Chapter 1
Mengejar Danzou
Semua itu terjadi secara tiba-tiba.
Saat itu, aku—Kuruto Rockhans—bersama Lise-san, Yurishia-san,
dan Akuri, sedang dimarahi oleh Mimiko-san karena pergi ke Dunia Lama tanpa
izin. Tiba-tiba, Sina-san masuk dengan luka di kepalanya.
Dia berkata bahwa Mire-san telah diculik oleh Danzou-san,
lalu kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan.
Aku segera melakukan pertolongan pertama.
Mensterilkan kuman, menghentikan pendarahan, menutup
luka, dan membersihkan sisa darah di wajahnya dengan rapi.
Selesai, pengobatan tuntas.
"Waktu pemrosesan dua detik. Seperti biasa, tanganmu
sangat cekatan ya, Kuruto-chan."
"Luar biasa, Tuan Kuruto."
Mimiko-san yang baru saja menceramahi Lise-san, dan Lise-san
yang baru saja diceramahi, memujiku setelah melihat caraku menangani luka
darurat tersebut.
"Tidak juga. Di desaku, ini hanya pertolongan
pertama yang biasa, lagipula tadi memakan waktu terlalu lama."
Aku menyahut sambil memasukkan kembali obat-obatan dan
peralatan medis ke dalam tas.
Tak lama kemudian, Sina-san terbangun.
"Nng... eh? Apa Kuruto yang mengobatiku?"
"Iya. Apa ada bagian yang terasa sakit? Tadi
sepertinya kepalamu terbentur, jadi sebaiknya nanti periksakan diri ke rumah
sakit, ya."
"Sama sekali tidak sakit, kok. Terima kasih—tapi
lebih dari itu, Mire diculik oleh Danzou!"
Sina-san mendadak bangkit berdiri, namun ia terlihat
goyah seolah terkena vertigo.
Ah, astaga. Jangan tiba-tiba berdiri begitu, dong.
Aku menyiapkan kursi dan meminta Sina-san duduk kembali,
lalu Mimiko-san mendekatinya.
"Sina-chan, tenanglah. Jelaskan pelan-pelan. Apa
yang sebenarnya terjadi?"
"Baik, Mimiko-sama. Jadi begini—"
Sepertinya tadi Sina-san dan Mire-san berniat pergi
belanja berdua.
Lalu Danzou-san muncul dan berkata begini:
"Di kampung halamanku, ada petunjuk untuk
mengembalikan ingatan Mire-doNo.Aku ingin kau ikut denganku."
Sina-san bilang dia juga ingin ikut, tapi Danzou-san
menolak, bahkan membuatnya tertidur.
"Sampai
membuat Sina terluka begini—dasar Danzou."
Kans-san
tampak memendam amarah yang tenang, tapi bukankah ini aneh?
Dilihat
dari bentuk lukanya, penyebab Sina-san kehilangan kesadaran seharusnya bukan
karena luka itu.
"Sina-san,
Danzou-san menggunakan obat tidur padamu, kan?"
"Iya,
aku mencium bau obat tidur lalu ambruk dan hampir pingsan—tapi agar bisa
memberitahu Kuruto dan yang lain, aku sengaja membenturkan kepalaku ke batu
terdekat agar tetap sadar, sampai akhirnya Phantom-san datang."
Begitu penjelasan Sina-san.
Sudah kuduga.
Mendengar itu, mata Kans-san membelalak.
"Kuruto, tajam juga pengamatanmu."
"Iya. Karena obat tidur yang digunakan pada Sina-san
adalah obat yang kubuat tadi karena diminta oleh Danzou-san."
"………………"
Semua orang terdiam menatapku.
Danzou-san bilang dia butuh obat, dan aku mengira dia
menderita insomnia, jadi aku memberikannya.
Tapi untunglah aku tidak membuat yang bereaksi instan
agar dia bisa tidur secara perlahan.
Kalau komposisinya terlalu kuat, dia pasti langsung
terlelap seketika.
"Tuan Kuruto, apa ada hal lain yang dia minta?"
"Eeto, aku membuatkan kendaraan yang kunamai Pesawat
Amfibi kecil. Semacam Airship berkapasitas dua orang. Memang rasanya
akan praktis kalau punya benda itu."
"Papa, seberapa cepat benda itu bisa melaju?"
"Hmm, karena aslinya untuk piknik, paling-paling
hanya sekitar 500 kilometer per jam?"
Aku menjawab pertanyaan Lise-san dan Akuri.
Karena lebih kecil dari kapal terbang biasa, aku lebih
mengutamakan kecepatannya.
"Apa Kuruto berniat keliling dunia hanya untuk
piknik? ...Yah, kalau pergi ke bulan hanya untuk melihat bulan saja dianggap
normal bagimu, mungkin itu juga normal."
Yurishia-san bergumam, tapi aku menggelengkan kepala.
Aku belum pernah keliling dunia, kok.
Di desaku, kami pindah seluruh desa setiap sepuluh
tahun sekali, jadi itu sudah seperti perjalanan besar, dan di luar itu kami
jarang keluar desa.
"Tapi, kenapa Danzou-san bisa tahu cara
mengembalikan ingatan Mire-san? Padahal mereka baru saja bertemu, kan? Tanpa
bukti sebagai murid Sang Sage Agung, dia tidak bisa pergi ke Dunia Lama."
"Hmm, entahlah. Mengingat Bibinokke-chan pernah ada
di Dunia Lama, mungkin ada cara berpindah antara dunia ini dan dunia sana yang
tidak kita ketahui."
Mimiko-san menanggapi pertanyaanku sambil berpikir.
Di dunia ini, informasi mengenai atribut ruang sudah
hilang. Namun, orang-orang seperti Paman Urano di Desa Haste pasti banyak
jumlahnya—orang yang lewat penelitian mandiri bisa menciptakan Roh Agung Buatan
dengan kecocokan atribut ruang seperti Akuri.
Dengan kekuatan orang-orang seperti itu, rasanya
berpindah dunia bisa dilakukan dengan cukup bebas.
"Pokoknya,
kita harus mengejar Danzou-san dan Mire-san," ucapku.
"Tapi,
bagaimana caranya?"
"Jika
mereka pindah lewat udara, memeriksa catatan penggunaan batu teleportasi atau
gerbang pemeriksaan akan sia-sia."
"Kampung
halaman Paman Danzou sepertinya adalah Negeri Yamato yang berada jauh di timur,
tapi Negeri Yamato itu sangat luas. Tanpa petunjuk, akan sulit mencari
mereka."
Yurishia-san, Lise-san, dan Akuri masing-masing
memberikan pendapat.
Kudengar luas Yamato mencapai dua kali lipat Kerajaan
Homuros.
Ada batasnya jika hanya mencari dengan bertanya ke sana
kemari.
"Saat ini, aku meminta Phantom memeriksa kamar
Danzou-chan, tapi sepertinya hampir tidak ada petunjuk. Perabotan bawaan masih
utuh, tapi barang pribadinya tidak ada yang tersisa satu pun."
Mimiko-san mengatakan hal itu, sepertinya dia baru saja
menerima laporan tanpa kusadari.
Ternyata di kamar Danzou-san pun tidak ada petunjuk.
Tepat saat kupikir kami sudah buntu, Kans-san angkat
bicara.
"Di desa kami ada rumah Danzou. Bagaimana kalau kita
coba ke sana?"
"Desa Kans-san?"
Kalau tidak salah, Kans-san, Sina-san, dan Danzou-san
tumbuh di desa yang sama, ya?
"Eh? Tapi
bukankah Danzou-san berasal dari Negeri Yamato? Kenapa
rumahnya ada di desa Kans-san?"
"Dia memang berasal dari Yamato, tapi dia pindah
bersama ayahnya saat masih kecil, jadi dia lebih lama tinggal di desaku.
Ayahnya sendiri meninggal karena kecelakaan tujuh tahun lalu."
Begitu rupanya.
"Sampai kami membentuk party dan pergi ke
Kota Samaera, Danzou tinggal di pinggiran desaku. Di sana mungkin ada petunjuk
yang tertinggal. Karena dia tidak tahu kapan akan pulang, seharusnya ada
beberapa barang pribadi yang ditinggalkan."
Kalau begitu, mari kita ke sana.
Setelah bertanya lebih detail, kampung halaman Kans-san
ternyata terletak sekitar sepuluh hari perjalanan kaki ke arah utara dari Kota
Samaera.
Jika menggunakan pesawat terbang, kami bisa sampai dalam
sekejap.
Meskipun yang kuberikan pada Danzou-san hanya untuk dua
orang, aku sudah menyiapkan pesawat yang sedikit lebih besar untuk tujuh orang
jika sewaktu-waktu kami ingin pergi piknik bersama.
"Papa, aku akan tetap di sini untuk menyelidiki
jejak Oktar dan yang lainnya. Untuk mencari tahu cara teleportasi ke Dunia
Lama, lebih baik aku yang ada di sini."
Begitulah kata Akuri.
Benar, bagian itu juga harus diselidiki.
"Jika Paman Danzou dan Mire-san ditemukan dan kalian
akan kembali ke bengkel, tanamlah dahan Nieche-san dan hubungi aku. Aku akan
menjemput kalian menggunakan kekuatan teleportasi."
Nieche-san adalah bagian dari Roh Agung Dryad.
Jika menanam dahan pohon besar yang menjadi wadahnya,
kami bisa berkomunikasi melalui jalur nadi bumi, dan teleportasi Akuri juga
bisa digunakan antar dahan.
"Baiklah, terima kasih. Bagian sini aku serahkan
padamu."
Aku benar-benar berpikir bahwa dia adalah putri yang
sangat bisa diandalkan.
Setelah diskusi selesai, aku segera mempersiapkan
keberangkatan.
Pertama, aku mengeluarkan pesawat terbang yang agak besar
di halaman bengkel.
Meski begitu, karena di dalam kota sayapnya dilipat,
bentuknya lebih mirip kereta kuda yang tinggi dan ramping.
Tentu saja ini tidak ditarik kuda, melainkan dibuat agar
bisa melaju sendiri dalam kondisi ini.
Setelah selesai memeriksa pesawat, Lise-san tampak
bersemangat untuk naik.
"Ayo berangkat! Ke kampung halaman Kans-san! Ke
rumah Danzou-san!"
"Tunggu dulu, Lise-sama! Melihat situasinya,
Mire-chan sepertinya ikut secara sukarela jadi harusnya tidak ada bahaya...
tapi tetap saja jika pergi ke negara lain... Kuruto-chan, pesawatnya
berkapasitas tujuh orang, kan? Kalau begitu, aku akan menyertakan dua orang
Phantom. Biasanya mereka akan bersembunyi untuk mengawal dan menyelidik, tapi
pastikan mereka ikut naik saat pesawat bergerak."
Aku mengangguk mendengar perkataan Mimiko-san. Lise-san
bagaimanapun adalah seorang mantan putri, jadi tidak ada alasan untuk menolak
tambahan orang yang bisa melindunginya.
"Baik, aku mengerti."
Segera, aku, Lise-san, Yurishia-san, Kans-san, Sina-san,
dan dua orang Phantom naik ke dalam pesawat.
"Katanya pesawat terbang, tapi malah mirip
kereta kuda yang ramping ya."
"Kuruto, benda ini benar-benar bisa
terbang?"
Kans-san dan Sina-san yang duduk di kursi belakang
bertanya sambil memasang sabuk pengaman.
"Tentu saja. Tapi untuk menerbangkan pesawat
ukuran ini butuh jalan lurus yang panjang, jadi tidak bisa diterbangkan di
dalam kota. Kita akan keluar kota dulu."
Sambil menjelaskan, aku menjalankan pesawat dari kursi
kemudi.
Orang-orang di kota tampak terkejut melihat kereta kuda
tanpa kuda yang melaju sendiri.
Namun, pemeriksaan di gerbang kota berjalan lancar karena
penjaganya sudah kukenal, dan setelah menunjukkan bukti sebagai perwakilan
Atelier Meister, kami lewat tanpa diperiksa lebih lanjut.
Lima menit setelah keluar kota, kami sampai di jalanan
yang sepi.
Sip, di sini sepertinya aman.
Pertama,
bentangkan kedua sayap.
Aktifkan
Magic Boost Engine.
Begitu
disetel ke akselerasi maksimal, pesawat mulai melesat kencang.
"Kuruto!
Guncangannya hebat sekali!"
"Yurishia-san, jangan bicara nanti lidahmu tergigit!
Ini karena jalannya tidak rata, jadi tolong bersabar. Guncangannya akan hilang
setelah kita lepas landas."
"Apa ini benar-benar akan terbang?! Tidak akan meledak begitu saja, kan?!"
Di tengah teriakan Kans-san, aku menambah kecepatan
pesawat lebih jauh lagi.
Dan kemudian—
Setelah lepas landas dan menyelesaikan penerbangan
selama beberapa jam tanpa hambatan, kami mendarat di dataran dekat kampung
halaman Kans-san.
Sebab kalau langsung mendarat di dalam desa, pasti
akan menimbulkan kepanikan.
Begitu turun dari pesawat, wajah Kans-san dan Sina-san
tampak pucat pasi sambil berjalan sempoyongan.
Apa mereka mabuk udara?
"A-Aku masih hidup—kukira tadi akan mati."
"Kenapa benda yang menghantam tanah dengan kecepatan
seperti tadi tidak hancur sih."
Sepertinya mereka takut naik pesawat.
Mungkin keduanya punya ketakutan terhadap ketinggian.
Sebaliknya,
Yurishia-san dan Lise-san tampak baik-baik saja.
"Payah
sekali kalian. Ini sih masih jauh lebih mending dibandingkan saat pulang dari
melihat bulan naik roket."
"Benar.
Memang saat itu cukup mengejutkan, ya."
Jadi Yurishia-san
dan Lise-san malah takut naik roket, ya?
Ah,
tapi kalau soal pengalaman takut di tempat tinggi, aku juga pernah.
"Saat
diculik Wyvern, aku juga merasa takut, lho."
Aku
berucap seolah ingin berempati dengan mereka semua.
Waktu
itu, aku merasa ngeri membayangkan jika dibawa ke sarang lalu dijadikan makanan
untuk anak Wyvern—
"Itu
beda ceritanya!"
"Eh?"
Entah
kenapa, mereka semua menyangkal ucapanku secara bersamaan.
Agar
tidak dicuri, aku mengunci pesawat dan menyembunyikannya di balik semak-semak
di pinggir jalan.
Dari
sana kami berjalan sekitar sepuluh menit sampai akhirnya tiba di kampung
halaman Kans-san, sebuah desa kecil yang dikelilingi pagar batu setinggi badan
Akuri.
Katanya, pedagang keliling pun hanya datang sebulan
sekali. Gandum yang ditanam di ladang sekitar desa adalah untuk membayar pajak,
sedangkan makanan pokok penduduk desa adalah umbi-umbian.
Orang-orang yang sedang merawat ladang gandum
menyadari kehadiran kami dan mulai berdiri.
"Ooh! Bukankah itu Kans anak Dai dan Sina-chan! Apa ini? Kalian pulang?"
"Wah,
bawa dua gadis cantik juga. Apa salah satunya calon istri
Kans?"
"Kalau begitu anak laki-laki itu calon suaminya Sina-chan?!"
Semua orang yang melihat kami melontarkan spekulasi
semacam itu.
Seharusnya dua orang Phantom juga ada di sini, tapi
karena mereka menghilangkan hawa keberadaan dengan sempurna, tidak ada yang
menyadarinya. Aku pun tidak tahu mereka ada di mana.
"Bukan begitu! Orang-orang ini adalah rekan kerjaku
di bengkel!"
Kans-san berteriak kesal, tapi petani kenalan Kans-san
bertanya dengan heran.
"Danzou tidak bersamamu? Apa terjadi sesuatu?"
"...Ada sedikit alasan. Tapi, dia baik-baik saja,
kok."
Kans-san sempat tertegun sejenak, tapi dia menjawab
dengan suara lantang agar mereka tidak khawatir.
"Kalau dia sehat ya syukurlah. Cepatlah temui
Dai-san."
"Tidak, pertama-tama—"
"Mari kita ke rumah Kans-san dulu."
Kans-san sepertinya ingin mengajak ke rumah Danzou-san,
tapi aku mengusulkan hal itu.
Yurishia-san dan Lise-san pun mengangguk setuju.
"Terima kasih, Kuruto," ucap Sina-san
padaku, padahal menurutku ini bukan sesuatu yang perlu dipuji.
Mengejar Danzou-san sekarang pun tidak akan terburu,
dan seperti kata Mimiko-san, kecil kemungkinan Mire-san dalam bahaya, jadi
tidak ada gunanya panik.
Selain itu, aku juga ingin memberi salam kepada orang
tua dari dua orang yang sudah banyak membantuku ini.
◆◇◆
Aku—Yurishia—bersama Kuruto dan yang lainnya memasuki
desa dipandu oleh Kans.
Desa yang sangat tenang.
Mengingatkanku pada desa peternakan babi tempat aku
pertama kali pergi bersama Akuri.
Kakek tua yang sok jadi peramal itu, apa dia sehat-sehat
saja ya?
Dulu saat disuruh membasmi Raja Iblis sebagai pahlawan,
aku pikir itu konyol, tapi ternyata aku benar-benar mengalahkan Raja Dewa
Iblis.
Kelak, jika Kuruto sudah pensiun sebagai Atelier Meister,
pindah ke desa terpencil seperti ini dan hidup santai berdua sepertinya tidak
buruk juga.
Saat aku sedang berimajinasi meminum teh buatan Kuruto di
halaman dengan santai—
"Yuri-san, kau tidak sedang berpikir ingin hidup
santai berdua saja, kan? Kursi istri Tuan Kuruto bukan hanya milikmu sendiri,
lho."
"Sudah lama ya, tapi berhentilah membaca pikiranku, Lise."
"Itu karena Yuri-san selalu berfantasi yang
berlebihan."
Biarkanlah aku bersenang-senang di dalam imajinasiku
sendiri.
Tiba-tiba aku menoleh, di tengah desa tampak seorang anak
sedang menimba air dari sumur.
Kelihatannya sangat berat.
Haruskah kubantu—
"Tunggu sebentar, biar aku bantu! Sebentar
saja kok!"
Kuruto adalah yang pertama kali berlari membantu.
"Luar biasa, Tuan Kuruto."
"Benar ya. Dia tidak bisa membiarkan orang yang
kesulitan."
Gara-gara sifat itu juga dia sering terlibat dalam
berbagai insiden—
"Maaf menunggu lama."
"Kuruto, selamat dat—eh? Kau baru saja melakukan
apa?"
"Eh? Apa maksudnya? Aku baru saja membuatkan pompa
tangan."
Dalam sekejap, sebuah alat yang asing telah terpasang di
sumur tersebut.
Si anak dengan gembira menekan tuas pompa, dan air
pun keluar.
Sepertinya itu sistem praktis yang membuat seember
air bisa keluar seketika.
Mungkin alat itu masih lebih masuk akal dibandingkan
alat sihir di bengkel yang hanya perlu memutar tuas agar air terus mengalir.
"...Orang desa pasti senang. Terima kasih, Kuruto."
Kans berkata dengan tawa yang dipaksakan.
Kalau kami terlalu lama di sini, desa ini pasti akan
berubah menjadi desa yang luar biasa gara-gara Kuruto.
Rumah Kans berada di bagian dalam desa.
Di depan rumah ada seekor anjing putih besar yang
langsung berlari ke arah kami saat melihat kami datang.
Semangatnya luar biasa.
Meski sepertinya ini bukan sekadar menyambut majikan
yang sudah lama pulang.
"Aku lupa! Berhati-hatilah! Dia punya kebiasaan
membenamkan wajahnya ke selangkangan kalau melihat wanita cantik!"
"Eh?!"
Saat Kans berkata begitu, aku dan Lise refleks
memasang pertahanan dengan tangan.
Wanita cantik—yah, meski malu disebut begitu, tapi—
"Waah?!"
Suara yang terdengar justru berasal dari Kuruto.
Si anjing malah membenamkan wajahnya ke selangkangan Kuruto.
"He-Hentikan."
"Pes, lepaskan! Lagi pula Kuruto itu laki-laki! Duh,
kuat sekali tenaganya."
"Lepaskan dia, Pes!"
Sina dan Kans berusaha sekuat tenaga menarik si anjing
menjauh dari Kuruto.
...Entah kenapa, aku merasa kalah sebagai seorang wanita.
"Anjing itu... padahal aku saja belum pernah
membenamkan wajah ke bagian berharga Tuan Kuruto—"
Dan Lise, jangan cemburu pada seekor anjing.
Aku pun belum pernah mengalaminya.
"Ada apa, Pes... kau bersemangat sekali, apa ada
gadis cantik yang datang? Ara? Kans dan Sina, kalian pulang?"
"Kami pulang, Ibu."
Yang keluar dari pintu depan adalah seorang wanita
yang tampak berwatak keras, yang wajahnya agak mirip dengan Kans.
Sepertinya dialah ibu mereka.
"Astaga, bukankah sudah kubilang hubungi dulu
kalau mau pulang? Dan siapa orang-orang ini?"
"Akan kuperkenalkan. Ini Yurishia-san dan Lise-san
yang menjagaku di bengkel."
"Dan dia ini Kuruto-kun."
Kans dan Sina memperkenalkan kami.
"Salam kenal, saya Yurishia."
"Saya Lise. Saya tunangan Tuan Kuruto."
"Aku juga tunangan Kuruto."
Gara-gara Lise menambahkan gelar yang tidak perlu, aku
pun jadi ikut-ikutan menyainginya.
"Saya
Kuruto. Kans-san dan Sina-san sudah banyak membantuku."
"Heh, untuk ukuran rekan kerja kalian, dia anak yang
sopan ya. Namaku Madona. Masuklah ke dalam. Aku akan panggil Ayah dulu."
Sambil berkata begitu, Madona-san—ibu Kans—pergi ke arah
belakang rumah.
...Bukankah itu—
"Maaf ya, ibuku memang seperti itu."
"Tidak, dia ibu yang sangat hebat."
"Benar. Tapi, apa mereka benar-benar
petani?"
Aku bergumam tanpa sadar.
Dilihat dari cara jalannya saja sudah ketahuan.
Dia bukan orang biasa.
Mungkin dia setara atau bahkan lebih kuat dari Kans
saat pertama kali aku bertemu dengannya?
"Aku belum bilang ya. Orang tuaku dulunya adalah
pasangan petualang."
"Katanya sebelum aku lahir, Ibu sering berburu Orc
sambil menggendong Kakak di punggungnya."
Kans dan Sina memberitahu kami.
Berburu Orc sambil menggendong anak, luar
biasa tangguhnya.
Kuharap setidaknya dia menunggu sampai leher bayinya
tegak, tapi tetap saja hebat.
...Eh? Tapi aku juga sering bertarung melawan iblis
dan setan bersama Akuri, jadi aku tidak berhak membicarakan orang lain, kan?
Mari mawas diri.
"Kans, Sina, kalian pulang ya."
Beberapa saat kemudian, ayah Kans kembali bersama
Madona-san. Tubuhnya jauh lebih besar dan berotot dibandingkan Kans maupun
Madona-san.
Dia sepertinya lebih kuat dari Madona-san, tidak, mungkin
lebih kuat dari Kans yang sekarang.
Melihat mereka berdua, aku jadi berpikir bagaimana bisa Sina
yang bertubuh ramping itu lahir dari mereka.
"Selamat datang para tamu, namaku Dai. Tidak ada
apa-apa di desa ini, tapi kami menyambut kalian."
Saat kami membalas sapaan itu, Kans malah mengatakan hal
yang tak terduga.
"Ayah, apa kau agak kurusan?"
Begini dibilang kurus?!
"Ah. Akhir-akhir ini panen kentang sedang buruk.
Mungkin tanahnya kurang bagus. Jadi, ada apa? Kalau hanya sekadar pulang
kampung, aneh kalau Danzou tidak ada. Apa yang terjadi?"
"...Ada sedikit masalah. Aku tidak bisa cerita
detailnya, tapi Danzou menghilang dan kami perlu mengejarnya. Kami datang untuk
mencari petunjuk."
"Begitu—kalau tidak bisa cerita detail, aku tidak
akan bertanya. Kebetulan sekali, aku yang mengelola rumahnya."
Setelah berkata begitu, Dai-san mengambil kunci sederhana
dari lemari dan melemparkannya kepada Kans.
Ternyata rumahnya dikunci ya.
Ini sangat membantu.
Meski kurasa Kuruto bisa membuka kunci apa pun hanya
dengan seutas kawat, tapi mengingat sifat anak ini, dia pasti akan bilang,
"Kalau ada yang mengelola, tidak boleh masuk sembarangan, kan? Mari kita
cari orangnya untuk meminjam kunci," dan kami harus berkeliling mencari
kuncinya.
"Kalau begitu, aku akan pergi melihat
sebentar."
"Sina, antarkan mereka."
Setelah Dai-san berkata begitu, dia mencengkeram
lengan Kans.
"Pas sekali, Kans, ikutlah denganku. Aku butuh
lawan untuk latihan tanding setelah sekian lama."
"Eh? Tung-Tunggu dulu, Ayah. Aku—"
"Jangan berisik. Kita sudah lama tidak bertemu,
lakukanlah sedikit bakti pada orang tuamu."
Kans pun terseret oleh Dai-san tanpa bisa melawan.
"Sina-san?! Apa Kans-san akan baik-baik saja?"
Kuruto tampak cemas, mungkin karena dia belum pernah
melihat percakapan orang tua dan anak yang seperti itu.
Aku pun sedikit merasa ngeri.
"Tidak apa-apa. Ayah pasti bisa melumpuhkannya tanpa
perlu mematahkan tulang, kok. Lebih baik kita ke rumah Danzou."
Sina berbicara seolah hal itu sudah menjadi makanan
sehari-hari, lalu mengantar kami ke rumah Danzou.
Apa benar-benar akan baik-baik saja?
Rumah Danzou terletak di pinggir sungai.
Sungainya mengalir tenang dan jernih, sampai-sampai
ikan kecil pun terlihat jelas.
Di Valhalla, tempat bengkel kami berada, juga ada
sungai, tapi hak penangkapan ikan di sana dimonopoli oleh Serikat Pelayaran
(padahal itu sungai!), jadi kami tidak bisa memancing.
Di sana juga ada gubuk kerja untuk menumbuk padi yang
dilengkapi dengan kincir air.
"Kincir
air yang megah ya."
"Kincir
ini dibuat dan dikelola oleh ayah Danzou. Saat panen gandum melimpah, kami
biasanya memanggang roti dari gandum yang ditumbuk di sini lalu berpesta
pora."
Sina
bercerita dengan nada rindu.
"Setelah
kami meninggalkan desa, sepertinya orang-orang desa bergiliran
mengelolanya—nah, kuncinya sudah terbuka."
Sina membuka kunci dan masuk ke dalam.
Debu yang terkumpul cukup banyak, menunjukkan bahwa
tempat itu sudah lama tidak digunakan.
"Bukunya cukup banyak ya."
Aku mengambil satu buku dari rak.
Kisah petualangan dari Negeri Yamato, ya.
Meski begitu, buku bukanlah barang murah. Terutama di
desa terpencil seperti ini, seharusnya sulit didapat...
Seolah menyadari keraguanku, Sina angkat bicara.
"Katanya ayah Danzou itu kutu buku. Danzou juga
belajar membaca menggunakan buku-buku itu. Lalu, sebelum keluar desa, aku dan
Kakak diajari membaca menggunakan buku-buku itu."
"Begitu rupanya, buku ini dirancang agar mudah untuk
belajar membaca ya. Dalam satu buku ini sudah mencakup semua kata yang
dibutuhkan sehari-hari."
Kuruto berkata sambil melihat buku itu dari samping.
Jadi itu buku semacam itu ya?
Hanya saja—
"Kuruto, tidak ada ruang rahasia di balik dinding
atau di bawah lantai, kan?"
"Iya, tidak ada apa-apa di kedua tempat itu."
Kalau Kuruto yang bilang, berarti memang tidak ada
ruang rahasia.
Sepertinya di ruangan ini pun tidak ada petunjuk soal
ke mana Danzou pergi, rasanya ini pencarian yang sia-sia.
Yah, sedari awal aku memang tidak terlalu berharap
banyak.
"Sepertinya tidak ada apa-apa ya. Mari kita ambil
bukunya saja untuk berjaga-jaga."
"Benar. Selanjutnya, mari kita cari di ruang bawah
atap."
"Eh?"
Ruang bawah atap?
Saat aku menengadah, itu hanya langit-langit rumah biasa.
Tidak ada tempat yang aneh, tapi—Kuruto mengeluarkan
seutas tali dengan pengait di ujungnya dari dalam tas, memutarnya, lalu
melemparkannya ke langit-langit.
Begitu pengaitnya tersangkut di bagian langit-langit,
papan penutupnya terlepas dan sebuah tangga tali jatuh ke bawah.
Aku sama sekali tidak menyadarinya.
Begitu menaiki tangga, ternyata di sana benar-benar ada
sebuah ruangan.
"Tuan Kuruto, bagaimana Anda bisa tahu?"
"Dilihat dari bentuk rumahnya. Kalau dilihat
sepintas dari luar memang sulit dikenali, tapi ada sesuatu yang mirip cerobong
asap. Namun, karena tidak ada lubang itu di langit-langit bawah, aku pikir
pasti ada lantai dua. Lalu, aku melihat papan langit-langit yang sepertinya
sudah sering dibuka-tutup, jadi aku yakin itu tempatnya."
Cerobong asap di atap?
Apa tadi terlihat? Saat aku melirik Lise dan Sina, mereka
berdua juga menggelengkan kepala.
Memang daya observasi Kuruto luar biasa.
Padahal begitu, kenapa dia tidak sadar kalau dirinya
sendiri dan Desa Haste itu luar biasa... yah, kalau dia sadar, dia akan
kehilangan kesadaran dan ingatan sehari penuh, jadi repot juga sih kalau dia
sadar.
Pokoknya, sekarang ruangan bawah atap ini.
"Ada bekas sesuatu yang dibakar ya."
"Sepertinya kertas. Mungkin saja itu dokumen
penting, tapi—"
"Kalau begitu, mari kita kembalikan ke bentuk
semula."
Sambil berkata begitu, Kuruto mengumpulkan abu tersebut
lalu meneteskan semacam cairan obat. Setelah melakukan ini-itu, abu tersebut
kembali menjadi kertas.
Yah, kalau cuma tingkat begini, aku sudah tidak kaget
lagi.
"Kuruto, apa ini benar-benar sudah kembali? Aku sama
sekali tidak bisa membacanya."
Pada kertas panjang yang kembali utuh itu, ada tulisan
yang ditulis miring, tapi seperti kata Sina, itu tidak membentuk kalimat.
Apa ini semacam kode?
Misalnya, menggeser satu huruf, atau dua huruf membentuk
satu arti.
"Aku yakin kita harus menggunakan tongkat ini."
Kuruto berkata demikian sambil mengeluarkan sebuah tongkat entah dari mana.
"Lalu, dari mana sebenarnya kau mengeluarkan benda
itu?"
"Ini, aku mengembalikan batang kayu yang tadinya mau
dipakai jadi kayu bakar ke bentuk aslinya."
"Begitu ya. Jadi kau mengembalikannya, ya..."
Kalau dia bisa mengembalikan kertas, mengembalikan kayu
bakar ke bentuk semula tentu perkara mudah, kan?
"Kertas ini punya lubang di sini, kan? Di batang
kayu ini juga ada. Jadi, kalau kita sejajarkan lubangnya lalu melilitkan kertas
ini ke batang kayunya seperti ini—nah, kalimatnya muncul."
Benar-benar menjadi sebuah kalimat.
Tapi, sebenarnya apa yang tertulis di sana?
"NINMUMIKADONOKOUKEIHAKKENSHISUMIYAKANITOUGENKYOUHE."
……Apa-apaan ini?
'Misi, temukan pewaris Kaisar, segera menuju
Tougenkyou'…… mungkin begitu maksudnya?
"Kaisar itu bukannya sebutan untuk pemimpin di
Negeri Yamato, ya? Jadi maksudnya, kalau sudah menemukan pewarisnya, harus
dibawa ke Tougenkyou? Karena Mire adalah pewaris Kaisar, dia dibawa ke tempat
bernama Tougenkyou…… begitu? Kuruto, apa kau mengerti sesuatu?"
"Maaf. Yang aku tahu hanyalah tulisan ini dibuat
sekitar tiga tahun lalu, dan ini bukan tulisan tangan Danzou-san. Sepertinya
ini ditulis oleh seseorang yang usianya sebaya dengan Danzou-san."
Kau malah tahu terlalu banyak.
Profiling macam apa itu.
Namun, ini jelas-jelas adalah instruksi dari seseorang.
Danzou bergerak atas perintah seseorang.
Pasti dia adalah mata-mata yang bekerja di negara ini.
Kudengar ada tipe mata-mata yang menghabiskan waktu
beberapa generasi di tempat yang sama, hidup membaur dengan lingkungan sekitar.
Kalau dipikir-pikir, alasan dia membangun gubuk kincir
air dan tinggal di sebelahnya jadi masuk akal.
Saat proses menumbuk gandum, orang-orang punya waktu
luang, jadi mereka akan mulai mengobrol jika sudah berkumpul.
Meski hanya obrolan ringan yang tidak jelas ujung
pangkalnya, informasi penting bisa saja tersembunyi di dalamnya.
"Yuri-san, ada catatan menarik di buku tadi.
Katanya, di Negeri Yamato ada tempat bernama Tougenkyou, sebuah tempat di mana
bunga persik mekar sepanjang tahun."
Lise berkata sambil melihat buku kisah petualangan yang
dibacanya tadi.
"Jadi Tougenkyou yang dimaksud adalah tempat itu……
tapi bukankah buku itu fiksi?"
"Meskipun fiksi, pasti ada tempat asli yang menjadi
dasar legendanya."
Perkataan Lise ada benarnya juga.
Saat aku sedang berpikir, Kuruto kembali melakukan
sesuatu.
"Kuruto, apa yang kau lakukan?"
"Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan di
sini."
"Di dalam dinding?"
Kuruto mencopot selembar papan dinding.
Lalu, selembar kertas keluar dari sana.
Menyembunyikannya di tempat seperti ini, pasti
informasi penting—
"Apa ini kode juga?"
Kali ini bahkan tidak berbentuk huruf, melainkan
coretan meliuk-liuk seperti cacing tanah.
Apa sebenarnya—
"W-Waaaaah?! Kenapa?! Kenapa benda ini ada di
sini?!"
"Sina, kau tahu ini apa?"
"Ini tulisan yang kubuat saat pertama kali berlatih
di tempat Danzou. Padahal dia bilang sudah membuangnya."
"Kalau yang ini?"
"Itu tulisan Kakak."
Sina berkata dengan wajah malu.
Kalau itu tulisan pertama mereka, wajar saja bentuknya
jadi begitu.
"Tapi, kenapa disembunyikan di tempat seperti
ini?"
"Mungkin karena dia takut kalau ketahuan, Sina-san
akan membuangnya? Bagi Danzou-san, kertas-kertas ini pasti merupakan kenangan
berharga bersama Sina-san dan Kans-san."
Begitulah kata Kuruto.
"……Danzou."
Wajah Sina menunjukkan ekspresi yang entah senang atau
malu. Tidak, mungkin dia merasakan keduanya secara bersamaan.
Begitu juga dengan Danzou.
Meskipun dia seorang mata-mata, sosoknya saat
menghabiskan waktu bersama kami di bengkel tidak sepenuhnya palsu.
"Yurishia-san,
Lise-san, Kuruto…… tolong bawa Danzou kembali."
"Serahkan pada kami."
"Iya, kami pasti akan membawanya pulang."
"Tentu saja. Karena kita adalah teman."
Informasi yang bisa dikumpulkan sudah cukup.
Tujuan kami adalah tempat bernama Tougenkyou.
Pasti tempat asalnya ada di suatu tempat di sana.
Setelah kembali ke rumah Sina, kami memberitahu Kans yang
tampak kelelahan di depan rumah dan Dai-san yang terlihat masih segar bugar
bahwa kami akan pergi ke Yamato.
"—Jadi, kami akan langsung menuju Yamato. Sina,
Kans, karena sudah lama tidak pulang, apa kalian mau tetap di desa saja?"
Karena sepertinya sudah lama mereka tidak pulang, aku
pikir itu pilihan yang lebih baik. Namun setelah saling berpandangan, mereka
berdua mengangguk.
"Mungkin sebaiknya begitu."
"Yurishia-san,
aku titip Danzou, ya."
"Tenang
saja. Aku akan membawanya kembali meski harus mengikatnya dengan tali."
Ngomong-ngomong,
selagi kami berbincang, Kuruto bertanya pada Dai-san, "Apa kondisi
ladangnya kurang baik?", lalu meminjam cangkul dan mencangkul ladang itu
dalam sekejap.
Bahkan
setelah menanam bibit kentang dan menaburkan sesuatu, tiba-tiba muncul ladang
kentang yang sepertinya sudah siap panen. Yah, kejadian yang sudah biasa bagi
kami.
Kuruto
menghampiri kami tanpa menyadari Dai-san yang terpaku dengan mulut menganga
lebar seolah rahangnya mau lepas.
"Yurishia-san, apa pembicaraannya sudah
selesai?"
"Sudah selesai. Omong-omong, apa energi kristal
sihir untuk menerbangkan pesawat ini masih cukup?"
Aku sempat mendengar saat perjalanan kemari bahwa pesawat
ini menggunakan kekuatan sihir dari kristal sihir.
"Iya. Kekuatan sihirnya masih penuh. Aku juga punya
peta dalam negeri Yamato jadi kita bisa lewat jalur tercepat, tidak ada
masalah."
"Kau punya petanya?"
Negeri Yamato adalah negara yang sangat jarang dimasuki
orang asing, seharusnya tidak ada petanya.
Apalagi selama beberapa ratus tahun terakhir mereka
melakukan kebijakan penutupan negara yang disebut Sakoku, di mana selain
wilayah tertentu, orang tidak boleh masuk tanpa izin. Bahkan Mimiko saja tidak
bisa menyiapkan petanya.
"Sepertinya dulu Ayah dan Ibu pernah tinggal di
sana."
"Kalau dipikir-pikir, penduduk Desa Haste memang
pindah setiap sepuluh tahun sekali dan berkeliling dunia, ya."
Berarti itu peta dari seribu dua ratus tahun yang lalu.
Memang pada masa itu kebijakan Sakoku belum diberlakukan.
Jika hanya untuk melihat bentang alam seperti gunung dan
sungai, peta itu masih bisa digunakan.
"Bisa perlihatkan petanya?"
"Ini."
Peta yang sangat mendetail.
Bahkan peta strategi militer sekalipun mungkin tidak
akan sedetail ini.
Benar-benar barang istimewa khas Desa Haste.
"Beberapa nama kota dan desa yang tertulis di
buku di rumah Danzou-san juga ada di sini. Kalau
begitu, Tougenkyou kira-kira ada di sekitar sini, ya?"
Lise menentukan perkiraan lokasinya.
"Kalau naik pesawat kita bisa cepat sampai, tapi……
itu bakal gawat, kan?"
"Karena itu termasuk masuk negara secara ilegal.
Kalau hanya melintas di angkasa dengan ketinggian yang tidak bisa dikenali dari
darat sih tidak masalah, tapi kalau mau turun dan mencari informasi, aku ingin
masuk lewat jalur resmi."
"Kalau begitu, kita harus masuk lewat Pelabuhan
Nasagaki, satu-satunya pelabuhan yang bisa dimasuki orang asing. Jarak ke
tempat yang diduga Tougenkyou itu cukup jauh kalau berjalan kaki."
"Soal itu, mari kita pikirkan setelah masuk ke
sana," ucap Lise.
Kalau dipikir-pikir, besar kemungkinan Danzou juga masuk
lewat Pelabuhan Nasagaki. Mungkin kita bisa mendapatkan informasi di sana.
Mari kita berangkat dulu.
"Dai-san, terima kasih atas tumpangannya. Kans, Sina,
kalau ada apa-apa hubungi lewat Nieche."
"Baik."
Dahan Nieche sudah ditanam di dekat tempat pesawat
disembunyikan.
Jaringan komunikasi Nieche semakin luas saja, ya.
Aku berangkat menuju Negeri Yamato bersama Kuruto, Lise,
dan dua orang Phantom di dalam pesawat.
Ngomong-ngomong, dua orang Phantom itu benar-benar tidak
disadari keberadaannya……
Di tengah perjalanan, karena malam telah tiba, kami turun
ke darat untuk berkemah.
Karena Kans dan Sina sudah turun, ruang di dalam pesawat
jadi terasa lebih lega. Ditambah lagi, selama kami tidur, para Phantom berjaga
secara bergantian, membuat kemah ini terasa jauh lebih nyaman dibanding kemah
biasa.
Masakan yang dibuat Kuruto juga seperti biasa, rasanya
luar biasa enak.
Lalu, keesokan paginya, tepat saat matahari mulai terbit,
pesawat kembali lepas landas.
Kami menjaga ketinggian di mana daratan masih bisa
terlihat samar-samar, namun dari darat kami hanya akan terlihat seperti burung
yang aneh.
Di tengah situasi itu, Lise mengajak Kuruto
berbicara.
"Apa Anda tidak apa-apa terus-menerus
mengemudi?"
"Mesin pesawatnya sudah stabil, dan kalau begini
terus kita tidak perlu menggunakan sistem pendingin mesin. Kita bisa terbang
sampai tujuan dengan aman."
"Bukan soal pesawatnya, aku mengkhawatirkan kondisi
kesehatan Tuan Kuruto. Apa Anda tidak lelah?"
"Kalau soal itu, aku tidak apa-apa, kok. Kemarin aku
sudah tidur nyenyak."
Aku merasa tidak enak membiarkan Kuruto terus mengemudi,
tapi masalahnya selain dia tidak ada yang tahu cara mengoperasikan pesawat ini.
Aku kagum si Danzou itu bisa mempelajari cara
mengemudikannya.
……Dia tidak jatuh di tengah jalan, kan?
Aku jadi sedikit khawatir.
Bukannya meragukan performa pesawat buatan Kuruto, tapi
aku ingin bukti kalau Danzou memang lewat sini.
……Ngomong-ngomong,
udaranya terasa agak dingin.
"Mulai terasa dingin, ya."
Lise sepertinya merasakan hal yang sama.
"Iya. Karena daerah ini adalah dataran tinggi. Agar
tidak terlihat dari darat, mau tidak mau kita harus terbang di tempat yang
tinggi, jadi suhunya juga jadi rendah."
Katanya suhu di sini sekitar dua puluh derajat lebih
rendah dibanding desa Kans dan yang lainnya.
"……Begitu ya, mungkin saja."
Tiba-tiba, Kuruto berkata seolah terpikirkan sesuatu.
"Yurishia-san, bolehkah aku mendaratkan pesawat di
sekitar sini?"
"Hm? Boleh saja, kita memang butuh sedikit
istirahat."
"Bukan, aku ingin mencari informasi di desa
terdekat. Jika melihat jalur penerbangannya, besar kemungkinan Danzou-san juga
melewati daerah ini."
Mencari informasi?
Tapi pesawat yang dinaiki Danzou dan Mire hanya untuk
dua orang.
Lebih kecil dari pesawat yang kami tumpangi.
Mungkin kalau dilihat dengan saksama akan ketahuan, tapi—
"Bahkan jika Danzou memang lewat sini, belum tentu
penduduk desa melihat pesawatnya, kan?"
Maksudku, kemungkinan besar mereka tidak melihatnya.
Mencari informasi pun rasanya akan sia-sia.
"Tidak, meskipun mereka tidak melihat pesawatnya,
aku bisa tahu apakah dia lewat sini atau tidak."
"Kau bisa tahu meski mereka tidak melihat
pesawatnya?"
"Tuan Kuruto, apa itu benar?"
Saat kami bertanya, Kuruto mengangguk mantap.
Aku tidak mengerti maksudnya, tapi kalau itu bisa
memastikan apakah Danzou benar-benar lewat sini, aku pun setuju.
Kami berputar lalu turun perlahan, dan mendaratkan
pesawat di tempat yang berjarak sekitar satu kilometer dari desa.
Begitu keluar dari pesawat, udaranya terasa cukup
menusuk.
Karena kami sudah menyiapkan pakaian musim dingin di
dalam pesawat, kami memakainya lalu berjalan menuju desa.
Saat sedang berjalan menuju desa—tiba-tiba sekelompok
pria, yang kemungkinan penduduk desa, berlari ke arah kami dengan wajah pucat
sambil membawa peralatan tani.
Ada apa ini?
Jangan-jangan ini desa tertutup yang mengusir orang
asing? Aku waspada, tapi sepertinya mereka tidak punya niat jahat pada kami.
"Kalian, apa kalian pelancong? Di sini bahaya!"
"Bahaya? Ada apa memangnya?"
Aku maju selangkah dan menjawab.
"Ada monster aneh yang muncul di dekat
sini!"
"Monster seperti itu belum pernah terlihat
sebelumnya."
"Pasti itu monster pembawa bencana."
Aku kehilangan kata-kata.
Bukan karena takut pada monster itu.
Tapi karena secara instan aku menyadari bahwa yang mereka
maksud kemungkinan besar adalah pesawat yang kami tumpangi.
"…………Hm?"
Tapi di saat yang sama, aku merasa aneh.
Kami baru saja sampai di sini dengan pesawat.
Meski butuh waktu saat berputar untuk mendarat, tetap
saja belum lewat sepuluh menit.
Lalu, kenapa mereka semua sudah siap dengan alat tani?
Seolah-olah mereka sudah bersiap menyambut sesuatu yang mencurigakan yang
mendekat.
"Kejadian kemarin itu, pasti gara-gara monster
juga."
"Benar. Karena aku belum pernah melihat yang
seperti itu."
Para penduduk desa mulai bergumam.
Begitu ya, kemarin ada semacam pertanda munculnya
monster, jadi penduduk desa sudah waspada.
Mungkinkah itu gara-gara pesawat yang dinaiki Danzou?
Suasana di sini menunjukkan bahwa seluruh penduduk desa
menyaksikannya.
"Anu, 'itu' apa yang dimaksud?"
"Awan."
"Awan?"
Aku menengadah ke langit.
Ada awan besar yang mengapung, tapi tidak ada yang aneh.
"Kira-kira kemarin sore, ya? Ada awan putih yang panjang dan ramping mengambang di langit."
"Seumur hidup, aku belum pernah melihat awan
sepanjang itu."
"Pasti itu buatan monster."
Aku belum pernah mendengar ada monster yang
menciptakan awan, tapi di desa yang jauh dari kota seperti ini, perubahan kecil
di langit pun sering dianggap sebagai pertanda munculnya monster.
Dulu saat aku masih jadi petualang, ada desa yang
meminta pembasmian monster karena mereka melihat banyak bintang jatuh yang
dikira pertanda monster muncul.
Menurut cerita dari Mimiko, itu hanyalah periode
hujan meteor yang terjadi beberapa tahun sekali.
Tapi, sial juga ya.
Kalau kondisi desa seperti ini, sulit untuk mencari
informasi—
Tepat saat aku berpikir begitu, Kuruto berbisik pelan.
"Danzou-san pasti melewati angkasa di atas desa
ini."
Bagaimana dia bisa tahu dari percakapan barusan?
Sambil berpikir begitu, aku kembali menghadap
penduduk desa.
"Terima kasih atas informasinya. Ini sebagai
imbalan."
Bukan imbalan sih, tapi lebih ke uang tutup mulut atau
uang kompensasi karena sudah mengganggu, aku memberikan sebuah kotak kayu
kecil.
Mata uang Kerajaan Homuros tidak bisa digunakan, dan aku
tidak punya mata uang daerah sini, jadi aku memberikan barang bawaan sebagai
gantinya.
"Ini garam kristal? Apa tidak apa-apa kami menerima
sebanyak ini?"
"Tidak masalah."
"Terima kasih banyak, daerah sini tidak ada tambang
jadi ini sangat membantu. Sebenarnya kami ingin menjamu kalian di desa,
tapi—"
"Tidak perlu, kondisi desa sedang sulit, kan. Jangan
dipikirkan."
Setelah berkata begitu, aku pergi bersama Kuruto dan yang
lainnya melewati jalan saat kami datang tadi.
"Jadi, Kuruto. Apa kau yakin Danzou lewat
sini?"
"Iya. Awan yang mereka bicarakan tadi, aku yakin itu
awan buatan pesawat Danzou-san."
"Awan
bisa dibuat secara buatan?"
"Iya. Itu tercipta karena sistem pendingin
mesinnya."
Pesawat buatan Kuruto jika terbang terlalu lama akan
membuat mesinnya panas.
Untuk mendinginkan panas tersebut, alat sihir akan
menciptakan air.
Katanya, saat air itu menguap dan dikeluarkan dari
pesawat, awan bisa terbentuk.
"Suhu dan kelembapan sangat penting agar uap air
bisa langsung berubah jadi awan. Dan daerah ini memenuhi kondisi
tersebut."
"Jadi, penduduk desa tadi salah sangka kalau awan
buatan pesawat Danzou itu adalah buatan monster, ya."
Aku lega mendengar Danzou melewati angkasa di atas
desa ini.
Dengan ini, terbukti bahwa tindakan kami menuju
Negeri Yamato tidaklah salah.
"Tapi repot juga ya. Kalau kita terbang lagi dengan
pesawat, pasti akan jadi keributan."
"Aku akan menggunakan bayangan kupu-kupu untuk
membuat pesawat ini tidak terlihat. Karena ukurannya besar, sulit untuk
menghilangkannya dalam waktu lama, tapi harusnya bisa sampai kita lepas landas
ke angkasa."
Pedang sihir Kochou milik Lise bisa menciptakan ilusi.
Kelihatannya berat, tapi sepertinya itu satu-satunya
cara.
Setelah itu, kami melanjutkan penerbangan dan pesawat
kami mendarat di perairan dekat Negeri Yamato.
Sebab jika kami mendekat lewat udara, kami bisa-bisa
dihujani anak panah.
Katanya pesawat ini juga bisa jadi kapal, dan saat kami
bergerak di atas laut, bayangan pulau mulai terlihat.
"Itu ya Negeri Yamato. Rasanya benar-benar seperti
sudah sampai di ujung paling timur dunia."
"Iya…… aku juga berpikir begitu sebelum melihat
'itu'."
Ujung paling barat dunia adalah Wilayah Iblis, dan paling
timur adalah Negeri Yamato.
Itulah pengetahuan umum di dunia ini, tapi jika pergi
lebih jauh ke timur dari Negeri Yamato, ada benua lain.
Kami mengetahui hal itu setelah melihatnya dari permukaan
bulan.
Penduduk Desa Haste sepertinya pernah pindah ke benua
lain itu juga, jadi pasti ada penduduk di sana yang hidup dengan budaya yang
berbeda dari kami.
"Nah, alasan apa yang harus kita pakai untuk
berlabuh—"
Tepat saat aku bergumam, salah satu Phantom yang duduk di
kursi belakang menyodorkan sebuah dokumen.
Ini, surat resmi?
Apalagi lengkap dengan stempel resmi Raja.
"Apa stempel ini asli?"
Menanggapi pertanyaanku, si Phantom mengangguk.
Tentu saja ya.
Memalsukan stempel Raja adalah kejahatan berat.
Sehebat apa pun Phantom, tidak, justru karena dia
Phantom, dia tidak akan melakukan tindakan sebodoh itu.
Dengan ini kami resmi menjadi utusan Kerajaan Homuros,
jadi berlabuh di Nasagaki seharusnya tidak masalah.
Kami berlabuh di Pelabuhan Nasagaki.
Berkat surat resmi Kerajaan Homuros, kami bisa berlabuh
tanpa hambatan, namun kami tidak diizinkan keluar dari kota Nasagaki.
Oleh karena itu, untuk sementara kami menuju ke Wisma
Tamu.
Sebab jika tidak pergi ke sana, kami akan dicurigai—untuk
apa masuk ke kota membawa surat resmi kalau tidak ke Wisma Tamu?
"Kudengar Negeri Yamato punya budaya yang unik, tapi
ternyata hanya sedikit aneh saja, tata kotanya terasa biasa."
"Tempat ini istimewa. Karena kota Nasagaki adalah
perpaduan budaya benua dan Negeri Yamato. Misalnya, struktur bangunan itu konon
dibangun merujuk pada gaya arsitektur Kekaisaran Gurumaku."
Lise menjelaskan padaku yang sedang melihat
sekeliling.
"Berarti, pemandangan di luar kota ini
benar-benar berbeda?"
"Iya. Meskipun negara ini hanya berjarak satu hari
perjalanan kapal dari benua terdekat, budayanya sangat berbeda. Benar-benar
seperti dunia lain."
"Meskipun budayanya unik, pasti ada warisan budaya
dari negara lain, kan?"
"Itulah yang sama sekali tidak diketahui. Sejarah
Negeri Yamato sudah lebih dari tiga ribu tahun, tapi tidak ada catatan sejarah
sebelumnya."
Tidak ada catatan…… ya.
Setelah ribuan tahun, wajar saja jika catatan sejarah
hilang.
Terutama karena Negeri Yamato menutup diri, mungkin saja
keluarga Kaisar secara diam-diam mengelola informasi tersebut tanpa kita
ketahui.
Selagi berbincang, kami tiba di tujuan.
"Ini adalah Wisma Tamu. Suasananya terasa tenang
dan bermartabat, desainnya merupakan perpaduan arsitektur tradisional Yamato
dan Gurumaku. Indah sekali ya, memiliki keindahan rumah Yamato yang menggunakan
plester dan kayu, namun di beberapa bagian diberi dekorasi gaya barat?"
"Kenapa kau yang bangga begitu, Lise."
"Yang merancang Wisma Tamu ini adalah Ibu.
Katanya beliau merancangnya sebelum menikah ke Kerajaan Homuros. Mungkin
agak kurang tepat mengatakannya di saat seperti ini, tapi karena aku ingin
melihatnya sekali saja, aku sedikit terharu."
"Tidak, aku juga berpikir desainnya sangat bagus.
Aku senang bisa melihatnya."
Begitulah kata Kuruto.
Di depan Wisma Tamu ada pendekar pedang yang
berjaga—bukan, di negara ini disebutnya Samurai, ya?—tapi begitu Lise
mengungkapkan identitasnya dan menunjukkan surat resmi, kami langsung dipandu
masuk dengan lancar.
Ruangan di dalam bangunan juga dilapisi karpet dengan
perabotan gaya Kekaisaran Gurumaku.
Karena aku dengar ada ruangan dengan lantai dari anyaman
rumput, aku merasa sedikit kecewa karena tidak melihatnya.
"Apa ini Castella dari Negeri Yamato? Aku pernah
dengar dari Danzou-san, tapi baru pertama kali melihatnya."
Kuruto berkata begitu lalu memakan satu suap kue Castella
yang disajikan sebagai camilan saat menunggu.
"Iya. Ini adalah kue yang berasal dari Kerajaan
Homuros kami, namun mengalami evolusi unik hingga menjadi masakan yang
benar-benar berbeda…… tapi sebenarnya ini apa sih. Di negaraku tidak ada kue
seperti ini. Alih-alih evolusi unik, ini sih sudah jadi barang yang
berbeda."
Lise mengeluh, heran, sekaligus memuji secara bersamaan.
Katanya, Negeri Yamato punya sifat unik yang mengambil
budaya asing lalu mengembangkannya sendiri sesuka hati.
……Yah, memang enak sih.
Tapi—
"Kalau Castella ini dipanggang tipis, lalu diisi
pasta kacang merah seperti yang kita buat untuk bakpao air panas, krim kocok,
dan mentega, sepertinya bakal enak."
Kalau soal evolusi unik, Atelier Meister kami juga tidak
mau kalah, ya.
Aku jadi ingin mencoba Castella buatan Kuruto.
Meskipun sepertinya itu jenis kue yang bakal bikin cepat
gemuk.
Saat sedang berbincang seperti itu, seseorang berpakaian
rapi masuk ke ruangan.
"Selamat datang, Tuan Putri dari Kerajaan Homuros.
Namaku Osana, pemimpin yang mengelola kota ini."
"Salam kenal, Osana-doNo.Terima kasih atas
sambutannya yang mendadak ini. Ini adalah barang-barang yang kami bawa sebagai
tanda persahabatan. Silakan diterima."
Lise menyerahkan barang dagangan dari Kerajaan Homuros
yang sudah disiapkan oleh Phantom.
Osana tampak senang, terutama gula yang sepertinya sangat
populer di Negeri Yamato.
Setelah menyelesaikan urusan formal soal perdagangan di
masa depan, rencananya kami akan pura-pura berwisata lalu diam-diam keluar dari
kota ini—tapi.
"Ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan kepada Tuan
Putri."
"Kepada saya?"
"Benar…… ini adalah dokumen yang diserahkan oleh
para ninja."
Melihat dokumen yang disodorkan itu, kepala kami
langsung pening.
Itu adalah selebaran buronan untuk aku, Kuruto, dan Lise.
"Selebaran buronan kami…… Danzou-san, teganya
sampai begini—"
Lise gemetar saat melihat selebaran buronan Kuruto.
Hadiahnya dua ratus keping emas Yamato.
Keping emas Yamato lebih tipis dari keping emas yang
kami gunakan, namun ukurannya dua kali lebih besar.
Nilainya mungkin setara lima ratus keping emas biasa.
Aku tidak tahu apa alasan Danzou, tapi menyiapkan
selebaran buronan karena dia sudah menduga kami akan mengejarnya, itu sih sudah
keterlaluan.
Wajar saja kalau Lise marah—
"Teganya dia tidak punya jiwa seni sama sekali!
Gambar ini bahkan tidak bisa mengeluarkan satu persen pun dari kehebatan Tuan Kuruto!
Yah, meskipun gaya gambarnya punya keunikan tersendiri, sih!"
"Marahnya gara-gara itu?! Dan jangan kau masukkan
selebaran itu ke dalam bajumu!"
Aku mengumpulkan tumpukan selebaran buronan lainnya yang
ada di sana, lalu memukul kepala Lise.
"Lise-san. Ini adalah teknik melukis tradisional
Negeri Yamato, lho. Kalau tidak salah, dulu Danzou-san pernah mengajariku
teknik gambar bernama Ukiyo-e yang gayanya seperti ini."
Kuruto yang mengatakannya.
……Bukankah percuma kalau sketsa di poster buronan tidak
mirip dengan orang aslinya?
Tapi tidak juga, ciri-ciri khususnya tertangkap dengan
baik, dan yang terpenting, jumlah orang asing di Yamato itu sedikit.
Bagi orang yang jeli, mereka pasti akan langsung
tahu.
Hadiahnya pun tertulis jelas: hanya untuk penangkapan
hidup-hidup. Jika target mati, bukannya mendapat hadiah, si
penangkap justru akan dihukum.
Alasannya pun disebutkan sebagai perlindungan bagi
tokoh penting yang sedang melarikan diri, jadi tertulis instruksi agar tidak
melukai kami.
Namun, ini justru merepotkan.
Kalau mereka datang untuk membunuh, kami bisa saja
membalas dan menghabisi mereka. Tapi akan sulit membalas orang yang datang
dengan niat untuk "melindungi".
"Apa benar Danzou-san yang mengatur pembuatan
poster ini?"
Tiba-tiba, Kuruto menggumamkan pertanyaan itu dengan
ekspresi heran.
"Melihat waktunya, siapa lagi kalau bukan
dia?"
"Tapi, meski gambar ini menangkap ciri khas
kita, rasanya hanya sebatas ciri khas saja."
Kalau dipikir-pikir lagi... karena gayanya yang unik,
aku jadi tidak sadar, tapi gaya rambut Kuruto di sini berbeda, dan rambutku
aslinya sedikit lebih panjang.
Danzou adalah pendekar pedang dengan kemampuan
observasi yang hebat. Rasanya mustahil dia membiarkan kesalahan seperti itu
terjadi.
Yang lebih membuatku penasaran adalah tidak adanya
catatan apa pun mengenai Kochou milik Lise.
Dengan Kochou, penyamaran adalah hal yang
sangat mudah.
Namun, ada kelemahan di mana jika seseorang menyentuh
targetnya, penyamaran yang mengubah bentuk tubuh atau panjang rambut akan
terbongkar.
Danzou pasti tahu soal itu, jadi kecil kemungkinan dia
lupa menuliskan peringatan tersebut.
Kesannya seolah poster ini disiapkan oleh seseorang yang
tahu tentang kami, tapi tidak tahu secara mendalam.
"Jadi, apa Anda akan menyerahkan kami?"
Lise menatap Osana dan bertanya langsung.
Akan sangat merepotkan jika Osana menjadi musuh kami di
sini.
Ada berapa banyak prajurit di luar ruangan ini?
Membuat mereka semua pingsan lalu kabur ke luar—bahkan
dengan menggunakan Kochou milik Lise sekalipun, itu akan menjadi misi
yang sulit.
Tapi—
"Tidak, saya tidak berniat memicu konflik dengan
Putri Kerajaan Homuros. Namun, tujuan Putri pasti berada di luar kota ini,
bukan? Jika boleh, kami ingin Anda mengurungkan niat tersebut. Orang asing
dilarang keluar dari kota ini. Mohon habiskanlah waktu Putri di dalam kota
saja."
"……Baiklah. Terima kasih atas sarannya."
Lise menyampaikan kata-kata terima kasih, lalu kami pun
meninggalkan wisma tamu.
Sekarang, apa yang harus kita lakukan?
Setelah
itu, kami berkeliling ke toko-toko di sekitar sana untuk membeli pakaian serta
aksesoris Negeri Yamato, lalu menuju penginapan.
"Ryokan ini mengingatkanku pada penginapan air panas
di Etna."
"Wajar jika mirip. Penginapan air panas di Etna
memang dibangun dengan citra ryokan Negeri Yamato sebagai modelnya."
Lise mengangguk saat aku berbicara sambil mengenang
desa pemandian air panas tempat kami pergi bersama dulu.
Begitu dipandu masuk ke kamar, Lise mendongak menatap
langit-langit.
"Bagaimana?"
"Lapor. Satu dari tiga orang telah kembali untuk
melapor. Sepertinya mereka tidak masuk ke dalam penginapan."
Sesosok Phantom turun dari langit-langit dan memberikan
laporan.
Kami memang diikuti terus sejak meninggalkan wisma tamu.
Gara-gara itu, kami tidak bisa bertindak gegabah dan
gagal mengumpulkan informasi yang berarti.
Yah, tapi setidaknya urusan belanja jadi lancar jaya.
"Jadi, Lise. Kamu tidak mungkin belanja tanpa
rencana, kan?"
"Tentu saja. Kita akan bergerak ke luar kota
sambil menghilangkan hawa keberadaan dengan Kochou, tapi sulit jika
harus terus-menerus menghilang. Karena itu, mari kita menyamar. Tuan Kuruto,
apa Anda bisa meracik pewarna rambut hitam?"
"Bisa. Aku punya bahannya, jadi bisa segera
kubuat."
"Lalu, apa ada obat untuk memanjangkan rambut?"
"Iya, aku masih punya sisa obat yang dulu pernah
dipakai Yurishia-san."
Obat yang pernah kupakai.
Ah, obat yang kugunakan untuk mengembalikan rambutku yang
kupotong saat menyamar jadi laki-laki dulu ya…… jangan-jangan.
Kuruto sepertinya juga menyadari hal itu, wajahnya
berkedut ngeri—ekspresi yang sangat langka bagi dirinya.
"Lise-san, jangan-jangan penyamarannya—"
"Iya. Persis seperti yang Tuan Kuruto
bayangkan."
Lise tersenyum lebar sambil mengeluarkan kimono
wanita yang baru saja dibelinya.
Benar-benar
senyuman yang sangat ceria.
Malam
itu juga, kami meninggalkan penginapan sambil menghilangkan wujud dengan Kochou
dan langsung keluar dari kota Nasagaki.
Sekarang kami berada di jalan raya menuju kota
berikutnya.
Sambil berjalan di sana, bahu Kuruto tampak merosot lesu.
"Kenapa aku harus jadi begini lagi……"
"……Aku tidak tahu ini bisa menghiburmu atau tidak,
tapi kamu terlihat cocok, kok, Kurumi."
Ya, Kuruto sedang menyamar sebagai perempuan seperti
waktu itu.
Karena dulu Kuruto menggunakan nama samaran Kurumi, kali
ini pun dia menggunakan nama yang sama.
Namun, Kurumi berambut hitam ini benar-benar gadis
cantik yang tiada tara.
Karena dasarnya dia memiliki wajah yang netral,
rambut hitamnya memberikan kesan misterius, menciptakan sosok gadis yang manis
sekaligus cantik di saat yang bersamaan.
Dada yang rata—karena dia laki-laki, tentu saja dia
tidak punya dada—berhasil tertutup sempurna berkat pakaian kimononya.
"Yurishia-san……
bukan, Yuki-san juga terlihat cocok."
"Terima kasih atas niat baiknya, tapi itu sama
sekali tidak menghibur."
Saat Kuruto menyamar jadi perempuan, di saat yang sama
aku juga menyamar jadi laki-laki.
Karena nama Yura yang kugunakan dulu tidak cocok di
Negeri Yamato, namaku sekarang adalah Yuki.
Kimono yang kupakai bukan yang gemerlap seperti Kurumi,
melainkan pakaian bergaya samurai seperti Danzou.
Suaraku juga sudah kuubah menjadi suara netral
menggunakan alat sihir pengubah suara, dan aku menyembunyikan pedang
kesayanganku, Setsuka, untuk kemudian menyandang sebuah katana.
"Lalu, kenapa kamu tidak ikut menyamar jadi
laki-laki, Lise—bukan, Rie?"
Lise hanya melakukan penyamaran sederhana dengan
mengenakan kimono gadis kota Negeri Yamato dan mengikat rambut hitamnya.
Sepertinya sekarang dia memutuskan untuk dipanggil Rie.
"Ara, tidak semua orang perlu menyamar secara
ekstrem, kan. Lagipula, aku tidak punya pengalaman menyamar jadi laki-laki,
kalau melakukan hal yang tidak biasa nanti malah ketahuan. Peran kita adalah,
aku dan Kurumi-sama sebagai Geisha yang sedang berkeliling. Dengan penampilan
ini, mencari informasi di bar akan jauh lebih mudah."
Menjadi Geisha membutuhkan keahlian khusus... tapi
meski dia agak menyimpang, Lise adalah mantan anggota keluarga kerajaan, jadi
dia pasti punya dasar dalam menyanyi dan menari.
Sedangkan Kuruto yang memiliki tingkat kecocokan SSS
untuk bidang selain pertarungan pasti bisa menunjukkan berbagai macam seni
pertunjukan.
Ini jauh lebih baik daripada menyuruhku bernyanyi dan
menari.
Di samping Kurumi yang masih murung, aku berbisik
bertanya pada Lise.
"……Jadi, kapan edisi terbaru majalah klub penggemar
Kurumi-chan akan terbit?"
Aku tahu tabiat Lise.
Dia pasti sudah mengambil foto sebanyak gunung
menggunakan alat sihir buatan Kuruto yang disebut "Kamera"—benda yang
bisa membakar pemandangan ke atas kertas untuk disimpan.
Sudah pasti ini akan menjadi edisi yang layak disimpan
selamanya.
"Jangan terburu-buru. Kita harus mengumpulkan cukup
banyak materi visual, baru kita bicarakan setelah insiden ini selesai,
Yuki-san."
Lise berkata demikian dengan mata yang berkilat penuh
ambisi.
◆◇◆
Aku—Bandana—bukan, Rinoa, sedang memandang pemandangan
dari Menara Sage.
Saat ini aku bekerja sebagai perwakilan pengelola Menara Sage
ini.
Namun, begitu waktu sudah menyusul saat di mana Sang Sage
Agung Akuri-sama berangkat di masa lalu, tugas paling sulit dan melelahkan
yaitu pengelolaan takdir telah selesai, sehingga pekerjaanku sekarang hampir
tidak ada.
Paling-paling hanya memeriksa apakah fungsi Menara Sage
berjalan normal atau tidak.
(Padahal aku lebih suka kalau sibuk saja.)
Kalau luang, aku jadi terpikirkan banyak hal.
Tentang Sang Sage Agung dan yang lainnya yang berangkat
ke Dunia Lama.
Sejujurnya, aku ingin ikut pergi.
Namun—tubuhku tidak cukup kuat.
Selama ini aku hanya bisa bertahan dengan berbagai cara,
tapi akibat pengulangan Cold Sleep untuk memperpanjang usia dan bangun
saat dibutuhkan, tubuh ini sudah ringkih.
Aku bisa bergerak normal seperti ini pun berkat murid Sage
Agung—seperti ayah Hildegard, teman masa kecil Kuruto—yang pergi ke toko serba
ada di Desa Haste untuk membelikan obat mujarab.
Jika tidak ada obat itu, tubuhku pasti sudah hancur sejak
lama.
"Bertahanlah sedikit lagi, tubuhku. Sampai masalah
di Dunia Lama selesai—setidaknya sampai Sang Sage Agung kembali."
Tepat saat aku menggumam sendiri, hal itu terjadi.
"Noah, aku sudah kembali. Apa ada perubahan?"
"Eh?"
Saat menoleh, di sana ada Sang Sage Agung dalam wujud
seorang anak kecil.
Wujud itu berubah menjadi sosok dewasa dalam sekejap.
"Sage Agung-sama…… eh? Kenapa? Bukankah Anda
harusnya berada di Dunia Lama?"
"Iya, ini berkat kekuatan Papa."
"Kur?"
Ternyata, dengan menanam dahan Nieche, terbentuk jaringan
pada aliran nadi bumi yang memungkinkan teleportasi antar pangkalan di Dunia
Lama, bahkan dengan Dunia Baru tempat kami tinggal sekarang.
Benar-benar tidak masuk akal.
"Padahal aku melepas kepergianmu karena berpikir
mungkin tidak akan bertemu Sang Sage Agung selama bertahun-tahun lagi…… tapi,
Sage Agung-sama, kenapa Anda kembali ke wujud dewasa?"
"Bukankah kau lebih suka wujud yang ini?"
Karena Sang Sage Agung adalah Roh Agung yang
mengendalikan ruang dan waktu, memanipulasi usia fisiknya sendiri adalah hal
sepele.
Saat ini dia menyerahkan tugas Sage Agung kepadaku dan
kembali menjadi putri Kuruto dan yang lainnya, sehingga dia mengambil wujud
anak-anak. Namun seperti katanya, bagiku, wujud dewasa Sang Sage Agung inilah
yang paling benar.
"Ah, aku bahagia sekali. Baik karena Anda mengambil
wujud ini, maupun karena Anda telah kembali dengan selamat."
"Maaf sudah membuatmu khawatir. Jadi, soal keadaan
di Dunia Lama—"
Sang Sage Agung menceritakan kondisi di Dunia Lama.
Tentang keberadaan kemampuan khusus yang disebut Skill
yang berbeda dari sihir, serta batu ajaib untuk menggunakannya.
Lalu, pembentukan peradaban unik berupa penghalang di
area pemukiman.
Memang aku tahu ada fasilitas yang tersisa agar
orang-orang di Dunia Lama bisa bertahan hidup selama beberapa tahun atau
dekade, tapi kukira itu hanya bertahan untuk beberapa generasi saja.
Tak kusangka mereka bisa bertahan hingga zaman ini.
Keberadaan penghalang di area pemukiman juga mengejutkan.
"Apa penghalang semacam itu memang sudah ada dari
dulu?"
"Tidak. Tapi dulu saat zaman kita, tidak ada
penghalang yang bisa sepenuhnya menahan elemen sihir—yang di sana sekarang
disebut sebagai elemen jahat. Kudengar dulu pernah ada kota berbentuk kubah
yang dibangun untuk menahan masuknya elemen sihir secara total, tapi kota itu
hancur oleh monster tabu."
"Apa penghalang di area pemukiman juga bisa menahan
monster tabu?"
"Aku sempat berpapasan dengan monster tabu, dan saat
penghalang area pemukiman dipasang kembali, penghalang itu memotong tubuh
monster tersebut."
Memotong kaki monster tabu?!
Itu benar-benar mustahil.
Di Dunia Lama, tidak pernah ada senjata yang bisa
memotong tubuh monster tabu.
"Tapi, Sang Sage Agung juga kurang beruntung,
ya. Baru sampai di dunia sana langsung diserang monster tabu."
"Mengenai hal itu, ada sesuatu yang mengganjal.
Ada seseorang dari Dunia Baru yang bekerja di Dunia Lama dengan menggunakan
nama palsu. Dialah yang memanggil monster tabu tersebut."
"Manusia memanggil monster tabu—?!"
"Katanya namanya Bibinokke, apa kau
mengenalnya?"
"Bibinokke itu, bukannya si pembawa barang
Sakura dulu?!"
Aku mengenalnya.
Si penjahat kecil berjuluk Thousand Face.
Dia sering menerima permintaan dari berbagai party,
lalu menyelinap masuk dan menghancurkan party tersebut dari dalam.
Dulu dia pernah mencoba menghancurkan kelompok Sakura
dengan menggiring mereka ke gua penuh Goblin.
Setelah itu, karena ada kemungkinan dia akan memicu
masalah, aku berniat membunuhnya, tapi digagalkan oleh gangguan dari Phantom……
"Kau mengenalnya? Aku berniat melacak keberadaan
Bibinokke. Aku bisa melacak catatannya sampai saat dia dikirim ke fasilitas
rehabilitasi gereja setelah ditahan dan diinterogasi oleh Phantom."
"Sebenarnya, dia tidak dikirim ke fasilitas
rehabilitasi. Karena dia pernah melihat wajahku, akan merepotkan jika dia
dibiarkan bebas, jadi aku meminta Paus untuk mengambilnya."
"Paus?! Jadi maksudnya—"
"Iya. Paus bilang dia sudah membunuhnya dan
melenyapkan mayatnya. Jika cerita itu benar, alasan Bibinokke berada di Dunia
Lama kemungkinan besar melibatkan Paus. Jadi, di mana Bibinokke itu
sekarang?"
"Dia sudah mati."
"……Begitu ya."
Dia adalah sosok yang dulu berniat kubunuh.
Namun sekarang, aku justru ingin dia tetap hidup.
Kalau dia sudah mati, aku tidak bisa lagi mendapatkan
informasi.
Kita perlu tahu bagaimana cara dia memanggil monster
tabu tersebut.
"Dasar Paus, berani-beraninya dia meninggalkan
'hadiah perpisahan' yang merepotkan begini."



Post a Comment