NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 11 Prolog

Prolog


Bagi diriku—Mire—langit hanyalah hamparan yang selalu tertutup kabut. Putih di siang hari, dan hitam pekat saat malam tiba.

Entah ribuan atau puluhan ribu tahun yang lalu, dunia itu telah ditinggalkan dan dilupakan oleh banyak orang, menyisakan segelintir manusia yang tertinggal di bawah langit seperti itu.

Aku baru tahu belakangan ini bahwa ada dunia baru yang terletak jauh di atas menara yang disebut Menara Iblis.

Di sana, langit yang kupandang ternyata berwarna biru.

Aku juga baru menyadari betapa indahnya langit malam yang bertaburan bintang-bintang yang gemerlap.

Perubahan nilai-nilai hidupku yang terasa begitu cepat ini bermula dari pertemuan dengan seorang pemuda—Kuruto Rockhans.

Dia yang berasal dari dunia baru beserta teman-temannya telah mengungkap rahasia dunia kepadaku, bahkan berhasil memukul mundur monster terlarang.

Lalu, mereka membawaku ke dunia baru ini.

Di sini, sekali lagi aku mengalami pengalaman yang sulit dipercaya.

—Saat ini, aku sedang terbang di angkasa.

Terlebih lagi, kecepatannya berpuluh-puluh kali lipat dari kereta kuda.

Meski angin dari luar tidak masuk karena ada penutup seperti kaca, aku yakin jika penutup ini dibuka, aku bahkan tidak akan bisa membuka mata karena tekanan angin.

Andai aku menjelaskan hal ini kepada diriku yang dulu, dia pasti tidak akan percaya.

Sampai beberapa waktu lalu, distrik hunian kecil dan daerah sekitarnya adalah seluruh duniaku.

Namun, sejak bertemu Kuruto, melihat langit biru, bintang-bintang di malam hari, dan daratan hijau yang luas, duniaku pun meluas dengan drastis.

Kini, yang kubutuhkan hanyalah ingatanku yang hilang.

Saat masih kecil, aku ditemukan di dalam distrik hunian yang telah hancur, dan ingatan sebelum momen itu sama sekali tidak ada.

Aku tidak tahu wajah atau nama orang tuaku, apalagi dari mana asalku.

Hanya nama "Mire" yang tersisa dalam diriku—sebuah ingatan tentang dipanggil dengan nama itu, sesuatu yang seharusnya tidak ada.

Aku bahkan tidak tahu apakah nama itu benar-benar milikku.

Namun, petunjuk tentang ingatan itu mungkin akan segera ditemukan.

—Melalui sosok bernama Danzou-san, orang yang membawaku naik ke kendaraan ini.

"Apa kendaraan ini merupakan hal yang biasa di dunia ini? Aku sama sekali tidak melihat kendaraan lain yang serupa."

Kendaraan ini berbentuk memanjang vertikal dengan ukuran sebesar kereta kuda.

Ada sayap seperti burung, tapi tidak mengepak. Sebagai gantinya, ada sesuatu yang disebut baling-baling yang berputar dengan kecepatan tinggi.

Aku tidak tahu bagaimana benda ini bisa terbang, tapi katanya Wyvern dan Dragon menggunakan kekuatan sihir untuk mengapungkan tubuh besar mereka, jadi mungkin ada kekuatan serupa di sini.

Hanya saja, sejauh kami terbang, tidak ada kendaraan lain yang terlihat di angkasa.

Aku bertanya kepada Danzou-san yang duduk di depanku, yang sedang memegang sesuatu bernama tuas kendali untuk mengoperasikan kendaraan ini.

"Ini adalah versi lebih kecil dari Airship yang baru-baru ini dibuat oleh Tuan Kuruto, yang mampu mendarat dan berjalan di atas air, sebuah kendaraan bernama Pesawat Amfibi."

Begitulah Danzou-san menjelaskan.

Tapi, aku tetap tidak mengerti apa-apa selain fakta bahwa Kuruto memang luar biasa.

Mungkin Danzou-san sendiri tidak memahami apa pun selain cara mengemudikannya.

"Apa Sina-san akan baik-baik saja?"

Saat Danzou-san membawaku pergi, Sina-san yang bersamaku telah dibuat pingsan olehnya.

"Tidak masalah. Obat yang kuberikan hanya memicu rasa kantuk dan memperlambat gerakan... itu obat tanpa efek samping, dan karena itu berada di area bengkel, penyusup pun tidak akan bisa masuk. Itu tempat yang aman."

"Begitu... kalau begitu syukurlah."

Aku bergumam pelan sambil menatap ke langit.

Tadi langit biru masih terlihat, tapi sekarang hanya ada awan putih yang tampak.

"Apa kita tidak bisa pergi ke atas awan?"

"Jika terbang setinggi itu, aku tidak bisa memeriksa peta. Saat kita melewati pegunungan nanti, kita akan terbang sedikit lebih tinggi, jadi harap bersabar sampai saat itu."

"Begitu, ya..."

"Hanya saja, kudengar suhu akan turun jika kita terbang tinggi. Sepertinya kabin ini dirancang agar suhunya tidak turun di bawah sepuluh derajat, tapi sebaiknya pakailah selimutmu."

Sepertinya, semakin tinggi tempat yang kita tuju, suhunya akan semakin rendah.

Jika mengikuti teori itu, dunia ini berada jauh di atas Menara Iblis, tapi aku tidak mengerti kenapa dunia ini bukanlah daratan yang membeku.

Tetap saja, terus menatap langit ini hanya akan membuatku merasa jenuh.

"Kalau begitu, aku akan tidur sebentar, ya."

Ucapku sambil meringkuk di dalam selimut.

"Silakan, beristirahatlah dengan tenang."

Danzou-san yang memegang tuas kendali menjawab dengan suara rendah namun terdengar lembut.

"Aku akan membangunkanmu setelah kita sampai di kampung halamanku—Yamato."

Yamato, negeri asal Danzou-san.

Di sanalah terdapat petunjuk mengenai ingatanku.

Ini adalah kisah perjalananku, seorang gadis tanpa ingatan yang mencari asal-usul dirinya sendiri.

"Kuruto, dia pasti sedang khawatir, ya."

Di dalam selimut, aku bergumam sambil membayangkan wajah pemuda yang telah menjadi penolongku itu.



Illsutrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close