Epilog
Setelah menghirup
udara yang masuk langsung ke dalam mulut hingga paru-paruku terasa penuh,
aku—Mire—mengembuskan napas panjang.
Ini adalah kali
kedua aku datang ke dunia ini.
Di
langit, mengapung benda-benda putih yang disebut "awan".
Di dunia kami,
awan itu tidak ada.
Kata Akuri-chan,
air di dunia kami akan diserap oleh kabut yang melayang di angkasa saat
menguap, lalu diubah menjadi partikel sihir dan menyatu di sana.
Air yang kami
minum atau air sungai pun tercipta kembali dari partikel sihir tersebut, jadi
mekanisme terciptanya awan belum terbentuk... atau semacam itulah?
Aku tidak terlalu
mengerti, tapi aku tahu bahwa awan juga merupakan salah satu pemandangan indah
di dunia ini.
Katanya, jika
jumlah awan itu bertambah dan warnanya berubah menjadi hitam, mereka akan
menjadi awan mendung dan menjatuhkan air dari langit.
Membayangkan air
jatuh dari langit adalah hal yang sangat ajaib bagiku, dan aku pun jadi tidak
sabar menantikan datangnya hari hujan itu.
Begitu kembali ke
sini, Kuruto dan yang lainnya langsung digelandang oleh Mimiko-san untuk
diceramahi di kediaman mereka.
× Ini adalah
kisah dunia buruk yang dimulai dari pertemuan dengan seorang pemuda yang
sedikit aneh.
○ Ini adalah
kisah dunia indah yang dimulai dari pertemuan dengan seorang pemuda yang sangat
aneh.
Yah, begitulah
kira-kira.
Karena aku diberi
waktu luang, apa yang harus kulakukan?
Sejujurnya, hanya
memandangi pemandangan saja sudah membuatku bahagia, tapi rasanya sayang juga
kalau tidak melakukan apa-apa.
"Mire-san,
kalau mau, mau pergi belanja bersamaku?"
"Sina-san.
Iya, aku mau! Ah, tapi uang di dunia ini..."
"Tenang
saja, aku yang pegang uangnya. Kuruto itu orang paling kaya di negara ini, tahu? Rasanya sulit
dipercaya karena aku tidak bisa mengatakannya langsung pada orangnya."
Begitu
ya.
Tapi,
setelah melihat masakan lezat dan kemampuannya membuatkan crossbow
untukku, aku jadi merasa maklum.
Bahkan
katanya pemilik asli bangunan yang disebut bengkel kerja ini sebenarnya adalah Kuruto.
"Tapi,
uang di dunia ini benar-benar unik, ya. Logam bulat bisa jadi uang. Dompetnya
juga seperti tas kecil yang bikin penuh saku, apa Sina-san tidak merasa
repot?"
Ucapku sambil
menatap koin perak yang kuterima. Katanya satu koin perak ini nilainya sekitar
seribu Port.
Satu koin tembaga
nilainya sepuluh Port. Umumnya,
koin tembaga dan perak inilah yang paling sering digunakan sebagai uang.
Di dalam
dompet yang kuterima, ada ratusan koin perak dan tembaga.
Jumlah
ini saja, jika dikonversikan ke Port, sudah melampaui seluruh harta kekayaanku
sebelum menemukan brankas itu. Padahal katanya aset milik Kuruto bisa mencapai puluhan ribu atau bahkan
jutaan koin emas.
Bahkan Sina-san
pun tidak tahu angka pastinya.
"Benarkah? Aku justru merasa aneh saat pertama kali
mendengar kertas bisa jadi uang... Jadi, apa yang ingin kita beli?"
"Hmm, aku
penasaran dengan masakan dunia ini, tapi aku juga ingin melihat perhiasan atau
aksesori lainnya."
"Fufu,
syukurlah. Biarpun berasal dari dunia berbeda, ternyata selera anak perempuan
tetap sama. Kalau begitu, mari pergi ke toko langgananku!
Kau juga tertarik
dengan pakaian, kan? Ada toko yang melayani custom-made juga, bukan cuma
pakaian bekas."
"Pakaian?
Aku mau lihat!"
Aku memang
tertarik dengan pakaian dunia lain.
Terutama pakaian Lise-san
yang sangat imut itu.
Aku tahu itu
tidak akan cocok untukku, tapi setidaknya aku ingin mencoba memakainya sekali
saja.
Namun, saat aku
dan Sina-san hendak keluar rumah, seseorang dengan wajah yang kukenal
menghentikan kami.
"...Mire-dono,
bukan? Boleh aku minta waktunya sebentar?"
Begitu katanya,
dia adalah—
◆◇◆
Aku—Kuruto—sudah
diceramahi oleh Mimiko-san selama hampir tiga jam.
Rasanya sudah
lama sekali aku tidak dimarahi sehebat ini. Bahkan Golnova-san pun tidak pernah
semarah ini padaku.
"Kuruto-chan,
kau dengar tidak?"
"Iya,
aku dengar. Maafkan aku."
Bukan
hanya kepada Lise-san yang nekat bersembunyi di kotak untuk pergi ke Dunia Lama
atau Yurishia-san yang berkomplot dengannya, Mimiko-san juga menceramahiku dan
Akuri.
Intinya,
saat Lise-san ikut secara sepihak, seharusnya aku bisa membujuknya untuk
kembali, tapi kenapa aku malah mengizinkannya ikut. Soal itu, kurasa ucapan
Mimiko-san memang benar.
Namun,
sepertinya ceramah itu akhirnya mulai mendekati akhir.
"Jadi, ada
kemungkinan si Octar itu adalah petualang dari dunia ini, ya... Octar,
sepertinya aku pernah dengar nama itu di suatu tempat."
"Bukan cuma
Octar saja. Ada kartu petualang milik orang lain yang sepertinya juga
terlibat."
"Selain dia,
masih ada sebanyak ini?"
Mimiko-san
melihat kartu-kartu petualang tersebut.
Dia mengeceknya
satu per satu, lalu gerakannya terhenti pada salah satu kartu.
"Ini kan...
jangan-jangan—"
Mimiko-san
bergumam seperti itu, lalu memeriksa kartu lainnya seolah menyadari sesuatu.
"Yang
ini juga, lalu yang ini... Ternyata
benar."
"Mimiko, ada
apa? Apa kau mengenal mereka?"
"Iya, ini
sepertinya milik pria-pria yang pernah ditangkap olehku—maksudku oleh Phantom. Kuruto-chan,
aku akan siapkan kertas dan pena, bisakah kau gambarkan sketsa wajah pria itu?
Lalu, tolong
seseorang panggilkan Kans-chan, Sina-chan, dan Danzou-chan ke sini.
Cepat!"
Aku tidak tahu kenapa dia menyuruh memanggil tiga orang anggota "Sakura" itu, tapi aku segera menggambar sketsa wajah Octar sesuai perintahnya.
Selesai
menggambar, Kans-san segera masuk. Sepertinya dia menunggu di luar ruangan
karena khawatir sesi ceramah kami berlangsung terlalu lama.
"Anda
memanggilku—hm? Kuruto, sketsa itu... kenapa kau menggambar wajah orang itu?
Memangnya kau pernah bertemu dengannya?
Tapi,
terlepas dari itu, gambarmu bagus sekali sampai aku terpana..."
Kans-san
bertanya dengan nada heran sambil menatap sketsa yang kubuat.
Padahal
aku merasa gambarku biasa saja, karena aku hanya menyalin apa yang tersisa
dalam ingatanku.
"Kans-san,
apa Anda mengenal orang ini?"
"Jangankan
kenal, dia ini mantan anggota Party kami yang bekerja sebagai pembawa barang (porter),
namanya Bibinokke. Aku pernah menceritakannya padamu, kan?"
Bibinokke-san?
Memang
benar, nama itu ada di antara tumpukan kartu petualang yang banyak tadi.
Waktu itu
aku sempat merasa janggal, tapi aku tidak bisa mengingat apa yang membuatku
merasa begitu.
Kalau
tidak salah, dia adalah si pembawa barang yang tidak bisa ikut ke gua untuk
menambang Iron Golem karena kondisinya sedang tidak fit. Akhirnya, aku yang
pergi mendampingi sebagai pembawa barang untuk menggantikannya.
...Berarti,
identitas asli Octar adalah Bibinokke-san?
Belum
sempat rasa terkejutku hilang, Phantom datang membawa Sina-san.
Dan
kondisi Sina-san saat ini, kepalanya sedang mengucurkan darah.
"Apa
yang terjadi!?"
Mimiko-san
berseru kaget, namun Sina-san tidak menjawab. Begitu melihatku, dia berucap
lirih seperti orang mengigau.
"Kuruto...
maaf..."
"Sina-san,
obat—aku akan segera ambilkan obat."
Aku tidak tahu
kenapa dia meminta maaf, tapi aku harus segera mengobati lukanya.
Meski tahu
nyawanya tidak terancam, luka itu pasti sangat sakit.
Saat aku hendak
merogoh Magic Bag, Sina-san yang masih dipapah oleh Phantom mencengkeram
lenganku.
Dia memohon
padaku dengan tatapan mata yang pilu.
"Kuruto... Mire diculik..."
"Mire-san!? Oleh siapa!?"
Apakah seseorang menculiknya demi tujuan tertentu setelah
tahu bahwa Mire-san adalah manusia dari Dunia Lama?
Tapi, rasanya sulit dipercaya ada orang luar yang bisa
mendekat dengan mudah sementara para anggota Phantom sedang berjaga ketat.
Lalu, Sina-san
menyebutkan nama pelaku yang sangat tak terduga.
"...Danzou... Danzou memukulku sampai pingsan, lalu
membawa Mire..."
Setelah
mengatakan itu, Sina-san kehilangan kesadaran dan memejamkan matanya.
Eh!?
Identitas asli
Octar-san adalah Bibinokke-san yang merupakan mantan anggota Sakura, lalu
Danzou-san menculik Mire-san!?
Sebenarnya, apa
yang sedang terjadi?



Post a Comment