Chapter
2
Menuju
Desa Ninja
——Saat ini, di depan kami, penduduk Negeri Yamato
sedang meneteskan air mata.
Sejujurnya, itu adalah pemandangan yang sangat
janggal.
Semua ini bermula dari beberapa waktu yang lalu.
Aku—Yuki—bersama Kurumi, Rie, dan dua Phantom yang
menyembunyikan wujudnya, telah meninggalkan Nasagaki dan sampai di sebuah kota
dalam perjalanan menuju Tougenkyou.
Namun saat hendak masuk ke dalam kota, kami
dihentikan oleh samurai yang berjaga.
"Siapa kalian? Kalian tidak terlihat seperti
penduduk negeri ini. Dari negara mana kalian berasal?"
"Kami tidak berasal dari negara mana pun. Kami
hanyalah pengelana yang berkeliling dunia untuk mempertunjukkan seni. Kami
telah mendapatkan izin khusus untuk memasuki negeri ini. Ini adalah tanda
buktinya."
Rie menunjukkan sebuah plakat kayu palsu yang telah
disiapkan oleh para Phantom.
"Begitu ya, plakat kayunya terlihat asli."
Padahal itu palsu.
"Tapi, kalian tetap mencurigakan. Jika kalian
mengaku berkeliling untuk mempertunjukkan seni, coba tunjukkan sesuatu di
sini."
Sudah kuduga akan jadi begini.
"Kalau begitu, biar aku yang—"
Kurumi mengambil instrumen musik yang digendong di
punggungnya.
Itu adalah alat musik petik yang disebut Biwa,
instrumen yang cukup dikenal di Negeri Yamato. Kami membelinya saat berbelanja
kemarin.
Begitu Kurumi memegang Biwa dan mengambil posisi,
raut wajahnya langsung berubah.
Mungkin berkat rambut hitam panjang hasil pewarnaan
itu, dia memancarkan aura yang terasa sangat memesona.
Perubahan auranya yang begitu drastis membuat para
samurai yang menuntut pertunjukan tadi tertahan napasnya.
Alunan nada Biwa awalnya dimulai dengan tenang.
Kelembutannya bagaikan angin sepoi-sepoi yang mengelus
padang rumput.
Namun, setapak demi setapak nada bertumpuk, melodi itu
pun kian memanas, berubah menjadi kekuatan dahsyat yang menggelegar layaknya
guntur.
Seiring dengan permainan musiknya, ekspresi Kurumi pun
berubah menjadi sangat intens, seolah sedang dirasuki.
Setiap kali jarinya memetik dawai, pepohonan di sekitar
bergoyang, dan angin berputar membentuk pusaran dengan dia sebagai pusatnya.
Tanpa kusadari, banyak orang sudah berkumpul di sana.
Begitu, rupanya. Akhirnya aku menyadarinya.
Meskipun ada begitu banyak orang yang berkumpul, sampai
detik ini pun aku tidak menyadari kalau jumlah penonton terus bertambah.
Dan para samurai itu pun pasti masih belum menyadarinya.
Kurumi membunyikan petikan senar terakhirnya.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada sorakan.
Semua orang menangis.
Rie pun menangis. Bahkan pandanganku yang melihat mereka
pun ikut buram karena air mata.
Sebuah permainan musik yang luar biasa, hingga membuatku
ingin bersyukur karena bisa hadir di tempat ini, karena bisa mendengarkan musik
itu, tidak, bahkan bersyukur karena telah terlahir ke dunia.
Aku sudah menduga akan jadi begini. Tingkat kecocokan
untuk bidang selain pertarungan adalah SSS—tentu saja, tingkat kecocokan
untuk memainkan musik pun berada di peringkat SSS.
Setelah beberapa saat, para samurai yang baru tersadar
dari pesona musik itu akhirnya memberikan izin bagi kami untuk masuk ke dalam
kota.
Selain itu, kami juga menerima tumpukan koin saweran dari
para penonton yang berkumpul.
Menggunakan mata uang Kerajaan Homuros di Negeri Yamato
akan terlalu mencolok, jadi mendapatkan koin receh seperti ini sangatlah
membantu.
"Orang-orang di Negeri Yamato semuanya baik ya.
Padahal permainanku masih amatir, tapi mereka memberiku uang sebanyak ini.
Setidaknya aku ingin jadi cukup mahir sampai bisa mendapatkan tepuk
tangan."
Ucap Kurumi sambil memasukkan koin saweran ke dalam
tasnya. Sepertinya dia masih tetap tidak sadar dengan
kemampuannya sendiri.
Pasti dia mengira semua orang menangis karena mereka
kebetulan sedang sedih, atau kalaupun dia sadar mereka menangis saat mendengar
musiknya, dia mungkin menganggap permainan musiknya begitu membosankan sampai
membuat mereka menguap dan mengeluarkan air mata.
Yah, kalau di sini dia tiba-tiba menyadari
kemampuannya lalu berakhir pingsan atau kehilangan ingatan karena syok, itu
malah akan merepotkan, jadi aku tidak akan mengoreksinya.
"Permainan Kurumi-sama benar-benar sudah jauh
lebih baik dari sebelumnya. Memang berhenti bernyanyi adalah keputusan yang
tepat."
"Iya!"
Kurumi tampak senang mendengar pujian Rie. Di kota
sebelumnya, Kurumi mencoba bernyanyi sambil bermain musik seperti seorang bard.
Hasilnya, penonton tidak hanya sekadar menangis.
Akibat efek sinergi dari permainan musik tingkat dewa
dan suara nyanyian malaikat, orang-orang jatuh pingsan satu demi satu.
Karena aku sudah mempertimbangkan kemungkinan itu dan
memakai penyumbat telinga, aku berhasil selamat, tapi Rie sampai mimisan dan
jatuh pingsan.
Ujung-ujungnya keadaan jadi kacau balau dan kami
tidak bisa mencari informasi sama sekali.
"Nah, sekarang waktunya mencari informasi di
kota ini—dan kalau bisa, aku ingin menyiapkan kuda."
◆◇◆
Sudah sepuluh hari berlalu sejak aku—Kuruto—tiba di
Negeri Yamato. Saat ini aku sedang menyantap hidangan Yamato di kedai yang
menyatu dengan penginapan.
Di kota kedua, Yuki-san membeli seekor kuda, jadi aku
segera membuat kereta kuda sederhana untuk ditarik... tapi...
Di tengah perjalanan, kereta kuda yang kami naiki
menarik perhatian seorang Daimyo (sepertinya sebutan untuk penguasa
wilayah) dan pejabat setempat.
Kami menjualnya, aku membuatnya lagi, lalu terjual
lagi... begitu terus berulang-ulang.
Sepertinya di Negeri Yamato tidak ada kereta kuda,
dan Daimyo yang melihatnya berani membeli dengan harga yang jauh lebih
tinggi dari harga normal.
Lalu, hanya dengan sebagian kecil dari uang itu, aku
membuat kereta kuda baru.
Namun saat kami pindah dengan kereta itu, benda itu
kembali menarik perhatian pejabat atau orang kaya lainnya.
Kereta itu terjual lagi dengan harga tinggi, dan aku
membuat yang baru lagi.
Padahal seharusnya aku yang berterima kasih karena
mereka mau membeli kereta kuda dengan harga mahal, tapi kami malah diberi surat
rekomendasi hingga surat izin melintas.
Berkat itu, kami sudah sampai sangat dekat dengan
Tougenkyou.
Sambil makan, aku melirik Yuki-san dan Rie-san yang
sedang berbisik-bisik serius.
"(Lise, berapa sisa uang kita sekarang?)"
"(Enam
ribu keping emas Yamato. Kabarnya satu keping emas Yamato setara dengan gaji
bulanan kelas menengah di negara ini.)"
"(Gaji selama lima ratus tahun ya... yah, kereta
buatan Kuruto memang sangat nyaman dan tampilannya bagus, jadi wajar saja kalau
laku keras. Tapi aku tidak tahan kalau setiap kali menginap, para pejabat dan
orang kaya selalu menyerbu kita.)"
"(Tapi berkat itu kita bisa membangun koneksi dengan
orang-orang penting. Informasi pun jadi lebih mudah dikumpulkan.)"
Aku tidak terlalu dengar apa yang mereka bicarakan, tapi
selama mereka terlihat senang, aku ikut senang.
Namun, ada satu
hal yang mengganjal.
Meskipun sudah sejauh ini, kami sama sekali tidak
mendapatkan informasi tentang Tougenkyou.
"Apakah ini rombongan Biwa Tennyo,
Kurumi-sama?"
Tiba-tiba, seorang pria yang tampak seperti samurai
menyapa kami.
"Aku tidak tahu soal Biwa Tennyo, tapi namaku memang
Kurumi."
"Tuan Daimyo sangat ingin mendengarkan
permainan Biwa dari Kurumi-sama. Sudikah Anda sudi datang ke kediaman
beliau?"
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya kami mendapat
tawaran seperti ini.
Mungkin karena negara ini menutup diri, musisi asing jadi
sesuatu yang langka.
Mereka dengan senang hati mendengarkan permainanku
yang masih amatir ini.
Belakangan ini, kepopuleran kami makin meningkat karena
Rie-san mulai menari mengiringi permainan musikku.
Karena kami sudah hampir selesai makan, kami menyanggupi
ajakan samurai itu dan menuju kediaman Daimyo.
Katanya kediaman Daimyo itu bukan berada di dalam mansion
utama, melainkan di vila luar kota.
Salah satu ciri khas Negeri Yamato adalah banyaknya rumah
di luar tembok kota, bahkan ada kota yang tidak memiliki tembok sama sekali.
Meskipun jarang ada kediaman Daimyo di luar kota,
aku diberitahu kalau itu adalah rumah untuk menyembunyikan selir.
"Kurumi, bisa bicara sebentar?"
Yuki-san memanggilku. "Ada apa?" tanyaku sambil
mendekat untuk mendengarkan.
"Setelah ini..."
Kami masuk ke dalam kediaman itu mengikuti panduan sang
samurai.
"Silakan tunggu di sini."
Kami dipandu ke sebuah ruangan besar beralas tatami. Kami
duduk di atas bantal zabuton sambil menunggu kedatangan Daimyo.
—Saat itulah. Tiba-tiba, asap putih menyembur dari bawah
kaki kami.
"Kurumi, Rie! Jangan hirup gasnya! Ini
jebakan!"
Yuki-san berdiri dan berteriak, tapi Rie yang posisinya
paling dekat dengan sumber semburan gas menjadi yang pertama tumbang. Disusul
olehku dan Yuki-san.
Seolah sudah mengawasi kami, dua orang bertopeng muncul
dari ruangan sebelah.
Dari tinggi dan perawakannya, salah satunya pasti samurai
yang memandu kami tadi.
"Melihat dari cerita Kaede-sama, kupikir mereka
bakal merepotkan, ternyata gampang sekali."
"Itu artinya rencana kita sangat sempurna. Tapi, apa
benar bocah ini laki-laki? Dilihat dari mana pun dia cuma terlihat seperti
gadis cantik. Apa kita tidak salah orang?"
"Tidak, justru dialah targetnya. Kudengar di negara
barat, meskipun orang-orang tahu dia laki-laki, kepopulerannya sampai bisa
memicu terbentuknya klub penggemar. Tapi sayang sekali. Kalau dia dijual ke
kalangan samurai, pasti harganya mahal..."
"Para samurai memang banyak yang menyukai sesama
jenis. Tapi, kabarnya salah satu dari mereka adalah bangsawan negara barat.
Bisa gawat kalau salah menangani. Nah, sebelum efek obatnya hilang, ayo kita
ikat dengan tali."
Pria itu mencoba memegang lenganku untuk mengikatku—tapi
tangannya justru menembus tubuhku.
"Apa?!"
"Ya, cukup sampai di sini."
Yuki-san yang asli menodongkan belati ke leher pria
bertopeng itu.
"Kurang ajar!"
Pria bertopeng satunya mencoba menyerang
Yuki-san—tapi—
"Silakan tidur dengan tenang. Ini, obat
tidur."
Rie-san yang asli menyemprotkan botol kabut berisi
air yang sudah dicampur obat tidur ke wajah pria itu.
Seketika, pria bertopeng itu jatuh terlelap.
"Mustahil?! Seharusnya racun jenis apa pun tidak
mempan pada kami!"
"Mana
ada manusia yang kebal terhadap racun."
Efek Kochou
dilepaskan, ilusi diri kami pun menghilang, dan sosok kami yang asli muncul.
"Wah,
ekspresinya kaget sekali ya."
"Sepertinya
kalian tidak tahu soal Kochou. Apa Danzou-san tidak memberitahu
kalian?"
"Sekarang, ceritakanlah semua informasi yang kamu
tahu."
Saat Yuki-san berkata begitu, pria bertopeng itu
tiba-tiba mulai meronta kesakitan.
Apa dia menyembunyikan racun di balik giginya?
"Kurumi, obati dia."
"Baik!"
Aku menyuntikkan obat ke tubuh pria itu. Dan kemudian—
"Gah! B-Bagaimana mungkin! Itu adalah racun yang
seharusnya membunuh seketika. Kenapa aku masih hidup?!"
Pria bertopeng itu bangkit dengan hentakan kuat.
"Memang jantungmu sempat berhenti. Tapi, manusia
tidak langsung mati hanya karena jantungnya berhenti. Saat jantung berhenti,
darah tidak mengalir, nutrisi dan oksigen tidak sampai ke seluruh tubuh, dan
dari sanalah proses kematian dimulai secara perlahan. Jadi, jika segera
diobati, kamu tidak akan mati."
"Apa yang kau bicarakan..."
"Nah, sekarang aku akan menyuntikkan obat kejujuran
ya."
"T-Tunggu! Berhenti! Lebih baik bunuh ak—"
Aku menusukkan jarum suntik berisi obat kejujuran.
Sebenarnya, para Phantom sudah menyelidiki informasi tentang Daimyo dan
orang-orang penting di daerah ini sebelumnya dan memberitahukannya pada
Yuki-san.
Katanya Daimyo yang menguasai daerah ini adalah
suami yang sangat setia pada istrinya, dan mustahil dia menyembunyikan selir di
tempat lain.
Merasa ada yang janggal, Yuki-san berdiskusi dengan
Rie-san dan menggunakan Kochou untuk menjebak balik mereka.
Dari obat kejujuran itu, kami mengetahui bahwa mereka
adalah ninja yang sudah ada sejak lama di Negeri Yamato—sebuah klan yang ahli
dalam kemampuan infiltrasi dan penyamaran. Desa ninja tersebut disebut sebagai
Tougenkyou, dan terletak di sekitar sini.
Mereka mendapatkan informasi tentang kami bertiga dari
atasan mereka yang bernama Kaede, dan karena menemukan kami, mereka memasang
jebakan ini.
Mengenai Kochou, sepertinya mereka tahu soal
kemampuan menciptakan ilusi, tapi tidak tahu kalau bau, suhu tubuh, hingga hawa
keberadaan pun bisa dimanipulasi.
Informasinya terasa simpang siur. Hal-hal yang pasti
diketahui oleh Danzou-san, ternyata tidak mereka ketahui. Dan—mereka juga
mengaku tidak mengenal Danzou-san.
"Siapa Kaede itu? Dan apa yang dia katakan tentang
kami?"
"Dia adalah koordinator 'Rumput' yang menyusup ke
Kerajaan Homuros. Ada laporan bahwa salah satu 'Rumput' telah menemukan pewaris
Kaisar dan sedang kembali ke negara ini. Juga laporan bahwa ada orang yang
mengejar pewaris tersebut."
Sebagai koordinator "Rumput", mungkin dia
adalah atasan Danzou-san. Tapi kalau begitu, kenapa informasi dari Danzou-san
tidak diteruskan... apa maksud dari semua ini?
◆◇◆
Aku, Liselotte—bukan, Rie—meninggalkan bangunan bersama
Kurumi-sama dan Yuki-san.
Aku meminta Kurumi-sama untuk memasang lapisan kedap
suara total di dalam kediaman itu, serta memasang kunci pada pintu yang baru
bisa terbuka otomatis setelah satu bulan, namun mustahil dibuka dari dalam
sebelum itu.
Dengan ini, melarikan diri dari dalam adalah hal yang
mustahil.
Kami sudah memasukkan persediaan makanan untuk satu bulan
agar mereka tidak mati kelaparan.
Menurut informasi dari mereka, ada dua ninja pengawas di
luar kediaman.
Satu orang berhasil ditemukan dan ditangkap oleh Phantom,
lalu dikurung di dalam kediaman, namun satu orang lainnya berhasil melarikan
diri. Informasi kami pasti sudah diketahui oleh musuh.
"Apa orang-orang itu akan baik-baik saja?"
"Kecuali mereka punya sihir teleportasi, mustahil
bagi mereka untuk kabur."
Yuki-san menggelengkan kepala menjawab pertanyaanku.
Langkah pencegahan bunuh diri juga sudah dilakukan, dan seandainya rekan ninja
mereka membakar kediaman itu dari luar karena takut informasi bocor, hanya
ruangan itu yang akan tersisa dan orang di dalamnya akan selamat. Itulah arti
dari kata "sempurna" bagi Kurumi-sama.
"Bukan, bukan itu, yang aku khawatirkan adalah
kondisi kesehatan mereka."
Biasanya aku akan berpikir, "Orang yang merepotkan
Tuan Kuruto boleh mati saja," tapi kali ini aku merasa kasihan pada
mereka.
"Jika mereka memakan makanan awetan buatan
Kurumi-sama selama satu bulan penuh, aku ragu mereka bisa kembali ke pola makan
semula setelahnya."
"Ah... dulu kita juga pernah menderita gejala di
mana teh yang diseduh selain oleh Kuruto terasa seperti air lumpur ya."
Ucap Yuki-san dengan nada penuh penyesalan.
Belakangan ini kami mencegah perkembangan
"penyakit" itu dengan makan masakan selain buatan Kuruto seminggu
sekali, sehingga gejalanya sudah mereda... tapi mereka akan terus memakan
masakan Kuruto selama sebulan, dan setelah itu mereka tidak akan bisa
memakannya lagi.
Bulan-bulan setelah mereka bebas pasti akan terasa sangat
menyiksa.
"Yuki-san, Rie-san, berapa jauh jarak menuju
Tougenkyou?"
Kurumi-sama bertanya dengan senyum malaikatnya. Karena
saat ini dia berwujud wanita, mungkin lebih tepat disebut senyum bidadari.
Mendengar itu, Yuki-san membuka mulutnya sambil mengingat
informasi dari ninja tadi.
"Kira-kira tiga hari perjalanan kaki di dalam
pegunungan. Katanya pintu masuknya tersembunyi dengan sangat cerdik, dan
merupakan tempat yang tidak bisa dicapai kecuali melewati sebuah gua."
Yuki-san menjelaskan kalau gua itu penuh dengan jebakan
yang letaknya berubah setiap hari.
Tanpa bantuan ninja dari dalam, bahkan ninja yang kami
tangkap pun tidak akan bisa sampai ke sana.
Tapi bagi Kurumi-sama, melucuti jebakan itu pasti hal
yang mudah.
"Kenapa harus lewat gua untuk masuk? Kalau di sana
ditumbuhi pohon persik, berarti itu tempat yang terjangkau sinar matahari,
kan?"
"Selain dikelilingi tebing curam di segala sisi,
katanya kalau mencoba memanjat, akan ada burung raksasa yang menyerang. Mungkin
setara peringkat A. Kalau dalam kondisi biasa aku bisa menang, tapi
kalau sedang panjat tebing tentu sulit, kan?"
"Tebing curam?"
"Di segala sisi?"
Aku dan Kurumi-sama saling berpandangan, lalu memberikan
sebuah usulan kepada Yuki-san.
◆◇◆
"……Masih belum ketemu juga?"
"Benar, Pemimpin. Bukan hanya 'Rumput' yang menyusup
di kota-kota sekitar, tapi total seratus dua puluh Genin dan Chunin
di sekitar desa juga sedang mencari, namun sosok mereka tidak ditemukan."
Di sebuah kediaman ninja di Tougenkyou. Aku, Kaede,
menundukkan kepala kepada kakakku sekaligus pemimpin kami, Hiiragi.
Kuruto Rockhans, Yurishia Elements, Liselotte
Homuros—bukan, sekarang dia cuma Lise ya?
Mereka yang sedang mengincar desa ini.
Mereka menggunakan nama Kurumi, Yuki, dan Rie untuk
mengejar Danzou dan Misuzu-sama.
Aku mendapatkan informasi itu tepat dua minggu lalu saat
aku baru kembali ke negara ini.
Dan baru tiga hari yang lalu, ninja yang mencoba
menangkap mereka justru berbalik ditangkap, disekap di sebuah kediaman, dan
kondisinya tidak diketahui.
Informasi kami pasti sudah dicuri, dan untuk menghindari
kebocoran informasi lebih lanjut, kami mengubah taktik menjadi pengawasan jarak
jauh... namun mereka langsung menghilang tanpa jejak.
Tapi aku tidak terkejut. Kabarnya Lise memiliki kekuatan
misterius yang bisa mengubah wujudnya dengan bebas.
Dengan kekuatan yang setara dengan ninjutsu kami itu,
melarikan diri dari pengawasan adalah hal mudah.
Namun kekuatan itu tidak bisa digunakan dalam waktu lama.
Karena tujuan mereka adalah tempat ini, mereka pasti akan
segera ditemukan.
Begitulah pikirku... tapi sampai sekarang informasi belum
juga masuk. Normalnya, mustahil melewati gua yang menghubungkan Tougenkyou
dengan dunia luar.
Tapi Kuruto Rockhans adalah pemuda yang ditunjuk langsung
oleh Rikuto Kokolukka—Tuan Valhalla yang disebut sebagai Atelier Meister jenius
sepanjang masa—sebagai perwakilan Atelier Meister.
Meskipun aku tidak bisa melacak identitas asli Rikuto
Kokolukka, kudengar Kuruto juga memiliki bakat luar biasa dalam hal selain
pertarungan.
Kekuatannya tidak boleh diremehkan, mungkin saja dia bisa
menerobos gua sambil melucuti jebakan.
Namun, kalaupun mereka bisa melewati gua, di baliknya ada
tiga puluh Jonin berpengalaman yang sudah menunggu.
Kemampuan mereka memang di bawahku, tapi mereka tidak
akan kalah dari Phantom, pasukan intelijen Kerajaan Homuros.
Menembus barisan pengepungan mereka untuk sampai ke sini
adalah hal yang mustahil.
Meskipun begitu, entah kenapa Kakak terlihat sangat tidak
tenang.
"Apakah Kakak berpikir mereka bertiga akan sampai ke
sini?"
"Ya... hanya firasat. Melihat gelagat Danzou,
sepertinya ada yang dia sembunyikan."
"Danzou? Tapi bukankah sekarang dia sedang
mendampingi Misuzu-sama untuk persiapan ritual, jadi dia tidak tahu informasi
apa pun tentang kita?"
Tepat saat aku berkata begitu.
"Tadi Anda bilang Danzou-san sedang bersama
Mire-san ya?!"
Suara itu tiba-tiba terdengar. Seketika, papan lantai
terlepas, dan dari sana muncul Kurumi—Kuruto Rockhans.
"Apa?!"
Aku terlambat bereaksi karena kejadian yang mendadak,
namun Kakak bergerak cepat dan mengarahkan katananya ke arah Kuruto.
Tapi, pedang Yurishia menahan serangan itu.
"Kami datang untuk bicara. Bisa tolong jangan
todongkan benda berbahaya itu?"
Aku mengabaikan kata-kata itu dan bertanya.
"Dari mana kalian masuk ke desa ini?! Penjaga gua
yang merupakan satu-satunya jalan masuk tidak melaporkan adanya penyusup."
Jika ingin masuk dari langit, arus udara di atas desa ini
tidak stabil, jadi kendaraan bernama pesawat yang dinaiki Danzou tidak bisa
digunakan. Jalan pegunungan pun sangat terjal, mustahil menyusup dengan
berjalan kaki.
"Kurumi kami ini, kalau kedelapan arah jalan
ditutup, dia suka mencari jalan kesembilan. Dulu dia pernah terbang di
langit."
"Aku menggali tanah dari kota sampai ke sini."
Ucap pemuda itu dengan santainya menanggapi perkataan Yurishia.
Menggali tanah?!
Tunggu, jarak dari kota sampai ke Tougenkyou ini paling
sedikit tiga ri—artinya dua belas kilometer garis lurus?!
Dia membuat terowongan sejauh itu?!
◆◇◆
Aku, Yurishia, sepertinya benar-benar sampai di
tengah-tengah markas musuh.
Aku mendengarkan pembicaraan mereka dari bawah tanah
tadi.
Pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan rambut
hitam dan luka besar di mata itu adalah Hiiragi... pemimpin para ninja.
Di depannya, ada wanita berambut hitam yang sedikit lebih
tua dariku, seumuran dengan Danzou. D
ia pasti Kaede, wanita yang berniat menangkap kami tadi.
"Kaede, apakah mereka orangnya?"
Di saat para ninja terkejut dengan kemunculan kami, hanya
Hiiragi yang tetap tenang bertanya pada Kaede, namun Kaede tidak menjawab.
Aku melihat wajahnya untuk memastikan apakah dia sangat
terkejut, tapi entah kenapa pipinya malah merona merah.
"Kaede."
"I-Iya! Nona itu, tidak, pemuda itu adalah Kuruto
Rockhans. Dan ini Yurishia Elements, serta mantan Liselotte Homuros."
Jadi mereka sudah tahu kalau Lise membuang status
bangsawannya.
Mereka benar-benar sudah menyelidiki banyak hal
tentang kami.
"Begitu ya. Berhasil menyusup sampai ke dalam
desa ini... dalam seribu dua ratus dua puluh tahun sejarah ninja, ini adalah
yang pertama kalinya. Seseorang, bawakan teh untuk tamu kita."
Hiiragi menyarungkan katananya lalu memberikan perintah.
Aku sempat mengira dia bercanda, tapi ninja yang
berdiri di dekat dinding mengangguk dan keluar ruangan.
"Anda sangat tenang ya? Apa tehnya akan dicampur
obat pelumpuh?"
Ucap Lise, namun Hiiragi menggelengkan kepala.
"Tadi kalian bilang datang untuk bicara, dan
kalian tidak berniat membawa kembali Misuzu-dono dan Danzou secara paksa, kan?
Kalau begitu aku pikir ada ruang untuk berdiskusi. Bagi kami, tidak, bagi
Negeri Yamato, bermusuhan dengan kalian bukanlah langkah yang
menguntungkan—terutama dengan Anda, Yurishia-dono."
"Eh? Aku?"
Kalau Lise aku paham. Meskipun sudah membuang statusnya,
dia adalah putri ketiga Kerajaan Homuros.
Karena Negeri Yamato menutup diri, hanya sedikit negara
yang menjalin perdagangan dengan mereka.
Kerajaan Homuros
dan Kekaisaran Gurumaku adalah salah satunya, wajar jika mereka tidak ingin
merusak hubungan pertemanan dengan Lise. Tapi aku?
"Yurishia-dono, Anda adalah sepupu dari Loretta
Elements, penguasa Pulau Isisesma yang tergabung dalam Federasi Kota Kepulauan
Kosquito, bukan?"
Mereka bahkan menyelidiki soal aku. Padahal aku tidak
berniat menyebarkannya, tapi seperti yang diharapkan dari agen intelijen
Yamato.
"Dan Federasi Kota Kepulauan Kosquito telah berhasil
mengembangkan kendaraan baru, kapal udara (airship). Keberadaannya akan
mengubah peta jalur perdagangan dunia. Menjadikan negara itu musuh berarti akan
tertinggal dari dunia yang akan terlahir kembali."
Ternyata dia melihat segala hal dari sudut pandang yang
sangat luas.
Ada banyak orang yang memiliki pemikiran seperti itu.
Di Kerajaan Homuros dan Kekaisaran Gurumaku pun, pendapat
untuk memperkuat ikatan dengan Federasi Kosquito semakin meningkat.
Sepertinya para ninja ini masuk lebih dalam ke pusat
pemerintahan negara daripada yang kubayangkan.
Sambil berpikir begitu, teh pun dihidangkan. Teh
berwarna kemerahan—teh hitam?
"Bagi kalian dari negara barat, ini pasti lebih
cocok, kan? Susu memang tidak ada, tapi kami menyediakan gula."
Ucapnya sambil menyodorkan wadah berisi gula merah.
Aku benar-benar bersyukur sudah berlatih meminum teh
selain seduhan Kuruto seminggu sekali.
Sambil berpikir begitu dari lubuk hati terdalam, aku
meminum teh itu terlebih dahulu.
"Ini... enak ya."
Memang masih jauh jika dibandingkan dengan teh seduhan Kuruto,
tapi ini enak.
Sudah lama sekali aku tidak merasa teh seduhan orang
selain Kuruto itu enak.
Sepertinya tidak ada racunnya juga.
Yah, seandainya ada racun yang bereaksi lambat pun, aku
bisa segera minum penawar racun buatan Kuruto begitu gejalanya muncul.
"Wah, benar sekali." "Enak. Rasanya
seperti ada sesuatu yang akrab."
Kuruto dan Lise juga meminum tehnya dan memberikan kesan
yang sama denganku.
"Ini adalah teh yang diseduh dengan metode
turun-temurun di desa ninja. Kebanggaan penduduk desa kami."
Hiiragi tersenyum tipis. Atmosfernya membuatku hampir
lengah, tapi aku tidak boleh menurunkan kewaspadaan.
"Bisakah kami bertemu dengan Mire-san dan
Danzou-san?"
"Saat ini sedang dalam proses persiapan ritual, jadi
hal itu tidak bisa dikabulkan. Tapi begitu persiapan selesai, aku akan
menyiapkan kesempatannya."
"Ritual apa yang Anda maksud?"
"Sesuatu yang berkaitan dengan fondasi Negeri
Yamato. Aku tidak bisa menceritakannya. Alasan Danzou membawa pergi Misuzu-sama
secara diam-diam pun karena dia tidak bisa menjelaskan situasinya."
Hiiragi menjelaskan hal itu sambil meminum tehnya.
"Tapi, kalian pasti tidak akan puas dengan jawaban
itu. Kalau begitu, malam ini juga aku akan mempertemukan kalian dengan Danzou.
Kalian mungkin tidak mempercayai kami, tapi kalian masih mempercayai Danzou,
kan?"
Kuruto mengangguk tanpa ragu sedikit pun.
"Kalau begitu, aku akan mengaturnya. Masalah
Misuzu-sama akan memakan waktu beberapa hari. Selama itu, silakan kalian
tinggal di desa ini. Ah, aku juga akan memerintahkan penarikan poster buronan
yang sudah tersebar di luar desa."
Mendengar perkataan Hiiragi, kami hanya bisa
mengangguk.
Sikapnya benar-benar jauh berbeda dari dugaanku. Aku
sempat mengira kami akan diusir secara paksa, tapi...
Jika diingat kembali, mereka memang tidak pernah mencoba
membunuh kami.
Poster buronan itu pun hanya memerintahkan penangkapan
hidup-hidup. Bahkan ada catatan yang melarang kami dilukai, dan saat mereka
mencoba menidurkan kami dengan gas di kediaman tadi, Kuruto sudah memeriksa
kandungan obatnya dan memastikan tidak ada efek samping yang tersisa.
Aku sadar mereka sangat memperhatikan keselamatan kami.
Meski belum tahu apakah mereka bisa dipercaya sepenuhnya,
setidaknya kami tidak akan dibunuh.
Tapi, apa tidak apa-apa jika kami hanya diam menunggu
tanpa melakukan tindakan apa pun seperti ini?
"Ada satu hal yang mengganjal di benakku, bolehkah
aku bertanya?"
Lise
angkat bicara.
Apa dia
punya rencana bagus?
Kira-kira
begitu pikirku, namun dia justru berdiri dan menunjuk lurus—bukan ke arah
Hiiragi, melainkan Kaede.
"Kamu, sejak tadi terus melirik ke arah Kurumi-sama.
Apa kamu sedang merencanakan sesuatu yang buruk?"
"T-Tidak, bukan begitu!"
"Jujur saja!"
Mendengar gertakan itu, Kaede terdiam seribu bahasa.
Ia kemudian merogoh pinggangnya dan mengeluarkan sebuah amplop kecil—
"Tolong lihat tanpa mengeluarkan isinya. Dengan begitu Anda akan mengerti."
Ia mengatakannya seolah telah menyerah. Tapi, apa bisa
mengerti tanpa melihat isinya?
Dengan
wajah curiga, Lise menerima amplop tersebut.
Seketika,
ekspresi Lise berubah seolah menyadari sesuatu, lalu ia mengintip ke dalam.
Dan kemudian—
"Jadi itu alasannya. Kalau begitu, tidak masalah.
Tapi, aku tidak mengizinkanmu menyentuhnya secara langsung, ya?"
Ucapnya sambil mengembalikan amplop tersebut.
Apa sebenarnya isi di dalamnya sampai Lise bisa langsung
luluh dalam sekejap?
"Lise-san,
apa isi di dalam amplop itu?"
"Bukti kalau untuk saat ini, dia bukan musuh
kita."
"…………?"
Apa itu sesuatu yang bahkan tidak bisa diberitahukan
kepada Kuruto?
Yah, aku tidak merasa Lise akan berbohong soal hal yang
berpotensi membahayakan Kuruto, jadi aku akan memercayainya.
Karena poster buronannya akan ditarik, sepertinya
tidak perlu menyamar lagi.
"Kaede, antarkan para tamu ke kediaman tamu.
Semuanya, aku akan menyuruh Danzou pergi ke kediaman kalian nanti malam."
"Baik, dimengerti. Semuanya, silakan lewat sini. Ah,
lalu, lain kali jika datang ke sini, tolong lepas sepatu kalian sebelum
masuk."
Aku baru menyadari kalau sejak tadi kami menginjak lantai
kayu dengan alas kaki kotor.
Sambil berjalan di dalam desa setelah keluar dari
bangunan, Kuruto bertanya pada Kaede.
"Kaede-san, apa di desa ini memang ada kediaman
khusus untuk tamu?"
"Iya. Karena pejabat pusat beberapa kali berkunjung
dalam setahun. Kebersihannya pun selalu terjaga. Kalian bisa beristirahat
dengan tenang di sana untuk sementara waktu."
Kediaman ya.
"Aku ingin segera kembali ke pakaian biasaku.
Rasanya pakaian ini membuat orang-orang di sekitar terus memperhatikan."
Ucapku sambil melepas kalung pengubah suara dan kembali
ke suara asliku.
"Penampilan Yuki-san sangat keren, lho. Para wanita
pasti tidak akan membiarkanmu begitu saja."
"Kenyataannya, aku memang beberapa kali diajak
bicara oleh wanita sejak sampai di desa ini..."
"Bagaimana kalau kamu terus memakai wujud itu saja?
Kamu pasti akan sangat populer, lho."
Lise, jangan bercanda soal itu. Aku benar-benar tidak
mau.
"Aku lebih suka Yurishia-san yang biasanya.
Pakaian itu benar-benar lebih cocok untukmu."
Kuruto, jangan mengatakan hal sejujur itu.
Aku jadi agak malu, kan.
"Tapi, desa yang tenang ya. Ternyata
ada hutan juga di sini."
Karena tempat ini dikelilingi tebing curam, aku sempat
mengira ini adalah lahan sempit di dalam gua yang tidak terjangkau sinar
matahari... tapi ternyata cukup luas, ada sungai yang mengalir, dan di kejauhan
samar-samar terlihat sesuatu yang menyerupai air terjun.
Apalagi ini adalah desa tempat berkumpulnya ninja—para
agen intelijen—tadinya kukira akan ada bangunan-bangunan yang mencurigakan,
tapi sejauh mata memandang hanya ada rumah penduduk biasa.
Mungkin daerah ini akan tertutup salju tebal saat musim
dingin, karena atap rumah-rumahnya dibuat miring dan berbahan jerami.
Selain itu, ada beberapa petak sawah di dalam desa, dan
aku bisa mendengar suara katak yang bernyanyi.
"Alamnya sangat kaya ya. Di sana juga terlihat ada
hutan."
"Tolong
jangan mendekati hutan yang itu. Di sana muncul monster bernama Jinmenju (Pohon
Berwajah Manusia). Itu adalah monster yang sangat merepotkan."
Mendengar
peringatan Kaede kepada Kuruto, aku membelalakkan mata.
"Ada monster di dalam desa?"
Meski tidak bisa dibilang sempit, tapi lahan ini juga
tidak luas.
Para ninja seharusnya cukup kuat, jadi meskipun
lawannya monster yang merepotkan, rasanya mereka bisa membasminya jika memang
niat.
"Ada alasan yang cukup rumit di baliknya."
Bicara
soal Jinmenju, itu adalah salah satu jenis Trent.
Hanya
saja, berbeda dengan Trent biasa, mereka bisa menggunakan semacam sihir
kutukan.
Yah,
dengan kekuatan Kuruto, rasanya dia bisa menumbangkan monster itu dalam
sekejap.
Dalam
hal kemampuan bertarung, Kuruto memang sangat lemah dengan peringkat G,
tapi melawan Golem dia punya kemampuan Mining peringkat SSS, dan
melawan Trent dia bisa mendominasi dengan kemampuan Logging peringkat SSS.
Kalau
diingat-ingat, saat kami melawan Trent dulu, Kuruto juga sedang berpakaian
wanita dan aku berpakaian pria seperti sekarang.
"Kaede-sama! Halo!"
"Kaede-sama, apa mereka ini tamu?"
Dua anak laki-laki kecil berusia sekitar tujuh tahun
berlari mendekat. Wajah mereka identik, sepertinya mereka kembar.
"Iya. Mereka adalah tamu yang akan tinggal di desa
ini untuk sementara waktu. Futa,
Raita, kalian sedang apa?"
"Latihan
Wind Release!"
"Latihan
Lightning Release!"
Fuuton? Raiton?
"Kaede-san, apa yang dimaksud dengan Fuuton dan
Raiton itu?" tanya Kuruto.
"Itu adalah salah satu jenis Ninjutsu. Fuuton adalah
teknik ninja untuk menciptakan angin, dan Raiton untuk menciptakan petir."
"Ninjutsu—aku sudah pernah mendengar rumornya, tapi
itu berbeda dengan sihir, kan?"
"Mirip, tapi berbeda. Sama sekali tidak menggunakan
Mana. Biar aku tunjukkan sekali—Teknik Wind Release!"
Kaede berkata demikian sambil melemparkan beberapa jepit
rambut kecil yang ia kenakan layaknya pisau lempar. Seketika, pusaran angin
puyuh muncul tepat di tempat jepit rambut itu menancap.
"Inilah teknik Wind Release."
Luar biasa, jadi ini yang namanya Ninjutsu.
Jika para ninja yang menyerang kami di kediaman tadi
menggunakan metode serangan langsung dengan Ninjutsu alih-alih taktik licik,
mungkin hasilnya akan berbeda.
"Aku sama sekali tidak merasakan aliran Mana. Ini benar-benar bukan sihir ya," ucap Lise.
Ya, ini lebih terasa seperti—
"(Yurishia-san, jangan-jangan ini adalah
Skill?)" bisik Kuruto dengan suara yang hanya bisa kudengar.
Aku pun berpikir demikian.
Aina yang kutemui di Dunia Lama menggunakan Skill bernama
Flame Spear, di mana dia menyalurkan kekuatan api ke tombaknya.
Bukankah teknik Wind Release ini juga merupakan
Skill yang menyalurkan kekuatan angin ke jepit rambut?
Tapi Kaede maupun anak-anak bernama Futa dan Raita itu
tidak memakai gelang seperti orang-orang di Dunia Lama.
Lagipula, batu ajaib yang dibutuhkan untuk menggunakan
Skill seharusnya tidak ada di dunia ini.
"Apa teknik Ninjutsu itu bisa kugunakan juga?"
"Maaf, aku tidak bisa membenarkan maupun membantah.
Ini adalah rahasia klan ninja, jadi meski aku bisa memperlihatkannya, aku tidak
bisa mengajarkannya secara mendetail."
Katanya jika sampai rahasianya bocor, orang itu tidak
akan diizinkan keluar dari desa.
Artinya, bertanya soal Skill juga akan berbahaya.
Seandainya wujud asli Ninjutsu memanglah Skill dan mereka
tahu kalau kami menyadarinya, kami mungkin akan diusir dari desa.
Sebaiknya aku bersikap tenang saja di sini.
Baru saja berpikir begitu—
"Kakak cantik sekali! Boleh juga nih kujadikan
istri!"
Si bocah bernama Raita itu mulai menggoda Kuruto... atau
lebih tepatnya Kurumi.
Rasanya ingin kupukul saja.
"Hei bocah, apa kamu sudah menyiapkan surat wasiat?
Setelah aku membunuhmu, surat itu akan kurobek-robek sampai hancur."
"Jangan memberikan ancaman pembunuhan dengan
ekspresi datar begitu!"
Aku memukul Lise sebelum dia sempat memukul bocah
itu.
"Dengar ya, meski aku memakai baju begini, aku
ini laki-laki, lho."
"Di desa ninja hal seperti itu sudah biasa! Aku saja
sebenarnya perempuan, lho," sahut Raita.
"Eh?"
Nama-nama di Negeri Yamato memang unik jadi agak sulit
dibedakan, tapi Raita itu nama laki-laki, kan? Aku menatap Futa yang ada di
sebelahnya.
"Aku laki-laki. Di desa ninja, semua orang dilatih
menyamar menjadi pria maupun wanita untuk misi intelijen. Bahkan ada ninja yang
berperan sebagai suami istri dengan menyamar begitu, lho."
"Jadi, Anda menggodanya setelah tahu kalau Kuruto-sama
adalah laki-laki? Membunuhmu sekali saja sepertinya tidak akan cukup."
"Kubilang tenanglah. Cukup pukul sekali saja."
"Raita! Jangan mengganggu Kurumi-chan!"
Sebelum kami bertindak, Kaede sudah lebih dulu memukul
kepala Raita.
"Aduh, cuma bercanda kok," ucap Raita sambil
menjulurkan lidahnya setengah tertawa.
...? Aneh, rasanya tadi ada sesuatu yang mengganjal.
Dengan berbagai tanda tanya yang tersisa, kami
meninggalkan tempat itu dan segera sampai di kediaman tamu.
"Silakan masuk setelah melepas sepatu."
Setelah melakukan perjalanan di Negeri Yamato selama
beberapa minggu, setidaknya kami sudah paham budaya melepas alas kaki di dalam
rumah.
Kami berjalan menyusuri lorong berlantai kayu.
"Lorong ini suaranya nyaring sekali ya."
"Mungkin memang dibuat agar orang di sekitar sadar
kalau ada yang lewat," balas Kuruto menanggapi kesan Lise.
Heh, seperti yang diharapkan dari kediaman ninja. Padahal
katanya selama seribu tahun tidak pernah ada penyusup yang masuk, tapi
pertahanan terhadap penyusup tetap dipersiapkan dengan matang.
Yah, karena ini kediaman untuk orang penting, mungkin
memang perlu. Namun, Kaede justru menggelengkan kepala.
"Ini adalah langkah pencegahan karena ada orang yang
suka diam-diam menyelinap keluar untuk mencari rahasia desa."
Ternyata kebalikannya. Bukan untuk mencegah pembunuh yang
mengincar orang penting, tapi untuk mengawasi orang penting itu sendiri.
"Silakan gunakan ruangan ini. Dua orang pengawal
boleh menggunakan ruangan di sebelah dengan bebas. Namun, tolong jangan
menyelinap ke ruang bawah atap."
Dia bahkan memperhatikan para Phantom yang mengikuti kami
sambil menyembunyikan hawa keberadaan mereka. Padahal kalau aku tidak fokus,
aku pun sering melupakan keberadaan mereka.
"Jika Anda membutuhkan sesuatu, silakan bunyikan
lonceng ini. Kami akan segera datang. Tolong lakukan hal yang sama jika Anda
ingin keluar rumah."
Kaede menambahkan bahwa ia akan membawakan makan malam
setelah siap, lalu pergi meninggalkan kami.
Karena Kuruto pergi ke ruangan dalam untuk berganti
pakaian, aku pun kembali melepas penyamaranku. Aku menggunakan obat penumbuh
rambut pemberian Kuruto untuk memanjangkan rambutku, dan kembali memakai
pakaian wanita.
Tentu saja, lilitan kain di dadaku juga kulepas. Rasanya
sangat lega karena dadaku tidak lagi terasa tertekan. Lise juga mengembalikan
warna rambutnya ke semula.
"Jadi, Lise. Kamu mau menjelaskannya, kan?"
"Menjelaskan soal apa?"
"Alasan kenapa kamu memercayai Kaede. Apa yang
sebenarnya ada di dalam amplop itu?"
Meski kecil kemungkinan, aku harus memastikan kalau di
dalam amplop itu tidak ada alat sihir untuk mencuci otak Lise.
"Yang ada di dalam amplop itu adalah kartu
anggota."
"Kartu anggota?"
"Iya, kartu anggota Klub Penggemar
Kurumi-chan."
"…………Apa?"
Klub Penggemar Kurumi-chan adalah organisasi yang
diketuai oleh Lise untuk memuja Kuruto yang sedang berpakaian wanita.
Jumlah anggotanya aku sendiri tidak tahu pasti, tapi
kabarnya mencapai ratusan atau bahkan ribuan.
Beberapa bulan sekali, mereka menerbitkan buletin khusus
anggota—yang sejujurnya, aku pun selalu menantikannya—tapi ternyata Kaede juga
anggota klub itu?
"Tapi, apa hanya dengan itu dia bisa
dipercaya?"
"Tentu saja. Seleksi masuk Klub Penggemar
Kurumi-chan itu sangat ketat, lho."
"Aku rasa sistemnya lemah kalau ninja yang
identitasnya tidak jelas bisa masuk."
"Kami menggunakan alat sihir pendeteksi kebohongan
untuk memastikan cinta mereka pada Kurumi-chan, sekaligus melakukan tes mental
agar cinta itu tidak menjadi obsesi yang liar."
"Bukannya kamu sebagai ketua adalah yang paling
liar...? Lalu, apa alat sihir pendeteksi kebohongan itu benar-benar
akurat?"
Aku tahu beberapa alat sihir pendeteksi kebohongan, tapi
tingkat kepercayaannya tidak pernah benar-benar tinggi.
Kriterianya biasanya hanya berdasarkan keringat di tangan
atau perubahan denyut nadi, hal yang bisa dimanipulasi dengan sedikit latihan.
Kenyataannya, Mimiko pernah memberitahuku bahwa salah
satu latihan Phantom adalah cara menipu alat pendeteksi kebohongan.
Ada kemungkinan besar ninja juga menjalani latihan
serupa. Dalam kondisi terburuk, seseorang bahkan bisa menipu
tanpa
berbohong jika menggunakan sugesti diri.
"Alat pendeteksi kebohongan itu dibuat oleh Kuruto-sama."
"Ah, berarti itu asli."
Akurasi seratus persen sudah pasti terjamin. Alat buatan Kuruto
pasti mustahil ditipu meskipun menggunakan sugesti diri.
"Maaf membuat kalian menunggu."
Selagi kami mengobrol, Kuruto kembali. Dia sudah memakai
pakaian pria dan rambutnya kembali ke panjang semula.
Aku merasa lega melihat penampilan biasanya, tapi di sisi
lain ada sedikit rasa sepi.
"Sepertinya kita bisa bernapas lega untuk saat ini.
Jika kita bertemu Danzou-san, semuanya pasti akan selesai," ucap Kuruto
optimis.
Namun, belum tentu perkataan Hiiragi tadi adalah
kebenaran. Apa benar Danzou akan datang ke sini?
"Tadi seharusnya aku mengetes Hiiragi dengan
alat pendeteksi kebohongan ya."
"Alat buatan Kuruto-sama membutuhkan persetujuan
target saat digunakan, dan persiapannya cukup rumit, jadi sulit dipakai di
situasi tadi. Lagipula, itu alat sihir berukuran besar, jadi kami tidak
membawanya."
"Begitu ya, Kuruto?"
"Iya. Lagipula, aku tidak terlalu suka alat
pendeteksi kebohongan. Memang berbohong itu tidak baik, tapi aku rasa ada yang
namanya kebohongan demi kebaikan. Kebohongan tulus yang digunakan untuk menjaga
perasaan orang lain. Kalau kita bisa mendeteksi sampai ke hal semacam itu,
rasanya jadi menyedihkan, kan?" ucap Kuruto.
Dia benar-benar baik ya. Lagipula, jika Kuruto terbiasa
menggunakan alat itu dalam keseharian, rahasia kami yang menyembunyikan
kemampuan aslinya pun akan terbongkar, jadi ini juga membantuku.
"Anu, semuanya. Bagaimana kalau kita mandi? Katanya
di kediaman ini ada sumber air panas (Onsen)."
"Onsen! Ah, tentu saja! Kuruto-sama juga harus
ikut—"
"Di desa ini pemandiannya dipisah antara pria dan
wanita, Lise-san."
Onsen ya. Kami memang sudah berjalan cukup lama di
terowongan yang digali Kuruto, tapi—
"Kalau pemandian campur mungkin oke, tapi membiarkan
Kuruto mandi sendirian itu..."
"Ah, benar juga. Maaf, aku terlalu lega sampai agak
lengah."
Belum bisa dipastikan apakah ninja-ninja ini benar-benar
pihak kawan. Aku ingin mandi, tapi merasa tidak enak jika harus membiarkan Kuruto
menahan diri.
"Baiklah, aku sudah putuskan."
Aku membunyikan lonceng. Seketika, Kaede muncul.
"Aku tidak menyangka akan dipanggil secepat ini. Ada
keperluan apa?"
"Kami ingin mandi di Onsen, tapi kami tidak bisa
membiarkan Kuruto mandi sendirian. Cukup satu jam saja. Bisakah kami menyewa
Onsen itu secara pribadi?"
"Kebetulan saat ini adalah waktu pembersihan.
Menyewanya secara pribadi itu memungkinkan, tapi... apa kalian bertiga akan
masuk bersama?"
"Anu, kalau aku dan mereka berdua mandi bersama itu
rasanya agak..."
"Bukannya ini bukan pertama kalinya?"
Kami pernah mandi bersama di kota wilayah Lord Tycoon.
Saat itu Akuri tiba-tiba muncul di tengah pemandian kami menggunakan sihir
teleportasi. Lalu di penginapan air panas... ah, saat itu Kuruto-nya palsu ya.
"Etto... itu kan kecelakaan..." balas Kuruto
panik membela diri.
Sepertinya aku terlalu menggodanya.
"Hanya bercanda kok. Kaede, apa ada baju renang atau
semacamnya?"
Kalau tidak ada, aku tinggal minta Kuruto membuatkannya. Mendengar itu, Kuruto tampak lega.
"Jika begitu masalahnya, kami punya pakaian dari
kain tahan air tinggi yang biasa digunakan saat latihan di air. Aku akan
menyiapkannya. Untuk sekalian mengawasi, aku juga akan ikut masuk, tidak
keberatan kan?"
Kami memakai baju renang pemberian Kaede di bawah pakaian
kami di dalam kamar, lalu menuju Onsen.
Kuruto terlihat agak malu, tapi sejujurnya aku pun
merasakan hal yang sama. Meskipun memakai baju renang, mandi bersama Kuruto
yang "terbuka" tetap terasa mendebarkan.
Aku tidak tahu apakah Onsen yang disiapkan itu pemandian
pria atau wanita, tapi kami sampai di sana. Para Phantom pasti sedang mengawasi
dari suatu tempat.
Kuruto mulai memegang lengan bajunya. Aku refleks menahan
napas.
Pakaian Kuruto sedikit terangkat hingga pusarnya
terlihat, aku pun segera membuang muka—dan Lise yang sedang menatap Kuruto
tanpa berkedip masuk ke dalam pandanganku.
Dia benar-benar melotot sampai lupa berkedip.
Ternyata manusia, kalau melihat seseorang dengan perasaan
mesum, justru tidak menunjukkan wajah kegirangan atau memerah, tapi malah
memasang ekspresi datar tanpa jiwa seperti itu ya.
Apa penampilanku saat menatap Kuruto tadi seperti
itu—sebelum menyalahkan Lise, aku jadi merasa malu pada diriku sendiri.
"Ayo,
Lise. Cepat lepas bajumu. Kalau Kuruto sampai masuk angin karena
menunggumu, bagaimana?"
"A-Ah, iya! Benar sekali!"
Kami pun melepas pakaian dan menyisakan baju renang.
Tidak boleh terlalu dipikirkan. Mari bersikap biasa saja. Berpikir begitu, aku
menoleh ke arah Kuruto—
"……Hei, Kuruto."
"Ada apa, Yurishia-san?"
"Bukannya itu baju renang wanita?"
"Tadi aku sudah memastikannya pada Kaede-san saat
menerima ini, katanya di Negeri Yamato ini adalah hal yang biasa, lho?"
Mana mungkin begitu, bodoh!
Kaede si kurang ajar itu, karena terlalu suka pada Kuruto
versi wanita, dia sengaja memberikan baju renang wanita!
...Aku kesal karena tidak bisa marah saking baju itu
terlihat sangat cocok untuknya.
Tapi, kenapa baju renangnya bisa lebih lucu daripada
milik kami?
Dan sepertinya, baju itu lebih pantas dipakai dia
daripada aku.
"Yurishia-san dan Lise-san juga sangat cocok
memakainya, kok."
"A-Ah, terima kasih."
"Terima kasih banyak, Kuruto-sama."
"Terima kasih."
...Entah kenapa, Kaede yang tidak dipuji justru terlihat
paling berterima kasih.
Tidak ada perasaan mesum di matanya, wajahnya terlihat
sangat tenang seolah baru saja bertemu tuhan dan disucikan oleh cahayanya.
Benar, dia mungkin tidak berniat membahayakan Kuruto,
tapi dia berbahaya dalam arti yang lain.
Aku membawa pedang kesayanganku, Setsuka, dan Lise
membawa Kochou saat kami keluar dari ruang ganti menuju Onsen.
Selain untuk keamanan, pedang yang ditempa oleh Kuruto
ini tidak akan pernah berkarat meskipun dibawa masuk ke air panas atau
dibiarkan di pantai selama berminggu-minggu, jadi kami bisa membawanya dengan
tenang.
Onsen-nya adalah pemandian terbuka yang dikelilingi
dinding batu.
Aku masuk terlebih dahulu untuk memastikan keamanan.
Airnya berwarna putih susu dengan suhu yang pas.
Tidak ada tanda-tanda orang bersembunyi di dalam air.
"Sepertinya tidak ada masalah. Kalian boleh masuk.
Tapi, jangan menjauh dariku, ya."
Ucapku sambil menuntun Kuruto dan Lise masuk.
Maaf untuk Kaede, tapi aku memintanya menunggu di dekat
sana tanpa masuk ke air.
Meskipun dia penggemar Kurumi, dia tetaplah seorang
ninja.
"Onsen yang sangat nyaman ya, Kuruto-sama."
"Masuk bertiga begini memang agak malu, tapi rasanya
enak sekali."
Benar juga. Memang ada penginapan yang memiliki bak
mandi, tapi sudah lama sekali kami tidak mandi di tempat luas yang bisa membuat
kaki selonjoran seperti ini.
Terakhir mungkin saat di Atelier, di mana kami mandi
hampir setiap hari.
"Mulai terasa agak panas ya. Yuli-san, bagaimana
kalau kita ke bagian yang lebih dalam di sana?" usul Lise.
Bagian dalam yang ditunjuk Lise terlihat sedikit lebih
dangkal.
Begitu ya, kalau di sini airnya sampai ke bahu Kuruto
sehingga baju renang lucunya hampir tidak terlihat. Seperti biasa, usulannya
selalu berdasarkan insting, tapi—
"Ide bagus. Aku juga mulai merasa agak gerah."
Kuruto setuju, jadi kami pindah ke sana. Sekarang bagian
dada Kuruto mulai terlihat di atas permukaan air.
"A-Anu, Lise-san? Tolong jangan terus melihat ke
arahku."
"Memangnya kenapa? Kuruto-sama juga boleh kok
melihatku sepuas hati. Kalau mau, Anda boleh melepas baju renangku dan
melangkah lebih jauh..."
"Aku keberatan! E-Etto, hal seperti itu harusnya
dilakukan setelah menikah—"
"Menikah?! I-Iya, benar juga! Baiklah, kalau Kuruto-sama
bilang begitu, aku akan bersabar."
Wajah Lise yang memerah itu pasti bukan karena panasnya
air Onsen. Dia benar-benar polos di saat-saat seperti ini.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menemukan
sesuatu yang unik.
Dari posisi tadi tidak terlihat, tapi di ujung area
pemandian terbuka—tepat di bagian pembatas antara pemandian pria dan wanita—ada
sebuah pohon besar yang tumbuh di sana.
"Pohon yang unik. Tidak ada daunnya, tapi
bunga-bunga merah muda pucatnya bermekaran. Kaede, itu pohon apa?"
"Itu adalah pohon Sakura."
Kaede tidak bisa melihat pohon itu dari posisinya, tapi
dia seolah paham pohon mana yang kami maksud dari percakapan kami. Ia pun mulai
menjelaskan.
"Sakura?"
Kalau dipikir-pikir, aku pernah mendengarnya dari Kansu
dan yang lain.
Nama party mereka bertiga, Sakura, diambil dari nama
pohon yang berasal dari kampung halaman Danzou.
Ini pertama kalinya aku melihatnya, jadi itu yang namanya
pohon Sakura.
Tapi, tungu dulu.
"Bukannya Sakura hanya mekar di musim semi?"
"Sakura ini mekar sepanjang tahun dan tidak
pernah layu. Konon katanya, pohon ini sudah terus mekar sejak desa
ninja ini pertama kali didirikan."
"Bukankah kamu bilang desa ninja ini sudah ada sejak
lebih dari seribu dua ratus tahun yang lalu?"
Aku memang pernah mendengar tentang pohon raksasa yang
berusia ribuan tahun, tapi aku belum pernah mendengar ada pohon yang bunganya
terus mekar selama itu.
Dunia ini memang punya pohon-pohon yang ajaib.
"Jangan-jangan, asal-usul sebutan Togenkyo (Tanah
Firdaus) berasal dari sini?"
"Bukan, bukan. Pohon persik dan pohon sakura itu
berbeda. Saat musim semi, pohon-pohon persik di seluruh desa akan mekar dengan
indahnya, dari sanalah nama itu berasal. Datanglah berkunjung lagi saat itu...
tapi tolong lewat pintu masuk resmi bersama ninja pemandu, ya, jangan dari
bawah tanah lagi. Menimbun kembali terowongan bawah tanah itu cukup merepotkan,
lho."
Kaede mengatakannya sambil terus menatap Kuruto.
Padahal dia bicara hal serius dengan wajah yang serius
pula, tapi kelakuannya sama saja dengan Lise.
Tapi, pohon persik yang mekar di seluruh penjuru desa,
ya?
Di Atelier Valha juga tumbuh pohon persik bernama
Papamomo yang bunganya mekar cantik saat musimnya, jadi kalau pemandangan itu
ada di seluruh desa, pasti akan sangat luar biasa.
Jika sudah benar-benar terbukti kalau para ninja bukan
musuh, lain kali aku ingin mengajak Akuri, Kansu, Sina, dan semua orang di
Atelier untuk berwisata ke sini.
Atau mungkin untuk bulan madu—
"Tubuh kita sudah cukup hangat, bagaimana kalau kita
keluar sekarang?"
"Benar juga... aku ingin mendinginkan diri
sedikit."
Aku menyetujui perkataan Kuruto, seolah ingin
mendinginkan tubuhku yang terasa panas membara.
Makan malam pun dihidangkan.
Menunya didominasi oleh ikan dan sayuran gunung.
Untuk berjaga-jaga, aku meminum penawar racun terlebih
dahulu sebelum mulai makan.
"Ada kecap asin dan miso juga ya. Apa aku boleh
minta sampelnya untuk referensi? Sepertinya aku bisa membuat berbagai masakan
menarik dengan ini."
Kuruto makan dengan lahapnya.
Rasanya memang enak.
Meski masih kalah dari masakan Kuruto, tapi
masakan-masakan ini memang lezat.
Apakah para ninja tidak hanya ahli dalam teknik
pembunuhan, tapi juga mahir dalam urusan teh dan memasak?
Padahal awalnya aku waspada, tapi aku malah menghabiskan
semuanya sampai ke hidangan penutup.
Rasanya terlalu nyaman.
Berbahaya kalau musuh datang di saat seperti ini.
Tepat saat aku berpikir begitu, terdengar suara langkah
kaki yang mendekat.
Itu bukan langkah kaki Kaede.
Saat aku berdiri dan menyiagakan Setsuka, di saat yang
sama para Phantom masuk ke ruangan dari kamar sebelah.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan ruangan kami,
lalu pintu geser fusuma pun terbuka.
Sosok yang membukanya adalah—
"……Cuma kamu ya, Danzou."
Aku mengembuskan napas lega.
Sepertinya Hiiragi dan Kaede menepati janji mereka.
Namun tiba-tiba, Danzou berlutut dengan kedua kaki dan
bersujud dogeza di tempat.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Hamba
siap menerima hukuman apa pun."
"Danzou-san, tunggu dulu. Tolong angkat
kepalamu," ucap Kuruto.
"Tapi, hamba telah mengkhianati kalian semua yang
sudah berbaik hati, dan membawa pergi Mire-dono ke tempat ini. Hamba harus
menerima balasannya."
"Kalau kamu terus begitu, kita tidak bisa bicara,
kan? Pertama-tama, tolong jelaskan situasinya. Kami sudah tahu kalau kalian
sedang mencari penerus Kaisar negeri ini. Dan orang itu adalah Mire, kan?"
"……Jika kalian sudah tahu sejauh itu, sepertinya
tidak banyak yang perlu hamba jelaskan lagi. Lonceng
milik Mire-dono—benda itu identik dengan milik Kaisar. Hamba menceritakan hal
itu kepada Mire-dono dan membawanya kemari."
Danzou bilang dia yang "membawanya", tapi
kenyataannya Mire pasti yang ingin datang ke sini atas kemauannya sendiri.
Begitu tahu asal-usulnya ada di Yamato, dia pasti
ingin datang ke tempat ini bersama Danzou.
Kepada Danzou yang masih menunduk, Lise bertanya.
"Kenapa Mire-san yang merupakan penerus Kaisar
Negeri Yamato bisa berada di Dunia Lama?"
"Itu... hamba pun tidak tahu."
"Tentang ritual yang sedang Mire-san lakukan, apakah
tetap tidak bisa dijelaskan?"
"Ya…… Karena jika kalian tahu, kalian semua akan
diincar oleh para ninja."
Alasan kenapa Danzou diam-diam membawa Mire pergi,
ujung-ujungnya memang karena itu.
Rahasia ninja dan rahasia Yamato. Siapa pun yang
mengetahuinya akan dibunuh.
Bahkan seandainya Danzou tidak membawa Mire pergi, Kaede
tetap mengawasi kami, dan cepat atau lambat pasti akan ada yang menyadarinya.
Daripada membiarkan hal itu terjadi, lebih baik dia
sendiri yang melakukannya—
Dasar, pemikiran yang sangat khas Danzou.
"Lalu, Mire baik-baik saja, kan?"
"Beliau baik-baik saja. Beliau sedang mempersiapkan
ritual di balik hutan Jinmenju."
"Sebelum ritualnya selesai, apakah ada kemungkinan
kami akan diincar oleh para ninja lainnya?"
"Itu mustahil terjadi. Mire-dono juga dijadwalkan
akan datang ke sini segera setelah persiapan ritual selesai. Beliau menegaskan
tidak akan melaksanakan ritual jika terjadi sesuatu pada Kuruto-dono dan yang
lainnya. Hamba menjamin hal itu."
Mendengar perkataan Danzou, untuk saat ini aku merasa
tenang. Sepertinya tidak perlu berjaga sepanjang malam.
"Danzou-san, setelah semuanya selesai, tolong
minta maaf dengan benar kepada Kansu-san dan Sina-san, ya. Mereka sangat
mencemaskanmu."
"Benar. Bagaimanapun juga, kamu adalah pemimpin
dari party petualang Sakura."
"Ya. Hamba siap menerima apa pun yang mereka katakan
nanti."
"Soal apa yang akan mereka katakan, itu sudah pasti.
Mereka akan bilang: 'Selamat datang kembali'."
Mendengar ucapan Kuruto, mata Danzou sedikit
membelalak, lalu ia mengangguk.
"Ya, Kansu dan Sina pasti akan berkata
begitu."
Danzou tersenyum kecil.
Sepertinya lebih baik aku merahasiakan soal Sina yang
sempat terluka.
◆◇◆
"Kardinal Linoa! Terima kasih sudah bersedia
datang!"
"Gak usah kaku gitu lah. Biarpun Kardinal, ini cuma
jabatan formal, apalagi sekarang kamu sudah jadi Paus."
Saat aku—Bandana—mendatangi gereja yang merupakan pusat
Kekaisaran Polan, Alma, seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun yang
baru saja diangkat menjadi Paus, menyambutku.
Di sampingku, ada Akuri-sama dalam wujud kecilnya.
"Tidak, jika Kardinal Linoa tidak ada, entah saya
bisa keluar dari kehidupan kumuh atau tidak. Bahkan saya tidak tahu apakah saya
masih hidup atau tidak."
"Aku memungutmu karena kamu punya bakat, cuma itu
saja, kan?"
Alma adalah jenius sihir. Bakat sihirnya untuk atribut
Cahaya (Sihir Suci) dan atribut Life yang dibutuhkan untuk membuat ramuan
adalah peringkat SS.
Kapasitas Mana-nya pun sangat besar, meski tidak
sebanding dengan Kuruto atau penduduk Desa Haste.
Saat pertama kali bertemu, dia memimpin anak-anak di
pemukiman kumuh untuk mencuri demi menyambung hidup, tapi aku menggunakan
posisi Kardinal untuk mengambil mereka semua.
Lalu aku melatih Alma agar dia bisa membantuku di
dalam gereja.
Namun, dia bukanlah rekan dalam arti yang
sebenarnya—dia bukan murid Great Sage—jadi dia tidak tahu apa pun tentang
diriku maupun Akuri-sama.
Wajar jika dia merasa curiga karena penampilanku
tidak berubah sejak empat puluh tahun lalu saat kami bertemu, tapi alasan
kenapa dia begitu hebat adalah karena dia tidak pernah sekalipun menanyakan hal
itu.
"Alma, anak ini aku titipkan sebentar ya. Dia
pintar dan bukan anak nakal, jadi bolehkah dia masuk ke dalam?"
"Tentu saja. Jika Kardinal Linoa yang
mengatakannya, meskipun dia seorang kriminal atau iblis sekalipun, tidak akan
ada masalah."
"Eh, kalau yang itu ya harus jadi masalah,
dong?"
"Ohohohoho. Paus sebelumnya saja ternyata adalah
Raja Iblis yang merupakan musuh gereja, kan? Sekarang sudah tidak ada lagi hal
yang lebih bermasalah dari itu."
Sambil tersenyum kecut mendengar tawa Alma, aku
menuju ruang arsip.
"Dia orang yang sangat pengertian ya."
"Yah begitulah. Tapi dia cuma setia padaku saja.
Sebagai mantan pemimpin bocah nakal, dia itu wanita yang cukup licik. Kalau
tidak begitu, dia tidak mungkin bisa jadi Paus."
Sambil mengobrol, kami sampai di ruang arsip.
Hari ini yang akan kuselidiki adalah poin mengenai
hukuman bagi para tahanan.
Menurut data, Bibinokke telah dijatuhi hukuman kerja
paksa sebagai budak tambang.
Lokasi tambangnya adalah... Tambang Macramuria.
Aku belum pernah mendengar nama tambang itu, tapi ada
ratusan tambang di Kekaisaran Polan, dan urusan manajemen seperti itu bukan
pekerjaanku, jadi mau bagaimana lagi.
"Aku menemukan dokumen mengenai
tambangnya."
Akuri-sama membawa buku besar yang terikat rantai
dengan tubuh kecilnya dan meletakkannya di atas meja.
"Hei, Akuri-sama. Kapan kamu mau kembali ke wujud
dewasa? Bukannya lebih nyaman begitu?"
"Meskipun tidak diucapkan, Papa dan Mama
menginginkanku tetap dalam wujud kecil begini. Untuk sementara, aku akan
memakai wujud ini dan tumbuh sesuai usia."
"Akuri-sama, sekarang umurmu sudah berapa ribu
tahun?"
"Aku lebih muda darimu. Lagipula, di dokumen
kependudukan yang dibuat Mama Lise lewat Kakak Mimiko, aku masih anak kecil,
lho."
"Bukannya itu dokumen palsu ya?"
"Karena aku adalah Spirit, mana mungkin punya
dokumen asli. Lagipula identitasmu sendiri kan juga dokumen palsu yang
disiapkan oleh Paus."
"Yah, itu benar juga."
Aku tertawa, lalu melihat buku yang disodorkan
Akuri-sama.
Aku menemukan dokumen mengenai Tambang Macramuria, tapi
sepertinya itu bukan tempat yang menghasilkan bijih mineral istimewa.
Hanya saja, fakta bahwa tidak ada desa pertambangan di
sekitarnya dan semua penambangnya adalah budak, itu sangat tidak wajar.
Aku menyiapkan peta.
"Eh, kalau tidak salah, daerah ini adalah—"
"Ada apa, Akuri-sama?"
"Daerah ini adalah lokasi di mana Desa Haste berada
sekitar seribu tiga ratus tahun yang lalu."
"Desa Haste?"
Seribu tiga ratus tahun yang lalu, aku sedang dalam
kondisi Cold Sleep (Tidur Beku), jadi aku tidak tahu tentang Desa Haste
pada masa itu.
Aku rasa ini tidak ada hubungannya dengan insiden kali
ini, tapi aku akan mengingatnya.
Yang lebih mengganjal adalah lokasi tambang ini.
Miasmanya sangat pekat, sehingga orang awam dilarang
masuk.
Kenapa tambang di tempat seperti itu, yang bahkan
tidak menghasilkan bijih mineral berharga, tetap dioperasikan tanpa ditutup?
Sepertinya aku perlu pergi ke sana sekali untuk
memastikannya.
Tapi, keberadaan Miasma itu merepotkan.
"Akuri-sama, kamu punya alat sihir untuk menekan
penyerapan Miasma, kan?"
"Ada buatan Papa, kok. Tapi aku cuma punya untuk
diriku sendiri."
"Boleh kupinjam? Aku mau mencoba pergi ke lokasi
tambang ini sebentar."
Ada pepatah mengatakan: "Jika tidak masuk ke sarang
harimau, mana bisa mendapatkan anaknya". Sepertinya aku akan pergi
sebentar.
Ke Tambang Macramuria.



Post a Comment