NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 11 Interlude I

Interlude 1

Monster Sungai


Negeri Yamato dihuni oleh monster-monster yang tak biasa.

Saat aku—Yurishia—sedang dalam perjalanan menuju Tougenkyou bersama Kuruto dan yang lainnya setelah meninggalkan Nasagaki, aku sempat dibuat terperanjat saat sesosok monster hijau menyerang kami ketika kami sedang beristirahat di tepi sungai.

Monster itu memiliki selaput renang di kedua tangan dan kakinya, dan penduduk setempat menyebutnya Kappa.

Sepertinya sungai tempat kami beristirahat adalah wilayah kekuasaan para Kappa itu, dan mereka tiba-tiba menyerang seolah-olah sedang marah besar.

Kekuatan tiap individunya mungkin setara dengan seekor Orc.

Namun, mereka bertarung di lingkungan air yang merupakan spesialisasi mereka, dan yang terpenting—

"Kuda-kuda itu... bukannya itu Sumo, teknik gulat tradisional Negeri Yamato?"

Aku bergumam sambil memasang sikap waspada.

Aku tidak menyangka monster bisa menggunakan teknik bela diri manusia.

Tapi, aku tidak berniat meladeni gaya bertarung mereka dengan jujur.

Begitu aku menghunus Setsuka, para Kappa itu langsung menyoraki kami dengan nada mengejek yang luar biasa.

Seolah-olah mereka ingin bilang bahwa menghunus pedang dalam pertandingan Sumo adalah tindakan yang tidak jantan.

"Kurumi-sama, lihat itu—"

Lise—bukan, Rie—berkata sambil menunjuk benda yang dibawa sang Kappa.

Aku pun mengalihkan pandanganku.

"Itu mentimun, ya. Mungkin saja itu makanan pokok monster-monster tersebut."

Sayuran jadi makanan pokok, ya?

"Apa mereka mencurinya dari ladang penduduk?"

"Tidak, sepertinya itu mentimun yang tumbuh liar di sepanjang sungai ini—tapi ini cuma perkiraanku saja, sih."

Kurumi kembali bergumam tidak jelas, seperti bilang kalau paman petani pasti bisa mendengar suara sayuran dan tahu informasi yang benar. Namun, jika itu perkiraan Kurumi, biasanya memang tepat.

"Ah, benar juga. Aku membeli banyak mentimun di kota sebelumnya. Bagaimana kalau kita jadikan itu bahan negosiasi?"

Kurumi berkata demikian sambil mengeluarkan mentimun dari dalam tasnya.

Karena mereka terlihat seperti monster yang cerdas, apa kami bisa bernegosiasi?

"Aku akan memberikan ini, jadi bisakah kita batalkan pertandingan Sumonya?"

Begitu Kurumi bicara, sang Kappa menggelengkan kepala dan kembali memasang pose Sumo.

Kalau dipikir-pikir, paman di pasar bilang kalau tahun ini panen mentimun sedang melimpah.

Pasti para Kappa itu pun sudah punya stok mentimun yang cukup.

"Kalau mentimun mentah tidak mempan... kalau begitu, bagaimana dengan masakan—"

Kurumi mengeluarkan bahan-bahan lain.

Ada rumput laut kering yang dibeli di pasar Nasagaki, nasi yang merupakan makanan pokok Negeri Yamato, lalu... cuka?

Apa yang sebenarnya mau dia buat?

Melihat Kurumi yang tiba-tiba mulai memasak, para Kappa itu pun memasang wajah kebingungan.

'Gimana nih? Benda apa itu?'

'Padahal aku cuma ingin main Sumo.'

'Hm, sepertinya mereka tidak berniat kabur, kita lihat saja dulu?'

Kira-kira begitulah percakapan yang mereka lakukan... setidaknya itu yang kurasakan.

Dan kemudian—

"Sudah jadi! Ini dia Kappa-maki!"

Masakannya jadi dalam sekejap.

Itu hanyalah hidangan sederhana berupa irisan mentimun yang digulung dengan rumput laut dan nasi cuka, lalu dipotong seukuran satu suapan.

Untuk ukuran Kurumi, masakannya sangat simpel.

Bicara soal nasi gulung, di Nasagaki juga dijual Tekka-maki yang berisi potongan ikan mentah berwarna merah.

Jangan-jangan para Kappa yang tadinya mengharapkan hidangan mewah malah jadi kecewa?

Saat aku menoleh ke arah mereka...

'W-oi, kalian lihat gerakan gadis itu tadi?'

'Enggak, sama sekali tidak terlihat. Apa-apaan itu? Kalau dia menyerang dengan gerakan secepat itu, kita bisa tamat, kan?'

'Nasinya berubah jadi nasi cuka dalam sekejap—aku pernah lihat manusia memasak dari jauh, tapi biasanya butuh waktu lama, lho.'

'Nggak paham, manusia benar-benar nggak masuk akal.'

Mereka tampak sangat kebingungan, seolah sedang membicarakan hal itu.

Ah, begitu ya.

Hanya kami saja yang sudah terbiasa melihatnya, tapi bagi monster pun, kecepatan masak Kuruto itu dianggap abnormal.

"Yuki-san, tolong berikan ini—"

Kurumi meletakkan Kappa-maki di atas piring putih dan menyerahkannya padaku.

"Oke—"

Sambil tetap waspada, aku meletakkan hidangan itu di depan para Kappa.

Aku sudah bisa membayangkan alur setelah ini.

Pasti para Kappa itu akan memakan Kappa-maki-nya lalu memuji kelezatannya setinggi langit. Dan sejak saat itu, gulungan mentimun ini akan dikenal dengan nama Kappa-maki—haha.

Namun saat aku sedang membayangkan itu, para Kappa justru mulai ribut setelah melihat piring putihnya, bukan makanannya.

Kalau dipikir-pikir, di atas kepala para Kappa juga ada benda yang mirip piring, ya?

Detik berikutnya, Kappa yang mengambil piring putih itu melepaskan "piring" dari kepalanya sendiri.

"……Eh? Benda itu bisa dilepas?"

Aku refleks bergumam keheranan.

Tapi Kappa itu tidak menjawab, dan malah meletakkan piring pemberian Kurumi di atas kepalanya.

Mereka memang memakan Kappa-maki-nya dengan lahap, tapi kegembiraan mereka terhadap piring itu jauh lebih besar.

'Piring apa ini! Rasanya nyaman sekali!'

'Wah, aku iri melihat kilauannya.'

'Heis, aku juga mau! Berikan piring untukku juga—'

Setelah itu, piring buatan Kurumi menjadi sangat populer.

Karena semua piring yang kami bawa habis, Kurumi sampai harus membakar piring putih baru menggunakan tanah liat di sekitar sana.

Dan akhirnya—

"Monster yang aneh, ya."

Kuruto berkata sambil membawa kotak penuh berisi mentimun.

Tak disangka, niat hati ingin memberi makan mentimun, malah berakhir mendapatkan oleh-oleh mentimun sebanyak ini.

Untuk sementara, sebaiknya aku tidak mendekati tepi sungai selama berada di Negeri Yamato.

Begitulah yang kupikirkan.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close