Harrel
berkata dengan bahu gemetar.
"Mana
mungkin itu hal biasa!"
Teriakan pertama
Harrel, akhirnya kudengar juga.
...Tapi,
eh?
Harrel
tadi bilang begini soal orang yang membuat perangkat ini, kan?
'Orang
yang menciptakan area pemukiman dulunya adalah seorang jenius. Karena jenius,
mereka salah mengira bahwa apa yang mereka buat bisa dibuat oleh siapa saja,
sehingga mereka tidak memikirkan cara memperbaiki penghalang tersebut.'
...Jenius
tapi tidak sadar kalau dirinya jenius, lalu salah paham dan menciptakan
fasilitas yang luar biasa?
Kalau
dipikir-pikir, Akuri juga tidak tahu siapa yang membuat mekanisme area
pemukiman ini.
"Berarti,
penduduk Desa Haste yang membuatnya!?"
Kalau
dipikir-pikir, belum tentu semua penduduk Desa Haste pindah ke dunia kami.
Tidak
aneh jika ada penduduk Desa Haste yang tertinggal di dunia ini.
Buktinya,
bukankah penghalang di area pemukiman ini sama dengan penghalang di Adventurer
Land yang dibuat Kuruto?
Lagipula,
fasilitas luar biasa yang mengubah Mana menjadi energi dan menciptakan
penghalang yang bahkan bisa mementalkan Monster Tabu, lalu mempertahankannya
selama ribuan tahun... siapa lagi yang bisa membuatnya kalau bukan penduduk
Desa Haste?
Sadar
dong, diriku!
"Kalau
begitu, aku akan mengaktifkan penghalangnya."
Harrel
menyalakan sakelar perangkat tersebut.
Dengan
begini, pelindungnya akan—
Lho, kok?
Tidak terjadi apa-apa?
"Mana
yang kualirkan tadi tujuannya untuk mengaktifkan perangkat. Butuh waktu sedikit
lama untuk membentangkan pelindung karena proses mengubah partikel sihir di
sekitar menjadi pelindung itu memakan waktu."
Melihatku
keheranan, Kuruto memberikan penjelasan.
Oalah, jadi
bukannya gagal, ya.
Aku baru saja
hendak bernapas lega, tapi tiba-tiba—
"Kuruto-sama,
gawat! Kondisi para Hunter semakin memburuk—!"
"Eh!?"
◇ ◆ ◇ ◆ ◇
Saat aku, Kuruto,
kembali ke sana, keadaan semua orang sudah cukup parah seperti yang dikatakan Lise-san.
Jika dibiarkan,
nyawa mereka bisa terancam.
"Kita harus
segera membawa mereka ke pemukiman."
"Tunggu,
Kuruto! Di luar penuh dengan partikel sihir. Masalah monster mungkin bisa
diatasi, tapi di tempat dengan konsentrasi partikel sihir sepekat itu, efek Anti-Evil
Mask akan langsung hilang."
"Tapi kita
tidak bisa terus menunggu sampai pelindungnya aktif!"
Apa yang harus
kulakukan?
Sihir Teleportation
juga tidak bisa digunakan.
Paling banyak aku
hanya bisa menggendong sepuluh orang sekaligus—tidak, kalau harus lari sekuat
tenaga, jumlah itu pun terlalu banyak.
Bahkan dengan sihir Physical Boost milik Lise-san dan
ramuan Strength Enhancer, mustahil membawa semuanya.
Seandainya saja
aku punya kekuatan lebih—
"Aku punya
ide. Aku akan keluar, jadi kupinta Yuli-san dan Mire-san ikut untuk mengulur
waktu."
Lise-san
angkat bicara saat aku sedang kebingungan.
Strategi Lise-san?
"Kuruto-sama,
Anda pernah mengatakannya dulu, kan? Apa yang harus dilakukan saat terkepung
musuh dari delapan penjuru?"
Itu adalah
kata-kata yang kuucapkan kepada Lise-san saat kami terkepung kawanan monster
ketika hendak menuju reruntuhan Valha.
Jawabannya
adalah—
"—Ada
penjuru kesembilan."
Waktu itu kami
lewat bawah tanah.
Tapi waktu kami
tidak cukup untuk menggali jalan di bawah tanah sekarang.
Oh, begitu
rupanya!
"Aku juga
ikut!"
"Tapi,
Kuruto—"
"Sepertinya
aku paham strategi Lise-san! Kalau begitu, aku yakin bisa berguna!"
Aku takut.
Namun, aku tidak
boleh lari sekarang.
Yurishia-san
akhirnya mengizinkanku keluar dengan syarat aku tidak boleh bertindak nekat.
Yurishia-san
memimpin di depan, disusul Mire-san dan Harrel-san, lalu aku dan Lise-san di
barisan belakang.
Di luar, monster
dalam jumlah yang tak masuk akal sudah tumpah ruah.
Ditambah lagi,
ada banyak monster hitam yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Mungkin itu
adalah monster yang disebut "Kegelapan" yang kabarnya muncul di
Pegunungan Scene.
Aku merinding.
Apalagi,
akar-akar Nietzsche-san yang sedari tadi membantu mengalahkan monster kini
gerakannya mulai melambat.
"Nietzsche,
ada apa!"
"Maaf,
monster juga menyerbu ke arah pohon utama, aku tidak bisa fokus sepenuhnya di
sini."
Hanya suaranya
yang terdengar.
Akar yang ada di
sini hanyalah perpanjangan, kendali aslinya ada di pohon pusat.
Jika
monster-monster yang tersebar itu adalah jenis yang suka memakan tanaman,
Nietzsche-san pasti sudah kewalahan melindungi dirinya sendiri.
Aku pun
mengamati monster di sekeliling.
"—Ketemu!"
Akhirnya aku
menemukan targetnya.
"Itu dia...
jadi begitu maksud Anda! Kalau begitu, Kuruto-sama! Aku yang akan membukakan
jalan ke sana!"
Lise-san
menemukan hal yang sama denganku. Begitu dia mengangkat Kochou, sebuah jalan
api langsung tercipta.
Itu adalah api
ilusi dari Kochou.
Meski hanya
palsu, panas yang dirasakan terasa nyata sehingga monster-monster tidak berani
mendekat.
Aku mengangguk,
lalu berlari lurus menuju sasaran.
Namun tepat saat
sudah hampir sampai, seekor monster kegelapan muncul menembus kobaran api.
Di saat aku
mengira akan celaka, kepala monster kegelapan itu hancur berantakan.
"Mire-san!"
"Sepertinya anak panah ini juga mempan ke monster itu.
Serahkan dukungan padaku!"
Mire-san terus menembakkan anak panah bertubi-tubi,
menumbangkan monster satu demi satu.
Begitu aku sampai di titik tujuan, makhluk itu hendak
memukulku, tapi—
"Kalau cuma
urusan menambang, aku tidak takut!"
Aku
berseru sambil memotong lengan makhluk itu—sebuah Silver Golem setinggi
lima meter—dengan belati di tangan kananku.
Lalu,
melalui Dungeon Core dari langit yang kupegang di tangan kiri, aku
mengalirkan mana ke inti golem dan menulis ulang datanya.
"Sekarang
Silver Golem ini adalah rekan kita!"
Aku
memasang kembali lengan yang tadi kupotong dan berseru.
"Bagus,
tenaga bantuan kita bertambah!" sahut Mire-san, tapi aku segera
membantahnya.
"Tidak
bisa. Golem itu bahkan lebih lemah dari Goblin, jadi tidak bisa dijadikan
tenaga tempur."
"Eh?
Lebih lemah dari Goblin? Kuruto,
apa maksudmu?"
"Ya, sesuai
ucapanku."
Apa Mire-san baru
pertama kali melihat golem?
Ngomong-ngomong,
sepertinya dia juga tidak tahu soal menulis ulang data golem.
Golem itu cuma
menang besar saja, kalau disuruh bertarung, gerakannya sering eror atau malah
jatuh sendiri. Benar-benar
tidak berguna. Paling-paling hanya bisa dijadikan tameng.
Tapi kali
ini, aku memang butuh peran "tameng" itu.
Bukan
tameng untuk menahan serangan musuh.
Melainkan
tameng untuk mengamankan ketinggian.
Aku
kembali ke dekat pintu masuk bawah tanah bersama Silver Golem.
Kukeluarkan parasut dari Magic Bag dan membentangkannya di atas telapak
tangan si golem. Tentu saja bagian yang sobek dicakar Wyvern sudah kuperbaiki.
"Jadi
begitu rencananya! Nietzsche-san! Akuri! Cepat naikkan semua korban ke atas
telapak tangan Silver Golem!"
""Siap!""
Berkat
sihir Teleportation Akuri, sepuluh orang berhasil naik. Ditambah lagi,
akar Nietzsche-san menjulur ke bawah tanah dan membawa sisa Hunter lainnya ke
atas.
Kami
meletakkan mereka semua di atas parasut yang terbentang. Orang yang berat
diletakkan di bawah, sedangkan yang ringan di atas. Aku juga merapal sihir Physical
Boost pada mereka yang berada di posisi bawah agar tidak tewas terhimpit.
Silver
Golem kemudian
mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi.
"Lalu, apa
yang harus kita lakukan sekarang!?" tanya Yurishia-san sambil berteriak selagi
menangkis serangan monster dengan Sekka.
"Kita akan
menyuruhnya mengangkut mereka."
"Menyuruh
Silver Golem?"
"Bukan,
tapi benda itu!"
Lise-san
menunjuk ke langit.
Di sana ada
seekor Wyvern.
Lise-san pasti
sudah memikirkan strategi ini sejak lama.
Alasannya
memintaku membuat sup di bawah tanah tadi bukan karena dia lapar. Itu pasti
demi mengumpulkan aroma sup sebanyak mungkin di ruangan bawah tanah, sehingga
saat pintu dibuka, aroma itu akan memanggil si Wyvern.
"Pergilah!
Wyvern! Angkut orang-orang yang ada di atas tangan golem itu!"
Lise-san
menciptakan ilusi di depan mata Wyvern dan memberikan perintah.
Namun,
Wyvern itu malah berputar-putar dan mencoba kabur.
"Apa yang
kau lakukan!? Patuhi perintahku!"
"Dia itu
penakut. Mana berani masuk ke tengah kerumunan monster tabu dan monster-monster
itu," ujar Yurishia-san dengan nada jengah.
Kalau
diingat-ingat, saat diserang zombie dulu pun dia tidak mau turun sampai keadaan
benar-benar aman.
Di dunia tempat
monster tabu dan monster liar mengamuk ini, Wyvern yang lebih lemah dari naga
bisa bertahan hidup justru karena sifat penakutnya itu.
Tapi kalau begini
terus, sarana untuk mengangkut para Hunter akan—
"Lho?"
Wyvern itu
tiba-tiba berbalik arah menuju ke sini.
Apakah ikatan
tuan dan pelayan dengan Lise-san berhasil mengalahkan rasa takutnya?
Bukan, kalau
dilihat baik-baik, ada seseorang di punggungnya.
Sosok itu—
"Yurishia-san! Aku datang membantu!"
"Aina!?"
Yurishia-san langsung mengenali suara itu.
Meski wajahnya tertutup setengah oleh Anti-Evil Mask,
rambut dan suaranya sangat khas.
Orang yang menunggangi Wyvern itu ternyata Aina-san, putri
kepala wilayah pemukiman ke-257.
Sepertinya Wyvern
itu dipaksa datang ke sini karena diancam oleh Aina-san.
"Entah
kenapa dia bisa ada di sini, tapi dia bisa jadi bantuan. Kuruto, buatkan tombak Mithril
sekarang juga! Tombak besinya tidak akan sanggup menghadapi situasi ini!"
"Baik!
Saya mengerti!"
Di bawah
kaki Silver Golem, aku mengeluarkan satu set peralatan pandai besi dari Magic
Bag dan mulai membuat tombak.
Wyvern
mendarat di atas Silver Golem, dan Aina-san melompat turun di hadapan
kami.
"Karena
Yurishia-san tidak kunjung kembali dari perburuan Wyvern, aku khawatir dan
pergi ke gunung tempat tinggal mereka. Ternyata aku dan Tuan Wyvern ini merasa
sangat cocok—lalu dia bilang ada sinyal panggilan dari Lise-san, jadi aku minta
diantar ke sini."
"Kau...
bisa mengerti bahasa Wyvern?"
"Seorang
pejuang sejati bisa saling memahami lewat ujung tombak tanpa perlu
kata-kata."
Aina-san
berkata begitu, tapi si Wyvern justru menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya dia
cuma takut karena diancam, sih.
Lise-san kemudian
memberi perintah kepada Wyvern yang malang itu.
"Tuan
Wyvern, tolong bawa orang-orang itu beserta kainnya ke pemukiman! Eh? Terlalu
berat? Gunakan nyalimu untuk mengatasinya! Ini perintah!"
Wyvern itu
memasang wajah sangat enggan, tapi karena tidak bisa melawan Lise-san, dia
membiarkan tali pada kain itu diikatkan ke tubuhnya dan terbang dengan berat
hati.
Seketika,
seekor monster burung dan seekor monster serangga menyerang Wyvern tersebut.
Wyvern
tidak bisa terbang tinggi maupun cepat karena beban berat yang dibawanya.
Gawat—pikirku,
tapi di saat yang sama dua anak panah melesat menembus monster-monster itu.
Monster
serangga jatuh tersungkur, sedangkan kepala monster burung itu hancur meledak.
"Lise-san,
mantap! Hebat sekali Anda bisa membidik tepat dengan busur seperti itu."
"Yah,
aku memang sudah berlatih memanah serangga pengganggu, sih. Mire-san sendiri
juga punya daya hancur yang luar biasa. Sepertinya aku juga harus minta Kuruto-sama
membuatkan crossbow."
Lise-san
dan Mire-san saling memuji sambil tetap menyiagakan senjata masing-masing.
Wyvern
memanfaatkan celah itu untuk terbang menjauh sekuat tenaga.
"Kuserahkan
pada kalian... tolong jaga putraku dan semuanya," gumam Harrel-san seperti
sedang berdoa.
Tepat
saat Wyvern sudah benar-benar jauh dari lokasi, di waktu yang sangat pas,
pelindungnya aktif.
Tembok
kota yang mengelilingi pemukiman—kecuali bagian pintu masuk—memancarkan
pelindung semi-transparan dari bawah tanah yang menutupi area seperti kubah.
Pelindung
itu hanya memantulkan partikel sihir atau makhluk yang lahir dari partikel
sihir, jadi tidak peduli meski ada puing atau tembok, pelindung itu tetap
menembusnya.
Kebetulan
ada monster yang sedang terbang di jalur pelindung itu, dan begitu bersentuhan,
monster itu langsung hancur terpental.
Kekuatannya
luar biasa.
Alasan
gerbang kota tidak dipasangi pelindung mungkin agar saat membawa daging monster
buruan, daging itu tidak ikut terpental saat menyentuh pelindung.
Dan kemudian,
pelindung itu menyentuh monster tabu—
Lalu memutus
kedua kakinya.
""Hah?""
Semua orang
mengeluarkan suara cengo secara bersamaan.
Monster tabu yang
kehilangan kedua kakinya kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur. Tubuh
bagian atasnya merosot menuruni pelindung sambil mengeluarkan bunyi hangus di
punggungnya.
Meskipun
kehilangan kedua kaki, monster tabu itu mulai merangkak hanya dengan kedua
tangannya dan menghilang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Hei, Harrel!
Kekuatan pelindungnya terlalu gila, tahu!"
"Aku tidak
tahu. Harusnya mana pelindung ini tidak sekuat ini!"
"Kalau ada
yang berbeda dari biasanya, itu pasti mana yang digunakan untuk aktivasi awal
tadi."
"Berarti itu
sudah jelas—"
Entah kenapa,
mereka berempat menatap ke arahku.
Hanya Aina-san
yang memasang wajah bingung.
Eh? Aku kan cuma
mengalirkan mana sesuai perintah.
"Tapi
dengan begini, kita tinggal menghabisi monster yang tersisa saja."
"Tidak,
potongan kaki yang tertinggal itu justru lebih merepotkan. Di Pulau Paos, ada
potongan kaki monster tabu—yang kami sebut Rakuga Kinki—yang disegel.
Meski sudah disegel, hawa jahatnya tidak kunjung hilang. Jika dibiarkan,
potongan itu bisa menjadi mesin pembuat monster abadi."
"Kalau
monster lemah yang bisa dimakan sih aku tidak keberatan, tapi sepertinya
monster hitam aneh yang keluar dari sana tidak bisa dimakan, ya," ujar Lise-san,
Yurishia-san, dan Mire-san.
"Kegelapan"
meluap keluar menggantikan darah.
Kami harus
melakukan sesuatu pada benda itu.
"Bagaimana
kalau kita mundur dulu untuk evakuasi?" usul Lise-san. Wajar saja dia
berkata begitu karena jumlah monsternya sangat banyak.
Namun, Yurishia-san
dan yang lainnya sepertinya tidak berniat mundur.
"Semakin
lama dibiarkan, jumlah monster yang lahir akan semakin banyak. Jika mereka
keluar lewat bagian yang tidak berpelindung, atau jika pelindungnya sampai
hancur, seluruh pemukiman di sekitar sini akan terancam. Itu adalah jenis monster yang
seperti itu."
Yurishia-san
berkata demikian sambil menebas monster yang menyerang dengan Sekka.
"Kita
habisi sekarang juga!"
Mengikuti
ucapan Yurishia-san, Harrel-san, Aina-san, dan Mire-san pun bersiap.
"Aku
juga tidak bisa mundur begitu saja."
"Ya, aku
juga merasa bersemangat menghadapi pertempuran sungguhan setelah sekian
lama!"
"Demi
melindungi dunia kita, kan?"
Semua
orang telah memantapkan tekad.
Lise-san
pun mengangguk.
"Mau
bagaimana lagi. Sebenarnya ini bukan peranku, tapi aku akan menemani kalian
semampuku."
Dan tekadku pun
sudah bulat.
"Ayo kita
menang."
Aku tidak tahu
apa yang bisa kulakukan, tapi mungkin aku bisa menangkap golem yang jumlahnya
lumayan banyak di sini dan mengendalikannya sebagai tameng.
"Maaf
merusak suasana, tapi karena pelindung sudah terpasang, aku tidak bisa lagi
mendapatkan energi dari nadi bumi. Kekuatanku hilang. Untuk sementara aku akan fokus melindungi diri
sendiri. Semoga beruntung, semuanya."
Begitu
Nietzsche-san berkata demikian, akar-akar di sekitar yang melindungi kami
langsung masuk kembali ke dalam tanah.
"Kuruto,
suruh Silver Golem menjaga pintu masuk bawah tanah! Lindungi
Akuri!"
"Baik!"
Sambil
menempa Mithril, aku mengendalikan Silver Golem untuk berjaga
menutupi pintu masuk.
Semua orang mulai bergerak.
"Physical Boost!"
Sihir Lise-san merasuki Yurishia-san, Harrel-san, dan
Aina-san yang bertarung di garis depan.
"Cahaya apa ini!"
"Ini semacam Skill milik Lise. Kekuatanmu
meningkat, kan?"
"Eh? Tapi Yurishia-san, bukannya Skill tidak
bisa digunakan untuk memperkuat orang lain..."
"Aku merasa kekuatanku bertambah. Begitu ya, ini memang
Skill hebat seperti yang dirumorkan."
Harrel-san mencoba menutupi sihir Lise-san dengan alasan
tersebut.
Aina-san
tampak ingin berpikir sejenak, tapi monster-monster tidak memberinya waktu.
"Hah!
Fire Spear!"
Tombak
besi Aina-san menusuk tiga Goblin sekaligus. Seketika, ketiga Goblin itu
dilalap api.
Hebat,
jadi itu yang namanya Skill tipe serangan.
Selagi
aku terkagum, kegelapan menyerang.
Aina-san
menggunakan Skill lagi untuk menusuk kegelapan itu, tapi—
"Apa-apaan
ini!?"
Tombaknya mulai
terkikis oleh kegelapan.
"Aina,
lepaskan tombaknya! Kau akan tertelan kegelapan!"
"Cih!"
Aina-san melepas
tombaknya dan mundur.
Sekarang dia
kehilangan senjatanya, tapi... untungnya sempat!
"Aina-san,
ini baru saja selesai! Tombak
baru!"
"Ini—indah
sekali. Apa tombak ini bisa mengalahkan benda hitam itu?"
"Ya!"
"Kalau
begitu—"
Aina-san
menerjang ke arah kegelapan.
Kegelapan
itu langsung sirna di hadapan tombak Mithril.
"Ahaha!
Ahahaha! Kenapa rasanya begitu menyegarkan! Luar biasa! Ini luar biasa! Tidak ada lagi
yang bisa menghentikanku!"
Aina-san...
sepertinya dia agak lepas kendali.
"Aina,
jangan maju terlalu jauh!"
"Yurishia-san,
ayo kita menari bersama!"
"Aku tidak
sedang dalam suasana hati untuk itu!"
Meski menggerutu,
gerakan Yurishia-san pun sangat hebat.
Mire-san
menumbangkan monster besar dengan crossbow-nya, sementara Lise-san
mengalihkan perhatian sekitar dengan ilusi Kochou sambil memanah monster kecil.
Rasanya cuma aku
yang tidak berguna, tapi aku harus melakukan apa yang aku bisa sekuat tenaga.
Sambil menulis
ulang golem ketujuh, aku menebas tanaman bergerak berbentuk harimau yang
terbuat dari duri, lalu menyuruh golem membereskannya agar tidak ada yang
menginjak durinya.
Yurishia-san dan
Aina-san tampak bertarung saling memunggungi, seolah saling menyemangati.
"(Yurishia-san.
Bukannya dulu kau bilang Kuruto-kun tidak bisa bertarung? Cara dia membereskan
golem dan Thorn Tiger tadi sangat cekatan. Aku jadi ingin latih tanding
dengannya.)"
"(Ada
situasi khusus untuk itu. Lebih baik fokus pada musuh di depanmu
sekarang.)"
Keduanya kembali
berpisah dan bertarung.
Harrel-san tidak
hanya menggunakan pedang, tapi juga sihir.
Daya rusaknya
memang tidak sehebat Solflare-san, tapi tetap luar biasa.
Jumlah monster
perlahan berkurang.
Namun
monster-monster baru terus bermunculan, membuat Yurishia-san dan yang lainnya
tidak bisa mendekati kaki monster tabu. Lagipula kalau pun sampai, belum tentu
pedang bisa melukainya.
Mire-san mencoba
menembakkan anak panah crossbow saat ada celah, tapi tidak berefek.
"Bagaimana
cara mengalahkan benda itu!? Kita tidak bisa mendekat, panahku tidak mempan,
dan dia terus melahirkan monster baru!"
Benar
kata Mire-san, monster terus lahir dari kaki monster tabu itu.
"Kuruto, bagaimana dengan Magic Gun!"
"Maaf, yang kubawa sebelumnya sudah rusak dan aku
titipkan ke Mimiko-san."
Lagipula, daya rusak Magic Gun milikku tidak akan
bisa membunuh benda seperti itu.
Tapi, pasti ada
cara. Sesuatu yang pasti bisa menghancurkan kaki monster tabu itu—
Aku melihat
sekeliling, tapi tidak menemukan apa pun yang berguna di tumpukan puing.
Lalu, hal lain
yang ada di sini adalah—
"...Ah,
benar. Benda itu kan ada."
Ketemu!
Sesuatu
yang bisa memecah kebuntuan ini terpampang jelas di depan mataku.
"Yurishia-san!
Aku akan membuat jalan dengan golem! Silakan lari lewat situ!"
Aku
berseru sambil menggabungkan golem-golem untuk membentuk tangga.
"Begitu
ya, dengan ini aku bisa mende—Kuruto! Kenapa tangganya tinggi sekali—"
"Yurishia-san!
Pelindung itu terbuat
dari sihir. Jadi—"
"Oh,
aku mengerti!"
Yurishia-san
langsung paham maksudku tanpa perlu penjelasan sampai akhir. Dia berlari
menaiki tangga golem.
Lalu, dia menebas
pelindungnya.
"Drain
Sword!"
Pedang kesayangan
Yurishia-san—Sekka—menyerap mana dari pelindung tersebut.
Lalu Yurishia-san
melompat.
Pedang yang telah
dialiri mana pelindung itu menebas kaki monster tabu. Cahaya memanjang dari
bilah pedangnya, membelah kedua kaki itu sekaligus.
Sepertinya
monster tabu bisa dikalahkan, tapi... gawat! Tebasannya terlalu mulus sehingga
tidak ada hambatan untuk mengerem.
Jika begini
terus, Yurishia-san akan menghantam tanah.
Aku bisa melihat
ekspresi wajah Yurishia-san yang menegang.
Sepertinya dia
memang berencana mengurangi kecepatan sambil menebas kaki monster itu.
—Kalau begini
terus...—
"Tidak
apa-apa!"
Suara Akuri
terdengar.
Dalam sekejap,
matras penyerap guncangan jatuh yang kubuat berpindah ke titik jatuhnya Yurishia-san
bersama Akuri lewat sihir Teleportation.
"Waktu naik
Wyvern dulu, aku kan sudah bilang akan menolong Mama Yuli kalau jatuh."
"Ya, kau
menyelamatkanku, Akuri. Kau memang putri terbaik!"
Potongan kaki
monster tabu yang terbelah dua itu pun hancur, menjadi gumpalan mana tercemar
yang jatuh ke tanah.
Begitu mendarat, Yurishia-san
langsung menggendong Akuri dan menerobos monster-monster yang baru lahir untuk
kembali ke sini.
Syukurlah, nyaris
saja.
Tenagaku rasanya
habis dan aku terduduk lemas di tanah.
"Hebat
sekali, Yurishia-san!"
"Selesai
juga akhirnya."
"Masih ada
sisa-sisa monster, tapi sisanya pasti bisa kita atasi."
Aina-san memuji Yurishia-san,
sementara Mire-san dan Harrel-san menghela napas lega.
Lise-san
mengulurkan tangannya kepadaku dengan senyum lembut. Aku meraih tangannya dan berdiri.
"Kuruto-sama,
kerja bagus."
"Ini belum
benar-benar selesai, tapi—Lise-san juga kerja bagus."
Yurishia-san yang
kembali sambil menggendong Akuri menjulurkan tangannya di depan tanpa
berkata-kata.
Aku mengangguk,
lalu melakukan high-five dengannya.
Lalu, bagaimana dengan Nietzsche-san?
Aku baru saja
hendak menoleh ke arah pohon karena khawatir—
—Deg!—
Rasa
ngeri menjalar di punggungku.
Bukan hanya aku,
sepertinya semua orang di sana juga merasakannya.
Hawa itu
berasal dari tempat kaki monster tabu tadi berada.
"Apa-apaan
itu—"
Dari
balik kabut pekat, muncul seekor kadal merah raksasa. Ekornya diselimuti api
merah yang membara.
Wujud
itu... mirip sekali dengan legenda—
"Itu
sepertinya semacam replika dari Roh Agung Salamander."
Itu adalah suara Akuri.
Sebagai seorang
Roh Agung, mungkin dia bisa memahami situasi ini melalui intuisinya.
"Salamander!?
Roh Agung Api? Apa Mana bisa melahirkan roh juga?"
"Tidak,
prinsipnya sama denganku dan Nietzsche. Ini adalah Roh Agung Buatan yang
tercipta dari kumpulan roh-roh kecil di sekitar sini."
Roh Agung
Buatan.
Apakah
gumpalan Mana yang tadinya merupakan kaki Monster Tabu itu menciptakannya tepat
sebelum ia hancur?
Tapi,
kalau dia adalah Roh Agung, bukankah seharusnya dia bukan musuh—
Begitu
pikiran itu terlintas, gumpalan Mana yang tadinya merupakan kaki si monster
langsung menelan Salamander tersebut.
Seketika, tubuh
Salamander itu terwarnai oleh kegelapan.
Api yang tadinya
menyala di ujung ekornya kini berubah menjadi hitam pekat.
"GYUAAAAAAAAAA!"
Begitu Salamander
itu meraung, api hitam yang tak terhitung jumlahnya muncul dan menyerang
sekeliling secara membabi buta.
Salah satunya
melesat menuju tempat Lise-san berada.
"Shield!"
Lise-san mencoba
menahannya dengan menciptakan penghalang sihir.
Namun, daya
hancurnya yang luar biasa tidak sanggup terbendung sepenuhnya. Lise-san
terpental bersama penghalangnya ke arah tumpukan puing di belakang.
"Lise-san!"
"Kh, aku
tidak apa-apa. Kalau aku tidak segera mengubah bagian yang akan menabrak puing
di belakangku menjadi besi, mungkin aku sudah tidak sadarkan diri."
Darah mengalir
dari kepala Lise-san saat dia bicara.
Begitu rupanya,
dia bisa menggunakan Ironization karena memegang batu sihir skill.
Tapi
dengan tingkat kecocokan Lise-san, dia tidak bisa menahan serangan itu dengan
sempurna.
"Sudahlah,
mending kita kurung saja dia di sini lalu kabur."
"Tunggu
sebentar, Yurishia-san. Lihat penghalang itu."
Aina-san menunjuk
ke arah penghalang.
Di titik di mana
api hitam itu menghantam, terdapat lubang yang menganga pada penghalang
tersebut.
Lubang itu
perlahan menutup kembali, tapi kenyataan bahwa penghalang bisa ditembus berarti
kita tidak bisa mengurung monster itu di sini.
Di sana, aku
menyadari sesuatu.
"Penghalang
itu mungkin bisa menahan kekuatan Mana, tapi tidak bisa menahan kekuatan Roh.
Pasti Monster Tabu itu menciptakan cara untuk melawannya tepat sebelum dia
kembali menjadi Mana, karena sudah dua kali menerima kerusakan dari kekuatan
penghalang."
"Salamander
yang ternoda kegelapan oleh Mana—Dark Salamander, ya."
Akan gawat jika
area pemukiman diserang oleh makhluk seperti itu.
Bagi orang-orang
di dunia ini yang terbiasa hidup dilindungi penghalang, mereka pasti tidak tahu
cara bertarung jika penghalang itu sampai jebol.
"Berarti,
mustahil mengalahkannya dengan energi sihir penghalang seperti tadi, ya?"
"Benar.
Karena itu adalah api yang ternoda kegelapan, kurasa kekuatan Cahaya atau Es
akan efektif."
"Karena
dia monster api, berarti Flame Lance milikku tidak akan berguna, ya.
Padahal sebagai kartu as, aku sudah mengumpulkan energi api di dalam tombak
ini."
Aina-san berkata
dengan nada kecewa.
Benar juga,
menyerang Roh Agung Api dengan api hanya akan sama seperti memberinya makan.
Tepat
saat aku berpikir begitu—
"""Itu dia!"""
Yurishia-san, Mire-san, dan Harrel-san berseru secara
bersamaan.
Harrel-san, awalnya kukira dia orang yang pendiam, ternyata
bisa berteriak keras juga.
...Ngomong-ngomong, "itu" yang mana?
"Anu, Yurishia-san? Apa ini benar-benar tidak apa-apa? Rasanya ini tetap tidak akan mempan."
"Percayalah,
Aina. Kamu hanya perlu melepaskan energi yang sudah terkumpul itu ke arah Dark
Salamander."
"Tapi meski
begitu, melihat kekuatan apinya tadi, kekuatan tombakku pun—"
"Sudah,
lakukan saja tanpa banyak protes."
Di bawah perintah
Yurishia-san, Aina yang kebingungan akhirnya memantapkan tekadnya.
"Baik,
persiapannya sudah selesai. Aina-san, tolong gunakan tombak ini."
"...Baiklah.
Akan kutunjukkan! Jangan salahkan aku kalau gagal, ya!"
Meski masih
bingung, Aina-san memasang kuda-kuda dengan tombaknya.
Begitu hendak
menggunakan skill, ekspresinya berubah menjadi sangat serius.
Dan kemudian—
"Skill:
Flame Lance!"
Aina-san
melepaskan energi yang tersimpan di dalam tombaknya.
Energi yang telah
diubah menjadi hawa dingin yang luar biasa oleh skill Energy
Conversion milikku.
Ya, dengan
mengubah energi api sebelum dilepaskan dari tombak menggunakan skill-ku,
aku bisa membuatnya memancarkan es.
Melihat es yang
terpancar dari ujung tombak, Dark Salamander mencoba menciptakan api hitam.
Namun, hawa
dingin yang dilepaskan Aina-san membekukan api itu, bahkan membekukan tubuh
utama Dark Salamander dalam sekejap.
Tak berhenti
sampai di situ, monster-monster lain yang tersisa di sekitarnya pun ikut
membeku.
Detik berikutnya,
es itu hancur secara serentak, tertiup angin keluar melalui lubang penghalang
yang tadi dibuat oleh Dark Salamander.
"Luar
biasa, skill Aina-san hebat sekali!"
"Bukan,
yang hebat itu kan skill Kuruto-san..."
"Eh?
skill-ku kan cuma G-Rank yang tidak seberapa. Benar kan,
semuanya?"
"""""Iya,
skill biasa."""""
Semua
orang menjawab kompak secara bersamaan.
Hanya
Aina-san yang berteriak kebingungan, "Eeeeeeeeh!?"
Tiba-tiba,
Mire-san menunjuk ke arah langit yang mulai berwarna keemasan dan berteriak
keras.
"Semuanya!
Lihat itu!"
"Ada apa
lagi yang datang!?"
Kami
waspada dan mendongak ke atas.
Tapi, tidak ada
bayangan musuh di sana.
Sebagai gantinya,
ada celah kecil yang terbentuk di balik kabut yang menyelimuti langit.
Dan di balik
celah itu, sesuatu bersinar.
"Ternyata
memang ada. Di dunia ini juga."
Mire-san menangis
terharu.
"...Apa itu?
Butiran cahaya itu?"
Aina-san bertanya
dengan heran.
"Aina-san,
itu adalah bintang pertama. Bintang pertama di dunia ini."
Mire-san
mengucapkannya dengan lirih sambil meneteskan air mata.
Ya, di
balik celah itu, sebuah bintang bersinar terang.
"Bintang
pertama?"
"Benar.
Simbol yang memberitahuku bahwa dunia ini pun sebenarnya indah."
Ujar Mire-san.
Begitu
ya, meski berada di dimensi yang berbeda, ternyata benda langit dunia ini tetap
ada.
"Tapi,
kenapa tiba-tiba bisa terlihat?"
"Kurasa ini
pengaruh dari tumbangnya Monster Tabu, meski hanya bagian kakinya saja. Tapi
karena dia hanya satu dari sekian banyak, dan ini pun cuma kakinya, jadi
segera—ah, sudah tidak terlihat lagi."
Kegelapan dan
kabut yang menutupi langit adalah semacam kumpulan dari Monster Tabu.
Mungkin karena
sebagian darinya hancur, kabut dan kegelapan itu menipis.
Meski belum
sepenuhnya cerah, mungkinkah suatu saat nanti bintang-bintang akan bisa
terlihat lagi di dunia ini?
Setelah itu, kami
menghabisi sisa-milih monster di sekitar dan mencari jasad Auclair.
Jasadnya sendiri
tidak ditemukan, hanya beberapa perlengkapan yang ia bawa yang tersisa.
Yurishia-san
bilang mungkin dia sudah dimakan sampai ke tulang-tulangnya oleh monster yang
muncul.
Pada akhirnya,
kita tetap tidak tahu apa sebenarnya tujuan pria itu.
Saat kami
menghampiri Nietzsche-san, tumpukan monster sudah menggunung di sekitarnya.
"Nietzsche-san, Anda baik-baik saja?"
"Uu... uuu... saya terlalu banyak menggunakan tenaga
sampai-sampai tubuh saya mengecil."
Nietzsche-san yang sudah mengecil menyahut sambil
tertelungkup.
"Kuruto-sama, saya mohon maaf, tapi saya butuh energi
dari Dryad yang asli. Bisakah Anda
menanam kembali pohon ini di luar area pemukiman?"
"I-iya!
Baiklah!"
Lagipula, untuk
melakukan Teleport, pohon itu memang harus dipindahkan ke luar
penghalang.
Sebelum itu, aku
harus membersihkan sisa-sisa Mana yang meluap dari miasma di dekat tempat Dark
Salamander tadi.
Selain itu, jasad
monster juga tidak bisa dibiarkan begitu saja karena bisa membusuk dan
mencemari lingkungan, jadi kami menyimpan bagian yang bisa dibawa ke dalam Magic
Bag, lalu membakar dan mengubur sisanya.
Setelah semuanya
selesai, Lise-san merapal sihir Power Up padaku, lalu aku menggali dan
mengangkat pohon Nietzsche-san.
"Ugh, agak
berat."
"Kurasa
tidak sopan mengatakan 'berat' kepada seorang wanita."
Nietzsche-san
berusaha bangkit dengan tubuh kecilnya.
"Maafkan
saya."
Aku meminta maaf
karena telah mengatakan hal yang tidak peka, lalu mengangkutnya diam-diam ke
luar area pemukiman.
"(Hei, Yurishia-san.
Pohon itu beratnya berapa ton, sih?)"
"(Aina,
jangan dipikirkan. Kalau kamu memikirkannya, kamu kalah.)"
Begitu sampai di
luar area pemukiman, Deku sudah menunggu di sana.
"Deku!?
Maaf, aku melupakanmu. Kamu tidak apa-apa?"
Sepertinya dia
tidak berpapasan dengan monster, tapi mungkin karena lapar, dia langsung
menggosokkan tubuhnya padaku.
Padahal aku sudah
meninggalkan makanan untuknya, tapi sepertinya sudah habis dilahap.
Lalu, dia mencoba
memakan daun dari pohon Nietzsche-san yang sedang aku baringkan.
"Jangan
makan saya! Saya bukan makanan, Deku-san! Biasanya saya tidak keberatan, tapi
sekarang—saat kekuatan saya sedang lemah, jangan!"
Nietzsche-san
kehilangan tenaganya dan kembali jatuh tersungkur.
Yurishia-san dan
Aina-san menarik Deku menjauh, sementara aku menanam kembali pohon
Nietzsche-san di luar area pemukiman.
Mengenai Teleport,
sepertinya butuh waktu untuk menyambungkan kembali nadi bumi dan memulihkan
stamina, jadi kami tidak bisa menggunakannya selama satu hari penuh.
Tadinya aku
berpikir untuk berkemah di sini, tapi Harrel-san mengkhawatirkan para Hunter
dan Heill-san yang sudah kembali ke Area Pemukiman ke-536, jadi kami memutuskan
untuk naik kereta kuda kembali ke sana.
Di depan area pemukiman, terlihat Wyvern sedang memakan
kepala Wild Boar.
Syukurlah, sepertinya mereka sampai dengan selamat.
Apa kepala Wild Boar itu hadiah karena sudah mengangkut
semua orang sampai ke sini?
Dan, karena terlalu fokus pada Wyvern, aku baru menyadari
ada satu sosok manusia lain di balik gerbang pemukiman selain para penjaga.
"Heill."
Harrel-san
memanggil dengan suara pelan.
Kereta kuda
memasuki area pemukiman.
Karena ada
Harrel-san, kami bisa lewat begitu saja tanpa hambatan.
"Heill, kamu
selamat? Bagaimana keadaan para Hunter?"
"Semua Jaso
sudah dikeluarkan dari tubuh mereka. Semuanya selamat. Untuk observasi lebih
lanjut, mereka semua menunggu di dalam Hunter Guild."
"Keputusan
yang tepat. Tapi, kalau begitu kenapa kamu ada di sini? Kamu juga butuh
observasi, kan?"
"Karena aku
khawatir, jadi aku menunggu kepulangan kalian di sini."
"Pemikiran
yang tidak logis. Menunggumu di sini tidak akan meningkatkan tingkat
keselamatan kami."
Harrel-san
berkata dengan dingin.
"Oi, jangan
bicara begitu—"
"Yurishia-san,
tunggu sebentar."
Yurishia-san
hendak protes, tapi aku memintanya untuk menahan diri.
Ini bukan tempat
bagi kami untuk ikut campur.
"Memang
benar ini tidak logis. Meski begitu, saat Ayah kembali, aku ingin menemuimu
meski hanya sedetik lebih awal. Dan, aku ingin meminta maaf. Karena telah meragukanmu. Karena berniat
membunuhmu. Aku tahu ini tidak akan dimaafkan. Tapi—"
"Sudah
kubilang itu pemikiran yang tidak logis. Ayo pulang dan istirahat."
Sambil berkata
demikian, Harrel-san melangkah masuk ke dalam area pemukiman.
Ekspresi
Heill-san menjadi muram.
Namun, saat
mereka berpapasan, Harrel-san berujar.
"Mana ada
ayah yang tidak memaafkan putranya sendiri."
Air mata mengalir di wajah Heill-san.
Malam itu, kami menginap di rumah Harrel-san.
Keesokan harinya, Aina-san juga harus kembali ke Area
Pemukiman ke-257, tapi sebelumnya dia melakukan latihan tanding dengan Yurishia-san.
Karena dia bilang
ingin menjajal kemampuanku juga, aku menantangnya dengan niat meminjam
pengalamannya, tapi hasilnya aku langsung dikalahkan dalam sekejap.
Jika ujung tombak kayu itu tidak dibungkus kain
berlapis-lapis, mungkin tulang rusukku sudah patah.
Aina-san tampak
sangat heran, tapi inilah kemampuanku yang sebenarnya.
Akhirnya, Wyvern
itu diputuskan untuk tinggal bersama Aina-san.
Menurut
terjemahan Lise-san, Wyvern itu menyadari betapa mengerikannya manusia setelah
kejadian ini, sehingga dia pikir menjalin persahabatan lebih baik daripada
bermusuhan.
Sebagai langkah
awal, dia akan berburu monster sebagai Hunter bersama Aina-san.
Benar-benar mirip
ksatria naga yang muncul di buku cerita, ya.
Karena itulah,
kami memberikan daging monster yang dikalahkan kali ini sebanyak yang bisa
dibawa sebagai oleh-oleh untuk Aina-san, lalu dia pulang bersama sang Wyvern.
Aina-san tampak
agak murung sambil bergumam, "Begitu sampai rumah, sepertinya Ayah akan
menceramahiku habis-habisan," tapi kurasa itu juga bentuk kasih sayang
seorang ayah.
Para Hunter
lain pun sudah benar-benar sehat setelah masa observasi berakhir. Mereka
mengucapkan terima kasih pada kami, mengambil barang bawaan yang tertinggal di
kereta kuda, lalu kembali ke kehidupan sehari-hari mereka.
Mengenai Area
Pemukiman ke-121, karena penghalangnya sudah berhasil diperbaiki, diputuskan
untuk melakukan penyesuaian ulang agar bisa ditinggali manusia lagi.
Karena bekas
ladang di sana sudah hancur dan lingkungannya belum layak huni, mereka akan
mulai mengirim personel untuk pembersihan.
Meski
berada di luar penghalang, ada Nietzsche-san di sana. Pasti tempat itu akan kembali menjadi area
pemukiman yang indah.
Dan, kami pun
harus meninggalkan area pemukiman ini.
Waktunya berpisah dengan Mire-san.
"Hei, Kuruto.
Aku punya satu permintaan."
"Apa
itu?"
"Bolehkah
aku, anu, ikut berkelana bersama kalian?"
"Eh? Kenapa
begitu? Bukannya Mire-san bilang ingin mencari asal-usul Anda? Mumpung Area
Pemukiman ke-121 akan dibuka untuk siapa saja—"
"Soal itu, sudah tidak apa-apa. Tidak, sebenarnya belum
selesai, tapi aku menemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk lebih
baik."
Mire-san mendongak ke arah langit.
Aku tidak terlalu paham situasinya, tapi bantuan dari
penduduk dunia ini tentu sangat berarti.
Kupikir tidak masalah jika Yurishia-san dan yang lainnya
setuju.
Saat aku kembali ke kereta kuda, Lise-san sedang menatap
sesuatu di dalam kereta dengan heran.
Lho, itu barang bawaan Hunter?
"Lise-san, kalau ada barang yang tertinggal, mari kita
antar ke Hunter Guild."
"Bukan, masalahnya para Hunter yang pergi
bersama kita untuk penyelidikan sudah mengambil barang mereka. Dan semuanya
bilang bahwa ini bukan milik mereka—tentu saja, ini bukan milik Harrel-sama
atau Heill-san juga."
Tas yang diklaim bukan milik siapa pun?
Tiba-tiba, Akuri menarik lengan baju Yurishia-san seolah
teringat sesuatu.
"Mama Yuri,
bukankah itu tas milik Auclair? Seingatku dia membawa tas yang
mirip."
"Apa? Benarkah?"
Tanpa ragu, Yurishia-san membuka tas tersebut.
Mungkin dia menaruh harapan kecil untuk mengungkap identitas
atau tujuan Auclair yang sebenarnya.
"Isinya...
baju ganti, ransum darurat, dan kantong air."
Namun,
yang keluar hanyalah barang kebutuhan sehari-hari yang biasa.
Tidak ada
yang aneh, sampai—
"Apa
ini?"
Yurishia-san
mengeluarkan sesuatu yang tipis berbahan kulit yang terlipat dua.
Kami
kebingungan melihat benda asing itu, tapi Mire-san tahu jawabannya.
Ternyata
itu adalah dompet lipat dua yang umum digunakan di dunia ini.
Karena
uang di dunia ini berbentuk kertas persegi panjang, mereka tidak menggunakan
kantong serut seperti di dunia kami, melainkan dompet panjang seperti itu.
Yurishia-san
mengangguk paham dan membuka dompetnya.
Di
dalamnya terdapat beberapa lembar uang kertas dan... banyak sekali kartu.
"Kenapa ada
kartu petualang sebanyak ini... kartu petualang?"
"Kartu
petualang itu, bukankah kartu yang diterbitkan oleh Adventurer Guild?"
Itu adalah kartu
yang sudah sangat familiar bagiku.
Namun, ada satu
orang yang belum pernah melihatnya.
"Adventurer
Guild itu apa? Lalu, apa yang tertulis di sini?"
Seperti yang
terlihat dari reaksi Mire-san, Adventurer Guild tidak ada di dunia ini karena
itu adalah organisasi dari dunia kami.
Tentu saja,
seharusnya kartu petualang juga tidak ada di sini.
Tulisan yang
tertera di kartu itu pun menggunakan aksara dunia kami.
Di kartu itu
tertulis nama pemiliknya, dan ada juga nama Auclair.
Artinya,
kemungkinan besar Auclair bukanlah manusia dunia ini, melainkan penduduk dari
dunia kami.
Sebenarnya, siapa
dia?
Lalu, kami harus
menyelidiki tentang petualang lain yang tertulis di sini.
Mungkin
jawabannya ada di Adventurer Guild.
Hmm?
Nama orang yang
tertulis di kartu petualang yang dipegang Yurishia-san rasanya pernah kudengar
di suatu tempat... di mana ya?
Tapi, kita pasti
akan tahu jika bertanya ke Adventurer Guild.
Untuk itu—
"Kita tidak
punya pilihan selain kembali sekali lagi ke dunia kita."
"Benar
juga... haah, aku tidak tahu harus menunjukkan wajah seperti apa saat bertemu
Mimiko-san nanti."
Lise-san menghela
napas berat, teringat bagaimana dia ikut bersama kami dengan cara membohongi
Mimiko-san.
Tapi, yang
melakukan kesalahan kan kami semua.
Aku juga akan
ikut dimarahi, jadi mari kita minta maaf dengan sungguh-sungguh supaya
dimaafkan.



Post a Comment