Prolog
Bagi
diriku—Mire—langit hanyalah hamparan yang selalu tertutup kabut. Putih di siang
hari, dan hitam pekat saat malam tiba.
Entah
ribuan atau puluhan ribu tahun yang lalu, dunia itu telah ditinggalkan dan
dilupakan oleh banyak orang, menyisakan segelintir manusia yang tertinggal di
bawah langit seperti itu.
Aku
baru tahu belakangan ini bahwa ada dunia baru yang terletak jauh di atas menara
yang disebut Menara Iblis.
Di sana, langit yang kupandang ternyata berwarna
biru.
Aku juga baru menyadari betapa indahnya langit malam
yang bertaburan bintang-bintang yang gemerlap.
Perubahan nilai-nilai hidupku yang terasa begitu
cepat ini bermula dari pertemuan dengan seorang pemuda—Kuruto Rockhans.
Dia yang berasal dari dunia baru beserta
teman-temannya telah mengungkap rahasia dunia kepadaku, bahkan berhasil memukul
mundur monster terlarang.
Lalu, mereka membawaku ke dunia baru ini.
Di sini, sekali lagi aku mengalami pengalaman yang sulit
dipercaya.
—Saat ini, aku sedang terbang di angkasa.
Terlebih lagi, kecepatannya berpuluh-puluh kali lipat
dari kereta kuda.
Meski angin dari luar tidak masuk karena ada penutup
seperti kaca, aku yakin jika penutup ini dibuka, aku bahkan tidak akan bisa
membuka mata karena tekanan angin.
Andai aku menjelaskan hal ini kepada diriku yang dulu,
dia pasti tidak akan percaya.
Sampai beberapa waktu lalu, distrik hunian kecil dan
daerah sekitarnya adalah seluruh duniaku.
Namun, sejak bertemu Kuruto, melihat langit biru,
bintang-bintang di malam hari, dan daratan hijau yang luas, duniaku pun meluas
dengan drastis.
Kini, yang kubutuhkan hanyalah ingatanku yang hilang.
Saat masih kecil, aku ditemukan di dalam distrik hunian
yang telah hancur, dan ingatan sebelum momen itu sama sekali tidak ada.
Aku tidak tahu wajah atau nama orang tuaku, apalagi dari
mana asalku.
Hanya nama "Mire" yang tersisa dalam
diriku—sebuah ingatan tentang dipanggil dengan nama itu, sesuatu yang
seharusnya tidak ada.
Aku bahkan tidak tahu apakah nama itu benar-benar
milikku.
Namun, petunjuk tentang ingatan itu mungkin akan segera
ditemukan.
—Melalui sosok bernama Danzou-san, orang yang membawaku
naik ke kendaraan ini.
"Apa kendaraan ini merupakan hal yang biasa di dunia
ini? Aku sama sekali tidak melihat kendaraan lain yang serupa."
Kendaraan ini berbentuk memanjang vertikal dengan
ukuran sebesar kereta kuda.
Ada sayap seperti burung, tapi tidak mengepak.
Sebagai gantinya, ada sesuatu yang disebut baling-baling yang berputar dengan
kecepatan tinggi.
Aku tidak tahu bagaimana benda ini bisa terbang, tapi
katanya Wyvern dan Dragon menggunakan kekuatan sihir untuk
mengapungkan tubuh besar mereka, jadi mungkin ada kekuatan serupa di sini.
Hanya saja, sejauh kami terbang, tidak ada kendaraan
lain yang terlihat di angkasa.
Aku bertanya kepada Danzou-san yang duduk di depanku,
yang sedang memegang sesuatu bernama tuas kendali untuk mengoperasikan
kendaraan ini.
"Ini adalah versi lebih kecil dari Airship
yang baru-baru ini dibuat oleh Tuan Kuruto, yang mampu mendarat dan berjalan di
atas air, sebuah kendaraan bernama Pesawat Amfibi."
Begitulah Danzou-san menjelaskan.
Tapi, aku tetap tidak mengerti apa-apa selain fakta
bahwa Kuruto memang luar biasa.
Mungkin Danzou-san sendiri tidak memahami apa pun
selain cara mengemudikannya.
"Apa Sina-san akan baik-baik saja?"
Saat Danzou-san membawaku pergi, Sina-san yang bersamaku
telah dibuat pingsan olehnya.
"Tidak masalah. Obat yang kuberikan hanya memicu
rasa kantuk dan memperlambat gerakan... itu obat tanpa efek samping, dan karena
itu berada di area bengkel, penyusup pun tidak akan bisa masuk. Itu tempat yang
aman."
"Begitu... kalau begitu syukurlah."
Aku bergumam pelan sambil menatap ke langit.
Tadi langit biru masih terlihat, tapi sekarang hanya ada
awan putih yang tampak.
"Apa kita tidak bisa pergi ke atas awan?"
"Jika terbang setinggi itu, aku tidak bisa memeriksa
peta. Saat kita melewati pegunungan nanti, kita akan terbang sedikit lebih
tinggi, jadi harap bersabar sampai saat itu."
"Begitu, ya..."
"Hanya saja, kudengar suhu akan turun jika kita
terbang tinggi. Sepertinya kabin ini dirancang agar suhunya tidak turun di
bawah sepuluh derajat, tapi sebaiknya pakailah selimutmu."
Sepertinya, semakin tinggi tempat yang kita tuju, suhunya
akan semakin rendah.
Jika mengikuti teori itu, dunia ini berada jauh di atas
Menara Iblis, tapi aku tidak mengerti kenapa dunia ini bukanlah daratan yang
membeku.
Tetap saja, terus menatap langit ini hanya akan membuatku
merasa jenuh.
"Kalau begitu, aku akan tidur sebentar,
ya."
Ucapku sambil meringkuk di dalam selimut.
"Silakan, beristirahatlah dengan tenang."
Danzou-san yang memegang tuas kendali menjawab dengan
suara rendah namun terdengar lembut.
"Aku akan membangunkanmu setelah kita sampai di
kampung halamanku—Yamato."
Yamato,
negeri asal Danzou-san.
Di sanalah terdapat petunjuk mengenai ingatanku.
Ini adalah kisah perjalananku, seorang gadis tanpa
ingatan yang mencari asal-usul dirinya sendiri.
"Kuruto, dia pasti sedang khawatir, ya."
Di dalam selimut, aku bergumam sambil membayangkan wajah pemuda yang telah menjadi penolongku itu.



Post a Comment